Pasal 26, UUD 45

(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Google+ Followers

Kamis, 11 Juli 2013

Bagaimana Aku Melihat Allah

Sebuah buku untuk memantapkan iman orang-orang yang haus mencari petunjuk dan cahaya.

 (kaifa araa allah)
BAGAIMANA  AKU  MELIHAT  ALLAH

Judul : Bagaimana Aku Melihat Allah
Terjemahan : oleh Ahmadie Thaha
Penerbit : PT. Al Ikhlas – Surabaya – 1982
Penyadur : Pujo Prayitno

KATA  PENGANTAR

Dengan mengucap syukur alhamdulillah, kami telah dapat menyelesaikan usaha kami dalam menterjemahkan buku karya Abdulwadud Syalabi yang berjudul asli : “KAIFA ARAA ALLAH”, yang kemudian kami beri judul “ Bagaimana Aku Melihat Allah?”.

Sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita dalam diam, ketika duduk sendirian memandang alam, ketika mendiskusikan membicarakan tentang Tuhan : Bagaimana Aku Melihat Allah?
Abdulwadud Syalabi, penulis yang cukup mempunyai nama terkenal di Mesir, menjawab pertanyaan tersebut melalui contoh-contoh pengalaman nyata dari para penulis, para ahli, para filosof yang terombang-ambing dalam pemikiran tentang Allah, menggembara dalam alam keragu-raguan, mencari hakikat dan bergelimang dalam dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan.
Dan akhirnya, Bagaimana Aku Melihat Allah? Charles Staimits meramalkan bahwa kelak para ilmuawan akan percaya kepada Allah dan sama-sama shalat, Max Blank, Abraham Lincoln, Francis Bicon, Dale Carnegie Williem James, Eisenhowe, Mark Clark, Jack Dembisy, Eduard Etshson, semuanya percaya kepada Allah setelah melalui percobaan-percobaan ilmiah mencari hakikat. Begitulah pula Anis Manshur dan Mustafa Mahmoud ilmuawan, seniman, filosof dan penuliis populer, yang sama-sama bertobat kembali kepada Allah, setelah sebelumnya menggembara dalam alam keragu-raguan menuju alam keimanan. Kemudian juga seorang laki-laki tua yang berjalan ke pasar-pasar, ke seluruh pelosok kota, bertanya kepada semua orang; Di manakah Allah, aku hendak melihatnya? Tak ada jawaban. Akhirnya dia gila! Dan dahulu, beratus-atus tahun berselang< Nabi Musa juga mencari Allah, di mana Dia? Aku hendak melihatnya? Dia Nabi, oleh karena itu Allah menjawabnya langsung : “Kamu sekali-kali tidak sanggup untuk melihat Ku!”. Dia pingsan, tapi Dia juga taubat.
Membaca buku ini, tidak hanya dapat menambah keimanan kepada Allah, akan tetapi ia mengajak kita untuk sadar kembali taubat kepada Nya. Mencari Allah memang tidak segampang mencari ikan di laut, karenanya buku ini mendapat sambutan yang meriah di Mesir. Taggapan-tanggapan dan resensi-resensi bermunculan di surat-surat kabar dari majalah yang terbit di Timur Tengah.
Tentunya terjemahan ini tidak seindah buku aslinya. Dengan penuh kesadaran kami senantiasa membuka dada untuk menerima kritikan dan tegur sapa dari para ahli. Kepada penerbit, kami sampaikan terima kasih, semoga usaha kita dicatat oleh Allah sebagai ama shaleh di Sisi-Nya. Aamiin..

TMI Prenduan,  Maret 1982
Penterjemah
MOTTO
Dengan Nama Allah Yang Pengasih – Penyayang
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(Qs. Az-Zumar : 67).
DAFTAR  - ISI

KATA  PENGANTAR
PENDAHULUAN
PENCARI HAKEKAT
HAKEKAT DAN PRADUGA
SUARA  AKAL
PANDANGAN  KE ATAS
NERAKA  ATHEISME
Daerah   iman
PERCOBAAN  DAN  PENGAKUAN
MENGAPA  AKU  MUSLIM
DAN  AKHIRNYA.... BAGAIMANA AKU  MELIHAT  ALLAH

PENDAHULUAN

Segala Puuji bagi Allah, Shalawat dan salam kami panjatkan untuk Rasulullah, Pilihan-Nya.

Pergumulan antara iman dan kufur terjadi lama sejak azali manusia diturunkan di permukaan planet kita ini. Pergumulan yang hanya terjadi akibat ketidakadilan pertimbangan akal manusia. Pergumulan yang akan terus berlangsung jika mata hati manusia berkelip-kelip redup.

“Dan mereka berkata : Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (QS. 45 : 24).

Logika mereka sendiri yang menjadikan mereka tergelincir jauh dari lingkungan Iman pada jaman yang penuh pakai rasio-rasioan ini. Mereka lari dari pancaran hikmah dan akal. Berenang diri dalam kegilaan zuhud, ingkar dan keragu-ragguan, putus asa atas rahmat Allah yang terhampar di seluruh semesta raya dan daratan bumi.

Maka pergumulan ini bakan baru – seperti saya katakan – bukan kemarin. Yang baru adalah cara dan metode yang dipakai di dalam dialog, diskusi dan cara memuaskan hati. Sebuah dialog dan diskusi yang tidak berdiri pada dasar yang jelas dan tidak berangkat dari dalil atau argumen yang paten.

Sesungguhnya di balik semesta wujud materi ini, ada suatu kehendak yang mengaturnya, ada suatu kadar ketentuan yang menggerakkannya, ada undang-undang yang mendamaikannya, hidup dalam dunia kosmos penuh harmoni.

Undang-undang itu mengikat erat partikel semesta wujud, mengatur keseluruhan geraknya, sehingga masing-masing berjalan harmoni tak terjadi tabrakan, kemacetan atau pusingan yang membahayakan. Semuanya gerberak teratur secara terus menerus hingga titik waktu yang dikehendaki Allah.

Begitulah, semesta wujud ini tunduk patuh kepada kehendak pengaturnya, menurut kadar ketentuan yang menggerakkannya, bergerak menurut undang-undang yang menyatukannya dalam gerak harmoni, Tak akan pernah terjadi – sekali saja – semesta wujud menyimpang dari kehendak dan menyalahi undang-undang itu.

Apabila fitrah manusia kembali seperti semula, mampu mengambil arti dari pemandangan semesta raya ini, sedikit pun tak akan ada celah tanpa iman pada diri di dalam mempercayai adanya Pencipta Yang Maha Agung. Dia... tidak akan lari dari hakekat yang memancar dalam hatinya. Dia – sedikit pun – tidak akan meragukan kekuasaan Allah yang nampak dalam ciptaan-Nya, seperti dikatakan oleh salah seorang ilmuawan “Mata semut yang kecil itu, cukuplah untuk membuka mata seorang yang ingkar!

Dan buku ini hanyalah ajakan iman kepada Allah, Cuma hujjah dan argumen yang berdasar kepada berbagai sumber dari otak para ilmuawan, pengetahuan dan kehidupan.

Sebuah buku untuk menyajikan hati yang masih diliputi keragu-raguan, yang berjalan dalam angan dan hayal; hati yang mencari kebenaran.

Sebuah buku untuk memantapkan iman orang-orang yang haus mencari petunjuk dan cahaya.

ABDULWADUD  SYALABI.

PENCARI HAKEKAT

Kelak akan datang suatu masa, menusia menyadari bahwa materi tidak akan mendatangkan kebahagiaan satu-satunya, tak banyak mendatangkan guna bagi manusia. Pada masa itu, penemuan-penemuan ilmiah berkembang cepat, yang membawa ilmuawan percaya kepada Allah dan sama-sama Shalat. (Charles Staimitz).
Planet tempat kita hidup ini, siapa yang sudah pernah menyingkap rahasianya? Siapa yang pernah memasuki guanya?

Dunia lari dengan cepatnya, tapi ke mana? Tak seorangpun mengetahuinya, seperti dikatakan Einstein : “Apa-apa yang kita saksikan di planet bumi ini, meyakinkan kita bahwa sebenarnya lari menuju lembah yang amat dalam”. Dan mengapa? Sebab, unsur-unsur keimanan  - seperti dinyatakan oleh filsuf ini – mulai melekat pada diri kita dan melebur di dalamnya. Sebab – tambahnya lagi – banyak para ilmuawan yang melancarkan usaha mengadu domba antara Agama dan ilmu pengetahuan.

Apa sungguh masalahnya sudah gawat begini?
Mari kita baca lebih dahulu tulisan Dr. Dietrait tentang hasil riset yang membahas tentang pendapat filsuf di atas dalam suatu simposium ilmiah yang dihadiri oleh 290 ilmmuawan yang masing-masing mempunyai keahlian sendiri-sendiri – dari astronmi, kimia, matematika dan kedokteran.

Pertanyaan pertama yang diajukan para ilmuawan itu, ialah : Apakah anda percaya kepada adanya Allah pencipta semesta ini? Jawab mereka :
242       ilmuawan benar-benar percaya kepada Allah.
28         ilmuawan belum mendapat kepastian keyakinan yang dianut.
20        ilmuawan belum punya perhatian dan tidak memikirkan masalah aqidah keyakinan agama.

Di tahun berikutnya simposium ini diadakan lagi dalam skup lebih luas dan di iklankan di surat-kabar News AD Word untuk bisa diikuti oleh masyarakat umum. Tema dari simposium ini ialah tentang iman kepada Allah, tentang Allah itu sendiri, dan bagaimana cara membayangkan dan cara melihat Nya. Selanjutnya surat kabar itu menyebarkan angket kepada seluruh pembacanya di Inggris, khususnya kepada para pemuda, ahli-ahli pikir dan para ilmuawan, dan masalahnya masih menyangkut Allah, iman ke pada-Nya, dan bagaimana cara membayangkan dan cara melihat Allah. Hasil dari simposium dan angket itu, menunjukan bahwa kebanyakan peserta simposium dan para penjawab angket percaya kepada Allah Pencipta. Dan yang merupakan masalah pelik bagi mereka ialah tentang cara membayangkan Allah, cara melihat Allah dan cara bagaimana menyembah Allah dengan sebaik-baiknya di atas bumi planet kita ini.

Di samping hasil yang diperoleh surat kabar itu, kebanyakan para ilmuawan menyatakan dengan lantang bahwa materialisme sedikit pun tak membawa arti apa-apa, ia berdiri dengan kaki lemah, sebagai bangunan yang di dirikan di atas keragu-raguan belaka.

Camyel Flamirion, berkata :
“Kita berpikir, tapi apa pikiran itu? Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan itu secara pasti. Kita berjalan, tapi apa sebenarnya berjalan itu? Tak seorangpun bisa menjawab pertanyaan tersebut secara pasti. Kamauan saya adalah kekuatan immateriil, begitu pula ciri khas kepribadianku. Karenanya, jika saya hendak menggeakan tangan saya, saya jadi berpikir bahwa kemauan itulah yang menggerakan materi saya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan apa pula yang menjembatani antara kekuatan-kekuatan akal dalam memproduksi suatu hasil yang berbentuk materi? Juga tak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini. Bahkan katakan padaku : Bagaimana syaraf mata memindahkan gambar sesuatu ke pusat akal? Katakan padaku : Bagaimana akal mengetahui pemindahan ini, bagaimana mengenal gambar itu? Dan bagaimana pula bentuk pemikiran? Di aman letaknya? Dan apapula ciri kerja akal itu? Katakan, katakan padaku wahai orang-orang yang kufur ..... Tapi cukup. Cukup soal-soal di atas saja. Saya bisa bertanya kepada kalian sepuluh tahun. Dan tak akan bisa kepala-kepala kalian yang botak itu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya itu, yang paling kalian anggap remeh pun. Tak akan kuasa kalian menjawabnya!!

Dr. Inayatullah Al-Masyriqi – Ilmuwan India, bercerita :
“Saya mengajar di Cambridge. Suat hari hujan turun dengan derasnya. Ketika itu ada keperluan dari saya ke luar rumah. Tiba-tiba saya melihat astronom terkenal Sir James Janes, berjalan menuju gereja mengepit Injil dan payung. Saya mendekatinya dan mengucapkan salam. Tapi dia tidak menjawab. Saya ucapkan salam sekali lagi, lalu ia bertanya : Sada apa? Saya inging menanya dua masalah kepada tuan – jawab saya – yang pertama, mengapa payung tidak tuan pergunakan meskipun hujan turun? Sir James senyum dan langsung membuka payungnya. Sedangkan soal kedua, mengapa tuan pergi ke gereja padahal tuan ilmuwan besar dan termasyhur di seluruh dunia?

Sampai pertanyaan ini, Sir James berdiam diri sejenak, lalu berkata : Kita ketemu sore hari, mari kita bicarakan bersama masalah itu dengan serius.

Sore saya ke rumahnya. Sampai di sana, langsung dia menanyakan kembali soal yang saya ajukan pagi hari itu. Dan tanpa menunggu jawaban, dia mulai bicara tentang semesta raya, tentang dunia, dan tentang tata surya, dengan segala aturannya yang begitu teliti dan sangat menajubkan. Tentang planet-planet di angkasa, aturannya yang mengherankan. Tentang bintang-bintang yang letaknya jauh dan tak terbayangkan banyaknya. Tentang Thufan (syunami), tentang galaxy dan sinarnya yang tak pernah redup. Kata-katanya menarik dan mantap. Dia berbicara terus dan saya melihatnya meskipun ia tidak melihat saya. Tanpa saya duga dan mungkin tanpa dia sadari, beberapa kali air matanya menetes ke celananya, dan tiba-tiba kedua tangannya gemetar. Dia nampak ketakutan membayangkan kebesaran Allah. Lalu dia berhenti bicara. Selang beberapa menit dia dia mulai bicara lagi : “Begitulah, kalau saya ingat akan kebesaran Allah, seluruh persendian tubuh saya gemetar merasa betapa Agung Allah. Setiap saya bersujud di Hadapan Nya, tak penah lupa saya selalu mengucapkan “Maha Besar Engkau Wahai Tuhanku!”. Ketika itulah saya merasakan betapa kebahagiaan meliputi seluruh bagian tubuh”.

Menyadari diriku dalam kebisuan, saya angkat bicara : “Apa yang tuan katakan benar-benar menakjubkan. Sudilah tuan mendengarkan Ayat Suci Al Qur’an”? “Silahkan, kami akan mendengarkannya dengan senang hati”. Jawab Sir James. Dengan nada mantap saya baca ayat 27 dan 28 dari Surat Faathir. Yang tafsirnya, sebagai berikut :
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di anatara gunung- gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak. Ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir : 27 – 28).

Begitu saya selesai membacanya, Sir James berseru lantang : “Apa yang saudara katakan?”.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama” Ayat yang benar-benar menakjubkan! Siapa yang menggambarkan hal ini kepada Muhammad? Apa benar ayat ini dari Al-Qur’an? Jika memang benar demikian, tulislah, buktikan kepadaku bahwa Al Qur’an benar-benar Wahyu dari Allah. Saya tahu Muhammad itu tak tau tulis baca, Dia seorang Ummi. Ya! Pasti Allah yang telah memberi tahu semua ini kepada Muhammad, tidak mungkin dia bisa menyingkap rahasia alam ini dengan sendirinya. Sungguh mengherankan! Aneh sekali!.

Dan ketika ilmuwan Eiffel selesai membangun menaranya yang begitu menakjubkan di jantung kota Paris, seorang ilmuwan Inggris Edison datang dan menulis :
“dari Edison untuk Eiffel, yang mengagumi dan menghormati para insinyur, dan di atas mereka adalah insinyur Paling Agung, yaitu Allah

Lain lagi seorang biolog, sewaktu dia melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang ilmu pengetahuan yang dia dalami, satu ucapan saja yang keluar dari lidahnya : “Sesungguhnya mata kupu-kupu dan kedua sayapnya, cukuplah untuk membuka mata seorang yang kafir dan ingkar”.

Kemudian ahli ilmu alam, dia memperhatikan keajaiban-keajaiban yang ada pada alam semesta raya, suatu keyakinan muncul dari dalam dirinya, bahwa akal manusia lemah dan terbatas. Kelemahan itu begitu nampak atas ketidakmampuannya untuk menafsirkan rahasia-rahasia kecil dari alam, kata-katanya yang keluar kemudian : “Coba kau terangkan padaku tentang pasir saja, niscaya aku terangkan padamu tentang Allah Pencipta pasir itu!”.

Fober, seorang ilmuwan besar, menulis dalam catatan hariannya :
“Sesungguhnya akal manusia tak akan pernah selesai dengan tuntas meneliti alam ini. Dan setiap saya berfikir, saya rasakan benar bahwa akal itu Cuma mampu bersembunyi di belakang rahasia alam. Saya tahu bahwa ketika orang membaca catatan ini akan merasa sinis dan ejekan itu tidaklah berarti apa-apa bagiku, besar atau kecil. Tuan bisa saja mengelupas kulitku ini dari tubuh, tetapi tuan-tuan tidak akan dapat mengelupas emanku kepada Allah dari akalku, Astaghfirullah, Ampunan-Mu wahai Tuhan ku, sebab sesungguhny akau tidak hanya beriman kepada Allah, akan tetapi aku telah menyaksikan Nya.”

Guru Ahmad Abdul Ghafur pernah berkata :
“Saya kenal Tolstoy tiga puluh tahun yang lalu. Saya telah banyak membaca romannya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, saya jadi terheran-heran ketika saya baca kisah-kisahnya yang berhubungan dengan kesustraan Mongolia. Singkat ceritanya bisa saya sebutkan di sini :

Ada seorang raja yang adil dan kasih ssayang kepada rakyatnya. Dia tidak mempunyai putera, seorangpun. Akan tetapi hal itu bukan soal penting baginya, sebab cintanya kepada rakyatnya telah melebihi cintanya untuk keluarganya. Karena itu dia merupakan orang yang begitu dicintai rakyatnya, menjadi orang besar dalam kerajaan.

Pada suatu hari dia dapat digoda oleh syetan yang merayunya untuk tidak keburu percaya kepada Allah sebelum dia melihat-Nya. Bujukan itu begitu saja dia terima dan memerintahkan kepada pembesar kerajaan untuk berpikir dan berusaha memperlihatkan Allah kepadanya dengan memberi kesempatan tiga hari untuk mereka usahakan.

Tiga hari kemudian, para pemikir dan pembesar kerajaan sudah sama-sama berkumpul di pendopo. Mereka semuanya sudah siap untuk mati. Salah seorang di antara mereka, seorang rakyat kecil, angkat tangan dan bicara : “Wahai yang mulia tuan Raja, hamba sanggup untuk memperlihatkan Allah kepada tuan Raja, jika ada perkenan dari tuan Raja yang mulia.” Ya, katakan; perintah Raja. Rakyaitu lalu memohon kepada Raja untuk mengangkat mukanya melihat Allah. Dikatakannya bahwa Allah itu ada di matahari, “Jika tuan hendak melihat Allah, maka hamba mohon tuan bisa melihat kepada matahari itu.” Raja mengangkat mukanya, tapi tiba-tiba menutup matanya dengan kedua tangannya.

“Jika tuan Raja yang mulia tidak dapat menatap matahari, padahal ia adalah makhluk-Nya yang bukan paling besar, lalu bagaimana tuan Raja akan dapat melihat Allah dengan kedua mata tuan yang lemah itu.”

Raja merasa kalah. Dia kelihatan bingung mendapat sorak-sorai dari para hadirin. Angkat muka berusaha menguasai diri. Namun tiba-tiba rakyat kecil itu menanyakan kepadanya tentang siapa nama anaknya. Kini sang Raja merasa mendapat kesempatan untuk menang kembali setelah kalah, lalu bicara : “Rakyat bodoh! Bagaimana kau menanyakan nama yang tak ada itu?”

Tua benar, wahai Raja. Apakah akal tuan menerima, manusia memberi nama Pencipta mereka dengan nama Allah padahal Dia tidak mempunyai wujud? Jadi mustahil bagi tuan memberi nama kepada anak tuan yang belum tuan punya, lalu bagaimana dengan berjuta-juta manusia memberi nama Allah kepada hal-hal tidak mempunyai wujud atau bentuk?” Tepuk tangan para hadirin semakin riuh. Raja kelihatan semakin marah, dan bertanya kepadanya : “Siapa yang ada sebelum Allah?”

“Apakah tuan mengetahui angka-angka?”, tanya rakyat kecil itu. Ketika Raja menjawabnya, rakyat itu memohon kepadanya untuk menghitung. Dan Raja pun mulai menghitung : Satu.......  dua..... tiga .... dan seterusnya.

“Lalu hitung wahai tuanku, sebelum satu”.

Raja marah, “Kurang ajar kau ini, apa ada angka sebelum satu?”.

“Demikian pula Allah, Dia satu dan tidak ada siapa-siapa sebelum-Nya!” “Ya, apa kerja Allah sekarang?”, Raja tak mau kalah. “Jawabannya akan kami ajukan, tapi syaratnya lebih dahulu kita saling bergantian pakaian. Tuan memakai baju saya, dan saya akan memakai baju tuan, saya akan menjawabnya.”

Keduanya bergantian pakaian. Rakyat kecil itu kini raja sendiri, dan berdiri dengan sombongnya sambil berkata : “Kerja Allah ialah meninggikan derajat orang yang Dia kehendaki dan berkehendak untuk menurunkan derajat orang yang Dia kehendaki. Nah inilah aku sekarang, seorang rakyat yang miskin telah menjadi Raja, beberapa menit sebelum ini andalah Raja, tapi kini telah menjadi rakyat kecil yang miskin. Memuliakan, Menghinakan, Mengekalkan dan Membinasakan adalah pekerjaan Allah”.
oooooOOOOOOOoooooo

Imam Abu Hanifah, pernah pula bersecita :

“Ada seorang ilmuawan besar dari kalangan bangsawan Romawi, tapi kafir. Ulama-ulama Islam membiarkannya saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari ke dua, manusia berkumpul di Masjid Jami”. Orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara saf-saf masjid, bangun seorang laki-laki muda, Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : “Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan.”

Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara : “Katakan pendapat tuan!”

Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya : “Masuk akalkan jika dikatakan bahwa ada pertama yang tidak ada apa-apanya sebelumnya?”

“Benar. Tahukan tuan hitungan?”, tanya Abu Hanifah.
“Ya.”
“Apa itu sebelum angka satu?”
“Ia adalah pertama, dan paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu,” Jawab orang kufur itu.
“Demikian pulalah Allah SWT.”
“Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya,” tanya ilmuwan.
“Tahukan tuan bagaimana bentuk susu?”
“Ya!”
“Adakah di dalam susu itu keju?”
“Ya!”
“Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?”, tanya Abu Hanifah.
“Tak ada tempatnya yang khusus. Keju itu menyatu meliputi dan bercampur dengan susu!”, jawab ilmuwan.
“Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan.”
“Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segla sesuatu pasti punya arah?”, tanya orang kafir itu.
“Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”, tanya Abu Hanifah.
“Sinarnya menghadap ke semua arah.”
“Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi.”
“Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”

“Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan daya akan menjawabnya dari tempat tuan, “ Pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu pun turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas, “Baiklah sekarang saya akan jawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”, ilmuwan itu mengangguk, “Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan segera menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai, dengan segera pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu.” Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.
ooooOOOOOOooooo

Seorang ilmuwan pernah ditanya dalil tentang adanya Allah, maka dia berkata : “Allah.”
Dia ditanya lagi : “Apa itu akal?”

Ilmuwan itu menjawab : “Seseorang yang lemah akal hanya akan mampu memberi dalil dan bukti-bukti kepada orang lemah lainnya.”

Jika manusia jaman sekarang mengetahui hakikat dirinya, mengetahui keterbatasan akalnya, pastilah tak akan pernah ada suara-suara yang mengajak kepada kemungkaran. Manusia akan hidup tenang, tenteram dan penuh kebahagiaan hati.

Beberapa tahun saya telah belajar filsafat di Fakultas Ushuluddin di Universitas Al Azhar, sebuah fakultas yang bertujuan memusatkan pikiran terhadap tiang-tiang keimanan dan keyakinan yang mantap di dalam jiwa. Di fakultas ini, filsafat merupakan bidang studi yang paling diprioritaskan dalam kurikulum. Filsafat dengan segala jurusannya, termasuk filsafat ke Tuhan-an.

Saya telah baca itu filsafat Socrates, Aristoteles dan Plato? Apa artinya itu semua? Apapula koak-koak Nistzche, Descartes dan Immanuel Kant itu?

Saya sering ragu-ragu dengan perkataan, ungkapan, dan filsafat mereka. Dan selama ini masih saya simpan dalam hati. Sebab Allah SWT. Di atas segala macam pengungkapan dan segala macam filsafat. Dan akal manusia meskipun sudah begitu hebat, adalah akal yang terbatas berada di dunianya yang terbatas pula, ia akan ngelantur tak karuan, akan tersesat. Sehingga yang keluar dan yang dihasilkan olehnya hanyalah kesesatan dan ketergelinciran.

Ya Allah !!!!!!
Selamatkanlah kami dari pengaruh mereka, lepaskanlah kami dari belenggu kesesatan...... Kitab Al Qur’an ini tiada lain adalah Kitab Suci yang diturunkan untuk memberikan bukti-bukti akan Wujud-Mu, yaaaa Allah...

Maka ..... kapankah Engkau pernah  menghilang hingga Engkau membutuhkan bukti untuk menunjukan Wujud-Mu?

Dan kapanpula engkau pernah menjauh hingga membutuhkan petunjuk untuk mencari jejak-jejak Mu?

Jika pikiran tertuju dan terpusatkan kepada langit dimana tersebar berjuta-juta bintang di malam hari, Jika pandangan tertuju kepada kejauhan alam yang gelap malam hari, dan jika jiwa ini begitu tunduk patuh kepada Mu melihat Kebesaran Mu yang nampak pada ketenangan malam ini, Engkau selalu hadir di celah-celah bintang-gemintang itu, di celah-celah lobang hitam yang begitu menakjubkan, Suara Mu terdengar datang dari daerah-daerah yang tenang itu. Ketika itulah saya menyaksikan alam nampak tersenyum manis. Kesunyian berubah menjadi suara-suara merdu. Jiwa yang tenteram ini pun bernyanyi.

Anta................................  Anta... Allah!!!!!!!!!!!!
Engkau.................... ...  Engkau lah Allah!!!!!!!!!!!!!!!!

Sungguh mengherankan, mengapa manusia masih durhaka dan mengingkari adanya Tuhan, padahal segala sesuatu yang ada di dunia ini menunjukan adanya Tuhan Yang Maha Esa.


Namun bagaimana dengan buku ini ?????
Dunia Islam sekarang mendapat tekanan dari segala arah. Tekanan-tekanan yang bertujuan meneggelamkan akar-akar akidah Islam, tekanan-tekanan yang dilancarkan dengan berbagai caranya yang kotor, melalui tulisan dan lisan. Maka adalah suatu penghianatan. Ya!!!! Penghianatan yang paling besar apabila para penulis yang dapat mengungkapkan pikiran-pikirannya, para diplomat yang pandai berbicara, dan orang-orang yang beriman tinggal diam tak hendak bicara, berpangku tangan tak ada reaksi apa-apa melihat tekanan-tekanan itu.

Dan apabila logika jaman ini adalah ilmu pengetahuan. Dan percobaan-percobaan merupakan dalil bukti dalam hukum, maka saya pun, dalam tulisan ini, mempergunakan metode tersebut. Suatu hasil dari percobaan-percobaan yang dilakukan oleh para ahli pencipta kebenaran dan hakekat.

Sedangkan ilhad, pengingkaran, seperti dikatakan ilmuwan Crisy Morison; adalah salah satu bentuk dari egoisme, dimana manusia duduk di atas kursi Allah. Peradaban ini akan hancur bila tanpa didasari oleh akidah dan Agama. Undang-Undang dan segala macam peraturan yang ada di dunia ini, akan hancur dan kacau balau; keseimbangan; penguasaan jiwa dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai akan terhapus. Maka kelak sudah dapat dibayangkan; Kejahatan akan merajalela di atas permukaan bumi. Urgensi kita sekarang ialah berusaha menguatkan hubunan kita kepada Allah..................

Dan seperti dikatakan oleh Rinen :
“Suatu kemungkinan, segala yang ada ini hancur, merupakan kemungkinan, peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaan hilang dari permukaan bumi, namun tetap kekal abadi, sebagai hujjah yang berbicara akan kebatilan teori-teori materialisme.
ooooOOOOOOooooo
HAKEKAT DAN PRADUGA

Bahwasanya agama dan ilmu pengetahuan alam semesta berjuang untuk melenyapkan keragu-raguan, pengingkaran dan khurafat. Suara yang terdengar menyatu dalam peperangan ini adalah : “Kepada Allah” selamanya.
Max Blank.

Filosof Jerman Immanuel Kant, berkata :
“Berikan padaku zat materi, akan saya ajarkan kalian bagaimana alam ini diciptakan daripadanya”.

Suara Hegel, lain lagi :
“Saya bisa membuat manusia kalau cukup bagi saya airnya, zat-zat kimiawi dan cukup waktu.”

Suara Nietzche, lebih lantang lagi :
“Mula-mula aku ajarkan kepadamu jadilah manusia agung. Dosa yang terbesar adalah dosa melawan Tuhan; tetapi Tuhan telah mati sekarang dan bersama Dia matilah pula pendosa-pendosa itu!”

Mengapa terjadi pengingkaran-pengingkaran dan bahkan memusuhi Tuhan seperti ini? Sebab, mereka berpendapat – demikian pandangan mereka – bahwa alam materi asalnya memang materi sejak awal mulanya hingga akhirnya kelak. Setiap gerak alam dan gejala-gejalanya hanyalah pekerjaan materi yang buta belaka. Setiap sesuatu yang dinyatakan orang bahwa di belakakngnya terdapat kekuatan hebat dan tersembunyi, telah salah menurut pandangan mereka. Sebab, di sana telah diketemukan adanya kekuatan yang bekerja menurut kepentingan bendanya. Kalau pelangi adalah pantulan sinar matahari yang jatuh kepada air hujan, maka secara keseluruhan batillah pendapat yangmengatakan bahwa pelangi merupakan salah satu bukti akan kebesaran Allah yang ada di langit.

Lain lagi kata Heksly : “Kalau kejadian-kejadian merupakan hasil dari sebab akibat (Kausalitas) alami, jilas ia bukanlah hasil dari sebab akibat yang tidak alami. Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, kejadian-kejadian itu bukanlah hasil ciptaan Tuhan pencipta semesta raya dan alam.”

Di mana letak kelemahan dan kesalahan dari perkataan dan pendapat ini? Ilmuwan Muslim Wahiduddin Khan menjawab : “Kita dapat mengenal kelemahan dan kesalahan pendapat mereka dengan contoh-contoh di bawah ini :

Ketika seseorang melihat kereta api berjalan di atas rel, terbetik di benaknya suatu pertanyaan : Bagaimana roda-roda yang berat itu kok bisa lari? Tak berapa kemudian dia akan sampai kepada pemikiran tentang alat-alat dan mesin-mesin kereta. Dia lalu berpendapat alat-alat dan mesin-mesin itulah yang  menggerakan roda yang berat itu. Adakah setelah itu dia dibenarkan jika berpendapat bahwa alat-alat kereta itu sendiri yang menggerakan kereta? Perkaranya tidaklah semudah itu, sebab kita tidak boleh melupakan bahwa di sana terdapat masinis yang menyetir mesin, kemudian insinyur yang menciptakan mesin-mesin itu. Maka pada hakekatnya tak ada wujud bagi kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran pada roda-rodanya tanpa kerja insinyur dan masinis. Mesin-mesin yang ada di dalam kereta itu bukan akhir dari cerita sebuah kereta api, akan tetapi hakekat yang paling akhir adalah akal yang telah mengadakan mesin-mesin itu, kemudian menggerakannya menurut rencana yang telah dipersiapkan.

Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang ahli biologi : Nature does not explain, she is in need or explanation (Alam tidak dapat ditafsirkan, dan bahkan alam itu sendiri yang membutuhkan penafsiran). Kami katakan benar karena alam hanyalah sebuah hakekat di antara hakekat-hakekat semesta raya. Dan alam itu sendiri bukan merupakan penafsiran dari semesta raya itu : Agar lebih jelas, marilah kita mengambil contoh yang lain :

Anak ayam (Chick), pada hari-hari pertamanya hidup di dalam kulit telur yang kuat. Ia akan keluar setelah kulit telur itu pecah. Dahulu kala  orang mengatakan bahwa Allah lah yang telah mengeluarkan anak ayam itu. Namun sekarang – setelah kita melihatnya melaui peneropong – nampak bahwa setelah berumur dau puluh satu hari dalam eraman induknya, anak ayam itu mengeluarkan tanduk kecil pada paruhnya yang dipergunakan untuk memecahkan telur, untuk kemudian kaluar darinya. Tanduk ini hilang setelah beberapa hari sejak dia keluar dari kulit telur.

Menurut orang-orang yang ingkar, kenyaan ini dipergunakan mereka sebagai dalil untuk membatalkan pendapat lama yang mengatakan bahwa Allah lah yang mengeluarkan telur itu, dan mengeluarkan anak ayam dari dalamnya. Dan kita memang tidak menyalahkan bahwa teori dua puluh satu hari lama telur dieram dan anak ayam bisa keluar. Kenyataan ini memang bisa menipu diri kita apabila kita lupa kepada penyebab hakiki. Persoalannya sekarang berubah, bukan tentang bagaimana telur itu pecah, akan tetapi bagaimana tanduk kecil itu keluar? Penyebab yang hakiki akan nampak bagi kita apabila kita dapat membahas sebab-musabab munculnya tanduk itu. Sebab musabab yang sudah begitu jelas dan kita ketahui dengan sempurna, yaitu bahwa anak ayam itu membutuhkan  tanduk itu untuk bisa keluar dari dalam telur. Kita tidak mengetahui secara mendetail bagaimana proses keluarnya tanduk itu. Pembicaraan ini hanyalah merupakan kenyataan visual bagi suatu peristiwa dalam lingkup yang lebih luas, namun ia bukanlah merupakan penafsiran dari peristiwa itu.

Penemuan yang dinyatakan oleh penentang agama sebagai ganti bagi Tuhan, dapat memungkinkan bagi kita untuk menafsirkannya dengan mudah; Ia adalah pola kerja alam. Namun kita dapat juga mengatakan dengan lebih kuat lagi:

Allah SWT. Melaksanakan kehendak-Nya atas semesta raya ini melalui aturan-aturan yang sebagian kecil di antaranya dapat disingkap rahasianya oleh ilmu pengetahuan modern. Untuk lebih mudah memahaminya baiklah kami sebutkan salah satu contoh dari penyingkapan rahasia alam itu.

Pemuka-pemuka Agama meyakini bahwa Allah lah yang mengadakan pasang surut di lautan. Kemudian datang ilmuwan-ilmuwan baru dan menyatakan kepada kita :

Bahwa pasang surut air itu mempunyai dua sebab. Penyebab yang pertama ialah adanya gaya gravitasi pada bulan dan matahari terhadap bumi, dan penyebab yang ke dua adalah letak geografis bagi setiap daratan atapun lautan bumi.

Kita dapat menerima penemuan ilmiah ini dengan senang hati. Kita tidak dapat menolaknya sebab tak ada hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap kebenaran akidah kita, Kita menerima pendapat bahwa terjadinya pasang surut adalah akibat dari gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi dan bergantung kepada letak geografis bumi. Namun apa itu gaya tarik-menarik atau gravitasi? Dan apapula letak geografis bumi? Kedua-duanya adalah ciptaan Allah. Allah SWT. Telah mempergunakan kehendak Nya. Seandainya Dia tidak mempergunakan cara-cara dan sebab akibat yang teratur dan tersusun rapi ini di dalam melaksanakan kehendak Nya, akan terjadilah kekacauan di seluruh alam semesta raya. Allah SWT. Tetap merupakan penyebab pertama dan penyebab yang hakiki dari adanya thufan lautan (Dari Kitab Addin Wal “Ilmu); bukan materi atau karena kebetulan buta belaka.

Bumi adalah bola yang bergelantung di angkasa. Dan ia sendiri berputra pada porosnya. Karena itu terciptalah siang dan malam. Keduanya bergantian.

Di sampingmengadakan evolusi, ia pun mengadakan revolusi. Ia berputar pula mengelilingi matahari satu kali setahun. Karena itulah terciptalah sistem musim. Yang karenanya terbentuk keharmonisan hidup karena adanya perbedaan tumbuh-tumbuhan dan makanan yang berbuah pada musimnya.

Dan bumi sendiri diselubungi oleh lapisan gas yang terdiri dari berbagai macam gas yang cocok untuk kehidupan. Atmosfir ini cukup tebal lebih dari 500 mil ke atas. Gas-gas itu begitu padat sehingga meteor-meteor yang beterbangan di angkasa tidak sampai jatuh ke bumi, dimana cepatnya meluncur sekitar tigapuluh mil sedetiknya.

Dan lapisan udara yang melingkupi bumi berguna untuk menjaga derajat panas yang dibutuhkan oleh kehidupan di atas bumi. Udara juga menaikan lengas udara yang ada di atas lautan sehingga terkumpul di kejauhan angkasa, menyatu dan terjadilah hujan yang berguna untuk menghidupkan tumbuh-tumbuhan di atas bumi.

Air itu sendiri mempunyai empat ciri khas yang berguna untuk menjaga kehidupan di dalam lautan, danau dan sungai, khususnya sewaktu dingin benar-benar menyengat. Dalam air terkandung bermacam-macam zat, ia menghisap oksigen banyak-banyak ketika temperatur rendah dan ketebalan lengas udara mencapai empat persen derajat yang sebenarnya. Sedangkan es lebih tipis lengasnya daripada air biasa. Oleh karena itu es-es yang tercipta karena mendinginya air di danau atau di sungai-sungai naik ke atas permukaan air, sebab ringan nisbinya. Hal ini memungkinkan makhluk yang hidup di daerah-daerah dingin dapat melanjutkan hidupnya di dalam air. Sedangkan apabila air membeku, keluar dari kebekuan itu (es) panas yang cukup besar, yang membantu menjaga kehidupan makluk-makhluk yang hidup di dalam laut.

Dan tanah yang kering, merupakan daerah yang tetap bagi kebanyakan makhluk hidup yang ada di atas bumi. Tanah mengandung banyak unsur yang diisap oleh tumbuh-tumbuhan, yang diolah menjadi berbagai macam bentuk, rasa dan warna makanan.

Tak seberapa dalam dari permukaan bumi, banyak terdapat tambang-tambang yang amat berguna untuk lencarnya kehidupan dalam dunia perpabrikan dan seni. Banyak orang yang menganggap remeh karena kecilnya besar bumi dibandingkan kekosongan yang tak berbatas di sekelilingnya.

Kalau orang mengetahui bahwa andaikata bumi ini kecil seperti bulan, atau garis tengahnya menjadi seperempat dari garis tengahnya yang asli, kedua lapisan udara dan gas di atas yang meliputi bumi tidak akan dapat menjaganya. Temperatur permukaan bumi akan menjadi berkali lipat dari temperatur yang ada sekarang, sehingga panasnya akan benar-benar mematikan.

Dan sebaliknya, apabila garis tengah bumi berkali-kali lipat dari garis tengahnya yang asli. Gaya gravitasinya terhadap benda-benda yang ada di permukaannya akan berkali-kali lipat dari gravitasi yang ada sekarang. Bersama itu ketinggian atmosfirmya akan lebih rendah, sehingga bertambahlah tekanan udara yang ada di  angkasa, dari satu kilogram menjadi dua kilogram di setiap satu centimeter segi empat tempat di atas bumi. Hal ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan yang ada di atas bumi. Daerah-Daerah dingin akan lebih banyak lagi dari yang ada sekarang. Dan Daerah-daerah yang cocok untuk ditempati akan lebih sempit. Karena itu manusia akan tidak tenang hidupnya, dari satu tempat ke tempat yang lain yang lebih panas. Perjalanan komunikasi akan lebih ramai, akan tetapi ketentraman jiwa tidak dapat terjamin.

Kalau benar bumi ini sama seperti matahari umpamanya, gravitasinya terhadap benda-benda yang ada di atasnya akan bertambah berkali-kali lipat seratus lima puluh kali. Lapisan atmosfir berkurang menjadi empat mil saja. Dan penguapan air pun mustahil akan terjadi, tekanan udara akan lebih tinggi, dan diperhitungkan sekitar seratus limapuluh kilogram di setiap tempat seluas sati centimeter persegi. Binatang yang pertama kalinya lima kilo akan bertambah berkali-kali lipat. Sedangkan manusia akan bertambah kecil seperti bajing. Dan dalam keadaan yang seperti ini, mustahilah manusia bisa berpikir dengan baik.

Atau kalau bumi menjauh dari matahari, maka temperatur udara bertambah kecil. Perputaran bumi mengelilingi matahari akan lebih lama. Berarti musiam panas akan lebih panjang, benda-benda yang terdapat di permukaan bumi kana mengeras karena panas terus menerus.

Atau kalau jarak antara bumi dengan matahari separuh lebih dekat dari biasanya, maka panas yang sampai ke bumi akan empat kali lipat dari biasanya. Perputaran bumi mengelilingi matahari akan elbih cepat, sehingga masing-masing musim memendek setengah kali waktu musim aslinya, dan kehidupan di atas bumi pun akan tidak teratur dan bahkan tidak memungkinkan.

Kalau kehidupan tidak tercipta dengan penuh aturan, perencanaan dan berdasar kepada kehendak Yang Maha Tinggi, jadi bagaimana ia terjadi?

Orang-orang atheis berkata : Kejadiannya kerana kebetulan saja. Kebetulan yang mencipta. Kebetulan yang mengadakan. Kebetulan yang mendatangi kita dan lalu membawa kita kepada ketidakadaan dan kematian. Dan baiklah kita pelajari kembali hukum kebetulan yang mereka katakan itu.

Kita ambil saja conth yang hidup. Atau ambil sajalah sebuah kantong yang berisikan seratus potong batu marmer kecil. Sembilan puluh sembilan di antaranya berwarna hitam, dan yang satu berwarna putih. Kemudian sekarang, gerak-gerakan kantong itu. Bolak-balikan. Maka waktu untuk menarik batu yang berwarna putih itu adalah seper seratus (satu persen) dari waktu untuk menarik keseluruhan. Kembalikan lagi batu itu ke tempat asalnya. Goncang-goncangkan lagi. Maka waktu menarik batu putih itu tetap satu persennya waktu dari penarikan keseluruhan batu, padahal waktu untuk menarik batu berwarna putih dua kali berurutan sama seperti satu perseribu, atau sama dengan satu dibanding seribu.

Sekarang coba ketiga kalinya, maka waktu untuk menarik batu putih itu tiga kali berturut-turut sama dengan satu dibanding satu juta. Lalu coba sekali lagi.... coba lagi..... maka angka-angka itu akan menjadi angka-angka astronomis.

Masih ingin contoh yang lain :

Ambil sepuluh uang tembaga yang masing-masingnya sama. Lalu tulis di sana angka-angka dari satu hingga sepuluh. Letakkan uang itu i saku anda, dan gerakan. Sekarang berusahanlah untuk menarik uang-uang itu dari saku anda menurut urutan nomornya dari satu hingga sepuluh. Maka yang akan terjadi ialah bahwa penarikan uang tembaga nomor satu ialah berbanding 1 hingga 10, dan penarikan nomor satu dan nomor dua secara bergiliran ialah berbanding stu hingga seratus. Dan waktu untuk menarik uang bernomor 1, 2, dan 3 secara berurutan berbanding 1 hingga 1000. Waktu untuk menarik uang 1 – 2 – 3 – 4 secra berurutan berbanding 1 hingaa 10.000. Demikianlah seterusnya hingga waktu penarikan uang-uang logam habis keseluruhannya, dari 1 hingga 10, dan akan berbanding 1 – 10 juta.

Pikirkan dan perhatikan ......!!!!

Adakah anda percaya kalau ada orang bercerita bahwa ada seorang laki-laki buta yang memegang sepuluh buah jarum di tangannya, lalu satu di antaranya dia pegang dengan tangan kiri, kemudian dia melemparkannya ke udara, dan melemparkan jarum-jarum sisanya ke udara pula. Yang terjadi? Jarum-jarum itu saling berkaitan. Ujung jarum yang satu masuk kepada lubang yang lain. Begitu seluruhnya hingga masing-msing merupakan mata rantai yang tak terpisahkan. Adakah anda mempercayainya????

Mustafa Mahmoud berkata :

“Tidak akan habis contoh-contoh yang bisa di ambil dari ilmu tumbuh-tumbuhan. Ilmu binatang, ilmu kedokteran dan ilmu falak. Dan orang yang berpendapat seluruh semesta raya yang begitu teratur dan saling berkaitan merupakan hasil dari kebetulan saja adanya, adalah pendapat yang rancu dan tak beralasan. Pendapat itu seperti kita katakan bahwa ketika terjadi ledakan di sebuah percetakan, maka huruf-huruf yang ada di sana bergerak sendiri membentuk sebuah kamus yang menerangkan tentang sebab-sebab dari terjadinya ledakan itu. Sebuah pendapat yang gila!

Ahli kimia yang sombong dan pongah mengatakan bahwa dengan udara, air, tanah dan situasi-situasi terciptanya manusia yang pertama dia akan dapat menciptakan manusia, sebenarnya sudah mengatakan bahwa sayalah yang menciptakan manusia.

Sebab, andaikan saja kita dapat memeberikan kepadanya apa-apa yang dia butuhkan itu, yang kesemuanya hanya ada sebelum alam semesta raya ini diciptakan, lalu dia benar-benar dapat menciptakan manusia, dia tidak akan mengatakan bahwa manusia itu tercipta secara kebetulan. Pasti dia akan mengatakan : Yang menciptakan manusia ialah saya!!!!!

Adakah kita masih juga akan mengatakan bahwa semesta raya ini tercipta secara kebetulan??? Pendapat yang tidak masuh akal!!

Hingga sekarang kita masih menyaksikan burung-burugn dan ikan-ikan berhijrah bermil-mil dari tempatnya semula, mencari tempat yang cocok, yang lebih baik dan lebih aman dengan melalui hutan rimba, pulau dan padang luas. Apakah hal ini terjadi secara kebetulan? Kebetulan macam apa jika kita saksikan bahwa anak ayam dapat memecahkkan sendiri telurnya ketika dia berada dalam titik paling lemah untuk keluar, mengapa ada tanduknya????

Kebetulan macam apa kalau kita masih menyaksikan penyembah-penyembah matahari berpendapat bahwa hidupnya bergantung kepada matahari, sehingga dia menyembahnya?? Kebetulan yang menciptakan akar-akar pepohonan yang terdapat di padang-padang pasir, yang melayang-layang di udara mencari tempat yang cocok bagi dirinya, mencari air dan tanah yang baik??

Lalu lebah yang berkumpul teratur, yang membangn rumahnya indah sekali, kemudian pandai ilmu kimia sehingga dapat mengubah sari buah-buahan mendai madu dan lilin. Adakah ia secara kebetulan???

Firman Allah, yang tafsirnya,,, sebagai berikut :
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka? Ataukah mereka sendiri yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (perkataan mereka) (QS. Ath Thur : 35 : 36).
SUARA  AKAL

Engkau menjadi orang yang berakal adalah sessuatu yang indah. Namun orang yang benar-benar berakal adalah orang yang disetir oleh akalnya menuju kepada hakekat, yang hidup tanpa adanya hakekat sia-sia, gila dan tak berarti. (Hakim).

Sokrates berkata kepada Aristo :
“Aristodim, apakah ada menurut pendapat saudara orang-orang yang menakjubkan kepandaian dan kebaikan perbuatannya???
“Ya, ada,” Jawab Aristo.
“Bisakah saudara menyebut nama-nama mereka??”
“Bisa! Dalam bidang puisi, idola saya adalah Homere, tentang keberanianya yang paling saya kagumi adalah Miltiade, sedangkan orang yang pandai ratap tangis yang paling mengesankan bagi saya adalah Sapocles.”

Cobalah bandingkan dengan teliti den cermat, mana di anatara kedua tipe manusia  ini yang paling menarik bagimu? Orang-orang yang melakukan gambar-gambar yang tanpa merasakannya dan tanpa gerak ataukah orang-orang yang menciptakan makhluk-makhluk hidup yang bisa hidup dengan pengetahuan?”, Socrates bertanya lagi.

“Demi Tuhan, menurut pandangan saya yang paling cermat dan adil, yang paling menarik adalah orang-orang yang menciptakan makhluk-makhluk hidup yang bisa hidup dengan pengetahuan.... Jika makhluk-makhluk itu bukan merupakan hasil dari hikmah, kesengajan karena adanya kehendak.”

“Kalau saya tampakkan kepada saudara beberapa hasil karya yang berbeda-beda, yang satunya gunanya tak nampak, satunya lagi manfaatnya jelas, dan satunya lagi hikmahnya dalam dunia tak bisa disangkal lagi. Maka di antara ketiga ciptaan itu yang paling saudara anggap sebagi hasil dari ketidaksengajaan dan persetujuan, atau mana yang paling saudara anggap hasil dari akal pikiran dan hikmah?”, Socrates bertanya.

“Pikiran kita mengatakan bahwa ciptaan yang mempunyai hikmah yang jelas di dunia ini, yang mempunyai manfaat yang jelas dalam aturan dunia, adalah hasil dari kerja akal dan hikmah,” Jawab Aristo.

“Adakah saudara melihat adanya arti dari kenyataan bahwa yang menciptakan manusia atau lainnya, telah memberikan anggota tubuh dengan manfaat tertentu, faedah yang sudah jelas kepada manusia. Dia juga memberikan bagian-bagian terkecil dari anggota tubuh dan berbagai macam alat hidup, sehingga dia bisa merasakan dan mencium dengan alatnya, diberinya mata agar dia dapat menikmati keindahan, dia diberi kuping supaya bisa mendengar suara-suara yang sangat penting bagi hidupnya.

Apa guna harum-haruman kalau kita mempunyai hidung untuk menciumnya? Bisakah kita makan, minum dan bersenang-senang menikmatinya tanpa lidah di mulut? Bukankah merupakan tanda-tanda pemikiran tadbir dan hikmah bahwassanya mata yang lemah dapat menjadikan kita bersenang-senang menikmati pemandangan alam, kemudian bisa terbuka dan tertutup sendiri pada waktunya? Diberi alis untuk mencegah keringat yang bergerak-gerak sendiri ke kanan dan ke kiri? Kita diberipula kuping dengan bentuknya yang indah dan kita pun mendengar suara-suara persis seperti suara yang keluar dari sumbernya? Bukankah semua ini merupakan kesengajaan, perencanaan, tadbir dan hikmah? Lalu mengapa saudara masih ragu-ragu antara ketidaksengajaan dan kesengajaan, antara kebetulan saja dan hikmah?”

“Tidak, demi Tuhan, sekecil-kecil pandangan kepada makhluk hidup yang ada di dunia ini telah menunjukan kepada kita bahwa di sana ada Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Penyayang, yang menciptakan dengan seadil-adilnya,” Jawab Aristo.

“Tambahan lagi adanya kecenderungan dasar pada manusia untuk bermegah-megahan, perasaan kasih sayang yang tertancap di hati setiap Ibu untuk memberi makan bayinya, membesarkannya, dan menjadikannya sebagai satu keluarga meskipun sudah tua, kemudian juga adanya instink cinta hidup dan takut mati yang tertanam pada diri anak-anak kecil. Semuanya itu menunjukan kenyataan bahwa ada Dzat yang mengaturnya secara terencana dan disengaja,” Socrates menambahkan.

Tak dapat diragukan lagi bahwa semuanya ini merupakan penciptaan Tuhan Yang Bijaksana, yang menjadikan bumi dan dipersiapkan untuk kehidupan binatang,” Aristo mengomentari setuju.

“Apakah setelah ini engkau tetap mengatakan bahwa engkaulah satu-satunya yang bisa menikmati hikmah dan ilmu pengetahuan, dan tak ada ahli pikir ataupun ahli hikmah selain engkau sendirian di dunia ini? Adakah Saudara mengira bahwa saudaralah yang telah mendatangkan hikmah dan pengetahuan ke dunia ini, dimana sebelum saudara datang kedua hikmah dan pengetahuan itu belum ada? Padahal saudara masih meragukan adanya hikmah dan pengaturan terhadap alam ini?

“Saya tidak membenarkannya. Kepada Tuhan pun saya belum percaya seperti yang saudara percaya, karena saya belum melihatnya mencipta, sebagaimana pak tani menggarap sawah,” jawab Aristo.

 “Saudara masih menyadari bahwa ssaudara tidak dapat melihat ruh yang merupakan penggerak tubuh saudara. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa berdasarkan analogi tersebut saudara mungkin mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang saudara lakukan bersumber dari diri saudara sendiri dengan tanpa saudara sadari, tanpa hikmah dan pengaturan, akan tetapi secara kebetulan.”

“Suruh saja Tuhan untuk memberitahukan pada saya apa yang harus saya lakukan dan apa yang mesti saya biarkan, seperti saudara katakan bahwa Tuhan-tuhan itu mengirimkan kabar tentang pekerjaan saudara,” Aristo tak puas.

Socrates lalu menjawabnya lantang : “Masihkah saudara ingat ketika tuhan-tuhan berbicara dengan penduduk Athena dengan cara meminta dan mengangkat janji? Adakah saudara mengira bahwa mereka tidak berbicara dalam pertemuan itu kepada saudarra? Adakah saudara mengira bahwa ketika mereka menampakan kehendak-kehendak mereka yang tersembunyi melalui mukjizat dan tanda-tanda kepada penduduk Yunani dan manusia di dunia seluruhnya – saudara sendiri satu-satunya yang telah melupakannya, saudara sudah tidak ingat lagi, saudara telah benar-benar melupakannya? Adakah saudara mengira bahwa tuhan-tuhan itu telah meletakkan akidah dan kepercayaan adanya penentuan nasib baik buruk di hati setiap manusia, dan tidak memberinya kekuatan yang memungkinkan dia melakukannya? Atau saudara mengira makhluk yang bernama manuisa telah tertipu sepanjang masa dan hingga sekarang belum menyadari bahwa mereka tertipu? Tidakkah saudara saksikan bahwa institusi kemanusiaan yang paling lama, kerajaan-kerajaan yang berdiri, dan bangsa-bangsa besar, kebanyakan dari mereka semua sangat menggantungkan diri mereka kepada takwa dan ketaatan? Ketahuilah saudara, bahwa roh saudara mempunyai kekuasan penuh terhadap tubuh saudara. Ia mengatur dan menggerakkannya sekehendaknya, maka demikian pulalah hikmah yang melingkupi seluruh semesta raya ini, mempunyai gerak dan kehendak yang menentukan. Benarkah gol akhir pandangan saudara bisa sampai kepada sejumlah fase-fase, padahal pandangan Tuhan tidak dapat disebutkan oleh manusia dengan hanya satu kata? Adakah saudara membayangkan bahwa roh saudara bisa bekerja di satu waktu pekerjaan yang bisa sekaligus dicapai di sini, di Mesir dan di Sicilia, padahal ahunya Tuhan tidak mencakup segala sesuatu dalam satu waktu?” (Allahu Wal Insaan, Abdul Karim Al Khatib).

Psikolog Andro Cotway, berkata : (Dr. Demardesh Sarhan; Allah Yatajalla Fi Ashril il ilmi (Terjemahan).

Adakah tuhan itu? Ya, saya percaya bahwa Tuhan itu ada seperti saya mempercayai adanya sesuatu yang bisa saya pegang, dan seperti pula saya mempercayai adanya diri saya sendiri.

Sesungguhnya keyakinan adanya Allah adalah satu-satunya pola pemikiran yang paling lengkap yang menjadikan dunia ini mempunyai arti. Dan kepercayaan inilah yang menjadikan eksistensi manusia mempunyai arti lebih daripada sebagai sesosok tubuh yang terdiri dari materi dan energi. Percaya kepada adanya Allah adalah sumber bagi terbentuknya pola pemikiran manusia sekitar cinta, yang dirinya tercipta dasar dari persaudaraan antara manusia, karena mereka bersatu dalam hal cinta dan taat kepada Allah. Percaya kepada adanya Allah adalah sumber dari perasaan kita akan adanya hak dan kewajiban, sebab kita tidak akan pernah merasa sama sekali menurut pandangan cinta, keadilan dan kasih sayang yang mutlak. Percaya kepda Allah adalah benteng yang menjaga kita dari serangan berbagai macam kejahatan. Karena itulah, setelah itu, ia merupakan dasar paling kuat tempat berdirinya perasaan keimanan, dan karena itu pulalah nilai-nilai spiritual tetap ada, dimana adanya nilai-nilai itu dianggap tak berarti dibanding adanya Allah, SWT.

Tak ada seorang pun yang akan bisa memberikan argumentasi untuk menyalahkan pemeikiran yag mengatakan bahwa “Allah ada.” Dan tak akan ada seorang pun yang akan bisa memberikan argumen untuk membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa “Allah tidak ada.” Orang dapat saja mengingkari akan adanya Allah, akan tetapi dia tidak akan dapat memberikan dalil yang kuat atas keingkarannya.

Orang boleh saja ragu-ragu akan adanya sesuatu, akan tetapi hendaklah dia dasarkan keragu-raguannya itu kepada dasar pemikiran yang kuat. Dan selama saya hidup, belum pernah saya baca ataupun mendengar suatu dalil logis yang menyatakan bahwa Allah itu tidak ada. Selebihnya saya Cuma mendengar dan banyak membaca dalil-dalil dan bukti-bukti yang menunjukan bahwa Allah itu ada. Saya benar-benar merasakan manisnya keimanan yang melekat di hati kaum mukminin. Dan sayapun sudah banyak merasakan pula pahitnya orang-orang yang ingkar.

Bukti yang dinyatakan oleh orang-orang yang ingkar untuk menetapkan adanya Allah, sama seperti dalil yang diminta seakan-akan Allah berbentuk ssama seperti manusia atau merupakan zat materi. Jika seandainya Allah berbentuk sebagai wujud materi, saya yakin tak akan ada orang meragukan eksistensi Nya. Namun Allah membiarkan kita berpikir memergunakan akal pikiran, untuk menimmbang-nimbang antara iman dan tidak. Akal dibebaskan memilih antara mempercayai-Nya atau tidak.

Manusia bisa ingkar akan adanya Allah, akalnya menentukan dan berhak menerimma hasil atau balasan dari keingkarannya. Sebagian besar atheis, atau orang yang tidak mempercayai akan adanya Allah, berpendapat bahwa Allah seakan-akan tidak ada bedanya dengan manusia, bisa dilihat dan diajak bicara berdua-dua-an. Mereka berkata : “Saya akan percaya adanya Allah apabila saya disembuhkan  dari penyakit, atau bila hujan diturunkan, jika maksud saya tercapai, banjir berhenti dan seterusnya. Sebagian lagi ada yang mengatakan : Kalau ada Tuhan yang adil, gigiku tak akan sakit begini. Dengan perkataan llain : Saya akan percaya kepada Allah apabila dunia atau kendalinya dibangun menurut kehendakku yang berdasar kepada egoisme, dibangun menurut kepentinganku!

Tak ada halangan untuk sampai kepada Allah, akan tetapi dibutuhkan pemikiran yang lurus dan benar. Untuk itu seseorang harus membebaskan akalnya dari sifat ego dan dengki, serta segala hal yang bisa membengkokkan diri dari pemikiran yang bersih. Sehingga dengan mudah dia akan sampai kepada pemikiran tentang Allah dan cinta kepada-Nya. Oleh karena itu pertama kali pemikiran harus ditujukan kepada usaha untuk memberantas segala kejahatan dan kelaliman yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang masih meragukan akan adanya Allah. Hikmah dari penciptaan, ialah hendaknya akal dipergunakan untuk dengan gigih berusaha menghilangkan kejahatan-kejahatan itu, sehingga hukum dan aturan serta pengaturan Allah di permukaan bumi sama seperti pengaturannya terhaap benda-benda angkasa yang begitu teratur dan tidak pernah tabrakan.

Keyakinan saya terhadap adanya Allah yang menciptakan segala sesuatu, yang berada di dalam semesta raya dan berada di luarnya, yang mengatur saya dan mengatur pembaca, pertama kali karena saya mempergunakan akal. Kemudian sesudah itu berdasar kepercayaan keimanan, harapan dan cinta, kalau saya tidak pernah mempergunakan akal. Manusia tidaklah baik menyombongkan diri dengan akalnya, akan tetapi hendaknya dia mempergunakan dengan sebaik-baiknya. Keimanan yang tidak dimulai dari suatu pemikiran dari akal, adalah iman yang lemah. Keimanan semacam ini akan merupakan pusat dari berbagai macam serangan yang melumpuhkan.

Percaya kepada Allah hendaknya berdasar kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip hasil pemikiran. Dan di atasnya kelak akan berdiri keimanan akan masa depan kemajuan materiil. Hal itulah yang merupakan sebab saya sendiri dan anda meyakini bahwa matahari pasti terbit pagi hari, meyakini bahwa saya akan masih tetap hidup besok dan bekerja sebagaimana mestinya. Kalau pemikiran adalah jalan untuk sampai kepada kemajuan materiil, maka mengapa pemikiran tidak dipergunakan pula sebagai cara untuk sampai kepada kemajuan spiritual dan ketinggian moral? Oleh karena masing-masing dari kita hendaknya mempunyai suatu keberanian untuk enunjang kemampuannya didalam mengutarakan sebab-sebab yang menjadikannya percaya kepada salah satu agama. Hendaklah mulai mengukur sejauh mana kepercayaannya terhadap kebenaran agama anutannya, mulai mengukur keikhlasannya atas pekerjaan yang dilakukan.

Dan meskipun orang telah menyatakan diri percaya kepada adanya Allah berdasar suatu penyerahan diri secara bulat-bulat, hendaklah penyerahan itu berdiri di atas dasar pengetahuan –pengetahuan, pengalaman, dan pemikiran di atas. Penyerahan atas apa pun tidak akan terlaksana dengan ikhlas tanpa didasari kepada pengetahuan dan pemikiran.

Kalau saya katakan bahwa Allah ada, dan ada Nya itu merupakan hal yang jelas dan biasa, itu berarti bahwa kita tidak bisa menerima obyek pembicaraan ini dengan methode ilmiah dan methode formal disebabkan kurangnya pengetahuan kita, atau karena belum ada pengatura pemikiran kita di sekitar obyek pembicaraan, atau karena tidak adanya persiapan untuk mengadakan dialog, atau karena da sebab-sebab lain.

Selama hidup saya, belum pernah menemukan orang yang ketika menganalisa obyek ini bisa menerangkan mengapa dia percaya, atau mengapa dia harus percaya akan adanya Allah. Sebab besar sebab-seba itu mengarah kepada kenyataan bahwa dunia dan alam semesta ini harus ada penciptanya. Semesta raya ini harus ada pengaturnya, sebab tak ada alat di dunia ini tanpa ada yang mebuatnya. Hal ini merupakan hakekat dasar yang diketahui oelh setiap manusia yang berakal.

Max Blank, seorang ilmuwan biologi, yang membuka jalan kepada diketemukannya atom, mengatakan :
“Bahwa sanya agama dan ilmu pengetahuan alam sama berjuang untuk melenyapkan keragu-raguan, pengingkaran dan khurafat. Suara yang terdengar menyatu dalam peperangan ini adalah : “Kepada Allah!”, selamanya.”
PANDANGAN  KE ATAS
 Sungguh aku heran melihat orang yang sanggup melihat semesta raya dan menyaksikan kebesaran dan kehebatan ciptaan, kemudian dia setelah itu tidak juga percaya kepada Allah.
Abraham Lincoln.


Syeikh Al Hakim bekata kepada muridnya yang bingung dan sesat :
“Kemarilah wahai muridku yang bingung dan sesat, mariilah kita melihat kepada apa-apa yang ada di semesta raya dengan segala isinya yang tak pernah berbenturan, planet-planet yang bergelantungan tanpa tiang. Dan marilah kita melihat bintang-bintang yang berjuta-juta banyaknya itu, seperti yang telah diperintahkan oleh Allah dengan mempergunakan ilmu pengetahuan.”

Sesungguhnya keluasan ilmu pengetahuan yang telah dicapai oleh manusia hingga sekarang ini, tidaklah seberapa banyak dibanding ilmu Allah. Engkau tahu wahai muridku, bahwa sanya cahaya menempuh jarak 186 ribu mil atau kira-kira 30 ribu km setiap detik. Berarti setiap menit ia menempuh jarak 11 juta atau 160 mil, sedangkan setahuannya ia menempuh jarak 6000 milyard mil. Dan biasanya jarak ini disebut dengan istilah “Tahun Cahaya,” supaya dengan mudah manusia dapat menentukan jarak-jarak antar planet yang begitu besar ini, Maka apabila dikatakan kepada kita bahwa sati planet berjarak satu tahun cahaya dari planet kita di bumi, itu berarti dan bisa dipahami bahwa jauh planet itu dari planet kita aalah 6.000.000.000 (6.109)mil.

Dan bulan, muridku, adalah benda angkasa paling dekat dari bumi. Cahaya sampai ke bumi kita dalam waktu dua detik, karena itu jaraknya dari planet kita hanya sekitar 24.000 mil. Adapun matahari sinarnya sampai kepada kita dalam waktu 8 menit, karena itu jauhnya dari bumu sekitar 93 jutamil.

Tahukan engkau wahai muridku yang bingung berapakah jauh bintang terdekat dari kita setelah matahari? Bintang terdekat dari planet kita adalah empat tahun cahaya. Itu berarti jauhnya dari planet kita 23 juta mil.”

“Benar-benar hebat hal itu, guru!”

“Ini masih dekat dibanding Altair yang jauhnya dari planet kita mencapai 14 tahun cahaya, kemudian Vega, jauhnya dari bumi kita 30 tahun cahaya, sedangkan Arcturut, jauhnya dari planet kita sekitar 50 tahun cahaya, atau 294 juta juta mil.

“Benar-benar hebat guru!”

“Ini masih remeh muridku, dibanting bintang-bintang lain yang jauhnya mencapai sekitar seribu tahun cahaya. Kita tahu bahwa di belakang galaxi kita ada nebula, yaitu di antara nebula Andromeda yang jaraknya dari bumi sekitar satu juta ribu tahun cahaya. Adakah bukti-bukti ini sudah cukup bagimu muridku untuk membenarkan ayat suci, yang tafsirnya sebagai berikut :
Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 47).

“Terus ceritakan kepada nanda guru, tentang keajaiban dunia ini, terus guru, nanda senang sekali mendengarkannya,” Pemuda itu tidak puas.

“Ambil buku “Ilmu Falak”mu, lalu baca dan hayati, niscaya imanmu akan bertambah kuat dan kau akan bertambah tunduk khusu’. Dan sekarang, apa yang mesti aku ceritakan kepadamu, apa harus saya ceritakan tentang besar bintang-bintang, atau besar matahari-matahari yang begitu menakjubkan? Atau harus aku ceritakan tentang cahaya yang menarik pandangan? Apa kataku barusan, menarik pandangan? Ya, baiklah, akan saya ceritakan padamu tentang matahari kita. Ketahuilah muridku, bahwa di sana di kejauhan tempat, ada bintang gemintang yang lebih terang cahayanya dibanding matahari kita, juga lebih besar. Dan bagaimana dengan matahari kita?Tahukah engkau muridku? Menurut para ahli bahwa besar cahaya matahari kita, kira-kira 3.000 juta juta kali sinar lilin. Lalu apa yang meski kau katakan muridku, bila aku sebutkan bintang Sirius yang 26 kali lebih besar dibanding sinar matahari kita? Kemudian di sana ada bintang-bintang lain yang cahayanya seratus kali cahaya matahari kita. Apa yang akan kau katakan wahai murid ku jika saya sebutkan semua keajaiban dunia, dan engkau mengetahui bahwa ilmu pengetahuan moderen telah menyingkap rahasia-rahasia alam, antara lain menemukan bintang yang cahayanya 500 ribu matahari kita?”

“Maha Benar, Maha Suci Engkau Ya Allah. Bagaimana benda-benda sebesar dan seberat ini bisa melayang-layang di angkasa equilibrium yang menakjubkan?”.

“Muridku, Al Qur’an telah menjawab pertanyaan yang kau katakan barusan, sesuai ayat yang tafsirnya, sebagai berikut :
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap (karena jatuh). (QS. Faathir : 41).

Dan muridku, ilmu pengetahuan telah mengatakan bahwa penahanan itu adalah hakekat adanya gravitasi yang bekas-bekas dan gejala-gejala dapat dtangkap oleh mereka, dengan begitu mereka dapat mengetahuinya fase-fasenya, namun mereka belum mengungkapkan rahasia-rahasia kedalamannya. Mereka mengetahui undang-undang, teori-teori dan methode-methodenya, namun mereka belum bisa memasuki gua-guanya yang  misterius penuh tanda tanya. Mereka benar-benar sudah hebat. Apa yang mereka katakan benar adanya. Gravitasi benar, hitungannya benar dan seimbang, dan semuanya itu adalah ciptaan Allah. Kajilah Ayat, yang tafsirnya, sebagai berikut :
Dan mereka tidak mengangungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit di gulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az Zummar :67).

NERAKA  ATHEISME

Atheisme adalah egoisme dan lemah. Sebab sejak pertama sebelum melalkukan sesuatu, sudah lari dari tanggung jawab yang diharuskan oleh keimanan, akal dan hikmah. Orang paling tidak berbahagia di dunia ini adalah manusia yang tidak mengetahui rahasia kehidupan, rahasia alam dan hikmah pencipta terhadap ciptaan-Nya.
Jamaluddin Al Afghani.

Al Ustadz Muhammad Al Afghani Ghazali berkata :
Saya bertemu dengan pemuda-pemuda atheis belakangan ini – dan sangat disayangkan bahwa mereka yang masih muda-muda itu – tersebar di segala tempat di atas bumi bagaikan binatang-binatang kecil yang berbahaya bagi tanah tak bertuan. Sedangkan dari mereka saya ajak bicara dengan harapan dapat memperoleh gambaran tentang diri mereka. Akhirnya saya dapat mengetahui bahwa pendapat mereka tentang Tuhan sama dengan pikiran anak yang kehilangan ayahnya, sama dengan anak ayam yang kehilangan induk yang tidak pernah dikenalnya.

Sebagian bessar dari mereka berpikir tentang Tuhan secara taklid buta dan kebodohan yang acuh. Mereka mengira bahwa antara keimanan dan ilmu bertentangan. Agama benar-benar mengganggu kemajuan peradaban manusia.

Mereka melihat dirinya – meskipun belum belajar lama tentang ilmu materi – sebagai orang yang benar-benar mengetahui tentang materi. Sehingga ilmuwan-ilmuwan yang telah menemukan materi, dan atom memperoleh tempat di hati mereka. Mereka lalu menciptakan teori-teori tentang hidup dan menciptakannya sebagaimana yang telah dikatakan orang kepadanya, bukan sebagaimana kenyataannya. Karena itulah mereka yang jelas tak berpengetahuan apa-apa, mengeluarkan teori-teori yang tanpa dasar argumen yang kuat, karena sedikitnya pengetahuan yang mereka miliki, karena taklid buta semata.

Pernah saya lihat ssalah seorang di anatara mereka pada suatu hari, menyaksikan planet dan bintang-bintang yang ada di angkasa dengan mempergunakan teropong. Namun satu haripun dia belum pernah memasuki laboratorium kimia atau benar-benar membidangkan dirinya secara tekun mengadakan percobaan-percobaan besar mengenai alam. Karena kebodohannya itulah dia telah menjadi seorang atheis. Dia menjadi ilmuwan yang hanya percaya kepada materi.

Dapat dimasuan pula ke dalam golongan mereka para pelajar yang hanya mengetahui sebagian saja dari pengetahuan, yang tidak berusaha untuk melengkapi pengetahuannya yang sempit. Sehingga ketika mereka mengeluarkan hukum-hukum, pernyataan-pernyataan dan teori-teori, terbatas berdasar kepada pengetahuan yang dimiliki saja. Kita dapat membayangkan bagaimana vonis dari suatu pengadilan, apabila para hakim Cuma berdasar kepada pengetahuannya yang sempit tentang hukum. Maka demikianlah apa yang telah dilakukan oleh kaum atheis. Mereka memproklamirkan pengingkarannya setelah mereka mengadakan studi-studi, percobaan-percobaan, yang hanya berdasar kepada pengetahuan mereka yang terbatas.

Pnegingkaran bentuk yang terakhir ini, lebih kuat dibanding pengingkaran yang pertama. Sebab, dia lebih dalam menceburkan diri dalam kesombongan dan taklid.

Francis Bicon berkata : “Orang yang kurang mendalami benar tentang filsafat, akan terbawa terbang kepada atheisme. Namun sebaliknya orang yang benar-benar mendalami tentang filsafat, dia akan kembali kepada Agama.”

Dale Carnegi : Saya masih ingat benar hari-hari manusia hanya membicarakan soal pertengkaran antara agama dan pengetahuan. Namun pertentangan itu berahir sendiri dan tak pernah terulang kembali.”

Atheisme adalah kelemahan dan kehancuran nilai-nilai dan kehidupan. Maukah anda lebih mendalam mengetahui pendapat ini? Baiklah kita baca tulisan Al Ustadz Muhammad Zaki Abdul Qadir mengenai cerita seorang atheis.

“Selamanya saya hidup dalam ketakutan, Kurang percaya kepada manusia dan segala sesuatu yang ada di sekitarku. Aku takut kepada diriku sendiri. Kekayaan tidak sanggup memberiku ketenangan, kedudukan, kesehatan, kelelakian, wanita, cinta, dan bahkan bertualang, semuanya tidak memberiku ketenangan. Segalanya tak berarti bagiku, meskipun aku sudah mencoba segala-galanya, berusaha memperoleh ketenangan.

Aku benci kepada diriku, takut pada diriku. Tidakkah kau lihat bayang-bayang di sekitarku? Tidak kah anda lihat ketakutan membuka mulutnya menganga hendak menelanku? Mengapa semuanya ini terjadi? Apa sebabnya? Kesedihan? Tak ada kesedihan padaku. Kesedihan paling besar padaku adalah dunia ini. Harta ada, kehormatan dan kedudukan ada, kesehatan, perempuan dan keindahan, dan ...... semuanya ada dan tak kekurangan. Semuanya sudah aku miliki? Tapi mengapa saya takut? Mengapa harus Takut?

Kepada Allah? Tidak. Allah tak ada dan tak pernah ku kenal. Jadi aku takut kepada siapa? Kepada masyarakat? Tapi aku benci kepada mereka, jijik dan tak berharga bagiku. Jadi darimana datangnya ketakutan itu? Dari bayang-bayang kematian? Mungkin, tapi aku tak perduli itu. Dan aku tidak merasa bahwa aku takut kepadanya. Bagiku kematian hanyalah fenomena hidup. Jadi,,, darimana ketakutan itu datang?

Mungkin aku takut sebab tidak ada yang harus aku takuti. Mungkin aku takut karena segalanya sudah aku miliki. Kalau aku tidak mempunyai harta, pasti aku telah mencarinya. Kalau aku tidak mempunyai kedudukan, aku harus berusaha untuk memperolehnya. Namun semuanya sudah ada padaku : Harta, Wanita, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia digampangkan aku memperolehnya. Tak ada yang merepotkan, semuanya mudah aku peroleh. Hidupku luas dan lapang.... Sedihkan aku? Tak ada yang perlu aku sedihkan. Jadi haruskah aku takut karena aku tidak mendapatkan apa yang haraus aku takuti? Aku harus takut kepada sesuatu yang abstrak yang tidak aku ketahui?

Aku hina, rendah dan tak berarti dalam kehidupan ini karena aku telah mencapai puncak dari kehidupan. Bagiku sekarang, kehidupan adalah musuh. Semua yang ada di dunia adalah miliku. Namun saya merasa bahwa semuanya telah benci padaku, terasa menghina diriku. Berada di muka mataku bagaikan hantu. Sekarang beru aku mengetahui mengapa aku takut? Takut kepada siapa? Apa yang aku takuti? Tidak lain bahwa aku telah takut kepada kehidupan itu sendiri.”

Al Ustadz Abdul Karim Khatib, berkata :

“Seorang atheis benar-benar sedih, sebab dia sama sekali lepas dari perasaan sentimen, hanya terdiri dari angan-angan dan harapan, hidupnya dia lalui penuh dengan kekeringan, kemudian dia pun pulang ke dunia yang abadi. Karena itulah dia benci terhadapa segala sesuatu yang berhubungan dengan nama “Tuhan”.

Kalau Tuhan itu memang pencipta, mengapa Dia menciptakannya? Mengapa Dia melemparkannya ke dunia atau tempat yang kotor ini? Demikianlah Sarter memberinya nama. Dan mengapa pula Dia selalu memberi kesedihan-kesedihan, dan musibah-musibah kepada manusia sejak dia lahir hingga matinya? Lalu mengapa ia harus mati dan dipendam di dalam tanah yang diinjak-injak manusia? Demikianlah seorang atheis memandang Tuhan  sebagai yang telah berdosa atas terciptanya dunia ini. Karena itu, bagaimana dia bisa mencintainya? Padahal keimanan adalah cinta, mengagungkan dan mensucikan Allah?

Ketika manusia membeku dalam materi. Lupa atau melupakan eksistensi roh yang ada di dalam dirinya, ketika itulah dia akan melihat dunia sebagai sesuatu yang sempit dan petang. Yang nampak di matanya hanyalah gambaran-gambaran yang menyedihkan sehingga timbul di dalam dirinya perasaan-perassaan tidak tenang, takut dan sedih. Maka kegoncangan jiwanya akan terus bertambah, kebaikan nampak sebagai kejahatan. Dan kejahatan akan muncul kejahatan-kejahatan yang lain. Kehidupan baginya adalah sengsara, siksa dan derita.

Bagi mereka, Tuhanlah penyebab dari segala derita, sengsara dan siksa itu. Maka antara dirinya dengan Tuhan harus terputus sama sekali, agar bisa hidup tenteram. Dan untuk lebih menampakan keterputusan hubunan itu, dia memproklamirkan perang terhadap Tuhan. Lalu menyatakan bahwa Tuhan kini telah terbunuh.

Apakah anda sudi membaca jika kami sebutkan contoh peperangan mereka terhadap Tuhan?

Tak apa..... Allah Maha Suci dari ucapan semacam ini. Maka baiklah kita baca ucapan filosof Ameerika James Thomson :
“Siapa yang paling menderita di tempat yang menyedihkan ini?
“Saya!”

Perkataan yang jujur. Dia benar-benar sedih, dan hidupnya penuh kesengsaraan. Dunianya penuh dengan derita dan air mata. Tapi bagaimana terusan ceritanya..?

“Namun lebih baik saya berada dalam keadaan seperti ini, daripada menjadi orang yang mengadakan dan menciptakan makhluk-makhluk atas kehendak dan kemampuan-Nya.”

Filosof gila ini tidak titik begitu saja. Akan tetapi terus menggonggong bagaikan anjing lapar.

“Wahai pencipta kesalahan, dan dosa.

Saya berjanji : Bahwa segala sesuatu yang ada ini tidaklah ada dan berkembang karena kekuasaan-Mu.

Tidak pula setiap pemuka agama telah menguatkan dasar kebesaran-Mu.

Tidaklah salah kalau saya katakan bahwa kesalahana paling  besar dan dosa yang tidak tercampurkan ialah adanya manusia semacam ini di dunia?

Anda bisa memberi tanggapan leluasa menurut kehendak anda terhadap perkataan ini. Boleh anda katakan filsafat, boleh anda katakan ilmu, atau katakan ia merupakan sautu kutukan. Pada pokoknya begitulah pendapat orang-orang atheis dengan segala macam bentuk aliran, di mana pun mereka berada di permukaan bumi.

Alangkah kecil manusia. Apabila mengetahui batas dirinya, niscaya dia tidak akan sampai sejauh ini menyatakan perang terhadap Tuhan! Namun dia sombong, pongah dan congkak. Karena itulah dia harus hancur. Hilang. Lenyap. Dan Ingkar.....!!!!!!.
Daerah   iman
Menakjubkan ihwal seorang mukmin itu. Seluruh ihwalnya membawa kepada kebaikan bagi dirinya. Jika dia memperoleh kebahagiaan, dia bersyukur. Dan syukurnya itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Dan apabila dia mendapat kemalangan, dia bersabar, dan sabarnya ini membawa kebaikan bagi dirinya.
Nabi Muhammad, Rasulullah.

Dale Cernegie, berkata :
“Saya pernah bertemu dengan Henry Ford sebelum dia wafat. Padanya saya melihat tanda-tanda ketabahan menghadapi kehidupan. Masih nampak pada wajahnya betapa besar usahanya yang telah dia keluarkan di dalam mendirikan sebuah asosiasi dagang terbesar di dunia. Namun keheranan bukan pada ketabahannya di dalam menghadapi kehidupan itu, akan tetapi keheranan saya justru pada sikapnya yang tenang seakan tak pernah tersiksa oleh penderitaan, meskipun umurnya ketika itu telah mencapai tujuh puluh delapan tahun. Ketika saya tanyakan kepadanya apakah tuan tidak pernah mengalami penderitaan dan kegoncangan jiwa? Dia menjawab : Tidak, Saya benar-benar meyakini bahwa Allah SWT Maha Kuasa untuk mengatur segala urusan. Dia tidak butuh nasihat dari saya, oleh karena itu saya menerima kehendak-Nya untuk memperlakukan diri saya sebagaimana adanya. Jadi mengapa saya harus tidak tenang dan bahkan harus goncang jiwa?”

Dia berkata pula : Saya tahu beberapa orang melihat agama sebagaimana dia melihat kepada wanita, anak-anak atau adviseer. Mereka sombong dan dengan pongah mengatakan apa gunanya berpayah-payah memikirkan sesuatu yang tak ada sumber pemikiran yang jelas? Apa gunanya memikirkan tentang Tuhan yang tidak ada gunanya?

Namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka pun merasa heran ketika mereka tahu bahwa sebagian besar orang-orang terkenal tunduk sujud kepada Allah, meminta ampun dan pertolongan-Nya setiap hari.

Jack Dambsy, Petinju bertangan emas, tidak bangun dari sujudnya sebelum selesai membaca Shalawat, tidak turun ke dalam ring sebelum mengucapkan basmalah, tidak makan sebelum membaca hamdalah bersyukur kepada Allah yang telah memberinya makanan. Dan selama bertinju atau sebelum naik ring, mulutnya komat-kamit membaca do’a-do’a dan Shalawat.

Edward Ethson, Direktur Utama General Motors Assembly dan bekas menteri luar negeri Amerika Serikat, tidak putus-putusnya Sholat dan membesarkan Allah, meminta kebaikan bagi dirinya siang dan malam.

Dan ketika Eisenhower terbang ke Eropa dengan maksud memimpin pasukan perangnya yang terakhir, satu hal yang tidak dia lupakan untuk dia jadikan Teman : “Kitab Suci”.

Jendral Mark Clark berkata kepada saya bahwa tidak putus-putusya dia membaca Kitab Suci setiap hari selama masa perang. Dia bersujud dan memohon pertolongan kepda Allah.

Para tokoh tersebut di atas telah menyadari bahwa mereka tidaklah hidup sendirian di dunia. Mereka meminta kepada Allah agar selalu mendampinginya dalam segala tindakan dan gerak gerik salam hidup. Karena itulah Islam mensyariatkan Shaalat.

Fitrah manusia ialah takut kepada Allah ketika mengalami tekanan dari kesewenang-wenangan hidup, sebab mereka yakin bahwa Allah lah yang dapat melepaskan mereka dari segala macam tekanan.

Dale Carnegi bertanya : Mengapa kepercayaan kepada Allah dan bergantung diri kepada-Nya dapat menghilangkan perasaan takut berganti kepada perasaan aman, damai dan tenteram?

William James menjawab gelombang laut yang maha besar tak mampu menggerakan air yang dalam. Begitu pula Iman. Bila dangkal, permukaanya gampang disambar gelombang dan terombang-ambingkan. Namun apabila Imannya terhujam dalam, gelombang macam apa pun tak akan mampu menggoyahkannya. Orang yang benar-benar beragama, kebal terhadap segala macam cobaan dan tekanan. Hidupnya seimbang sehingga mampu menghadapi hari-harinya dengan tenang.

Mengapa kita tidak berusaha menatapkan diri kepada Allah sewaktu kita merasa mendapat tekanan? Mengapa kita tidak mengikat erat diri kita dengan Kekuatan Yang Maha Besar, yang menguasai alam ini?

Alexes Karl, sarjana kenamaan pengarang buku “Man is Unknown” (Manusia makhluk tidak dikenal), mengatakan :
Sebagai dokter, sering saya melihat banyak pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan obat. Ketika dokter angkat tangan, banyak pasien lari kepada agama. Dia bersembahyang dengan khusu’, dan ternyata sembuh dari sakitnya. Di sini nampak seakan-akan sembahyang seperti radium sumber sinar, sebagai ibu yang melahirkan semangat. Ketika sembahyang, kita mengikat erat hubungan kita dengan Kekuatan Paling Besar, yang menguasai alam semesta. Kita memohon kepada-Nya, kita berdo’a meminta ampunan dan kesembuhan dari penyakit. Dan bahkan bagi saya, tunduk sujud itu sendiri, sudah cukup untuk menambah semangat dan kekuatan kita. Tak akan kita temukan seorangpun yang bersujud dan lari dari sujudnya. Dia akan lebih khusyu’ bersujud untuk waktu-waktu sesudahnya.

Kedokteran moderen pada jaman ini telah maju mencapai puncaknya. Para dokter sama berkata bahwa : Ilmu pengetahuan sudah bisa menyebuhkan segala macam penyakit kecuali mati dan tua. Namun penyakit semakin beragam dan cepat tersebar luas. Di antaranya penyakit syaraf akibat terjadinya tekanan-tekanan yang dialami oleh manusia dan masyarakat.

Ilmu pengetahuan moderen telah mampu mengisi kebutuhan-kebutuhan materiil ke dalam tubuh manusia, namun gagal memompakan makanan spiritual. Perasaan, harapan dan kehendak tetap lapar. Dia tetap tumbuh sebagai manusia. Bertambah tinggi dan bertambah gemuk, namun dari segi lain, jiwanya kosong melompong. Tekanan-tekanan jiwa serasa menghimpit hidupnya.

Sensus di Amerika menyatakan bahwa 80% penyakit yang di alamai penduduk, adalah penyakit yang berasal dari syaraf. Ilmu jiwa moderen mengatakan bahwa : Akar-akar paling penting dari penyakit syaraf ialah : Hasud, dengki, kejahatan, takut, putus asa, ragu-ragu, bising dan keramian. Penyakit-penyakit ini berhubungan langsung dengan kehidupan yang kering oleh kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Percaya kepada Allah, menancapkan keyakinan yang kuat dalam diri manusia, sehingga dia mampu menghadapi berbagai rintangan. Dia berjuang di jalan Allah, dengan harapan memperoleh balasan lebih dari perjuangannya. Matanya tertutup menatap kehidupan duniawi.

Percaya kepada Allah memberikan peluang bagi manusia untuk bergerak penuh spirit. Penggerak mana merupakan dasar dari semua akhlak yang luhur, sebagai sumber dari kemantapan akidah, seperti dikatakan oleh Sir William Oselir : “Ia adalah kekuatan penggerak yang Maha Besar, tak tertimbang denan timbangan macam apap pun, dan tak dapat diuji-coba dalam laboratorium mana pun”.

Akidah adalah rahasia kesehatan jiwa. Dan manusianya... tenteram karenanya. Manusia macam apapun yang jiwanya kosong tak berisikan akidah, akan selalu berada dalam kesengsaraan dan tak putus-putusnya menderita tekanan-tekanan.

Para ahli telah berusaha untuk memperoleh obat dari penyakit kejiwaan ini, namun gagal. Karena itu mereka berusaha mencari jalan keluar yang lain, yang lebih menggemparkan sehingga nampak sebagai tokoh di dunia!!!

Seorang ilmuwan pernah teriak : “Para ilmuwan psychotherapy telah berusaha sekuat tenaga untuk membuka rahasia-rahasia kunci penyakit itu, namun rahasia itu akan tetap menutup pintu kesehatan.”

Masyarakat baru berjalan dalam satu waktu menuju dua titik tujuan sekaligus. Dia berusaha mencapai kelengkapan materi, ketika itu pula – karena dia melupakan agama – telah mencipta kehidupan sebagai neraka. Materi memberi anda obat yang hanya terasa di mulut, dalam jiwa terasa sebagai racun.

Dr. Pool Ernest Odolf, bercerita tentang dirinya :

“Selama saya belajar di Fakultas Kedokteran, sering saya menemukan perubahanperubahan yang terjadi pada jaringan tubuh yang sudah pernah terkena penyakit atau luka. Dalam percobaan dan penelitian yang saya lakukan, pergeseran-pergeseran jaringan tubuh itu semakin jelas terlihat dalam mikroskop, yang menjadikan luka membengkak yang bahkan bernanah, tapi karenay apula luka itu sembuh. Dan ketika saya menjadi dokter persis setelah tamat kuliah, saya merasa benar-benar sudah siap untuk terjun menjadi dokter profesional. Dan benar, dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya bekerja dengan mempergunakan alat-alat medis modern. Namun saya tiba-tiba mengalami shok, entah apa sebabnya. Di sini saya merasa bahwa ssaya telah melupakan sesuatu dalam profesi saya. Saya telah melupakan : ALLAH!!!!

Saya sadar dan sejak itulah saya aktif kemmbali mengingat Allah. Saya bekerja kembali.

Di rumah sakit, ada seorang pasien dan saya bertugas untuk menanganinya. Dia sudah tua, umurnya sudah tujuh puluhan tahun. Paha bagian atas keseleo. Dan setelah saya periksa lebih lanjut melalui sinar, nampak bahwa jaringan-jaringan tubuhnya mengembang cepat. Namun tiba-tiba mengempis dan kaki itu cepat sembuh. Saya ucapkan selamat kepadanya atas kesembuhan yang begitu cepat. Para dokter mengatakan kepada saya, agar orang tua itu dipersilahkan pulang, sebab dia sudah dapat berjalan sendiri tanpa penyangga.

Saya masih ingat bahwa hari itu Minggu. Dan tanpa saya duga puterinya datang menjenguk. Langsung saja saya katakan kepadanya : “Ibu sudah benar-benar sehat sekarang. Besok saudara bisa menjemputnya pulang ke rumah.” Tanpa memperhatikan saya, langsung saja sang putri menghadap ibunya dan mengatakan kepadanya : “Setelah melalui musyawarah dengan suami, kami tidak bisa mebawa ibu pulang  ke rumah, lebih baik sekarang ibu tinggal di karantina saja.”

Setelah beberapa jam  kemudian, saya berjalan-jalan di seputra kasur orang tua itu. Saya periksa dia, dan ternyata darahnya terpompa deras. Belum duapuluh empat jam kemudian, pasien itu mati, bukan karena luka di pahanya, akan tetapi karena hatinya hancur.

Saya sudah benar-benar berusaha untuk menyelamatkan nyawanya, membawanya ke berbagai rumah sakit yang lebih lengkap, namun tak membawa kebaikan baginya. Lukanya sudah benar-benar membaik, tulangnya begitu pula, namun saya tidak menemukan obat untuk penyembuhan hatinya yang hancur. Obat-obat yanng ada saya berikan padanya, namun ia tidak bisa juga bangun dari tidurnya. Pahanya sudah kuat, namun ia tidak kuat untuk hidup, sebab unsur terpenting dari hidupnya bukan terletak pada obat auat vitamin, akan tetapi “Harapan.” Harapan untuk hidup lebih baik. Ketika harapannya tipis untuk hidup, kesehatan pun pergi bersamanya.”

Contoh ini memberi gambaran bagi kita tentang ketidak beresan pikiran ilmuwan. Sementara dia hendak menciptakan ketentraman hidup, bersama itu berusaha untuk mendatangkan akidah dan perasaan beragama di hati manusia. Dia lupa bahwa roh adalah unsur manusia yang asli.

Di antara hasil dari usaha ini ialah bahwa kedokteran telah dapat memperbaiki tulang yang pecah. Namun ekosongan manusia dari akidah, menyebabkannya mati meskipun tubuhnya sehat.

Tubuh yang dibungkus oleh pakaian yang mahal, tetap membutuhkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan yang hakiki. Rumah besar yang didiami manusia yang hatinya tak karuan, dan kota-kota budaya yang didiami oleh orang-orang yang jahat, perusahaan-perusahaan besar yang ditempati oleh para penghianat, kesemuanya itu tidak akan memberikan kehidupan yang baik kepada setiap manusia. Kemajuan materiil tidak akan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki di hati pemiliknya, apabila nikmat iman kepada Allah tak menjadi perhatian.

Penyakit-penyakit kejiwaan, merupakan kenyataan yang telah diakui oleh para ilmuwan psikologi. Ilmuwan psikologi terkenal “Profesor Yang” menulis hasil percobaan; sebagai berikut :

“Banyak manusia yang datang dari berbagai negara meminta advis kepada saya tiga puluh tahunan terakhir ini tentang penyakit kejiwaan yang mereka derita. Problema satu-satunya bagi para pasien yang berumur sekitar 35 tahun ke atas ialah masalah akidah. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa penyakit mereka tiaa lain karena disebabkan oleh kekeringan perasaan keagamaan. Tak akan seorangpun di antara mereka yang sembuh dari penyakitnya, kecuali dia mengembalikan pikirannya terhadap masalah agama.”

R.V.C. Bodley, bekata :
“Pada tahun 1918 saya meninggalkan sebuah dunia yang telah saya kenal sepanjang hidup saya dan pergi ke daerah Afrika bagian barat daya. Di sana saya hidup bersama bangsa Arab selama tujuh tahun. Karena itu saya menguasai benar bahasa badwi. Saya hidup persis seperti mereka, memakai pakaian mereka, makan dari hasil tanaman mereka, menggembala kambing, tidur di kemah persis seperti kehidupan mereka.”

Di sana saya mendalami agama Islam, sehingga saya dapat menulis buku tentang Nabi Muhammad berjudul : “The Massage” (Ar-Rasul). Selama tujuh tahun hidup bersama Islam itulah saya benar-benar merasakan kedamaian, tentram, dan rela menerima hidup apa adanya.

Saya belajar dari bangsa Arab bagaimana saya menguasai kegelisahan. Mereka adalah orang-orang Islam yang percaya kepada Qadla dan Qadar. Mereka tidak bekerja tergesa-gesa, mereka tidak diburu atau dikejar-kejar oleh keadaan. Mereka percaya bahwa apa yang telah ditentukan akan terjadi. Masing-masing bekerja menurut ketentuan Allah semata. Hal ini bukan berarti mereka berpangku tangan menghadapi kenyataan musibah. Tidak!!!!

Baiklah saya memberi contoh konkrit yang pernah terjadi atas diri mereka.

Pada suatu hari terjadi angin kencang menerbangkan pasir melintasi Laut Putih bagian tengah dan menjatuhkannya di lembah Ron di Perancis. Angin itu sangat panas dan kering. Saya benar-benar merasakan panas udara ketika itu sudah akan membawa saya kepada maut. Namun orang-orang Arab tetap yakin bahwa mereka masih akan bisa hidup. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka : “Hal ini sudah merupakan ketentuan yang tertulis.”

Begitu angin pasat habis, merekapun mulai bekerja kembali sebagaimana biasanya. Sebagian dari mereka ada yang menyembelih kambing kecil. Sebagian dari mereka langusng saja menghalau binatang ternaknya ke padang luas di mana terdapat genangan air di bagian selatan daerah itu. Mereka melakukan semuanya ini dengan tenang, diam-diam seakan tak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin suku yang sudah tua berkata : “Kita tidak kehilangan apa-apa. Kita emua makhluk Tuhan, kehilangan sedikit itu biasa. Namun kita harus bersyukur, sebab kita masih mempunyai banyak binatang ternak. Empat puluh persen binatang ternak masih hidup. Kita harus memulai kembali, bekerja seperti biasa.

Kejadian lain yang begitu mengesankan adalah ketika kami naik mobil melintasi padang pasir yang luas. Tiba-tiba salah satu bannya meletus. Dan Sopir lupa membawa ban serep. Saya mulai marah, berbagai perasaan timbul dalam hati saya. “Apa yang mesti kita lakukan sekarang?”, tanya saya kepada salah seorang Arab. Mereka lalu mengingatkan saya, bahwa marah itu tak ada artinya, bahkan membawa manusia kepada kebodohan. Kami disuruh naik kembali oleh sopir. Dan mobilpun berjalan pelan dengan tiga roda. Saya menjadi geli mengingatnya. Namun, tak seberapa jauh kami berjalan, mobil tiba-tiba macet, bensin habis. Namun saya lihat orang-orang Arab yang sama-sama naik mobil itu, tenang-tenang saja. Tak ada yang marah seperti yang saya dapati di kota kelahiran saya. Mereka pun lalu berjalan. Berjalan kaki meninggalkan mobil itu....... ‘Sambil Bernyanyi!!!!!....

Tujuh tahun hidup di padang pasir, telah memberikan pelajaran banyak tentang kehidupan dan bagaimana harus hidup. Penduduknya lepas dari segala macam penyakit kejiwaan, yang merupakan penyakit lumrah di derita oleh orang-orang Amerika dan orang-orang Eropa. Mereka tidak lain adalah korban dari kota, yang menjadikan “serba cepat” sebagai dasar dari kehidupan kota................

Sama sekali saya merasa terlepas dari kekacauan. Saya hidup di padang pasir, dan bahkan seperti hidup di dalam syurga Allah, menemukan ketenangan, kepuasan dan rela menerima pemberian Tuha. Kebanyakan manusia jijik kepada jabariah yang diyakini oleh orang-orang Arab. Mereka sama sekali tidak mempercayai qadla dan qadar.

Namun siapa yang tahu?orang-orang Arab benar-benar menderita suatu penyakit. Namun yang jelas, kalau saya ingat kembali kepada masa lalu, berbagai macam kejadian dan peristiwa menimpa mereka. Tapi tidak menjadi pemikiran yang memusingkan. Mereka menamakan kejadian-kejadian itu dengan “qadar”. “qadla Allah,” atau “qismah.” Dan anda boleh memberinya nama apa saja se kehendak anda.

Singkatnya, setelah tujuh tahun saya hidup di padang pasir, kemudian meninggal-kannya, orang-orang Arab masih tetap yakin se yakin-yakinnya akan adanya qadla Allah. Sayapun kecipratan. Segala persitiwa dan kejadian, saya terima dengan tenang dan penuh pemikiran. Keyakinan akan adanya qadla dan qadar yang saya terima dari orang-orang Arab telah banyak menyembuhkan dan bahkan menjaga diri saya dari penyakit-penyakit syaraf, lebih dari faedah adanya obat-obat penenang.

Keimanan adalah sumber kebahagiaan. Dan barang siapa percaya kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk dalam hatinya. Barangsiapa beriman kepada Allah, berarti dia telah dibei petunjuk ke jalan yang lurus.
PERCOBAAN  DAN  PENGAKUAN
Setiap anak Adam bersalah. Dan sebik-baik orang yang bersalah ialah orang-orang yang bertaubat. (Nabi Muhammad; Rasulullah).

Di tahun lima puluhan dari abad ini, Kairo dihujani berbagai aliran filsafat dan pola pemikiran. Perang Dunia ke Dua telah meninggalkan bekas-bekasnya pada akal dan perasaan yang nampak hingga sekarang tercermin dari surat kabar dan majalah yang membawa semboyan-semboyan aneh. Kairo benar-benar mempunyai arti dalam pola pemikiran saya. Pertentangan pendapat dan aliran tak dapat dielakan. Islam masih mempunyai suara yang kuat dan bendera yang tinggi. Partai-partai Politik cukup berperan menantang serangan-serangan pola pemikiran yang bengkok. Di antara para pemuda yang bejat moralnya, masih juga bermunculan golongan-golongan yang membawa bendera dan maju ke depan meneriakan nilai-nilai dan akhlak yang luhur.

Pemikir-pemikir yag baru yang hadir sejak Perang Dunia Ke dua, yang telah terseret kepada pemikiran Barat, memandang Agama sebagai penghalang terbesar bagi kemjuan dan kebudayaan. Golongan ini terutama ditunggangi oleh pemikir-pemikir Yahudi yang mengaku diri sebagai penganut komunisme. Seorang tokoh pemimpin pergerakan ini, ialah Miyuner Henry Criyl. Dia Yahudi dan merupakan pemimpin Partai Komunis paling pertama di Timur Tengah. Dua buku yang membicarakan pergerakan ini ialah “Allahu Wal Insaan” (Allah dan Manusia) karangan Dr. Mustofa Mahmud, sedangkan buku kedua berjudul  : “Al Wujudiah” (Eksistensialisme) karangan Ust. Anis Manshur. Ketika itu kedua buku ini masih belum di kenal orang, dan sayapun belum.

Pada malam Agustus yang panas di tahun 1951, saya bertemu dengan sekumpulan Mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Universitas Ibrahim dan Universitas Fuad yang terletak di pinggir sungai Nil. Kedua universitas ini masih belum diberi nama Ain Syam atau Universitas Kairo, seperti sekarang. Salah seorang mahasiswa dari Fakultas Farmasi bertanya kepada saya :
“Apakah saudara sudah baca buku “Allah Wal Insaan?”.
“Belum. Kitabnya pun belum tahu saya, apalagi penulisnya, dan apalagi isinya......,” Jawab saya.

Mahasiwa itu kemudian berbicara panjang lebar tentang isi kedua buku tersebut. Saya begitu heran, yahhh Cuma heran, kalau rekan saya itu mengatakan bahwa buku itu penuh berisi pemikiran yang benar-benar bertujuan hendak merusak agama. Dan ketika itu saya kurang tertarik kepada buku macam begitu. Saya kurang senang membaca buku-buku filsafat atau sufistik.

Saya masih duduk di tingkat satu. Kesenangan saya ialah membaca buku-buku studi Islam atau Kesusastraan. Sedangkan mengenai masalah elektron, atom, hukum relativitas, ruang angkasa, dan tehnologi, kurang saya gandrungi. Dan bahkan terus terang saya akui bahwa untuk mempelajari masalah-masalah ilmiah macam di atas terasa belum ada minat. Hari-haripun berlalu dan saya lupa kepada buku itu. Saya disibukan terus oleh masalah kuliah dan aktivitas-aktivitas kemahasiswaan yang lain. Saya Cuma tahu bahwa filsafat belum mempunyai arti apa-apa bagi diri saya.

Pada suatu hari, salah seorang temen sekuliah datang menemui saya mebawa buku “Al Wujudiah” yang berisikan filsafat komunistis materialistis. Penulisnya Anis Manshur dosen pembantu di Fakultas Adab Jamiah Ibrahim yang terletak di Desa Syibra berhadapan dengan Fakultas Ushuluddin. Esok harinya kami sudah sepakat untuk mendatangi Anis Manshur. Namun mujur, Jamiah ditutup akibat suasana politik yang memburuk. Libur pun jadi panjang, kami sudah lupa pada buku itu.

Bertahun-tahun sudah berlalu. Kami sudah terjun ke dalam masyarakat dengan baju baru penuh pemikiran dan percobaan. Pengalaman-pengalaman hidup telah memperkaya dan mendewasakan diri saya, hingga tahun 1971.

Ketika itu saya tinggal di Bairut. Di Daarusy Syuruuq, penerbit buku ini. Saya bertemu dengan seorang guru Muhammad. Kemudian menunjukan kepada saya seorang laki-laki yang sudah tua. Dahinya seakan menampakan ketekunannya. Kemudian kerut-kerut keningnya menunjukan bahwa dia banyak berpikir. Kedua matanya bersinar penuh wibawa. Tak banyak memperhatikan apa yang kami bicarakan. Guru Muhammad tertawa ketika bertanya kepada saya :
“Saudara belum kenal doktor ini?
‘Belum,” Jawab saya.
“Dia adalah Dr. Mustafa Mahmoud.” Dan sayapun teringat kembali kepada buku “Allah Wal Insaan”, yang dahulu pernah saya ketahui ketika saya masih kuliah.

Dia meberitahukan kepada saya bahwa Dr. Mahmoud sekarang sudah menerbitkan bukunya yang baru, berjudul : “Al Qur’an.” Dan sayapun sudah pernah membacanya sebelum pertemuan itu berlangsung. Ada sebagian tafsirnya yang tidak saya setujui, namun tidak prinsipil. Banyak ahli ayng mengkritik buku itu, namun  percobaan yang telah dilakukan Dr. Mamoud sudah merupakan kebanggaan, dan sebaiknya kita menerimanya, sepanjang kesalahan itu tidak menyangkut hal-hal yang mendasar.

Bukan maksud saya hendak mengoreksi bukunya di sini. Namun saya ingin mengatakan bahwa Dr. Mustafa Mahmoud sudah kembali kepada jalan yang benar. Dia kembali kepada jalan Allah dengan menulis buku-buku-nya yang terkenal : “Allah:, “Al’Qur’an”, “Ath Thariiq Ilaa Mekkah” (jalan menuju Mekah), dan buku Rihlatii Minasy Syakki Ilal Ii-maan” (Perjalananku dari Keragu-raguan Menuju Iman). Setiap manusia hendaknya menyadari betapa penting percobaan itu.

Sedangkan Ust. Anis Manshur, sayapun pernah bertemu dengan belalu secara kebetulan. Kami pun  sudah dapat berbincang-bincang masalah keimanan dengan puas.

Ceritanya  bermula sewaktu saya naik haji. Ketika itu saya sedang berada di hotel “Jedda Plass.” Di koredor ruang terima tamu saya lihat seorang laki-laki duduk bersama laki-laki lain yang berpakaian ihram. Wajahnya bersinar dan senyumnya manis, tutur bahasanya lunak dan menarik. Saya belum mengenalnya secara pribadi. Namun setelah saya perhatikan bahwa di antara mereka ada Mustafa Syurdi Pimpinan Redaksi Surat Kabar Al Ittihad, saya semakin yakin bahwa dialah Anis Mansyur yang saya kenal sebagai wartawan yang bersama Mustafa Syurdi bekerja di satu asosiasi di Kairo. Namun keinginan untuk bertatap muka dengannya tak jadi saya lakukan katika itu. Dan kami baru berkenalan secara langsung ketika kami makan bersama.

“Bukankah ini Ust. Anis Mansgur?”, tanya saya kepaa Mustafa yang audah saya kenal sebelumnya.
“Ya!”, dan tangan kami pun saling bersalaman, meskipun sebelumnya kami sudah bersalaman.
“Bagaimana dia sekarang?”

Baiklah Ust. Anis berterus terang mengakui percobaan-percobaan yang telah dilakukannya. Saya memilih Dr. Mamud dan Ust. Anis Manshur dalam tulisan ini, karena kedua-duanya orang terkenal dan sama-sama penulis besar. Yang tulisan-tulisannya banyak dibaca oleh orang.

Bagaimana cerita Ust. Anis?
“Apa yang terjadi pada saya dua puluh tahun yang lalu? Banyak dan banyak yang telah saya lakukan. Namun ke mana saya mengarah dan berkiblat? Kepada semua arah. Saya tak berbeda seperti laba-laba yang mempunyai mata dua belas. Saya berjalan di belakang mata saya, ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Dan dari atas saya melihat ke bawah.

Saya merasakan seakan-akan saya membangun rumah di atas angin atau di bawah tanah. Rumah itu menjaga diri saya dari segala ketakutan, padahal manusia pencipta dari ketakutannya. Setiap manusia adalah syetan dirinya. Namun ketika itu pula saya haus, tak ada air, tak ada udara dan tak ada cahaya.

Seakan-akan saya masuk ke leher botol dan keluar lagi untuk masuk ke leher botol yang lebih besar. Keluar lagi untuk memasuki lubang botol yang lebih besar dan lebih luas. Di seputar saya adalah kaca-kaca buram, tetapi saya masih bisa melihat ke laur dengan aman. Namun ketika saya mendekati kaca atau dinding leher botol, kaca itu berubah menjadi sesuatu yang gelap, sebab saya bernafas dekat dari kaca. Dan sayalah yang telah memburamkan jalan pengetahuan yang nampak di depan mata saya. Saya menyadarinya.

Dan bahkan lebih dari itu, saya melihat segala sesuatu yang ada di sekelilingku, akan tetapi aku tidak mengetahui kadar yang hakiki dari benda-benda dan manusia. Saya tidak mengetahui timbangan yang pasti dari setiap nilai. Mengapa? Karena saya memakai banyak kacamata dengan berbagai warna dan bermacam bentuk. Sebagian di antaranya membuat saya melihat dunia nampak kecil, dan sebagian lagi membuat dunia nampak besar dan dekap seperti teleskop, dan sebagian lagi seperti mikroskop, membuat hakl-hal yang kecil nampak besar, besar sekali. Namun seperti apa besar yang hakiki dari dunia ini? Bagaimna nilainya ? Apagunanya saya menulis? Kemudian apa faedah manusia mempelajari metafisika? Dan kalau sudah tahu, apa nilai pengetahuan? Dapatkan manusia menjadi pemikir dan filosof yang benar?

Ahli hikmah Yunani Deogene, pernah ditanya oleh seseorang “Menurut tuan, mana tinggi derajat orang ahli hikmah atau orang yang kaya?”.
“Ahli Hkmah!.”
“Tapi bagaimana tuan menafsirkan ketergantungan para ahli hikmah kepada orang-orang kaya, dan kita jarang melihat orang-orang kaya bergantung  diri kepada ahli-ahli hikmah?”
“Sesungguhnya ahli-ahli hikmah mengetahui nilai kekayaan, sedangkan orang-orang kaya tidak mengetahui nilai suatu hikmah. Seorang ahli hikmah yang miskin, dapat hidup telanjang dan tidur bersama anjing. Namun meskipun begitu dia sudah merasa bahagia.”

Kepalaku berpikir mengarah ke segala penjuru, seakan-akan ayam angin yang mengarah ke segala penjuru dan tidak mempunyai ufuk, arah, kiblat, dan tujuan. Semua jalan baginya sama.

Bagi saya seluruh filsafat dan agama sama. Saya tak punya tujuan, tak punya harapan apa-apa. Saya terus bingung dan bingung. Manusia bagaikan tak ada. Saya bagaikan telanjang tak berbaju, Cuma pikiran dengan hati pecah. Berpikir dan berpikir terus. Sehingga saya tidak bisa membedakan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain. Kenikmatan dunia sama sekali tak ada. Perbedaan arna sudah lenyap.

Tiba-tiba saya saya sudah tidak beragama. Singkatnya tak pernah memikirkan tentang agama. Saya tidak tau bagaimana ... mungkin karena saya payah. Atau mungkin sudah pindah ke lain agama. Tak jelas. Terasa saya semakin menderita, seakan-akan saya habis minum, sembuh dari mabuk. Banting sana banting sini, Dan yang saya rasakan kini adalah rasa sakit dan rasa nyeri di seluruh persendian tubuhu. Segala benda yang ada sekitar saya harus punya penyanggah, kepalanya, di belakang, di muka, dada, punggung dan mata. Sedangkan kedua mata itu bersandar kepada kacamata, saya sendiri bersandar kepada karpet, berpindah tanpa gerak, sebab karpet sihir itu telah membawa saya. Dan tiba-tiba saja kacamata, tongkat dan penyanggah hilang. Karpet itu pun entah ke mana perginya..... Indera saya hampir saja hilang. Saya hampir gila.....

Terbayang di depan mata bayang-bayang masa lalu dan masa depan yang menakutkan. Manusia tidak bisa berjaan di atas garis yang lurus. Ingatan datang dan pergi, seperti gelombang di laut dan angin sepoi di darat. Saya melihat diri se akan Prometheus. Burung garuda memakan hati saya. Saya melihat diri saya termakan. Begitu menakutkan. Dan saya bersyukur sebab saya tidak melihat apa-apa... tidak merasakan apa-apa...

Saya takut dengan pemikiran semacam ini. Karena itu belum pernah saya berkata lantang memproklamirkan pikiran-pikiran saya. Saya takut kalau Allah menarik indera yang saya meiliki. Saya menjadi ingat akan kisah orang yang diculik burung ruwak-ruwak bangkai dalam cerita Alfu Lailah Wa Lailah ... mengangkatnya tinggi-tinggi, dan ketika telah mengangkasa, tiba-tiba dia menjatuhkannya.....


Manusia tidak bisa mengukur langit dengan span yang panjangnya Cuma 22 cm. Begitupula akal yang hanya sebesar span, tidak akan bisa digunakan untuk memikirkan tentang Allah. Kita tidak mempunyai umur. Namun kemanusiaan dalam umurnya yang berjuta-juta tahun itulah yang berpengetahuan. Kita tidak lain hanyalah beberapa detik dari umur akal, atau berusha untuk memahami berjuta-juta manusia, berjuta-juta tahun. Di setiap keadaan, ayat yang berbunyi “ Dan Aku hanya memberikan pengetahuan yang sedikit kepada kalian,” akan selalu cocok dan nyata benarnya.

Kemarin, hari ini, esok dan lusa, terus berjuta-juta ahun yang akan datang. Umpamanya : Apa yag bisa anda berikan kepada anak kecil mengenai teori relativitet..... Apa yang bisa anda katakan kepada anak bayi dalam kandungan tentang sinar laser... Bagaimana saudara katakan dan bagaimana cara anda memuaskannya hingga mengerti apa itu sinar laser... Anda tidak bisa melakukan sebab bayi tidak mengerti pembicaraan anda.... Dan kitapun sekarang sedang berada dalam kekanakan akal manusia.

Ketika saya hendak bunuh diri sekali lagi, saya menulis wasiat. Saya akan minta ijin kepada isteri saya, tentang satu saja : Berilah kesempatan dan ijinkan saya mati di bawah buku-buku saya. Hormatilah saya dengan cara membakar buku-buku itu bersama diri saya. Buku-buku itu tak memberi manfaat apa-apa kepada diri saya. Dan setelah diri saya terbakar bersama buku-buku, saya telah menjadi pembakar dan yang terbakar. Buku-buku saya menjadi pembakar dan lemak saya menjadi minyaknya. Saya akan menjadi seperti kata penyair Kamil Syanawi :

“Ia membakar saya, seperti
Saya membakarnya,
Ia dari saya dan saya
Darinya bersama menjadi sate.

Tak putus-putusnya terjadi diskusi hanya antara saya dengan orang-orang besar. Saya bosan untuk mempergunakan senjata akal dalam berdiskusi. Saya bosan mempermain-mainkan pikiran dan bersilat lidah. Anda mendapatkan saya sebagai salah satu burung terbang yang berubah menjadi binatang yang Cuma bisa jalan di atas bumi..... Saya berubah dari merpati yang terbang menjadi ayam yang berjalan di atas tanah..... Terbayang seakan rumah saya terbuat dari kertas kotchin : Angka dan gambar... namun rumah itu bukan rumah yang baik, yang dapat menjaga saya, memberi saya hidup aman. Sedangkan isteri saya lebih kuat punya keimanan. Perasaanya lebih peka menghadapi kenyataan-kenyataan yang terjadi. Pengetahuan agamanya yang sedikit sudah cukup baginya. Tapi dia memilih keimanan, sebab dia memilih agama.... Atau memilih agama dan melengkapi dengan keimanan... Apakah ini mungkin? Sangat memungkinkan bagi kebanayakn orang?

Siapa yang menyuruhnya? Tidak ada, bukan saya dan bukan siapa-siapa. Saya tidak tau darimana kejernihan jiwa dan perasaan keagamaan itu datang? Dia dalam kenyataannya memang bergantung kepada budinya. Apa yang dia rasakan langsung dia hubungkan dengan Allah. Eksistensi-Nya yang abadi selalu bersamanya dan untuknya. Bagaimana hal itu bisa terjadi pada istri saya? Tidak tahu! Akan tetapi dia meyakininya, senang menerimanya. Perdebatan saya terus dan terus berlangsung.... Saya tak henti-hentinya bingung.

Dan tiba-tiba, seluruh isi jiwa dan akal saya payah, atau mungkin bersinar secara tiba-tiba... Saya melihat apa yang belum pernah saya lihat. Mendengar apa yang belum pernah saya dengar, sesuatu yang lembut, menarik, bercahaya dan menggairahkan muncul dalam diri saya. Terbuka...... terkuak...penuh dengan sesuatu... dan muncul dari diriku sesuatu. Dan saya tidak tau apa sesuatu itu dan bagaimana pula saya harus memberinya nama. Namun ia berada di sana..... atau di sini.... Dan saya mulai membaca Al Qur’an, membaca lebih sering. Saya kembali membaca hadits... Dan tiba-tiba menggemberikan, seakan-akan ssaya membuka dan menguak dosa. Saya baca buku “Abqariyatu Muhammad”   karangan Akkad, membaca “Muhammad” karangan Taufiq Wal Hakim, membaca “ Ala Haamisyis Siirah” karangan Thaha Husein.. Siiratu Ibni Hisyam, dan buku-buku lain yang ditulis oleh kaum orientalis. Saya tidak mengatakan bahwa membaca buku-buku itu karena saya sadar, Cuma saya harus membaca, itu saja. Namun saya dapat mengerti apa yang belum saya pahami. Saya mulai merasa bahwa saya benar-benar bodoh ... Hati saya mulai terbuka kepada Islam, agama paling sederhana, paling dalam pengertiannya mengenai manusia dan hubunan-hubungan sosial... syariatnya lengkap, tak pernah terjadi penyelewengan ataupun pemalsuan... semuanya tetap seperti empat belas abad yang lalu......

Namun saya belum punya keinginan untuk mengatakan hal kepada siapa saja. Akan tetapi bagaimana kalau saya katakan? Tak ada jawaban. Apakah kalau saya sudah menemukan jawaban akan saya tulis? Ya, siapa yang akan melarang saya? Berpuluh-puluh tahun saya menulis. Generasi-generasi bermunculan di belakang saya..... beribu-ribu. Mereka saya bawa, saya ajak ke pada satu tujuan, Ilsam... Dan agama bukanlah satu-atunya yang saya pentingkan, saya telah mendalami macam agama dalam waktu yang lama. Saya benar-benar mengetahui agama. Kalau saya mengerti akan keadilan, akan saya tulis. Kalau saya memeperoleh petunjuk, sayapun akan memberi petunjuk. Dan jika saya beriman, saya akan mengajak orang kepada banyak hal, dalam masa muda yang hangat, logika orang dewasa dan takhassus seorang filosof... Saya hendak bekerja lebih banyak untuk agama.

Pada suat hari timbul kehendak saya untuk melaksanakan umrah. Tanpa banyak pemikiran, sayapun menancap niat. Tapi bagaimana saya akan melaksanakannya? Lalu apa tindak lanjut sesudahnya? Apa yang akan dikatakan orang kepada saya? Dan siapa yang akan berkata? Tapi apa pula yang menahan saya? Mengapa saya harus takut dan khawatir?

Di kapal udara, bersama para penumpang, bersama suara-suara yang saling menyapa, saya merasakan seakan-akan saya berada di masjid di angkasa. Suara-suara manusia bersahutan : Labbaik Allahumma Labbaik. Innal Hamda Wan Nikmata Laka Wal Mulka. Laa Syariikalaka labbaik. Pertama terasa hangat, semakin panas, seperti listrik, hingar dan gempa. Saya tidak mendengar suara mesin dan tidak pula ingat tentang waktu. Dan tiba-tiba di waktu fajar kapal turun mendarat di lapangan udara Jeddah. Dan saya tidak bertanya-tanya kepada diri saya mengapa saya tidak berpakaian? Seakan-akan pertanyaan itu iseng belaka tak ada artinya. Kami tidak pernah bertanya kepada diri mengapa tiak memakai piama di dalam rumah, dan pantalon di luar rumah, telanjang di hadapan para dokter tanpa bertanya mengapa harus telanjang? Pakaian-pakaian itu mempunyai arti yang banyak. Dan kita sekarang lepas segala-galanya. Kami berada di hadapan Allah dengan telanjang... lepas dari pakaian, nafsu jahat dan rasa takut... Kami semuanya sama. Baru bajuya atau tidak... Hanya ketaatan dan kepatuhan....

Saya merasa seakan-akan seperti kapal ruang angkasa, yang baterai-baterainya dikena sinar matahari sehingga berisi penuh. Ia menyala. Saya telah mencuci diri dari banyak hal. Kesalahan-kesalahan saya telah terhapuskan. Jiwanya kotor sudah bersih benar....... Darah lama telah terkuras diganti dengan darah baru..... yang berputar di seluruh nadi.... Seakan-akan saya baru lahir. Atau lahir dari sesuatu yang lain. Atau dari makhluk lain ... Saya kembali menjadi bayi di Ka’bah pengetahuan kemanusiaan... menjadi janin dalam perut agama.... saya butuh tali pusar tempat saya makan,...

Seakan-akan sopir yang menyetir kehidupan saya telah mabuk, dan kini diganti oleh sopir baru.... tangannya lebih cekatan... kakinya lebih kokoh, sedangkan jalan yang terhampar di hadapannya jelas dan lapang.... tujuan semakin dekat.... Seakan-akan saya bukan saya....

Saya tidak tahu bagaimana saya mengungkapkan aya yang saya ketahui dan apa yang akan saya ketahui,\ Saya tidak yakin kalau saya akan bisa mengungkapkannya. Saya masih muda dalam arti keagamaan, muda dengan jiwa saya yang rela.....

Saya ingat seniman besar Gogan ketika dia menulis dalam buku harian pribadinya. Ketika dia lari menuju syurga-syurga Lautan India...


‘Saya ingin mencintai  tapi saya tidak bisa ... Tapi saya yakin akan bisa..... saya akan bisa untuk bercinta....

Lain Anis Mansyur, lain pula Dr. Mustafa Mahmoud yang bercerita tentang dirinya, mengungkapkan hasil percobaan dan pengakuannya :

Pernah di masa yang silam – aku tidak ingat lagi dengan pasti kapan waktunya, mungkin ketika aku meningkat umur 13 dan 14, mula-mula emmasuki masa pancaroba – au bertanya-tanya dengan seenaknya :

Tuan-tuan menyaakan bahwa Allah-lah yang menciptakan alam ini, karena apa saja ada pasti ada yang menciptakannya. Tuan-tuan anggap itulah yang benar, lalu tuan-tuan mempunyai. Kalau begitu siapa pula yang menciptakan? Apakah Dia muncul dengan sendiri Nya? Kalau dia muncul dengan sendiri-Nya – ini dapat diterima akal menurut tuan-tuan.... kenapa tidak benar pula bahwa alamini juga muncul dengan sendirinya, tanpa pencipta? Selesai persoalan!!...

Aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Orang lain pun memandangku dengan muka masam, menghujatku dengan makian dan serangan yang bertubi-tubi. Sementara orang yang berhati lembut, berdo’a semoga aku mendapat hidayah. Yang fanatik berlepas tangan. Para pengacau intim denganku. Kami pun terseret ke dalam suatu debat yang tidak berkesudahan.

Di waktu itu telah kabur dari pandanganku, Hakekat Pertama” Sikap dan tingkah lakuku dalam berdebat di dorong oleh rasa gagah, punya otak yang ccemerlang, dan rasa kagum dengan kepintaran bersilat lidah, memutar balikan persoalan dan argumen. Aku memang punya keistimewaan dalam hal ini, bukan didorong oleh keingian mencari kebenaran.

Aku tiak mau lagi menyembah Allah karena telah tenggelam dalam menyembah diri sendiri. Au kagum dengan berkas cahaya pemikiran yang mulai bersinar, diiringi dengan perkembangan cara menanggapi yang telah leihai semenjak kecil.

Inilah sifat dan gejala jiwaku yang makin hari makin mantap di balik layar sandiwara perdebatan tersebut.

Dasar-dasar logika pun telah kabur dalam pandangan sekalipun aku sedang menjelajahi masalah logika. Tidak sadar lagi bahwa aku telah bertentangan dengan diri sendiri ketika aku mengakui khalik itu “Pencipta,” lalu bertanya pula siapa yang menciptakan Khalik itu. Dengan begini aku mendudukan Khalik sebagai makhluk” (Yang diciptakan) pada waktu yang sama aku menamakan “Khalik” ini terang logika sofistik.

Kemudian membicarakan “Prima Causa” dari segala sesuatu berarti mengakui causa tersebut sebagai “Wajibul Wujud” dengan sendirinya tanpa butuh kepada yang lain untuk dapat berwujud. Tetapi kalau satu causa masih butuh kepada causa yang lain berarti masih menganggap causa tersebut sebagai satu rangkaian causa biasa, bukan “Causa Prima”.

Inilah tiinjauan masalah-masalah filsafat yang menyebabkan Aristoteles mempercayai adanya “Causa Prima” (Sebab awwal. Wajibul Wujud, Al Muharrik Al Awwal) dari segala wujud ini. Ketika itu tinjauan seperti ini belum tergambar terang benderang di otaku. Au belum lagi mengetahui siapa Aristoteles, dan apa betul aturan-aturan dasar berlogika dan berdebat.

Hal ini membutuhkan waktu tiga puluh tahun tenggelam dalam tumpukan buku-buku, ribuan malam bersemedi, merenung, berdiskusi dengan diri sendiri, mengoreksi pendapat, mengoreksi lagi yang telah dikoreksi, membalikan pemikiran dari segala segi, untuk dapat melintasi jalan yang penuh onak dan duri dari masalah Allah dan manusia sampai teka-teki hidup, teka-teki mati dan tulisan-tulisanku sekarang ini yang bervariasi keyakinan.

Masalah ini tidaklah begitu mudah, karena aku tidak mudah pula mendapatkannya. Jika dulu aku mau mendengar suara “fitrah” dan menggembirakan diri dituntut oleh “baddahah” (axioma), tentu diriku tidak akan terlalu letih berdebat, dan tentu fitrah akan menuntutku mempercayai Allah. Tapi aku hidup di suatu jaman yang segala sesuatu rumit dan ruwet, suara batin telah begitu sayu ibarat bisikan yang tak kunjung kedengaran, tapi suara otak cukup lantang hingga telah jadi hiruk pikuk. Akal tidak dapat disalahkan dengan keterlaluanya, karena dia telah memandang dirinya berhasil berdiri di atas puncak piramid puncak kesuksesan yang megah, yang telah memandang dirinya sebagai yang telah menganugrahi manusia dengan industri, listrik, roket, pesawat terbang dan kapal selam, telah memandang dirinya berhasil menjelajah daratan, udara dan laut, sehingga dia menganggap dirinyalah yang sanggup berbuat segala, dapat menerjunkan dirinya ke mana saja, dan menjadikan dirinya sebagai yang menentukan, yang dapat dan tak dapat diketahui. oooOOOooo

Waktu masih kecil aku asyik membenamkan diri dalam perpustakaan di Tanta, menelaah buku-buku karya Syalabi Syamil dan Salamah Musa dimana aku dapat kenal dengan teori Freud dan Darwin.

Aku pelajari juga ilmu kimia, alam dan biologi, dengan tekun sekali. Di rumah aku persiapkan laboratorium kecil yang diperlengkapi dengan gas oksid karbon dan oksid –sulfur. Aku lakukan eksperimen pembasmian serangga dengan khloor dan penganalisaan katak.

Ketika itu semboyan yang populer di pelosok dunia adalah “ilmu” “Ilmu pengetahuan” dan tidak lain kecuali ilmu pengetahuan.

Pandangan obyektif adalah metode yang diakui. Kita harus menolak hal-hal yang bersifat gaib. Jangan lagi meniup-niup asap kemenyan dan mengulang-ulang khurafat lama!!!

Siapa yang memberi kita tank dan pesawat terbang dan membebaskan kita dari agama dan peribadatan???? Berita kemajuan ilmu pengetahuan Barat kita dengar menakjubkan dan menyilaukan pandangan. Kita dapat memperoleh segala sesuatu dari Barat. Buku-buku, obat-obatan, pakaian, lokomotif, mobil sampai makanan kaleng, pensil, jarum, peniti bahkan sistem pengajaran, bentuk tulisan sastra, roman, pementasan, cerita pendek dan jurnalistik.

Di bawah naungan dan kejeniusan Barat-lah kita sulam cita-cita dan norma hidup. Di bawah naungan Pasteur, Marconi, Christope Colombus dan Magelan.

Barat adalah lambang kemajuan!!  Arab (Timur) lambang keterbelakangan, kelemahan, dan kehancuran di bawah telapak kaki penjajah!!

Wajarlah kalau kita beranggapan bahwasanya yang datang dari baratadalah nur dan kebenaran.... jalan menuju kekuatan dan kebebaan.

Aku melanjutkan studi di fakultas Kedoteran untuk dapat belajar langsung dengan bahsa inggris, belajar anatomi dari literatur-literatur berbahasa Ingris, dan berbicara dengan guru besar dengan bahasa Ingris, ini mungkin disebabkan karena Ingris lah yang menguasai dunia, di samping sebab wajar dan yuridis lainnya yaitu karena ilmu kedokteran modern adalah produk barat. Adapun perkembangan permulaan ilmu ini di kalangan bangsa Arab pada zaman Ibnu Sina barulah berbentuk dasar-dasar yang tidak dapat memenuhi tntutan zaman sekarang.

Para ahli Barat mengenal ilmu ini dari mana Ibnu Sina dan ahli-ahli bangsa Arab lainnya berhenti melanjutkan penyelidikan mereka. Lalu ahli-ahli Barat melanjutkan penjelajahannya dengan fasilitas madern, laboratorium dan jutaan Pound yang telah di sediakan untuk pembahasan di riset, sehingga mereka dapat melebihi taraf yang telah dicapai oleh bangsa Arab, Persia dan lain-lain sebelumnya. Mereka bangunlah singgasana ilmu kedokteran, psikologi, anatomi dan pathologi modern. Sehingga mereka menjadi standar dalam ilmu-ilmu ini.

Aku pelajari buku-buku kedokteran, lalu dapat mengerti bahwa apa yang dinamakan “Pandangan Ilmiah” sebenarnya ialah tidak boleh mengambil sesuatu kesimulan apa pun tanpa penyelidikan nyata dan bukti-bukti kongkrit.

Ilmu bertitik tolak dari yang daat dirasakan, diihat dan diraba. Ilmu sebenarnya adalah yang dapat dirasakan dan merupakan usaha menghimpun bukti-bukti nyata dan menganmbil kesimpulan. Apa-apa yang tidak dapat diketahui dengan pancaindra dianggap tidak ada. Yang gaib tidak mempunyai tempat dalam pendidikan ilmiah.

Dengan logika ilmiah materialis ini mulailah aku mengembara di alam akidah. Sekalipun pengembangan ini dimulai dari alam dunia materiil  dan bertitik tolak dari hal-hal yang dapat dijangkau dengan pancaindra dan tidak mengakui hal-hal gaib, tapi aku tidak dapat mengingkari dan manjauhkan diri dari “kekuatan Ilahiyah”.

Ilmu yang telah memperkenalkan kepadaku bentuk alam yang sangat cermat dan tepat. Segala sesuatu, dari daun, kayu, sayap kupu-kupu, sampai butiran pasir mempunyai keharmonisan, aturan dan keindahan.

Alam ini sebenarnya dibangun dengan tehnik yang istimewa dan aturan teliti. Segala sesuatu bergerak dengan perhitungan... mulai dari atom yang terkecil sampai falak yang maha besar, matahari dengan satelitnya, galaxi yang punya lebih dari seribu juta matahari, dan petala langit yang maha luas yang menurut ahli ilmu falak mempunyai lebih dari seribu  juta galaxi. Semua wujud yang tidak berkesudahan ini.... dari elektro terkecil sampai benda-benda langit yang maha besar ... tampak tak ubahnya seperti gubahan musik dengan not-not yang telah tersusun indah, tiap gerakan punya aturan, atau seperti sesosok tubuh yang sempurna yang dihidupi dengan roh.

Ilmulah yang menuntunku ke suatu jalan di mana aku dapat membayangkan adanya Allah dengan metode materialis.

Dalam taraf ini aku tanggapi Allah itu sebagai suatu “tenaga batin” yang mengatur alam--- yang terdiri dari makhluk hidup, benda-benda mati, bumi dan langit... dengan aturan yang sangat indah. Dia adalah “Muvement” harakah yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan di dalam atom, protoplasma, dan planet-planet. Dia adalah “kehidupan pencipta batin” di segala sesuatu, atau menurut istilah pendeta Thomas adalah “proses murni” yang senantiasa berubah dalam mirkop menjadi manusia dan berubah terus menerus tanpa akhir.

Eksistensi ini menurut tanggapanku ketika itu tidak punya batas dan kesudahan karena wujud tidak dibatasi kecuali oleh “Adam” (Non being) dan Adam itu adalah tiada. Maka haruslah---- menurut logika--- wujud ini tidak terbatas tanpa berkesudahan. Terang suatu kesalahan  kalau kita kemukakan pertanyaan : Siapa yang menjadikan alam ini, karena pertanyaan ini berakibat bahwa alam ini pada mulanya tidak ada lalu diadakan----- dan berarti menerima bahwa Adam itu juga bersifat ada. Tidak mungkin demikian! Adam itu tidak ada dalam waktu atau tempat dan harus dikeluarkan dari pembicaraan. Tidak benar kalau dikatakan dia ada.

Dengan demikian wujud menurutku Qadim, abadi, azali berlangsung terus menerus sepanjang masa yang tidak berkesudahan.

Jadilah Allah menurut pandanganku ini “segala sesuatu”. Kita manusia adalah peraga-Nya. Allah adalah wujud ini sendiri yang tidak ada Adam sebelumnya. Dia adalah wujud materialis yang berlangsung abadi, azali tanpa permulaan dan kesudahan.

Dengan demikian aku telah terjerumus ke dalam suatu teori yang mencukupkan wujud materialis saja dan menganggap bahwa Allah adalah wujud semesta ini. Tidak perlu membayangkan adanya yang Gaib dan mencari yang tidak dapat dilihat. Aku telah terjerumus ke dalam pemikiran pantheisme (Wahdatul wujud), filsafat Spenoza dan pemikiran Brekson tentang tenaga pencipta batin, yang kesemuanya adalah filsafat yang dimulai dari bumi, dari pancaindra, dan tidak mengakui yang gaib.

Pantheisme Hindu maju lebih jauh lagi, sampai membantah adanya dualisme antara makhluk dengan Khalik. Semua makhluk adalah pemunculan Khalik. Dalam kitab Upanishat ada do’a-do’a yang menerangkan hal ini dalam bait-bait syair bahwa Tuhan Brahma yang berada dalam hati seorang alim berbisik :
Jika si pembunuh mengira dialah yang membunuh..
Si terbunuh dialah yang terbunuh..
Kedua tidak tahu rahasia-Ku.

Aku ada yang mati,
Sayap yang terbang.
Akulah untuk orang yang ragu tentang wujud Ku.
Segala sesuatu, bahkan ragu-ragu itu sendiri,
Akulah yang ada sendirian.
Akulah segalanya.

Maka Tuhan tak ubahnya seperti cat putih.... cahaya putih.... satu, sederhana tetapi mengandung tujuh berkas warna.

Beberapa tahun lamanya hidup dibawah kegelapan awan India, Marijuana Sufisme ini,  ... melatih diri dengan mengikuti yoga dan mempelajarinya langsung dari buku-buku asli guru-guru India. Paham reinkarnasi menguasai jalan pemikiranku yang tertuang dalam novel-novelku seperti “Laba-laba” dan “Keluar dari peti Mati”.

Kemudian aku tenggelam lagi dalam perasaan tiak puas. Hati sanubariku mengakui bahwa ketuhanan seperti itu banyak campur aduknya.

Sekali lagi “Ilmu pengetahuan” tampil sebagai penunjuk jalan, penyelamat, dan penasehat diriku. Persemedianku dalam alam ilmu pengetahuan bersama unsur-unsur makhluk hidup di bawah lensa mikroskop membisikan “sesuatu yang lain.” Pantheisme Hindu hanya merupakan pengungkapan puitis yang sofis, bukan pengungkapan suatu kebenaran. Hakekat yang lebih kuat yang diungkapkan oleh ilmu ialah bahwa “Kesatuan” hanya ada pada unsur bahan baku, penyusunan, dan pengaturan mula-mula dari segala yang tercipta ini. Segala makhluk baik tumbuh-tumbuhan binatang maupun manusia diciptakan dari persenyawaan unsur karbon, hidrogen dan oksigen--- karena semuanya dapat menjadi batubara kalau terbakar. Maka apa saja jenis makhluk hidup lahir daru satu sel da pergandaannya.

Sekali lagi kita dapat belajar dari ilmu falak, kimia dan atom bahwa zat atom itu pun---begitu juga unsur-unsur lain--- berasal dari godokan satu unsur yaitu unsur hidrogen dalam tungku planet raksasa. Dalam tungku planet-planet tersebut hidrogen berubah menjadi helium, karbon, silisium, kopal, besi dan lain-lain yang dijumpai dalam daftar unsur-unsur kimia melalui proses peleburan dan penyusunan kembali dengan panas dan tekanan yang tinggi.

Dengan demikian segala sesuatu yang ada ini dapat dikembalikan ke bahan baku tunggal tersebut, kepada sehelai benang halus... yang dipintal menjadi alam yang berbagai macam dan bentuk ini. Beda antara satu jenis dengan jenis yang lain, satu makhluk dengan makhluk lain, hanyalah dalam cara, jumlah, perbandingan dan pembentukan .... tetapi unsur asal tetap satu. Inilah rahasia adanya rasa seketurunan, berkerabat dan beripar bisan, adanya hubungan rasa kasih antara manusia dan hewan, antara binatang dengan yang memeliharanya, antara hidung pencium dengan bunga yang semerbak. Inilah rahasia adanya keharmonisan. Semua wujud ini, anggota satu keluarga dari satu bapak.

Dengan demikian tidak dapatlah dibenarkan kalau dikatakan Tuhan itu adalah wujud bahwa Khalik itu adalah makhluk. Ini hanya semata kekeliruan sofisme.

Hal ini takubahnya seperti seorang kritikus yang memasuki suatu pameran lukisan. Dia menyaksikan keseragaman seni sastra semua lukisan--- dilukis dengan alat yang sama dengan kumpulan warna yang sama, dan lebih-lebih lagi cara pelukis yang sama. Wajarlah kalau dalam pemikiran si kritikus timbul suatu kesimpulan bahwa pelukis semua lukisan-lukisan tersebut adalah seorang saja, umpamanya Picasso, atau Shagal, atau Mogelyani.

Maka kesatuan antara segala wujud ini menunjukan penciptanya tunggal, tetapi tidak berarti bahwa segala wujud ini penciptanya sendiri. Si kritikus tidak akan mengatakan bahwa lukisan-lukisan tadi adalah si pelukis sendiri.

Maka pantheisme Hindu adalah Khurafat sofisme, sebagai pelega hati yang tidak dapat dibenarkan oleh ilmu dan pikiran.

Pandangan ilmiah yang selalu mengobservasi keadaan makhluk , kesauan cara, aturan dan unsur asal yang kesemuanya menunjukan bahwa penciptanya adalah tunggal, tidak berserikat dengan apa pun dan tidak mengijinkan suatu apa pun untuk mengatur alam ini kecuali Dia sendiri.

Pandangan ilmiah yang juga mengatakan bahwa pencipta itu merupakan akal yag menyeluruh dan mencakup yang mengilhami makhluk. Menunjukinya dalam pengembangan evolusi dan membekalinya dengan senjata dan alat-alat untuk mempertahankan kehidupan, Dialah yang menciptakan sayap untuk biji pepohonan padang pasir untuk dapat terbang melintasi padang pasir yang tandus mencari air dan tempat yang memungkinkannya tumbuh. Dia memperlengkapi telur nyamuk dengan dua kantorng pelampung langsung ketika keluar supaya dapat terapung. Tdak mungkin nyamuk itu dapat memahami hukum arcimides dan membuat sendiri kantong-kantong tersebut, Hanya “akal” yang menyeluruh dan mencakuplah yang telah menciptakannya. Dia lah yang telah membekali makhluk dengan kebutuhan hidupnya. Dialah Yang Maha Pencipta, yang jauh lebih tinggi dari segala makhlukNya, yang mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui dan melihat apa-apa yang tidak dapat kita lihat.

Dia Satu, Tunggal, Berkuasa, Maha Mengetahui, Maha Meliputi, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Ahli, Dia-lah Yang Maha Tinggi, menciptakan segala sifat dan tidak dapat dicakup oleh sifat.

Hubungan antara Khalik dengan makhluk tetap ada. Dialah yang lebih dekat kepada makhlukNya dari darah makhluk itu sendiri. Dia lah Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan gubahan wujud yang amat indah ini. Dia-lah Yang Maha Adil yang menyusun Undang-UndangNya dengan cermat, teliti dan tidak pernah salah.

Beginilah Ilmu Pengetahuan telah menyuguhkan kepadaku sesuatu pengertian yang sempurna tentang Allah.   ##@@##@@#@@@

Pendapat yang mengatakan bahwa wujud ini azali beralasan bahwa Adam (non being) itu tidak ada, sedangkan wujud itu ada. Ini hanya silat lidah yang tidak beralasan, kecuali kepintaran bermain kata saja.

“Adam” itu sebenarnya bukanlah tidak ada. Adanya dalam gambaran pemikiran menolak bahwa kita tidak ada. “Adam” paling-paling hanya merupakan bantahan terhadap apa-apa yang tidak kita ketahui, bukan bantahan mutlak yang berarti “Tidak ada”. Pendapat tentang “Adam” yang mutlak hanya merupakan “fardhiyah” (Suppotional, andaikata) saja, seperti Fardhiyah “nol” matematik. Janganlah dicampuradukan antara “andaikata” dengan menyatakan, dan jangan pula menganggap kenyataan dengan seenaknya bahwa “Adam” itu tidak ada, dan menganggap kata-kata itu persoalan wujudiah, serta dengan dasar ini kita kemukakan huum-hukum lain tentang alam nyata. Ini terang adalah paradoks dan sofistik belaka.

Seperti itu juga kata-kata bahwa “wujud” itu ada. Di sini kita jumpai pengacaubalau yang sama, karena “wujud” adalah pengungkapan pikiran, sedangkan “Maujud” (yang ada) adalah kenyataan materialis.

Kata-kata “wujud” dan “Adam” hanyalah ungkapan pikiran seperti “Nol” dan “Yang tidak terbatas,” tidak boleh kita campur adukan dengan menyatakan yang dapat disentuh dan diketeahui dengan pancaindra.
####

Oleh sebab itu alam ini tidaklah azali, tapi ada permulaannya. “Hukum kedua tentang dinamika panas” (Second Law of Thermo Dynamics) dalam kamus ilmu pengetahuan membuktikan hal ini lagi. Hukum  tersebut menetapkan bahwa panas pindah dari yang lebih panas kepada yang kurang, dari panas yang lebih tinggi kepada panas yang lebih rendah, hingga panas keduanya seimbang. Di sini terhentilah pertukaran panas tersebut. Kalau alam ini abadi dan azali tanpa permulaan dan kesudahan tentu perpindahan panas dapat berhenti pada keabadian yang sangat lama itu, dan selanjutnya berhentilah segala bentuk kehidupan, akan dinginlah bintang-bintang sampai sama dengan suhu daerah dan kekosongan sekelilingnya. Berhentilah segala sesuatu. Maka hukum ini menjadi dalil alam ini punya permulaan dan kesudahan.

Kiamat kecil yang kita saksikan di sekeliling kita dengan matinya manusia, lenyapnya peradaban-peradaban, matinya hewan, tumbuh-tumbuhan, berlakunya detik, abad, dan masa adalah isyarat untuk kita bahwa kiamat besar akan datang, yang alam ini tidak dapat tidak berakhir dengan kiamat tersebut.

Ilmu yang benar tidak akan bertentangan dengan agama, malah membuktikan dan menguatkan kebenaran agama. Kalau kita sampai menganggap ilmu yang membuat akal kita ragu-ragu, tandanya akal itu telah bermegah sendiri, melewati batas daya pikirnya – lebih-lebih lagi apabila terjadi pertempuran sengit disuatu masa di mana akal danggap segala sesuatu, manusia dikepung oleh hasil-hasil yang perkasa, pesawat terbang, roket, dan satelit buatan membising setiap saat. Saya materi............. sayalah segala sesuatu..!!!!
MENGAPA  AKU  MUSLIM
Saya memang bukan seorang muslim. Namun saya mengakui bahwa Islamlah satu-satunya sagama, yang manusia menemukan dirinya, jiwa, roh, harapan-harapan, dan masa depannyadi sana.
Gustav Lopon.

Pada pertengahan pertama dari abad ke 20 ini, kira-kira tiga puluh tahunan yang lalu, Perkumpulan-perkumpulan Al Azhar menerbitkan Majalah Akademis yang mereka namai “Nurul Islam” (Cahaya Islam). Redaksi majalah ini terdiri dari pemikir-pemikir yang telah mendalami bidang-bidang kebudayaan Islam dan Ilmu Fiqih serta Tasyri”. Majalah ini sangat laris dan hampir tak ada satu desa pun di Mesir yang tidak dimasuki majalah ini.

Pada waktu itu saya masih kecil dan duduk di madrasah desa saya. Sering saya melihat majalah itu dipegang oleh mahasiswa-mahasiswa, dan guru-guru saya. Dan saya masih ingat benar, bahwa pada suatu hari ayah datang dari perjalanannya membawa oleh-oleh majalah yang kemudian beliau leetakan di atas meja, untuk beliau baca pada waktu-waktu senggang.

Aku pegang satu di antara sekian majalah yang tergeletak di atas meja dan aku pun membacanya. Sebuah judul yang menarik adalah cerita tentang seorang ilmuwan besar yang mendalami bidang bakteri. Ia telah berkunjung ke Mesir untuk menyekolahkan anaknya dan dia sendiri memperoleh pekerjaan dalam bidang tersebut.

Pada suatu hari dia membaca buku hadits yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Tiba-tiba dia tidak percaya ketika membaca kadits Nabi :
“Jika seekor anjing menjilat perkakas rumah salah seorang di antara kalian, maka cucilah alat (tempat) itu tujuh kali, satu kali di antara yang tujuh itu dicampur dengan tanah.”

Sejenak dia berdiam menatap hadits itu. Dalam dirinya mulai timbul pertanyaan-pertanyaan yang menggoda : Perintah mencucui tujuh kali itu memang harus dilakukan, dan merupakan kewajiban, namun mengapa Nabi masih menyuruh membasuh tempat itu satu kalinya dengan tanah? Tidakkah dengan memakai air saja sudah cukup?

Pertanyaan itu begitu menggoda. Tanpa menunggu waktu lagi, segera dia mengambil sebuah perkakas rumah dan membiarkannya dijilati anjing. Dia lalu menccucuinya dengan air tujuh kali. Meneliti dengan meneropongnya di bawah mikroskop, dan yang terlihat : Berjuta-juta bakteri masih melekat di tempat itu. Berarti mencucui dengan air tidaklah cukup untuk menghilangkan bakteri atau kuman-kuman penyakit anjing yang melekat di tempat iru.

Sekarang dia mencoba sekali lagi, mencucui tempat iru dengan debu, Dan setelah diteliti, ternyata, kuman-kuamn telah hilang seluruhnya.

Pertanyaan yang timbul di benaknya sekarang : Siapa yang meberitahukan hal ini kepada Muhammad? Padahal penemuan rahasia bakteri baru diketemukan oleh Pasteur (1822 – 1895). Bukankah jauh sekali jarak antara Muhammad dengan Pasteur? Berarti penemuan Pasteur hanyalah mengulang penemuan lama. Di mana Muhammad telah mengetahui bahwa bakteri atau kuman penyakit itu ada pada anjing dan dapat dihilangkan hanya dengan mempergunakan debu dan dibasuh dengan air enam kali. Siapa yang memberitahukan hakekat ilmiah ini kepada Muhammad? Tidak lain, Dialah Allah!!! Allah yag benar-benar menunjuk Muhammad sebagai utusan-Nya. Akhirnya ilmuwan itu masuk Islam bersama puterinya yang ikut di Kairo itu.

Dalam salah satu memorinya, Dr, Abdul Aziz Izam berkata tentang dirinya :
“Ketika saya berjalan-jalan di Tokyo, saya sempat berkenalan dengan pengusaha kecil yang mempunyai pabrik besi. Ketika saya berjalan menuju pabrik memenuhi undangannya, saya berjalan melalui halaman luas yang di kanan kiri jalan menuju pabrik itu terdapat Istana Kaisar, yang halamannya sangat luas. Jalan menuju istana itu sangat mulus dan di kanan kirinya terdapat kolam yang memanjang. Kemudian di belakang kolam itu nampak Istana Kaisar. Beberapa orang laki-laki dan wanita yang mengenakan pakaian resmi kimono berdiri di depan Istana.

Saya berdiri memandang mereka. Namun para wanita menggendong puteranya di punggung dengan diikat memakai kain panjang. Kesemuanya datang ke istana untuk melaksanakan suatu acara kekaisaran. Lalu nampak sebagian dari para wanita itu bertepuk tangan sambil bernyanyi, sedangkan laki-lakinya memukul gendang dengan teratur mengiringi lagu yang dinyanyikan wanita-wanita itu. Mereka berdoa dengan bahasa yang tidak saya mengerti, mungkin do’a selamat atau do’a lainnya?

Di jepang masih terdapat suatu kepercayaan bahwa Kaisar adalah “Bapak Jepang”, dan mayoritas dari penduduknya memeluk agama Budha. Oleh karena itu hal-hal yang tidak logis masih juga dipercaya oleh orang-orang modern Jepang.

Di pertengahan jalan pulang, rekan kenalanku itu membawa saya ke suatu tempat yang aneh, aneh bagiku. Yaitu tempat pembakaran manusia. Di tempat itu, kata teman saya, tubuh orang-orang Jepang yang mati di bakar.

Pembakaran, dilaksanakan dalam suasana yang menakutkan. Rekan saya mengatakan bahwa panas pembakaran lebih dari seribu derajat celcius. Mayat itu yang tinggal hanya debunya, yang kemudian dimabil dan disimpan di dalam sebuah poci Cina untuk dijadidkan kenang-kenangan. Ya! Kenang-kenangan! Sebab, memang----- yang tinggal dari tubuh manusia hanyalah semacam materi pupuk, yang terdiri dari fosfat, karbon dan nitrat, setelah tubuh itu dikubur berkalang tanah, atau diambil debunya setelah di bakar. Maka debu itu tak berbeda dengan pupuk yang dijual di toko-toko, yang dipergunakan orang untuk menyuburkan tanaman. Keadaan macam ini adalah memang karena adanya (Eksistensi) manusia serta usahanya yang begiru besar untuk menempuh hidup ini. Adakah tubuh itu merupakan baju yang akan dilepas kelak untuk kemudian memakai baju lain, atau apa?

Suatu hal yang tidak saya suga, dan mungkin suasana memang harus begitu, teman saya bertanya: Apakah engkau yakin bahwa orang yang yang mati itu akan dibangunkan dan aka dihidupkan kembali?

Saya katakan kepad: Ya. Dan adakah akhir hayat ini harus siap-siap tanpa ada apaapa sesudahya, menjadi pupuk bagi tumbuh tumbuhan seperti pupuk yang dijual orang di pasar-pasar? Al Qur’an telah menjawab pertanyaan tersebut :

“Adakah kalian mengira bahwa Kami menjadikan kalian (manusia) dengan sia-sia? Dan bahwa kepada Kami-lah kalian semua akan dikembalikan....

Rekan saya tersebut terbahak-bahak panjang. Tiba-tiba berhenti, mungkin dia sadar bahwa saya bukan orang Jepang, lalu berkata : Maaf saudara. Tapi saya tidak setuju kalau dikatakan bahwa tubuh manusia yang sudah mati akan dibangunkan kebali, apalagi jassad-jasad mereka berubah menjadi debu semacam pupuk. Diisap oleh akar tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan dimanakan oleh binatang. Dan binatang dimanakan oleh manusia. Suatu siklus yang benar-benar membedakan dan memberi jarak antara manusia yang masih hidup dengan manusia yang sudah mati. Namun jarak itu merupakan siklus, shingga mustahillah terjadinya pemisahan antara keduanya. Demikian pula kembangkitan kembali, merupakan hal yang mustahil terjadi.

“Pendapat tuan, tidak berbeda dengan pendapat orang-orang sebelum Muhammad. Mereka tidak mempercayai kalau Muhammad berpendapat bahwa manusia kelak akan dibangunkan kembali dari kuburnya.

Apakah ia menjanjikan kepada kami sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-tulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu). (QS. Al Mukminun : 35).

Saya katakan kepadanya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini gampang terjadi bagi Allah, tidak seperti yan kita bayangkan.

Baiklah, selessai perjalanan kita mengelilingi Jepang, akan saya terangkan dengan jelas sehingga persoalan tentang kebangkitan kembali itu tidak kabur dan tuan puas.

“Tak lama, kami selesai mengadakan kunjungan ke pabrik itu. Dan sebelumnya saya telah menyaksikan pula sebuah pabrik besi yang terletak di Pulau Kyosyu sebelah selatan Jepang. Pabrik itu bernama pabrik Yawata yang mengelola besi dan baja. Ia merupakan pabrik baja terbesar di Jepang dan bahkan di kawasan Timur jauh. Dan untuk sampai ke Pulau itu, telah dibangun terowongan bawah tanah, sehingga ketika kami mengunjunginya, kami telah melewati jalan itu.

Setelah kunjungan ini, saya pulang ke hotel “Tokyo”, model Barat dengan salon-salon lus, Ada satu salon di sebut dengan salon emas, dan satunya lagi salon perak, karena warna karpet yang dibentangkan di lantai. Dan ketika kami memasukinya, di sana sedang dilaksanakan suatu upacara atau pertemuan agama Kristen, dan di setiap meja ada sebuah Injil.

Ketika itulah saya ingat kembali kepada masalah kebangkitan kembali manusia setelah matinya. Saya terangkan kepadanya :

Sebenarnya kita ahli-ahli kimia kini kurang memperhatikan gejala-gejala materi, dibanding perhatian kita terhadap susunan dan bentuknya. Sebenarnya kita harus mengetahu unsur-unsur yang di kandung oleh materi dan banyak atom yang dikandung oleh setiap unsur (partikel), serta bagaimana cara hubunan antara satu atom dengan atom lainnya.

“Tidaklah cukup bagi kita, umpama hanya mengetahui bahwa air adalah benda cair tak berwarna, tak berbau dan tidak mendidih di bawah 100 derajat. Akan tetapi seharusnya bagi kita mengetahui bahwa air itu terdiri dari dua unsur, uaitu oksegen dan hidrogen. Dan banyak atom-atom yang pertama satu, sedangkan banyak atom-atom unsur kedua, dua. Kamudian atom oksigen yang Cuma satu itu saling berhubungan dengan kedua atom hidrogen. “Proyek Atomis” inilah yang perlu diperhatikan oleh seorang ahli kimia, semisal “Proyek bangunan” bagi seorang arsitektur. Dan proyek itulah yang menerangkan sereta menetukan jumlah atom yang dikandung oleh sebuah materi dan bagaimana terjadinya hubunan antara atom yang satu dengan atom lainnya.

Unsur-unsur tersebar luas di segala tempat. Unsur-unsur itulah yang menempatkan diri di dalam atom-atom. Sedangkan atom-atom itu sendiri tidak pernah berganti ataupun berubah. Ia telah tercipta dalam azali dan demikianlah selamanya, berada dalam bentuknya yang azali.

Materi apapun di dunia ini, sebenarnya atom-atom yag bersatu. Dan apabila diurai akan menjadi atom-atom yang terpisah. Atom itu kekal, tidak pernah habis dan tidak pula menjadi baru kembali (hadits). Dunia ini seluruhnya terdiri dari beberapa atom yang terbatas banyaknya. Umpamanya tida atom yang berbeda-beda dan bermacam-macam, darinya tersusun sebuah dunia yang tidak terhitung berapa banyak materinya. Sedangkan materi-materi itu sendiri bisa dikatakan sebagai bentuk yang bermacam-macam dari bentuk-bentuk atom yang banyaknya terbatas.

Untuk lebih jelasnya bisa dibuat perbandingan: Atom-atom dibanding atau bagi tubuh, sama seperti sebuah batu bagi sebuah rumah. Maka dari satu bentuk batu sudah bisa dibentuk berbaai macam rumah menurut planing sang arsitek.

Proyek atau Planing Atomis menurut pandangan seorang ahli kimia, sangat penting untuk membangun sautu tubuh tertentu. Sebab setiap materi mempunyai susunan atom tertentu. Untuk lebih jelasnya bisa saya katakan, bahwa materi asan nitrat (Nitrium Acid) umpama, terdiri dari oksigen dan nitrogen serta hidrogen. Asam nitrat ini bisa diperoleh dari garam chili yang ditambang di daerah-daerah selatan Amerika, dan bisa pula diperoleh dengan jalan mengkonfirmasi azote atau nitrogen udara. Hal ini berarti bahwa sumber atom bukanlah hal yang penting, akan tetapi proyek atau planning atomisnya yang perlu diperhatikan dengan teliti.

Jadi pada dasarnya ialah mengetahui planing atau proyek (susunan) atomis Asan Nitrat. Sedangkan sumber asam itu, entah dari garam chili atau dari udara, sama saja sebab tidak mengubah bentuk dan susunan Atom Asam tersebut. Gampangnya bisa dikatakan demikian : Anak-anak biasanya senang bermain-main dengan mempergunakan kayu berbentuk empat persegi sama kalki (kubus). Mereka akan mampu membangun rumah-rumah dengan berbagai macam bentuknya sesuai dengan kehendak mereka.

Seorang anak bisa membuat rumah-rumahan karena ada planing (rencana atau gambar). Dan meskipun rumah-rumahannya itu dirusak berpuluh-puluh kali, dia akan tetap bisa embangun rumah-rumahannya persis seperti bangunan pertama, apabila ada rencana atau maket rumah. Maka atom-atom itu laksana potongan-potongan kayu berbentuk gabus itu yang tetap tak berubah. Dan yang berubah adalah bentuk, planing , gambaran dan rusaknya banunan. Sdangkan gabus itu tetap tidak pernah hilang ataupun hancur. Maka demikian pulalah tubuh manusia, meskipun dia sudah menjadi tanah, akan tetapi atom-atomnya tetap ada dan tidak pernah hancur seperti hancurnya tubuh.

Temanku itu mulai beguman sendiri mengulangi kata-katanya semula. Dia tetap tidak setuju kalau saya katakan bahwa jasad manusia kelak akan dihidupkan kembali, “Ada yang kita upakan!”, katanya.

“Ap itu? “ Tanya saya.

“Tubuh tidak bergerak tanpa adanya roh. Maka apakah roh itu, dan apa pua rahasia yang terdapat dalam biji tanaman, dan apa pula hubungan antara keduanya?”

“apaah saudara meliaht tanah yang juga terdiri dari bangkai binatang dan tulang-tulang manusia yang hanur?” tanya saya, “Kalau kita menanam satu biji tanaman di atasnya, kemudian kita sirami dengan air, kita pupuk, maka beberapa lama, kita akan melihat bahwa biji itu tumbuh, ada yang kebawah menjadi akar dan ada yang ke atas menjadi batang. Masing-masing saling menguatkan. Dan lama kelamaan batang terus berkembang dan tumbuh, bertambah ranting, bertambah daun dan kemudian berbuah. Dan satu buah kurma kelak akan menjadi berpuluh-puluh buah yang lain. Tumbuh lagi menjadi kurma baru. Seua kurma yang ada di dunia ini asalah adalah Cuma sebuah biji, yang kemudian bertambah dab bertambah menjadi kurma-kurma yang lain. Maka darimanakah pertambahan itu? Bagaimana dari biji yang kecil menjadi yang besar yang terdiri dari biji-biji yang lain? Tiak dapat diragukan lagi bahwa tanah itulah bersama udara dan iklimnya yang merupakan sumber dari pertumbuhan itu!

Hal ini berarti materi tnah yang matii berubah menurut kita menjadi jasad yang hidup, berkembang, tidur, beranak, bernafas, makan dan berbuah. Maka siapakah orang yang mengubah sifat alami sesuatu benda dengan cara-cara yang dapat kita saksikan dengan mata telanjang ini?

Tumbuh-tumbuhan bisa mengambil makanan secara langsung dari tanah dan tanah itu sendiri baginya berubah menjadi jasad yang hidup, maka manusia tidak mampu melakukan pekerjaan seperti tumbuh-tumbuhan itu. Ia lemah dan tidak mampu untuk mengambil makanannya sendiri langsung dari tanah, sebab ia makhluk parasit yang menggantungkan hidupnya kepada makhluk-makhluk lain, baik itu binatang ataupun tumbuh-tumbuhan, yang kedua-duanya dijadikan manusia sebagai makanannya. Dan manusia sendiri berasal dari tnah yang zat-zatnya dikirimkepada tumbuh-tumbuhan dan binatang, kemudian dimakan oleh manusia. Tanah mati yang keras berubah menjadi makanan, dan dimakan oleh manusia hidup berakal, mendengar dan melihat.

Dan apabila manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan mati, semuanya akan kembali kepada asalnya ayitu tanah, atau yang disebut dalam ilmu kimia sebagai materi abiologis yang terdiri dari garam, fosfat, nitratm karbonat, hidrogen dan nitrogen, yaitu materi-materi yang dikandung oleh tanah.

Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali pada-Nya. (QS. Al A’raf : 29).


Dari benda yang mati ini, keluar baebagai macam bentuk dan warna tumbuh-tumbuhan, binatang serta bibit-bibit tanaman, yang ditanam di atas tanah, disiram dengan air dan tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dengan segala macam bentuk dan warnanya menurut bibitnya. Bibit kacang tidak akan mengeluarkan sawi, bibit semangka tidak akan mengeluarkan mangga dan biji terong tidak akan mengeluarkan cabe.....

Maka siapakah yang mengajarkannya agar memilih dengan sangat teliti atom-atomnya yang cocok bagi dirinya, kemudian darinya muncul warna-warna yang berbeda; merah, biru, hijau, ungu, kuning.... kemudian keluar darinya buah-buahan haru, pesing... dan darinya pula keluar berbagai macam rasa; manis; pahit; masam?

Sungguh suatu keajaiban bahwa semuanya itu bisa terjadi tanpa kita sadari di sana terdapat bukti-bukti akan kemampuan, kekuasaan, ketelitian, dan akal yang terjadi dari suatu sumber.....

Dan apabila kita melihat bibit binatang; akan lahir darinya binatang yang tak berbeda dengan bibit semula. Dari bibit kerbau yang bertanduk, akan keluar darinya kerbau yang bertanduk, Bibit burugn berwarna kuning, akan melahirkan burung berwarna kuning. Burung ggagakk berwarna hitam menakutkan, akan menurunkan burung gagak hitam menakutkan!!

Maka siapakah yang mengatur setiap bibit sehingga mempunyai ciri-ciri khas tersendiri? Siapakah yang menciptakan semuanya ini dengan bentuk-bentuknya yang indah, bulunya yang menrik, suaranya yang merdu, dan masing-masing anggota tubuhnya saling berhubungan erat sehingga tidak terjadi kesalahan di dalam menjalankan masing-masing anggota tubuh?

Semuanya ini tidak lain untuk menunjukan atas kekuasaan, hikmah, dan akal yang muncul dari stu sumber atau bibit? Dialah......Dialah yang kita sebut dengan Al Khalik, Pencipta Semesta Raya ini!!!

Temanku mendengarkannya saja tidak bicara memberi tanggapan. Saya khawatir dia sudah bosan mendengarkan pembicaraan saya. Maka cepat-cepat saya minta ijin kepadanya untuk beristirahat.

Keesokan harinya pintu di ketok orang. Dan tanpa saya duga temen saya itu datang, “Semoga ada kabar baik,” kata saya dalam hati.

“Saya datang membawa kabar besar,” katanya dengan nada gembira.
“Apa itu?”, tanya saya.
“Saya kini sudah masuk Islam”!!..”.

Saya pejamka mata sejenak. Dalam hati saya berulang-ulang menyebut dan membacakan ayat:
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya (untuk memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al An’aam : 125).
DAN  AKHIRNYA.... BAGAIMANA
AKU  MELIHAT  ALLAH
Tuna-tuan bisa saja mengelupas kulitku dari tubuh, tapi tuan-tuan tidak akan dapat mengelupas Imanku kepada Allah dari akalku...... Ampunan-Mu wahai Tuhan ku, sebab sesungguhnya aku tidak hanya beriman kepada Allah, akan tetapi aku telah menyaksikan-Nya......
Fober...

Dalam suatu pertemuan atau perjumpaan antara Al Ustadz Ahmad Hasan Al Baquri dengan seorang agen Surat Kabar Pravda Sovyet, Agen Surat Kabar Itu bertanya kepada Ustadz :

“Si manakah Allah berada?”

Syeikh Al Baquri menjawab : “Allah itu tidak bertempat.”
“Bagaimana manusia bisa mempercayai sesuatu yang tidak mempunyai tempat dan tidak bisa diterima oleh Indera. Ia tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa dicium baunya, tidak bisa dipegang dan tidak bisa dirasakan dengan lidah?”, orang Sovyet itu membantah.

“Jawaban terhadap pertanyaan tuan butuh kepada satu pertanyaan yang akan saya ajukan.”
“Silahkan!”, kata orang itu.
“Apakah tuan mempercayai adadanya gravitasi antara planet yang satu dengan planet yang lain?”, tanya Al Baquri.
“Ya, sebuah teori alami yang harus ada, sebab jika tidak, dunia dengan segala isinya, langit dan bumi akan berjalan tak karuan,” jawab orang kafir itu.
“Tuan mempercayai adanya hukum gravitasi dengan sepenuhnya, padahal tuan tidak melihat gravitasi itu, merasakan dengan lidah juga tidak, mencium baunya atau memegangnya juga tidak. Jadi bagaimana tuan bisa benar-benar meyakini adanya?”

Sesungguhnya jawabanku terhadap pertanyaan tuan, sama dengan jawaban tuan terhaap pertanyaan saya, maka mengapa tuan percaya kepada yang satu ini dan ingkar kepada lainnya?

Al Ustadz Taufiq Hakim, berkata dalam salah satu cerita tulisannya :
“Dahulu kala ada seorang laki-laki, baik budi bahasanya, bersih hatinya. Dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat cerdas dan pandai berbicara. Pada suatu hari mereka duduk berdua, berbincang-bincang seakan-akan mereka saling berteman tak ada umur yang membedakan. Mereka saling berpengertian di dalam bertukar pikiran mengenai hakekat alam.

Hari itu dia melihat kepada anaknya dan berkata : Terima kasihku kepada Allah sangat besar anaku, dan engkau --- bagiku --- merupakan nikmat dari-Nya yang dilimpahkan padau.”

“Ayah selalu saja berbicara tentang Allah. Ayah cobalah perlihatkan padaku seperti apa Allah itu?”, anak itu minta keterangan.

“Apa yang kau katakan barusan?!” Sang ayah tiba-tiba kebingungan. Dia kini memikirkan bagaimana seharusnya dia menjawab pertanyaan seperti ini. Diam sejenak, lalu berkata kepada anaknya :

“Kau mau saya memperlihatkan Allah kepadamu?”\”Ya ayah, aku ingin melihat Allah.”
“Bagaimana saya bisa memperlihatkan apa yang belum pernah saya lihat, anak ku?!”
“Mengapa ayah, mengapa ayah belum pernah melihat-Nya?”
“Sebab selama ini saya belum pernah memikirkan-Nya.”
“Lalu bagaimana kalau ayah mencarikan-Nya untuk saya lihat nanti bila sudah diketemukan?”, anak itu mendesak.
“Ya, anakku, saya akan pergi mencari-Nya.”

“Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya. Keluar ruah dan berkeliling ke sluruh pelosok kota menanyakan perihal pertanyaan yang diajukan sang anak kepadanya. Namun sia-sia, dan bahkan orang-orang sama memperolok-olokannya. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang Allah, mereka sibuk dengan urusan dunia.

Laki-laki itu kemudian pergi mendatangi pemuka-pemuka Aama. Tapi tak seorang pun di antara mereka yang sanggup menjawab pertanyaan : Di mana Allah berada? Dia keluar dari tumah mereka dengan perasaan putus asa. Berjalan menelusuri jalan-jalan kota menundukan kepala tentang Allah, sambil bertanya-tanya dirinya sendiri : Haruskan aku kembali pulang ke rumah dengan tangan hampa dan bahkan dengan perasaan putus asa..??...

Akhirnya dia bertemu dengan seorang yeikh yang kemudian menyarankan kepadanya untuk pergi ke ujung kota, “Di sna ada seorang pertapa tua yang akan sanggup menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Mungkin di sana saudara bisa menanyakan apa saja yang saudara inginkan.”

Ketika itu pula laki-laki itu langsung berjalan menuju ke ujung kota, menemui sang pertapa.

“Saya menemui bapak dengan harapan dapat memperoleh apa yang saya inginkan tanpa sia-sia, kata laki-laki itu.”

“Sang petapa mengangkat mukanya, lalu berkata dengan nada dalam dan merdu : “Katakan apa yang kau hajatkan.”

“Pertapa yang baik hati, saya ingin sekali bapak memperlihatkan Allah kepadaku.”

Pertapan tua itu berpikir sejenak sambil memegang kumisnya yang uban : “Apakah engkau mengerti apa yang kau katakan?”, tanya sang pertapa.

“Ya, saya ingin bapak memperlihatkan Allah kepada saya.”

“Hai laki-laki...!!! Allah tidaklah dapat dilihat dengan alat penglihatan kita, tidak pula dapat di ketahui dengan indera kita. Adakah engkau dapat menembus laut dengan hanya mempergunakan telunjuk yang Cuma bisa dipergunakan untuk menembus air di dalam gelas?!, suara pertapa itu mantap dan jelas.

“Jadi bagaimana saya akan bisa melihat-Nya?”

“Engkau dapat melihat-Nya apabila Dia telah membuka rohmu.”

“Bagaimana caranya supaya Dia membuka rohku?”

“Dia hanya akan membuka rohmu apabila engkau benar-benar mencinta-Nya.”

Laki-laki itu lalu bersujud dan mengambil tangan sang pertapa. Lalu berkata : “Wahai pertapa yang shaleh dan baik hati. Tolong mintakan kepada Allah agar Dia memberiku sebagian dari kecintaan-Nya.”

“Tunduk patuhlah, wahai laki-laki. Lalu minta paling sedikitnya yang sedikit!”, kata sang pertapa sambil menarik tangannaya pelan-pelan.

“Saya minta sebanyak satu dirham dari kecintaan-Nya.”

“Ooooo, itu terlalu rakus. Satu dirham itu banyak, banyak sekali!!”
“Ya, seperempat dirham saja.”
“Rendahkan dirimu, rendahkanlah!”
“Sebesar biji sawi dari kecintaan-Nya.”
“Itu masih banyak.”
“Ya setengah biji sawi sajalah.”
“Silahkan, mungkin bisa.”

Seorang pertapa mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata : “Ya Allah, berilah dia setengah biji sawi dari kecintaan-Mu!! Berilah ya Allah..............

Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya dan pergi. Berhari-hari sudah dia keluar rumah. Keluarga laki-laki mendatangi sang pertapa dan mengatakan kepadanya bahwa laki-laki itu belum juga pulang ke rumah. Dia bersembunyi dan tak seorangpun mengetahuinya.

Sang pertapa itu bangun dari tempat duduknya. Dengan gelisah mereka bersama-sama mencari laki-laki yang ingin melihat Allah itu. Lalu mereka bertemu dengan beberapa orang penduduk kota mengatakan bahwa laki-laki itu kini sudah gila dan pergi ke sebuah gunung. Merekapun bersama-sama mendatangi gunung. Dan tiba-tiba terlihat seorang laki-laki sedang berdiri di atas sebuah batu besar. Mereka mendekatinya. Dan benar, dia adalah laki-laki yang sedang mencari Allah, yang sedang menatap langit. Mereka menyapanya dengan salam. Tapi dia tidak menjawabnya. Sang pertapa maju ke depan dan berkata :

“Lihatlah padaku. Aku adalah pertapa yang kau datangi kemarin.”

Laki-laki itu tidak juga bergerak. Dan anaknya yang kemarin bertanya kepadanya tentang Allah maju dengan hati ragu penuh kekhawatiran : Ayah..... Tidakkah ayah kenal aku?” Usahanya gagal. Laki-laki itu tetap tidak bergerak. Kemudian semua keluarganya berusaha agar laki-laki itu sadar kembali. Namun laki-laki itu tetap memandang ke angkasa sambil berkata :

“Jangan ganggu! Bagaimana orang yang telah mempunyai kecintaan Allah yang bersemayam di hatinya dapat mendengar pembicaraan manusia?! Demi Allah, seandainya kalian memotong tubuhnya dengan gergaji, niscaya dia tidak akan merasakan bahwa dirinya di potong-potong oleh manusia!”

Anaknya lalu berteriak : “Dosanya karena aku!! Akulah yang meminta kepadanya untuk memperlihatkan Allah padaku!!”

Sang pertapa menoleh kepadanya, seakan-akan dia berbicara kepada dirinya sendiri:

“Adakah engkau lihat? Tidakkah engkau sasikan bahwa setengah besar biji sawi dari kecintaan dan cahaya Allah cukup untuk menghancurkan susunan tubuh dan akal pikiran kita.”
Maha Suci Allah dengan segala Firman-Nya :

“Dan tatkala Musa datang untuk (Munajat dengan kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, berkata Musa : “Ya Tuhanku, nampakanlah (Diri Engkau) kepadaku agar aku melihat pada Engkau.” Tuhan berfirman : “Kamu sekali-kali tidak sanggup untuk melihatKu, tetapi melihatlah ke bukit (sebagai sediakala), niscaya kamu dapat melihatKu. Tat kala Tuhannya nampak bagi gunung itu kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan usa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata : “Maha Sci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”.

DAFTAR  KEPUSTAKAAN
Ad- Demerdesy Sarahan, Dr. Allahu Yatajalla Fiil Ilmi.
Abbas Akkad, Allah.
Abd. Karim Khatib, Dr. Allahu Wal Insaan.
Mustafa Mahmoud, Dr. Rihlatti Minasy Syakki Ilal Iimaan.
Wahiduddin Khan, Al Islaam Yatahadda.
Wahiduddin Khan, Ad Diin Fi Muwaajahatil ‘Ilmi.
Muhammad Al Ghazali, Jddid Hayaataka.
Sayyid Sabiq, Al Aqaaid Al Islamiyah.
Mahmoud Shaleh Al Falaki, Al Ilmu Yad’u Ilal Iimaan.
Badul Mun’im Az Ziyadi, Da’il Qalaq Wabda’ Bil Hayat.
Abbas Jisr, Qissatul Iimaan.
Badul Aziz Izam, Dr. Fil Islaam Wal Ilmu.

Sepanjang – Sidoarjo, 12 Juli 2013.




























2 komentar: