Pasal 26, UUD 45

(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Google+ Followers

Selasa, 27 November 2012

FILSAFAT WAYANG

FILSAFAT WAYANG
Penulis : Drs. Ir. R.M.S. Suryo Hudoyo
Penerbit : Yayasan “Djojo Bojo” Surabaya
Penyadur  dan penerjemah : Pujo Pryitno



BAB  I
P E M B U K A

Tulisan ini adalah merupakan terjemahan bebas dari Pengantar Serat Bagawat Gita yang termuat dalam Buku Serat Bagawat Gita yang ditulis oleh Drs. Ir. R.M.S. Suryo Hudoyo, yang diterbitkan oleh Penerbit Yayasan Djojo Bojo – Surabaya, cetakan ke dua Tahun 1990. yang ditulis dalam bahasa jawa. Tulisan ini juga saya anggap sebagai pengantar sekelumit dari Filsafat Wayang dan ditulis dalam rangka menyongsong kebangkitan Ilmu Jawa; dan juga dalam rangka menyongsong Kebangkitan Islam yang akan diawali dari Tanah Jawa; dan juga dalam rangka menyongsong kambalinya Dahnyang Pulau Jawa yang telah lama oncat dari Tanah Jawa semenjak dari runtuhnya Kerajaan Majapahit yang tidak lain adalah Kyai Semar Bodronoyo yang sekarang sedang membangun Istananya, posisi tepatnya di pusat semburan lumpur panas porong yang nantinya tempat tersebut sebagai pusat pertemuan para Sesepuh, Pinisepuh, para Filosof dan para ahli ilmu pada era baru di atas era computer, karena lumpur panas porong adalah sebagai bukti dari kesalahan analisa computer, yang mengakibatkan kebingungan para ahli dalam menghadapi lumpur porong dimana ilmunya tiada berguna dalam menghadapi kejadian tersebut, dikarenakan para ahli tidak mengetahui dan memahami  mengapa hal itu terjadi. Dasar Pengalaman ketika para ahli berusaha menutup semburan Lumpur porong baik dengan cara tekhnologi ataupun supranatural maka akan semakin parah dan tidak bakalan berhasil. Hal ini telah saya ingatkan dengan tulisan Hubungan Lumpur panas Porong dengan sastra jawa pada tahun 2006, termuat di Tabloid Posmo edisi 390. (Tingkatan era yaitu 1. Era Agrikultur – Petani; 2. Era Industri – Pekerja pabrik; 3. Era Informasi dengan adanya Komputer – Pekerja Ilmu; 4. Era Konseptual atau Era Penciptaan atau Era Pesimpati yang saya sebut juga sebagai era filsafat Iluminasi).
Rupanya, dari ketiga era yang pada puncaknya pada pekerja Ilmu telah sampai pada titik jenuh dimana dari hasil ilmu semua cara dan materi telah tercukupi, maka akan tumbuh cara berfikir baru. Cara berfikir yang lama baru sampai pada separo dari kemampuan otak manusia yang digunakan. Hamka mengatakan bahwa Ilmu berkembang sebatas pengalaman, filsafat berkembang sebatas pemikiran dan Agama berkembang sebatas keyakinan. Semakin tinggi cara yang digunakan, semakin tinggi dari masing-masing tingkatan, baik ilmu, filsafat ataupun Agama yang selalu tumbuh berkembang menyesuaikan dari cara berfikir manusia yang selalu berkembang dari jaman ke jaman. Ini adalah sifat dasar dari kekekalan dunia, yaitu perubahan itu sendiri yang semakin lama semakin sempurna dalam cara berfikir manusia untuk menuju kepada  yang Maha Sempurna yaitu yang mencipta  manusia yang barang kali bisa disebut sebagai manunggaling Kawula Gusti. Yang jelas menurut pendapat penulis untuk menuju era baru seperti tersebut di atas, perlulah berkaca pada cara berfikir lama, seperti yang akan kami sampaikan pada Bab. II.

BAB  II
ISI  TERJEMAHAN

Kata Bagawat bermakna Pangeran atau Tuhan, sedangkan Gita bermakna Gending atau lagu. Sehingga kata Bagawat Gita bisa dimaknai senandung atau musik irama Ketuhanan, yaitu senandung yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia yang teguh imannya dengan  irama dan isi ajarannya yang bisa memberi pencerahan bagi jiwa manusia sempurna dan bisa memberi petunjuk kepada kesempurnaan hidup , baik lahir maupun batin.
Jalan tersebut dalam ajaran Agama Islam disebut “ Syiratal Mustaqiemu” Jalannya manusia sempurna, yaitu bagi manusia yang telah terbuka jiwanya, sehingga bisa menyaksikan kenyataan Dwi Tunggal yaitu Manunggaling Kawula Gusti, yang dengan demikian tidak akan  pernah berpisah dengan Tuhannya, Allah yang Maha Kuasa, yang mengendalikan Jagat alit (Microcosmos) dan Jagat Agung (Macrocosmos).
Serat Bagawat Gita berisi uraian ajaran-ajaran Sri Bathara Kresna kepada Sang Harjuna ketika akan terjadi Perang Brata Yuda, dimana Harjuna tidak mau maju ke medan laga dikarenakan yang akan menjadi lawan dalam perang tersebut adalah para Saudara, sahabat dan para gurunya sendiri.
Beginilah keluhan dan tangisan Sang Harjuna : “ Wahai Sang Prabu, ketika hamba perhatikan di antara pihak Ngastina dan Pihak Pandawa, ada yang kaprenah Uwa, Paman, Eyang, Nak sanak, Keponakan, dan putu naksanak dari garis ibu dan dari garis ayah, para mertua, para sahabat dan para kenalan baik, para guru yang akan berperang dengan mengeluarkan semua kesaktian yang dimilikinya agar bisa menang di medan laga.  Sungguh hati hamba menjadi gelap, dan bingunglah jalan pikiran hamba. Bahu dan kaki hamba menjadi lemas tak berdaya. Mulut dan kerongkpngan hamba menjadi kering, merinding seluruh badan dan rambut hamba berdiri. Gendewa terlepas dari tangan, panas dan neratap seluruh kulit. Hamba tak mampu berdiri lagi. Bingung cipta dan ripta hamba”.
Masih banyaklah ucapan Sang Harjuna kepada Sri Bathara Kresna, yang pada akhirnya dengan suara yang terbata-bata, karena terlalu berat menanggung beban tekanan jiwanya sehingga Harjuna mengatakan : “Wahai Sang Prabu, hamba sungguh tidak akan tega dan hamba tak berdaya untuk berperang melawan saudara hamba sendiri, dan para sesepuh pinisepuh dan para guru hamba, lebih baik hamba sendirilah yang hancur lebur”. Pada akhirnya Harjuna membuang gendewanya serta jatuh tersungkur tak berdaya di dalam kereta perangnya
Kepada yang sedang mengalami goncangan jiwa yang maha amat sangat berat, Sri Kresna memberikan ajaran-ajaran yang sangat banyak. Ajaran tersebut termuat di dalam Serat Bagawat Gita yang terbagi atas 18 bab, yang isinya menerangkan langkah-langkah yang berbeda-beda untuk bisa mencapai ilmu hakikat yang sempurna. Setelah menerima ajaran-ajaran dari Sri Kresna, Harjuna kemudian bangkit semangatnya, sehingga dengan mantap melangkah untuk menghadapi perang Brata Yuda.
Para pembaca, sesungguhnya perang Brata Yuda atau perang saudara adalah melam-bangkan perang di dalam diri manusia sejati guna untuk menghacurkan Angkara (egoisme) dan murka (hebzucht) yang ada dalam diri setiap manusia, agar nantinya dapat menjadi raja di dalam dirinya sendiri.
Adalah hal yang tidak aneh, pada umunya manusia tidak mempunyai niat untuk membunuh hawa nafsu serta angkara dan murkanya sendiri. Sebab, sesungguhnya manusia itu tidak boleh hanya mengutamakan kesenangan dirinya sendiri, dan yang seharusnya untuk menjaga keselamatan hidup bersama, jadi seharusnyalah manusia dalam melangkah dengan tanpa pamrih untuk dirinya sendiri dan tidak boleh hanya menuruti rasa kepuasan untuk dirinya sendiri di dalam hidup di dunia ini. Jadi, untuk apakah hidup di alam dunia ini ?.
Keadaan yang demikian akan dialami oleh setiap orang di dalam tumbuhnya (evolusi) jiwanya guna menuju pada kesempurnaan hidup. Pada suatu saat manusia akan mengalami bahwa semua keadaan di dunia ini serba tidak menyenangkan, dan tidak memuaskan, sehingga akan menumbuhkan pertanyaan di dalam bathin, “ Apa sih perlunya hidup di dunia ini? Sesungguhnya pertanyaan tersebut tidak bakalan akan medapat jawaban yang memuaskan dari siapapun juga di dunia ini. Manusia yang telah mencapai tingkatan evolusi jiwanya yang demikian, kemudian merasa gelap di dalam hatinya. Semakin lama semakin terasa berat beban hidupnya. Hidup di dunia bagi dirinya terasa sebagai siksaan yang tiada habisnya. Hanya dengan kasih sayang dari Tuhan-lah, diri yang demikian pada akhirnya akan mendapat pencerahan langsung dari Sang Guru Jati, yaitu Allah yang Maha Murah, Maha Asih, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana yang menjadi sumber dari segala yan g ada.
Keadaan jiwa manusai yang tergambar di atas, di dalam Serta Bagawat Gita dilambangkan oleh keadaan Harjuna pada saat akan menghadapi perang Brata Yuda. Dirinya berdiri di atas kereta perang, dikusiri oleh Sri Kresna di tengah-tengah medan laga Kuru Setra dengan memperhatikan siapa saja yang akan menjadi lawan tanding dalam perang pupuh nantinya.
Manusia yang telah mendapatkan pencerahan dari Tuhan, dan kemudian telah juga mengerti untuk apa sesungguhnya hidup ini, tentu tidak akan menghindar untuk menjalankan apa saja, baik berat ataupun ringan di dalam hidupnya di alam dunia ini. Sebab, dirinya telah mengerti bahwa manusia itu sesungguhnya hanya sebatas menjalankan titahnya Pangeran dan sesungguhnya Pangeran itu selalu melindungi dirinya.
Demikian juga Harjuna, setelah menerima penjelasan dari Sri Kresna, lewat wiridan-wiridan yang termuat di dalam Serat Bagawat Gita, harjuna kemudian bersedia maju ke medan laga guna untuk melenyapkan para saudaranya serta para gurunya sendiri yang menjadi lambang ibarat kesanggupan manusia untuk menghancurkan hawa nafsu serta angkara dan murkanya sendiri. Sesungguhnya semua kenikmatan hidup di dunia ini tak berarti apa-apa dibanding dengan kenikmatan hidup Manunggal Menyatu dengan Pangeran.

I.
Hubungan Antara Serat Bagawat Gita dengan Serat Maha Barata

Serat Bagawat Gita adalah merupakan bagian dari Serat Maha Barata bagian yang ke enam yang menjadi inti sari dari Serat Maha Barata.
Di depan telah disampaikan bahwa ajaran-ajaran yang termuat di dalam Serat Bagawat Gita sesungguhnya berisi ilmu pengetahuan yang sangat luhur, yang merupakan anugerah yang tiada bandingnya dalam  masalah keluhurannya yang diturunkan oleh Pangeran kepada manusia yang telah mendekati kesempurnaan hidup di dalam evolusi kehidupannya. Oleh karena ajaran-ajaran di dalam Serat Bagawat Gita serta petunjuk-petunjuk di dalam Serat Maha Barata menjadi gambaran atau lambang dari perjalanan evolusi jiwa manusia pada tingkat yang terakhir, sehingga dapat diartikan bahwa Serat Maha Barata juga berhubungan dengan jalan evolusinya bagi jiwa manusia.
Pernyataan demikain tidak meleset. Kata Maha bermakna agung, sedangkan Barata, pada awalnya bermakna saudara tua laki-laki. Jadi rupa-rupanya maknanya ada hubungannya dengan maknanya kata Brother dalam baha Ingris, Broder dalam bahasa Belanda dan Bruder dalam bahasa Jerman. Sehingga Serat Maha Barata sesungguhnya lambang dari riwayat singkat sejarah dari evolusi jiwa manusia agung, yaitu manusia yang telah berhasil menyelesaikan kodrat evolusi jiwanya, manusia yang telah bisa membuktikan dengan cara menjalankan sendiri panunggaling Kawula Gusti. Manusia seperti itu tidak lain adalah Para Nabi Agung, Para Maharsi, Para Bodhisatwa dan Para Budha. Jadi sesungguhnya Serat Maha Barata adalah uraian yang dibuat sebagai perlambang atau Allegori terhadap satu kalimat yang sangat berarti di dalam Ajaran Agama Islam yaitu kalimat sebagai berikut : “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, yang bermakna dari Allah asalnya dan kepada Allah kembalinya. Makna demikian semakin jelas di dalam cerita wayang atau cerita Padhalangan yang jelas-jelas bersumber dari cerita Maha Barata.

II.
Cerita Maha Barata dan Cerita Padhalangan

Cerita Maha Barata di tanah jawa mengalami perubahan yang sangat mencolok, setelah digubah menjadi cerita padhalangan dikarenakan :
Pengaruh Agama Islam.
Yang kemudian menimbulkan keyakinan bahwa para Pujangga Jawa atau para Ahli Filsafat Jawa, lebih dalam pemikirannya mengenai cerita Maha Barata dibanding dengan para ahli Filsafat dari India (Filsafat India bisa dipelajari dari buku Indian Philosophy – oleh – Radha Krishnan – (Pen).
Dari mana timbulnya keyakinan seperti itu ?. Di dalam cerita Maha Barata yang asli, yang ada pertama kali adalah Sang Hyang Brahman. Di dalam cerita Padhalangan, yang ada pertama kali adalah Nabi Adam yang keduanya sama-sama mempunyai anak turun yaitu Para Dewa  atau Para Jawata. Malah menurut Padhalangan Nabi Adam – Manusia – Setelah menurukan Nabi Sis, Sang Hyang Nur Rasa dan Sang Hyang Nur Cahya, kemudian menurun-kan Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang yaitu Allah Yang Maha Esa dan Allah Yang Maha Kuasa!. Apabila hanya diterima apa adanya saja, perubahan di dalam cerita Padhalangan kelihatannya tidak masuk akal sama sekali. Secara akal, mana mungkin manusia (Adam) mempunyai anak – Allah yang bersifat Maha Esa dan Maha Kuasa itu ?.
 Tapi ketahuilah, bahwa kata Adam apabila ditulis menggunakan harufu Arab adalah Ain, Dhal dan Mim yang bermakna Satu atau Esa tanpa awal dan akhir, tanpa wujud dan tanpa warna. Jadi, sesuatu yang tidak bisa digambarkan oleh akal budi-nya manusia. Kiranya makna kata Adam yang demikian ada hubungannya dengan arti kata Belanda yaitu Adem yaitu pernafasan. Nafas atau hidup dan kata Atma yaitu hidup murni di dalam Ajaran Agama Hindu. Menurut para ahli sufi ataupun para ahli filsafat jawa, Adam itu mempunyai sifat-sifat makdum azali dan abadi. Artinya makdum adalah awal tanpa ada yang mengawali. Azali artinya sumber dari segala yang ada, dan Abadi yang berarti langgeng tanpa awal dan tanpa akhir, yaitu Allah sendiri.

III
Cerita Padhalangan dapat dibagi menjadi 6 bagian pokok, yaitu :




1.
Jaman Kadewan; Berisi cerita-cerita sebagai lambang terciptanya Macrocosmos atau Kabir atau Jagad Besar.

2.
Cerita Sang Hyang Winu menitis menjadi Ikan, Kura-kura, Singa, Manusia Cebol, dan Rama Bargawa – manusia tinggi besar yang selalu membawa senjata Kampak. Cerita-cerita tersebut menjadi lambang terciptanya semua jenis hewan dan manusia di bumi, juga bisa dianggap sebagai lambang bayi yang masih berada di dalam kandungan seorang Ibu.

3.
Cerita mengenai anak turunnya Bathara Brama sampai kepada Abiyasa yang menjadi lambang terciptanya Microcosmos, Alam Saghir atau Jagad Kecil.

4.
Cerita mengenai anakturunnya Abiyasa yang menjadi lambang Evolusi jiwa manusia sampai kepada kedewasaan jiwanya; ketika di dalam jiwa manusia mulai tumbuh niyat untuk mencapai kesempurnaan hidup.

5.
Wirid-wirid atau Ajaran-ajaran yang termuat di dalam Serat Bagawat Gita, adalah merupakan ajaran-ajaran yang mengajarkan bagaimana cara langkah manusia untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup dan watak yang bagaimana yang perlu dipunyai agar cita-cita tersebut bisa terlaksana.

6.
Cerita mengenai Perang Brata Yuda, sebagai lambang proses penghancuran sifat Angkara Murka, serta watak yang tercela, yang menjadi penghalang untuk bisa menggapai cita-cita manusia pada tingkatan yang terakhir yaitu Panunggaling Kawula Gusti.

IV.
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian I.


1.
Adam berada di Kaswargan atau sorga.
Pangeran masih berada di sonyaruri (tempat yang tiada gerak) jagad belum tercipta, papan dan jaman, terang dan gelap belum ada. Belum ada apa-apa.

2.
Adam mendapatkan pasangan yaitu Babu Kawa. Kata kawa di sini berasal dari kata Arab, yaitu Hawa yang mempunyai arti suatu keinginan atau karsa. Pangeran berkehendak untuk menggelar Jagad Raya.

3.
Nabi adam dan Babu Kawa sama-sama memakan buah larangan yaitu buah kebaikan dan buah kejahatan. Ini menjadi lambang awal dari adanya Dwi Tunggal yang selalu berpasang-pasangan. Seperti, kebaikan dan kejahatan, atas dan bawah, jauh dan dekat, panjang dan pendek, positif dan negative, dan seterusnya-seterusnya; sehingga setelah Nabi Adam menikmati buah kebaikan dan kejahatan, Adam dan Hawa kemudian diperintah untuk turun dari Sorga. Ini sebagai tanda telah terciptanya Jagad Raya yaitu dunia maya ini.

4.
Adam dan Hawa berputra Nabis Sis.
Ini bermakna sebagai perlambang tumbuhnya kesadaran diri di dalam jiwanya Macrocosmos. (Nabi Sis dalam Agama Islam adalah anak ke 6 yang dalam Serat Paramayoga karangan Ronggo Warsito, anak turun dari Nabi Sis adalah Penghuni awal Pulau Jawa, selengkapnya anak turun Nabi Adam dalam serat tersebut, sebagai berikut :



1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.

Sayid Kabbil alias Kain, dengan Siti Aklimah. (Anak turunya tinggal di Afrika)
Sayid Abbil  dengan Siti Dammimah.
Sayid Israil alias Ngabdullah dengan Siti Sarirah.
Sayid Israwan alias Ngabdurrahman dengan Siti Onnah
Sayid Basradiwan alias Ngabdulkaris dengan Siti Dayunnah (Keturunannya di Afrika)
Sayidina Sis (anak turunnya sebagai penghuni Pulau Jawa)
Sayid Yasis dengan Siti Ngawis
Sayid Sesan dengan Siti Ngais
Sayid Yasmiyan dengan Siti Ramsah
Sayid Yanmiyan dengan Siti Yarusah
Sayid Suryan dengan Siti Sarriyat
Sayid Amman dengan Siti Mahas
Sayid Kayumarat  alias Sultan Kayumutu dengan Siti Hindunmaras
Sayid Akjuja dengan Siti Makjuja
Sayid Lata dengan Siti Ngujya (anak turunya tinggal di Cina).
Sayid Harat dengan Siti Haruti
Sayid Danhab alias Kawakil dengan Siti Danhab alias Siti Khawokhiyah
Sayid Bantas alias Asmakil dengan Siti Bintisah alias Asmakiyah
Sayid Sus alias Asmail dengan Siti Susiyah
Sayid Jamrut alias Malkhail dengan Siti Jamrudah alias Siti Malkiyah
Sayid Ajurut alias Tamkali dengan Siti Ajrudah alias Siti Tamkiyah
Sayid Adna alias Yahnail dengan Siti Adinnah alias Siti Yahinnah
Sayid Harna alias Harnail dengan Siti Amiyah
Sayid Samal dengan Siti Samiyah
Sayid Ngawail dengan Siti Ngawiyah
Sayid Astail dengan Siti Astiyah
Sayid Nurail dengan Siti Nuhriyah
Sayid Nyhkail dengan Siti Nuhiyah
Sayid Nukail dengan Siti Sarkiyah
Sayid Sarkail dengan Siti Sarkiyah
Sayid Karail dengan Siti Kariyah
Sayid Dujail dengan Siti Jujiyah
Sayid Katail dengan Siti Katiyah
Sayid Arkail dengan Siti Arkiyah
Sayid Mrihkrail dengan Siti Mirkiyah
Sayid Ardabbil dengan Siti Ardiyah
Sayid Sanail dengan Siti Naniyah
Sayid Sujail dengan Siti Pujiyah
Sayid Salsail dengan Siti Salsiyah
Sayid Sahnail dengan Siti Sahniyah
Siti Hunun
Sayid Sahalnail dengan Siti Sahaniyah

5.
Nabi Sis berputra Sang Hyang Nur Rasa. Bermakna sebagai perlambang telah digelarnya alam Cipta, yaitu alam Perasaan.

6.

7.

8.

9.










10,





11.
Sang Hyang Nur Rasa berputra Sang Hyang Nur Cahya, yaitu telah digelarnya alam Ripta yaitu alam pikiran.
Sang Hyang Nur Cahya berputra Sang Hyang Tunggal; ini sebagai lambang Allah Yang Maha Esa
Sang Hyang Tunggal berputra Sang Hyang Wenang; ini bermakna bahwa Allah Yang Maha Esa mempunyai sifat Maha Kuasa.
Sang Hyang Wenang berputra; 1. Sang Hyang Ismaya; 2. Sang Hyang Manikmaya. Ismaya adalah Kyai Semar; Manikmaya adalah Bathara Guru. Ini sebagai perlambang Gelar  dari alam dunia. Maya berarti samar-samar atau tidak nyata; Sebab selalu mengalami perubahan-perubahan. Ism atau Nama’ ini bermakna sebagai nama atau dalam bahasa jawa sebagai Jejer. Lahirnya Ismaya melambangkan telah digelarnya semua yang maya atau samar-samar, yaitu yang tidak nyata; yang adanya karena mengada yang berasal dari Panca Indra Kita. Ini tiada lain adalah alam dunia ini yang sesungguhnya adalah Alam Yang Tidak Nyata.
Manik Maya bermakna inti sari yang maya tersebut di atas. Yaitu daya kekuatan atau daya hidup yang menggerakan, yang meliputi dan menguasai semua yang ada dan mengada di dunia ini.
Shang Hyang Ismaya berputra Bathara Surya (Matahari); Bathara Candra (Bulan); Batari Mahyati (Bumi); Bathara Yama ( Bintang Hanggara atau Mars); Bathara Darmanastiti (Bintang Budha atau Merkurius); Bathara Kamajaya (Bintang Sukra atau Venus); dan seterusnya. Ini sebagai perlambang telah terciptanya semua bintang dan semua planet. Dalam cerita Padhalangan yang disebutkan hanyalah bintang dan planet yang berada pada Tata Surya kita saja.
Sang Hyang Manikmaya berputra Bathara Sambu, Bathara Brama, Bathara Bayu, Bathara Indra dan Bathara Wisnu. Ini sebagai lambang telah terciptanya anasir-anasir atau unsure-unsur kimia yang menjadi awal mula atau yang membentuk semua yang ada di dunia ini. Di dalam Serat Maha Barata atau cerita Padhalangan, unsur kimia yang disebutkan hanya unsure dasar saja yaitu yang membentuk atau hanya bisa menyebabkan kehidupan yang ada di dunia fana ini; yaitu zat-zat organis. Sesungguhnya jumlah unsur kimia yang ada sangatlah banyak jumlahnya lebih dari 92 jenis, seperti Timbal, Perak, Emas, Tembaga, Helium, Natrium, Fosfor, Belerang, Radium, Polonium. Namun unsure-unsur terakhbir ini hanya membentuk benda-benda yang tidak bernyawa, yaitu segala jenis batu yang bermacam-macam. Walau sesungguhnya Ekstrak dari semua unsur kimia yang ada adalah jasad manusia, karena manusia adalah mahluk yang peling sempurna.
Mengulang atas keterangan di atas, yaitu bahwa anak turun Sang Hyang Manikmaya adalah yang melambangkan unsure-unsur kimia yang pada umumnya membentuk zat-zat organis. Bathara Sambu melambangkan unsure Carbon (C), Bathara Brama melambangkan unsure Oksigen (O), Bathara Bayu melambangkan Nitrogen (N), Sedangkan Bathara Wisnu melambangkan Ether atau energy yang merupakan daya kekuatan yang berada pada inti atom yang telah disebut di atas; yang bertugas menjaga kemurnia dari atom tersebut, dan juga sebagai daya kekuatan yang menyatukan antara Carbon, Oksigen, Nitrogen dan Hidrogen yang akan membentuk zat-zat organis yang bermacam-macam. Zat-zat organis kadang-kadang masih juga tercampuri oleh atom-atom atau unsur-unsur zat kimia yang laim walau hanya sedikit; Seperti atom unsur belerang atau Sulfur (S).
Sampai di sini, alam dunia telah digelar lengkap dengan segala tumbuh-tumbuhan; semak belukar dan juga semua jenis rerumputan dan yang belum ada adalah jenis sumua hewan dan manusia.

IV,
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian II.
Tetang Penitisan-penitan bathara Wisnu.


1.
Bathara Wisnu nitis menjadi Mina (Ikan).
Ini menjadi lambang terciptanya semua kehidupan di dalam air. Sehingga jenis kehidupan hewan air adalah yang pertama ada. Pendapat para pujangga pada jam dahulu yang seperti itu tidak bertentangan dengan pendapat dari para ilmuwan modern sekarang ini. 

2.
Bathara Wisnu Nitis menjadi Kura-kura.
Sebagai lambang dari awal terciptanya hewan yang hidup di antara air dan daratan, yaitu hewan amphibi dan reptile.

3.
Batahara Wisnu nitis menjadi Garuda (Burung).
Sebagai lambang terciptanya bangsa burung.

4.
Bathara Wisnu nitis menjadi Landak.
Sebagai lambang awal terciptanya hewan menyusui, jenis herbivore, yaitu hewan-hewan yang mekanan pokoknya adalah rerumputan atau dedaunan.

5.
Bathara Wisnu nitis menjadi Singa Barong (Singa).
Sebagai lambang awal mula terciptanya semua jenis hewan yang makanan pokoknya adalah daging (Carnivora).
Sampai di sini dunia telah tercipta dan menjadi tempat kehidupan semua jenis tumbuh-tumbuhan dan semua jenis hewan. Urutan jenis kehidupan seperti tersebut di atas tidak terlalu jauh berbeda dengan pendapat para ahli keilmuan moderen.
Bathara Wisnu kemudian meneruskan penitisannya sebagai lambang awal terciptanya berbagai jenis bangsa dalam kehidupan manusia, dimulai dari bangsa paling tertua, sebagai berikut :

6.
Bathara Wisnu nitis menjadi Jenis Manusia Cebol.
Ini menjadi lambang terciptanya bangsa Pygmy. Manusia dewasa Bangsa Pygmy tingginya kurang lebih 130 Cm. Sisa-sisa bangsa Pygmy saat ini yang masih hidup yaitu di Benua Afrika dan apabila tidak salah mungkin juga ada di Papua. Menurut cerita Padhalangan, walaupun Manusia Cebol yang tingginya Cuma 130 Cm, akan tetapi hanya dengan melangkah tiga kali sudah bisa mencapai langit yang tinggi. Makna yang demikian tidak lain bahwa manusia sesungguhnya harus melewati tiga tataran sifat evolusi dalam jiwanya barulah bisa menjadi manusia sempurna, Insan Kamil.
Tataran yang pertama yaitu tingkatan manusia yang hanya menuruti keinginan dari raga dan perasaannya saja. Tataran Evolusi jiwa yang demikian lebih dekat dengan sifat dari hewan dari pada tingkatan sifat dari manusia. 
Tataran yang kedua yaitu tataran manusia yang didalam segala tindakannya lebih memberatkan dari apa yang diperintahkan oleh akal budinya.
Tataran yang ketiga adalah tataran manusia binangun, manusia yang dalam segala tindakannya selalu menuju kepada kesempurnaan kehidupan lahir dan kehidupan bathin.

7.
Bathara Wisnu nitis menjadi Rama Bargawa.
Ini menjadi lambang awal dari manusia yang kedua. Rama Bargawa digambarkan sebagai orang bertubuh tinggi dengan berkulit hitam dan tidak pernah berpisah dengan senjatanya yang berupa kampak yang terbuat dari batu. Rama Bargawa adalah sebagai lambang dari manusia pada jaman batu. Bangsa yang demikian yang selanjutnya tumbuh menjadi jenis manusia yang berkulit hitam.

8.
Bathara Wisnu nitis menjadi Harjuna Sasrabahu.
Ini menjadi lambang awal terciptanya manusia yang ke tiga, yaitu manusia pada Jaman Tembaga. Menurut cerita manusia tersebut jaman dahulu kala mendiami wilayah Atlantis dan Lamuria yang kini telah tenggelam di dasar Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik.

9.
Bathara Wisnu nitis menjadi Rama Wijaya, ini menjadi lambang awal terciptanya manusia yang ke empat, yaitu manusia di Jaman Perunggu, yang menjadi cikal bakal dari bangsa berkulit kuning, barangkali saat ini adalah Bangsa Cina, Korea, Jepang dan Mongol.

10,
Bathara Wisnu nitis menjadi Sri Kresna.       
Ini menjadi lambang terciptanya manusia yang ke lima, yaitu manusia pada Jaman Besi atau Kali Yuga, mungkin sebagai awal dari bangsa berkulit putih.

VI.
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian III.
Cerita Mengenai Anak Turun Dari Bathara Brama Sampai Dengan Cerita Abiyasa.

Sebelum melanjutkan pada cerita Padhalangan Bagian yang ke tiga, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa : “Siapakah pengarang yang sesungguhnya dari Serat Maha Barata ini? Menurut pendapat yang telah umum, bahwa yang mengarang Serat Maha Barata adalah Seorang Manusia Agung pada jaman dahulu, yang telah mumpuni dalam Olah Ilmu kehidupan dengan amat sangat sempurna, yang bernama Viyasa. Menurut pendapat umum, Viyasa sesungguhnya bukanlah pengarang yang sesungguhnya. Sebab kata Viyasa berasal dari kata Vi yang berarti telah mumpuni dan kata Yasa yang berarti yang membuat, yang mengarang, yang mencipta, sehingga Viyasa bisa diartikan sebagai Pengarang yang mumpuni. Jadi bukanlah nama dari pengarang yang sesungguhnya.
Nama Viyasa di dalam Serat Maha Barata dalam cerita Padhalangan berubah menjadi Abiyasa. Serat Maha Barata dan Padhalangan sesungguhnya menceritakan cerita dari anak turunya Abiyasa, jadi sesungguhnya adalah menceritakan anak turunnya sendiri. Jadi dengan demikian Viyasa dalam Serat Maha Barata dan Abiyasa dalam cerita Padhalangan tidak lain adalah menceritakan cerita tentang pendapat-pendapatnya sendiri, sebagai contoh dari cerita dari kehidupan manusia yang telah berhasil menyelesaikan darma dalam menjalankan kewajiban kehidupannya. Apabila cerita tentang anak turun dari Abiyasa tersebut isinya adalah menggambarkan perjuangan manusia untuk menuju kesempurnaan hidup, sebaliknya bahwa asal usul dari Abiyasa menunjukan sebagai asal usul dari manusia.
Lantaran Bathara Guru dan Bathara Brama, Viyasa (Abiyasa) sebagai keturunan dari Sang Hyang Wenang. Ini jelas menunjukan bahwa menurut Pengarang Maha Barata bahwa manusia sesungghnya berasal dari Allah yang bersifat Maha Kuasa. Ini mengingatkan dalam  Ajaran Agama Islam sebagai berikut : Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Pada Serat Maha Barata dan juga pada cerita Padhalangan, Abiyasa selain menggambarkan sebagai wujud manusia juga menggambarkan sebagai wujud dari Jagad Kecil (microcosmos). Jagad Kecil juga sebagai gambaran dari jagad besar (Macrocosmos). Dan juga sebaliknya.


Dalam Jagad Kecil
Sebagai perwujudan dari
Dalam Jagad Besar

Brama Saddhara
Brama Sadtapa / Tritrustha
Parikenan
Manumanongsa
Sakutrem
Sakri
Palasara
Abiyasa
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
ß----------------------------à
Nabi Adam
Nabi Sis
Sang Hyang Nur Rasa
Sang Hyang Nur Cahya
Sang Hyang Tunggal
Sang Hyang Wenang
Bathara Guru
Bathara Ismaya
VI
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian IV.
Cerita Kehidupan Keturunan Abiyasa, Sebagai Lambang Evolusi Manusia, sampai dengan Kedewasaan Jiwanya, Pada Saat Manusia Mempunyai Niat Yang Kuat Untuk Berjuang Menuju Kesempurnaan Hidup.


Setelah menerangkan asal usul manusia (Microcosmos), yang berasal dari Tuhan, kemudian Sang Viyasa atau Abiyasa, meneruskan karangannya yaitu Serat Maha Barata, dengan jalan merenungi keadaan dalam dirinya sendiri (jiwanya sendiri). Bahwa sesungguhnya di dalam jiwa setiap manusia ada dua unsur. Unsur yang pertama selalu mengajak pada kebaikan. Sedangkan unsure yang kedua selalu mengajak pada kejahatan. Manusia juga diberi kemampuan untuk bisa membedakan antara kebaikan dan kejahatan yang dalam Ajaran Agama Islam disebut “Al Furqan” dalam Bahasa Jawa disebut “Traju Panimbang”.
  Keadaan jiwa manusia seperti tersebut di atas, dalam Serat Maha Barata dilambangkan dalam cerita, bahwa Abiyasa mempunyai anak tiga, yaitu :


1.
Drestharata, lambang dari suara batin tiap manusia yang selalu mengajak pada kejahatan, Drestharata itu buta sehingga tidak bisa mengerti kebaikan.

2.
Pandhu, lambang dari suara batin tiap manusia yang selalu mengajak pada kebaikan.

3.
Yama Widura, lambang dari Traju Panimbang antara Kebaikan dan Kejahatan yang berada dalam suara batin tiap manusia.

Anak tiga tersebut, yang dua yaitu Drestharata dan Pandhu lahir dari Garwa Padmi. Sedangkan yang ragil yaitu Yama Widura lahir dari Garwa Selir. Ini mengandung maksud bahwa adanya kebaikan dan kejahatan sesungguhnya berasal dari atas, sebab telah menjadi kodrat dari kehidupan. Di muka telah diterangkan bahwa Nabi Adam dan Babu Kawa turun ke dunia dikarenakan berani makan buah kebaikan dan kejahatan. Sebaliknya Yama Widura anak dari Garwa Selir. Ini mengandung arti bahwa pertimbangan antara kebaikan dan kejahatan tumbuh karena pengalaman dalam kehidupan di alam dunia ini.
Anak-anak dari Abiyasa semuanya cacat. Yang anak pertama telah diterangkan bahwa Drestharata buta, yang pada intinya bahwa Drestharata adalah buta terhadap kebaikan.  Seterusnya Pandhu cacat thengeng. Pandhu dalam setiap tindakan apa saja, selalu berupaya untuk keselarasan antara Cipta (Perasaan) yang terletak di Jantung dan Ripta (Pikiran) yang terletak di otak. Garis yang menghubungkan antara otak dan jantung adalah tidak tegak lurus, kenyataannya adalah miring. Inilah yang dimaksud dengan keadaan Pandhu yang cacat thengeng. Sedangkan Yama Widura cacatnya adalah lumpuh. Traju panimbangan antara kejahatan dan kebaikan bisanya hanya membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Akan tetapi tidak ikut-ikut dalam menentukan mana yang harus di pilih atau yang mana yang harus dikerjakan. Sehingga Yama Widura dalam perang Brata Yuda tidak memihak Pandhawa  ataupun Ngastina.
Diceritakan bahwa Drestharata mempunyai anak sebanyak seratus orang, yang kebanyakan mempunyai nama awalan Dur, seperti Duryudana, Dursasana, Durmuka, Durbala, dan seterusnya; Dur mempunyai arti kejahatan. Drestharata buta mengandung maksud buta terhadap kebaikan, yang bisa menimbulkan perbuatan jahat jumlahnya amat sangatlah banyak sekali.
Pandhu putranya hanya lima, tiga anak dari Dewi Kunthi dan dua anak dari Dewi Madrim. Anak tiga dari Dewi Kunthi sesungguhnya, yang satu yaitu Yudhistira (Punthadewa) adalah anak dari Bathara Darma. Yang satu lagi, Bima (Werkudara), sesungguhnya anak dari Bathara Bayu, dan yang satu lagi, yaitu Harjuna sesungguhnya adalah anak dari Bathara Indra.
Yudhistira sesungguhnya sebagai lambang dari hidup yang tidak bersentuhan dengan kematian. Sehingga Yudhistira mempunyai keraton yang bernama  Amarta, yaitu jaman kelanggengan (hidup abadi). Yudhistira adalah Atma-nya manusia, Jagad kecil, sebagai pembanding dari Nabi Sis pada Jagad besar. Bima sebagai lambang Budi yang ada dalam jiwa manusia, sebagai pembanding Sang Hyang Nur Rasa pada jagad besar. Sedangkan Harjuna adalah sebagai lambang manas atau akal, sebagai pembanding Sang Hyang Nur Cahya pada jagad besar.
Dua anak dari Dewi Madrim, Nakula dan Sahadewa, sesungguhnya adalah anak dari Dewa Kembar yang bernama Aswin. Nakula sebagai lambang dari Raga manusia. Na bermakna wujud, dan Kula bermakna aku. Sehingga Nakula bermakna Wujudku, yaitu Ragaku. Nakula sebagai raga dari setiap manusia (Jagad Alit) sebagai pembanding Ismaya (Semar) pada jagad besar. Kemudian Sahadewa sebagai lambang Lingga dari badan, yang menyebabkan rasa yang menguasai kulit, daging, dan seluruh bagian raga yang lainnya, yang ikut oncat meninggalikan raga ketika manusia meninggal dunia. Sahadewa sebagai pembanding Manikmaya pada jagad besar.
 Madrim sama maknanya dengan Mater (latin), Mutter (Jerman) dan Moeder (Belanda). Madrim sebagai lambang Ibu Pertiwi, yaitu bumi yang kita injak ini. Ketika manusia meninggal dunia, raga akan pulang kembali kepada asal mula kejadianya yaitu Bumi ini.
Sampai di sini telah lengkaplah para peraga pokok di dalam Serat Maha Barata. Ketahuilah. Negara Astina dalam Serat Maha Barata atau dalam cerita Padhalangan, menjadi lambang dari Jagad kecil. Perselisihan yang tiada habis-habisnya antara Kurawa Ngastina dan Kurawa Pandawa, berebut kekuasaan dalam Negara Astina, ini menjadi lambang perang antara kebaikan dan kejahatan untuk bisa menguasai Jagad Kecil.
Agar lebih jelas dalam menghayati bahwa begitu dalamnya isi dari Cerita Padhalangan, untuk itu perlu kami jelaskan juga bahwa :
Pada saat masa kecilnya yaitu masa kanak-kanak, anak dari Drestharata dan anak-anak dari Pandhu, hidup bersama yang bertempat di Kraton Astina. Ini menunjukan bahwa pada awalnya manusia belum mengetahui apa bedanya kebaikan dan kejahatan. Di sini Kraton Astina sebagai lambang dari raga. Asti yang berarti Gajah, mempunyai watak sepuluh, selaras dengan kepercayaan Bangsa Hindu bahwa dunia ini dijaga oleh gajah yang berjumlah sepuluh. Yang rinciannya adalah di sebelah Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Atas (Zanith) dan Bawah (Nadir). Lengkap sepuluh. Sehingga kata Astina Pura mempunyai arti sebuah kota yang mempunyai gapura sebanyak sepuluh buah. Ini sesungguhnya adalah sebagai lambang setiap raga manusia. Pada umumnya jumlah lobang dalam raga manusia hanya dianggap Sembilan jumlahnya (nutupi babahan nawa sanga). Sesungguhnya adalah salah hitung, sebab lobang kelamin manusia sebetulnya adalah dua yaitu jalannya mani dan jalannya urine, akan tetapi hanya dihitung satu.
Para anak dari Drestharata dan Pandhu yang sama-sama tinggal di Kraton Astina pada saat masih berumur kanak-kanak, di didik oleh tiga orang guru, yaitu :

1.
Bagawan Krepa;
Ceritanya adalah, Krepa tercipta dari rumput, yang tumbuh karena dari mani salah satu Pandhita yang jatuh ke dalam tanah. Oleh karena pohon padi termasuk jenis rerumputan, sehingga Krepa bisa sebagai lambang dari Pohon Padi, beras, ataupun makanan. Selain dari itu Ngrepa dalam bahasa jawa bisa bermakna mencari makanan ke dalam hutan, yang berupa akar-akaran ataupun dedaunan dan juga buah-buahan. Ini sebagai isyarat bahwa salah satu tujuan dari pendidikan awal untuk semua makhluk hidup tidak lain adalah mengajarkan agar bisa mencari makanannya sendiri. Dalam masa sekarang untuk pendidikan anak, agar anak bisa mengurus keperluannya sendiri atau menjadi anak yang mandiri.


2.
Pandhita Durna
Yang betul adalah Drona, terbawa dari saat lehirnya yaitu di dalam Jun (wadah) atau Drona. Nama Kumbayana juga sama maknanya. Kumba yang berarti Klenthing, Klenting atau Jun sebagai lambang dari ruangan di dalam kepala sebagai tempat otak manusia. Pandhita Durna sebagai lambang dari Ripta atau pikiran manusia. Durna adalah anak dari Bagawan Baratmaja di Negara Atas Angin. Baratmaja atau Barat Atmaja, ini berarti anaknya angin, sehingga Durna adalah cucu dari angin, halusnya sangatlah halus. Tumbuhnya akal adalah dari bergeraknya pikiran. Sehingga Harjuna (Akal) akan digerakan oleh Durna (Pikiiran) sehingga Harjuna adalah siswa kesayangan Pandhita Durna. Harjuna adalah ahli memanah (manah dalam bahasa jawa bermakna hati – memanah – menata hati untuk menuju kebaikan. Orang jawa dalam berfikir mampu mencari makna di balik kata sampai beberapa tingkat, logika fikiran jawa sangatlah tinggi. Contoh : Apabila ada huruhara, pikiran pertama akan bertanya saiapa dalangnya; pikiran tingkat dua, bukan hanya dalangnya saja yang dipikir, akan tetapi siapakah yang nanggap; Pikiran tingkat tiga, untuk keperluan apakah nanggap itu; dst, sampai ditemukan inti masalah yang sesungguhnya; orang jawa bilang alon-alon asal klakon. Pen.).

Dari ketiga cara guru dalam mengajarkan ilmu yang tersebut di atas bisa dibandingkan dengan Sistem Pendidikan Karakter , yang sedang digalakan dalam  sitem pendidikan awal di Indonesia saat ini. Lebih sempurna lagi bila di tambah dengan system pendidikan Budhi Pekerti layaknya Harjuna yang pandai memanah (pandai menata hati).
Tokoh lainnya yang perlu dimengerti maknanya agar lebih mengena dalam memahami ajaran serat Maha Barata yang tersamar, antara lain :

1.
Sangkuni, atau nama lainnya Haria Suman. Sangkuni sebagai lambang watak berhati-hati, ragu-ragu dan penakut.

2.
Karna, sebagai lambang Angkara. Asal kata angkara dari ahang = aku dan kara = gawe, atau yang menyebabkan. Jadi angkara adalah yang menimbulkan rasa egois (atau rasa kesadaran akan diri sendiri). Dalam cerita, Karna lahir dari telinga Dewi Kunthi, sebelum Kunthi menikah dengan Pandhu. Manusia bisa mengerti bahwa dirinya punya nama A atau B yang menyebabkan kesadaran diri sebagai aku yang membedakan dengan aku-aku yang lain disebabkan karena mempunyai telinga. Timbulnya amarah bisanya dari suara. Gathotkaca sebagai lambang suara matinya dibunuh oleh Karna lambang telinga. Sehingga tepatlah bahwa Karna menjadi lambang dari Nafsu Angkara.

3.
Prabu Salya, Sebagai lambang pribadi atau Ingsun (kumingsun) atau individualitas. Terjadinya Angkara adalah dari berkumpulnya Raga, Cipta (perasaan) dan Ripta (pikiran). Sehingga Karna juga sebagai murid kesayangan guru Drona yang pandai. Ingsun (kumingsun) yang mempunya raga, cipta dan ripta. Sesungguhnya Angkara adalah sebagai bayangan dari Ingsun, karena Karna adalah menantu dari Prabu Salya.

4.
Sri Kresna, artinya hitam. Hitam itu gelap, yaitu sesuatu yang gelap atau tidak bisa dimengerti oleh akal budi manusia. Sehingga Kresna adalah sesuatu yang Gaib. Sesungguhnya Kresna adalah Pangeran yang bersemayam di dalam pusat bathin manusia, yaitu di dalam Qolbu atau jantung. Sehingga Kresna mempunyai keraton yang bernama Dwarawati. Arti dari kata Dwara  sama dengan kata Ingris Door atau kata Belanda Deur, yang bermakna pintu. Kresna bersemayam di Dwarawati bermakna Pangeran bersemayam dalam Qalbu atau jantung manusia, yaitu manusia yang telah dibuka pintu hatinya oleh Tuhan sehingga menjadi manusia binangun, atau manusia pilihan.
Ada kata-kata dalam serat Wedhatama yang berbunyi : Bathara Gung; ing uger graning jejantung, jenak Hyang Wisesa sana pasenetan suci, dst. Yang artinya : Bathara Gung (Gusti Allah Yang Maha Agung) bersemayam di pucuk jantung. Taman panglipuran yang Maha Wisesa, tempat persembunyian yang suci, dst. Kenyataan bahwa Pangeran bersemayam di dalam Qolbu manusia, sesuai dengan Q.S. VIII, ayat 24, diantaranya menyebutkan : Wa a’lamu anna Allahu yahulu baina al mar, wa qalbihu, yang kurang lebih bermakna dan ketahuilah bahwa Allah berada dalam diri manusia, yaitu dalam jantungnya.

VI.
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian V.
Perseteruan Antara Putra Pandhu dan Putra Drestarata


Melanjutkan kisah para anak Drestharata dan Pandhu ketika masih anak-anak. Hidup bersama di Astina. Di situ perselisihan antara Putra Drestharata dan Putra Pandhu tidak ada habis-habisnya yang disebabkan oleh fitnah dari Putra Drestharata, sehingga Putra Pandhu terusir dari Astina Pura. Kemudian mendirikan Negara sendiri yang bernama Indraprasta.  Ini sebagai lambang manusia yang barusaja bisa membedakan sifat baik dan sifat jahat. Walaupun telah mengetahui sifat baik dan jahat, manusia masih harus mengalami berbagai musibah sampai dengan mengalami kesengsaraan dalam hidupnya. Sehingga, karena selalu mengikuti ajakan dari para Kurawa Ngastina main dhadhu hingga kalah, kemudian menemui kesengsaraan hdiup karena hidup dengan cara menyembunyikan diri dalam hutan buangan.
Main dhadhu, sebagai lambang Ma-lima. Manusia yang telah ditunggangi penyakit Ma-lima hidupnya bakal kandas dalam kenistaan, sampai kelihatan bahwa sudah tidak bisa membedakan kebaikan dari kejahatan. Bagaikan suara bathinya yang mengajak pada kebaikan telah mati. Demikian tadi dilambangkan oleh cerita para Putra Pandhu setelah kalah main dhadhu.
Walaupun telah mengalami kesengsaraan hidup, apabila ada kanugrahan dari Pangeran, manusia bisa menyadari kesalahannya terdahulu, kemudian sadar dan mantap untuk menghancurkan yang menjadi penyebab dari kesengsaraan dalam hidupnya yang berupa Angkara dan Murkanya sendiri. Beja cilaka gumantung ing angga priyangga. Keselamatan atau Kesengsaraan hidup berasal dari dirinya sendiri.  Kemudian manusia yang telah bisa menyadari kesalahannya dan mendapat ampunan dari Tuhan akan menjadi manusia Utama atau manusia pilihan. Contoh kisah yang demikian banyak, diantaranya Sunan Kalijaga dan Para Sufi yang lain. Cerita melawan hawa nafsu dan keinginan diri untuk mensucikan Qalbu, dilambangkan dengan Perang Brata Yuda.
Di dalam bab inilah banyak cerita yang dilakonkan oleh para Dhalang dalam pagelaran Wayang Kulit, yang inti ceritanya adalah perseteruan antara Pandawa dan Kurawa yang dikemas dalam berbagai lakon.

VII.
Ringkasan Cerita Padhalangan Bagian VI.
Perang Brata Yuda.
Perang Brata Yuda adalah sebagai lambang manusia sejati dalam berjuang untuk menjadi manusia yang mendapatkan pencerahan dari Tuhan, yaitu Panunggaling Kawula Gusti, dengan jalan menguasa Jagad Kecil.
Para senopati Ngastina harus dikalahkan, sebab sebagai penghalang yang sangat besar  dalam  upaya mencapai  kesempurnaan hidup. Senopati yang harus  dikalahkan, ya-itu : 1. Resi Bisma, lambang rasa takut, kuatir, dsb. 2. Resi Drona, Lambang angan-angan, pikiran, ripta, yang selalu menutup-nutupi kenyatan. 3. Adipati Karna, lambang angkara. 4. Prabu Salya, lambang ingsun. 5. Suyudana, lambang murka, rasa harus memiliki apasaja yang disenangi hanya untuk kesenangan diri.


1.
Bisma,
Di depan telah disampaikan bahwa Bisma lambang dari rasa takut, kuatir, dan sejenisnya. Padahal dengan adanya rasa takut, kuatir, tidak bakalan ada cita-cita apaun yang akan dapat dicapai dengan sempurna. Sifat takut dan kuatir sangat sulit untuk dikuasai atau dihilangkan, sebab manusia hidup molai lahir telah dikuasai oleh rasa takut. Jika saya bertindak begini, nantinya akan menjadi ………………….! Begitu seterusnya. Yang pada akhirnya manusia akan selalu kuatir dalam menghadapi kehidupan, yang barangkali tidak menyenangkan bagi dirinya. Manusia kebanyakan merasa takut akan tidak mendapatkan rizki, takut pada kegelapan, takut pada tempat angker, takut pada mayat, takut pada hantu dan seterusnya. Yang takut pada kehidupan malah bunuh diri. Pada jaman dahulu, usaha untuk menghilangkan rasa takut dengan jalan latihan dengan melakukan tirakat di tempat yang sepi ataupun tempat angker, ataupun dalam hutan, di puncak-puncak gunung, di petilasan-petilasan dan lain-lain.
Manusia yang telah berhasil menguasai rasa takut yang selanjutnya bisa menguasai rasa sedih dan susah, hidupnya banyak tentramnya, sebab telah mendapatkan pengayoman dari Tuhan-nya. Dalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan : Inna aladzina amanu wa amilu sholihatin, ajruhun inda robbihim laa khaufun alaihim wa laa hum yahzanuna. (Wong-wong kang padha gede imane, lan tansah gawe becik, ganjarane kepareng ana ing ngarsane Pangerane, Mula ora padha kadunungan rasa was-sumelang lan wedi, lan uga ora kadunungan rasa susah lan sedhih. Manusia yang demikian telah mampu melampaui rasa takut, kuatir dan juga tidak mempunyai rasa susah dan sedih, hidupnya telah berada di Sorga, walaupun masih hidup di dunia. Bisa mengalahkan Bisma telah bisa mengalahkan ciptanya (perasaannya).


2.
Drona,
Drona menjadi lambang ripta yaitu pikiran. Bisa mengalahkan Drona berarti telah mampu mengendalikan pikiran. Manusia yang mempunyai cita-cita untuk mencapai kesempurnaan hidup sebagai langkah awal harus bisa menguasai perasaan dan pikiran yang selalu mengendalikan jiwa manusia, yang kemudian keluar menjadi tindakan, perbuatan ataupun amal. Padahal setiap amal menentukan nasib. Manusia hanya mendapatkan buah dari tindakannya. Bisa menguasai tindakan berarti bisa menguasai nasib diri.
Apabila Drona mendapat jabatan sebagai lambang pikiran atau Ripta, semakin jelas dari cerita berikut :
Pada suatu hari, ketika masih hidup bersama di Kraton Ngastina, para Kurawa dan Pandhawa sedang bermain, main sepak bola. Bola itu bulat. Disentuh sedikit aja akan berubah tempatnya. Sehingga pada cerita ini, bola sebagai lambang dari segala yang mudah berubah, yaitu keduniaan. Bola tadi secara tidak sengaja masuk ke dalam sumur yang sangat dalam. Artinya, apa saja yang menjadi cita-cita tidak gampang mencapainya. Para Kurawa dan Pandhawa hanya bisa termangu-mangu di pinggir sumur, tidak tau harus berbuat apa. Keadaan yang demikian, diketahui oleh seorang Pandhita. Pandhita tersebut sanggup mengeluarkan bola dari dasar sumur, apabila para Kurawa dan Pandhawa bersedia menyampaikan kepada Prabu Drestarata, agar Pandhita ini diangkat menjadi guru Para Kurawa dan Pandhawa. Permintaan Pandhita tersebut disetujui oleh Para Kurawa dan Pandhawa. Kemudian Sang Pandheta mengeluarkan gendewanya. Bola yang berada di dasar sumur di panah menggunakan batang rumput. Pucuk dari batang rumput menancap di bola. Pandhita tadi memanah lagi menggunakan batang rumput. Pucuk batang rumput kedua menancap pada pangkal batang rumput pertama. Pucuk batang rumput dibelakangnya menancap pada pangkal batang rumput yang mendahuluinya. Akhirnya batang rumput yang terakhir bisa dipegang. Batang rumput yang saling menyambung, kemudian ditarik ke atas sehingga bola bisa diangkat dari dalam sumur. Itulah awal mula Pandhita Drona menjadi gurunya pada Kurawa dan Pandhawa.
Dongeng tersebut di atas jelas sebagai perlambang, bahwa batang rumput yang saling menyambung, tidak lain adalah urut-urutan tindakan yang harus dilalui pada saat manusia harus menyelesaikan pekerjaan yang rumit. Ini menunjukan hasil pekerjaan pikiran atau nalar. Sehingga, sekali lagi bahwa Drona sebagai lambang pikiran, yang pada akhirnya menjadi nalar. Sehingga orang hidup di dunia sebaiknya mengutamakan nalar sebagai gurunya. Jangan sampai hanya mengandalkan perasaan atau emosinya saja. Atau hanya menuruti kehendak raga-nya saja, tanpa mendengarkan suara dari pikiran.


3.
Karna,
Karna sebagai lambang angkara. Bisa mengalahkan Karna berarti bisa menguasai angkaranya. Angkara berujud dari berkumpulnya raga, cipta (perasaan) dan ripta (pikiran), Tanpa raga, manusia biasa tidak akan bisa mempunyai kesadaran atau menyadari keadaan dirinya. Demikian juga tanpa cipta ataupun tanpa ripta. Sesungguhnya angkara hanya sebagai bayangan dari manusia sejati, yaitu dari diri yang mempunyai raga, cipta dan ripta. Angkara dan manusia sejati tidak akan bisa bersamaan sebagai penguasa dalam Jagad Kecil. Sehingga apabila manusia sejati berkehendak menjadi raja dalam diri yaitu dalam jagad kecil, maka harus bisa menguasai angkaranya. Harjuna sebagai wakil dari Yudhistira harus bisa mengalahkan Karna.


4,
Salya,
elah diterangkan bahwa Salya sebagai lambang dari Ingsun. Walau Ingsun berada pada alam jiwa, tingkatannya lebih tinggi dari Angkara, sehingga selama ingsun masih berkuasa, Panunggaling Gusti tidak bakal sempurna. Gugurnya Salya (Ingsun) dari kekuasaan Yudhistira (Hidup sejati) melambangkan sempurnanya Panunggaling Kawula Gusti, bagaikan setetes air yang jatuh ke dalam samudra. Dalam perang tanding antara Karna (Angkara) melawan Harjuna (wakil Yudhistira, wakil dari manusia sejati), kereta perang Karna disetir oleh Salya (angkara dilindungi oleh ingsun), Kereta perang Harjuna (wakil Yudhistira – urip sejati) disetir oleh Kresna, lambang Pangeran atau Allah,

5.
Duryudana,
Masih ada satu lagi unsur hidup yang harus dihilangkan agar panunggaling Kawula Gusti bisa sempurna, yaitu Murka (Duryudana) yang sebagai sumber dari rasa ingin menguasai atau memiliki. Apabila rasa ingin menguasai segala ujud yang ada di dunia ini belum disirnakan, bisa berakibat fatal. Sebagai contoh, cerita Bagawan Wisrawa, berobah sifatnya menjadi Dasamuka setelah menikahi Dewi Sukesi (lambang keadaan dunia). Makna Sukesi adalah segala yang menyebabkan rasa senang, Suka apabila dilihat (deneksi), yaitu dunia ini, sebagai tumbuh berkembangnya Angkara Murka.
Keterangan bab Panunggaling Kawula Gusti tersebut di atas, bisa tercapai, ketika manusia agung telah meninggal dunia, ataupun pada saat manusia sempurna telah lulus dalam melaksanakan Samadi. Apabila keterangan-keterangan tersebut dihubungkan dengan ketika manusia sempurna telah lulus dari Samadinya’ tentulah para senapati Kurawa Ngastina, tidak harus disirnakan, namun hanya tidak diberi kesempatan saja. Sebab, selama manusia masih berada di dunia; raga, cipta, ripta, angkara, ingsun dan rasa ingin menguasai atau murka, terpaksa masih digunakan sebatas keperluan sebagai sarat hidup manusia. (fungsi hawa nafsu : Nafsu amarah berguna untuk mempertahankan nyawa, tanpanya manusia mudah mati, Nafsu Luwamah berguna untuk mempertahankan raga, tanpanya raga manusia akan rusak, Nafsu sufiah berguna untuk mempertahankan martabat dan kehormatan diri, tanpanya manusia tanpa harga diri, Nafsu mutmainah berguna untuk Manunggaling Kawula Gusti – melebur dalam Tuhan – bagaikan setetes air masuk ke dalam  Samudra – hancur lebur tiada bekas. Jika manusia mampu menguasai hawa nafsu dan keinginan diri bagikan Harjuna yang mendapat bimbingan Kresna. Tanpa Bimbingan pengarahan Allah manusia tidak bakalan bisa menyatu dengan Allah. Bimbingan Allah bisa secara langsung ataupun dengan cara lewat Wakil atau Mursyid. Yang langsung contohnya Nabi Khidir. Pen.)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar