Pasal 26, UUD 45

(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Google+ Followers

Senin, 02 Desember 2013

Buku Induk Ilmu Tasawuf dalam - Risalatul Qusyairiyah - Bab Pertama.

SEJAK TAHUN 1046 MASEHI - RUJUKAN  TASAWUF SAMPAI SEKARANG


IMAM AL-QUSYAIRY AN-NAISABURY
“RISALATUL QUSYAIRIYAH”
(INDUK ILMU TASAWUF BAB : I)
            Penerbit : RISALAH GUSTI - SURABAYA         
Tahun : April 1997
Alih Bahasa : Mohammad Luqman Hakiem
Penyadur : Pujo Prayitno


MUKADIMAH
1.   GOLONGAN  SUFI
2.     PROBLEMATIKA  KITA
3.     MOTIVASI  PENULIS  RISALAH  INI
BAB I.
PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI

1.      MA’RIFATULLAH
2.      SIFAT-SIFAT
3.      I M A N
4.      R E Z E K I
5.      ARASY
6.      Allah Swt. YANG HAQ

MUKADIMAH

BismiLLahir RahmaanirRahiim.
Segala puji bagi Allah Yang Maha Tunggal dengan Keagungan Diraja-Nya, dan Maha Esa dengan Keindahan Kekuasaan-Nya, Perkasa dengan Keluhuran Ahadiyah-Nya, Maha Suci dengan Ketinggian Shamadiyah-Nya. Maha Besar dalam Dzat-Nya dari segala cakrawala setiap yang memandang-Nya, dan bersih dalam Sifat-sifat-Nya dari segala bentuk dan proyeksi.
Bagi-Nya, Segala Sifat-sifat yang khusus bagi Diri-Nya, dan ayat ayat yang terucap, bahwasanya sifat dan ucapan itu tidak sama dengan makhluk-Nya.
Maha Suci Allah Yang Perkasa. Tak ada batas untuk meraih-Nya, dan ayat-ayat yang terucap, bahwa sanya sifat dan ucapan itu tidak sama dengan makhluk-Nya.
Maha Suci Allah Yang Perkasa. Tak ada batas untuk meraih-Nya, tak ada bilangan untuk mengukur-Nya, tak ada jarak untuk membatasi-Nya, dan tak seorang pun memberi pertolongan pada-Nya, tak ada seorang anak yang memberi syafaat pada-Nya, tak ada bilangan untuk mengumpulkan-Nya, tak ada tempat untuk tinggal-Nya, tak ada waktu yang menemukan-Nya, tak ada kepahaman untuk mengukur-Nya dan tak ada khayalan untuk memproyeksikan-Nya.
Maha Luhur Allah untuk ditanyakan : Bagaimana Dia? Atau, di mana Dia? Atau ciptaan-Nya diupayakan oleh periasan, atau kreasi-Nya dipertaruhkan dari kekurangan dan keburukan. Sebab bagi-Nya, tak satu pun yang menyamai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Mahamengetahui. Dia tidak dikalahkan oelh kehidupan, dan Dia Maha Waspada lagi Maha Kuasa.
Saya memuji-Nya atas segala yang didelegasikan dan diciptakan. Dan saya bersyukur atas apa yang terangkum dalam genggaman dan tertolak, saya bertawakal kepada-Nya dan saya menerima, saya ridha terhadap apa yang telah diberikan dan apa yang tidak diberikan.
Saya berssaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dengan Keesaan-Nya. Tak ada sekutu bagi-Nya. Suatu kesaksian yang diyakini lewat tauhid kepada-Nya, dan berjalan melalui kebajikan Abadi-Nya.
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah hamba-Nya yang terpilih dan menjadi kepercayaan-Nya yang terpilih, menjadi Rasul-Nya yang diutus untuk seluruh ummmat manusia. Semoga, senantiasa Allah mencurahkan rakhmat-Nya kepadanya, dan kepada seluruh keluarganya yang menjadi lampu penerang tak kunjung padam. Begitu juga kepada para sahabatnya yang menjadi pintu-pintu pembuka hidayat. Semoga salam-Nya senantiasa tercurah, dalam yang berlipat ganda banyaknya.
Kitab ini ditulis oleh al-Faqih ila-Llah, Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi untuk para jamaah Sufi di negeri-negeri Islam, pada tahun 437 H. Yang bertepatan Tahun 1045 M.

1.  GOLONGAN  SUFI
Edit : Pujo Prayitno
Allah telh menjadikan golongan ini sebagai barisan kekasih-kekasih-Nya. Dan Dia telah mengutamakan mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya, setelah pra Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka. Allah menjadikan hati mereka sebagai sumber rahasia-Nya, dan memberikan keistimewaan di antara para ummat melalui kecemerlangan cahaya-Nya.
Mereka adalah para penolong bagi makhluk. Mereka memerankan tingkah lakunya bersama dan dengan Al-Haq. Allah menjaga mereka di tempat-tempat musyahadah, ketika ditempatkan hakikat-hakikat Ahadiyah-Nya pada mereka. Allah menolong mereka dalam menegakkan adab ubudiyah, dan Allah menempatkan secara nyata kepada mereka jalan-jalan hukum rububiyah.  Lalu mereka menegakkan sesuai dengan kewajiban dan tugas, dan mereka mewujudkan apa yang telah dianugerahkan Allah swt. melalui kreasi dengan segala kejujuran fakir dan sifat leburnya jiwa. Mereka sama sekali tidak mengandalkan apa yang telah dihasilkan itu, sebagai buah amalnya. Atau kejernihan ilmu yang lahir dari tingkah laku, sebagai ilmu mereka. Segalanya dari Keagungan dan Keluhuran Allah swt. Yang berbuat sesuai dengan kehendak-Nya, memilih siapa yang diinginkan-Nya, di antara para hamba. Dia tidak dihukumi oleh makhluk. Pahal-Nya merupakan awal dari fadhal, dan siksa-Nya merupakan hukum keadilan, sedangkan amar-Nya meruppakan qadha’.

2.     PROBLEMATIKA  KITA
Edit : Pujo Prayitno
Kemudian, ketahuilah, semua, bahwa ahli-ahli hakikat dari golongan Sufi ini, mayoritas telah tiada, yang tersisa hanya bekasnya, saja. Seperti dikatakan penyair :
Sedangkan kemah-kemah
Sungguh seperti kemah mereka
Aku melihat wanita-wanita yang hidup
Bukanlah wanita kemah itu
Yang terjadi adalah melemahnya tharikat tersebut, bahkan tergusur. Sementara para Syeikh yang membimbing mereka telah berlalu. Generasi muda sangat sedikit yang mengikuti petunjuk dan tradisi mereka. Sehingga hilanglah wara’i, cakrawalanya menjadi sempit, justru sikap tamak dan ikatannya yang menguat. Hati mereka semakin jauh dari citra syariat. Bahkan mereka menganggap remeh dan acuh tak acuh terhadap persoalan agama, sehingga mereka terhempas pada pandangan yang tidak memisahkan halal dan haram.
Selain menganggap enteng dalam melaksanakan ibadat, mereka juga meremehkan puasa dan shalat. Mereka terjerumus dalam medan kealpaan, menacapkan tonggak-tonggak syahwat, tanpa peduli menerjang larangan-larangan. Mereka bangga atas apa yang mereka peroleh dari rakyat, wanita-wanita dan orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Kemudian mereka membiarkan apa yang telah mereka langgar itu. Sehingga mereka mengisyaratkan pada hakiat-hakikat tertinggi dengan ihwalnya, lalu mengaku bahwa mereka telah bebas dan merdeka dari belenggu, mereka telah mewujudkan hakikat bertemu dengan Allah swt. (wasilah). Dan mereka merasa bahwa dirinya telah berdiri di atas kebenaran, dengan aturan-aturan hukum sendiri. Allah swt. tidak lagi memberi beban pada diri mereka. Hal-hal yang diutamakan atau dilarang-Nya, begitupun Allah tidak mencaci dan mengecam mereka. Mereka menyangka ketika dibukakan rahasia-rahasia Ahadiyah dan bertransenden kepada universalitas, maka segala aturan manusia bisa tidak berlaku. Mereke menganggap telah abadi setelah melampaui fana’nya melalui cahaya-cahaya Shamadiyah. Orang yang mempunyai pendapat berbeda dengan mereka, dianggap bukan sebanding atau setahap dengan mereka. Orang yang ingin mengganti pandangan merreka malah dianggap sebagai golongan yang harus disingkirkan di mata mereka.

3..     MOTIVASI  PENULIS  RISALAH  INI
Edit : Pujo Prayitno
Di saat cobaan panjang melanda kita dewasa ini – secara sepintas kita melihat kisah tersebut – saya sangat terdorong untuk membeberkan kemungkaran mereka dengan tharikat seperti itu, bahwa para pengikutnya telah berbuat keburukan, atau orang yang berbeda dengan mereka selalu di caci, bahkan suatu bencana di negeri ini menimpa orang-orang yang kontra dengan tharikat mereka, disamping mendapatkan ancaman dan siksaan.
Ketika saya renungkan secara mendalam atas bencana kelemahan ini, ingin rasanya membongkar dan mengikis habis pandangan mereka itu. Semoga Allah memberikan kedemaan melalui Maha Lembut-Nya dalam menggugah orang yang mengingkari sunnah yang luhur, yang telah menelantarkan etika tharikat yang hakiki.
Ketika waktu yang tersisa hanya dipenuhi dengan kesulitan, sementara generasi zaman di negeri ini telah terseret pada kebiasaannya, terbujuk oleh kemurtadannya, tiba-tiba hasrat saya menghentak dalam kalbu untuk meluruskan secara total dengan dasar-dasar yang perlu di bangun, dan kembali pada generasi Salafnya. Kemudian saya tuangkan Risalah ini pada Anda sekalian (Semoga Allah memberikan kemuliaan kepada Anda). Saya juga menguraikan sebagian perjalanan para syeikh tharikat ini, adab dan akhlak mereka, pekerjaan dan akidah dalam kalbunya. Serta isyarat-isyarat kerinduan mereka, metode dalam menapaki tahap-tahap dari awal hingga puncaknya, agar orang yang hendak menempuh (al-murid) tharikat ini memiliki kekuatan hati. Dan untuk saya, dari anda sekalian mengaharpkan adanya suatu koreksi, sebagai kesaksian. Tentu saja, keluhan ini merupakan hiburan bagi saya. Dan dari Allah Yang Maha Mulia kita mendapatkan fadhal dan pahala. Saya memohon pertolongan kepada Allah swt. terhadap apa yang saya tuturkan, dan saya senantiasa menyerahkan semuanya kepada-Nya. Saya memohon agar dijaga dari kekeliruan dalam Risalah ini, serta memohon ampunan dan pertolongan-Nya. Dia-lah Yang memberi fadhal secara layak, dan Kuasa terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya.
438 H. / 1046 M.
Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin al- Qusyairy

BAB I.
PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI

Edit : Pujo Prayitno
Ketahuilah, para syeikh golongan Sufi telah membangun kaidah-kaidah mereka di atas prinsip tauhid yang shalih. Mereka telah membuat kaidah ini jauh dari bid’ah, relevan dengan ajaran tauhid yang telah diwariskan oleh generasi Salaf dan Ahi Sunnah. Tak ada rekayasa atau penyimpangan di dalamnya. Mereka mengetahui yang menjadi Hak Allah, dan mereka telah membuktikan hal-hal yang menjadi predikat Wujud, dari segala yang tiada. Karena itu al-Junayd r.a. pemuka tharikat ini berkata : “Tauhid adalah menunggalkan Yang Maha Dahulu (qadim) dari yang datang kemudian (huduts).
Para Syeikh itu membangun aturan dasar tauhid dengan argumentasi yang jelas dan bukti yang layak. Sebagaimana dikatakan Ahmad bin Muhammad al-Jurairy r.a. “Siapa yang berpijak pada ilmu tauhid yang tidak didasari oleh pembuktian dari bukti argumentasinya, akan disirnakan oleh bujuk yang mendahului dalam hasrat kebinasaan.” Makasud Syeikh ini, barang siapa bertaklid dan tidak merenungkan dalil-dalil/bukti tauhid, ia gugur dari tradisi yang menyelamatkannya. Ia akan terjerumus dalam jurang kehancuran. Sementara orang yang mau merenungkan tulisan dan keunggulan kalimat-kalimat mereka; ia akan menemukan kumpulan ucapan dan rinciannya yang memberikan kekuatan kontemplatif; bahwa sanya kalangan mana pun tidak  bisa  membatasi diri lewat angan –angan dalam  pembuktian, dan  tidak memasuki tahapan pencarian secara menyimpang.

1.      MA’RIFATULLAH
Edit : Pujo Prayitno
Abu Bakr asy-Syibly berkata : “Allah adalah Yang Esa, yang dikenal sebelum ada batas dan huruf. Maha Suci Allah, tidak ada batasan bagi Dzat-Nya, dan tidak ada huruf bagi Kalam-Nya.”
Ruwaym bin Ahmad ditanya mengenai fardhu pertama, yang difardhukan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Ia berkata : “Ma’rifat.” Karena firman Allah swt. : “Aku tidak menciptakan jin manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariyaat : 56).
Ibnu Abbas’ menafsiri Illa liya’buduun dimaksudkan adalah Illa liya’rifuuun (kecuali untuk ma’rifat kepada-Ku).
                     Al-Junayd berkata : “Haat hikmah pertama yang dibutuhkan oleh hamba adalah Ma’rifat makhluk terhadap Khalik, mengenal Sifat-sifat Pencipta dan yang tercita bagSang makhluk merasa hina ketika dipanggil-Nya dan mengakui kewajiban taat kepada-Nya. Barangsiapa tidak mengenal Rajanya, maka ia tidak mengakui terhadap raja, kepada siapa kewajiban-kewajiban harus diberikan.
Abu Thayib –Maraghy berkata : “Akal mempunyai bukti, hikmah mempunyai isyarat, dan Ma’rifat mempunyai Syahadat. Akal menunjukkan, hikmah mengisyaratkan, dan ma’rifat menyaksikan; bahwa sanya kejernihan ibadat tidak akan tercapai kecuali melalui kejernihan tauhid.”
Al-Junayd ditanya soal tauhid, jawabnya : “Menunggalkan Yang Maha Tunggal dengan mewujudkan Wahdaniyah-Nya lewat keparipurnaan Ahadiyah-Nya. Bahwa Dia-lah Yang Esa yang tiada beranak dan tidak diperanakkan. Dengan kontra terhadap antagoni, keraguan dan keserupaan tanpa upaya menyerupakan dan bertanya bagimana, tanpa proyeksi dan pemisalan; tidak ada sesuatu pun yang menyami-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Abu Bakr az-Zahir Abady ditanya tentang Ma’rifat. Jawabnya : “Ma’rifat adalah nama. Artinya, wujud pengagungan dalam kalbu yang mencegah dirimu dari penyimpanngan dan penyerupaan.”

2.      SIFAT-SIFAT
Edit : Pujo Prayitno
Abul Hasan al-Busyanjy ra. Berkata : “Tauhid berarti tahu bahwa Allah swt. tidak serupa dengan makhluk dan tidak kontra pada Sifat-sifat.”
Ah-huasin bin Mansur al-Hallaj menegaskan, “Al-Qidam” hanyalah bagi-Nya. Segala yang fisikal adalah Penampilan-Nya, yang tampak bendawi menetapkan-Nya, yang piranti mengintegrasikan-Nya, kekuatannya berada di genggaman-Nya. Hal-hal yang tersusun waktu, waktulah yang memisahkannya, dan yang ditegakkan oleh selain-Nya, maka bencanalah yang menyentuhnya. Hal-hal yang terbuat oleh khayal, maka proyeksi menaikkan tahapan kepada-Nya. Siapa yang berbicara soal tempat, maka akan berjumpa dengan kata di mana. Sungguh Maha Suci Allah swt. Dia tidak dilindungi oleh sesuatu di atas, dan tidak pula dikecilkan oleh yang di bawah. Dia tidak menerima batas dan tidak dicampuri keseluruhan. Dia tidak ditemui oleh yang ada, juga tidak dihilangkan oleh tiada. Sifat-Nya tidak memliki sifat, pekerjaan-Nya tidak memili cacat. Adanya tak terjangkau. Suci dari ihwal makhluk-Nya. Bahkan makhluk tidak mencampuri-Nya dan dalam pekerjaan-Nya tak ada yang memasuki-Nya. Dia menjelaskan kepada makhluk melalui Qidam-Nya, sebagaimana makhluk itu mengenal penjelasan-Nya melalui kejadian baru (hudus)-Nya.”

Huruf adalah ayat-Nya. Wujud adalah ketetapan-Nya. Ma’rifat adalah tauhid-Nya, dan tauhidnya adalah perbedaan-Nya dengan makhluk-Nya. Segala yang tergambar oleh khayal, selalu berbeda dengan-Nya. Bagaimana bisa, Dia menempati sesuatu, yang dari-Nya sesuatu itu bermula? Atau dia kembali pada sesuatu, padahal Dia-lah yang memunculkaNya ? Dia tidak bisa dibandingkan dengan dugaan, kedekatan-Nya adalah karamah-Nya, ketinggian-Nya adalah sesuatu yang tidak berukuran ketinggain, kedatangan-Nya tanpa berpindah, Dia-lah yang Awal dan yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Batin, Yang Dekat dan Yang Jauh, Yang tidada sesuatu pun menyamai-Nya, Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Yusuf bin al Husain berkata : “Ada seseorang berdiri di antara dua sisi Dzun Nuun al-Mishsry, orang itu bertanya, “Berilah aku kabar tentang Tauhid, apa sebenarnya tauhid itu? Dzun Nuun menjawab : “Tauhid berarti Anda tahu bahwa Kekuasaan Allah swt. terhadap segala hal tanpa campur tangan, ciptaan-Nya terhadap makhluk tanpa perlu masukan, dari seab langsung bagi segala sesuatu adalah ciptaan-Nya, dan tidak ada sebab langsung bagi ciptaan-Nya. Seluruh langit tertinggi dan bumi terendah tak ada yang mengaturnya kecuali Allah swt. Segala bentuk yang terproyeksi dalam khayal Anda, maka Allah justru berbeda dengannya.”
Al-Junayd mengatakan : “Tauhid adalah ilmu Anda, dan ikrar Anda behwa sesungguhnya Allah swt, adalah Tunggal dalam Azali-Nya, tak ada dua-Nya, dan tak sesuatu pun yang mengerjakan pekerjaan-Nya.”

3.      I M A N
Edit : Pujo Prayitno
Abu Abdullah bin Khafifi berkata : :Iman berarti penetapan kalbu terhadap apa yang telah dijelaskan oleh Al-Haq mengenai hal-hal yang gaib.”
Abul AbSayyary berkata : “Pemberian Allah itu ada dua macam : Karamah da istidraj. Segala hal yang menerap abadi dalam dirimu adalah karamah, dan segala yang sirna dari dirimu adalah istidraj. Maka katakan saja , “Aku beriman, insya Allah’!.”
Sahl bin Abdullah at-Tustary menandaskan : “Orang-orang yang beriman melihat Allah swt, dengan mata hati, tanpa pangkal batasan dan kawasan.
Abul Husain an-Nury berkata : “Kalbu adalah tempat penyaksian al-Haq. Kami tidak pernah melihat Kalbu yang lebih rindu kepada-Nya, dibandingkan Kalbu Muhammad saw. Lalu Allah swt. memuliakannya lewat Mi’raj, sebagai pendahuluan terhadap penglihatan kepada Allah swt, dan penyempurnaan.”
Abu Utsman al-Maghriby berkata : “Aku meyakini sesuatu seputar arah. Ketika aku datang ke Baghdad, hilanglah semua itu dari kalbuku. Lantas aku menulis surat kepada sahabatku di Mekkah, “Aku sekarang masuk Islam, dengan Islam yang baru (sebenarnya).”
Abu Utsman ditanya soal mekhluk. Jawabnya : “Cetakan dan bayangan, yang berjalan di atasnya hukum-hukum Kekuasan Ilahi.”
Al-Wasithy berkata : “Ketika arwah dan jasad tegak dengan seijin Allah, dan keduanya pun tampak dengan ijin-Nya, maka keduanya pun tegak tidak dengan zatnya. Begitu juga hasrat-hasrat dan gerak, berdiri tegak, tidak dengan zatnya, seijin Allah. Sebab gerakan-gerakan dan hasrat itu merupakan cabang bagi jasad dan arwah.

4. R E Z E K I
Edit : Pujo Prayitno
Al-Wasithy ditanya soal kufur bagi dan kepda Allah. Jawabnya : “Kufur dan iman, dunia dan akhirat, dari Allah kepada Allah, bersama Allah dan bagi Allah. Dari Allah sebagai permulaan dan awal pemunculan, dan kepada Allah sebagi tempat kembali dan pangkalnya, bersama Allah baqa’ dan fana’, dan bagi Allah kerajaan dan ciptaan.
Dikaakan oleh al-Junayd, bahwa sebagaian ulama bertanya soal tauhid. Kemudian dijawab oleh al-Junayd : “Tauhid adalah keyakinan.” “Jelaskan padaku apa tauhid itu? Demikian kata si penanya. “Tauhid adalah ma’rifat Anda, bahwa segala gerak makhluk dan diamnya merupakan pekerjaan Allah swt, Dia Maha Esa tidak berkawan. Apabila ada sudah berpadangan demikian, Anda telah menauhidkan-Nya.” Jawab Junayd.
Seseorang datang kepada Dzun Nuun minta didoakan : “Doakan aku!.” Kata orang tersebut. “Kalau anda benar-benar mantap dalam ilmu gaib melalui kebenaran tauhid, maka doa pasti dikabulkan. Jika tidak demikian sesuatu doa tidak mungkin bisa menyelamatkan orang tenggelam.” Jawab Dzun Nuun.
Abul Husain an-Nury berkata : “Tauhid adalah segala bisikan yang mengisyaraktkan kepada Allah, bahwa dia bebas dari campur tangan unsur keserupaan.” Sedangkan Abu Ali ar-Ridzbary ketika ditanya soal tauhid, menjelaskan : “Tauhid adalah istiqamah kalbu dengan penetapan terhadap suatu pemisahan pada penyimpangan dan pengingkaran terhadap keserupaan. Tauhid melebur dalam satu kalimat, yaitu : Setiap yang tergambar oleh khayal dan pikiran, maka Allah swt pasti berbeda dengan khayalan dan pikiran itu.” Karena firman Allah swt. “
Tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy-Syuura : 11).
Abul Qasim an-nahr Abadzy berkata : “Surga abadi dengan keabadian yang diabadikan-Nya, ingatan-Nya keapdamu, rahmat dan mahabbah-Nya kepadamu, abadi dengan keabadian-Nya, dua hal yang berbeda, sesuatu yang abadi karena abadi-Nya, dan sesuatu yang abadi karena diabadikan oleh-Nya.
Ahlul Haq berkata : “Sifat-sifat Dzat Yang Qadim abadi karena badi-Nya, berbeda dengan ucapan oleh mereka yang bukan ahlul Haq.
Nashr Abadzy menandaskan : “Anda bersimpang siur antara sifat-sifat (fi’l) dengan sifat-sifat Dzat. Keduanya adalah sifat Allah swt. secara esensial. Apa bila Anda terpancang pada tahap pisah (tafriqah), maka Anda diintegrasi oleh sifat fi’l. Jika Anda sampai apda tahap al-ja’u Anda akan terintegrasi oleh sifat-sifat Dzat-Nya.
Sang Syeikh. Imam Bau Ishaq al-Isfirayainy r.a. mengatakan : “Ketika aku datang dari Baghdad. Aku belajar di masjid Naisabur  perihal ruh. Aku menjelaskan secara gamblang bahwa ruh adalah makhluk. Sementara Abul Qasim Abadzy duduk berjauhan dengan kamimendengarkan pembicaraanku. Hingga berlalu beberapa hari, kemudian ia mengatakan kepada Muhammad al-Farra’, ‘Aku bersaksi sesungguhnya kau seorang Muslim baru di tangan laki-laki ini,’ katanya sambil menunjuk ke arahku.”
Dikisahkan tentang Yahya bin Mu’adz, bahwa seseorang telah berkata kepadanya : “Tolong beritahu aku mengenai Allah swt?” Yahya menjawab : “Tuhan Yang Esa”. Lalu dikatakan kepada Yahya : “Bagaimana Dia?” “Dia Raja Yang Maha Kuasa”. Jawab Yahya. Orang itu kembali beretanya : “Di mana Dia?” “Dia benar-benar mengawai.” Jawabnya. “Aku tidak bertanya tentang ini.” Tandas si penanya. Maka Yahya menjawab : “Tidak ada lagi selain itu.”
Ibnu Syahin bertanya pada al-Junayd tentang makna : ma’a. Junayd menjawab, bahwa ma’a mengandung dua makna : ma’al an-biyaa’ (beserta para Nabi), mengandung arti pertolongan dan penjagaan. Sebagaimana firman Allah swt. :
Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Qs.Thaaha :46).
Dan makna ma’a secara umum sebagai predikat ilmu dan liputan. Allah swt. berfirman :
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempat.” (Qs. Al-Mujaadilah : &).
Ibnu Syahin berkomentar : “Orang seperti Anda benar-benar layak untuk menyampaikan petunjuk kepada ummat, mengenai Allah swt.”

5. ARASY
Edit : Pujo Prayitno
Dzun Nuun ditanya mengenai firman Allah swt.
Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayan di atas Arasy.” (Qs.Thaha : 5)
Jawabnya : “Yang Maha Pemurah tidak akan sirna, san Arasy itu dicipta (baru). Sedangkan Arasy terhadap yang Maha Pemurah (ar-Rahmaan) menjadi semayam (-Nya).”
Ja’far bin Nashr ditanya soal ayat tersebut. “Ilmu-Nya bersemayam terhadap segala sesuatu. Dan sesuatu tidak ada yang lebih dekat kepada-Nya dari sesuatu yang lain.”
Ja’far ash-Shadiq berkata : “Barangsiapa berpandangan bahwa Allah swt. ada di dalam sesuatu, atau di atas sesuatu, maka orang itu benar-benar musyrik. Sebab apabila ada di dalam sesuatu, Allah pasti terbatas. Jika dari sesuatu, Allah pasti baru. Dan jika di atas sesuatu, maka Allah mengandung sesuatu.”
Ja’far ash-Shadiq menafsiri Kalamullah : “Kemudian Dia mendekat, lalu tambah mendekat lagi.” (Qs. An-Najm : 8), bahwa :Barangsiapa mengira bahwa dengan sendirinya ia bisa mendekat, maka ia menciptakan jarak di sana. Padahal mendekat yang dimaksud dalam ayat tersebut, selama ia mendekat kepada-Nya, ia merasa jauh dari segala ma’rifat. Karena tidak ada dekat dan tidak ada jauh.”
Al-Kharraz berkata : “Hakikat mendengar adalah hilangnya sentuhan sesuatu dari kalbu dan penenangan rasa menuju kepada Allah swt.”
Ibrahim al-Khawwas menegaskan : “Suatu ketika secara tidak sengaja aku mendapati seorang lai-laki yang direkadaya setan, sehingga aku harus mengumandang adzan ke telinganya. Tiba-tiba terdengar setan memanggilku dari lubang telinganya. “Biarkan ia, aku akan membunuhnya, karena ia berkata : Al-Qur’an adalah makhluk.”
Ibnu Atha’ (Washil bin Atha’ al-Mu’tazily) berkata : “Sesungguhnya Allah swt. ketika menciptakan huruf-huruf. Dia membuat rahasia bagi-Nya. Ketika Allah mencipta Adam as. Diuraikan-Nya rahasia itu, dan rahasia itu tidak tersebar di kalangan Malaikat-Nya satu pun. Kemudian hruf-huruf itu meluncur dari lisan Adam as. Melalui struktur yang berlaku dan struktur bahasa. Kemudian Allah menjadikan bentuk pada huruf tersebut.”
Ibnu Atha’ menjelaskan bahwa huruf-huruf tersebut adalah makhluk. Menurut Sahl bin Abdullah, huruf sebenarnya merupakan ucapan perbuatan, bukan ucapan substansi (dzat). Sebab huruf tersebut merupakan perbuatan dalam obyek yang diperbuat.
Al-Junayd menegaskan soal dua masalah urgen : “Tawakal adalah perbuatan kalbu, dan tauhid merupakan ucapan kalbu.”
Al-Husain bin Mansur berkata : “Siapa yang mengenal hakikat dalam tauhid, maka gugurlah pertanyaan : Mengapa dan bagaimana.”
Al-Wasithy menegaskan bahwa, tidak ada yang lebih mulia dari makhluk Allah ketimbang ruh.”

6. Allah Swt. YANG HAQ
Edit : Pujo Prayitno
Para Syeikh dari tharikat ini mengatakan soal tauhid. Sesungguhnya Al-Haq adalah Maujud, Qadim, Esa, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Kasih, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Maha Agung, Maha Luhur,Maha Bicara, Maha Melihat, Maha Besar, Maha Hidup, Maha Tinggi, Maha Abadi dan selagalanya bergantung kepada-Nya.
Allah Maha Mengetahui dengan sifat Ilmu, Maha Kuasa dengan sifat Qudrat, Maha Menghendaki dengan sifat Iradat, Maha Mendengar dengan sifat Sama’, Maha Melihat dengan sifat Bashar, Maha Bicara dengan Kalam, dan Maha Hidup dengan Hayat, serta Maha Abadi dengan Baqa’
Allah mempunyai Dua Hasta kekuasaan (Dua Yad) yang merupkan sifat-sifat yang dengannya menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Maha Suci Allah dari segala keharusan menentukan, dan hanya bagi-Nya wajah yang bagus.
Sifat-sifat Dzat-Nya hanya khusus bagi Dzat-Nya, tidak bisa dikatakan bahwa sifat tersebut adalah Dia, dan bukan pula sifat-sifat tersebut sebagai bujukan bagi-Nya. Tetapi adalah sifat-Nya Yang Azali dan Abadi.
Allah adalah Tunggal Dzat-Nya. Yang tidak disamai oleh segala ciptaan, dan tidak diserupai oleh semua makhluk.
Allah bukan jasad, materi, benda dan bukan sifat baru, tidak tergambar oleh khayal, tak terjangkau akal, tidak berpenjuru dan bertempat. Tiada waktu dan zaman yang berlaku bagi-Nya. Dan tidak ada penambahan dan pengurangan bagi sifat-sifat-Nya.
Allah tidak dikhususkan oleh bentuk, tidak dipotong oleh pangkal dan batas, tidak ditempati yang baru, tidak didorong ketika berbuat. Tiada warna dan tempat bagi-Nya, dan tidak ada pula pertolongan untuk menolong-Nya.
Dari kekuasaan-Nya tidak muncul yang terkira, dan dari hukum-Nya tidak diragukan oleh penyimpangan. Dari Ilmu-Nya tidak tersembunyi oleh yang diketahui-Nya. Dan Dia tidak dicaci atas pekerjaan-Nya, bagaimana dia mencipta dan apa yang dicipta. Tidak bisa dikatakan kepada-Nya : Di mana Dia, dan bagaimana Dia? Dan wujud pun tidak akan berupaya membuka-Nya, sehingga muncul kata-kata Kapan ada? Keabadian-Nya tidak ada pangkalnya, sehingga didkatakan : “Melampaui kekinina dan zaman.” Tetapi Allah tidak bisa dikatakan : “Mengapa Dia berbuat terhadap sesuatu ?” Kenapa, tidak ada sebab langsung terhadap pekerjaan-Nya.”
Allah juga tidak bisa dipertanyakan : Apakah Dia? Karen Allah bukanlah jenis yang ditandai oleh sejumlah tanda bentuknya. Dia melihat bukan dengan cara berhadapan. Dan Dia melihat kepada selain Diri-Nya, bukan dengan penyerupaan. Dia mencipta, tidak dengan langsung dan mencoba-coba.
Dia memiliki Asmaul Husnah dan Sifat-sifat Luhur. Dia melakukan  sesuai dengan kehendak-Nya, dan memberi kehinaan kepada hamba-Nya lewat hukum-Nya. Dalam kerajaan-Nya tidak ada yang berjalan kecuali atas kehendak-Nya, dan tidak terjadi dalam kerajaan-Nya melainkan yang telah didahului Qadga’. Apa yang diketaui dari ciptaan-Nya, maka hal itu dikehendaki-Nya. Dan apa yang diketahui sebagai sesuatu yang tidak terjadi dari apa yang wenang. Dia berkehndak untuk tidak terjadi.
Allah adalah Pencipta rezeki hamba-hamba-Nya, kebaikan dan keburukan rezeki itu. Allah pula yang menciptakan alam dari materi dan submateri. Allah yang mengutus utusan untuk para ummat bukan sebagai kewajiban bagi-Nya. Allah sebagai Dzat Yang disembah manusia melalui lisan Para Nabi as, tidak seorang pun berpeluang untuk mencaci dan mentang-Nya. Dan Nabi kita Muhammad saw. ditetapkan melalui mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang cemerlang, yang tidak memberi keuzuran, dan memberi penjelasan meyakinkan serta mengenalkan mana yang mungkar. Khulafaur Rasyidin yang menjaga kemilaunya Islam setelah wafat Nabi saw. selanjutnya dijaga oleh generasi yang memagari kebenaran dan penolongnya yang menjelaskan lewat hujjah agama melalui lisan para Auliya-Nya. Umat Nabi saw. terjaga dari kesesatan ketika melakukan “IJMA”. Dan rekayasa kebatilan sirna melaui dalil-dalil yang ditegakkan. Semuanya dilakukan oleh para pejuang agama, karerna firman Allah swt :
Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci.” (Qs. As-Shaff : ().

Sepanjag, Sidoarjo : 30 Nopember 2013.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar