Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Google+ Followers

Senin, 07 Oktober 2013

Rahasia Misteri KUN dan Hikayah Iblis




POHON  KEJADIAN
Syajaratul  kaun
(Doktrin  tentang Person “Muhammad Saw.)
Penerbit : “Risalah Gusti” jl. Ikan Mungsin XIII/I – Surabaya
Tahun : Dzulhijjah 1420 /Maret 2000
Penerjemah : Wasmukan
Penyadur : Pujo Prayitno
 Sekilas tentang ibnu ‘arabi
Adalah Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali al-Hatimi ath-Tha’i al-Andalusi, yang elah terkenal dengan gelar “Muhyiddin” (Penghidup Agama) Ibnu ‘Arabi. Seorang tokoh sufi terkenal yang juga punya gelar “asy-Syeikh” (Maha Guru) ini dilahirkan di Mursia, sebelah tenggara Andalus atau Spanyol bagian tenggara pada 17 Ramadhan 560H/28 Juli 1165 M. Di suatu keluarga terhormat, berkecukupan dan berpendidikan. Pada saat itu Mursia diperintah oleh Muhammad bin Sa’id bin Mardanisy.
Pada tahun 568 H/1172 M. Saat beliau berumur delapan tahun, diajak pindah keluarganya ke Sevilla, tempat ayahnya diberi pekerjaan pada dinas pemerintahan atas kebaikan Abu Ya’kub Yusuf, penguasa daulah al-Muwahhiddin pada saat itu. Di kota pusat ilmu pengetahuan ini, Ibnu ‘Arabi yang pada saat itu telah menginjak usia delapan tahun memulia pendidikan formalnya. Di bawah bimbingan para guru dan sarjana, ia menimba berbagai ilmu pengetahuan, mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya, hadits, fiqih, teologi dan filsafat skolastik. Ia tinggal di tempat ini hingga tahun 598 H.1201 M.
Selama menetap di Sevilla, Ibnu ‘Arabi muda sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika Utara. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mengunjungi para guru sufi dan sarjana terkemuka pada saat itu. Di Kordova ia pernah bertemu dengan Ibnu Rusyd, seorang filosof tua beraliran Aristotelianisme. Di kota ini pula ia sempat mengajarkan al-Qur’an, hadits dan fiqih kepada Ibnu Hazm adh-Dhahiri, seorang murid yang menguasai disiplin fiqih yang kemudian berhasil membangun Madzab adh-Dhahiri. Di antara murid-muridnya adalah Abu Bakar bin Khalaf.
Nama Ibnu ‘Arabi melambung tinggi, posisinya semakin kokoh di hati masyarakat. Beliau meninggalkan Andalusia dan Maroko untuk berangkat ke daerah Timur, yaitu ke Mekkah dan sekaligus menunaikan ibadah haji. Dari Mekkah kemudian memasuki daerah Roamwi. Di sini beliau menikah dengan seorang perempuan salehah Maryam, puteri asy-Syeikh Shadruddin Muhammad bin Sihaq al-Qunawi, seorang murid sufi yang belajar ilmu tasawuf dari Ibnu ‘Arabi sendiri sampai ia dianggap lulus.
Dari sini, kemudian mengembara ke berbagai wilayah Timur. Beliau sempat berkunjung ke Mesir, Syiria. Aljazair, Baghdad, Mosul dan Asia Kecil, kemudian bermukim di Damaskus sampai beliau wafat dan dimakamkan di Shalihiyyah pada 22 Rabi’ats-Tsani 638 H/November 1240 M, tepatnya di kaki bukit Qasiyun.
Tokoh sufi berketurunan suku Arab Kuno Tha,i ini telah banyak menulis kitab-kitab yang menjadi khazanah pengetahuan Islam, dimana kitab-kitab tersebut hanya sedikit yang bisa sampai ke tangan kita. Ia adalah seorang penulis paling produktif. Ada yang mengatakan bahwa karya karyanya lebih dari delapan ratus judul, ada pula yang menyebutkan empat ratus judul. Sekalipun terjadi perbedaan jumlah yang disebutkan, yang jelas, telah menunjukkan produktivitas nya dalam menghasilkan karya-karya ilmiah. Di antara tulisannya yang paling monumental dalam bidang tasawuf-falsafi adalah “al-Futuhat al-Makkiyyah” dan “Fushush al-Hikam.
Kitab al-Futuhat al-Makkiyyah mulai disusun di Mekkah pada tahun 598 H/1202 M,. Menurut pengakuannya, kitab ini didiktekan Tuhan melalui malaikat yang menyampaikan ilham. Sementara itu kitab Fushush al-Hikam – sekalipun relatif pendek—merupakan karya Ibnu ‘Arabi yang paling banyak dibaca dan diberi syarah (penjelasan), karena memang paling sulit dipahami. Karya ini disusun sepuluh tahun sebelum ia wafat, dan menurut pengakuannya, karya ini diterimanya dari Nabi Muhammad saw. Yang memerintahkan agar menyebarkannya, agar ummat manusia dapat mengambil manfaatnya.
Di samping kedua kitab yang paling monumental tersebut, ia juga banyak menulis kitab yang jumlahnya tak terhitung, misalnya Masyahid al-Asrar al –Qudsiyyah, Muhadharat al-Abrar wa Musamarat al-Akhyar, Kasyf al-Ma’na Siiri Asma’illah al-Husna, “Anqa’Maughrib, Raudhah al-Asyiqin, Syajaratul-Kaun dan lain-lain.
Syajaratul-Kaun, buku kecil yang ada di tangan pembaca ini adalah karya Ibnu ‘Arabi yang memaparkan doktrinnya tentang Pribadi Nabi Muhammad saw. Dalam karya ini, ia mengulas keunikan Rasulullah Muhammad saw. Dalam hubungannya dengan Allah, manusia dan alam secara keseluruhan yang disimbolkan dengan “POHON” yang muncul dari sebutir benih “KUN”.
Metode yang digunakan oleh Ibnu ‘Arabi dalam menulis karyanya secara umum banyak diwarnai dengan metode penuturan simbolik yang sulit dipahami dan juga faktor fanatisme para ulama fiqih dan kalam yang ortodoks, kemudian mereka membatasai ruang gerak perkembangan pemikiran Ibnu ‘Arabi dan bahkan mereka menganggap sesat dan keluar dari Agama Islam.

ISI BUKU :
1.  SAJARATUL KAUN.
2.  HIKAYAH IBLIS

1.              SYAJARATUL – KAUN (pohon - kejadian

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa dalam Dzat, tidak ada yang menyamai dalam Sifat-sifat-Nya, Di mana “Wajah-Nya” Mahasuci dari segala arah, Mahabersih dari segala bentuk baru, Mahasuci “Kaki-Nya” dari segala arah, “Tangan-Nya” dari segala gerak, “Mata-Nya” dari lirikan pandang, “Bersemayamnya-Nya” dari segala ketersentuhan, Kekuasaan-Nya dari kekeliruan dan kekurangan, Kehendak-Nya tidak menjadi banyak akibat banyaknya yang disifati, Kehendak-Nya tidak berbeda-beda akibat perbedaan yang dikehendaki. Dia menciptakan segala yang ada di alam raya ini dengan kata “KUN” (wujudlah), di mana dengan kata tersebut Dia mewujudkan segala yang diwujudkan, sehingga tidak pernah ada apa pun yang wujud ini kecuali keluar dari hakikat yang tersembunyi dari kata tersebut, sementara tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi kecuali keluar dari rahasianya yang selalu terjaga. Allah swt. Berfirman :
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apapbila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “KUN” (jadilah), maka ia pun jadi (wujud),” (Qs. An-Nahl : 40).
Saya merenungkan alam raya (KAUN) dan pembentukkannya, memperhatikan apa yang tersimpan dan pembukuanya, maka saya melihat bahwa alam raya (kosmos) ini seluruhnya adalah suatu pohon, sementara pangkal cahayanya berasal dari satu benih “KUN” dimana “Kaf al-Kauniyyah” (huruf Kf dari KUN) dikawinkan dengan serbuk benih “Kami telah menciptakan kalian” (Qs. Al-Waqi’ah:57). Dari penyerbukan benih tersebut muncul buah “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Qs. Al-Qamar :49). Dari sini muncul dua dahan yang berbeda dari satu akar yang sama. Akar tersebut adalah al-Iradah (kehendak), semenara cabangnya adalah al-Qudrah (Kuasa).
Dari esensi Kaf muncul dua makna yang berbeda : Kaf al-Kamaliyyah (Kesempurnaan) “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu  agamamu” (Qs. Al-Ma’idah:3). Dan kedua adalah Kaf al-Kufriyyah (Kekufuran) “Maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir” (Qs.al-Baqarah : 253). Sementara dari Jauhar (esensi) “NUN” dari kata KUN muncul Nun Nakirah (ketidak tahuan) dan Nun Ma’rifah (pengetahuan tentang Tuhan). Ketika ditampakkan kepada mereka dari Kun ketiadaan pada hukum yang dikehendaki oleh keqadiman, maka Dia memercikan sinar kepada mereka dari Sinar-Nya. Orang yang terkena sinar tersebut, kemudian ia memandang gambaran “Pohon Kejadian” (Syajaratul-Kaun) yang tumbuh dari benih KUN, ia akan memiliki kebahagiaan yang ada dalam rahasia Kaf-nya sebagai gambaran Firman Tuhan : “Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Qs. Ali Imran :110).
Dan tampak jelas dalam penjelasan Nun-nya di dalam Firman-Nya : “Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) Agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Qs. Az-Zumar:22).
Sementara orang yang tidak terkena sinar tersebut, lalu diminta mengungkapkan makna yang dimaksud dari kata Kun, maka ia akan salah dalam mengejanya, dan nista dalam harapannya. Ia melihat bentuk kata Kun, maka ia mengira, bahwa huruf tersebut adalah Kaf Kufriyyah (kekufuran) dengan Nun Nakirah (ketidaktahuan), karena ia termasuk kelompok orang-orang kafir.
Nasib (bagian) setiap makhluk dari kata Kun, sesuai dengan apa yang diketahui dari pengejaan hurufnya, dan apa yang disaksikan dari rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya adalah berdasarkan sabda Rasulullah saw. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Dia memercikkan kepada mereka dari Sinar-Nya. Barang siapa terkena sinar tersebut akan mendapatkan petunjuk, sementara orang yang luput dari percikan sinar tersebut akan sesat dan menyimpang.” (Lihat pula H.r. at-Tirmidzi, Kitab al-Iman :2566)
Ketika Adam a.s. melihat lingkaran wujud, maka ia menemukan bahwa segala yang wujud ini berkisar pada lingkaran alam(Kaun): Satu terdiri dari api, sementara yang lain terdiri dari tanah liat (thin). Adam kemudian melihat lingkaran ini berada pada rahasia-rahasia Kun.  Bagaimanapun caranya perputar ia akan tetap berputar, dan dimanapun ia terbang akan tetap terbang. Kepada lingkaran tersebut ia akan kembali dan pada lingkaran itu pula akan tetap berputar, ia tidak akan pernah lepas dan berubah. Satu di antara mereka menyaksikan Kaf Kamaliyyah (kesempurnaan) dan Nun Ma’rifah (pengetahuan tentang Tuhan), sementara yang lain menyaksikan Kaf Kufriyyah (kekufuran) dan Nun Nakirah (Ketidaktahuan). Sehingga kebijakan hukum ada padanya akan kembali pada titik lingkaran Kun. Apa yang diciptakan (al-Mukawwan) tidak pernah melampaui apa yang dikehendaki Dzat Yang Menciptakan (al-Makuwwin).
Apabila memperhatikan berbagai macam dahan “Pohon Kejadian” dan berbagai jenis buahnya, Anda akan tahu bahwa sumber utamanya berasal dari satu biji benih Kun yang jauh berbeda.
Ketika Adam a.s. dimasukkan dalam “Lembaga Pendidikan” dan diajari tentang  seluruh nama, maka ia melihat contoh Kun, lalu ia melihat apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta melalui apa yang diciptakan-Nya, maka ia menyaksikan “Sang Guru” dari Kaf-nya Kun suatu Kaf al-Kanziyyah (Gudang segala simpanan) “Aku adalah gudang simpanan rahasia”.
 Adam tidak tahu, lalu ia sangat ingin tahu. Kemudian ia melihat rahasia yang ada pada Nun, yaitu Nun al-Ananiyyah (Keakuan) “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Qs. Thaha : 14).
Ketika pengejaan itu benar dan harapannya pun terealisasi, maka “Sang Guru” mengambilkan suatu intisari dari Kaf al-Kanziyyah (gudang simpanan rahasia) suatu Kaf at-Takrim (pemuliaan) “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (Qs. Al-Isra’ : 70). Dan Kaf al- Kuntuyyah (Keakuan)  Aku akan menjadi Pendengaran, Penglihatan dan Tanagn Baginya.”
Dari Nun-al-Ananiyyah (Keakuan) “Sang Guru” mengeluarkan bagi Adam Nun an-Nurriyah (Pencahayaan) “Kami menjadikan sinar untuknya.” (Qs. Al-An’am : 122) Lalu Nun tersebut bersambung  dengan Nun Ni’mahDan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menjumlahnya dalam hitungan tertentu.” (Qs. Ibrahim : 34).
Sementara itu, si Iblis --- Semoga Allah melaknatnya – tinggal dalam “Lembaga Pendidikan” selama empatpuluh ribu tahun untuk memahami huruf-huruf KUN. “Sang Guru” telah memasrahkan segala-galanya kepada diri Iblis, menyerahkan segala upaya dan kekuatan kepada kekuatannya sendiri. Maka iblis melihat bentuk Kun, agar dari bentuk tersebut ia dapat menyaksikan  Kaf Kufriyyah (Kekafirannya), lalu ia sombong , membangkang dan merasa paling besar. Ia juga menyaksikan Nun kata tersebut suatu Nun Nariyah (api asal ciptaannya) “Engkau menciptakan aku dari api.” (Qs. Al-A’raf : 12). Kaf kekufurannya bersambung dengan Nun keapiannya, maka ia dimasukkan ke dalam neraka “Maka mereka dijungkir-balikan ke dalam neraka.” (Qs. Asy-Suara :94).
Tatkala Adam melihat perbedaan yang terjadi pada pohon ini dan berbagai macam bunga dan buahnya., maka ia berpegang erat dengan dahan “Sesungguhnya Aku adalah Allah Tuhan semesta alam” (Qs. Al-Qashash :30). Lalu  Adam dipanggil dengan seruan “Makanlah dari berbagai buah tauhid dan berteduhlah di bawah Naungan Yang Mahatunggal.” Selain perintah juga ada larangan, “Janganlah kalian mendekati pohon ini.” (Qs. Al-Baqarah : 35 dan al-A’raf : 19). Namun iblis menginginkan agar Adam bisa sampai pada dahan : “Maka setan membisikan pikiran jahat kepada mereka (Adam dan Hawa).” (Qs.. al-A’raf : 20).
Kemudian Adam dan Hawa makan buah terlarang, yang membawa mereka tergelincir ke dalam tempat-tempat yang menggelincirkan : “Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan ‘sesatlah ia.” (Qs. Thaha : 121).
Tapi Adam tetap berpegang teguh dengan dahan istighfar :
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf :23).
Akhirnya merunduk dan turun untuknya buah dari Tuhannya :
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya.” (Qs. Al-Baqarah : 37).
Ketika dipanggil di hari kesaksian di depan mata para saksi untuk diminta kesaksian “Bukankah Aku ini Tuhan kalian.?” (Qs. Al-A’raf : 172), Maka masing-masing akan memberikan kesaksian sesuai dengan kadar yang ia saksikan dan ia dengar, kemudian semuanya sepakat menjawab, “Benar, tentu Engkau Tuhan kami.” Akan tetapi perbedaan itu terjadi dari sisi kesaksian mereka. Orang yang menyaksikan-Nya dengan Keindahan Dzat-Nya, maka ia akan memberikan kesaksian bahwa tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya. Orang yang menyaksikan-Nya dengan Keindahan Sifat-sifat-Nya, ia akan memberikan kesaksian, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menjadi Raja lagi Mahasuci. Sementara orang yang menyaksikan-Nya dengan keindahan yang ada pada Makhluk-Nya, maka kesaksian mereka akan berbeda-beda akibat perbedaan yang mereka saksikan. Sekelompok orang menjadikan-Nya terbatas, kelompok lain mengangggapnya tidak ada, sementara kelompok yang lain lagi menjadikan-Nya batu karang yang keras. Dalam hal ini, seluruhnya pada satu kebijakan hukum. “Katakanlah ‘Sekali kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (Qs.at.Taubah : 51).
Kebijakan hukum di atas hanya dapat diketahui pada rahasia yang tersimpan dalam kata Kun, yang akan berputra pada titik lingkarannya, yang tertanam kokoh pada pangkal benihnya.
Ketika sebutir benih ini merupakan bibit Pohon Alam dan cikal bakal buah dan makna bentuknya, maka saya sangat berkeinginan untuk menjadikan apa yang  dibentuk ini ssuatu contoh dan apa yang diwujudkan ini menjadi suatu gambaran. Sementara berbagai ucapan (firman), pekerjaan dan kondisi yang muncul di dalamnya kita jadikan suatu car untuk mencari kesimpulan (Pengertian). Kemudian saya mencontohkan sebatang pohon yang tumbuh dari sebutir benih Kun. Sementara segala yang terjadi di alam ini dari berbagai fenomena baru, seperti kekurangan, kelebihan, pertumbuhan, apa yang tidak dapat disaksikan oleh mata (Ghaib) dan apa yang dapat disaksikan (Syahadah), kufur dan iman, apa yang muncul dari berbagai kegiatan, pembersihan kondisi dan tingkah laku, apa yang muncul dari ucapan-ucapan yang indah, kerinduan, perasaan, berbagai pengetahuan yang rumit, apa yang tumbuh dari kedekatannya orang-orang yang dekat dengan Tuhan (al-Muqarrabin), kedudukan orang-orang yang bertaqwa (al-Muttaqin), derajat orang-orang yang jujur (as-Shiddiqin), berbisik (munajat) nya orang-orang arif (al-‘Arifin) dan Musyahadah-nya orang-orang yang cinta kepada Allah (al-Muhibbin). Semua itu merupakan buah yang dihasilkan oleh pohon ini dan mayang serbuk yang dimunculkan oleh Pohon Alam ini.
Pertama kali yang dimunculkan oleh Pohon yang berasal dari benih Kun ini adalah tiga dahan. Satu dahan mengarah ke sebelah kanan. Mereka adalah kelompk orang-orang yang berada di sebelah kanan (Ashhabul yamin). Dahan yang kedua mengarah ke sebelah kiri. Mereka adalah orang-orang yang berada pada kelompok kiri. Sementara dahan yang ke tiga lurus menjulang tinggi. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki kedekatan dengan Allah (as-Sabiqun al-Muqarrabun),
Tatkala dahan itu kokoh dengan batangnya dan menjulang tinggi, muncul dari ranting-ranting bagian atas dan bagian bawah suatu alam bentuk dan alam makna, sementara kulit dan tutup  bagian luar yang tampak adalah alam al-Mulk, sedangkan isi yanng terpendam dan inti makna-maknanya yang tersembunyi adalah alam malakut. Sementara itu, air yang mengalir melalui jaringan-jaringan urat nadi yang dapat menunjna ghidup tumbuh dan tingginya pohon ini, memunculkan putik bunga, memekarkan bunga dan mematangkan buahnya adalah alam Jabarut yang merupakan rahasia dari kata Kun.
Kemudian pohon itu dikepung oleh dinding dan dibatasi oleh batas-batas dan garis-garis tertentu. Btas-batas tersebut adalah arah : Atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang. Bagian atas, maka pembatasnya adalah bagian atas, yang bawah batasnya adalah bagian bawah. Sedangkan garis-garis pembatasnya adalah apa yang ada di dalamnya, dari berbagai orbit dan benda-benda langit, para penguasa, berbagai ketentuan hukum, jejak para pendahulu dan para tokoh. Mka tujuh lapis langit ibarat daun yang digunakan berteduh, sementara bintang gemintang yang bersinar iabarat bunga yang ada di atas ufuj, malam dan siang ibarat dua helai selendang yang berbeda. Salah satunya berwarna hitam kelam yang dikenakan untuk menghalangi pandangan mata, sementara yang lain berwarna putih yang dikenakan untuk menampakkan diri (tajalli), kepada orang-orang yang sanggup melihatnya. “Arasy rumah yang menyimpan segala kekayaan dan senjata Pohon ini. Dari rumah ini diperoleh berbagai manfaat yang menunjang kebaikan Pohon., di tempat itu pula Pohon ini dikendalikan dan para pelayannya diatur. “Dan engkau akan melihat malaikat-malaikat melingkar berputra di sekeliling “Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya. “ (Qs. Az-Zumar : 75).  Ke’Arasy mereka menuju, ke sana mereka bermaksud, di sekitarnya mereka mengitari, di mana pun mereka berada maka mereka memberikan isyarat ke ‘Arasy.
Ketika terjadi suatu peristiwa atau bencana yang menimpa pohon ini, maka mereka menengadahkan tangan untuk meminta, merendah ke arah “Arasy untuk meminta kepulihan (kesembuhan), berusaha menjaga dari langkah yang tidak benar., sebab Dzat Yang mewujudkan Pohon ini tidak memiliki arah yang dapat ditunjuk, tidak dapat dituju di mana atau ke mana, tidak dapat diketahui dengan cara bagaimana. Andaikan ‘Arasy bukanlah suatu arah yang dapat dituju mereka untuk melakukan pengabdia kepada-Nya, menunaikan ketaatannya, tentu mereka akan tersesat dalam tuntutan mereka. Maka Allah swt, mewujudkan ‘Arasy hanyalah untuk menampakkan Asma’ (nama-nama) dan Sifat-sifat-Nya, sebab diantara Nama-nama-Nya adalah al-Ghafur (Maha Pengampun) sementara di antara Sifat-sifatnya adalah al-Maghfirah (Ampunan), di antara Nama-nama-Nyaadalah ar-Rahim (MahaPengasih), Sementara di antara Sifat-sifat-Nya adalah as-Rahmah (Kasih sayang), di antara Nama-nama-Nya adalah al-Karim (Maha Mulia), sementara di antara Sifat-sifat-Nya adalah al-Karam (Kemuliaan). Maka dahan-dahan dari pohon ini berbeda-beda buahnya pun beraneka ragam. Semua itu untuk menampakkan rahasia ampunan-Nya kepada hamba yang berdosa, rahmat-Nya kepada hamba yang berbuat baik, keutamaan-Nya kepada hamba yang taat, keadilan-Nya kepada hamba yang durhaka, Nikmat-Nya kepada si Mukmin, Siksa-Nya kepada si Kafir.
Dalam Wujud-Nya Dia Mahasuci dari ketersentuhan, jauh, berssambung atau berpisah dengan apa yang Dia wujudkan, sebab Dia telah Wujud, Dia bukanlah alam, Dia sekarang tetap sebagaimana semula, Dia tidak sambung dan juga tidak pisah dengan alam, sebab sambung dan pisah adalah termasuk sifat-sifat makhluk (hudutas) bukan termasuk sifat-sifar Qidam. Berpisah dan bersambung mengharuskan terjadinya perpindahan dan pergeseran, sedangkan dari perpindahan daan pergeseran akan mengakibatkan perubahan, pergantian dan bahkan kesirnaan. Semua ini adalah sifat-sifat kekurangan dan bukan Sifat-sifat Kesempurnaan (al-Kamal). Dia Mahasuci dan Maha tinggi dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang yagn zalim dan para atheis.
Kemudian Dia menciptakan Lauh Mahfuzh dan al Qalam ibarat Buku Sang Maha Raja yang di dalamnya terdapat berbagai keputusn hukum. Ada hukum yang dibatalkan dan ada pula yang ditetapkan, apa yang di wujudkan dan yang ditiadakan, apa yang keluar dari kebaikan-Nya, pemberian nikmat, pahala dan siksa. Sedangkan Sidratul-Muntaha adalah ibarat sebatang dahan dari dahan-dahan pohon ini, yang di bawahnya terdapat malaikat yang mengabdi-Nya, melaksanakan keputussan-keputusan hukum-Nya, melaporkan apa yang di bawahnya dari buah pohon. Di sana kemudian ia menerima salinan Kitab Sang Maha Raja yakni Lauh Mahfuzh. Sementara apa yang terejadi pada Pohon ini, baik penetapan maupun pembatalan, pengurangan maupun penambahan tidak akan terjadi di luar Pohon tersebut. Sebab masing-masing dari mereka telah memiliki batas yang dipahami, bagian yang telah ditetapkan dan ketentuan yang telah ditentukan. “Tiada seorang pun di di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan tertentu.” (Qs. As-Shaffat : 164)
Tidak sedikit pun buah dari Pohon ini akan dilaporkan ke atas --- rendah maupun baik, kecil maupun besar. Mulia maupun hina, sedikit maupun banyak – kecuali sudah tercatat dalam sebuah Kitab yag tidak mengecualikan yang kecil dan yang besar, yang kesemuanya itu akan dicatat di dalamnya. (Lihat Qs. Al-Kahfi :49)
Kemudian Sang Maha Raja memerintahkan mereka untuk di kirimkan ke salah satu dari dua gudang untuk menyimpan buah Pohon itu. Kedua gudang tersebut tidak lain adalah Surga dan Neraka. Buah yang baik akan disimpan di dalam gudang Surga, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam surga “Illiyyin.” (Qs. Al-Muthaffifin : 18). Sementara buah yang jelek akan dimasukan kedalam gudang neraka. “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam neraka Sijjin (Qs. Al-Muthaffin : 7)
Surga adalah tempat tinggal orang-orang yang berada di kelompok kanan (Ashhabul Yamin) dari Pohon yang diberkahi dan baik. Sedangkan neraka adalah tempat tinggal orang-orang yang berada di kelompok kiri (Ashabusy Syimal) dari Pohon terkutuk yang ada dalam al-Qur’an.
Dia menciptakan dunia yang akan meninggalkan bunganya, sementara akhirat sebagi tempat tinggal buah Pohon tersebut. Sementara itu. Pohon ini dikelilingi oleh dinding Qudrah (Kekuasaan-Nya) yang meliputi segala-galanya. “Sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (Qs. Fushilat : 54). Dikepung oleh lingkaran al-Iradah (Kehendak-Nya), dimana Dia akan melakukan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia inginkan.
Ketika pangkal Pohon ini telah kokoh dan cabang-cabangnya pun semakin kuat, maka dua ujungnya akan saling bertemu, yang terakhir bertemu dengan yang pertama, “Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (Ketentuan waktunya),” (Qs. An-Nazi’at :44). Sebab orang yang permulaannya dengan kata Kun, maka akhirnya pun akan tetap ada. Pohon tersebut seklaipun cabang-cabangnya banyak, tetapi asalnya hanya satu, yaitu sebutir benih Kun. Sehingga akhirnya juga hanya satu, yaitu kata Kun.
Andaikan Anda sanggup melihat dengan ketajaman mata hati (Bashirah), Anda akan melihat dahan-dahan dai Pohon Thuba (Kebahagiaan Surgawi) yang menggantung dengan dahan-dahan dari Pohon Zaqum (Makanan penduduk neraka), segarnya angin yang sepoi-sepoi basah bercampur dengan panasnya hembusan api yang sangat panas, peneduh langit  al Washl (Sambungnya hamba dengan Tuhannya) berjejer dengan peneduh dari asap hitam tebal. Masing-masing orang akan memperoleh bagian yang telah ditentukan, seseorang minum dengan gelas yang sudah ditentukan, sementara yang lain minum dengan gelas yang disegel, dan ada pula yang tidak mendapatkan minuman. Talkala tampak Wujud (Yang diibaratkan anak-anak kecil) dari singgasana ketiadaan, lalu mereka dihembus oleh angin segar al-Qudrah (Kekuasaan), diasuh dan dipelihara oleh kelembutan dan belaian al-Hikmah (kebijakan), dihujani oleh awan al-Iradah (Kehendak) dengan berbagai keajaiban ciptaan, maka Wujud itu menumbuhkan berbagai maca dahan yang muncul dari batang Pohon sesuai dengan apa yang telah ditentukan dalam ke-qadiman-ya. Dalam unsur dahan tersebut disusun dari sehat dan sakit (penyakit). Sebab seluruh alam terdiri dari dau unsur yang dikeluarkan dari dua bagian yang berasal dari kata Kun. Kedua unsur tersebut adalah kegelapan dan cahaya. Dan seluruh kebaikan berasal dari cahaya, sedangkan seluruh kejelekan berasal dari kegelapan.
Malaikat adalah makhluk Allah yang diwujudkan dari unsur cahaya, sehingga mereka menjadi baik, tidak pernah menentang (maksiat) terhadap apa yang diperintahkan Allah swt. Berbeda dengan setan, mereka dipenuhi dengan unsur kegelapan, maka yang muncul adalah kejahatan. Sementara itu Adam dan anak cucunya diciptakan dari tanah liat (ath-thin) yang terdiri dari kebaikan dan kejelekan serta manfaat dan bahaya. Sedangkan dzat (Subyek)nya diciptakan untuk sanggup menerima pengetahuan  dan ketidak tahuan. Jauhar (esensi) mana yang sanggup mendominasi dalam diri manusia, maka ia akan masuk dalam kelompok tersebut. Kalau yang menang adalah Jauhar cahayanya dan muncul jiwa spiritual (Ruahniyah) untuk mengalahkan jasmaniah (psikis)nya, maka ia akan sanggup mengungguli para malaikat dan akan melambung tinggi di atas orbit. Akan tetapi bila yang mendominasi dalam diri manusia adalah Jauhar kegelapan, sementara Jauhar cahayanya kalah dan psikisnya lebih menonjol daripada spiritualnya, maka ia masih lebih baik dari pada setan.
Ketika Allah “Menggenggam” Adam dari segenggam tanah Kun, maka Dia mengusap bagian atas punggungnya, sehigga ia mampu membekan yang baik dan yang jelek. Dari punggung Adam, Allah mengeluarkan anak cucunya yang masuk ke dalam kelompok kanan, kemudian mereka mengambil posisi dan berperilaku sebagaimana kelompok kanan. Dari punggung Adam pula keluar anak cucunya yang masuk ke dalam kelompok kiri, kemudian mereka juga akan mengambil posisi sebagaimana orang-orang kiri. Sehingga tak seorang pun akan menyimpang dari apa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa bertanya, Mengapa”? Maka pertanyaan itu salah.
Orang yang pertama kali berbuat di sekitar Pohon ini untuk mencapai asal benih Kun --- lalu ia memeras unsur yang terbersih dan menyarikannya sehingga muncul buihnya, kemudian menyaringnya sampai murni hingga unsur-unsur yang membahayakan itu hilang. Sari yang sangat murni ini kemudian ditambah dengan Sinar Hidayah (petunjuk) –Nya sehingga muncul Jauhar-nya, lalu ditenggelamkan ke dalam lautan ar-Rahman (Kasih Sayang) sampai keberkahannya merata.
Dari proses ini kemudian diciptakan Nur (cahaya) Nabi Muhammad saw. Lalu dihiasi dengan sinar alam arwah sehingga bersinar terang dan mulia. Dijadikan-Nya Nur Muhammad sebagai asal muasal segala cahaya – dia –lah orang yang pertama kali tercatat dalam Kitab-Nya, orang yang terakhir kali muncul, pemimpin di hari Kebangkitan, pemmbawa kabar gembira, menemui para manusia dengan senang hati, Ia dititikan dalam “Kantor Kedamaian” tinggal di “Kebun kegembiraan”. Nilai-nilai spiritualnya ditutupi dengan tutup fisiknya, alam Syuhud ditutupi dengan alam wujudnya. Ia dilahirkan ke alam dunia yang juga karenanya alam ini diwujudkan.
Semua itu terjadi, karena Allah swt. Adalah Dzat Yang menciptakan segala alam dengan Kekuasaan-Nya, dan bukan karena Dia memerlukannya. Kesempurnaan Hikmah-Nya dalam menciptakan alam adalah untuk menampakkan kemuliaan air dan tanah. Karena Dia mewujudkan apa yang hendak Dia wujudkan. Dia tidak pernah berkata tentang sesuatu yang lebih dari, “Sesungguhnya Aku menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Qs. Al-Baqarah : 30). Khalifah itu adalah wujud Adam, akan tetapi hikmah hikmah dalam wujud Adam adalah untuk menampakkan kemuliaan Nabi Muhammad saw. Sebab itu adalah hikmah jasad untuk memunculkan Kaf al-Kanziyyah (Gudang simpanan). (“Saya adalah gudang ‘Gudang” simpanan segala rahasia). Sementara tujuan mewujudkan makhluk adalah untuk mengetahui Dzat Yang Mewujudkannya. Sedangkan yang dikhususkan untuk ma’rifat yang paling sempurna adalah hati nurani Nabi Muhammad saw. Sebab seluruh pengetahuan (Ma’rifat) adalah suatu pembenaran (tahdiq) dan keimanan. Sementara Ma’rifat beliau saw. Adalah secara musyahadah dan mata telanjang. Dengan cahaya ma’rifat Muhammad saw. Seluruh makhluk dapat mengenali, dan dengan keutamaan beliau yang mengungguli seluruh makhluk, mereka memberikan pengakuan.
Kemudian Allah mengeluarkannya dari intisari benih Kun. Sebagaimana tanaman mengeluarkan cabang-cabang untuk memperkokoh dirinya, maka beliau diperkuat oleh para sahabat dan kerabatnya. Akhirnya kuat dan lurus menjulang tinggi, dikepung oleh “Dedaunan” dengan kejernihan perasaan dan kekuatan kerinduannya.
Dahan” Muhammad telah muncul, batang yang ditumbuhi dedaunan semakin berkembang dan menjulang tinggi, diguyur air hujan dari awan sambutan dan penerimaan Tuhan. Sementara kehadirannya menggembirakan golongan jin dan manusia, kedatangananya mengharumkan alam, kelahirannya meruntuhkan berhala-berhala, kenabiannya menyalin agama-agama sebelumnya, kebenarannya didukung oleh al-Qur’an yang diturunkan ke padanya. Bergetarlah “Pohon Kejadian” karena senang dan berbagai macam kehidupan yan ada di dalamnya juga bergerak.
Di antara dahan-dahan “Pohon Kejadian” ada orang yang masuk ke kelompok kiri dan cenderung pada kesesatan. Ketika angin Kerasulan dihembuskan dengan membawa Kerasulannya. (“Dan kami tidak mengutus mu kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam.” (Qs.Al-Anbiya :107), maka angin tersebut dihirup oleh orang-orang yang sebelumnya telah ditentukan baik. Akhirnya ia cenderung pada kebaikan dengan penuh senang hati. Adapun orang yang “sakit” atau orang yang tidak dapat diterima dan terhalang dari rahmat-Nya, maka ia dihempas oleh badai Kekuasaan (al-Qudrah). Selanjutnya ia kerring setelah kehijauannya hilang, wajah kebahagiaannya menjadi kecemberutan, harapan keberuntungannya tidak mungkin terwujud dan akhirnya menjadi putus asa.
Rahasia dahan ini adalah dari pembuahan pohon kedermawanan dan mutiara kerang wujud. Sementara di antara nilai spiritual ruhaniahnya adalah nilai spiritual. “Wahai seorang Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai seorang saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan (dengan ancaman siksa Allah) dan mengajak kepada agama Allah dengan izin-Nya, sebagai lampu penerang dan pemberi cahaya.” (Qs. Al-Ahzab : 45-6).
Maka Dia-lah lampu penerang kegelapan alam, ruh dari jasad segala yang wujud. Sebab, ketika Allah berfirman kepada langit dan bumi :
Dia berfirman kepada mereka (langit dan bumi), “Datanglah kalian menurut perintah-Ku dengan penuh taat atau terpaksa,” mereka kemudian menjawab, ‘Kami datang dengan penuh taat (tunduk).” (Qs. Fushshilat : 11).
Kemudian bumi yang di atasnya dibangun Ka’bah dan langit yang lurus dengannya mengabulkan panggilan-Nya. Tanah yang di atasnya dibangun Ka’bah adalah tempat keimanan dari Bumi. Ketika Allah memerintah dengan “Genggaman-Nya” dari genggaman tanah untuk menciptakan Adam as. Maka “Genggaman-Nya” mencakup tanah-tanah yang lain, yang jelek maupun yang baik. Sementara tanah liat yang menjadi benih Nabi Muhammad saw. Adalah tanah yang berasal dari tempat yang di atasnya dibangun Ka’bah, bagian bumi yang menjadi tempat iman kepada Allah SWT. Tanah liat tersebut kemudian dicampur dengan tanah liat yang menjadi asal mula Adam As. Sehingga tanah liat yang berasal dari Ka’bah ibarat suatu ragi yang menjadi unsur pematang berbagai unsur tanah. Andaikan tidak ada tanah tersebut, tentu mereka tidak akan sanggup menjawab kesaksiannya di saat mereka diminta kesaksian. Inilah makna sabda Rasulullah saw. : “Aku telah menjadi seorang Nabi, sementara Adam masih berada di antara tanah dan air.”
Sehingga segala yang wujud dan keberkahannya adalah berasal dari benih asal mula wujudnya. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi (tulang rusuk) mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab,’Tentu (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Qs. Al-A’raf : 172).
Akhirnya unsur ragi kenabian tersebut merembet dan mengalir ke bagian-bagian benih mereka. Sehingga dengan izin Allah lidah mereka dapat berbicara lancar untuk ber-talbiah (menjawab panggilan Tuhan).
Orang yang tanah liatnya sanggup menerima unsur ragi kenabian tersebut --- sesua dengan takdir Tuhan sebelumnya – maka tanah yang berpadu dengan ragi akan tetap bersamanya, ssampai terlihat dalam alam inderawi dan tampak pada alam bentuk. Makna tersebut muncul sebagai realisasi terhadap pengakuan. Kemudian cahaya makna spiritual tersebut menyinari bagian jasad yang lurus dengannya, sehingga jasad juga akan bersinar terang setelah kegelapan. Anggota-anggota tubuhnya pun mendapat penerangan karana petunjuknya, lalu ia berbuat ketaatan. Sedangkan orang yang tanah liatnya jelek dan tidak sanggup menerima ragi kenabian, ragi tersebut hanya mampu mempengaruhi sekedar kesaksian dan berucap pengakuannya di saat kesaksian di hadirat Tuhan. Sementara waktu yang akan ditempuhnya masih cukup lama, sehingga ragi tersebut rusak akibat rusak tanah liatnya, maka seakan-akan ia ibarat sesuatu yang dititipkan lalu ditarik kembali, karena ia bukan ahli untuk menjaganya, dan kemudian ditinggalkannya. Yang demikian itu adalah iaman di hati orang-orang kafir, sementara iman hanya bisa menetap di hati orang –orang mukmin. Itulah makna sabda Rasulullah saw :
Setiap bayi yang dilahirkan selalu dilahirkan dalam kondisi fitrah, yang Allah menciptakan manusia pada fitrah tersebut.”
Fitrah tersebut adalah karena mereka sama-sama beriman  dalam kesaksiannya kepada Allah sebagai Tuhan, sebagaimana firmannya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Tentu (Engkau Tuhan kami).” (Qs. Al-A’raf : 172). Meraka sama-sama menjawab dan mengucapkan kesaksiannya, karena merebetnya ragi tersebut pada bagian-bagian benih mereka.
Sememtara telah berlalu dalam Ilmu Allah dan pelaksanaan Takdir-Nya, maka barangsiapa tetap dalam pengakuan tersebut ia tidak akan berubah menjadi ingkar dan kufur.
Sedangkan apa yang terjadi pada “Pohon kejadian”, dari perkembangan, pertumbuhna, bunga, bauh-buah pikiran, kentalnya kerinduan, kuatnya perasaan, jernihnya rahasia hati nurani, angin sepoi-poinya istighfar, perkembangan apa pun, mulai dari segala kegiatan (amal), pembersihan kondisi spiritual, perkembangan daun apa pun, dari pelatihan spiritual, munajat hati, bisikan rahasia hati,musyahadah arwah, apa saja yang tumbuh dari bunga-bunga hikmah, kelembutan ma’rifat, apa pun yang naik ke atas dari hembusan nafas yang baik, apa pun yang terjadi dari daun kedamaian, angin kesenangan dan apa pun yang menancap pada akar dari tingkatan orang-orang khusus dan kedudukan orang yang lebih khusus, tingkatn orang-orang jujur, munajat orang-orang yang dekat dengan-Nya, musyahadah orang-orang yang mencintain-Nya. Semua itu berasal dari pembuahan “dahan” Muhammad saw. Yang disinari dari cahayanya, berseumber dari perkembangan sungai Kautsyarnya, dirabuk dengan sari-sari makanan kebaikannya, dididik dalam ayunan petunjuknya. Oleh karena itu, keberkahannya merata dan rahmatnya meliputi seluruh makhluk, “ Kami tidak mengutusmu kecuali untuk rahmat seluruh alam.” (Qs. Al-Anbiya : 107).
Karenanya Allah membentangkan tempat tinggal akhirat, karenanyapula Dia menundukkan siang dan malam, menggariskan apa yang telah ditentukan, membatasi apa yang hendak dibatasi, mengingatkan dengan menyebutnya, memberi perhatian terhadap rahasia dan kedudukannya, mengambil perjanjian untuk membenarkannya dan berpegang teguh dengan tali hakikatnya. Sementara mahkota syariatnya mulia di atas para pengikut dan pendukungnya. Kemudian dengan kenabiannya Allah menutup kenabian para nabi, dengan Kitab yang diturunkan kepadanya mengakhiri Kitab-kitab-Nya, kerasulannya menutup kerasulan para Rasul as. Barang siapa berlindung dengan perlindungan syariatnya akan selamat, yang berpegang teguh dengan agamanya akan dilindungi. Ketika Adam As. Tawasul dengannya, ia selamat dari cercaan. Ketika ia pindah ke tulang rusuk al-Khalil Ibrahim, akhirnya api yang hendak membakarnya padam seketika dan menjadikannya selamat. Ketika dititipkan kepada tulang rusuk Ismail as. Maka ia ditebus dengan binatang kurban.
Dengan  demikian  buah dari dahan kelompok orang-orang bagian kanan adalah :“Dia mencintai mereka, dan mereka pun mencintainya.” (Qs. Al-Ma’idah :54).
Sedangkan buah dari dahan kelompok orang-orang kelompok kiri adalah : “Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara engkau berada di tengah-tengah mereka.” (Qs. Al-Anfal :33).
Sementara buah dari dahan kelompok orang-orang yang masuk Islam lebih awal dari dekat dengan Allah (as-sabiqun al muqrqbbin) dalah : “Muhammad adalah utusan Allah, sementara orang-orang yang bersamamnya bertindak keras terhadap orang-orang kafir, tapi penuh kasih sayang di kalangan mereka sendiri.” (Qs. Al-Fath : 29).
Maka keberkahannya telah merata di seluruh ufuk dan kalimatnya telah sempurna.
Allah menciptakan Adam as. Dalam bentuk nama Muhammad saw. Oleh karenanya  kepada Adam as. Bulat seperti bulatnya huruf Mim pertama, sedangkan tangan dan lambungnya seperti huruf Mim kedua, dan kedua kakinya merenggang seperti huruf dal. Maka sempurnalah penciptaan Adam dengan bentuk nama Muhammad saw.
Kami mengatakan bahwa Dia menciptakan berbagai alam sesuai dengan bentuk tata ruang Muhammad, sebab pada dasarnya alam dibedakan menjadi dua; alam Muluk dan Malakut, Alam Muluk adalah adalah seperti alam jasmaniah, sedangkan alam Malakut seperti alam Ruhaniahnya. Kepadatan alam bawah seperti kepadatan alam jasmaniahnya, sedangkan kelembutan alam atas seperti kelembutan alam ruhaniahnya. Gunung-gununng di atas bumi yang dijadikan sebagai paku bumi ibarat gunung tulang yang dijadikan penyangga dan kekuatan tubuhnya. Sedangkan sungai yang meluap dan mengalir  serta yang tidak mengalir, yang tawar dan yang asin  adalah ibarat darah yang mengalir melalui berbagai urat dan pembuluh darah, dan yang tenang dalam saluran-saluran anggota tubuh serta berbagai macam cairan yang ada dalam tubuh. Ada yang tawar yaitu airr ludah, dimana makanan dan minuman bila diolah dengannya akan menjadi baik. Ada pula yang asin, yaitu air mata untuk melindungi biji mata. Ada pula yang pahit, yaitu air telinga untuk melindungi telinga dari gangguan serrangga dan binatang-binatang kecil lain yang mungkin masuk ke telinga.
Kemudian dalam “bumi” tubuhnya ada tanah yang mungkin ditumbuhi tumbuh-tumbuhan seperti tanah yang subur. Di samping itu ada pula bumi yang kadar air dan garamnya tinggi, sehingga tidak mungkin dapat ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Di bumi juga terdapat lautan besar yang menjadi muara berbagai sungai dan saluran-saluran air untuk dimanfaatkan menusia. Demikian pula dalam bumi tubuhnya juga terdapat urat yang kuat dan menjadi sumber utama, seperti urat jantung yang mengalirkan darah dan menjadi sumber utama berbagai urat yang dialirkan ke seluruh tubuh.
Kemudian alam atas adalah alam langit, di mana Allah menjadikan matahari sebagai lampu penerang yang menyinari penduduk bumi. Demikian pula ruh (jiwa) dijadikan dalam tubuh manusia untuk menyinarinya. Andaikan jiwa hilang karena mati, tentu tubuh manusia akan gelap seperti gelapnya sebagian darah bumi ketika tidak disinari matahari. Kemudian Allah menjadikan akal manusia ibarat bulan yang mengambil cahayanya pada orbit langit. Pada waktu tertentu ia kecil kemudian semakin besar dan di saat yang lain ia kemudian kembali menjadi kecil lagi. Awalnya adalah bulan sabit sebagaimana permulaan akal anak kecil, kemudian semakin besar dan semakin dewasa seperti besarnya bulan purnama pada malam kesempurnaannya, kemudian tampak semakin berkurang lagi. Ini ibarat akal manusia ketika mencapai usia empat puluhan, kemudian kemampuannya semakin berkurang kembali.
Di langit, Allah juga menjadikan lima bintang yang terus beredar. Ini ibarat pancaindera :Indera perasa, pencium, penglihatan, pendengar dan peraba. Kemudian di alam langit, Allah juga menjadikan ‘Arasy dan Kursi. “Arasy Dia jadikan sebagai arah pusat tujuan hati para hamba dan sebagai tempat sasaran penengadahan tangan, dan bukan menjadi tempat Dzat-Nya, bukan pula sebagai tempat duduk Sifat-sifat-Nya, sebab, as-Rahman (Maha Pengasih) adalah Nama-Nya, sedangkan Istiwa’ adalah sifat-Nya. Sementara Nanam dan Sifat-Nya berada pada Dzat-Nya. Sedangkan ‘Arasy adalah salah satu dari makhluk-Nya, yang tidak bersambung maupun bersentuhan dengan-Nya, tidak pula yang memukul dan dibutuhkan-Nya. Adapun Kursi adalah suatu tempat yang memuat berbagai rahasia dan gudang bebagai cahaya-Nya, tempat penitipan apa yang ada dalam lingkup Kursi-Nya yang luasnya cukup untuk langit dan bumi. Maka Allah menjadikan dada yang kedudukannya sama dengan Kursi, karena di situ pula akan diperoleh berbagai ilmu pengetahuan yang muncul, ibarat halaman yang ada di depan pintu hati. Menyangkut jiwa (an-Nafs), terdapat dua daun pintu yang menuju kepadanya; ada kebaikan yang muncul dari hati nurani dan ada pula kejelekan yang muncul dari nafsu. Ini semua terjadi di dalam dada, dan dari dada pula ia keluar menuju anggota tubuh. Inilah makna firman Allah swt, “Dan dilahirkan apa yang ada dalam dada,” (Qs. Al-‘Adiyat : 10).
Sementara itu Allah menjadikan hati nurani ibarat ‘Arasy, karena ‘Arasy-Nya yang berada di langit sudah dikenal, sementara ‘Arasy-Nya yang ada di bumi dihuni. Sebab ‘Arasy hati nurani lebih utama daripada ‘Arasy yang ada di langit. “Arasy yang ada di langit tidak cukup dengan-Nya, juga tidak memuat dan tidak dapat memahami-Nya. Sedangkan ‘Arasy yang ada di bumi setiap saat akan dilihat-Nya, tajali (menampakkan Diri) dan menurukan kemuliaan-Nya dari langit untuknya. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi-Nya : “Langit dan bumi-Ku tidak akan cukup memuat-Ku, sementara hati hamba-Ku yang mukmin akan cukup ‘memuat-Ku’.”
Di alam akhirat Allah swt, menjadikan surga dan neraka. Surga untuk tempat kenikmatan, sementara neraka untuk tempat siksaan. Surga sebagai gudang kebaikan, sedangkan neraka sebagai gudang kejelekan. Demikian pula Allah menjadikan kebaikan yang menjadi tempat kemuliaan hati nurani, maka Dia jadikan sebagai surga hamba-Nya yang mukmin, sebab di surga adalah tempat musyahadah (menyaksikan), tajali (menampakkan Diri), munajat (berbisik) dan sumber berbagai cahaya. Sememntara Dia menjadikan nafsu yang menduduki posisi neraka, sebab nafsu merupakan sumber segala kejahatan, tempat munculnya godaan, pelindung setan dan tempat kegelapan.
Allah juga menjadikan Lauh Mahfuzh dan al-Qalam sebagai salinan Kitab yang mencatata alam dan penciptaannya, apa yang telah dan bakal terjadi sampai hari Kiamat. Sementara malaikat adalah yang bertugas menyalin apa yang diperintahkan, menghapus dan menetapkan, mematikan dan menghidupkan, menambah dan mengurangi. Maka demikian pula lisan adalah ibarat al Qalam, sementara dada adalah ibarat Lauh Mahfuzh. Maka apa yang diucapkan lisan pada dasarnya telah ditulis oleh pikiran dalam lembaran dada. Apa yang diturunkan keinginan hati nurani ke dada maka akan di ungkapkan oleh lisan dimana ia sebagai penerjemah. Sedangkan alat indera dijadikan sebagai utusan hati yang bakal menyalin apa yang telah diperoleh. Misalnya, pendengaran adalah utusan yang bertugas sebagai mata-mata. Sedangkan mata adalah utusan yang bertugas untuk melindungi dan lisan sebagai penerjemah.
Dalam diri manusia diciptakan sesuatu yang menunjukan tentang Ketuhanan Yang memelihara (Rububiyyah) dan membenarkan kerassulan Nabi Muhammad saw. Struktur dan bentuk manusia seperti ini butuh kepada yang mengatur, yaitu ruh (jiwa). Sementara Dzat Yang Mengatur adalah Mahatunggal, sedangkan ruh tidak dapat dilihat, tidak dapat dipertanyakan dalam kondisi bagaimana, tidak berpihak pada sesuatu yang ada pada jasad. Sementara itu tidak sesuatu pun yang bergerak dalam tubuh ini melainkan disebabkan oelh perasaan dan keinginannya. Jasad tidak akan sanggup merasakan dan tidak bisa menyentuh kecuali karenanya.
Itu semua menunjukan bahwa berbagai alam ini mesti memerlukan Sang Pengatur dan Sang Penggerak. Sementara Sang Maha Pengatur harus Mahatunggal, Mahatahu terhadap apa yang terjadi di Kerajan-Nya, Mahakuasa untuk menciptaknnya. Dia tidak dapat dipertanyakan bagaimana, tidak dapat dipersamakan dengan apa pun, tidak dapat dilihat, tidak berpihak, tidak dapat dibagi-bagi. Tidak dapat disentuh, tidak dapat dirasa dan tidak dapat diambil, bahkan semuanya dalam kaidah, “Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (Qs. Asy-Syura:11).
 Ketika Rasul yang diutus kepada makhluk-Nya ada dua : zhahir dan batin, maka Rasul yang zhahir adalah Muhammad saw. Sedangkan Rasul yang batin adalah Jibril as. Yang datang kepada Rasulullah saw. Dengan membawa wahyu untuk disampaikan kepada kaumnya, sementara mereka tidak dapat merasakan dan tidak mengetahui. Demikian pula yang mengatur struktur dan bentuk manusia ini, yakni ruh (jiwa), memiliki dua utusan : dhahir dan batin. Utusan yang batin adalah keinginan (al-iradah) yang sama dengan posisi Jibril as, yang memberikan wahyu (inspirasi) kepada lisan, sementara lisan akan mengungkapkan dan menerjemahkan keinginan, dimana posisi utusan dhahir ini sama dengan Rasulullah Muhammad saw. Kemudian dalam diri Anda diciptakan sesuatu yang dapat menunjukan kebenaran kenabian dan kejujuran kerasulannya. Dalam diri Anda juga diciptakan sesuatu yang dapat menunjukan kebenaran kenabian dan kejujuran kerasulannya. Dalam diri Anda juga diciptakan sesuatu yang dapat menunjukan kebenran syariat yang beliau bawa dan pengikut Sunnahnya. Maka jari jemari pada setiap tangan dan kaki jumlahnya lima, demikian pula jumlah sendi-sendi syariat Islam, dimana rukun Islam ada lima. Sehingga Rasulullah saw. Bersabda : “Islam didirikan di atas lima perkara : Syahadat (kesaksian), bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, pergi haji ke Baitullah al-Haram dan puasa Ramadhan.” (Hr. Bukhari).
Sementara lima yang kedua adalah shalat fardhu yang jumlahnya lima, sedangkan lima yang ke tiga adalah zakat yang pada nisabnya juga lima, lima yang ke empat adalah Rasulullah Muhammad bersama pada sahabat pendukungnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, maka jumlah mereka bersama Rasulullah adalah lima. Adapun lima yang ke lima adalah Ahlul Bait. Meraka adalah Muhammad saw., Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Ketika sendi-sendi agama Islam dapat kokoh dengan menjalankan rukun-rukun syariat, mencintai para sahabt dan keluraga dekatnya, maka dalam diri Anda diciptakan anggota tubuh sebanyak lima agar menjadi isyarat. Karena rukun Islam yang berjumlah lima, menduduki posisi panca indera. Sebab dengan kelimma indera yang ada ini Anda sanggup merasakan dan melihat segala sesuatu. Demikian pula, bila Anda menjalankan lima rukun Islam, maka Anda akan menemukan rasa segala sesuatu, mendapatkan pengetahuan, ma’rifat kepada Dzat Yang Maha Pengasih dan mendpatkan ilmu yakin. Indera mata misalnya, akan mengajak Anda untuk menjalankan rukun-rukun shalat, sebab Rasulullah saw. Bersabda : “Dijadikan ketenangan mata saya pada shalat.”
Sementara indera peraba mengajak Anda untuk menunaikan zakat. Allah swt. Berfiman : “Ambillah dari sebagian harta kekayaan mereka suatu sedekah (zakat)” (Qs. At-Taubah : 103).
Sedangkan indera rasa mengajak Anda untuk meninggalkan rasa makanan demi menjalankan rukun agama, indera pendengar mengajak Anda untuk mendengarkan panggilan : “Dan serulah kepada ummat manusia untuk berhaji.” (Qs. Al-Hajj :27).
Sementara indera pencium (pembau) mengajak Anda untu menghirup nafas Tauhid : “Sesungguhnya saya menemukan bau ‘Jiwa” ar rahman dan arah Yaman.”
Maka indera-indera ini menajak Anda untuk menjalankan sendi-sendi agama yang ada lima.
Allah menjadikan lima jari-jemari tangan Anda sebelah kanan menduduki posisi Rasulullah saw. Dan sahabat-sahabat yang bersamanya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra. Sebab, ketika Nur (Cahaya) Muhammad saw, diciptakan di kening Adam, para malaikat menyambut dan memberikan salam kepada Nur Muhammad, sementara Adam sendiri tidak tahu. Lalu ia berkata kepada Tuhannya, “Ya Tuhan, saya senang bila bisa melihat Nur anak saya, Muhammad saw. Maka hendaknya Engkau memindahkannya ke salah satu bagian tubuh saya, agar saya dapat melihatnya.” Akhirnya Allah memindahkan nur Muhammad ke telunjuk jarinya sebelah kanan.  Adam pun melihat cahaya gemerlapan di telunjuknya, lalu ia mengangkatnya sembari berkata , “Saya bersaksi bahwa  Tiada Tuhan Selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Utusan Allah,”. Oleh karenanya, jari telunjuk disebut al-Musabbihah (alat untuk bertasbih). Kemudian Adam bertanya lagi, “Wahai Tuhan, apakah di dalam tulang rusuk saya ini masih ada sesuatu dari nur ini? Allah menjawab : “Ya, Nur (cahaya) sahabat-sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” Maka cahaya Ali berada di Ibu Jari, Cahaya Abu Bakar berada di jari tengah, cahaya umar berada di jari manis, sedangkan cahaya Utsman berada di jari kelingking. Sebagian pendapat ada yang mengatakan, bahwa jari jemari tersebut diciptakan di tangan Anda agar dengan ujung-ujungnya Anda sanggup menggenggam cinta kepada lima orang tersebut. Anda jangan membedakan antara mereka dengan Muhammad saw. Sebab Allah swt., telah mengumpulkan mereka dengan firman-Nya, “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.” (Qs. Al-Fath : 29).
Allah menciptakan lima jari jemari tangan kanan Anda untuk mengingatkan lima orang Ahlul Bait, dimana Allah telah menghilangkan kotoran (dosa) dari mereka dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran (dosa) dari kalian hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab : 33).
Rasulullah saw. Bersabda : “Ayat ini diturunkan mengenai diri kami dan Ahlul Bait, yaitu saya. Ali, Fatimah, Hasan dan husain.”
Kemudian Allah menjadikan kelima jari jemari kaki Anda sebagai isyarat yang mengingatkan shalat lima waktu yang diwajibkan kepada Anda. Sehingga Anda melaksanakannya berdiri di atas telapak kaki Anda, karena ia mengabdi kepada Allah di atas bumi. Pengabdian itu memang dari kedua talapak kaki. Oleh karenanya Allah menjadikan telapak kaki kanan Anda untuk mengingatkan shalat lima waktu, sementara telapak kaki kiri Anda memberi isyarat tentang kewajiban nisab zakat, yakni lima dirham. Maka perintah shalat selalu dibarengi dengan perintah zakat. Sehingga kedua telapak kaki Anda memberi isyarat tentang shalat dan zakat.
Dalam diri Anda, Allah juga menjadikan sesuatu yang memberi isyarat tentang kematian, hari Kebangkitan, nikmat dan siksa kubur, dimana isyarat tersebut adalah kegiatan tidur Anda dan apa saja yang Anda impikan sewaktu tidur. Dalam mimpi Anda bisa melihat sesuatu yang menyenangkan sehingga sewaktu bangun Anda pun masih merasakan kebahagiaan. Tapi ada pula yang menyedihkan, sehingga Anda pun merasa tersiksa. Orang tidur ibarat mayat yang kehilangan perasaan, maka ia tidak mampu melihat, mendengar dan memahami. Kemudian dijadikan suatu pendengaran, penglihatan dan pemahaman, akhirnya sanggup mendengar, melihat dan memahami. Ia meliahat dirinya pergi ke mana pun ia inginkan, makan dan minum apa yang ia inginkan. Kondisi ini adalah sama dengan nikmat dan siksa yang dilihat dan dirasakan oelh mayat selama di alam barzah (kubur) antara kematian dengan kebangkitan. Setelah tidur, kemudian Anda dibangunkan oleh Allah, dan bukan atas kehendak atau usaha Anda sendiri. Kalau Anda sanggup menolak untuk dibangunkan, maka Anda akan sanggup menolak untuk dibangkitkan di hari Kebangkitan nanti. Demikianlah, sangat tidak benar bila orang mengingkari hari Kebangkitan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang zindiq, atheisme dan para filosuf. Kita juga dapat menolak pendapat orang-orang Mu’tazillah yang mengingkari adanya nikmat dan siksa kubur.
Perlu anda ketahui bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dalam tiga kelompok, Dia berfirman : “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang melata di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki (Qs. An-Nur : 45).
Binatang melata di atas perutnya adalah seperti ular dan cacing, sementara yang berjalan dengan dua kaki adalah seperti ayam dan manusia, sedangkan yang  berjalan dengan empat kaki adalah seperti sapi dan kambing. Binatang-binatang tersebut ada yang seperti orang yang dalam posisi sujud, ada pula yang dalam posisi ruku’, dan ada pula yang dalam posisi berdiri tegak seperti pohon dan dinding yang tidak akan sanggup ruku’ dan sujud. Sementara itu ada yang dalam posisi ruku’ seperti sapi dn kambing yang tidak sanggup sujud dan berdiri. Adapun mereka yang dalam posisi sujud adalah seperti serangga, ular dan cacing, dimana mereka tidak sanggup bangkit. Semuanya memang diciptakan untuk taat dan menyucikan-Nya, “Tidak ada sesuatu pun keculai bertasbih dengan memuji kepada-Nya,” (Qs. Al-Isra’ : 44).
Sementara itu Allah swt. Menciptakan dalam diri Anda suatu kemampuan mengumpulkan cara-cara beribadah dan bertasbihnya makhluk-makhluk lain, serta memberikan kemudahan-kemudahan pada diri Anda. Anda dapat menyembah-Nya dengan berdiri, ruku’ ataupun sujud. Sehingga dalam diri Anda terkumpul suatu kelebihan daripada makhluk-makhluk lain. Demikian pula Allah mewajibkan shalat pada diri Anda. Shalat dijadikan suatu bentuk ibadah yang mencakup cara-cara beribadah makhluk-makhluk-Nya yang lain. Maka, demikianlah keutamaan orang-orang yang berdiri, ruku’dan sujud.
Engkau adalah maksud dan tujuan dari segala yang wujud, dan engkau adalah seorang hamba khusus untuk apa yang dikehendaki Dzat Yang disembah.” Inilah makna ucapan kami terdahulu, bahwa Allah menciptakan Adam as. Dengan bentuk nama Muhammad saw. Dan menciptakan alam sesuai dengan tata ruang kondisinya.
Perlu anda ketahui, bahwa alam arwah (atas) ditundukkan untuk kemanfaatan “Pohon Kejadian”, digunakan untuk kemaslahatannya, melakukan apa yang menjadi hak-haknya, karena di dalamnya terdapat keistimewaan “dahan” Muhammad saw. Dan Nur al-Ahmad (Cahaya Muhammad). Maka cahay yang bersinar di pagi hari sebagai wujud dari kegelapan malam ketiadaan (al-adam) adalah sinar mentari Muhammad di ufuk dahi Adam as. Malaikat tertunduk sujud kepadanya sembari berkata , “Penguasa tahta ‘Arasy untuk selamanya adalah Muhammad saw.” Ketika mereka diperintah untuk memberikan kesaksian, mereka pun memberikan kesaksian. Dikatakan kepada mereka : Mensyukuri musyahadah ini dengan cara berdiri di atas kaki mujahadah dalam mengabdi “Pohon Kejadian” ini, sementara ini merupakan pangkal dasar pohon tersebut. Kekuasaan adalah ruasnya. Maka di antara kalian hendaknya ada yang menjadi para malaikat yang bertugas mencatat amal (as-safarah) dimana mereka berusaha menangani lembaran-lembaran suci. Hendaknya di antara kalian terdapat malaikat-malaikat yang berbakti (al-bararah) yang mengelilongi di seputra batas-batas larangan Pohon ini. Hendaknya di antara kalian terdapat malaikat yang sanggup memikul setiap amal orang yang beramal. Hendaknya di antara kalian terdapat para juru tulis yang sanggup berdiri di depan pintu orang yang bertobat. Hendaknya di antara kalian terdapat malaikat yang mencuci wajah orang yang beristighfar dari kotoran dosa dengan air istighfar dan sanggup memintakan ampunan orang-orang yang ada di muka bumi.
Hendaknya di antara kalian terdapat malaikat yang menjaga amal perbuatan mereka, melindungi apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka. Hendaknya di antara kalian terdapat malaikat  yang berusha untuk rezeki mereka, agar dapat mencurahkan waktunya untuk beribadah dan taat kepada Sang Pemberi rezeki. Sehingga ada malaikat yang melepaskan angin, ada pula yang menggiring awan, ada yang melimpahkan air laut, ada yang menurunkan air hujan, ada yang menjaga daerah, ada yang menutup siang dengan kegelapan malam, ada yang menyingkap terangnya siang, ada malaikat yang memperhitungkan amal perbuatan dengan menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa yanng menghancurkan amal, ada yang menghilangkan penyakit (bencana), ada yang bertugas menghijaukan perkebunan, dan ada pula malaikat yang bertugas menyalakan api dan menjadikan panas.
Ketika tempat tinggal telah terbentangkan dan gelas Iradah-Nya telah melingkar, maka yang pertama kali dihadirkan kepada Dzat Yang Maha menghadirkannya adalah iblis. Ia berlagak dan berkedok dengan baju tasbih dan penyucian, akan tetapi dipenuhi dengan rekayasa dan penipuan. Ketika ia datang di hadapan Dzat Yang Menghadirkannya, menyaksikan keindahan pemandangan tersebut dan bersikukuh dalam kedurhakaannya, menyimpan dendam, meremehkan dan menghina kebenaran air dan tanah. Ketika dikatakan kepadanya, “Bersujudlah kepadanya dalam kejernihan hatimu, “ ia pun tiak mau bersujud denagn menyombongkan diri dan melewati batas kepandaian. Akhirnya ia tidak bisa bersahabat dengan orang-orang pintar dan tenggelam dalam kegelapan duka dan kegundahan.
Ketika semakin geisah dan ancaman Tuhan mencambuknya sangat berat, maka ia meminta pertolongan kepada-Nya dengan tutur kata yang mengancam anak cucu Adam, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga binatang ternak),” (Qs. An-Nisa’ :119). Akan tetapi Qadar (Ketentuan) Tuhan menjawabnya, bahwa mereka akan diberi jaminan keamanan dari ancamannya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Qs. Al-Hijr :42). Maka ia tetap meminta kepada Sang Maha Raja untuk ditunda kematiannya. Allah mengabulkan permintaannya agar ia menjadi pemimpin dan pembimbing orang-orang kafir menuju ke neraka. Sebagai tongkat bersandar orang-orang yang berdosa. Ketika salah seorang di antara mereka tergelincir, Allah telah berfirman : “Hanya saja mereka digeleincirkan oleh setan,” (Qs. Ali Imran : 155). Kalau ia bertaubat, Allah telah berfirman : “Ini adalah termasuk perbuatan setan.” (Qs. Al-Washash :15). Ketika Adam dan iblis saling bertarung tentang akibat  yang ditimbulkan kemaksiatan, maka yang ini meninggalkan apa yang diperintahkannya, sementara yang itu melakukan apa yang dilarang. Yang mempertemukan keduanya adalah al-Qadar (Ketentuan) Yang Mahakuasa, Sebab, Dia-lah Yang menentukan; Dia memerintahkan, sementara Dia menginginkan sebaliknya apa yang Dia perintahkan. Maka apa yang dianugerahkan oleh perintah akan dihanguskan oleh Kehendak-Nya.
Tatkala mereka hendak saling menyerang akibat kemaksiatan, maka si iblis dikendalikan agar tidak menyerangnya. Sementara si iblis yang celaka ini telah mengikat tali tendanya dan memasang di halaman depan yang dijadikan tempat tinggalnya.
Adapun Adam as. Tetap merindukan tempat tinggal surga yang abadi. Siang malam senantiasa mengingta, lalu kembali menyalahkan dan menyesali dirinya. Ia berdoa di antara makhluk yang berdoa dengan penuh penyesalan : “Ya Tuhan kami, kami menganiaya diri kami, Kalau Engkau tidak mengampuni dan memberi belas kasih kepada diri kami, tentu kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Al-A’raf :23).
Ia pun menerima kabar gembira dengan kehilangan rasa duka yang menyelimuti dirinya, “Maka Adam menerima kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.” (Qs. Al-Baqarah :37).
Sementara si iblis yang celaka, maka kuda-kuda liar tanpa kendali terus meluncur kepadanya untuk memberikan kabar gembira tentang diusirnya dari surga dan dijauhkan dari-Nya. Ia diusir dengan perintah : “Turunlah kalian, sebagaimana di antara kalian akan menjadi musuh yang lain.” (Qs. Al-Baqarah :36). Addam pun menjadi gundah gulana dan hampir merobek-robek rajutan harapannya, kemudian aia berkata : “Tuanku, saya telah menenggak getir  pahitnya mendaki bukit, maka lindungilah saya dari panasnya putus harapan dari nikmat-Mu dalam menuruni terjalnya perintah-Mu, : Maka dijawab : “ Tidak mengapa bagimu, sampai engkau pada pemisahan dua kelompok : Kelompok yang masuk surga dan kelompok yang masuk neraka.” Adam mengambil posisi ke sebalah kanan, sementara iblis mengambil posisi ke sebalah kiri. Namun karena mereka pernah bersahabat dan berkumpul, maka persahabatan tersebut akan memberikan pengaruh. Tempat dan perjalanannya adalah mengambil posisi sebelah kiri Adam. Maka asal mula lembaran sebelah kiri akan memberikan pengaruh pada orang-orang yang dekat dengannya, sehingga mereka senantiasa dalam kegelapan yang selalu menyimpang. Akhirnya mereka kufur karena kedekatnnya dan sejajar dengan iblis. Sementara orang-orang yang masih dalam lembaran kanan, berada dalam cahaya Ma’rifat Adam, sehingga mereka selamat dari kegelapan iblis, karena mereka jauh darinya dan lebih memilih bertetangga dan berdampingan dengan orang-orang kafir yang senantiasa berada dalam kegelapan dari pada berdampingan dengan iblis. Mereka adalah orang-orang yang masuk dalam lembaran kiri. Pengaruh tersebut dimunculkan dalam sifat-sifatnya.
Sementara itu, dosa yang dilakukan oleh orang-orang kelompok kanan adalah akibat dan pengaruh dari bertetangga dengan mereka dan pancaran yang muncul darinya. Dan perlu Anda ketahui, di samping pengarh tersebut ada dasar dan sebab lain yang mempengaruhinya. Ketika Allah swt, memerintah untuk mengambil segenggam tanah sebagai asal mula Adam as. Maka malaikat maut (pencabut nyawa) turun ke bumi uantuk mengambil genggaman. Sementara itu iblis telah lama hidup di bumi yang dijadikan khalifah bersama para malaikat. Ia telah lama tinggal di bumi beribadah kepada Allah swt. Maka malaikat maut menggenggam berbagai tanah yang ada di bumi. Termasuk tanah yang digenggamnya adalah tanah yang pernah diinjak oleh kaki iblis. Ketika tanah liat Adam dilah dan dibentuk dari tanah hasil genggaman tersebut, maka nafsu Adam diciptakan dari tanah yang pernah diinjak kaki iblis. Sementara hati nuraninya diciptakan dari tanah yang tidak diinjaknya. Sehingga nafsu terpengaruh oleh kotoran dan sifat-sifat tercela dari sentuhan kaki iblis. Dari sini kemudian nafsu diciptakan sebagai sarang syahwat, kehidupan dan kekuasaannya memang berada pada syahwat nafsu karena pernah diinjaknya. Karenanya, iblis dijadikan sebagai makhluk yang menyombongkan diri terhadap Adam, Karena ia menemukan dalam diri Adam tanah yang pernah diinjak kakinya dan melihat pada jauhar unsur kejadiannya, yaitu api. Akhirnya ia merasa bangga dan cenderung untuk menyombongkan diri (takabur) Inilah makna firman Allah swt : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.” (Qs. An-Nur :21).
Yakni apa yang diciptakan  dari tanah di bawah langkah-langkahnya.
Perrlu Anda ketahui, ketika “pohon Kejadian” mulai berkembang, maka ia menumbuhkan tiga dahan. Ada yang condong ke arah akan, ada yang condong ke raha kiri dan ada dahan yang tumbuh lurus ke atas dan kuat. Dahan yang lurus ke atas adalah adalah dahan generasi yang masuk Islam pertama (as-sabiqun). Maka Ruhaniyyah Muhammad saw. Berdiri dengan tiga dahan, yang masing-masing dahan memiliki bagian tertentu sesuai dengan kadar kemampuannya untuk menerima ruhaniyyah tersebut. Allah swt., berfirman : “Dan Kami, tidak mengutusmu kecuali untuk rahmat seluruh alam.” (Qs. Al-Anbiya : 107). Maka bagian dari dahan kelompok kanan (ashhabul uamin) adala ruhaniyyah hidayah (petunjuk), mengikuti Rasulullah saw. Dan melakukan Sunnah dan syariatnya. Allah swt. Berfirman : “Orang-orang yang mengikuti Rasul, seorang Nabi yang Ummiy.” (Qs. Al-A’raf : 157).
Sementara bagian generasi yang masuk Islam pertama adalah ruhaniyyah kedekatan dan persahabatan dengannya. “Maka mereka adalah bersama orang-orang yang diberi oleh Allah dari golongan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang saleh.” (Qs. Am.Nisa’ :69).
Sedangkan bagian kelompok kiri adalah ruhaniyyah perlindungan untuk mereka di dunia dan aman dari ancaman siksa yang tak tertunda, “Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sementara engkau masih berada di tengah-tengah mereka,” (Qs. al-Anfal : 33).
Ketika tiba waktu munculnya jasmaniah Muhammad saw. Ke alam wujud, maka dahan wujudnya tumbuh dengan tegak lurus. Dan ketika batang pohon semakin kokoh dan tumbuh cabang-cabgnnya, maka ia dipanggil oleh Dzat Yang Maha Menguasai urusannya, “Maka tegak lurulah (istiqamah) sebagaimana yang Aku perintahkan,” (Qs. Hud : 112). Shingga sifat Rasulullah saw. Adalah isitqamah, sedangkan kedudukannya adalah tempat tinggal yang abadi di surga (Dar al-Maqamah). Ketika tegak lurus (istiqamah) ia pindah dari dua alam (jin dan manusia). Ketika menempati suatu kedudukan (maqam) ia pindah dari suatu kedudukan ke kedudukan lain, sehingga ia menetap pada suatu kedudukan abadi. Kedudukan pertama adalah maqam wujud di dunia, yaitu firman Allah swt : “Wahai orang yang berselimut, bangkitlah kemudian berikan peringatan.” (Qs. Al-Mudatsir : 1-2).
Sedangkan kedudukan kedua adalah kedudukan terhormat di akhirat, yaitu firman Allah : “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Qs. Al-Isra’ : 79).
Sementara kedudukan ketiga adalah kedudukan abadi di surga, yaitu firman Allah : “Tuhan yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya.” (Qs. Fathir : 35).
Dan kedudukan keempat adalah kedudukan al-Masyhud (Yang disaksikan), yaitu suatu kedudukan sejarak antara dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi, untuk melihat Dzat Yang disembahnya (al-Ma’bud). “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (Qs. An-Najm : 8-9).
Dialah yang dikhususkan untuk mendapatkan kedudukan yang dekat dengan Tuhannya. Kemuliaan (tinggi) dan menyaksikan (asy-syuhud), sebab dialah yang menjadi tujuan utama dari segala yang diwujudkan-Nya.
Karena bila wujud ini diibaratkan suatu Pohon, maka dialah buah dan inti utamanya. Pohon yang berbuah pada dasarnya berasal dari sebutir benih yang tumbuh dan mengakar. Apabila sebutir benih tersebut di tanam, disirami dan dipupuk, maka akan tumbuh, bersemi, bercabang, kokoh dan berbuah. Apabila melihat pohon tersebut, Anda akan melihat bahwa ada benih yang menumbuhkannya. Sebutir benih, permulaannya adalah suatu inti benih sampai dimucnulkan suatu bentuk pohon. Suatu pohon pada akhirnya akan kelihatan, lalu menampakkan bentuk benih tersebut.
Demikian pula inti dari Rasulullah saw. dalam makna yang lalu, kerahasiaan, munculnya dalam bentuk yang bakal datang dan kemasyurannya. Inilah makna sabda beliau : “Saya telah menjadi seorang Nabi, sementara Adam masih berada di antara tanah dan air.”. Maka dialah penampilan makna “Pohon Kejadian”, yaitu penampilan bentuk Rasulullah saw. Ia senantiasa disebut dengan lisan keqadiman, dan selalu disebar luaskan dalam lipatan yang dikemas dalam ketiadaan. Gambaran tersebut tiak jauh berbeda dengan seorng pedagang yang hendak ke tempat peraduannya. Ia akan melipat dan mengemas barang-barangnya untuk dimasukan ke dalam lemari yang menyimpan segala miliknya. Ia mempersiapkan beberapa pakaian, yang satu berada di atas yang lain. Maka pakaian yang pertama kali ia lipat dalah pakaian yang terakhir kali ia buka dan di keluarkan dari lemari. Demikian pula Rasulullah Muhammad saw., dalah makhluk pertama kali yang Di wujudkan, akan tetapi yang terakhir  kali Dia munculkan dan keluarkan.
Ketika Dia menguasai pangkal pohonnya, tentu akan lebih mudah untuk mengatur dahan kenabian ini, maka Dia pupuk dengan pupuk sari-sari Kebaikan-Nya, Dia sirami dengan gelas Kasih Sayang-Nya, sehingga kokoh dan kuat. Pohon itu pun bercabang yang menyerbakkan aroma keharuman, sehingga keharuman itu akanmenjadi makanan jiwa orang-orang arif (al-‘arifin), sinar mata hati (al-muhibbin), halaman bagian depan tempat berkumpulnya orang-orang yang durhaka, harapan siraman oarng-orang yang berdosa.
Apabila angin panas kesalahan atau badai kemaksiatan berhembus dari sisi kelompok kiri, lalu mendoyong ke dahan yang telah ditumbuhkan-Nya, maka ia cenderung pada peerbuatan orang-orang kelompok kiri yang akan mempermainkan ranting-rantingnya. Hal itu akan berpengaruh pada kehijauan tanamannya. Akan tetapi akarnya yang tertancap kokoh dalm bumi keimanan tetap bertahan kuat. Apa yang terjadi pada ranting pohon tidak membahayakannya bila pelaku kejelekan segera membenahi dan melindunginya dari hawwa nafsu. Di lurukannya kembali ke jalan istiqamah setelah doyong, disirami dengan air istighfar sehingga segar kembali. Maka di sanalah akan diterima apa yang terbersit dalam hati, dahan keimanannya bersemi kembali setelah mengalami kegersangan. Dan berdirilah seorang pembicara yang memintakan maaf dengan berbagai alasan, seorang yang jujur dan benar apa yang dinukil darinya. “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (Qs. An-Najm : 1-2).
Kemudian anda perlu tahu, bahwa dahan Muhammad berasal dari ruhaniyyah, yang menjadi bahan berbagai ruh (arwah) dan dari jasmaniah, yang menjadi bahan manusia. Adapun bahan ruhaniahnya adalah kedermawanannya dalam rahasia firman Allah swt : “”Allah ‘Cahaya’ langit dan bumi. Perumpamaan ‘Cahaya’ Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada lampu besar. Lampu itu di dalam kaca.” (QS. An-Nur :35).
Lampu tersebut adalah lampu cahay Nabi kita Muhammad saw. Allah menjadikannya sebagai lampu dalam ceruk wujud. Maka alam ini diibaratkan sebagai ceruk, sementara Nabi Muhammad saw., diibaratkan kaca pelindung sumber cahaya. Sedangkan cahaya, dimana ia adalah hati nuraninya ibarat lampu. Maka cahaya batinnya memancarkan cahaya ke bagian luarnya, seperti cahaya lampu yang memancarkan ke kaca pelindung. Cahaya lampu tersebut  adalah api yang bersinar, sementara kaca pelindung menyerap cahaya dari dalam, dan karena bersihnya sehingga menjadi cahaya yang memancar. Sedangkan bagian setiap makhluk dari sinar tersebut adalah sesuai dengan kadar kedekatannya, mengikuti jejaknya, masuk dalam golongannya dan menjalankan syariatnya. Inilah makna firman Allah swt. “Dan yang menurunakn air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati.” (Qs. Az-Zzukhruf : 11)
Nabi Muhammad saw. oleh Allah diibaratkan air hujan yang turun dari langit sesuai dengan akdar dan ketentuan Allah, sebab air adalah Rasulullah saw. yang menjadi kehdiupan setiap hati nurani, sementara wujudnya menjadi rahmat untuk segala sesuatu. Lalu Allah menjelaskan penyerapan dan pemanfaatan manusia tehadap cahaya Rasulullah saw. dan apa yang diperoleh dari keberkahannya dengan ibarat lembah. Hati nurani adalah ibarat berbagai lembah, ada yang kecil, adapula yang besar, ada yang sangat besar, ada pula yang sangat kecil. Maka setiap hati akan menampung air sesuai daya tampung dan aliran yang menuju kepadanya. Sementara setiap manusia telah mengetahui tempat minum masing-masing. Jasmaniah Rasulullah diibaratkan buih yang terus berkembang dan melap di permukaan air yang jernih. Ibarat buih karen ia dibina secara lahiriah dari makan, minum, menikah dan hal-hal yang sama dengan umumnya manusia dalam perbuatan dan kondisi mereka. Namun semua itu akan hilang dan lenyap sebagaimana buih, sementara apa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dari kenabian, kerasulan, hikmah, ilmu, ma’rifat dan syafaatnya akan tetap tinggal di bumi.
Perlu Anda ketahui, bahwa hikmah diciptakannya dari kelembutan dan kepadatan adalah agar menjadi sempurna ciptaan dan sifatnya, karena Allah menciptakannya dari dua hal yang berlawanan : Jasmaniah dan ruhaniyyah, Jasmaniah dan basyiriyyah (kemanusiaan) nya diciptakan agar ia bisa bertemu dengan manusia dan berbagai hal yang punya dimensi bentuk dan rupa. Sehingga dijadikan ssuatu potensi (kekuatan) yang sanggup menerima manusia, uantuk membantu mereka dengan materi kemanusiaan, sehingg ia bersma mereka dan semangatnya pun bersamanya. “Sesungguhnya saya hanya manusia yang sama dengan kalian.” (Qs. Al-Kahfi :110). Yakni  dia sejenis dan sama dengan mereka. Sebab kalau dia muncul kepada mereka dalam kondisi ruhaniyyah malaikat yang jauhar-nya dari cahaya, tentu mereka tidak sanggup menerimanya, tidak mungkin daapt menambutnya. Oleh karenanya Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangata menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat bels kasihan lagi penyayang terhadap oeng-orang mukmin.” (Qs. A.Taubah : 128).
Kemudian Allah menjadikan dalam dirinya suatu poensi dan ruhaniah yang akan sanggup menghadapi alan ruhaniah dan malakut alam atas, agaar keberkahannya menjadi sempurna dan rahmatnya menjadi merata. Sementara para ruhaniah dapat menyaksikan jasmaniahnya.
Allah menjadikan sifat ketiga yang khusus untuk beliau di luar dua sifat tersebut, dimana sifat khusus tersebut adalah sifat Rabbani dan Rahasia Ilahi, yang dengannya akan menjadi tetap eksis ketika tajali (tampak). Sifat-sifat Ketuhanan, sanggup menyaksikan al-Hadrah al-Ilahiyyah (“kehadiran di hadapan Tuhan.”), menerima rahasia-rahasia Cahaya al-fardaniyyah (Kemahaesaan), mendengar khithab (perintah) isyarat al-Qudsiyyah (kesucian), menghirup udara keharuman ar-Rahmaniyyah dan menapak tangga al-maqamat (kedudukan). Kemahaagungan. Inilah makna sabda Rasulullah saw. “ Saya tidaklah sama dengan salah seorang di antara kalian,” dan sabda beliau : “Saya punya waktu yang tidak cukup dalam waktu tersebut kecuali Tuhan saya Yang Mahasuci.”
 Maqam (kedudukan) inilah yang tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali hanya Rasulullah Muhammad saw. Tidak seorang Nabi pun yang diutus atau malaikat yang dekat dengan Tuhan memiliki kedudukan seperti beliau. Suatu “Gelas” yang tidak diperoleh oleh siapa pun selain beliau. “Pengantin” yang tidak ditampakkan keccuali karenanya. Kedudukan yang dikhususkan untuk beliau ini adalah salah satu dari empat kedudukan yang telah kami sebutkan. Sementara tiga kedudukan yang lain adalah kemuliaan yang bisa diraih oleh hamba-hamba yang lain sesuai dengan bagian masing-masing.
Adapun kedudukan terhormat (al-mahmud) itu di khususkan untuk alam bentuk, yaitu alam Muluk yang ada di dunia, sehingga mereka memperoleh wujud ketenangan (thuma’ninah) dan berkah kenabian serta kerasulannya. “Dan Kami tidak mengutusmu kecuali untuk rahmat seluruh alam.” (Qs. Al-Anbiya :107). Dinaikkan di atas mimbar untuk berdakwah kepada ummatnya : “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (Qs. Al-Mai’dah : 67).
Maka di dalam dakwahnya terdapat orang-orang yang mengabulkan dan mengikutinya. Untuk memberikan nasihat tentu harus ada orang yang berceramah (khatib). Dalam setiap bencana dan gocangan terdapat dokternya, dan dalam rasa cinta kepada-Nya terdapat bagiannya. Maka kedudukan ini hanya dikhususkan untuk penduduk dunia.
Sedangkan kedudukan kedua adalah kedudukan terhormat di hari Kiamat. Kedudukan tersebut adalah bagian para arwah alam atas, sehingga mereka memperoleh keberkahan dari kedudukannya, menyaksikan keindahannya dan mendengarkan pembicaraannya : “Pada hari, ketika ruh (Jibril) dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.” (Qs. An-Naba’:38).
Ia diizinkan untuk berpidato (Khutbah), lalu berdiri untuk berkhutbah, sementara para malaikat berbaris dan makhluk makhluk lain berhenti. Ia memulai khutbahnya dengan memberikan syafaat (pertolongan) kepada ummatnya, sembari memanggil, “Ummatku, ummatku.” Ia pun dijawab, “Rahmat-Ku-rahmat-Ku.”
Sedangkan kedudukan ketiga adalah Musyahadah (menyaksikan). Ini berlangsung di surga tempat tinggal abadi, agar penduduk surga bisa mendapatkan bagian darinya dengan menikmati keindahan bidadari yang disaksikannya, merasa dihormati dengan ditempatkannya gedung surga, kedatangannya ddisuguhi kesenangan dan dihilangkannya penghalang serta rasa gelisah.
Kedudukan keempat adalah kedudukan yang hanya dikhususkan untuk Rasulullah saw. yaitu suatu kedudukan (maqam) menyaksikan Dzat Yang disembah swt., dimana ia suatu maqm yang kedekatannya berjarak dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat. Ini adalah karena ia merupakan buah dari “Pohon Kejadian”, mutiara dari kerang wujud dan rahasianya serta makna dari kata KUN. Sebab diuwujudkannya “Pohon Kejadian” bukanlah karena pohon itu sendiri, akan tetapi yang dikehendaki adalah buahnya. Sehingga ia dijaga dan dipelihara agar dapat dipetik buahnya dan kelihatan mencorong bunganya.
Ketika tujuan utamanya adalah menampilkan buah di hadapan Dzat Yang membuahkannya, menyuguhkan ke hadirat kedekatan-Nya dan berkeliling dengan membawanya ke sluruh putaran hadirat-Nya, maka dikatakan kepadanya, “Wahai si yatim yang berada dalam asuhan Abu Thalib, berdirilah! Karena engkau ada Yang mencari, telah disimpan untukmu berbagai harapan dan apa saja yang engkau cari.”
Lalu Allah mengutus kepadanya pelayan khusus malaikat. Dan ketika utusan itu datang kepadanya maka ia menemani dengan penuh setia dalam pembaringannya. Kemudian ia berkata, “Wahai Jibril, ke mana?,”
Jibril pun menjawabnya : “Wahai Muhammad, hilangkan pertanyaan ke mana dari dimensi ruang. Sebab dalam kenabian ini saya tidak pernah mengenal pertanyaan di mana. Akan tetapi saya seorang utusan dari Sang Maha Qadim, yang dtang kepadamu sebagai pelayan. Dan kami tidak akan turun kecuali mendapatkan perintah dari Tuhan-mu.”
Ia pun bertanaya, “”Wahai Jibril, apa yang dikehendaki dari saya?”
Jiberil menjawab. “Engkaulah yang dikehendaki oleh Iradah, yang dimaksud oleh Kehendak-Nya. Maka seluruhnya adalah dikehendaki karena engkau. Engkau adalah pilihan dari alam, engkau pilihan gelas cinta, engkau mutiara dari kerang wujud ini, engkau buah dari pohon, engkau matahari berbagai pengetahuan dan engkau purnama kelembutan. Tempat tinggal surga tidak akan dibangun kecuali untuk mengangkat kedudukanmu. Keindahan ini tidak akan disiapkan kecuali karena kedatanganmu dan gelas cinta ini tidak akan dihidangkan kecuali untuk minummu. Maka berdirilah, karena hidangan ini dusuguhkan hanya karena memuliakanmu. Para malaikat alam atas bergembira menyambut kedatanganmu dan para malaikat al-Karubiyyun bertahlil karena kehadiranmu. Mereka telah memperoleh kemuliaan ruhaniyyahmu, maka mereka harus mendapatkan bagian dari jasmaniahmu, Maka kemuliaan alam Malakut adalah sebagaimana kemuliaan alam Muluk, kemuliaan puncak langit karena terinjak kedua kakimu sama seperti kemuliaan permukaan bumi Mekkah terinjak olehnya.”
Kemudian Rasulullah saw. berkata. “Wahai Jibril, Sang Maha mulia memanggilku, lalu apa yang bakal diperbuat oleh-Nya terhadap diriku?”
Jibril menjawab, “Agar Dia memaafkan kepadamu dosa yang telah engkau lakukan dan yang belum.”
Ia bertanya, “Ini untuk saya, lalu bagaimana dengan keluarga dan anak-anak saya? Karena sesungguhnya sejelek-jelek orang adalah orang yang makan sendirian.”
Jibril menjawab, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas” (Qs. Adh-Dhuha : 5).
Ia berkata, “Wahai Jibril, sekarang hatiku lega, marilah sekarang kita berangkat kepada Tuhanku.
Kemudian Jibril mendekatkan kendaraan Buraq kepadanya. Lalu Rasulullah saw. bertanya : “Apa kaitannya kendaraan ini dengan diri saya?”
Jibril menjawab, “Ini adalah kendaraan orang-orang yang cintanya membara.”
Rasulullah berkata, Akan tetapi kendaraanku adalah kerinduan, bekalku adalah keinginanku untuk bertemu, penunjukka adalah malamku di mana saya tidak akan bisa sampai kepada-Nya kecuali dengan-Nya, dan tiak ada yang bisa menunjukkanku kepada-Nya kecuali Dia. Lalu bagaimana seekor binatang yang lemah sanggup membawa orang yang memikul beban berat cinta kepada Tuhannya, gunung tinggi ma’rifatnya dan rahasia-rahasia amanat-Nya. Dimana semua itu tidak sanggup dipikul oleh langit, bumi dan gunung. Lalu bagaimana engkau akan sanggup menunjukkanku, sementara engkau bingung ketika di Sidratul Muntaha, sedangkan Dia sampai pada keharibaan yang tiada berujung?.”
Wahai Jibril, dimana persamaan engkau denganku, sedangkan saya punya waktu yang tidak cukup selain Tuhanku? Wahai Jibril, apabila Kekasihku adalah tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, maka saya tidak sama dengan salah seorang di antara kalian, dimana kendaraan yang dinaiki akan menempuh jarak dan oetunjuk yang digunakan menunjukan arah masih menuju kepada berbagai arah. Itu semua adalah sifat-sifat makhluk yang huduts, Sementara Kekasihku Mahasuci dari segala arah, dibersihakan  dari segala yang huduts, tidak akan bisa ditempuh dengan gerakan dan tiak bisa ditnjukan dengan isyarat. Barang siapa mengetahui berbagai makna ini ia akan tahu apa yang saya alami. Demikianlah seterusnya, bahwa kedekatan saya dengan-Nya adalah seperti jarak dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.”
Akhirnya kondisi waktu menjadikan masalah bagi Jibril, lalu berkata, “ Wahai Muhammad, sesungguhnya saya didatangkan kepadamu agar saya menjadi pelayan dlam kekuasaanmu dan temn yang mengikuti perjalananmu. Didatangkannya kendaraan untuk mu adalah untuk memperlihatkan kemuliaanmu, karena sudah menjadi tradisi para raja, apabila mereka menyambut kedatangan seorang tamu yang menjadi kekasih pujaannya atau ketika mengundang kerabat dekatnya, lalu mereka ingin memperlihatkan penghormatan kepada tamu yang diundangnya, maka mereka mengutus pembantu khusus yang mereka percaya dan menyiapkan kendaraan yang paling baik untuk menjemputnya. Lalu kami datang kepadamu adalah resmi seperti tradisi kerajaan dan etika dalam berperilaku. Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah swt, bisa dijangkau dengan langkah kaki, maka ia tercebur dalam jurang kesalahan. Barangsiapa mengira bahwa Tuhan terhalang oleh tutup materi, maka ia tidak akan mendapatkan anugerah.
Wahai Muhammad, sesungguhnya para malaikat dan penghuni alam arwah telah menatimu, pintu surga telah dibukakan untukmu, bagian depannya telah dihiasi dengan berbagai hiasan, tanah pasirnya dihias penuh dengan minuman. Semua itu adalah ungkapan rasa senang dan bahagia dengan kehadiranmu, Malam adalah menjadi malammu dan kekuasaan(kedaulatan) adakah kekuasaanmu. Sementara sejak saya diciptakan telah menunggu malam yang sangat indah dan penuh bahagia ini. Saya telah menjadikanmu sebagai perantara dalam kebutuhanku, saya akan mengatakan tentang usaha saya, sementara sarana saya telah terputus. Saya di malam itu telah kehilangan akal, tidak mampu berpikir, dundah gulana dan semakin bingung. Wahai Muhammad, kebingunganku telah menghentikanku dalam berbagai medan keazalian dan keabadian-Nya. Maka saya berkeliling dalam medan pertama, ternyata saya tidak menemukan awalnya, lalu saya berpaling ke medan terakhir, ternyata dia di akhir adalam permulaan. Kemudian saya mencari seorang teman untuk menjemput sahabat itu.
Maka di tengah jalan saya bertemu dengan Mikail. Ia pun menyapa kepadaku, Ke mana? Sementara jalan tertutup rapat berbagai pintu tanpa dengannya akan ditolak, dan tidak dapat ditembus dengan waktu yang dapat dihitung dan tidak dapat ditemukan di tempat yang terbtas.”
Lalu saya bertnya kepadanya, “Apa tujuanmu berhenti di tempat ini.?
Ia menjawab, “Saya disibukkan dengan ukuran-ukuran air laut, menurunkan hujan dan mengirimkannya ke berbagai penjuru. Akhirnya saya tahu berapa yang dijadikan pahit sebagai tinta dan berapa buih yang dihempas oleh gelombang. Namun ssaya tidak tahu jangka waktu bagi Yang Mahatunggal dan tidak tahu jumlah bagi Yang Mahaesa.”
Kemudian saya bertanya, “Di mana Israfil?
Ia menjawab, “Ketika saya masuk di ‘Lembaga pendidikan’ ia memahami lembaran-lembaran yang didepnnya adalah Lauh Mahfuzh. Ia menyalin dari Lauh Mahfuzh apa yang harus terjadi dan apa yang dibatalkan. Kemudian membacakan pelajaran kepada anak-anak kecil, Itu adalh contoh ketentuan (takdir) dari Yang Mahaagung lagi Maha Mengetahui. Ketika ia sedang belajar tidak pernah mengangkat wajahnya ke Lauh Mahfudz karena malu terhadap Sang Maha Guru. Pandangan matanya sangat terbatas, hati dan pikirannya tidak luas. Ia dalam kondisi seperti ini sampai hari ditiupkannya terompet (di hari kiamat).
Saya berkata, “Begitu seterusnya, marlah kita bertanya kepada ‘Arasy kita meminta petunjuk, menyalin dan memintanya agar ia mau mendikte apa yang ia ketahui.”
Ketika ‘Arasy mendengar apa yang kita bicarakan, ia pun amat senang dan berkata, “Jangan engkau gerakkan lisanmu, jangan engkau gerakkan anggota tubuhmu. Ini adalah rahasia yang tabirnya tidak akan dibukakan, pintunya selalu tertutup dan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Saya hanyalah makhluk yang terdiri dari dua huruf. Kemarin saya tidak berarti apa-apa dan belum wujud apa-apa. Seorang makhluk yang kemarin belum ada, lalu bagaimana ia bisa mengenal Penglihatan Dzat Yang senantiasa Wujud, tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Dia lebih dahulu ‘bersemayam’ (istiwa) dna memaksaku dengan Kekuasaan. Andaikan tidak karena Dia ‘bersemayam’ labih dahulu tentu saya tidak akan bisa lurus. Andaikan tidak karena Kekuasaan-Nya tentu saya tidak dapat petunjuk. Dia ‘bersemayam’ ke langit sementara langit masih berupa asap. Dia ‘bersemayam’ di ‘Arasy untuk menunjukan bukti, sehingga saya pun terkejut ketika Dia benar-benar ‘bersemayam’. Sementara saya dan bintang yang tertinggi adalah berdekatan dan dalam jarak yang sama, namun saya tidak mengerti apa yang Dia miliki dan tidak tahu apa yang ada dalam “Genggaman-Nya”. Saya hanyal seorang hamba-Nya, sedangkan si hamba hanya bisa berniat.
Kemudian saya ingin menceritakan kepadamu tentang kisah saya, saya beritahukan kepadamu tentang pengaduan saya karena saya tersendat oleh sesuatu, Saya bersumpah dengan Kemahatinggian Keagungan-Nya. Sementara Kekuatan Kekuasaan-Nya telah menciptakan saya, di dalam Lautan Kemahaesaan-Nya Dia telah menenggelamkan ku, pda luasnya Keabadian-Nya yang tak bertepi telah membingungkan saya. Suatu ketika muncul dari berbagai tempat munculnya Keabadian, lalu menggairahkanku, suatu ketika mendektiku dari berbagai tempat kedekatan-Nya lalu menghiburku, suatu saat menghalangi dengan tabir (hijab) Keagungan-Nya lalu menggelisahkanku, suatu saat membisikku dengan bisikan Kelembutan-Nya lalu menyenangkanku, suatu ketika menyambungku dengan gelas cinta-Nya lalu menjadikanku mabuk. Ketika saya merasa tersiksa dengan gaduhnya kemabukanku, maka lidah Kemahaesaan-Nya berkata, engkau tidak akan melihat-Ku,” Saya pun luluh dan merasa karena Kewibawaan-Nya, saya tercabik-cabik dari cinta-Nya karena gundah, sya pingsan sebagaimana Musa as. Ketika Dia menampakkan Keagungan-Nya. Ketika saya sadar kembali dari mabuk cinta kepada-Nya, maka dikatakan kepadaku, “Wahai makhluk yangcintanya membara! Ini adalah keindahan yang teah Kami jaga, kebaikan yang Kami tutupi, maka tidak ada yang bisa melihatnya kecuali seorang kekasih yang telah Kami pilih, seorang anak yatim yang telah Kami asuh. Apabila engkau mendengar, “Mahasuci Tuhan Yang telah menjalankan hamba-Nya di malam hari (Qs. Al-Isra’ :1), maka berhentilah di tengah perjalanannya naik kepada-Ku dan kedatangannya kepada-Ku, barangkali engkau bisa melihat orang yang dapat melihat-Ku. Engkau akan beruntung bisa menyaksikan orang tidak melihat kepada salin Kami.”
Wahai Muhammad bilamana ‘Arasy digiring kepadamu, lalu bagaimana aku tidak melayanimmu dengan memberikan kendaraan pertamamu yang Buraq yang akan dijadikan kendaraan menuju ke Baitul Maqdis dan sekaligus kendaraan kedua ketika engkau Mi’raj (naik) ke langit dunia.”
Sedangkan kedanraan ketiga yang digunakan naik dari langit ke langit berikutnya hingga langit ke tujuh adalah sayap para malaikat. Sedangkan kendaraan ke empat untuk naik dari langit ke tujuh hingga Sidratul Muntaha adalah syap jibril. Sampai di situ Jibril mengantarkan Beliau. Maka Rasulullah saw. bekata kepada Jibril, “Wahai Jibril, semalam kami adalah menjadi tamumu, lalu bagaimana seorang yang punya tamu meninggalkan tamunya. Apakah sampai di sini seorang kekasih meninggalkan kekasih yang dicintainya?
Jibril pun menjawab, “Wahai Muhammad, engkau adalah tamu Tuhan Yang Mahamulia, orang yang diundang oleh Tuhan Yang Maha Qadim. Kalau sekarang saya bergerak maju sekalipun hanya sejuh ujung jari tentu saya terbakar. Masing-masing di antara kita memiliki kedudukan (maqam) yang telah ditentukan.
Rasulullah saw. berkata, “Benar, apabila engkau telah sampai pada Sang Maha Kekasih dimana tidak ada batas tertentu, lalu dikatakan kepada engkau, “Inilah engkau dan inilah Aku,’ maka ingatlah saya di sisi Tuhanmu.”
Akhirnya Jibril as. Menusuk satu tusukan yang menembus tujupuluh ribu penghalang dari cahaya. Lalu beliau diterima oleh kendaraan kelimanya, yaitu “Bantal” dari Sinar hijau yang telah diikatkan antara timur dan barat. Kemudian beliau menaikinya sampai ke ‘Arasy. Sesampai di sana, ‘Arasy pun memegang erat-erat dengan ‘ekor-ekornya” dan memanggilnya dengan tutur kata kondisinya :
“Wahai Muhammad, sampai kapan engkau minum dari kejernihan waktumu, aman dari kotor dan keruhnya. Suatu ketika Kekasihmu sangat merindukanmu dan ‘turun’ ke langit dunia, dan suatu saat Dia berkeliling denganmu kepada ‘temn’teman’ Keagungan-Nya dan membawamu di atas ‘bantal’ Kasih Sayang-Nya. Maha Suci Tuhan Yang menjalankan hamba-Nya di malam hari. Suatu saat Dia memperlihatkan kepadamu akan Keindahan Kemahaesaan-Nya, dimana ‘Hati nuraninya tidak akan mendustakan apa yang ia lihat.” (Qs. An-Najm : 11). Suatu ketika Dia memperlihatkan kepadamu akan keindahan Kekekalan-Nya, dimana ‘Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya,” (Qs. An-Najm :17). Suatu ketika Dia memperlihatkan kepadamu tentang rahasia-rahasia alam malakut-Nya, Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah mahyukan (Qs. An-Najm:10). Suatu ketika Dia mendekatkanmu dari Kehadirat kedekatan-Nya. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) (Qs. An-Najm :9).
Wahai Muhammad, ini adalah waktu haus kepada-Nya, gelisah menyesali perbuatan dan bingung memikir-Nya. Saya tidak mengerti dari arah mana saya harus data kepada-Nya. Dia menjadikan saya sebagai makhluk-Nya yang terbesar, sehingga saya adalah makhluk yang sangat takut kepda-Nya. Wahai Muhammad, Dia menciptakan saya di saat yang tepat untuk menciptakan saya. Lalu saya gemetar karena wibawa Kebesan-Nya. Kemudian Dia menulis pada diri saya kalimat : “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Maka saya semakin gemetar karena kewibawaan Nama-Nya. Ketika Dia menulis kalmat : “Muhammad adalah Utusan Allah”, maka kegudahanku tenang, ketkutanku pun berhenti. Maka namamu menjadi penentram hatiku dan penenenag batinku. Inilah keberkahan atas diletakkannya namamu pada diriku. Lalu bagimana dengan keindahan tatapan pandanganmu kepadaku?.
Wahai Muhammad engkau seorang yang diutus untuk memberi rahmat ke seluruh alam raya ini. Tentu pada malam hari ini saya harus mendapatkan bagian dari rahmat tersebut. Bagian yang saya inginkan adalah engkau harus sanggup memberikan kesaksian kepada diri saya dengan terbebas dari neraka, dari apa yang diklaimkan kepada diriku oleh orang-orang yang biasa berbuat dosa dan yang biasa dibicarakan oelh orang-orang yang sering menipu. Sebab sebagian kaum telah berbuat kekeliruan terhadap diriku. Mereka tersesat dan mengira bahwa saya memuat Dzat Yang tidak dpat dibatasi sama sekali, saya telah memikul Dzat Yang tidak bisa dikondisikan sama sekali dan dapat memahami Dzat Yang tidak bisa digambarkan dalam kondisi bagaimanapun.
Wahai Muhammad Tuhan Yang Dzat-Nya tidak dapat didefinisikan dan dibatasi, Sifat-Nya tidak dapat dihitung. Lalu bagaimana Dia butuh kepada saya, atau saya bawa? Apabila ar-Rahman (Maha Penyayang) adalah Nama-Nya, maka al-Istiwa (bersemayam) adalah Sifat-Nya, Sementara Sifat-Nya terkait dengan Dzat-Nya, lalu bagaimana Dia bersmbung dan terkait atau terpisah denganku. Saua bukanlah bagian dari-Nya, dan Dia bukanlah bagian dariku.
Wahai Muhammad, demi Keagungan-Nya, saya tidaklah dekat secara bersambung dan juga tidak jauh secara terpisah. Saya bukanlah makhluk yang sanggup membawa-Nya dan juga bukan yang sanggup mengumpulkan secara keseluruhan, tidak pula menemukan bandingan-Nya. Akan tetapi justru Dia mewujudkanku dari rahmat-Nya sebagai anugerah dan pemberian. Andaikan Dia menghanguskanku, tentu itu juga suatu anugerah dan keadilan-Nya.
Wahai Muhammad, saya adalah makhluk yang dibawa oleh Kekuasaan-Nya, yang diperlakukan dengan Kebijakan-Nya. Lalu bagaimana Dzat Yang membawa itu kemudian dibawa, “Maka janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. Al-Isra’ :36).
Kemudian rasulullah saw, menjawab dengan tutur kata kondisinya, “Wahay Arasy, untukmu dari ku. Maka sekarang saya berusaha melupakanmu, maka jangan memperkeruh kejernihanku, jangan merisaukan kesendirianku. Sehingga tidak ada waktu luang sedikit pun untuk mencerca kepadamu, tidak ada tempat untuk berbicara denganmu.”
Maka Rasulullah saw. tidak menggunakan sekejap pun dari waktunya, tidak pula sempat membaca shuruf pun dari apa yang diwahyukan kepadanya dan matanya tidak melirik sedikitpun. Lalu tibalah kendaraan ke enam yaitu Ta’yid (pengukuhan).lalu ia dipanggil dari atasnya, sementara ia tidak tahu Yang menjaganya. “Inilah engkau dan Tuhanmu. “Rasulullah berkata, “Saya tetap dalam kondisi bingung dan tercengang, tidak mengerti apa yang bakal saya ucapkan, tidak tahu apa yang bakal saya perbuat. Sebab telah menetes di bibirku suatu tetesan yang lebih manis daripada madu, lebih dingin daripada salju, lebih lebut daripada keju dan lebih harum daripada aroma  mistik. Dengan demikian akhirnya aku menjadi lebih tahu daripada seluruh para Nabi dan Rasul. Lalu mengalir pada lidahku ucapan : “Segala penghormatan dan keberkahan adalah milik Allah, Shalawat (rahmat) dan kebaikan juga milik Allah.”
Akhirnya saya di jawab :
“Salam sejahtera semoga untukmu wahai seorang nabi, dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya juga dilimpahkan kepadamu.”
Lalu saya mengusulkan untuk mengikutsertakan ssaudara-saudara saya dari kalangan para Nabi dalam apa yang diberrikan secara khusus kepadaku :
“Semoga salam sejahtera tetap diberikan kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.”
Yang demaksudkan kepada kita adalah para Nabi as.
Oleh karenanya ketika dikatakan kepada Abu Bakar ra. Saar Rasulullah sedang di-isra’ – mi’raj-kan, “Dia (Rasulullah) melihat Tuhannya. “Maka Abu Bakar pun menjawab tanpa ragu-ragu, “Beliau benar dan jujur. Aku pun ikut bersamanya berpegang teguh dengan tali-temali di belakangnya. Ikut merasakan apa yang beliau katakan. “Lalu ia ditanya, “Bagaimana demikian?” Ia menjawab : “Kita ikut dalam ucapan beliau : “Semoga salam sejahtera diberikan kepada kita.”
Lalu para malaikat menjawabnya :
“Saya bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Utusan-Nya.”
Rasulullah berkata : “Lalu saya dipanggil, “Mendekatlah wahai Muhammad,” Aku pun mendekat lalu berhenti.”
Itulah makna firman Allah Azza wa Jalla :
“Kemudian dai mendekat. Lalu bertambah dekat lagi.” (Qs. An-Najm : 8).
Menurut suatu pendapat, Nabi Muhammad saw. mendekat ketika meminta yang karenanya beliau akan semakin dekat. Maka beliau maju kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Menurut pendapat lain, bahwa Nabi Muhammad saw. mendekat dengan membawa syafaat, dan semakin mendekat kepada Tuhan untuk bisa dikabulkan. Sementara ada pula yang mengatakan, bahwa beliau mendekat dengan penuh pengabdian dan akhirnya dengan dengan Tuhannya untuk diberi rahmat-Nya. Ada pula yang memberi arti bahwa Rasulullah saw. mendekat kepada Tuhannya. Lalu beliau semakin dekat dengan diberi wahyu dari Tuhannya.
Pada prinsipnya tidak dapat dijelaskan dengan jarak tempuh beberapa atau dalam ukuran berapa, sebab tidak dapat ditanyakan di mana, dari suatu lingkup. Tidak juga dipertanyakan bagaimana. Maka ungkapan al-Qur’an mengatakan : “Maka jadilah Dia dekat (dengan Muhammad sejarak) dua ujungbusur panah dan lebih dekat (lagi) (Qs. An-Najm :9). Andaikan hanya cukup dengan, “Dia dekat dengan Muhammad sejarak dua ujung busur panah,” tentu Tuhan masih dimungkinkah memiliki dimensi raung dan tempat. Akan tetapi kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya, “Atau bahkan lebih dekat lagi,” untuk menafikan (meniadakan) dimensi ruang dan temepat. Nabi Muhammad saw. bersama-Nya tanpa dimensi ruang dan waktu, tidak sekarang dan tidak pula dalam alam tertentu.
Kemudia beliau dipanggil :
“Wahai Muhammad, majulah!.”
Beliau bertanya : “Wahai Tuhan, apabila tempat di mana itu telah tiada, lalu di mana saya harus meletakkan kaki saya?
Dia menjawab : “Letakkanlah kaki pada kaki, sehingga semuanya tahu, bahwa Aku ini bersih dari waktu, tempt dan berbagai alam, dari malam dan siang, dari batas, wilayah dan ukuran. Wahai Muhammad, pandanglah!.”
Beliau pu memandang, lalu melihat cahaya terang gemerlapan, kemudian beliau bertanya, “Cahaya apa ini?.”
Dijawab-Nya : “Ini bukanlah cahaya, akan tetapi surga Firdaus. Ketika engkau naik, maka ia persis di depan kedua kakimu. Sementara apa yang ada di bawah kedua kakimu adalah sebagai tebusan untuk keduanya. Wahai Muhammad, permulaan kakimu adalah akhir berbagai dugaan para makhluk. Wahai Muhammad, selama engkau dalam perjalanan yang masih berdimensi ruang, maka Jibril adalah penunjuk jalanmu dan Buraq dalah kendaraanmu. Akakn tetapi setelah berbagai dimensi itu telah tiada dan engkau telah lenyap dari berbagai alam, sehingga tempat dan ruang itu telah tiada dan tidak bisa ditanyakan di mana, yang ada hanyalah kedekatan sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka sekarng Aku adalam pPenunjukmu. Wahai Muhammad, Aku bukakan untukmu suatu pintu. Aku hilangkan untukmu penutup (hijab), Aku perdengarkan kepadamu indahnya pembicaraan di alam ghaib. Engkau telah mentauchidkan Aku sevara realitas dan iman dengan sebenarnya, maka sekarang tauchidkanlah Aku dalam alam Syuhud (Musyahadah) secara musyahadak dan mata inderawi.
Maka beliau berkata : “Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari hukuman murka-Mu.”
Lalu dijawab : “Ucapan ini untuk orang-orang yang durhaka dari ummatmu. Ini bukanlah hakikat orang yang mengakui Kemahaesaan-Ku.”
Beliau berkata : “Saya tidak sanggup melakukan pujian yang ditujukan kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memujimu pada Diri-Mu sendiri.”
Lalu dijawab : “Wahai Muhammad, apabila lidahmu kelu tak sanggup berucap mengungkapkan kata-kata, maka Aku akan mengenakanmu dengan lidah kejujuran. “Dan tiadalah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Qs. An-Najm : 3). Apabila pandangan matamu masih tetrsesat  untuk menerima isyarat, maka akan Aku jadikan untukmu mahkota hidayah : “Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (Qs. An-najm : 17). Kemudian Aku akan meminjamkan kepadamu suatu Cahaya yang dengannya engkau akan sanggup melihat Keindahan-Ku dan pendengaran yang mampu mendengar Pembicaraan-Ku. Lalu Aku akan memberi tahu kepadamu dengan bahasa dan tutur kata kondisional (Linasul Hal) akan makna Mi’raj-mu kepada-Ku dan hikmah pandanganmu kepada-Ku.
“Wahai seorang Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai seorang saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan (dengan ancaman siksa Allah) dan mengajak kepaa agama Allah dengan izin-Nya, sebagai lampu penerang dan pemberi cahaya.” (Qs. Al-Ahzab : 45-6).
Maka seakan-akan Dia berfirman dengan memberi isyarat : “Seorang saksi dituntut untuk bisa memberikan kesaksian sesuai dengan apa yang ia lihat sebenarnya. Ia tidak boleh memberikan terhadap apa yang ghaib (tak terlihat mata), sehingga Aku tunjukkan kepadam, sehingga engkau bisa menyaksikan apa yang Aku janjikan kepada para kekasih-Ku. Dan engkau Aku tunjukan neraka Ku agar engkau bisa menjadi saksi apa yang Aku ancamkan kepada para musuh-Ku. Kemudian Aku tunjukkan kepadamu akan Kebesaran dan Keagungan-Ku, Aku singkapkan untuk mu tentang keindahanKu agar engkau tahu, bahwa Aku dalam Kemahasempurnaan-Ku. Disucikan dari persamaan dan perbandingan, bersih dari bentuk dan ukuran, dari batas dan jumlah, dari kelebihan dan kekurangan, dari berkesinambungan dan keterpisahan, perbandingan dan persamaan, ketersentuhan, keterpautan, kejauhan dan ketersingkirkan.
Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku menciptakan makhluk-Ku dan mereka Aku panggil kepada-Ku. Tapi kemudain mereka berbeda-beda dalam memahami-Ku. Maka ada suatu kaum yang menjadikan Uzair sebagai naka-Ku dan ‘Tangan-Ku’ terbelenggu. Mereka adalah kaum Yahudi. Ada pula kaum yang menganggap bahwa Isa dan al-Masih anak-Ku, Aku pun dianggapnya memiliki isteri dan anak. Mereka adalah kaum Nasrani. Ada pula kaum yang telah menjadikan Aku punya sekutu. Mereka adalah kaum Watsaniyah (penyembah berhala). Ada kaum lagi yang menjadikan Aku memiliki bentuk rupa, mereka adalah kaum Mujassimah. Ada pula kaum yang menjadikan Aku dapat diukur dan dibatasi, mereka adalah kaum Musyabbibah. Ada pula kaun yang mengaap Aku tidak ada, mereka adalah kaum Atheis. Sementara itu ada pula kaum yang mengira bahwa aku tidak dapat dilihat nanti di akherat, merek adalah kaun Mu’tazillah. Sekarang Aku telah bukakan Pintu-Ku untukmu, Aku hilangkan tabir (hijab) yang mengalangi mu, maka pandanglah wahai kekasih-Ku, wahai Muhammad, apakah engkau menemukan sesuatu pada Dzat-Ku sebagaimana anggapan mereka terhadap-Ku?.”
Maka Rasulullah saw. melihat-Nya dengan kekuatan Cahaya yang diberrikan-Nya, dan dengan Cahay itu Dia telah memperkuatnya dengan tanpa disadari dan tidak dapat dipahami. Akhirnya beliau dapat memhamai akan keesaan-Nya, Kebaikan-Nya Yang menjadi tumpuan, tidak berada pada sesuatu, tidak pula di atas sesuatu, tidak berdiri pada sesuatu  dan tidak pula butuh pada sesuatu, tidak dalam bentuk, tidak pula dapat diserupakan, tidak dalam wujud rupa dan tidak pula dalam bentuk jisim, tidak berpihak tidak dalam kondisi bagaimana dan tidak pula terformulasi. Pada dasarnya, tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ketia Dia berbicara dengannya secara “Lisan” dan memperlihatkannya berbagai kesaksian secara “terbuka” maka Dia berkata, “Wahai kekasih-Ku , wahai Muhammad, untuk makhluk ini harus ada suatu rahasia yang tiak boleh disirkan.” Maka Dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan, Maka itu adalah suatu rahasia dari suatu rahasia yang ada dalam rahasia.
“Ya Allah, semoga engkau tetap memberikan salawat (rahmat) dan keselamatan serta keberkahan kepada makhluk-Mu termulia, junjunan dan tuan kami Muhammad yang menjadi lautan CahayMu, tambang segala rahasia-Mu, lisan (juru bicara) argumentasi-Mu, model Kekuasaan-Mu, gudang simpanan rahmat-Mu, jalan syariat-Mu, lampu penerang surga-Mu, mata hakikat-Mu, yang dapat merasakan kenikmatan menyaksikan-Mu, inti dari segala wujud makhluk-Mu, yang diambilkan dari Cahaya terangnya Sinar-Mu ---- dengan shalawat yang Engkau menyelesaikan persoalan rumitku, memberikan jalan keluar dari kesedihanku, mengabulkan (memberikan) apa yang menjadi kebutuhanku, mengantarkanku pada permintaanku. Dengan shalawat yang tereus menerus dengan Kelanggengan-Mu, yang terus ada dengan Kekelan-Mu, yang senantiaa ada pada Dzat-Mu. Dengan shalawat yang menjadikan Engkau ridha dan meridhainya serta meridhai kita wahai Tuhan semesta alam.”

Cukuplah bagi kami Allah dan sebaik-baik Dzat Yang dijadikan tempat berserah diri. Tidak ada usaha dan kekuatan sedikit pun kecuali atas bantuan dan kekuatan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

Semoga Allah senantiasa memberikan shalawat (rahmat) dan salam sejahtera kepada tuan kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan sahabatnya. Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

2.              HIKAYAH  IBLIS


(Sebagaimana yang diceritakan rasulullah saw.
Segala puji hanya milik Tuhan semessta alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepaa seorang Nabi yan Ummiy, Muhammad saw. dan kepada keluarganaya yang bersih serta seluruh sahabatnya yang mulia.
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra. Dan Ibnu Abbas ra. Yang berkisah : Kami bersama Rasulullah saw. di rumah salah seorang sahabat Anshar, di mana saat itu kami  di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dri luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkan ku masuk, sementara kalian butuh kepadaku.”
Rasulullah bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapakah yang memanggil dari luar itu?
Mereka menjawab : “Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Lalu rasulullah saw. menjelaskan : “Ini adalah iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya.”
Kemudian Umar ra. Meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata : “Ya Rasulullah, apakah engkau menizinkan ku untuk membunuhnya?.”
Beliau menjawab : “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yangtertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat)?” Akan tetapi sekrang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperrintah untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.”
Ibnu Abbas berkata : Kemudian dibukakan pintu, lali ia masuk ke tengah-tengah kami. Tenyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke ssamping). Sedangkan kepalanya seperti kepaal gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara keuda bibirnyaseperti bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam. “”Assalamu’alaika ya Muhammad, Assalmu’alaikum ya jamaa’atal – muslimin,” kata iblis.
Nabi menjawab : “Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis?.”
“Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa,” tutur iblis.
“Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk terkutuk?.” Tanya Rasulullah.
Iblis menjawab : “Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Magaagung, dimana utusan itu berkata kepadaku, “Sesungguhnya Allah SWT., memerintahkanmu untuk datang kepada Muhammad saw.sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak cucu Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekai, sungguh engkau akanAllah jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang.” “Wahai Muhammad, maka sekarang ssaya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakanapa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka-musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.”
Rasulullah mulai meleparkan pertanyaan kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?.”
Iblis menjawab dengan jujur : “Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”
“Lalu siapa lagi yang paling engkau benci?.” Tanya Rasulullah.
“Seorang pemuda yang bertakwa deimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah swt.” Jawab iblis.
“Siapa lagi?.” Tanya Rasulullah.
“Orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat), lagi sabar.” Jawab iblis.
Siapa lagi?.” Tanya Rasulullah.
“orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (Hadats besar dan kecil serta najis;).” Tutur iblis.
“Siapa lagi?.” Tanya Rasulullah.
“Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan jiga tidak pernah mengeluh penderitaan yang dialaminya.” Jawab iblis.
“Lalu darimana engkau tahu kalau ia bersabar?.” Tanya Rasulullah.
“Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaanya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompokm orang-orang yang bersabar.” Jelas iblis.
“Lalu siapa lagi wahai iblis?.” Tanya Rasulullah.
“Orang kaya yang bersyukur.” Tutur iblis.
“Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur?.” Tanya Rasulullah.
“Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya.” Tutur iblis.
“Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankanshalat?.” Tanya Rasulullah.
“Wahai Muhammad, saya langsung gelisah dan gemetar.” Jawab iblis.
“Mengapa wahai makhluk yang terkutuk?.” Tanya Rasulullah.
“Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud, maka Allah akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila membaca al-Qur’an, maka saya akan melelh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua.” Jawab iblis.
“mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?.” Tanya Rasulullah.
“Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: Dengan sedekah itu, Allah akan menurunkan keberkahan dalam hartnaya, menjadikan ia disenangi di kalangan makhluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah akan menjadikan suatu penghalang antara neraka  dengannya dan akan menghiandarkan segala bencana dan penyakit,” tutur iblis menjelaskan.
“Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?.” Tanya Rasulullah.
“Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam,” tutur iblis.
“Bagaimana dengan Umar bin Khatthab?.” Tanya Rasulullah.
“Demi Allah, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinta,” jawab iblis.
“Bagaimana dengan Utsman?.” Tanga Rasulullah.
“Saya merasa malu terhadap oran gyang yang para malaikat saja malu kepadanya.” Jawab iblis.
“Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib?.” Tanya Rasulullah.
“Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu sama sekali.” Tutur iblis.
“Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakanmu sampa pada waktu yang ditentukan,” tutur Rasulullah.
“Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara ssaya senantiasa hidup dan tidak akan mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummatmu, sementara saya bisa msuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak bisa melihatku. Demi Tuhan Yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hri mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca al-Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis (murni),” tutur iblis.
“Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah yang mukhlis itu?.” Tanya Rasulullah.
Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah swt. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu ermasuk dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuhpuluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Di antara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak ada masalah, sedangkan anaka-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Di antara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekunberibadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari situ pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apa pun. Saya sambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selam tujuhpuluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang ssakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir? Inilah yang disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu.” Maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata.” “Sesungguhnya kau cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-Hasyr :16).
Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari daya, saya adalah orang yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barang siapa bersumpah atas Nama Allah dengan berbohong, maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atas Nama Allah,” Bahwa saya akan membei nasihat kepada kalian berdua. “Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksin dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barang siapa bersumpah dengan menceraikan isterinya (talak), maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, isterinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan.
Wahai Muhammad, sesungguhnya di antara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankah shalat maka saya selalu berada padanya dan mengganggu sembari berkata kepadanya.” Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan. Sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat di luar waktunya. Akibatnya dengan shalat yang dikerjakan di luar waktunya itu ia akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shalatnya saya berkata kepadanya, “Lihatlah ke kana  dan ke kiri.” Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya sya usap dengan tangan saya. Kemudian saya menghadap di depan matanya sambil berkata, “Engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya.”
Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintah utuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan shalat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalai ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai di lehernya. Ketika ia sedang ruku’ saya tarik kepalanya ke atas sebelum imam bangun dari ruku’ dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, sengkau tahu, bahwa orang yang melakukan shalat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalu dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepdaku pdahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka ssaya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk ke dalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku.
Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai Muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meningglkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiabn kalian, hslat hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. “Saya pun berkata kepada orang yang sakit. “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman > “..... dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit .... (Qs. An Nur : 61 ) Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shalat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai.
Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam?.”
Kemudian Rasulullah meneruskan pertanyaannya.
“Wahai makhluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu?.”
“Orang-orang yang suka makan riba,” jawab iblis.
“Lalu siapa teman dekatmu?.” Tanya Rasulullah kembali.
“Orang yang berzina.” Jawabnya.
“Siapa teman tidurmu?.” Tanya Rasulullah.
O”Orang yang mabuk.” Jawabnya.
“Siapa utusanmu.” Tanya Rasulullah.
“Tukang sihir.” Jawabnya.
“Apa yang menyenangkan pandangan matamu?.” Tanya Rasulullah.
“Orang yang bersumpah dengan talak.” Jawab iblis.
“Siapa kekasihmu.” Tanya Rasulullah.
“Orang yang meninggalkan shalat Jum’at,” jawabnya.
“Wahai makhluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah?.” Tanya Rasulullah.
“Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah,” jawabnya.
“Apa yang menjaidkan tubuhmu meleh?.” tanya Rasulullah.
“Tobatnya orang yang bertobat.” Jawabnya.
“Apa yang membuat hatimu panas?.” Tanya Rasulullah.
“Banyaknya itsighfar kepada Allah, baik di malam atau siang hari,” jawabnya.
“Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?.” Tanya Rasulullah.
“Sedekah secara rahasia.” Jawabnya.
“Apa yang menjadikan matmu buat?.” Tanya Rasulullah.
“Shalat di waktu sahur.” Jawabnya.
“apa yang dapat mengendalikan kepalamu?.” Tanya Rasulullah.
“Memeperbanyak shalat berjamaah.” Tuturnya.
“Siapakah orang yang paling bisa membahagiakanmu?.” Tanya Rasulullah.
“Orang yang sengaja meninggalkan shlat.” Tuturnya.
“Siapa orang yang paling celaka menurut engkau?.” Tanya Rasulullah.
“Orang yang kikir.” Jawabnya.
“Apa yang menyita pekerjaanmu?.” Tanya Rasulullah.
“Majelis orang-orang alim.” Jawabnya.
“Bagaimana cara engkau makan?.” Tanya Rasulullah.
“Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku.” Jawabnya.
“Di mana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu di waktu panas?.” Tanya Rasulullah.
“Di bawah kuku manusia.” Jawab iblis.
“Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu?.” Tanya Rasulullah.
“Sepuluh macam.” Jawabnya.
“Apa saja wahai makhluk yang terkutuk?.” Tanya Rasulullah.
Iblis pun menjawabnya : “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Tuhan mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah :
Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (Qs. Al-Isra’ : 64).
Setiap harta yang tiak diekluarkan zakatnya, maka saya ikt memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tiak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah :
Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki.” (Qs. Al-Isra’ : 64)
Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya psar menjadi masjidku. Saya memohon agar sya punya al-Qur’an, maka syair adalah al-Qur’anku. Saya memohon agar saya punya azan, maka terompet adalah panggilan azanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok al-Qadarriyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. ---- ia kemudian membaca firman Allah. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-Nya (Qs. Al-Isra’ : 27).
Rasulullah saw. berkata kepaanya : “Andaikan tidak setiap apa ang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu.”
Lalu iblis berkata lagi : “ahai Muhammad, saya memohon kepada Allah gara saya bisa melihat anak cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudain Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan ke mana pun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudain Allah berfiman kepada ku : “Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta.”. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak dariapda orang yang mengikutimu. Sebagian bessar anak cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat.
Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Atama (Isha’). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya anak yang saya beri nama utaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan di tengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilanpuluh sembilan dari seratus pahalanya. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya punya anak lagi yang bernama Kuyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkhutban. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tertidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikit pun untuk selamanya.
Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya : “Keluarkan tanganmu.” Akhirnya ia mengeluarkan tangannya. Kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.
Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimah syahadat. “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya.”. Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahi Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Tuhan. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (Hujjah) Tuhan tehadap makhluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oelh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.”
Kemudian rasulullah membacakan firman Allah :
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang  yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” (Qs. Hud : 118-9).
Kemudian beliau melanjutkan dengan firman Allah yang lain :
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Qs. Al-Ahzab : 38).
Lantas Rasulullah saw. berkata lagi kepada iblis, : “Wahai Abu Murrah (iblis) apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga.”
Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering  dengan apa yang terjadi sepeti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Mahasuci Tuhan Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan khatib para penduduk surga. Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya.”
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, awal dan akhir, dhahir dan batin. Dan semoga shalawat dan salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummiy dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.
Kota Sepanjang – Sidoarjo : 07-10-2013

T a m a t.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar