Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Google+ Followers

Kamis, 16 Januari 2014

Terjemahan Bebas dan Naskah Asli Serat Darma Gandul Macapat Jikid I

Sabdapalon Nayagenggong dan Darmagandul  tokoh fiktif dalam sastra Jawa
Paling terkenal dan paling fenomenal.Pertarungan Madzab di Tanah Jawa penyebab kehancuran Kerajaan Islam.
Kerajaan Demak yang Bermadzab yang sama denga Wali Sanga; Kemudian di hancurkan Oleh Jaka Tingkir Pendiri Kerajaan Panjang yang bermadzab yang sama Denga Siti Jenar. Dalam setiap kisah penghancuran Kerajaan yang ber-begron Agama, karena beda keyakinan;  sehingga Bangunan fisik dan Buku ajarannya pun dihancurkan tanpa bekas. Sehingga Bekas Kerajaan demak dan Kerajaan Panjang yang hancur pula, pun mengalami nasib yang sama. Hancur Lebur Tanpa Jejak.  Pertarungannya  pun tidak berhenti pada masalah Politik Negara. Dalam Karya Sastra pun, terjadi pergumulan sengit, seperti Karya Sastra di bawah ini. Saya Pribadi, tidak bermaksud untuk memihak yang sana atau pun yang sini. Karena saya, berkeyakinan Bahwa HANYA DIA. YANG MAHA BENAR. Soal Madzab, itu hanya Warna Dunia. Karya sastra semacam ini di Tanah Jawa; di isi mantra yang sangat kuat oleh Penggubahnya, walaupun Negara pernah mebredelnya. tidak bisa hilang 100 %.. Itulah ketinggian ilmu para Pujangga Jawa di masa lalu, yang bisa digunakan sebagai cermin bagi GENERASI SELANJUTNYA.

Buku yang sangat di benci oleh kalangan  TERTENTU
Walau pembuka cerita di Tembang No. 12..
Di awali dengan kalimat Basmalah ...
Tapi bahasa Sastra Jawa ..
Penuh makna di balik kata ...
Jika bisa menjaring ILMU dibalik Sastra..
Jika bisa mengurai cahaya di balik kata
Masukilah kandungan sastra ini..
Jika tidak .. jangan coba-coba..!!!!
Akan tersesat.. oleh bahasa Sastra JAWA.
Darmagandul; bukan sastra sembarang sastra..
jika salah cerna – sesat yang didapat.
HATI HATILAH!! MENELAAH KARYA SASTRA. JAWA
INGAT .. INI karya Sastra --- bukan sejarah.. sebatas menambah wawasan..
“Aja mung Ngaji Syariat bloko – jangan cuma Mengaji Syariat apa adanya”
“Pujo Prayitno / Pen Sanjaya”
TERJEMAHAN BEBAS DAN NASKAH ASLI DARMAGANDUL
JILID I
Penerbit : “Keluarga  Soebarno” – Solo
Tanpa – Tahun.
Penyadur  dan penterjemah: Pujo Prayitno
 Edit Pujo Prayitno
KINANTI / XIV : 5
Agama Jawa tumurun // agamane buda budi // iku AGAMA MA’RIFAT //
MAJAPAHIT ---- KERAJAAN BERAGAMA HINDU
Masyarakat Jawa.. sepanjang sejarah -- tidak pernah mempermasalahkan AGAMA
Yang bisa menjadi masalah -- Jika Sikap dan Cara yang dipergunakan
Berlawanan dengan adat dan Sopan santun budaya jawa... 


DAFTAR ISI

1.     Dhandhanggula (Raden Patah diangkat Bupati Demak oleh Prabu Brawijaya dan Perjalanan Sunan Benang ke Kediri)
2.     Asmaradana (Debat Ilmu antara Butalocaya dengan Sunan Benang)
3.     Dhandhanggula (Permusyawatan Para Wali menyusun rencana menyerang Majapait)
4.     Pangkur (Kisah Penghancuran Majapahit oleh pasukan Demak dan Sultan Demak mendapat amarah Nyi Ageng Ngampelgading ).
5.     Sinom (Nasihat dan kemarahan Nyi Ageng Ngampelgading kepada Sultan Demak, dengan memberi contoh cerita masa lalu akibat dari perbuatan anak melawan orang tuanya sendiri).
6.     Dhandhanggula ( Dalam hati Sunan Benang membenarkan Nasihat Nyi Ageng Ngampelgading // Namun dalam Tata lahir  Sunan benang memberi nasihat Kepada Sultan Demak tentang kebenaran langkah yang diambil, sehingga Sultan demak kebingungan. Yang akhirnya memilih saran dan nasihat Sunan Benang gurunya;  untuk terus menjadi Raja Di Tanah Jawa ).
7.     Sinom (Raden Sahit duta sultan demak berhasil menemukan Raja Brawijaya yang lolos saat pengahancuran Majapahit di Blambangan (Banyuwangi).  Prabu Brawijaya punya rencana akan menyebrang ke Bali untuk menyusun kekuatan guna menyerang Demak dengan cara akan mengumpulkan kekuatan dari Kerajaan kecil mulai Bali ke timur; Kalimatan dan Sumatra. Rencana tersebut akhirnya bisa di gagalkan oleh Sunan Kalijaga; bahkan Sunan Kalijaga berhasil meng-Islamkan Prabu Brawijaya.
8.     Pangkur (Prabu Prabiwijaya mengajak kedua abdinya Sabdopalon – Nayagenggong untuk bersama-sama Masuk Islam. Akan tetapi kedua abdinya tidak mau dan terjadilah perdebatan ilmu (masuk wilayah bahasa Sufi Jawa ) antara Prabu Brawijaya dan abdinya). (Memasuki Ilmu Hakikat).
9.     Durma (Nasihat Sabdo Palon kepada Prabu Brawijaya).
10.  Pangkur (Kisah perpisahan antara Sabda palon dengan Prabu Brawijaya. Kisah asal mula Nama Banyu wangi. Kisah perjalanan Prabu Brawijaya bersama  Sunan Kali  dan kisah berubahnya air yang berbau wangi menjadi banger setelah empat hari ).
11.  Hasmaradana (Kisah meninggalnya Prabu Brawijaya, serta wasiatnya kepada Sunan Kali).
12.  Dhandhanggula (Membuka Rahasia (Tafsir) di balik cerita yang termuat di dalam Serat Babat tentang Hancurnya Majapahit)
13.  Mijil (Sunan Kali menjaga agar cerita leluhur Jawa tidak punah. Beliau mencipta wayang. Kisah perjalanan Sayid Anwar Cucu nabi Adam ke Tanah Jawa dan diambil menantu raja Jin Tanah Jawa serta Menjadi Raja.
14.  Kinanthi (Yang dimaksud Agama Buda Budi adalah agama di Tingkat Ma’rifat).
15.  Megatruh (Perbedaan jenis huruf  di dunia).
16.  Pucung (Nasihat Kalamwadi kepada Isterinya, tentang sikap seorang istri kepada suaminya)
17.  Asmaradana (Nasihat Kalamwadi kepada Isterinya, tentang, pedoman kebahagian dalam berumah tangga).
18.  Kinanti  (Kalam wadi menjelsakan lokasi tempat peninggan Prabu Jayabaya Raja Kediri).
Yang bisa saya simpulkan dari Karya Sastra ini, Walau berbegron Agama dalam menghancuran Kerajaan di Tanah Jawa; jika menggunakan cara yang licik; Tuhan pun akan menghukumnya. Kerajaan yang mengunakan Syariat Islam untuk mengatur pemerintahan dan ketika Hukum Syariat ditegakkan hanya sebatas untuk urusan Politik Negara, saja maka;  umurnya pun gak akan lama. Demak; Pajang; Mataram, kemudian di Jajah Belanda sehingga Mataram pecah jadi dua (Solo – Yogya). Itulah ujud PERINGATAN TUHAN.

Soal Agama di Tanah Jawa. Tidak pernah ada larangan dan tidak pernah terjadi perang hanya karena Beda Agama.. TIDAK ADA seorang rajapun yang membatasi AGAMA.
Jika Sabdapalon Nayagenggong dianggap menyalahkan suatu Agama... .. Sedangkan dalam kisah.. mereka adalah yang Mengasuh Semua Raja di Tanah Jawa, dimana raja tidak pernah melarang Agama apapun berkembang di Tanah Jawa; Dan Sabdapalon mengatakan Agama Buda Budi – Sedang pada Jaman Majapahit rajanya beragama HINDU –

DIMANAKAH LETAK KESALAHANNYA.. Apakah Sabdapalon yang salah ataukah : .......???????????/????? !!!!!!! (Hati-hati – kata di balik sastra Jawa).

i.    DHANDHANGGULA

Orang jaman dahulu // jika membaca Serat ini // sambil dilagukan seperti youtube : http://www.youtube.com/watch?v=DIldUahQd2k
Edit : Pujo Prayitno
1.
Kedandangan wedaring mamanis // Labet saking wus manjing sarira // Suka-suka karemene // Barubah temahipun // nawung wingit ing saben wanci // hing ngungkih panalangsa // napak Darma Gandul //  jumanane lumuntura // sahistane sinaroja hawit dening // labaning Suksma nasa.
2.
Naham mangkya bubukaning kawi // maha dibya ingkang halul tapa // Kalamwadi jejuluke // kang dadya garwanipun //  Arum – Marum Dyah Perjiwati // asrameng sonya pringga // sajuga ri nudju // sang wiku neng pacrabakan // ingkang ngadep siswa sawiji kang Mursit // putus sakeng guna.

Inilah sebagai pembuka ilmu // ada seorang yang sangat sakti ahli bertapa // Yang bernama Kalamwadi// mempunyai isteri yang bernama / Arum-Marum Dyah Perjiwati // bertempat tinggal di Sonyapringga // pada suatu hari // Sang pertapa sedang duduk di ruang pertemuan // yang menghadapnya adalah satu-satunya murid yang sangat cerdas // dan menguasai berbagai keahlian.
3.
Darmagandul pepabarabireki // nala wingit limpat  grahitanya // lan sang dwija meh tan pae // marma kasok sihipun // wus prasasat joga pribadi // rinten ratri datan sah // neng ngarsa sang wiku // samana sang siswa tama // lagya ana kang dadya ribenging galih // lon matur mring sang tapa.

Darmagandul itu namanya // berotak cerdas ahli nalar // dengan Sang pertapa hampir tidak pernah terpisah // hingga turtumpahlah kasih sayangnya kepadanya // dikisahkan pada saat itu sang siswa // sedang memikirkan sesuatu // dan menyampaikan yang dipikirnya dengan lembut kepada Sang Pertapa gurunya,
4.
Duh sang dwija kang jwanjana murti // ingkang mugi linepatna duka // kawula nyuwun pitaken // kang dadya purwanipun // tiyang Jawi santun Agami // nilar Agami Buda // ngrasuk Sarak Rasul // punika sebab punapa // kados pundi bubukane nguni-uni// sang wiku rum ngandika.

Wahai sang tapa yang mumpuni // semoga hamba dijauhkan dari amarah sang Tapa // Hamba mohon bertanya //  apa yang menjdi penyebab // Bangsa Jawa berganti aturan hukum // meninggalkan aturan hukum Budi (Agama Hakikat) // memilih hukum Syariat // itu apa sebabnya // bagai manakah awal mula ceritanya // Sang Tapa pelan berkata .
5.
Lamun sira takon ing bab iki // ingsun datan wruh sawiji apa // amung yen manut tuture // radyan budi guruku // embuh bener lan embuh sisip // nanging panduganingwang// bener nora luput // krana cocog wujudira// tilasane isih kena den tingali // nanging sun kira nyata.

Jika engkau bertanya tentang hal itu // Aku tidak mengetahuinya // namun jika menurut perkataan dari // Sang Budi guru dalam diriku // entah benar entah salah // akan tetapi menurut perasaanku // benar dan tidak salah // karena cocok dengan keadaan // peninggalan masa lalu yang masih bisa dilihat // dan menurutku demikianlah adanya.
6.
Nanging ingsun wedi macak tulis // luput-luput tumbal umuringwang // awit wong jawa lumrahe // lamun ana kang purun // anarbuka wadining Hadji // wus pasti pinejahan // marma sun tan ayun // tutur critane kang nyata // purwanira wong jawa salin agami // miyak wadining Nata.

Namun Aku takut merangkai tulisan untuk menjelaskannya // salah-salah menjadi tumbal umurku // sebab orang jawa pada umumnya // jika ada yang berani // membuka rahasia Raja // pasti dihukum mati // oleh karena itu aku tidak berani // menyampaikan cerita yang sesungguhnya // tentang penyebab mengapa orang jawa berganti Hukum yang dianutnya //  sebab akan membuka rahasia raja.
7.
Darmagandul aturira aris // inggih leres duk jamaning kuna // praja gung jawi lumrahe // kang dados daharipun // woh wit budi kalawan kuldi // ing mangke karsa dahar // woh wit kajeng kawruh // kagungan panggalih panjang // jekti ngowel mring ngumurira wadya lit // kang lepat sawatara.

Darmagandul berkata dengan sopan // memang benar bahwa pada jaman dahulu // Kerajaan besar di Jawa pada umumnya // yang menjadi panutan dalam menjalankan roda pemerintahan adalah // buah dari budi dan kuldi // Sedangkan jaman sekarang yang menjadi pedoman adalah // buah dari ilmu // dan mempunyai panjang angan // sehingga  pendeklah umurnya sehingga rakyat kecil // yang sementara salah.
8.
Malah dadya penget kang prayogi // ngawikani kang leres lan lepat // wikan misil kupiyane // sang dwija alon wuwus // yen mengkana yogya sun Hanggit // nanging amung sadarma // nganggit tulis wuwus // Dyan Budi kang darbe karsa //  bener luput yektine amung sadarmi // yen ora sun tulisa.

Itu justru dijadikan nasehat  yang baik // sehingga bisa digunakan untuk mengetahui yang benar dan salah // dan mengetahui ibarat itu semua // Sang Tapa pelan berkata // jika demikian segera saya buat cerita // namun hanya sekedarnya saja // dengan membuat tulisan kata // dan Budi-lah yang menginginkannya // benar dan salahnya sesungguhnya hanya sekedarnya saja// jika tidak saya tulis.
9.
Nora wurug ingsun den dukani // wit kang prentah iku kaelingan // lan iya akeh asile // supaya wong kang cubluk // wong jawa salin agama // pada ninggal agamane buda budi // ganti Agama Islam.

Akhirnya saya akan dimarahi // karena yang memerintah saya adalah kesadaran // dan juga akan banyak hasilnya // agar orang yang bodoh // mengetahui mengapa orang Jawa sekarang berganti Aturan hukumnya // meninggalkan aturan hukum buda budi (hakikat ) // berganti aturan hukum  menjadi syari’at Islam.
10.
Caritane Nagri Majapahit // angitane pujangga ing kunna // pralambang pasemon kabeh // yen tinulis lugu // babatira ing Majapahit // buka kekeran Raja // pujanggane takut // mila anyemoni kewala // supayane wong bodho aja mangerti // carita kang sanyata.

Cerita tentang kehancuran Majapahit // yang dibuat oleh para Pujangga jaman dahulu // hanya dibuat  sebagai ibarat saja // Jika ditulis apa adanya // Cerita Babat tentang Majapahit // akan membuka pertengkaran dan rahasia Raja // itulah penyebab mengapa para pujangga menjadi takut // sehingga membuat cerita ibarat saja // agar orang bodoh tidak memahaminya // tentang cerita yang sesungguhnya.
11.
Marma janma jawi mata sidji // akhli budi ngerti caritane // Majalengka sabenere // karana wong kang cubluk //nrima mangan woh kayu kuldi // tan pisan ngerti mangan // woh budi woh kawruh // mung nrima kabar kewala // nora dungkap carita kang elok gaib // samar kalingan  padang.

Hanya orang jawa yang menggunakan mata hati  // dan yang ahli budi saja yang memahami cerita atas // kehancuran Kerajaan Majapahit yang sebenarnya // karena orang yang bodoh // menerima saja makan buah kuldi // tidak pernah mengerti karena tidak  pernah memakan buah budi  dan buah kawruh (ilmu) // dan hanya menerima kabar burung saja // sehingga tidak bisa memahami apa sebenarnya dibalik cerita yang aneh dan rahasiaitu,  dan // sangat samar tertutup terang./samar.
12.
BISMILLAH HIR RAHMA NIR RAHIM // mugi para agung tanah jawa // dipun agung aksamane // de ulun kami purun // kumolancang meksa linuwih // mangun carita kuna // ingkang wus katutup // tur tanpa pathokan kitab // tuduh tutur ing sama-samaning urip // mung tukul sing engetan.

Diawali dengan bacaan Basmalah // semoga para pinisepuh Tanah Jawa // berkenan memberikan maaf dan ampunannya // karena aku telah berani –beraninya // dan begitu lancangnya memaksakan diri merasa mampu // membangun kembali cerita masa lalu // yang telah tertutup // dan tanpa dasar kitab // atau pun petunjuk  dan carita dari  yang hidup di masa itu // dan ceita ini dibangun hanya berdasarkan hasil pemikiran sendiri.
13.
Pan mengkene purwane ing nguni // Prabu Brawijaya Majalengka // kasamaran pamriksane // klimput galih Sang Prabu // kurang yitna ing tata lahir // akrama Putri Cempa// wong Agama Rasul // ing sajroning sih-sinisihan // karon lulut sang garwa asring ngaturi // kodjah lan ingkang raka.

Dan beginilah ceritanya// Prabu Brawijaya Raja Majapahit // tergoda pandangannya // terbawa keinginan hati sang Prabu // dan kurang hati-hati dalam bertindak // beliau kemudian menikahi sorang putri dari Negeri Cempa (Sebelah Utara Kamboja) //  seorang Putri beragama Syariat // dan pada saat berkasih-kasihan // serta pada saat memadu asmara sang putri sering memberi // cerita kepada sang Prabu.
14.
Ingkang mulya Agama Islam,// yen katimbang lan Agama Buda // Sarak Rasul unggul dewe//  ature wantu-wantu // Sri Narendra panggalih gingsir // mireng aturing garwa // tan kawiyos tutuk // tan lami pulusanira // Putri Cempa tutuwi marang Sang Putri // anama Sayit Rakhmat.

Bahwa yang paling bagus adalah Aturan Hukum Islam (Syariat ) // jika dibandingkan dengan Aturan Hukum Buda ( Agama di tingkat Hakikat. Pen) // Ilmu Syariat itu paling tinggi // begitu yang disampaikan sang Prutri berkali-kali // Sehingga goyanglah pemikiran Raja // karena terlalu seringnya mendengar penyampaian sang Putri tentang hal itu //  tapi tidak terucap dengan kata-kata // Tidak lama kemudian keponakan dari // sang Putri Cempa datang berkunjung // Keponakannya bernama Sayit Rakhmat.
15.
Nyuwun dukuh neng Ngampel gading // nyuwun idi anggelar Sarengat // Kanjeng Rasul Agamen // Sang Brawijaya Prabu // sapanyuwunira pinaring // sira Sang Sayit Rakhmat // hanulya dudukuh// Surabaya Ngampel Denta // nggelaraken Sarengat Andika Nabi // Muhammad Rasulullah.

Memohon diijinkan bertempat tinggal di Ngampel Gading (Surabaya Utara. Pen) // Dan memohon pula untuk diijinkan menyebarkan Ilmu Syariat // Agama Kanjeng Rasul // Sanga Raja Brawijaya // kemudian mengabulkan segala permohonanya // sehingga Sayit Rakhmat // kemudian bertempat tinggal // di Surabaya – di Ampel Denta // dan Menyebarkan Syariat Nabi // Muhammad Rasulullah.
16.
Nulya akeh Maolana prapti // saking Ngarab samya angajawa // asowan Ngarsa Sang Rajeng // pra samya nyuwun dukuh // neng pasisir wus antuk idi // ing ngiden ing Sang Nata // sapanyuwunipun // lama-lama saya ngrebda // tanah jawa kang samya ganti Agami // Ganti Agama Ngarab.

Kemudian disusul datangnya para Ulama // dari Arab datang ke Pulau Jawa // kemudian datang menghadap kepada Raja // untuk memohon ijin bertempat tinggal // di Wilayah pesisir // serta semuanya mendapatkan ijin Raja // tentang apapun yang menjadi permohonannya // lama kelamaan berkembanglah // bahwa di Tanah Jawa banyak orang jawa yang berganti Agama // Berganti Agama Ngarab.
17.
Sayit Rakhmat dadya gununganing // paguron wong Islam sadaya // Benang Tuban dudukuhe // Sayid  Rakhmat Puniku // Maolana saking ing Ngarbi // tedak Njeng Rasulullah// mila dados guru // panutane Jawi Islam // Kabeh kenut kerut wong Jawa Pasisir // Maguru Sayit Rakhmat.

Sayit Rakhmat sebagai panutan // bagi Perguruan  orang Islam di tanah Jawa // Benang Tuban tempat tinggalnya // Sayit Rakhmat adalah // seorang Maolana dari Arab // Keturunan Kanjeng Rasulullah // dan menjadi guru // serta menjadi Panutan  orang Islam di Tanah Jawa // Semua orang pesisir terbawa // dan berguru kepada Sayit Rakhmat.
18.
Samya masuk Agama Islam // ing sa satanah Jawa ingkang nyangga// pasisir lor sapangulon // masuk Agama Rasul // pada tinggal Agama Budi // Awit wetan Blambangan sapangulanipun // tekan ing Banten negara // pada tinggal Agama Buda sami // ganti Agama Arab.

 Semuanya masuk dan memeluk Agama Islam // Bahwa yang menyangga Pulau Jawa dalah penduduk // di Wilayah Pesisir Utara ke barat // Semuanya telah memeluk Agama Syariat // serta telah meninggalkan Agama Hakikat // Molai dari timur Wilayah Blambangan (Banyuwangi ) ke Barat // hingga Wilayah Banten // semuanya telah meninggalkan Agama Buda // dan beganti memeluk Agama Arab. (Syariat)
19.
Kena bujuk dalil Alif Lam Mim, andalikal rahabapi udan// lil muttkim enak dewe // kedanan mring ashadu, mila tinggal agama lami // wus kanggo sewu  warsa // pikukuhing luhur // Agama luhur pribadya // macung dewe mring Pangeran Maha Suci // anyebut Budi Hawa.

Terkena bujuk dalil Alif lam mim dan sterusnya //  //   // sehingga meninggalkan Agama yang lama // yang telah belaku selama seribu tahun // Patokan leluhur (sebagai patokan dalam mengatur system Negara) // Agama (untuk jadi pedoman mengatur Negara ) yang paling luhur // Menghadap langsung kepada Pangeran Yang Maha Suci // dengan menyebut Budi Hawa.
20.
Budi ikut Dzat-ira Hyang Widdi // apan iku kareping manah // nurut budi karepe // wajib jalma puniku // kang miturut ahlining Budi // lawan kareping manah // puniku tinurut // manungsa wignya punapa // obah osik iya darma anglakoni // Budi ingkang ngobahaken.

Budi adalah sebagai penghubung  Dzat Tuhan // Jika ada keinginan hati // maka ikutilah budi // Manusia seharusnya demikian // Jika bersumber dari Sang Budi // yang didorong juga oleh keinginan hati // itulah yang harus diikuti // Manusia punya kekuatan apa // Gerak, pikiran dan dalam menjalankan kewajiba hidup yang harus dijalankan // semuanya adalah Budi yang menggerakkan.
21.
Biyen ana putrane Sang Haji // kang patutan saking Putri Cina // aneng Palembang lahire // Dyan Patah namanipun // angajawa sowan rama // esmu kewran ing galih Sri Narpati // paring sebutan putra.

Ada seorang putra sang Raja // Yang lahir dari Putri Cina // dan dilahirkan di Palembang // Yang bernama Raden Patah // Pergi ke Jawa menghadap Sang ayah (Raja Brawijaya) // Sang Raja kebingunan // untuk memberi sebutan kepada putranya.
22.
Dene maro tiga ingkang jinis// yen miturut ing rama Narendra // Jawa Buda Agamane // leluri ing luluhur // putra Raja mijil ing ardi // kasebut nama Bambang // yen miturut Ibu // Cina iku aranira // yen Wong Arab Sayit sebutanireki // yen nurut ing lanjaran.

Disebabkan karena, dari tiga keturunan // Jika dilihat dari garis keturunan Raja Jawa, maka Buda  Agamanya // itu Jika mengikuti garis keturunan leluhur Jawa // Jika Putra raja lahir di Gunung // akan disebut dengan nama Bambang // dan Jika menurut garis keturunan Ibu akan disebut Cina // Tapi jika dari keturunan Arab, Sayit sebutannya // Itu sebutan berdasarkan garis keturunan.
23.
Sri Narendra sigra animbali // pra nayaka mundut panglimbangan // ingkang dadya prayogane // sesebutaning sunu // Patih Gajahmada wotsari // yen pareng karsa Nata // Putrane Pukulun // pinaringan sebutan Babah // ngirib-ngirib leluhur paduka nguni // kasebut Nama Bambang.

Sang Raja segera mengundang // Para bawahannya untuk minta pertimbangan // apa yang terbaik // bagi sebutan untuk nama anaknya // Patih Gajah mada memberi pertimbangan // Jika sang raja berkenan // Putra paduka raja // berilah sebutan nama Babah // meniru leluhur paduka raja sejak dahulu // putranya akan disebut dengan nama Bambang,
24.
Putra dalem Ibu Cina Gusti // lahir sabrang Agamane Islam // nami babah prayogane // tegese babah hiku // babar wonten sanes negari // suka kang sami miarsa// Patih aturipun // mupakat para nayaka // Putra Nata kang lahir Palembang Nagri // namane Babah Patah.

Putra paduka ibunya seorang Cina // lahir di lain daerah  dan beragama Islam // sebaiknya diberi sebutan nama Babah // Arti dari babah adalah // Lahir di lain negara // semuanya senang mendengar saran // dari pati Gajahmada // Semua Abdi raja sepakat bahwa // Putra Raja yang lahir di Palembang  // diberi nama “Babah Patah”.
25.
Raden Patah sakalngkung ajrih // yen nampika paparinging Nata // jroning tyas sanget mandongkol // ananging lahiripun // samudana suka lan sipi // samana babah Patah // pan lajeng jinunjung // jumeneng Dipati Demak // madanani Bupati urut pasisir // Demak sapangulonya.

Raden Patah sangat takut // apabila menolak pemberian nama tersebut // padahal di dalam hatinya sangatlah mendongkol // namun, dalam tata lahirnya // dibuat bersikap senang dan ikhlas denga mendapat nama tersebut // Kemudian Raden Patah dinobatkan // menjadi Hadipati Demak // kedudukannya menyamai semua Bupati yang berada di daerah pesisir // Molai dari Demak ke Barat.
26.
Iku purwanira duk ing nguni // bangsa Jawa blaster lawan Cina // pada babah sebutane // punika critanipun // Raden Patah ingkang murwani // misuwur cakren donya // putranya Sang Prabu // kang lahir Nagri Palembang // patutan lawan putri cina nguni // namane Babah Patah.

Itulah awal cerita jaman dahulu // Orang Jawa yang kawin blester dengan Cina // akan disebut dengan nama Babah // begitulah ceritanya // Raden Patah yang mengawalinya // hinga sekarang terkenal di seluruh dunia // Putra sang Raja // yang lahir di Palembang // Lahir dari putri Cina // bernama “Babah Patah”.
27.
Den kramaken antuk Ngampel gading // wayahipun Kyageng Ngampel Denta // ingkang nunggil Agamane // kaprenah mantu putu // lan Kyageng ing Ngampel gading // rinengga duk panggihnya // aneng Majalangu // sawuse antara dina kinen pindah neng Demak nama Dipati // dalem dusun Bintara.

Kemudian dikawinkan dengan seorang putri dari Ampel // Cucu Sunan Ampel // yang agamanya sama // Raden Patah sebagai menantu putu // dengan Kiyai Ageng di Ampel Gading // pada saat pernikahannya diadakan kemeriahan // di Keraton Majapahit // Setelah beberapa hari kemudian; keduanya disuruh pindah ke Demak dengan jabatan sebagai Bupati // dan bertempat tinggal di Dusun Bintara.
28.
Rasen Patah awit duk ing lahir // aneng Plembang anama wus Islam // Klilan angletarekaken // marang Agamanipun // Raden Kusen jinunjung linggih // anama Hadipatya // aneng Nagri Terung // lama-lama saya ngrebda // Sarak Rasul pra Ngulama nyuwun idi // pangkat sebutan Sunan.

Raden sejak molai lahir // di Palembang memang sudah beragama Islam // dan di beri kebebasan untuk melestarikan // agama yang dianutnya // Raden Kusen adiknya oleh Raja Brawijaya di beri jabatan // sebagai Adipati // di Negri Terung (Madura) // semakin lama berkembanglah // Agama syariat. Dan para Ulama mohon untuk diperkenankan // menggunakan pangkat dengan sebutan “Sunan”.
29.
Pardikane Sunan iku Budi // uwitira kawruh kaelingan // kang becik lawan kang awon // yen akeh uwohipun // Budi ngerti kelingan becik // wajibe sinuwunan // kawruh ingkang luhur // wektu  iku pra Ngulama // tyase bener utawane iya becik // pan durung arsa cidra.

Makna di balik kata Sunan adalah Budi // bersumber dari ilmu kesadaran diri // tentang yang baik dan jelek // jika  banyak buahnya // Budi akan memahami  tentang segala kebaikan //  Wajib memohon // Ilmu yang luhur // Ketika itu para Ulama // Jalan pikirannya masih benar  dan baik // dan juga masih belum berkhianat.
30.
Ciptanira Brawijaya Haji // Pra-Ngulama  masuk Gama Buda // dene Sunan sebutane // lawan klakuwanipun // cegah dahar lawan aguling // yen wong Agama Makam Agamaning Rasul // sirik cegah dahar nendra // mung nuruti rasaning lesan lan diri // yen cegah mangan rusak.

Menurut perasaan hati Sang Prabu Brawijaya // bahwa para Ulama itu termasuk dalam Tingkat Agama Hakikat // Karena menggunakan sebutan Sunan,, tentulah sama antara tindakan dan sebutannya // tindakannya mencegah banyak makan dan tidur // karena jika orang masih di tingkat // Agama Syariat // menghindari tindakan; tidak makan dan tidur (Tafakur/bertapa) // Hanya menuruti rasa mulut dan rasa diri saja// apabila mencegah makan akan rusak.
31.
Prabu Brawijaya paring idi // lama-lama agama wus ngrebada // ana nalar elok aneh // gaib samar kalangkung // nora kena dipun kawruhi // netra karna lan grana // miwah lesan iku // weruhe saking engetan // jroning utek iku lamun den kawruhi // Raden Budi ngandika.

Oleh karena pemahaman Raja demikian maka Sang Raja Brawijaya mengijinkan // sehingga lama-kelamaan Agama berkembang sangat pesat // Ada nalar elok aneh // Gaib samar teramat sangat samar // tidak boleh untuk diketahui // baik oleh mata, telingan, hidung // dan juga mulut // bisa diketahaui hanya oleh kesadaran diri (eling) //  kesadaran otak itu jika boleh di pahami // Sang Budi-lah yang akan mengatakan.
32.
Luwih-luwih kang maca myang miyarsi // nganggep temen antanapi ora // katimbangan sabenere // yen tan nganggepa estu // kabeh buku carita Jawi // tan ana kang carita // yen doraha iku// samangkya maksih wujudndya // tilasane maksih kena den priksani // kahanan jaman kuna.

Terlebih lagi yang membaca dan yang mendengar hanya sebatas cerita // maka, akan menganggap benar di antara yang salah // pergunakanlah pertimbangan dengan seharusnya // jika menganggap tidak benar // semua buku cerita Jawa // tidak ada yang bercerita // jika cerita itu bohong // sekarang masih ada bukti ujudndya // peninggalannya masih bisa dibuktikan // keadaan pada jaman dahulu.
33.
Duk jamane Nagri Majapahit // Suna Benang sumadya lelana // marang kediri karsane // sabat kalih tutu pungkur// sapraptane neng lor Kediri // tanah ing Kartasana // kalangan ing banyu // kali Brantas nuju bena // saking kulon anabrang ing wetan kali// wus prapta pinggir wetan.

Pada jaman Majapahit // Ketika itu Sunan benang  akan mengembara // Ke Kediri yang menjadi tujuannya // kedua abdinya mengiring di belakangnya // setelah sampai di sebelah utara Kediri // di daerah Kertasana // terhalang sungai besar // Sungai Brantas sedang banjir // Sang Sunan, Dari arah barat sungai menyeberang ke sebelah timur sungai // Sampailah di sebelah timur sungai.
34.
Ndangu janma ingkang tengga gagi// Niti gati Agamane apa tanah kene kag dena angge // apa wus Islam Tuhu // apa isih Agama Budi // Ki bandar aturira // ing riki pukulun // kang limrah Agama Kalang // sarak Buda inggih ngangge sawatawis // dene agami enggal.

Bertanyalah Sunan Benang kepada tukang perahu yang menyeberangkannya // Agama apakah yang di anut di daerah sini // Apakah telah beragama Islam yang sebenarnya // Apakah masih Agama Budi // Tukang perahu menjelaskan // Di daerah sini wahai Sunan // pada umumnya beragama Kalang // Aturan Agama Buda juga masih dipakai sedikit // sedang Agama baru .
35.
Sarak Rasul inggih bribik-bribik // ingkang limrah tiyang ngriki sadaya // sami Kalang Agamane // amulyakaken Bandung // Bandawasa den anggep Nabi // lamun dinten jumungah// wage Wuye Wuku // punika dinten rahayu// kendel  karya neda eca seneng ati // tan kesah saking wisma.

Syariat Rasul juga masih sedikit-sedikit // pada umumnya orang di daerah sini // masih beragama Kalang // masih memulyakan Bandung Bandawasa yang di anggap nabi // Jika hari Jum’at Wage, Wuku Wuye // itu adalah hari baik // libur kerja makan enak dan bersenang senang // tidak pergi dari rumah.
36.
Sunan Benang angandika aris // yen mangkono wong kenen sadaya // pada gedah agamane // tegese gedah iku // nora ireng lan oran putih // pantes arane tanah // kuta gedah iku // ki bandar matur prayoga // dawuh tuwan kawula ingkang nekseni // katelah prapteng mangkya.

Suna  Benang berkata pelan // jika demikian semua orang di daerah ini // masih Gedah agamanya // yang dimaksud Gedah adalah tidak hitam dan tidak putih // pantaslah jika daerah ini saya beri nama Kota Gedah  // tukang perahu menyetujuinya // nama tersebut, tukang perahulah sebagai saksinya // sehingga sampai sekarangpun daerah tersebut bernama “Gedah”.
37.
Tanah Kutha salering Kediri // ingarananan tanah kutha gedah // nanging mung manut lumrahe // tan wruh asale tembung // wit tan ngerti critane dihin // ran tanah kutha gedah // kalumrahe misuwur // Sang wiku malih ngandika // lah ta sabar sira amintaha warih // imbon marang ing desa.

Daerah di sebelah utara Kediri // Disebut tanah kota Gedah // kebanyakan hanya menyebutnya sebatas nama kota saja // dan tidak mengetahuai tentang asal mula nama tersebut // karena tidak mengetahuai cerita asal-usul naman tersebut // mengapa daeraha tersebut terkenal dengan nama “Gedah” // Kemudian Sunan Benang // menyuruh abdinya untuk minta air // air bekam (air persedian untuk memasak)  kepada penduduk,
38.
Kali iki nuju banjir // banyu buthek kurang sukcinira // anglarani yen den ombe // lan iki wayah luhur // arsa wulu lan shalat mami // sabat siji gya mentar // malbeng dukuh Patuk // wismane amung sajuga // datan ana wong lanang sawiji-wiji // estri kang tengga wisma.

Karena sungai sedang banjir // dan airnya keruh sehingga menurutnya, kurang suci // serta bisa menyebabkan sakit jika diminum // dan sekarang sudah memasuki waktu shalat dhuhur // saya akan wudhu dan Shalat // satu abdinya segera berangkat // memasuki dukuh Patuk // hanya ada satu rumah // dan tidak satu pun laki-laki yang ditemuinya // hanya seorang wanita yang sedang menunggu rumah itu.
39.
Maksih prawan anendeng birahi // nuju nenun aneng ngemper jaba //sabat prapta lan wuwuse // bok ngaten neda banyu // bening imbon ingkang aresik // bok prawan bagja mulat // salah ciptanipun // kinira kakung njejawat // bok perawan arengu den-nya mangsuli // sumahur tembung kasar.

Masih gadis yang baru memasuki masa puber // sedang menenun di teras rumah // sahabat sunan datang dan mengatakan // Wahai gadis, saya mohon minta air // air bekam yang bening // Sang gadis  ketika melihat utusan sunan // salah perkiraan // dia mengira bahwa laki-laki itu,  laki-laki yang suka menggoda wanita // si gadis dengan sikap tidak senang menjawab // dengan kata-kata kasar.
40.
Dika santri mentas liwat kali // njaluk banyu imbon aranira // ngriki tan wonten lumrahe // tiyang angimbu banyu // njawi uyuh kula puniki // imbon bening saringan// yen dikarsa ngunjuk // santri kesah tan pamitan // gerundelan sigra matur sang Ngayogi // lir kasebut ing ngarsa.

Kamu santri baru melewati sungai // meminta air bekam // di sini pada umumnya tidak ada  yang membekam air // kecuali air kencing saya ini // air bekam jernih dan telah disaring // jika kau ingin minum // Santri pergi tanpa pamit // sambil mengomel  dan menyampaikan hal tersebut kepada Sunan Benang // seperti kata gadis tersebut.
41.
Sunan Benang dukanya tan sipi // dadya nebda karsa anyupata // lumrahe ing tanah kene // muga laranga banyu // jalma estri jwa laki-laki // yen durung prawan tuwa // miwah kakungipun // dadiya jajaka tuwa // sanalika kali Brantas mili alit // lajeng nyimpang mengetan.

Sunan Benang sangatlah marah // hingga berkata sambil melaknat // semua tanah yang berada di daerah ini // semoga sulit air // para gadis dan jejakanya // jadilah perawan tuwa // dan juga pemudanya // jadilah jejaka tuwa // seketika sungai Brantas mengekecil alirannya // kemudian aliran airnya berubah mengarah ke arah timur.
42.
Nrajang dusun wana miwah sabin // pinten-pinten dusun karisakan // katrajang kali ngalihe // kali ingkang rumuhun // dadya asat prapta sa’mangkin // ki bandar langkung eram // ing kasektenipun // neggih Kanjeng Sunan Benang // sigra lajeng tindaknya dateng Kediri // Katelah prapteng mangkya.

Melanda dusun hutan dan sawah // banyak desa yang menjadi rusak // dilanda aliran air yang berubah arah // dan sungai  aslinya // menjadi kecil aliran airnya sampai sekarang // Tukang perahu sangatlah heran // atas kesaktian // dari Sunan Benang // kemudian Sunan Benang melanjutkan perjalanan ke Kediri // sehingga terkenal sampai sekarang.
43.
Tanah kutha Gedah awis warih // mengulon lelakon wolung pal // limalas pal mengalore // mangidul banyu sumur // dene ingkang alaki rabi //wus kaliwat saking mangsa //wayah manak telu // jaka tuwa prawan tuwa // awit saking sabdane Hyang Maha yekti // Kanjeng Sunan ing Benang.

Daerah kuta Gedah adalah daerah sulit air // ke arah barat sejauh delapan pal // lima belas pal ke arah utara // ke arah selatan sejauh air sumur // sedang yang akan menikah // usianya sudah kelewat umur // yang seharusnya sudah beranak tiga // Jejaka tuwa perawan tuwa // disebabkan oleh laknat dari yang sangat sakti // yaitu Sunan Benang.
44.
Kawuwusa demit Ni Palencing // danyangira sumur Tanjung desa // ginubel anak putune // Nyai kula angsung wruh // wonten janma saking ing Tubin // namane Sunan Benang // remen aru biru // sikara tanpa karana // siya-siya sami umate Hyang Widdi // ubale kaprawiran.

Diceritakan demit Ni Palencing // danyang penunggu sumur tanjung desa // diserbu anak cucunya // Nyai, saya beri kabar // ada seseorang berasal dari Tuban // bernama Sunan Benang // senang mencampuri urusan orang // membuat bencana tanpa ada sebab // berbuat sia-sia kepada sesama makhluk Tuhan // memamerkan kesaktianya.
45.
Lepen ageng kang saking Kediri // den sotaken sanalika asat // menggok ngetan kidul kuwe // ngrusake wana dusun // lan nyupata tiang ing ngriki // telate saking mangsa // laki rabinipun // yen wong lanang jaka tuwa // ingkang estri hajwa laki-laki // yen durung prawan tuwa.

Sungai besar yang dari arah Kediri // dipindah alirannya seketika kering // berbelok ke arah Tenggara // meruksa hutan dan desa // dan memberi supata ke penduduk di sini // akan terlambat // menikah // jika pemuda akan menjadi jejaka tua // yang wanita tidak akan menikah // jika belum menjadi perawan tua.
46.
Lan ing ngriki tanah den wastani // Kutha Gedah awis ingkang toya // dene teka salah gawe // daweg sami ginanggu // dipun teluh dimen mati // Nyi Plencing duk miyarsa // hature nak putu // sigra metuk Sunan Benang // tan kuwawa celak sarira lir geni // lumayu nunjang-nunjang.

Dan daerah ini // di beri nama Gedah serta sulit air // sedang yang tidak menerimakannya // akan di ganggu // di santet sampai mati // Nyi Plencing ketika mendengat // laporan anak cucunya // segera menemui Sunan Benang // akan tetapi dia tidak kuat mendekat, karena badan Sunan Benang bagaikan api // lari tunggang langgang.
47.
Mring Kediri sigra tur udani // ing ratune Ki Butalocaya // manggen guwa Sela bale (sekarang terkenal dengan nama Gua Sela Mangleng. Pen) // sukuning Wilis Gunung // sisih wetan kang den enggeni // mangsuli kang carita // pruwane rumuhun // Kiyahi Butalocaya // Patihe Sri Jabaya Narpati // arane Kyahi Daha.

Menuju ke Kediri  dan sega memberitahukan // kepada rajanya, Butalocaya // yang beristana di Gua Sela Bale // di kaki Gunung Wilis // sisi sebelah timur // kembali pada cerita // bahwa dahulunya // Kyai Butalocaya adalah // seorang patih Raja Sri Jayabaya // di Kerajaan Daha.
48
Ingkang cikal bakal ing Kediri // lan kang rayi aran kyahi Da...... /Sri Jayabaya dawuhe// ran Daha gya pinundut // pan kinarya aran negari// ananging linironan // aran ing Sang Prabu // Kiyahi Butalocaya // pan kinarya Patihe Sri nara pati // Sang Prabu Jayabaya.

Yang menjadi cikal bakal Kediri // dan adiknya yang bernama Da....// Sri Jayabaya memerinthkan // untuk mengambil kata daha // sebagai nama kerajaan // kemudian diganti // sebutannya oleh sang raja // Kyai Butalocaya // dijadikan sebagai patih // Raja Jayabaya.
49
Buta iku buteng ingkang harti // buteng iku bodo tan wruh sastra // Buto pan bodo yektine // Lo; kowe tegesipun // caya kena den pracayani // Kyahi Butalocaya// bodo temen mengku // tur mantep setya mring praja // marmanira kinarya Patih Sang Haji // Sang Prabu Jayabaya.

Buta itu buteng artinya // buteng itu bodoh tidak paham ilmu sastra // Buto  berarti bodoh // Lo; artinya kamu // caya itu bisa dipercaya // Kyai Butalocaya // bodoh akan tetapi jujur // dan setia kepada raja // sehingga dijadikan sebagai patih oleh sang Haji // Sang Prabu Jayabaya.
50.
Awit ana sesebutan Kyahi //kyahi Daha teturutanira // ngayomi anak putune // ing kanan kering dusun // kyahi Daha kang dipun ungsi // Jengkare Sri Narendra // sing Ngastina Kratun // jujug wismane Ki Daha // sinugatan sawadya kuswa geng alit // mila gung sihing Nata.

Awal mula sebutan Kyai // adalah sebutan Kyai Daha dan keturunannya // bermakna yang melindungi anak cucunya// yang berada di kanan kiri desa // Kyai Daha sebabagi jujugan untuk mengungsi // Tidak perduli pembesar dan rakyat jalata semuanya di jamu // sehingga sangat besarlah kasih sayang Raja.
51.
Ran Ki Daha pinundut Narpati // pan kinarya namanireng desa // nanging liniru namane // Kiyahi Tunggulwulung // dadya senapati ngajurit // muksane Sri Narendra // lawan putranipun // Nimas Ratu Pagedongan // Kyahi Butalocaya lan ingkang rayi // kalihe samya muksa.

Sebutan Ki Daha diambil oleh raja // dan dijadikan menjadi nama desa // namun diganti namanya // Kyai Tunggulwulung // dijadikan senopati prajurit // Ketika sang raja muksa // bersama dengan sang putri yang bernama // Nimas Ratu Pagedongan // Butalocaya beserta adiknya // keduanya juga muksa.
52.
Nini Ratu Gedongan kinardi // Ratuning kang demit Nuswa Jawa // segara kidul kutahne //pinaringan jujuluk // nama Nimas Ratu Nginangin // kayanganing samudra // sagunging lelembut // daratan miwah lautan // kanan kering ing tanah Jawi sumiwi // mring Ratu Pagedongan.

Nini Ratu Pagedongan dijadikan // menjadi Ratu-nya demit Tanah Jawa // di Laut selatan kekuasaannya // mendapatkan julukan // dengan nama Ratu Angin-angin // kerajaannya di samodra // Semua demit daratan dan lautan // dan daerah kanan kiri  Pulau Jawa semua tunduk // kepada Ratu Pagedongan.
53.
Awit saking karsanya Sang Haji // Kyahi Butalocaya pinernah // manggen Guwa Sela – Bale // dene Ki Tunggulwulung // pan pinernah ing Kelud Ardi // rumeksa kawahira // rikalane metu // hajwa ngrusakake desa // duk samana Ki Butalocaya linggih // manggen kursi kencana.

Kemudian raja memerintahkan // kepada Kyai Butalocaya diperintah untuk // bertempat tinggal di Guwa Sela Bale // sedangkan Ki Tunggulwulung // bertempat tinggal di Gunung Kelud // bertugas memelihara kawah // ketika lahar keluar // agar tidak merusak desa // dan ketika Ki Butalocaya sedang duduk // di kursi kencana.
54.
Lemek babut linebaran sari // kenibutan badak kenin kanan // ingkang sowan neng ngarsane // Ki Patih Mega Mendung // putra kalih siniwing ngarsi // Panji sekti di guna // Panjisari lahut // lagya eca guneman rasa // lawan Patih miwah ingkang putra kalih // kagyat ing praptanira.

Beralasnkan babut yang diberi wewangian // diapit badak di kanan kirinya // dan menghadap kepadanya // Ki patih Megamendung // kedua putranya berada di depannya // yang bernama Panji Sekti diguna // Panji Sari Lahut // ketika sedang asyiknya membicarakan ilmu hakikat // dengan patih dan kedua putranya // tiba-tiba dikagetkan oleh datangnya.
55.
Danyang Tanjung tani Nyai Plencing // gupuh-gupuh anungkemi pada // angaturaken tiwase // kyahi kula atur wruh // karisakan lering Kediri // wonten djanma sajuga sektinya kalangkung // namanira Sunan Benang // Saking Tuban// Karsane dateng Kediri // subrata lelana.

Danyang dari Tanjungtani yang bernama Nyi Plencing // tergopoh-gopoh datang menghaturkan sembah // menyampaikan berita // wahai Kyai hamba menyampaikan berita // tentang kerusakan di daerah sebelah utara Kediri // Ada manusia sendirian, yang sangat sakti // bernama Sunan Benang // dari Tuban // bermaksud ke Kediri // bersama abdinya untuk mengembara.

ii. ASMARADANA
https://www.youtube.com/watch?v=BQLaDuVIUJU 
EEdit : Pujo Prayitno
1.
Katah ature Nyi Plencing // kadya kang kasebut ngarsa // ngaturaken ing tiwase // lelembut miwah manusa // Kyahi Butalocaya // duk miyarsa kalangkung bendu // mubal ingkang pancandriya.

Banyak sekali yang disampaikan Nyi Plencing // seperti tersebut di muka // dan menyampaikan banyaknya korban // demit dan manusia // Kyai Butalocaya // ketika mendengarnya menjadi sangat marah // terbakarlah pancaindranya.
2.
Sigra denira nimbali // jin peri lan prayangan // kerigan anak putune // pratane sareng prahara // sakedap wus samekta // sakapraboning prang pupuh // sigra budal sabalanya.

Segera memanggil // Jin peri dan perayangan // berserta anak cucunya // ketika datang, dengan di iringi prahara // sekejap saja telah siap // berserta dengan peralatan perangnya // segera berangkatlah mereka beserta pasukannya.
3.
Sakedap pan sampun prapti // sahelering Kukum Desa // Butalocaya minda wong // Kyahi Sombre wastanira // wadyane tan katingal // tur awendran kathahipun // wau Ki Butalocaya

Sekejap saja telah sampai // di sebelah utara desa // Butalocaya menyamar berujud manusia // bernama Kyai Sombre // pasukannya tidak kelihatan // dan berjumlah sangat banyak // diceritakan bahwa Ki Butalocaya.
4.
Mandeg marga ngisor sambi // anganti ing praptanira // Sunan Benang saking eler // Sunan Bonang nora samar // kang ngadeg tengah marga // demit ratu arsa ngganggu // katara awak dahana.

Berhenti di bawah pohon sambi // menunggu datangnya // Sunan Benang dari utara// Sunan benang mengetahui // bahwa yang berdiri di tengah jalan // adalah Ratunya Demit yang akan menggagunya // terlihat dari badanya yang bagaikan api.
5.
Wadya lit kang samya ngiring // sumingkir lumayu tebah // datan kuwawa panase // caket lawan Sunan Benang // miwah Butalocaya // kalihe sarira latu // Sunan Benang tan kuwawa.

Pasukan yang mengiringnya // segera berlari menyingkir // tidak kuat menahan panas // dekat dengan Sunan Benang // demikian juga Butalocaya // keduanya berbadan api // Sunan Benang tidak kuat.
6.
Hanyelak ratuning demit // tanapi Butalocaya // datan kuwawa panase // caket lawan Sunan Benang // sabat kalih kantaka // laheng katisen angguguh // angandika Sunan Benang.

Mendekati Ratunya Demit // demikian juga Butalocaya // tidak kuat menahan panas // dekat dengan Sunan Benang // Dua sahabat Sunan pingsan // merasakan kedinginan karena demam // berucaplah Sunan Benang.
7.
Butalocaya siereki // metuk marang praptaningwang // ngalih aran Kyahi Sombre // apata pada raharja // Kagyat Butalocaya // dene Sunan Benang weruh // iya marang jeneng ingwang.

Butalocaya kamu // menemui kedatanganku // kamu berganti nama Kyai Sombre // Apakah pada selamat // terkejutlah Butalocaya // bahwa Sunan Benang mengetahui // nama dirinya.
8.
Wusana Locaya angling // dene paduka uninga // ganti aran Kyahi Sombre // angandika Kanjeng Sunan // ingsun tan kasamaran // yen sira ratu lelembut // Kediri Butalocaya.

Kemudian Butalocaya berkata // bahwa engkau bisa mengetahui // saya berganti nama menjadi Kyai Sombre // berkatalah Kanjeng Sunan // saya tidak akan tertipu // bahwa kamu adalah Raja Jin // wilayah Kediri bernama Butalocaya.
9.
KI Butalocaya angling // Paduka tiyang punapa // dene aneh wangunane // mengangge pating karembyah // dede pangangge Jawa // dapur kaya walangkadung // dede wangunan wong Jawa.

Ki Butalocaya heran // Paduka manusia jenis apa // mengapa berpenampilan aneh // berbusana tidak karuan // tidak berpakaian model Jawa // mirip seperti belalang sembah // bukan penampilan orang Jawa.
10.
Sunan Benang ngandika ris // ingsun iki Bangsa Ngarab // Sayit Kramat araningong // wismaningsun Benang Tuban // dene ta karsaningwang // arsa mring Kediri ingsun // amriksani patilasan.

Sunan Benang halus berkata // saya ini Bangsa Arab // Sayit Kramat julukanku // bertempat tinggal di Benang – Tuban // sedangkankan keinginanku // ingin pergi ke Kediri // ingin melihat peninggalan.
11.
Kadatonira ing nguni // Maha Prabu Jayabaya // ing kene ngendi enggone // Nauri Butalocaya // wetan leres punika // dusun Menang wastanipun // tilasan sadaya sirna.

Bekas kerajaan di masal lalu // Maha Raja Jayabaya // dimanakah tempatnya // menjawablah Butalocaya // persis di sebelah timur dari sini // Dusun Mamenang namanya // peninggalannya semuanya musnah.
12.
Kedatonira sang Haji // miwah pasanggrahan sirna // tuwin tilas kedatone // Nimas Ratu Pagedongan // taman Bagenda Watya // pasangrahan Dana Catur // mung kantun araning Desa.

Bekas bangunan keraton // dan bekas pesanggrahan musnah // juga bekas keraton // milik Ratu Nimas Pagedongan // yang bernama Taman Bagenda Watya // Pesanggrahan Dana Catur // hanya tinggal nama desa.
13.
Kahurugan siti pasir // lahar saking Kelud Harga // wangsul kawula pitaken // paduka gendak sikara // ing anak putu Adam // nyabdaken kang boten patut // jaka tuwa prawan tuwa.

Terpendam tanah pasir // lahar dari gunung Kelud // balik saya bertanya // Paduka berbuat jahat // kepada cucu Adam // menyabda yang tidak pantas // jejaka tua dan perawan tua.
14.
Kalawan nyukani nami // tanah ngriki Kita Gedah // lan paduka ngelih lepen // nyabdaaken awis toya // tanah ngriki sadaya // siya-siya tanpa urus // sikara datanpa dosa.

Dan juga memberi nama // daerah di sini dengan nama Kota Gedah // dan juga paduka memindahkan aliran sungai // dan menyabda  sulit air // di seluruh wilayah ini // sia-sia tanpa guna // menyiksa tanpa dosa.
15.
Geng-genging susah wong urip // laki rabi lalu mangsa // sayekti dangu pancere // titahing latta wal Hujwa // wit saking sabda Tuan// lan sapinten susahipun // tiyang kang katrajang bena.

Sebesar-besarnya kesusahan hidup // adalah menikah terlambat waktu // jelas akan lama berkembangnya // makhluknya latta wal hujwa // yang disebabkan oleh sabda Tuan // dan betapa kesusahan yang diderita // penduduk terkenan bencana banjir bandang.
16.
Ngalihe lepen Kediri // nyimpang ngetan nyabrang Desa// sawahe tegal kabeh // pinten-pinten karisakan // kasusahaning jalma // lawan pinten susahipun // tiyang kaline kang asat.

Memindah aliran sungai Kediri // berpindah arah mengalir ke timur melanda Desa // dan semua sawah serta tegal // banyak sekali menimbulkan kerusakan // menyebabkan kesengsaran makhluk // dan juga betapa susahnya // penduduk dengan keringnya sungai.
17.
Yekti kekirangan warih // tambah paduka sotena // tanah ngriki sadayane // dumadosna awis toya // salami-laminira // siya-siya tanpa urus // sikara tanpa prakara.

Berakibat kekurangan air /// justru paduka habiskan // air di wilayah sini seluruhnya // kau jadikan sulit air // selama-lamanya // perbuatan sia-sia yang tidak berguna // berbuat siksa tanpa sebab.
18.
Njeng Sunan angandika aris // mulane sun weh aran // tanah Kuta Gedah kene // sebab agamaning janma // tan ireng datan petak // tetepe agama biru // awit agamane kalang.

Sang Sunan pelan berkata // makanya saya beri nama // di daerah sini dengan nama Kota Gedah // sebab agama yang dianut penduduknya // tidak hitam dan tidak putih // tetapnya Agama Biru // sebab agamanya setengah-setengah.
19.
Sun Sotaken larang warih // sun njaluk banyu tan angsal // mula sun elih kaline // katekana larang toya // tanah kene sadaya //mula sun sotake iku // jaka tuwa prawan tuwa.

Saya habiskan airnya sehingga sulit air // karena saya meminta air tidak boleh // makanya saya pindahkan aliran sungainya // jadilah sulit air // tanah di walayah sini seluruhnya // saya habiskan selurunya // saya sabda jaka tua perawan tua.
20.
Sebab kang ingsun jaluki // banyu mangsuli tan angsal // bocah wadon prawan balegh // nahuri Butalocaya // punika mboten timbang // lawan kalepatanipun // Tuan sabdaaken mangkana.

Sebab yang saya mintai // air menjawab tidak boleh // seorang gadis akhir baleg // menjawab Butalocaya // itu sangat tidak adil // di banding dengan kesalahannya // kemudian Tuan sabda menjadi demikian.
21.
Kang lepat tiyang satunggil // ingkang susah tiyang kathah // mboten timbang lan hukume // punika angger punapa // kang Tuan tindakena // sawenang-wenang mring makhluk // mlarati janma kathah.

Yang kau anggap salah satu orang // yang menanggung akibatnya orang banyak // sangat tidak sebanding dan hukum // apa yang kau jadikan pedoman // atas tindakan Tuan // berbuat sewenang-wenang terhadap makhluk // membuat miskin orang banyak.
22.
Katura kang darbe nagri // paduka manggih hukuman // kang malarat langkung abot // sabab angrisaken tanah // sami Tuan sotena // ing ngriki murahing banyu // dados asil panggesangan.

Jika di laporkan kepada yang berkausa // Paduka akan mendapatkan hukuman  // yang miskin semakin berat // sebab mengakibatkan tanah menjadi rusak // karena tuan habiskan // yang semula di sini mudah mendapatkan air // yang bisa menghasilkan untuk penghidupan.
23.
Laki rabi alit-alit // enggal mencaraken tiyang // kawulanya Hyang Manon // Paduka sanes Narendra // ngaru biru agama// tiyang dahwen namanipun // anyukani nama tanah.

Manikah masih kecil // cepat berkembangnya manusia // hamba Tuhan // Padukan bukan raja // mengurusi agama orang lain // orang syirik namanya // memberi nama suatu daerah.
24.
Ngowahke tulis nagari // ngandika Sinuwun Benang // nadyan katuran Sang Katong // Sang Prabu ing Majalengka // ingsun masa wedia // mungsuh Ratu Majalanggu // ambekis butalocaya.

Merubah administrasi Negara // menjawablah Sunan Benang // walau dilaporkan kepada raja // Sang Prabu di Majapahit // aku tidak takut // tehadap Ratu Majapahit // menggeramlah Butalocaya.
25.
Rembag paduka puniki // dede rembag akhli praja // rembuge wong nyunggi tempe // ngandelaken yen digdaya // bok sampun sumakeyan // kinasihan ing Hyang Agung // sugih sanak malaekat.

Omongan paduka ini // bukan kata-kata seorang ahli negara // omongannya orang menyunggi tempe // mengandalkan kesaktiannya // janganlah bersikap demikian // Tuan telah menjadi kekasih Yang Maha Agung // memiliki banyak sahabat yang berupa malaikat.
26.
Ing sakarsa dadi // apan boten kalepatan // siya dahwen patiopen // tetep wong gendak sikara // nadyan ing Tanah Jawa // yekti wonten wong kang langkung // prawira kadi Paduka.

Setiap keinginan tuan terkabul // apa tidak mendapatkan salah //  berbuat sia-sai mengurusi yang bukan urusannya // tetap orang yang berbuat jahat // walau di Tanah Jawa // pasti ada orang yang melebihi // kesaktian paduka.
27.
Nanging sami ahli budi // ajrih bebenduning Dewa // yen siya sami bangsane // siya-siya tanpa krana // punapa gih Paduka // tungggalanipun rumuhun // Hajisaka Ratu Mendang.

Namun mereka ahli Hakikat // takut hukuman Tuhan // jika bebuat jahat kepada bangsa sendiri // berbuat sia-sia tanpa sebab // apakah paduka // masih saudara dengan cerita masa lalu // Hajisaka Ratu di Medang.
28.
Murit sabate Ijajil // dados ratu Tanah Jawa // mung tigang tahun lamine // mengkrat saking Tanah Jawa // sadaya sumber toya // ing Mendang saurutipun // binekta minggat sadaya.

Murid dan sahabat Ijajil // menjadi raja di Tanah Jawa // hanya selama tiga tahun // minggat dari Tanah Jawa // semua sumber air // di Medang dan sekitarnya // dibawa minggat semua.
29.
Djisaka wong saking Ngarbi // tuwin tiyang saking Ngarab // pramila sami wateke // suka karya sriking  janma // paduka ngaku Sunan // yekti simpen Budi Luhur // mamrih ayuning Buana.

Ajisaka berasal dari Arab // dan orang yang berasal dari Arab // makanya sama wataknya // suka berbuat sirik terhadap makhluk // Paduka mengaku sebagai Sunan // tentu menyimpan Budi luhur // agar tenteramlah dunia.
30.
De wujud Tuan puniki //  jajil belis tiningalan // tan tahan ginoda rare // mijil mubal gelis duka // niku sunaning menda // yen Sunan djanma satuhu // simpen budi luhur panjang.

Sedangkan tindakan Tuan sekarang // bagaikan jajil iblis yang terlihat // tidak tahan digoda anak kecil  // cepat sekali keluar marahnya // itu sikap Sunannya kambing // jika Sunan yang sesungguhnya // berpikiran panjang dan berbudi luhur.
31.
Gih niku cobaning Widhi // begal Nabi Olya Raja // kang sirna timbang tantinge // mung gugu karsa priyangga // niksa wong tanpa dosa // gih punika marganipun // paduka manggih cilaka.

Itulah ujian Tuhan // memotong ilmu Nabi Auliya raja // siapa saja yang kehilangan pertimbangan dalam bertindak // hanya menuruti nafsu diri // menyiksa orang tanpa dosa // itulah jalan yang tuan pilih// yang mengarahkan ke arah celaka hidup tuan.
32.
Pratanda Tuan samangkin // wus yasa nraka jahanam // yen wus dados Tuan angge // siram salebeting kawah // wedang kang mumpal-mumpal // kawula bangsa lelebut , sanes alam lan manusa.

Itu sebagai tanda bahwa Tuan sekarang // sedang membangun neraka jahanam // jika sudah jadi akan Tuan pake // mandi di dalam kawah // kawah wedang yang bergejolak // hamba bangsa jin // beda alam dengan manusia.
33.
Prandene maksih mengeti // rahayuning manusa // Paduka wangsulken age // lepen ingkang sampun asat // miwah risaking tanah // wangsula kadi rumuhun // yen paduka boten karsa.

Akan tetapi masih bisa mengerti // ketentraman hidup manusia // Segeralah paduka kembalikan  seperti semula // sungai yang telah kering // dan juga rusaknya tanah // kembalikan seperti semula // jika paduka tidak mau.
34.
Mangsulken kadi rumiyin // sadaya manusa Jawa // kang Islam sami sun teluh // kajenge pejah sadaya // kawula nyuwun bala // dateng kanjeng  Ratu Ayu // Nginangin kang neng Samodra.

Mengembalikan seperti semula // seluruh orang Jawa // yang beragama syariat akan saya santet // agar mati semua // saya akan minta bantuan // kepada Kanjeng Ratu Ayu // Angin-angin yang berada di Samudra.
35.
Sunan Benang duk miyarsi // padune Butalocaya // rumangsa kaluputane // nyikara wong tanpa dosa // alon dennya ngandika // Butalocaya wruhanmu // ingsun iki bangsa Sunan.

Sunan Benang ketika mendengar // penyampaian Butalocaya // merasa salah dalam tindakannya // menyiksa penduduk tanpa dosa // pelan beliau berkata // Butalocaya ketahuilah // Ingsun bangsa Sunan.
36.
Tan kena mangsuli malih // ing wuwus kang wus kawedal // amung sun wangeni bae // lawase pan nyatus warsa // sabda ningsun tambara // baliya kadi rumuhun // ambekis Butalocaya.

Tidak boleh menarik kata // ucapan yang telah keluar // hanya saja saya beri batas // lamanya tiap seratus tahun // sabda ingsun beru akan netral // akan kembali seperti semula // menggeramlah Butalocaya.
37.
Gih wangsulan sak  punika // yen ta wangsul sak punika // kadi ing wau-waune // paduka kawula banda // Sunan Benang ngandika // tan kena mangsuli wuwus // sun pamit nyimpang mangetan.

Kembalikanlah sekarang juga // jika tidak dikembali sekarang juga // dan kembali seperti semula // Paduka akan saya ikat // Sunan Benang berkata // Tidak boleh mencabut ucapan // saya ijin, menyimpang jalan ke arah timur.
38.
Wohing kayu sambi iki // saiki sun mehi aran // yeku kecacil arane // lir bocah cilik tukaran // demit wong pecicilan // rebut bener ngadu kawruh // prakara rusaking tanah.

Buah pohon sambi ini // saya beri nama // Kecacil namanya // seperti pertengkaran anak kecil // demit banyak tingkah // berebut kebenran mengadu ilmu // masalah rusaknya tanah.
39.
Susahe janma lan demit // sun suwun marang Rabana // woh sambi loro karyane // dadya asem dagingira // wijine metu lenga // asem semon ulat kecut // demit padu lan manusa.

Dan masalah kesengsaraan penduduk serta demit // saya mohon kepada Tuhan // Buah pohon sambi akan menjadi dua // asam rasanya // bijinya mengeluarkan minyak // Asam bermakna sindiran sikap cemberut // demit bertengkar dengan manusia.
40.
Tegese lenga puniki // demit mleleng janma lunga // dadiya seksi ing tembe // yen sira padu lan Igwang // katelah prapteng mangkya // woh sambi cacil ranipun // Sang Wiku malih ngandika.

Arti minyak adalah // demit mleleng jalma pergi // yang menjadi saksi di belakang hari // jika kamu bertengkar dengan saya // terkenal sampai sekarang // Buah pohon sambi bernama Cacil // Sang Sunan berkata lagi.
41.
De gon  sun ketemu iki // kang lor aran desa Singkal // ing kene Desa ing Sumbre // dene nggone wadyanira // kang ana kidul ika //  Kawanguran aranipun // Sunan Benang sigra mesat.

Tempat pertemuan ini // sebelah utara saya beri nama Desa Singkal // di sini saya beri nama Desa Sombre // sedang tempat pasukanmu // yang berada di selatan itu // saya beri nama Desa Kawanguran // Sunan Benang segera berangkat.
42.
Malumpat mring wetan kali // katelah prapta samangkya // tanah Kuta Gedah kene // ana desa Kawanguran // Sumbre lawan ing Singkal // tegese Wanguran weruh // Singkal sekel nemu akal.

Melompat ke seberang timur sungai // terkenal sampai sekarang // di Wilayah Kota Gedah // ada Desa yang bernama Kawanguran // Sumbre dan desa Singkal // arti kata Wanguran adalah mengetahui // Singkal berarti  terjepit/tertekan menemukan akal.
43.
Butalocaya nututi // tindakira Sunan Benang // ing Desa Bogem jujuge // hamriksani reca Buda // sirah dwi badan juga // neng ngisor wreksa trenggulun // woh nedeng mateng gelasah.

Butalocaya menyusul // kepergian Sunan Benang // menuju ke Desa Bogem // melihat arca Buda // berkepala dua satu badan // di bawah pohon trenggulun // yang sedang berbuah lebat berjatuhan dan berserakan.
44.
Suna benang ngasta Kudi // das reca buta sinempal // Butalocaya ngling songol // punika iyasanira // Sang Prabu Jayabaya // kinarya pralamangipun // tekade Janma estri Jawa.

Sunan benang memegang Kudi (golok berbentuk mirip gambar wayang yang bernama Bagong) // Kepala arca di potong // Butalocaya berkata sengol // itu buatan // Sang Raja jayabaya // sebagai lambang // jalan pemikiran wanita Jawa.
45
Benjang alam Nungsa Srenggi // sinten janma ningalana // mring raca niku wujude // anulia sami wuninga // tekatira wanita // tanah Jawa iku besuk, angandika Sunan Benang.

Besok alam Nusantara // siapa saja yang melihat // ujud arca tersebut // barulah akan paham // begitulah jalan pikiran wanita // tanah jawa yang akan datang // berkatalah Sunan Benang.
46.
Sira iku bangsa demit // wani padu lan manungsa // demit kumentus arane // nahuri Butalocaya // inggih kaot punapa // dika Sunan kula Ratu // angandika Sunan Benang.

Kamu itu bangsa Jin // berani membantah manusia // Demit bergaya pintar namanya // menjawablah Butalocaya // kan tidak ada salahnya // engkau Sunan Saya Raja Jin // berkatalah Sunan Benang.
47.
Woh kayu trenggulun ini // saiki sun wehi aran // kentos mungguh ing perlune // dadya saksining sun wuntat // yen ingsun kekerengan// lan demit ingkang kumentus // prakara rusaking praja.

Buah pohon Trenggulun ini // sekarang saya beri nama // Kentos yang artinya // menjadi saksi di masa yang akan datang // bahwa saya bertengkar kata-kata // dengan demit yang sok pintar // tentang rusaknya negara.
48.
Katelah prapta samangkin // wit trenggulun ewohira // pinuka kentos arane // awit saking sabdanira // Kanjeng Sinuwun Benang // punika pituturipun  // rahadyan Budi sung karya.

Dikenal sampai sekrang // pohon trenggulun buahnya // bernama kentos // oleh sabdanya // Sunan Benang// itulah ceritanya // Raden Budi yang memberitahukan.
49.
Sigra tindak sang Ngayogi // mangaler ing wayah ngasar // pan arsa shalat karsane // ana sumur jawi desa // tan ana timbanira // ginolingaken kang sumur // ngambil wulu lajeng shalat.

Segera berangkalah sang Sunan // ke arah utara di waktu Ashar // karena akan menjalankan Shalat // ada sebuah sumur di luar desa // tidak ada timbanya // digulingkanlah sumur tersebut // kemudian mengambil air wudhu terus Shalat.
50.
Katelah prapta samangkin // sumur iku ing ngaranan // sumur gumuling kaprahe // Sunan Benang kang golingna // iku pituturira // Radyan Budi guruku // embuh bener luputira.

Dikenal sampai sekarang // sumur tersebut diberi nama // sumur terguling dikenalnya // Sunan Benang yang menggulingkannya // itulah ceritanya // Dari suara Budi guruku // entah benar dan salahnya.
51.
Lajeng tindaknya Sang Yogi // Desa Nyahen sampun prapta // miyat reca buto wadon // neng ngiosring wreksa dadap // nedheng kembang wohira // tibeng kanan keringipun // ing reca Buta baranang.

Kemudian Sang Sunan melanjutkan perjalanan // dan sampailan di Desa Nyahen // terlihatlah sebuah arca raksasa perempuan // yang berada di bawah pohon dadap // yang sedang berbunga dan berbuah // jatuh di sebelah kanan kirinya // dari arca raksasa perempuan tersebut.
52.
Sunan Benang aningali // ing wujud reca Buta // eram dene sing agede // madhep ngulon njengkang lenggah // nembelas kaki inggilnya // ubenge bangkekaniun // sadasa kaki tan kurang.

Sunan Benang melihat // ujud dari arca Buta tersebut // heran karena teramat besarnya // menghadap ke barat duduknya // enambelas kaki tingginya // lingkar pinggangnya // sepuluh kaki tidak kurang.
53.
Pama den elih unggyaning // wong hastha tus tan kuwawa // yen ora lawan prantine // sinempal bahune kanan // bathukira kerowak // Ki Butalocaya muwus // paduka nyata dahwenan.

Andaikan dipindah tempatnya // oleh delapan ratus orang tidak akan kuat // jika tidak menggunakan alat // dipatahkanlah salah satu tangannya // dibuatlah luka di dahinya // Ki Butalocaya menegurnya // Engkau memang orang sirik.
54.
Reca buta becik-becik // rinusak tanpa prakara // saniki awon warnine // ing nguni iyasanira // Sang Prabu Jayabaya // lan punapa asilipun // paduka ngrusak gupala.

Arca buta yang bagus // kau rusak tanpa sebab // sekarang jadi buruklah rupanya // dahulu itu adalah buatan // Sang Prabu Jayabaya // dan apakah untungnya // Paduka merusak arca tersebut.
55.
Sunan Benang ngandika ris // mulane iki sun rusak // jwa pindundi ing wong akeh // senajenan kinutukan // yen wong muji brahala // tetep aran kapir kupur // sasar lahir batinira.

Sunan pelan berkata // mengapa ini saya rusak // agar tidak dihormati orang gbanyak // di beri sesajen dan bakar dupa // apabila orang mengagungkan arca // tetap disebut orang kafir kufur // tersesat lahir batinnya.
56.
Ki Butalocaya angling // Janma Jawa wus uninga // yen reca Jawa wujude // datan adarbe kuwasa // sanes lata walhuja // mila ing ngurmatan iku // sinajenan kinutugan.

Ki Butalocaya termangu // Orang Jawa telah paham // bahwa sebuah arca di Jawa // tidak akan mempunyai kuasa // bukan lata walhujwa // mengapa di hormati dan // diberi sajen dan di bakari Dupa itu dengan maksud.
57.
Supados sadaya demit // sampun manggen siti wreksa // punika medal hasile / dados tedaning manusa // mila sinung panggenan // kinen manggen reca wahu // wus manggen wonten gupala.

Agar semua demit di wilayah itu // tidak bertempat tinggal di tanah, sawah dan tegalan // yang menghasilkan // yang hasilnya akan dimakan manusia // makanya tempat arca itu angker // agar supaya demit bertempt tinggal di arca batu tersebut // setelah bertempat tinggal di arca.
58.
Paduka tundung mring pundi // wus wajibe brekasakan // reca guwa panggonane // ganda arum kang tinedha // sarira seger  sumyah // yen wus manggon reca wau // gon kiwa neng ngandap wreksa.

Engkau usir kemana // sudah seharusnya jin brekasakan // arca dan gua sebagai tempat tinggalnya // di sebelah kiri di bagian bawah arca tersebut.
59.
Samar ayom sepi resik // senenging manah kalintang // wus ngraos sanes alame // demit kelawan manusa // mila sumingkir ngiwa // sampun manggen reca kayu // paduka gendak sikara.

Terlindung, sejuk, sepi dan bersih // betapa senang hatinya // telah merasa bahwa beda alam // antara Jin dan manusia // makanya menyingkir ke sebelah kiri // setelah bertempat tinggal di arca dan pohon // engkau ganggu.
60.
Tetep paduka wong jail // siya samining tumitah // sami makhluking Hyang Manon // aluwung manusa Jawa // ngurmati wujud reca // kang ginambar waunipun // pantes simpen budi hawa.

Tetap engkau termasuk orang jahil/usil // menyia-nyiakan sesama  makhluk // sama-sama makhluk Tuhan // lebih baik sikap orang Jawa // merawat sebuah arca // yang digambar sebelumnya // pantaslah orang jawa menyimpan Budi pekerti hawa.
61.
Wangsul tiyang bangsa Ngarbi // sami sujud Ka’bat ollah // tugu sela ing wujude // niku langkung saking sasar // Sunan Benang ngandika // Kakbah ollah Mekkah iku // Nabi Brahim ingkang yasa.

Kembali kepada orang Arab // bersujud kepada Ka’bah Allah // tugu batu bentuknya // itu lebih dari sesat  (Jangan salah Tafsir – jika belum paham carilah ilmunya. Pen) // Sunan Benang menjelaskan // Ka’bah Allah di Mekkah itu // Nabi Ibrahim yang membuatnya.
62.
Hingkono pusering bumi // sinung tanda tugu sela // sinujudan ing wong akeh // sapa sujud Kahbat ollah // Allah paringg ngapura // luputira kabeh kang wus // Butalocaya atanya.

Disitulah pusat bumi // diberi tanda tugu dari batu // tempat arah sujud orang banyak // siapa saja yang bersujud di ka’batullah // Allah akan memberi ampunan // atas segala kesalahannya // Butalocaya bertanya.
63.
Niku tandane punapi // yen angsal sih pangapura // sadaya kaluputane // napa tampi tanda tanda hasta // serat mawi cap reta // saking pangeran kang Agung // angandika Sunan Benang.

Apah ujud dan tandanya // jika mendapatkan ampunan // segala kesalahannya // apa akan menerima tanda tangan // surat dengan bercap reta // dari Tuhan Yang Agung // berkatalah Sunan Benang.
64.
Kang kasebut kitab mami // yen mati antuk kamulyan // Ki Butalocaya bekos // pejah malih yen angsala // kamulyan kang sanyata // wonten donya sampun korut // sasar nembah tugu sela.

Itu yngang disebut di dalam kitab ku // jika meninggal mendapat kemuliaan // Ki Butalocaya menggeram // Setelah meninggal dunia pun tidak akan mendapatkan // Kemuliaan yang nyata // sedang masih di dunia telah keliru // menyembah tugu dari batu.
65.
Yen wus nrima nembah Curi // sae minggah kelud harga // kathah sela ageng sae // iyasanireng Pangeran // samya wujud pribadya // medal saking ing sabda Kun // iku wajib sinujudan.

Jika hanya menyembah batu // lebih baik naik saja ke puncak gunung Kelud // banyak batu besar yang bagus-bagus // buatan Tuhan // terbentuk dengan sendirinya // tercipta dari sabda KUN // itulah yang seharusnya yang kau sujudi.
66.
Dawuhing Hyang Maha Luwih // sadaya manusa dunya // wikanana mring Betolahe // apan raganing manusa // betolah kang sanyata // prau yasaning Hyang Agung // wajib rineksa jinaga.

Perintah Yang Maha Segalanya // manusia di seluruh dunia // Pahamilah tentang Baitullah // di dalam raga manusia // Baitullah yang sebenarnya // Perahu ciptaan Yang Maha Agung // wajib dirawat di jaga.
67.
Sinten wruh asaling diri // wikan budi hawanira // gih punika tuladane // nadyan shalat ratri siang // yen nganggo raga gelap // kawruhira sasar susur // kasasar nembah mring sela.

Siapapun yang paham asal diri // memahami Budi dan hawa nafsunya // itulah tauladannya // Walau shalat siang malam // jika menggunakan raga gelap // ilmunya tersesat jauh // tersesat menyambah batu.
68.
Tugu iyasaning Nabi // Nabi niku gih manusa // kawulanira Hyang Manon // pinaringan wahyu nyata // wignya sugih engetan // sidik paningale terus // weruh sakdurung winarah.

Tugu buatan Nabi // Nabi juga manusia // Makhluk Tuhan // di anugerahi Wahyu Tuhan // pandai kaya pemikiran // tejam mata hatinya dan juga // mengetahui sesutu yang belum terjadi.
69.
Kang yasa reca puniki // Maha Prabu Jayabaya // inggih kakasih Hyang Manon // pinaringan wahyu mulya // wignya sugih engetan // sidik paningale terus // weruh sakdurung winarah.

Yang membuat arca tersebut // Maha Prabu Jayabaya // Juga kekasih Tuhan // mendapat anugerah wahyu utama // pandai kaya pemikiran // tajam matahatinya dan juga // mengetahui sesuatu yang beum terjadi.
70.
Paduka pathokan tulis // wong Jawa patokan sastra // batuwah luri luhure // sami anyungkemi kabar // muhung ta nyungkemana // kabar tulis luri luhur // tulise kenging pinriksa.

Engkau berpedoman pada tulisan // Orang Jawa berpatokan ilmu nyata // petuah menurut leluhur // sama sama mempercayai cerita // walau patuh pada // kabar yang tertulis dan kabar dari para leluhur // tulisannya bisa dilihat.
71.
Wong nyungkemi kabar Ngarbi // tan wruh wujude ing ngrika // embuh dora embuh yektos // gega ujare wong nglompra // mila tuwan Ngajawa // adol umuk sade kawruh // mulyane nagari Ngarab.

Oran yang percaya kabar budaya Arab // tidak melihat ujud yang sebenarnya di sana // entah dusta ataupun nyata // percaya cerita para pengembara // makanya Tuan pergi ke Tanah Jawa // menjual cerita menjual ilmu // kebaikan tentang budaya Arab.
72.
Dene kawula udani // wujude nagari Mekkah // manusane arang cewok // tanah padas awis toya // tanem tuwuh tan medal // panas benter awis jawah // wong kang budi akhli nalar.

Sakerang saya beri tahu // gambaran tentang Mekkah // orangnya jarang cebok // tanahnya padas  sulit air // tanaman sulit hidup // berhawa panas jarang hujan // orang yang ahli Budi ahli nalar.
73.
Mastani Mekkah nagari // kenging musibating Allah // nagri cilaka arane // wonge nebut siya-siya // marang asmaning Allah // katah sade bangsanipun // kinarya rencang tumbasan.

Mengatakan bahwa tanah Arab // mendapat musibating Allah //  tanah celaka sebutannya // orang nya menyebut sia-sia // hanya sebatas menyebut  Asma Allah // Banyak yang menjual bangsanya sendiri // sebagai barang yang bisa diperjual belikan.
74.
Jinamah datanpa kawin // pinadaken sato kewan // ingkang sanes agamane // tan enget sami manusa // sami turuning Adam // paduka kesah den gupuh // paduka tiyang duraka.

Dijamah tanpa nikah // disamakan dengan hewan // yang berbeda Agamanya // tidak ingat  bahwa sama-sama manusia // sama-sama  keturunan Adam // Segeralah engkau pergi // Paduka orang Durhaka.
75.
Nagri Tanah Jawi ngriki // nagari kang sukci mulya // madya asrep lan panase // tanah pasir mirah toya // barang tinanem dadya // jaler bagus estri ayu // madya luwes kang wicara.

Negeri Tanah jawa di sini // Negeri yang suci mulia // berhawa sedang dingin dan panasnya // bertanah berpasir banyak mengandung air // segala yang di tanam tumbuh // Pria tampan wanita cantik // halus dan ramah ketika bicara.
76.
Rembag paduka puniki // dede rembaging sarjana // rembage wong thethe hore // pracaya kang nora nyata // yen Tuan arsa wikan // tengahing jagad satuhu // ing ngriki gen kula lenggah.

Omongan paduka itu // Bukan omongan sarjana // omongan orang rendahan // meyakini yang tidak nyata // jika Tuan ingin mengetahui // Puser jagad sesungguhnya // di sinilah tempat saya duduk.
77.
Paduka ukur samangkin // yen cidra rembag kawula // kawula sampeyan jotos // rembag Paduka kasasar // tanda yen kirang nalar // kirang neda budi kawruh // aremen siya sikara.

Silahkan Paduku ukur sekarang // jika bohong kata-kata saya // saya kamu pukul // Omongan Paduka itu salah // menunjukan bahwa kurang pemikiran // kurang memahami Budi dan Ilmu // sehingga senang menganiaya.
78.
Kang yasa reca puniki // Maha Prabu Jayabaya // langkung tuwan digdayane // paduka mangsa sageda // ngepal langkahing jagad. (jaman) // paduka kesah den gupuh // yen tan kesah sapunika.

Yang membuat arca ini // Maha Prabu Jayabaya // Melebihi Tuan kesaktiannya // Paduka tidak bakalan bisa // menghentikan perputaran jaman // Paduka segeralah pergi // jika tidak pergi sekarang juga.
79.
Sun undangken ari mami // Tunggulwulung Kelud Arga // paduka kawula kroyok // paduka mangsa meenanga // anunten kula bekta // mlebet kawah redi Kelut // sayekti paduka susah.

Saya akan panggilkan adik saya // Tunggulwulung di Gunung Kelud // Paduka saya keroyok // Padaka tidak bakalan menang // kemudian paduka akan saya bawa // masuk kedalam kawah Gunung Kelud  // pasti Paduka sengsara.
80.
Napa Paduka kepengin // manggen sela kados kula // sumangga mring Selabale // dadosa murid kawula // Sunan Benang ngandika // tan nedya nurut rembugmu // sira setan brekasakan.

Apakah Paduka menginginkan // Bertempat tingga di batu seperti saya // silahkan pergi ke Selabale // menjadi murid saya // Sunan Benang berkata // tidak bakalan saya mengikuti akata-katamu // kamu setan brekasakan.
81.
Sanadyan kawula demit // taksih pangkat demit Raja // langgeng mulya salamine // paduka dereng kantenan // yen mulya lir kawula // yen tekad paduka rusuh // aremen siya sikara.

Walau pun hamba Jin // masih pangkat Jin Raja // langgeng hidup selamanya // Paduka belum tentu // Mulia seperti hamba // Jika tindakan Paduka kotor // senang menyiksa.
82.
Mila paduka ngejawi // wonten ngarab sanget nakal // dadya karan tiyang awon // yen Tuwan nayaka mulya // mokal kesah sing praja // mila oncat saking Ngarbun // wus pasti salah lan raja.

Makanya Paduka pergi ke Jawa // karena di Arab sangat nakal // sehingga dituduh orang sebagai jahat // Jika Tuan Pejabat tinggi // tidak mungkin meninggalkan kerajaan // Makanya meninggalkan Arab // pastilah punya salah terhadap Raja.
83.
Tandane wonten ing ngriki // Tuan taksih ngulondara // mahosi adating uwong // angaru biru agama // damel risaking tanah // mahoni rupa wus bagus // kasebut angger-angger.

Buktinya di sini // Tuan masih mengembara // merubah kebiasan orang // mencampuri Agama // membuatan kerusakan wilayah // merusak ujud yang sudah bagus // Tersebut dalam Undang-Undang.
84.
Wong maoni wangun becik // lan karya risaking tanah // maoni adating wong // agama luluhur kuna // wajib Ratu aniksa // binuwang dateng Menadu // ngandika Sinuhun Benang.

Orang mengubah ujud yang sudah baik // dan membuat kerusakan tanah // merobah adat budaya orang lain // Agama leluhur kuna // hukumnya Wajib raja untuk menyiksanya // di buang ke Menado // berkatalah Sunan Benang.
85.
Woh kembange dadap iki // saiki sun wehi aran // kembange celung arane // aran ledung uwohira // ingsun kacelung nalar // kalawan katladung rembug // dadya saksinipun wuntat.

Buah dan bunga pohon dadap ini// sekrang saya beri nama // Bunga Celung namanya // Ledung nama buahnya // Ingsun kalah nalar // dan juga dibantah kata // jadilah saksi di belakang hari.
86.
Sun padu lan ratu demit // kalah kawruh kalah nalar // katelah prapta samangke // woh dadap kledung ranira // kacelung kembangira // Sang Wiku malih nabda rum // sun pamit mulih maring Benang.

Saya berbantahan dengan demit // kalah ilmu kalah nalar // dikenal sampai sekarang // nama buah dadap adalah Kledung // Celung nama bunganya // Sunan Benang kemudian pelan berkata // saya ijin pulang ke Benang.
87.
Paduka kesah den aglis // akarya sangaring kisma // yen dangu-dangu neng kene // akarya susahing kathah // anarik larang pangan // panas benter awis jawah // Sunan Benang sigra mentar.

Paduka, segeralah pergi // akan sangarnya kisma // jika terlalu lama di sini // akan membuat banyak orang susah // dan menyebabkan mahalnya bahan makanan // membuat hawa panas dan jarang hujan  // Sunan Benang segera berangkat .
88.
Ki Butalocaya mulih // wadyane kinen bubaran // yata ganti winiraos // nagari ing Majalengka // Sang Prabu Brawijaya // enjing siniweng wadya gung // balabar lir gula drawa.

Ki Butalocaya pulang // pasukan dibubarkan // kemudian gantilah yang diceritakan // Di negeri Majapahit // Sang Prabu Brawijaya // suatu pagi di hadap para punggawa kerajaan // membelabar  bagaikan Gula Jawa.

iii.             DHANDHANGGULA
EEdit : Pujo Prayitno
1.
Patih Gajahmada awot sari // duh pukulun kawula tur wikan// pun patik tampi serate // Abdi Tuan Temenggung// Kertasana atur upekti // Nagari Kertasana // asat lepenipun // kang saking Kediri pejah //  nimpang ngetan salering kota Kediri // kenging ing sabdanira.

Patih gajahmana memberi kabar // Wahai paduka raja, hamba menyapaikan kabar // Hamba selaku Patih  telah menerima surat // dari Abdi Tuan Tumenggung // Kertasana,, mengabarkan // bahwa di wilayah Kertasana // sungainya kering // sungai yang dari kediri mati // Sungai menyimpang ke timur dari sebelah Utara Kota Kediri // karena terkena sabdanya.
2.
Sunan Benang Ngulama ing Tuban // pinten-pinten dusun karisakan // sampun katur sadayane // lir kang kasebut ngayun // langkung duka Sri Narapati // Ki Patih Gajahmada // ing ngagnya lumaku // amriksa mring Keratsana // anitiya wadya lit asiling bumi // kang risak dening toya.

Suna Benag Ulama dari tubab // banyak dusun menjadi rusak // dan telah disampaikan semuanya // seperti tersebut di depan // Sangat murkanya Sang Raja // Ki Patih Gajahmada // segerlah berangkat // lihatlah daerah Kertasana // berilah rakyat kecil hasil bumi // yang rusak karena banjir.
3.
Sunan Benang kinen animbali // tan alami praptaning caraka // Ki Gajahmada ature // estu leres pukulun // Kertasana kasatan warih // duta kang saking Tuban // manembah umatur // Pukulun Ngulami Benang // tan pinanggih nuju kesah saking panti // tan wikan purug ira.

Sunan Benang disuruhnya untuk dipanggil // tidak berapa lama sampailah utusan // Ki Gajahmada menyampaikan laporan // sungguh benarlah tuan Raja // Kertasana kehabisan air // Utusan  yang di di utus pergi ke Tuban // datang menyembah menyampaikan kabar // Wahai Sang Raja  Ulama di Benang // tidak hamba ketemukan, karena sedang bepergian  // tidak ada yang mengetahui ke mana perginya.
4.
Angandika Nata esmu runtik // iku Patih pra Ngulama Ngarab // nora lamba ing karepe // wiku ndong aranipun // putih jaba jerone kuning // nora marem dedekah // neres ringin kurung // Heh patih sira tundunga // Bangasa Ngarab kang aneng pulo Jawi // mundak ngribeti praja.

Berkatalah sang Raja dengan setengah marah // Wahai Patih para Ulama Arab // tidak jujur kehendaknya // Wiku ndong sebutannya // putih di luar di dalamnya kuning  // tidak puas dedekah // neres pohon beringin kurung // Wahai patih kamu usirlah // Bangsa Arab yang berada di Tanah Jawa // biar tidak membuat kerusakan negara.
5.
Amung Demak lawan Ngampel Gading // sun lilani aneng tanah Jawa // nglestarekna Agamane // liyane loro iku // lah ulihna asale lami // lamun tan arsa lunga // pukulen ing pupuh // matur Patih Gajahmada // inggih leres ing karsa paduka Gusti // Ngulama Giripura.

Hanya di Demak dan Ngampel Gading // yang saya ijinkan tetap berada di Tanah Jawa // melestarikan Agamanya // selain dari dua daerah itu // kembalikanlah ke asal mulanya // jika tidak mau pergi // pukulah dengan perang // Berkatalah Gajahmada // Sangatlah tepat perintah peduka // Ulama Kerajaan Giri .
6.
Tigang warsa tan sowan  Sang Haji // boten asok ubektining praja // nedya rerempon ciptane // tan ngrasa ngising nguyuh // nginum neda teng Tanah Jawi // lan malih namanira // Santri Giri iku // ngungkuli Asma Paduka // apaparab Suhunan Ngahenal Yakin // puniku tembung arab.

Tiga tahun tidak datang menghadap Sang Haji // Tidak memberikan upeti sebagai tanda bakti // sengaja rerempon ciptnya // Tidak merasa bahwa mereka  berak kencing// minum, makan di Tanah Jawa // dan juga yang namanya // Santri di Giri itu // melebih Asma Paduka // berjuluk Susuhunan Ngainal Yakin //  itu Bahasa Arab.
7.
Jawanipun Sunan hiku Budi // Jarwanipun Ngahenal makripat // yakin wikan weruh dhewe // nama tingal kang terus // surasane ing tembung Jawi // nama Prabu Satmata // niku asma luhur // nglangkungi asma Paduka // Ngirb-ngirib tingale Hyang Maha Sukci // wikan tan kasamaran.

Bahasa Jawanya, Sunan itu Budi // Arti ‘Ainal itu Ma’rifat // Yakin itu mengetahui dengan sendirinya // Nama melihat yang terus // jika diterjemahkan kedalam Bahasa jawa // Bernama Prabu Satmata // itu nama luhur // melebihi Asma paduka // Meniru-niru Maha Tahunya Yang Maha Suci // Mengetahui atas segala sesuatu.
8.
Ngalam donya boten wonten kalih // ingkang asma Sang Prabu Satmata // mung Bathara Wisnu dewe // kala jumeneng Ratu // wonten Medang Kasapta nagri // ngandika Sri Narendra // pukulen prang pupuh // Ki Patih matur sandika // sigra budal kalawan angirit baris // gepuk ing Giri Pura.

Di dunia tidak ada dua // yang bernama Sang Prabu Satmata // Hanya Bathara Wisnu sendiri // Ketika menjadi Ratu // Di Medang Kasapta Negri // berkatalah Sri Narendra // hantamlah dengan perang // Ki patih berkata akan dilaksanakan // Segeralah berangkatlah sang patih  dengan membawa pasukan // untuk menyerbu Kerajaan Giri.
9.
Bubar giris wadyabala Giri // tan kawawa lumawan ngayuda // Ki Gajahmada pamuke // Sunan Giri lumayu // marang Benang  panggih Sang Yogi // aminta kekuatan // lumawan prang pupuh // nadahi wong Majalengka // tan cinatur prangira wong Majapahit // lawan ing Giri pura .

Bubar ketakutan pasukan Giri // tidak kuat melawan perang // menghdapi amukan Gajahmada // Sunan Giri mengungsi // ke Benang bertemu dengan Sunan Benang // memohon bantuan // untuk melawan perang // menghadapi pasukan Majapahit // tidak diceritakan perang antara Majapahit // melawan pasukan Giri.
10.
Sampun kocap babat Majapahit // Anggitira pujangga ing kuna // amrih gancar caritane // ing wektu mangsa iku // Tanah Jawa wus meh sepalih // ngrasuk Agama Islam // Pasisir sadarum // iring lor sa’urutira // lan tengahan ing kidul maksih netepi / Agama Budi Hawa.

Telah tertuang di Serat Babat Majapahit // Buatan Pujangga jaman dahulu // Agar mudah dalam mengurai ceritanya // pada masa itu // Tanah jawa hampir separuh // telah memeluk Agama Islam // di semua wilayah pesisir // Pesisir sebelah utara seurutnya // Sedangkan Pulau Jawa bagian Tengah dan Selatan  masih tetap // Agama Hakikat Budi Hawa.
11.
Pan sinigeg crita Majapahit // Sunan Benang wus rumangsa lepat // antuk nata dudukane // tan harsa kendel dangu // aneng wisma numpak palwa glis // lan Sunan Giripura// mring Demak wus pangguh // lan Hadipati Bintara // pan ing ngebang wruhanira ki Dipati // iki tekaning mangsa.

Sampai di sini dipotonglah cerita Majapahit // Sunan benang telah menyadari kesalahannya // mendapat amarah Raja // tidak mau berlama-lama // berada di rumah // segera naik perahu // bersama dengan Sunan Giri // menuju ke Demak dan bertemulah // dengan Adipati Bintara // Kemudian memberi masukan dengan mengatakan // Ketahuilah wahai Ki Dipati Demak Bintoro // saat sekaranglah telah sampai pada waktunya.
12.
Risakira Nagri Majapahit // umurira satus tigang warsa // saka panawangku kene // kang kelar dadi Ratu // mengku ing Rat sa-Tanah Jawi // genteni Ramanira // kapraboning Ratu // mung sira iku kang kelar // awit saking karsaning Hyang Maha Luwih // semengko rembug ingwang.

Hancurnya Kerajaan Majapahit // umurnya seratus tiga tahun // dari penerawanganku bahwa // Yang kuat menjadi Ratu // menguasai seluruh Tanah Jawa // menggantikan Ayahmu // untuk menjadi raja // hanya kamulah yang kuat // sebab sudah menjadi kehendak Tuhan // sekarang pendapat saya.
13.
Lah rusaken Nagri Majapahit // lawan alus demit ingkang samar // awja kawentar ing ngakeh // sowana Bakda Mulut // rumantiya sikeping jurit // sawadyabalanira // pra Sunan sadarum // miwah sagunging Dipatya // bawahira kang wus manjing ing Islami // kumpulan aneng Demak.

Hancurkan kerajaan Majapahit // dengan cara halus dengan cara diam-diam menyusup dan menyamar // dengan rahasia jangan sampai ketahuan // menyusup dengan membawa perlengkapan perang // seluruh pasukanmu // dan seluruh para Sunan // beserta seluruh Adipati // bawahanmu yang telah memeluk Agama Islam // Kumpullkan dulu di Demak.
14.
Samudana ngadekake Masjid // yen wus kumpul sun kang aweh nalar // marang para Sunan kabeh // miwah para Tumenggung // kang wus salin  Gama Ngarabi // sayekti nurut mring wang // pra Sunan sadarum // umatur Sang Adipatya // ulun ajrih ngrisak Nagri Majapahit // mungsuh Bapa tur Nata.

Samarkan dengan alasan mendirikan Masjid // jika telah berkumpul saya yang akan menjelaskan // kepada semua Sunan // dan juga kepada para Tumenggung // yang telah berganti Agama Syariat // pasti akan menuruti apa kata saya // semua para Sunan // Menjawablah Sang Adipati Bintoro // Saya takut menyerang Majapahit // Memusuhi ayah dan juga Raja.
15.
Kaping tiganipun ambeciki // sung nugraha kamukten neng donya // punapa sun walesake // mung setya tuhu ulun // dawuhipun suwargi // Kyai Susuhunan Ngampel Denta // tan parenga mungsuh // mring Rama sanadyan Buda // pan punika jalaran ulun dumadi // wujud gesang punika.

Yang ke tiga telah berbuak baik // memberi nugraha dan kebahagiaan hidup di dunia // apa yang seharusnya hamba lakukan // Hanya patuh dan setia hamba // Nasihat almarhum // Kyai Sunan Ampel // tidak boleh memusuhi // Orang tua sendiri walau beragama Buda // karena beliau sebagai sebab hamba menjadi ada // berujud hidup di dunia ini.
16.
Buda kapir kapire pribadi // nama Bapa wajib linuhurna // lan dereng wonten lepate // Kanjeng rama mring ulun // Sunan Benang ngandika aris // sanadyan mungsuh Bapa // mbeciki lan Ratu // nora ana walatira // ngrusak kapir Buda kawak sira manggih // ganjaran swarga mulya.

Buda kafir, kafirnya pribadi // Yang namanya orang tua wajib dijunjung tinggi // dan juga tidak ada kesalahannya // Ayah hamba terhadap hamba // Sunan Benang pelan berkata // Meski memusuhi orang tua // mengganti seorang raja dengan yang lebih baik // tidak ada walatnya // menghancurkan Buda kafir tuwa engkau akan mendapatkan // ganjaran surga mulya.
17.
Sunan Ngapel iku santri miri // gundul bentul budeng tan wruh nalar // mung jago godogan bae // sapira kawruhipun // Sayit Rakhmat ing Ngampel Gading // bocah lahiran Cempa // tan padha lan ingsun // Sayit kramat Sunan Benang // tedak Rasul kang pinuji wong sak bumi // panutane wong Islam.

Sunan Ampel itu Santri miri // Gundul bentul budeng tidak paham nalar // hanya jago godogan saja // seberapalah ilmunya // Sayit Rakhmat di Ampel Gading // anak kelahiran Cempa // tidak sama dengan ingsun // Sayit Kramat Sunan Benang // Keturunan Rasul yang di hormati manusia seluruh bumi // Rasul sebagai panutan orang Islam.
18.
Sira mungsuh Ramanira Aji // nadyan dosa-dosa wong sajuga // tur tuwa kapir wujude // yen kalah Bapakmu // sayektine wong tanah Jawi // samya Islam sadaya // sapira begjamu // nugrahanireng Pangeran // tikel ping mbuh sihing Hyang kang Maha Sukci // kang tumiba mring sira.

Engkau melawan orang tuamu raja // meski dosa.. hanya dosa satu orang saja // dan sudah tua, kafir keadaannya // Jika ayahmu kalah // sesungguhnya orang Tanah Jawa // akan menjadi Islam semua // Betapa besar untungmu // mendapatkan anugrah Tuhan //  berkali lipat tak terhitung jumlahnya  atas anugrah dari Yang Maha Suci // yang akan kau dapatkan.
19.
Satemene Rama nira Aji // luwih siya putu marang sira // ingkang dadi pratandane // sira pinaring juluk // aran babah iku tan becik // tegesa  aran babah // iku aran saru // bage mati mage gesang // wiji Jawi ginawa  mring cina putri // mulane ibunira.

Sesungguhnya orang tuamu raja // telah menyia-nyiakan dirimu // sebagai tandanya tandanya // kau di beri julukan // sebutan Babah itu tidak baik // arti kata Babah // itu sebutan tidak sopan // entah mati entah hidup // biji dari jawa berada di dalam putri cina // makanya ibumu.
20.
Pinaringken Palembang Dipati // Arya Damar wong Prambanan buta // amegat sih sayektine // tetep galih tan ayu // ramanira Sri Narapati // mulane rembug ingwang // walesen lan alus // ing lahir aja katara // ing batine sesepen rahe den enting // mamahen balungira.

Dikasihkan kepada Adipati Palembang // Arya Damar yang berasal dari Prambanan buta // sesungguhnya memutus cinta // tetap tidak baik // orang tuamu Raja // makanya pendapat ku // balaslah denga halus // tata lahir jangan nampak // dalam batin hisaplah darahnya sampai habis // kunyahlah tulangnya.
21.
Sunan Giri anambungi angling // ingsun iki putu linurugan // mring ramanta utusane // tan ana dosaningsun // ingaranan reraton mami // sebab tan arsa seba // marang Majalangu // sumbare si Gajahmada // yen kacandak ingsun arsa den kuciri // lan kinen guyang sona.

Sunan Giri menambahi pendapat // saya ini wahai cucu di serang // oleh utusan oang tuamu // padahal tidak ada kesalahanku // dituduh bahwa kerajaanku // hanya sebab tidak mau menghadap // ke kerajaan Majapahit // sumbarnya Gajahmada // jika tertangkap saya akan dikuciri // dan juga disuruh memandikan anjing.
22.
Lan sakehe santriningsun sami // akeh cina kang samya ngajawa // neng Giri sun Islamake // kang muni kitab ingsun // yen Wong Islam ngislamaken kapir // yekti tampa ganjaran // sawarga ing besuk // mulane keh bangsa cina // kang mring Giri sun Slamaken sadaya sami // sun anggep kulawarga.

Dan kebanyakan dari santriku // adalah dari cina yang pergi ke Jawa // meng-Islamkan orang kafir // menurut kitab ku // jika orang Islam meng-Islamkan orang kafir // pasti akan mendapat pahala // balasan suarga nantinya // makanya banyak orang cina // pergi ke Giri dan saya Islamkan semuanya tanpa kecuali // saya anggap sebagai keluarga.
23.
Praptaningsun kene ngungsi urip // marang sira wedi Gajahmada // lawan ramanira angger //  dene sengit kalangkung // mring wong santri kang Puji Dikir // ing ngaran lara ayan // awan sore esuk //yen sira tan ngukuhana // yekti rusak Agama Muhammad Nabi // nahuri Sang Dipatya.

Kedatanganku ke sini mengungsi mencari hidup // kepadamu karena saya takut kepada Gajahmada // dan juga kepada ayahandamu // karana mereka sangat bencinya // kepada para santri yang selalu puji dzikir // dituduh sakit ayan // siang sore pagi // jika engkau tidak jadi penguasa // pasti rusak Agama Nabi Muhammad // menjawablah sang Adipati Demak.
24.
Niku leres ingkang anglurugi // wong reraton tan ngrasa kaprenah // mring ratu kang mbawahake // wus wajibe den ukum // linurugan dipun pateni // dika boten rumangsa // mangan ngising nguyuh // wonten jroning Tanah Jawa // kang makaten punika wus datan sisip // Sunan Benang ngandika.

Itu benarlah yang menyerang mu // karena kau menjadi raja bawahan tidak merasa hormat // kepada Raja penguasa // sudah seharusnya di hukum // di serang dan dibunuh // engkau tidak merasa // makan, buang air besar dan kencing  // di Tanah Jawa // yang demikian itu tidak salah // Sunan Benang berkata.
25.
Yen ta sira rembug wektu iki // kaprabone putu ramanira // yen sira anti surude // sayekti pasrahipun // mring Dipati ing Panaraga // krana putra pangarsa // miwah putra mantu // ing Pengging Ki Dayaningrat // mangsa pasrah kaprabon mring sira kaki // de sira putra ngandap.

Jika kau bicarakan sekarang // merebut kekuasanan orang tuamu // jika kau tunggu meninggalnya // pasti akan dipasrahkan // kepada Adipati Ponorogo // Karena putra sulung // atau kepada menantunya // di Pengging yang bernama Ki Jayaningrat // tidak bakalan di serahkan kepadamu // karena dirimu anak urutan bawah.
26.
Nora wajib jumeneng Narpati // mumpung iki na lawang menga // Giri dadi jalarane // hangrusak Majalangu // nadyan mati mungsuh lan kapir // yekti tampa ganjaran // mati nemu ayu // nampani sawarga mulya // wus wajibe wong Islam mati lan kapir // nyungkemi mring Agama.

Tidak berhak menjadi raja // mumpung sekarang pintu sedang terbuka // penyerangan ke giri yang yang menjadi sebabnya // sekarang waktunya menghancurkan Majapahit // meski mati melawan kafir // pasti akan mendapat pahala // meninggal dengan mendapatkan anugerah //  mendapatkan Surga mulia // sudah seharusnya orang Islam mati melawan kafir // membela agamanya.
27.
Lawan wajibira ing ngaurip // angupaya nugraha neng donya // darajat kang luhur dewe // yen urip nora weruh // nora melik darajat lahir // lamun sipat manusa // mesti melikipun // mengku praja angreh wadya // apan ratu kalipahira Hyang Widdi // nganggo sakarsa dadya.

Dan juga kewajiban hidup // berusaha mendapatkan anugrah di dunia // derajat hidup yang paling tinggi // jika hidup tidak tau // tidak menginginkan derajat lahir // jika masih bersifat manusia biasa // pasti menginginkannya // menjadi raja menguasai rakyanya // jika menjadi raja sebagai wakil tuhan //  apapun yang diinginkannya terwujud.
28.
Satemene sira wus pinasti // dadi ratu aneng Tanah Jawa // gumanti ramanta angger // nanging tata lahiripun // kudu sandi den Ikhtiari // rinebut lawat aprang // iku saratipun // yen sira tan ikhtiara // sayektine sihing Hyang pinundut bali // sira nampik sihing Hyang.

Sesungguhnya kamu sudah digariskan // menjadi raja di Tanah Jawa // menggantikan kedudukan raja ayahanda // namun dalam tata lahir // harus disyarati dengan ikhtiar usaha // direbut dengan jalan perang // itulah syaratnya // jika tidak engkau ikhtiari // pastilah takdir tuhan akan ditarik kembali // karena engkau menolak takdir tuhan.
29.
Ingsun amung darma anjurungi // kang wus weruh sadurung winarah // sun semprong wus katon njengleh // simrawang kawruh Ingsun // nora samar ing dalem ghaib // sira ingkang katingal // sing sih Hyang Mahagung // dadi Ratu Tanah Jawa // amurwani nyalini Agama Sukci //  berat Agama Buda.

Hamba hanya sekedar mendukung // saya sudah mengetahui hal yang belum terjadi // Saya intip sudah nampak dengan jelasnya // menggunakan ilmu ku // sudah nampak jelas di dalam gaib // kaulah yang terlihat // yang mendapat anugerah Tuhan // yang menguasai Agama Suci // membuang Agama Buda.
30.
Katah-katah dawuh Sang ngayogi // ngebang-ebang marang Sang Dipatya // mamrih ngadeg kasurane // angrusak Majalangu // den misili carita Nabi // kang padha ngrusak Bapa // Kapir nemu ayu // ingsun iki wong wis tuwa // menangana adegira Narapati // paring idi mring sira.

Banyak-banyaklah yang disampaikan sang Sunan // membakar semangat sang Adipati // agar bangkit semangatnya // untuk menghancurkan Majapahit // diberilah contoh cerita Nabi // yang bertindak memusuhi ayah sendiri // yang masih kafir akan mendapatkan keselamatan // saya ini orang yang sudah tua // apabila umurku sampai dengan dinobatkannya dirimu menjadi raja // saya akan memberi restu kepada dirimu.
31.
Rahayune adegira Haji // muteringrat mengku Tanah Jawa // lestariya sabanjure // Sang Dipati umatur // yen makaten karsa Sang Yogi // kawula amung darma  // lumampah satuduh paduka kang botohan // Sunan Benang pangandikanira aris // ya iku sun karepna.

Agar selamat selama engkau menjadi raja // Raja besar yang menguasai Tanah Jawa // lestarilah seterusnya // Dan Adipati mengatakan // jika demikian kehendak sang Guru // hamba hanya sekedar // menjalankan perintah padukalah sebagai botohnya // Sunan Benang berkata lembut // Itulah yang saya harapkan.
32.
Yen wus gelem sira sun botohi // lah kirima layang  arinira // Dipati Terung den age // kang rapet tembung  halus // lah antepen arinireki // apa abot mring Nata // apa bot sadulur // tuwa tur tunggal agama // yen adimu dipati Terung ngrujuki // adegira Narendra.

Jika sudah mau kau saya botohi // buatlah surat kepada adikmu // Adipati Terung dengan segera // susunlah kalimatnya dengan halus // dan tanyakanlah kepada adikmu // apa lebih berat kepada raja // apa lebih berat saudara // saudara tua yang sama Agamanya // jika adikmu Adipati terung setuju // dirimu yang menjadi Raja.
33.
Gampang banget ngrusak Majapahit // Majalengka sapa den endelna // yen uwis balik si Kusen // si Gugur isih timur // mangsa dadak waniya getih // Gajahmada wus tuwa // wungkuk ambelengkuk // den thuthuk bae palastra // mangsa kelar nadahi yudamu kaki // sigra Sang Hadipatya.

Sangatlah mudah menghancurkan Majapahit // Majapahit siapakah yang bisa di andalkan // jika si Kusen sudah mendukung kita // Si Gugur masih kecill // tidak bakalan berani melihat darah // Gajahmada sudah terlalu tua // bungkuk // dipukul pelan saja pasti mati // tidak akan kuat menghadapi seranganmu anakku // segeralah sang Adipati.
34.
Kirim serat  mring Terung Dipati // tan alami prapta kang caraka // wus tinampen wangsulane // lan Bupati sadarum // samudana ngedegken Masjid // tan lama sami prapta // pra Sunan sadarum // miwah kang para Bupatya // pakumpulan perlu ngedegaken Masjid // sawuse  Masjid dadya.

Mengirim surat kepada Adipati Terung // tidak lama sampailah sang utusan // telah diterima balasannya // bersama dengan semua Bupati // disamarkan dengan membangun Masjid // tidak lama kemudian semuanya sudah datang // Seluruh Sunan // Seluruh Bupati // berkumpul mendirikan Masjid // setelah masjid berdiri.
35.
Para Sunan lan para Bupati // Shalat Subuh neng Masjid sadaya // sawusnya bakda Shalate // tinutup korinipun // Sunan Benang ngandika haris // lah sagung Para Sunan // Bupati sadarum // lamun rembug sira padha // Sang Dipati Bintara sun degken Haji // mengkurat Tanah Jawa.

Semua Sunan dan Bupati // menjalankan Shalat subuh di Masjid // Setelahnya Shalat // ditutuplah pintunya // Sunan Benang berkata // Wahai semua para Sunan // dan para Bupati semuanya // Jika sepakat semuanya // Sang Adipati Bintara , saya angkat menjadi raja // menguasai seluruh Tanah Jawa.
36.
Sarta mbedah kraton Majapahit // ngrusak kapir nora nemu dosa // nampani suwarga tembe // yen sira padha rembug // prayogane ing dina iki // Ki Dipati Binatara // ingsun angkat Ratu // mumpung wus kumpul sadaya // para Sunan lan sagung para Dipati // samekta saha wadya.

Serta menghancurkan Majapahit // Menghancurkan kafir tidak berdosa // akan menerima surga besuknya // jika semua sepakat // sebaiknya hari ini juga // Ki Adipati Bintara // Saya nobatkan menjadi Raja // mumpung telah berkumpul semua // seluruh Sunan dan seluruh Bupati // lengkap dengan pasukannya.
37.
Para Sunan lan para Dipati // sabiyantu jumurung ing karsa // Sunan Benang timbalane // sadaya tyasnya limut // kaya age tempuking jurit // angrusak Majalengka // anggempur karatun // yata Pangran Siti Jenar // duk miyarsa micoreng sajroning galih // lah iki tutur apa.

Semua sunan dan Bupati // sependapat dan mendukung // segala rencana Sunan Benang // Semua yang hadir pikirannya melayang // seolah-olah segera menyerbu // menghancurkan Majapahit // menyerang kerajaan // diceritakan Pangeran Sitijenar // ketika mendengar rencana tersebut hatinya menolak, dan mengatakan // Apa-apan ini.
38.
Siti Jenar sumundul turnya ris // kados pundi ing karsa paduka // dene asalah karsane // Sri Majapahit punjul // sih kawula para marta sih // ambeg ngumala retna // adil mring wadya gung // teka arsa pinrih cidra // napa mboten angsal benduning Hyang Widdi.

Sitijenar memberanikan diri menyampaikan dengan kata-kata halus // Bagimanakah kehendak paduka // Apakah kesalahan // Raja Majapahit yang mempunyai banyak kelebihan // mangasihi rakyatnya adil terhadap rakyat kecil // berjiwa mulia // adil terhadap para pembesarnya // tiba-tiba akan dihianati // apakah tidak akan mendapatkan murka Tuhan.
39.
Duk kalane praptane pra Wali // binecikan pinaringan papan // inguja ing sakarepe // tan ana aru biru // teka dadak pinrih tan becik // kawula datan rembag ing karsa Pukulun // punapa Jeng Rasulullah // kang sinebut arane Nabi sinelir // ngajani budi cidra.

Ketika datangnya para Wali // diterima dengan baik di beri tempat tinggal // di biarkan sekehndaknya // tidak pernah diganggu // tiba tiba akan dihancurkan // hamba tidak sepakat dengan rencana paduka // Apakah Kanjeng Rasul Allah // yang tersebut sebagai pemimpin para Nabi // mengajari sifat hianat.
40.
Teka anak anglanggar ing jurit // marang Bapa kapindhone Raja // ping telu angsung kamukten // napa tan panggih bendu // marang Gusti kang Maha Sukci // kapindo Rasulullah // ing pangraos hulun // Jeng Nabi nayakaningrat // dene mboten kinen ngukum tiyang becik // mring Wali lan Ngulama.

Tiba-tiba anak diajak menyerang // kepada orangtuanya sendiri, yang kedua kepada rajanya // yang ketiga telah memberi kesenangan hidup // apakah tidak akan mendapat murka // dari Gusti Yang Maha Suci // yang kedua Dari Rasulullah // menurut perasaan hamba // Kanjeng Nabi Raja diraja // tidak memerintahkan menghukum orang baik // kepada Wali dan ‘Ulama.
41.
Yen makaten ing  panugi mami // ing karsane pra wali sadaya // amung pamrih ing risake // bapa kalwan sunu // mburu kathah isine kendil // bingah yen angsal brekat // yen akeh wong lampus // mila darbe mbeg tan arja // wong weh becik wekasan binalang tai // kados karsa paduka.

Jika demikian menurut perasaanku // rencana para Wali semua // hanya menginginkan hancurnya // hubungan orang tua dengan anak // mengejar kekayaan semata // senang jika mendapatkan berkat // jika banyak orang mati // sehingga mempunyai rencana jahat // Orang yang telah memberi kebaikan dibalas denga  kotoran orang // seperti perbuatan paduka.
42.
Duk miyarsa sagungin pra Mukmin // ing wuwuse Pangran Siti Jenar // sakalangkung ing lingseme // Suna  Benang duk ngrungu // dukanira yayah sinipi // heh apa jajil laknat // ingkang sira wuwus // Wali cilik kurang ajar // nganggo wani nyanyampahi karsa mami // pan sira bosen gesang.

Ketika mendengar semua para mukmin// mendengar ucapan Pangeran Sitijenar // sangatlah malunya // Sunan Benang ketika mendengar // sangatlah murkanya // Heh.. apa jajil laknat // apa yang kau katakan // Wali kecil kurang ajar // berani-beraninya menyalahkan rencanaku // apakau kau bosan hidup.
43.
Pilh endi mati karo urip // lamun ora miturut kaseng wang // amesti mati rinampok // Siti Jenar asendu // dudu Siti Jenar sayekti // lamun wedi palastra // Gya rinebut pupuh // Siti Jenar  pinejahan // Sunan Giri kang kinen nglawe nelasi // tumuli ana swara.

Pilihlah mati atau hidup // jika tidak mengikuti kehendakku // pastilah mati di rampok // Sitijenar berkata dengan perasaan sedih // Bukan Sitijenar asli // jika takut mati // segeralah Sitijenar diserang // Siti Jenar dibunuh // Sunan Giri yang disuruh membunuhnya // kemudian terdengar suara.
44.
Eling eling Ngulama ing Giri // sira nora sun wales neng kerat // sun wales neng donya bae // den enget sira besuk // lamun ana Narendra Jawi // kanthi wong bangsa tuwa // sun lawe gulumu // Sunan Giri duk miyarsa // besuk wani iya ing samengko wani // ingsun mangsa mukira.

Ingatlah wahai Ulama Giri // Kau tidak kubalas di akhirat // akan ku balas didunia saja // ingatlah kau yang akan datang // Jika telah ada Raja Jawa // didukung oleh orang bangsa tua // saya ikat lehermu // ketika Sunan Giri mendengarnya // yang akan datang saya berani sekarang pun saya berani // ingsun tidak bakalan menghindar.
45.
Wus mangkana karsane Sang Yogi // nglestareken ing sakarsanira // Dipati Demak adege // gya ing ngidenan sampun // sang Dipati jumeneng Haji // amengku Tanah Jawa // jejuluking Prabu // Senapati Jimbuningrat (Jin Bun. Pen)// Patihira iya saking Ngatasangin // nama Patih Mangkurat.

Telah demikian kehendak Guru // melanjutkan rencananya // Adipati Demak diangkat sebagai raja // segara mendapatkan restu sudah // Sang Adipati dinobatkan menjadi Raja // Menguasai seluruh Tanah Jawa // Bergelar lah sang prabu // Senapati Jimbuningrat (Jin Bun ). Patihnya berasal dari atasangin // bernama Patih Mangkurat.
46.
Dupi enjang samekta ngajurit // para Sunan lan para Bupatya // memba garebeg ampahe // Riaya Bakda Mulud // wadya alit tan ana ngerti // wawadinireng lampah // amung pra Tumenggung // kang sampun Agama Islam // para Sunan lan sagung para Bupati // Sunan Giri lan Benang.

Ketika sudah pagi bersiaplah seluruh pasukan // Semua Sunan dan Bupati // Bagaikan gerebeg jalannya // Riyaya Bakda Mulud // rakyat kecil tidak mengerti // langkah rahasia // hanya para Tumenggung // yang sudah beragama Islam // semua Sunan dan Bupati // Sunan Giri dan Benang.
47.
Datan tumut marang Majapahit // sangsalane wus sepuh tan kuat // amung paring idi bae // rahayuwa ing laku // shalat kajat wonten ing Masjid // amung kang para Sunan // lan para Tumenggung // umiring Sultan Bintara // tan winarna marga lampahing baris // kocapa Majalengka.

Tidak ikut pergi ke Majapahit // Karena sudah tua dan tidak kuat // hanya memberi restu saja // agar selamat di perjalanan // Menjalan Shalat Hajat di dalam Masjid // hanya semua Sunan // dan para Tumenggung // yang mengiringi Sultan Bintara // Tidak diceritakan perjalannya // Diceritakan tentang Majapahit.
48.
Patih Gajahmada sampun prapti // saking Giri wus malebeng pura // prapta ngarsane Sang Rajeng // nembah saha wotsantun // abdi dalem dinuta Gusti // mukul prang Giri Pura // lumawan prang pupuh  // senapatining ngalaga // bangsa Cina sampun agami Islam // kang nami Secasena.

Patih Gajahmada telah kembali // dari Kerajaan Giri dan masuk ke dalam keraton // datang menghadap kepada sang Raja // menyembah dan melaporkan // Hamba diutus Gusti // menyerang Kerajaan Giri // tejadilah perang besar // senapati perang // dari bangsa Cina dan sudah beragama Islam // yang bernama Secasena.
49.
Mangsah ngrana pamuke lir belis // sawadyane tri atus sadaya // sami pacak kawignyane // tuhu lamun pinunjul // mawi serban mangangge kaji // mangsahe sami mecak // abdidalem bingung // inggih binedrong sanjata // ting jengkelang kang mati kena ing mimis // pun Secasena pejah.

Melawan pasukan perangnya bagaikan setan // bersama pasukannya yang berjumlah 300 orang // menguasai beladiri tingkat tinggi // nyata memang pasukan elit // memakai sorban berpakaian kaji // musuhnya telah siap // hamba sampai bingung // akhirnya digempur senjata // bergelimpanglah yang mati terkena peluru // sedangkan Secasena gugur.
50
Sakantune kang gesang angisis // wadya Giri ngili wana arga // tuwin ngambang samudrane // Sunan Giri lumayu // dateng Benang kawula usir // ngulama Giri Benang // lajeng numpak prahu // layar ngambang ing lautan // amba kinten lajeng minggat dateng ngarbi // tan wangsul angajawa.

Yang masih hidup melarikan diri // pasukan giri melarikan diri meunju hutan dan gunung // Serta berlayar di samudra // Sunan Giri melarikan diri // menuju Benang saya usir // Ulama dari Giri dan Benang // semuanya naik kapal // berlayar di lautan // saya kira melarikan diri menuju Arab // tidak akan kembali ke Jawa.
51.
Sri Narendra angandika aris // sira Patih paringa uninga // mring si Patah dipun age // dawuhana karsaningsun // yen ngulama Benang lan Giri // yen ana Nagri Demak // dicekela gupuh // katur bandan neng ngarseng wang // dosanira santri Benang ngrusak bumi // tanah ing Kartasana.

Sang Raja pelan berkata // Hai patih berilah kabar // dengan segera kepada si Patah // atas perintah saya // jika Ulama Benang dan Giri // jika berada di Demak // segeralah di tangkap // jadikan tahanan di hadapanku // kesalahan santri Benang merusak bumi // tanah di Kertasana.
52.
Dosanira Ngulama ing Giri // nora arsa seba marang ingwang // sedya reraton karepe // Patih sandika mundur // sapraptane ing pancaniti // lajeng minta parentah // gandek kang den utus // mundi nawala Narendra // marang Demak kasaru caraka prapti // saking Pati Bupatya.

Kesalahan Ulama giri // tidak mau menghadap kepada ku // ingin mendirikan kerajaan sendiri // Patih menjalankan perintah Raja // sesampainya di Pancaniti // segera memerintahkan // Gandek yang di utus // Membawa surat raja // ke Demak belum sampai berangkat datanglah utusan // dari Bupati Kabupaten Pati.
53.
Caos serat katur mring Ki Patih // gya tinampan binuka winaca // kang ponang serat ungele // sembah sumungkem ulun // Menak Tunjung ing Nagri Pati // katur Ki lurah Patya // kawula tur unjuk // samangkya Dipati Demak // Babah Patah sampun madeg Narapati // wonten ing Nagri Demak.

Menyampaikan surat kepada sang Patih // Segera di buka dan dibaca .// isi surat yang berbunyi // Hamba sembah sungkem hamba // Menak Tunjung di Negeri Pati // Teruntuk Sang Patih // Hamba menyampaikan kabar // Sekarang Adipati Demak // Babah Patah telah dinobatkan menjadi Raja // Di keraton Demak.
54.
Sunan Benang kelawan Giri // ingkang dadya pangajenging karsa // angebang-ebang kalihe / ing ngadegaken Ratu // mengsah Nata miwah Sudarmi // samangkya babah Patah // awrat gurunipun // angentengaken Sudarmi // wus ing ngestren madegira Narapati // amengku Tanah Jawa.

Sunan Benang di Giri // yang menjadi pemuka segala rencana // Keduanya yang menghasul // Raden Patah di nobatkan sebagai Raja // melawan raja dan ayah sendiri // sekarang Babah Patah // lebih berat kepada gurunya // menganggap ringan orang tuanya sendiri // Sudah ing ngestren diangkatnya menjadi Raja // Menguasai seluruh Tanah Jawa.
55.
Ingkang ngangkat Bupati pasisir // sawadyane kang Islam sadaya // ingkang ngidini ngadege // para Sunan sadarum // saha bala samya ngideni // mangrurah Majalengka // de jejulukipun // Senapati Jimbuningrat // kang penuji kan den embun wong sabumi // samangkya sampun budal.

Yang mendukung semua Bupati pesisir // beserta pasukannya yang semuanya sudah beragama Islam // Yang mengijini berdirinya // Semua Sunan // dan juga wadya bala mengijini // akan menyerang Majapahit // dengan berjuluk // Senopati Jimbuningrat // yang dihormati yang disuyudi manusia seluruh bumi // sekarang sudah berangkat.
56.
Mukul ing prang Nagri Majapahit // saha wadya sakapraboning prang // keh tri leksa prajurite // menggah ing kunjukipun // ngarsa dalem Sri Narapati // sumangga Lurah Patya // titi suratipun // Pati tanggal kaping tiga // Wulan Mulud warsa awaling Jimakir // sewu tri atus astha. (3 Mulud 1308 H. Pen).

Untuk menyerang kerajaan Majapahit // dan juga pasukan beserta peralatan perangnya // sebanyak tigapuluh ribu prajurit // untuk disampaikan kepada // Sang Maha Raja // Silahkan saya serahkan kepada Ki Patih // tanggal surat // Pati tanggal tiga // bulan Mulud Tahun awal Jimakir // seribu tiga ratus delapan..
57.
Mangsa Sanga Prangbakat wukuning // Kyana Patih wusnya maos serat // Jetung gereng kerot // tumengeng tawang nebut // Hyang Bathara Dewa kang luwih // langkung gawok tyas ingwang // wong Islam sadarum // datan becik kandutannya // Agamane nakal alame basiwit // tan nglingi ing wuntat.

Pranata mangsa ke Sanga Wuku : Prangbakat // Setelah sang Patih membaca surat // termangu menahan marah // menengadah ke langit menyebut // Hyang Bathara Dewa yang Maha Luwih // hamba tidak habis pikir // seluruh orang Islam // tidak baik pikirannya // Agamanya nakal jiwanya jahat // tidak ingat belakang harinya.

iv.             PANGKUR
EEdit : Pujo Prayitno
1.
Kyai Patih wangsul mring Pura // prapteng ngarsa  manembah matur aris // duh Pukulun  Maha Prabu // amba atur uninga // putra dalem ing Demak samangkya sampun // madeg Nata wonten Demak // Jejulukira Narpati.

Ki Pati kembali ke keraton // setelah menghadap sang Raja pelan berkata // Wahai Maha Prabu // Hamba menyampaikan berita // Putra paduka di Demak sekarang telah // menobatkan diri menjadi Raja di Demak.
2.
Senapati Djimbuningrat // para Sunan ingkang ngangkat  ngideni // miwah Bupati sadarum // pasisir kang wus Islam // putra Tuan samangke wus budhal nglurug // nggecak Nagri Majalengka // akarya buwana balik.

Berjuluk Senapati Jimbuningrat // Para Sunan yang menganggkat dan yang merestui // dan juga seluruh Bupati // pesisir yang telah beragama Islam // Putra tuan sekarang telah berangkat menyerang // menyerang Majapahit // akan dijadikan hancur lebur.
3.
Kagyat Sang Nata miyarsa // getun ngungun dangu datanpa angling // njegereg gereng-gereng mangu // kagagas ing wardaya // ingkang Putra lan para Wali sadarum // kolu ngrusak Majalengka // sakarepe den turut.

Terperanjatlah sang Nata setelah mendengarnya // menyesal diam tidak bergerak // diam membisu marah melamun // dinalar secara akal // anaknya dan seluruh para Wali // tega menghancurkan Majapahit // padahal segala keinginan Wali dipenuhi.
4.
Ing ngiden pinaring pangkat // dene mangke karya buwana balik // rinuruh datan kapangguh // den nalar-nalar wudar // lahir batin tan ana ingkang tinemu // ingkang dadi sababira // kang Putra lan pra Ngulami.

Dijinkan dan diberi pangkat // akan tetapi sekarang akan menghancurkan // dipikir tidak masuk akal // di nalar malah tidak masuk akal // dengan cara lahir dan cara batin tidak nyambung // yang menjadi penyebabnya // anaknya dan para Ulama.
5.
Teka arsa ngrusak pura // sungkawanya Ratu gung kang linuwih //sinemonan ing Dewa Gung // tyase kumbang mahesa // dipun mangsa tumane kinjir sadarum // wasana alon ngandika // Maha Prabu Majapahit.

Tiba-tiba akan menghancurkan keraton // Kesedihan Raja besar // diibaratkan oleh Dewa Agung // Pikirannya Kumbang Mahesa // dimakan kutu kinjir seluruhnya // kemudian pelan berkata // Maha Raja Majapahit.
6.
Patih apa sababira // ya si Patah lan sagung pra Dipati // arsa ngrusak Majalangu // tan tolih kabecikan // Patih Gajahmada manembah umatur // cupet pepet tyas kawula // tan saged umatur Gusti.

Patih apakah sebabnya // Si Patah dan seluruh Bupati // akan menyerang Majapahit // Tidak melihat kebaikan // Sambil menyenbah Gajahmada berkata  // hamba tidak bisa berpikir // tidak bisa bicara wahai tuan raja.
7.
Dene tebih saking nalar // den saeni walese datan becik // cidra lan sebutan buku // pikukuhe wong Jawa // tiyang Jawi ingkang ngerti agal alus // wajibe yen binecikan // sayektine males becik.

Sangat jauh dari nalar  // diberi kebaikan membalas dengan tidak baik // tidak sama dengan apa yang terkandung dalam Kitab // orang jawa yang memahami yang kasar dan yang halus // seharusnya jika diberi kebaikan  // akan membalas dengan kebaikan.
8.
Amung lagya tiyang Islam // sinaenan teka ambalang tai // tetep lawan sebutipun // anebut nama Allah, ila-ila tiyang Islam batosipun putihe jaba kewala // nanging jeronipun kuning.

Akan tetapi orang Islam (saat itu) // diberi kebaikan malah dibalas dengan melempar kotoran manusia // tetap tidak sesuai dengan ucapannya // Menyebut Asma Allah // Tiada Tuhan selain Allah // orang Islam (saat itu ) sesungguhnya hanya putih di luar saja // akan tetapi dalamnya kuning.
9.
Beda sebute tyang Buda // nebut Jagad Dewa Gung kang linuwih // Jagat iku raganipun // Dewa Budi lan Hawa // kang sinebut raga budi karepipun // ngluhurken Namaning Hedzat // iku Puji kang Prayogi.

Beda dengan dengan sebutan orang Buda // menyebut Jagad Dewa Gung Kang Linuwih // Jagat itu adalah raganya // Dewa itu Budi dan Hawa Nafsu // yang disebut raga budi maksudnya // mensucikan asmaning Dzat // itu puji yang sangat baik.
10.
Anebut Nabi Muhammad // Rasulullah panunggul para Nabi // Mochamad makaman kubur // kubur rasa kang salah // milanipun bengak-bengok enjing surup // nekem weteng calumikan // jungkar – jungkir ngambung bumi.

Menyebut Nabi Muhammad // Rasulullah pemimpin para Nabi // Muhammad makaman kubur // mengubur rasa yang salah // makannya teriak-teriak pagi dan senja // menekan perut berkecumik // berjungkir-jungkir mencium tanah.
11.
Sakehing pangan winada // trancam cacing pecel kucing sinirik // dendeng kethek opor lutung // botoke ula sawa // soto sare pindang kirik pindang asu // bekakak babi andapan // gorengan kodok lan cindil.

Banyak jenis makanan yang dihindari // trancam cacing pecel kucing dihindari // dendeng kethek opor lutung // botok ular sawah // soto rase pindang kirik pindang anjing // bekakak babi anakan // gorengan kodok dan anak tikus.
12.
Gecok mentah lintah mentah // becek sona cemeng ingkang kebiri // kare kuwuk bistik gembluk // niku nami kang kharam // langkung sengit  kalamun ningali Asu // amba kinten terusing tyas // batine resik paceran.

Gecok mentah lintah mentah // becek anjing hitam yang dikebiri // kare kuwuk bistik gembluk // itu semua makanan haram // begitu bencinya jika melihat anjing // saya kira sampai ke dalam hati // hatinya lebih bersih dibanding selokan.
13,
Ing wus ngadel kawula // marang Santri dennya sengit kepati // tan arsa anggepok asu // ulame den kharamena // mung wadose den karsakna saben dalu // kinalalken tanpa pisah // mila ulame sinirik.

Hanya mempercayai ucapan // kepada santri sangat membencinya // tidak mau tersentuh anjing // dagingnya di haramkan // hanya kemaluannya di gunakan tiap malam (digunakan untuk obat kuat dengan cara dibungkus dan diikatkan di badan) // dihalalkan tidak pernah berpisah // makanya dagingnya di hindari.
14.
Gumujeng guguk Sang Nata // ya mangkono kojahe yayi Dewi // Putri Cempa marang ingsun // Mula celeng lan sona // karo iki kinaramken iwakipun // Asu nesu asalira // Celeng Iku colong maling.

Tertawa keras sang Raja // seperti itulah apa yang disampaikan sang Dewi // Putri Cempa kepada saya // makanya babi hutan dan anjing // keduanya di haramkan dagingnya // Asu (anjing) nesu (marah ) asala mulanya // Celeng (babi hutan ) itu Colong maling (mencuri).
15.
Ngandika Sri Brawijaya // wruhanira Patih prakara iki // sun dewe kang maha luput // gegamang mring Agama // kang wus kaggo luluhur turun tumurun // kagiwang ing aturira // Yayi Dewi Dwarawati.

Berkatalah Raja Brawijaya // ketahuilah wahai Patih masalah ini // saya sendiri yang sangat salah // meremehkan terhadap Agama // yang telah dianut oleh leluhur sejak jaman dahulu // terbujuk oleh penyampaian // Dewi Dwarawati. (Permaisuri).
16.
Yen iwakira pinangan // marang janma tekate nenulari // demen colong sugih nesu // kaya celeng lan sona // Patih Gajahmada manembah umatur // dene gelare prayoga // jebul batine penyakit.

Jika dagingnya di makan // oleh manusia akan tertular // Suka mencuri dan mudah marah // bagaikan Babi hutan dan anjing // Patih Gajahmada sambil menyembah berkata // Tata lahirnya sangat bagus // akan tetapi tata batinnya penyakit.
17.
Yen Agama Rasulullah // suci mulya tinimbang lan liyaning // dadya tyasingsun kalulun // kagiwang aturing dyah // sun ideni para Ngulama sadarum // mencarken Agama Islam // Ing Jawa urut pasisir.

Jika Agama Rasulullah // Suci mulia dibanding dengan Agama lainnya // itu yang menjadikan saya termakan kata // terbujuk rayuan sang putri // makanya saya ijinkan semua para Ulama // menyebarkan Agama islam // di Tanah Jawa di seluruh bagian pesisir.
18.
Sasenengira wong Jawa // manjing Islam manira datang menging // dene iku tukulipun // teka nasar belasar // nora ana kabecikan kang tinemu // ilang tataning manungsa // den beciki angalani.

Terserah sekehendak hati orang Jawa // jika ingin memeluk Agama Islam saya tidak melarangnya // sedangkan sekarang tumbuhnya // menjadi sesat dan salah // tidak ada kebaikan yang ditemukan // hilang tata aturan manusia // diberi kebaikan membalas dengan kejahatan.
19.
Rata-rata awonira // ora ana siji kang akhli Budi // iku gawoke tyasingsun // mung manis rembag ngarsa // ing batine angandut watu sagenuk // kinarya ambandem sirah // jwa nganti mindo gaweni.

Rata-rata jelek semua // tidak ada satupun yang ahli Hakikat // itulah heran saya // hanya manis kata di depan // dalam batin menyimpan batu sebesar tempat menyimpan beras (jaman dahulu) . digunakan untuk melempar kepala // sehingga jangan sampai dua kali kerja.
20.
Djanma Islam watakira // kaya tikus praptane dingkik dingkik // jaluk pangan urip  lemu // ingsun umbar angrebda ngentekake pariku salumbung bandung // ingsun dewe tan keduman // mati wareg tampa tai.

Orang Islam wataknya // seperti tikus datang mengintip-intip // minta makan hidup gemuk // saya biarkan kemudian menyebar menghabiskan padiku sebanyak lumbung bandung // saya sendiri tidak kebagian // mati kenyang makan kotoran manusia.
21.
Warege mung wareg susah // tanpa lari beras pariku enting // telas den mangsa ing tikus // tekate  luwih sasar // Puji Dzikir kinarya ngijir pakewuh // shalat kinarya laladan // tuladan panggawe sisip.

Kenyangnya hanya kenyang kesusahan // tanpa tahu ke mana beras padi ku habis // habis dimakan tikus // cita-citanya lebih sesat // Puji Dzikir hanya menghitung kesulitan // Shalat hanya sebagai tutup // memberi contoh perbuatan yang salah.
22.
Manganggo seta lir setan // putih jaba ing jero abang langking // sun suwun maring Dewa Gung // Sajroning kasusahan // tinarima dening Dewa kang linangkung // kuwalik ing imanira // manjalma wong kucir benjing.

Berpakaian putih seperti setan // putih luarnya dalamnya Merah menyala // saya berdoa kepada Dewa agung // dalam kesusahan // dikabulkan oleh Dewa yang maha luwih // terbaliklah imanmu // berubah menjadi orang berkuncung dimasa yang akan datang.
23.
Dene tan wruh kabecikan // sun beciki welase angalani // sabdanira Ratu agung sajroning kasusahan // tinarima dening Dewa kang linangkung // sineksenan ing bawana // pratanda jumeglug muni.

Karena tidak mengetahui kebaikan // saya beri kebaikan di balas dengan kejahatan // sabda sang Ratu Agung dalam kesusahan // dikabulkan oleh Dewa yang maha lebih // disaksikan alam dunia // ditandai suara menggelegar terdengar.
24.
Geter dedet herawatya // hawit iku kuntul ana kang kuncir // Sunan Ngulama sadarum // ngrangkep nama walikan // pratandaning katrima panyuwunipun // Maha Prabu Brawijaya // marang Dewa kang linuwih.

Bergolak gelap gulita di angkasa // sejak itulah burung bangau ada yang berkuncir // Semua Sunan dan Ulama // merangkap nama terbalik // tanda diterima permohonannya // Maha Prabu Brawijaya // oleh sang Maha Dewa.
25.
Katelah prapta samangkya // para Sunan Ngulama Para wali // kuntul kucir githokipun // ngandika Sri Narendra // heh ta Patih paran kang dadi rembugmu // prakara praptaning  mengsah  // Santri ingkang ngrebut nagri.

Dikenal sampai sekarang // para Sunan Ulama dan para Wali // seperti burung bangau berkuncir di belakang kepalanya // berkatalah sang Raja // wahai Patih apa yang saran yang bisa kau berikan // untuk menghadapi kedatangan musuh // pasukan santri yang akan merebut negara.

26.
Apa linawan ing ngaprang // apa ora Patih matur wotsari // duh Pukulun Maha Prabu // sahajangira ajang // sinegahan  ing ngaprang sawontenipun // Sang Prabu aris ngandika // heh kawruhana Patih.

Apakah dilawan dengan perang // apa tidak. Patih berkata pelan // Wahai sang Prabu // karena tidak ada persiapan perang // hadapi dengan perang seadanya // sang Prabu sopan berkata // wahai patih ketahuilah.
27.
Abot sanggane si Patah // pra Bupati pasisir eka kapti // wus nunggal Agamanipun // sawadyabalanira / lah wawasen senapatining  prang pupuh // Dipati Terung Nagara // timbangmu abot mring ngendi.

Berat tanggung jawab si Patah // Semua Bupati pesisir mendukungnya // telah memeluk agama yang sama // beserta seluruh pasukannya // dan coba dinalar sebagai senopati perang besar // Adipati Terung // menurutmu berat ke mana.
28.
Si Patah kalawan ingwang // Patih Gajahmada umatur aris // panimbang amba Pukulun // awrat mring padukendra // ingkang ngangkat sing ngandap prapta ngaluhur // jinunjung dadya manggala // ing Terung nama Dipati.

Antara si Patah dibanding saya // Patih Gajahmada sopan berkata // menurut hamba lebih berat kepada paduka raja // yang telah menganggkat dari orang biasa menjadi terhormat // dinobatkana menjadi pemuka / di terung dengan Jabatan Bupati.
29.
Sri Narenddra angandika // kiraningsun Dipati Terung balik // ngentengaken marang ingsun // abot sadulur tuwa // kapindone wus nunggal agamanipun // tunggal tanah kelahiran // mulane sun kira balik.

Sang raja berkata // menurut perkiraan saya Adipati Terung berbalik // meninggalkan saya // lebih berat terhadap saudara tua // keduanya sudah satu agama // satu tanah kelahirannya // makanya menurutku di akan berbalik.
30.
Getun ngungun ing tyasing wang // de si Patah balik dadi Narpati // dijaluka krana alus // Nagara Tanah Jawa / sun paringaken lamun becik tembungipun // umuringsun kari pira // mung kamuksan  sun ulari.

Menyesal termangu pikiran ku // Si Patah berbalik ingin Menjadi Raja // diminta secara halus // Negara Tanah Jawa // akan ku berikan jika dengan kata kata yang baik // umurku tinggal berapa hari lagi // hanya Muksa yang ku cari.
31.
Teka pinikul ing ngaprang // tinggal tata adate bangsa iki // tan ana panantangipun // anganggo adat kewan //nora nganggo pratingkah bener lan luput // mungsuh Bapa kanpindo Raja // ping tiga agawe becik.

Mengapa harus dengan jalan perang // meninggalkan tatacara adat berperang // tidak ada tantangan perang // menggunkan cara kelakuan hewan // tidak menggunakan cara yang benar dan juga salahnya // Berani memusuhi ayahnya sendiri yang kedua Raja // yang ke tiga memberi kebaikan.
32.
Yen ingsun lawan ing prang // ingsun wirang ginuyu bumi langit // Bapa mungsuh lawan Sunu // sinurak mring Jawata // tan rumangsa wong tuwa wus ciklu bengkuk // sun tandingne para muda // sun arsa lolos mring Bali.

Jika saya lawan dengan perang // saya malu di tertawakan bumi langit // Ayah melawan anak // Disoraki oleh Dewa // tidak merasa orang tua yang sudah bungkuk // saya lawankan dengan yang masih muda // saya pribadi akan meloloskan diri menuju ke Bali.
33.
Hing wuri mangsa bodoa // suguhana ing ngaprang sawatawis // aja angrusak wadya Agung // lan sira timbalana // putraningsun Dipati Pengging den gupuh // lan Dipati Panaraga // sakapraboning ngajurit.

Di belakang terserah lah // hadapilah pereng sekedarnya // jangan merusak para petinggi // dan sekarang panggilah // Adipati Pengging segera // dan juga Adipati Ponorogo // lengkap dengan pasukannya.
34.
Yen Manira nimbalana // mring sagunging wadya ing manca nagri // kasusu praptaning mungsuh // wadya Demak wus celak // mungsuh Santri sayekti perange rusuh // atinggal tataning ngaprang // santri kendil ngrayah asil.

Jika saya meminta bantuan // pasukan dari manca negara // akan kedahuluan musuh // pasukan Demak sudah dekat // musuh dengan santri sudah pasti perangngnya ngawur // meninggalkan aturan perang // santri kendil hanya memburu hasil.
35.
Manira iki wus tuwa // nora kelar jenengi ing ngajurit // perak marang surut Ingsun // adoh marang ngayuda // ngendelaken si Gugur pan maksih timur // lagya eca ginem rasa // kasaru gegering jawi.

Saya ini sudah tua // tidak kuat menjadi prajurit // sudah dekat dengan umur saya // jauh dari kekutan untuk perang // mengandalkan si Guru yang masih muda // sedang enak-enaknya berbicara // datanglah geger di luar.
36.
Wong Demak angepung pura // para Sunan samya mangsah ngawaki // gugup tyasira Sang Prabu // lolos saking djro pura // Sabda Palon Naya Genggong atut pungkur // Kyana Patih Gajahmada // bramantya umangsah jurit.

Pasukan Demak mengepung keraton // para Sunan turun tangan sendiri // teperanjat hati sang Raja // melarikan diri dari dalam keraton // Sabdapalon Naya Genggong mengikuti dari belakang // Sang Patih Gajah mada // keluar menyerang.
37.
Astha Bupati Nayaka // jaga Praja pra mantri magersari // kang samya sumiweng Prabu // pra putra punakawan // samya gugup sareng nyandak sampluk ngamuk // angsahe lir singa lodra // sadaya wus ambeg pati.

Semua pimpinan pasukan // yang bertugas menjaga keraton mantri magersari // yang mengabdi kepada raja // para putra pembantu // terperanjat  mengambil tombak menyerang // tingkahnya bagaikan singa marah // semuanya telah siap mati.
38.
Tri leksa wadya ing Demak // tigang ewu wadya ign Majapahit // sareng campuh ing prang pupuh // bedil muni sapisan // campuh ruket tumbak akalian sangkuh // pedang lameng lan kalewang  // arangsang rinangsang keris.

Tigapuluh ribu pasukan Demak // Tigaribu pasukan Majapahit // campur perang menjadi satu // senapan berbunyi sekali // perang dekat tumbak dan sangkur // pedang tameng dan kelewang // serang menyerang dengan keris.
39.
Wong Majalengka lir parang // kadya alun wadya Demak nagari // kang tinempuh kukuh bakuh // wadya Demak anunjang // tumpek ngarsa ing wuri prapta gumulung // pra Wali miwah Ngulama // sumedya mati prang sabil.

Orang Majapahit bagaikan parang // seperti ombak pasukan Demak // yang diserang sama kuatnya // pasukan Demak menerjang // mengepung dari muka dan belakang datang bergelombang // para Wali dan “Ulama // berniat mati dalam perang sabil
40.
Surake kadya ampuhan // para mukmin tan kendat Puji Dzikir // La ila ha illallahu // Muhammad Ralullah // La kaolla kuwata saking Hyang Agung // djayaha wadya ing Demak // apese wong Majapahit.

Soraknya sangat bergemuruh // para mukmin tiada putus ber dzikir // la ila ha illa Allah // Muhammad rasul Allah / la khaula wa la kuwwata dari Tuhan yang Maha Agung // Jayalah pasukan Demak // celakalah pasukan Majapahit.
41.
Para Sunan lan para Bupatya // samya mangsah ngawaki ing ngajurit // guru santri para kaum  // wong Majalengka tadah // pra Bupati sadaya angamuk punggung // kang tinempuh tetumpesan // kang wuri anunjang wani

Para Sunan dan Buati // semua menyerang mendahului para prajurit // Guru santri dan ulama // pasukan Majapahit  menghadapinya // semua Bupati semuanya mengamuk menyerang // yang diserang semuanya mati // yang di belakang menyerang balik.
42.
Wantune karoban lawan // wong tri ewu tumpesan ing ngajurit // amung kari lejeripun // Patih lan pra Bupatya // ngamuk liwung kang katrajang bubar mawut // binedrong saking mandrawa // astha bupati ngemasi.

Karena lawan tidak sebanding // tiga ribu pasukan Majapahit  tumpes // hanya tinggal pemimpinnya saja // Patih dan Bupati // menyerang dengan tanpa perhitungan // yang diterjang bubar berpencar // diserang dari belakang // delapan Bupati meninggal dunia.
43.
Rahaden Lembupangarsa // putra Nata angamuk mobat mabit // tinadahan Sunan Kudus // rame  watang winatang // dangu-dangu Rahaden winatang glampus // Gajahmada mengsah yudha // ngamuk anglir banteng kanin.

Raden Lembupeteng // Putra raja mengamuk berputar-putar // dihadapi oleh Sunan Kudus // rame saling serang // lama-lama raden lembupeteng di lempar tombak hingga meninggal dunia // Gajahmada menyerang // mengamuk bagaikan bantheng yang terluka.
44.
Kyai Patih lir tugu waja // datan pasah tapak tilasing kikir // tanapi tapaking palu // myang sisaning gurenda // teguh timbul kuat kengkeng otot lunyu // tan ana braja tumama // kang katrajang bubar ngisis.

Sang Patih bagaikan tugu baja // Tidak mempan segala senjata tajam // // // memakai ajian teguh timbul hingga sangat kuat dan ototnya licin // tidak ada keris yang bisa melukai // yang di terjang bubar melarikan diri.
45.
Angamuk lir liman meta // kang katrajang lebur atumpes tapis // wangkenya matumpuk undung // siniwi wuri kanan // kanan kering kang tinempuh bubar mawut // kang pejah tadah gelasah // pinedang dening ki Patih.

Mengamuk bagaikan gajah meta // yang terlewati semuanya mati // bangkainya bertumpuk tumpuk // dkepung dari belang dan dari kanan // kanan kiri yang di terjang bubar menyelamatkan diri // yang meninggal berserakan // terkena pedang sang Patih Gajahmada.
46.
Binedong saking tebihan // kadi grimis tibane ponang mimis // kadya udan tibeng watu // tan ana kang tumama // Sunan Ngudung nulya mangsah ngembat lawung // lumarah tumbak tan pasah // Kyana Patih males haglis.

Dilempar tombak dari jauh // bagaikan gerimis jatuhnya tombak // bagaikan hujan yang jatuh di batu // tidak ada melukainya // sunan Ngudung maju menghadapinya // di lempar tombak tidak mempan // Sang patih segera membalasnya.
47.
Hanggoco lawan curiga // Jaja butul Sunan Ngudung Ngemasi // ing ngabyukan wadya agung // sapira kuatira // wong sajuga Ki Gajahmada wus lampus // kuwandanya hilang musnah // nulya na swara kapyarsi.

Ditusuk menggunakan keris // Dada tembus Sunan Ngudung tewas // Kemudian dikeroyok oleh pasukan dengan jumlah yang sangat banyak // seberapa kekuatannya // hanya seorang diri dan akhirnya ki Gajahmada tewas // dan hilang bersama dengan raganya // kemudian terdengar suara.
48.
He eling-eling wong Islam // den beciki satemah angalani // ngrebat Praja mamrih lampus // sun wales  sira benjang // ingsun ajar weruh nalar bener luput // sun damoni gitokira // rambutmu sun cukur bersih.

Hai .. ingat-ingat orang Islam // diberi kebaikan mebalas kejahatan // merebut kerajaan agar mati // akan kubalas engkau besok // ingsun ajari agar tau antara yang benar dan salah // akan ku tiap tengkuk mu // rambutmu akan ku cukur habis.
49.
Pra Sunan manjing jro pura // angulati Sang Nata tan pinanggih // jroning pura amung kantun // Ratumas Dwarawatya // ing ngaturan mring Benang sumingkir sampun // wadya lit manjing jro pura / anjejarah ngrayah gusis.

Para Sunan masuk ke dalam keraton // mencari Sang Raja tidak menemukannya // di dalam keraton hanya tertinggal // Permaisuri Ratu mas Dwarawati // kemudian di ajak pergi ke Benang  berangkat sudah // para prajurit masuk ke dalam keraton // Menjarah semuanya yang ada sampai habis.
50.
Wadya lit tan ana lawan // Raden Gugur lolos tan bekta dasih // Dipati Terung gya rawuh // byantu ngrayah jro pura // Buku-buku betuwah Budha tinunu // tan ana kari satunggal // pikukuh Agama Budi.

Prajurit sudah tidak menemukan musuh lagi // Raden Gugur lolos tidak membawa pembantu // Adipati Terung segera datang // Membantu menjarah ke dalam keraton // Buku-buku ajaran Buda dibakar // tidak satupun tertinggal // Aturan Agama Buda.
51.
Wong cilik bubar sumebar // beteng bangsal Terung ingkang jageni // wong Islam Prajurit Terung // prentahe sang Dipatya // yen wong Buda ngungsi beteng kinen nglampus // wong Buda ngungsi wana arga // kang teluk kumpul jro puri.

Rakyat jelata bubar melarikan diri // beteng bangsal pasukan Terung yang menjaganya // Orang Islam Prajurit Terung // Diperintah oleh Adipatinya // jika orang buda mengungsi dan lewat beteng  disuruh membunuhnya // Orang buda melarikan diri ke dalam hutan dan gunung // yang menyerahkan diri berkumpul di dalam keraton.
52.
Layone para nayaka Buda Islam kinumpulaken sami // sadaya sami kinubur // sakidul wetan Pura // winastanan ing Trilaya kuburipun // kubure para putra palastra // Rahadyan Lembupangarsi.

Jenazah para prajurit Buda dan Islam dikumpulkan semua // semuanya dikubur // di sebelah tenggara keraton // kuburannya di beri nama TRILAYA (sekarang lebih dikenal Makam Taralaya ) // Makam dari Putra raja yang meninggal // Raden Lembupeteng.
53.
Wong Buda kang teluk ing prang // pan sadaya ing Ngislamaken sami // sigra kinen nebut // Muhammad Rasulullah // marang Asmanira Allah ingkang Agung // lan kinen maca Shahadat // sawusira tigang ari.

Orang Buda yang menyerahkan diri // semuanya di Islamkan semua // disuruh menyebut Muhammad rasulullah // dan juga Nama Allah Yang Maha Agunng // dan disuruh membaca Shahadat // setelah tiga hari.
54.
Sigra budal Sultn Demak // marang Ngampel anyare tigang ari // ingkang pinatah ing pungkur // baris neng Majalengka // Kyana Patih Mangkurat Bupati Terung // jagani pakewuhing prang // yen ana wadya ambalik.

Berangkatlah Sultan Demak // menuju ke Ampel menginap tiga hari // yang di tinggal di belakang // baris di Majapahit // Sang Patih Amangkurat Bupati terung // Menjaga ancaman perang // Jika ada prajurit yang menyerang balik.
55.
Senapatining ngayuda // Sunan Kudus neng beteng dennya baris // dadya wakile Sang Prabu // Nganthi wadya Ngulama // tigang atus Shalat Kajat saben dalu // yen siang anderes Qur’an // terbangan dzikiran tahlil.

Senopati perang // Sunan Kudus berjaga di beteng // dan Menjadi wakil Sang Raja // membawahi para Ulama // tigaratus orang jumlahnya Shalat khajat tiap malam // jika siang membaca Al-Qur’an // terbangan Dzikir dan tahlil.
56.
Wadya saparo binekta // marang Ngampel pra Sunan Bupati // samya umiring Sang Prabu // prapta ing Ngampeldenta // Cinarita Jeng Sunan  Ngampel wus surut // amung kantun ingkang garwa // putri asal saking Tubin.

Separuh pasukan di bawa // menuju Ampel dan juga para Sunan dan Bupati // semuanya mengiring Sang Raja // sampailah di Ampel Denta // Dikisahkan Sunan Ampel telah meninggal dunia // hanya tingggal sang Isteri // Putri dari Tuban.
57.
Putrane Sang Arya Teja // kang kagarwa Jeng Sunan Ngampelgading // sasedanira Sang wiku // Nyi Ageng nglestantuna // aneng Ngampel pan maksih sinepuh-sepuh // mring wadya ing Surabaya // Jeng Sultan mangsah ngabekti.

Putri dari Arya Teja // yang dinikahi oleh Sunan Ampel Gading // Sepeninggal sang Wali // Nyi Ageng melesatarikan // di Ampel karena masih dianggap sesepuh // oleh masyarakat Surabaya // Jeng Sultan menghaturkan sembah.
58.
Rinangkul lungayanira // ganti-ganti Pra Sunan angsung taklim // miwah Bupati sadarum // ganti mangsah tur sembah // wusnya tata kang wayah tur sembah matur // eyang kawula tur wikan // ing Majalengka nagari

Dirangkul oleh sang Nyai // bergantian para Sunan memberi salam // dan juga semua Bupati // bergantian menghaturkan sembah // setelah semuanya selesai Sang Cucu sambil menyembah menyampaikan // Wahai eyang hamba menyampaikan kabar // Majapahit negari.
59.
Pan sampun kawula bedah // Kanjeng Rama lolos saking nagari // kalawan pun Adi Gugur // ical boten kantenan // Patih Gajahmada lumawan ing pupuh // tinadahan para Sunan // Jeng Sunan ngudung Ngemasi.

Telah saya hancurkan // Kanjeng rama lolos dari Keraton // demikia juga Adik- si Gugur // hilang tidak karuan // Patih Gajahmada melawan perang // dihadapi para Sunan // Sunan Ngudung terbunuh.
60.
Den suduk Ki Gajahmada // Gajahmada inggih sampun ngemasi // ulun sampun madeg Ratu // amengku Tanah Jawa // Wasta Ulun inggih Senapati Djimbun // Inggih Panembahan Plembang // ngadaton Demak Nagari.

Di tusuk Ki Gajahmada // Gajahmada juga telah meninggal dunia // Hamba telah menjadi Raja // menguasai seluruh Tanah Jawa // Julukan hamba Senapati Djimbun // dan Juga Panembahan Plembang // Kerajaan berada di Demak.
61.
Sowan kawula punika // ing paduka eyang anyuwun idi // tetep hulun dados Ratu // mengku rat Tanah Jawa // run tumurun prapteng putra wayah besuk // sampun wonten aralira // sampung wonten kang nyelani.

Kedatangan hamba sekarang // Menghadap paduka eyang mohon restu // untuk tetap menjadi Raja // menguasai seluruh tanah jawa // sampai dengan turunan dan anak cucu hamba // jangan sampai ada halangan apapun // jangan sampai ada yang menyelanya.
62.
Nyai Ageng duk miarsa // ingkang wayah rinangkul den tangisi // ginagas sajroning kalbu // dosa geng tri prakara // mungsuh Ratu sudarma kang sarta angsung // nugraha kemukten donya // rinusak tanpa prakawis.

Nyai Ageng ketika mendengar // sang cucu dipeluk dan di tangisi // di pikir di dalam kalbu // dosa besar tiga macam // Memusuhi Raja, orang tua yang telah memberi // nugraha kenikmatan dunia // dirusak tanpa sebab.
63.
Datan enget kabecikan // Sanga Prabu Brawijaya Narapati // para Ngulama sadarum // ing nguja sakarsanya // pinaringan siti sapametunipun // wong Jawa kang nedya gantya // Agama  tan den wangeni.

Tidak mengingat kebaikannya // Sang Prabu Brawijaya raja // para ulama semuanya // di dibebaskan semaunya // di beri wilayah beserta hasil buminya // orang Jawa yang berniat berganti // Agama tidak dilarangnya.
64.
Ing mangke winales hala // tanpa dosa  amung tan arsa ganti // Agama Rasul lolahu // lolos saking jro pura // tanpa wadya tan karuan dunungipun // seda lawan sugengira // wusana ngandika raris.

Sekarang dibalas dengan kejahatan // tanpa dosa hanya karena tidak mau berganti // Agama syariat rasul // melarikan diri dari dalam keraton //  tanpa pengawal dan tidak diketahui dimana tempatnya // meninggal ataukah hidup // kemudian berkata pelan.
65.
Putu sun takon ing sira // satemene tutura kang sayekti // sapa ramamu satuhu // sapa kang ngangkat sira // dadi Ratu  haneng Tanah Jawa iku // lan sapa ngideni sira // apa sabab sira wani.

Wahai cucu,, saya bertanya kepadamu // berkatalah dengan sejujurnya // siapakah sebenarnya ayahmu // siapakah yang mengangkat dirimu // menjadi raja di tanah jawa ini // siapakah yang memberi ijin kepadamu // apakah sebabnya engkau berani.
66.
Wani ngrusak Majalengka // salah apa Sang Prabu Majapahit // dene sira kamipurun // sikara tanpa dosa // ingkang wayah alon denira umatur // saking wartine pun biyang // sudarma kawula yekti.

Berani menghancurkan Majapahit // apakah kesalahan Sang Raja Majapahit // sehingga kau berani // menyerang tanpa dosa // Sang cucu pelan berkata // Menurut apa yang dikatakan ibu hamba // Ayah saya sesungguhnya.
67.
Sanga Prabu Majalengka // Brawijaya jejulukira Haji // ingkang ngangkat dados ratu // amengku Tanah Jawa // Pra Bupati pasisir sadayanipun // kang nglindungi para Sunan // sawadya sabyantu kapti.

Sang Raja Majapahit // Brawijaya nama sang Raja // Yang menobatkan saya menjadi raja // penguasa tanah jawa // para Bupati pesisir semuanya // yang melindungi seluruh Sunan // beserta seluruh pasukan sepakat yang membantunya utuk.
68.
Ngrusak Nagri Majalengka // prakawis amung tan arsa ganti // Agama Rasul lohahu // kawula tan duraka // anyirnaken Sudarma kang kapir kupur // Buda kawak nganggak-agak // dawuh lir kawung tan eling.

Menghancurkan Majapahit // masalahnya hanya karena tidak mau berganti // Agama Syariat rasul // hamba tidak durhaka // memusnahakan ayah yang kafir kufur // Buda tuwa berlagak // memerintah bagaikan pelangi tidak sadar.
69.
Tan Arsa Agama Islam // duk miarsa Nyai Ageng sru anjerit // kang wayah rinangkul gapyuk // duh putu wruhanira sira iku //  nemu durakeng Hyang Agung // dosanira tri prakara // mungsuh Ratu tur Sudarmi.

Tidak mau memeluk Agama Islam // setelah mendengar jawabanya, Nyai Ageng menjerit keras // Sang cucu dipeluk erat // Wahai cucuku ketahuilah olehmu // ksesungguhnya kamu akan mendapat kemarahan Tuhan // dosamu tiga macam // Melawan raja dan juga ayahandamu.
70.
Kang beciki sung nugraha // sira wani ngrusak tanpa prakawis // anane Islam lan kupur // sapa kang karya Islam amung siji Pangeran Kang Maha Luhur // tan kena pineksa peksa // diniyat ganti agami.

Yang telah berbuat baik kepadamu dan  memberi anugrah // kau berani merusak kerajaanya tanpa sebab //sedangkan adanya Islam dan kufur // siapakah yang membuat Islam // hanya satu, yaitu Tuhan Yang Maha Luhur // tidak bisa dipaksa-paksakan // agar berganti Agama.
71.
Lamun durung karsanira // prapteng pati yekti dipun andemi // nyungkemi Agamanipun .. yen wus pinaringena // dening Allah tan susah  pinardi iku // wus pasti karsa priyangga // angrasuk Agama Nabi.

Jika belum kehendak Tuhan // Sampai mati pun akan di anut // memeluk Agamanya // jika telah mendapat hidayah // dari Allah tanpa di paksa pun // pasti dengan sendirinya // memeluk Agama Nabi.
72.
Pangeran kang sipat Rahman // nora akon utawa nora menging // wong salin Agma iku // sasenenge priyangga // nora niksa wong kapir kang nora luput // tan ganjar marang wong Islam // ingkang tumindak tan yekti.

Tuhan yang Maha Pengasih // tidak menyuruh pun tidak melarang // manusia untuk berganti Agama  // sesuka hatinya pribadinya masing-masing // tidak akan menyiksa orang kafir yang tidak bersalah // dan tidak memberi pahala kepada orang Islam // yang bertindak tidak baik.
73.
Mung bener lan luputira // den hadili lawan teteping hadil // lalar-lulure hasalmu // hibumu putri Cina // nembah Pik-Kong wujud gambar reca watu // tan kena sira menginga // mring wong kapir Buda budi.

Hanya benar dan salah dirimu //yang akan diadili dengan seadil-adilnya // urut-urutlah asalmu // Ibumu putri cina // menyembah Pik-Kong berupa gambar arca batu // tidak boleh engkau menghalangi // kepada orang kafir buda budi.
74.
Tanda tekatmu lapisan // tekat santri anganggo adat katri // mula blero paningalmu // tan weruh leres lepat // amung jare angaku putra sang Prabu // mulo sira kolu Bapa // angrusak tanpa prakawis.

Bukti bahwa cita-citamu bohong // bertekad santri mengunakan adat ketiga // maka tertipulah penglihatanmu // tidak melihat benar dan salah // Hanya sebatas kabar mengaku putra raja // sehingga keu tega terhadap orang tuamu // berbuat kerusakan tanpa sebab.
75.
Beda tekade wong Jawa // Jawa Jawi mengerti mata siji // yekti weruh bener luput // kang becik lan kang ala // yekti wedi mring Bapa kapindo Ratu // beciki angsung nugraha // iku wajib den bekteni.

Jauh berbeda dengan perbuatan orang jawa // orang yang menggunakan mata hati // pasti paham mana yang benar dan salah //  yang baik dan buruk // pasti hormat kepada orang tua, yang kedua kepada raja // yang telah berbuat baik memberi anugerah // itu wajib di junjung tinggi.
76.
Eklase jroning wardaya // nora niyat bekti marang wong kapir // niyat bekti Bapa Ratu // wus wajibe manusia // bekti Bapa ing Ratu lan pinisepuh // wong tan bekti Ratu Bapa // urip tanpa mata yekti.

Niatkan dalam dalam hati // tidak berniat menghormati orang kafir // berniatlah berbakti kepada ayah bunda // sudah kewajiban tiap manusia // menghormati orang tua, raja dan para sesepuh // orang yang tidak berbakti kepada raja dan orang tua // hidupnya pasti tanpa mata.
77.
Putu sun misili crita // panjenengan wong agung Kuparmani // akrama putri Maddayun // putra Prabu Nusirwan // kapir kawak kumawak dawuk abawuk // pada lawan Ramanira // prandene den Haji-haji.

Wahai cucuku, saya beri contoh cerita // kisah orang besar dari Kuparmani // menikah dengan putri Mandayun // putri raja nusriwan // kafir tu jelek sejeleknya // sama dengan orang tuamu // akan tetapi tetap di hormati.
78.
Tur iku bapa mratuwa // suprandene wong menak wedi asih // tur sengit mring mantunipun // sabab seje Agama // minta sraya Pra Ratu kang sampun wudu // kinen nyirnaken wong Menak // wong agung meksa wedyasih.

Itu pun hanya ayah mertua // akan tetapi orang menak takut menyayanginya // dan membenci menantunya // sebab beda agama // minta bantuan raja yang sudah ber wudhu // disuruh membunuh orang Menak // akan tetapi orang besar tetap mencintainya.
79.
Iku palupi utama // kalakuan kang kanggo wong linuwih // tan kaya tekatmu putu // Bapa disiya-siya // dupeh kapir Buda kawak run-tumurun // tan arsa ganti Agama // puniku dudu prakawis.

Itu contoh yang baik // perbuatan dari orang sakti // tidak seperti perbuatanmu cucuku // orang tua kau sia-sia // karena Buda tua dari turunan // tidak mau berganti Agama // itu bukan alasan.
80.
Jalaran rusaking praja // apa sira wus nganggo angaturi // putu marang sudarmamu // kinen salin Agama // Sultan Demak alon denira umatur // kawula dereng aturan // ngaturi salin Agami.

Sebagai alasan untuk merusak negara // apakah dirimu sudah menyampaikan ajakan // wahai cucuku kepada orang tuamu // untuk berganti Agama // Sultan Demak pelan berkata // Hamba belum menyampaikan ajakan // mengajak untuk berganti Agama.
81.
Nyi Ageng gumujeng duka // luwih luput tindakira puniki // nadyan para Nabi rumuhun // Ibrahim miwah Musa // tuwin Nabi Muhammad ingkang sira nut // pada mungsuh wong tuwa // prakara salin Agami.

Nyi Ageng tertawa marah // lebih salah tindakanmu itu // meski para Nabi dahulu // Ibrahim dan Musa // dan juga nabi Muhammad yang kau anut // sama-sama bermusuhan dengan orang tua // disebabkan masalah ganti Agama.
82.
Naging tan sepen aturan // ginelaran mukjizat temen Nabi // atas karsaning Hyang Agung // kinen ngrata Agama / tan tinurut wong tuwa banjur den mungsuh // nadyan mungsuh lan wong tuwa // lahir batine tan sisip.

Akan tetapai tidak bosan-bosan mengajaknya // dengan menunjukkan mukjizat sebagai seoang Nabi // atas kehendak Tuhan // disuruh menyebarkan Agama // hanya karena tidak diturut oleh orang tuanya  kemudian dumusuh // sedang memusuhi orang tua // lahir batin tetap salah.
83.
Balik ingkang kaya sira // kaya ngapa mukjizatira kaki // yen nyata kalipat-tolahu // wenang nyalini sarak // atas saking karsaning Hyang Maha Agung // age sira wetokena // nyatane ingsun arsa wrin.

Kembali pada dirimu // seperti apakah mukjizatmu  // jika benar kholifah Allah // diperbolehkan mengganti Agama // atas perintah Tuhan yang maha Agung // segeralah kau keluarkan // perlihatkanlah mukjizatmu aku ingin melihatnya.
84.
Kang wayah alon turira // boten kadah mukjizat kados Nabi // mung miturut ungeling buku // yen ngislamaken wong kopar // yekti tampa ganjaran suwarga besuk // Nyi Ageng gumujeng latah // ujar jare den sungkemi.

Sang cucu pelan berkata // saya tidak mempunyai mukjizat seperti Nabi // hanya berdasar bunyi kitab // jika meng-Islamkan orang kafir // pasti mendapat pahala surga besok // Nyai Ageng tertawa keras // hanya sebatas katanya kau jadikan patokan.
85.
Jare bukune wong Arab // dudu buku pusakane leluri // mung kesusu minta lemu // sugih daging dagangan // wong ngumbara tinurut // sakarepipun kang nglakoni  susah rusak // mung raganira pribadi.

Kata buku orang Arab // bukan buku pusaka leluhur // hanya tergesa ingin gemuk// mempunyai banyak daging dan dagangan // seorang pengembara kau turut // yang berbuat sekehendaknya sedang  yang menerima akibatnya dan menjadi  susah dan rusak // hanya ragamu pribadi.
86.
Tanda kawruhira mentah // nora mateng terus  iang lahir batin // kena bujuk wong busuk // wani Bapa tur Raja // mung kasusu kepengin jumeneng Ratu // muteringrat Tanah Jawa // Sinome nora pinikir.

Itu bukti ilmumu masih mentah // belum matang dan belum merasuk dalam lahir dan batin // terkena rayuan orang jahat // berani kepada orang tua dan raja // karena tidak sabar ingin menjadi Raja // menguasai seluruh Tanah Jawa // sedangkan akibatnya tidak terpikirkan.

v. S I N O M
EEdit : Pujo Prayitno
1.
Sira Santri sesantrenan // dudu Santri ahli Budi // dalilmu kitab katatah // ing kawruh kang gampang rumpil // ngedelken desthar putih // punika putihing kuntul // cemer memangsanira // putih jaba ing jro abrit // tanpa guna maca Kitab saben dina.

Kamu santri dari menyantri // bukan santri ahli hakikat // dalilmu bersumber dari banyak kitab // ilmu yang mudah dan sulit // mengandalkan kertas putih // itu seperti putihnya burung Bangau // kotor makanannya // putih di luar di dalam merah // tak berguna membaca kitab itu tiap hari.
2.
Duk suwargi mratuanira // sira sowan nyuwun idi // arsa bedah Majalengka // Kyai geng nora marengi // dhawuhe wanti wanti // aja mungsuh bapa ratu // bareng saiki seda // dawuhe kok trajang wani // Santri apa wani nerak marang dosa.

Ketika mertuamu masih hidup // kau datang mohon ijin // akan menghancurkan Majapahit // Kyai besar tidak mengijinkan // perintahnya wanti-wanti // Jangan memusuhu ayah dan raja // sekarang setelah ayah mertuamu meninggal dunia // perintahnya kau langgar // santri apakah berani melanggar perintah mertua menuju dosa.
3.
Sira jaluk idi mring wang // tetepmu dadi Narpati // mutering Rat Tanah Jawa // ingsun tan wenang ngideni // bangsa cilik tur estri // tan wenang ngideni Ratu // aran walik buana // idiku temah mlarati // balik sira wajib paring idi mring wang.

Engkau mohon restu kepadaku // untuk tetap menjadi raja // menguasai seluruh tanah jawa // saya tidak berwenang memberi restu // saya ini orang kecil dan wanita // tidak berwenang memberi restu  kepada raja // itu terbalik namanya // restuku berakibat miskin // justru dirimu yang seharusnya memberi restu kepadaku.
4.
Karana Kalipatolah // ing sajroning  Tanah Jawi // sira dewe ingkang tuwa // saucapmu idu geni // kang kaya awak mami // tuwa tuwas aranipun // metu awan kemulan // metu enjing wedi warih // amung sira tetep tuwan Nata.

 Karena kau khlifah // di tanah jawa // engkaulah yang paling tua // segala ucapanmu mandi // sedangkan yang seperti diriku // tua tak berguna sebutannya // keluar siang berselimut // keluar pagi takut air // hanya engka tetap tuan raja.
5.
Putu sun misili sira // carita patang prakawis // wong gege kaprabon Nata // ing Kitab Kiyamat muni // kraton Nagara Mesir // panjenengan Nabi Dawud // putranira kang tuwa // Habesalam ingkang nami // mungsuh Bapa nggege kaprabon Nata.

Cucuku saya kasih contoh // empat macam cerita // orang yang merebut tahta raja // di dalam kitab Kiyamat menyebutkan // kerajaan di Mesir // beliau Nabi Dawud // anak tertuanya // bernama Habeselam // melawan orang tua merebut tahta.
6.
Jeng Dawud kengser sing Praja // Habesalam kang gumanti // sawuse antara mangsa // Nabi Dawud sarta dasih // wangsul amukul Nagri // Sang Habesalam lumayu // gya ngungsi wana wasa // ginawa bandang turanggi // pan kacangkol tenggaknya neng lata wreksa.

Nabi Dawud lengser sebagai raja // Habesalam yang menggantikannya // setelah berapa waktu // Nabi Dawud beserta rakyatnya // pulang menyerang kembali // Sang Habesalam lari // mengungsi ke dalam hutan // dan dia dirbawa lari oleh kudanya // kemudian tenggorokannya tertancap di batang kayu wreksa.
7.
Kudane terus lumajar // Habesalam iku keri // tenggoke kajiret lata // gumantung lata ngemasi // iku kukuming Widdi // yen wong wani Bapa Ratu // malih ana carita ing Tanah Jawa Rumiyin // Ratu Mendang Sang Prabu Dewatacengkar.

Kudanya terus berlari // Habesalam tertinggal // tenggorokannya terlilit akar hutan // tergantung lata meninggal dunia // itulah Hukum Tuhan // jika anak durhaka kepada orang tua // ada cerita lagi di tanah jawa jaman dahulu // Ratu Medang sang Prabu Dewatacengkar.
8.
Hangege kaprabon Bapa // Sang Prabu Sindu Haji // kena sabdane kang rama // dadi buta angajrihi // Santri dahar wong siji // tan lama jenenging Ratu // ana Brahmana prapta // saking sabrang angajawi // Hajisaka hanggelar kadibyan sulap.

Merebut kerajaan ayahnya // Sang Raja Sindu haji // terkena kutukan ayahnya // berubah menjadi raksasa yang menakutkan // santri makan buah satu // tidak lama menjadi raja // Ada Brahmana yang datang // dari tanah sebrang pergi ke Jawa // Hajisaka menyebarkan ilmu kesaktian.
9.
Wong Jawa basih sadaya // mring Dewatacengkar geting // Jisaka den anggep raja // Ratune dipun perangi // ambyur segara Hindi // salah rupa dadi bajul // mangsa isi samudra // tan lama nuli ngemasi // mungsuh sarpa jakalinglung wastanira.

Semua orang jawa sayang padanya // kepada Dewatacengkar benci // Ajisaka dianggap raja // raja aslinya di perangi // kalah dan menyelam di laut hindi // salah rupa berubah menjadi buaya // memakan isi lautan // tidak lama kemudian meninggal //karena kalah bertarung dengan naga Jakalinglung namanya.
10.
Crita nagri lokapala // nama prabu dana pati // lan Rama Resi Wisrawa // rame prang rebutan putri //tur Bapa ingkang sisip // prandene meksa kasiku // dinukan mring Jawata // aja maneh lir sireki // mungsuh bapa sikara tanpa prakara.

Cerita di negara lokapala // nama rajanya danapati // dan yahanya Resi Wisrawa // berperang memperebutkan putri // padahal ayahnya yang salah // itu pun masih mendapat bendu // mendapat murka Tuhan // apalagi hanya dirimu // melawan orang tua tanpa ada sebabnya.
11.
Sayekti urip cilaka // patimu malbeng jumani // iku kukuming Pangeran // wong kaya sira iki // embuh ukuming Widdi // marang sira iku besuk // Sultan Demak miyarsa // Nyai Ageng denira ngling // analangsa getun kang wus kalampahan.

Pasti celaka hidupnya // matimu akan masuk neraka // itulah hukuman Tuhan // orang sepertimu ini // entahlah apa hukuman Tuhan // kepadamu di kelak kemudian hari // Sultan Demak mendengarnya // semua nasihat Nyai Ageng // bersedih hati dan menyesal terhadap yang telah terjadi.
12.
Para Sunan lan pra Bupatya // kang jumurung angrojungi // hadeg mu dadi Narendra // lan bedahe Majapahit // dosa kedik tur cilik // mung siji murtad ing Ratu // sebab seje Agama // dosane tan dadi kudis // balik sira dosa gedhe tri prakara.

Semua Sunan dan Bupati // yang mendukung dan menyetujui // cita-citamu untuk menjadi raja // dan menyebabkan hancurnya Majapahit // sedikit dosanya dan kecil // hanya satu dosanya murtad kepada raja // sebab beda agama // dosanya tidak menjadi penyakit // sedangkan dirimu dosa besar tiga macam.
13.
Hiku Sira tanpa timbang // gelem bae nglakoni // linebokake loropan // lan sagung para Ngulami // miwah para Bupati // dene sira tan sumurup // ingkang nemu cilaka // malebu naraka api // kang nglakoni dosa geng sira priyangga.

Itu tidak kau perhitungkan // mau-maunya dimasukan // dimasukan kedalam jebakan // oleh semua para Ulama // dan juga para Bupati // sedangkan engkau tidak mengetahui // yang menerima celaka // dimasukan ke dalam api neraka // yang melakukan dosa besar dirimu sendiri.
14.
Tur kelangan Ratu Bapa // sebutanmu nora becik // rusak tataning manusa // ginuyu hisining bumi // salawasira wuri // rumaket nama tan barus // katuju menang perang // mungsuh Bapa kaki-kaki // lah hetungen  gunggungen klupatanira.

Dan juga kamu kehilangan orang tua raja // julukanmu tidak baik // rusak tata aturan manusia // ditertawakan isi bumi // selamanya di belakang hari // gandeng dengan namamu, nama yang tidak baik // karena menang perang // musuh orang tua yang sudah kakek-kakek // hitunglah semua kesalahanmu.
15.
Nadyan sira mratobata // maring Pangeran kang luwih // kaya tan oleh ngapura // kakehan luputmu kaki // dingin mungsuh sudarmi // kapindo murtad ing Ratu // tur ngrusak kebecikan // apa cacate  Sang Haji // sira rusak prajane tanpa karana.

Walau engkau bertobat // kepada Tuhan Yang Maha segalanya // sepertinya tidak akan mendapat pengampunan // terlalu banya dosamu cucuku // yang pertama memusuhi orang tua // kedua murtad kepada raja //  dan merusak kebaikan // apakah cacat sang raja  // kamu rusak keratonnya tanpa ada penyebabnya.
16.
Dipati ing Panaraga .. Bathara Katong  prajurit // iku putra Majalengka // Handayaningrat  ing Pengging // hiku mantu Sang Haji // karone prajurit wudu // iku mangsa trimaha // rusake ing Majapahit // yekti labuh ing Bapa rusaking Praja.

Adipati Ponorogo –Bathara Katong // itu putra Majapahit // Raja di Pengging // Itu menantu Raja // keduanya telah Islam // itu tidak akan menerimakan //atas hancurnya Majapahit // pasti membela ayah dan membela hancurnya keraton.
17.
Iku abot sangganira // angantep tangkeping jurit // labuh Ratu pindo Bapa // ping telu ngrebat Nagari // wit timur prapteng making // saben dina ajar pupuh // wus wignya ngadu bala // aju unduring prajurit // balik sira iku bangsa Ngulama.

Itu berat tanggunganmu // jika mereka menyerang bersama pasukannya // membela Raja kedua orang tua // ketiganya merebtu kerajaan // sejak mulai mudanya  sampai dewasa // tiap hari belajar perang // sudah ahli berperang // mengatur pasukannya untuk menyerangan dan bertahan // sedangkan dirimu itu golongan Ulama.
18.
Kapan gonmu ajar yuda // mung mangeran Puji Dzikir // lamun bengi shalat kajat // nyilih swarane Hyang Widdi // Iku yeng diparingi // bisa metu karamatmu // yen datan pinaringan // jengkinga nganti kepising // tiwas bundas bathukmu tan menang yuda.

Kapan kau belajar perang // hanya menuhankan Puji dzikir // malam harinya shalat hajat  // meminjam suara Tuhan // itu jika dikabulkan // bisa keluar kesaktianmu // jika tidak diberi anugerah // walaupun bersujud sampai mengeluarkan air besar // sampai luka dahimu tidak akan menang perang.
19.
Ngendelake sugih Japa // pasa mutih pati geni // amrih mandi tenungira // iku kaki ngapirani // prakarane wong jurit // ingkang narik asor unggul // hamung carita ngarsa // kang bener lawan kang sisip // kapindo sugih gaman hatul yuda.

Mengandalkan banyak mantra // puasa mutih pati geni // agar supaya ampuh santetmu // itu cucuku.. sangat merugikan // masalah berperang // yang menjadi kalah dan menang  // seperti kisah di depan // yang benar dan yang salah // dan yang kedua banyak senjata dan ahli berperang.
20.
Timbang tandingira lawan // akeh kediking prajurit // bener akeh wadyanira // iku kabeh bangsa santri // mung ajar ngentep kendil // mangsa pecusa prang pupuh // ngendelken pra Bupatya //pasisir kang Islam sami // Islam anyar adate masih tugelan.

Ukurlah kekuatan lawan // banyak sedikitnya pasukan //memang benar banyak jumlah pasukanmu // itu semuanya hanya santri // hanya belajar melempar kendil // tidak mungkin ahli perang // mengandalkan para Bupati // pesisir yang telah Islam semua // Islam baru saja biasanya masih setengah-setengah.
21.
Samangsa sampun ayudya // tekadira mungal-mungil // timbang bener lawan lepat // mangsa meluwa wong sisip // kang bener den iloni // ambalik madyaning pupuh .. iku tan sira timbang // mung ngandelken sira wani // dudu laku prakarane wong ngayuda.

Ketika sudah terjadi perang // tekadnya mudah goyah // mempertimbangkan benar dan salah // tidak mungkin ikut yang salah // yang benarlah yang dibela // berbalik ketika terjadi perang // itu tidak kau perhitungkan // hanya mengandalkan kamu berani // itu bukan menjadi modal perang.
22.
Menurut sebutan kitab // yen wong mati prang  lan kapir // aran mati sabilolah // ginanjar swarga mbenjang // puniku ngapirani // kang perang sabil satuhu // hukum ingkang sanyata // patenana ingkang sisip // lan pendemen urugana bebeneran.

Menurut  yag tertulis dalam Kitab // jika orang mati berperang dengan kafir // disebut mati Sabilullah // mendapat pahala suarga besok hari // itu tertipu // yang disebut perang sabil yang sebenarnya // berdasarkan hukum yang nyata // bunuhlah yang salah // dan tutuppilah dengan kebenaran.
23.
Benera mata satunggal // aja bener mata kalih // samar kalingan papadang // benere  anganan ngering // yen benere wus sami // nganggo bener mata telu // tegese telu telas // benere mung murih hasil // najis makruh yen enak kinalalena.

Benar menurut mata hati // bukan benar menurut dua mata // tertipu tertutup terang // benarnya goyang ke kanan ke kiri // jika benarnya sudah sama // benar yang terlihat mata tiga // artinya tiga (telu) habis (telas) // benar yang hanya dengan pertimbangan hasil // najis makruh jika di khalalkan.
24.
Tandane beneranira // lan para Sunan ngulami // laku ngrusak Majalengka // nora pisan angengeti // becikane Sang Aji // mung kasusu enggal lemu // sugih daging dagangan // sadiyan rayap yen mati // mula tan wruh beciking Ratu lan Bapa.

Itu benar menurutmu // dan para Sunan Ulama // melakukan penghancuran Majapahit // sama sekali tidak mengingat // kebaikan sang raja // terburu nafsu agar cepat gemuk // kaya daging  dan dagangan // untuk persediaan rayap jika mati // makanya tidak melihat kebaikan raja dan orang tua.
25.
Sanajan mungsuh wong kompra // yen sira murwani sisip //sayekti mati cilaka // sanadyan mungsuh Islami // yen bebenerane kaki // wus pasti mati rahayu // jwa dumeh kapir Buda  pada // turun Adam Nabi // wujudira ya manungsa kaya sira.

Walau pun melawan oang biasa // jika engkau mebela yang salah // pasti mati celaka // walau pun memusuhi Islam // jika membela kebenaran // sudah pasti mati selamat // jangan kau anggap kafir Buda semuanya // keturunan Nabi Adam // ujudnya juga sama-sama manusia seperti dirimu.
26.
Wong urip ana ing donya // dosane limang prakawis // Dosa Allah lan Muhammad // kapindo Guru Narpati // ping tiga Yayah wibi // garwa putra kaping Catur // lima marang sasama // dosa ingkang angka siji / wong kang nganggo goroh samar-samar.

Manusia hidup di dunia // dosanya lima macam // dosa kepada Allah dan Muhammad // yang kedua kepada Guru dan  Penguasa // yang ketiga Ayah Ibu // suami atau istri dan anak yang ke empat // yang kelima dosa kepada sesama // dosa yang pertama // dosa orang yang berdusta denga samar-samar.
27.
Wong kang dosa Guru Raja // wong wani Guru Narpati // wong kang dosa yayah rena // wong wani Bapa lan Bibi // wong dosa garwa siwi // kang tan ngreken garwa sunu // dosa mring sasama // wong sikara tanpa uwis // lan wong tan wruh kabecikaning sasama.

Yang kedua dosa terhadap Guru dan Pengausa // orang yang berani kepada Guru dan penguasa // ketiga yang dosa kepada kedua orang tua // orang yang durhaka kepada orang tua // keempat yang dosa kepada suami atau istri dan anaknya // yang mengabaikan mereka // dosa kepaa sesamanya // orang yang menyiksa tiada henti //dan orang yang tidak tau kebaikan sesamanya.
28.
Sira timbanga pribadya // tuturku wus kocap ngarsi // sira kasebut Ngulama // sayekti wruh bener sisip // Sultan Demak miyarsi // amuwus sajroning kalbu // alon ing aturira // duh eyang kados punapi // dosa ulun mring Allah matumpa-tumpa.

Keu pertimbangkan sendiri // uraianku seperti di depan // kau termasuk Ulama // pasti mengetahui yang benar dan yang salah // Sultan demak mendengar // berkata dalam hati // pelan perkataannya // Wahai eyang bagaimanakah // dosaku kepada Allah bertumpuk-tumpuk.
29.
Nyi Ageng Ngampel ngandika // sira tan dosa mring Widdi // dosa mring sudarmanira // Gusti Allah mung ngadili // kang bener lan kang sisip // ingkang salah dipun ukum // sineleh aneng kerat //binelok sajroning geni // Sultan Demak umatur sarwi karuna.

Nyia Ageng Ampel berkata // kau tidak berdosa kepada Tuhan // kau berdosa kepada orang tua // Tuhan Allah hanya mengadili // yang benar dan yang salah // yang salah dihukum // ditaruh di akhirat // dipasung di dalam api // Sultan demak berkata dengan pasrah.
30.
Rehning sampun kalampahan // punapa winuwus malih // pan amung tedah paduka // ingkang kawula lampahi // Nyai geng ngandika ris // yen sira nurut rembugku // ramamu ulatana // katemuwa ngendi-endi // aturana kondur marang Majalengka.

Karena telah terlanjur // apaguna dibicarakan lagi // hamba mohon petunjuk paduka // apa yag harus saya lakukan // Nyai Ageng mengatakan // jika engkau mengikuti apa kataku // Carilah ayahmu // dimanapun kau temukan // ajaklah kembali ke Majapahit.
31.
Yen ramamu isih karsa // angasto kaprabon Haji // anuli sira junjunga // tetepa kadya ing nguni // kari pira Sang Aji // yuswane anuli surut // lan sira anyuwuna // ngapura luputmu kaki // yen tan karsa ramamu jumeneng Nata.

Jika ayahmu masih menginginkan //untuk memegang kekuasan Raja kembali // segeralah kau angkat kembali // tetap seperti semula // tinggal berapa-lamakah sang raja // usianya kemudian akan meninggal dunia // dan kau mohonlah // pengampunan atas kesalahanmu cucuku // jika ayahmu tidak berkenan menjadi raja kembali.
32.
Suwunen ing rilanira // ing Jawa sira ratoni // idine kang terus ing  tyas // dadi becik lahir batin // tan ginuyu ing Bumi // sira panciya ramamu // dahar busananira // gawekna kadaton ngardi // saprabote pandita jwa kongsi kurang.

Mohonlah kerelaannya // tanah Jawa kau kuasai // ijinya yang terus sampai ke dalam hati // jadilah baik lahir batinnya // maka tidak akan diterawakan dunia // Jatahlah ayahmu // Makan dan busananya // buatkan keraton di gunung // lengkap dengan pelengkapan Pandita jangan sampai kurang.
33.
Heh ta angger kawruhanira // nadyan wong satanah Jawi // angideni marang sira // tetepmu ngadeg Narpati // yen nora den ideni // ramanira Sang Prabu // lamun tyase tan rila // sira ora kelar kaki // dadi Nata neng Jawa sabanjurira.

Wahai cucuku ketahuilah // walau pun semua orang di Tanah Jawa // mengijinkan dirimu // tetap menjadi raja // jika tidak mendapat restu dari // Ayahmu sang Raja // jika hatinya tidak rela // kau tidak bakalan kuat // menjadi raja di tanah jawa beserta keturunanmu.
34.
Aja dumeh kapir Buda // iku betuwah Narpati // sawetane tanah Ngajam // yen kongsi gela ing galih // manawa animbali // putra wayah para Ratu // sawetan Tanah Jawa // sawadya kaprabon jurit // masih abot sangganira ing ngayuda.

Jangan kau kira kafir Buda // itu tetaplah raja // sebelah timurnya tanah ngajam // Jika sampai kecewa hatinya // jika beliau memanggil // anak cucu para raja // sebelah timurnya tanah Jawa // dan pasukan perang dengan perlengkapannya // masih berat tanggungjawabmu dalam perang.
35.
Karana sagung  pra Raja // kanan kering Tanah Jawi // kabeh kawengku santana // pada wiji Majapahit // manawa angengeti // darbe Ratu pinisepuh // siniya tanpa dosa // angantep tangkeping jurit // sabiyantu angrebut ing Majalengka.

Karena sumua raja // sebelah kanan kiri Tanah Jawa // semuanya sebagai kerajaan jajahannya // semuany keturunan Majapahit // jika mereka ingat // mempunyai Ratu yang dituakan // di sia-siakan tanpa dosa // maka mereka akan menyiapkan pasukan perangnya // untk membantu merebut Majapahit.
36.
Yekti prang gedhe gempuran // kadya jaman Hurubesmi // Majapahit lan Blambangan // pira-pira kang pepati // tur Menakjinga sisip // prandene pada biyantu // iki wong tuwanira // bener nganggo ratu luwih // sayektine ing prang nedya pupungkasan.

Pasti akan terjadi perang besar-besaran // seperti jaman Hurubesmi // Majapahit melawan Blambangan // banyak sekali korbannya // padahal Menakjingga yang salah // tetap membantunya // ini orang tuamu // dalam posisi yang benar  // pasti akan terjadi perang habis-habisan.
37.
Putu lamun sira menang // tetep jumeneng narpati // yen kalah den oyak-oyak // kacandak dipun pateni // wong Islam den kuciri // tur sira iku katempuh // rusaking wadya bala // kang mati madyaning jurit // pada nagih mring sira besuk neng kerat.

Cucuku jika kau menang // akan tetap menjadi raja // jika kalah akan diburu // tertangkap akan dibunuh // orang Islam akan digundul // dan engkau mempunyai tanggungan // terbunuhnya pasukanmu // yang mati ketika perang // semuanya menagih kepadamu besok di akherat.
38.
Ramamu jumeneng Nata // tan lama nuli ngemasi // ing Tanah Jawa kaliya // sira ora andarbeni // mulane rembuk mami // turuten ingkang satuhu // antinen surut ira // nadyan prang rebut nagari // mungsuh kadang punika tan dadi ngapa.

Ayahmu kembali menjadi raja // tidak lama kemudian akan meninggal dunia // Tanah akan jawa dikuasai oleh orang lain // dan kamu tidak memilikinya // makanya menurut pendampat ku // ikutilah kata-kata ku // tunggulah sampai Beliau meninggal dunia // walau berperang berebut negara // melawan saudara itu tidak mengapa.
39.
Sanadyan kalah menanga // tan ginuyu bumi langit // wus lumrah wong madya pada // lamun sudarma ngemasi // anak arebut waris // pusaka kang luwih perlu // lamun gege samangkya // lan bapa rebut nagari // kalah menang dadya geguyoning jagad.

Walaupun kalah ataupun menang // tidak ditertawakan bumi dan langit // sudah umum di dunia // jika orang tua meninggal dunia // anak saling berebut warisan // warisan pusakan yang paling penting // jika perang sekarang  // melawan ayah berebut negara // kalah ataupun menang  jadi tertawaan jagad.
40.
Katujune menang perang // mungsuh Bapa kaki-kaki // wungkuk bengkuk suku tiga // endi sebutanmu becik // loking janma mung nisthip // iku sira dipun emut // aja nrajang kanistan // tolehen awakmu kaki // ramanira Ratu Agung Binathara.

Seandainya menang perang // melawan orang tua yang sudah sepuh // bungkuk berkaki tiga // dimana letak baiknya  // justru akan dikatakan sebagai  makhluk yang hina // itu kau harus ingat // jangan melanggar kenistaan // lihatlah  dirimu cucuku // Ayahmu Ratu Agung.
41.
Ibunira Putri Cina // Agama miturut Ngarbi // aran janget ing ngatigan // jembar jajahanireki // dene akendel ngisin // mungsuh Bapa kang wus pikun // saru tinoning katah // mungguh rembugku samangkin // lah muliha mring nagaranira Demak.

Ibumu putri cina // agamanya menurut Arab // disebut tiga keturunan // luas jajahannya // mengapa kamu tidak tau malu // Melawan orang tua yang sudah pikun // sangat tidak pantas dilihat orang banyak // menurut pendapatku sekarang // kembalilah ke Demak.
42.
Aja lumaku pribadya // ngulati Ramamu kaki // manawa giris tyasira // kemlurusen angemasi // becik Sunan Kali // kinen lumaku angluru // aja anggawa wadya // lumakuwa cara Santri // yen kapangguh den genahena kewala.

Jangan kau berangkat sendiri // jika akan mencari ayahmu // Jika perasaan ayahmu takut // bisa berakibat fatal // lebih baik Sunan Kalaijaga // kau suruh untuk mencarinya // jangan membawa pasukan // lakukan dengan cara santri // jika ketemu jelaskanlah saja.
. 43
Yen karsa den aturana // kondur marang Majapahit // jujug ing Ngampeldenta // yen ora karsa Sang Haji // aja kok peksa kaki // manawa runtik tyasipun // ngandika anyupata // punika yekti mlarati // wus mangkata sadina iki bubaran.

Jika berkenan mohonkanlah untuk // kembali ke Majapahit // pulanglah ke Ampel Denta // jika beliau tidak berkenan  // jangan kau paksa cucuku // jika sampai marah // akan mengatakan laknat // sungguh mengakibatkan kerugian // segeralah berangkat dan hari ini juga bubarkan.
44.
Nulya sami abubaran sawadynira tan kari  // Jeng Sultan kundur mring Demak // Sunan Kali kang ngulati // lumaku cara santri // mung sabat kalih kang tumut // nurut pasisir wetan // sinigeg Jeng Sunan Kali // Kanjeng Sultan sawadya anggula drawa.

Kemudian semua bubar beserta pasukanny tiada yang ketinggalan // Sultan kembali ke Demak // Sunan Kalijaga yang mencarinya // berjalan dengan cara santri // hanya dua sahabat yang menyertainya // menelusuri pesisir timur // terpotong kisah sunan Kali // Kanjeng sultan dan pasukannya (memasuki tembang Dhandhanggula).

vi.             DANDANGGULA
Edit : Pujo Prayitno
1.
Sampun prapta ing Demak nagari // Kanjeng Sultan Bintara sa wadya // umjung gumuruh swarane // kang prapta lan kang methuk // suka sukanira tan sipi // ngulama praja desa // nracak kaulipun // yen jaya prange gustinya // Dzikir mulut beleh sapi wedus biri // Tahlil dzikir terbangan.

Telah sampailah di kerajaan Demak // Sultan Bintara beserta pasukannya // Menggema bergemuruh suaranya // yang datang dan yang menjemput //  kebahagiannya tak henti // Ulama kota dan desa // semua mengadakan tasyakuran // karena ratunya menang perang // Dzikir lisan memotong sapi kambing dan biri-biri // Tahlil dzikir dan memainkan musik terbang.
2.
Santri murid samu kaul ngemis // marang pasar sadina ping sanga // pating garandul kasange // sapepak ireng  butuh // pan kinarya mumule Nabi // Sultan Bintara panggya // kalawan Sang Wiku // Kangjeng Sinuhun ing Benang // angandika praptamu pada basuki // lakumu mangun yuda.

Santri murid kaul meminta-minta // pergi ke pasar sehari sembilan kali // bergelantungan peralatannya // selengkapnya kebutuhan didapatnya // karena akan digunakan untuk memuliakan Nabi // Sultan Bintara mengadakan pertemuan dengan Sang Sunan // dan Kanjeng Sunan Benang berkata // apakah kedatanganmu selamat // dari perjalananmu beperang.
3.
Apa asor apa unggul jurit // Kanjeng Sultan alon aturira // sampun bedah karatone // Nagari Majalangu // pra punggawa kang lawan jurit // samya tumpesing yuda // margi kaget gugup // Kyana Patih Gajahmada // saha wadya ngamuk punggung ambeg pati // gaman pedang curiga.

Apakah kalah ataukah menang perang // Kanjeng Sultan sopan bicara // Telah hancur kerajaannya // Negara Majapahit // para pasukan yang berperang // semua tumpes dalam perang // karena terperanjat diserang mendadak// Sang Patih Gajahmada // beserta pasukannya mengamuk mencari mati // senjata pedang dan keris.
4.
Wadya Demak panggah hanadahi // kinarocok wadya pra Bupatya // mung Patih kang teguh dewe // Sunan Ngudung gya nempuh // hanglarihi nanging tan titis // Gajahmada hangrangsang // dateng Sunan Ngudung // pinarjaya jaja tatas // kapisanan Sunan Ngudung hangemasi // sigra para Bupatya.

Pasukan Demak tetap menghadapinya // Dikeroyok para Bupati // hanya sang patih yang paling kuat // Sunan Ngudung segera maju ke medan laga // melemparkan tombak kurang titis // Gajahmada balik menyerang // untuk menyerang Sunan Ngudung // Sunan Ngudung dibunuh dada tembus // hanya sekali tusukan keris sunan Ngudung tewas // segera semua Bupati.
5.
Para Sunan panggah hanadahi // pinarbutan Gajahmada pejah // nanging sirna kuwandane // nulya na swara krungu // angaturken ingkang pepeling // suka Susuhunan Benang mesem ngandika rum // suwarane wong wis modar // wedi apa besuk wani mengko wani // mungsuh wong kapir Buda.

Beserta para sunan melawannya // mengeroyok Gajahmada dan akhirnya tewas // Namun hilang beserta raganya // kemudian terdengar suara // mengatakan tentang supata // Gembiralah Sunan Benang sambil tersenyum berkata // kata-kata orang yang telah mati // takut apa besok berani sekarang juga berani // melawan orang kafir Buda.
6.
Nora cidra ing pambatang mami // Majalengka sapa den handelna // yen uwis balik si Kusen // si Gugur masih timur // mangsa dadak wani ing getih // Gajahmada wus tuwa // wungkuk hamelengguk // thinuthuk bae palastra // nora kelar nadahi yudamu kaki // muda sedeng humurnya.

Tidak salah perkiraan saya // Majapahit siapakah yang dihandalkan // Jika Si Kusen telah berbalik // Si Guru masih muda // tidak mungkin berani dengan darah // Gajahmada sudah tua bungkuk // dipuku pelan saja meninggal // tidak kuat melawan kridamu anakku // masih muda sedang umurnya.
7.
Wadya Demak lajeng manjing puri // hangulati Jeng Rama tan ana // lolos tan wikan parane // tuwin pan yayi Gugur // samya lolos tan bekta dasih // kang kantun ing djro pura // amung kanjeng Ibu // pramewari dwarawatya // kula turi nyingkir mring Benang rumiyin // nurut atur kawula.

Pasukan Demak kemudian masuk ke dalam keraton // mencari ayahanda tidak menemukan // lolos tidak diketahui kemana perginya // dan juga adiku Si Gugur // lolos tidak membawa pembantu // yang tertinggal di dalam keraton // Hanya Ibu // permaisur Dwarawati // saya suruh beliau untuk menyingkir ke Benang dahulu // dan dia menuruti  kata-kata hamba.
8.
Wonten dene yayi Hadipati // nagri Terung wus rumantyeng yuda /// sikep lawan gegamane // lajeng biyantu pupuh // jarah rayah sajroning puri // buku petuwah Buda // kinumpul sadarum // lajenge kawula bakar // dimen sirna pikekah Agama Budi // gumujeng Sunan Benang.

Sedangkan adik Adipati // negri Terung telah siap bertempur // lengkap dengan persenjataanya // kemudian membantu perang // menjarah ke dalam keraton // buku Agama Buda // semuanya dikumpulkan // kemudian saya bakar // agar musnahlah aturan Agama Buda // tertawalah Sunan Benang.
9.
Iku bener anggitira kaki // lamun misih buku sarak Buda // wong Jawa awet kapire // kongsiya sewu taun // mangsa dadak ganti Agami // nut sarak rasul lolah // datan nedya emut // anebut Asmaning Allah // lawan nebut Asmanira Kanjeng Nabi // Muhammad Rasul olah.

Itu benar pemikiranmu anakku // jika masih ada buku Agama Buda // orang jawa awet kafirnya // walau sampai seribu tahun // tidak bakalan berganti Agama // untuk mengikuti syariat Rasulullah // tidak bakalan ingat // menyebut Asma Allah // dan juga menyebut asmanya Kanjeng Nabi // Muhammad rasulullah.
10.
Mangsa niyat Shalat Kaji Dzikir // Kanjeng Sultan Bintara turira // beteng-beteng sadayane // ing bangsal lan ing Terung // wadya Islam ingkang Jageni // parentahe Yayi Mas // Hadipati Terung // kalamun ana wong Buda  // ngungsi beteng sadaya tumpesen sami // dene yen janma Islam.

Tidak akan ada niyat Shalat haji Dzikir // Sultan Bintara mengatakan // beteng-beteng seluruhnya // di bangsal Adipati Terung dan // pasukan Islam yang berjaga // atas perintah // adiku  Adipati Terung // jika ada orang Buda // mengungsi lewat beteng bunuh semua // jika yang beragama Islam.
11
.Ngungsi beteng kinen sungi kori // mila tiyang buda buyar hambyar // mawut saparan-parane // ngungsi mring wana gunung // kang lumawan dipun perangi // kawula tigang dina // aneng Majalangu // lajeng dateng Ngampel Denta // nyuwun idi tetep kula dados Haji // mring Ibu mara tuwa.

Melewati beteng disuruh membukan pintu // makanya orang Buda menyebar // semburat tidak karuan // melarikan diri ke hutan dan gunung // yang melawan di perangi // hamba selama tiga hari /// berada di Majapahit // kemudian menuju Ampel Denta // memohon restu hamba untuk menjadi raja // kepada ibu mertua.
12.
Ingkang tugur wonten Majapahit // anjageni kang putra santana // yen wonten kang mangkat tyase // yayi dipati Terung // lawan Patih Mangkurat nenggih // wadyane pra dipatya // sepalih kang tumut // sapalih kawula bekta // dateng ngampel neng Terung // sipeng tri ari // minta pakaweting prang.

Yang berada di Majapahit // untuk berjaga putra kerabat // bila ada yang berangkat tyase // adiku Adipati terung // dan juga Patih Mangkurat dan juga // pasukan para Bupati // separuh yang ikut // separuh saya ajak // menuju Ampel di Terung // menginap tiga hari // minta pakaweting perang.
13.
Kang kawula angge senapati // ingkang dadya susulih kawula // Ing beteng Terung barise // inggih Pangeran Kudus // pramugari misesa baris // kanti para Ngulama // sadaya tri atus // saben dalu Shalat Kajat // Dzikir mulut tansah Muji siang ratri // Tahlil Dzikir Terbangan.

Yang saya jadikan Senopati // dan menjadi wakil hamba // berbaris di Beteng terung // yaitu Pangeran Kudus // pasukan berbaris // bersama  para Ulama // semuanya berjumlah tiga ratus // tiap malam shalat hajat // Dzikir lisan selalu memuji siang dan malam // Tahlil dzikir terbangan.
14.
Para Sunan lan para Bupati // gya umiring mring kula sadaya // ulun sapraptaning Ngampel // wusing pranata ulun // para Sunan para Bupati // nulya lenggah satata // kawula umatur // kang dadya perlu kawula // nyuwun idi tetep kula dados Haji // mengku rat Tanah Jawa .

Para Sunan dan semua Bupati // segera memihak saya semua // sesampainya hamba di Ampel // setelah saya tata // Para sunan dan Bupati // kemudian menata duduk // saya menyampaikan // apa yang menjadi keperluan hamba // memohon restu tetapnya saya menjadi Raja // menguasai Tanah Jawa.
15.
Saha kula ngaturi udani // bedahipun nagri Majalengka // lan Kangjeng  Rama lolose // tuwin pan Yayi Gugur // ugi lolos tan bekta dasih // pejahe Gajahmada // lumawan ing pupuh // Ibu sanget dukanira // sarwi muwus nguman-uman dateng mami // tuwin Sunan Ngulama.

Dan juga hamba memberitahukan // hancurnya Majapahit //dan lolosnya ayahanda // dan juga si Guru // juga lolos tanpa membawa abdi // Gajahmada terbunuh // dalam peperangan // Ibuda sangatlah marah // dengan mengatai-ngatai dan menyalahkan hamba // beserta para Sunan dan Ulama.
16.
Winastan Janma tanpa Budi // dene  tan wruh kabecikan Raja // asikara tanpa wite // nanging panimbang hulun // inggih leres Jeng Ibu Nyai // sampun katur sadaya // ing sadukanipun // Nyai Ageng Ngampeldenta // purwa madya wasananira abersih // putuse kang rinembag.

Dikatakanya manusia tidak berbudi // karena tidak tau kebaikan raja // menyiksa tanpa sebab // namun setelah saya pikir // memang benarlah apa yang dikatakan Kanjeng Ibu Nyai // telah ku sampaikan semua // dan juga kata-kata kemarahan // Nyai Ageng Ngampel Gading // awal tengah dan akhir sampai bersih // samapi habis yang dibicarakan.
17.
Sunan Benang Jetung datan angling // nging sinamur jwa kongsi katara // kang dadya kaluputane // mring Ratu Majalangu // ing wusana ngandika aris // dene merangi tatal // nalarira iku // wong wis mati ing nguripan // tekatira mati tengah nglangi pinggir // nganggo tekat urakan.

Sunan Benang diam tak berkata // Namun diselimurkan agar tidak terlihat // yang menjadi kesalahannya // kepada Ratu Majapahit // kemudian berkata pelan // Ibaratnya memerangi tatal // nalarmu itu // Manusia yang telah meninggal kau hidupkan kembali // tekadmu mati di tengah berenang ke pinggir // menggunakan tekad urakan.
18.
Wong kang ngerti terus lahir batin // mangan gula wus prapteng ing dada // dipun ulu sadayane // embuh dadine pungkur // luwih karsanira Hyang Widdi // janma kang akhli nalar // ngarani sireku // ing ngaran bangsa tugelan // nora murni nuwuhake nyawa kalih // katanda tekat ira.

Orang yang telah memahami lahir terus kedalam batin // makan gula telah sampai di dada // akan ditelan semuanya // entah apa jadinya di belakang // terserah apa kehendak Tuhan // manusia yang ahli nalar // menyebut dirimu // disebut setengah-setengah // tidak murni menggunakan dua nyawa // terlihat dari tekadmu.
19.
Mungal-mungil tan wurung ketail // ing pakewuh dadi tiwasira // marga kurang kantepane // sira nurut ibumu // ibunira iku pawestri // tan wenang dadi imam // amurwani  laku // prakara ngrembug nagara // yen wong wadon weruhe mung uyah trasi // wus kocap jroning kitab.

Ragu-ragu akhirnya terjerat // oleh berbagai masalah yang bisa mengakibatkan kematianmu // karena disebabkan kurang kemantapannya // kau menuruti Ibu-mu // Ibumu itu wanita // tidak berhak menjadi Imam// menjadi panutan // membicarakan tentang tata negara // Seorang wanita hanya mengetahui uyah dan terasi // telah tertulis dalam kitab.
20.
Yen wong kakung manut mring pawetri // nadyan bojo sanadyan wong tuwa // wus pasti dadi tiwase // sebab estri puniku // tetep aran uwong sejati // nglowong mung dadi wadah // tan wenang tinantun // prakara ngrembuk negara // apa maneh bener luputing Agami // wus pasti sasarira.

Jika seorang laki-laki dipimpin wanita // meski istri ataupun orang tua // sudah pasti akan celaka // sebab wanita adalah // tetap disebut manusia sejati // kosong hanya sebagai wadah // tidak wajib diikuti // ketika membicarakan negara // apalagi masalah benar dan salah yang menyangkut Agama // pasti akan menjadi tersesat.
21.
Sira aran tiyang kang sejati // iya iku pikukuhing palwa // nora kena mengleng-mengleng // kudu jejeg abakuh // aneng tengah amikukuhi // sira wus dadi imam // amurwani laku // panutan wong jawa Islam // yen tyasira mirang miring nengah minggir // dadi tiwasing kathah.

Kau disebut orang sejati // yaitu ibaratnya tiang kapal // tidak boleh ragu-ragu // harus tegak dengan kuat // ditengah menguatkan // kau telah menjadi Imam // panutan segala tindakan // menjadi panutan orang Islam  // Jikan batinmu ragu-ragu ke tengah dan ke pinggir // akan mencelakakan orang banyak.
22.
Para Sunan lan para Bupati // wus anganggkat sira dadi raja // Ngratoni Wong Jawa kabeh // ran Senapati Djimbun // kang pinuji di embun sabumi // jaluk idi wanodya // asor bangsanipun // darajate luhur sira // nadyan tuwa nora wajib angideni / jenengira Narendra.

Semua sunan dan Bupati // telah mengangkatmu menjadi Raja // menguasai seluruh tanah Jawa // dengan bergelar Adipati Jinbun // Yang di puji di sembah orang sedunia // memohon restu kepada wanita // dari golongan derajat rendahan // lebih tinggi dirimu derajatnya // Walaupun tua dia tidak wajib untuk memberi restu // kepada dirimu untuk menjadi raja.
23.
Dadi sira kena den arani // janma mulya dijak dadi kumpra // anjaluk idi wong jelek // apa sira tan weruh // sebutne Tajushalatin // lamun bangsa wanodya // apes duwekipun // tan kena tinari karya // dadi sira anerak angger nagari // sisikuning kalipah.

Jika demikian engkau bisa disebut //dari manusia terhomta mejadi manusia biasa // karena memohon restu manusia rendahan // apakah kau belum memahami // apa yang tercantum dalam Kitab Tajushalatin // Apabila golongan wanita // maka apes miliknya // tidak bisa diajak bekerja // jika demikian kamu melanggar undang-undang negara // terkena siku khalifah.
24.
Upamane ramanira Haji // sira angkat bali dadi Raja // pulih getih kaya biyen // pra Bupati wus suyut // animbali kang putra kalih // Dipati Panaraga // miwah putra mantu // ing Pengging Handayaningrat // nora wurung pasti sira den pateni // sapa kang ngalangana.

Seandainya orang tuamu raja // kau angkat kembali menjadi raja // kembali seperti semula // semua Bupati telah tunduk // kemudian raja memanggil kedua anaknya yang lain // Hadipati Ponorogo // serta putra mantu // di Keraton Pengging // pastilah dirimu akan dihukum mati// siapakah yang akan menghalanginya.
25.
Ngilangake mring endog sawiji // Ibu andap tur seje Agama // wus agawe salah gedhe // murtad ing Bapa Ratu // wus wajibe dipun pateni // wus sah sebutane kitab // kukume linampus // tur nora sira pribadya // sawadyamu kang padha biyantu balik // sah wajib pinatenan.

Menghilangkan satu anak // dari seorang ibu kelas bawah dan juga beda Agama // dan telah berbuat kesalahan besar // murtad kepada raja // sudah seharusnya dibunuh // telah tertulis dalam kitab // hukumannya hukuman mati // dan juga bukan hanya dirimu sendiri //tapi juga beserta seluruh pasukanmu yang telah membantumu // sah dan wajib dihukum mati.
26.
Dadi sira kena den arani // janma rusak kudu angajak-ajak // anggawa pepati akeh // lamun weruha ingsun // tekatira nengah minggir // mulat wuri lan nagara // ingsun datan purun // ambotohi marang sira // ingsun sengguh mantep tetep trusing ngati // mantepe tekadira.

Sehingga dirimu bisa disebut // Manusia yang rusak dan mengajak-ajak // sehingga membawa korban sangat banyak // seandainya dari dulu saya mengetahui // tekadmu ke tengah ke pinggir berubah-ubah // melihat kebelakang dan melihat negara // saya tidak bakalan bersedia // menjadi botoh dirimu // saya kira engkau sudah mantap dan kuat sampai ke dalam hati // atas ketekatan dirimu.
27.
Wong kang ngerti terus lahir batin // mangan gula wus prapta ing dada // dipun ulu sadayane // embuh dadine besuk // luwih karsanira Hyang Widhi // wus sedya nglawaning  prang // mungsuh Bapa Ratu // nadyan Bapa Ratu Budha // pan wus khalal tan ana batal karami // pinangan Janma Islam.

Manusia yang telah paham lahir batinnya // makan gula sudah sampai di dada // akan ditelan semuanya // entah apa jadinya // teserah apa kata Tuhan // sudah diniati melawan dengan perang // melawan orang tua raja // karena beragama Buda // itu halal tidak ada batal kharamnya // akan dimakan oleh orang Islam.
28.
Nora ana ing sawiji-wiji // najis mekruh sadayane sirna // wong kapir asli darbeke // kang wus kasor prangipun // janma Islam ingkang darbeni // sanadyan ta wanodya // wenang den dol iku // kinarya batur tumbasan // sampun khalal jinamah datanpa kawin // wus sah sebutan kitab.

Tidak ada yang menghalangi // Najis dan makruh semuanya telah sirna // Semua harta milik orang kafir // jika sudah kalah perang // akan menjadi milik orang Islam // meskipun itu wanitanya // boleh dijual // seperti barang dagangan // sudah khalal di jamah tanpa nikah // sudah sah menurut isi dari kitab.
29.
Balik mengko paranta kang dadi  //pungkasane kekarepanira // tutura sun rungokake // enake atiningsun // lamun tekatira lestari // ambedah Majalengka // sun ideni iku // dadi Ratu Tanah Jawa // sabanjure prapteng anak putu benjing // yen sira murungena.

Sekarang kembali apa yang menjadi // keinginanmu sekarang // sampaikanlah akan saya dengarkan // terserah apa kata hatimu // apabila tekadmu tetap // inging menghancurkan Majapahit // saya restui  // dirimu menjadi raja menguasai tanah jawa // samapi dengan anak cucumu // namun jika dirimu menggagalkan niatmu.
30.
Sira manut maratuwa estri // ingsun mulih marang nagri Ngarab // aneng kene tanpa gawe // mangsa wurunga lampus tur tan bisa ngelar agami // lah iya ucapena // enggal-enggal gothak-gathuk // yen sira alestarekna // genya ngrusak karaton ing Majapahit // amungsuh Bapa Raja.

Dan jika dirimu mengikuti apa kata mertuamu perempuan // maka saya kembali pulang ke Tanah Arab // Di sini sudah tidak ada gunanya // jika tetap bertahan sampai matipun tidak bisa menyiarkan agama // ayo ucapkanlah // cepat-cepat kau pertimbangkan // jika kau teruskan // niatmu untuk menghancurkan Majapahit // melawan orangtuamu raja.
31.
Nanging sira tetep dadi Haji // Mungsuh Bapa wenang tinobatan // mring Hyang nyuwun ngapurane // nedya mungsuh wong sepuh // Ratu kapir tan durakani  // lupiane wus ana // Pra Nabi rumuhun // Ibrahim Musa Muhammad // pada musuh wong tuwa kang pada kapir // nemu mulya raharja.

Kamu akan tetap menjadi raja // kau melawan orang tua masih bisa bertobat // kepada tuhan mohon untuk diampuni// karena melawan orang tua // yang kafir itu bukan durhaka // contohnya sudah ada // kisah Nabi jaman dahulu // Nabi Ibrahim. Musa . Muhammad// semuanya memusuhi orang tuanya yang kafir // akhirnya mendapatkan kemuliaan dan selamat.
32.
Lamun wurung ngrusak Majapahit  // sira dosa guru kang sanyata // luwih gedhe durakane // yen wong dosa ing guru // nora wenang dipun tobati // sebab kang meruhana // dadalan rahayu // ing ngurip prapteng hantaka // Kanjeng Sultan Bintara sareng miharsi // Sabdane Sunan Benang.

Jika kau gagalkan dalam menghancurkan Majapahit // kau nyata-nyata berdosa terhadap gurumu // lebih besar durhakanya // Jika orang berdosa kepada guru // tidak bisa diampuni // sebab gurulah yang memberi petunjuk // jalan keselamatan // ketika hidupnya sampai meninggal dunia // Kanjeng Sultan Bintara, setelah mendangar // apa yang dikatakan oleh Sunan Benang.
33.
Getun jegrek dangu datan angling  // pan rumangsa kaluputanira // kabudan laku tingkahe // Maju mundur kabentus // ing pakewuh kag gampang rumpil // tiba kasandung rasa // kabentus ing wang wung // kapengkok nalar kang samar // maju mundur duraka// ing lahir batin // mangkono hosiking tyas,

Menyesal, dan termangu tanpa bisa berfikir  // karena merasa salah // karena bingung untuk mengambil keputusan // Maju kena mundur kena // karena menghadapi masalah yang mudah tapi rumit // jatuh terbentur rasa // terbentur kebingungan // jatuh terduduk oleh nalar yang samar // Maju mundur tetap durhaka // baik lahir maupun batin// begitulah yang ada dalam pikiran Sultan.
34.
Yen wurunga ngrusak Majaphit // dosa marang Guru kang sanyata // luwih gedhe durakane // yen den banjurna iku // denya ngrusak ing Majapahit // dosa mring Bapa Raja nanging dadi ratu // malah wenang tinobatan // ing wusana Jeng Sultan Humatur aris // inggih kula lajengaken.

Jika menggagalkan menghnacurkan Majapahit // Dosa besar terhadap Guru // lebih besar durhakanya // jika dilanjutkan // untuk menghancurkan Majapahit // Durhaka kepada orang tua dan raja, namun akan menjadi raja // dan syah untuk dinobatkan // akhirnya Jeng Sultan berkata pelan // Iya akan saya lanjutkan.
35.
Gen kawula ngrusak Majapahit // rehning nguni kawula wus sagah // dateng Ibu Nyi Geng Ngampel // manawi Rama kondur / kula angkat narpati malih // amengku Tanah Jawa // kadya ingkang sampun // sayekti kawula cidra // boten wande kawula dipun dukani // mring Ibu maratuwa.

Untuk menghancurkan Majapahit // karena saya sudah terlanjur mengatakan sanggup // kepada Nyi Ageng // apabila ayahanda kembali pulang // saya angkat menjadi raja kembali // untuk sebagai penguasa tanah jawa // seperti sebelumnya // berarti saya ingkar janji // tentunya saya akan dimarahi // oleh Ibu mertua.
36.
Kados pundi gen kula mangsuli // sebab kula cidra ing hubaya // Sunan Benang ngandikane // lah iku gampang gampung nora susah ngupaya pikir // aja cidra ngubaya // wuwus kang wus metu // yen Ramanira wus prapta lan sabaha marang nagri Majapahit // sawadya sangkeping prang.

Apa yang harus saya katakan // sebab saya ingkar janji // Sunan berkata memberi jalan keluar //  Itu sangat mudah, tidak usah kau pikir // jangan kau ingkar janji // terhadap janji yang telah kau katakan // Jika orang tuamu telah kembali  segeralah menghadap ke Majapahit // dengan membawa pasukan perang lengkap dengan peralatannya.
37.
Kriggen kabeh Bupati pasisir // sawadyane sikep kapraboning prang // kira wong tri leksa kehe // para Sunan sadarum // jaken seba mring Majapahit // lamun sira wus panggya // kalawan Ramamu // sira anyuwuna ngapura // ing sakehe kaluputanira kang wis // wani Bapa tur Raja.

Ajak semua Bupati pesisir // bersama pasukannya lengkap dengan peralatan perang // kira-kira berjulah 30.000 banyaknya // dan juga para sunan semua // ajaklah menghadap ke Majapahit // jika kau telah bertemu  // dengan orang tuamu // segeralah kau mohon ampun // atas segala kesalahan yang telah kau lakukan // berani kepada orang tua dan juga raja.
38.
Yen sira wus holeh pangaksami // ing sakehing kaluputanira // ramamu angkaten Rajeng // Pulo Jawa Karimun // aja ana ing Tanah Jawi // mundak ngribeti nalar // jenengira Ratu // jaganen wadya sanambang // sadinane urunan para Bupati // sawadya sikeping prang.

Jika kau telah mendapatkan pengampunan // atas segala kesalahanmu // orang tuamu angkatlah menjadi raja // di Pulau Karimunjawa // jangan berada di Pulau Jawa // akan menyebabkan kebingungan dalam berfikir // Sedangkan sang raja // jagalah oleh sepasukan prajurit // setiap harinya dengan biaya dari urunan para bupati // lengkap dengan peralatan perangnya.
39.
Dimen seda pinangan ing demit // aneng Krimun saking karsaningwang // dene  yen ana murkane // kang putra kalihipun // Hadipati ing Panaraga // Pengging Handayaningrat // lawanen prang pupuh // wus lumrah manusa gesang // Bapa seda anak samya rebut waris // pusaka ngrebut praja.

Biar meninggal dimakan demit // di Pulau Karimun dengan sendirinya // jika ada murkanya // dari kedua anaknya // Adipati Ponorogo // dan Pengging Hadiningrat // lawanlah dengan perang // sudah sewajarnya dalam kehidupan // Sepeninggal orang tua anak berebut waris // pusaka dan kerajaan.
40.
Sunan Giri anambungi angling // inggih leres ing karsa paduka // kawula prayogakake // nanging utamanipun // sampung ngantos amangun jurit // karya risaking praja // yen pareng pukulun // kawula tenung kewala // Sri Narendra miwah ingkang putra kalih // kajenge nunten seda.

Sunan Giri menyambung kata-kata // Betulah apa yang kau katakan // saya setuju // namun sebaiknya // jangan sampai terjadi perang // bisa mengakibatkan kerusakan negara // Jika saya di perkenankan // saya santet saja // Sang Raja Brawijaya beserta kedua putranya // biar meninggal dunia.
41.
Kula tenung mejahi janma tri // bangsa kapir boten manggih dosa // amrih wilujenging ngakeh // Sunan Benang amuwus // luwih karepira pribadi // Kanjeng Sultan Bintara // anambungi wuwus // lere Sunan Giri Pura // pan wus dadya pirembag saliring kardi // ganti kang kawuwus

Saya santet membunuh tiga orang // menyantet orang yang kafir tidak berdosa // demi keselamatan orang banyak // Sunan benang menjawab // terserah saja, itu keinginanmu // Kanjeng Sultan Bintara // mendukung dengan mengatakan // benar apa yang akan dilakukan oleh Sunan Giri Pura // karena semuanya sudah masuk dalam rencana // “” GANTI yang dicerikan :
42.
Tindakira Kanjeng Sunan Kali // angulati Prabu Brawijaya // lunta-lunta lampahe // sabat kalih tan kantun // cara santri lampah musafir // nurut pasisir wetan // prateng dukuh-dukuh // denira ngupaya warta // kang kamargan lolose // Kanjeng Sang Haji // Sri Nata Brawijaya.

Kisah perjalan Sunan Kali // dalam mencari kepergian Prabu Brawijaya // terlunta-lunta jalannya // Dua sahabatnya tidak ketinggalan // berjalan mengunakan cara santri sebagai musafir // menelusuri tepian pesisir timur // setiap masuk desa-desa // selalu mencari kabar // di setiap yang dilewatinya atas lolosnya // Sang Raja // Sri Nata Brawijaya.

vii.          S I N O M
EEdit : Pujo Prayitno
1.
Sang Prabu prapteng Blambangan // kendel margi pinggir beji // Ratu agung Binathara // bau denda nyakrawati // mangkya nahen prihatin // rekasa ing tindakipun // kang munggweng ngarsa Nata // dasih kalih datan tebih // Palonsabda Genggongnaya gegujengan.

Tibalah sang raja di Blambangan (Banyuwangi) // beristirahat di pinggir sumber air // Raja besar bagaikan Dewa // kuat dan berwibawa // sekarang sedang prihatin // sengsara dalam perjalannya // Yang sedang menghadap Raja // dua abdinya tidak terlalu jauh // Sabdapalon dan Nayagenggong selalu bercanda.
2.
Kasaru ing praptanira // Sunan Kali gya ngabekti // sumungkem padha Narendra // ngandika Sri Narpati // Eh Sahit sira prapti // apa karyamu kang perlu // nututi lakuningwang // Umatur njeng Sunan Kali // prapta ulun dinuta putra paduka.

Tiba-tiba datanglah // Sunan Kali yang segera menyampaikan sembah bekti // Sungkem di hadapan raja // berkatalah sang raja // Eh Sahit engkau datang // apa keperluan atas kedatanganmu // menyusul langkah kepergianku // Menjawablah sunan Kali // Kedatanganku sebagai duta putra tuanku raja.
3.
Nusul madosi paduka // kapanggih ing pundi-pundi // sembah sungkeme kunjuke // ing padha Paduka Aji // lan nyuwun pangaksami // sadaya ing lepatipun // kamipurun angrebat // kaprabon tuan Narpati // inggih saking kalimput tyas punggung muda.

Hamba disuruh mencari paduka // ketemu dimanapun saja // Dia menyampaikan sembah sungkem // di telapak kaki paduka raja // dan mohon pengampunan // atas segala kesalahannya // karenan lancang merebut // kekuasaan Paduka Raja // karena khilaf terdorong oleh jiwa muda.
4.
Kirang priksa parikrama / kasesa selak kepengin // mangku praja angreh wadya // siniwi para Bupati // mangkya Putra Sang Aji // rumaos ing lepatipun // darbe Bapa tur Raja // Ratu Agung nyakrawati // anjengkaken sing ngandap aparing pangkat.

Kurang memahami sopan santun // tergesa-gesa ingin segera // menjadi raja memerintah punggawa // dihormati para Bupati // sekarang Putra Paduka // sadar atas kesalahannya // Mempunyai orang tua dan juga sebagai raja // Raja Besar yang berwibawa // yang telah mengangkat derajatnya dengan memberi pangkat.
5.
Ing demak nama Dipatya // temah kalimput ing galih // ngrabat praja mamrih seda // tangeh malesa prayogi // ing sih paduka gusti // mangke putra tuan emut // darbe Bapa tur Raja // Ratu Agung nyakrawati // tilar praja tan karuwan dunungira.

Menjadi Bupati Demak // karena khilaf pikirannya // merebut tahta agar meninggal dunia // dan tidak mungkin engkau akan membalasnya // karena rasa sayang engkau kepada putra // sekarang putramu sadar // mempunyai Orang tua dan juga Raja // Raja Besar yang berwibawa // meninggalkan kerajaan tidak diketahui tempatnya.
6.
Rumaos angsal duduka // mring kang karya bumi langit // mila kawula dinuta // madosi Paduka Gusti // kapanggya pundi-pundi // paduka ngaturan kundur // dateng ing Majalengka // tetepa kadya ing nguni // mengku Praja siniwi para Punggawa.

Merasa mendapat kemarahan // oleh yang mencipta bumi langit // sehingga saya diutus // mencari engkau wahai sang raja // ketemu dimanapun saja // engkau dimohon kembali // ke Majapahit //  tetap seperti semula // mengusai kerajaan dan dihormati para punggawa.
7.
Aweta kinarya jimat // pinundi pundi pra siwi // wayah buyut myang santana // pinet sawabipun Gusti // rahayune neng bumi // manawi paduka kundur // putra paduka pasrah // karaton konjuk Sang Aji // putra tuan nyaosaken pejah gesang.

Bertahan sampai lama sebagai pusaka // dijungjung tinggi oleh para putra // cucu buyut  dan kerabat // untuk diambil barokahnya  paduka // agar selamat hidup di dunia // Jika paduka pulang kembali // putra paduka akan memasrahkan // keraton kepada paduka // Putra padukan memasrahkan hidup dan matinya.
8.
Pareng boten kaparenga // putranta nyuwun aksami // sadaya ing kalepatan // mung nyuwun aksami // sadaya ing kalepatan // mung nyuwun pangkate lami // Demak nama Dipati // tetepa kadya rumuhun // yen paduka tan arsa // angasta kaprabon Aji  // sinaosan kadaton wonten aldaka.

Boleh ataupun tidak // putra paduka mohon ampunan // atas segala kesalahannya // hanya mohon maaf // atas segala kesalahannya // dan mohon pangkatnya yang lama // tetap menjadi Bupati Demak// tetap sebagaimana sebelumnya // Andaikan engkau tidak menginginkan untuk // menjadi raja kembali // akan dibangunkan untuk paduka keraton di Gunung.
9.
Ing pundi ingkang kinarsa // aldaka kang den depoki // putra paduka kang yasa // sapiratosing maharsi // putra tuan nyaosi // busana dahar Sang Prabu // nanging nyuwun pusaka // karaton ing Tanah Jawi // dipun suwun kang rila trusing wardaya.

Terserah dimana yang kau inginkan // gunung apa untuk dijadikan padepokan //Putra padaku yang akan membangunnya // lengkap dengan segala keperluannya // Putra paduka akan menjamin // busana dahar Sang Prabu // namun Sang Putra mohon pusaka // kerajaan di tanah jawa // Putra paduka mohon dengan keikhlasan paduka lahir sampai dengan batin paduka.
10.
Ngandika sri Brawijaya // sun ngrungu aturmu Sahit // nanging tan ingsun gatekna // karana wus kapok mami // rembugan karo santri // padha nganggo mata pitu // kabeh mata lapisan // ablero lamun ningali // mulat ngarsa  ing wuri jenggung mustaka.

Berkatalah Sri Brawijaya // saya mendengar semua perkataanmu Sahit // namun tidak ku perhatikan // karena saya sudah terlanjur tidak percaya // berdialog dengan santri // semuanya menggunakan 7 mata // semua mata berlapisi // juling jika melihat // melihat kedepan sedang dibelakangnya memukul kepala.
11.
Caturan mung manis lesan // batine angandut wedi // kinapyukake ing mata // piceka mataku siji // mula ingsun beciki  // walese lir munyuk buntung // apa salah manira // rinusak tanpa prakawis // tinggal tata adat caraning manusa.

Jika berkata hanya manis di mulut saja// di dalam hatinya mengandung pasir // yang akan dilemparkan ke mata // butalah satu mataku // semula saya baiki // membalasnya seperti monyet buntung // apa kesalahan saya // dirusak tanpa ada sebab // meninggalkan tata cara manusia.
                                                                           12.           
Mukul prang tanpa panantang // anganggo tataning babi // dudu manusa utama // Sunan Kali duk miyarsi // pangandika Sang Aji // rumangsa ing lepatipun // denira melu bedah // karaton ing Majapahit // analongsa kaduwung kaya matiya.

Menyarang tanpa melakukan tantangan // menggunakan tata cara kelakuan babi // bukan kelakuan manusia utama // ketika Sunan kali mendengar // segala ucapan sang Raja // barulah dia sadar atas segala kesalahannya // karena ikut membantu merusak // kerajaan Majapahit // sedih menyesal serasa akan mati.
13.
Ngrerepa ing aturira // saduka-duka Sang Aji // kang dumateng putra Tuan // dadosa jimat paripih // kacancang pucuk weni // kapundi wonten ing ngembun // mandar amuwuhana // cahya Nurbuat kang wening // rahayune sadaya putra paduka.

Merayulah sunan Kali dengan mengatakan // sebesar apapun kemarahan paduka Raja // yang tetuju kepada putra paduka // akan dijadikan pusaka // akan diikat di pucuk pohon Wani // di sunggi di atas kepala // semoga akan menjadi // cahaya Nurbuat yang bening // untuk menjadikan keselamatan putra paduka.
14.
Rehning sampun kalampahan // punapa winuwus malih // namung aksama paduka // sinuwun putra Sang Aji // mila mangke mangsuli // katepatan ingkang sampun // wangsul karsa paduka // karsa tindak dateng pundi // angandika Saga Prabu Brawijaya.

Karena hal itu sudah terlanjur terjadi // apa yang masih bisa dikatakan // hanya ampunan dan maaf paduka // yang dimohon oleh putra paduka // tidak akan mengulang kembali  // kejadian yang telah terjadi // kembali kepada paduka // Paduka hendak pergi kemana // berkatalah Sang Prabu Brawijaya
15.
Saiki karsa manira // arsa tindak marang Bali // katemu yayi Narendra // wong ngagung Kalungkung nagri // arsa ingsun wartani // Si Patah Pratingkahipun // sikara tanpa dosa // lan Ingsun purih nimbali // para Raja kanan kering Tanah Jawa .

Keinginanku sekarang // ingin pergi ke Bali // untuk menemui adik raja // orang besar di kerajaan Klungkung // akan saya beritahu // atas kelakuan Si Patah //  menyiksa tanpa sebab // saya akan mohon bantuan untuk memanggil // semua raja di kanan dan kiri Pulau Jawa.
16.
Samekta kapraboning prang // bleleng Lombok Badung Mangli // Karangasem Jagaraga // Bimma Megora Mekral // lawan malih nagari // Timur Hambon Halipuru // Guha lan Powa-Powa // Makasar Menado Boni // Pacet Buton Ternate lan Dore Bandah.

Lengkap dengan pasukan perangnya // Buleleng, Lombok, Mangli // Karangasem. Jagaraga // Bima, Megora, Mekral // dan juga kerajaan // Timor, Ambon , Arafuru // Gua dan Powa-powa // Makasar menado, Bone // Pacet, Biton, Ternate dan Dora Bandah.
17.
Mulu Kote ing Banjarmas // Siyak Batak luri malih // Dayak Selon Dana Bawang // Riyo Ringga Tapanuli // Mlabar tanapi Ngacih // Minangkabo Bangkahulu // Nias Lampung Piyaman // Padang Precih // Padang Tinggi // Hadipati Palembang sun weni wikan.

Mulu kote di Banjarmas // Siyak, Batak, dan juga // Dayak Selon Dna Bawang // Rio Ringga, Tapanuli // Malabr dan juga Ngacih // Minagkabo Bengkulu // Nias Lampung Pariyaman // Padang Precih // Padang Tinggi // sedangkan Adipati Palembang akan saya beritahu.
18.
Yen anake karo pisan // sapraptane tanah Jawi // karo sun karya Dipaya // pada amengku nagari // nanging tan weruh margi // wani mungsuh Bapa Ratu // sun jaluk lilanira // anake ingsun pateni // sabab murtad ing Bapa kapindo Raja.

Jika kedua anaknya // setibanya di Tanah Jawa // keduanya ku jadikan Bupati // keduanya kujadikan raja // Namun tidak tau jalan // Berani melawan orang tua yang juga Raja // akan kuminta kerelaanya // kedua anaknya akan saya bunuh // sebab sudah murtad kepada orang tua dan yang kedua kepada Raja.
19.
Lan Ingsun harsa sung wikan // mring Hongte Cina nagari // yen putrane wus patutan // lan ingsun kakung sawiji // nanging tan weruh becik // wani mungsuh Bapa Ratu // sun jaluk lilanira // putrane ingsun pateni // lan sun jaluk biyantu prajurit Cina.

Saya akan memberitahukan juga // Raja Hongte di Cina // jika putrinya sudah mempunyai anak // dengan saya,, hanya seorang putra // namun tidak mengetahui kebaikan // Berani memusuhi orang tuanya sendira yang juga raja // saya mohonkan keralaannya // cucunya akan saya bunuh // dan saya mohon bantuan prajurit Cina.
20.
Samekta kapraboning prang // anjunjung nagara Bali // yen wus samekta ngayuda // asikep kaprabon jurit // manawa pada eling // labet kabecikanipun // kalawana duwe welas // mring wong wungkuk kaki-kai // yekti teka ing Bali samekteng yuda.

Lengkap dengan peralatan perangnya // menuju ke kerajaan di Bali // jika semua pasukan sudah siap // dengan peralatan perangnya // jika masih ingat atas kebaikan // dan juga jika masih punya rasa kasihan // kepada kakek yang sduah bungkuk // pasti akan datang ke Bali lengkap dengan pasukannya.
21.
Sun ajak mring Tanah Jwa // angrebut karaton mami // nadyan prang gedhe gempuran // lan anak ingsun tan sisip // wit ingsun tan ngawiti // tinggal carane wong agung // Sunan Kali miyarsa // dawuhe Sri Narpati // pan alegeg ngandika jroning wardaya.

Akan saya ajak ke Jawa // untuk merebut kerajaanku // walaupun akan terjadi perang besar-besaran // melawan anakku sendiri itu tidak salah // karena bukan saya yang mengawali // dalam menggunakan tidak akan meninggalkan tata cara orang besar seperti anaku.// Ketika Sunan Kali mendengar // apa yang dikatakan sang raja // terdiam dan dalam hati berkata
22.
Tan cidra ing dhawuhe ira // Nyai Ageng Ngampelgading // si iyang wungkuk bergagah / bergigih gagahi nagri // tan miyat wujud diri // geger wungkuk kulit kisut // lamun iki banjura // anyabrang marang ing Bali // nora wurung karya perang brata yuda.

Sungguh tidak salah apa yang dikatakan // oleh Nyai Ageng di Ampel Gading // bahwa si eyang yang bungkuk // tetap ingin menguasai negara // tidak melihat ujud dirinya // sudah bungkuk dan berkulit kisut // jika terus melanjutkan // menyeberang ke Bali // akan terjadi perang Barata Yuda.
23.
Tur Demak mangsa menanga // karana katindih sisip // mungsuh Bapa pindo Raja // ping telu agawe becik // yekti wong Tanah Jawi // kang durung Islam satuhu // asih mring Ratu tuwa // angantep tangkeping jurit // yekti kasor wong Islam tumpesing aprang.

Melawan Demak, dan Demak tidak mungkin menang // karena di posisi yang salah // melawan orang tua yang kedua sebagai Raja // yang ketiga telah memberi kebaikan // pasti semua orang Jawa // yang agama Islamnya belum kuat // lebih memilih membela Raja yang tua // dan akan melakuka perlawanan melawan Demak // Pasukan Islam jelas akan kalah.
24.
Wasana alon turira // duh pukulun Sribupati// upami Tuan lajengna // ing karsa Paduka Haji // nimbali pra Narpati // tan wurung dadya prang brubuh // punapa boten ngeman // risake nagari Jawi // sayektine putra paduka kasoran.

Kemudian Suna Kali berkata pelan // Wahai sang Raja // Jika Tuan terus melanjutkan // apa yang menjadi keinginan Tuan // memanggil para raja // tentulah akan terjadi perang besar-besaran // apakah tidak kasihan // atas kerusakan Negri Jawa // pasti Putra Padukan akan kalah.
25.
Paduka jumeneng Nata // Tan lama nuli ngemasi // keprabon Nata kaliya // sanes darah Paduka ji // umpaminipun anjing // rebatan bangkening gembluk // kang kerah tulus kerah // tumpesan sami ngemasi // daging manah tineda mring sanes sona.

Engkau akan menjadi raja kembali // tidak berapa lama engkau meninggal dunia // Kerajaan akan dikuasai orang lain // yang bukan keturunan Paduka raja // jika diibaratkan anjing // berebut bangkai monyet // yang bertengkar terus bertengkar // akhirnya keduanya meninggal // dan hatinya akan dimakan anjing lainnya.
26.
Ngandika Sri Brawijaya // luwih karsaning Hyang Widdi // Ingsun Ratu Binathara netepi matakku siji // tan amot mata kalih// siji bener paningalku // ingkang miturut sarak // pranatane bangsa inggil// yen si Patah ngrasa duwe bapa mring wang.

Berkatalah Sri Brawijaya // itu terserah kehendak Tuhan // Saya sebagai Raja di Raja.. melangkah menggunakan satu mata yaitu mata hati // tidak akan bisa jika menggunakan dua mata // dengan satu mata hati akan benar penglihatanku // yang menurut sarak // dan aturan bangsa yang luhur // seharusnya si Patah merasa bahwa sayalah ayah kandungnya.
27.
Kapengin dadi Narendra // disuwun krana becik // karaton ing Tanah Jawa // sun paringken lawan aris // ingsun wus kaki-kaki // wus wareg jenenging Ratu // trima dadi pandita // pitekur ana ing wukir / balik mangke si Patah siya maring wang.

Jika mengingkan untuk menjadi Raja // diminta dengan cara yang baik // Kerajaan di tanah Jawa // akan saya kasihkan dengan senang hati // saya sudah kakek-kakek // telah kenyang menjadi raja // sudah waktunya menjadi pandita // bertafakur di atas gunung // lihatlah sekarang si Patah menyia-nyiakan diriku.
28.
Sayekti ingsun tanrila // ing Jawa dipun ratoni // luwih karsaning Sukmana pamintaningsung ing nguni // Suna  Kali Miyarsi // ngandikanira Sang Prabu // rumangsa tan kaduga // ngaturi Sri Narpati // nulya muwun sumungkem pada Sang Nata.

Sungguh saya sangat tidak akan rela // Jika dia yang menjadi raja di Tanah Jawa // lebih lebih kehendak sukma ku // itulah permohonanku sejak dahulu // Ketika sunan Kali mendengar perkataan raja// Dia merasa tidak tega // untuk membujuk rayu sang raja // sambil menangis dia bersujud kepada raja.
29.
Nyaosaken cundrikira // umatur sarwi anangis // manawi karsanta Nata tan arsa kula aturi // tan sanget aningali // pratingkah kang langkung saru // kawula nyuwun pejah // suwawi tuwan telasi datan tahan ginaguyu hisining rat.

Sambil memberikan keris nya // berkata sambil menangis // Apabila sang raja tidak berkenan atas nasihat saya // saya tidak ingin melihat // kejadian yang lebih mengerikan // lebih baik saya mati // bunuhlah saya karena saya tidak akan tahan ditertawakan se isi dunia.
30.
Kandeg tyas Sri Brawijaya // tri pandurat tan kena ngling // tebah jaja nenggak waspa // lah Sahit lungguha dihin // sun pikire kang mening // sun timbange aturmu // temen lan gorohira // karana ingsun kuwatir // kehing atur manawa sira lamisan.

Seketika berhenti jalan pikiran raja // termangu tanpa bisa berfikir // menepuk dada menelan air mata // Wahai Sahit duduklah dahulu // akan saya pikirkan dulu dengan tenang // saya nalar dulu nasihatmu // antara jujur ataukah dusta // karena saya kuatir // semua kata-katamu hanya manis di mulut saja.
31.
Eh Sahit iku Ulama // sun kundur mring Majapahit // Si Patah seba ngarseng wang // getinge tan bisa mari // dene duwe Sudarmi // Buda kawak kapir kupur // lali tan ngetang Bapa // sun cinekel kinabiri // sinung karya atunggu lawang pungkuran.

Wahai Sahit engkau adalah Ulama // jika saja saya pulang ke Majapahit // Si Patah menghadap kepadau // bencinya tidak akan hilang // Karena mempunyai orang tua // Kakek-kakek beragama Buda kafir kufur // dengan itu akan lupa kepada ayahnya // saya akan ditangkap di kebiri // kemudian akan dijadikan penunggu pintu belakang.
32.
Esuk sore miwah siang // pinardi sembahyang mami // yen tan bisa dipun guyang // ing blumbang dikosoki // alang-alang kang garing // iba-iba susah ingsun // rupa ala wus tuwa // njekukuk kinum ing warih// sru gumujeng Sunan Kalijaga.

Pagi sore dan juga siang // saya akan diajari sembahyang // jika tidak bisa saya akan diguyang // di sungai buatan di gosok// menggunakan alang-alang kering // Betapa sengsaranya hidupku // sudah tua dan berwajah jelek // meringkak di rendam dalam air // Tertawa keraslah Sunan Kalijaga.
33.
Mokal kadya punika // kawula kang tanggel benjing // manawi putra Paduka siya ing paduka Aji // dene  bab ing Agami // sakarsa paduka tinut // namung langkung utama manawi paduka arsi // sarak Rasul anebut asmaning Allah.

Tidak akan terjadi hal demikian // saya yang menjadi jaminannya // Jika putra paduka berbuat demikian kepada paduka tuan raja // sedangkan soal Agama // terserah apa yang paduka peluk // namun akan lebih baikya jika paduka berkenan // beragama Syariat Rasul menyebut Asma Allah.
34.
Yen tan karsa tan punapa // karana babing Agami // tan muhung Shalat Sembahyang pikekahira Islami // nging sadat kekah ugi // nadyan shalat dingkal-dingkul yang dereng ngertos Sadat // tetep yen punika kapir // angandika Maha Brabu Brawijaya.

Jika tidak berkenan tidak apa-apa // Karena soal keyakinan Agama // buka hanya Shalat sembahyang saja rukun Islam itu // Syahadat juga termasuk // Jika menjalankan Shalat berkali-kali jika belum mengerti apa syahadat yang sesungguhnya // itu masih tetap kafir // Barkatalah Prabu Brawijaya.
35.
Sadat iku kaya apa // manira durung mangerti // age sira ucapna // mirengna talingan mami // matur Jeng Sunan Kali // gih punika lapalipun // ngucap Ashadu Allah // la ila ha illalhi // kaping kalih angucap ashhaduanna.

Syahadat itu seperti apa // saya belum mengerti // segeralah kau ucapkan // Perdengarkan kepada telinga saya // Berkatalan Sunan Kali // beginilah kalimatnya // Ashadu Allah // la ila h illallah // yang kedua mengucapkan Ashadu anna
36.
Muhammadar Rasulullah // tegese ingsun ngawruhi // pan ora ana Pangeran // amung Allah kang sejati // lawan ingsun nekseni // Jeng Nabi Muhammad iku // utusanira Allah // la ila ha illallahi // ya Muhammad Rasulullah kang sanyata.

Muhammad ar Rasulullah // artinya adalah saya menyaksikan // sesungguhnya tidak ada Tuhan // hanya Allah saja yang sejati // dan saya menjadi saksi // Kanjeng Nabi Muhammad  itu adalah // utusan Allah // La ila ha Illallah // ya Muhammad Rasulullah yang sebenar-benarnya.
37.
Wong kang nembah Puji Aran // tan wikan wujud sejati // atetep dados wong kopar // tiyang ingkang nembah puji // kang sipat wujud warni // nembah brahala ranipun // lahir batine sasar // wikana ing lahir batin // tiyang ngucap sumurupa kang den ucap.

Orang yang menyembah sebatas nama saja // Tidak memahami wujud aslinya // tetap mejadi orang kopar // Orang yang melakukan sembah puji // hanya kepada sifat wujud warna // menyembah berhala namanya // lahir batinnya tersesat // Pahamilah lahir dan batin // Jika berkata, pahamilah apa yang diucapkan.
38.
Tegese Nabi Muhammad // Rasulullah kang sejati // Muhammad makam kuburan // kubure rasa sakalir // ragane janma iki // kubure rasa sadarum // muji badan priyangga // amuji Muhammad Ngarbi // raganing wang wayangan dzating Pangeran.

Arti dari Nabi Muhammad adalah // Rosulullah, sebenar-benarnya utusan Allah // Sedangkan Muhammad  sendiri sekarang (yang artinya atau kedudukannya sedang bukan selaku nabi tapi orangnya) sekarang berada di dalam) kuburan (karena telah meninggal dunia dan sekarang sudah dikubur dan di jamin jasad Nabi Tidak akan rusak selamanya). //  sedangkan kuburan dari semua rasa  adalah // raga manusia ini // sebagai tempat semua rasa yang ada // memuji badan sendiri // sama saja memuji Muhammad Arab (ketika sedang berkedudukan bukan sedang sebagai nabi )// Raga manusia adalah sebagai bayangan dzat Tuhan. (Hati-hati memahami tentang hal ini ... jika masih bingung.. carilah ilmunya sampai ketemu ---- ).
39.
Wujud makam isi rasa // Rasul rasa kang nusuli // rasa mangan manjing lesan // rasule minggah suwargi // anglebur tanpa dadi // leleh luluh dadi endut // anyebut Rasulullah // rupa ala ganda bacin // Nama Allah rupa ala ganda salah. (hati-2 jangan salah tafsir.Pen).

Wujud makam yang berisi rasa // Rasul (Dalam ilmu kerata basa jawa )  adalah Rasa yang keluar (nusuli) atau Rasul adalah yang mengeluarkan rasa // rasa dari makanan mulutlah yang merasakan // Rasule (utusan) sebagai jalan naik ke surga // menyatukan rasa akan menjadi // bercampur menjadi lumpur // menyebut rasululah // (dalam ilmu kerata basa jawa bukan arti yang sebenarnya seperti arti menurut Bahasa Arab  ) akan bermakna // rupa jelek berbau bangkai // Nama Allah ( menurut keratabasa jawa ... bukan allah seperti bahasa Arab) // rupa ala (rupa jelek berbau salah.
40,
Riningkes sebutanira // Muhammad Rasulollahi // ingkang dihin iku badan // ping kalih meruhi tedi // kaping tri weruh ngisi // rasa jro suwarganipun // wus wajibe manusa // mangeran rasa lan tedi // dadya nebut Muhammad ya Rasulullah.

Diringkas akan menjadi sebutan (Muhammad Rasulollahi ) tapi ini ditinjau dari kerata basa (bukan ditinjau dari terjemahan bahasa Arab). // Yang pertama adalah badan // yang kedua memahami apa yang dimakan // yang ke tiga memahami isi dari // rasa .. itulah surganya orang makan // sudah seharusnya bahwa manusia // menuhankan (mencari nikmat) dari rasa makanan // sehingga akan mengatakan Muhammad Rasululohi.  (Makna seperti tersebut di atas // bukan maka terjemahan dari bahasa arab)
41.
Mulane Santri Sembahyang // angucap rapal ushalli // angrawuhi asal ira // kang manjing raganing janmi // asale roch ilapi // tegese Rasul puniku // inggih jatining rasa // wijile rasa ngurip // mijil saking badaning Muhammad kekah . (Hati-2 jangan salah tafsir. pen).

Makanya ketika santri akan melaksanakan sembahyang // mengucap rapal ushalli // yang bermakna “ pahamilah darimana sesungguhnya diri berasal // diri yang masuk ke dalam raga manusia // itu berasal dari ruh idlafi // arti Rasul adalah // Rasa sejati // yang mengeluarkan segala rasa ketika hidup // itu berasal dari raga muhammad yang menjadi panutan.
42.
Lantaran ashadu Allah // mila pancen munggah Kaji // pinuji ngucap ngertiya // Ashadu Allah ing nginggil // lamun mboten mangerti // sadat kang kasebut ngayun // tan wikan kapir Islam // tan weruh purwane  dadi // awit saking kang rapal Ashadu Allah.

Dengan jalan ashadu Allah // itu sebenar-benar naik haji // benar benar memahami siapakah yang di Puji (disembah) // Ashadu Allah seperti telah disebutkan sebelumnya // jika belum mengerti // Sahadat yang telah tersebut di depan // tidak akan memahami apa yang di maksud Kafir Dalam Islam yang sesungguhnya // Tidak akan bisa memahami diri berasal darimana dan akan ke mana // bahwa sesungguhnya semuanya berasal dari yang disebut Ashadu Allah.
43.
Rehning Kanjeng Rasulullah // punika bangsa Ngarabi // wikan gunggunge manusa // ing donya muhun sadosin // warninipun mung kalih // estri akaliyan jalu // samya medal sing makam // sami angsal Roh Ilapi // medal saking makaman badan kang mlekah.

Karena Kanjeng Rasulullah // itu berbangsa Arab // paham benar jumlah manusia // di dunia jumlahnya hanya dua belas // jenisnya hanya dua // perempuan dan laki-laki // semuanya keluar dari makam // yang mendapkan roh idlofi // keluar dari badan yang merekah.
44.
Rehning Jeng Muhammad Mekkah // pinaring Wahyu Hyag Widdi // bikak kawruh gaib samar // sartane sagunging janmi // dadya ingkang pinuji // Muhammad nagari Ngarbun // sebab kang meruhana tata Agami Islam // Muji Guru Muhammad kang lahir Mekkah.

Karena Kanjeng Muhammad yang di Mekkah (bukan muhammad yang sebatas bahasa jawa ) // mendapat anugerah wahyu dari Tuhan // sehingga diberi kemampuan membuka ilmu rahasia yang amat rahasia // sehingga semua manusia // akan memuji // Muhammad  yang berasal dari Arab // Sebab lantaran dia sebagai jalan memahamkan syariat Agama Islam // Mengagungkan Nabi Muhammad saw. yang lahir di Mekkah.
45.
Sarat mawas keblatira // Ka’bahtullah Mekkah Nagri // niku tata kalahiran // eninge ing dalem batin madep keblat pribadi // ing guwa SIRR ciptanipun // punika Ka’bahtullah // apan ta raganing janmi // Ka;bahtullah prahu gaweyaning Allah.

Syariat dari kiblat  adalah // Ka’bahtullah di negara Arab // itu kiblat lahir // Kiblat hakikat itu berada dalam batin sebagai arah kiblat tiap diri pribadi // berada di dalam sirr tempat yang sangat rahasia // Itulah Ka’bahtulah secara hakikat // itulah yang dimaksud bahwa raga manusia // adalah yang memuat Ka’bahtullah ciptaan Allah swt.
46.
Gih betolah gih makaman // ing raga hulun puniki // wujud guwa siring cipta // damelanira Hyang Widdi // sun gawa wira wiri // manut siring cipta hulun // pundi panggenan kula // niku tengah jagad mami // dados keblat raga hulun sipatullah.

Jadi tempat baitullah yaitu // di dalam diriku ini // berujud dua sirnya cipta // Buatan Tuhan // saya bawa ke mana-mana // mengikuti siring cipta saya // dimanapun saya berasa // itulah pusat dunia // yang menjadi kiblat ada dalam raga saya dari sifatulah.
47.
Pan kinarya kanyatahan // sipat wujuding Hyang Widdi // pinarengaken kawula // mirsa nganggo raga dadi // tan wikan andarbeni // tan weruh ing kabulipun // mirsa hanganggo raga // sun tingali mata siji // kang kagungan wujud Allah tunggil kula.

Yang menjadi tempat // sifat wujud dari Tuhan // yang diberikan kepada hamba // di dalam raga tempat nya // akan tetapi jika tidak memahami bahwa kiblat ada dalam diri // maka sama saja tidak mengetahui jika hanya // dilihat dengan mata yang ada di raga // saya lihat menggunakan mata satu (mata hati ) // yang memiliki segala bentuk itu Allah berada Satu dengan saya.. (Satu bukan menyatu .. dekat tak bersentuhan jauh tak terjangkau angan .. oran jawa bilang .. cedhak tanpa senggolan – tebih tanpa wangenan ).
48.
Upami tiyang ngeklasna // mengagungkan Muhammad Ngarbi // mawas ka’bahtullah Mekkah ,// sembah sebutan dumugi // upami boten muji // Muhammad kang mijil Ngarbun // tetep kopar kapiran // tan wikan purwane dadi // awit saking kang rapal wa saduallah.

Jika orang itu ikhlas // memuji Muhammad Arab // dengan melihat Ka’batullah Mekkah // sebutan sembahnya akan sampai // jika tidak mengagungkan // Muhammad yang lahir di Mekkah // tetap kopar kafir // sama saja tidak memahami asal diri // sebab yang dimaksud dengan kalimat Wa as hadu Allah.
49.
Pami tiang minggah wisma // priksa nganggo wisma dadi // sayektine ingkang gadah //narik sewan saben ari // pituwas nganggo panti // yen tan bayar dipun ukum // siniya sinikara // linebokaken ing buwi // mila wajib ngabekti kang karya badan.

Seperti orang yang menempati rumah // tiap hari menyadari menggunakan rumah itu // pastilah yang punya rumah // menarik sewa tiap hari // sebagai ganti biaya menempati rumahnya // jika tidak mau membayar sewa  akan dihukum // disiya-siya dan disiksa // dimasukan ke dalam penjara // sehingga wajib berbakti kepada yang membuat raga.
50.
Sinebut sajroning kitab // dosane wong mring Hyang Widdi // kang durjana badanira  // bekta raga wira wiri // tan wikan asalneki // salamine jeneng pandung // ambekta raga gelap // den anggo dipun kukuhi // wus wajibe sinikara dosanira.

Telah disebutkan di dalam kitab // Dosa manusia kepada Tuhan // yang menyia-nyiakan raganya // membawa raga ke mana-mana // tapi tidak memahami raga itu dari mana // selamanya sesat // membawa raga  yang bukan miliknya // dipergunakan dan dikuasainya // sudah seharusnyalah disiksa.
51.
Sanese dosa punika // dosa guru lan narpati // yayah rena garwa putra // miwah ta marang sasami // dosa samining jalmi // angsal rekes nyuwun maklum // wong nganggo raga gelap // dosa mring Allah pribadi // yekti kunjuk rekese nyuwun ngapura.

Selain dosa tersebut // ada dosa kepada Guru dan penguasa // kedua orang tua dan putra-putrinya // dan juga dosa terhadap sesama // dosa kepada sesama makhluk // bisa diampuni dengan jalan memohon maaf // Orang yang menggunakan raga akan tetapi tidak memahami raga itu dari mana // dosa kepada Allah secara pribadi // itu harus bertobat mohon pengampunan.
52.
Mila wajibe wong gesang // sayogya sami ngawruhi // dununge sarak sarengat / hakekat tharekat  yekti // makripat ping gangsaling // angandika Sanga Prabu // artine kadya paran // kang aran sarengat  iki // alon matur Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kewajiban manusia hidup itu // sebaiknya bisa memahami // apa yang dimaksud Syarat, Syari’at // Hakikat, Thariqat yang sesungguhnya // Ma’rifat yang kelimanya // Berkatalah sang Raja // Seperti apakah artinya // yang disebut dengan Syari’at // Sunan kalijaga menjelaskannya dengan pelan.
53.
Tegese nama sarengat // yen sare jengat kan perji // tarekat taren mring garwa / hakekate sami hapti // den hakken aben wadi // kedah rujuk estri jalu // makripat ngertos wikan // sarak-sarak laki rabi // ngaben ala wus kaiden yayah rena.

Yang dimaksud dengan Syarengat // (kerata basa) Jika tidur (meninggalkan urusan dunia ) maka berdirilah kemaluannya atau rahasianya (Sirnya bangkit) // Tarekat mohon ijin kepada Istri (Munajat kepada Tuhan) // Makripat mengetahui dan memahami // syarat rukun nikah (syrarat menyatu dengan tuhan – menyatu bukan bermakna menjadi satu – sulit kutemukan kalimat yang tepat ) // menyatukan sesuatu rahasia telah mendapat restu orang tua  (telah mendapat ijin Tuhan untuk menyatukan rasa dengan rasa Tuhan – Bahasa lainnya – Manunggaling Kawula Gusti – walau makna yang paling pas tidak bakalan bisa di urai dengan kata ).
54.
Ping kalih idining Raja // ping tiga saksi sasami // nyuwun idi Bapa biyang // jalaranira dumadi // nyuwun idi narpati // wewakilira Hyang Agung // saksi dateng sasama // kahuningana sasami // estri iki dadi betolah kawula.

Yang kedua ijin penguasa // yang ketiga saksi dari sesamamnya // Mohon restu orang tua // yang melalui dia kau menjadi ada // mohon ijin penguasa // sebagai wakil Tuhan // adanya saksi dari sesama agar pernikahan itu di ketahui masyarakat // Isteri itu menjadi Biatullah makhluk. .
55.
Gen salulut kawula // shalat dateng Mekkah Kaji // wujudira wujud ana // ananya ana pribadi // boten Sahadat malih // kang boten mawi Ashadu // pisahe raga sukma // punika adat Sarani // gih punika sahadat tanpa lawanan.

Tempat mangedu kasih // ibarat shalat dan pergi Haji // wujud diri wujud yang ada // dan adanya ada dengan sendirinya // jika sudah di tingkat ini bukan syahadat lagi namanya // syahadat yang sudah tidak mengucapkan Ashadu (Syahadt Hakikat) // memisahkan raga dan sukma itu // adat Nasarah (Kristen) // itulah syahadat tanpa ada lawannya.
56.
Sampun bekta sampun nilar // jazat paduka kang pasthi // mung ngaturna ing titipan // den aturna kang nitipi // suka Sri Narapati // duk miyarsa aturipun // Jeng Sunan Kalijaga // wus gingsir ingkang  panggalih // karsa Islam anbut asmaning Allah.

Jangan di bawa jangan ditinggal // jazad tiap diri kembalikan denga seharsunya // kembalikan bahwa itu hanya titipan // dikembalikan kepada yang menitipkan // Senang lah Sang Raja // setelah mendengar penjelasan // Jeng Sunan Kalijaga // telah pahamlah dalam pikirannya // sehinga mau memeluk Agama Islam dengan menyebut Asma Allah.
57.
Sukeng Tyas Sang Brawijaya // mesem angandika aris // nyata bener Sahit gampang // ngelmune wong Islam iki // becik ing dina mangkin // ingsun manjing Sarak Rasul // anebut Nama Allah // Pangeran ingkang sajati // saksenana iki Sahit Islamingwang.

Senanglah hati Sang Brawijaya // sambil tersenyum berkata // Wahai Sahit memang benar-benar mudah // ilmu dari orang Islam ini // baiklah sekarang juga // saya memeluk sarak Rasul // menyebut Asma Allah // Tuhan yang sejati // Kau saksikan wahai Sahit atas Islam ku ini.
58.
Suna Kali tur andika // Sang Prabu ngandika malih // yen wus Islam jenengingwang  // ingsun kundur Majapahit // pasrah kaprabon mami // si Patah sun junjung Ratu // mengku rat Tanah Jawa // genteni kaprabon mami // sun mandita aneng gunung sesingitan.

Sunan Kali berkata, akulah saksinya // Sang Prabu kemudian berkata // Setelah saya memeluk Agama Islam // Saya akan pulang ke Majapahit // akan menyerahkan karajaan ku // kepada si Patah yang akan saya angkat menjadi Raja // menguasai seluruh Tanah Jawa // menggantikan Tahta saya // saya akan bertafakur di gunung mengasingkan diri.
59.
Sunan Kali aturira // langkung jumurung Sang Haji // kados karsa padukendra // mendah sukanering galih // putranta Sang Dipati // paduka sinunggi ngembun // jinimat pinusaka // pinuji sinungggi –sunggi // wong sapraja tur tunggil agamanira.

Sunan Kali mengatakan // saya mendukung langkah Sang Raja // seperti yang engkau kehendaki itu // alangkah bahagianya  hati // Putra handa Adipati // Engkau akan di angkat di atas kepala // dijadikan pusaka // diagung-agungkan // oleh rakyat di seluruh negeri yang Agamanya sudah sama seperti Agama yang Tuan anut.
60.
Suna Kali angrerepa // ature arum amanis // kewes luwes tur memelas // utamanira Sang Haji // terusa lahir batin // pratanda Islam satuhu // sampun batin kewala // lahire mawiya saksi // paras rikma agundul kakos kawula.

Sunan kali merayu // berkata dengan indah dan manis // indah rapih dan kata-kata yang membangkitkan rasa iba // Dalam tata lahir harus ada bukti // rambut harus dipotong pendek seperti saya, kata Suna Kali.
61.
Ngandika Sri Brawijaya // iya parasana mami // melu gundul kaya sira // Sunan Kali ngasta gunting  // sigra dipun parasi // mustakane Sanga Prabu // kang rikma datan pasah // umatur Jeng Sunan Kali // Kados pundi akarsa paduka Sang Nata.

Berkatalah Sri Brawijaya // silahkan kau cukur saya // ikut gundul seperti dirimu // Sunan Kali mengambil gunting // segera memotong rambut // yang ada di kepala Sang Raja // akan tetapi rambutnya tidak bisa dipotong // maka berkatalah Sunan Kali // Bagaimanakah kehendak engkau wahai Sang Raja.
62.
Karsa dawah lelamisan // tan terus prapta ing batin // ing batos wus karsa Islam // ing lahir maksih ngekahi  // Agami kang rumiyin // punika pratandanipun // dene rikma paduka // datan pasah kula gunting // Islam batos namane Islam Bidalah.

Mengapa hanya sebatas kata manis di mulut // tidak terus ke dalam hati // dalam batin telah memeluk Islam // dalam tata lahir masih memeluk // Agama terdahulu // inilah buktinya // dimana rambut paduka // tidak bisa saya gunting // Islam dalam hati saja itu bernama Islam Bidalah.
63.
Islame batos kewala // lahire maksih ngekahi // manawi lahire Islam // batosipun taksih kapir // kapir ngidaban nami // utamenipun Sang Prabu // lahir batos Islama // dados mawi netra siji // angadika Maha Prabu Brawijaya.

Islam hanya dalam hati // lahirnya menganut lain Agama // apabila lahirnya Islam dan hatinya kafir // Kafir ngidaban namanya // yang paling baik wahai Sang Raja // lahir dan batinnya Islam // itulah makna menggunakan mata satu // Maka berkatalah Maha Prabu Brawijaya.
64.
Lah Sahit sira tutugna // amarsi marang mami // sun wus Islam terusing tyas // ingsun masuk sarak Nabi // nulya ginunting malih // gya pasah rikma Sang Prabu // wus waradin sadaya // ing parasira Sang Aji // angandika mring dasih aneng pungkuran.

Wahai Sahit; selessaikanlah // mencukur rambutku // saya telah Islam sampai kedalam jiwa // saya memeluk Syariat Nabi // kemudian dipotong kembali // terpotonglah rambut sang prabu // telah selesasi semuanya  // sang Raja dalam bercukur // berkatalah kepada abdinya di belakang.

BERSAMBUNG KE JILID : 2
http://bukuj.blogspot.com/2014/01/terjemahan-bebas-dan-naskah-asli.html

3 komentar:

  1. Jilid 2nya kok ngga ada... Ada versi aslinya ngga...

    BalasHapus
  2. http://bukuj.blogspot.com/2014/01/terjemahan-bebas-dan-naskah-asli.html // Ini jilid 2-nya kang Radhitya Giri Lawu

    BalasHapus