Pasal 26, UUD 45

(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Google+ Followers

Selasa, 03 September 2013

Rahasia Hayy bin Yaqzan - Anak Alam Mencari Tuhan

Sungguh, banyak sekali hal sebenarnya telah terbetikkan dalam hati umat manusia, tetapi tidak bisa diungkapkan dalam bentuk penjelasan.

Bismi Allah al-Rahman al-Rahim
Ibn Thufayl
HAYY BIN YAQZAN
(Anak Alam Mencari Tuhan)
Penerjemah : Ahmadie Thaha
Penerbit : Pustaka Firdaus
Jl. Siaga I No.3 Pasar Minggu
Jakarta - 12510
Penyadur : Pujo Prayitno
PENDAHULUAN

Puji bagi Allah. Mahabesar, Mahakekal, Mahatahu, Mahabijak, Mahakasih, Mahamulia, Mahawelas, yang mengajar dengan pena – mengajar manusia soal yang ia ketahui(1. QS. Al-‘Alaq : 4-5). Allah mengkaruniai Anda kemuliaan yang besar.(2. QS. Al-Nisa : 113).
Saya pun memuji dan mensyukuri-Nya, atas nikmat dan karunia-Nya yang beruntun. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah – yang Maha Esa tak bersekutu – dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya, Pemangku ciptaan suci, mukjizat yang memukau, bukti rasional (burhan) yang teguh, dan pedang yang ampuh.
Salamat dan salam dari Allah, semoga tercurah bagi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya yang ber-himmah besar, yang berpikiran luas dan berpandangan ke depan. Juga bagi semua sahabat dan pengikut Nabi, hingga Hari Akhir. Salam berlimpah bagi mereka.
Anda meminta, saudara yang mulia, yang sejati tercinta – semoga Allah menganugerahkan kekekalan abadi dan kebahagiaan yang berkesinambungan kepada Anda – agar saya mengungkap rahasia Hikmah Ketimuran (Filsafat Iluminatif,( 3. Ibn Thufayl mempergunaka Istilah al-hikmat al-masyriqiyyah (filsafat ketimuran) yang secara harfiah berart hikmah dari timur. Ini lain dari Musyriqiyyah (ilmumintaif) seperti pendapat Gauthier.
Ada perbedaan pendapat di kalangan sarjana seperti Gauthier, Henry Corbin, dan Nallino mengenai masalah ini. Sebagian mengatakan al-hikmat al-masyriqiyyah berarti hikmah ketimuran (oriental wisdom), yang berbeda dari hikmat al-isyraq, filsafat ilmuninatif.  Menurut Sami S. Hawi, seorang sarjana yang telah melakukan studi mendalam terhadap filsafat Ibn Thufayl perdebatan itu memang dibenarkan. Namun pada analisa terakhir, kedua istilah itu mengacu pada arti yang sama, yaitu filsafat ilumintaif. Untuk ini, baca Sami S. Hawi, Islamic Naturalism and Mysticism : A Philosophical Study of Ibn Thufayl’s Hayy ibn Yaqzan, E.J. Brill, London, 1974, h.11-12
Ajaran filsafat iluminatif itu diperkenalkan ke dalam pemikiran Islam oleh al-Farabi dan kemudian oleh Ibn Sina dan Al Surahwardi Maqtul. Beberpa Sarjana menegaskan, ajaran itu hanyan dikembangkan oleh al-Surahwardi Maqtul, sehingga ia dikenal dengan Syeikh al-Isyraq. Keterangan luas tentang ini, lihat S.H. Nasr, Three MuslimSages, Cambridge, Massachussetts, 1964, hh. 54-74. Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ahmad Mujahid Lc., dari Edisi Arabnya, Tiga Pemikir Islam : Ibnu Sina, Suhrawardi, Ibnu Arabi, Penerbit Risalah Bandung, 1986, hh. 63-105.
Menurut al-Suhrawardi, filsafat isyraq didasarkan pada prinsip pokok bahwa Tuhan adalah Cahaya bagi cahaya-cahaya (nur al-anwar). Dari cahaya-Nya keluar cahaya-cahaya lain yang merupakan dasar alam materi dan spiritual. Filsafat ini di dasarkan atas teori akal sepuluhal-Farabi dan dicampur dengan unsur-unsur ajaran Mazdak dan Manu. Untuk keterangan komprehensif, lihat Dr. Ibrahim Madkur, Fi al Flsafat al-Islamiyyah, Jilid I, dar al-Maarif, Kairo, 1976, hh.55.59.)  sebisa mungkin. Hikmah iltu filsafat yang pernah dikemukakan Syekh Rais Abu ‘Ali ibn Sina.(4. Ibn Sina, di kenal di Barat dengan nama Avicenna, dilahirkan pada tahun 370 H. (980 M) di Bukhara dan wafat di Hamadan pada tahun 428 H. (1037 M.). Ia dijuli, antara lain, sebagai amir al-athibba, syeikh al-rais, dan hujjat al-haqq.)
Saudara, ketahuilah, bila menghendaki kebenaran yang tak bermula, Anda harus mencari dan mendekatinya dengan tekun suntuk.
Permintaan Anda telah mendorong saya untuk melahirkan suatu pemikiran mulia. Dan itu, puji bagi Allah, mengantarkan saya ke pengalaman yang sama sekali baru. Saya menyaksikan suatu keadaan (hal) yang tak pernah saya alami sebelumnya. Saya terbawa ke suatu batas akhir yang begitu menakjubkan yang mustahil diungkap dengan lidah atau lewat tulisan. Batas itu memang suatu tingkatan dan alam. Namun di isi batas kata atau tulisan.
Keadaan itu mengandung kebahagiaan dan sukacita kenikmatan dan sukaria. Karenanya, bila telah mengalami dan serta tiba di sebagian batasnya, seorang tidak akan berdiam atau menyembunyikan rahasianya. Sebaliknya, keriangan, semanagat, sukacita dan rasa lapang dada, yang ia alami mendorong mengungkap intisari rahasianya, walau secara ringkas.
Tapi, bila ia tidak menguasi ilmunya, ia akan mengungkap keadaan itu secara kurang meyakinkan. Akibatnya, terungkap misalnya dengan kata-kata begini : “Keagungan bagiku, betapa besar aku.”(5. Perkataan ini berasal dari Abu Yazid al-Bustami, seorang sufi, hidup antara tahun 1826 H./804 – 875 M.) Atau yang lainnya, “Aku sang kebenaran” (Ana al Haqq)(6. Perkataan ini berasal al-Hallaj (.... – 309H/ ....-922 M.), lihat Syaikh Ibrahim Gazull-llahi, Mengungkap Misteri Besar Mansur al-Hallaj : Ana I-Haqq (terjemahan Hr. Bandahari dan Joebaar Ajoeb dari The Secret of Ana I-Haqq), Penerbit Rajawali, Jakarta, 1986.), dan “Di dalam pakaian, yang ada hanya Allah.”
Ada pun Syeikh Abu Hamid al Ghazali (7). Imam al-Ghazali (450 – 505 H./ 1058 – 111 M.) Ibn Thufayl sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam al-Ghazali. Untuk keterangan yang komprehensif, lihat sami S. Hawi, op. Cit. Hh. 76-84. Beberapa kritik Ibn Thufayl terhadap al-Ghazali sebagaimana pembaca lihat di bukunya ini, bahwa al-Ghazali tidak konsisten, menggunakan banyak metode berbeda, dan ajarannya sulit dimengerti – dinilai oleh S. Hawi kurang mengena. Rahmat Allah untuknya – saat mengalami keadaan itu, mengungkapkan pengalaman pribadinya dengan bait syair :
Pengalaman, itu tak kuungkap dengan kata-kata...
Anggap saja baik, tapi jangan tanya kabarnya
Ia berkata begitu karena menguasai dan mendalami segala Ilmu.
Perhatikan pula ajaran Abu Bakr ibn al Shaingh (8) Abu Bakr Muhammad ibn Yahya al-Shigh, dikenal dengan Ibn Bajjah atau Avempace. Lahir di Saragosa menjelang akhir abad ke 5 H/11 M, dan wafat pada 533 H./1138 M. Ibn Thufayl mengkritiknya, tetapi juga dipengaruhi olehnya. Tentang hidup dan filsafat Ibn Bajjah, lihat M. M. Syarif M.A. (ed), Para Filosof Muslim, Penerbit Mizan, Bandung, 1985, h.173. tentang sifat pencapaian (ittisal) itu katanya. “Jika maksud isi ktabnya itu dimengerti, akan jelas bahwa obyek ilmu tidaklah sama, pada satu tingkatan di mana ia melihat dirinya berbeda dari yang lainnya, berikut keyakinan-keyakinan yang tak bersifat hayla.”
“Tepi tingkatan itu terlalu rumit dibanding kehidupan biasa. Bagi saya, tingkatan justru menunjukan keadaan (ahwal) kaum bahagia, yang bebas dari tatanan kehidupan alami. Keadaan itu tepatnya disebut ahwal ilahiyya, sebagai anugrah Allah kepada hamba yang Ia kehendaki.”
Tingkatan (Rutbah), yang tadi disebut Abu Bakr secara tak langsung itu dicapai melalui pengetahuan teoritis dan analisis emosional. Dan jelas, Abu Bakr sendiri telah mencapai tingkatan itu, walau tak melampauinya.
Adapun tingkatan yang kami sebut sebelum “Kekuatan” dalam arti metaforis, karena kami belum mendapatkan istilah lain, mutakhir atau tehnis, yang paling tepat untuk menunjukan cara mengalami bentuk penyaksian.
Keadaan (hal) itu, di mana kami merasakan suatu pengalaman mistik (zawq)  akibat dorongan pertanyaan Anda, yang kami sebutkan tadi, termasuk sebagian dari keadaan (ahwal) yang pernah dikemukakan oleh Syeikh Abu Ali Ibn Sina, beserta penjelasannya.
Kemudian, jika dengan kehendak (iradah) dan latihan ruhani (riyadah) seseorang mencapai batas tertentu, maka segala kesempatan tercurah baginya, sehingga dengan rasa nyaman ia saksikan cahaya Kebenaran, seakan kilat yang segera sirna begitu bersinar. Semakin tenggelam dalam latihan ruhani, semakin ia luluh ke dalam. Kemudian, karena sudah terbiasa, ia pun luluh tanpa melalui latihan ruhani lagi. Setiap ia menatap sesuatu, ia langsung mencapai sisi Kekudusan, kemudian ingat keadaanya sedemikian rupa, sampai dirinya lenyap.
“Yang tampak di segala yang ada hampir-hampir hanyalah Sang Kebenaran. Latihan rohani (riyadah) itu mengantarnya ke suatu pengalaman puncak, yang meskipun sibuk ia tetap merasakan ketenangan bagai bintang terang. Ia telah memperoleh pengetahuan mantap, seakan terus bersahabat...”
Di sini Ibn Sina menjelaskan kerangkan susunan tingkatan itu, yang berpuncak pada perubahan rahasia menjadi “Cermin terang yang menghadap ke Sang Kebenaran.”
“Di saat itu kenikmatan yang lapang seringkali ia rasakan. IA bahagia karena melihat dalam dirinya ada bekas Sang Kebenaran. Pada Tingkatan ini ia memandang Sang Kebenaran dan juga dirinya sendiri. Namun ia masih ragu. Lalu ia lenyap dari dirinya sendiri, dan segera merasakan sisi Kekudusan belaka, walau tetap menyaksikan dirinya secara khusus. Di sana pencapaian (wusul) bernar-benar terjadi.
Keadaan-keadaan ( ahwal) yang tadi diterangkan oleh Syeikh Abu Ali Ibn Sina – Semoga Allah memberi ridha-Nya... itu hanya dimaksud supaya dia memperoleh suatu pengalaman mistik ( zawq), yang bukan melalui pencerapan teoritis dengan mempergunakan silogisme, asumsi premis dan penyimpulan logis.
Jika anda memerlukan contoh untuk meperjelas perbedaan antara pencerapan kelompok ini dengan yang lainnya, bayangkanlah seorang yang dilahirkan buta, tetapi fitrahnya baik, intuisinya kuat, daya hafalnya luar biasa, pikirannya jernih. Ia tumbuh di sebuah negeri. Dikenalnya semua orang di sana, juga beberapa jenis binatang dan benda padat, jalan-jalan kota, gang-gang, perumahan dan pasarnya, yang seharusnya ia ketahui melalui pencerapan indra yang lain. Meskipun ia berjalan di kota itu tanpa petunjuk, tapi ia kenal setiap orang yang berpapasan dengannya, bahkan ia yang memberi salam pertama kali.
Ia tahu warna dan bisa menjelaskan nama beserta segala cirinya. Suatu ketika matanya dapat melihat. Ia kini berjalan dan mengelilingi kota. Tampak bahwa tak ada yang berbeda dari yang dipercayainya semula. Ia dmelihat warna persis seperti gambaran yang diyakininya benar. Hanya saja di semua pengalaman itu, ada dua hal yang ia rasakan, yang satu merupakan konsekuensi dari lainnya, yaitu : Bertambahnya kejelasan dan kenikmatan yang besar.
Keadaan mereka yang dapat melihat tepi belum mencapai tingkat wilayat (kewalian) adalah sama keadaannya dengan si buta tadi, yang mengenal warna dengan sebutan namanya. Inilah yang menurut Abu Bakr, tepatnya dinisbahkan kepada kehidupan alami,yang dianugrahkan Allah kepada hamba kesukaan-Nya. Sedangkan keadaan mereka yang dapat melihat telah mencapai tingkat wilayat dan dianugrahi Allah sesuatu yang kami sebutkan tadi --- disebut – “Kekuatan” secara metaforik ... inilah keadaan yang kedua. Dan memang, sangat jarang ditemukan orang yang senantiasa memiliki mata hati serta pandangan yang tembus dan terbuka, tanpa pemikiran spekulatif.
Yang saya maksud dengan pencerapan (idrak) di sini --- Semoga Allah memberi Anda kemuliaan dengan kewalian-Nya--- bukanlah : “pencerapan para filosuf” yang memperolehnya dari alam fisika, dan bukan pula “pencerapan para sufi” yang memperolehnya dari alam metafisika. Kedua golongan ini tentu berbeda, namun tidak saling mengacaukan.
Maksud “Pencerapan para filosuf” adalah apa yang mereka peroleh dari metafiksika, seperti pencerapan Abu Bakr tadi. Apabila pencerapan mereka benar dan sahih, maka cerapan mereka dapat dibandingkan dengan cerapan kaum sufi yang memperhatikan hal-hal metafisika atau yang serupa, tetapi pencerapannya dengan kejelasan dan kelezatan lebih besar.
Namun Abu Bakr menyembunyikan tentang kelezatan ini bagi mereka, dan menganggap kelezatan itu berasal dari daya khayal. Abu Bakr pernah berjanji hendak menjelaskan secara rinci tentang keadaan yang pasti dirasakan oleh kaum bahagia. Namun, perlu kiranya dikatakan kepadanya di sini, “Janganlah Anda melangkahi tengkuk kaum siddiqin.”
Dan memang Abu Bakr sendiri belum melakukan sesuatu dan tidak pula memenuhi janjinya, dengan alasan, seperti ia kemukakan, karena tidak cukup waktu dan sibuk pergi ke Wahran (Oran). Atau, katanya, jika keadaan (hal) itu jadi ditulisnya, ia dituntut menyatakan sesuatu yang memburukkan biografinya dan bertolak belakang dengan anjurannya untuk banyak-banyak mencari dan mengumpulkan harta, serta melaksanakan semua cara yang memungkinkan untuk itu.
Pembicaan kami tampaknya sudah menyimpang dari jawaban yang layak bagi pertanyaan yang diajukan semula. Namun, dari pembicaraan tadi paling tidak, ada dua hal yang hendak Anda capai :
Satu :
Barangkali anda hendak menanyakan apa yang dilihat oleh orang yang menjalani persaksian (Mushahadah), pengalaman mistik (zawq) dan kehadiran di tingkat Wilayat. Inilah persoalan yang hakekatnya mustahil di kemukakan secata tegas di dalam sebuah kitab; dan sekali orang mulai mengatakan atau menulisnya, bersama itu pula hilanglah kebenarannya, dan segera masuk ke dalam disiplin lain yang bersifat spekulatif.
Sebab, jika pengalaman semacam itu dikemukakan dengan huruf dan kata-kata, dan di dekatkan ke alam nyata, kandungannya menjadi lenyap dan ungkapannya menjadi berbeda total dari maksudnya. Akibatnya, banyak orang menyimpang dari Jalan Lurus, dikira orang lain yang tergelincir, padahal tidak. Sebabnya, karena (hakekat persoalan itu) tak terbatas pada suatu hadirat Ketuhanan yang begitu luas dimensinya, yang memang bersayap tetapi tidak bisa disayapi.
Dua :
Di antara dua tujuan dari pertanyaan Anda, kami katakan, Anda meminta definisi persoalan ini menurut cara para Filosuf. Ini – Smeoga Allah menganugrahkan Anda kemulian berkat kewalian-Nya – memang mungkin diungkap di dalam buku dan melalui kata-kata. Tapi akibatnya lebih berbahaya ketimbang kibrit merah, apalagi di daerah kita ini ( yaitu Andalusia, Spanyol). Itu adalah pengetahuan langka yang memiliki segelintir orang tentunya, yang justru  mustahil mengungkapkannya kepada khalayak kecuali melalui simbol-simbol. Agama Islam Hanif dan Syariat uhammad SAW. Telah mencegah untuk mendalaminya.
------
Jangan Andakira filsafat yang telah sampai kepada kita di dalam kitab-kitab karya Aristoteles, Abu Nasr al Farabi dan di dalam Kitab Al-Shifa’ Karya Ibn  Sina akan memenuhi tujuan yang Anda maksudkan. Bahkan tak bakal ada karya seorang warga kota Andalusia yang bisa mencukupinya. Sebabnya, karena orang yang tumbuh di Andaluisa dan berfitrah cemerlang, sebelum berkembangnya logika dan filsafat, telah menghabiskan umurnya untuk menguasai dan mendalami ilmu-ilmu matematika, tidak lebih dari itu. Memang ada generasi berikutnya yang sedikit lebih menguasai logika. Mereka mempelajarinya, tetapi itu pun sangat dangkal dan tidak utuh. Tentang mereka, sebuah syair berbicara :
Sedih saya, sebab manusia hidup mengetahui dua hal tidak lebih..
“Kebenaran” yang mustahil di capai... dan..
“Kebatilan” yang bisa dicapai, tak ada gunanya.
Generasi berikutnya datang lagi. Lebih cerdas dan lebih mendekati kebenaran. Tapi tidak seorang pun di antara mereka yang lebih jenius, memiliki pandangan dan pendapat yang lebih luas dan lebih benar daripada Abu Bakr al Saigh. Tapi karena disibukan oleh urusan dunia, ia segera dijemput kematian, sebelum khazanah ilmu dan hikmatnya yang tersembunyi, terungkap. Sebagian karyanya tidak utuh dan tak selesai, seperti bukunya Fi al-Nafs. (9) Karya Ibn Bajjah. Lihat Dr. Umar Farrukh, Ibn Bajjah, Bairut.) Tadbir al Mutawahhid, (10) Karya Ibn Bajjah yang lain.) dan karyanya yang lain tentang logika dan fisika.
Adapun kitabnya yang utuh hanya sedikit, berupa risalah-risalah kecil. Ia sendiri telah menjelaskan, yang ingin ia buktikan di dlam Risalah al-Ittisal, (11). Yang dimaksud barangkali kitab Ittishal al-Insan bi al-Aql al Faal. Lihat kitab “Talkhis Kitab al-Nafs, karya Ibn Rusyd yang diterbitkan oleh Fuad al-Ahwani, Kairo. 1950.). tidak bisa dimngerti dengan jelas tanpa usaha dan pengulangan yang keras. Bahkan, di sebagian tempat bahasanya tidak begitu baik, dan jika ada waktu, ia cenderung akan merubahnya. Itulah ihwal penegtahuan Abu Bakr, meskipun kami belum pernah bertemu dengannya.
Sedangkan cendekiawan yang semasa dengannya, belum kami lihat karyanya. Cenedekiawan yang seangkatan dengan kami memang bertambah, tapi mereka tidak lebih sempurna. Berita sebagian mereka ada yang belum sampai kepada kami.
Adapun kitan karya Abu Nasr al-Farabi (12). Abu Nasr al-Farabi, lahir pada 258 H/870 M. Dan wafat pada 330H/950 M. Ibs Thufayl juga mengkritiknya, tetapi ia dipengaruhi pula olaehnya. Tentang hidup dan karya al-Farabi, lihat ibrahim Madkur, al-farabi, di dalam M. M. Syarif M.A. (ed. Op. cit. H.35.)  yang ada pada kami, kebanyakan tentang logika. Dan filsaat yang ia kemukakan di dalamnya sangat meragukan. Misalnya, dalam kitab al-Millat al-Fadilah (13). Kitab al-Millat al-Fadilah, ditahkik oleh Dr. Muhsin Mahdi, diterbitkan oleh Dar al-Masyriq. Bairut). Ia menegaskan, setelah manusia mati, jiwanya yang jahat akan kekal dalam siksa tak berbatas. Kemudian dalam Al-Siyasat al-Madaniyyah (14). Kitab al-Siyasat al-Madaniyyah, diterbitkan berdasar takik Dr. Fauzi Matari Najjar, oleh Dar al-Masyriq, Bairut). ia berkata, semua jiwa akan hancur dan punah, kecuali yang mulia dan sempurna yang tetap kekal.
Lalu, di komentarnya atas Kitab al-Akhlaq, (15). Ini juga karya al-Farabi. Lihat pengantar Dr. Muhsin Mahdi, bagi beberapa tahkiknya atas kitab-kitab karya al-Farabi, terbitan Dar al-Masyriq, Bairut. Juga Dr. Umar Farrukh, al- Farabiyan, Maktabat Maimunah, Bairut 1950.) ia menjelaskan tentang aspek kebahagiaan manusia. Katanya, itu hanya diperoleh hidup di dunia. Namun, sesudah itu ia mengatakan lain, yang begini maksudnya , “Semua yang disebut selain ini adalah mainan dan khurafat yang lemah.” Akibatnya, manusia dibuatnya putus asa akan rahmat Allah Yang Mahatinggi. Baginya, orang yang baik dan yang jahat setingkat sama : berakhir pada ketiadaan (‘adam).
Ini kesalahan besar dan kesesatan tak terampun. Itu di tambah pula dengan kepercayaan buruk al-Farabi tentang kenabian (Nubuwwah). Pendapatnya, kenabian itu bersifat khayal, yang tingkatannya lebih rendah daripada filsafat. Pendapat yang lain tak perlu kami sebutkan.
Adapun isi kitab Aristotele, (16). Aristotele, Filosof Yunani, 384 SM. – 348. SM.) coba diungkapkan oleh Syeikh Abu ‘Ali (Ibn Sina). Bahkan cara filsafatnya diikuti oleh Ibn Sina dalam Kitab Al-Shifa, (17) Kitab al-Syifa adalah karya utama Ibn Sina dalam filsafat paripatetik.). Pada pendahuluannya ia menolak anggapan itu. Katanya, ia mengarang kitab tadi menurut mazhab kamum paripatetik (Mashshaun). Ia menganjurkan, yang menginginkan kebenaran supaya membaca kitabnya tentang “Filsafat Ketimuran” (al-Falsafat al-Mashriqiyyah). (18). Yang dimaksud, barangkali, kitab al-Hikmat al-Masyriqiyyah, yang telah hilang. Masyriqiyyah berasal dari kata Syarq dapat dilafalkan dengan Masyriqiyaat atau Musyiriqiyyat, yang pertama berarti ketimuran dan yang kedua berarti iluminatif. Lihat catatan kaki nomor 3.).
Dan apabila serius membanding Kitab al-Shifa’ dengan buku-buku Aristoteles, kita akan menemukan banyak kesamaannya. Tetapi, di Kitab al-Shifa’ itu memang ada materi yang kami ketahui tidak berasal dari Aristoteles. Dan jika karya Aristotele dan Kitab al-Shifa’ itu dibaca secara lahiriah saja tanpa mendalami kandungan rahasia dan pengertian batinnya, pasti tidak bakal diperoleh kesempurnaan, sebagaimana ditegaskan oleh Syeikh Abu Ali Ibn Sina sendiri di dalam Kitab al-Shifa’.
Adapun kitab-kitab karya Syeikh Abu Hamid al-Ghazali, menurut kata pengantarnya bagi khalayak, mengemukakan sesuatu di tempat tertentu, dan sebaliknya di tempat lain. Bahkan ia pernah mengkafirkn orang lain karena mengikuti suatu ajaran, tetapi kemudian ia menarik pendapatnya itu dan menganggapnya tidak kafir  lagi. Ia mengkafirkan sejumlah filosuf di dalam Tahafut (al-Falasifah), (19). Kitab Tahalul al-Falasifah ini telah di alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmadie Thaha, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986.). Karena mereka mengingkari kebangkitan jasmani, dan mengafirmasi pahala dan siksa bagi jiwa, khususnya. Kemudian di dalam pendahuluan Mizan al-‘Amal, (20). Yang dimaksud, barangkali, kitab Mizan al-Amal, lihat catatan kaki no.22).  Ia menganggap ajaran itu keyakinan para syekh sufi belaka. Tapi dalam al-Mungidh min al-Zalal wa al-Mufassil bi al-Ahwal, (21). Buku ini telah di alih bahasakan beberapa kali ke dalam bahasa Indonesia, termasuk karya al-Ghazali yang paling terkenal). ia mengakui keyakinannya sama seperti kaum sufi, yang diperolehnya melalui pencarian panjang.
Pernyataan semacam ini banyak terdapat dalam bukunya, yang pasti ditemui oleh penyimak dan pemerhati yang seksama. Di Bagian akhir Mizan al-‘Amal (22). Karya al-Ghazali, berisi petunjuk praktis sebagai pengimbang dari bukunya Miyar al-Ilm, yang sangat teoritis). ia meminta maaf atas kesalahannya ini.
Di situ ia membagi 3 pendapat : (1) Pendpat yang disepakati bersama khalayak umum; (2) Pendpat yang cocok dan sesuai dengan kadar pembicaraan setiap penanya dan pemohon petunjuk; (3) Pendapat yang dipegang seseorang bagi dirinya, tetapi ditelaah oleh orang lain yang berkeyakinan sama dengannya. Setelah itu ia berkata, “Jika dalam penjelasan ini hanya ada yang meragukan keyakinan warisan Anda, itu pun sudah cukup bermanfaat bagi Anda. Sebab, siapa yang belum pernah merasa ragu, maka ia belum berpikir, yang berarti belum melihat, yang berarti tetap berada dalam kebutaan dan kebingungan.”
Lalu ia menyenandungkan bait syair berikut ini :
Ambil yang kau lihat dan
Biarkan berlalu yang kau dengar
Di saat matahari terbit.. kau tak butuh Saturnus.
Demikian pengajarannya, yang isinya sebagian besar berbentuk simbol-simbol dan rumus-rumus yang hanya berguna bagi orang yang, pertama-tama, mengetahuinya dengan pandangan mata hati, kemudian mendengarkannya. Atau, hanya berguna bagi yang diberi kesiapan untuk memahaminya, yang dengan fitrahnya yang cemerlang, mengerti melaui isyarat yang sederhana.
Di Jawahir al Qur’am, (23) Buku ini juga telah dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Penerbit CV Rajawali Pers, Jakarta, 1986). al Ghazali mengaku mempunyia beberapa buku yang dilarang beredar karena kuatir dibaca orang, meskipun isinya mengungkap kebenaran yang tegas. Sepengetahuan kami, belum ada buku itu yang sampai ke Andalusia. Beberapa yang dianggap terlarang itu tadi tidak benar.
Bukunya itu adalah Kitab al-Ma’arif al-Aqliyyah, (24) Kitab karya al-Ghazali ini masih berbentuk manuskrip, belum beredar di pasar). Kitab al-Nafi wa al-Taswiyyah, (25). Kitab ini tidak pernah beredar di pasar, atau disebutkan di dalam referensi). Masail Majmu’ah, (26) Kitab ini belum pernah dijumpai). dan lain-lainnya. Meskipun isinya simbol-simbol, tetapi buku-buku itu hanya mengungkap ulang kandungan buku lainnya yang populer. Ada karyanya berjudul al-Maqsad al-Asna,( 27). Lengkapnya berjudul, Kitab al-Maqshad al-Asna fi Syarh al-Asma al-Husna, ditahkik oleh Dr. Fadlu Shahada, Dar al-Masyriq, Bairut). yang sebagian isinya lebih abstrak daripada isi kitab yang tadi. Tapi, al Ghazali sendiri menegaskan, al-Maqsad al-Asna itu tidak dilarang. Karenanya, jelas kitab-kitab yang sampai kepada kita tadi tidak dilarang pula.
Sebagian sarjana saat ini menuduh al-Ghazali berpendapat sesat di bagian Mishkal al-Anwar, (28) Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung, cetkan pertama 1984). sehingga ia terjerumus ke dalam jurang tak terselamatkan. Katanya, cahaya (Ilahi) serta para pencapai Tuhan (wasilun), “mengakui, Sang Mawjud Yang Mahaagung memiliki sifat yang menegasi ke Esaan mutlak  (wahdaniyyat mandah).” Berdasar itu ada yang berkesimpulan, al-Ghazali mempercayai bahwa esensi (zat) Sang Kebenaran mengandung pluralitas (sifat banyak). Maha Suci Allah dari pernyataan kaum sest itu!
Bagi kami jelas, Syeikh Abu Hamid al-Ghazali termasuk yang memperoleh kebahagiaan puncak dan pencapai kemuliaan kudus. Sayang, bukunya terlarang yang berikisan ilmu mukasyafat itu belum pernah sampai kepada kita.
Kebenaran murni dan lingku pengetahuan, kami peroleh dengan cara menulusuri argumen-argumen yang dikemukakakan al-Ghazali dan Syeikh Abu AliIbn Sina. Lalu, kami menelitinya satu sama lain, dan memperbandingkan hasilnya dengan beberapa pendapat saat ini, yang dikemukakan oleh sekelompok pengagum filsafat. Kebenaran itu lalu kami peroleh melalui metode pembahasan kritis dan teoritis, untuk selanjutnya melalui cara persaksian (mushahadat). (29) Berdasarkan pernyataan ini. LeonGauthier menilai Ibn Thufayl menulis karya utamanya ini dengan meminjam (atau dalam bahasa Perancisnya emprunte) ide-idenya dari al-Ghazali dan Ibn Sina. Penilaian Guathier ini tidak benar, seperti dikemukakan oleh Sami S. Hawi. Sebab, pernyatan Ibn Thufayl tersebut menjelaskan kepada kita bahwa dia telah menelusuri dan membandingkan argumen-argumen al-Ghazali dan Ibn Sina serta para sarjana kontemporer sampai dia menemukan kebenaran bagi dirinya sendiri. Ternyata. Gauthier memang salah dalam menterjemahkan beberapa istilah kunci dalam bagian ini : Quil emprute le fond de ses doctrines a El-Ghazali, a Ibn Sina (Avicenna) et accessirement, a des philosophes recent de moindre importance. Itulah letak teks yang salah pada terjemahan Gauthier sebagaimana dikutip oleh Sami S. Hawi, op. Cit. H.10, dari Leon Guthier, Hayy bin Yaqzan, Beyrouth, 1936, h.14). Di saat itulah kami merasa mampu menyusun pernyataan pilihan kami sendiri. Dan Anda wahai penanya, kami pilih sebagai yang diberi kesempatan awal untuk menelaah pemikiran kami ini, berkat kepercayaan dan ketulusan Anda yang murni.
Tetapi, jika capaian-capaian itu kami kemukakan kepada Anda, padahal kita belu menetapkan prinsip kebersamaan, maka bisa jadi, semua itu tidak lebih sebagai taklid belaka! Itu bisa, asal Anda berbaik sangka kepada kami, berdasar rasa cinta dan kasih. Bukan dalam arti, pendapat kami berhak untuk diterima. Kami sendiri tidak rela dan puas apabila Anda hanya memperoleh tingkatan ilmu semacam itu.
Kami menginginkan Anda memperoleh lebih tinggi lagi, sebab, pengetahuan tingkat itu tidak cukup menyelamatkan, apalagi menyukseskan Anda berjalan di atas lorong Agama (masalik), yang kami lalui sebelum ini, dan berenang bersama mengarungi lautan yang pernah kami lintasi. Atau, sampai Anda mencapai puncak yang pernah kami capai. Sehingga, berkat itu Anda dapat menyaksikan yang pernah kami saksikan, membuktikan dengan mata hati sendiri kebenaran semua yang telah kami buktikan, tanpa perlu mengikat pengetahuan yang kami ketahui.
Ini memerlukan banyak waktu, meminta kesediaan anda untuk menghindari kesibukan, seraya menghadap disiplin ilmu ini dengan semangat utuh. Jika benar semangat itu berasal dari Anda, dan niat Anda pun tulus untuk menyingsing lengan baju di dalam usaha ini., Anda akan mensyukuri hasil perjalanan malam itu di pagi harinya, menerima barakah hasil usaha. Anda meridhai Tuhan, dan Tuhan pun Meridhai Anda, yang membuat Anda berhasil mencapai cita-cita menurut Kehendak-Nya. Dia membaut Anda merindukan-Nya selalu, lewat hikmah dan keseluruhan diri Anda.
Saya berharap, kita bisa menempuh jalan Agama (suluk) itu melalui jalur tersingkat, tetapi selamat dari gangguan petaka. Dan, jika kini saya mulai melihat jalan yang menimbulkan rasa rindu dan menyeru masuk ke jalan Agama (Tariq) itu, walau sekilas pandang, sudah selayaknya saya menceritakan kepada Anda kisah “Hay Bin Yaqzan” serta “Asal” dan “Salaman” --- nama yang pernah disebut-sebut oleh Abu Ali Ibn Sina. (30). Tiga nama ini memang merupakan tokoh-tokoh sentral utama dari kisah karya Ibn Thufayl, yang dicomot begitu saja dari dua karya Ibn Sina, masing-masing berjudul Hayy Bin Yaqzan dan Salaman wa Absal. Kisah Ibn Sina yang pertama, Hayy bin Yaqzan, menceritakan bagaimana Ibsn Sina, suatu hari, bersama beberapa teman pergi berkelana di sekitar sebuah kota dan tiba-tiba bertemu seorang lelaki tua, Hayy bin Yaqzan, dan minta kepadanya agar menemaninya dalam penggembaraan tanpa akhir. Tapi lelaki tua itu menyahut bahwa mustahil Ibn Sina melakukan itu, karena teman-temannya tak mungkin ditinggalkannya.
Sedangkan kisah Ibn Sina ke dua, Salaman wa Absal, menceritakan Absal, adik Salaman, yang ingin maju ke medan perang demi menghindari hasrat amoral istri kakaknya, tetapi ia ditinggalkan oleh pasukannya gara-gara ulah iparnya itu dan tubuhnya yang terluka diseret se ekor binatang semacam rusa ke sebuah tempat yang aman. Keteika pulang ke rumahnya, dia membentuk pasukan sendiri yang kuat dan merebut kembali kerajaan yang kalah itu demi Salaman, yang istrinya, karena putus asa meracuni Absal hingga meninggal.
Salaman yang tenggelam dalam kesedihan, kehilangan gairah hidup dan menjadi pertapa. Akhirnya, seorang ahli mistik menceritakan kepadanya bahwa istrinya sendiri yang telah menyebabkan bencana itu. Maka dibunuhnya perempuan itu dan semua kaki tangannya. Itulah ringkasan kedua kisah karya Ibn Sina yang nama-nama tokohnya diambil oleh Ibn Thufayl.
Kedua kisah Ibn Sina itu telah diterjemahkan ke dalam bahsa Perancis, lalu lewat ini ke dalam bahasa Ingris, oleh Henry Corbin, Avicenna and the Vicionary Recital, trans, by Williard R. Trask, Routledge & Kegan Paul, London, 1960. Tentang perbedaan nama Absal (Dalam kisah Ibn Sina) dan Asal (dalam kisah Ibn Thufayl), lihat catatan kaki No. 50).
Kisah mereka mengandung pelajaran bagi orang bepengathuan, (31). Al Quran, Surat Yusuf : 111) serta peringatan bagi orang berakal atau mendengar, yang menyaksikan. 32 Al-Quran, surat Qaf : 37.

Ibn Thufayl.

1
 Generasi kita terdahulu (33). Salafuna, secara harfiah berarti orang yang mendahului kita, atau nenek moyang kita, Yang dimaksud Ibn Thufayl dengan Salafuna di sini adalah orang-orang kuna yng meneruskan kisah ini kepadanya, baik melalui lisan maupun tulisan. Di sini Ibn  Thufayl tidak hanya mengacu kepada Ibn Sina, tetapi juga kepada banyak sumber lebih kuna lainnya, sebagaimana diungkap oleh Faruq Said di dalam kata pengantar Hayy Bin Yaqzan edisi Arab terbitan Dar al-Afaq al-Jadidah, Bairut, 1978. Gauthier sekali lagi memberikan komentar salah terhadap bagian ini. Ia menganggap ungkapan salafuna dari Inb Thufayl sebagai satu bentuk mekanisme artistik yang disusun oleh penulisnya untuk memberikan konssistensi bagi kisahnya. Lihat Sami S. Hawi, op. Cit. H.12, catatan kaki no.2). yang salih --- Allah meridhai mereka – menyebutkan, di sebuah pulau di India, pada garis katulistiwa, pernah lahir manusia tanpa ibu bapak. Di pulau itu ada pohon berbuah wanita. Al Mas’udi menyebut pulau itu ‘Waqwaq”. (34). Al-Masud menentukan letak pulau itu di kawasan Zanzibar, ke selatan dari laut Zing. Lihat al-Masud, Muruj al-Dzahab (2 jus, dalam2 jilid), diberi kata pengantar dan ditahkik oleh Yusuf asad Daghir, Dar al-Andalus, Beirut, tt.). Beberpa sarjana lain juga menyebutkan tentang pulau Waqwaq ini. Misalnya, Al-Idrisi menyebutkan pulau ini memang berbuah wanita di kitab Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, tt. Kemudian di kitab Mukhtasar al-Ajaib, yang diragukan pengarangnya, diduga Ibrahim Ibn Wasif Shah atau al-Masud, disebutkan bahwa di pulau Waqwaq itu tinggal sejenis makhluk seperti wanita ayng bersuara Waqwaq, bila ditangkap langsung mati, dan bahwa di pulau itu tak ada prianya. Ini dibenarkan oleh Dr. Husain Fauzi di dalam kitabnya Hadist al-Sindibad al-Qadim, Penerbit Lajnat al-Talif wa al-Tarjamah wa al-Nasr, Kairo, 1923.
Beberapa sarjana lain juga menyebutkannya. Misalnya, Mutahhir Ibn Tahir al-Maqdisi, al-Biruni, al-Qazwayni. Mereka menyebutkan, pulau itu terletak di laut Cina yang menghubungkan kepualauan Zig di Hindia Timur, dan disebut Waqwaq karena di sana ada pohon berbentuk wanita dengan rambut terurai darimana terdengar suara waq-waq. Lihat al-Qazwayni, Athar al-Milad wa Akhbar al-Ubbad, Dar Sadir, Bairut, 1969, al-Biruni, al-Athar al-Baqiyah an al- Qurun al-Khaliyah, dengan kata pengantar oleh Dr. Edward Shaw, Lepzeiq, 1923.
Al-Dimsiqi juga menyebutkan bahwa di pulau Waqwaq terdapat pohon seperti pohon kelapa yang berbentuk manusia.Lihat al-Dimsiqi,Nukhbat al-Dhar fi Ajaib al-Birr wa al-Bahr Peterbourg, 1966. Umar Ibn al-Wardi juga menyebutkan demikian, dan bila rambutnya disentuh akan berbunyi waq-waq hingga berjatuhan, di dalam bukunya Faridat al-Ajaib, perct. Abdurrazzaq, Kairo, 1316.H.
Masalahnya mengapa Ibn Thufayl memilih pulau Waqwaqsebagai skena bagi kisahnya? Untuk menjawab ini, kita perlu meninjau tiga tempat berlangsungnya kisah Hayy bin Yaqzan. Pertama, Pulau Waqwaq sendiri; kedua, pulau bessar, luas, makmur, dan ketiga, pulau dekat pulau tempat Hayy hidup, yaitu pulau yang ditempati Asal dan dipimpin oleh Salaman. Sebagaimana terlihat nanti ketika pembaca menelusuri kisah Hay bin Yaqzan ini. Ibn Thufayl tidak lagi menyebut-nyebut pulau Waqwaq hanya dimaksudkan untuk urgansi penjelasan awal tentang kelahiran Hayy secara spontan tanpa Ibu-Bapak, sekalgus menunjukan bahwa berita semacam itu hanyalah suatu mitos, atau bisa jadi menyebutkan pulau Waqwaq itu sekedar pembangkit imajinasi pembaca, yang sekaligus menunjukan kelihaian Ibn Thufayl dala merangkai kisah Hayy ini. Untuk keterangan lebih lanjut, lihat Faruq Said, op. Cit. H.25-28.). Cuanya paling seimbang di seluruh permukaan bumi, dan paling bisa menerima terbitnya cahaya tertinggi.
Asumsi ini menyimpang dari pendapat para filosuf dan dokter terkemuka. Menurut mereka, (bukan Waqwaq) yang bercuaca paling seimbang, tetapi daerah iklim ke empat. Alasannya, di katulistiwa tidak ada pusat kehidupan (“imarat), sebab situasi geografis memustahilkan itu.
Anggapan “Daerah iklim ke empat itu paling seimbang”, mengandung arti bahwa cuaca daerah katulistiwa sangat panas. Pendapat mayoritas (filosuf) ini tidak benar. Ada bukti menunjukan sebaliknya. Menurut Ilmu fisika, panas itu timbul karena gerak atau bersinggungnya benda panas dengan penyinaran. Disebutkan pula, matahari sendiri tidak panas dan bagaimananya tidak dipengaruhi oleh sifat persinggungan itu.
Ada bukti jelas bahwa yang dapat menerima penyinaran secara sempurna hanyalah benda mengkilat tak transparan, kemudian benda tebal tak mengkilat. Adapun benda transparan yang tak mengandung ketebalan sedikit pun, tidak bisa menerima cahaya sama sekali. Argumentasi ini khas dari Syekh Abu ‘Ali (Bin Sina), tak pernah diungkap oleh para pendahulunya.
Jika premis ini benar, konsekuensinya matahari tidak memanasi bumi sebagaimana benda panas memanasi benda lain yang disentuhnya. Alasannya, matahari itu sendiri tidak panas. Dan Bumi pun tidak menimbulkan panas melalui gerak. Sebabnya, karena bumi itu diam (tidak bergerak). Keadaannya sama saja, baik matahari terbit maupun saat terbenam.
Secara inderawi, situasi pemanasan dan pendinginan ini jelas berbeda pada kedua saat tadi. Dan matahari tidak memanasi udara lebih dahulu, untuk kemudian memanasi bumi melalui udara yang panas tadi. Bagaimana itu terjadi? Sebab kita merasakan, bagian bumi yang terdekat dari udara, walau saat (udara) panas, ternyata jauh lebih panas daripada atmosfir yang di atasnya.
Jadi jelas, pemanasan matahari terhadap bumi terjadi hanya melalui cara pencahayaan. Sungguh, panas itu ada kalau ada cahaya. Bahkan, kalau cahaya itu bertenanga lebih karena memusat lewat cerrmin cembung, itu akan membakar segala yang menjadi fokusnya.
Menurut ilmu fisika, yang berdasar argumen pasti, matahari berbentuk bola. Demikian pula bumi. Tapi matahari jauh lebih besar daripada bumi. Lebih separuh bagian bumi senantiasa terkena cahaya matahari. Di antara yang ini, adalah bagian tengahnya yang senantiasa menerima cahaya terkuat. Sebabnya, karena daerah bagian itulah yang terjauh dari kegelapan dan yang terbesar menerima (cahaya) matahari.
Semakin dekat dengan garis pinggir lingkaran (bolanya), semakin sedikit daerah itu menerima cahaya. Dan tepat di garis pinggirnya, daerah itu gelap total karena tidak menerima cahaya.
Di saat matahari berkulminasi di atas kepala warga daerah tertentu, cahayanya terfokus ke pusat lingkaran bola bumi, sehingga panasnya terasa sangat keras. Sebaliknya, di bagian bumi lain yang terjauh dari tempat kulminasi matahari, (udaranya) terasa sangat dingin.
Menurut ilmu fisika, di daerah katulistiwa, matahari berkulminasi dua kali setahun, ketika berada di puncak konstelasi Aries (Ra’s al-haml), dan ketika di puncak konstelasi Libra (ra’as al-Mizan). Di antara masa setahun, enam bulan (matahari berada) di sebelah selatan (katulistiwa). Enam bulan berikutnya di sebelah utara. Saat itu, panas atau dingin tidak terasa keras. Situasi warga penghuni (daerah katulistiwa) yang disebabkan keadaan tersebut, beragam.

2

Pernyataan ini tidak cukup, perlu keterangan lebih luas. Kami akan menjelasskannya buat Anda. Sebab, itu termasuk bukti kesahihan asumsi bolehnya manusia lahir tanpa ibu bapak (33). Yakni kelahiran spontan. Untuk analisa perbandingan antara teori kelahiran manusia secara spontan Ibn Thufayl dengan teori-teori kuna dan modern sejak Anaximander, Aristoteles, Darwin, Haecdel hingga Chardin, lihat Sami S. Hawi, op. Cit. H. 103-124). di daerah tersebut.
Ada yang percaya dan yakin, Hayy  Bin Yaqzan tercipta di daerah itu tanpa ibu bapak. Tapi ada yang menolak, seraya mengemukakan kisah (Hayy Bib Yaqzan)versi lain, yang akan kami ceritkan kepada Anda, berikut ini.
Konon, di dekat (Waqwaq) itu ada sebuah pulau besar, luas, makmur, berpenghasilan melimpah, berpenduduk ramai, dan dikuasai  seorang tiran penuh ambisi. Ia mempunyai ssaudara, seorang perempuan cantik dan menarik. Tetapi, secara paksa ia melarang saudaranya kawin sebelum ada (calon suami) yang pantas.
Sang tiran itu mempunyai seorang karib bernama Yaqzan yang secara sembunyi mengawini (Saudara perempuannya).Menurut ajaran populer saat itu, kawin cara demikian dibolehkan. Kemudian, wanita tadi hamil, seraya melahirkan seorang bayi. Kuatir rahasianya diketahui khalayak, ia masukan bayinya ke dalam sebuah tabu rapat, setelah disusui kenyang. Di awal malam, bersama sejumlah pelayan dan kepercayaannya, ia keluar membawa tabu itu menuju pantai, dengan hati penuh kasih dan gundah.
(Si Ibu) melepas (tabu berisi bayi itu ke laut), diiringi doa; “Ya Tuhan, Engkau menciptakan anak ini padahal tak pernah ia dikenang. Engkau memberinya rizki berada di dalam kandungan yang gelap, dan dengan itu Kau memeliharanya sampai ia sempurna dan lengkap.Kini aku menyerahkannya kepada kelembutan-Mu. Akumemohon kemuliaan-Mu baginya, karena aku menakuti sikap raja tiran itu. Maka jagalah ia, dan jangan Kau serahkan kepada raja itu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang!. (36) Yakni kelahiran searaalami, melalui Ibu-Bapak).    
Gelombang laut mengehempas (tabut itu). Oleh daya pasang arus air mendorong, semalaman itu, hingga ia sampai ke pantai sebelah pulau yang tersebut tadi. Saat air laut pasang sampai pada ketinggian yang setahun sekali, dengan kekuatannya, air membawa tabut itu masuk ke hutan berpohon lebat, bertanah tawar, yang tak diterpa angin dan hujan, tetapi ditimpa matahari di saat terbit dan terbenanm. Dan iar laut pun mulai menyurut.
Laut itu tertinggi di tempat tadi. Akibat hembusan angin, pasir (di pantai) meninggi dan menggunung, menjadi penyekat masuknya air ke hutan. Air pasang tidak mencapainya. Paku tabut terlepas, dan papannya hancur terhempas air di hutan itu.
Bayi (Putera Yaqzan) itu merasakan lapar. Ia menangis, mengerang dan bergerak. Seekor rusa betina yang kehilangan anaknya (keluar dari sarangnya ketika mendengar suara yang dikira anaknya).(37). Pernyataan dalam tanda kurung tidak terdapat pada sebagian cetakan). Ia mencari suara itu, membayangkan anaknya. Sementara bayi menangis, suaranya melengking dari tabut. Rusa merasa iba kepadanya.Naluri kelembutannya muncul. Ia pun menyusui bayi itu, terus membesarkan dan mendidiknya, serta melindunginya dari penyakit.
Demikian asal mula kisahnya, menurut versi penolak kelahiran (tanpa ibu bapak). Berikut nanti kami kisahkan bagaimana bayi (yang kelak disebut Hayy) itu terdidik dan berubah besar.
----------------oooOOOOoooo-----------------
Adapun penganggap kelahiran Hayy dari bumi (Secara spontanitas), itu didasarkan pada pendapat bahwa di perut bumi pulau (Waqwah), ada tanah yang terolah selama bertahun-tahun, sehingga (unsurnya) yang panas dan dingin, lembab dan kering, bercampur secara seimbang.
Tanah terolah ini luas. Sebagiannya melebihi bagian lain dalam hal keseimbangan sifat dasar dan kesiapannya untuk menjadi bahan campuran. Adalah bagian tengahnya yang terseimbangkan dan tersesuaikan dengan sifat dasar manusia. Bagian tanah itu lalu mengandung proses kelahiran, mengalami semacam gelembung didih karena kelengketannya sangat kuat.
Tetapi di pusat tanah itu ada kelengketan dan gelembung kecil yang terbagi dua. Dibatasi oleh selubung batas tipis, dengan benda lembut berudara seimbang dan cocok. Itu adalah “ruh” yang berasal dari perintah Allah Yang Maha perkasa dan agung, sebagaimana cahaya matahari senantiasa melimpah ke alam.
Ada benda, yaitu udara transparan, tidak dapat bersinar (ketika ditimpa cahaya matahari). Tetapi benda lain yang tebal tak mengkilat, dapat bersinar sedikit, walau bisa berbeda dalam menerima cahaya yang tergantung pada warnanya. Sedangkan benda mengkilat, cermin misalnya, bersinar kuat. Apapbila cermin itu berbentuk cekung, ia akan mengeluarkan api bila cahayanya sangat kuat.
Ruh, seperti matahari yang adalah (bagian) dari perintah Allah Mahatinggi, senantiasa beremanasi atas semua yang ada (mawjudat).Di antara mawjudat itu, ada benda mati tak berkehidupan. Ruh membekas kepadanya, tetapi tanpa kelihatankarena benda tadi tidak siap (menerimanya). Ini semisal udara pada contoh matahari tersebut di atas.
Sedangkan pada spesies tetumbuhan, mawjudat yang lain, bekas ruh itu kelihatan sesuai kualitas kesiapannya. Ini semisal benda tebal pada contoh di atas. Dan pada spesies binatang, sebagai mawjudat lain, bekas ruh itu tampak jelas. Ini semisal benda mengkilat pada contoh matahari tadi.
Ada benda mengkilat, karena kuatnya menerima cahaya matahari, disebut-sebut sebentuk dan semisal matahari. Demikian pula ada binatang yang, karena kuatnya menerima ruh, dikira itulah ruh sebenarnya, dan mengambil bentuknya, khususnya manusia. Ini disinggung pada sabda Nabi saw. “Allah menciptakan Adam berdasar bentuk-Nya.
Apabila bentuk ini melengket padanya, sehingga semua bentuk lain lenyap, tinggal satu bentuk yang tadi saja, di mana bayang-bayang cahayanya membakar semua benda sentuhannya. Maka saat itulah ia setingkat cermin penentang diri sendiri, tetapi pembakar benda lain. Ini hanya ada pada para nabi, salam sejahtera untuk mereka, yang penjelasannya ada tersendiri. Maka acuhlah keterangan (para folisuf) mengenai keterciptaan itu.
Mereka berkata : Setelah ruh berhubungan dan melekat pada tempat khusus tadi, semua daya kekuatannya tunduk dan patuh kepadanya, atas perintah Allah Mahatinggi. Ke pusat tempat khusus itu, terjadi suatu tiupan  (Naffakhat). Tiupan ini terbagi tiga ketetapan lain. Masing-masing tabir yang lebut dan jalan tembus, itu penuh dengan benda berudara. Dengan itulah ketetapan pertama terjadi. Tetapi ia lebih lembut.
Di ketiga “perut” pecahan dari satu itu, ada sekumpulan daya kekuatan yang tunduk. Ia membantu menjaga, mengabdi padanya, dan menghentikan kejadiannya sejak benda terkecil hingga terbesar, bahkan ruh pertama yang berhubungan dan melekat pada tempat khusus tadi.
Di tengah tempat khusus itu, pada sisi yang berhadapan dengan tempat ke dua, terbentuk suatu tiupan ketiga yang sarat dengan benda jasmani berudara. Tetapi ini lebih keras daripada kedua lainnya. Di tempat khusus ini ada sekumpulan daya kekuatan yang tunduk tadi, bertugas menjaga dan memeliharanya. Tempat-tempat khusus pertama, kedua dan ketiga, itulah awal dari apa yang tercipta dari tanah olahan itunmenurut susunan (penciptaan) yang telah kami sebutkan.
Mereka saling membutuhkan : Tempat khusus pertama membutuhkan kedua lainnya, sebagaimana dibutuhkannya suatu proses tunduk dan patuh. Begitu pula kedua tempat lainnya membutuhkan tempat pertama, seperti butuhnya orang yang dipimpin kepada pemimpin, orang yang diatur kepada pengatur. Namun dilihat dari sisi anggota tubuh yang dicipta sesudahnya, keduanya merupakan pemimpin, bukan yang dipimpin ---- kepemimpinan tempat ke dua kepada ke tiga.
Ruh bergantung  padanya. Dan karenanya, di samping panasnya membara, maka tempat pertama mebentuk diri sebagai api pineal dan sebagai benda keras  terbungkus menurut bentuknya. Lalu sebagai daging gempal, berbungkus tebal sebagai pengamannya. Anggota tubuh itu disebut hati (qalb). Tetapi, karena seperti benda lembab (ratubat) yang berubah dan hancur akibat panas, anggota tubuh tadi membutuhkan pemelihara, pemberi makan, dan pengganti bagiannya yang berubah (dan hancur itu). Kalau tidak, eksistensinya tidak akan lama.
Anggota tubuh itu juga mebutuhkan cara mencerap sesuatu yang patut diambil, dan menolak sesuatu yang tidak cocok. Maka setiap anggota tubuh, dengan daya kekuatannya, terpelihara dan terurusi menurut kebutuhannya sendiri. Begitu pula anggota tubuh lain, terpelihara dan terurusi menurut kebutuhannya yang lain pula. Pemelihara dan pengurus indera itulah disebut otak(dimagh), sedang pemelihara dan pengurus makanan itu disebut ati (kabid). Mereka saling membutuhkan, agar diberi panas dan daya kekuatan tertentu. Karena itu, diantara mereka terjalin lorong dan saluran, yang satu lebih luas dari yang lain, sesuai kebutuhan. Itulah urat dan pembuluh darah.
 Kemudian para pakar yang menganggap Hayy lahir dari bumi itu masih meneruskan uraiannya tetang anatomi, tentang anggota tubuh seluruhnya. Mereka persis para fisikawan, menguraikan terbentuknya janin di dalam rahim Ibu. Tanpa kurang sedikitpun, hingga akhir proses terbentuknya janin yang ketika semua anggota tubuhnya sempurna siap dilahirkan dari perut ibu.
Untuk menerangkan kesempurnaan metamorposis itu, mereka meminjam (keterangan tentang) tanah besar yang terolah dan siap bagi semua kebutuhan penciptaan manusia. Yaitu, ada selaput protektif (ketuban) yang menutupi semua tubuh bayi, dan lain sebagainya. Setelah (masa kehamilan dan penciptaan bayi) sempurna, ketuban itu pecah berupa proses persalinan. Sama seperti tanah yang sudah kering, lalu pecah dan retak.
Bayi itupun menangis kehabisan bahan makanan. Rasa laparnya kian menjadi-jadi. Ia disambut oleh se ekor rusa (zabiyyah) yang kehilangan anaknya.

3

Dari (penjelasan) tadi, tampak kesamaan pendapat para pakar kelompok kedua ( yang berasumsi Hayy lahir dari ibu bapak), dengan pendapat kelompok pertama (yang berasumsi Hayy lahir dari bumi). Kesamaannya terletak pada makna pendidikan yang tersirat pada keterangan mereka. (40) Kedua kelompok itu pada akhirnya sepakat bahwa, bayi Hayy itu, yang terlahir dari bumi secara spontan menurut kelompok pertama dan dari Ibu-Bapak menurut kelompok ke dua, dipelihara dan dididik oleh seekor rusa betina.)  Mereka sama berkata :
Rusa yang memelihara (Hayy bin Yaqzan) itu kemudian menemukan daerah padang rumput sumbur. Maka tubuhnya menjadi gemuk dan air susunya segar mengguyur. Ia memberi (Hayy) makanan yang baik. Bayi itu menyukai rusa. Jika rusa terlambat (memberi makan), Hayy menangis keras sehingga ia datang.
Di Pulau itu tidak ada binatang buas yang berbahaya. Karena itu, Hayy terdidik dan tumbuh. Ia memakan susu rusa, sampai berumur dua tahun. Hayy mulai belajar berjalan. Giginya sudah tumbuh. Ia mengikuti (tingkah laku) rusa yang mencintai, menyayangi dan membawanya ke tempat-tempat berpohon lebat! Bati itu diberinya makanan buah-buahan manis dan matang, yang jatuh dari pohonnya. Jika buah itu berkulit keras, dikupasnya dengan giginya. Dan bila Hayy haus, ia memberinya minum susu dan air.
Jika Hayy kepanasan terkena matahari, ia memindahkannya ke tempat teduh. Sebaliknya, kalau kedinginan, diusahakannya memanaskan tubuhnya. Bila malam tiba, Hayy dibawa ke tempat semula, seraya didekapkan ke tubuhnya. Atau dimasukan ke dalam tabut yang telah diisi penuh dengan bulu. Mereka kini tidur beristirahat. Seekor banteng yang habis merumput, bermalam bersama mereka.
Itulah ihwal bayi (Hayy) bersama rusa. Ia bersuara menirukan nyanyiannya, sehingga mereka hampir tak terpisahkan.Ia menirukan pula semua suara binatang yang didengarnya, dan burung misalnya, dengan penuh perhatian berkat hasratnya yangkuat.
Suara rusa yang ia tiru, antara lain isyarat minta tolong, belas kasihan, panggilan dan isyarat minta dijaga. (Hayy pun telah meniru) semua suara yang mengungkap berbagai keadaan binatang itu. Karena itu, binatang buas menyukainya. Dan sebaliknya, Hayy pun menyukai mereka. Mereka tidak memusuhinya, dan dia pun tidak memusuhi mereka.
Banyak (kesan) yang sebenarnya telah lenyap dari penglihatannya, tetapi tetap mantap di jiwanya. Karena itu, Hayy sekaligus menyukai dan membenci selain dirinya.

4

Sementara itu, ia memperhatikan semua jenis binatang. Tampak, mereka dipenuhi wol, rambut dan bulu. Mereka memiliki daya permusuhan, keberanian dan senjata untuk mengelak musuh. Misalnya tanduk, taring, kuku, dan cakar. Tapi Hayy memperhatikan dirinya telanjang, tanpa senjata, jadi lemah untuk memusuhi, dan kurang berani – (padahal, itulah daya) pada binatang buas untuk memakan buah, menundukan dan menguasai yang lain. Karena itu, hada Hayy timbul perasaan tamk mampu mempertahankan diri atau mengelak dari musuh.
Hayy melihat pula, anak-anak rusa sebayanya pun telah ditumbuhi tanduk, padahal sebelumnya tidak. Mereka kini kuat bermusuhan, padahal dulunya lemah. Hayy lau melihat ke dirinya : semua itu tidak ada. Hayy mencoba memikirkannya, tapi gagal mengetahui sebabnya. Ada beberapa makhluk lain yang cacat, tak sama dengan dirinya. Sekali lagi, ia melihat sumber kelebihan binatang. Tampak jelas, yang terkeras itu ekor, dan yang terlembut adalah bulu dan sebagainya. Ia bersedih dan murung, ketika melihat anak-anak rusa tampak lebih lincah ketimbang dirinya.
Lama Hayy merenung semua itu, hingga menjelang umur tujuh tahun. Tapi Hayy merasa putus asa melengkapi kelemahannya, yang justru sumber bahaya bagi dirinya. Hingga tiba-tiba muncul pikiran. Hayy mencoba membuat semacam (penutup tubuh) dari dedaunan lebar, di belakang dan di muka, diikatlah pada semacam ikat pinggang dari daun kruma dan pelepah. Tak lama dipakai, daun itupun layu, kering dan luruh. IA membuat lagi lebih kuat dengan cara menjadikan dedaunan itu, yang dikira akan bertahan lebih lama. Tapi sama saja, daun itu lekas hancur.
Dari ranting pohon ia membuat sebuah tongkat, yang ujungnya dirapikan. Ternyata dengan tongkat itu ia dapat menghalau binatang buas pengganggu. Yang lemah ia dorong, dan yang kuat ia serang. Tongkat itu memberinya tambahan kekuatan. Hayy berpikir, tangannya ternyata mempunyai kemampuan lebih dibanding “tangan” binatang. Sebab, dengan tangan ia bisa menutup bagian tubuhnya, lalu membuat tongkat sebagai alat mempertahankan diri dari musuh, mengganti (fungsi) ekor dan senjata alami yang ia butuhkan dan ia damba.

5

Bersama itu, Hayy membesar dan berkembang ke umur tujuh tahun. Ia merasa cukup lama memperbarui daun penutup tubuhnya. Muncullah hasrat di jiwanya mengambil ekor binatang mati untuk dilekatkan pada tubuhnya. Tetapi Hayy melihat binatang yang hidup justru menjagai bangkai itu. Maka ia tidak berani melaksanakan (hasratnya) itu. Hingga suatu hari, Hayy menemukan seekor burung nasar mati. Hasratnya serasa pasti terlaksana.
Kesempatan itu ia manfaatkan, apalagi tak ada binatang memperhatikan dan mengawasinya. Ia maju. Kedua sayap dan ekor burung itu ia potong baik-baik, seperti adanya. Bulunya di lepas dan ia  tata. Semua kulit burung itu dikelupas, lalu dibilah menjadi dua, yang satu diikatkan ke punguung tubuhnya dan satunya lagi ke bagian tubuh dari pusar ke bawah. Sedangkan ekornya ia ikatkan ke belakang, dan sayapnya ia ikatkan ke tangan.
Itu  menjadi penutup, penghangat tubuh, sekaligus penimbul rasa takut pada semua binatang, sehingga mereka tidak mengganggu dan memusuhinya. Bahkan, tak ada binatang yang berani mendekatinya, kecuali rusa yang menyusui dan mendidiknya.
Rusa dan Hayy tidak saling meninggalkan. Sampai rusa itu tua dan lemah ketika mengambilkan untuknya rerumputan segar, buah manis, dan makanan. Rusa itu semakin tua dan lemah, sehingga dijemput kematian. Gerak dan perbuatannya macet total.
Melihat rusa demikian, Hayy sedih sekali. Ia mengeluh kasihan. Ia memanggil rusa itu dengan suara yang biasanya langsung dijawab begitu ia dengar. Ia berteriak sekuat-kuatnya. Tetapi, pada rusa itu tak tampak ada gerak dan perubahan. Ia melihat kedua telinga dan mata rusa : cacat, lain dari biasa. Begitu pula sekujur tubuhnya. Ia ingin sekali menemukan tempat cacat itu, untuk segera dihilangkan. Kemudian ia mengulang penelitiannya semula. Tetap sama saja.
Yang mendorong Hayy untuk (menemukan cacat sumber kematian) itu, ialah pengalamanannya : Jika kedua matanya dipejamkan atau dihalangi sesuatu, ia tak bisa melihat, sampai penghalang itu dilenyapkan. Begitu pula, jika telunjuknya ia masukan menutup telinga, maka ia tak bisa mendengar sesuatu, kecuali telunjuknya itu dilepas. Bila hidungnya ia pijit dengan tangan, ia tak bisa mencium bebauan, sampai hidungnya dibuka kembali. Karena itu ia percaya, semua pencerapan dan perbuatan seringkali mempunyai penghalang yang, jika dihilangkan, kembali seperti semula.
IA telah melihat semua anggota tubuh lahiriah rusa, tapi tak tampak cacatnya. Sementara itu, ia menyaksikan kemacetan total, bukan hanya di sebagian tubuh tertentu. Maka terpikir di benaknya, cacat itu pastilah timbul dari bagian tubuh yang tak tampak oleh mata, berada di tubuh bagian dalam, tetapi gerakannya tidak membutuhkan anggota tubuh lahiriah. Ketiak cacat menimpa bagian tubuh (tersembunyi) itu, terjadilah kemacetan total. Hayy ingin sekali menemukan bagian tubuh itu untuk dibersihkan dari segala cacat, sehingga tenaga mengalir lagi ke sekujur badan, dan perbuatannya pulih seperti semula.
Dari pengalaman selama ini, tampak semua tubuh bangkai binatang tidak berongga, kecuali di bagian tengkorak dan perut. Maka terlintas di benaknya, anggota tubuh ( seperti) tadi mestinya tengkorak atau perut. Hayy menduga keras, cacat itu pasti di bagian tengah, (yaitu dada). Sebab, ia yakin bila semua bagian tubuh membutuhkannya, itu mestinya di tengah. Dan jika dirujuk ke esensinya, Hayy merasakan anggota tubuh itu ada di dada, karena dada menampak (dan menjadi pusat) semua anggota tubuh lain seperti tangan, kaki, telinga, hidung dan mata. Dan dadamampu melepas semuanya.
Hayy yakin, bagian tubuh itu tidak memerlukan semua anggota tubuh tadi. Kepalanya mampu seperti itu, tanpa memerlukannya. Jika ia berpikir tentang sesuatu di dalam dada, sekejap ia tak bisa mengelaknya. Demikian pula sewaktu menyerang binatang buas, yang dipertahankan adalah dada, karena dirasakan ada barang (berharga) di sana.
Setelah yakin bagian tubuh yang cacat itu ada di dada rusa, Hayy bertekad mencari, meneliti dan menguaknya. Ia ingin menemukan dan melihat cacat itu, untuk segera di hilangkan. Tetapi timbul rasa kuatir pada diri Hayy, jangan-jangan usaha itu mendatangkan malapetaka besar, berakibat lebih fatal daripada sebelumnya.
Namun Hayy berpikir ulang. Pernahkah ia melihat binatang yang seperti (rusa), kembali sendiri seperti semula? Tidak. Ia merasa tak pernah menemukannya! Kesimpulannya, mustahil rusa itu pulih seperti semula, jika dibiarkan. Yang jelas, rusa itu bakal pulih ke semula, jika Hayy berhasil menemukan bagian tubuh (tak tampak) itu dan melenyapkan penyakitnya.
Hayy telah berbulat tekad untuk membedah dada rusa dan memeriksa isinya. Ia mengambil pecahan batu keras dan kayu kering, didbentuk serupa pisau. Dengan itu ia membelah daging rusuk sampai pecah. Pelindung rusuk yang di dalam, tampak kuat. Hayy menduga keras, pelindung semacam itu hanya diperuntukan anggota tubuh seperti tadi. Hayy yakin, kalau ia terus membelah, harapannya segera tercapai. Ia berusaha membelahnya. Tetapi ia kesulitan alat, sebab yang ada hanya batu dan kayu. Dengan batu lain yang lebih tajam, ia berhasil menemukan paru-paru, Semula dikira, itulah yang ia cari. Kini ia membolak-baliknya, mencari penyakit itu.
Pertama, Hayy mendapatkan belahan paru-paru itu, berupa rongga, Tampak, itu miring ke satu arah. Ia yakin, paru-paru pasti tepat di tengah tubuh, dihitung lebar dan panjangnya. Namun ia masih meneliti isi dada rusa itu, sampai mendapatkan “hati” (qalb) yang dibungkus selaput sangat kuat. Sedangkan paru-paru (yang tadi) ada di sekitar itu, mulai dari tempat yang ia belah semula.
Ia berkata sendiri, “Anggota tubuh ini, dilihat dari sisi lain, sama seperti keadaannya pada sisinya kini. Jadi, itu tentunya berada tepat di tengah, dan itulah yang ku cari. Apalagi tempat yang begitu indah, bentuknya apik, sedikit pecah, dagingnya kokoh, dan tertutup selaput yang tak pernah ku lihat di tubuh lain.”
Ia terus meneliti sisi lain dada rusa itu. Ia menemukan rusuk lain yang tak kelihatan mata, lalu paru-paru di posisi seperti tadi. Ia yakin, bagian itulah yang ia cari. Ia berusaha merusak dan membelah penarungnya. Dengan paksa ia mampu melakukan itu, setelah melepas habis segenap dayanya.
Dibersihkannya hati (yag berada di antara paru-paru) itu. Tampak segala sisinya tertutup. Diperiksa, adakah cacat yang tampak? Tidak ada! Hati itu dipijitnya dengan tangan, terasa berongga. “Barangkali yang ku cari ada di dalamnya.” Gumamnya. “ Yang belum ku temukan sampai kini.”
Hayy membelah hati itu. Ditemukan ada dua rongga di dalam. Satu di bilik kanan dan satu lagi di bilik kiri. Rongga kanan penuh darah membeku, sedang rongga kiri kosong, tak berisi apapun. “Yang ku cari pasti ada di salah satu rongga ini.” Katanya dalam hati. “Rongga kanan ini ku lihat dipenuhi darah beku. Darah ini membeku, akibatnya jasad rusa menjadi begini.” Dan Hayy senantiasa menyaksikan darah membeku setelah mengalir ke luar. Semua darah begitu.
“Namun ku saksikan,” katanya lagi, “darah seperti ini terjadi di semua tubuh, tidak pada bagian tertentu. Yang ku cari tidak berciri seperti ini. Jadi, semua penemuanku ini kiranya tidak terlalu penting. Karena darah yang keluar dari tubuhku saat dilukai binatang, tidak mengurangi gerakanku. Maka yang ku cari pasti tidak terletak di rongga kanan ini.”
“Tapi rongga kiri ini ku lihat kosong sama sekali. Kenapa? Itu tentu ada artinya. Sebab, setiap bagian tubuh ku lihat mempunyai gerakan khas tersendiri. Adakah rongga yang banyak kelebihannya itu dibuat untuk sia-sia? Ku pikir, yang ku cari itu pernah ada di sana, tetapi kini pergi mengosonginya. Akibatnya, jasad (rusa) itu amcet. Tidak bisa mencerap dan bergerak.”
Hayy yakin, ketika rongga itu belum rusak, pernah ada sesuatu. Tapi karena rongga itu kini rusak, sesuatu itu telah pergimeninggalkannya, lalu tak akan kembali ke rongganya semula. Karena itu, ia sekarang menganggap rongga hati jasad itu tidak penting.
Perhatiannya kini terpusat kepada “sesuaut” yang katanya pernah ada di (rongga hati sebelah kiri) tadi beberapa lama, tetapi sekarang telah pergi (entah ke mana). Ia mulai mempertanyakan “sesuatu” itu, apa sebenarnya? Bagaimana? Apa hubungannya dengan jasad? K e mana lenyapnya? Dari pintu mana ia melepas jasad? Apakah sebabnya ia keluar secara paksa? Mengapa ia tak disukai oleh jasad, sehingga meninggalkan secara sengaja?
Pikirannya menyebar ke semua itu, sambil berusaha melupakan (soal jasad). Hayy menyadari bahwa soal ibu yang menyayangi dan menyusuinya itu, tak lain adalah “sesuatu” yang lenyap tadi, yang darinya --- bukan dari jasad yang telah macet – timbulnya semua perbuatan. Jasad seluruhnya hanyalah alat yang berfungsi seperti tongkat yang dipergunakan untuk membunuh binatang. Lewat jasad itulah hubungannya berpindah kepada “pemilik” dan “penggerak” (muharrik) jasad itu sendiri. Kerinduan Hayy kini tertumpu kepada “sesuatu” itu saja.
Sementara itu, jasad rusa pun membusuk, menyebarkan bau tak sedap. Hayy menjauhinya, bahkan menghindarinya. Tetapi tiba-tiba pandangannya menampak dua ekor burung elang saling berbunuhan. Lalu seekor mati tersungkur. Lainnya yang masih hidup mencari-cari tanah, dan menggalinya seraya memendam (rekannya) yang terbunuh itu, dan menimbuninya dengan tanah. “Betapa indah perlakuan elang ini,” pikirnya. “Ia memendam bangkai rekannya, padahal telah dijahatinya dengan cara membunuh! Semestinya aku belajar cara ini untuk memperlakukan (jasad) Ibu!” Lalu ia menggali lubang jasad “ibunya” ia masukan ke dalam, dan menimbuninya dengan tanah.
Tapi pikirannya semakin tergoda untuk mengetahui apa sebenarnya “Sesuatu” yang hilang dari jasad itu tadi. Ia menyaksikan perawakan semua rusa, tampak seperti ibunya dalam hal bentuk dan posturnya. Ia yakin, setiap rusa digerakan oleh “sesuatu” yang sama seperti yang dmenggerakan ibunya. Karena kesamaan itu, ia kemudian menyayangi semua rusa.
Begitulah keadaan Hayy beberpa lama : Memeriksa segala macam binatang dan tetumbuhan; mengelilingi pelosok pantai pulau (tempat tinggalnya). Ia dmemeriksa, setia tahu melihat atau menemukan kesamaan bagi dirinya. Ia memang melihat, setiap binatang dan tetumbuhan mempunyai banyak kesamaan. Tapi ia tak menemukan kesamaan buat dirinya. Ia hanya melihat laut melingkungi pulau dari segala sisinya. Hayy yakin, tak ada negeri selain pulaunya.

6

Suatu kali, tiba-tiba api membakar setumpukan kayu. Hayy menyaksikan suatu pemandangan menakjubkan, makhluk yang tak pernah ia temukan. Ia berdiri keheranan. Perlahan ia melangkah mendekatinya. Tampaknya makhluk yang tak pernah ia temukan itu mempunyai cahaya penembus dan gerak pengunggul. Setiap yang mendekati pasti hancur dan luluh ditelan olehnya. Itulah api. Ia takjub karenanya. Berkat rahmat Allah Mahatinggi berupa tabiat keberanian dan kekuatan, Hayy terdorong mengulurkan tangan kepada api itu. Ia ingin mengambil sebagian darinya.
Begitu menyentuh, tangannya terbakar hingga ia malah tak bisa memegang. Lalu ia diberi petunjuk mengambil kayu yang ujungnya termakan api. Ia memegang kayu yang tak terbakar. Ia kini memilikinya, dan membawa pulang kayu berapi itu ke rumah tinggalnya yang dari batu.
Api itu ia beri kayu-kayu kering dan ranting-ranting kecil supaya terus menyala. Ia jaga dan pelihara api itu siang dan malam, sebagai kebaikan dan rasa takjub kepadanya. Di malam hari, Hayy semakin menyukai api itu, karena mengganti kedudukan matahari dalam memberi sinar dan kehangatan. Kecintaan Hayy kepadanya sangat besar. Ia percaya, api itulah miliknya yang paling berharga. Api itu terlihat senantiasa bergerak ke arah atas dan berusahamencapai ketinggain. Ia pikir, api itu termasuk sejumlah substansi slestial (jawhar samawiyyah) yang pernah disaksikannya.
Ia menguji daya api itu, dbanding segala benda, dengan memasukan berbagai benda itu ke sana. Ia melihat, api itu menguasai dan meluluhkannya, cepat dan lambat sesuai kuat atau lemahnya kesiapan bakar benda yang disentuhkan.
Di antara benda yang dimasukan sebagai penguji dayanya itu, adalah sejenis binatang laut yang terdampar ke pantai. Binatang itu matang dan baunya menyebar. Seleranya bangkit. Ia coba memakan sebagian, ternyata enak. Dari itu ia kemudian terbiasa memakan daging. Untuk memburu (binatang) darat dan laut, ia memasang jaring dan umpan, sampai ia mahir.
Ia semakin menyukai api, sebab ternyata itu menjadikan makanan lebih enak dari sebelumnya. Ia menyukai api, karena itu berpengaruh baik dan dayanya kuat. Sejak itu timbul pikiran “
Esuatu” yang melenyap dari hati ibunya --- yaitu rusa yang membesarkannya – adalah substansi Mawjud atau sejenisnya. Anggapan itu diperkuat oleh bukti bahwa tubuh binatang yang hidup senantiasa panas, seperti dikathui Hayy selama ini. Tapi, binatang itu menjadi dingin setelah ia mati.
Ini bersifat abadi, tidak lenyap. Dari pengalaman membedah dada rusa, ketika ia menemukan panas yang kuat, muncul satu pikiran. Ia tertarik mengambil seekor binatang, untuk membedah hati binatang itu, seraya memeriska rongga yang ternyata kosong pada rusa yang pernah ia bedah. Terpikir, bila itu dilakukan, ia pasti bisa membuktikan eksistensi “sesuatu” yang ada di binatang hidup, dan bisa memastikan apakah “sesuatu” itu termasuk substansi api? Apakah di dalamnya ada sinar dan api atau tidak?
Ia menangkap se ekor binatang, mengikatnya seraya membedahnya seperti cara mengoperasi rusa tempo hari. Pertama, ia mengambil bagian rongga kiri, lalu membedahnya. Ia melihat, rongga kosong itu dipenuhi udara beruap, menyerupai awan putih. Ia memasukan tangan ke dalam. Terasa panasnya seakan membakar. Tetapi, binatang itu mati seketika. Ia berpendapat, adalah benar  bahwa uap panas itu yang menggerakan binatang. Hayy lalu memperlakukan kesimpulan ini umum bagi semua binatang lain. Begitu uap lepas ke luar, binatang itu pun mati.
Kini muncul hasrat untuk membedah semua tubuh bintang itu, serta (mengetahui) susunan, letak, ukuran dan perhubungannya. Bagaimana itu bergantung pada uap panas, sehingga bisa melanjutkan hidup? Bagaimana uap itu ada sepanjangmasa? Darimana itu datang dan mengapa panasnya tak habis? Semua itu dipraktekan dengan membedah anatomi binatang hidup dan mati. Ia terus menekuni pemeriksaan dan proses pemikirannya, sampai ia mencapai tingkat (penelitian) pakar fisika terkemuka.
Karena itu, semakin jelas bahwa tiap sosok binatang terdiri dari ragam indera dan gerak. Namun, tubuh itu tetaplah satu dan sama, karena ada ruh yang berasal dari satu tempat. Sosok yang terbesar ke seluruh anggota tubuh bersumber dari ruh itu. Bagi Hayy jelas, semua bagian tubuh mengabdi pada, atau timbul akibat, ruh. Dan kedudukan ruh itu dalam gerakan yang utuh, seperti memburu binatang laut dan darat, yang tiap jenisnya diburu dengan alat tertentu. Alat itu beragam, untuk mempertahan diri dengan cara mengelak musuh, dan untuk menghancurkan. Demikian pula alat buru, beragam. Ada yang untuk binatang laut, dan untuk binatang darat. Alat operasi juga beragam : untuk membedah, penghancur, pelubang. Padahal, badan (yang dioperasi) itu satu. Segala sesuatu menggerakan perbuatan sesuai alatnya dan menurut tujuannya.
Demikian, ruh hewan itu satu. Tapi, jika ruh itu berbuat dengan alat mata, perbuatannya berbentuk penglihatan. Jika itu berbuat dengan alat telingan, perbuatannya adalah pendengaran. Jika ia berbuat dengan alat hidung, perbuatannya berbentuk penciuman. Bila itu berbuat dengan alat kulit dan daging, perbuatannya disebut perabaan. Dan kalau ia berbuat dengan jantung, perbuatannya berbentuk makanan dan proses pemasakannya.
Setiap (alat) itu mempunyai anggota tubuh pengabdinya, yang membuatnya terlaksana hanya karena aliran dari ruh itu melalui “jalan-jalan” yang disebut urat syaraf. Jika itu terputus atau tertutup, maka perbuatan bagian tubuh (yang dialiri ruh lewat “jalan-jalan” tadi) pasti macet. Urat syaraf itu sebenarnya memperoleh ruh dari bagian dalam otak, sedangkan otak sendiri memperoleh ruh dari hati. Di dalam otak terdapat banyak ruh, sebab itu adalah tempat terpencarnya bagian-bagian anggota (tubuh).
Setiap bagian tubuh yang kehilangan ruh karena satu sebab, perbuatannya macet dan seperti alat terbuang yang tidak dipergunakan lagi oleh si pelaku. Jika ruh itu lepas seluruhnya dari jazad atau rusak karena suatu sebab, jasad itu pasti macet total, menjadi seperti dalam keadaan mati. Demikianlah, penyelidikan Hayy itu sampai ke batas ini berlangsung selama 3 minggu, saat ia mencapai umur 21 tahun.


7

Di umur tersebut, Hayy dapat memperbaiki cara hidup. Ia kini menutup tubuh dengan kulit binatang hasil operasi, bahan yang juga ia bikin sepatu. Benang (jahitnya) ia bikin dari rambut (bulu dan rami). Untuk itu, ia mengupas pelepah pohon khatmiya, khubaza dan rami, serta pohon berserta lainnya. Itu didorong oleh pengalamannya membuat pasak dan paku dari duri atau kayu yang diperuncing dengan batu.
Pengalaman itu mendorongnya mendirikan bangunan. Maka ia membuat lemari dan ‘rumah’ (penyimpan) sisa makanan. Ia membentinginya dengan pintu dari kayu yang diikat tali, agar tak digerayangi binatang saat ia keluar rumah memenuhi hajat.
Ia menjinakan burung buas yang membantunya berburu. Ia menangkap burung jinak yang telur dan anaknya bisa dimakan. Ia mengambil tanduk sapi buas bergigi, untuk ditata pada kayu kuat dan lidi pohon zan, dan sebagainya. Dalam (membuat) itu semua, ia memanfaatkan api dan batu tajam sehingga kayu itu menyerupai tombak. Ia membuat tamingnya dari lapisan kulit. Semua itu (dibuat), karena ia tak mempunyai senjata alami.
Ia melihat tanggannya cukup (untuk memenuhi segala kebutuhannya). Buktinya, ia berhasil membuat alat-alat tersebut. Lagi pula, binatang kini tak berani menaklukkannya. Bahkan, binatang justru lari kencang menjauh, walaupun tak mampu (disaingi) oleh Hayy. Ia berpikir, tak ada cara lebih efektif daripada menjunakan binatang paling bandel, agar takluk  padanya, dengan menyediakan makanan pantas. Dengan itu, akhirnya ia memperoleh kendaraan dan mampu mengusir segala (binatang).
Di Pulau itu ada kuda dan keledai buas. Ia menangkap dan memeliharanya, untuk memenuhi maksudnya. Untuk itu, ia membuat (pelengkap kendaraan), seperti kekang dan pelana, dari tali dan kulit. Cita-citanya mengusir binatang liar, kini tercapai.
Ia menciptakan semua itu di saat melakukan operasi anatomis, ketika ada hasrat mengetahui ciri khas anggota tubuh binatang, mengapa berbeda. Itu terjadi selama masa tersebut tadi, (dalam umur) 21 tahun.

8

Setelah itu, Hayy mengamati tempat-tempat lain. Ia menyelidiki semua benda (jism) yang berada di dalam dunia penciptaan (kawn) dan kehancuran (fasad) : dari (species) binatang dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan,barang tambang, bermacam bebatuan, tanah, air, uap, es, salju, awan, api yang berkobar dan menyala. Ia melihat, semua itu mempunyai banyak ciri khas dan kelakuan yang berbeda-beda, gerak yang berkesuaian dan yang paling bertentangan. Maka ia menyaksikan, semua itu mempunyai sifat yang kadang berkesuaian dan kadang berbeda ssatu sama lain.
Dari segi sifat keseuaian, ia menyaksikan benda-benda itu satudan sama. Sedangkan dari segi sifat yang berbeda, (ciri khas) benda tertentu tidak dimiliki benda lain. Maka (dalam catatannya) ciri khas benda-benda itu sangat banyak, tak terhitung jumlahnya. Baginya, wujud (benda) menyebar tanpa bisa dipastikan luas penyebarannya.
Menurut (penelitiannya), yang membanyak (pada benda-benda) itu adalah juga esensinya (zat). Sebabnya, karena ia melihat, masing-masing bagian tubuh mempunyai kelakuan dan sifat tersendiri sebagai ciri khasnya. Ia telah menyaksikan tubuhnya sendiri, yang masing-masing terbagi ke banyak bagian. Ia berkesimpulan, esensi dirinya sendiri banyak, bagitu pula esensi segala sesuatu.
Kemudian, dengan cara lain ia mengamati bagian-bagian benda lain. IA menyaksikan anggota tubuhnya, yang betapapun banyak, tapi semuanya berhubungan satu sama lain, tidak putus.
Benda-benda itu berada dalam hukum Sang Kesatuan, dan tidak berbeda-beda kecuali akibat perbedaan perbuatannya. Perbedaan initerjadi karena pengaruh daya kekuatan ruh hewani, seperti kesimpulan dari pengalamannya semula. Dan menurut esensinya, ruh itu adalah satu, dan ruh itulah hakekat esensi. Semua anggota tubuh (hanyalah) alat. Melalui cara ini, menurut pendapatnya, esensinya amenyatu.
Kemudian Hayy berpindah (meneliti) ke semua species binatang. Ia menyaksikan, setiap sosoknya adalah satu menurut cara pandang di atas tadi. Ia menyaksikan species itu. Antara lain : rusa, kuda, keledai, dan segala burung, jenis demi jenis. Di antara sosok-sosok setiap species ini, ia melihat adanya kesamaan anggota tubuh, yang tampak dan yang tidak tampak, dan juga kesamaan persepsi, gerak dan kecenderungannya. Di antaranya, Hayy melihat perbedaan hanya pada beberapa bagian kecil, ketimbang kesamaannya. Ia berkesimpulan, ruh yang dimiliki keseluruhan species itu adalah sesuatu yang sama. Ruh itu sebenarnya tidak berbeda-beda, meskipun ia memang terbagi ke dalam banyak “hati” sehingga kelihatan berbeda-beda dan banyak.
Jika mungkin emadukan semua (ruh) yang tercerai dalam berbagai “hati” itu dan dikumpulkan di sebuah tempat khusus, tentulah semuanya merupakan sesuatu yang tunggal. Sama seperti air yang tunggal, atau minuman yang tunggal, dibagai-bagi dalam banyak tempat, kemudian di satu padukan setelah itu. Air dalam dua keadaan – keterbagian dan keterpaduan – adalah satu. Air tampak banyak dilihat dari satu segi saja. Melalui cara pandang seperti ini, Hayy melihat semuanya itu adalah satu. Baginya, pluralitas (kathrat) sosok-sosoknya bagaikan pluralitas anggota-anggota tubuh sebuah sosok, yang berarti bukanlah pluralitas yang hakiki.
Kini, ia menghadirkan seua species binatang di daya khayalnya. Ia mengamatinya. Ia melihat, semuanya sama-sama mengindera, makan dan bergerak secaara sengaja menuju ke satu arah yang dikehendakinya. Ia mengetahui, perbuatan-perbuatan (mengindera, makan dan bergerak secara sengaja) itu adalah ciri paling gkahs dari kelakuan ruh hewani. Ia mengetahui, semua benda-benda yang berbeda setelah adanya kesamaan ini, tampak oleh Hayy bahwa ruh hewani yang dimiliki semua jenis binatang pada hakekatnya adalah satu, meskipun ada perbedaan kecil padanya, yang dimiliki secara khas oleh semua species dan tidak oleh species lainnya.
Bila diumpamakan, ruh itu seperti air tunggal yang dibagi-bagi ke dalam banyak tempat, yang sebagian lebih dingin dari lainnya. Asalnya, air itu satu. Semua keadaan – seperti sebuah species tungal yang menjadi kekhasan ruh hewani itu, meskipun dikenakan pluralitas padanya dengan sessuatu jenis binatang adalah satu dan tunggal.
Kini Hayy mengacu pada species-species tetumbuhna dengan segala perbedaannya. Ia melihat, sosok-sosok setiap speciesnya serupa satu sama lain. Kesamaannya itu terletak pada dahan, daun, bunga dan buah, serta perilakunya. Ia membandingkan tetumbuhan itu dengan binatang. Dari analogi ini ia melihat, tetumbuhan itu mempunyai “Sesuatu” yang tunggalyang dimiliki oleh semua (tetumbuhan). Dalam hal ini, “sesuatu” itu sama kedudukannya seperti ruh hewani tadi, yang karenanya tetumbuhan (bisa disebut) sesuatu yang tunggal. Demikianlah, ia melihat kepada jenis tetumbuhan seluruhnya, sehingga akhirnya ia berkesimpulan, jenis tetumbuhan itu unggal menurut kesamaan kelakuannya, yaitu bahwa ia makan dan bertumbuh juga (seperti jenis binatang).
Kini ia memadukan dalam pikirannya, jenis binatang dan jenis tetumbuhan. IA melihat, keduanya sama-sama makan dan bertumbuh. Perbedaannya, dibanding tetumbuhan, binatang mempunyai kelebihan penginderaan, pencerapan dan daya gerak. Memang, barangkali ada semacam kesamaannya pada tetumbuhan. Misalnya, sisi muka bunganya selalu berubah (menghadap) arah matahari dan juga akar-akarnya selalu bergerak (menuju) arah (temepat) makanan, dan lain sebagainya.
Dengan pengamatan ini tampak olehnya, baik tumbuhan maupun binatang adalah tunggal, disebabkan sesuatu yang tunggal yang sama-sama dimiliki oleh keduanya. “Sesuatu” itu bsia sangat sempurna dan utuh pada salah satu di antara keduanya, tetapi terkadang “sesuatu” itu kurang sempurna pada yang lainnya. “Sesuatu” itu sama kedudukannya seperti bagian beku dan yang lainnya cair. Karena itulah, menurut pendaptnya, tetumbuhan dan binatang (pada hakekatnya) menyatu.
Lalu, ia memeriksa benda-benda yang tidak berindera, tidak makan dan tidak tumbuh, berupa batu, tanah, air, udara dan kobaran (api). Ia melihat, benda-benda itu berukuran : Panjang, lebar dan tinggi, serta tidak berbeda-beda meskipun sebagian berwarna dan sebagian tidak, sebagian panas dan sebagian dingin serta perubahan-perubahan lain semacamnya. Ia melihat, di antaranya, yang panas (berubah) menjadi dingin, dan yang dingin menjadi panas. Begitu pula air, (berubah) menjadi uap, dan sebaliknya. Juga benda-benda yang terbakar (berubah) menjadi arang, abu, kobaran api, dan awan.
Dan jika kebetulan “sesuatu” yang, menurut pendaptnya, tumbuh-tumbuhan dan binatang menyatu karenanya. Ia melihat “sesuatu” (yang menyatu) itu adalah benda seperti tersebut tadi : mempunyai (ukuran) panjang,lebar, dan tinggi, mungkin panas dan mungkin dingin, seperti benda yang tidak mengindera dan tidak makan tadi. Bedanya, “sesuatu” itu mempunyai perbuatan-perbuatan yang timbul melalui alat-alat hewani dan nabati saja, dan barangkali perbuatan-perbuatan itu tidak bersifap esensial, tetapi merasuk kepada “sesuatu” itu dari sesuatu yang lain. Sebab, kalau ia merasuk kepada benda-benda lain, maka (perbuatan-perbuatan) itu tentu sama seperti “sesuatu” tadi.
Mka ia melihat kepada “sesuatu” itu menurut esensinya, terlepas dari perbuatan yang pada mulanya tampak muncul dari “sesuatu” itu. Maka ia melihat, “sesuatu” itu tidak lain adalah salah satu di antara benda-benda tadi.
Dari pengamatannya ini ia melihat, semua benda (yang hidup, mati, bergerak atau bisa) adalah suatu yang tunggal, meskipun sebagian tampak mempunyai perilaku (yang timbul) melalui alat-alatnya, tanpa ia mengerti apakah perilaku itu bresifat esensial baginya ataukah merasuk kepadanya dari benda lain.
Dalam keadaan demikian, ia tidak melihat sesuatu selain benda-benda. Maka dengan cara ini ia melihat wujud seluruhnya adalah suatu yang tunggal, meskipun awalnya ia melihat wujud itu banyak, tidak terhitung dan tanpa batas. Ia berkesimulan demikian beberapa lama.
Hayy mengamati semua benda, yang hidup dan yang mati. Dan itulah benda-benda yang menurut pendapatnya, terkadang tampak sebagai sesuatu yang tunggal dan terkadang banyak sekali tanpa batas. Ia melihat, masing-msing benda pasti mengambil satu alternatif : bergerak ke arah atas, seperti uap, kobaran (api) dan udara jika dimasukan ke dalam air, atau bergerak ke arah sebaliknya, yaitu e bawah, seperti air, bagian-bagian bumi, binatang, dan tetumbuhan. Setiap benda pasti memilih satu alternatif dari kedua bentuk gerakan tadi, dan benda itu hanya diam bila dalm prosesnya terganggu oleh sesuatu sebab.
Misalnya, batu yang jatuh membentur permukaan bumi dengan keras, mustahil melubanginya, kecuali ada kekhasan yang gmenyimpang dan gerakannya yang tampak. Karenanya, jika Anda menggangkat batu itu, Anda dapatkan batu itu berat karena batu memang cenderung mengarah ke bawah, berusaha mencari jatuh. Demikian pula awan, selalu membumbung naik ke atas, kecuali membentur kubah keras yang menghalanginya sehingga ia mengelak (untuk mencari jalan) ke samping kanan dan kiri, dan begitu lepas dari kubah tadi, ia pun menembus udara membumbung ke atas karena udara tidak bisa menahannya.
Ia melihat, jika sebuah balon kulit ia isi penuh dengan udara, lalu diikat dan dimasukan ke dalam air, balon itu selalu berusaha menaik (ke permuakaan air) dan mengelak dari pegangan di bawah air. Balon itu terus berusaha menaik (dan membebaskan diri dari air) sampai ia berada di permukaan air berudara. Itu artinya, balon keluar (dan lepas) dari dalam air. Seteelah mencapai permukaan air, balon itu diam dan tidak bergerak. Tekanan dan kecenderungan untuk mengarah ke atas yang ditemukan Hayy sebelum itu, kini telah terhenti dan lenyap.
Ia mengamati, adakah benda yang bebas dari alternatif kedua gerak itu, atau tidak mempunyai kecenderungan gerak seperti itu di waktu tertentu? Sepengetahuannya, belum ada benda seperti itu. Ia mencarinya, karena ia memang ingin menemukannya. Karena itu, ia melihat watak benda dari segi ia benda tanpa dihubungkan dengan sifat tertentu yang merupakan sumber pluralitas.
Pencariannya ini membuat Hayy payah. Tetapi ia masih juga memeriksa benda-benda yang paling sedikit mempunyai sifat (yang menunjuk kelakuannya). Ternyata tidak ada benda yang bebas dari kedua alternatif sifat “berat” dan “ringan”. Ia mengamati (kedua sifat) “berat” dan “ringan” ini, adakah dimiliki benda dari segi ia benda (per se)? Ataukah keduanya mengimplikasikan pengertian tambahan kepada makna kebendaan, sebab kalau kedua sifat itu benar-benar dimiliki benda dari segi ia benda, pasti semua benda memiliki kedua sifat tersebut.
Padahal kita dapatkan, benda yang berat tidak memiliki sifat “ringan” demikian pula sebaliknya, benda ringan tidak memiliki seifat “berat”. Pasti kedua-duanya (yakni “benda berat” dan “benda ringan”) adalah dua benda yang masing-masing memiliki penegrtian tersendiri, lepas dari makna lain, penambah pengertian kebendaannya (jasmiyyah). Tanpa pengertian yang menjadi pembeda masing-masing dari keduanya itu, tentu “benda berat” dan “benda ringan” adalah sesuatu yang tungggal dari segala seginya.
Jelas baginya, hakekat setiap “benda berat” dan “benda ringan” tersusun dari dua penegrtian. Pertama, pengertian dimana terbentuk keterpaduan dari keduanya, yakni pengertian kebendaan (al-jasmiyyah); dan kedua, pengertian yang membedakan hakekat benda yang satu dari benda lainnya, yaitu berupa “berat” pada benda yang satu, dan”ringan” pada benda yang lain, tetapi yang keduanya tetap dihubungkan dengan pengertian kebendaan, yaitu pengertian yang menggerakan benda yang satu (menaik) ke atas dan  benda yang lain (menurun) ke bawah.
9

Hayy meneliti pula semua benda, yang mati dan yang hidup. Ia melihat, hakekat wujud setiap benda terdiri dari pengertian kebendaan (al-jasmiyyat) dan pengertian tambahannya, mungkin satu atau lebih. Tampak, “bentuk-bentuk” berbagai benda dengan segala perbedaannya. Dan itulah yang pertama-tama ia lihat dari alamm ruhani, sebab “bentuk” tidak bisa dicerap dengan indera, tetapi dengan semacam pemikiran rasional. Sejumlah penampakan pun terlihat olehnya.
Yaitu bahwa, ruh hewani yang bertempat di hati (qalb) sebgaimana telah di terangkan di depan, pasti memiliki pengertian tambahan atas kebendaannya sesuai dengan pengertian tambahan atas kebendaannya sesuai dengan pengertian tersebut, supaya dapat melakukan proses-proses menakjubkan yang menjadi ciri khasnya, berupa ragam penginderaan, disiplin pencerapan, dan macam gerakan. Pengertian itulah “bentuk” dan pembeda yang membedakannya dari segala benda. Itulah yang disebut filosuf jiwa hewani (nafs Haywaniyah).
“Ssuatu” yang bagi tetumbuhan berfunsi sama sebagai panas instinkif bagi binatang, juga mempunyai “sesuatu” yang memberinya ciri khas sebagai “bentuk”nya. “Sesuatu” itulah yang disebut para filosuf jiwa nabati (nafs nabattiyah). Demikianlah, semua benda mati, yang selain binatang dan tumbuh-tumbuhan, berada di dalam dunia penciptaan dan kehancuran—juga mempunyai “sesuatu” yang menjadi khasnya. Masing-masing mempunyai kelakuan yang menjadi ciri khasnya, seperti bermacam gerakan dan kualitas inderawi. Itulah “bentuk” masing-masing dari mereka, dan itulah yang disebut para filosuf dengan tabiat (al-tabi’at).
Hayy telah menyaksikan (dan berkesimpuan) bahwa hakekat ruh hewani, yang dirindukannya senantiasa, tersusun dari pengertian kebendaan ( al-jasmiyyat) dan makna tambahan lain; bahwa pengertian kebendaan ini menyeluruh dimiliki semua benda, dan pengertian lain penghubungnya (atau penyertanaya) menimbulkan kekhasan tersendiri baginya (yang tidak dimiliki lainnya). Karena itu semua, ia memandang rendah pengertian kebendaan itu. Ia lalu membuangnya, sehingga kini pikiranya terpaku pada pengertian kedua yang disebut dengan “jiwa” (nafs). Ia ingin sekali mengetahuinya, sehingga pikirannya dicurahkan sepenuhnya untuk itu.
Pengamatanya ini dimulai kepada semua benda, bukan dari segi benda sebagai benda, tetapi dari segi esensi “bentuk” yang menimbulkan ciri khas yang membedakan sebagian benda dari yang lain. Ia meruntut (pengamatannya atas benda-benda) itu dan mengolahnya dalam pikiran. Maka ia melihat, sejumlah benda sama-sama memiliki sebuah “bentuk” yang darinya timbul sesuatu atau beberapa perilaku tertentu. Ia pun melihat, di antara sejumlah benda yang sama-ssama memiliki bentuk itu, ada sekelompok benda mempunyai “bentuk” lain yang darinya timbul beberapa perilaku tertentu.
Dari kelompok itu pula, yang sama-sama memiliki bentuk pertama dan kedua, ia melihat sekelompok (benda-benda) disamping (kelompok benda kedua tadi) memiliki “bentuk” ketiga darimana timbul perilaku yag khas. Misalnya, benda-benda bumi, seperti tanah, batu, barang tambang, tetumbuhna, hewan serta berbagai benda berat lainnya –adalah sejumlah (benda) yang sama-sama memiliki satu “bentuk” (surat) darimana muncul gerak menurun ke atas bawah, asalkan tidak dihalangi sesuatu. Dan bila secara paksa benda-benda tersebut digerakan ke atas lalu didlepas, benda-benda itu bergerak ke bawah dengan “bentuk”nya.
Pada sebagian (benda) ini, yakni tumbuh-tumbuhan dan binatang – yang juga memiliki “bentuk” sama dengan (benda) terdahulu – bertambah suatu – “bentuk” lain, darimana muncul kelakuan memakan dan bertumbuh. Kelakuan memakan ialah proses dimana si pemakan mengubah bagian tubuhnya yang rusak untuk diganti dengan materi yang sama sehingga menyerupai substansinya, yang ditariknya ke (dalam) ddirinya. Sedangkan kelakuan bertumbuhialah gerakan pada ketiga sisi panjang, lebar dan tingginya, menurut ukuran yang terpelihara.
Itulah dua kelakuan yang secara umum dimiliki tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan yang tentunya muncul dari suatu “bentuk” yang sama-sama dimiliki oleh mereka berdua. “Bentuk” itu disebut jiwa nabati (nafs nabattiyat).
Segolongan lain dari kelompok (benda) ini, yakni binatang khususnya, di samping “bentuk” pertama dan “bentuk kedua” yang juga dimiliki oleh kelompok (benda) terdahulu, juga memiliki sautu “bentuk” ketiga darimana muncul indera dan kelakuan, yakni berpindah-pindah dari waktu ke waktu.
Hayy juga melihat, setiap species binatang memiliki ciri khas yang membedakannya dari species-species yang lain, dan sekali gus merupakan kelebihannya. Ia mengetahui, itu timbul dari suatu bentuk khasnya sebagai tambahan di samping “bentuk” yang sama-sama dimiliki olehnya dan oleh semua binatang lain. Demikian pula tiap species tumbuh-tumbuhan, mempunyai ciri khas seperti itu.
Karenanya, jelas bagi Hayy bahwa benda-benda indera yang berada di dalam alam penciptaan dan kehancuran, sebagainya memandatkan hakekatnya dari pengertian-pengertian yang banyak, tambahan di samping pengertian kebendaan (al-jasmiyyat), dan sebagainya lagi (memandatkan hakekatnya) dari pengertian-pengertian yang lebih sedikit. Hayy mengetahui bahwa lebih mudah mengetahui pengertian-pengertian yang lebih sedikit ketimbang mengetahui yang lebih banyak. Maka, semula ia berusaha mengetahui hakekat sesuatu (benda) yang hakekatnya terdiri dari hal-hal paling sedikit.
Ia melihat, binatang dan tumbuh-tumbuhan, hakekatnya terdiri dari pengertian-pengertian yang banyak disebabkan beragamnya kelakuan mereka. Karenanya, ia menunda dulu untuk memikirkan “bentuk-bentuk” mereka. Demikianlah ia melihat, sebagian bumi lebih sederhana ketimbang bagian lainnya. IA mencoba memikirkan bagian yang paling sederhana darinya. Demikianlah, ia melihat air sebagai benda yang sedikit komposisinya disebabkan sedikit kelakuan yang timbul dari “bentuk” nya. Demikian pula ia melihat api dan udara.
Semula Hayy mengira, salah satu dari keempat benda (tanah, iar, api dan udara) berubah menjadi yang lain, serta mempunyai “sesuatu” yang tunggal yang dimiliki secara bersama-sama oleh mereka. “Sesuatu” itu adalah pengertian kebendaan (al-jasmiyyat), dan “sesuatu” itu mesti bebas dari pengertian-pengertian lain yang membedakan keempat (benda) tadi, satu dari lainnya.
Karenanya “sesuatu” itu tidak mungkin bergerak (naik) ke atas atau (turun) ke bawah, tidak pulla menjadi panas dan dingin, tidak juga amelembab dan mengering, karena sifat-sifat tersebut tidak dimiliki secara umum oleh semua benda. Jadi, sifat-sifat tersebut tiak dimiliki benda sebagai benda. Sebab, apabila mungkin adanya benda yang tidak memiliki “bentuk” tambahan atas (pengertian) kebendaannya, tentu benda itu tidak akan memiliki salah satu sifat tersebut. Dan jika ia memilikinya, sifat itu pasti dimiliki pula secara umum oleh semua benda yang mempunyai bermacam “bentuk”.
Kini Hayy mengamati, adakah satu sifat tunggal yang dimiliki secara umum oleh semua benda, yang hidup dan yang mati. Ternyata tidak ada, kecuali pengertian rentangan pada semua benda, yang terdapat di alam tiga sisi-ukur yang disebut “panjang”, “lebar”, dan “tinggi”. Ia mengetahui, pengertian ini dimiliki benda dari segi ia benda. Tetapi, tidak ada benda inderawi yang hanya memiliki satu pengertian ini saja tanpa pengertian tambahan di samping rentangan tersebut dan bebas sama sekali dari semua “bentuk”.
IA berpikir tentang rentangan ke arah ke tiga sisi-ukur tadi, apakah merupakan pengertian benda dengan sendirinya dan bukan pengertian lain, ataukah tidak demikian? Ia melihat, disamping rentangan ini da pengertian lain yang mengandung (pengertian) rentangan itu. Rentangan itu pun mustahil ada sendirinya, sebagaimana (benda) yang direntang mustahil ada sendiri tanpa rentangan.
Itu ia alami melalui beberapa benda inderawi yang memiliki “bentuk”, seperti tanah. Ia melihat, jika Hayy memprosesnya menjadi sebuah bentuk seperti bola, misalnya, maka tanah itu memiliki panjang, lebar dan tinggi tertentu. Dan bola itu sendiri – meskipun Anda mengambilnya dan tampak (diubah) ke bentuk empat persegi panjang atau bulat dikarenakan perubahannya (ukuran) panjang, lebar dan tinggi serta berbeda dari ukuran sebelumnya – tetapi tanahnya itu sendiri tetap satu, tidak berubah.
Dan tanah itu memang harus mempunyai (ukuran) panjang, lebar dan tinggi tertentu, dan mustahil tanpa itu. Tapi, karena perubahan itu senantiasa terjadi padanya, tampaknya “bola” itu satu pengertian yang melekat pada perubahan tanah. Apalagi tanah sama sekali tidak bisa dilepas dari (bentuk bola bumi atau globe), maka tampak di mata Hayy bahwa (bentuk bola) itulah sebagian hakekatnya.
Dari pengalaman ini, jelas bagi Hayy bahwa benda sebagaimana ia benda, pada hakekatnya terdiri dari dua pengertian :
Pertama, pengertian yang dalam contoh di atas, menempati kedudukan tanah bagi bola. Kedua, pengertian yang menempati kedudukan pangjang, lebar dan tingginya bola tadi, atau segiempat, atau bentuk apa saja lainnya.
Benda hanya dimengerti tersusun dari kedua pengertian di atas, yang masing-masing saling berhubungan. Tetapi, (penegrtian) yang dapat berubah-ubah dan berganti-ganti ke dalam banyak bentuk – yakni, pengertian rentangan – menyerupai “bentuk” yang dimiliki semua benda yang berbentuk; sedangkan (pengertian) yang menetap pada satu keadaan – yaitu, pengertian yang, dalam contoh di atas, menempati posisi tanah – menyerupai pengertian kebendaan (al-jasmiyyat) yang dimiliki semua benda yang berbentuk. Adapun “sesuatu” yang, dalam contoh di atas, menempati posisi tanah, itulah yang disebut oleh para filosuf “materi” (maddat) dan “hoyle” (hayula), yang sama sekali tidak dikenai “bentuk” (surat).

10
 Pengamatannya telah sampai di batas ini, ia telah dapat membeda-bedakan benda (benda) inderawi sedemikian rupa. Ia telah menyaksikan batas-batas alam rasional. Kini ia gundah (karena merasa tersasing), dan mulai merindukan sesuatu yang ditata dari dunia indera. Ia mundur selangkah, meninggalkan benda (jism) yang total. Sebab, benda itu sesuatu yang tak tercerap indera, dan Hayy sendiri tidak mampu memperoleh seluruhnya. Karena itu, Hayy mengambil benda-benda paling sederhana yang dissaksikannya, yaitu keempat benda (tanah, air, api dan udara) yang pernah menarik perhatiannya.
Di antaranya, pertama ia melihat air. Hayy mengamati, jika dibiarkan dan tidak ditetapi bentuknya, air mengeluarkan rasa dingin yang terindera, dan berusaha turun (mengalir atau menetes) ke bawah. Tetapi, jika ia mulai mendidih karena api atau panas matahari, air kehilangan rasa dinginnya meskipun tetap berusaha turun ke bawah. Namun setelh air itu sangat mendidih, usahanya turun ke bawah menghilang. Air kini berusaha naik ke atas. Jadi, kedua sifat yang senantiasa muncul dari bentuknya telah lenyap sama sekali. Dan ia mengetahui, yang timbul dari bentuknya, memang hanya kedua perilaku itu.
Setelah kedua perilaku itu lenyap, maka hukum “bentuk” tadi menjadi tidak berlaku. Akibatnya, bentuk keairan (surat maiyyat) lenyap dari air itu berbarengan dengan munculnya perilaku-perilaku lain, yang seharusnya muncul dari bentuk-bentuk lain. Air itu kini memiliki suatu bentuk baru, yang sebelumnya tak pernah ada, dan dari itu muncul pula perilaku-perilaku baru yang mestinya muncul dari air di bentuk semula.
Karenanya, secara pasti ia mengetahui, setiap sesuatu yang baru (ciptaan, hadist) tentu harus mempunyai pencipta (muhdits). Melalui pengalaman ini tergambar secara global di benaknya, mengenai adanya pelaku (fa’il) bagi “bentuk” itu.
Kini ia menelusuri “bentuk-bentuk” yang telah ia perhatikan sebelum ini, bentuk demi bentuk. Ia melihat, semua bentuk itu adalah hadits, dan mesti mempunyai seorang pelaku (fa’il). Ia lalu melihat kepada esensi “bentuk-bentuk”, yang tampaknya lebih siap ketimbang  benda untuk menimbulkan kelakuan (fi’il). Air, misalnya, jika sangat mendidih, siap dan cocok untuk bergerak ke arah atas. Kesiapan itulah “bentuk”nya, sebab yang ada di sini hanyalah sebuah benda dan hal-hal yang mengindera darinya, yang sebelumnya tak ada. Jadi, kecocokan benda bagi gerakan tertentu, itulah kesiapan benda itu dengan “bentuk”nya.
Ia melihat itu pada semua “bentuk”. Maka tampak, kelakuan-kelakuan yang timbul dari “bentuk-bentuk” itu pada hakekatnya bukanlah milik mereka, tetapi milik seorang pelaku (fa’il) yang dengan “bentuk-bentuk” tadi melakukan kelakuan-kelakuan yang dihubung-hubungkan kepada mereka. Bagi Hayy, pengertian inilah (sebenarnya) sabda Rasulullah Saw., “Akulah pendengar-Nya yang mendengar dengan-Nya, dan penglihatan-Nya yang melihat dengan-Nya.” (al-Bukhari). Di dalam Quran disebutkan, “Sebenarnya bukanlah kamu membunuh mereka, tetapi Allah membunuh mereka. Dan bukanlah kau (Muhammad) yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah yang melempar.” (QS. Al-Anfal : 17)
Masalah pelaku (fa’il) itu telah tampak pada Hayy secara globatl, belum terinci. Kini Hayy mulai merindu dan ingin sekali mengetahuinya secara rinci. Namun karena Hayy belum bisa melepaskan diri dari alam penginderaan, ia pun berusaha (mengetahui) pelaku (fa’il) tadi dari segi obyek-obyek inderawi. Ia memang masih belum mengetahui apakah pelaku itu seorang atau lebih? Karenanya, kini ia meneliti semua benda yang dilihatnya, yang senantiasa menjadi pemikirannya.
Ia melihat, semua benda itu terkadang tercipta dan terkadang menghancur. Dan jika Hayy tidak melihat kehancuran itu terjadi pada benda keseluruhan, ia pasti melihatnya terjadi pada sebagian. Misalnya, air dan tanah, ia melihat partikelnya hancur karena (terbakar) api. Demikian pula udara, ia melihatnya hancur disebabkan dingin yang keras, sehingga tercipta es yang mengalir air.
                                               
Demikianlah, ia melihat semua benda tidak terbebas dari kebaruan (huduts) dan kebutuhan akan pelaku yang berkehendak (fa’il mukhtar). Semua itu ia lempar (dan ia lupakan), dan kini pikirannya beralih kepada benda-benda samawi.
Pengamatan dan pemmikiran tersebut di atas berakhir pada awal pekan keempat dan sejak Hayy memulainya, ketika ia berumur duapuluh delapan tahun.

11



Kini ia mengetahui, langit se isinya berupa bintang-bintang adalah benda, karena semuanya terentang dalam ketiga sisi ukur : panjang, lebar dan tinggi. Tak ada bagian langit terbebas dari sifat ini. Dan tiap sesuatu yang idak terbebas dari sifat itu adalah benda. Jadi, langit semuanya adalah benda-benda.

Ia berpikir, apakah langit terentang tanpa batas dan senantiasa berangkat menuju tanpa batas luas, panjang dan tinggi? Ataukah langit itu berbatasan batas-batas yang memotong bagian-bagiannya, dn mustahil di balik langit ada sesuatu rentangan? Hayy agak kebingungan memikirkan itu.
Namun dengan kekuatan fitrah dan kecerdasan pemikirannya, ia berpendapat, sebuah benda tanpa batas adalah sia-sia, sesuatu yang mustahil, sebuah pengertian yang tidak rasional. Kesimpulannya ini dikuatkan oleh banyak argumen rasional yang muncul di lingkungan dan di dalam dirinya sendiri.
Itulah sebabnya ia berkata (sendiri). “Benda samawi itu terbtas dari sisi dan arah yang dipersepsi inderaku, Aku tidak meragukannya, karena aku mencerapnya dengan penglihatanku. Adapun sisi di balik sisi (yang langsung ku persepsi), di mana aku meragukannya, juga mustahil terentang tanpa batas.
“Sebab, aku mengandaikan dua buah garis, yang dimulai dari (sebuah titik pada) sisi yang terbatas ini, terus melewati bidang-bidang benda menurut rentangannya tanpa batas. Kemudian ku bayangkan, salah satu garis tadi memotong sebagian besar sisi ujungnya yang terbatas, sedang sisanya diambil sebagian dan garis yang terpotong dipadukan dengan garis yang sama sekali belum terpotong. Demikianlah, pengandaian tadi dipraktekan pada sisi yang dikatakan tidak terbatas.
“(Dari percobaan itu akan timbul dua alternatif) “ barang kali kita akan mendaptkan kedua garis itu senantiasa merentang tanpa batas. Garis satunya tidak mengurangi garis yang lain, sehingga garis yang dipotong sebagian akan menjadi sama dengan garis yang tidak terpotong oleh garis lain. Tetpai ini mustahil, sebagaimana pluralitas mustahil sama dengan partikularitas. Atau alternatif kedua : barangkali garis yang berkurang, itu selamanya tak kan pernah merentang bersamanya, tapi terputus di luar jalannya dan berhenti merentang sehingga menjadi terbatas.
“Dan apabila ukuran yang dipotong semula telah menjadi terbatas, maka semuanaya juga menjadi terbatas. Sehingga garis itu tidak lebih pendek dan tidak lebih panjang dari garis lain yang dipotong, dan akibatnya keduanya menjadi sama, yaitu terbats. Garis-garis itu juga bisa diandaikan pada setiap benda, sehingga semua benda menjadi terbatas, Jika kita mengandaikan bahwa ssuatu benda tidak  terbatas, maka kita telah mengandaikan sesuatu yang sia-sia dan mustahil.
Berdasar fitrahnya yang tinggi yang memunculkan argumentasi rasional seperti di atas, ia berpendapat, benda di langit itu benar terbatas. Kini ia ingin mengetahui bagaimanakah bentuknya (shakl) dan bagaimana pula permukaan benda langit itu terbatasi.
Pertama ia melihat matahari, bulan dan bintang. Tampak mereka semua terbit dari timur dan tenggelam di barat. Setiap kali ada benda langit melintas di atas zenitnya, ia melihat benda itu memotong sebuah garis edar besar. Dan setiapkali ada benda langit menjauhi zenitnya condong ke arah utara atau ke selatan, ia melihat benda langit itu memotong garis edaryang lebih kecil. Dan begitulah, semakin benda itu menjauhi zenitnya ke utara atau ke selatan, maka garis edarnya lebih kecil lagi daripada sebelumnya. Begitu seterusnya. Maka garis edar planet yang terkecil ada dua. Yaitu tempat beredarnya bintang Sagitarius (Suhayl) di sekitar kutub selatan, dan tempat beredarnya bintang Makara (Farqadayn) di sekitar kutub utara.
Sebelum ini telah kita terangkan, Hayy sendiri bertempat tinggal di (sebuah pulau di) katulistiwa. Karenanya, semua garis edar itu tentu berada di atas permukaan ufuknya, dan keadannya di selatan dan utara serupa dan sama, serta kedua kutub tadi secara bersamaan tampak olehnya. Hayy memang menyaksikan, jika sebuah bintang muncul pada sebuah garis edar besar dan bintang lainnya muncul di garis edar kecil, keduanaya tampak muncul bersamaan. Begitu pula, ia melihatnya tenggelam bersamaan.
(Kesimpulan hasil pengamatannya) itu ia ujikan kepada semua bintang dan setia waktu. Dengan itu tampak di mata Hayy, orbit bintang (falak) berbentuk bola. Keyakinan itu dikuatkan oleh kenyataan bahwa matahari, bulan dan semua bintang kembali lagi ke timur, setelah mereka tenggelam di sebelah barat, Juga oleh kenyataan bahwa di waktu terbit, kulminasi atau tenggelamnya, semua bintang (atau planet) tampak berukuran sama. Menurut pendapatnya, jika gerakan planet itu tidak berbentuk bola, maka disaat tertentu planet (atau bintang-bintang) itu pasti kelihatan lebih besar ketimbang di waktu lain.
Jika benar demikian, ukuran bintang-bintang itu akan tampak berbeda-beda. Sewaktu dekat, bintang-bintang itu akan kelihatan lebih besar ketimbang yang dilihatnya di tempat jauh. Ini disebabkan jarak kejauhan bintang-bintang itu dari titik pusatnya, berbeda dari semula. Karena itu sama sekali tidak terjadi, jelaslah baginya bahwa (falak) itu berbentuk bola.
Hayy masih terus meneliti gerakan bulan. Tampak, gerakannya berlangsung dari barat ke timur. Begitu pula gerakan bintang-bintang yang beredar lainnya. (Dengan pengamatannya itu) ia memperoleh ilmu astronomi dalam jumlah besar. Tampak pula olehnya, gerakan bintang-bintang itu hanya terjadi dengan adanya banyak falak, yang kesemuanya tercakup di sebuah falak teratas (diantara falak-falak lain yang banyak itu). Falak yang stu itulah yang menggerakan semua (falak lain beserta bintang dan planetnya)dari timur ke barat, siang dan malam.
IA menerangkan proses perpindahannya. Dan pengetahuan tentang itu sangat luas dan telah diterangkan di berbagai buku. Kami tidak perlu menjelaskannya, karena yang kami pentingkan hanyalah menjelaskan tentang ukuran seperti tersebut di atas.

12

Kini Hayy telah memiliki pengetahuan itu. Ia telah mengetahui, seluruh falak serta isinya bagaikan sesuatu yang tunggal yang bagian-bagiannya berhubungan satu sama lain. Ia telah mengetahui, benda yang dilihatnya semula (di falak), misalnya tanah, air, udara, tetumbuhan, binatang dan lain sebagainya, semuanya termasuk kandungan falak itu dan bukan di luarnya. Semua itu dapat disamakan seekor binatang : Bintang-gemintang (linnya) yang gemerlapan berkedudukan sebagai indera-indera bintang itu. Sedangkan berbagai falaknya yang saling behubungan satu sama lain berkedudukan sebagai anggota tubuh binatang itu. Dan benda di dalamnya yang mengalami penciptaan dan kehancuran berkedudukan sebagai aneka sisa makanan dan hijau-hijauan. Di dalam perut itu juga seringkali tercipta seekor binatang lain, sebagaimana yang tercipta di alam besar (makrokosmos, ‘alam akbar).
Jelaslah kini bagi Hayy, pada hakekatnya semua itu bagaikan sebuah sosok yang tunggal. Menurut pendapatnya, bagian-bagian dari benda yang sangat banyak itu menyatu melalui semacam penanganan. Dengan penanganan itu, benda-benda yang berada di alam penciptaan dan kehancuran menyatu.
Setelah itu semua, Hayy kini berpikir tentang alam (kosmos) seluruhnya : apakah itu tercipta dari tiada, yang mewujud setelah sebelumnya tiada? Ataukah kosmos itu telah ada sejak dahulu tanpa pernah didahului ketiadaan? Ia ragu-ragu memutuskan, sebab ia belum bisa memastikan yang benar dari kedua pertanyaan di atas.
Sebabnya, kalau Hayy meilih mempercayai (alam itu) kadim, ternyata banyak fenomena yang menyatakan kemustahilan adanya sesuatu yang tanpa batas. Berdasarkan analogi untuk pembuktian mustahilnya benda yang tak berbatas, ia juga memastikan, benda yang ada (wujud) ini tidak bebas dari kebaruan (hawadith). Mustahil mendahulukan wujud atas hawadith. Sesuatu yang mustahil mendahului yang hawadith, maka ia pun dicipta sebagai yang baru (muhdath).
Demikian pula, jika Hayy memilih mempercayai (alam itu) hadits, ternyata banyak fenomena lain yang memberatkannya. Sebab, menurut pendapatnya, huduth atau kebaruan benda yang sebelumnya tiada, baru bisa dimengerti bila ada “waktu” mendahuluinya. Padahal “waktu” termasuk bagian tak terpisah dari alam. Jadi, kesimpulan bahw alam mesti lebih lambat daripada waktu (zaman) itu tak dapat diterima.
Demikian pula, menurut Hayy, jika alam itu tidak hadith, tentu ia mempunyai pencipta (muhdith). Dan muhdith ini, mengapa menciptanya sekarang bukan kemarin? Apakah karena terjadi sebab lain? Bukankah tak ada yang selain dirinya? Ataukah karena terjadi perubahan pada esensinya? Jika itu benar, apa penyebabnya?
Selama beberapa tahun, Hayy terus memikirkan soal tersebut. Telah banyak argumen rasional bermunculan, tetapi gagal menolak salah satu dari dua keyakinannya.
Soaltersebut membuat Hayy payah. Tetapi kini ia mencoba berpikir tentang kemestian yang timbul dari setiap keyakinanya, barangkali pemestinya (al-azim) adalah tunggal.
Bagi Hayy, jika ia percaya alam itu tidak mewujud dari sebelumnya tiada, mestinya alam itu tidak mewujud dengan sendirinya, tetpai diwujudkan oleh seorang pelaku (fa’il). Pelaku itu mustahil dapat dicerap dengan indera, pelaku itu tentunya sebuah benda. Dan jika benda, pelaku itu tentunya sebagian dari alam, yang hadits dan memerlukan seorang muhdath. Dan jika muhdath yang kedua itu juga sebuah benda, tentu muhdath ini pun memerlukan seorang muhdath yang ketiga, yang keempat, demikian seterusnya beruntun tanpa batas. Dan yang begini sia-sia.
Jadi, alam itu harus punya pelaku bukan benda. Dan jika pelaku itu bukan benda, tentu mustahil (kita) mencerapnya dengan salah satu indera. Sebab kelima indera hanya dapat mencerap benda-benda atau bagian benda. Jika (pelaku) mustahil dicerap melalui indera, pelaku itu pun tentu tak dapat dibayangkan melalui khayalan, karena proses menghayal tidak lain adalah proses menghadirkan “bentuk-bentuk” objek cerapan yang sebelumnya tiada.
Dan jika bukan benda, pelaku itu pun (bebas dari) sifat pokok (benda), yaitu kerentangan panjang, lebar dan tinggi. Pelaku itu suci dari sifat pokok tersebut dari semua bagiannya. Jika pelaku itu pelaku bagi alam, tentu ia berkuasa serta mengetahuinya. (Firman Allah), “Tidakkah ia tahu siapa yang ia ciptakan, sedang Ialah Yang Mahasantun, Yang Mahatahu?
Hayy juga berpendapat, jika ia yakin alam itu kadim, tidak didahului oleh ketiadaan (‘adam), dan tetap ada sebagaimana (dulu), maka mestinya gerakan alam adalah kadim tanpa batas awal, karena ia tidak didahului oleh keadaan diam sebagai pemulanya. Dan setiap gerakan seharusnya mesti ada penggeraknya. Dan penggerak itu mungkin berupa suatu daya kekuatan yang mengalir di dalam sebuah benda – barangkali benda dari si penggerak itu sendiri, aau bnda lain di luarnya – atau mungkin daya kekuatan itu bukanlah yang mengalir dan menyebar di benda.
Dan setiap daya kekuatan yang mengalir dan menyebar di sebuah benda, itu terbagi-bagi menurut pembagian benda itu sendiri serta berlipat ganda menurut kelipatgandaan benda. Misalnya, daya berat batu yang bergerak ke bawah. Jika batu itu dibagi menjadi dua potong, atau ditambah dengan batu lain yang serupa dengannya, sehingga beratnya tanpa batas, maka beratnya pun akan bertambah berlipat ganda tanpa batas. Dan jika batu itu (ditambah) sebesar tertentu, beratnya pun akan sebatas itu ssaja.
Padahal terbukti, setiap benda pasti terbatas. Karena itu, setiap daya kekuatan pada benda, itu pasti terbatas. Daya kekuatan yang kita temukan, itu tentu bukan pada suatu benda. Dan kita telah mengetahui, falak senantiasa bergerak tanpa batas, kadim tanpa awal. Konsekuensinya, daya kekuatan yang bergerak itu tidak pada benda (atau tubuh) falak, dan tidak pula di luarnya.
Jadi, daya kekuatan itu dimiliki sesuatu yang bebas dari benda-benda, dan tidak dapat diberi sifat yang dimiliki kebendaan (al-jasmiyyah). Dan dari pengamatan awal terhadap alam penciptaan dan kehancuran, telah tampak oleh Hayy bahwa hakekat wujud setiap benda tidak lain berasal dari sudut “bentuk” nya yang merupakan kesiapan benda itu untuk melakukan berbagai macam gerakan. Dan dampak olehnya, wujud setiap benda dari segi “materi”nya adalah wujud lemah yang hampir-hampir tak dapat dicerap (oleh indera).
Dan wujud alam seluruhnya tak lain berasal dari kesiapan alam itu untuk digerakan oleh penggerak, yang bebas dari materi dan dari sifat benda, yang suci dari pencerapan inderawi atau khayalan. Penggerak itu Mahasuci. Dan jika (penggerak) itu merupakan seorang pelaku bagi beragam gerakan falak itu, secara apik, sempurna dan tanpa cacat, maka Penggerak (Sang Pelaku) itu tentu berkuasa dan mengetahui segala gerakan tersebut.
Dengan cara demikian, pemikiran Hayy sampai pada kesimpulan yang pernah ia capai melalui cara sebelum ini. Keraguannya mengenai (keyakinannya semula). Berdasar ke dua sudut (pandang) itu, Hayy dapat membuktikan secara benar adanya seorang Pelaku (fa’il) yang bukan benda, tidak berhubungan atau terpisah dari benda, tidak masuk di dalam dan tidak pula di luar benda itu. Sebab keterhubungan, keterpisaha dan kemasukan, semuanya termasuk sifat-sifat benda. Pelaku itu bebas dari sifat-sifat (bendawi) ini.
“Materi” tiap benda selalu menuntut adanya “bentuk” sebab “materi” tidak mungkin ada tanpa adanya “bentuk”. Begitu pula “materi” itu takkan mempunyai hakekat tanpa mempunyai “bentuk”. Tetapi “bentuk” itu sendiri itu tidak mugnkin ada tanpa adanya kekuatan dari si Pelaku. Karena itu, jelas bagi Hayy, semua hal yang diwujudkan (al-mawjudat) menuntut, dalam wujudnya, adanya Pelaku. Tak satu pun dari mawjudat bisa ada tanpa Pelaku. Jadi Pelaku itu adalah Sebab (‘illat) magi mawjudat yang merupakan akibatnya, baik mereka hadith adanya karena didahului ketiadaan (‘adam), atau mereka tidak berpemulaan dari segi waktu karena tidak didahului ketiadaan sama sekali.
Pada kedua keadaan tersebut, mereka adalah akibat dan memerlukan Pelaku karena wujud tergantung pada-Nya. Jika pelaku itu tidak kekal, mereka juga tidak kekal. Jika Pelaku itu tidak ada, mereka juga tidak akan ada. Jika Pelaku itu tidak kadim, mereka juga tidak kadim. Dan pada esensinya, Pelaku itu tidak memerlukan mereka dan bebas dari mereka! Bagaimana takkan demikian, padahal telah terbukti kekuasaan-Nya tidak terbatas, sedangkan semua benda dan sesatu yang berhubungan atau bergantung pada mereka, meskipun hanya sedikit. Adalah terbatas.
Jadi, alam dengan segala isinya berupa langit, bumi dan bintang serta segala yang berada di arah depan, atas dan bawah, adalah perbuatan dan ciptaan-Nya. Dan secara logis, alam itu lebih lambat (mutakhir) dari Tuhan menurut esensinya (bi-al-Zat), bukan menurut waktu (bi-al-zaman).
Itu dapat dicontohkan sebagai berikut : Jika anda menggenggam sebuah benda di tangan, lalu Anda menggerakan tangan Anda, tentu benda itu bergerak mengikuti gerakan tangan Anda, tetapi dengan suatu gerakan lebih lambat ketimbang gerakan tangan Anda, sebagai keterlambatan menurut esensinya. Keterlambatan itu bukanlah dari segi waktu, sebab waktu merupakan awal dari gerakan mereka berdua secara bersama-sama. Demikian pula alam seluruhnya, merupakan akibat serta ciptaan sang Pelaku, dengan tanpa waktu. (Firman Allah), “Sungguh, keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”
13

Hayy telah melihat, semua mawjudat adalah perbuatan-Nya. Kini ia mengamati kekuasaan san Pelaku, berdassar pengalaman. Ia takjub melihat keanehan ciptaan-Nya, kelembutan hikmat-Nya, dan kecermatan pengetahuan-Nya. Tampak, pada benda-benda paling kecil, apalagi yang besar, ada jejak hikmat dan keindahan ciptaan darimana timbul segala ketakjuban. Terbukti oleh Hayy, semua itu hanya berasal dari seorang Pelaku Berkehendak yang Maha Sempurna, di mana “tiada tersembunyi dari-Nya sebessar zarrah pun di langit dan di bumi, dan tiada sesuatu pun yang lebih kecil, atau lebih besar dari itu.”
Kini Hayy mengamati semua binatang, bagaimana “Dia memberikan ciptaan-Nya kepada setiap sesuatu, kemudian memberikan petunjuk kepadanya.” Agar mempergunakannya. Jika Dia tidak memberikan petunjuk kepada binatang itu agar mempergunakan anggota badan yang dicipta supaya dimanfaatkan menurut fungsinya masing-masing, tentu binatang itu takkan bisa memanfaatkannya, dan anggota tubuh itu pun bakal sia-sia. Dengan itu Hayy mengetahui, Pelaku itu Mahamulia dan Mahapengasih.
Hayy memang melihat, benda yang ada senantiasa mempunyai keindahan, daya tarik, atau kesempurnaan, kekuatan atau sesuatu keutamaan – bagaimanapun bentuknya. Namun Hayy berpikir dan mengetahui, semua (kelebihan) itu berasal dari emanasi (fayd) Sang Pelaku Yang Berkehendak itu – Mahabesar Dia – dan dari Kedermawanan-Nya, dari Perbuatan-Nya. Maka Hayy mengetahui, (kelebihan) yang ada pada esensi-Nya jauh lebih besar, lebih sempurna, lebih indah, lebih berdaya tarik, lebih cantik, dan lebih kekal dari semua itu. Tak ada hubungan (nisbat) antara (kelebihan) mereka dengan (kelebihan)-Nya.
Hayy masih menelusuri dan meneliti semua sifat kesempurnaan itu. Ia melihat semua itu milik-Nya dan berasal dari-Nya. Hayy melihat Dia lebih berhak atas semua sifat itu ketimbang setiap yang diberi sifat-sifat itu selain Dia.
Hayy pun menelusuri dan meneliti semua sifat ketidaksempurnaan. Ia melihat Dia bebas dan sci dari semua itu. Bagaimana Dia tidak bebas dar semua sifat ketidaksempurnaan padahal “ketidaksempurnaan” tidak lain berarti “ketiadaan yang murni” (‘adm mahd), atau merupakan suatu yang bergantung pada ketiadaan itu? Dan bagaimana “ketiadaan” itu berhubunagn atau mengenai pada seorang yang merupakan mawjud yang murni (mawjud mahd), yang Wajib ada menurut esensi-Nya, Pemberi wujud kepada setiap yang mempunyai wwujud. Maka tidak ada wujud kecuali Dia. Dialah Yam Mampu, dan Yang Berpengathuan. Dia adalah Dia (Huwa-Huwa). “Tiap sesuatu hancur kecuali wajah-Nya”.
Pengetahuan Hayy telah sampai ke batas ini, di awal minggu ke lima dari perkembangannya. Yaitu di saat ia berumur tiga puluh lima tahun. Masalah pelaku itu telah berkesan mantap dan meyakinkan di hatinya. Hanya (hakekat) Pelaku itu yang gmenyibukan pikirannya. Dari pengamatan dan pencariannya terhadap segala ciptaan (mawjudat) ia merasakan ketakjuban yang aneh terhadap dirinya. Sehingga, setiap kali penglihatannya terbentur pada suatu benda, yang terlihat olehnya hanyalah jejak ciptaan. Dan ketika itu juga terlintas dan terbayang dalam pikirannya tentang Pencipta, menggantikan kesan tentang ciptaan itu. Ia kini sangat merindukan-Nya. Hatinya sudah sama sekali tidak menghiraukan alam terendah yang tercerap indera (‘alam adna mahsus), tapi kini sudah terpaut pada alam tertinggi yang tercerap akal (‘alam arfa’ ma’qul).


14


Hayy telah mencapai pengetahuan tentang Sang Mawjud Mahatinggi yang wujud-Nya tetap dan tanpa sebab, bahkan Dia-lah Sebab bagi adanya semua alam. Kini Hayy iangin mengetahui, dengan cara apa ia telah mencapai pengetahuan tersebut, dan dengan daya kekuatan apa ia telah mencerap Sang Mawjud itu?
Untuk itu, ia mengamati semua inderanya : yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pencicipan, dan perabaan. Ia melihat semua hanya mencerap benda, atau yang ada pada sebuah benda. Indera pendengaran mencerap objek-objek pendengaran (al-masmu’al), yaitu segala yang terjadi akibat gelombang udara di saat benda saling berbenturan. Indera penglihatan mencercap warna-warna. Indera penciuman mencercap bebauan. Indera pencicipan mencercap makanan. Dan indera perabaan mencercap campuran (benda), keadaan keras dan lembut, halus dan kasar.
Demikian pula daya kekuatan khayal, hanya mencercap benda yang mempunyai (sifat) panjang. Lebar dan tinggi. Semua pencerapan (mudrikat) itu termasuk bagian dari sifat benda. Dan indera hanya dapat mencercapnya. Sebabnya, karena indera adalah daya kekuatan yang menyebar  di benda, yang bila benda itu terbagi-bagi, maka daya kekuatannya pun terbagi pula. Karena itu, indera hanya dapat mencerap benda yang terbagi, sebab daya kekuatan itu menyebar di benda yang terbagi. Bila ia mencerap suatu benda, maka benda itu terbagi menuruti keterbagian daya kekuatannya. Dan daya kekuatan senantiasa berada di sebuah benda setiap ssaat. Karena itu, ia hanya dapt mencerap benda atau semacamnya.
Jelas bagi Hayy, Snag Wujud yang Mesti Ada itu, bebas dari sifat benda di segala seginya. Jadi, satu-satunya jalan untuk mencerap-Nya ialah hanya dengan sesuatu yang bukan benda, yang bukan daya kekuatan yang ada pada benda, yang sama sekali tidak berhubungan dengan benda, tidak berada di dalamnya dan tidak pula di luarnya, tidak berhubungan dengannya dan tidak pula terpisah darinya. Jelaslah, ia mencerap-Nya dengan esensinya. Pengetahuan tentang itu telah melekat dan mantap pada dirinya.
Maka jelas bagi Hayy,esensinya dengan mana ia mencerap-Nya adalah bukan benda. Setiap sesuatu yang ia cerap dari keadaan lahiriah esensinya. Hakekat esensinya yang benar adalah sesuatu yang dengannya Sang Mawjud Mutlak yang Wajib Adanya itu mencerap (ciptaan-Nya).
Kini Hayy mengetahui, esensinya bukan kebendaan yang ia cerap dengan inderanya itu, kebendaan yang melingkungi langit dan buminya. Setelah mengetahui itu, ia menilai benda tubuhnya sendiri sama sekali tak berharga. Ia mulai memikirkan tentang esensi (zat) yang mulia itu, yang dengannya ia mencerap tentang Sang Mawjud Mulia yang Wajib Adanya itu. Ia memeriksa esensi yang mulia itu pada esensinya sendiri, mungkinkah hancur, rusak dan memudar, ataukah kekal selalu?
Ternyata, ia melihat kehancuran dan kepudaran itu sebagian sifat benda untuk berganti “bentuk” dengan “bentuk” lain. Seperti, perubahan air menjadi udara, dan sebaliknya. Tumbuh-tumbuhanberubah tanah atau abu, dan sebaliknya. Inilah penegrtian “kehancuran”. Adapun sesuatu yang bukan benda, dan yang adanya tidak membutuhkan benda, sama sekali bebas dari kebendaan (al-jasmaniyyah), sehingga mustahil mengalami kehancuran.

15

Hayy telah mengetahui, esensinya yang hakiki mustahil hancur. Karena itu, ia kini ingin mengetahui, bagaimana jika esensi itu menolak dan meninggalkan tubuhnya. Padahal jelas sebelum ini, esensi itu tak pernah meninggalkan tubuh kecuali ada alat tak cocok baginya.
Ia pun meneliti semua daya kekuatan pencerap. Tampak, masing-masing daya itu terkadang mencerap secara potensial (bi al-quwwat), dan terkadang mencerap secara aktual (bi al-fi’l). Misalnya mata. Saat dipejamkan aku tidak bisa melihat, ia mencerap secara potensial – makna “mencerap secara potensial” ialah, daya itu tiak mencerap saat ini tetapi mendatang. Atau saat mata itu terbuka dan dapat melihat, itu namanya mencerap secara aktual – makna “mencerap secara aktual” adalah, daya itu mencerap saat ini.
Masing-masing daya kekuatan itu selalu mencerap, secara potensial atau aktual. Jika daya kekuatan itu tak pernah mencerap secara aktual, ia pasti mencerap secara potensial dan tak akan pernah ingin mencerap (di luar) cara serapnya yang khas itu. Sebab, ia belum pernah mengenalnya. Misalnya, seorang yang dilahirkan buta.
Tetapi ada orang yang pernah mencerap sesuatu secara aktual (karena ia tidak buta), kemudian ia hanya dapat mencerap secara potensial (karena kini buta). Selama ini, ia selalu ingin mencerap secara aktual karena sebelum (buta) ia telah mengenal, berhubungan, dan menyukai obyek cerapan. Orang yang dulu melihat dengan mata lalu kini buta itu, tentu merindukan objek-objek penglihatan (yang pernah dilihatnya dulu sebelum buta).
Semakin objek serapan itu sempurna, berdaya tarik dan indah, semakin berat kerinduan orang itu kepadanya, dan rasa sakit akibat kehilangan objek cerapan itu juga semakin besar. Itu sebabnya, rasa ssakit akibat kehilangan penglihatan yang pernah ada sebelumnya jauh lebih berat ketimbang rasa sakit akibat kehilangan penciuman, sebab benda yang dapat dicerap melalui penglihatan lebih sempurna dan lebih indah ketimbang benda yang dicerap melalui penciuman.
Di alam, ada “sesuatu” yang kesempurnaan, keindahan, kecantikan dan daya tariknya sangat tinggi tak terbatas – bahkan supra sempurna, berdaya tarik tinggi dan sangat indah. Bahkan semua kesempurnaan, keindahan dan daya tarik serta keindahan yang ada di alam ini berasal dari sisi “Sesuatu” itu tadi, beremanasi dari “Nya”. Barangsiapa tidak lagi dapat mencerap “Sesuatu” itu padahal sebelum itu ia mengenal “Nya”, dan masih dalam kehilangan, pasti ia merasakan sakit tak terperi. Sebaliknya, barangsiapa senantiasa berada dalam keadaan mencerap”Nya” selalu, maka ia pasti merasakan suatu kenikmatan tiada tara, suatu keriangan tak terbatas, suatu suka cita dan keseenangan tak terbatas.
Telah jelas bagi Hayy, Sang Mawjud yang Wajib Ada itu memiliki sifat kesempurnaan seluruhnya, bebas dan suci dari segala sifat ketidaksempurnaan.
Telah jelas pula bagi Hayy, “Sesuatu” yang mengantarnya sampai ke pencerapannya, tidak sama dengan benda dan tidak pula hancur akibat kehancuran benda itu. Tampak oleh Hayy, barangsiapa meiliki Esensi semacam itu, ia bakal siap menerima pencerapan tersebut. Mungkin dengan cara meninggalkan badan melalui kematian. Atau dengan cara, selama bertindak melalui badannya, tak perlu mengenal Sang Mawjud yang Wajib Adanya itu. Tak perlu pernah berhubungan atau mendengar berita tentang Dia. Dengan demikian, begitu seorang meninggalkan badan, ia tidak lagi merindukan Sang Mawjud itu dan tidak pula merasakan sakit akibat kehilangan Dia.
Adapun semua daya kekuatan jasmaniah, melemah bersamaan denga melemahnya benda (atau tubuh jasmani). Maka daya kekuatan itu pun tidak merindukan tuntutan objektifnya, dan tidak pula merasakan sakit akibat kehilangan daya kekuatan itu. Demikian keadaan semua binatang bisu, baik dalam “bentuk” manusia atau bukan.
Ada sebagian orang yang selama bertindak melalui badannya telah pernah mengenal Sang Mawjud tersebut. Ia telah mengetahui kesempurnaan, keagungan, kekuatan, kekuasaan dan keindahan yang dimiliki Sang Mawjud itu. Tapi orang tersebut mengingkari dan mengikuti haa nafsunya, sampai iang mengalami kematian sehingga ia tidak sempat “memberikan persaksian”. Ia sebenarnya merindukan Sang Mawjud itu, (tapi ia mengingkarinya), sehingga ia berada dalam siksa yang panjang, mengalami rasa sakit itu setelah berusaha sekuat tenaga sehingga dapat menyaksikan pusat kerinduannya selama ini. Atau ia mengalami rasa sakit itu selamanya. Itu tergantung apda kesiapannya untuk menerima satu dari kedua alternatif tersebut di kehidupan jasmaniahnya.
Ada juga orang yang telah mengenal Sang Mawjud yang Wajib Adanya itu sebelum meninggalkan badannya, dan menyerahkan keseluruhan diri kepada-Nya, dan senantiasa berpikir tentang keagungan, keindahan dan kecemerlangan-Nya. Ia tak pernah mengingkari-Nya sampai dijemput kematian. Itu terjadi dalam keadaan keadaan “menerima” dan “berssaksi” secara aktual. Maka kelak bila orang tersebut meninggalkan badannya (karena kematian), ia akan tetap berada dalam kenikmatan tak terbatas, dalam keriangan, suka cita dan kebahagiaan sinambung, disebabkan keberlangsungan dan kesinambungan persaksian terhadap Sang Mawjud yang Wajib Ada itu, dan disebabkan kebebasan persaksiannya itu dari dirinya segala tuntutan objektif daya kekuatan jasmaniah, berupa soal inderawi yang – dalam hal ini – merupakan penyakit, keburukan dan gangguan.

16


  Jelas bagi Hayy, kesempurnaan dan kenikmatan esensinya timbul dengan menyaksikan Sang Mawjud yang Wajib adanya itu secara sinambung, terus menerus dan secara aktual. Ia tidak lengah sekejap mata pun. Sehingga bila kematian menjemputnya ketika sedang bersaksi secara aktual, ia mengalami kenikmatan sinambung tanpa dihinggapi bayang-bayang kesaksian.
Hayy mulai memikirkan cara mensinambungkan persaksian secara aktual itu, sehingga tidak timbul kelengahan. Maka Hayy pun terus memikirkan tentang Sang Mawjud itu setiap saat. Namun ia sering mengalami, suatu objek inderawi tiba-tiba muncul pada penglihatannya, atau suatu khayalan tiba-tiba mengganggu pikirannya, atau penyekit tiba-tiba menimpa salah satu anggota tubuhnya.
Atau kelaparan, dingin dan panas tiba-tiba menimpa tubuhnya. Atau timbul dalam dirinya perasaan haus mempertahankan sisa-sisa (makanan). Sehingga pikirannya “terduduki”, dan lenyaplah apa yang ada di pikirannya itu sebelum ini. Hayy menemukan kesulitan, kecuali dengan usaha keras, untuk kembali lagi ke keadaan persaksian yang pernah ada sebelum (pikirannya dikuasai soal dunia).
Ia cemas. Ia kuatir kematian tiba-tiba menjemputnya saat lengah dari berssaksi, sehingga terlempar ke kesedihan abadi dan kesakitan akibat penghalang. Keadaan yang ia alami itu membuatnya buruk, sulit mendapatkan obatnya.
Ia mengamati semua macam binatang, kelakuan dan upaya mereka. Ia berharap, ada dari mereka yang merasakan adanya Sang Mawjud itu, serta berusaha seperti dilakukannya. Ia ingin belajar dari mereka cara keselamatannya. Maka ia melihat, mereka semua berussaha memperoleh makanan dan tuntunan objektif biologis semata. Yakni bahan makanan, minuman, kawin, mencari tempat bernaung dan penghangat tubuh. Ia melihat mereka melakukan itu siang malam sampai dijemput kematian. Ia melihat, tak seekor pun yang menyimpang dari kebiasaan ini atau berusaha leari ke arah lain di saat tertentu. Dengan itu jelas oleh Hayy, mereka tidak merasakan, merindukan atau mengenal Sang Mawjud itu sama sekali. Mereka semua berangkat menuju ketiadaan atau semacam ketiadaan.
Hayy lalu menetapkan, kesimpulannya tentang perilaku binatang itu juga berlaku bagi tumbuh-tumbuhan, yang hanya mempunyai sebagian pencerapan binatang. Jika binatang yang pencerapannya agak sempurna tidak bisa mencapai pengetahuan itu, apalagi tumbuh-tumbuhan, yang pencerapannya lebih rendah (ketimbang binatang). Tumbuh-tumbuhan tentu lebih tidak bisa mencapainya. Di samping itu Hayy melihat, semua binatang tidak menolak makanan dan kelahiran.
Kini, Hayy memperhatiikan bintang dan planet. Tampak, gerakan mereka teratur menurut hukum tertentu. Ia melihat, mereka transparan dan bercahaya, tidak mudah ditimpa perubahan dan kerusakan. Hayy mengira kuat, mereka mempunyai esensi selain tubuh material mereka, yang mengetahui Sang Mawjud yagn Wajib Adanya itu. Esensi yang mengetahui itu bukan benda dan tidak terpatri pada benda. Sebagaimana esensi Hayy sendiri yang mengetahui Sang Mawjud.
Bintang-bintang dan planet itu memiliki esensi yang bebas dari kejasmanian. Karena itu mereka selalu memerlukan hal-hal inderawi. Hayy melihat dirinya termasuk sejumlah benda yang hancur berikut  segala kekurangannya, yang mengganggu esensinya untuk bebas dari benda dan untuk tidak hancur. Karena itu, jelas bagi Hayy, benda-benda samawi lebih berhak untuk itu.
Ia juga mengetahui, mereka mengetahui dan menyaksikan Sang Mawjud Wajib Ada itu secara terus menerus dan berkesinambungan aktual. Sebabnya, karena pengganggu berupa fenomena-fenomena inderawi, yang justru menyulitkan Hayy untuk menyaksikan Sang Mawjud itu secara berkesinambungan, tidak terdapat pada benda-benda samawi.
Ia berpikir, mengapa ada binatang yang diberi ciri khas berupa esensi (zat) sehingga binatang itu serupa benda-benda samawi. Semula, telah jelas bagi Hayy masalah unsur empat (air, bumi, udara, api) dan perubahan masing-masing. Dan semua benda yang di muka bumi tidak tetap pada “bentuk”nya. Tapi mengalami penciptaan dan kehancuran silih berganti. Sebagian besar benda itu tersusun dari hal-hal yang saling bertentangan. Karena itu, mereka hancur, dan tak ada yang murni. Jika ada yang mendekati kemurnian tanpa cacat, benda itu sulit hancur, seperti emas dan batu yakut (korundum). Benda-benda itu murni, sehingga sulit hancur dan tak kena “bentuk”.
Jelas juga, sebagian benda di alam penciptaan dan kehancuran – yaitu keempat unsur : air, bumi, udara dan api – hakekatnya berdasarkan satu “bentuk” (surat) tambahan, di samping pengertian kebendaan (al-jasmiyyah). Benda yang lain, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, hakekatnya berdasarkan lebih dari satu “bentuk”.
Benda yang hakekatnya berdasarkan sedikit “bentuk”, kelakuannya juga sedikit dan jauh dari kehidupan. Jika “bentuk” nya lenyap, benda itu tak memiliki kehidupan, sama dengan dalam ketiadaan. Adapun benda yang hekakekatnya berdasarkan “bentuk” lebih banyak, kelakuannya juga lebih banyak, dan memasuki kehidupan lebih mantap. Dan jika “bentuk” nya hampir tidak terpisahkan dari “materi” khasnya, maka kehidupannya tampak jelas, sinambung dan kuat.
Sesuatu yang tak punya “bentuk” adalah “hayuli” dan “materi”. Karena itu ia tak mengalami kehidupan, sama dengan tiada. Adapun unsur empat (air, bumi, udara, api) mempunyai “bentuk”. Ia berada di awal susunan wujud yang mengalami penciptaan dan kehancuran, darimana benda-benda lain yang mempunyai esensi bentuk yang banyak, tertata berikutnya. Unsur empat itu lemah bisa hidup, karena gerakannya satu, dan masing-masing mengalami pertentangan dalam tuntutan objektif tabiatnya, serta berusaha mengubah “bentuk”nya.
Karena itu, setiap unsur empat itu tidak tetap dan kehidupannya lemah. Dibanding unsur empat, kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang lebih kuat dan jelas. Sebabnya, karena sebagian benda susun (murakkabat) itu, dikalahkan oleh tabiat satu unsur. Tabiat itu kuat mengalahkan, sehingga dapat melumpuhkan daya kekuatan benda susunan. Benda susun (murakkab) itu kini mengikuti sifat unsur penguasa tadi, sehingga ia hanya mempunyai sedikit kehidupan, persis seperti usnur, maka unsur-unsur sisanya pun sama dengan unsur yang tadi.
Jafi, satu unsur tidak melumpuhkan daya kekuatan unsur lainnya. Ini  berbeda dari unsur yang daya kekuatannya dapat dilumpuhkan oleh unsur lain. Masing-masing melakukan sama, sehingga kelakuan sebuah unsur tidak lebih jelas atau menguasai salah satunya. Kesamaan masing-masing unsur makin rumit, seakan tak mengalami perbedaan bentuk. Karena ia cocok bagi kehidupan. Semakin ia seimbang – lebih sulit mengalami pertentangan – kehidupannya semakin sempurna.
Ruh hewani yang bertempat di hati, sangat seimbang. Karena ruh itu lebih lembut daripada tanah dan air, tapi lebih keras daripada air dan udara. Karena itu, ruh hewani ada di hukum pertengahan, tidak ditentang tegas oleh sebagian unsur empat. Konsekuensinya, ruh hewani seiap menerima “bentuk” kebinatangan (al-hayawaniyyah). Maka menurut Hayy, bagian paling seimbang dari ruh hewani itu pasti siap menerima kehidupan yang di alam penciptaan dan kehancuran.
Lebih tepat dikatakan, ruh itu tidak bertentangan dengan ‘Bentuk”nya, serupa benda sasmawi yang juga tidak bertentangan “bentuk”. Ruh hewani itu seakan pertentangan sebenarnya di antara unsur-unsur yang tak bergerak ke atas dan ke bawah.Bahkan kalau bisa diletakkan di antara pusat dan puncak api tanpa hancur, ruh itu tentu bergerak di sana tanpa naik atau turun.
Dan jika ruhn bergerak di tempat, ruh itu pasti bergerak di sekitar pertengahan (atau titik pusat), seperti bergeraknya benda-benda samawi. Jadi bergerak di tempat, yang berarti ruh bergerak pada dirinya. Karena itu mestinya berbentuk bola, mustahil selain itu. Demikian, ruh itu sangat mirip benda samawi.
Hayy pun telah mengalami segala ihwal binatang, tetapi ia tidak melihat nyata binatang merassakan (adanya) Sang Mawjud Wajib Ada. Dan Hayy mengetahui, esensinya sendiri telah merasakan-Nya. Karena itu, ia menyimpulkan, dirinya adalah “binatang” yang mempunyai ruh seimbang, serupa species yang lain dari species binatang. Dirinya dicipta untuk tujuan lain, dipersiapkan untuk sesuatu yang besar, tidak untuk species binatang.
Hayy merasa dirinya cukup mulia, karena bagian terhina dari dirinya – bersifat kebendaan – justru paling serupa dengan substansi samawi yang bebas dari penciptaan dan kehancuran, suci dri ketidak sempurnaan, keperubahan dan perubahan. Adapun bagian paling mulia dari dirinya – yaitu, alat untuk mengetahui Sang Mawjud Wajib Ada, Yang Mengetahui – adalah suatu rabbani ilahi (‘amr rabbaniyy ilahiyy), yang tak berubah atau rusak, tak dapat diberi sifat sebutan benda, atau dicerap dengan indera, atau dikhayalkan, dan yang hanya dapat diketahui dengan alatnya.
Dia adalah Sang Pengenal (al-‘Arif), Objek pengenalan (al-ma’ruf) dan Pengenalan itu sendiri (al-ma’rifat). Dia adalah Sang Pengetahu (al-Alim), Objek Pengetahuan (al-ma’lum) dan Pengetahuan itu sendiri (al-‘ilm). Tak ada perbedaan pada-Nya. Sebab, perbedaan dan keterpisahan termasuk sifat dan bagian dari benda-benda. Pada-Nya tidak ada benda, tidak ada sifat, tidak ada benda atau bagian dari benda itu.
Kini jelas bagi Hayy, sisi yang memberinya ciri khas dan pembeda di antara semua macam binatang adalah serupa benda-benda samawi itu dan berusaha menyerupainya sekuat tenaga. Menurut pandangannya, “bagian” termulia dari dirinya yang dipergunakan mengenal Sang Mawjud Wajib Ada, sama dengan Sang Mauwjud itu dilihat segi keterbatasannya dari sifat-sifat benda, sebagaimana Sang Wajib Ada itu terbebsa dari sefat benda.
Karena itu, Hayy merasa harus berusaha sebisa mungkin mencapai sifat-sifat Sang Wajib Ada itu, bertindak menurut akhlak-Nya dan menyerahkan segala persoalan kepada-Nya, serta merasa rela secara lahiriah dan batiniah menurut kata hatinya untuk menerima semua himat-Nya, yaitu dengan merasa menyukai-Nya meskipun menyakitkan, mambahayakan dan bahkan menghancurkan tubuhnya sekalipun.
Dan juga, “bagian” dirinya yang hina – yaitu, dirinya yang berada di alam penciptaan dan kehancuran, yakni badan wadag kasar, yang dituntut berbagai macam objek penginderaan berupa makanan, minuman dan perkawinan – itu ia lihat sama dengan semua species binatang. Tetapi ia melihat, badan wadagnya itu tidak dicipta secara sia-sia dan tanpa arti. Ia merasa wajib menjaga dan mengurus baik-baik badan wadagnya itu. Tetpai ia sadar, itu memang dapt ia lakukan dengan cara meniru kelakuan binatang.
Karena itu, menurut pendaptnya, ada tiga tujuan yang harus ia lakukan :
1. Bertinak meniru binatang bisu.
2. Bertindak meniru benda-benda samawi.
3. Bertindak meniru Sang Mawjud Wajib Ada.
Peniruan (ashabbuh) pertama harus ia lakukan karena ia memliki badan wadag yang beranggota tubuh terbagi (menurut fungsinya masing-masing), dengan daya kekuatan yang berbeda, dan dengan kecenderungan yang teratur.
Peniruan ke dua ia lakukan karena ia memiliki ruh hewani yang bertempat tinggal di hati. Ruh itu adalah prinsip pokok bagi seua badan, yang di dalamnya terkandung daya-daya kekuatan.
Peniruan ketiga ia lakukan karena ia adalah ia, yaitu dari segi ia adalah esensi (zat) untuk mengenal Sang Mawjud Wajib Ada itu.
Semula, Hayy mengetahui, kebahagiaan dan keberhasilan menundukan kesengsaraan, dapat dicapai dengan cara berada dalam persaksian (mushahadah) sinambung terhdap Sang Mawjud Wajib Ada, tanpa lengah sekejap pun.
Lalu, Hayy meneliti penyebab yang bisa mendatangkan kesinambungan itu. Ternyata ia harus kembali memperhatikan ketiga bentuk peniruan tadi.
Dengan peniruan pertama, ia tak mencapai persaksian itu, bahkan memalingkan dan mengganggunya, karena selalu terbentur dengan soal-soal objektif inderawi, sebagai kendala bagi persaksian itu. Ia memang membutuhkan peniruan macam pertama ini, tapi hanya dalam rangka memanfaatkan ruh hewani untuk mencapai peniruan kedua, yaitu meniru benda-benda samawi. Kepetingan itu menuntutnya menempuh cara ini, meskipun tak bebas bahaya.
Dengan peniruan ke dua ia dapat memperoleh persaksian besar sinambung, meskipun tetap dilumuri noda buruk. Sebabnya, karena orang yang bersaksi seinambung mellui proses persaksian model ini, juga dibarengi kelakuan mengerti esensinya sendiri secara rasional. Dan begitu esensinya jelas, ia bakal berpaling kepada dirinya.
Adapun dengan peniruan ketiga,seorang dapat mencapai persaksian murni, ketenggelaman utuh, berpaling hanya kepada Sang Mawjud Wajib Ada itu. Orang yang berssaksi melalui model ini telah kehilangan esensinya sendiri, telah luruh dan luluh. Demikian pula semua esensi (zawwat) lainnya, baik banyak maupun sedikit, lenyap dan lululuh, kecuai Esensi Dia Yang Esa Yang Mahabenar Yang Wajib Ada – Maagung, Mahatinggi dan Mahaperkasa.

17

Kini jelas bagi Hayy, tujuan utamanya adalah (melakukan) “Peniruan model ketiga”, yang bisa dicapai setelah melakukan latiihan cukup lamadan terbiasa dengan “peniruan model kedua”. Dan yang terakhir ini pun tercapai dengan melakukan “peniruan model pertama”. Namun ia tahu, “peniruan pertama” itu memang penting, tetapi sekaligus penghalang melalui esensinya. “Peniruan pertama” itu membantu melalui sifat khas, bukan melalui esensi. Jadi tetap penting. Karena itu, Hayy menegaskan dirinya tak perlu melakukan “peniruan model Pertama” kecuali sebatas kebutuhan dan kepentingan, secukup kelangsungan hidup ruh heani.
Ada dua hal penting untuk kelangsungan hidup ruh hewani. Pertama, faktor dalam berupa makanan, demi persediaan pengganti bagian tubuh yang rusak. Kedua, faktor luar yang menyelamatkan dan menjaganya dari segala petaka berupa dingin, panas, hujan, sengatan sinar matahari dan gigitan binatang yang berbahaya, dan lain sebagainya.
Ia berpikir, jika ia mengambil semua kebutuhan itu sedapatnya tanpa perhitungan dan ukuran, barangkali ia terjatuh ke sikap mubazir dan mengambil lebih dari cukup, sehingga melakukan suahanya tanpa disadari, Maka pikirnya, ia harus berusaha menetapkan batas dan ukuran (minimum) bagi diri sendiri yang tak boleh dilampaui. Ini menyangkut jenis makanan, macam,takaran,dan serta waktunya.
Pertama ia memeriksa jenis makanannya. Ternyata ada tiga :
1. Tumbuh-tumbuhan yang belum matang benar dan belum tua. Yaitu segala macam sayur-sayuran segar yang dapat dimakan.
2. Buah-buahan yang telah amsak dan bisa disemai bijinya untuk ditanam kembali. Yaitu buah-buahan segar atau kering, dan..
3. Binatang yang dapat dimakan, baik dari darat maupun laut.
Tetapi ia menydari, semua jenis makanan itu termasuk perbuatan Sang Mawjud Wajib Ada. Semenara kebahagiaannya bergantung kepada kedekatannya pada-Nya, bergantung pada usahanya menyerupai-Nya. Karena itu, memakan semua jenis makanan termasuk kelakuan yang menghalanginya dari mencapai kebahagiaan sempurna serta merintanginya ke tujuan utama dambaan. Kelakuan semacam itu menentang perbuatan Sang Pelaku, yang bertolak belakang dengan usaha mendekati dan menyerupai-Nya.
Karena itu, jika bisa ia tak makan. Tapi itu mustahil. Karena jika menolak makan, tubuhnya akan rusak. Ini pun penentangan lain lebih besar terhadap Sang Pelaku, dibanding tadi. Sebabnya, karena Hayy lebih mulia daripada benda lain yang kehancurannya bisa menyebabkan keberlangsungan hidup Hayy sendiri. Ia memilih alternatif yang bahayanya paling ringan dan pertentangannya paling kecil.
Bagi Hayy, jika makanannnya habis, ia harus mengambil janis makanan yang mudah diperoleh, sekedar berikut ini. Jika ketiga jenis makanan itu ada semua, Hayy merasa harus memilih jenis makanan yang pengambilannya tidak bertentangan dengan (hasil) perbuatan Sang Pelaku (yakni Tuhan Pencipta). Misalnya, daging buah-buahanmatang dan bijinya dapat diambil untuk benih baru dengan memeliharanya secara hati-hati. Biji itu tidak boleh dimakan, dirusak atau dilemparkan ke tempat tak cocok, seeprti batu, tanah tergenang air atau bergaram,d an lain sebagainya.
Jika ia tak bisa memperoleh makanan buah-buahan tak berdaging, seperti apel, per, prem dan sebagainya, ia noleh makan buah cuman bijinya yang bisa dimakan, seperti kelapa dan ksital, atau sayur-sayuran yang belum matang, dengansyarat herus memilih yang paling mencerabut akarnya dan tak pula bijinya. Jika jenis tadi tak ada, ia dapat menangkap binatang atau mengambil telurnya, dengan syarat, ia amemilih yang paling banyak di dpat dan tak punah. Demikian pendapatnya tentang jenis makanan.
Adapun takarannya, bagi Hayy, hanya menurut kebutuhan penghilang rasa lapar, tak lebih dari itu. Sedangkan soal jadwal makan, maka begitu lapar ia harus makan, sehingga nanti ia merasa lemah dan tak mampu melakukan pekerjaan untuk proses “menyerupai yang kedua”. Masalah ini akan dijelaskan kemudian.
Mengenai faktor luar yang penting bagi kelangsungan hidup, keterangannya tidak banyak. Ia sendiri telah memakai baju kulit, juga tempat tinggal yang menjaganya dari segala (bahaya) yang datang dari luar. Ia memandang itu cukup, dan tak perlu bersibuk diri dengannya. Ia pun telah makan menurut ketentuan dan ketetapan sendiri, seperti dijelaskan di depan.

18

Kini Hayy mulai melakukan proses yang kedua, yakni menyerupai benda samawi. Ia menirunya, menerima sifat-sifatnya, mengamati dan menelusiri keterangan-keterangannya. Ada tia kesimpulan yang ia peroleh :
Pertama, keterangan tentang benda-benda samawi sehubungan dengan alam penciptaan dan kehancuran di bawahnya, (yang menjelaskan kepadanya) proses pemanasan esensial, pendinginan khas, penyinaran, pelembutan dan pelebatan. Juga semua perilaku lain dengannnya ia siap menerima emanasi bentuk-bentuk kerohanian Sang Pelaku Wajib Ada.
Kedua, keterangan tentang esensinya, seperti proses menjadi transparan, murni mengkilat, seci dan bebas dari kotoran, dan proses geraknya secara sirkular, sebagian pada titik pusat lain.
Ketiga, keterangan tentang benda-benda samawi itu dan hubungannya dengan Sang Mawjud Wajib Ada. Seperti proses menyaksikan-Nya secara sinambung, menmapak-Nya, merindukan-Nya, berperilaku menurut hukum-Nya, melaksanakan dan bergerak menurut kehendak-Nya, serta berada di genggam-Nya.
Ia berusaha sekuat tenaga menyerupai benda samawi itu pada setiap tiga cara di atas.
Pada cara penyerupaan pertama, ia mengharuskan diri tidak membiarkan binatang atau tumbuhan yang sedang butuh, cacat atau bahaya. Bila ia mampu memenuhi kebutuhan dan melenyapkan cacat, ia pasti melakukannya.
Setiap pandangannya terpaut apda tumbuhan yang terhalang di sinari matahari, atau dihinggapi tumbuhan lain pengganggu, atau kurang air hampir mati, ia pasti menghilangkan penghalang, atau melepas tumbuhan berbahaya itu, dengan cara tidak membahayakan tumbuhan lain, dan memberinya siraman sebisa mungkin.
Dan setiap pandangannya terpaut pada seekor binatang sedang dimangsa binatangbuas, atau tersangkut dalam jaring, atau mata atau kupingnya ditimpa penyakit, atau mengalami kehausan atau kelaparan, maka ia berusaha sekuat tenaga menghilangkan bahaya itu, memberinya makan dan minum.
Dan setiap pandangannya terpaut pada air mengalir ke tempat tumbuhan atau binatang, tapi alirannya terganggu oleh batu atau tebing yang jatuh ke dalam, maka ia berusaha menghilangkan semua itu.
Ia kini masih terus melatih diri terbiasa dengan berbagai bentuk penyerupaan cara ini, hingga mencapai tingkat puncak.
Pada cara penyerupaan kedua, ia berusaha melakukannya dengan keharusan selalu suci diri. Ia menghilangkan segala kotoran tubuh, Ia mandi air sesering mungkin. Ia membersihkan kuku, gigi serta bebagai bagian tubuh tersembunyi, Ia mengharumi (tubuhnya) dengan wangi tumbuhan dan minyak parfum. Ia mencuci dan mewangikan pakainnya sehingga tampak indah, bersih dan harum berkilau.
Bersama itu, ia membiasakan diri bergerak memutar dengan segala macamnya. Terkadang ia mengelilingi pulau (tempatnya berada), berputar keliling pantai dan datang ke pelosoknya. Terkadang ia mengelilingi rumahnya atau bebatuan tertetu beberapa kali putaran, dengan cara berjalan-jalan atau berlari-lari anjing. Bahkan terkadang ia berputar-putar pada tubuhnya sendiri sampai pingsan.
Pada cara penyerupaan ke tiga ia membiasakan diri memikirkan tentang Sang Mawjud Wajib Ada itu, seraya memutuskan segala hubungan dengan objek-objek penginderaan, memejamkan mata, menutup telinga, berusaha sekuat tenaga menurut daya khayalnya, berupaya sekerasnya tidak memikirkan selain Sang Mawjud itu, untuk tidak menyekutukan-Nya dengan seorangpun jua. Untuk itu, ia memanfaatkan cara berputar pada tubuh sendiri. Ia mempreaktekannya terus. Dan bila perputarannya itu semakin keras, ternyata semua objek penginderaan menghilang. Khayalannya melemah. Dan semua daya kekuatan yang membutuhkan alat jasmani juga melemah. Sebaliknya, kelakuan esensinya (zat) – yang bebas dari benda – menguat.
Karena itu, dalam beberapa waktu pikirannya terbebaskan dari beban gangguan. Ia kini menyaksikan Sang Mawjud Wajib Ada itu. Tetapi kemudian, daya kekuatan jasmaninya balik dan pulih kembali, sehingga keadaan (hal) tadi menjadi rusak. Ia kini kembali, ke orang terrendah (asfal al-safilin). Ia sekalilagi berusaha menggapai capaian sebelumnya. Jika ia mengalami kelemahan penghalang mencapai tujuan, ia pun mengambil makanan menurut syarat tersebut di atas. Kemudian ia kembali lagi ke usaha menyerupai benda samawi melalui ketiga cara tersebut.
Beberapa lama ia membiasakan diri cara begitu. Ia memerangi daya-daya kekuatan jasmani. Sebaliknya, daya itu melawwannya. Ia melakukan itu setiap daya kekuatan jasmaninya muncul (memerangi dan melawannya). Ia membebaskan pikirannya dari segala cacat dan gangguan. Menampak baginya ihwal pelaku penyerupaancara ketiga.

19

Kini, Hayy mengusahakan penyerupaan cara ketiga. Ia berupaya mencapainya. Karena itu, ia mempelajari sifat-sifat Sang Mawjud Wajib Ada. Dan di tengah penelitian ilmiah, sebelum mulai bertindak, jelas sifat-Nya itu dua macam. Pertama, sifat positif, seperti pengetahuan (‘ilm), kekuatan (Qudrat), dan kebijaksaan (hikmat); Kedua, sifat negatif, seperti ketersucian-Nya dari kebendaan (al-jasmaniyyah) dan sifat benda serta yang termasuk di dalamnya, yang bersangkut dengannya, meskipun jauh.
Penyucian (tanzil) itu syarat yang harus ada di sifat positif afirmatif tadi, sehingga di sifat itu tak terkandung sifat benda yang berjumlah banyak. Dengan demikian, melalui sifat-sifat posit afirmatif itu (yang tampaknya banyak) esensi-Nya tidak menjadi banyak, akan tetapi mereka semua mengacu kepada satu pengertian tunggal, yakni hakekat esensi-Nya. Maka ia pun mulai berusaha mengetahui bagaimana menyerupai-Nya di dalam masing-masing kedua cara itu.
Hayy mengetahui, seua sifat positif itu mengacu kepada hakekat esensi-Nya, dan sama sekali tak mengandung pluralitas (kathrah), karena pluralitas termasuk sifat benda. Dan ia mengerti, pengetahuan-Nya tentang esensi-Nya bukanlah tambahan atas esensi-Nya, dan pengetahuan-Nya tentang esensi-Nya. Karena itu, jelas bagi Hayy, jika ia dapat pengetahui esensi-Nya, maka pengetahuan untuk mengetahui esensi-Nya bukan tambahan atas esensi-Nya. Tapi Ia adalah Ia!!!
Menurut Hayy, proses untuk menyerupai-Nya melalui sifat-sifat positif itu adalah, dengan mengetahui-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan salah satu sifat benda. Ia mempreaktekan sendiri cara penyerupaan ini.
Adapun semua siffat negatif, itu mengacu kepada ketersucian (tanazzul) dari kebendaan (al-jasmiyyah). Maka ia pun membuang sifat-sifat kebendaan dari esensi-Nya. Pada proses latihan terdahulu ketika menyerupai benda samawi, ia telah membuang banyak sifat kebendaan itu. Tapi sisanya memang labih banyak. Misalnya, gerakan berputar-putar – gerakan itu pun sifat benda paling khas. Juga perhatiannya terhadap urusan binatang dan tumbuhan. Rasa kasihannya pada mereka, serta perhatiannya untuk melenyapkan gangguan dari mereka.
Itupun sifat benda. Sebab ia harus melihat dan mengurus mereka dengan daya kekuatan jasmani. Maka, semua itu ia tanggalkan. Sebab itu tak pantas atau tak cocok dengan keadaan yang ia kejar sekarang.
Kini ia tetap tinggal saja di “istana” gua, menundukan kepala, memejamkan mata, melepas semua objek indera dan kekuatan jasmani. Ia menyatukan damba dan memusatkan pikiran pada Sang Mawjud Wajib Ada sendirian tanpa sekutu. Jika khayalannnya digerayangi bayangan selain Dia, ia mengusirnya sekuat tenaga. Ia menyerahkan dan merelakan dirinya untuk itu. Ia membiarkan diri begitu cukup lama. Hari-harinya berlalu. Ia tak merasa perlu makan dan bergerak.
 Selama mujahadat keras itu, barangkali segalanya lenyap dari ingatan dan pikirannya, kecuali esensinya sendiri. Esensi itu tidak lenyap di saat ia tenggelam dalam menyaksikan Sang Mawjud Pertama Yang Benar dan Wajib Ada. Esensi itu satu keburukan baginya, cacat dalam persaksian murni, sekutu dalam proses penampakannya. Ia tahu itu.

20

Kini Hayy masih berusaha meluruh dari dirinya. Ia berupaya tulus dalam menyaksikan Sang Kebenaran, sampai ia benar-benar mencapai-Nya. Langit dan bumi seisinya, semua “bentuk” rohaniah dan daya kekuatan jasmaniah, semua daya kekuatan yang membedakan materi dan merupakan esensi yang mengetahui Sang Mawjud Benar, semua itu lenyap di antara sejumlah esensi tadi. Semuanya luruh dan meredup, menjadi debu beterbangan. Yang ada tinggalah Sang Esa yang Benar Mawjud yang Tetap.
Ia menyatakan firman-Nya yang bukan suatu pengertian tambahan pada esensi-Nya. Milik siapakah kerajaan (mulk) hari ini? Milik Allah yagn Esa Maha Mengalahkan! Hayy memahami firman-Nya, mendengar seruan-Nya. Keadaannya tidak mengetahui perkataan dan keadaannya tidak bisa bekata, bukanlah penghalang untuk memahami (firman-Nya). Ia tenggelam dalam keadannya ini. Ia kini menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tak penah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbetik dalam hati manusia.!
Maka janganlah Anda berharap hendak mengungkap sesuatu yang tak pernah terbetik dalam hati manusia. Sungguh, banyak sekali hal sebenarnya telah terbetikkan dalam hati umat manusia, tetapi tidak bisa diungkapkan dalam bentuk penjelasan. Jika demikian, bagaimanakah hal yang sama sekali tidak bisa muncul dan terbetik termasuk alamnya dan tidak berada dalam tingkatannya?
Yang saya maksud dengan hati (qalb) di sini bukanlah tubuh raga hati (jism al-qalb), dan bukan pula ruh (al-ruh_ yang berada di biliknya. Tetapi, yang saya maksud dengannya adalah “bentuk” (shurrah) dari ruh yang beremanasi, melalui daya-daya kekuatannya, kepada tubuh raga manusia.
Memang, masing-masing ketiga di atas sering disebut “qalb”. Tapi tak ada alasan untuk mengungkap ketiganya di salah satunya. Sebab masing-masing hanya bisa diungkap dengan istilahnya sendiri. Siap pin mencoba mengungkap itu, berarti ia mengusahakan sesuatu yang mustahil (diungkap).
Itu persisi orang yang ingin merasakan warna dari segi ia warna dan menuntut agar, misalnya, warna hitam menjadi rasa manis atau asam. Namun, itu bukan alasan bagi kami untuk tidak mengungkap isyarat-isyarat yang menjelaskan segala kesaksian Hayy berupa keajaiban-keajaiban stasiun (maqam) tersebut.
Kami tentu akan mengungkapnya, tetapi hanya dengan semacam permisalan, bukan dengan cara mengetuk pintu hakekat. Sebab, jalan untuk mengetahui hakekat dari sesuatu yang di stasiun itu, hanyalah dengan cara mencapainya langsung.

21

Kini, pasanglah pendengaran hati Anda, dan buka penglihatan akal Anda lebar-lebar. Dengar dan lihatlah apa yang akan saya tunjukan ini. Semoga, Anda memperoleh petunjuk yang menuntun Anda menapaki jalan benar! Syaratnya, hendaknya Anda saat ini tak berharap menerima lebih dari keterangan oral yang saya tulis di halaman-halaman ini. Kesempatan terbatas, dan memutuskan soal yang tak pas diungkap melalui kata-kata, itu mengandung bahya.
Saya katakan : Hayy telah luluh dari esensinya dan dari semua esensi lainnya. Ia tidak melihat sesuatu ada kecuali Sang Maha Esa Si Hidup Yang Bangun. Ia menyaksikan kesaksiannya itu. Lalu di saat sadar dari keadannya yang seperti mabuk itu, ia kembali menyaksikan lainnya. Terlintas di benaknya, tak ada esensi (zat) yang bisa mengubah esensi Sang Kebenaran yang Mahatinggi. Hakekat esensinya adalah esensi San g Kebenaran itu. Dan yang semula ia kira esensinya yang dapat mengubah esensi Sang Kebenaran, pda hakekatnya bukanlah “sesuatu”. Bahkan tak ada sesuatu apapun kecuali esensi Sang Kebenaran.
Ini dapat diandaikan seperti matahari yang menimpa benda-benda lebat. Kemudian Anda melihat cahayanya tampak pada benda-benda itu. Betapapun cahaya dinisbatkan kepada benda di mana cahaya itu tampak, pada hakekatnya itu bukan selain cahaya matahari itu sendiri. Begitu bedanya lenyap, sinarnya pun lenyap pula. Padahal, sinar matahari itu tetap saja seperti keadaan semula, tak berkurang akibat kemunculan benda dan tak bertambah karena ketiadaan benda itu. Dan jika ada benda cocok menerima sinar, ia pasti menerimanya. Dan jika benda itu tak ada, penerimaan juga menjadi tidak ada dan tak bermakna.
Anggapannya itu semakin kuat setelah jelas, esensi Sang Kebenaran yang Mahatinggi sama sekali tak membanyak akibat apapun. Dan pengetahuan-Nya tentang esensi-Nya adalah esensi-Nya itu sendiri (per se). Kareena itu, ia berkesimpulan, siapa mencapai pengetahuan tentang esensi-Nya, sekaligus tlah mencapai esensi-Nya. Jadi iaadalah Esensi itu per se. Demikian pula esensi pembeda bagi materi yang mengetahui Esensi Benar yang pada mulanya ia lihat banyak. Tapi kemudian, berdasar anggapan tadi, semua esensi pembeda itu tunggal saja.
Jia ia tidak diberi pencerapan oleh Allah melalui rahmat dan hidayah-Nya, hampir saja keserupaan(syubhat) ini membekas kuta di (pikirannya). Karena itu, ia mengetahui, syubhat itu muncul di pikirannya akibat pengaruh sisa kekelaman benda dan kekotoran objek penginderaan. Sebab, “banyak”, “sedikit”, “satu”, “kesatuan”, “jamak”, “penjamakan” dan “pembedaan,” semua itu adalah sifat-sifat benda. Esensi-esensi pembeda yang mengetahui Esensi Sang Kebenaran – Mahaperkasa dan Mahaagung Dia – karena bebas dari materi, tidak boleh dikatakan bahwa Esensi itu banyak atau satu. Sebab, sifat kebanyakan (pluralitas, kathrat) hanyalah pembeda esensi-esensi itu satu sama lain. Sedangkan sifat kesatuan (wihdat) pun hanya tercapai melalui perhubungan (ittishal). Semua itu hanya bisa dimengerti di dalam “pengertian-pengertian tersusun yang bergalau (,a’ani murakkabat mutalabbisah) dengan materi.
Namun, pengungkapan melalui kata-kata terlalu sempit di sini. Sebab, jika Anda mengungkap tentang esensi-esensi pembeda (zawat mufariqah) itu dalam bentuk kalimat jamak seperti (tampak) pada bahasa kami ini, maka terbayang adanya “pluralitas”. Padahal esensi itu tidak mengandung pluralistas. Dan bila Anda mengungkap tentang esensi-esensi itu dalam bentuk kalimat tunggal, maka terbayang adanya makna “kesatuan” (ittidah). Padahal ini mustahil dikenakan pada esensi itu.
Sikap saya di sini, bagaikan seorang yang menghadapi sejumlah burung kelelawar di siang hari. Yang tak bisa melihat karena matahari. Orang itu bergerak kegialaan, (heran menyaksikan perilaku kelelawar tadi), seraya berkata “Aku telah memeras pikiran, menganalisa kelakuanmu, tapi kau tetap menyimpang dari pola (pikir) kaum berakal. Kamu menyalahi hukum akal.” Di antara hukum itu, jika benda tidak satu, ia mesti banayak.
Karena itu, orang (yang menghadapi kelelawar) tersebut hendaknya merendahkan semangat menggebu, menghentikan ocehannya, seraya mengintropeksi diri. Belajarlah dari alaminderawi sekitar yang tampaknya kurang berharga. Belajarlah seperti Hayy Bin Yaqzan. Ia telah mengamati alam itu dengan satu cara pandang sehingga tampak banyak tak terbatas dan tak terhitung. Kemudian ia mengamatinya lagi dengan cara pandang lain sehingga alam itu tampak satu dan tunggal. Ia ragu-ragu tanpa bisa memutuskan sikap memilih salah satunya.
Sungguh, alam inderawi itu sumber pluralitas dan ketunggalan. Dan dalam kerangka ini, hakekatnya bisa dimengerti. Di dalamnya terkandung pemisahan dan persambungan, pengkodisian dan perubahan, perpaduan dan perbedaan. Perkiraannya tentang  alam ilahi – di mana istilah “semua” dan “sebagian” tak berlaku, dan masalahnya tidak bisa diungkap dengan bahasa lisan – hanyalah satu dugaan yang berbeda dari hakekat sebenarnya. Tak seorang pun mengetahui, kecuali menyaksikan-Nya. Hakekat-Nya tidak bisa diketahui secara mantap kecuai oleh orang yang telah mencapai-Nya.
Adapun perkataannya, “Kau menyumpang dari pola pikir kaum berakal, dan kau menyalahi hukum akal,” itu kami serahkan kepadanya. Biarlah ia dengan “akal” dan “kaum berakal”nya. Sungguh, “akal” yang ia atau mereka maksudkan, tak lain daya pikir (quwwat natiqah) yang memeriksa sosok semua objek wujud inderawi, sehingga diperoleh pengertian universal (ma’na kulliy). Sedangkan “kaum berakal” (‘uqala), maksudnya, mereka yang mengamati melalui cara pemikiran (rasional) ini. Padahal, model pembicaraan kami jauh di atasnya. Karena itu, orang yang hanya mengenal objek-objek inderawi dan universalianya, hendaknya menutup telinga darinya, dan mengembalikan kepada kelompok yang “mengetahui bagian lahiriah dari kehidupan dunia saja, sedangkan mengenai akhirat mereka lupa”.

22

Apabila anda termasuk orang yang merasa puas dengan bentuk penjelasan dan keterangan tentang alam ilahi seperti tersebut di atas, dan keterangan kami tidak mengandung pengertian biasanya, maka kami akan memberi Anda tambahan (pengetahuan) tentang hasil persaksian Hayy bin Yqzan tentang maqam orang-orang ahli Kejujuran (uli al-shidq). Maka kami katakan :
Sebagian ketenggelaman murni, keluhuran (fana’) utuh, dan hakekat pencapaian (wushul), bersasksi akan Falak Tertinggi yang tak berbenda serta melihat esensi yang bebas dari materi – yaitu esensi Sang Mahaesa Sang Kebenaran, tetapi bukan dari falak itu sendiri atau lainnya. Esensi Tertinggi itu bagaikan “bentuk” matahari yang tampak pada sebuah cermin bening. Esensi Tertinggi itu bukan Matahari atau cermin itu sendiri, dan bukan pula selain matahari atau cermin itu.
Menurut Hayy, Esensi Pembeda dari falak itu memiliki kesempurnaan, kecemerlangan dan keindahan yang terlalu agung untuk diungkap dan dijelaskan dengan kata-kata, terlalu jelimet untuk dikata dengan huruf dan suara. Hayy melihat Esendi itu berada pada puncak kenikmatan dan sukacita, keriangan dan kesenangan, berkat menyaksikan Esensi Sang Kebenaran, Mahaagung Dia.
Ia pun menyaksikan, falak berikutnya – yakni falak bintang-bintang yang tetap – juga memiliki suatu esensi yang bebas dari materi, yang bukan esensi Sang Mahaesa  Sang kebenaran, bukan pula esensi pembeda dari Falak Tertinggi, bukan pula diri Falak itu sendiri, bahkan bukan pula yang selain itu. Esensi itu bagaikan “bentuk” matahari yang tampak pada suatu cermin “Bentuk” itu terpantul kepadanya dari cermin lain yang berhadapan langsung dengan matahari. Ia melihat, Esensi juga memiliki kecemerlangan, keindahan dan kenikmatan seperti dimilki oleh Falak Tertinggi itu sendiri.
Ia juga menyaksikan, falak yang berikutnya – yakni falak Saturnus (Zuhal) – memiliki esensi pembeda bagi materi. Esensi itu tidak berasal dari makhluk melata atau lainnya yang ia saksikan sebelumnya. Esensi itu bagaikan “bentuk” matahari yang tampak di sana berdasarkan pantulan dari cermin yang menghadap matahari langsung. Ia melihat, esensi ini pun memiliki kecemerlangan dan kenikmatan seperti yang ia lihat sebelumnya.
Dan ia menyaksikan, setiap falak memiliki esensi pembeda tersendiri yang bebas dari materi dan bukan bagian dari esensi sebelumnya dan bukan pula lainnya. Esensi itu bagaikan “bentuk” matahari yang terpantul dari cermin ke cermin lain, tersusun rapi menurut tingkatan falak-falak. Masing-masing esensi ia saksikan memiliki keindahan, kecemerlangan, kelezatan dan keriangan yang tak pernah terlihat mata, terdengar telinga atau terdetik dalam kalbu manusia.
Akhurnya Hayy ssampai ke alam penciptaan dan kehancuran (‘alam al-kawn wa al-fasad), yang semuanya memenuhi falak bulan. Ia melihat, alam itu memiliki esensi yang bebas dari materi dan bukan sebagaian dari esensi-esensi yang telah disaksikannya sebelumnya dan bukan pula lainnya. Setiap esensi itu mempunyai tujuhpuluh ribu wajah, setiap wajah memiliki tujuh puluh ribu mulut, dan setiap mulut memiliki tujuh puluh ribu lidah, yang dengannya ia menyucikan (yusabbihu) Esensi Sang Tunggal Sang Kebenaran, menguduskan-Nya dan memuji-Nya tanpa henti. Ia melihat, Esensi yang seakan mengandung pluralitas ini – padahal tidak – memiliki kesempurnaan dan kelezatan, sepeti yang dimiliki oleh esensi-esensi sebelumnya. Esensi bagaikan “bentuk” matahari yang tampak pada air bergelombang, yang dipantulkan kepadanya dari cermin-cermin lain, yang pantulannya sampai kepadanya melalui susunan (cermin-cermin) terdahulu dari sebuah cermin pertama yang menerimatahari secara langsung.
Lalu, ia menyaksikan dirinya juga mempunyai sebuah esensi pembeda. Dan jika esensi ketujuh puluh ribu wajah itu dibagi, tentu akan kami katakan bahwa esensinya sendiri itu sebagian darinya. Dan seandainya esensi itu tidak tercipta dari tiada, pasti telah kami katakan, ya itulah esensi itu!
Dan seandainya dalam keterciptaan esensi itu tidak bercirikan badan wadagnya sendiri, tentu telah kami katakan bahwa esensi itu tidak tercipta! Pada tingkatan ini ia menyaksikan esensi-esensi, seperti esensinya sendiri, dimilki oleh benda-benda yang sebelumnya ada tetapi kini telah meudar. Itupun dimilki oleh benda-benda yang masih ada. Esensi-esensi itu sangat banyak tanpa batas, jika bisa disebut begitu, atau esensi-esensi itu Cuma satu dan tunggal, jika mau disebut begitu.
Ia melihat, esensinya sendiri dan esensi-esensi lain yang berada pada tingkatannya, memiliki keindahan, kecemerlangan dan kelezatan tak terbatas, yang tak terlihat mata, tak terdengar telinga, tak terdetik di kalbu manusia, tak dapat di kelaskan orang dan hanya bisa dipikirkan oleh pencapai dan pengenal-Nya (al-washilun al’arifun).
Ia menyaksikan, materi juga mempunyai esensi-esensi pembeda yang banyak, bagaikan cermin-cermin buram yang kotor, namun menjadi pelaksana dan pengganti cermin-cermin mengkilat lainnya di mana “bentuk” matahari terlukis padanya dari segala seginya. Ia melihat esensi-esensi ini menampakkan keburukan dan ketidaksempurnaan yang tak pernah terdetik dalam kalbu. Ia melihat esensi-esensi itu berada dalam kesaksian-kesaksian tanpa akhir, dalam kerugian-kerugian tak terhapuskan, dilingkungi karpet-karpet siksa, dibakar api tabir (hijab) dan dicincang antara kegundahan dan kegilaan.
Di sini ia menyaksikan esensi-esensi selain yang tersiksa tadi, menampak kemudian menghilang, menegak kemudian runtuh. Ia berusaha mengetahui secara pasti. Ia sorotkan pandangannya tajam-tajam. Tampak sebuah raksassa, sesuatu yang agung, mekhluk yang gede, hukum yang kukuh mantap, sebuah hembusan, sebuah tiupan, sebuah penciptaan, sebuah inkarnasi. Tak seberapa lama ia menyaksikan itu, tiba-tiba enderanya balik pulih kembali seperti sediakala. Ia kini menyadari keadaannya yang hampir-hampur menyerupai keadaan pingsan itu. Kakinya menggekincir dari maqam itu.
Alam inderawi tampak kembali bersama dengan menghilangnya alam ilahi. Sebab, memang mustahil kedua alam itu distupadukandalam keadaan tunggal. Dunia dan akhirat itu bagaikan dua alternatif kepentingan, jika Anda merelakan yang satu, Anda membenci lainnya.
Dari persaksian (musyahadah) yang saya ceritakan ini, tampak bahwa jika esensi-esensi pembeda itu dimiliki sebuah benda yang wujudnya abadi tidak rusak, seperti falak, maka esensi itu pun abadi pula wujudnya. Sebaliknya, jika itu dimiliki benda yang bisa rusak, seperti manusia (hayawan natiq), maka esensi itu pun rusak, redup dan hancur. Jika anda katakan, itu seumpama cermin pemantul sinar di mana “bentuk” akan tetap ada selama cermin pemantul sinar di mana “bentuk” akan tetap ada selama cerman ada. Dan jika Anda katakan cermin itu rusak, tentu “bentuk” itu pun rudak dan redup pula. Maka saya katakan kepada Anda : Betapa Anda cepat lupa dan lepas kontrol.
Bukankah saya katakan tadi, pengungkapan melalui kata-kata terlalu sempit di sini. Pokoknya, kata-kata itu hanya menimbulkan pengertian tak sebenarnya. Itu Anda alami. Sebab Anda menyamakan begitu saja antara perumpamaan dengan objek perumpamaan itu.
Seharusnya Anda tidak melakukan itu di pembicaraan biasa. Bagaimana mungkin esensi-esensi pembeda diumpamakan persis matahari dan cahayanya, bentuk dan perubahannya, atau seperti cermin seta bentuk yang ditimbulkannya. Sebab, semua itu tak bisa dibedakan dari benda-benda, dan sebaliknya benda-benda tak terwujud kecuali dengan dan di dalam mereka. Karena itu, ada dan tiadanya semua itu tergantung pada benda-benda.
Adapun esensi ilahiah dan ruh rabbaniah, semua itu bebas dari, dan suci dari, benda dengan segala bagiannya. Esensi  ilahiah dan ruh rabbaniah tidak berhubungan atau berkaitan dengan benda-benda, baik menyangkut negasi atau afirmasi benda iu, ataupun menyangkut ada dan tiadanya benda. Keterhubungan dan ketersangkutan benda-benda itu dengan Esensi Sang Mahaesa Sang Kebenaran Sang Mawjud Wajib Ada (zat al-wahid al-haqq al-mawjud al-wajib al-wujud) – Yang merupakan Awal, rinsip, Sebab dan Pengada mereka – hanya dalam arti Dia memberri mereka kesinambungan, kebakaan dan keabadian.
Esensi ilahiah dan ruh rabbaniah itu tidak membutuhkannya. Jika esensi-esensi itu tiada, benda-benda itu pasti tiada pula. Sebab, esensi-esensi itu Prinsip mereka. Sebagaimana, kalau Esensi Sang Mahaesa Sang Kebenaran – Mahatinggi dan Mahasuci Dia, Tiada Tuhan Selain Dia – bisa tiada, maka esensi itu semua pasti tiada, dan bersama itu pula semua benda takkan ada lagi eksistensi (wujud), ebab semua alam ssaling berhubungan erat.
Dan alam indera, meskipun termasuk alam ilahi, menyerupai bayang-bayang baginya. Alam ilahi tidak membutuhkannya dan bebas darinya. Namun, alam inderawi mustahil diandaikan tiada, sebab alam inderawi pasti termasuk bagian alam ilahi, Kehancuran alam inderawi hanyaterjadi dalam bentuk keberubahannya, bukan dalam ketiadaannya secara total. Karena itu, Kitab Mulia (Quran) mengungkap pengertian ini dallam bentuk gunung berjalan laksana bulu domba, menjadikan manusia laksana laron, membuat matahari dan bulan bergulung-gulung, dan lautan bergolak, pada suatu hari ketika bumi berubah menjadi bukan bumi dan langit.
Inilah sekedar yang dapat saya kemukakan kepada Anda, mengenai kesaksian Hayy Bin Yaqzan pada maqam mulia itu. Hendaknya Anda tidak mencari lebih dari itu, menyangkut kata-kata, sebab usaha itu akan sia-sia.

 23



Adapun mengenai kelengkapan berita tentang (Hayy Bin Yaqzan), insya Allah akan kami ceritkan kepada anda :
Sekembali ke alam inderawi, dari pengembaraan yang jauh, Hayy mulai bosan dengan beban kehidupan dunia. Kerinduannya kepada kehidupan puncak (hayat qushwa) semakin besar. Maka ia mencoba kembali ke maqam itu dengan cara tempuh semula, sehingga ia mencapainya lebih mudah dari usaha awal. Ia pun berada di sana lagi dalam waktu lebih lama daripada yang pertama. Lalu ia kembli lagi ke alam inderawi. Tapi segera ia merasa rindu lagi untuk mencapai maqam-nya itu. Ia pun mencapainya lebih mudah daripada usaha pertama dan kedua, dan merasa mengalaminya jauh lebih lama. Waktu demi waktu, semakin mudah saja ia mencapai maqam itu dengan masa mengalami semakin lama, sehingga ia bisa mencapai dan meninggalkannya setiap saat, kapan saja. Bahkan kini ia tak mau meninggalkan dan meremehkan maqamnya itu, kecuali harus memenuhi hajat minimum tubuh wadagnya.
Di semua itu, ia berharap Allah Yang Maha Perkasa Mahaagung melepaskannya dari seluruh badan sebagai penyebabnya berpsah dari maqam itu, agar ia bebas selamanya menikmati kelezatan maqamnya, serta lepas dari rasa sakit ketika meninggalkan maqamnya untuk hajat ragawi.
Ia tetap dalam keadaan itu hingga mencapai tujuh minggu dari awal mula, ketika ia berumur lima puluh tahun. Saat itu tiba-tiba ia bertemu dengan Asal, yang kisah mereka bersama insya Allah akan disebutkan berikut ini. (50) Tokoh Absal dalam kisah  karya Ibn Sina berubah menjadi Asal di dalam karya Ibn Thufayl. Perbedaan ini dapat ditafsirkan dua kemungkinan : 1) perbedaan dalam tulisan Arabnya, yaitu pada titik; ini berarti bahwa Ibn Thufayl mempergnakan nama sama seperti pada Ibn Sina, tetapi ketika penulis naskah mengkopi manuskrip asli dari Ibn Thufayl, ia lupa menuliskan sebuah titik untuk huruf ba; 2). Kedua istilah yang dipergunakan oleh Ibn Sina dan Ibn Thufayl berasal dari akar kata basalah yang berarti berani, dan ini sesuai dengan arti yang dimaksud Ibn Sina, sebab tokoh Absal dalam kisahnya adalah seorang pahlawan pemberani; sedangkan asal berasal dari akar kata asala yang berarti mempertajam, dan ini sesuai dengan yang dimaksud Ibn Thufayl karena asal dalam kisahnya adalah tokoh yang berpikir tajam dan senantiasa berusaha memperoleh kebenaran melalui penafsiran rasional, tas Wahyu).

24

Mereka menyebutkan, di dekat pulau tempat Hayy Bin Yaqzan dilahirkan menurut satu dari dua pendapat yang berbeda sifat permulaannya, ada sebuah pulau lain. Di dalamnya telah masuk satu agama (millat) benar yang berasal dari seorang nabi terdahulu – salawat dari Allah bagi mereka. Agama itu selalu dikisahkan dan diomongkan ke semua orang melalui alegori yang melahirkan khayalan berita dengan ilustrasi berkesan mantap di jiwa, sesuai kebiasaan yang berlaku dalam berkomunikasi dengan khayalan awam. Agama itu terus menyebar, menguat dan menampak di pulau itu. Sang raja memeluknya dan mewajibkan rakyat menganutnya.
Di pulau itu tumbuh dua pemuda dari kalgan ahli keutamaan yang menyukai kebajikan. Mereka bernama Asal dan Salaman. Mereka menemui agama itu, dan menerimanya dengan bai. Mereka melaksanakan syariat agama itu, melakukan amalannya. Mereka bersahabat dalam itu. Di waktu tertentu, mereka bersepakat mengenal keterangan syariat tentang sifat Allah – Mahaperkasa,Mahaagung Dia. Juga tentang malaikat-Nya, sifat akhirat, pahala dan siksa.
Adapun asal, mendalami kebatinan (al-bathin), suka mencari pengertian kerohanian dan menggandrungi penafsiran rasional (ta’wil).  Sedangkan Salaman, rekannya, lebih memperhatikan soal lahiriah, menghindari penafsiran rasional itu, dan tak suka pemikiran dan perenungan. Namun, mereka berdua giat melakukan amal lahiriah, isntropeksi diri (muhasabat al-nafs), serta melawan hawa nafsu.
Di (kandungan) syarita itu terdapat pernyataan yang menyruh pemencilan (‘uzlah) dan hidup sendirian (infirad). Ditunjukan, kedua (cara hidup) itu (sumber) keberhasilan dan keselamatan. Di samping itu, ada pernyataan lain yang menyuruh pergaulan dan hidup cara jamaah.
Asal menempuh cara hidup memencilkan diri. Berita tentang dia ini sesuai dengan tabiatnya berpikir, mencari pengalaman, menyelami pengertian. Cita-citanya pun banyak dicapai melalui cara hidup itu.
Sedangkan Salaman menempuh cara hidup berjamaah. Berita tentang dia ini sesuai dengan tabiatnya tak suka berpikir dan menganalisa. Menurut pendapatnya, cara hidup berjamaah dapat menghilangkan waswas dan praduga bertentangan, dan dapat menyelamatkan dari bisikan setan.
Itulah perbedaan pendapat di antara mereka, yang justru merupakan sebab perpisahan mereka.

25

Asal telah mendengar tentang pulau. Disebutkan, Hayy Bin Yaqzan terbentuk di sana. Asal punmenegtahui situasi pulau itu; subur, asri dan berudara seimbang. Uzlah di sna pasti cita-cita apencariannya terlaksana. Maka Asal bertekad berangkat ke sana, mengucilkan diri dari khalayak, tinggal di sana menghabiskan sisa umur.
IA kumpulkan harta miliknya. Sebagian ia pergunakan untuk menyewa angkutan ke pulau itu. Sisanya ia bagikan kepada kaum miskin. Ia meninggalkan sahabatnya Salaman, pergi melintasi laut. Para nelayan membawanya ke pulau itu, dan melepaskannya di pantai. Mereka pulang meninggalkannya sendirian.
Asal tiggal di pulau itu, menyembah Allah Yang Mahaperkasa Mahabesar. Ia mengagungkan dan menguduskan-Nya. IA berpikir tentang Nama-anam Indah (asma al-Husna) dan Sifat-Nya yang tinggi. Kalbu dan pikirannya tak terputus atau terkotori.
Jika perlu makan, ia mengambil buah-buahan dan binatang buruan pulau itu, sekedar penghilang rasa lapar. Ia tinggal dengan cara begitu beberapa lama, saat ia merasakan suka cita purna dan kasih besar melalui cara bermunajat pada Tuhannya. Setiap hari ia melihat kasih sayang-Nya, kelebihan Anugerah-Nya dan pemudah yang Dia berikan kepadanya dalam usaha dan makanannya. Semua itu memantapkan keyakinan dan menyenangkan matanya.
Pada saat itu Hayy Bin Yaqzan sedang tenggelam dalam munajat-nya yang mulia. Ia keluar dari gua seminggu sekali, untuk memperoleh makanan yang diperlukan. Karena itu, semula Asal tidak bertemu dengan Hayy. Ia mengelilingi dan mendatangi seluruh pelosok pulau itu. Asal tidak melihat seorang pun. Asal tidak menyaksikan jejak kaki. Karena itu, Asal bertambah senang dan gembira. Sejak awal ia memang bertekad memencilkan diri.
Tapi di satu waktu Hayy Bin Yaqzan keluar (dari gua) mencari makanan. Sedangkan Asal telah melihat arah itu. Pandangan mereka tiba-tiba bertemu. Asal tak enah mengira Hayy seorang hamba yang memutuskan pergaulan, dan sampai ke pulau itu untuk memencilkan diri dari orang banyak seperti dirinya. Asala kuatir, jika iaa menyebabkan suasana rusak, menghalangi sampai ke tujuan.
Sedangkan Hayy Bin Yaqzan tidak mengetahui siapa Asal. Hayy memang tidak melihat Asal dalam bentuk binatang seperti biasanya. Saat itu asal berpakaian hitam, dibuat dari bulu dan bahan wool, sehingga dikira Hayy pakaian alam. Hayy keheranan melihatnya. Tetapi Asal justru lari karena kuatir itu akan mengganggu. Hayy mengejarnya di belakang. Sebab ia memang suka mencari tahu tentang hakekat segala sesuatu. Hayy melihat Asal semakin keras berlari. Lalu Asal bersembunyi, sampai bisa salat dan membaca, berdoa dan menangis, merendah diri dan patuh. Ia tidak ingat lagi segalanya.
Hayy Bin Yaqzan menghampiri tanpa disadari Asal, sampai jarak terdekat sehingga bisa mendenegar bacaan dan tasbih Asal, Menyaksikan kerendahan dan tangisnya. Hayy mendengar satu suarua indah dan huruf-huruf teratur harmoni, tak pernah ia dengar dari jenis binatang. Hayy menyaksikan bentuk dan sosok tubuh Asal. Tampak seperti bentuknya sendiri. Dan pakaian Asal un jelas bagi Hayy bukan kulit alam, tetapi bikinan seperti pakaiannya sendiri.
Setelah melihat kekhusyukan, rendah hati dan tangisnya, Hayy bisa memastikan, Asal itu sebagian esensi yang mengenal Sang Kebebasan. Hayy merindukannya. Ia ingin sekali apa miliknya, sebabnya menangis dan rendah hati. Hayy semakin menghampiri, sehingga Asal mengetahui. Asal berusaha menjauh. Tapi Hayy berhasil mengejarnya – berkat kekuatan, kelapangan ilmu dan tubuh anugerah Allah – seraya menangkapnya. Asal tak bisa bergerak.
Ia memandang Hayy. Tampak ia berpakaian kulit binatang berbulu, sedangkan rambutnya panjang terurai. Hayy cepat larinya dan kuat geraknya. Berbeda banyak dari Asal. Kini, justru Asal yang merendah minta didkasihani. Ia menampakkan kesukaannya pada Hayy, melalui omongan yang tak dimengerti. Asal justru kelihatan takut. Karena itu Hayy mengelusnya dengan suara-suara binatang, Ia menggerakan tangannya di kepala Asal, sambil mendekati, menampakan kesukaan dan kesenangan padanya, Rasa takut Asal jadinya menghilang. Ia tahu Hayy tidak bermaksud jahat padanya.
Dan sejak dulu, berkat kecintaannya kepada ilmu penafsiran rasional, Asal telah memperlajari banyak bahasa hingga mahir. Ia berusaha berbincang dengan Hayy, menanyakan ihwalnya, dengan semua bahasa yang diketahuinya. Ia mengupayakan kepahamannya. Tetapi Asal gagal. Hayy hanya bisa mendengar keheranan, tanpa mengerti maksudnya, Namun, Hayy tetap menampakan kesukaannya. Karena itu, mereka tak saling memahami dan mengenal ihwal masing-masing.
Asal masih memiliki sisa bekal yang dibawa ke pulau makmur itu. Ia mengulurkannya kepada Hayy Bin Yaqzan. Tapi Hayy tidak mengenal bekal itu., karena memang tak pernah melihatnya. Asal memakannya sebagian dan mengisyaratkan Hayy supaya turut makan. Tapi Hayy  ingat syarat-syarat makanan yang ditetapkan bagi dirinya. Namun, karena tidak mengetahui jenis makanan yang ditawarkan Asal, ia rahu, makan atau tidak. Akhirnya Hayy memilih tidak makan.
Asal terus mendesaknya. Kuatir Asal membencinya jika menolak tawarannya, Hayy akhirnya menerima dan memakan sebagian bekal tadi. Merasa itu enak, Hayy justru murung  karena telah menyalahi janjinya sendiri mengenai syarat makanan. Ia menyesal dan ingin segera pergi meninggalkan Asal, kembali ke maqamnya yang mulia. Ternyata, persaksian (musyahadah) tidak segera ia capai. Menurut Hayy, sebaiknya kini ia tinggal saja bersama Asal di alam inderawi. Maksudnnya, untuk mengetahui hakekat Asal, sehingga hasrat untuk mengetahui tidak menjadi beban dirinya, lalu segera bisa kembali ke maqam-nya tanpa gangguan. Kini Hayy mulai menerima Asal.
Tapi melihat Hayy tak juga berbicara, Asal merasa aman dengan semangat sintimental pada agamanya. Asal berharap, jika ia dapat mengajari Hayy berbicara, ilmu dan agama, pasti ia bakal dapat pahala besar dan kebajikan dari Allah. Kareena itu, segera Asal memulai. Pertama, mengajarinya bicara. Caranya, dengan menunjuk benda-benda sekitar sambil mengucapkan namanya berulang-ulang. Ia menyuruh Hayy mengikutinya, sehingga bisa mengucapkan sendiri nama benda itu diikuti isyarat. Dengan begitu, Adal dapat mengajari Hayy seluruh nama, sedikit demi sedikit, sampai Hayy bisa berbicara dalam waktu singkat.
Kini Asal mulai menanyai Hayy tentang ihwalnya dan dari mana ia datang ke pulau itu. Hayy memberitahu, ia sendiri tidak mengetahui asal-usulnya, bapak atau ibu. Ia memang mengetahui banyak hal, bagaimana pengetahuannya berkembang, sampai akhirnya mencapai derajat pencapaian (wusul).
Asal mendengar semua keterangan Hayy Bin Yaqzan tentang berbagai hakekat, esensi pembeda alam inderawi yang mengenal Esensi Sang Kebenaran – Mahaperkasa Mahaagung Dia. Juga tentang Esensi Sang Kebenaran itu dengan semua sifat-Nya yang indah. Dan tentang kelezatan kaum pencapai serta sakit kaum penghalang yang disaksikan saat wusul. Ternyata, syari’at (agama) Asal mengenai Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir dengan surga dan nerakanya, itu sama dengan kesaksian Hayy Bin Yaqzan tadi.
Maka hatinya kini terbuka. Api kalbunya kini mencuat. Jalan-jalan penafsiran rasional mendekatinya. Problema yang ia temui dalam syari’at kini menampak jelas. Segala yang tertutup kini terbuka, dan yang abstrak menjadi gamblang. Ia kini menjadi seorang cendekiawan matang (ulu al-albab). Saat itulah ia memandang Hayy Bin Yaqzan dengan mata pengagungan dan pemuliaan. Terbukti, Hayy adalah seorang wali Allah yang tak perlu dikuatirkan dan yang mereka sendiri tidaklah berduka cita. Asal mulai mengabdi kepadanya, meniru dan mengikuti petunjuk soal amal syari’at yang ia pelajari di dalam agamanya.
Sebaliknya, Hayy Bin Yaqzan bertanya; pula Asal mengenai ikhwalnya. Asal mulai menjelaskan keadan pulaunya berikut alam di sana, bagaimana keadaan penduduknya setelah dan sesudah agama sampai di sana. Dijelaskan pula keteranan syari’at (agama) itu tentang alam ilahi, surga, neraka, kebangkitan, perhitungan, penimbangan amal kelak serta jalan akhirat (sirat). Hayy mengerti semua itu, yang tak berbeda dari hasil persaksiannya di maqam mulia.
Hayy mengetahui, penjelasan dan pembawa semua ajaran itu adalah benar, merupakan utusan dari sisi Tuhannya. Hayy percaya, membenarkan dan bersaksi akan kerasulannya. Hayy kini mulai bertanya kepada Asal tentang kewajiban agama dan ibadah yang dibawa dan ditetapkan oleh Sang Rasul. Karena itu, Asal pun menjelaskan kepadanya tentang salat, zakat, puasa, haji dan amalan lahiriah lainnya. Hayy menerima. Ia langsung mempraktekan keterangan Asal itu, sebagai panutan atas perintah yang diakui kebenaran (Rasul) penyampainya. Tapi, ada dua hal yang ia herankan dan tak diketahui hikmatnya:
Pertama: mengapa Rasul itu memberikan alegori-alegori (amshal) bagi manusia di banyak keterangannya soal alam ilahi. Mengapa Rasul memalingkan manusia dari mukasafat, sehingga mereka terjerumus ke korporealisme (tajsim). Padahal, Rasul mengharuskan manusia mempercayai bahwa Esensi Sang Kebenaran itu suci dan bersih dari segala benda? Demikian pula soal pahala dan sika!.
Kedua : Kenapa Rasul membatasi (perintah) Cuma pada soal kewajiban dan ibadat saja. Menegapa ia membolehkan manusia mencari harta dan makanan, sehingga sibuk dengan kebatilan dan berpaling dai kebenran?
Menurut Hayy, manusia hendaknya mencari (makanan) secukup kebutuhan minimum hidupnya. Adapun harta, bagi Hayy, itu tk berarti lagi. Sedangkan soal hukum harta yang terdapat di syari’at, seperti zakat dengan segala cabangnya, jual beli, hudud, riba dan hukum lain, semua itu dipandang aneh dan berkelebihan oleh Hayy.
Ia bergumam, “Jika manusia mengerti hakekat masalahnya, pasti mereka menghindari semua kebatilan ini, berserah pada kebenaran, dan tak membutuhkan semua itu, tak bakal ada orang memiliki harta tertentu yang harus diminta zakatnya, atau tanggannya dipotong karena mencuri, atau jiwanya melayang akibat merampas.
Hayy berpendpat demikian, karena anggapannya bahwa semua manusia mempunyai fitrah mulia, kecerdasan matang, jiwa tinggi. Hayy tak mengerti bahwa mereka pun bodoh, tidak sempurna, buruk pendapat, lemah semangat. Bahwa “mereka itu bagaikan binatang, bahka lebih sesat jalannya.”

26

Kini, Hayy Bin Yaqzan semakin prohatin pada (nasib) manusia. Ia berharap, keselamatan mereka berada di tangannya. Karena itu, ia berniat menemui mereka, menjelaskan kebenaran. Hasrat itu dikemukakan kepada Asal, seraya bertanya, “Adakah jalan ke sana, menemui mereka?” Asal memberitahu keadaan manusia (di seberang sana), bahwa mereka memiliki fitrah tidak sempurna serta menjauhkan diri dari perintah Allah.
Hayy tidak mengerti itu. Tapi cita-citanya tetap menyala. Dan sebenarnya, Asal pun berharap Allah memberi petunjuk lewat tangan Hayy, kepada sekelompok orang yang mengenal-Nya, yang menginginkan-Nya dan yang lebih mendekati keselamatan. Karena itu, Asal mendukung pendapat Hayy itu.
Asal dan Hayy sepakat tetap tinggal di pantai, tak meninggalkannya siang dan malam. Mereka berharap Allah memudahkan mereka melintasi laut. Mereka kini tinggal di sana, berdoa semoga Allah memberi petunjuk dalam memecahkan persoalan mereka. Atas perintah Allah, tiba-tiba sebuah perahu tersesat di laut, dihempas badai dan dihantam ombak hingga terdampar di pantai. Dekat dataran, para penumpang perahu itu melihat Asal dan Hayy di pantai. Mereka mendekat. Asal lantas berbincang, meinta mereka membawa serta. Mereka setuju, seraya memasukan Asal dan Hayy ke dalam perahu.
Allah mengirim angin nyaman, yang membawa perahu itu seera sampai ke pulau idaman. Kini mereka menginjakan kaki di sana, memasuki kotanya. Teman-teman Asal lalu berkumpul, mendengara cerita Asal tentang Hayy Bin Yaqzan. Mereka suka mendengarnya, dan membesar-besarkan beritanya. Mereka berkumpul, membesarkan dan mengagungkannya. Asal memberi tahu Hayy bahwa kelompok tadi lebih mudah memahami dan mengerti, daripada orang lain. Jika Hayy tak mampu mengajar mereka, tentu akan lebih sulit mengajar orang awam.
Pemimpin dan pemuka pulau itu adalah Salaman, bekas sahabt Asal dulu yang menggandrungi hidup cara berjamaah dan melarang hidup cara uzlah. Hay Bin Yaqzan mulai mengajar dan menyebarkan rahasia-rahasia hikmat kepada orang sana. Tapi begitu Hayy menyimpang dari pengertian lahir dan mulai menerangkan paham (batin), banyak orang menghindarinya, membenci ajarannya dan tak menyukainya. Namun, secara lahiriah, mereka menampakan rasa suka, sebagai penghargaan atas keasingannya di kalangan mereka, dan untuk menjaga hubungan baik dengan sahabat mereka, Asal!!
Siang dan malam Hayy Bin Yaqzan menyantuni mereka. Ia menjelaskan kepada mereka kebenaran, secara rahasia dan terang-terangan. Tapi ternyata, itu hanya membuat mereka tambah membenci dan menjauh, padahal mereka itu pencinta kebajikan dan kebenaran. Tapi karena ketidaksempurnaan fitrah, mereka tidak mau menerima kebenaran itu menurut cara dan pola prakteknya, tidak mau mencari kebenaran itu dari pintunya. Bahkan mereka tak mau mengetahuinya melalui jalan para pakarnya. Hayy lau putus asa memperbaiki mereka. Harapannya untuk memperbaiki pupus, karena mereka tidak menerima.
Kini, Hayy mengamati tingkatan kelompok-kelompok manusia. Tampak, masing-masing kelompok bangga dengan apa yang telah ada pada mereka. Mereka telah menjadikan hawa sebagai tuhan-tuhan, syahwat sebgai sembahan mereka. Mereka runtuh-lantak di semua kesia-siaan dunia, terlalaikan oleh sikap bermegahan dengan harta dan pengikut. Nasihat dan perkataan yang benar tidak berguna atau efektif bagi mereka. Sedangkan cara dialog hanya menambah mereka kokok pada pendirian. Begitu pula hikmat, jalannya sudah tertutup untuk mereka. Tak ada baginya buat mereka. Kebodohan telah menenggelamkan mereka. Apa yang mereka lakukan telah menguasai hati. Allah menutup mati pendengaran dan penglihatan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.
Tampak, karpet siksa telah terhampar melingkungi mereka. Kekelaman tabir hijab menutup mereka. Mereka semua, kecuali beberapa orang, tak lagi berpegang pada agama. Mereka hanya berpegang pada dunia. Amal paling minim, mudah dan ringan, mereka jauhi. Mereka menjual dengan harga murah. Perdagangan dan jual-beli membuat mereka lupa pada Tuhan.
Mereka tidak menakuti suatu Hari ketika hati dan penglihatan terjungkal balik. Karena itu, jelas dan sama sekali benar, menurut Hayy, mustahil berbicara dengan mereka menurut cara mukashafat. Atau membenai mereka amal di atas orang gbanyak. Mereka mempraktekan syari’at hanya untuk kehidupan duniawi, agar penghidupan mereka tak macet. Mereka tidak pernah berusaha melampaui batas khasnya. Sedikit sekali dari mereka yang bakal berbahagia memperoleh kebahagiaan akhirat, Yakni orang mukmin yang menginginkan panen di akhirat dan mengupayaannya.
Maka siapa congkak dan melampaui batas, dan mengutamakan kehidupan dunia, sungguh api neraka jahim tempat kediamannya. Usaha apakah yang tak lebih berat dan susah, ketimbang menimbang-nimbang amal perbuatan sejak bangun tidur sampai kembali ke rumah. Tetapi dirinya ditemukan Cuma berusaha mencapai tujuan soal inderawi (bandawi) hina, berupa harta yang dikumpulkan, atau kesenangan yang diperoleh, atau nafsu syahwat yang diumbar, atau kemarahan yang menyembuhkan, atau pangkat yang dipertahankan, atau amalam syaria’t yang dipergunakan untuk memperindah diri atau mempertahankan langkah. Semua itu kesesatan. Masing-masing berada di  tengah lautan luas dan dalam, tiada seorang pun dari Anda tak turun ke dalam. Itulah keputusan yang harus dijalankan bagi Tuhanmu.
Hayy kini memahami ihwal manusia. Bahwa, mayoritas mereka berkedudukan sebagai binatang. Karena itu, semua hikmat, hidayat dan taufik yang ddibicarakan para Rasul dan disebutkan di dalam syari’at, itu saja yang mungkin (berlaku). Tak ada (usaha) lebih dari itu. Setiap perbuatan diperuntukan bagi pelakunya tersendiri. Dan itu dimaksudkan bagi hasil ciptaan. Demikian, sunnah Allah telah berlaku di masa-masa yang sudah. Dan tiada kau dapatkan perubahan dalam sunnah Allah.

27

Hayy Bin Yaqzan lalu menemui Salaman dan para sahabatnya. Ia meminta maaf, dibebaskan dari (kesalahan) yang dikemukakan kepada mereka. Ia memberi tahu, ia berpendapat dan memeproleh petunjuk sama seperti mereka. Ia berwasiat agar mereka melaksanakan terus apa yang telah ditetapkan, berupa batas-batas syari’at, amal-amal lahiriah. Ia berwasiat, agar mereka tak banyak melakukan perbuatan sia-sia, mempercayai dan menyerah pada mutasyabihat, menghindar dari nafsu serta mengikuti pra ulama salaf salih, meninggalkan soal-soal tak berarti.
Ia menyuruh mereka menghindari kelakuan para khalayak awam, yang meremehkan syari’at dan sibuk dengan dunia. Ia sangat menekankan soal ini. Hayy dan Asal mengetahui kelompok murid yang jumlahnya terbatas ini, bisa selamat hanya dengan cara menempuh jalannya tadi. Sebab, jika tidak dan menyimpang dari itu, apa yang mereka miliki bakal rusak, dan mereka pun  mustahil mencapai derajat kaum berbahagia (su’ada’). Akibatnya, mereka menjadi kacau, menyedihkan dan buruk. Sebaliknya, jika mereka mempertahankan kelakuan, mereka akan berhasil aman, dan masuk ke golongan kanan (ashab al-yamin). Dan yang unggul (dalam keimanan), mereka yang unggul (di akhirat).
Hayy dan Asal lalu pamit pergi, meninggalkan mereka, kembali ke pulau. Allah Yang Mahaperkasa Mahaagung memudahkan mereka melintasi laut, mencapai pulau itu.
Kini Hayy Bin Yaqzan berusaha kembali menuju mawam mulia, menurut cara semula, sampai ia kembali ke sana. Asal mengikutinya, sehingga mendekatinya atau hampir mendekatinya. Di pulau itu ereka menyembah Allah, sampai keyakinan (yaqin) datang kepada mereka.

28

Semoga Allah memberi kekutan kepada kami dan Anda, dengan ruh dari-Nya. Inilah berita tentang Hayy Bin Yaqzan, Asal dan Salaman, yang mencakup beberrapa pernyataan yang tak disebut di kitab atau terdengar di pembicaraan biasa. Ini ilmu tersembunyi yang hanya dicapai dan dimiliki oleh para pengenal Allah (ahl al-ma’rifat), dan pasti diketahui kecuali oleh orang yang tergoda (berpaling) dari Allah.
Kami telah menyimpang jalan ulama salaf salih yang bersikap “bakhil” dalam masalah ini. Kami menyebarkan rahasia-rahasia ini dan meretas tabirnya dengan mudah, karena adanya pandangan rusak yang muncul pada zaman kita ini, yang di dalam dan diserukan lantang oleh para filosuf kontemporer. Pandangan-pandangan tadi menyebar di dalam negeri dan berbahaya bagi umum.
Kami kuatir, orang lemah yang tak suka meniru para Nabi – Shalawat Allah atas mereka – tapi lebih suka membeo kaum bodoh, mengira bahwa pendapat-pendapat itulah rahasia yang sengaja tak diungkapkan kepada orang bukan ahlinya. Akibatnya, mereka justru tambah mencintai dan menyukai pendapat salah itu. Kami memandang perlu memberikan penjelasan sekilas pada mereka tentang sebagian rahasia itu, untuk kami tarik ke kebenaran, kemudian kami tutup mereka ke jalan itu.
Di samping itu, di lembaran (halaman) sederhana ini, kami pun menjelaskan tentang suatu tabir (hijab) dan tirai tipis, yang segera (terbuka) bagi ahlinya, tetapi semakin tebal bagi orang yang tak berhak melampauinya, yang tak mampu menembus batasnya.
Saya memohon, saudara pembaca buku ini menerima maaf, atas sikap dan cara saya bergampang-gampang menerangkan dan menegaskannya. Saya lakukan itu hanya untuk mentransendensi pandangan-pandangan tinggi yang sering menggelincirkan orang yang memandangnya secara sekilas.
Lagipula, saya ingin mengemukakan itu dengan (bahasa yang) menimbulkan kegembiraan dan kerinduan untuk memasuki jalan (akhirat). Saya memohon kelapangan dan ampunan dari Allah. Semoga Dia menganugrahkan kita ketulusan hati untuk mengetahui-Nya. Sungguh, Dia Mahapemberi nikmat dan Mahamulia.
Kesejahteraan moga-moga terlimpah bagi Anda wahai saudara, yang mengharapkan pertolongan Allah, rahmat serta barakah-Nya.

KISAH TENTANG KETERASINGAN DI BARAT

Sebagaimana Ibn Thufayl, Syaikh Al-Isyraq “Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi” pun membuat tulisan tanggapan tentang kisah Hayy Bin Yaqzan, karangan Ibn Sina (980 -1037), yang termuat dalam Kitb Hikayat-Hikayat Mistis, nya yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, terbitan Mizan – Bandung,  yang kisahnya, sebagai berikut :

MUKADIMAH

Puji syukur hanya untuk Allah, Penguasa alam raya, dan Shalawat serta Salam atas hamba-hamba-Nya yang terpilih, terutama junjungan kami Muhammad saw. Yang Terpilih dan seluruh keluarga serta sahabatnya.
Ketika aku membaca kisah Hayy ibn Yaqzan, aku dikejutkan oleh kenyataan, bahwa meskipun mengandung keajaiban-keajaiban kata-kata spiritual dan ibarat-ibarat bermakna dalam, ia tidak mempunyai kedalaman yang dapat menunjukan tahap terbesar, yaitu “bencana besar” yang termaktub dalam kitab-kitab Ilahim terendap dalam lambang-lambang para filosof, dan tersembunyi dalam cerita Salaman dan Absal, yang digabungkan oleh pengarang Hayy ibn Yaqzan, yaitu misteri yang menjadi dasar bagi tingkatan-tingkatan para penganut tasawuf dan kaum apokaliptik. Terungkapkan secara tak langsung dalam Hayy ibn aqzan pada bagian akhir buku, dimana dikatakan : Kadang-kadang kesendirian tertentu yang terjadi pada orang berpindah kepada-Nya, dan sebagainya. (Kata-kata selanjutnya adalah : Begitu banyak yang Dia berikan pada mereka untuk dijadikan pengalaman, sehingga mereka menunduk karena limpahan karunia-Nya. Dia membuat mereka sadar akan keadaan menyedihkan dari keuntungan-keuntungan iklim bumimu. Dan ketika mereka akembali dari istana-Nya, mereka kembali dengan membawa banyak karunia mistik).
Karena itu aku ingin mengemukakan sebagian dari hal-hal ini dalam bentuk sebuah cerita, untuk sebagian dari saudara-saudara kami yang tercinta, dan aku menamakannya “Kisah tentang Keterasingan di Barat.” Dan hanya kepada Allah jualah aku mempercayakan apa yang aku inginkan.

KISAH DIMULAI



Ketika aku berkelana dengan saudaraku Ashim (Ashim (penjaga) adalah fakultas spekulatif, yang hanya dimiliki oleh jiwa, bukan raga. Ini didasarkan atas fakta bahwa ‘ashim adalah yang menjaga agar tidak masuk ke tempat yang berbahaya dan agar tak terjatuh dalam kesalahan) dari Wilayah Transoxania (Dunia halus), ke negeri barat (dunia materi (hayula) yang hubungannya dengan dunia halus adalah suatu penyelubungan kegelapan), untuk memburu segerombolan burung di pantai Laut Hijau (Laut Hijau adalah hal alam kasat indera, dimana kita pergi mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang kasat indera dan memahami kesempurnaan kita sendiri, serta melangkah dari sana menuju akal kebiasaan (‘aqli malakat) dan dari akal kebiasaan menuju akal yang bermanfaat (‘aqli-mustafad), tiba-tiba kami sampai di sebuah kota “yang penduduknya jahat” (QS.4:75), yaitu kota Kairouan (Kairouan adalah dunia ini. Yang dimaksudkannya dengan si jahat adalah orang-orang dunia ini, dunia pertentangan, karena pertentangan tidak akan timbul tanpa adanya peperangan, dan peperangan tidak akan timbul tanpa adanya kejahatan).
Ketika oran tau kami tiba-tiba mendatangi mereka, kami sebagai putra-putra dari orang yang dikenal sebagai Al-Hadi ibn Al-Khayr Al-Yamani (Al-Hadi (pemandu) adalah asal pertama, dengan Al-khayr (yang baik) adalah akal universal, sebab keduanya ini merupakan sarana bagi petunjuk dan kebaikan), mereka mengelilingi kami dan menahan kami dengan belenggu besi (Belenggu dan ikatan itu dalah tubuh) dan memenjarakan kami di dasar sebuah lubang yang dalamnya tak terukur (lubang adalah dunia yang gelap ini). Di atas ‘sumur yang tak digunakan’ini,(QS.22.45) yang dibangun karena kedatangan kami, sebuah ‘istana yang tinggi’ (QS.22.45) yang memiliki banyak menara. (istana yang tinggi adalah jiwa-jiwa yang diciptakan sebelum benda-benda (angkasa) dan orbit-orbit. Menara adalah sfera langit).
Selanjutnya kami diberitahu, ‘Kalian boleh naik ke istana itu pada malam hari, tetapi menjelang pagi kalian harus masuk kembali ke “dasar lubang” itu. (pada malam hari kita dapat naik ke dunia Halus melalui mimpi, dan melihat bentuk-bentuk dari hal-hal yang dapat dimengerti. Karena indera-indera mati pada waktu tidur dan tiak ikut campur, maka kita menjadi mudah menerima. Tetapi pada siang hari, ketika terjaga, kita tidak mungkin berpikir akan melakukan hal semacam itu, dikarenakan campur tanagan indera; maksudnya, dalam keadaan mati, kita dapat mencapai dunianya hal-hal yang dapat dimengerti, sedangkan tidur adalah kematian yang kedua, sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran : Allah mencabut jiwa setiap orang pada sat kematiannya, dan membungkam jiwa orang yang belum mati pada waktu tidurnya,” (QS. 39:42).
Di dasar lubang itu ada “berlapis-lapis kegelapan. (QS.12:10 :lubang itu adalah tempat Yusuf dibuang oleh abang-abangnya yang iri). Ketika kami menjulurkan tangan, kami hampir saja tidak dapat melihatnya. (variasi QS.24:40), Tetapi, pada malam hari kami naik ke istana itu dan melihat kekosongan, dengan jalan mengintip lewat sebuah jendela kecil. Kadang-kadang burung-burung merpati mendatangi kami dari singgasana Yaman yang indah untuk menceritakan kepada kami tentang keadaan tempat tinggal Sang Tercinta. Kadang-kadang cahaya kilat Yaman mengunjungi kami, berkedip dari timur, di sisi kanan, (QS.19:52, 20:80) dan memberitahukan tentang jalan-jalan raya di Nejd; dan hembusan angin yang beraroma arak (Arak adalah sebuah pohon yang akarnya pahit. Cabang-cabangnya yang wangi digunakan untuk pasta gigi) membuat kami semakin ekstatis, (Dia mengemukakan semua ini dengan gaya Arab, sebab mereka menyinggung-nyinggung sang tercita dengan jejak-jejak lokasi tenda, angind dan harum bunga. Yang dimaksudkannya adalah bahwa pada wakttu tidur kita dapat melihat hal-hal yang bersifat spiritual dan bentuk-bentuk yang dapat dimengerti yang ada di dunia ruh, sebab indera telah mati). Maka kami jadi merana merindukan tanah air kami. (Yaitu, kita pun berasal dari dunia itu).
Demikianlah keadaan kami, naik pada malam hari, dan turun pada pagi hari, ketika kami melihat burung hoope (Burung hoope adalah fakultas inspirasi (ilham)), masuk melalui jendela kecil dan menyampaikan salam pada malam hari di saat bulan purnama. (yang dimaksud malam bulan purnama adalah bahwa kita terbebas dari kotoran alam (nature) dn asap yang merusak). Di paruhnya ada sepucuk surat yang dikirmkan dari ‘sisi’ kanan lembah ((Dunia halus disebutnya berada di sebelah kanan lembah. Di manapun (kata-kata) “kanan” (yamin) dan “kebahagiaan” (Yumn) dikemukakan, inilah yang mereka maksudka.  Dunia yang lebih rendah disebutnya yang “kiri”) di padang yang diberkahi, dari pohon. (QS.28”30).
Dia berkata kepada kami, “Aku akan membebaskan kalian”. Aku datang dari Syeba dengan membawa kabar, (Dari syeba dengan membawa berita, yaitu dari keraguan ke pengetahuann yang pasti), dan kabar itu dijelaskan dalam surat ini dari ayah kalian.
Kami membaca surat itu, yang isinya : “Dari Al-Hadi ayah kalian, dan :Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang.” (QS.27:30, pembukaan surat Raja Sulaiman yang dikirmkan oleh burung hoope kepada Ratu Syeba), kami telah (berusaha) membuat kaliam merindukan (kami), tetapi kalian tidak merindu. Kami telah memanggil kalian, tetapi kalian tidak datang. Kami telah menunjuk jalan pada kalian, tetapi kalian tidak mengerti.’ Dan dia menunjukku dalam suratnya, ‘Jika kamu ingin dibebaskan bersama saudaramu, (Saudaramu adalah akal spekulatif, pemandu (‘ashim)), segeralah pergi. Berpeganglah pada tali kami, yaitu ekor naga (Ekor naga, (jawzahr) adalah salah satu dari kedua titik bulan, pada waktu terjadi gerhana) dari dunia suci yang menguasai wilayah-wilayah gerhana bulan. (Alam gerhana adalah dunia praktik kezuhudan). Jika kamu sampai di lembah semut (lembah semut adalah sifat irihati – Lembah semut berasal dari pertemuan Sulaiman dengan ratu semut, liat QS. 27.186) goyangkan bajumu (yaitu sibakan rintangan dari bajumu) dan katakan, “Terpujilah Tuhan yang telah memberikan kehidupan padaku setelah membuatku mati!” dan “di tangan-Nyalah kebangkitan itu”. (QS.67.15). Selanjutnya lenyapkanlah keluargamu dan bunuhlah istrimu (istri adalah nafsu birahi), sebab “ “dia akan menjadi salah seorang yang tertinggal di belakang” (kata-kata ini mengacu pada istri Luth QS.29:31) dan 15:60). Pergilah ke mana pun kami diperintahkan, “sebab sisa terakhir dari orang-orang itu akan ditinggalkan pada pagi hari” (Kata-kata itu mengacu pada umat Luth, para penduduk Sodom dan Gomorrah QS 15:66). Naiklah ke kapal dan katakan “Bismillah” ketika ia bergerak maju dan ketika ia berhenti” (Kata-kata yang diucapkan Nuh ketika melayarkan kapalnya, QS.11:41).
Dia menjelaskan di dalam surat itu segala sesuatu yang akan terjadi di perjalanan. Kemudian si burung hoope (ilham) pergi. Matahari sudah berada di atas kepala kami ketika kami mencapai ujung kegelapan (“Matahari berada di atas kepala kami”  berarti bahwa kehidupan menjadi ciut, dan formanya berubah ketika kita mencapai tepian bayang-bayang, yaitu materi yang akan dilepaskan dari forma. Sebagai bukti bahwa yang dimaksudkannya dengan “matahari” dan “bayang-bayan” adalah materi dan forma, bandingkan dengan (QS.25:45) : Tidakkah engkau perhatikan kekuasaan Tuhanmu, bagaimana Dia memperpanjang atau memperpendek bayang-bayang yang ditimbulkan matahari? Jika Dia mau, niscaya dijadikan-Nya bayang-bayang itu mantap. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai bukti, sumber penyebab bayang-bayang itu. Kemudian kami lenyapkan bayang-bayang itu perlahan-lahan dengan menampilkan sinar matahari, yaitu jika matahari tidak tampak, jika forma tidak mewujud, maka bayang-bayang ini, atau materi, tidak akan memiliki kedudukan mental eksisstensi, yaitu ia akan menjadi benda yang non-eksistensi). Kami menaiki kapal, dan kapal berlayar ‘di antara gelombang setinggi gunung, ((QS. 11.42), dan kami ingin pergi ke Gunung Sinai untuk mengunjungi pertapaan ayah kami. Gelombang memishakan aku dari anakku, (Putra adalah jiwa hewani (ruh-i hayawani) yang tenggelam), dan ‘ anakku menjadi salah seorang yang tenggelam. (QS.11:43) tentang seorang pemuda yang kadang-kadang ditafsirkan sebagai putra Nuh). Aku menyadari bahwa ‘ ramalan orang-orangku akan dihukum, akan menjadi nyata di pagi hari. Tidakkah pagi sudah dekat, ((QS.11:81) lagi-lagi tentang umat Luth; Pagi-pagi sudah dekat adalah penyatuan dengan jiwa khusus dan universsal). Aku juga menyadari bahwa ‘kota yang dipenuhi kejahatan-kejahatan kotor (kota adalah mikrokosmos; (QS.21:74, tentang Sodom dan Gomorrah), itu akan dibuat jungkir balik (QS.11:82) dan bebatuan dari lempung yang dibakar ((QS.11:82), akan ditumpahkan ke arahnya. (penyakit, wabah dan hal-hal yang dibenci dari fakultas-fakultas yang jahat seperti sifat sombong, tamak dan iri hati).
Ketika kami mencapai tempat di mana gelombang-gelombang itu beradu dan air bergulung-gulung, aku menarik inang penyusu yang telah menyusuiku, dan melemparkannya ke laut. (Yiatu ketika kita sampai kesebuah tempat, dimana gelombang bergolak aku meneggelamkan jiwa bersamaku (ruh i thabi’i) yaitu aku melampauinya juga).
Karena kami sedang berlayar dengan sebuah kapal ‘yang terdiri atas papan dan paku’, (yaitu kita masih bersama tubuh kita ; QS.54:13), kami membuka paksa kapal itu (bandingkan dengan QS.18:71, kisah tentang Khdir dan Musa) karena takut seorang raja (Sang Raja adalah Malaikat kematian), di belakang kami akan mengambil setiap kapal dengan kekerasan  ((QS.18:79) dari penjelasan Khidir tentang alasannya mesukap kapal).
Lalu bahtera kami yang penuh muatan itu membawa kami ke Pulau Gog dan Magog di sebelah kiri Gunung Judi. (yaitu dalam keadaan ini, pemikiran-pemikiran yang merusak dan kecintaan akan dunia berkecamuk dalam khayalan; Gunung Judi, Gunung dimana kapal Nuh berlabuh (QS.11.44) padanan Islami untuk ararat).
Di situ ada bersamaku Jin (Jin adalah fakultas khayalan-khayalan dan pikiran), yang bekerja untuk ku.dan aku berkuasa atas sebuah sumur yang berisi kuningan yang meleleh. (kearifan/hikmah). Aku berkata kepada jin itu, “Tiuplah sampai ia menjadi seperti api (QS.18:96; kata Dzul Qarnayn kepada jin yang sedang membangun bendungan untuk mencegah masuknya Gog dan Magog). Kemudian aku membuat sebuah bendungan agar aku terpisah dri mereka. Dan “perhitungan Tuhan itu benar” (QS.18”98, kata Dzul Qarnayn yang meramalkan janji Tuhan untuk emnghancurkan bendungan itu menjadi debu).
Aku berkelana di wilayah itu. Di jalan aku melihat tengkorak Ad dan Tsamud, (tengkorak menggambarkan nila kerendahan dunia ini), hampir di atas tahta mereka ((QS.22:45).
Aku mengambil “dua tunggangan” (Kedua tunggangan itu adalah jiwa yang cenderung (pada kejahatan) (QS.12:53) dan jiwa yang menyalahkan dirinya sendiri (QS.75:2) bersama dengan motivasi dan seleranya. Keduanya bisa dianggap berasal dari fakultas estimatif (wham) dan imajinasi retentif (khayal), (Kata tsaqalayn (QS.55:31) biasanya ditafsirkan sebagai umat manusia dan jin), Bersama dunianya dan menempatkan mereka, bersama dengan jin, ke dalam botol bulat kecil (botol kecil, adalah otak, sumber jiwa manusia (ruh-nafsani) yang pertumbuhannya berasal dari ego (man)), yang telah ku buat yang di atasnya ada garis-garis seperti lingkaran (Garis-garis adalah urat-urat dan rongga-rongga, yang menyerupai lingkaran).
Aku memotong sungai-sungai (yaitu fakultas gerak, yang berada di dalam otak (dan bekerja) melalui pembuluh darah, selaput dan otot), dari hati langit (langit adalah kepala), dan ketika airnya diputuskan dari penggilingan, bangunannya hancur berkeping-keping dan menghilang di udara yang tipis (yaitu aku telah meninggalkan jiwa manusiawi). Lalu aku meleparkan dunianya dunia ke langit, sampai matahari, bulan, serta bintang-bintang hancur (Yaitu, jiwa yang cenderung pada kejahatan, jiwa alamiah dan jiwa manusiawi, dibuat seperti fakultas-fakultas lainnya, yang tinggal hanya fakultas-fakultas tertentu, seperti fakultas praktis dan spekulatif).
Selanjutnya aku diselamatkan dari empat belas peti mati dan sepuluh kuburan (14 peti mati adalah 14 fakultas, 10 kuburan adalah indera eksternal dan internal. Yang 14 itu dapat dikemukakan sebagai berikut : atraktif, retentif, digetif, ekspulsif, nutritif, generatif, mormatif, augmentatif, pemberang dan nafsu birahi, dan empat humour (panas, dingin, kering, basah), dari sini muncul bayangan Tuhan untuk mensucikan aku, “suatu hal yang mudah” ((QS.25:46), setelah membuat “atahari terbit” ((qs.25:47).
Aku menemukan jalan Tuhan, dan menyadari bahwa “inilah jalanku” ((QS.6 : 154).
Saudara perempuan (Saudara perempuan adalah materi benda-benda dunia yang tetap berada di dunia yang gelap, yang dapat dipisahkan dari forma, yang dianggapnya sebagia penyebab demam dan mimpi buruk, yaitu jangka waktu ketika tidak dipisahkan. Maksudnya, aku pun telah meninggalkan materi dunia ini), dan keluargaku mengidap “penderitaan yang sangat berat sebagai hukuman dari Tuhan” (QS.12.107), di malam hari, dan dia menghabiskan sebagian malam itu dalam kegelapan; dia mengalami demam dan mimpi buruk, sehingga dia merasakan sakit kepala yang hebat.
Aku melihat sebuah lampu (Lampu adalah akal aktif, yang mengelola dunia ini. Ia disebut aktif karena banyak tindakan yang lahir darinya, tidak seperti akal langit, yang melahirkan hanya satu tindakan), yang berisi minyak (Minyak yang dihasilkan darinya adalah kekuatan penghidupan benda-benda jasmaniah, yang merupakan kerajaan). Lampu itu memancarkan cahaya ke seluruh bagian rummah. Ia menerangi ceruk, dan penghuninya disinari cahaya matahari (Kosa kata diambil dari QS.24:35).
Aku meletakkan lampu itu di mulut seekor naga (Yaitu aku melepaskan akal aktiff, yang mengelola dunia ini, atas unsur-unsur dunia ini. Bukti untuk ini adalah bahwa dia mengatakan “tinggal” : meskipun unsur-unsur dunia ini berputar, mereka tidak memiliki bentuk melingkar (melainkan tetap/tidak bergerak), yang berada di dalam menara kincir air (Menera kincir air adalah langit yang berputar seperti roda; Dalam astronimo kincir air itu adalah Aquarius), yang di bawahnya terbentang laut Clysma (Laut Clysma adalah perairan di bawah langit), dan di atasnya ada bintang-bintang, dan asal usul cahayanya hanya diketahui oleh Sang Pencipta dan mereka “yang mendalam pengetahuannya” ((QS.3.57). Aku melihat singa (Singa adalah tanda zodiak Leo), dan banteng (Banteng adalah tanda zodiak Taurus, simbol kesejahteraan, yang mencerminkan motif artistis Iran tradisional darogir, singa dan banteng yang terlibat dalam pertempuran), telah lenyap (Meskipun nama-nama yang terpisah tetap ada, yang dimaksudkannya adalah bahwa dia telah mencapai dunia ketunggalan (‘alam-i mufradat), di mana karena segala sessuatu memiliki satu sifat (nature), maka di situ tidak ada pertikaian, seperti antara singa dan banteng), dan busur (busur adalah tanda zodiak Sagitarius, si Pemanah), serta kepiting (Canser), telah terlipat di dalam putaran sfera-sfera (yaitu, tidak ada kejahatan, keduanya ini adalah ibarat untuk kejahatan). Timbangan (Zodiak Libra) tetap seimbang ketika bintang Yaman (Bintang Yaman adalah Canopus (suhayl), bintang yang sangat menonjol dalam adat dan penegetahuan timur (estern lore), muncul (yang dimaksud adalah Jiwa Universal) dari balik awan yang bergumpal-gumpal (yaitu akal dan jiwa dari balik bentuk)  yang terdiri atas apa yang akan dipintal laba-laba di sudut-sudut dunia elemental di alam kelhairan dan kehancuran.
Kami bersama domba (domba wekali rasa takut ), domba itu kami tinggalkan di tengah belantara. Mereka dihancurkan oleh gempa bumi, dan amukan api membakar mereka.
Ketika jarak telah terlewati, dan jalan-jalan telah dilalui, dan “keran telah di tuangkan” ( QS. 11.40, tanda untuk awal banjir besar), aku melihat tubuh-tubuh suci. Aku bergabung dengan mereka dan mendengar suara serta cara-cara mereka, yang aku pelajari untuk ku nyanyikan, tetapi suara itu tidak enak di telingaku seolah-olah itu adalah rantai yang sedang diseret melewati batu granit. Anggota tubuhku hampir tercabik berkeping-keping, dan tulang-tulang sendiku hampir rontok akibat kesenangan yang aku alami. Peristiwa itu terus berulang-ulang sampai awan-awan bertebaran, dan selaput terkoyak (Yaitu selubung telah diangkat).
Aku meninggalkan gua dan lubang-lubang besar itu, dan turun dari kamar-kamar, berjalan menuju mata air kehidupan. Aku melihat batu besar di puncak bukit yang mirip gunung tinggi. Aku bertanya pada ikan ((yaitu jiwa-jiwa tertentu yang telah mencapai tempat tinggal mereka), yang berkumpul di dalam mata air kehidupan dan bersenang-senang di bawah bayangan gunung yag menjulang tinggi, apakah tanjung itu dan apakah batu besar itu.
Salah seekor ikan itu berenang ke laut (yaitu dalam pengetahuna (ilm), menggali terowongan ((QS.18:61) suatu rujukan kepada ikan kering yang menjadi hidup dan berenang ketika dijatuhkan oleh pelayan Musa (Yusya) pada waktu mereka mencari “Pertemuan dua laut” di mana mereka bertemu dengan “hamaba Tuhan Yang Saleh” yang ditafsirkan sebagai Khidir di Mata Air Kehidupan). Ia berkata, “Itulah yang kami cari” (QS. 18:64; kata-kata Musa kepada Yusya ketika diberitahu tentang hidupnya kembali ikan itu), dan gunung itu adalah Gunung Sinai (yaitu sfera-sfera). Batu itu adalah sel ayahmu (Sang Ayah adalah akal universal). Apakah ikan-ikan itu? Aku bertanya. Ia menjawab, “Makhluk sejenismu : kalian adalah putra-putra dari satu orang ayah. Mereka diwijudkan sebagaimmana kamu, jadi mereka adalah saudara-saudaramu.”
Ketika aku mendengar dan ssadar, aku memeluk mereka dan begirang hati karena mereka, dan mereka bergirang hati karena aku. Aku menaiki gunung itu dan melihat ayah kami, seorang tua (jiwa universal), yang berkat kecemerlangan cahayanya, langit dan bumi hampir terkuatk. Aku bingung dan takjub karenanya. Aku berjalan ke arahnya. Dia menyalami ku, lalu aku menjatuhkan diri di hadapannya, dan hampir lenyap akibat pancaran cahayanya.
Aku meratap sesaat dan mengeluh padanya mengenai penjara Kairouan. Dia berkata padaku, “itu bagus. Kamu telah bebas. Tetapi kamu harus kembali ke penjara barat, sebab kamu belum melepaskan ikatan-ikatanmu seluruhnya” ((Yaitu kamu telah datang demi pemikiran (fikr) dan inspirasi (ilham), tetapi masih ada sisa-sisa ikatan dalam dirimu ). Ketika aku mendengarnya mengatakan ini, aku kehilangan akal, menangis dan mengerang bagaikan orang yang melihat kehancurannya telah hadir di hadapan matanya. Aku memohon padanya, tetapi ia berkata, “Adalah penting bagimu untuk kembali sekarang, tetapi aku akan memberimu kabar yang menyenangkan tentang dua hal : Pertama, jika kamu kembali ke penjara, kamu akan bisa mendatangi kami dan naik ke surga kami dengan mudah kapan saja kamu kehendaki; Kedua : pada akhirnya kamu akan dibawa ke hakadapan kami dengan meninggalkan negeri-negeri barat untuk selama-lamanya”.
Aku senang sekali mendengar perkataannya. Lalu dia berrkata padaku, “Ketahuilah, bahwa ini adalah Gunung Sinai. Di atas ini adalah Gunung Sinin, di mana ayahku, kakekmu (Yaitu akal universal dan asal usul (emanation). Dia tidak menikah sebagaimana yang dikatakan orang bodoh, sebab mereka tidak memiliki hasrat badaniah dan tidak rentan terhadap analisis sintesis), tinggal. Aku berlaku sebagai penghubungnya, sebagaimana kamu berlaku sebagai penghubung ku (QS.28:88). Kita memiliki nenek moyang lain, sampai garisnya sampai apda raja yang menjadi leluhur agung yang tidak mempunyai ayah atau kakek. Kita semua adalah hamba-hambanya. Kita mengambil cahaya darinya, dan merupakan tiruannya. Dia adalah kemuliaan yang terbesar, milik-Nya lah kemuliaan yang tertinggi dan cahaya yang terkuat. Dia berada di atas terejawantahkan dalam segala sesuatu, dan “segala seuatu musnah kecuali wajah-Nya” ((QS.28:88).
Aku tengah asyik mendengarkan kisah ini ketika keadaanku berubah, lalu aku jatuh dari udara ke sebuah tempat yang rendah di antara orang-orang yang tidak percaya. Aku menjadi narapidana di wilayah barat. Tetapi di dalam diriku tersimpan kesenangan yang tidak dapat aku jelaskan. Aku mengerang dan merapat penuh penyesalan karena terpisahkan, dan kenyamanan itu hanyalah impian yang cepat berlalu.
Semoga Tuhan menyelamatkan kami dari cengkeraman alam (nature) dan ikatan-ikatan materi. Katakanlah, “Puji syukur hanya kepada Tuhan! Dia akan menunjukan padamu tanda-tanda-Nya, dan kamu akan mengenali tanda-tanda itu; dan Tuhanmu tidak lalai akan apa yang kamu lakukan (QS.27:93). Dan katakan “Terpujilah Tuhan! Tetapi sebagian besar dari mereka tidak mengerti” (QS.31:25). Shalawat dan salam tertuju kepada Nabi-Nya dan seluruh keluarganya.

Kota Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo – Jawa Timur.
September : 09 – 2013

-------------ooooooOOOOOOOOoooooo-------------






2 komentar: