Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Minggu, 17 Agustus 2014

Genghis Khan Sang Penakluk dari Mongol Jilid II


“GENGHIS KHAN : BADAI DI TENGAH PADANG Buku II”
“BAGIAN KEDUA
Oleh : Sam Djang
Penterjemah : Reni Indardini
Penerbit : Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka
Tahun : 2011.
Di distribusikan oleh : Mizan Media Utama
Penyadur : Pujo Prayitno
DAFTAR  -  ISI
  1. 1.     Serangan ke Kerajaan Shisha           26
    2.     Takluknya Kerajaan Shisha               27
    3.     Perang Dengan Chin             28
    4.     Perpecahan di Chin               29
    5.     Perundingan Dengan Chin               30
    6.     Jatuhnya Zhongdu                31
    7.     Perjanjian dagang dengan Kesultanan Khwarazm            32
    8.     Langkah Kuchlug                   33
    9.     Genghis Khan Menaklukkan Kara Khitai                 34
    10.  Tragedi di Otral                    35     
    11.  Genghis Khan Memutuskan Berperang dengan Khwarazm 36
    12.  Mars Melawan Khwarazm                 37
    13.  Jatuhnya Bukhara dan Otral             38
    14.  Jatuhnya Smarqand               39
    15.  Nestapa di Merv          40     
    16.  Tragedi di Nishapur               41
    17.  Pertempuran Terakhir di Sungai Indus                  42
    18.  Akhir Riwayat Sultan Muhammad               43
    19.  Mars Panjang Jebe dan Subedei                 44
    20.  Pertemuan dengan Chang-Chun                 45     
    21.  Hukuman Untuk Kerajaan Shisha                46
    22.  Permintaan Terakhir Lelaki Besi                 47
    Catatan Terakhir              
    Adendum : Sejarah Singkat Bangsa Mongol Pasca Genghis Khan.

26. SERANGAN KE KERAJAAN SHISHA
Kerajaan Shisha didirikan oleh Kaum tangut, keturunan orang-orang Tibet, dan terletak di pojok barat laut Benua Asia, di sebelah selatan Gurun Gobi. Penduduknya terdiri dari orang-orang Tangur, Uighur, dan minoritas Cina Han. Sebagian besr penduduk terlibat dalam perdagangan asing, peternakan, dan pertanian, sedangkan agama utama mereka adalah Budhhisme. Mereka adalah orang-orang yang sangat independen, dan mereka membuat serta menggunakan sistem tulisan utama mereka sendiri, dimodifikasi dari aksara Cina.
Pada tahun 108, Li Wonho, Pendiri Kerajaan Shisha, mengambil kendali atas sebagian Jalur Sutra, setelah mengusir kaum Uighur, yang sebelum nya menduduki silayah itu. Kian kuat sejak saat itu, mereka mulai menaklukkan kota-kota di dekat sana satu demi satu, termasuk Dun Huang. Mreeka memiliki pasukan berkekuatan 150.000 orang yang disokong oleh kekuatan ekonomi, untuk melindungi sumber pendapatan utama mereka, yaitu jalur sutra. Karena perekonomian mereka amat bergantung pada bisnis perdagangan internasional serta pajak dari karavan, mereka memperhatikan politik internasional dan perubahan situasi baik-baik.
Pada tahun 1207, saat pasukan Khitan yang dipimpin oleh Yelu Ahai, atas seizin Genghis Khan, menginvasi dan menjarah teritori mereka, gegerlah istana mereka.
“Bagaimana bisa orang-orang Mongol berperang dengan kita tanpa alasan yang dapat dibenarkan?” tanya salah satu pejabat senior, yang termasuk anggota faksi moderat, dalam rapat kerajaan, Jendral Weiming Linggong, anggota kelompok garis keras di antara mereka menyangkal kata-katanya. Pria tersebut adalah seseorang yang panjang akal dan memiliki visi.
“Apa kita mengambil tanah orang-orang Uighur dengan alasan moral yang dapat dibenarkan? Sudah jelas bahwa kaum Uighur bersedia menyerah kepada kaum Mongol. Seandainya demikian, mereka mungkin saja mendatangi kita dengan teman baru mereka, orang-orang Mongol, untuk meminta wilayah lama mereka didkembalikan. Siapa saja bisa berperang, jika perlu, tanpa dilandasi kewajiban moral apa pun.”
Seorang pejabat senior lainnya, seorang Moderat, membuka mulut dan berkata, “ Walau pun kaum Mongol mendatangi kita, kita punya sekutu sendiri, Chinn, dan kita bisa minta pertolongan kepada mereka. Bagaimana mungkin orang-orang Mongol mengira mereka bisa melawan bangsa yang memiliki 600.000 tentara?”
Kerajaan Shisha amempunyai pakta pertahanan bersama dengan Chin sejak tahun 1165, dan pakta tersebut masih berlaku pada saat itu. Waiming Linggong melompat berdiri sambil menggebrak meja dengan kepalanya. Dia berargumen dengan suara keras sambil memelototi si pejabat yang baru saja mengatakan itu.
“Pakta pertahanan bersama hanya berlaku ketika menguntungkan kedua belah pihak! Kecil kemungkinannya mereka mau mengirim pasukan untuk membantu kita! Jangan percayai siapa pun! Kita harus mengurus diri kita sendiri!”
Mreka pun berselisih. Karena raja mereka Li Cunyu, memihak kaum moderat, Weiming Linggong dan Kao Liang Hui, beserta para pejabat garis skeras lainnya., bersekongkol dan melancarkan kudeta. Mereka menurunkan Li Chunyu dan mendukung Li Anqan, yang juga orang garis keras karena mereka paham motif orang-orang itu semua adalah demi melindungi masyarakat.
Li Anqan, raja baru Shisha, memperbaiki dan memperkuat benteng Wolohai. Benteng tersebut adalah gerbang dari Dataran Mongolia ke Chunghing, Ibu Kota Shisha. Dia juga memperkuat tembok kota Chunghing dan menyewa 20.000 terntara bayaran baru, meningkatkan jumlah terntara pertahanan dari 150.000 menjadi 170.000 orang. Saat itu tahun 1208.
Pada bulan Mei 1209, Genghis Khan maju untuk menyerang Kerajaan Shisha. Dia mengirim sekitar 60.000 serdadu. Pasukan Mongol menyeberangi Gurun Gobi. Mereka berderap siang malam, melintasi jalan gurun berjarak sekitar 320 kilometer. Mereka berderap pelan tapi pasti, menghasilkan kepulan besar debu keemasan di jalan gurun, yang kasar, dilatarbelakangi pemandangan berupa bukit-bukit pasir, cakrawala di kejahuan, serta semak pendek meranggas yang terkadang mencuat di tanah dari pasir serta lumpur. Kelompok depan, kavaleri Jebe, membawa panji-panji Genghis Khan yang terbuat dari suari sembilan kuda tinggi-tinggi, dan siluaet gelapnya yang dihasilkan oleh sinar matahari terik gurun berkibar-kibar, menari-nari. Di malam hari, bulan gurun di langit gelap menumpahkan berkas-berkas sinarnya yang terang ke kepala serta pundak para prajurit serta kuda, menghasilkan bayangan bulan panjang di lahan berpasir. Bilah tombak mereka yang tajam berkilat memantulkan sinar bulan, memberikan kesan dingin, Barisan panjang prajurit terbentang dari cakrawala utara hingga selaan, sedangkan tapak kaki kuda mereka terus menerus mengguncangkan bumi, menghasilkan gemuruh dalam. Pemadangan tersebut amat mengagumkan. Mreka apenuh dengan hasrat, impian tentang dunia luar, kepercayaan bahwa mereka akan menang dan berjaya. Semangat mereka tinggi.
Seteah melakukan mars sejauh kira-kira seribu kilometer, pada pagi keempat sesudah mereka meninggalkan dataran rendah, mereka tiba di lokasi tempat mereka dapat melihat sebuah benteng besar yang dibangun di atas tanah yang ditinggikan. Di kedua sisi benteng, tembok tinggi dari bata merah, dibangun dengan gaya Cina terentang ke area yang lebih luas, mengelilingi seluruh kota. Rangkaian bukit tinggi berhutan rimbun juga mengelilingi bagian luar kota bagaikan tembok pertahanan kedua. Itulan Wolohai, kota paling utara di Shisha, yang memiliki benteng sempurna.
Genghis Khan berhenti di sana dan menata ulang pasukannya. Genghis Khan naik ke bukit di dekat sana dan memandang benteng serta tembok pertahanan. Tembok pertahanan dari bata kuat memantulkan sinar mentari pagi yang jernih.
“Kenapa mereka tidak menebang semua pohon di perbukitan sekitar kota?” khan berpikir sendiri sambil mengamati perbukitan dan pegunungan tinggi berhutan rimbun di dekat tembok pertahanan. Hitan di sekitar tembok tersebut bisa –bisa malah mengganggu alih-alih membantu mreka berlindung. Pasukan Shisha tidak menunjukkan tanda-tandan pergerakan meskipun pasukan Mongol sudah tiba. Tampaknya mereka menggunakan taktik bertahan saja.
Khan pun mengadakan rapat staf. Pertama-tama Yelu Ahai menjelaskan situasi serta tata benteng dan tata kota di peta.
Genghis Khan bertanya, “Tiga puluh li, berdasarkan sistem pengukuran Cina.”
Jaraknya kira-kira 120 kilometer.
Genghis Khan mempertimbangkan hal ini. Jelas bahwa orang-orang tangut tidak menebang pohon karena mereka ingin mempertahankan sumbe air mereka. Mereka menggunakan kali pegunungan sebagai sumber air minum mereka. Genghis Khan menanyakan pendapat stafnya. Banyak  yang berkeras agar mreka menyerang benteng dan tembok pertahanan secara langsung dengan peralatan yang mereka bawa, sebab pra prajurit sudah menginvestasikan banyak waktu untuk berlatih menggunakan alat-alat itu.
Genghis Khan menyimpulkan, “Kita akan menyerang mereka dengan api. Jika kita meluncurkan serangan langsung sedari awal, kita akan kehilangan banyak prajurit. Kita harus menarik mereka keluar dari benteng..”
Genghis Khan menggerakkan sayap kirinya untuk memblokade aliran sungai Kuning ke benteng dan, pada saat bersamaan, mengirim tiga ribu serdadu Uighur untuk mengambil alih kali pegunungan di hutan dekat benteng pertahanan. Genghis Khan menduga bahwa karena benteng serta kota Wolohai dibangun di atas tanah yang ditinggikan, sulit bagi waraganya untuk mendapatkan air, dan bahwa semua rumah di kota tersebut dibuat dari kayu, sebab lokasinya di area  berhutan.
Benteng Wolohai aslinya adalah kota berpenduduk sipil 20.000 orang dengan 5.000 prajurit garnisun perbatasan. Kira-kira setahun sebelumnya, Pangeran Shisha, Li Tsun Hsiang dan Jendral Kao Liang Hui pindah ke sana bersama 50.000 serdadu reguler mereka. Mereka mengevakuasi warga sipil ke kota lain dan mengambil alih semua rumah mereka untuk prajurit. Mereka menggunakan rumah-rumah itu sebagai barak. Mereka tahu bahwa Benteng Wolohai berada di tanah tinggi, yang bagus untuk perlindungan, tetapi pengadaan airnya sulit. Mereka pun menggali sumur di beberapa area, tapi tidak berhasil. Benteng Wolohai yang tak tertembus mengungkapkan kelemahannya, yaitu masalah air. Jumlah air yang diperlukan 50.000 prajurit dan 50.000 kuda sangatlah banyak. Kira-kira lima belas hari kemudian, mereka menghadapi masalah pelik. Pasukan Mongol yang menduduki perbukitan dan pegunungan tinggi di dekat tembok pertahanan mulai menembakkan panah raksasa ke dalam kota. Busur raksasa mereka terbuat dari batang besi besar kokok dan dirancang untuk dibawa menggunakan gerobak beroda dua dan dihela oleh seekor kuda. Ketika menembak, dua hingga empat prajurit harus menggabungkan kekuatan mereka supaya bisa menarik busur untuk menembakkan panah raksasa tersebut, yang seukuran tombak biasa. Mereka mengikat kain yagn sudah direndam minyak erat-erat ke ujung panah, menyulutnya dengan api, dan menembakkan panah tersebut ke benteng. Panah logam raksasa ini memiliki daya jelajah lebih jauh daripada  panah biasa dan menancap di dinding kayu serta pilar rumah di dalam benteng. Dalam sekejap, sejumlah besar rumah dilalap api, menghasilkan asap tebal. Para penduduk tidak punya air untuk memadamkan api. Kuda-kuda yang ketakutan mulai meringkik dan mendompak.
Kao Liang Hui pun mengeluarkan perintah kepada ke 50.000 prajuritnya.
“Buka gerbang! Kita akan bertarung sampai orang terakhir!”
Setelah mengencangkan tali pengikat helm, dia pun menaiki kudanya,
Akhirnya, gerbang benteng pun dibuka, dan sejumlah besar prajurit Shisha tumpah ruah dari beteng. Pasukan utama Genghis Khan telah menunggu mreka di padang, dalam lima barisan. Sementara ke 50.000 prajurit Shisha melesat keluar. Genghis Khan yang menyaksikan ini dari sebuah bukit kecil, memberikan perintah kepada ajudannya agar mengangkat bendera biru. Saat melihat sinyal ini, para pemanah Mongol di barisan pertama mulai menembak seiring tabuhan nyaring genderang timah. Banyak pelari terdepan di kavaleri Shisha yang mulai berjatuhan dari kuda mereka, bagaikan daun gugur. Setelah menuntaskan tugas mereka, para pemanah mundur lewat jalan yang dibuat di tengah-tengah keempat barisan lainnya. Setelah ini barisan kedua 10.000 prajurit kavaleri ringan. Melesat ke arah musuh yang berdatangan. Senjata utama mereka adalah busur dan panah jarak pendek serta lembing. Mereka melesat ke arah musuh sambil menembakkan panah. Hanya prajurit Mongol yang dapat menembakkan panah sambil berkuda dengan kecepatan penuh. Mereka begitu cepat sehingga tak seorang pun jatuh dari kudanya hingga mereka mundur kembali. Sekarang tibalah giliran barisan ketiga. Baris ketiga juga merupakan unit kavaleri ringan dan senjata mereka dalah lembing. Masing-masing membawa empat atau lima lembing dan mereka menembak jatuh musuh yang mendekat, satu demi satu. Tugas utama mereka adalah mengaaukan fomasi tempur musuh, tetapi kali ini prajurit Shisha yang binasa lebih dari setengah. Setelah ini, sebuah  bendera merah diangkat tinggi-tinggi di tengah-tengah bunyi tabuhan nacara yang memekkan. Baris keempat, kavaleri berat, melesat ke arah musuh. Mereka dilindungi baju zirah berat serta helm logam, dan kuda mereka sekali pun menggunakan baju zirah. Merekalah kekuatan destruktif yang utama. Mereka menggunakan tombak panjang berkait, pedang sabit, kapak perang, gada, dan tehnik pertempuran satu lawan satu.
Tidak lama kemudian, jumlah prajurit Shisha berkurang setengah lagi. Medan tempur dipenuhi mayat, terutama orang Tangut. Kao Liang Hui mundur ke dalam beteng bersama sisa pasukannya. Genghis Khan memerintahkan pasukannya untuk merebut beteng. Para prajurit Mongol naik ke dinding beteng menggunakan pengusung tangga. Pengusung tangga memiliki empat roda dan setinggi tembok pertahanan musuh. Sisi depan, kiri, serta kanan tangga dilingkupi dinding kayu untuk melindungi para prajurit selagi mereka menggerakkkan struktur tersebut atau menggunakan tangga.
Gerbang benteng telah dibuka oleh para serdadu Mongol dan para prajurit kavaleri Mongol pun tumpah ruah ke dalam. Lagi-lagi terjadi pembantaian besar-besaran di dalam beteng dan Kao Liang Hui dicabik-cabik oleh prajurit Mongol. Sang Pangeran Shisha, Li Tsun Hsiang, menyerah bersama 15.000 prajuritnya yang tersisa. Benteng Wolohai jatuh ke tangan bangsa Mongol. Pintu menuju Chunghing, Ibu Kota Shisha, telah terbuka.
23. TAKLUKNYA KERAJAAN SHISHA
Genghis Khan beristirahat  tiga hari di Wolohai, kemudian lagi-lagi memulai mars ke selatan. Jarak dari Wolohai ke Chunghing, Ibu Kota Shisha, kira-kira 190 kilometer. Chunghing adalah sebuah kota besar di tepi Sungai Kuning. Kota itu dilindungi tembok pertahanan tinggi dan sebagian besar rumah di dalam kota dibangun dengan gaya Cina. Mayoritas penduduknya adalah warga Buddha di dalam kota. Pagoda tinggi yang dibangun di setiap penjuru kota daat dilihat dari jauh. Jalan-jalan di dalam kota berukuran lebar, dan rumah-rumahnya berkonstruksi bagus serta tertata rapi. Kota ini merupakan tempat perhentian bagi karavan yang menggembara antara Chang-an di Cina dengan Samarqand atau Bagdad. Alhasil. Toko kios, dan penginapan untuk karavan berdiri rapat-rapat, mengapit jalan. Para penduduk membangun kanal di tengah kota dan menerima kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, buah dan daging, dari luar kota lewat jalur ini. Setiap hari, di kanal dan bantarannya, berserakanlah penjual dan pembeli barang dagangan mulai fajar hingga tengah hari, yang resminya merupakan jam beroperasinya pasar tersebut. Di jalan masuk dan jalan keluar kanal, dipasang gerbang dari jeruji besi tebal yang bisa dengan gampang diangkat dan diturunkan untuk mengontrol lalu lintas. Gerbang jeruji besi ini dibuka saat fajar dan ditutup saat senja hari seperti semua gerbang lainnya.
Paukan Mongol yang telah meninggalkan Wolohai saat subuh, tiba pada tengah hari di lokasi tempat mereka bisa melihat sejumlah bukit tinggi berselimut hutan lebat. Lokasi itu berjarak sekitar 48 Kilometer dari kota. Genghis Khan berhenti di sana dan mengadakan rapat staf.
Genghis Khan bertanya, “Siapa itu Weiming?”
Yelu Ahai menjawab, “Dia dianggap sebagai panglima terhebat di antara mereka. Dia telah banyak memenangkan pertempuran besar dan kecil dengan bangsa-bangsa tetangga. Konon, dia orang yang gampang naik darah dan gegabah.”
Khan, sudah berdiskusi dengan panglima stafnya, memberikan kesimpulan.
“Weiming mungkins aja menyembunyikan pasukan besarnya di perbukitan itu. Kita akan mengelabui mereka.”
Pasukan Mongol pun terus berderap. Saat baris depan Mongol melangkah ke jalan di antara bukit, panah menghujani mereka dari kedua sisi bukit. Sementara baris depan terus berderap, sambil menutupi tubuh mereka dengan tameng besar, sejumlah besar prajurit Shisha mulai tumpah ruah dari hutan. Baris depan Mongol berbalik dan mulai mundur. Dipicu semangatnya oleh hal ini, Panglima Shisha, Weiming, memerintahkan serangan habis-habisan. Bahkan setelah mengejar sejauh delapan kilometer, mereka tidak bisa menyusul baris depan Mongol yang tengah mundur. Keahlian berkuda prajurit kavaleri Mongol lebih unggul dibandingkan dengan prajurit Tangut.
Pada saat ini, dari hutan di sebelah kiri dan kanan jalan, terdengarlah pekik perang nyaring. Mucullah pasukan sayap kiri dan kanan Mongol, menyergap musuh. Weiming, yang memimpin pasukan di bagian depan, menyesal dan meratap. Namun, sduah terlambat.
“Celaka! Aku jatuh ke dalam jebakan mereka!”
Banyak sekali prajurit Shisha yang jatuh dari kuda mreeka, ditusuk oleh panah yang menghujani mereka dari hutan di kiri kanan jalan. Pada saat bersamaan, baris depan Mongol yang tengah mundur berbalik dan meluncurkan serangan balasan, disokong oleh pasukan inti Mongol. Prajurit Shisha yang berjulah banyak, 100.000 orang, berkurang setengahnya karena dihabisi sayap kiri dan kanan Mongol, seperti ular yang dipotong jadi dua. Di ladang dan bukit, mayat orang Tangur bertebaran. Mereka mengalami kerugian besar. Hanya setengah dari mereka yang berhasil kembali ke kota, sedangkan Weiming, panglima tertinggi pasukan Shisha ditahan oleh prajurit Mongol. Pasukan Mongol pun terus berderap dan mengelilingi pinggiran Kota Chunghing. Genghis Khan memandang ke penjuru kota. Tembok pertahanan kota yang dibangun dengan bata merah tampaknya memiliki ukuran dan kekokohan yang tiada tanding. Genghis Khan mengaguminya, tetapi berpikir, “Untuk merebut kota berbenteng ini, kami akan kehilangan banyak prajurit. Aku harus mencari cara lain.”
Pada saat ini, di dalam kota, Raja Shisha, Li Anqan, menggelar rapat darurat yang dihadiri oleh para pejabat tinggi senior dan para panglimanya. Li Anqan berkata dengan anda murung, “Orang-orang Mongol sudah mengepung kota. Apa yang harus kita lakukan? Beri tahu aku apa pendapat kalian.”
Keheningan pekat menggelayuti mereka beberapa lama. Tak seorang pun besedia membuka mulut seenaknya. Mereka tidak bisa menemukan cara yang mudah, setelah ke 100.000 prajurit mereka kocar kacir dan panglima terpercaya mereka Weiming Linggong ditawan oleh kaum Mongol.
Setelah keheningan panjan seorang panglima senior berdiri dan berkata, “Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menutup gerbang rapat-rapat dan menyiapkan diri untuk bertahan. Kita masih punya 70.000 serdadu di dalam kota dan kita sudah menyimpan persediaan makanan yang cukup untuk satu tahun. Kita mempunya tembol pertahanan yang sangat kuat dan berkonstruksi kokoh. Kaum Mongol sekali pun mungkin saja tidak bisa memanjatnya dengan mudah. Selain itu, kita sebaiknya mengutus kurir kilat ke Chin untuk minta pertolongan, sebab kita punya pakta pertahanan bersama dengan mereka.”
Li Anqan menerima sarannya.
Pada tenga malam hari itu juga, sebuah tongkang menyelinap keluar dari kota tanpa suara, melewati gerbang besi yang terbuka di antara kanal dengan Sungai Kuning. Sisi timur kota, di seberang Sungai Kuning, belum diduduki oleh pasukan Mongol. Dua prajurit pembawa pesan dan kedua kuda mereka ada di atas tongkang, dikemudikan seorang tukang feri. Di tengah kegelapan total, tanpa sinar bulan yang redup sekali pun, sang tukang feri berpengalaman membawa mereka ke seberang sungai dengan selamat. Saat mendarat, kedua kurir cepat-epat menaiki kuda mereka dan berderap ke timur dengan kecepatan penuh. Tujuan mereka adalah kota Zhongdu, Ibu Kota Chin. Mreeka berkuda sejauh 1.100 kilometer, hanya tidur dan berhenti sebentar sekali. Tiga hari kemudian, sampailah mereka di Zhongdu. Mereka berhasil menyelesaikan misi mereka, menyerahkan surat dari Raja Shisha kepada Kaisar Chin.
Kaisar Chin, Wheishao, menyelenggarakan rapat. Sudah hampir enam bulan sejak dia menjadi kaisar setelah pendahulunya, Zhaosong, meninggal. Pertama-tama, Kaisar Chin menyuruh keraninya membacakan surat dari Raja Shisha. Setelah mendengarkan pesan dalam surat itu. Kaisar Chin memandang seluruh yang hadir, yaitu sekitar seratus pejabat tinggi serta panglimanya dan berkata, “Sebagaimana yang kalian semua dengar, orang –orang mongol telah mengepung Chunghing, Ibu Kota Shisha. Raja Shisha meminta pasukan penolong, berdasarkan pakta pertahanan bersama, yang di tekenoleh pendahuluku. Aku ingin mendengar apa pendapat kalian tentang ini.”
Hushahu, yang dikenal sebagai “Panglima besar”, berdiri. Hushahu adalah pria luar biasa yang memiliki keberanian mau pun kecerdikan. Dia meraih serangkaian kemenangan dalam perang melawan Sung Selatan, yang membuatnya sangat populer di antara rakyat.
Pria ambisius bernafsu makan besar ini berkata, “Ada pepatah lama yang berbunyi, “Jika kau kehilangan bibir, gigimu akan menderita. Jika Shisha jatuh, orang-orang Mongol sudah pasti akan menyerang kita. Kita sebaiknya mengirim pasukan untuk menolong mreka. Dengan cara itulah kita bisa menolong diri sendiri.”
Sebagian hadirin yang lain juga berpendapat sama dengannya. Namun, Weishao, sang Kaisar, adalah pria berpikiran sempit dan berpandangan picik. Dia tidak menerima saran Hushahu.
“Kaum Tangut dan Shisha dan kaum Mongol bermusuhan. Menurutku akan menguntungkan bagi kita apabila mereka saling bertarung. Biarkan saja anjing-anjing saling bertarung.”
Chin tidak mengirimkan pasukan penolong. Oleh sebab itu, pakta pertahanan bersama, yang disahkan tahun 1163, batal karena sikap abai Kaisar Chin.
Setelah menerima informasi lewat jaringan mata-matanya di Zhongdu bahwa Chin tidak mengirim pasukan penolong. Genghis Khan menyiapkan tahap kedua rencananya, yaitu perang jangka panjang. Tanpa mengendurkan kepungan, dia memblokade semua jalur suplai ke Kota Chunghing dari luar. Tiga bulan berlalu. Sementara itu, tidak ada perang berskala besar, hanya segelintir huru hara minor. Beberapa prajurit Mongol mengolok-olok kaum Tangut dan cara menunjukkan keahlian berkuda mereka yang hebat ketika mereka merasa bosan. Mereka melajukan kuda mereka di sepanjang tembol pertahanan, bergelyutan di samping kuda mereka, setelah menutupi sisi yag menghadap musuh dengan baju zirah. Kali lain, sebagian bahkan berdiri bertopang tangan di atas kuda mereka yang berlari ketika mereka berada pada jarak yang aman.
Karena musim gugur sudah semakin dekat, Genghis Khan harus mencoba taktik yang berbeda. Genghis Khan menyadari bahwa mereka punya cukup makanan untuk perang berkepanjangan, sebab mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kesusahan setelah jalan diblokade tiga bulan. Genghis Khan memerintahkan Yelu Ahai agar menginterogasi para tawanan. Pertama-tama, Yelu Ahai mencoba Weiming Linggong dan sang Pangeran Li Tsun Hsiang.
Yelu Ahai menanyai Weiming, “Berapa jumlah persediaan makanan yang disimpan di dalam kota?”
Walau demikian tidak ada respon dari Weiming yang duduk bersila di tanah. Memang sudah dapat diduga bahwa seseorang seperti Weiming tak akan mengungkapkan rahasia sepenting itu, apa pun alasannya. Sementara Yelu Ahai mengulangi pertanyaan yang sama. Weiming merespon dengan sikap keras kepala yang sama.
“Aku ini prajurit yang sudah kalah. Silahkan saja penggal kepalaku! Itulah yang kuinginkan!”
Keheningan canggung menggelayut di antara mereka selama beberapa waktu. Yelu Ahai membuka mulut pelan-pelan dan berkata lagi, “Jendral Weiming, Anda sebaiknya menyerah. Tuanku, Genghis Khan, menerima siapa pun yang tulus menyerah dari lubuk hatinya yang terdalam. Anda akan menjadi temannya. Tapi, jika Anda terus melawan. Anda dan orang-orang Anda akan dibinasakan.”
Seteah mengucap kata-kata ini, Yelu Ahai membawanya ke sebuah cekungan besar, tempat 20.000 tahanan Shisha dijejalkan. Cekungan ini alamiah, tapi diperbesar oleh tangan manusia supaya cukup besar guna menampung 20.000 tawanan. Cekungan tersebut begitu dalam sehingga mustahil mereka memanjatnya hingga ke puncak tanpa bantuan tangga atau tali. Seorang prajurit Mongol di permukaan tanah melemparkan beberapa potong dendeng ke dalam cekungan dan ribuan tawanan pun merangsek mau untuk menangkapnya.
“Lihatlah! Kami tidak punya cukup makanan untuk 20.000 tawanan. Beberapa lusin dari mereka meninggal setiap hari. Rekan-rekan mereka sesama prajurit di dalam kotak tak akan pernah mengetahui penderitaan mereka. Kami tidak bisa berbuat apa-apa soal ini. Ingat, merekalah yang menyreah supaya bisa terus hidup.”
Sampai saat itu, Weiming tidak mengetahui situasi mantan prajuritnya, sebab dia dan sang Pengeran Shisha Li Tsun Hsiang, diperkenankan tinggal di tenda terpisah dengan makanan serta pelayanan khusus, kendati mereka adalah tahanan.
Genghis Khan tahu bahwa mereka memiliki cukup makanan bagi 300.000 penghuni kota dan 70.000 prajurti yang tersisa untuk setidaknya satu tahun. Dia juga berhasil mengetahui bahwa sebagian besar persediaan makanan disimpan di raung bawah tanah, dalam bentuk beras, gandum, dan kacang yang dikeringkan. Genghis Khan pun menyusun strategi baru berdasarkan pengetahuan bahwa sebagian besar rumah kota terbuat dari bata serta lumpur dan mereka punya pasokan air lebih dari cukup karena adanya kanal.
“Akan kita serang mereka dengan air!”
Genghis Khan memerintahkan korps insinyurnya untuk membangun bendungan di sungai Kuning. Korps insinyur mulai membangun bendungan tepat di bawah kota. Mereka memanfaatkan tawanan Tangut untuk membawa batu dan lumpur. Pembangunan bendungan dimulai pada permulaan musim gugur dan berlangsung lebih dari tiga bulan. Saat pembangunan bendungan hampir selesai, air mulai menggenangi kota. Kanal meluap. Air mulai mengalir masuk ke ruang bawah tanah. Kota tersebut dinyatakan berada dalam keadaan darurat. Sejumlah besar prajurit dan penduduk diberdayakan untuk memindahkan berkarung-karung biji-bijian ke tempat yang lebih tinggi, tetapi mereka sudah kehilangan lebih dari separuh persediaan makanan. Terlebih lagi, gudang-gudang, yang memuat jutaan gulung sutra serta ratusan ribu karpet, juga kebanjiran. Itulah barang-barng yang memuncaki daftar prioritas mereka. Jika barang-barang tersebut rusak, perekonomian mereka akan ikut hancur. Permukaan air di kota tersebut kian meninggi, hingga mencapai lutut orang dewasa, Mereka bahkan tidak bisa menyalakan api untuk memaak. Para penduduk menjadi resah dan gelisah. Pembicaraan mengenai pernyerahan diri un mengemuka.
Pada saat ini, terjadilah sesuatu : Bendungan runtuh, Korps insinyur Mongol tidak cukup berpengalaman membangun bendungan. Mereka juga tidak memiliki cukup banyak insinyur yang andal. Gelombang besar Sungai Kuning mulai menyapu perkemahan Mongol. Kaum Mongol serta merta merobohkan tenda, mengambil senjata, perlengkapan, dan makanan mereka. Lalu meralrikan diri ke tanah yang lebih tinggi. Genghis Khan merasakan sekali betapa – selain membutuhkan panglima hebat, ahli strategi brilian, prajurit pemberani, dan senjata bermutu tinggi – teknologi ilmiah serta keahlian terkait juga diperlukan untuk memenangi perang. Setelah kejadian ini. Genghis Khan mengajak serta teknisi, insinyur,d an para ahli kemana pun dia pergi. Dia bukan saja menyelamatkan mereka, melainkan juga memperlakukan mereka dengan sangat baik, untuk menarik hati mereka sehingga mau berpihak padanya.
Selagi mereka sedang sibuk kabur, Yelu Ahai buru-buru melesat ke tenda khan dan melapor, “Tuan, cekungan kebanjiran. Harus ita apakan para tawanan?”
Jawaban Khan cepat dan jelas, “Selamatkan mereka!”
Operasi untuk menyelamatkan 20.000 tawanan Tangut pun dimulai. Para prajurti Mongol menyelamatkan sebagian besar menggunakan tanagga dan tali. Beberapa hari kemudia, ketinggain Sungai Kuning kembali seperti semula, menyisakan genangan air keci serta besar dan bahkan sebuah danau baru. Pada saat inilah, Weining Linggong dari Shisha secara sukarela muncul di hadapan Genghis Khan. Dia bersujud sembilan kali kepada khan. Sampai saat itu, dia menolak melakukan hal tersebut.
Dia membuka mulut dan berkata dengan serius, “Jika Anda memberi saya kesempatan, akan saya coba membujuk Raja Shisha agar menyerah.”
Saat mendengar kata-kata ini, Yelu Ahai, yang berdiri di sebelah Genghis Khan, berbisik ke telinganya, “Tuan, bisakah kita mempercayainya?”
Genghis Khan mempersilah duduk dan menyajikan teh hangat untuknya.
“Jendral Weiming, mulai saat ini, Anda adalah temanku. Berusahalah sebaik mungkin agar kata-katamu tidak menjadi janji kosong belaka.”
Weiming, sebagaimana yang dinjajikannya, berhsil membujuk Raja Shisha, Li Anqan, sehingga menyerah. Dia mengakui bahwa Genghis Khan tak akan pulang jika Shisha tidak menyerah dan itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Pangeran Li Tsun Hsiang, 20.000 tawanan, dan perekonomian Shisha. Sebenarnya, kaerna sumber pendapatan utama mereka adalah laba dari aktivitas perdagangan serta pajak dari karavan, perekonomian mereka sudah mengalami kerugian besar akibat pereang berkepanjangan. Setelah bernegosiasi selama kira-kira dua bulan, bendera putih akhirnya muncul di gerbang utama kota.
Upacara penyerahan diri resmi diselenggarakan di lapangan terbuka besar di depan gerbang utama kota. Saat gerbang utama berukuran besar dibuka, peristiwa yang tak pernah terjadi delapan bulan terakhir, Raaj Shisha, Li Anqan, muncul beserta dua ekor unta putih angka dan dua ekor elang putih, yang merupakan simbo penyerahan diri. Li Anqan mengenakan busana dan tutup kepala resmi, jubah sutra keemasanberdesain mewah serta peci pendek keagungan. Dia diikuti oleh sekitar dua puluh pejabat tinggi dan di sebelahnya ada putrinya yang berusia tujuh belas tahun, Chaqa.
Raja Shisha digiring ke dalam tenda resmi Genghis Khan. Sekitar duaratus panglima dan orang penting Mongol berdiri membentuk dua barisan di dalam tenda, memunggungi dinding timur dan barat tenda, sedangkan karpet merah dihamparkan dengan rapi dan jalan masuk selatan hingga ke tempat duduk khan di ujung utaara. Saar Raaj Shisha melangkah masuk ke tenda, Genghis Khan berdiri dari tempat duduknya. Raja Shisha berjalan pelan-pelan di atas karpet dan membungkuk ketika dia tiba di hadapan Genghis Khan. Sesuai dengan negosiasi sebelumnya, dia tidak perlu bersujud. Genghis Khan juga balas membungkuk kepadanya dan mempersilahkan Raja Shisha duduk di kanannya. Setelah duduk, Raaj Shisha membuka mulut dan berkata dengan nada lembut :
“Kami, kaum Tangut, sudah mendengar tentang nama Anda yang membangkitkan rasa kagum. Kini, Anda rela muncul secara langsung dan kami, kam tangut, atas seizin Anda, berjanji akan berusaha sebaik mungkin menjadi tangan kanan Anda.”
Yelu Ahai, yang duduk di belakang Genghis Khan dan Raja Shisha, menerjemahkan kata-katanya dan menyampaikannya dalam bahasa Mongolia kepada Genghis Khan. Yelu Ahai fasih berbahasa Tangut.
Genghis Khan berkata kepaa Raja Shisha sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, “Terima ksih banyak atas kata-kata Anda yang tulus. Mulai saat ini, Imperium Mongol dan Kerajaan Shisha akan menjadikan persahabatan, berbagi takdir yang sama.”
Raja Shisha, Li Anqan, melanjutkan, “Kami, kaum Tangut, tidak seperti orang-orang Mongol, aalah pemukim tetap. Kami membangun rumah dan menetap di sini. Kami memiliki rumah dan tembok  pertahanan yang harus dijaga. Kami tidak bisa serta merta bergabung dalam pertempuran dan kami tidak bisa membuat serta melaksanakan rencana strategi secara cepat. Oleh sebab itu, kami akan menyuplai banyak unta, yang dapat digunakan baik untuk transportasi mau pun untuk seumber makanan. Pada saat bersamaan, kami juga akan menyuplai bena-benda dari wol serta sutra.
Saat mendengar kata-kata ini, senyum menghilang dari wajah Genghis Khan. Pernyataan itu bertentangan dengan syarat nomor satu penyerahan diri, yang dituntut dengan tegas oleh Genghis Khan. Syarat itu berbunyi bahwa kapan pun, saat diminta, Raaj Shisha harus memobilisasi dan mengirim pasukan kepada Genghis Khan untuk menyokongnya, dan syarat tersebut telah disepakati. Raja Shisha mengatakan bahwa dukungan ekonomi dari mreka memang mungkin, tapi dukungan militer mereka tidak.
Sambil menatap matanya, Genghis Khan berujar dengan jelas, “Tanpa menjanjikan dukungan militer, kesepakatan ini tidak akan terwujud.”
Saat Yelu Ahai mengatakan ini kepada Raja Shisha, dia menundukkan kepala dan setuju untuk menerima syarat itu. Dibuatlah dokumen perjanjian damai, yang sebenarnya merupakan  instrumen penyerahan diri Raaj Shisha kepada Genghis Khan. Dokumen tersebut ditulis dalam dua bahasa, dan distempel nasional keduanya dibubuhkan di sana. Instrumen tersebut dibuat oleh Tata Tunga dan dibuatlah masing-masing dua dokument untuk satiap bangsa. Pada saat ini, bangsa Mongol sudah memiliki sistem tulisan sendiri, yang dikembangkan dari aksara Uighur. Sistem tulisan Mongol dikembangkan oleh Sigi Qutuku atas perintah Genghis Khan. Bangsa Tangut juga memiliki alfabet sendiri, dimodifikasi dari aksara Cina. Raja Shisha dan kerajaannya bertahan, dengan otonomi sendiri.
Setelah perjanjian damai, Pangeran Shisha Li Tsun Hsiang, dan 20.000 tawanan dilepaskan. Sementara itu, Chaqa, putri Raja Shisha yang berumur tujuhbelas tahun, menjadi istri kelima Genghis Khan. Selain itu, dua ribu unta dan bergunung-gunung barang dari wol serta sutra, juga sejumlah hadiah lainnya, diserahkan kepada Genghis Khan. Saat itu, bulan Januari 1210.
28. PERANG DENGAN CHIN
Pada bulan Maret 1211, diadakan khuriltai di tepi Sungai Kerulen di Dataran Mongolia. Didirikanlah sebuah tenda besar, yang bisa memuat lebih dari dua ribu orang. Semua pejabat dan panglima tinggi di Imperium, Barchuq sang idu qut Uighur, dan Arslan Raja Qarluud bekumpul bersama. Lewat Khuriltai ini, mereka secara resmi menunjuk kerajaan kaum Uighur dan Qarluud sebagai kerajaan bawahan dan sekaligus, yang lebih penting, mereka secara bulat menyepakati perang dengan Kekaisaran Chin.
Bangsa Mongol sudah siap, Genghis Khan mempersiapkan perang ini selama dua tahun terakir. Perang dengan Chin akan berdampak besar terhadap masa depan Imperium Mongol yang baru lahir. Jika bangsa Mongol menang, mereka mungkin saja dapat mendirikan fondasi yang kuat bagi Imperium baru. Jika mereka gagal, impian mereka akan lenyap. Genghis Khan memperkitakan bahwa perang melawan Chin akan memakan waktu sekitar lima tahun. Setelah mereka memenangi perang dengan Sung Selatan, mereka mengambil alih jantung dataran Cina dan semua kota besar.
Pada batu raksasa sekali pun, pasti ada retakan yang bisa dimasuki pahat. Itulah yang diyakini Genghis Khan. Genghis Khan sduah memiliki rencana yang hampir sempurna.
Sebelum berangkat, Genghis Khan pergi ke Gunung Burkan. Dia mendirikan tenda di sana, tempatnya berencana untuk bermalam sendirian. Gunung Burkan, yang tak berubah dan masih memiliki keagungan serta kemuliaannya, seolah diselubungi kesucian. Puncak gunung yang mengesankan ditabiri kabut dan terhubung dengan alngit ungu.
Genghis Khan berpuasa dan berdoa selama tiga hari tiga malam. Selama tiga hari, dia tidak mengkonsumsi apa-apa selain air. Di puncak gunung, tempatnya hanya bisa mendengar bunyi angin yang melewati daun jarum pohon pinus leksana ombak, dia menghabiskan tiga hari untuk berdoa dan bermeditasi. Hasil dari perang melawan Chin akan menentukan nasibnya serta rakyatnya. Genghis Khan hanya tidur lima jam sepanjang tiga hari itu, dan hanya minum sedikit air dari kantong kulit domba yang dia bawa. Punak gunung di bulan Mei masih dingin, tetapi butir-butir peluh bermunculan di keningnya. Dia berteriak ke angkasa dengan ikat pinggang dikalungkan di leher :
Tenggri, dewa langit biru kekal!
Beri aku kekuatan.
Perkenankan aku membalaskan dendam
Ambakai Khan dan Okin Barak
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid
Yang telah mempermalukan dan menyengsarakkan Leluhurku.
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid
Yang terus menerus mematahkan sayap kami,
Dainmenjerumuskan kami dalam perpecahan
Dan konflik tak berkesudahan.
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid,
Yang akan mengekang anak-anak kami
Selamanya
Hancurkan dunia tak berjiwa.
Yang dipenuhi kepalsuan dan keegoisan.
Perkenankan aku menjadi tangan kananmu,
Untuk menciptakan dunia baru dengan
Tatanan baru.
Beri aku kemenangan!
Agar nama suci bangsa Mongol,
Tak akan diinjak-injak lagi.

Pada pagi keempat, Genghis Khan turun dari Gunung Burkan. Sekitar 200.000 orang Mongol sudah menantinya di kaki gunung. Mereka ikut serta dalam acara puasa dan doa Genghis Khan selama tiga hari. Sebelumya, mereka telah membangun dua kota tenda sementara, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.
Genghis Khan berjalan menghampiri mereka dan berteriak, “Langit menizinkanku berjaya! Kemenangan milik kita!”
Ke-200.000 orang Mongol mulai bersorak dengan suara keras sambil mengepalkan tinju ke udara.
“Tenggri! Tengri! Tengri!”
Teriakan mereka berkumandang ke langit biru misterius yang kedalamannya tak diketahui dan dipenuhi udara gurun.
Genghis Khan menuju selatan ke Chin bersama pasukannya, yang telah dibagi menjadi tiga kelompok. Saat itu pertengahan bulan Mei, dua bulan sesudah Khuriltai. Dia membawa total 65.000 prajurit berkuda. Itulah jumlah maksimum yang bisa dibawanya.
Serdadu musuh yang harus dia hadapi berjumlah 120.000 prajurit berkuda, ditambah setengah juta prajurit infantri, sehingga totalnya 620.000 orang. Jumlahnya hampir sepuluh kali lipat serdadunya sendiri. Di mata pihak ketiga, kelihatannya dia pasti berjudi. Genghis Khan meninggalkan 20.000 serdadu di Dataran Mongolia untuk mengatasi pemberontakan yang mungkin saja terjadi dan menunjuk Taquchar, si orang Onggut, sebagai komandan.
Perang melawan Chin diduga akan berlangsung selama empat hingga lima tahun. Oleh sebab itu, para prajurit yagn sudah menikah diperbolehkan membawa serta anggota keluarga untuk menemani mereka. Karena mereka tidak membangun rumah, tetapi yurt yang bisa dibongkar pasang, gaya hidup mereka memungkinkan hal ini. Hal tersebut memberi mereka keuntungan emosional serta psikologis, sebab mereka jadi merasa lebih nyaman menghadapi ekspedisi jangka panjang. Namun, tak semua anggota keluarga diperkenankan ikut denegan mereka. Sebelum keberangkatan, semua orang yang mendaftar harus lulus pemeriksaan dan siapa saja yang idanggap tidak layak mengikuti ekspedisi jangka panjang akan ditolak, terasuk mereka yang terlalu muda, terlalu tua, atau cacat. Ada sistem bagus di tanah air mereka untuk menjaga anggota keluarga yang tetap tinggal di sana.
Genghis Khan mengajak serta dua istrinya. Yesugen dan Qulan. Ebelumnya, Genghis Khan telah melucuti kedudukan istri ketiganya, Ibaka, karena ayah wanita itu memberontak, dan menempatkan Yesugen, adik perempuan istri keduanya, Yesui, sebagai istrik ketiganya untuk menggantikan Ibaka. Genghis Khan memperbolehkan keempat putranya, Juchi, Chagatai, Ogodei, dan Tolui, untuk ikut serta juga dalam perang tersebut. Meskipun tolui yang berumur tujuh belas tahun belum boleh mengomandani unit tersendiri. Dia dizinkan mendampingi ayahnya dan mempelajari seni berperang.
Genhis tiak pernah lalai mendidik, mengajar, menasihati, dan menempa keempat putranya. Kapan pun dia punya waktu luang, Genghis Khan duduk bersama keempat putranya dan mengisahkan kepada mereka semua cerita yang dia dengar dari orang tuanya, serta semua tetua lain semasa kanak-kanak, tentang pengalaman serta filosofi mereka sebenarnya.
Suatu saat, dia sedang duduk bersama keempat putranya, di depan seekor penyu besar yang ditinggalkan seorang saudagar Muslim sebagai hadiah. Genghis Khan berkata kepada keempat putranya, “Lihatlah penyu ini! Ia dianugerahi perlindungan alami. Selagi ia berada di dalam cangkangnya, keamanan terjamin. Namun, ketika ia berada di dalam cangkangnya, ia tidak dapat bergerak. Orang-orang Cina seperti ini. Mereka membangun benteng, tembok pertahanan, dan dinding tinggi pelindung kota supaya mereka bisa hidup dengan aman, tapi karena itu, mereka tidak bisa bergerak ke luar dunia mereka samak sekali selama ribuan tahun.”
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Genghis Khan mengajukan pertanyaan kepada keempat putranya, “Ada hewan yang makan makhluk bercangkang sekeras batu ini. Kira-kira hewan apakah itu?”
Karena tidak ada yang memberikan jawaban untuk pertanyaan ini, Genghis Khan berkata sambil menyunginggkan senyum di bibir, “Harimau. Apa kalian tahu bagaimana cara harimau memakan penyu ini?”
Karena lagi-lagi tidak ada yang menjawab, Genghis Khan memberi tahu mereka. “Harimau menggit penyu kuat-kuat untuk meremukkan cangkangnya. Gigi dan tulang rahang mereka cukup kuat untuk melakukan itu.”
Sesudah mengucapkan kata-kata ini, Genghis Khan terkekeh-kekeh nyaring.
Beberapa saat kemudian, Genghis Khan memandangi ke empat putranya dan bertanya lagi, dengan sikap serius, “Orang-orang Cina makan penyu. Apa kalian tahu cara mereka membunuh penyu sebelum dimasak?”
Karena mereka tidak pernah melihat hal semacam itu, mereka tidak bisa memberi jawaban, Juchi coba-coba menjawab, “Mereka bisa merebusnya di dalam air mendidih bukan?”
Genghis Khan menampik jawaban tersebut, “Orang-orang Cia tidak menyukai reknik memasak seperti itu. Mreka mengeluarkan darah si penyu sebelum memasaknya.”
Genghis Khan menyuruh salah sartu pelayan di dekat sana untuk membawakan sepotong daging dan tongkat logam berkait kecil di ujungnya. Ketika daging dan kait sudah siap, Genghis Khan memotong daging kecil-kecil dan menusuk satu potong dengan kait. Dia mengulurkan potongan daging itu di dekat mulut si makhluk berpelindung dan menunggu. Karena terpikat oleh bau daging, si penyu seketika menangkap umpan. Saat Genghis Khan menarik tongkat berkait, leher si penyu meregang hampir sedepa.
Genghis Khan melanjutnkan, “Mereka memosisikan penyu seeprti ini di talenan dan memotong lehernya.”
Suatu kali, Genghis Khan menanyai putra-putranya, “Apa yang dikejar manusia pada akhirat?”
Ogodei, putra ketiga, menjawab, “Suatu kali Ayah memberi tahu kami jawabannya adalah kebebasan.”
Genghis Khan menjawab, “Bebar! Manusia mengejar kebebasan. Namun, meskipun kebebasan dapat memberi mereka kepuasan batin dan jiwa, hal tersebut tidak dapat mengenyahkan kehampaan. Mereka senantiasa mencari-cari sesuatu yang bisa membantu mereka menaklukkan rasa hampa. Sebagian orang menghibur diri dengan Agama dan sebagian yang lain mengabdikan hidup untuk anak-anak mereka. Sebagian orang bahkan melepaskan kebebasan yang mereka perjuangkan demi hal lain. Itulah yang harus dilakukan  pemimpin, menemukan sesuatu untuk mereka. Jika kalian bisa menemukannya untuk mereka, mereka akan mengikuti kalian hingga ke ujung dunia.”
Pasukan Mongol pun menapak masuk ke gurun. Tanah berupa pasir bercampur lumpur terbentang tak berujung ke cakrawala yang jauh. Dari sana, pasukan Mongol mulai menyebar. Pasukan perama, dimpin oleh Jebe, mengarah ke barat, sedangkan pasukan ke tiga, yang dipimpin ketiga putra Genghis Khan, mengarah ke timur. Tujuannya untuk membingungkan musuh dan memecah belah baris pertahanan musuh.
Pasukan kedua Genghis Khan, kelompok utama, tiba di sisi utara Tembok Besar pada awal Juni setelah berderap melintasi Gurun Gobi sejauh 720 kilometer. Tempat itu merupakan teritorial kaum Onggut. Ala Qus, kepala suku Onggut, datang menemui Genghis Khan. Genghis Khan dan Ala Qus sudah menjadi kerabat lewat pernikahan. Genghis Khan memiliki empat putra dan lima putri dengan Borte, Istri pertamanya, dan salah seorang putrinya, Alaqa, menikahi Taquchar, putra sulung Ala Qus.
“Selamat dartang Genghis Khan! Senang sekali bertemu kembali dengan Anda.”
Bersama beberap lusin panglimanya, Ala Qus menunjukkan keramahtamahannya. Mreeka menunggang kuda berdampingan untuk melihat-lihat Tembok Besar. Tembok Besar, dibangun dari bata merah, mengular di atas bukit dan gunung, terentang tak berujung dan berkilau merah darah, memantulkan sinar matahari siang. Genghis Khan dipenuhi rasa kagum saat melihat besarnya skala bangunan tersebut, dia juga dipenuhi rasa benci terhadap para pembangunnya.
Berapa banyak orang yang harus dikorbankan untuk ini? Dan berapa lama? Tidakkah mereka tahu bahwa tembok pelindung sejati semestinya dibangun di dalam benak mereka.?
Direktu, manager dan pengawas Tembok Besar adalah orang-orang Onggut. Ala Qus pemimpin kaum Onggut, bukan saja membukakan semua gerbang Tembok Besar untuk Genghis Khan, melainkan juga menyokongnya dengan 10.000 serdadu sendiri sebagai sukarelawan. Pasukan pertama Jebe dan pasukan ketiga pimpinan ketiga putra Genghis Khan tidak kesulitan menyeberangi Tembok Besar. Genghis Khan tidak kesulitan menyeberangi Besar. Genghis Khan berdiskusi dengan Ala Qus mengenai semua konsekuensi perang yang mungkin terjadi. Ala Qus menjanjikan dukungan penuh bagi Genghis Khan.
Genghis Khan terus maju ke selatan sambil memandangi wilayah Cinna yang luas. Ketiga pasukan senantiasa menjalin kontak, menggunakan kurir cepat setiap hari. Walau pun pasukkan Mongol bergerak dalam tiga kelopok terpisah, karena adanya sistem kurir ini, mereka bergerak layaknya satu tubuh, dan ketika dibutuhkan, mereka bisa berkumpul dalam waktu teramat singkat.
Genghis Khan membahas kerangka rencana dan strategi perang dengan para panglima dan komandan tingginya. Setiap komandan diperbolehkan mengoperasikan rencana da  taktiknya sendiri asalkan masih dalam batas-batas rancangan utama perang.
Pasukan utama Genghis Khan maju kian jauh ke selatan menyerang dan mengambil alih Fucho, kota paling utara di Chin, kemudian menyapu area tersebut. Juga merebut Kalgan dan Xiandefu. Semua kota di dekat perbatasan memiliki tembok kota yang relatif rendah dan garnisun mereka terutama beranggotakan prajurit infantri. Jadi mreka tidak bisa menandingi prajurit berkuda Mongol. Genghis Khan bergerak lebih lanjut ke delatan, dengan kedua kepala mata-matanya, Yelu Ahai dan Jafar.
Beberapa hari setelah melintasi Tembok Besar, Genghis Khan tiba di kaki pengunungan besar.
Genghis Khan menayai Yelu Ahai, yang berkuda di sebelahnya. “Apa kau tahu pelintasan gunung yang bisa kita gunakan untuk menyeberangi pegunungan itu?”
Yelu Ahai menjawab, “Ya, ada Pelintasan Yehuling.”
Genghis Khan mencari-cari pelintasan Yehuling, yang artinya pelintasan “Rubah liar”. Di antara pegunungan tinggi berselimut hutan rimbun, terdapat jalur yang dapat dilewati sejumlah besar serdadu, meskipun jalur itu sempit. Genghis Khan mengeluarkan perintah kepada para panglimanya.
“Kita akan tinggal di sini dan menunggu untuk sementara.”
Strategi dan taktik Genghis Khan unik, dan alhasil hampir mustahil ditebak musuh. Mreka tidak pernah bisa menebak di mana dan kapan dia datang. Strategi dan taktik Genghis Khan selalu berbeda, sama sepeti juru masak ahli yang menciptakan ribuan hidangan berbeda hanya dengan bahan-bahan yang diberikan kepanya. Genghis Khan acap kali menasihati para panglimanya : “Untuk memenangi pertempuran, kalian harus mau mengambil resiko lebih banyak daripada musuh kalian.”
Pasukan pertama Jebe menyapu kota-kota di Provinsi Shansi. Genghis Khan mengutus pembawa pesan untuk memberi tahu Jebe agar menyerang Xijing. Xijing terletak di kira-kira 320 kilometer di barat laut Zhongdu, Ibu Kota Chin, dan berada di tengah-tengan provinsi Shansi. Populasinya sekitar 200.000 orang dan garnisun beranggotakan 50.000 serdadu menjaga kota tersebut. Atas perintah Genghis Khan, parukan pertama Jebe menyerang kota itu setiap hari. Akan tetapi, kota itu tidak pernah jatuh ke tangan penyerang karena perlindungan dari dinding kota yang tinggi dan kokoh.
Kira-kira lima belas hari kemudian, dua prajurit berkuda Chin bergegas keluar dari kota lewat gerbang yang setengah terbuka dan berderap dengan kecepatan penuh ke selatan sesudah menembus kepungan.
Mereka adalah kurir kilat, dikirim oleh Jenderal Hushahu, panglima tertinggi Xijing. Kaisar Chin, Weishao, mengadakan pertemuan darurat setelah dia menerima pesan tersebut. Sampai saat itu, dia tidak mengetahui pergerakan bangsa Mongol. Sebelumnya, Konflik dan masalah minor sering kali terjadi di area perbatasan, jadi Weishao tidak terlalu memperhatikan laporan itu. Namun, banyak pejabat dan panglima, merasa bahwa ada yang lain dalam kasus ini, yang dengan tegas mendorongnya agar mengambil tindakan. Akhirnya, Kaiar Chin mengeluarkan perintah kepada Jujin, sang “Panglima besar” untuk mengurus masalah itu, memberinya 100.000 anak buah.
Jujin, sang panglima Chin, menuju utara ke Xijing bersama ke-100.000 serdadunya. Pasukan Chin yang terdiri dari 100.000 serdadu mulai menyusuri Pelintasan Yehuling. Tidk tahu bahwa ketiga pasukan Genghis Khan tengah menunggu untuk menyergap, mereka melalui berbarais panjang untuk melewati perlintasan itu. Ketika setengah prajurit mereka sudah menyeberangi pelintasan, mereka diserang oleh bangsa Mongol. Terpotong dua, tanpa waktu untuk menata ulang diri mereka, pasukan Chin pun kalah telak. Dalam waktu setengah hari saja sekitar 70.000 serdadu Chin yang mati sudah bertebaran di padang Shansi. Ini adalah kemenangan terbesar yang telah dicapai bangsa Mongol hingga saat itu. Para prajurit Mongol berteriak girang sambil mengangkat kepala panglima musuh. Jujin yang telah dipenggal dan memasukannya ke ujung tombak. Genghis Khan memerintahkan pasukan pertama Jebe maju ke selatan untuk membuka jalan ke Zhongdu dan juga menyuruh ketiga putranya menyerang serta menduduki kota-kota di Provinsi Hopei.
Pasukan pertama Jebe terus maju ke selatan dan menyerang Juyung Kuan, gerbang pertama menuju Zhongdu. Juyung Kuan, yang berupa benteng tak tertembus, terletak di puncak sebuah bukit tinggi dan dijaga oleh 30.000 prajurit garnisun. Pasukan pertama Jebe yang beranggotakan 15.000 orang menyerang benteng itu setiap hari. Orang-orang Mongol menembakkan batu seberat kira-kira tujuh puluh kilogram dengan ketepel yang mereka bawa. Namun, batu-batu tidak bisa mencapai benteng karena kurangnya tenaga.
Jebe memutuskan untuk mencoba taktik berbeda : pura-pura mundur. Pasukan Mongol meninggalkan semua peralatan di sana dan mundur. Begitu mereka menyaksikan pasukan Mongol menghilang ke cakrawala, pasukan Chin pun membuka gerbang dan keluar untuk mengambil semua peralatan serta perlengkapan. Selagi mereka sedang sibuk memindahkan barang-barang tersebut ke dalam benteng, pasukan Mongol mendadak kembali. Mereka bahkan tidak sempat kembali ke beteng dan menutup gerbang. Kecepatan merupakan senjata terbesar bangsa Mongol. Mereka tidak memperkenankan musuh mereka menaksir waktu secara tepat. Benteng yang tak tertembus, Juyung Kuan, jatuh ke tangan bangsa Mongol setelah ke-30.000 serdadu garnisun Chin dibinasakan.
Saat menerima laporan bahwa Juyung Kuan telah direbut, Genghis Khan mengeluarkan perintah kepada Yelu Ahai, yang sedang bersama Jebe, untuk meluncurkan serangan ke peternakan kuda milik keluarga kerajaan Chin, yagn berlokasi di dekat kota Zhongdu. Yelu Ahai, beserta 2.000 serdadunya, menyerang peternakan itu, membuat 50.000 serdadu kuda berpencar ke segala arah. Mereka juga mengambil beberapa ribu kuda. Pasukan Chin mengalami situasi sulit saat berusaha mengambil kembali kuda-kuda tersebut. Hal tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan. Alhasil, jalan menuju Zhongdu pun terbuka.
29. PERPECAHAN DI CHIN
Zhongdu adalah kota terbesar di dunia pada zaman itu. Kota berpenduduk sejuta orang tersebut dilindungi oleh tembok pertahanan setinggi duabelas meter yang terbuat dari bata kuat. Lebar tembok di dasarnya adalah lima belas meter dan di puncak selabrnya duabelas meter, cukup lebar untuk dilewati empat prajurti kavaleri bersisian. Di bawah tembok pertahanan terdapat tiga parit yang menghadang mendekatnya musuh, dan panjang total tembok itu adalah 42 kilometer. Sembilan ratus menara pengintai terdapat di atas tembok tersebut,d an kedua belas gerbangnya, semua terbuat dari logam tebal, mustahil dirobohkan dengan peralatan apa pun yagn dikeal saat itu.
Kora Zhongdu menjadi ibu Kota dari banyak kekaisaran. Sebelum Kekaisaran Chin, Zhongdu juga pernah menjadi Ibu Kota Kekaisaran Liao kaum Khitan, saat meereka menamainya Yenking. Kelak kota itu disebut Peking atau Beijing.
Sebagian panglima Genghis Khan berkeras agar mereka melakukan serangan langsung ke Kota Chongdu. Walau begitu, Genghis Khan menjelaskan kepada mereka, “Cina adalah negara belahan luas dan berpopulasi besar. Sebelum kita menyerang Zhongdu, kita harus merebut Provinsi Xijing dan Hopei terlebih dahulu. Jika tidak, kita bisa dikepung oleh mereka.”
Pada saat ini, seorang kurir kilat yang dikirim Jebe tiba di Juyung Kuan. Pesannya adalah bahwa tim perundingan damai dari Chin telah tiba di sana dan sedang menunggu jawaban Khan. Genghis Khan memutuskan untuk menemui mereka.
Tim Perundingan Chin berangggotakan kepala utusan dan dua asisten, dan salah satu asisten adalah orang Khitan bernama Simo Mingan. Dia adalah kenalan Genghis Khan. Pihak Chin khusus memilih Simo Mingan sebagai salah satu utusan karrena fasihnya berbahasa Mongolia dan karena dia kenal dengan Genghis Khan. Pada masa lalu, Simo Mingan pernah bertemu Genghis Khan beberaa kali di tenda kebesaran Wang-Khan. Namun kali ini, dia sesungguhnya adalah mata-mata. Dia disuruh mengumpulkan semua informasi terkait pergerakan bangsa Mongol.
Perundingan tidak berjalan lancar. Ada terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Suatu hari sebelum mereka pulang, Yelu Ahai, yang memandu mereka dari Juyung Kuan ke perkemahan Genghis Khan, datang menemui sang Khan dan berkata, “Tuan, Simo Mingan ingin menemui Anda secara pribadi. Bagaimana menurut Anda?”
Genghis Khan setuju. Saat Simo Mingan tiba, pengawal Genghis Khan berusaha melepas pakaiannya. Orang-orang Cina secara historis sering kali memerintahkan pembunuh mendekati pemimpn musuh, dengan cara menyamar sebagai utusan khusus atau pembelot. Oleh karenanya, pakaian mereka biasanya dilucuti dan mereka diberi pakaian baru untuk didkenakan sebelum pertemuan.
“Biarkan dia! Jika aku tidak mempercayainya, dia tak akan mempercayaiku juga.”
Genghis Khan menyambutnya, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, dan berjabat tangan dengannya.
“Selamat datang! Jendral! Simo Mingan, pria berusia akhir empat puluhan, dengan jujur mengakui bahwa dia adalah mata-mata Chin.
Mendengar ini, Genghis Khan menjawab sambil menyunggingkan senyum di bibir, “Aku sudah tahu itu.”
Simo Mingan mengutarakan niatnya menyerah kepada Genghis Khan. Kaum Khitan, yang telah ditaklukkan oleh orang-orang Juchid dari Chin, adalah warga kelas dua dalam amsyarakat Chin. Mereka tidak bisa memperoleh jabatan terpenting dan tertinggi sementara semua pekerjaan yang sulit dan kotor diperuntukkan bagi mereka. Satu kelompok pasrah saja dan menerima nasib, tetapi ada kelompok lain yang senantiasa berusaha membebaskan diri dari penindasan kaum Juchid. Simo Mingan termasuk bagian dari kelompok yang disebut belakangan. Bahasa Mongolia dan Khitan aslinya merupakan bahasa yang sama.. Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa mereka berubah, sedikit demi sedikit, dan pada masa Genghis Khan mereka tidak bisa berkomunikasi sama sekali tanpa penerjemah.
“Perang ini bukan saja untuk bangsa Mongol, melainkan juga untuk bangsa Khitan supaya bisa membebaskan diri dari cengkeraman Chin.” Genghis Khan menjelaskan.
Genghis Khan menerima informasi berharga dari Simon Mingan. Selain fakta bahwa di Kota Zhongdu terdapat persediaan makanan yang cukup untuk setahun bagi sejuta orang, dia mendapat informasi bahwa orang-orang Khitan di Provinsi Liodong bersedia bertarung melawan Chin, dengan bantuan Genghis Khan.
“Aku berjanji kaum Khitan akan memperoleh pemerintahan otonomi dan tanah mereka sendiri, “Genghis Khan memberi tahu Simo Mingan.
Simo Mingan tdak kembali ke Zhongdu. Saat menyadari penghianatan Simo Mingan. Kaisar Chin mengeluarkan perintah bahwa seluruh anggota keluarganya harus dipenggal. Mereka membawa kira-kira empat puluh anggota keluarganya ke pasar dan memenggal kepala mereka atas tuduhan sebagai keluarga penghianat.
Simo Mingan mengucurkan air mata ketika dia mendengar kabar buruk ini.
“Orang-orang Khitan bukan Cuma keluarga saya.” Sambil mengucapkan ini, dia menahan air mata. Genghis Khan berusaha menghiburnya.
Pada saat bersamaan, kabar buruk terus menerus datang dari pasukan ketigaberanggotakan 15.000 prajurit kavaleri, yang tengah menyerang Provinsi Hopei. Laporannya adalah bahwa mereka bisa merebut kota-kota akecil, tetapi gagal merebut kota-kita besar karena kuatnya tembok pertahanan yang melindungi kota. Mereka mengatakan bahwa mustahil menyeberangi tembok pertahanan dengan peralatan yang mereka punyai. Perang seakan terhenti. Genghis Khan merasa mereka perlu segera memperbaiki peralatan.
Pada bulan Maret 1212, Genghis Khan membuat strategi baru. Dia mengirim Yelu Ahai dan Simo Mingan untuk melaksanakan misi rahasia, yakni menghubungi Yelu Luko, yang merupakan keturunan keluarga kerajaan Khitan dari Kekaisaran Liao serta pemimpin spiritual bagi banyak orang khitan. Mereka berhasil menghubunginya dan membuat kesepakatan rahasia untuk bekerja sama dalam membangun bangsa Khitan. Genghis Khan mengutus Jebe beserta 20.000 prajurit kavaleri untuk membantu mereka. Ke 20.000 prajurit kavaleri Jebe dan milisi Khitan bekerja sama dan sukses mengambil alih Kota Lioyang, yang adalah bekas Ibu Kota Kekaisaran Liao, serta wilayah besar di dekat sana. Genghis Khan mengesahkan Kerajaan Khitan yang baru lahir dan memberi mereka otonomi.
Genghis Khan menepati janjinya kepada Simo Mingan. Yelu Luko, Raja baru Kerajaan Khitan yang baru lahir, tulus menghargai tindakan tersebut dan alhasil tetap setia kepda Genghis Khan selama delapan tahun, hingga dia meninggal.
Pada Bulan Mei, Genghis Khan meluncurkan serangan ke Kota Xijing bersama pasukan utamanya. Mereka amenggunakan peralatan yang sudah disempurnakan untuk menyerang benteng dan tembok pertahanan, tetapi mereka tetap saja tidak bisa merebutnya dengan mudah. Perempuran berlangsung selama sekitar sebulan. Kali ini, sesuatu terjadi. Genghis Khan sedang menyemangati anak buahnya di garis depan, ditembak panah dari benteng kota. Panah tersebut menancap di bahu kanannya, mematahkan tulang selangka. Seorang dokter militer Uighur pun melakukan operasi darurat.
“Semua akan baik-baik saja, Tuan. Namun, butuh setidaknya beberapa bulan sebelum Anda dapat mempergunakan bahu Anda dengan bebas seperti sebelumnya, “Kata sang dokter militer Uighur.
Pasukan Mongol mundur dari semua garis pertempuran, karena luka  Genghis Khan. Genghis Khan kembali menyeberangi tembok Besar dan mendirikan markas besar sementara di dekat Danu Dalan, di Wilayah Onggur. Sia menetap di sana hingga musim semi tahun 1213, untuk beristirahat. Sementara itu, unit rekayasanya diperintahkan mengembangkan peralatan baru untuk kota bertembok tinggi.
Pada musim semi tahun 1213, Genghis Khan lagi-lagi melintasi tembok Besar. Bangsa Mongol maju tanpa halangan merebut kota-kota satu demi satu dengan peralatan baru mereka. Termasuk kota-kota yagn tidak dapat mereka rebut sebelumnya. Salah satu peralatan yagn baru saja dikembangkan untuk menyeberangi tembok pertahanan adalah kendaraan tangga besar, yang ditarik enampuluh ekor lembu. Bangsa Mongol dalam rangka persiapan untuk menyerang benteng atau kota besar, menyerang kota-kota kecil di dekatnya terlebih dahulu, sehingga mengisolasi kota besar tersebut. Sesudah kota besar terisolasi, barulah mereka melanjutkan. Dalam pertempuran ini, jika orang-orang di kota-kota kecil menyerah, mereka selamat. Jika tidak, mereka semua dibantai. Ini adalah bagian dari perang psikologis untuk meneror musuh. Orang-orang di kota, begitu mereka mengetahui bahwa bangsa Mongol datang, ketakutan dan kehilangan tekad untuk bertarung.
Bangsa Mongol tidak bisa tak melakukan itu, sebab mereka harus menangani musuh berpopulasi lebih besar di negeri yang luas. Setelah merebut kota Hsuan Hua, Pan An, dan Huai Lai, bangsa Mongol menghancurkan garnisun beranggotakan 100.000 serdadu di dekat Nan Chow, Genghis Khan maju ke Lung Hu Tai, sebuah kota di dekat Ibu Kota. Namun, kali ini terjadi peristiwa lain, kaum Onggut memberontak.
Sedari awal, kaum Onggut terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok pro-Mongol, sedangkan yang satu lagi pro-Chin. Pemimpin kelompok pertama adalah Ala Qus, kepala suku yagn sekarang sedangkan kelompok satunya dikepalai oleh Kelmish, keponakan Ala Qus.
Kelmish adalah pewaris sah jabatan kepla suku, dengan bangsa Mongol secara sepihak, membukakan gerbang Tembok Besar dan menyimpankan semua pampasan perang untuk mereka. Dia mulai mengompori orang-orangnya, “Tidak ada jaminan bahwa orang-orang Mongol akan memenagni perang ini! Apabila mereka kalah, Chin akan membalas dendam kepada mereka. Kita sebaiknya tetap netral!”.
Dia menyrang tenda Ala Qus dengan dua puluh pengikutnya, dan menombak dada pamannya, Ala Qus. Dia menyatakan diri sebagai Kepala Suku baru dan menyita sejumlah besar pampasan perang yang telah dipercayakan Genghis Khan kepada Ala Qus. Genghis Khan menanggapi hal ini secara sangat serius, sebab teritori Onggut adalah gudang pebekalan dan kompleks militernya, dia serta merta membatalkan semua rencana perang, mengutus Subedei sebagai komandan pasukan penumpas. Subedei, dengan 5.000 serdadunya, dengan mudah menumpas para pemberontak. Mayoritas anggota pasukan penumpas adalah adalah orang-oranng Onggut. Sesudah menahan sekitar dua ribu pemberontak dan keluarga mereka, Subedei menanyakan hukuman mereka kepada Genghis Khan. Setelah mempertimbangkan hubungan mereka dengan kaum Onggut, Genghis Khan memmerintahkan Subedi agar mengeksekusi Kelmish dan para pengikut dekatnya beserta anggota keluarga mereka saja, menjadikan total sekitar dua ratus orang.
Hushahu, komandan garnisun Xijing, kota terbesar di kawasan barat Chin, tidak senang. Kendati dia adalah panglima sanga tpopuler yang telah memenangi banyak pertempuran melawan Sung, dia dikirim ke Xijing, kota yan relatif tidak penting di Chin. Kaisar Chin, Weishao, iri dan tidak nyaman dengan popularitasnya yang kian meningkat. Secara historis, Kaisar Cina acap kali mengirim panglima yang popularitasnya menanjak ke area terpencil untuk mencegah kemungkinan terjadinya pemberontakan. Rasa tidak senangn karena menjadi korban perlakuan tak adil kaisarnya berpadu dengan hasrat tak terkendali yang menginginkan kekuasaan, sehingga memotivasi Hushahu untuk kembali ke Zhongdu, meninggalkan Xijing. Dia hanya meninggalkan 10.000 prajuritdi Xijing, di bawah kepemiminan salah satu anak buahnya yang berpangkat terendah, dan menunju ke Zhongdu bersma 40.000 prajurit regulernya. Dia berhasil emmasuki kota, mengelabui serta membunuh komandan garnisun, dan mengepung istana. Dia melancarkan kudeta. Dia menangkap dan membunuh Kaisar Weishao, besrta para istri, selir, dan anaknya, yang totalnya sekitar tiga ratus orang. Dia menjadi wali raja dan mengemuka sebagai penguasa baru Kekaisaran Chin. Dia memilih Pangeran Udabu, sepupu Weishao, sebagai kaisar baru, dengan gelar Xuanzong.
Sang kaisar Boneka, Xuanzong, tidak senang, sebab dia tahu dirinya tidak punya kekuasaan. Hushahu sang wali raja dan diktator, mulai mengambil tindakan untuk menyingkirkan lawan politiknya. Yang pertama adalah panglima bernama Shuhu Gaoqi. Dia menunjuk Shuhu Gaoqi sebagai kepala pasukan lapangan untuk bertempur melawan bangsa Mongol. Pada masa itu, penguasa atau diktator acap kali mengirim musuh politik mereka ke medan tempur ketika apeluang menangnya tipis, untuk mengenyahkan mereka.
Shuhu Gaoqi pergi ke medan tempur. Tapi tidak lama kemudian, dia memutuskan untuk kembali. Begitu dia kalah dalam pertempuran, sudah jelas bahwa dia akan disingkirkan oeh Hushahu. Setelah memasuki kota bersama pasukannya, dia mengepung rumah Hushahu. Para prajurit membinasakan semua yang menghalangi mereka, membunuh semua anggota keluarga Hushahu. Hushahu mencoba kabur sambil masih mengenakan piyamanya, melintasi dinding belakang. Dia terlambat. Tombak yang didlemparkan oleh Shuhu Gaoqi tertancap di punggungnya dan dia pun jatuh.
“Bajingan kau!” kata ShuhuGaoqi, sambil menjambak rambut Hushahu dengan tangan kiri, mengangkat kepalanya, kemudian menebas lehernya dengan pedang di tangan kanan. Kekuasaan Hushahu selama dua puluh satu hari berakhir seperti ini. Shuhu Gaoqi menghadiahkan kepalanya kepada Xuanzong, sang kaisar baru. Hal ini membuat sang kaisar cukup senang. Sebagai imbalan dia menunjuk Shuhu Gaoqi sebagai komandan parnisun Zhongdu. Shuhu Gaoqi memberi tahu Xuanzong.
“Mustahil menghadapi kaum Mongol di medan tempur. Namun, kita berkonsentrasi pada pertahanan Zhongdu, mereka tak akan pernah bisa melintasi tembok pertahanan.”
Shuhu Gaoqi pun memperkuat sistem pertahanan Zhongdu. Saat itu Bulan September 12113.
30. PERUNDINGAN DENGAN CHIN
Setelah kudeta dan perubahan politik dalam pemerintahan Chin, bangsa Mongol menyapu lahan di hulu Sungai Kuning selama enam bulan, Genghis Khan membagi pasukannya menjadi lima kelompok, kemudian dia mengutus mereka untuk mengmbil ali Shansi, Hopei, Shantung, dan wilayah Manchuria selatan. Pasukan pertama, kedua dan ketiga, diberikan kepada ketiga putra Genghis Khan, Juchi, Chagatai, dan Ochigin Nayan. Genghis Khan menepati janjinya kepada ibunya untuk tak melukai Kasar dan kelak, dia memperkenankan Kasar memperoleh kembali sebagian posisinya. Genghis Khan bersama putra keempatnya, Tolui, dan pasukan kelima, maju ke Provinsi Shantung.
Pada periode ini, pasukan Mongol mengambil alih, atau menghancurkan, sembilan puluh kota kecil, dan besar di kawasan ini. Warga kota yang melawan dibantai habis, sedangkan rumah, bangunan, serta tembok pertahanan diratakan dengan tanah. Bagian Utara Dataran Cina terndoa darah dan diselimuti mayat orang-orang Juchid. Jika sebuah kota menyerah, orang Khitan atau Cina Han ditunjuk sebagai pemimpin dan semua penduduk harus bekerja sama dengan bangsa Mongol dalam peretempuran mereka selanjutnya.
Kasar, yang telah maju ke Manchuria selatan, sembari mengambil alih semua kota di akwaan itu, menapak masuk ke wilayah Koryo dan Korea, setelah menyeberangi Sungai Yalu. Dia mengirim utusan ke pemerintahan Koryo, menanyakan apakah mereka bersedia bekerja sama dengan bangsa Mongol untuk menyingkirkan sisa-sisa pasukan Chin yang bersembunyi di wilayah mereka, dengan cara menyediakan tambahan pasukan serta makanan. Menyadari bahwa mereka tidak bisa melawan pasukan Mongol, pemerintah Koryo setuju untuk bekerja sama. Dengan skongan berupa makanan dan pemandu jalan, Kasar menghancurkan orang-orang Chin yang bersembunyi di Korea, Kemudian kembali dengan cara menyeberangi Sungai Yalu.
Dengan demikina, Genghis Khan menaklukkan hampir sebua bagian utara negeri Cina dan mengumpulkan sejumlah besar pampasan perang. Dia menunjuk Lu Bailin, orang Cina Han yang takluk, sebagai pemimpin baru Kota Xijing, bekas Ibu Kota barat Chin. Kini Zhongdu, Ibu Kota Chin, laksana pulau di samudra.
Pada bulan April 1214, kelima pasukan Mongol berkumpul di padang dekat Kota Zhongdu. Padang itu disebut Sira Keer oleh bangsa Mongol, yang berarti “padang emas” dan padang itu diselimuti rumput tiada akhir yang memnatulkan sinar terang keemasan di siang hari. Dari sana, mereka dapat melihat bentuk samar Kota Zhongdu yang megah. Selagi mereka berada di sana, Genghis Khan memberi pasukan dan kuda-kudanya waktu untuk istirahat.
Bangsa Mongol memulai serangan, pertama-tama dengan ketepel, mengincar empat benteng di dekat kota. Mereka menembakkan batu sebesar dua puluh hingga tujuhpuluh kilogram ke arah benteng. Ketepel bekerja berdasarkan prinsip yang mirip seperti busur. Untuk ketepel, mereka mempergunakan batang logam tipis yang besar dan kuat alih-alih rangka kayu pada busur. Untuk menembakkan batu, sekitar sepuluh prajurit harus menarik tambang tebal yang menghubungkan kedua ujung batang logam dengan pengungkit kayu. Sementara itu, penungkit kayu ini terhubung dengan kantong berisi batu. Batu bisa mencapai jarak sembilan puluh meter, bergantung pada ukurannya.
Pengusung tangga didesain untuk membawa prajurit dengan selamat ke puncak tembok pertahanan. Dilihat dari samping, alat itu menyerupaki segetika siku-siku, dan bagian depannya yang menyiku dengan bagian bawah, ditutupi pelat kayu pelindung. Bagian yang miring, hipotenusa, berupa tempat terdapatnya tangga. Struktur bertipe seperti ini biasanya memiliki empat hingga enam roda besar, dan bisa ditarik atau di dorong.
Batu yang ditembbakkan prajurit Mongolmelesat ke arah yang tepat dan menghancurkan dinding benteng yang dibangun mengunakan kayu serta lumpur. Berikutnya prajurit Mongol melewati tembok dengan pengusung tangga. Dalam waktu beberapa hari, keempat benteng jatuh ke tangan Mongol. Setelah ini, Genghis Khan memerintahkan serangan langsung ke kota Zhongdu. Kendati dmeikian, tembok pertahanan Zhongdu begitu kuat sehingga batu-batu yang ditembakkan ketepel tidak merusaknya sama sekali. Selain itu, tiga lapis parit membuat pengusung tangga tidak mungkin merapat ke tembok. Pasukan Mongol berupaya dua kali, tetapi dua-duanya gagal. Mereka tidak bisa meneyeberangi tembok, dan mereka tidak bisa menghancurkannya.
Genghis Khan menunda serangan ketiga. Serangan tersu menerus yang peluang berhasilnya kecil semata-mata akan meningkatkan jumlah korban. Selain itu, para prajuritnya yang berada di tengah-tengah iklim tak biasa, mulai menunjukkan tanda-tanda terserang epidemi. Cuaca menjadi semakin panas.
Genghis Khan memutuskan untuk membuka perundingan dengan Chin. Empat utusan khusus dikirim ke dalam Kota Zhongdu. Para utusan terdiri dari dua orang Mongol, satu Khitan, dan seorang Muslim Persia Jafar, yang memiliki pengetahuan orang dalam yang bagus tentang Chin. Mereka membawa pesan pribadi dari Genghis Khan.
Berkat bantuan langit,
Dan bimbingan Tuhan,
Semua lahan Sungai Kunig,
Telah berada di bawah kekuasaanku.
Jika kuladeni perlawanan kalian,
Entah apa yang dikatakan langit kepadaku.
Aku berencana menarik pasukanku,
Namun, kalian harus mencari cara,
Untuk menghibur para panglimaku,
Yang tak akan mundur,
Tanpa menghancurleburkan
Kota kalian.
Beserta pesan pribadi ini, Genghis Khan menetapkan empat syarat :
1.              Lahan di Hulu Sungai Kunign harus berada di bawah kekuasaan Mongol.
2.              Seujui kedaulatan penuh Kerajaan Khitan yang abru di Provinsi Liaodong.
3.              Bayar biaya rekonstruksi
4.              Kirim sandera yang dapat diterima
Setelah menreima pesan tersebut, Kaisar Chin, Xuanzong, mengadakan rapat dengan para pejabat senior dan panglimanya. Wanyen Fuxing sang Perdana Menteri, berdiri dan berkata, “Semua ada masanya. Sekrang, masanya bangsa Mongol. Langit dan bumi ada di pihak mereka. Mereka menghancurkan pasukan kita yang kuat dan mengambil laih Juyung Kuan, yang layaknya pelampung bagi Zhongdu. Apabila kita meneruskan perang ini, cara yang terbaik adalah menuruti mereka, membuat mereka berpaling, dan kelak, kita akan menyusun rencana yang lebih baik untuk mereka.”
Kaisar Chin, Xuanzong, menyetujui pendapatannya. Pada bulan Mei 1214, dibuatlah kesepakatan. Kaisar Chin menerima keempat syarat Genghis Khan, mengirimkan anak perempuannya yang berumur delapan belas tahun, Putri Chikuo datang beserta mas kawin berupa tiga ribu kuda bagus dan sejumlah besar sutra serta harga bernilai lainnya. Pada saat bersamaan, sutra dan barang berharga berjumlah sama diserahkan kepada pra panglima Mongol. Diketahui bahwa mereka tidak bisa membawa serta semua harta pemberian, sebab jumlahnya semata-mata terlalu banyak untuk dibawa. Putri Chikuo yang datang bersama limaratus anak lelaki dan perempuan, bersuia sembilan hingga dua bellas tahun, untuk menjadi pelayan pribadinya.
Genghis Khan meninggalkan Zhongdu. Saat dia melintasi Tembok Besar, Genghis Khan melepaskan Wanyen Fuxing, yang mendapingi mereka sebagai sandera. Genghis Khan tidak kembali ke kampung halamannya, tetapi menempatkan diri di dekat danau Dalan, yang terletak di teritoti Onggut.
Putri Chikuo menangis. Dia menjadi istri sah kelima Genghis Khan. Saat itu adalah malam pertama bagi pasangan suami istri tersebut. Di dalam tenda Genghis Khan, yang dihias untuk pasangan pengantin baru tersebut. Cahaya lilin lebah meremang. Tempat tidur dilapisi selimut dan bantal sutra. Di pojok tenda terdapat perangkat minum teh mewah dari porselen Cina, diletakkan besrta nampan perak besar yang memuat perangkat minum teh perak yang tertata rapi. Tepat di sebelahnya ada meja lain yang memuat nampan perak berisi buah-buaan tropis serta makanan ringan. Ada tutup perak di atas kedua nampan itu. Untuk mencegah aroma makanan menyebar ke seisi tenda.
Genghis Khan, sambil duduk di tempat tidur, memandangai sang putri yang menangis saat gadis itu duduk di sebelahnya di ranjang. Genghis Khan, seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, kini memiliki istri baru berumur delapan belas tahun. Sang putri, yang berbusana tradisional, samar-samar mengleuarkan wangi mawar.
“Putri, sekrang kau istriku. Aku sudah punya empat istri, tapi menurut adat istiadat Mongolia, Istri kelima memiliki hak dan kedudukan yang sama seperti istri pertma. Satu-satunya perbedaan adalah anak-anak dari istri pertama boleh mewarisi kedudukan serta harta benda ayah mereka. Bukan aku yang membuat aturan itu. Itu adalah tradisi yang sudah turun-temurun dari genreasi ke generasi. Aku mengerti perasaanmu, meninggalkan kampung halamanmu untuk tinggal di negeri asing.”
Genghis Khan berusaha menghibur sang putri, tapi .dia tidak berhasil.
Dia melanjutkan, “Hubungan antara kau dan aku hanyalah sebagai laki-laki dan perempuan. Begitu kau menjadi istriku, semua ini tidak terkait dengan hubungan antara dua negara. Apa pun yang terjadi di antara kedua negara, hubungan antara suami istri tak akan pernah putus.”
Mendengar kata-kata ini, Putri Chikuo mengangkat dagunya dan berujar sambil memandang Genghis Khan,  “Tuan, saya menangis bukan karne aitu. Saya bukan anak kandung Kaisar Xuanzong, saya Cuma anak angkat.”
Genghis Khan diam saja selama sesaat. Lalu, dia mengeluarkan tawa terkekeh-kekeh nyaring. Dia berkata sambil mengelus punggung sang putri, “Aku sudah tahu itu. Aku tahu kau anak perempuan kaisar terdahulu.
Weishao, bukan anak kaisar yang sekarang. Xuanzong, Nah, apa sekarang kau merasa baikan?”
Ketika Hushahu memberontak, dia membunuh semua anggota keluarga dan keturunan lelaki Weishao, hanya membiarkan yang perempuan hidup. Kaisar baru, uanzong, mengasihani mereka dan mengadopsi sebagian sebagai anak perempuannya. Putri Chikuo berhenti menangis. Ini menjadi satu lagi malam panjang bagi Genghis Khan.
31. JATUHNYA ZHONGDU
Setelah orang-orang Mongol pergi, Chin serta merta melaksanakan rekonstruksi. Mereka memperbaiki tembol pertahanan kota dan memerkuat Juyung Kuan, gerbang utama dari utara ke Kota Zhongdu, sekali gus juga bentengg pertahanan terpenting Kaisar Chin. Xuanzong, mengira dia telah memang dalam perundingan dengan Genghis Khan. Tentu saja, sejumlah besar barang dan harta berharga harus diserahkan sebagai gantinya, tetapi itu hanyalah secuil dari isigudangnya. Selain itu, Putri Chikuo bukan anak kandungnya, tapi anak angkat. Sial bagi rakyatnya, dia bukanlah penguasa yang lebih baik dariapda pendahulunya, Weishao.
Dia memanggil perdana menteri. Wanyen Fuxing, dan berkata, “Menurutku Ibu Kota sebaiknya dipindahkan. Tidakkah menurutmu bahwa Zhongdu terlalu dekat dengan orang-orang Mongol?”
Terperanjat, Wanyen Fuxin menjawabnya, “Paduka, itu samak sekali tidak masuk hitungan! Kita  tidak punya kota lain seperti ini diwilayah kita, Kota yang memiliki sistem pertahanan sempurna. Jika kita pindah, sama saja artinya kita menyerahkan tanah di hulu Sungai Kuning.”
Aka tetapi, Xuanzong berkeras memindahkan Ibu Kota, berdasarkan gagasannya yang dangkal.
“Aku memilih Kota Kaifeng. Letaknya di hilir sungai Kuning, jadi tempat itu lebih aman dari roang-orang Mongol, yang tidak bertarung dengan baik di air.”
Kaifeng adalah kota di hilir Sungai Kuning, tapi secara keseluruhan pertahanannya lebih lemah daripada di Zhongdu. Wajah Wanyen Fuxing jadi suram.
Dia berkata apa adanya, “Paduka, saya harus mengingatkan Anda bahwa bangsa Mongol ada di Utara, tapi Sung ada di Selatan. Dua-duanya adalah musuh kita. Kampung halaman kita aslinya ada di utara, bukan di selatan. Apa yang akan Anda lakukan terkait rakyat kita di sutara Sungai Kuning yang patah semangat?”
Xuanzong menjawab dengan enteng. “Aku akan meninggalkan putraku, Pangeran Shu Tsung, di sini.”
Xuanzong tidak berubah pikiran. Dia jelas-jelas lebih mementingkan diri sendiri daripada seluruh bangsa. Dia tidak memahami bahwa keegoisan dan kepicikan bisa saja menjadi musuh terbesarnya.
Xuanzong menyelenggarkaan rapat kerajaan dan menyatakan pemindahan Ibu Kota. Banyak panglima yang terkejut dan marah dengan keputusan itu.
“Ini bukan keputusan yang pandai! Ini tindakan pengecut, berusaha menjauh dari musuh alih-alih menghadapi mereka. Ini adalah langah ertama menuju kehancuran Kekaisaran Chin!”
Mereka memekik berang. Protes mereka tidak jadi soal; Kaisar Chin sudah menegaskan keputusannya. Pada saat bersamaan, dia mengeluarkan perintah untuk menyerang kerajaan Khitan yang baru terbentuk, yang dia setujui keberadaannya karena paksaan Genghis Khan. Rencana ini diterima oelh sebagian besar penglima, tetapi ditolak oleh orang-orang gketurunan Khitan. Karena Genghis Khan telah menyatakan kemerdekaan kaum Khitan sebelum perang, cukup banyak orang Khitan yang berpaling kepadanya. Namun, mayoritas masih patuh dan setia terhadap Chin.
“Mereka semua bajingan! Kecuali kita rebut kemerdekaan kita sendiri, Kita tak akan bisa mengharapkan perubahan.”
Begitulah pendapat orang-orang Khitan. Terkait keputusan memindahkan Ibu Kota, mereka menentangnya, tapi didasari alasan yang berbeda. Semua pekerjaan kotor diserahkan kepada orang Khitan, dan alhasil, mempertahankan kota, hingga orang terakhir, akan menjadi tugas mereka.
Pada bulan juli 1214, Ibu Kota Chin dipindahkan ke Kaifeng, Provinsi Honan. Peristiwa ini terjadi kira-kira dua bulan setelah perjanjian damai. Pada saat bersamaan, Chin mengutus 50.000 serdadu untuk menyerang Kerajaan Khitan yang baru lahir. Saat menerima kabar ini, Genghis Khan murka. Inilah alasan utamanya menetap di teritori Onggut, yang letak ya baru setengan jalan menuju kampung halamannya.
Sudah hampir tiga tahun sejak dia meninggalkan kampung halamannya. Dia tidak bisa mengabaikan kemungkinan terjadinya masalah karena kepergiannya yang berkepanjangan. Dia telah menerima informasi mengenai sejumlah masalah di area antara Kara Khitai dan Shisha dan bahkan di kampung halamannya sendiri. Genghis Khan harus membuat keputusan cepat. Waktu tidak memihaknya.
Genghis Khan lagi-lagi menyeberangi Tembok Besar. Dia membagi pasukannya menjadi tiga akelompok dan memerintahkan sayap kiri agar menghentikan ke 50.000 serdadu Chin dan mengambil alih bagian utara serta tengah Manchuria, yang masih tak tersentuh hingga saat itu. Mukali, komandan sayap kiri, dengan mudah mengalahkan ke 50.000 prajurit ekspedisi Chin dan menyerang serta mengambil alih tiga puluh dua kota baru di area tersebut., menjadikannya pendudukan yang sukses. Kota Taning, ibu kota utara Kekaisaran Chin, sekaligus juga benteng pertahanan terakhir mereka di daerah tersebut, menyerah setelah dikepung dan diserang oleh pasukan Kasar, Julchedai, Alchi, dan Tolun. Daerah tersebut merupakan kampung halaman asli kaum Juchid, pembangunan kekaisaran Chin. Kaum Juchid berduka saat mendengar kabar bahwa mereka kehilangan kampung halaman mereka.
Di sisi lain, Genghis Khan ke Tung Kuan, tempat pasukan utama Chin diposisikan dan pada saat bersamaan, diperintahnya Jebe agar menyerang Juyung Kuan, benteng yang telah diperbaiki serta diperkuat. Di Tung Kuan, tentara Kekaisaran Chin sudah bertekad untuk bertempur hingga titik darah penghabisan. Di sana 100.000 tentara bunuh diri Chin sduah menunggu. Tiga panglima Chin, yang namanya hanay dikenal dalam pelafalan Mongolianya yatu Ile, Qada dan Hobogetur menetapkan keputusan heroik untuk bertarung hingga akhir. Namun mereka tetap saja dibinasakan oleh pasukan yang dipimpin oleh Juchi, putra pertama Genghis Khan, dan Chungu Gurigen, menantu Genghis Khan.
Jebe yang tela diutus untuk merebut kembali beteng Juyung Kuan, menyadari bahw amustahil melakukan serangan langsung. Dia menddiskusikan ini dengan Jafar, yang mengenal darah itu, dan berhasil menermukan pelintasan rahasia, melintasi gunung untuk mencapai beteng. Dia memimpin 2.000 prajurit dan melancarkan serangan dadakan ke 5.000 serdadu Chin pun dihancurkan.
Kota Zhongdu dikepung lagi, tetapi sehari sebelum kedatangan pasukan Mongol, Kaisar Chinsecara diam-diam mengeluarkan putranya, Pangeran Shu Tsung, dari kota dan membawanya ke Kaifeng, Ibu Kota baru Chin serta tempat tinggal. Wanyen Fuxing, abdi Chin yang loyal dan setia, membantunya melarikan diri.
Wanyen Fuxing, yang telah bertekad bulat untuk memeprtahankan kota hingga napasnya yang penghabisan memperkuat baris pertahanan, tetapi kota tersebut tetap saja jatuh ke dalam kekacauan yang tak terkendali. Satu juta penduduk Zhongdu mengamuk saat mendengar kabr bahwa Pangeran Shu Tsung tak lagi bersma mereka. Mereka merasa bahwa mereka telah dikhianati oleh penguasan mereka sendiri. Mereka mencoba kabur dari kota, jika mungkin, dam mulai merampok serta menjarah harta benda satu sama lain. Wanyen Fuxing memerintahkan pasukannya agar menghentikan orang-orang yang kabur dan memenggal perampok serta penjarah, juga menggantungkan kepala mereka di tembok kota sebagai peringatan.
Genghis Khan mendecakkan lidah saat dia melihat Kota Zhongdu dari jauh. “Kenapa Kaisar Chin tidak tahu behwa kekuatan pertahanan ada lam benak mereka, bukan di tembok yang tinggi? Dasar Bodoh!”
Genghis Khan pergi dari sana sesudah memberi Mukali, yang telah kembali setelah sukses menaklukkan bagian tengah dan utara Manchuria, perintah agar mengambil alih Zhongdu.
“Jatuhnya Zhongdu tak terelakkan lagi dan hanya perkara waktu. Mereka akan runtuh sendiri. Tunggu sampai saat itu. Lalu kau tak akan kehilangan satu pun prajuritmu. Aku bahkan tidak perlu berada di sini.”
Genghis Khan bergerak kembali ke tempat yang dekat dengan Tembok Bear.
Zhongdu lambat laun berubah menjadi kota maut. Warga yang lapar menyerbu gudang makanan, hanya untuk mendapatinya dalam keadaan kosong. Kaisar Chin telah membawa serta sebagian besar persediaan makanan ketika dia memindahkan ibu kota, dan sisanya dipergunakan oleh para prajurit sejak saat itu. Saat menerima permintaan darurat, Kaisar Chin mengiirm 10.000 prajurit dengan 100.000 karung beras, tapi mereka dihentikan oleh pasukan Mongol.
Setelah pergantian tahun, kira-kira pada bulan Maret, warga yang lapar mulai memakan daging manusia. Saat terakhir sduah dekat. Pada bulan Mei, Kota Zhongdu sudah tak berdaya lagi.
Wanyeng Fuxing mengumpulkan anak buahnya dan berkata, “Kita akan bertarung sampai orang terakhir, alih-alih menyerah. Bersiaplah untuk pertempuran terakhir.”
Namun, tak seorang pun mendengarkannya. Para prajurit yang lapar menjarah makanan yang tersisa dan menombak siapa saja yang bersuaha menghentikan mereka. Sebagian dari mereka membuka gerbang dan mulai melarikan diri. Sadar bahwa perlawanan sduah tidak mungkin lagi, Wanyen Fuxing pun memanggil dokternya.
“Apa ada obat yang bisa kuminum untuk mengakhiri hidupku secepatnya?”
Tanpa berkata-kata, sang dokter meletakkan kantong kulit kecil di mejanya. Wanyen Fuxing memasukkn serbuk biru dari kantong tersebut ke gelas anggurnya dan meminumnya dalam satutegukan. Tak lama kemudian tubuhnya terkejang-kejang hebat dan wajahnya berubah warna menjadi biru tua. Akhirnya, saat bola matanya mulai berputar ke atas, dia pun terdiam.
Mukali mengutus Samuk, yang dikenal sebagai seorang berkarakter tangguh, serta Simo Mingan ke dalam kota. Ke-5.000 prajurit Mongol memmasuki kota setelah perlawanan kecil-kecilan dari segelintir serdadu garnisun yang tersisa. Sebgian dari mereka mulai menembakkan panah api ke rumah-rumah, sedangkan kelompok lain memulai pembantaian. Saat itu sudah petang dan asap gelap dari rumah-rumah yang terbakar menghalangi langit, yang baru mulai menunjukkan pendar malam. Kota Zhongdu berubah menjadi neraka dunia, dipenuhi jeritan dan teriakan orang-orang yang sekarat dan derap kaki kuda. Mayat mulai menumpuk di mana-mana,s edangkan darahnya mengalir ke got jalanan, menganak sungai. Sebagian warga naik ke atas tembok pertahanan dan menjatuhkan diri ke tanah. Sebagian besar adalah remaja perempuan dan wanita dewasa. Di bawah tembok pertahanan, yang tingginya alebih dari dua belas meter, terdapat parit dari batu. Mereka tewas seketika, kepla mereka terbentur batu. Tembok pertahanan Kota Zhongdu, yang panjang totalnya empat puluh dua kilometer, dihiasi kibaran warna putih, merah, kuning dan rok para gadis dan wanita yang menjatuhkan diri. Total 60.000 gadis dan wanita bunuh diri seperti ini.
Beberapa hari kemudian, jalanan Zhongdu diselimuti jaringan lemak dari tubuh manusia, menjadikannya sangat licin dan sulit disusuri. Semua rumah di  kota telah terbakar, termasuk istana. Bergunung-gunung mayat ditumpuk di luar kota. Penghancuran dan penjarahan berlangsung selama sebulan.
Genghis Khan mengutus tiga pria. Sigi Qutuku, Onggur, dan Alqai untuk menyita benda-benda di dalam gudang harta keluarga Kerajaan Chin. Mereka menemukan bergunung-gunung harta yang tidak dibawa serta Kaisar Chin ketika dia pindah ke Kaifeng. Ada sutra; segala macam kain tenun seperti satin dan damas; helm dan baju zirah berhiaskan emas; pedang dan belati yang dihiasi batu berharga, kursi kayu bersandaran tangan dari emas, peti harta besar yang berisi muatiara, zamrut, dan safir, perabot mewah dan cermin besar panjang berhiaskan mutiara; segala macam parfum botolan; produk hiasan dari gading; dan masih banyak lagi. Ketiga lelaki tersebut tercengang melihat skala dan jumlah harta tersebut. Mereka tidak bisa menutup mulut mereka yang menganga. Pada akhirnya, dua dari mereka, Onggur dan Alqai, kehilangan akal sehat. Mereka mulai mengantongi harta tersebut, dengan bantuan prajurit mereka.
Saat menyaksikan ini, Sigi Qutuku memegangi tangan mereka dan mencob menghentikan mereka. “Semua benda ini adalah milik khan! Kalian tidak boleh mengambilnya!”
Akan tetapi, mereka tidak mendnegarkan. Belakangan, setelah mendengar tentang ini, Genghis Khan berang. Kedua pria itu dimarahi habis-habisan dan semua barang diambil kembali. Mreka luput dari hukuman badaniah, tetapi kesalahan mereka dicatat dalam arsip milter resmi.
Barisan tawanan Chin yang berjalan menuju Dataran Mongolia tidak ada habis-habisnya. Sekitar 200.000 tawanan di bawa ke wilayah Onggut. Begitu sampai di sana, mereka melewati proses penyaringan. Di antara mereka, para tehnisi, seniman, insinyur, dan pejabat pemerintah diseleksi terlebih dahulu. Berikutnya, dipilihlah siapa saja yang dianggap berguna bagi Imperium. Sisanya dilepaskan atau dieksekusi, bergantung pada apakah mereka menurut atau melawan.
Genghis Khan memandangi barisan yang terdiri dari ribuan tawanan. Selagi dia sedang mengendarai kudanya perlahan-lahan, sosok seorang lelaki unik tampak dalam pandangannya. Yang paling mencolok adalah tinggi badannya. Prai itu mengenakan seragam resmi Chin dan kelihatannya memiliki tinggi paling tidak 198 cm.
Dia memiliki janggut panjang yang menjunati hingga ke pusar. Di bawah kening lebarnya, terdapat dua mata besar yang berbinar-binar, dicerahkan oleh kecemerlangan, dan mulut terkatup raapt menunjukkan tekad kuat serta ketegasan. Genghis Khan segera saja menyadari bahwa dia adalah pria luar biasa. Genghis Khan pun mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pria berjanggut panjang sambil membungkuk dari kudanya.
“Siapa namamu?”
Sang pria tinggi menjawab dengan suara unik yang jernih dan merdu, “Nama saya Yelu Chutze, Tuan.”
Genghis Khan berujar, “Oh! Namamu “Yelu” mengungkapkan kepadaku bahwa kau adalah keturunan keluarga kerajaan Khitan. Kalau begitu, aku bisa jadi penolongmu yang menghancurkan musuh nenek moyangmu kaum Juchid dari Chin.”
Mendengar ini, dia menjawab tanpa ragu-rahu, “Itu tidak benar, Tuan. Baik ayah maupun kakek saya adalah pegawai pemerintah Chin. Saya juga pegawai yang digaji pemerintah, jadi saya hanyalah rakyat Chin.”
Genghis Khan agak kaget mendengar jawaban itu. Dan memandangi pria tersebut beberapa lama. Akhirnya, sebuah senyum muncul di bibirnya, seolah-olah dia senang akan jawaban pria tersebut.
“Apa kau bersedia bekerja untukku?”
Kali ini, pria tersebut lagi-lagi menjawab tanpa ragu-ragu.
“Saya hanyalah salah seorang tawanan Anda. Andalah yang membuat keputusan, Tuan.”
Genghis Khan menganggapnya sebagai jawaban “Ya” Genghis Khan berkata kepadanya, sambil menyunggikan senyum di wajahnya, “Mulai saat ini, akan kupanggil kau “Janggut Bagus.” Itu akan jadi julukanmu.”
Genghis Khan memperhatikan pria tersebut secara seksama sejak saat itu. Yelu Chutze, seorang pemuda Khitan berusia dua puluh enam tahun, rupanya merupakan pria luar biasa, seperti yang diduga Genghis Khan. Dia cemerlang dalam banyak bidang, termasuk astronomi, geometri, sejarah, agama, matematika dan statistik, hukum, administrasi publik, ilmu militer, dan bahkan pengobatan. Kelak, dia menjadi pejabat tinggi bangsa itu dan menyokong Genghis Khan dalam membangun Imperium.
Genghis Khan tinggal di Cina selama kira-kira setahun lagi, mengonsolidasikan fondasinya di sana. Dia menempatkan para Darughachi di banyak daerah yang berlainan dan membangun sistem pemerintahan.
Suatu saat, dia berdiskusi dengan para pejabat dan panglimanya tentang keseluruhan rencana untuk Dataran Cina utara yang baru saja ditaklukkan.
Juchi memberikan opininya.
“Cara terbaik adalah memindahkan seluruh populasi di wilayah itu, selangkah demi selangkah dan memperkenankan orang-orang Mongol bermigrasi ke sana, menjadikannya lahan gembala untuk kuda dan ternak lainnya. Biar bagaimana pun, keturunan mereka akan jadi musuh keturunan kita.”
Mendengar opini ini, mata Genghis Khan membelalak.
“Memindahkan semua orang dari sana dan menjadikannnya lahan gembala untuk kuda-kuda kita?”
Berikutnya, Genghis Khan memalingkan matanya ke arah Yule Chutze dan menanyainya. “Berapa populasi orang Juchid dan Cina Han di hulu Sungai Kuning?”
Yelu Chutze berpikir sejenak dan menjawab, “Menurut statistik yang dikompilasi sekitar sepuluh tahun lalu, populasi mereka lima puluh juta. Jumlah sebenranya bisa saja jauh lebih tinggi karena mereka cenderung melaporkan jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit, supaya pajak mereka lebih rendah.”
Genghis Khan menanyainya, “Apa kau sepakat dengan Julchedai?”
Di lagi-lagi berpikir sejenak, lalu menjawab, “Di antara semua harga benda, manusia aadalah yang paling bernilai. Nilai manusia melampaui tanah atau pun benda material. Ini berlaku baik untuk individu maupun bangsa. Alih-alih meakukan pemusnahan total, jika mereka diperintah dengan sistem yang baik, mereka justru akan menjadi sumber kekuatan yang dapat menghasilkan kekayaan berlimpah alih-alih terus menjadi musuh.”
Genghis Khan sependapat dengan Yelu Chutze.
Pada tahun 1216, Genghis Khan meninggalkan Cina. Dia menyerahkan 23.000 prajurit Mongol dari 40.000 prajurit Khitan kepada Mukali dengan misi untuk meneruskan operasi berkelanjutan melawan Cina. Dia mengumpulkan semua prajurit di satu tempat.
“Mukali adalah salah satu panglimaku yang gpaling terpercaya. Semua perintah darinya sama seperti perintah dariku. Siapa saja yang membanggakannya berarti membangkangku. Sekalipun aku tidak bersama kalian, lakukan yang terbaik dan tuntaskan misi kalian bersamanya.”
Genghis Khan menunjuk Mukali sebagai panglima tertinggi pasukan Mongol yang ditempatkan di Cina dan setahun kemudian dia menjadikan pria itu Gubernur Cina utara. Genghis Khan kembali ke tepi Sungai Kerulen dan tak pernah menginjakkan kaki di dataran Cina lagi.
32. PPERJANJIAN DAGANG DENGAN KESULTANAN KHWARAZM
Alkisah, terdapat kerajaan bernama Kesultanan Khwarazm. Khwarazm aslinya adalah nama sebuah kawasan kecil di sebelah barat Laut Aral. Seorang pria bernama Qurbuddin Muhammad, orang asli Khwarazm, merebut area ini dengan tentara bayarannya yang orang Turki. Putranya Alauddin Muhammad II, menaklukkan Khwarazm (kelak disebut Iran), yang merupakan wilayah Persia, juga menggunakan tentara bayaran Turki. Belakangan dia menyatakan diri sebagai “Pangeran Pilihan Allah” dan mulai menaklukkan area di dekat sana dengan Quran di satu tangan dan pedang di tangan lainnya. Pada saat dia menaklukkan Transoxania, kerajaan terkaya di daerah itu, Khwarazm sudah menjadi kesultanan besar.
Teritorinya terbentang hingga sejauh Laut Aral di utara, Teluk Persia di selatan, Pegunungan Zagros di barat, dan Dataran Tinggi Pamir di timur, mencakup sebagian besar Asia Tengah. Kesultanan baru ini bertetangga dengan bangsa yang dianggap merupakan keturunan langsung bangsa Persia; bangsa tersebut memeliki negeri berbentuk kehalifahan yang beribu kota di Baghdad, dibatasi sungai Indus di India di sebelah selatan dan Kara Khitai di timur. Ketika Alauddin Muhammad II menaklukkan Kota Samarqand, pusat dagang dan politik Asia Tengah, orang-orang takut padanya, memanggilnya “Alexander Kedua”. Kesultanan Khwarazm adalah negara adikuasa baru dan Alauddin Muhammad II merupakan penakluk yang barusaja naik daun.
Bantaran SungaiKerulen masih indah dan damai bagi Genghis Khan, yagn sudah kembali yang sudah lima tahun pergi dari sana. Sungai Kerulen, dialiri air jernih berkilau, mengular di stepa yang luas, menyembunyikan ekornya di cakrawala yang jauh. Di sepanjang Sungai Kerulen yang merupakan mata air penghidupan orang-orang nomaden, tersebarlah yurt yang tak terhitung jumlahnya, menghasilkan sebuah kota besar. Kaum nomaden sulit tinggal bersama di satu tempat karena terbatasnya jumlah rumput, yang merupakan makanan bagi ternak mereka. Padahal, mereka mengandalkan ternak untuk dijadikan makanan, pakaian, bahan bangunan, dan alat transportasi. Dalam kondisi normal, mereka semestinya menyebar di area yang luas, membuat ordu-ordu besar mau pun kecil. Dahulu, unit dasar sebuah ordu adalah satu suku. Akan tetapi, setelah lahirnya Imperium Mongol yang baru, sebuah ordu sama dengan satu kelompok yang dipimpin oleh pangeran atau noyan. Ordu Genghis Khan di tepi sungai Kerulen kini berupa kelompok besar. Tawanan Chin saja berjumlah lebih dari 200.000 orang. Mereka terdiri dari cendekiawan, administrator, seniman, teknisi, insinyur, dan pelayan. Karavan dan saudagar Muslim berjulah banyak yang terus datang dan pergi dari sini tinggal di sektor mereka sendiri., dibatasi di satu penjuru kota, setelah mendapat izin dan mendaftar. Kini, setelah bangsa Mongol menjadi negra kaya dengan banyak budak dan pampasan perang, pada saudagar pencari untung tak akan pernah meninggalkan pasar bercakupan besar yang baru saja lahir tersebut. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Persia dan India. Seniman perajin, dan teknisi Cina mulai membuat bermacam-macam produk, sesuai dengan keahlian mereka. Mereka membuat produk emas dan perak, produk gading, perabot mewah, dan segala jenis pakaian serta produk kulit dari bulu serta kulit hewan Siberia.
Pada musim gugur tahun 1216, tiga utusan datang jauh-jauh dari barat dan tiba di ordu Genghis Khan. Mereka menjalani misi persahabatan, diutus oleh Alauddin Muhammad II dari Kesultanan Khwarazm. Genghis Khan menemui mereka di tenda untuk tamu resmi, yang bisa memuat dua ratus orang. Diadakanlah penerimaan resmi, jadi sebagian besar pejabat ginggi dan noyan di Imperium tersebut hadir juga. Du utara duduklah Genghis Khan, yang mengenakan del dan yuden-nya, yaitu busana serta tutup kepala tradisional Mongol, dan di sampingnya duduklah istri pertamanya, Borte, yang juga menegenakan busana tradisional termasuk tutup kepala berbentuk silinder yang disebut bogtaq. Di kanan Genghis Khan, berdirilah semua pejabat tinggi dan noyan di Imperium tersebut, sedangkan di kirinya berdiri istri kedua, ketiga, keempat, dan kelimanya, beserta anak-anak mereka. Tiga utusan mengenakan serban dan seragam resmi seputih susu yang berhiaskan benang keemasan mewah. Bagian depan serban mereka bertahtahkan permata biru atau merah besar. Serban tersebut juga dihiasi emas di tepinya, sedangkan di atas ada dua bulu merak panjang warna warni.
“Kami mengucap salam dengan Nama Allah.”
Salam para utusan, bermula seperti ini dan berlangsung beberapa lama, Sesudah itu, mereka menghaturkan hadiah dari Sultan mereka. Alauddin Muhammad II, yang terdiri dari peti perak besar berisi segala macam perhiasan serta berbotol-botol parfum.
“Kusambut kalian atas nama Imperium Mongol dan kuhargai semua perkataan tamah dan hadiah kalian.”
Genghis Khan menerima hadiah tersbut dengan senang. Penerjemah resmi untuk acara itu adalah Yalacvachi. Ylavachi awalnya adalah sanggota karavan dari Khwarazm, tetapi telah bergabung dengan Genghis Khan bertahun-tahun sebelumnya dan belakangan, ditunjuk sebagai kepala mata-mata untuk kawasan Khwarazm.
Malam itu, pada jamuan makan selamat datang untuk para utusan, dia berbisik ke telinga Genghis Khan, “Tuan mereka mata-mata. Menurut saya Anda sebaiknya berhati-hati dengan perkataan Anda.”
Itu benar. Mereka datang atas nama misi persahabatan, tetapi mereka ditugasi mencari tahu apakah bangsa Mongol benar-benar menaklukkan wilayah utara Cina, berapa jumlah prajurit Mongol, dan apa rencana Genghis Khan di masa mendatang. Itulah tugas utama dan tujuan kedatangan mereka.
“Menurutku juga begitu. Walau begitu, selama mereka berada di sini atas nama misi persahabtan, apa yang bisa diperbuat?”
Genghis Khan menyatakan perdagangan bebas antara kedua negeri. Genghis Khan memanggil Tata Tunga, sang sekretaris jenderal, dan memerintahkannya menulis surat dengan isi sebagai berikut :
Akulah penguasa negeri matahari terbit.
Dan kaulah penguasa negeri matahari terbenam.
Kusarankan kesepakatan perdagangan bebas, Dmi persahabatan dan perdamaian di antara kita.
Berdasarkan kesepakatan ini,
Saudagar dan karavan dari kedua belah pihak,
Dapat bepergian dengan bebas di antara
Kedua negeri,
Utnuk membeli dan menjual kebutuhan
Sehari-hari dan aneka komoditas.
Dengan demikian, kesepakatan ini akan
Memajukan perekonomian kita,
Dan akhirnya akan berkontribusi.
Terhadap kemajuan umat manusia.
Itulah yang kuyakini.
Untuk membalas kunjungan mereka, Genghis Khan mengirim rombongan dagangnya sendiri yang mewakili Imperium Mongol untuk menemani rombongan Khwarazm saat mreka puang. Ketiga anggota kafilah dagang Mongol membawa surat pribadi Genghis Khan, bererta hadiah yang terdiri dari kriya emas dan perak, benda dekoratif dari giok, produk gading, serta mantel dari bulu unta putih yang sangat langka. Mereka tiba di Samarqand, Ibu Kota Khwarazm, dan berhasil membuat kesepkatan dagang dengan sang Sultan, Alauddin Muhammad II. Rombongan dagang Mongol kembali setelah lima bulan. Dalam jangka waktu itu, mereka sempat menginap lima belas hari di Samarqand,d an menempuh perjalanan bolak-baik sejauh 7.200 kilometer.
Yalavachi, salah satu anggota rombongan, memberikan laporannya kepada Genghis Khan.
“Jumlah prajurit mereka kira-kira 400.000 orang. Alauddin Muhammad II bukanlah penguasa yang populer di kalngan rakyat. Beberapa tahun lalu, pemberontakan menentang kebijakannya yang represif dan pajak tinggi. Awalnya dia mungkin berencana menaklukkan Kata Khitai dan membuka jalur perdagangan langsung ke Kota Zhongdu. Dia sangat menyesal karena Zhongdu telah berada di bawah kekuasaan Anda. Saya berhasil mengetahui bahwa dialah yang membantu Kuchlug, dan sisa-sisa kaum Naiman merebut Kara Khitai.
Sesudah menerima laporan ini, Genghis Khan bersandar di kursinya sambil mengerang pelan karena tidak senang. Ketika dia kembali seusai menaklukkan Cina utara, kabar pertama yang dia dengar adalah bahwa pasukan Kara Khitai pemimpin Kuchlug telah menginvasi teritori kamum Mongol, membunuh dan menjarah, dan sisa-sisa kaum Merkid, yang mereka yakini sudah tidak ada lagi, telah berkumpul di Pegunungan Tien Shan untuk balas melawan.
Sesudah menyuruh Yalavachi pergi. Genghis Khan berjalan keluar tendanya dan memandang tepi Sungai Keruen yang berkilau diterpa sinar matahari sore. Dalam cekungan besar di sekeliling Sungai Kerulen yang berliku-liku, tenda Felt berbentuk kubah yang jumlahnya tak terhitung tersebut secara teratur, memantulkan sinar mentari jingga sore bagaikan topas. Perpaduan warna di langit tampak harmonis saat matahari terbenam mulai mengubahnya hingga menjadi sumber rbu misterius.
Apa yang bisa ditemukan, setelah manusia
Melintasi gunung?
Gunung lain yang harus dilintasi.
Apa yang bisa ditemukan, setelah manusia
Mengalahkan musuhnya?
Musuh lain yang harus dikalahkan
Manusialah yang mengawali,
Namun, Tuhanlah yang mengakhiri, Biar bagaimana pun,
Dunia ini adalah hasil perpaduan campur
Tangan manusia dan Tuhan.
Genghis Khan memutuskan untuk menaklukkan Kara Khitai.
. 33. LANGKAH  KUCHLUG
Kara Khitai adalah negara yang dibangun oleh keturunan keluarga Kekaisaran Liao, yang telah didhancurkan oleh kaum Juchid, para pendiri kekaisaran Chin, Yelu Tashi, seorang ningrat dari Kekaisaran Liao yang telah jatuh, dan orang-orang Khitan pengikutnya, kabur mencari selamat ke barat, menjauhi musuh mereka. Mereka menyeberangi pegunungan serta gurun dan menetap di tempat yang terletak antara Lembh Tarim, di antara Danau Balkhash dan Dataran Tinggi Pamir. Mereka memilih area di hulu sungai Chu sebagai amrkas mereka dan menamainya Balasagun. Begitu sampai di sana, mereka menyatakan lahirnya negara baru yang dinamai Kara Khitai, dengan Ibu Kota Balasagun. Mreka mulai menaklukkan suku-suku dan bangsa-bangsa kecil di dekat sana, memperluas wilayah mereka, dan alhasil, pada pertengahan abad kedua belas, mereka sudah menjadi kekutan besar di kawasan ini.
Setelh menyingkirkan kerajaan kaum Uighur dan Qarluud di dekat sana, mereka memperluas kekuasaan hingga ke Samarqand. Penguasa Samarqand harus membayar upeti kepada Guru Khan, Penguasa Kara Khitai, setiap tahun. Karena akeluhuran mereka lama sekali menguasai Cina utara, sistem mereka mirip seperti sistem pemerintahan Cina. Kerabat kerajaan menggunakan nama keluarga Cina dan agama utama mereka adalah Buddhisme. Namun, pada penghujung abad kedua belas, mereka merupakan masyarakat yang multirasial dan multietnik, didominasi warga taklukka, yaitu orang-orang Islam Turki dan Tajik.
Pada masa lalu, ketika kaum Naiman dihancurkan olrh Genghis Khan pada tahun 1204, Kuchlug, putra penguasa Naiman saat itu, Tayang Khan, mencoba melancarkan serangan balasansetelah mengumpulkan rakyatnya yang tersisa. Akan tetapi, ketika dia dikalahakan lagi oleh pasukan Jebe, dia harus melarikan diri ke Kara Khitai hanya bersama segelintir pengikutnya yang tersisa. Ketika mereka sedang menjelajahi padang, tampak kuda, sekelompok prajurit kavaleri mendekati mereka dari selatan. Mereka adalah penjaga perbatasan Kara Khitai, Dalam sekejap, empat puluh prajurit kavaleri mengepung kelompok Kuchlug, yang beranggotakan enam orang.
:Aku Kuchlug, putra Tayang Khan dari kaum Naiman! Bawa aku ke penguasa kalian!” teriak Kuchlug kepda mereka.
Para prajurit penjaga membawanya kepada kapten mereka dan kemudian sang kapten membawanya ke Balasagun, Ibu kota mreka. Yelu Cheluku, Guru Khan Karakhitai, memberinya suaka politik. Dia dapat menjalani kehidupan yang nyaman di bawah perlindungan Guru Khan. Terkadang dia diundang ke acara jamuan Guru Khan. Suatu hari, dia bertemu Qunqu, anak perempuan Guru Khan yang berusia sembilan belas tahun, di acara jamuan makan, Qunqu serta-merta jatuh hati pada Kuchlug; dia tampan, pintar bicara dan sopan. Gurbesu, Ibu Qunqu, juga menyukai Kuchlug. Walau begitu, Kuchlug sesungguhnya adalah serigala berbulu domba. Guru Khan, sudah tua dan lemah, tidak pandai menilai karakter. Dia memperkenankan putrinya menikahi Kuchlug. Sesudah menjadi menantu Guru Khan, Kuchlug mulai menampakkan karakter aslinya. Dia pun segera saja menguasai istana Kara Khitai dalam genggamannya.
Pada saat ini, Kesultanan Khwarazm sedang menanjak. Saat Sultan Khwarazm menyrang dan mengambil alih Kota Samarqnd, Guru Khan terpaksa mengutuss pasukannya untuk merebut kembali kota tersebut.
Kuchlug mendatangi Guru Khan dan berkata : “Tuan, bantu saya mengumpulkan rakyat Naiman. Mereka tersebar di sepanjang padang padang dan gurun. Jika saya bisa menyertakan mereka ke dalam pasukan Anda, Anda pasti akan mengalahkan pasukan sultan. Saya bersumpah setia kepada Anda dan saya bersumpah leher saya pasti patah jika menaati Anda.”
Guru Khan membuat kesalahan keduanya. Dia memperkenankan Kuchlug mengumpulkan orang-orang Naiman yang tercerai berai. Setelah itu, selama beberapa bulan, Kuchlug mengumpulkan semua orang Naiman dari wilayah Qayaligh dan Beshaligh, daerah yang populasi orang Naiman-nya paling banyak, dan membawa mereka ke teritori Kara Khitai. Dia mengorganisasi mereka menjadi pasukan pribadinya, menjadikan dirinya pemimpin mereka. Mereka dipersenjatai dan diperlengkapi ssenjata serta baju zirah dari gudang senjata Kara Khitai.
Kuchlug, pemimpin 20.000 tentara pribadi, mengutus pengantar pesan rahasia ke Sultan Muhammad dari Khwarazm alih-alih maju untuk melawan mereka. “Aku akan menyerang Kara Khitai dari timur, jadi aku ingin Anda menyreang dari barat. Apabila pasukan Khwarazm Anda mengalahkan pasukan Guru Khan, wilayah Almaligh dan Kshgar yang sekrang dikuasai Kara Khitai akan menjadi miik Anda. Apabila aku mengalahkan mereka, sebelah timur Sungai Syr akan menjadi milikku.”
Saat menerima pesan ini, Sultan Muhammad memandangi ketiga utusan dengan muak sambil mengelus janggut putih panjangnya. Dia berpikir, “Pria ini benar-benar ular! Bisa-bisanya dia menghianati seseorang yang telah begitu banyak membantunya? Bajingan ini pasti akan tewas ditanganku suatu hari. Namun, pada saat ini, dia sangat bermanfaat.”
Sultan Muhammad melompat berdiri dan berteriak kepada ketiga utusan Kuchlug.
“Pergi dan beritahu majikan kalian! Aku sepakat! Akan kumulai operasi militer tepat tiga hari lagi!.”
Tepat tiga hari kemudian, Sultan Muhammad dan tentara Khwarazm-nya meluncurkan serangan ke Kara Khitai dari barat. Pada saat bersamaan, pasukan Kuchlug berderap ke Balasagun dari arah lainnya. Guru Khan murka saat menyadari penghianatan menantunya, tetapi sudah terlambat. Dia sudah celaka. Diserang dari dua arah. Guru Khan harus membagi pasukannya menjadi dua bagian. Pasukan Guru Khan mengalahkan pasukan Kuchlug dari Timur, tapi tidak terlalu berhasil di medan barat. Guru Khan, yang memimpin pasukannya di medan barat, kalah telak atas pasukan sang Sultan. Dia pun mundur beberapa beberapa mil bersama para serdadunya yang tersisa dan mendirikan kamp di dekat ibu kotanya, Balasagun.
Di tengah malam, saat semua oang terlelap karena kelelahan, sekelompok penyerang dadakan menyerbu mereka. Mereka adalah bagian dari pasukan Kuchlug. Begitu mendengar kabar bahwa pasukan Guru Khan telah kalah, Kuchlug mengumpulkan prajuritnya yagn tersisa dan meluncurkan serangan dadakan. Pasukan Kara Khitai kalah dan Guru Khan pun ditawan.
“Jaga baik-baik mertuaku.” Kata Kuchlug kepda anak buahnya. Walau begitu, Guru Khan mala digiring ke penjara Belakangan, dia dilepskan dari penjara, tapi dikenai tahanan rmah. Beberapa bulan kemudian, Guru Khan meninggal karena sakit, disebabkan oleh amarah yang tidak sanggup dia kendalikan. Istri pertamanya, Gurbesu, meracuni dirinya sendiri, sedangkan Qunqu, putri Guru Khan, pergi untuk menjadi biarawati. Sebagian orang belakangan menduga bahwa dia pergi ke Kerajaan Shisha. Kuchlug mengambil semua seir Guru Khan.
Kuchlug, yang telah mendapatkan Kara Khitai dalam genggamannya, mulai menindas kaum Muslim. Pada saat itu, dia pindah agama dari Kristen Nestorian menjadi Buddha. Sebelum pindah agama, dia sudah sering berhubungan dengan penganut Buddhisme dan juga teramat dipengaruhi oleh orang-orang Khitan, yang mayoritas beragama Buddha. Mantan istrinya, Qunqu, juga seorang Budhhis yang taat.
Kuchlug mengeluarkan perintah untuk menutup semua tempat ibadah, kecuali kuil Buddha, dan melarang semua aktivitas keagamaan selain agama Buddha. Pada masa itu, penganut Buddhisme dan Islam sama banyaknya, tetapi kaum Muslim memiliki lebih banyak rumah ibadah.
Karena kebijakan yang mengesampingkan kebebasan beragama ini, pemberontakan pun pecah di Khotan, daerah yang populasi Umat Islam-nya paling banyak. Kuchlug memerintahkan prajuritnya membakar ladang jagung yang merupakan makanan pokok penduduk khotan, setiap tahun. Sesudah tiga tahun, karena menderita karena kurang makan, warga Khotan pun menyerah. Setelah kembali menguasai Khotan tanpa mengucurkan setets darah pun, Kuchlug memerintahkan agar semua pesantren yang mengajarkan Islam ditutup. Pada saat bersamaan, dia mengumpulkan semua Imam Islam di atu tempat. Jumlah mereka hampir tiga ribu orang.
Kuchlug membentak para imam, “Kalau ada di antara kalian yang bisa berdebat denganku mengenai keyakinan keagamaan dan berpendapat kalian bisa mengalahkanku, majulah!”
Mendengar ini, Alauddin Muhammad, Immam Madrasah, sekolah Islam terbesar, melangkah maju.
“Di mana Tuhanmu?”
Ketika sang Imam tidak bisa menjawab sesuai yang diharapkan oleh Kuchlug, kemudian Kuchlug berkata kepada sang Imam, sambil memelototinya dan menudingnya dengan jari, “Kau akan dipaku ke salib, tiga hari dari sekarang. Berdoalah kepada Tuhanmu!”
Satelah mengucapkan kata-kata ini, dia pun pergi. Prajurit Kuchlug menelanjangi sang Imam dan membelenggu pergelangan kakinya. Mereka tidak memberinya air ayau pun makanan selama tiga hari. Dia akhirnya disalib di depan sekolahnya.
Setelah itu, Kuchlug mengirim 20.000 orang Naiman pengikutnya ke 30.000 rumah penduduk Muslim. Diperintahkannya mereka tinggal di rumah-ruah tersebut, satu orang di masing-masing karena takut kalau-kalau ada pemberontakan kedua. Umat Muslim pun teramat menderita karena harus diperintah oleh orang-orang yang tak mereka inginkan. Kaum Naiman mengatur-atur oran-orang di rumah yang berada dalam kendali mereka dan secara rutin merazia Qur’an yang disembunyikan di setiap rumah, kemudian mengumpulkan dan membakar Kitab-kitab tersebut di lapangan terbuka.
Umat Muslim sudah tidak sabar lagi menantikan perubahan.
34. GENGHIS KHAN MENAKLUKKAN KARA KHITAI
Pada musim smei 1218, Genghis Khan mengutus Jebe bersama 20.000 prajurit untuk menaklukkan Kara Khitai. Genghis Khan menyadari sekali apa yang tengah terjadi di Kara Khitai. Pada saat bersamaan dia menyerahan 20.000 prajurit kepada Juchi dan Subedei untuk memusnahkan sisa-sisa kaum Merkid yang berkumpul di dekat pegunungan Tien Shan, di utara Kara Khitai. Genghis Khan memberikan sejumlah instruksi kepada Jebe sebelum dia pergi.
“Begitu kau menginjakkan kaki ke wilayah Kara Khitai, bukalah semua ruah ibadah dan umumkan secara terbuka bahwa Imperium Mongol akan menjamin kebebasan beragama.”
Pasukan Jebe memasuki teritori Kara Khitai dengan panji-panji Genghis Khan di depan mereka. Di ssejumlah area, pasukan Jebe menghadapi perlawanan kecil-kecilan, tapi mereka dengan mudah dikalahkan. Terkait perintah Genghis Khan, Jebe serta merta membuka semua rumah ibadah Islam dan mengumumkan kebebasan beragama.
Penyelamat kaum Muslim telah tiba! Pasukan Mongol didsambut hangat di mana-mana sebagai pasukan pembebas. Kaum Muslim menyambut Jebe dengan roti dan garam, simbol selamat datang di tangan mereka.
Pada saat itu, Kuchlug tengah berada di Kashgar. Dia berusaha memobilisasi pasukan, tetapi orang-orang di Kashgar tidak mengindahkannya. Mereka terpengaruh oleh pasukan perdamaian yang dikirim Jebe. Anggota pasukan perdamaian Jebe memasuki area itu sambil menyamar sebagai pengelana. Mereka memastikan agar semuanya tahu bahwa Genghis Khan telah menyetujui kebebasan beragama dan siapa saja yang mendukung atau bergabung dengannya akan diterima sebagai rekan dan diberi kesempatan yang sama, tanpa memperdulikan ras, agama, bahasa, tempat asal, atau asal-usul keluarga. Orang-orang di Kashgar dan Khotan memberontak terhadap Kuchlug, bahkan sebelum tentara Jebe datang. Karena mereka tidak diperbolehkan memiliki senjata, mereka membawa alat pertanian serta pentungan besar dan membunuh orang Naiman di setiap rumah dan setiap penjuru daerah mereka. Pemberontakan tersebut, yang bermula setelah tengah hari, berlangsung sampai larut malam. Dengan obor di tangan mereka berburu ke mana-mana membunuh kaum Naiman satu demi satu. Mayat-mayat sisa-sisa kaum Naiman ada di mana-mana di Kashgar dan Khotan. Kekuatan Utama Kuchlug pun runtuh dalam sekejap.
Kuchlug melarikan diri ke dataran Tinggi Pamir hanya bersama sekitar sepuluh pengikut. Jebe seketika ,elaksanakan pengejaran. Lima regu pengejar, masing-masing terdiri dari empat ratus pria sehingga totalnya dua ribu orang, menuju ke segala arah yang mungkin dipergunakan Kuchlug untuk melarikan diri. Regu pengejar diberi perbekalan untuk sebulan. Regu pengejar ketiga Jebe, yang menuju ke pegunungan Himalaya lewat Dataran Tinggi Pamir, menemukan jejak Kuchlug. Mreeka terus melacak jejak musuh sembari melintasi pegunungan Himalaya. DI bawah kaki mereka, awan berarak laksana laut dan sosok samar Dataran Punjab di kejauhan terlihat lewat sebuah celah di antara awan. Hampir mustahil melacak mereka, begitu Kuchlug dan anak buahnya memasuki wilayah Punjab. Regu pengejar ketiga Jebe menyusuri jalan di puncak gunung yang mengarah ke wilayah Punjab, tetapi mendapati bahwa mustahil terus bergerak dengan kuda mereka karena pegunungan itu demikian curam. Mereka pun mendirikan kemah di sna dan melanjutkan pengejaran setelah memilih unit khusus yang terdiri dari delapan puluh pengejar.
Sementara itu, Kuchlug dan anak buahnya telah melintasi pegunungan dan tiba di Badakhshan, sebuah kota besar di tengah-tengah gunung. Mereka menapak ke jurang yang disebut Sariq. Sariq Qol, yang artinya jurang kuning, memiliki tinggi tiga ribu meter dan di susun oleh tebing baru curam. Konon begitu seseorang jatuh dari sana, tubuhnya akan tercabik-cabik bahkan sebelum sampai ke dasar. Kuchlug membuat kekeliruan saat dia melangkah masuk ke jurang ini. Dia mengambil jalan buntu. Pada saat itu, regu pengejar melihatnya.
Karena para anggota regu pengejar tidak mengenal area tersebut dan jalan tersebut terlalu terjal serta berbahaya, mereka memutuskan untuk meminta bantuan dari penduduk setempat. Untungnya, mereka menemukan sekelompok pemburu Badakhshan di sebuah tempat dekat sana.
“Kami pasukan Genghis Khan. Kami sedang mengejar Kuchlug. Tolong, jadilah pemandu kami, Jasa kalian akan dilaporkan kepada khan.”
Para pemburu Badakhshah setuju. Begitu mreka mempunyai pemandu, regu pengejar pun sukses menangkap Kuchlug, dengan selamat menghindari jebakan maut yang tersembunyi di mana-mana. Mengingta bahwa sulit membawanya hidup-hidup hingga ke perkemahan, mereka pun memenggal kepala Kuchlug dan kembali sambil membawa kepalanya.
Jebe mengirim kepala Kuchlug kepada Genghis Khan, beserta tanda mata perang berupa seribu ekor kuda bermoncong putih, simbol keberuntungan bagi kaum Mongol. Genghis Khan menunjuk Yelu Ahai sebagai Wlai Negeri Kara Khatai, dan menghadiahi para pemburu Badakhshan dengan sejumlah besar emas, perak, dan uang, Jebe menuntaskan penaklukan Kara Khitai dalam sebulan.
Di tempat lain, Juchi dan Subedei, dengan ke 20.000 prajurit mereka, menuju ke Pergunungan Tien Shan, markas kaum Merkid yang tersisa. Takuchar, yang merupakan komandan tentara pertahanan di Dataran Mongolia selagi Genghis Khan sedang pergi menaklukkan Cina utara, mendampingi mereka. Panglima tertinggi operasi ini adalah Juchi. Sisa-sisa kaum Merkid sesekali melakukan serangan ke Dataran Mongolia saat Genghis Khan sedang tidak ada. Mereka menyerang kota-kota perbatasan, membunuh penduduk, dan menjarah ternak serta harta benda lain. Jika Takuchar, yang saat itu adalah komandan tentara Mongol, balas menyerang dan mengejar mereka, mereka semata-mata melarikan diri dan menyebar ke pegunungan luas alih-alih menghadapi pasukan Mongol. Beberapa waktu kemudian, mereka akan berkumpul kembali dan menyerang lagi. Mereka melakukan ini berulang-ulang. Ini adalah perang gerilya.
Takuchar menginterogasi tawanan beberapa kali, tapi mereka bahkan tidak mengetahui siapa komandan mereka. Mereka hanya mengenal kapten yang memberi mereka perintah langsung. Biasanya, mereka mereka tidak menetap di satu tempat. Mereka justru menyebar ke area yang luas, dan tetap hidup seperti itu. Itulah sebabnya mustahil mencerabut mereka.
Ktika Genghis Khan menerima laporan ini dari Takuchar seteelah dia kembali dari Cina, dia pun memikirkan tindakan pencegahan. Genghis Khan kemudian memberikan perintah kepada Juchi, Subedei, dan Takuchar sebelum mereka pergi untuk melaksanakan operasi tersebut.
“Berdasarkan seluruh informasi, anggota mereka yang aktif kurang dari 10.000 orang. Namun, mereka tersebar di area yang luas, jadi kita butuh dua kali lipat jumlah itu untuk menghancurkan mereka sepenuhnya. Gunakan taktik yang sama seperti yang kita gunakan dalam perburuan.”
Karena alasan inilah, Genghis Khan membutuhkan 20.000 serdadu Juchi dan Subedei maju ke pegunungan Tien Shan, dan mengepung seluruh pegunungan. Kemudian, mereka perlahan-lahan memperkecil kepungan. Para prajurit mongol tak mengizinkan satu orang pun kabur, sama seperti mereka tidak mengizinkan satu hewan pun meloloskan diri dari kepungan saat mereka berburu. Pada hari terakhir pengepungan, pasukan Mongol menghabisi gerilyawan Merkid, yang telah dipojokkan ke satu tempat. Genghis Khan memerintahkan agar tidak membiarkan satu orang musuh pun hidup. Mayat gerilyawan Merkid berserakan di lembah dan sisi gunung. Para prajurit Mongol memeriksa semua mayat gerilyawan satu demi satu, dan membuh mereka jika ada yang sepertinya masih hidup atau berpura-pura mati.
Pada saat ini, seorang gerilyawan Merkid bangkit dari antara jenazah dan mengambil seekor kuda di dekat sana, menungganginya, lalu mulai melarikan diri, secepat kilat. Gerakannya demikiang sit sehingga prajurit Mongol yang terdekat sekali pun tidak dapat menghentikannya.
Juchi seta merta mengirim tim pengejar, Kira-kira dua puluh prajurit Mongol mulai mengejarnya. Oran gyang kabur, selagi dia sedang berkuda dengan kecepatan peuh, mengambil satu anak panah dari wadah di punggungnya, dan memasang anak panah itu ke busur di pinggangnya. Berikutnya, dia memutar bagian atas tubuhnya ke belakang dan menembakkan anak panah tersebut. Seorang prajurit pengejar di depan jatuh ke tanah sambil memekik singkat. Tidak lama kemudian jatuhlah seorang lagi dan seorang lagi, lalu seorang lagi. Total lima orang pengejar tertembak dan jatuh ke tanah. Akbirnya, mereka berhasil menangkap pria itu hidup hidup karena pantat kudanya terpanah dan ia menjatuhkan pria tersebut ke tanah saat sedang mendompak.
35. TRAGEDI  DO OTRAL
Pada musim gugur 1218, karavan berskala besar meninggalkan Dataran Mongolia. Tujuan mereka adalah Samarqand, Ibu Kota Khwarazm. Mereka terdiri dari 150 pedagang Muslim dan 300 kuli, menjadikan totoalnya 450 orang pengelana dengan 500 unt yang mengangkut sutera Cina kualitas tinggi, benda emas dan perak, prduk gading dan giok, permata, serta bulu hewan Siberia bermutu tinggi. Pemilik karavan adalah sekelompok aristokrat dari Imperium Mongol. Mereka juga membawa banyak koin emas Khwarazm untuk dipergunakan membeli helm logam, tunik rantai, barang gelas, produk kimia, dan parfum dari Baghdad dan Bukhara. Ini adalah karavan pertama yang melintas sejak disahkannya kesepakatan perdagangan bebas antara kedua negara tersebut.
Mereka menyeberangi gurun dan melewati pegunungan menghasilkan barisan panjang. Setellah enempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer, melintasi bekas wilayah Kra Khitai, yang kini menjadi wilayah baru Imperium Mongol, Mereka pun tiba di tral, kota paling timur, dan gerbang masuk, Khwarazm. Kepala garnisun sekaligus gubernur di kota perbatasan ini adalah Inalchuq, yaitu keponakan maternal Sultan Muhammad, Pria tersebut termasuk orang kuat di Kesultanan Khwarazm. Penduduk Otral memperlakukannya dengan hormat, memanggilnya “Ghayir Khan”. Kendati begitu, dia sesungguhnya adalah pria liar, tak kenal ampun, tangguh, dan serakah.
Karavan Mongol mendirikan kemah di lahan terbuka  luas di dekat hutan poplar, tepat di luar kota. Mreka harus menunggu sampai mereka medapat izin kepala garnisun untuk melewati kota. Sehari kemudian, mereka diberi tahu bahwa orang-orang boleh keluar masuk, tetapi hewan dan barang bawaan tidak. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan izin lewat bagi keduanya, mereka harus menunggu lebih lama.
Sementara itu, sebagian anggota karavan pun masuk ke kota dan mula mengontak orang-orang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Di antara karavan terdapat seorang pria India bernama Raju. Dia adalah kenalan sang Gubernur, Inalchuq. Suatu hari, Raju berkesempatan duduk bersama dengan Inalchuq. Inalchuq menanyai aasannya bekerja untuk orang-orang  Mongol.
Dia menjawab Genghis Khan adalah lelaki hebat. Dia menaklukkan Cina utara dan Kara Khitai. Dia menerima semua orang yang mengikuti garis kebijakannya. Dia memiliki kebijakan terbuka. Siapa saja dapat menjadi temannya, tak peduli asal-usulnya.”
Inachuq kesal dengan kata-kata ini. Para pemimpin Khwarazm sangat kecewa dan tidak senang dengan fakta bahwa Kara Khitai telah diduduki oleh Genghis Khan sebelum mereka sempat menaklukkan daerah tersebut. Mereka pun sudah meulai menganggap Genghis Khan sebagai musuh mereka selanjutnya. Kara Khitai adalah bagian penting dari Jalur Sutra.
Inalchuq melompat berdiri dan berteriak kepada pengawalnya, “Tahan pria ini! Dia pasti mata-mata Mongol!”
Berikutnya, dua pedagang Muslim yang melontarkan komentar serupa di apsar, ditahan atas tuduhan kejahatan yang sama, spionase. Tidak lama kemudian, ke 450 anggota karavan dan semua barang bawaan mereka diciduk atau dirampas oleh para prajurit yang dikirim Inalchuq. Inalchuq juga mengutus kurir kilat ke Samarqand, untuk melaporkan kepada Sultan Muhammad bahwa dia telah menemukan mata-mata Mongol di antara anggota karavan dan meminta keputusan Sultan terkait langkah berikutnya.
Sultan Muhammad mengdakan rapat dengan para pejabat senior serta panglimanya dan berkata, “Bangsa Mongol kini musuh kita. Mereka merebut Kara Khitai sebelum kita. Tidak lama lagi, kita harus menyatakan perang untuik merebut rute perdagangan penting tersebut dari mereka.”
Itulah keputusan mereka. Sang kurir kembali ke kota Otral sambil membawa balasan Sultan Muhammad dan menyerahkan kepada Inalchuq, “Singkirkan ketiga mata-mata itu.”
Itulah jawabannya. Inalchuq tidak senang dengan jawaban tersebut. Meskipun dia diperintahkan melepaskan semua anggota karavan yang lain dan mengembalikan barang bawaan kepada pemiliknya, dia membunuh mereka semua dan menyimpan seluruh benda tersebut untuk dirinya sendiri. Dia menyuruh prajuritnya menggali lubang besar dan mengubur ke-300 kuli hdiup hidup. Sisanya, 150 pedagang Muslim, digantung terbalik di pohon dan dibunuh dengan panah. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak tahu apa sebabnya mereka harus mati.
Ada satu orang yang selamat anggota di antara anggota karavan. Setelah menyaksikan kekejaman biadab yang terjadi di Otral, dia kembali ke Dataran Mongol dan melaporkan seluruh perinciannya kepada Genghis Khan.
“Apa, semua anggota karavan dibunuh? Semua barang bawaan diramas?”
Genghis Khan melompat berdiri ketika dia mendengar berita mengerikan ini. Dia tercengang dan tidak sanggup menutup mulutnya yang menganga. Dia berdiri saja di sana selama beberapa waktu sambil menatap kosong. Wajahnya dikerutkan amarah dan matanya berkilat-kilat karena luar biasa murka. Urat lehernya membengkak dan pipinya membara karena merasa terhina. Sesaat, sikapnya tetap seperti itu. Tidak lama kemudian, dia berujar sendiri sembil menggetarkan gigi dan mengepalkan tinju, “Perang! Mereka menginginkan perang!”
Iinilah permulaan dari perang yang akan diingat sebagai salah satu peristiwa pembantaian paling brutal dalam sejarah manusia.
Karena seriusnya insiden tersebut, Genghis Khan pun mengutus kurir kilatnya ke Samarqand, Ibu Kota Khwarazm. Surat pribadi Genghis Khan dibawa oleh tiga kurir. Dalam surat itu, Genghis Khan menuntut ekstradisi si pelaku kriminal, Inalchuq, kepala garnisun Otral, untuk dihukum. Ketiga kurur melaju siang malam, memotong kota Otral, dan tiba di Samarqand tujuh hari kemudian. Mereka digiring ke hadapan Sultan Muhammad II, penguasa Khwarazm. Sultan Muhammad memandangi ketiga kurir dengan benci dari singgasana keemasannya. Dia meremas surat tersebut dan menyerahkannya kepada pria yang berdiri di sampingnya. Berikutnya, dia pelan-pelan mengangkat tubuh besarnya yang berat dari kursi. Dia berjalan beberapa langkah, menghampiri ketiga kurur yang tengah bertumpu pada satu lutut dan menantikan jawaban. Dia menendang wajah atau bahu ketiga kurir, satu demi satu, hingga mereka terjatuh.
“Dasar anjing Mongol!”
Setelah menyemburkan kata-kata ini, dia pun membentak ketiga kurir, “Berani-beraninya pria bernama Genghis Khan memintaku menyerahkan abdiku!”
Dia berbalik dan berjalan pergi ke tempat tinggalnya tanpa berkomentar lebih lanjut. Satu dari dua puluh anak buah Sultan Muhammad, barangkali ajudannya, yang berada di sampingnya, seketika mengikuti sang Sultan dan menanyakan sesuatu kepadanya. Sultan Muhammad berbicara keapda sang ajudan beberapa lama, kemudian menghilang, Sang kapten kembali ke poisisnyandan memberikan perintah kepada sekitar empat puluh pengawal di ruang tamu agar menangkap ketiga utusan. Prajurit Khwarazm mengikat tangan mereka di belakang punggung dan membawa mereka keluar. Ketiga kurir di seret ke lapangan eksekusi yang berjarak sekitar delapan kilometer dari kota, melewati gerbang utama kota yang besar dan kekar. Saat itu sudah petang, waktunya senja memancarkan pendarnya ke atas lapangan dan perbukitan di dekat sana. Beberapa ekor gagak sedang membuat gaduh, berputar-putar tinggi di langit, seolah mereka sudha mencium bau darah manusia.
Para prajurit menyalakan obor. Salah ssatu prajurit Khwarazm, yang tampaknya adalah sang kapten, mendekati ketiga kurir dan bertanya, “Siapa kepala kelopokmu?”
Regu pembawa pesan yang dikirim Genghis Khan terdiri dari seorang utusan dan dua asisten. Sang utusan adalah orang Muslim Turki, Alik. Saat dia melangkah maju, sang kapten melepas serbannya, menjambak rambutnya, dan menyeretnya maju beberapa langkah. Di lapangan tersebut terdapat deretan barang kayu berbentuk silinder yang ditancapkan di tanah, dirancang dan dibentuk untuk memotong leher manusia. Sang kapten menarik rambut Alik ke bawah, membuat lehernya menyentuh bagian atas batang kayu di dekat sana, dan memberi isyarat kepada prajurit yang berdiri di sebelahnya dengan cara menganggukkan kepala. Pada saat ini, salah satu asisten, Yalavachi, berteriak kepada mereka.
“Jangan! Kalian tidak boleh melakukan ini. Kami utusan. Utusan tidak boleh dibunuh!”
Mengabaikan protensnya, sang prajurit Khwarazm memenggal kepala Alik dengan kapak besarnya yang berbentuk bulan separuh. Disertai by=unyi teredam, kepada Alik yang terpenggal menghantam tanah dan menggelinding beberapa kali, dan darah pun muncrat dari lehernya yang buntung. Dua prajurit lain memegangi kaki dan jasanya yang tak berkepala, seorang memegangi satu kaki, dan meneyret jenazah tersebut ke lubang dekat sana dan melemparkannya ke dalam. Ketika sudah penuh, lubang tersebut ditimbun tanah.
Walau pun saat itu sudah malam, sejumlah besar gagak berbunyi ribut. Yalavachi menjerit, “Kalian tidak tahu apa-apa tentang Genghis Khan! Kalian pasti akan membayar untuk ini!”
Sang kapten menghampiri kedua asisten. Pria itu memelototi Yalavachi yang terisak-isak dan asisten satunya, bergantian, dan memberi perintah kepada anak buah yang berada di dekatnya.
“Bakar janggut meereka dan beri mereka kuda untuk pulang.”
Mendengar ini, salah satu anak buahnya berkata, “Sultan bilang,” potong janggut mereka.”
Sang kapten melirij mereka dan membentak, “Bakar saj! Lebih mudah!”
Setelah mengucapkan ini, sang kapten pun pergi. Para prajuritnya menahan tangan kedu kurir di samping tubuh mereka dan menstabilkan tubuh keduanya dengan cara menjambak rambut mereka. Lalu, salah seorang prajurit mulai membakar janggut mereka menggunakan obornya. Bau gosong rambut manusia yang terbakar memenuhi udara. Para prajurit Khwarazm perg dari sana, meninggalkan kedua kurir yang mengerang-erang.
Ketika Genghis Khan menerima kepala Alik, dia pun besimbah ari mata. Di antara dua negara yang berusuhan sekalipun, norma pergaulan insternasional yang lazim menitahkan bahwa membunuh kurir dan utusan atas alasan apa pun tidak dibenarkan. Bagi Muslim, janggut dianggap sebagai simbol harga diri dan memotong janggut mereka sama saja dengan mempermalukan mereka, layaknya memotong rambut perempuan.
“Khwarazm bukanlah sebuah bangsa! Mereka Cuma segerombolan bandit!” Genghis Khan berdiri dan bertitah di depan sekitar seratus pejabat serta panglimanya, yang juga berdiri dengan ekspresi muram dan sedih :
“Sejarah harus diingat! Bukan aku yang memicu melapetaka ini. Mulai saat ini, apa pun yang menimpa mereka, itu adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Tumpahnya darah mereka bukan karena kesalahanku.”
36. GENHIS KHAN MEMUTUSKAN BERPERANG DENGAN KWARAZM
Pada buan janurai 1219, diselenggarakanlah khuriltai berskala besar di tepi sungai kerulen. Semua noyan, panglima, dan pejabat tinggi Imperium Mongol berkumpul bersama. Mereka secara bulan menyepakati perang dengan Khwarazm. Mereka sudah siap. Mreka sudah selesai membuat 3.000 mesin busur, yang mereka gunakan untuk menembakkan tombak seperti panah, 300 ketapel, 700 pelontar api, dan 4.000 pengusung tangga. Sementara itu, peta militer akurat Kesultanan Khwarazm sudaha rampung, berkat aktivitas jaringan mata-mata Genghis Khan, yang telah mengumpulkan semua informasi mengenai populasi dan jumlah tentara di setiap area.
Khwarazm adalah negara adikuasa baru. Negeri mereka luas dan populasi mereka lebih daripada yang dpat dibayangkan orang. Di daerah Transoxania saja, Sultan Muhammad memiiki 400.000 prajurit. Perang dengan Khwarazm yang sudah di ambang mata akan menentukan nasib Imperium Mongol. Sudah jelas bahwa skala perang akan berbeda dengan perang-perang yang sudah dijalani bangsa Mongol sebelumnya. Genghis Khan telah membat rencana hebat untuk menaklukkan dunia barat.
Pada saat itu. Dunia Islam terbagi menjadi tiga kelompok. Satu adalah kelompok Sunni, yang bermarkas di Baghdad dan dipimpin oleh seorang khalifah, sedangkan satunya lagi Syi’ah. Sultan Muhammad adalah bagian dari kelompok kedua. Yang terakhir adalah kelompok Ismailiyah, yang merupakan aliran Syi;ah tersendiri serta Idenpenden. Kelompok ini – yang juga disebut Hassassin – adalah teroris, bersembunyi jauh di dalam pegunungan di Persia dan Syi’ah utara. Kelompok-kelompok tersebut bertentangan.
Lebih lajut ke barat, ada dunia Kristen yang dipimpin oleh Paus. Para pejuang salib mereka terlibat dalam pertempuran tiada akhir dengan Dunia Islam.
Apakah rencana hebat Genghis Khan untuk menaklukkan dunia barat? Tidak ada yang tahu. Namun, satu hal sudah jelas : Dia adalah pria yang mengetahui cara mengubah krisis menjadi peluang.
Sebelum berangkat, Genghis Khan memuutskan untuk melaksanakan dua hal yang sudah dia tunda-tunda beberapa lama. Satu adalah menetapkan penerusnya dan satunya lagi adalah memanggil seorang pria bernama Chang-Chun. Sampai saat itu, Genghis Khan telah menyaksikan keempat  putranya dengan seksama. Keputusan ini tidak mudah. Namun, karena perang dengan Khwarazm semakin dekat, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun dan akan jadi perang terbesar yang pernah berlangsung, orang-orang di sekitarnya mulai mengungkit-ungkit perkata itu. Salah satunya adalah istri keduanya, Yesui. Suatu hari, ketika wanita itu sedang sendiri saja bersama Genghis Khan, dia menyinggung persoalan itu.
“Suamiku, buatlah keputusanmu. Semua makhluk yang lahir di dunia ini fana. Sekawan kuda tanpa penggembala akan berpencar-pencar ke padang, dan rumah tanpa penyangga akan runtuh. Ingatlah bagsa yang telah kau dirikan dan semua orang yang mengikutimu.”
Genghis Khan merasa bahwa Yesui ada benarnya. Genghis Khan berusia lima puluh dua tahun. Dia masih seorang petarung, tetapi perang yang akan datang melawan Khwarazm masih merupakan misteri.
“Kau benar. Aku sendiri tidak paham apa sebabnya aku tidak meneyadari ajalku sendiri. Aku sudah melupakan perkara tersebut sejauh ini.”
Genghis Khan terkekeh-kekeh nyaring sambil mengelus janggutnya.
ooOOoo
Beberapa hari kemudian, keempat putra Genghis Khan dipanggil untuk rapat. Semeua anggota keluarga kerajaan, semua jabatan senior, dan semua panglima berkumpul di satu tempat. Mreka menjadi saksi. Memilih penerus bukanlah pekerjaan gampang bagi Genghis Khan. Selama dia masih hidup, segalanya akan bai-baik saja. Siapa pun yang dia pilih sebagai penerus, segalanya akan baik-baik saja, sementara dia masih hidup. Walau begitu, masalah akibat keputusan yang salah akan muncul kelak, setelah dia meninggal. Penerusnya haruslah seorang yang dapat diterima oleh semua orang, sepenuh hai.
Adat istiadat asli Mongol menitahkan bahwa putra sulung mewarisi hak untuk melaksanakan upacara mengenang leluhur dan merupakan anak terakhir yang memperoleh harta benda. Namun, ketentuan itu berlaku bagi keluarga biasa, bukan keluarga kaisar. Mereka belum punya tradisi. Dahulu kala, pada masa bangsa Mongol primitif, khan dipilih oleh perwakilan suku-suku. Walau demikian, pada masa Genghis Khan, konsep dan sistem mereka telah berubah menjadi monarki absolut. Semua kekuasaan berasal dari satu lelaki saja dan semua tanah serta rakyat adalah milik satu orang sang ka-Khan. Bangsa Mongol menduung sistem monarki absolut setulus hati. Pada masa lalu, mereka terpecah-pecah menjadi ratusan suku dan berkelahi satu sama lain. Mreka mungkin memang menikmati kemerdekaan mereka masing-masing, tetpai mereka menyadari bahwa perpecahan semacam itu melemahkan kekuatan mereka secara negatiff dan menghasilkan kekacauan serta masyarakat yang terpuruk.
Juchi, sang putra sulung, telah berkali-kali menginjakkan kaki ke medan perang bersama ayahnya dan sangat membantu dalam pembangunan imperium. Genghis Khan menghargainya sebagai pemburu yang hebat” bermaknsa lebih dari sekedar pemburu. Namun, dia tidaklah ideal sebagai calon penerus karena sah tidaknya status keturunannya telah menjadi target perdebatan.
Putra kedua, Chagatai, memiliki kepribadian yang cerdas dan perasa, serta menerapkan aturan dan regulasi keras terhadap dirinya sendiri sekalipun. Dia dikenal sering memberikan hukuman berat bagi bawahan yang melanggar aturan. Dia dihargai Genghis Khan sebagai “Pelindung Yssa”. Namun, Genghis Khan merasa bahwa Chagatai berpikiran sempit.
Putra ketiga, Ogodei, luar biasa brilian. Dia memiliki kedermawanan dan karakter yang komplet, belum lagi penilaiannya yang bagus serta ketegasannya. Dia mendesain dan mengembangkan banyak senjata serta peralatan serang, speerti ketapel dan pengusung tangga. Dia menciptakan pelontar api, yang memungkinkan mereka melemparkan bola api raksasa, dari gumpalan katun yang direndam nafta. Di sisi lain, dia adalah pencari kesenangan dan peminum berat.
Putra keempat, Tolui, adalah kesatria paling tangguh di antara saudara-saudaranya. Dia adaah prajurit hebat dan ahli strategi brilian. Dia berani dan terampil menggunakan segala macam senjata. Namun, dia dianggap terlalu kejam dan brutal.
Siapa yang harus jadi ka-Khan selanjutnya? Genghis Khan berkata kepada Juchi sambil memandangnya. “Juchi, kau putra sulungku. Kau berhak bicara lebih duu. Beri tahu aku apa pendapatmu.”
Tampaknya Genghis Khan memang punya alasan bagus sehingga memilih Juchi sebagai pembicara pertama. Saat Juchi bangkit dari kursinya, semua mata anggota keluarga kerajaan, Noyan, dan pejabat senior serta panglima, jumlah totalnya kira-kira duaratus orang, tertuju padanya. Tept saat dia hendak membuka mulut dan mencoba mengatakan sesuatu, seseorang berteriak dari pojok :
“Dia diminta menjadi pembicara pertama. Apa arinya dia akan jadi penerus? Tidak! Tidak bisa! Jika dia menjadi khan, bagaimana bisa kita bersujud kepadanya dan mematuhi si anak haram Merkid!”
Sesudaha terucapnya pernyataan ini, keheningan pekat dan ketegangan mendadak memenuhi udara. Si pembicara adalah putra kedua Genghis Khan. Chagatai. Sejak masih kanak-kanak, mereka tidak pernah akur. Apa sebabnya? Barangkali karena perpaduan perasaan ingin melindungi diri sendiri dan kecemburuan. Ini sama seperti anak elang yang mendorong-dorong telur lain yang belum menetas sehingga jatuh dari sarang atau belalang sembah baru lahir yang saling makan supaya bisa tumbuh besar. Juchi telah menerima banyak pencapaian yang patut dipuji karena sudah mengikuti ayahnya sejauh ini, tetapi Chagati belum.
Saat mendengar komentar Chagatai, Borte, yang duduk di sebelah Genghis Khan, bangkit dan pergi, Dua pelayannya serta-merta mengikutinya. Aula rapat jadi gempar.
Juchi pelan-pelan berjalan menghampiri Chagatai dan berdiri di hadapannya. Selama sesaat, dia memelototi adiknya dan kemudian berkata kepadanya dengan nada marah, “Dasar cerucut! Bisa-bisanya kau mengatakan itu? Aku tidak pernah dibeda-bedakan, bahkan oleh ayahku! Apa yang bisa kau lakukan lebih baik dariapda aku? Apakah kau lebih jago memanah atau bergulat daripada aku? Kau bukan tandinganku!”
Keduanya mulai berkelahi dengan cara saling mencengkeram kerah baju. Selagi mereka sedang saling dorong dan tarik, Bogorchu dan Mukali, yang datang dari Cina dalam rangka kunjungan singkat untuk menghadiri pertemuan tersebut, berusaha menghentikan mereka. Bogorchu memegangi lengan Juchidan Mukali menarik lengan Chagatai, lalu memisahkan mereka. Genghis Khan menyaksikan ini tanpa berkata apa-apa. Mereka terus saling umpat, bahkan setelah mereka saling dipisahkan. Usia mereka sebaya. Pada saat itu, Juchi berusia tiga puluh tiga tahun, Chagatai tiga puluh satu. Ogodei tiga puluh, dan Tolui duapuluh enam.
Setelah saat-saat yang canggung, Koko Chos, di salah satu sudut, berdiri dari kursinya dan membuka mulut. Dia adalah guru pribadi Chagatai. Dulu, ketika Genghis Khan menugasinya sebagai guru pribadi Chagati, dismapaikannya ini kepaa Kokok Chos :
“Chagati adalah anak yang sangat rewel. Dia sangat perasa dan terelalu memperhatikan hal-hal kecil. Biasanya orang-orang semaam itu gagal melihat gambaran kehidupan secara menyeluruh. Orang perlu dua mata, satu untuk hal-hal kecil dan satunya lagi untuk hal-hal besar. Dampingi dia, siang malam, dan batu dia melihat hal-hal besar.” Jelas bahwa Genghis Khan mengkhawatirkan sifat Chagatai yang berpikiran sempit.
Koko Chos berkata sambil memandang Chagatai, “Chagatai, aku selalu mengatakan bahwa ayahnmu Khan ingin kau dapat melihat dunia yang lebih luas. Artinya, ayahmu punya pengharapan tinggi atas dirimu. Ini adalah acara, untuk menentukan pemimpin Imperium Mongol generasi berikutnya, bukan sekedar kepada satu keluarga. Itulah sebabnya, kami semua diundang. Ayahmu sudah menegaskan bahwa putra sulungnya pada saat dia lahir. Mengingat hal tersebut, kenapa kau masih juga membicarakan itu? Jika menurutmu kau adalah orang yang tepat untuk menjadi pemimpin generasi berikutnya dan semua orang di ruangan ini sepakat denganmu, kaulah yang akan jadi pemimpin.”
Setelah Koko Chos, Chagatai berdiri dan berujar, “Pertama-tama aku ingin minta maaf setulus hati kepaa ayahku Khan dan semua orang di ruangann ini. Beberapa saat lalu, Juchi mengatakan dia bisa mengalahkanku dalam segala bidang, tapi aku tidak terima. Dia dan aku tidak pernah berkompetisi semacam itu sebelumnya. Menurutku orang terbaik untuk dijadikan pemimpin berikutnya adalah Ogodei. Dia jujur, Jika dia menjadi khan di masa mendatang, aku janji aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendukungnya.”
Mendengar komentar Chagatai, Genghis Khan berkata kepada Juchi, “Juchi, bagaimana menurutmu? Bciaralah.”
Juchi bakgit dari kursinya dengan ekspresi suram dan berkata, “Aku tidak keberatan seandainya Ogodei menjadi penerus. Aku juga berjanji akan mendukungnya ketika dia menjadi khan.”
Setelah menguapkan komter singkat, dia langsung duduk kembali. Kali ini, Genghis Khanberkata kepaa Ogodei, yang telah direkomendasikan sebagai penerus oleh kedua kakak laki-lakinya, “Bagaimana menurutmu? Beri tahukan pendapatmu padaku.”
Ogodei ragu-ragu sesaat, tetapi kemudian berdiri dan berkata, “Jika ayahku Khan memintaku mengucapkan sesuatu, apalgai yang bisa kukatakan selain bahwa aku akan berusaha sebaik mungkin? Menurutku, siapa pun yang menjadi khan berikutnya harus mengorbankan diri demi bangsa ini, yang telah didirikan ayahku Khan, demi mewujudkan keabadian dan kejayaan bangsa Mongol!”
Genghis Khan puas dengan jawaban itu. Kali ini, Tolui diminta berbicara. Tolui menjawab, “Aku juga sepakat bahwa kakak laki-lakiku ketiga, Ogodei, haru menjadi penerus. Jiak dia menjadi Khan, aku kan berjalan jauh dan bertempur singkat. Pada saat bersamaan, aku berjanji akan mengawal keputusan ayahku dan janji kakak-kakakku dengan setia.”
Setelah Tolui berbicara, Genghis Khan memandangi seluruh yang hadir dari tempat duduknya dan berkata dengan nada khidmat, “Kalian harus menepati perkataan kalian. Di masa lalu, Altan dan Quchar membuat janji yang serupa. Namun, mereka tidak menepati janji, Ingat apa yang terjadi pada mereka? Ogodei benar, siapa pun yang menjadi khan harus mengorbankan diri demi keabadian dan kejayaan bangsa Mongol. Tanah ini luas dan sungai ada di mana-mana. Di masa depan, bansga Mongol mungkin tidak bisa diperintah oleh satu pemimpin saja. Kalian dan keturunan kalian akan memiliki tanah sendiri serta rakyat untuk diperintah. Ini adalah kehendak langit, begitu juga kehendakku. Jangan lupakan kisah anak panah dan fabel tentangular berkepala dua yang sudah kuceritakan berkali-kali kepada kalian.”
Genghis Khan memutuskan Ogodei akan jadi penerusnya. Dia teramat menghargai karakter Ogodei yang komplet. Menurut penilaian Genghis Khan, mungkin orang semacam itulah yang diperlukan generasi mendatang.
Chang-Chun adalah salah satu pria yang ingin ditemui , Genghis Khan. Genghis Khan mendengar tentang pria itu saat dia sedang dalam perjalanan untuk menaklukkan Cina Utara. Chang-Chun disebt-sebut sebagai orang bijak pada amasa itu di Cina. Suatu kali, bahkan Yelu Churze menyebut-nyebutnya, dan dokter Cina Khan, Liu Wen, amat merekomendasikan agar dia bertemu pria itu.
Yelu Chutze menyampaikan ini kepada Genghis Khan, “Dia adalah orang nomor satu dalam Taoisme. Taoisme adalah ilmu yang mempelajari asal-usul alam semesta dengan hubungan antara alam dan manusia. Orang sudah lama mengkaji soal itu, jadi mungkin memang bermanfaat.”
Sebagaimana namanya Chang Chun yang menandakan hari panjang di musim semi, pria tersebut dikenal sebagai seorang yang telah menemukan kunci untuk membuka misteri alam semesta dan rahasia kesehatan serta umur panjang. Genghis Khan bukanlah tipe orang yang amu mendengar gosip, tetapi dia memutuskan untuk menemui Chang Chun, sebab menurutnya penguasa hebat membutuhkan bantuan dari filsuf hebat. Genghis Khan memberikan udnangan, alihalih mengeluarkan perintah kerajaan, kepada Chang Chun. Pria itu menghuni biara di akawasan Shantung di Cina, dan tugas untuk mengatur keberangkatannya diserahkan kepada Chingai, darughachi Cina utara, dan Liu Wen, dokter Cina khan. Karena Genghis Khan pergi berperang dengan khwarazm tepat sesudah mengirimkan undangan kepada pria tersebut, Chang Chun harus berkelana sejauh 7.200 kilometer selama dua tahun, dan akhirnya menemui sang khan di kamp perang di Hindu Kush.
37. MARS MELAWAN KHWARAZM
Pada musim panas 1219, sejumlah besar serdadu Mongol mulai berkumpul di tepi Sungai Irtish, di sebelah timur danau Balkhas. Pada area lua sdi tepi sungai, dibangunlah tenda militer yang junlahnya tak terhitung dan di padang, tersebarlah 200.000 ekor kuda. Pada bulan Juli 15.000 prajurit telah berkumpul, termasuk 30.000 prajurit tambahan dari Kerajaan Uighur dan Kara Khitai. Itu adalah jumlah maksimum prajurit yang bisa dikumpulkan Genghis Khan, tapi totalnya bahkan tidak sampai setengah dari pasukan musuh yang berkekuatan 400.000 orang. Genghis Khan mengutus kurr kilat ke bangsa bawahan Kerajaan Shisha, untuk menutup  kekurangan, akan tetapi kerajaan Shisha amenolak permintaannya, melanggar syarat nomor satu perjanjian damai, bahwa mereka akan menjadi tangan kanan Genghis Khan bilamana terjadi perang. Surat balasan, yang tiba lima hari kemudian, berbunyi sebagai berikut, “Bagaimana mungkin pria yagn tidak memiliki prajurit berjumlah memadai untuk menghukum musuhnya sendiri menyebut dirinya ka-Khan?”
Ketika Genghis Khan mendengar ini lewat penerjemah, dia murka. Ini adalah penghinaan besar bagi Genghis Khan. Namun musuh saat ini adalah Khwarazm. Genghis Khan tiak punya pilihan selain menunda hukuman terhadap Shisha sampa perang dengan kharazm usai.
Genghis Khan membagi pasukannya menjadi empat kelompok, kelompok pertama beranggotakan 50.000 orang adalah untuknya, sedangkan kelompok kedua beranggotakan 50.000 orang untuk Chagatai dan Ogodei. Komadan pasukan keetiga yang beranggotakan 30.000 orang adalah Juchi, sedangkan komandan pasukan keempat yang beranggotakan 20.000 orang adalah Jebe. Genghis Khan menyerahkan tugas menjaga Dataran Tinggi Mongol elama dia pergi kepada adiknya. Temuge, sang Ochigin Noyan.
Pada bulan Juli 1219, pasukan Mongol memulai mars mereka. Pasukan keempat pimpinan Jebe menjadi yang pertama maju. Pasukan keempat pimpinan Jebe memulai mars mereka bukan dari markas besar Mongol di tepi Sungai Irtish, melainkan dari wilayah Kashgar, yang lebih jauh ke selatan. Sebenarnya, kelompok pimpinan Jebe adalah pasukan tersendiri yang terpisah. Ini adalah bagian pertama dari strategi Genghis Khan untuk membingungkan musuh.
Ada sebuah laut kecil, bernama Aral, di antara Danau, Balkhash dan Laut Kaspia. Dua sungai mengalir ke utara menuju Laut Aral, satu dari arah tenggara, bersumber di dekat Dataran Tinggi Pamir, yang bernama Sungai Syr, sedangkan satunya lagi dari arah barat daya, bernama Sungai Amu. Wilayah di antara kedua sungai ini disebut Transoxania dan wilayah di sbeelah barat Sungai Amu disebut Khurasan.
Di bagian paling utara Transoxania, atau pada are tepat di selatan Laut Aral, terdapat gurun Kuzil Kum, yang ganas dan tidak dapat dihuni. Namun,, area luas di selatan gurun itu dan di antara kedua dataran tinggi. Dataran Tinggi Pamir dan Pegunungan Hindu Kush, merupakan lahan bertanah subur gembur dan beriklim sedang. Sempurna untuk dihuni manusia. Di area luas ini, tersebarlah sejumlah ebsar kota kecil mau pun besar, termasuk Samarqand, Ibu Kota Khwarazm, Bukhara, dan Urgenchi. Di sepanjang sungai Syr terdapat kota-kota penting seperti Otral, kota paling utara, enaket, Jand dan Khojent.
Pasukan keempat  pimpinan Jebe menyeberangi Pegunungan Tien Shan. Pegunungan Tien Shan yang terja dipenuhi pohon raksasa yagn tumbuh rapat, jadi para prajurit Mongol harus membukan jalan dengan cara menebangi pohon-pohon. Selagi mereka melintasi pegunungan tersebut, cekungan besar Fergana muncul di hadapan mereka. Ini adalah area berpadang luas dan berbukit rendah, yang ditutupi ilalang setinggi lutut atau pinggang manusia, Dari sana, bermulalah wilayah Khwarazm. Sungai Syr dan Kota Khjent, yag merupakan titik komersial dan strategi tidak jauh dari sana. Kota Khojent bisa dibilang adalah gerbang timur Samarqand, karena lokasi dan kedekatannya dengan Ibu Kota Khwarazm tersebut. Pasukan keempat pimpinan Jebe hendak menyerang kota ini.
Apakah strategi pertahanan sang Sultan Muhammad untuk menghadang para penyerang Mongol? Pertama-tama, dia memilih sungai Syr sebagai garis spertahanan pertama. Ditingkatkannya kekuatan pertahanan kota-kota sepanjang sungai dengan cara menambah jumlah prajurit. Pada saat bersamaan, dia menempatkan pasukannya yang terkuat di kota-kota besar seperti Samarqand dan Bukhara. Strategi Sultan Muhammad terutama ditujukan untuk pertahanan dan tentaranya dibagi-bagi serta ditempatkan di banyak area yang berlainan. Orang-orang Persia menyebutnya Wali Allah dan Lexander II. Akankah dia memenangi perang dengan Genghis Khan? Tiada yang tahu.
Pada saat pasukan keempat pimpinan Jebe tengah maju ke Kota Khojent, pasukan utama Genghis Khan tengah menyeberangi sungai Chu dan sedang mengitari perbatasan selatan Gurun aku Kum. Di ujung gurun, regu pertama, kedua, dan ketiga Mongol mulai menyebar. Regu kedua, dipimpin oleh Chagatai dan Ogodai, menuju ke Otral, sedang pasukan ketiga pimpinan Juchi berbelok ke selatan dan menuju kota Jand. Di manakah pasukan pertama pimpinan Genghis Khan? Mereka bergerak ke utara, kemudian tiba-tiba lenyap. Mereka adalah pasukan bayangan. Meereka bergerak ditengah-tengah kegelapan total dan dengan kecepatan tak terbayangkan.
Kota Otral dijaga oleh Inalchuq, yang juga dikenal sebagai Ghayir Khan, dan ke 50.000 serdadunya. Sebelum pasukan Mongol tiba, Sultan Muhammad mengirim salah satu panglimanya, Qaracha, beserta 10.000 serdadu tambahan untuk memperkuat pertahanan. Oleh sebab itu, jumlah total prajurit garnisun di kota itu menajdi 60.000. Ke 50.000 prajurit pasukan kedua yang dipimpin Chagatai dan Ogodei mengepung kota tersebut. Inalchuq sudah memutuskan untukn bertempur hingga titik darah penghabisan, sebab dialah yang menyebabkan masalah tersebut. Kalau-kalau mereka kalah, orang-orang Mongol tak akan membiarkan hidup-hidup. Dia telah memperbaiki dan memperkuat tembok pertahanan serta barak perlindungan di dalam kota. Dia sudah menyimpan persediaan makanan yang mencukupi kebutuhan 60.000 serdadunya selama paling tidak setahun dan juga segala macam senjata. Dia memenggal sekitar tiga puluh warga yang berusaha kabur karena takut pada pasukan Mongol yang mendekat, dan menggantung mereka di tembok pertahanan sebagai peringatan.
Begitu tiba, Chagatai dan Ogodei bersiap menyerang, setelah mengamati bagian luar kota. Ortal dilindungi tembok pertahanan dari bata kuat hasil campuran lupur serta buluh ilalang, dan di sekeliling tembok tersebtterdapat parit. Prajurit Mongol mulai melemparkan batu ke tembok pertahanan menggunakan ketepel dan bola-bola api pun beterbangan ke dalam kota. Prajurit garnisun Khwarazm balas menyerang dengan panah berjangkauan jauh serta menghujani pra prajurit Mongol yang mendekat dengan panah. Mereka juga diperlengkapi peralatan dan senjata seperti batu dan minya mendidih, kalau-kalau prajurit Mongol memanjat dinding menggunakan pengusung tangga. Tembok pertahanan begitu kuat sehingga prajurit Mongol tidak bisa membobolnya dengan mudah. Pertempuran ini bisa menjadi perang yangg panjang.
Seentara itu Juchi, yang telah ebderap ke selatan di sepanjang sungai Syr, menyerahkan 5.000 serdadu kepada Alqai, Soygetu, dan Taqai untuk maju ke fenaker sebagai pasukan baris depan. Panglima pertahanan dari pihak Khwarazm, Iletqu Malik, melawan orang-orang Mongol dengan 10.000 serdadunya yang terdiri dari orang-orang Turki serta Tajik. Setelah pertempuran sengit selama empat hari, psukan pertahanan Iletqu hancur binasa. Di antara 30.000 penduduk Fenaker, hanya 150 insinyur indutri, teknisi, seniman, dan 800 kuli pilihan yang disesalamatkan. Semua warga laki-laki lainnya dibantai. Kuli yang dimaksud di sini adalah warga negara musuh yang tidak membangkang dan bersikap sangat kooperatif, yang dipekerjakan sebagai buruh aksar oleh tentara penakluk.
Juchi terus maju, tiba di Kota Suqunaq yang terletak di tepi sungai. Kota tersebut memiliki populasi berjmlah 40.000 orang. Di kamp perang Juchi, ada seorang pria Persia bernama Hassan Hajji. Dia adalah kawan Jafar dan pernah menyumbangkan seribu domba kepada Genghis Khan ketika masih berada di Danau Baljuna untuk bersembunyi dari serangan Wang-Khan. Pria ini juga bergabung dengan Genghis Khan di danau Baljuna, menjadi salah satu orang Baljuntu. Suqunaq adalah kota asalnya.
Hasan berkata kepada Juchi, “Ini kota asalku. Kerabat dan keluargaku masih tinggal di sini. Aku akan berusaha membujuk mereka agar menyerah.”
Juchi mengirimnya ke kota sebagai utusan. Setelah memasuki kota. Hassan mulai membujuk mereka di depan khalayk. Namun, di antara khlayak terdapat pengacau juga. Sedari awal, mereka tidak mau mendengarkkannya. Mereka justri meprovokasi khalayak.
“Bunuh si penghianat Allah!”
Khalayak menganggap sebagai penghianat, mereka menariknya turun dari podium dan merajamnya tanpa ampun. Hassan pun meninggal di tempat. Gerombolan orang mengitari pasar sambil menyeret mayat Hassan.
Mereka terus menerus berteriak, “Perang Syahid!”
Saat mendengar tewasnya Hassan. Juchi serta merta meluncurkan serangan. Pasukan pertahanan mereka runtuh seketika. Juchi mengeluarkan perintah untuk menghabisi seluruh penduduk.
Sebeum berangkat, Genghis Khan memberikan sejumlah panduan dan instruksi tentang perang dengan Khwarazm kepada para panglima dan komandannya :
·           Warga negara musuh yang membangkang dan tidak patuh harus dihabisi. Di sisi lain, merekka yang menyerah harus diselamatkan.
·           Kota yang melawan serta tembok kota mereka harus dihancurkan sepenuhnya dan diratakan dengan tanah, supaya tidak dapat dipergunakan   lagi oleh musuh di masa depan.
·           Jangan sisakan cikal bakal pemberonta ketika kalian maju.
·           Berusahalah agar tidak menyentuh rumah ibadah, kecuali rumah ibadah tersebut dijadikan markas musuh.
·           Tinggalkan Shahna, atau pengawas, di ktoa yang menyerah.
·           Selamatkan teknisi industri, isninyur, serta seniman ahli dan kirim mereka ke Dataran ongolia.
·           Jika mungkin, selamatkan wanita dan anak-anak.
Para panglima yang tidak langsung berada di bawah komando Genghis Khan diberi keemerdekaan untuk membuat keputusan dan melakasanakan operasi militer, asalkan tidak menyimpang dari garis besar rencana sang khan. Kebebasan ini diberikan karena Genghis Khan harus encakup area yang luas dengan jumlah prajurit yang relatif sedikit. Mreka tidak perlu melapor dan minta izin kepada Genghis Khan pada setiap kesempatan.
Semua orang diSuqunaq dibantai. Tidak ada stu orang pun yang selamat, dan kota tersebut hancur lebur serta rata dengan tanah. Selama bertahun-tahun, kota itu akan tetap menjadi reruntuhan. Kelak, ketika kota tersebut dibangun menjadi reruntuhan. Kelak, ketika kota tersebut dibangun kembali, putra hassan akan ditempatkan sebagai gubernur.
Juchi maju semain jauh ke selatan. Ketika mereka tiba di kota-kota lain, seperti Oskend dan Barjigh Kant, garnisun dan penduduk tidak melawan, justru keluar untuk menemui mereka sambil membawa roti dan garam, simbol selamat datang. Kedua kota ini selamat tanpa ada pembantaian. Untuk kedua kota ini, ditempatkanlah shahna yang dipilih dari para warga, dan kuli dipilih dari antara warga yang masih muda. Begitu mereka menyerah mereka harus bekerja untuk apsukan Mongol, menyumbang tenaga dan terkadang berderap di depan mereka. Itulah makna penyerahan diri berdasarkan interpretasi orang-orang Mongol. Menyerah bkn semata-mata tidak melawan, melainkan juga kooperatif positif serta aktif.
Ketika pasukan ketiga pimpinan Juchi tiba di kota Ashnas, mereka harus smenghadapi perlawanan sengit, Semua penduduk kota di bantai dan seluruh bangunana, rumah, serta tembok diratakan dengan tanah. Kabar ini sampai ke Kota Jand, yang populasinya 50.000 orang. Qurlugh Khan, kepala garnisun kota ini, melarikan diri bersama pengikut dekatnya saat pasukan Mongol mendekat. Juchi mengirim Chin Temur, orang Kara Khitai, ke dalam kota sebagai utusan untuk membujuk mereka agar menyerah. Chin Temur mencoba, di hadapan tokoh terkemuka kota tersebut, teteapi sebagian dari mereka berubah menjadi gerombolan liar. Chin temur harus membuat kesepakatan palsu dengan mereka demi menyelamatkan nyawanya.
Setelah menerima laporan dari Chin Temur, Juchi mengutus pasukannya ke dalam kota. Kota Jand pun jatuh tanpa pertumpahan darah. Sekitar dua ratus perusuh dan warga yang tidak kooperetif ditahan dan dibantai, tetapi sebagian besr sisanya diselamatkan. Ali Khoja diutnjuk oleh Juchi sebagai Shahna di kota ini dan dipilihlah sekitar 10.000 kuli.
Bagaimana dengan pasukan keempat pimpinan Jebe, yang menuju ke kota Khojent, sebuah titik militer strategis?
Temur Malik, kepala garnisun khojent, adalah seorang panglima Khwarazm terkemuka, Dia menempatkan semua warga ke dalam barak perlindungan demi keselamtan mereka dan membangun baris pertahanan di titik percabangan Sungai Syr, yang tidak bisa dicapai panah dari tepi sungai. Lalu, dia membangun duabelas tongkang besar. Tongkang ini berupa perahu besar berdasar rata dan perbagar pelindung dengan kapasitas maksimum duaratus prajurit. Pagar ditutupi kain felt berlapis lumpur, melindunginya dari panah api, Di tongkang tersebut ada banyak celah, yang bisa digunakan para prajurit untuk mengintai dan menembakkan panah. Tongkang-tongkang ini sangat efisien sehingga mengesalkan para prajurit Mongol yagn datang dan pergi dari hilir serta hulu sungai. Pertempuran pun terhenti.
Jebe menghubungi Juchi,  yang menduduki kawasan hilir sungai. Juchi seketika mengirim 50.000 kuli untuk jebe. Jemeb mulai membuat pematang di sungai dengan batu-batu dari dekat sana, menggunakan ke 50.000 kuli. Ketika pematang sudah dekat dengan markas Khwarazm. Temur Malik mulai kabur menghilir sungai menggunakan tujuh puluh perahu. Jebe serta merta mengontak Juchi, Juchi mulai membangun blokade dari rantai besi dan membariskan perahu melintang  sungai untuk mencegah perahu Malik melintas. Karena perahu mereka terjebak blokade tersebut, Temur Malik dan prajuritnya idak punya pilihan selain turun ke darat. Mereka dibantai oleh para prajurit Mongol, yagn sudah menunggu di kedua tepi sungai.
Temur Malik mendarat di sebelah barat sungai dan mulai kabur ke barat setelah menunggangi kudanya, yang dia bawa serta di perahu. Tiga prajurit Mongol mengejarnya. Kuda Temur Malik kemudian menapak masuk ke area gurun. Kuda Temur Malik adalah kuda arab, yang berkaki panjang serta lebih cepat pada jarak pendek. Namun, kuda arab lebih lemah pada jarak jauh daripada kuda Mongol. Ketiga prajurit Mongol terus mengejarnya. Jarak antara mereka menjadi kian sempit dan kian sempit. Temur Malik mengambil satu dari tiga anak panah di wadah panahnya dan menembak merka, mengenai salah seorang yang kemudian jatuh dari kudanya. Dua prajurit Mongol yang tersisa tidak menyerah. Temur Malik menembakkan panah kedua dan terjatuhlah satu lagi prajurit Mongol. Prajurit Mongol terakhir terus menegejar. Temur Malik mengambil ank panah terakhir, akan tetapi, panah itu bukan untuk membunuh atau melukai, melainkan untuk memberi sinyal, maka ujungnya tumpul. Panah terakhirnya mengenai mata si prajurit Mongol yang tengah mengejar. Namun, sang prajurit tidak mati, hanya luka di salah satu mata. Namun, dia tidak dapat meneruskan pengejaran.
Inilah kisah Temur Malik, dua puluh tahun kemudian. Sesudah dia melarikan diri, selama beberapa waktu, dia terus berjuang untuk Khwaraz dan kemudian kabur ke Suriah. Dia menetap di sana selama kira-kira duapuluh tahun. Ketika keadaan sudah tenang, dia pun kembali ke kota asalnya. Khojent. Dia eramat merindukan kampung halamannya dan terutama, dia ingin bertemu putranya. Putranya telah menjadi gubernur Khojent pada saat itu, ditunjuk oleh Ogodei Khan. Sang Putra besedia menerima bertamu dari Suriah, yagn kini adalah seorang pria tua. Setelah did antar ke hadapan putranya. Temur Malik menanyainya, “Jika kau bertemu ayahmu, apakah menurutmu kau bisa mengenalinya?”
Sang Gubernur menjawab sambil menggelengkan kepala, “Aku berpisah dengan ayahku saat aku balita. Aku bahkan tidak tahu apakah beliau masih hidup atau tidak.”
Temur Malik memberi tahu putranya, “Aku ayahmu.”
Terkejut, sang gubernur memanggil pelayan lama ayahnya untuk memastikan. Sang pelayan tua menemukan wajah majikannya di tengah-tengah janggut dan kumis tebal beruban. Sang pelayan tua memberi tahu gubernur, “Menurut saya beliau ayah Anda. Akan tetapi untuk memastikannya saya harus melihat bahu kanannya. Ayah Anda memiliki bekas luka di bahu kanan beliau.”
Temur Malik melepas baju atasnya dan menunjukkan bekas lukanya. Ayah dan anak pun berpelukan.
Beberapa sat kemudian, sang anak mengangkat kepala, dengan air mata di amtanya dan berkata, ‘”Ayah, aku ini Abdi Imperium Mongol. Aku sudah lama bersumpah setia. Hanya ada satu jalan yang tersisa. Ayah harus pergi menemui Ogodei Khan untuk minta maaf secara khusus. Kaum Mongol tidak pernah melupakan musuh mereka, bahkan setelah jangka waktu yang lama.”
Temur Malik menginap bersama putranya beberapa hari, kemudian pergi ke dataran Mongolia untuk menemui Ogodei Khan. Namun, dia tidak beruntung. Dalam perjalanan, dia ditangkap oleh para prajurit Qadaqan, putra keenam Ogodei Khan. Dia pun dibawa menemui Qadaqa Khan. Qadaqa Khan, menetapnyabeeberapa lama, lalu memberikan perintah kepada anak buahnya agar membawakan buku catatan tentang pria tersebut. Di dalamnya, masa lalu dan aktivitas terdahulu Temur Malik dicatata secara terperinci.
Temur Malik, kepala garnisun Khojent pada permulaan perang. Salah satu tokoh terkemuka dalam pasukan lawan. Setelah melarikan diri dari Khojent, dia bergabung kembali dengan pihak musuh. Menyerang wilayah Kent, membunuh shahna di sana. Aktivitasnya setelah itu tidak diketahui. Sejumlah orang bersaksi bahwa dia kebur ke Suriah.
Begitulah poin-poin kuncinya. Sesudah mengonfirmasi catatan tersebut, Qadaqan menaap Temur Malik sekali lagi dan berkata, “Putramu telah berjasa besar bagi Imperium Mongol. Aktivitasmu di masa lalu sebagai musuh Imperium Mongol bisa dihapuskan berkat jasa putramu. Akan tetapi, aktivitas kriminalmu membunuh shahma, yang mewakili Khan Mongol di area itu, tidak bisa dimaafkan. Aku akan mengonfirmsi satu kali lagi. Apakah kau benar-benar Temur Malik.”
Qadaqan memerintahkan agar si prajurit Mongol, yang mengejar Temur Malik sampai saat terakhir, dipanggil. Tentu saja, prajurit itu masih hidup dan pada saat itu, dia sudah menjadi komandan dari seribu anak buah. Sang komandan, yang kini mengenakan penutup mata, setelah menginterogasi si pria asing empat mata, mengonfirmasi dan besaksi bahwa dia adalah Temur Malik. Temur Malik dieksekusi dengan cara ditembak panah. Tak seorang pun bisa meloloskan diri dari hukuman kaum Mongol, tak peduli waktu atau tempatnya.
38. JATUHNYA BUKHARA DAN OTRAL
Pasukan pertama Mongol pimpinan Genghis Khan menuju ke utara, melewati kota Otral dan kemudian secara mendadak berbelok ke barat daya. Saat pasukan menyeberangi Sungai Syr, luasnya Gurung Kyzil Kum terlihat dalam pandangan. Jarak dari ujung utara ke ujung selatan gurun ini sekitar 640 kilometer dan gurun tersebut dipenuhi ular serta kalajengking. Tentu saja tidak ada air di area ini dan suhunya berbeda jauh antara siang dan malam. Gurun tersebut seperti neraka. Sultan Muhammad menganggap gurun tersebut sebagai benteng pertahanan alamiah yang tak akan pernah sanggup diseberangi orang-orang Mongol. Dia menyusun strategi pertahanannya berdasarkan asumsi ini. Walau demikian pasukan Genghis Khan sudah menyiapkan banyak air dan mereka pun menapak masuk ke gurun. Air tidak hanya diperlukan untuk minum, tetapi juga untuk meminimalkang angguan dari kalajengking. Sebelum mendirikan tenda setiap malam. Orang-orang di area ini menuangkan air mendidih ke lubang-lubang kecil di sekeliling tenda, sehingga membunuh kalajengking di dalamnya. Bisa hewan ini mematikan. Begitu seseorang tersengat, dia akan menderita demam tinggi dan mengalami bengkak parah, lalu meninggal dalam waktu duapuluh empat jam.
Pasukan Mongol terutama tidur saat siang dan berjalan di malam hari. Penyebabnya adalah kalajengking aktif saat malam hari. Para prajurit diperintahkan tidur sambil mengenakan sepatu bot, sebab bagian dalam sepatu bot merupakan tempat persembunyian favorit kalajengking.
Pasukan pertama Mongol sukses menyeberangi gurun. Mereka akhirnya menapaki tanah subur Transoxania. Mereka pun terus berderap ke selatan. Taget pertama Genghis Khan adalah Bukhara.
Bukhara adalah kota terpencil, berjarak sekitar 240 kilometer di sebelah barat Samarqand, Ibu Kota Khwarazm. Bukhara merupakan kota yang penting di antara samarqand dan wilayah barat Khwarazm. Genghis Khan berencana menegepung Samarqand dengan cara merebut Bukhara.
Untuk sampai ke Bukhara, Genghis Khan harus melintasi beberapa kota antara berukuran kecil. Salah satunya adalah Jarnuq. Setelah mengepung kota tersebut, Genghis Khan mengirim utusan ke Kota. Para warga terguncang saat melihat munculnya pasukan Mongol yang tak ddiduga-duga, dan rasa takut pun menjerumuskan seisi kota ke dalam kericuhan serta kekacauan.
Utusan Genghis Khan, Danishmand, berteriak di depan khalayak, “Namaku Danishmand. Aku seorang Muslim  dan ayah serta semua keluargaku orang  Muslim. Aku berada di sini untuk menyelamatkan kalian dari pembantaian da pusaran penghancuran, sebagai utusan Khan. Perang akhirnya tiba. Jika kalian melawan, kota ini akan diratakan denegan tanah dalam waktu setengah hari dan akan terjadi banjir darah. Jika kalian mendengarkan saranku dengan akal sehat dan kebijaksaan, kalian akan menyerah dan berjanji untuk memathui beliau. Jika demikian, paling tidak beliau akan menyelamatkan nyawa kalian.”
Para aristokrat dan tokoh terkemuka di Kota Jarnuq berkumpul dan berdiskusi. Mereka semua sepakat untuk menyerah. Mreka membuka gerbang dan muncul berduyun-duyun di hadapan pasukan Mongol, sambil menghaturkan roti dan garam, simbol penyerahan diri dan ucapan selamat datang. Sebagaimana yang dijanjikan, Genghis Khan tidak menyentuh rakyat, tetapi melucuti prajurit garnisun dan merobohkan barak perlindungan serta tembok kota. Ini adalah tindakan pencegahan supaya kota tersebut tak dapat dipergunakan lagi oleh musuh di masa mendatang. Kemudian, dipilihlah sekitar lima ribu kuli dari kota ini.
Pasukan Mongol pun meneruskan mars. Genghis Khan mengirim tayir Bagatur sebagai komandan baris depan untuk kota berikutnya, Nur. Genghis Khan berusaha menyembunyikan pergerakannya sampai dia tiba di tujuan tahap pertama. Bukhara. Genghis Khan menyarankan kepada Tayir Bagatur agar melakukan serangan dadakan di malam hari, untuk mengambil kendali garnisun mereka. Tayir memerintahkan prajuritnya agar menutupi tubuh mereka dengan ranting berdaun, satu di masing-asing tangan. Mereka tidak menggunakan kuda dan berjalan dengan laju sangat lambat.
Di Kota Nur, ada seorang perempuan aneh. Orang-orang menyebutnya Zarqa Yamama, yang berati “Perempuan bermata biru”, Dia didperlakukan sebagai orang gila atau perempuan yang kerasukan. Perempuan Persia ini acap kali berjalan keliling kota sambil menggumamkan hal-hal yang tidak dapat dipahaami siap pun. Dia acap kali berteriak di pasar sambil menatap kosong dan tidak fokus.
“Pada hari ketika hutan bergerak, petaka besar akan menimpa negeri ini! Bergunung-gunung kepala manusia dan banjir darah manusia akan ada di mana-mana. Waspadalah pada hari ketika hutan bergerak!”
Orang-orang menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar teriakan konyolnya. Mereka mendecakkan lidah karena simpati dan berpaling dari perempuan tidak waras ini.
“Bagaimana bisa hutan bergerak?”
Namun, kata-katanya ternyata benar. Malam itu, para penyerang dadakan pimpinan Tayir mendekati kota laksana hutan bergerak. Malam itu gelap, tanpa satu pun berkas sinar bulan. Saat tiba tepat di bawah tembok tersebut menggunakan tangga dan tapi. Setelah melintasi tembok, mereka pun mengambil kendali atas garnisun. Keesokan harinya, warga Nur menyerah kepada Subedei, yang tiba pagi-pagi sekali dengan pasukannya yang berjumlah besar.
Karena mereka menyerah, Genghis Khan mengampuni nyawa mereka dan memperkenankan mereka menyimpan ternak mereka. Walau begitu, barak perlindungan dan tembok kota diratakan dengan tanah dan orang-orang dievakuasi. Selain itu para pemimpin kota ini harus berkontribusi sebesar 1.500 dinar. Belakangan, Genghis Khan menunjuk II Khoja,  putra mantan Gubernur, sebagai penguasa kota ini. Genghis Khan berderap menuju Bukhara. Bukhara adalah kota besar di tepi sungai Oxus, atau sungai Amu, berpopulasi 40.000 orang. Bukhara berarti “Pusat Pengajaran” dan sebagaimana yang disiratkan nama tersebut, terdapat banyak sekolah, pepustakaan, dan tempat ibadah Islam. Bukhara juga merupakan pusat industri dan perdagangan, Industri tekstil wol, menggunakan wol dari domba dan unta, serta industri kulit, yang memproduksi busana, sabuk, dan sepatu bot kulit, amatlah maju. Permadani Persia buatan mereka adalah yang terbaik di dunia pada masa itu. Kota itu selalu disesaki karavan dari Mediterania, Persia, India dan Cina.
Saat Kota Bukhara semakin dekat, sosok indah masjid berbentuk bawang dan menara observatirum yang dilingkupi dinding bata merah terlihat dalam pandangan Genghis Khan. Genghis Khan berhenti di sana dan mengutus pengintai untuk mengawasi pinggiran kota. Komandan garnisun Bukhara, Kok Khan, ditempatkan di tepi sungaAmu bersama 30.000 prajuritnya. Dia memiliki panglima-panglima Turki dan Persia yang andal, seperti Khamid Bur, Sevich Khan, dan  Keshli Khan. Ironisnya, Kok Khan adalah orang Mongolia. Setelah menjadi yatim pitatu saat kanak-kanak, dia mengikuti karavan ke area ini. Dia diakui sebagai kesatria hebat saat tumbuh dewasa, dan akhirnya menjadi panglima tinggi dalam ketentaraan Khwarazm. Kok Khan, yang diduga adalah keturunan kaum Taichut, dan 30.000 serdadunya, bentrok dengan pasukan ekspedisi Mongol di tepi Sungai Amu. Nasib mereka tragis, dihabisi hanya dalam waktu setengah hari. Ke 30.000 prajurit garnisun dibunuh semuanya, begitu juga Kok Khan, yang ditembak kira-kria sepuluh panah.
Darah mereka menodai sungai dan mayat merema tak ada habis-habisnya menutupi bantaran sungai.
ooOOoo
Kabar bahwa prajurit garnisun telah dihabisi membuat kota tersebut panik. Sebagian warga bersembunyi di barak perlindungan dan yang lain hanya duduk saja, serta menunggu nasib. Untu meminimkan jumah korban, mereka membuka gerbang kota lebar-lebar dan menyambut pasukan Mongol. Genghis Khan memasuki kota berdampingan dengan putranya Tolui. Jalan di dalam kota lebar serta bersih, dan bangunan besar bagaikan istana berjajar di kiri-kanan jalan. Bangunan-bangunan tersebut dilapisi ubin mengkilap seputih salju, yang memantulkan sinar matahari  siang, menciptakan pelangi menyilaukan.
Sebagian warga bersembunyi di bangunan dan sebagian lainnya keluar ke jalanan serta menonton prajurit berkuda Mongol berderap masuk. Sebagian serdadu Mongol masuk ke kota, sedangkan sebagian lainnya ditempatkan di luar kota dan meminta mereka membawakan daftar orang kaya di kota. Mereka membahas ini bersama-sama dan membawakan daftar yant erdiri dari 280 orang gkaya. Di antara mereka sekitar 180 orang adalah penduduk asli dan sekitar 90 berasal dari luar, termasuk India. Genghis Khan memerintahkan mereka membayar 200.000 dinar untuk uang kompensasi perang. Mereka membawakan koin emas serta perhiasan sejumlah itu. Genghis Khan megumpulkan semua warga di lapangan tersebut di tengah-tengah kota. Dia melangkah naik ke podium tinggi yang terbuat dari anak tangga pualam dan berteriak kepada mereka. Di sebelahnya ada dua penerjemah yang mengulangi bahasa Mongolia dalam bahasa Turki dan bahasa Persia.
“Aku adalah hukuman dari Tuhan! Aku tidak berada di sini semata-mata untuk menginvasi negeri lain dan menjarah. Pemimpin kalian telah melakukan kejahatan serius. Tuhan pun murka. Karena pemimpin kalian, kalian juga harus membayar hukumannya. Mulai saat ini, kalian akan memiliki tatanan baru, dunia baru, dan era baru. Bergabunglah dengan kami dan bekerja samalah dengan kami! Hanya dengan cara itulah, kalian dapat menyelamatkan diri dan hidup sejahtera. Jika tidak, kalianakan musnah dari bumi ini! Itulah kehendak Tuhan dan kehendakku. Di sini, kunyatakan dengan sangat gamblang kepada kalian bahwa kalian bebas beragama. Aku berjanji.”
Berikutnya, Genghis Khan menghadiri pesta selamat datang yagn diselenggarakan oleh warga. Sebagian warga membawakannya arak madu Persia, tetapi Genghis Khan menolaknya dan meminum kummis yang dibawakan prajuritnya. Para Musisi memainkan alat musik mereka dan beberapa penyanyi perempuan keluar serta menyanyikan lagu mereka. Beberapa waktu kemudian, para prajurit Mongol, yang duduk berkeliling di lapangan terbuka sambil saling rangkul menyanyikan lagu militer sekeras-kerasnya, sambil mengayunkan tubuh bagian atas.
Genghis Khan tidak tinggal di sana terlalu lama. Sebelum pergi, dia memberikan Instruksi kepada Tolui.
“Jangan biarkan kota ini jadi basis pemberontakan di masa depan. Colabalah selamatkan wanita dan anak-anak.”
Genghis Khan kembali ke map-nya di luar kota. Keesokan paginya, Tolui menyerang barak perlindungan di pinggiran kota bersama pasukannya. Ke 50.000 pemberontak di dalam neolak menyerah. Pasukan Mongol mulai menembakkan batu dan bola api, menggunakan ketepel nya serta pelonta api. Mreka juga menggunakan penggedor untuk mendobrak gerbang barak perlindungan. Setelah bertempur selama beberapa hari, barak perlindungan pun direbut dan semua pria dewasa serta anak laki-laki dibantai, sedangkan wanita dan balita diampuni. Mayat bertumpuk-tumpuk bagaikan gunung, dan banjir darah menganak sungai. Wanita dan balita kemudian dikirim ke Dataran Mongolia sebagai budak.
Berikutnya, Tolui memilih 50.000 kuli dari antara warga. Dia memerintahkan agar seluruh populasi kota itu dievakuasi. Mereka harus pindah ke luar kota. Setelah membuka gudang makanan dan mengeluarkan semuanya dari sana. Tolui menitahkan perintah untuk membakar kota. Karena sebaian besar terbuat dari kayu, kota itu dengan cepat dilalap api. Kota Bukhara terbakar selama beberapa hari. Langit di atas kota bernoda merah, dan pemandangan tersebut dapat dilihat dari jarak 160 kilometer. Enam hari kemudian, kota tersebut tinggal abu belaka. Tak ada yang tersisa, kecuali tumpukan arang tembok pertahanan yang hancur, dan istana serta rumah ibadah separuh hangus yang terbuat dari bata serta pualam. Sementara itu, para warga pembangkang yang bersembunyi di setiap penjuru kota terpaksa keluar karena kepanasan dan dibunuh satu persatu. Para warga yang sudah menyerah serta anggota keluarga mereka yang menunggu di luar kota diberi ternak, makanan, serta barang-barang gkebutuhan minimal, dan disarankan agar mencari cara sendiri untuk hidup sampai bangsa Mongol menuntaskan penaklukan Khwarazm. Setelah kejadian ini, butuh tiga tahun untuk membangun kembali kota tersebut. Yalavachi dan putranya, Masud, ditemptkan sebagai Gubernur, bergantian. Seorang penyair Persia mengekspresikan kecaman seperti ini, sesudah dia menyaksikan Bukhara :
Takdir adalah tongkat,
Dan hidup adalah bola,
Tongkat memain-mainkan bola!

Tadkr adalah badai,
Dan hidup adalah sebutir padi,
Siapa yang bisa melawan tiupannya.

Takdir adalah pemburu,
Dan hidup adalah seekor burung,
Siapa yang bisa bersembunyi dari mata awas dan panahnya?
Sementara itu, di Otral, pertempuran masih berlangsung. Kota Otral porak-poranda setelah lima bulan diserang bangsa Mongol, Sebagian besar rumah terbakar bola api dan jalanan dipenuhi mayat. Pada awal perang, mayat-mayat dikubur, teteapi seiring berjaannya waktu, jumlahnya terlalu banyak. Udara berbau busuk, dan kawanan lalat dari mayat tidak pernah berhenti mengganggu mereka yang masih hidup. Walau pun makanan masih tersedia, air lambat laun menjadi langka. Dalam situasi normal, para penduduk menggunakan air dari sungai di dekat sana untuk segalanya. Namun dalam situasi ini, mereka mereka harus mengandalkan air dari sumur di dalam kota saja. Tentu saja mereka telah bersiap-siap untuk perang yang lama, dengan cara menggali sumur tambahan, tapi itu tidak cuup. Banyak kuda yang meninggal karna dehidrasi. Selain itu, fakta paling krusial yang mulai mereka sadari adalah bahwa mereka akehabisan panah, yang jelas diperlukan untuk menghentikan para prajurit Mongol yang mendekat. Sekali pun dihadapi pada semua masalah ini, Inalchuq memenggal kepala siapa pun yang membicarakan penyerahan diri, tepat di tempat, sebab dia tahu dirinya tak akan selamat walau pun menyerah.
Suatu hari, setelah bertempur selama lima bulan, Qaracha sang panglima Khwarazm, yang bergabung dengan Inalchuq bersama 10.000 serdadunya, tidak tahan lagi dan memutuskan untuk kabur. Tanpa memberi tahu atau pun berkonsultasi dengan Inalchuq, dia membuka gerbang samping dan melesat untuk menembus kepungan beserta sebagian prajuritnya. Walau begitu, percobaan ini dengan mudah dihentikan dan Qaracha menjadi tawanan, lalu akhirnya kehilangan kepala. Dalam insiden ini, para prajurit Mongol sukses menguasai gerbang tersebut. Para serdadu Mongol pun tumpah ruah ke kota. Di dalam kota, mmayat prajurit Khwarazm mulai menumpuk. Kalah dalam pertempuran di jalanan, prajurit Khwarazm yang tersisa mencari selamat di dalam barak perlindungan. Inalchuq bertahan di barak perlindungan selama sebulan lagi bersama 20.000 serdadunya yang tersissa. Namun pada penghujung bulan itu, ke 20.000 serdadunya sudah mati semua dan yang tersisa hanyalah segelintir gundiknya. Dia telah mempergunakan panah terakhirnya, dan hanya satu pedang sabit yaang tersisa di tangannya. Dia mulai lari ke puncak menara barak bersma gundik-gundiknya. Beberapa lusin prajurit Mongol pun mengejarnya. Genghis Khan memerintahkan agar Inalchuq ditankgap hidup hidup. Ketika Inalchuq sampai di ruangan teratas, yang dihunakan sebagai observatorium, dia sudah terjepit. Gundhik-gundhiknya memungut genting dari atap dan membawakannya kepada Inalchuq, Inalchuq pun melemparkan genting-genting tersebut kepada para prajurit Mongol, yang tengah menaiki tangga spiral dan kian mendekatinya. Inalchuq ditangkap hidup hidup di sana. Belenggu besi dipasangkan ke tangan serta kakinya dan dia dimasukkan ke gerobak kurungan berjeruji besi. Setelah menghancurkan dan membumi hanguskan Kota Otral, Chagai dan Ogodei maju ke Samarqand bersama pasukan kedua yang mereka pimpin. Saat itu, bulan Februari 1220.
Setelah itu, keempat pasukan Mongol – regu pertama pimpinan Genghis Khan, regu kedua pimpinan Caghatai dan Ogodei, kelompok ketiga pimpinan Juchi, serta kelompok keempat pimpinan Jebe – berkumpul di pinggiran Samarqand. Genghis Khan menyerahkan Inalchuq kepada Julchedai, yang terkenal kejam. Julchedai pertama-tama memasukkan beberapa bongkah perak ke tanur peleburan sampai mendidih. Julchedai kemudian menggantung Inalchuq terbalik di pohon dan menuangkan perak mendidih itu ke dalam lubang hidung serta lubang telinganya, sedikit demi sedikit, di depan ratusan penonton.
Itulah akhir riwayat Inalchuq.
39. JATUHNYA SAMARQAND
Genghis Khan maju ke Samarqand, Ibu Kota Khwarazm. Samarqan, kota berpopulasi 500.000 orang bukan saja merupakan pusat politik, perdagangan, budaya, da industri bagi Kesultanan Khwarazm, melainkan juga kota yang megah dan agung. Bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang jalan tersebut dari bata merah dan marmer, sedangkan ubin seputih salju menutupi bata sehingga membuat bangunan tampak bersih dan cerah. Di area pinggiran dan pusat, toko-toko yang memajang barang mewah dari luar negeri serta dagangan dari segala penjuru dunia berderet tak ada habis-habisnya, sedangkan penginapan serta teater untuk pengelana ada di mana-mana. Diberkahi cuaca hangat dan nyaman, area sekitar kota ini dipenuhi banyak jenis pohon buah, termasuk kurma, dan kebun anggur serta ladang semangka tersebar tak berujung. Semangka produk khas daerah ini, teramat populer karena rasanya yang sangat manis dan tidak berserat. Produk ini diekspor banyak-banyak setiap musim untuk memuaskan permintaan dari negeri-negeri yang jauh. Ketika mengekspor ke tempat jauh, produk ini disimpan di dalam kotak kayu yang diisi bahan tahan panas dan peredam guncangan.
Penyair Persia memuji-muji kota yang indah ini :
Samarqand!
Mutiara dari Timur!

Diberkahi rahmat Tuhan.
Inilah kampung halaman para bidadari.

Anggur manis melimpah laksana hujan.
Dan angin disemarakkan keharuman.

Tanahnya bagai kasturi.
Dan permata menggelinding di mana-mana.

Di manakah Taman Firdaus?
Di Samarqand tempatnya!
Samarqand dijaga 60.000 orang turki dan 50.000 orang Tajik, sehingga totalnya 110.000 orang. Mereka adalah pasukan elite Kesultanan Khwarazm. Panglima mereka, Alper Khan, Shaik Khan, dan Bala Khan merupakan yang terbaik di antara mereka dan memegang peran penting dalam membangun kesultanan.
Suatu malam, seorang pria berkuda dengan kecepatan penuh ke gerbang utama Samarqand. Rambutnya kusut dan pakaiannya compang camping. Dia adalah prajurit Tajik yang kabur dari Bukhara. Dia merupakan satu di antaara sedikit anggota garnisun di sana yang selmat. Dia pun digiring ke hadapan Sultan Muhammad. Sambil tersenggal-senggal, diberitahunya sang sultan apa yang telah terjadi di Bukhara.
“Mereka membakar Bukhara! Kota diratakan dengan tanah dan Garnisun dibinasakan!”
Sultan Muhammad terguncang. Dia mengira kaum Mongol tidak mungkin bisa mematahkan garis pertahanan di Sungai Syr semudah itu dan kalau pun mereka bisa, mereka butuh waktu lama untuk sampai ke Samarqand. Kini setelah Bukhara ada di tangan mereka, dia terkepung! Dia terancam kehilangan jalur suplai dari barat. Dia masih sibuk memperbaiki tembok pertahanan Samarqand dan pekerjaan itu pun belu selesai! Sultan Muhammad memutuskan kabur ke barat dengan dalih dia harus mendatangkan lebih banyak prajurit. Hanya saru oang yang kuasa menentang rencana pelarian diri berbalut kebohongan itu, yakni putra sang Sultan. Jalaluddin. Jalaluddin adalah satu di antara sedikit pahlawan Khwarazm. Namun, dia juga harus melarikan diri ke Hindu Kush begitu ayahnya meninggalkan kota.
Pasukan pertama pimpinan Genghis Khan tiba di Samarqand besrta 7.000 kuli di depan mereka. Selama itu, Genghis Khan terus menjalin kontak dengan ketiga pasukan lainnya. Alhasil dia mengetahui secara tepat lokasi, pergerakan serta situasi mereka. Baru setengha hari setelah kedatangannya, pasukan kedua pimpinan Caghatai dan Ogodei tiba di sana juga dan bergabung dengannya. Pasukan kedua Chagatai dan Ogodei membawa 20.000 kuli. Selama sehari, Genghis Khan melihat-lihat bagian luar kota. Pada hari berikutnya, dia menciptakan kepungan menyeluruh.
Di Kota Samarqand sudah ada simpanan makanan yang menukupi untuk dipergunakan 60.000 orang, termasuk para prajurit garnisun,s elama beberapa tahun. Para penduduk mengira mereka bisa melawan dan mempertahankan kota itu selama setidaknya setahun. Namun, kota itu sudah jatuh ke tangan bangsa Mongol lima hari kemudian!
Pertama-tama Genghis Khan memerintahkan para kuli menimbun parit dalam di sekeliling tembok pertahanan. Para kuli merampungkan pekerjaan mereka dengan memanfaatkan tanah serta batu dari dekat sana. Pada malam pertama tersebut, parit sudah ditimbun dan pasukan Mongol pun memulai serangan dadakan. Batu-batu yang ditembakkan ketepel mulai merobohkan bangunan serta rumah, sedangkan pelontar api membuat kota terang benderang laksana siang. Saat pasukan Mongol mendekati tembok pertahanan dengan 3.000 pengusung tangga, para prajurit Khwarazm menyambut mreka dengan hujan panah. Walau begitu, pengusung panah dirancang serta dilengkapi dengan sistem antipanah. Prajurit Mongol mulai memanjat menggunakan tangga begitu mereka sampai di sana. Para prajurit garnisun berusaha menghalau pengusung tangga yang mendekat menggunakan kayu gelondongan panjang, tetapi sejumlah serdadu Mongol sudah berada di atas embok. Setelah pertarungan satu lawan satu yang sengit di atas tembok, para serdadu Mongol pun berhsil menduduki salah satu gerbang utama. Tahu bahwa mereka telah kehilangan salah satu gerbang utama, para pemimpin garnisun Khwarazm mencoba melancarkan serangan balasan berskala besar. Mereka membuka gerabng lain dan tumpah ruah keluar kota beserta duapuluh gajah bersenjata di depan mereka. Akakntetapi, ternyata itu adalah taktik bodoh. Diserang oleh hujan anak panah, gajah-gajah yang tidak tahan melangkah mundur atau berbalik sehingga menginjak para prajurit mereka sendiri. Para prajurit Khwarazm yang tumpah ruah keluar gerbang bertumbangan, diikuti rekan-rekan mereka yan tidak kunjung jera, laksana serangga bersayap yang mengerubungi nyala api. Mayat prajurit Khwarazm menyelimuti padang di luar kota, membuat prajurit Mongol kesulitan bergerak.
Keesoka harinya, para pemimpin kota berkumpul, berdiskusi, dan memutuskan untuk menyerah. Warga Samarqand idak setia terhadap Sultan Muhammad, yang meninggalkan Samarqand cepat-cepat demi keselamtannya sendiri. Pasukan Mongol pertama-tama merobohkan tembok pertahanan, lalu  menyerang barak perlindungan tempat Alper Khan yang membangkang bersembunyi bersama 30.000 anak buahnya. Tiga hari kemudian, barak perlindungan direbut, dan ke 30.000 serdadu dihabisi. Pada saat terakhir, Alper Khan berusaha kabur bersama pasukan bunuh dirinya yang beranggotakan 1.000 orang. Namun, sebagian besar dari mereka dibantai. Yang berhasil kabur hanyalah Alper Khan serta segelintir orang yang selamat.
Genghis Khan mengeluarkan perintah agar semua warga dievakuasi dari kota. Mereka harus disaring. Seluruh populasi Samarqand dievakuasi ke padang. Para prajurit Mongol memasuki kota dan membunuh puluhan ribu orang tak patuh yang bersembunyi di langit-langit serta saluran pembuangan air meskipun sudah diperintahka untuk mengungsi. Lalu, pejabat Mongol memulai penyaringan dan penyelesian warga. Kelompok pertama yagn diseleksi adalah tokoh terkemuka yang punya kaitan dengan Imperium Mongol dan pejaabt yang kooperatif, sedangkan kelompok kedua adalah para insinyur, teknisi, dan seniman. Jumlah mereka mencapai 50.000 orang. Dari sisanya, dipilih 30.000 kluli yang bersumpah setia kepada Imperium Mongol. Berikutnya, waita dan anak-anak diseleksi. Dari populasi laki-laki yang tersisa, semua orang yang membangkang serta tidak patuh dan sebagian yang menolak bersumpah setia kepada Imperium Mongol dieksekusi. Warga pilihan dikenai kewajiban sumbangan perang senilai 200.000 dinar, dan dua pria, Siqul Mulk dan Amid Buzurq, yang telah bersupah setia kepada Genghis Khan, ditempatkan sebagai kelapa pegawai administratif. Genghis Khan menunjuk Yalavachi sebagai Gubernur Samarqand dan meninggalkan beberapa shahma di sana.
Genghis Khan mengatur pengejaran Sultan Muhammad, yang telah kabur sebelum Samarqand jatuh. Untuk misi ini, dipilihlah 30.000 tentara elite dan ditunjukklah dua komandan, Jebe dan Subedei. Mereka diperintahkan mengejar Sultan Muhammad hingga ke ujung dunia. Berikutnya, Genghis Khan mengutus tiga putranya, Juchi, Chagatai dan Ogodei, untuk merebut Urgenchi, kota yang terletak di tepi selatan Laut Aral, tempat Sungai Amu bermuara. Urgenchi adalah kota untuk kaum aristokrat dan orang kaya. Di Kota Urgenchi, rumah-rumah mewah berjajar di tepi jalan. Sedangkan kebun mawar serta air mancur ada di mana-mana. Rumah-rumah yang menghadap pantai memiliki pemandangan indah ke laut Aral.
Namun, apsukan Mongol yang diutus ke sana mulai mengalami masalah internal. Juchi dan Chagatai berselisih mengenai siapa yang harus menjadi komandan pasukan. Juchi mengklaim bahwa dia harus menjadi komandan karena dia adalah putra sulung. Di sisi lain, Chagatai berkeras dialah orang yang tepat karena setelah menduduki Urgenchi, ayah mereka Genghis Khan, berjanji kepadanya bahwa dia akan menjadi penguasa wilayah tersebut. Mereka tidak bisa sepakat dan perselisihan mereka terus berkepanjangan. Garnisun Urgenchi memanfaatkan ini dan sementara itu memperkuat sistem pertahanan mereka.
Bogorchu, yang menyertai mereka, tidak bisa menolerasni hal ini dan mengirimkan kurir kilat kepada Genghis Khan untuk meminta solusi masalah ini. Pada masa itu, kepemimpinan pasukan Mongol secara struktural diserahkan kepada keturunan Genghis Khan, tetapi taktik dan siasat perang disusun oleh panglima yang berpengalaman.
Saat menerima laporan Bogorchu, Genghis Khan yang berang mengomeli kedua putranya habis-habisan dan menyerahkan jabatan komandan kepada Ogodei. Keputusan ini membuat Juchi sangat tidak senang, sehingga dia pun berdiam di Kipchak, yaitu stepa Rsuia yang diberikan ayahnya, dan menolak kembali ke Dataran Mongolia.
Pertama-tama, Ogodei mengirim utusannya ke dalam kota, untuk membujuk mereka supaya menyerah. Namun, Khuman Tegin, sang komandan garnisun, menampiknya, justru memenggal kepala sang utusan. Pasukan Mongol akhirnya memulai serangan. Karena para prajurit Mongol tidak bisa menemukan batu di sekitar sana, mereka haruss memotong pohon murbei untuk digunakan di ketepel. Lima puluh ribu kuli, khusus dipindahkan dari Jand untuk operasi ini, menimbun parit dengan tanah. Para prajurit Mongol menaiki tembok pertahanan menggunakan pengusung tangga, kemudian membukakan gerbang untuk pasukan utama. Prajurit berkuda Mongol memulai pertempuran jalanan dan segera saja, mayat prajurit garnisun Urgenchi pun bertebaran di jalanan. Tidak lama kemudian, kota itu dilalap api. Prajurit Mongol akhirnya mengambil alih setiap penjuru kota. Pertempuran paling sengit belangsung di jembatan lengkung di Sungai Amu, yang mengalir di pinggiran barat kota. Di jembatan ini, sejumlah besar prajurit garnisun tewas dan jatuh ke sungai. Sungai Amu bernoda darah dan dipenuhi mayat. Para prajurit Mongol memenggal kepala 100.000 pria dari kota ini, membiarkan teknisi ahli, wanita dan anak-anak hidup.
Genghis Khan menghabiskan musim semi di pinggiran Samarqand dan pindah ke Padang Nakh Shab (Karsh) saat musim panas kian dekat. Dia menghabiskan musim panas di sana, mengistirahatkan manusia maupun kuda.
Pada musim gugur, dia mulai bergerak untuk menaklukkan wilayah Selatan. Dari utara, Genghis Khan menuju ke Tirmiz, kota yang terletak di sebelah timur Sungai Amu. Kota ini, yang berpopulasi 100.000 orang, dilindungi benteng kuat. Garnisunnya diperlengkapi senjata defensif dan ofensif yang lengkap, termasuk pelontar, yang mirip seperti ketepel. Genghis Khan mengirim utusan untuk membujuk para penduduk Tirmiz menyerahkan diri dengan cara merobohkan benteng dan barak perlindungan mereka sendiri. Namun, mereka bukan hanya menolak menyerah, melainkan juga membuka gerbang dan mulai menyerang, yakin bahwa benteng mereka tak tertembus dan mereka punya senjata lebih dari cukup. Setelah pertempuran selama sebelas hari, kota itu jatuh ke tangan bansga Mongol. Seluruh penduduk dibawa akeluar ke padang dan dibantai. Tak satu pun orang di kota itu selamat. Kota tersebut dibakar dan diratakan dengan tanah untuk dijadikan tauladan buat yang lain.
Sebelum berangkat ke Khwarazm, Genghis Khan menekankan kepada para prajuritnya bahwa perang dengan Khwarazm bukanlah untuk balas dendam semata. Bangsa Mongol mempunyai misi, yaitu mendirikan tatanan baru di dunia. Tugas mereka bukanlah semata-mata menghancurkan, membunuh, dan menjarah, kemudian pergi. Mereka harus menaklukkan, merelokasi,merekonstruksi dan memerintah. Bangsa Mongol harus menaklukkanarea besar dan harus menangani sejumlah besar musuh dengan prajurit berjumlah sedikit. Mereka, tidak boleh menyisakan orang-orang yang kelak mungkin menjadi musuh. Namun, orang-orang dan keturunan mereka yang tuus menyerah diperlakukan Genghis Khan dengan baik. Bangsa Mongol selalu menempatkan Shahma atau basqaq di antara masyarakat, di kota atau wilayah yang telah menyerah. Mereka diberdayakan untuk memerintah kota atau wilayah, atas nama Khan Mongol. Biasanya mereka diberi surat resmi dari khan, ditulis digulungan kulit domba, berstempel resmi. Pada stempel dari gading atau giok, terdapat tulisan ini dalam aksara Mongolia : “Tuhan di langit, Ka Khan. Kekuatan Tuhan di Bumi. Penguasa Umat Manusia.”
Genghis Khan menyeberangi Sungai Amu. Dari sana, sampailah dia di wilayah Khurasan. Pasukan Genghis Khan menuju ke Balkh. Balkh adalah kota industri berpopulasi 150.000 orang dan, di masa lalu, kota tersebut disebut “Makkah timur” oleh orang-orang Persi. Genghis Khan diberi tahu bahwa Jalaluddin, putra Sultan Muhammad, ada di sana, tengah berusaha meekrut dan mengumpulkan prajurit. Jalaluddin adalah pahlawan di pihak Khwarazm. Dia menyeberangi Pegunungan Hindu Kush dan secara aktif berpindah-pindah, mengumpulkan pasukan di area Khalaj dan Peshawar, kawasan yang berbatasan dengan India dan kelak disebut Afghanistan.
Pada saat bersamaan, Jalaluddin mengirim utusannya kepada khalifah di Baghdad, meminta sokongan militer. Akan tetapi, permintaannya serta merta ditolak. “Genghis Khan menerapkan kebijakan kebebasan beragama. Ini Bukan perang Syahid!”
Sang Khalifah dan Sultan Muhammad bermusuhan. Genghis Khan meluncurkan serangan ke Balkh. Dia sudah memperoleh informasi bahwa banyak epnghuni kota ini yang bergabung dengan Jalauddin,d an sebagian besar orang bekerja sama dengannya. Setelah tujuh hari, kota itu jatuh ke tangan pasukan Mongol. Sebelum jatuh, pemimpin kota itu menunjukkan niat untuk menyerah, tetapi iktikadnya tak diterima. Seluruh tembok pertahanan, rumah besar, dan istana dihancurkan, sedangkan seluruh warga, yang berjumlah 150.000 orang di bawa keluar ke padang dan dipenggal.
Genghis Khan menyerahkan 30.000 serdadu kepada Tolui untuk menaklukkan wilayah Khurasan yang lebih ke barat. Di Khurasan, kota-kota besar dan kecil tersebar di area luas, dan di antaranya, yang paling besar adalah Merv. Nishapur, dan Herat.
Sesudah mengutus Tolui ke darah Khrasan lainnya, Genghis Khan sendiri maju ke Talaqan. Talaqan yang berpopulasi 100.000 orang, berada di dekat Pegunungan Hindu Kush. Karena kota ini pro-Jalaluddin, semua aprajurit garnisun dan warga dibantai. Dari sana, Genghis Khan menerima informasi bahwa Jalaluddin telah mengumpulkan banyak prajurit di Khalaj dan Peshawar. Genghis Khan serta merta mengirimkan 5.000 serdadu di bawah komando Sigi Qutuku untuk meredam mereka. Namun, ketika Sigi Qutuku dan .5.000 serdadunya tiba di Peshawar;  mereka disergap oleh 50.000 serdadu Jalaluddin. Genghis Khan terhina karena Sigi Qutuku kalah dalam pertempuran dan kembali berama setengah pasukannya saja. Itulah satu-satunya kekalahan yang pernah diderita pasukan Mongol dalam delapan ratsu pertempuran besar dan kecil, sejak mereka menginjakkan kaki ke teritori Khwarazm sampai mereka kembali ke kampung halaman. Genghis Khan tidak menghukum Sigi Qutuku, sebab pria itu sudah seperti anak angkatnya dan telah banyak berkontribusi dari sisi administratif.
:Qutuku punya banyak ide mengenai cara memenangi pertempuran. Akan tetapi, dia tidak sempat memanfaatkan ide-ide itu karena dia kurang pengalman. Sekarang, dia telah mengalami sulitnya bertempur. Mulai saat ini, dia akan mengecap banyak kemenangan yang akan membayar satu kekalahan ini dan lebih lagi.”
Genghis Khan kontan berangkat untuk mengejar Jalaluddin.
40. NESTAPA DI MERV
Tolui, yang telah maju ke jantung Khurasan, menaklukkan kota-kota berukuran kecil serta sedang satu demi satu. Orang mengakui bahwa Tolui-lah yang paling banyak mewarisi sifat-sifat kesatria ayahnya. Dia cemerlang, pemberani, dan tegas, tetapi dianggap terlalu kejam. Yang dibuatnya di Khurasan, selagi dia menaklukkan area itu, jelas-jelas menunjukkan sifatnya yang satu itu. Selagi dalam perjalanan menuju Merv, salah satu kota terbesar di Khurasan, dia membumihabnguskan hampir semua kota yang dia lewati. Membantai pendudukk, dan hanya menyisakan sedikit sekali orang gyang selamat.
Avivard, populasi 80.000,  jiwa, tidak ada yang selamat.
Nisa, populasi 100.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Yazir, populasi 70.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Nuqan, populasi 60.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Jajarm, populasi 60.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Sabzavar, populasi 70.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Baihaq, populasi 50.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Khaf, populasi 60.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Sanjan, populasi 110.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Zurabad, populasi 90.000, jiwa,  yang selamat 1.
Sijistan, populasi 70.000, jiwa,  tidak ada yang selamat.
Sarakh, populasi 50.000, jiwa (menyerah dan sangat kooperatif), semua selamat.
Walau demikian, jumlah korban jiwa dari satu kota di Khurasan jauh lebih tinggi daripada totoal semua angka di atas.
Merv merupakan salah satu kota asal para aristikrat serta pejabat tinggi. Kota ini aslinya berpopulasi 450.000 orang, tetapi pada saat pasukan Mongol pimpinan Tolui tiba, jumlah itu sudah membengkak menjadi 1.200.000 karena banyaknya pengungsi dari area lain yang mundur ke sana sejak permulaan perang. Jumlah tersbut kian bertambah setiap hari. Penyair Persia menyanjung kota itu :
Kota menawan, penguasa dermawan.
Tanah mengeluarkan aroma kesturi.
Begitu kau menjejakkan kaki di daamnya.
Namanya yang indah saj.
Tak akan pernah melepaskanmu!
Sultan Muhammad mampir di kota ini dalam perjalanannya melarikan diri. Sebelum berangkat untuk pergi lebih jauh ke abrat, dia menunjuk Bahaul Mulk sebagai gubernur dan kepala garnisun kota ini. Walau begitu, saat mendapati bahwa kondisi tembok pertahanan, benteng, dan barak perlindungan tidaklah prima, dia semata-mata melarikan diri seperti penguasanya. Setelah ini, para pemimpin kota ini terbelah dua, dan mereka berselisih. Satu kelompok berkeras agar mereka menyerah, dan satunya lagi berkeras agar mereka melakukan kebalikannya, bertarung sampai akhir.

Saat menerima laporan tersebut, Sultan Muhammad mengutus panglima kesayangannya, Mujirul Mulk sebagai Gubernur dan Kepala Garnisun baru. Mujirul adalah putranya. Ibu Mujirul awalnya adalah selir sultan. Sang Sultan menyerahkan selir tersebut kepada salah satu panglimanya yang berjasa besar. Namun, pada saat diserahkan, selir itu sudah hamil. Sultan tahu wanita itu hamil dan mengakui Mujirul sebagai putranya.
Mujirul teramat ambisius dan ingin menjadi sultan berikutnya.
Hal pertama yang dilakukan Mujirul setelah dia tiba di Merv adalah mengenyahkan kelompok moderat yang pro-Mongol. Seteleh Sarakhs, Kota tetangga Merv, menyerah kepada pasukan Mongol, banyak kelompok Moderat pindah ke kota itu dan yang tersisa de Merv menjalin kontak dengan mereka. Kelompok moderat berpendapat bahwa Merv tak akan sanggup bertahan terhadap serangan Mongol dan oleh sebab itu, menurut mereka tidakan yang tepat adalah menyerah supaya kota dan penduduknya selamat. Jika itu tidak mungkin, mereka ingin menyelamatkan anggota kelompok moderat yang tersisa di kota dengan cara menyerahkan nama amereka kepada orang-orang Mongol sebelum mereka merebut kota.
Syaikhul Islam, kerabatnya yang seorang cadi, atau hakim pengadilan tingkat terendah untuk menginfiltrasi Merv dalam rangka mengambil daftar iru. Pria tersebut sukses memperoleh daftar tersebut, tetapi gagal keluar. Dia dibawa ke ahdapan Mujirul, yang mengambil daftar itu dan memerintahkan agar dia ditikam sampai mati. Jenazahnya kemudian diseret keliling pasar, dengan cara ditarik keuda kakinya, dengan wajah menghadap ke bawah. Berikutnya, tujuh ratus anggota kelompok moderat yagn tersisa pada daftar dibawa ke lapangan terbuka dan dipenggal.
Bahaul Mulk, mantan gubernur yang kabur, akirnya menyrah kepada pasukan Mongol. Saat menghadapi Tolui, dia mengatakan bahwa dia akan berusaha membujuk Mujirul supaya menyerah. Tolui tidak yakin padanya, tetapi memberinya akesempatan, Bahaul menulis surat untuk Mujirul, dan tujuh utusan dikirim ke Merv sambil membawa surat tersebut :
Dewi keberuntungan menyertai bangsa Mongol.
Aku sduah bersama mereka.
Mereka meluncurkan pukulan mematikan.
Ke Nisa dan Bavard.
Hingga keduanya hancur binasa.
Jangan lemparkan dirimu ke dalam
Pusaran kehancuran
Atau rawa reruntuhan,
Dan selamatkan dirimu serta rakyatmu.
Setelah membaca surat ini, Mujirul mengangguk dan mengajukan banyak pertanyaan kepada para utusan, menanyakan besarnya pasukan Mongol, Peralatan mereka, lokasi mereka saat ini, dan sebagainya. Setelah dia memperoleh jawaban, diperintaahkannya anak buahnya agar membawa para utusan ke padang dan memenggal kepala mereka.
Saat menerima laporan bahwa ketujuh utusan telah dipenggal. Tolui pun berang dan memenggal kepala Bahaul Mulk.
Berikutnya Mujirul menyerang Sarakhs, kota yang menyerah kepada bangsa Mongol, dengan 2.500 serdadunya. Mereka menangkap Syamsuddin, Shahma yang memegang surat penunjukkan dan stempel resmi Genghis Khan, Mujirul menyerahkannya kepada putra Pahlavan Abu-Bakar Divana, yang telah dibunuh oleh keompok moderat. Pria tersebut menikam sekujur tubuh Syamsuddin sampai mati.
Merv larut dalam pesta perayaan. Para penduduk bermain musik dan minum-minum seolah mereka sudah menang perang. Kabar baik dan menggembirakan terus menerus dibawakan kepada mereka. Ikhtiyaruddin, yang dahulu adalah Malik di Amuya, bergabung dengan mereka, dn Shaik Khan, salah satu komandan garnisun Samarqand, tiba bersama anak buahnya Ogur Hajin serta 2.000 serdadu. Dalam perjalanan, mereka menyergap regu pengintai Mongol berkekuatan 800 orang dan menawan 60 orang Mongol. Keenam puluh tawanan Mongol diseret di jalanan, lalu dibunuh dengan cara ditusuk pasak logak di bagian telinga, Para tawanan Mongol di bawa ke depan satu persatu, dan masa bersorak girang setiap kali mereka menyaksikan ujung pasak logam menyembul dari telinga sebelah sana san korban, setelah dipalu menembus tengkorak oleh sang algojo.
Kota Merv dijaga 70.000 orang Turkoman, suku dari Persia, yang mendirikan markas di tepi sungai dekat sna, di luar kota. Tolui memilih 400 prajurit dan mengutus mereka sebagai baris depan. Tolui tahu bahwa 12.000 serdadu garnisun berpatroli di kota setiap hari, dan saat senja, mereka mundur ke markas. Para prajurit Mongol bersembunyi di hutan menjelang kepulagnan mereka. Malam itu gelap, tanpa sedikit pun pancaran sinar bulan, dan semua wajah mereka dicat menggunakan ter.
Ketika orang-orang Mongol menyerang mereka secara mendadak, para serdadu garnisun hancur binasa dalam waktu singkat. Mereka dibunuh dengan tombak serta pedang sabit dan banyak di antara mereka yang tenggelam di sungai. Para prajurit Mongol tersebut, yang telah menghabisi 12.000 serdaduu garnisun, kini menyerang markas. Pertama-tama, mereka merobohkan pagar dan melepaskan kuda-kuda ke padang. Lalu, orang-orang Mongol pun menyerbu markas tersebut. Garnisun beranggotakan puluhan ribu serdadu panik bagaikan domba yang digiring serigala dan berguguran bagaikan daun yang tertiup angin ribut. Banyak dari mereka yang berhasil kabur ke padang tetapi mereka kemudian dibunuh satu demi satu oleh pasukan utama Tolui, yang mengepung area tersebut. Oleh sebab itu, garnisun beranggotakan 70.000 orang pun dihancurkan oleh segelintir prajurit Mongol. Tidak ada seorang pun yang selamat. Tolui tidak menerima tawanan.
Merv, tanpa pasukan pertahanan, sudah tamat. Keesokan harinya, Tolui melihat-lihat keliling kota. Setelah enam hari berencana dan bersiap-siap, kaum Mongol meluncurkan serangan. Dipimpin oleh Tolui, pasukan Mongol merebut dua gerbang utama kota itu. Namun, mereka tidak memasuki kota. Mujirul Mulk mencoba menyerah sesudah kehilangan pasukan perathanan utama dan kedua gerbang. Dia mengutus Jamaluddin, Imam kepala ke Tolui untuk membicarakan penyerahan diri. Tolui pura-pura menerima penyerahan diri mereka. Dia ameminta daftar orang kaya di Merv. Mujirul Mulk merespons dengan daftar yang memuat nama dua ratus orang.
Mereka diminta menyerahkan pampasan perang. Sesudah itu, pasukan Mongol pun memasuki kota. Tolui mengeluarkan perintah untuk mengevakuasi seluruh warga. Semu orang di jalan dan di rumah mereka digiring keluar kota menuju padang. Butuh empat hari empat malam untuk menuntaskan evakuasi. Para prajurit Mongol mulai menyulutkan api ke rumah dan bangunan di sepenjuru kota, yang telah berubah menjadi kota hantu tanpa jejak-jejak manusia. Api pun berkobar. Dalam waktu sangat singkat, kota tersebut sudah dilalap api. Orang-rang mulai menjerit melihat rumah mereka dan kota mereka terbakar. Para istri menangis sambil menempelkan wajah ke dada suami mereka, sedangkan para orang tua memeluk anak mereka erat-erat sambil menutup mata anak-anak dengan tanga. Namun, pembakaran tersebut hanyalah pendahuluan dari tragedi sebenarnya. Pasukan Mongol mulai penelesian. Mereka hanya emmilh empat ratus seniman paling hebat. Disusunlah unit khusus beranggotakan 4.00 algojo, yang terdiri dari prajurit Mongol dan kuli. Sebagian besar kuli dari kota tetangga yang menyerah, Sarakhs. Algojo membagi orang-orang ke dalam tiga kelompok : Pria, waita , dan anak-anak.
Oh! Betapa banyak istri yang meronta dan
Mengggeliat-geliat laksana jentik-jentik agar
Tidak dipisahkan dengan suami mereka?
Oh! Betapa banyak anak yang meronta dan
Menggeliat-geliat laksana boneka agar
Tidak terlepas dari tangan orang tua mereka?
Oh! Banyak kaka beradik yang hatinya
Tercabik-cabik duka karena harus saling
Mengucap selamat tinggal?
Begitulah cara penyair Persia memaparkan situasi tersebut. Para kuli dari Sarakhs mengejek dan menghinakam mereka rekan-rekan mereka sesama Muslim. Perintah Eksekusi telah tiba. Semua harus dibunuh, termasuk wanita dan anak-anak. Setiap algojo diberi kuota : 300 sampai 400. Yang pertama dieksekusi aalah pemimpin kota, oleh sepuluh kuli. Eksekusi berlangsung selama setengah hari. Pdang yang luas diselimuti mayat dalam waktu singkat. Kuli membuat piramida dari kepala manusia. Tiga piramida kepala manusia, pria, wanita, dan anak-anak, menandingi bukit di dekat sana. Padang di sekitar area itu menjadi becek karena darah manusia.
Berikutnya, Tolui memerintahkan mereka menghancurkana tembok pertahanan dan bangunan bata yang belum terbakar. Kota itu pun dibumi hanguskan dan menjadi porak poranda, hanya menyisakan reruntuhan hangus serta tumpukan batu. Pasukan Mongol kemudian pergi.
Beberapa hari kemudian, orang-orang yang selamat merangkak dari saluran pembuangan air serta bunker tempat mereka bersembunyi, dan menyibakkan reruntuhan hangus serta tumpukan batu. Namun, mereka tidak terselamatkan, sebab baris belakang pasukan Mongol kembali membereskan mereka. Lima ribu orang tewas. Mereka hanya hidup beberapa hari lebih lama.
Ada seorang pria bernama Izzauddin. Dia tiba Merv beberapa hari sesudah tragedi. Dia terguncang dan berdri dengan mulut menganga saat melihat pemandangan mengerikan berupa tiga piramida besar dari kepala manusia serta mayat manusia yang tersebar tak ada habis-habisnsya di padang luas.
“Ah! Aku melihat apa yang semestinya tak kulihat. Pemandangan mengerikan ini akan menyiksaku dalam mimpi-mimpiku, sepanjang hidupku, hingga hari terakhir. Ini harus dicatat dalam sejarah umat manusia.” Setelah mengumumkan ini, dia mulai menghitung jumlah mayat, dibantu beberapa orang. Sesudah empat belas hari, dia mendapatkan jumlah mayat, yaitu 1.300,000.
41. TRAGEDI DI NISHAPUR
Seandainya semua kota di bumi ini
Adalah bintang di langit,
Yang paling terang adalah Nishapur.

Seandainya ibu pertiwi adalah tubuh manusia,
Matanya, pintu jiwanya, adalah Nishapur.
Penyair Persia memuji-muji Nishapur dengan banyak cara. Kota Nishapur, terletak 140 kilometer di barat daya Merv, adalah tempat perhentian paling populer bagi karavan yang berkelana di antara Baghdad dan Samarqand. Kota ini adalah pusat perdagangan, budaya,dan keagamaan di kawasan itu. Pasarnya ramai, jalan-jalannya diapit rumah-rumah mewah, dan tempat ibadah Islam yang idnah dilapisi ubin putih krim. Biasanya populasinya berjumlah 40.000 orang. Namun, setelah menerima pengungsi dari area lain, jumlahnya membengkak menjadi lebih dari sejuta orang.
Sultan Muhammad tinggal di kota ini sebentar dalam perjalanannya ke barat, untuk melarikan diri dari para pengejar Mongolnya. Kota Nishapur dijaga oleh garnisun beranggotakan 30.000 serdadu. Yang diersenjatai 3.000 busur pendek dan 3.00 pelontar. Namun, Sultan Muhammad sudah kehilangan semangat melawan pasukan Mongol yang datang menggempur. Pada satu saat, setelah menaklukkan sebuah area besar dengan kekuatan dahsyat, dimulai dari kota asalnya di dekat laut Kaspia, dia dipanggil “wali Allah” tau “Alexander kedua”. Kini, dia meninggalkan panggung dunia. Dia gagal memperoleh dukungan sejati dari rakyat yang dia taklukkan. Dia pernah menghadapi pemberontakan dua kali, sejak dia menduduki Samarqand. Penyebab langsung adalah pajak yang tinggi. Tetapi masalah sebenarnya adalah ketiadaan sistem administrasi yang efektif. Sanagat jelas bahwa dia bukan tandingan Genghis Khan sebagai pimpinan militer atau ahli strategi, sebab dia telah kehilangan Samarqand.
Malam demi malam mimi buruk yang sama menyiksanya. Dalam mimpinya, sekelompok orang yang berambut kusut, berbekas luka di wajah, dan mengenakan pakaian berkabung kotor usang berwarna gelap mendekatinya di tengah kubur. Sebgian dari mereka membawa kepala mereka sendiri.
“Siapakalian?” dia berteriak dalam mimpinya. Mereka merespons dengan suara mengerikan, memandangnya dengan mata orang mati.
“Kami umat Muslim!”
Dia pun tesentak bangun dari tidurnya. Dia mendesah dalam-dalam sesudah menyeka keringat dari dahinya dengan kepalan tangan. Dia meratap :
Betapa liciknya pikiran manusia!
Di saat seseorang berjaya.
Sisi kelam kekalahan tak terlihat,
Kapan saja, di mana saja, dia yang
Melihat keduanya
Akan menjadi pemenang terakhir!
 Sutan Muhammad kabur dari Nishapur setelah dia diberi tahu bahwa pasukan pengejar Mongol sudah dekat. Sebelum dia pergi. Dia memanggil empat pemmpin, Umar Rikkhi, Nizamuddin, Katib Jami, dan Arid Zuzani serta menyuruh  mereka mempertahankan kota.
“Akan kukirim Syarifuddin secepatnya. Bersama dengannya, berusahalah sebaik mungkin untuk mempertahankan kota!”
Namun, Syarifuddin, sang Gubernur yang baru ditunjuk, sekali gus kepala garnisun, meninggal mendadak dalam perjalanan ke Nishapur. Umar Rukkhi, pemimpin tertua, menduduki posisi pejabar sementara, menggantikan gubernur yang meninggal. Pada saat ini, pasukan pengejar pimpinan Jebe tiba di tempat dekat Nishapur. Jebe mengirim baris depan yang terdiri dari 1.000 orang untuk menyarankan kepada mereka agar menyerah. Umar Rukkhi secara sukarela menjanjikan kerja sama. Dia menyambut barisan depan Mongol dengan roti dan garam.
Dia bilang kepada Jebe, yang tiba belakangan, “Aku hanya memerintah kota ini sementara, atas nama Sultan. Aku Cuma kerani tua. Kau mengejar sultan. Jika kau mengalahkan Sultan,  kesultanannya akan menjadi milik kalian dan akan jadi abKomentarnya sangat oportunis, tapi Jebe menerimanaya sebagai ungkapan penyerahan diri dan meminta kerja sama.
Umar Rukkhi dan warga Nishapur menyediakan makanan, air, dan kebutuhan lainnya. Jebe memilih tiga pira sebagai shama dan memberi mereka sura penunjukkan, ditulis dalam aksara Uighur, Jebe pun melanjutkan pengejaran, meninggalkan Nishapur. Saat itu bulan Juni 1220.
Beberapa bulan kemudian, sebuah rumor tak berdasar beredar di dalam dan di sekitar Naishapur. Menurut rumor tersebut, pasukan sultan telah dibinasakan oleh pasukan Mongol. Tidak ada yang tahu siapa yang memulainya, tetapi warga Nishapur dan kota-kota besar serta kecil di sekitarnya mulai resah. Mereka jadi pembangkang.
Iblis penghancur menetaskan telur di otak mereka.
 Orang-orang Persia, kelak memaparkan situasi tersebut seperti ini : Kota pertama yang memberontak adalah adalah Tus. Tus telah menyerah kepada Jebe sebelum Nishapur. Sirajuddin, pemimpin pemberontakan di Tus, memenggal kepala Shahma di sana dan mengirimkan kepada Umar Rukkhi di Nishapur. Seolah mendapat dorongan, Umar Rukkhi pun mulai memprovokasi masyarakat. Sekelompok besar warga apemberontak membawa ketiga Shahma ke lapangan terbuka dan memenggal kepala mereka, bergiliran. Setiap kali satu kepala jatuh ke tanah, mereka berteriak girang, kemudian menancapkan kepala tersebut ke tombak dan memasangnya di puncak tembok pertahanan.
Pada bulan Nopember, Tolui mengutus Toqcha sebagai komadan barsi depan ke Nishapur. Toqcha dalah menantu Genghis Khan. Dia adalah komandan pasukan pertahanan di Dataran Mongolia selagi Genghis Khan berada di Cina. Toqcha memimpin 10.000 prajuritnya untuk menyerang Nishapur, yagn sudah menajdi kota pemberontak. Pada hari pertama serangan, sebuah anak panah dari tembok pertahanan mengenai lehernya. Dokter militer berusaha menyelamatkannya, tapi mereka tidak berhasil. Dia seketika mengalami pendarahan sampai mati. Karena kematiannya, pergerakan pasukan Mongol pun sementara terhenti. Tolui menempatkan Nurkai sebagai pengganti Toqcha dan memerintahkan agar melanjutkan operasi di area dekat sana sampai Tolui sendiri tiba di Nishapur. Pada saat itu, Tolui sedang menyerang Merv.
Nurkai pertama-tama maju ke Sabzavar dan. Setelah pertempuran sengit selama tiga hari, merebut kota itu membunuh semua penduduknya yang berjumlah 70.000 orang. Dia maju lebih jauh lagi ke Kota Tus, menahan Sirajuddin, pemimpin pemberontakan dan penguasa kota tersebut pada saat itu. Sirajuddin pun dipenggal dan semua penduduk Tus dibantai. Perhentian berikutnya adalah Nukan. Seluruh warga yang berjumlah 60.000 orang kehilangan kepala mereka. Padang di area itu pun jadi diselimuti mayat. Walau demikian, kota besar Nishapur tetap tak tersentuh smpai pasukan utama Tolui tiba.
Pada musim semi 1222, Tolui tiba di Nishapur beserta pasukan utamanya setelha merebut Merv. Nishapur dipersenjatai 3.000 busur pendek dan 300 pelontar, tetapi arnisun serta warga sipil telah kehilangan semangat dan keinginan untuk bertarung. Kabar mengenai jatuhnya Merv dan apa yang terjadi di sana menumbuhkan rasa takut teramat sangat dalam diri mereka sehingga mereka sudah kalah dalam pertempuran psikologis.
Umar Tukkhi, penguasa Nishapur, mengutus Tuknuddin, cadi tertinggi di kota itu, untuk merundingkan pembicaraan damai, tapi Tolui serta mengehntikan upaya mereka.
Keesokan paginya, Tolui mengeluarkan perintah agar meluncurkan serangan beskala besar ke Nishapur. Pasukan Mongol membobol tembok pertahanan dengan ketepel dan 100.000 kuli menimbun parit di sekeliling tembok pertahanan dengan batu serta tanah. Pertempuran dimulai pada jumat pagi dan berlangsung hingga Sabtu malam. Maka rampunglah tahap pertama rencana penaklukan kota. Pasukan Mongol merebut semua gerbang dan tembok pertahanan. Hari Minggu besoknya adalah hari terakhir bagi para warga. Pasukan Mongol memlai pertarungan jalanan. Pembantaian berdarah pun dimulai. Para prajurit garnisun dan warga bersembunyi di tempat ibadah, istana dan rumah besar. Kira-kira pada tengah hari, perlawanan berakhir. Pasukan Mongol menemukan Umar Rukkhi sedang bersembunyi di saluran pembuangan air kotor. Para prajurit Mongol pun menyeretnya, dengan cara menjambak rambut, sampai ke lapangan terbuka. Dia dilucuti hingga telanjang, kemudian digantung terbalik di pohon. Hukumannya, adalah dikuliti hidup-hidup. Dari antara para kuli, dipilihlah seorang tukang jagal terampil untuk melakukan pekerjaan itu. Sang tukang jagal, ahli menguliti kuda. Sang ahli pertama-tama mengelupas kepala Umar Rukkhi, lalu menguliti wajah, leher, dada, dan abdomennya, setahap demi setahap, sebagaimana yang dia lakukan terhadap kuda. Gumapalan daging manusia merah besar bergelantungan di pohon dan meintih-rintih selama beberapa waktu.
Seluruh penduduk kota dibawa keluar ke padang. Seperti Merv. Semua warga dipenggal, kecuali 400 seniman hebat. Pada padang di luar Nishapur, dibuatlah tiga piramida kepala manusia. Jumlah korban jiwa di Nishapur dan semua kota di dekatnya adalah 1.747.000 orang.
Penyair Persia meratap :
Di hari kiamat,
Yang mati akan bergembira,
Sedangkan yang hidup akan berduka.

Api pemusnah
Telah menimpa mereka
Layaknya hujan es di bulan april

Dan Burung ajal hitam
Telah membentangkan sayapnya
Di atas seluruh kota

Panah kearifan dangkal
Tak bisa menembus
Tameng kemustahilan

Dan kuda pembawa tekad
Tak sanggup melepas kekang nasibnya sendiri

Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun!
Pejamkanlah mataku.
Aku telah menyaksikan
Hari pembalasan.
42. PERTEMPURAN TERAKHIR DI SUNGAI INDUS
Genghis Khan, berangkat untuk mengejar Jalaluddin saati itu, musim gugur tahun 1221, kira-kira pada waktu Tolui sedang menyerang Merv. Genghis Khan menuju ke Gurzivan dari Talaqan. Gurzivan adalah sebuah kota yang terletak di antara Pegunungan Hindu Kush dan Sungai Indus, dengan opulasi 70.000 jiwa. Jalaluddin mengumpulkan sejumlah besar serdadu baru di sana. Dia berusaha keras mengobarkan perang syahid melawan bangsa Mongol. Dia mengirim utusannya kepada khalifah di Baghdad dua kali, dan dua-duanya diabaikan. Mereka menyimpulkan bahwa perang dengan bangsa Mongol dubkanlah perang syahid. Sultan Muhamad pernah menyerang sang Khalifah berkali-kali di masa lalu, sebab mereka memang bermusuhan. Hampir semua orang di Kesultanan Khwarazm adalah Muslim. Walau begitu, mereka tidak terlalu seti pada negara Khwaraz dan menentang kebijakan pajak tinggi. Kendati mereka kehilangan penopang mental dan spiritual mereka, yaitu agama mereka, mereka mengerahkan semua yang mereka miliki di medan tempur. Itulah yang diincar Jalauddin. Akan tetapi Genghis Khan sudah menyatakan kebebasan beragama, dan pajaknya lebih rendah daripada pajak yang diberlakukan sultan di kota dan daerah yang menyerah.
“Bangsa Mongol adalah orang-orang kafir! Kita tidak bisa diperintah oleh orang kafir!” teriak Jalauddin. Dia adalah calon pemimpin sah Kesultanan Khwarazm. Dikumpulkannya 50.000  serdadu baru. Dia berkelana ke kawasan Aafghan dan membunuh siapa pun yang menolak bergabung dengan pasukannya. Untuk membangkitkan semangat juang pasukannya dan untuk menyulut kebencian terhadap bangsa Mongol, dia menyuruh anak buahnya menancapkan beji logam ke dalam telinga tiga ratus tawanan, dan dia memenggal dua puluh orang di antara mereka.
Gurzivan menunjukan perlawanan kuat. Seusai pertempuran, yang berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan, kota tersebut menjadi milik bangsa Mongol dan mereka pun membantai seluruh penduduk. Genghis Khan mendapati bahwa Jalaluddin telah meninggalkan kota itu beberapa hari sebelum pasukan Mongol tiba dan dia menuju ke Sungai Indus. Genghis Khan terus mengejar.
Pasukan Mongol sampai di Kota Bamiyam, yang terletak di puncak bukit dan dilingkupi tembok pertahanan kuat. Bamiyan adalah titik strategis yang penting. Tembok pertahanan di kota tersebut bukan hanya kokoh, melainkan juga terletak di bukit tinggi yang berada di luar jangkauan tembak ketepel. Genghis Khan mengirim pasukan gerak cepat Mongol disambut hujan panah dan batu serta kayu gelondongan yang menggelinding, sehingga mereka sulit mendekat. Setelah kota ini jatuh, semua tembok pertahanan serta bangunan diratakan dengan tanah dan seluruh penduduk dibantai. Kota ini tak pernah dibangun kembali dan menghilang dari peta.
Pasukan Mongol pimpinann Genghis Khan akhirnya menyusul pasukan Khwarazm pimpinann Jalauddin di tepi sungai Indus. Saat itu, tanggal 23 Nopember 1221. Di seberang Sungai Indus yang lebar dan berkelok-kelok, terdapat Dataran Punjab yang luas. Ke 50.000 prajurit Jalauddin di tempatkan di sana karena terdapat perlindungan alamiah dari Sungai Indus yang mengular dan pegunungan tinggi di seberangnya. Setelah secara seksama mengamati perkemahan musuh dari tempat tinggi, Genghis Khan terkagum-kagum akan betapa superiornya kamp perang mereka.
“Jalaluddin orang yang tahu caranya menggertakkan pasukan. Bagian kanan dan belakangnya dirintangi sungai, sedangkan bagian lainnya dihalangi pegunungan. Dilihat sekilas, tampaknya dia terkepung tapi kenyataannya justru sebaliknya. Dia bisa menempatkan kekuatanyang terkonsentrasi ke satu arah. Pertempuran ini tak akan mudah, “Genghis Khan berkata kepada putra-putranya.
Pasukan Chagatai dan Ogodei bergabung dengan pasukan Genghis Khan setelah mereka selesai mengambil alih Urgenchi. Jumlah prajurit di kedua belah pihak kurang lebih sama, 50.000 hingga 60.000. Pasukan Mongol mengepung pasukan Khwarazm, yang menerjang musuh mereka dengan berani karena putus asa. Bila dibilang ini adalah pertempuran ofensif dan defensif bagi keduanya.. Namun, tiba-tiba saja satu kelompok prajurit Mongol yang terpisah tumpah ruah dari atas gunung, yang menurut orang tak mungkin diseberangi prajurit sebanyak itu. Ini benar-benar manuver khas pasukan Mongol : Mereka muncul kapan saja dan di mana saja. Para penyerang dadakan dengan mudah mematahkan salah satu sayap pasukan Khwarazm. Sama seperti makhluk bersayap yang tidak bisa terbang dengan baik apabila sayapnya patah, pasukan Khwarazm pun mulai terguncang. Mereka kalah. Akhirnya, pada sore hari, tepi sungai Indus dipenuhi mayat prajurit Khwarazm yang berserakan. Banyak dari mereka yang tenggelam di sungai Indus. Jalauddin, yang memimpin pasukannya di baris depan, dipojokkan ke tepi sungai bersama 700 pengikutnya yang masih hidup. Dia tahu dia sudah celaka. Pertama-tama diperintahkannya anak buahnya agar mendapatkan sejumlah besar koin emas serta harta berharga yang selama ini merek simpan sebagai dana perang ke dalam sungai. Berikutnya, dia menghampiri anggota keluarga. Dia menghunus pedang sabit dan memenggal kepala dua istri serta tujuh selirnya. Perempuan terakhir yang tersisa adalah ibunya, Al Chichen. Perempuan Persia bersuia akhir empat puluhan, ini adalah selir yang gpenah paling disayangi Sultan Muhammad pada satu saat. Dia menanti dengan mata terpejam sambil mengucurkan air mata.
Jalaluddin menghampiri ibunya dan berkata dengan nada sedih serta nelangsa, “Ibu, maafkan aku!”
Jalaluddin memenggal kepala ibunya dengan pedang sabit, tapi membiarkan kedua putranya hidup. Dia melepas baju zirah serta helmnya dan menyelam ke sungai, yang dalamnya kira-kira enam meter. Sementara para penyerang Mongol menghabisi 700 prajurit yang tersisa. Jalaluddin berenang menyeberang. Unit pemanah Mongol melepaskan anak panah, tapi dia sudah berada di luar jangkauan tembak.
Saat menyaksikan ini, Genghis Khan berseru kagum, “Lihat! Dia benar-benar kesatria sejati! Tak seorang pun anak buahnya melompat ke sungai untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Mereka semua ingin mengulur waktu supaya dia bisa meloloskan diri. Seorang pemimpin harus memilliki pengikut semacam itu.”
Ketujuh ratus prajurti Khwarazm bertarung hingga orang terakhir dan akhirnya dua anak laki-laki Jalaluddin meninggal juga. Para penyelam Mongol mengambil koin emas dan harta berharga sebanyak mungkin dari dasar sungai.
Dengan demikian,, bangsa Mongol pun menghancur-leburkan pasukan pertahanan terakhir Kesultanan Khwarazm. Setelah ini, Kesultanan Khwarazm lambat laun menghilang dari panggung sejarah dunia.
Pada tahun berikutnya, Genghis Khan mengutus Dorbei Doksin ke India beserta 20.000 serdadu untuk menaklukkan sebagian wilyah Khwaraz di India. Dorbei sekaligus juga mendapat misi untuk mencari dan mengumpulkan informasi tentang India. Doksin membuat beberapa ratus rakit besar daru kayu gelondongan untuk menyeberangi sungai. Setelah menyeberangi sungai Indus, dia maju ke daerah Nandana, menyerang dan merebut benteng di area itu. Garnisun berkkuatan 20.000 orang terdiri dari orang Turki dan India, dihabisi, sedangkan benteng diratakan dengan tanah. Berikutnya dia maju ke Multan dan Lahore. Karena mereka tidak bisa menemukan batu, para kuli Doksin menebang pohon di dekat sana dan mengganti batu dengan potongan kayu. Multan dan Lahore jatuh ke tangan bangsa Mongol, yang meluluhlantakkan dan meratakan semua bangunan serta benteng dengan tanah. Pasukan Mongol menemukan bargunng-gunung pampasan perang di sana.
Saat musim panas kian dekat, suhu di area itu naik secara drastis. Orang-orang di area itu harus tinggal di dalam rumah yang secara khusus dirancang dan dibangun shingga tahan terhadap suhu pada puncak musim panas. Bekerja di luar dan bepergian bahkan dilarang keras. Pasukan tidak dapat tinggal di sana lagi. Doksin pun kembali menyeberangi Sungai Indus dan bergabung dengan pasukan utama Genghis Khan di Ghazna.
Doksin memberikan laporan kepada Genghis Khan, “Di sana airnya kotor dan suhunya terlalu tinggi apda musim panas. Area itu bukan untuk dihuni manusia.”
Laporan Doksin memang tepat.
Sementara itu Jalauddin, yang telah berhasil lolos dari maut, pergi ke Delhi. Di sana, dia berada di bawah perlindungan Sultan Delhi selama beberapa waktu, kemudian dia kembali ke Persia. Selama sepuluh tahun, dia terus smelawan aktivitas bangsa Mongol, tetapi tanpa hasil. Akhirnya, para pendekar kurdi, yang berada di bahwah kekuasan Imperium Mongol, menangkapnya di Asia Minor, dan Jalaluddin pun dipenggal.
43. AKHIR RIWAYAT SULTAN MUHAMMAD
Jebe dan Subedei terus mengejar Sultan Muhammad bersama 30.000 prajurit kavaleri mereka. Saat itu, bulan April 1220. Setelah Samarqand jatuh, Genghis Khan mengetahui bahwa Sultan Muhammad telah melarikan diri. Mereka pun membentuk korps pengejar khusus, yang para prajuritnya diambil dari keempat kelompok. Komandannya adalah Jebe dan Subedei. Genghis Khan biasanya menempatkan dua komandan dalam satu unit militer yang memiliki misi penting. Mereka diperintahkan untuk mendiskusikan segalanya ketika harus mengambil keputusan. Jebe dijadikan pembuat keputusan akhir.
Setelah menyeberangi Sungai Syr, mereka mulai menyapu area demi area, disertai derap kaki kuda yang mengguncangkan bumi dan bunyi menggemuruh, laksana topan. Ini adalah langkah pertama dari mars fantastis sejauh hampir 13.000 kilometer, yang tidak ada tandingannya dalam sejarah manusia, dan memakan waktu tiga tahun.
Kota pertama yang mereka datangi adalah Balkh. Perlu disinggung bahwa Balkh bukanlah kota yang membangkang pada saat itu. Pasukan Mongol membuat kota itu terkejut dan kewalahan berkat kekuatan mereka yang superior. Para pemimpin kota bersedia bekerja sama dengan bangsa Mongol dan menyediakan makanan serta air, sementara pasukan tersebut mengejar Sultan. Tanpa melawan, rakyat menerima tiga shahna yang ditempatkan Jebe. Jebe mengetahui bahwa Sultan telah pergi beberapa minggu sebelumnya. Jebe memilih beberapa apemandu lokal dan bergegas melanjutkan pengejaran. Belakangan kota ini berpaling Jalaluddin dan menjadi basis pemberontakan sehingga dihancurkan sepenuhnya.
Barsi depan pasukan pengejar tiba di Kota Zava, yang terletak di padang luas dengan tiga barak perlindungan yang dibangun dari lumpur kering. Warga mulai gemetar ketakutan saat menyaksikan sekelompok manusia dan kuda mendekat dari Timur, menghasilkan kepulan debu tebal yang membumbung ke langit. Mereka menutup gerbang Kota mereka rapat-rapat dan bersiaga. Pasukan Mongol tiba di depan gerbang utama disertai derap kaki kuda yang mengguncangkan bumi dan mendesak mereka agar membuka gerbang, serta menyerah. Para Pemimpin kota itu mengadakan rapat darurat dan memutuskan untuk tidak menyerah. Karena pasukan Mongol sedang terburu-buru mengejar Sultan, mereka hanya berniat lewat. Namun, ketika prajurit kavaleri terakhir yang membawa panji-panji baru saja melintasi gerbang kota, orang-orang mulai bersorak dan berolok-olok sambil menggebuk genderang besar serta tambur. Ini sama saja dengan mengundang tragedi atas diri mereka sendiri. Mereka menghina panji-panji Genghis Khan! Pasukan Mongol pun kembali dan menyerang ketiga barak perlindungan. Sesudah tiga hari kota itu jatuh  ke tangan bangsa Mongol. Seluruh penduduk dibantai, sedangkan barak perlindungan dan tembok pertahnanan diratakan dengan tanah. Kota tersebut dibumihanguskan dan tak ada yang tersisa. Ini adalah pukulan pertama dari pasukan pengejar dan kekuatannya amatlah dahsyat.
Pada bulan Juni 1220, pasukan Jebe dan Subedei tiba di Nishapur. Jebe mendesak mereka agar menyerah dengan cara mengirim utusan ke dalam kota. Nishapur, sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, awalnya juga kooperatif dalam menerima tuntutan Jebe. Jebe meninggalkan tiga Shahma di kota ini dengan dekrit tertulis serta al tangha, atau stempel resmi. Dekrit tersebut berbunyi sebagai berikut :
Kaum monarki, aristikrat dan rakyat jelata ....
.... ketahuilah.
Tuhan menyerahkan,
Negeri dari matahari terbit hingga
Matahai terbenam
Kepadaku
Mreka yang menerima hal ini
Akan selamat beserta istri dan anak-anak mereka.
Dan yang lain akan musnah dari muka bumi ini.
Pasukan pengejar Mongol menerjang Juvine, Tus, Radkan, Khabushan, Isfarayin, dan Adkan, satu demi stu. Shahma ditinggalkan di kota-kota yang menyerah, sedangkan kota-kota lainnya dihancurkan, beserta seluruh populasinya.
Pasukan Jebe dan Subedei tiba di kota Damghan, yang terletak di ujung timur Pegunungan Elburz, di sekitar tepi selatan Laut Kaspia. Pasukan Mongol memasuki jantung Imperium Persia zaman dahulu. Saat mengetahui kedatangan pasukan Mongol, kaum aristikrat dan pemimpin kota kabur ke Girdkuh, benteng kuat di dekat sana. Benteng Girdkuh terletak di puncak gunung tinggi. Ini adalah salah satu markas Hassassin, salah satu aliran Islam.
Hassassin adalah sekelompok kaun Syi’ah yang memberontak dan menuntut reformasi keagamaan. Karena mereka belum diterima oleh aliran Islam yang utama, mereka pun mundur ke pegunungan. Mereka membangun benteng di puncak gunung tinggi di banyak tempat dan bersembunyi di sana, menunggu masa mereka. Mereka menghadapi musuh bukan lewat pertempuran biasa, melainkan lewat tindakan pembunuhan oleh individu atau satu regu. Pada masa-masa normal mereka merenungi kehidupan, menernakkan domba dan kambing, minum arak anggur atau arak madu, menggubah syair, melukis dan menari diiringi alunan musik. Mereka memangil pimpinan mereka “Hassan Sbda”, yang artinya “Pria tua gunung”, Hassan Sabda acap kali turun ke desa, membujuk anak-anak muda berusia dua abelas hingga dua puluh tahun, membawa mereka naik ke gunung untuk mencuci otak mereka. Dia acapkali mengajari mereka setelah memberi mereka hishash, sejenis  halusinogen.
“Yang perlu kalian lakukan adalah membunuh. Jika kalian berhasil menuntaskan misi kalian dari Tuhan, kalian akan masuk Surga. Surga adalah tempat yang dihiasi sepuluh ribu jenis bunga wangi-wangian. Di sana, kalian akan mendapati banyak sekali wanita cantik yang menantikan kalian. Kalian akan hidup di sana selamanya tanpa menjadi tua atau mati.”
Anak-nak muda bi bawah pengaruh Hashish, meninggalkan tempat itu hanya dengan membawa sebilah belati pendek di dalam pakaian mereka dan melakukan pembunuhan. Tingkat keberhasilan mereka demikian tinggi sehingga banyak kaum monarki dan pimpinan agama yang yang menjadi korban siasat mereka. Area yang berada di bawah pengaruh kaun hassassin terbentang dari Turki hingga Suriah di barat; Kaum monarki dan pimpinan agama yang menjadi target bahkan harus memakai baju zirah saat tidur. Mereka disebut “Hssassin” karena mereka melakukan pembunuhan di bawah pengaruh Hashish. Mereka tidak bisa disingkirkan karena markas mereka di puncak gunung yang tidak bisa didekati pasukan lain. Jebe dan Subedei mengirim pasukan gerak cepat beranggotakan 3.000 prajurit untuk merebut benteng Girdkuh, sedangkan pasukan utama menuju ke Damghan. Damghan direbut setelah melawan selama tujuh hari, dan semua penduduknya yang berjumlah 50.000 orang dibantai. Sementara itu, pemimpin pasukan gerak cepat, yang menuju ke Girdkhuh, memilih 500 pakar perang gunung di antara 3.000 prajuritnya, dan membiarkan mereka mendaki gunung. Mereka semua berhasil mencapai puncak gunung dan menaiki benteng menggunakan tangga tali. Mereka membukakan gerbang untuk pasukan utama dan menguasai 2.000 serdadu garnisun di bawah kendali mereka. Semua anggota Hassassin dan garnisun dipenggal, sedangkan semua aristikrat dari Damghan, yang bersembunyi di sana, di tahan. Di antara mereka, orang-orang yang kooperatif dan menyediakan informasi berharga diselamatkan, sedangkan yang lainnya dibantai.
Pasukan Mongol melanjutkan misi mereka, merebut Samnan dan Khuvar sembari membantai semua warganya, dan terus melaju ke Ray, kota terbessar di kawasan ini. Kota Ray, atau kelak disebut Teheran, bukan saja kota terbesar, melainkan juga pusat industri di kawasan itu, terutama industri tembikar dan keramik. Kota ini, juga diluluhlantakkan dans ejumlah besar warga dibantai.
Dari sana, pasukan Mongol mengetahui bahwa Sultan Muhammad telah kabur ke Hamadan, kota di antara Ray dan Baghdad. Pasukan Mongol pun maju ke Hamadan. Aladduala, penguasa Hamadan, membuka gerbang dan takluk kepada bangsa Mongol. Dia menyediakan makanan serta pakaian dan menerima Al tamgha, stempel Genghis Khan. Jebe menempatkan tiga Shahma di sana tetapi tida tidak menemukan Sultan di sana.
Aladduala berkata, “Diamelarikan diri ke Mazandaran kira-kira tiga pekan lalu> Anggota keluarga dan selir-selirnya tinggal di Mazandaran. Walau begitu dalam perjalanan ke kota, sekitar 30.000 prajurit setianya ditempatkan di sana untuk menjaga kota. Nama lokasi itu Sujas.”
Mazandaran adalah kota yang terletak di dekat tepi barat daya Laur Kaspia dan kira-kira 320 kilometer dari Hamadan, di sebelah utara timur laut. Pada saat itu, ketika Sultan Muhammad tengah melarikan diri dari Samarqand, dia mengirim kurir kilat ke Kota Urgenchi, tempat anggota keluarga  dan selirnya tinggal, serta memindahkan mereka semua ake Mazandaran. Mazandaran berada di wilayah paling barat Kesultanan Khwarazm dan dekat dengan perbatasan Shirvan (Sekarang Azerbaijan).
Pasukan Mongol bentrok dengan 30.000 serdadu Sultan di Sujas. Baris pertahanan terakhir Sultan diruntuhkan. Lusinan anak panah dari unit pemanah Mongol bertanggung jawab atas kematian dua komandan pasukan pertahanan, yaitu Beg-Tegin Silahdar dan Kuch-Buga Khan, sedangkan pasukan mereka dibinsakan. Pasukan Mongol kemudian maju ke Mazandaran, menginjak-injak mayat prajurit Khwarazm yang bertebaran di padang.
Saat menerima kabar bahwa pasukan pertahanan terakhir telah dihancurkan, Sultan Muhammad memanggil Naziluddin, Gubernur Mazandaran, sekaligus juga abdi setianya.
“Bawa semua anggota keluargaku ke dua benteng di Larijan dan Ilal. Tempat setengah-setengah di setiap benteng. Bunuh semua tawanan kita.”
Di Mazandaran, mereka menahan sekitar 150 tawanan yang ditangkap oleh Sultan selagi dia menaklukkan serbagai area yang berlainan. Para tawanan adalah anak laki-laki atau saudara laki-laki kaum monarki dari beraneka area yang telah dia taklukkan. Naziluddin, abdi setia sang Sultan, emngikat tangan dan kaki semua tawanan serta melemparkan mereka ke dalam sungai. Saat masuk laporan darurat yang menyampaikan bahwa pasukan Mongol sudah sampai di luar, Sultan bergegas meninggalkan kota, setelah meminta Naziluddin mengurus keluarga dan selirnya baik-baik.
Sebelum pergi, dia menerima saran dari Naziluddin.
“Sultan, ubahlah pakaian Anda. Siapa tahu mata-mata Mongol sduah ada di dalam kota.”
Naziluddin membawakan Sultan seperangkat pakaian kotor butut yang diambilnya dari seorang pengemis. Sang Sultan, setelah memandang  baju compang camping tersebut, mengangguk dan mengganti busana sutranya yang berbordir emas dengan pakaian pengemis. Dia juga mengganti serbannya, yang dihiasi permaa dan bulu merak, dengan serban pengemis. Dia pun bergeas meninggalkan kota bersama dua pelayannya saja. Pelarian Sultan serta merta dilaporkan kepada Subedei oleh mata-matanyaa. Subedei segera mengutus unit pengejar. Ketika unit pengejar Mongol tiba di tepi laut Kaspia, sang Sultan baik sebuah perahu nelayan kecil, tengah mendayung menjauhi pantai dengan kedua pelayannya. Sambil berkuda kencang di sepanjang garis pantai, para prajurit Mongol mengejarnya, menembakkan anak panah selagi mereka melaju. Akan tetapi, perahu nelayan itu sudah berada di luar jangkauan tembak.
Naziluddin bergegas ke luar kota bersama sekitar empat ratus anggota keluarga serta selir sultan dan menempatkan mereka di dua benteng. Larijan dan Ilal. Subedei serta merta mengejar mereka dan mengepung kedua benteng. Karena benteng itu dibangun dengan kokok di atas gunung tinggi. Subedei memperkuat kepungan alih-alih menyerang secara langsung. Mereka bertahan selama dua minggu. Namun, karena mereka kehabisan air minum dan mulai mati karena dehidrasi, Naziluddin pun menyerah. Dia turun gunung dan menyerahkan diri.
Putra dan cucu laki-laki Sultan Muhammad, yang berjumlah sekitar enampuluh orang, dipenggal semuanya. Sekitar duaratus istri dan selirnya serta sekitar lima puluh anak perempuannya dikirimkan kepada Genghis Khan di Talaqan setelah dihinakan dengan berbagai cara. Di antara mereka ada ibu sultan yang sudah tua. Terke Khatun, yang pada satu saat dianggap sebagai pahlawan di dunia mereka. Setelah mereka dibawa ke Dataran Mongolia, mereka terpaksa menjalani kehidupan budak.
Di sisi lain, Naziluddin dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal terampil, dan kulitnya digunakan untuk membungkus boneka jerami. Pasukan Mongol kembali ke Mazandaran dengan boneka berkulit manusia di depan mereka.
Pada saat bersamaan, Jebe merebut Kota Mazandaran, benteng pertahanan terakhir Kesultanan Khwarazm, serta memenggal 100.000 warga pembangkang. Ini artinya Kesultanan Khwarazm sudah runtuh sepenuhnya. Tapi apa yang terjadi pada Sultan Muhammad? Setelah dia meninggalkan Mazandaran, dia kabur ke pulau kecil di laut Kaspia. Pulau tersbut tak berpenghuni, hanya dipenuhi batu yang berlumur kotoran camar. Kedua pelayan Sultanmembuat gubuk dari potongan kayu kecil dan rumput kering yang merka kumpulkan. Setelah mereka menghabiskan semua makanan yang mereka bawa, mereka harus menangkap ikan untuk bertahan hidup.
Dia bertahan di sana selama beberapa waktu. Namun dia larut dalam duka teramat sangat ketika dia mendengar kabar dari seorang nelayan yang mampir ke pulai itu bahwa semua keturunan laki-lakinya telah dibunuh serta istri, selir dan anak perempuannya telah dibawa ke tempat lain sesudah dihinakan bertubi-tubi. Setelah itu, dia pun meninggal beberapa minggu kemudian karena sakit, kemungkinan raang selaput dada akut, disebabkan oleh beban emosional dan malnutrisi. Pria yang apda satu saat memilki Imperium dengan tanah yang laus, rakyat yang jumlahnya melebihi bintang di langit, dan ratusan selir meninggal dalam baluran pakaian pengemis compang camping, dalam gubuk di pulau kecil yang tak henti-hentinya diembus angin dingin.
Sebelum dia meninggal, dia berteriak dengan mata nyalang, “Ah! Di mana semua rakyatku? Di mana tanhku yang luas? Sekarang, aku bahkan tidak punya cukup tanah untuk tubuhku sendiri!”
Kedua pelayannya mencoba menguburkannya, tetapi mereka tidak bisa menggali lubang yang cukup dalam untuk mengubur jasadnya, sebab setelah menggali beberapa inci, mereka amengenai batu. Mereka meninggalkan pulau tersebut setelah menutupi jenazah Sultan dengan kerikil dan batu kecil. Saat itu, bulan Januari 1221, Sembilan bulan setelah pasukan pengejar Mongol diutus.
44.. MARS PANJANG JEBE dan SUBEDEI
Musim dingin itu, salju turun denegan lebat. Padang Raya  Mugan, yang dekat dengan pantai Laut Kaspia, diselimuti salju putih. Dari situ mereka bisa melihat cakrawala Laut Kaspia jauh di sana. Di dataran luas yang diselimuti salju, tersebarlah yurt – tenda unik Mongol berbentuk kubah dari kain Felt – yang tak terhitung jumlahnya, membentuk sebuah kota. Jebe dan Subedei melewatkan musim dingin di sana. Baik manusia mau pun kuda tak dapat bergerak dengan bebas karena salju menumpuk hingga setinggi manusia. Sementara itu, mereka mengirimkan bergunung-gunung pampasan perang kepada GenghisKhan di Talaqan. Mereka tidak boleh meninggalkan tempat itu hingga mereka telah memastikan kematian Sultan Muhammad.
Pada bulan Februari, dua pelayan yang menyertai Sultan dikonfirmasi lewat mereka. Subedei mengirim  seorang kurur kilat. “Kurir Panah”, Julukan kurir kilat dalam pasukan Mongol, lari sejauh 1.900 kilometer dalam waktu tujuh hari, tiba di perkemahan utaman Genghis Khan sambil membawa surat Subedei. Subedei melaporkan kepada Genghis Khan bahwa penaklukkan Khwarazm baat sudah paripurna dan Sultan Muhammad sudah meninggal dunia. Subedei sekaligus melaporkan iklim politik di area itu, termasuk aktivitas pendukung Jalaluddin, yang masih hidup pada saat itu. Di Dunia Islam yang masih berdiri. Dia juga menyatakan opini terntang pergerakan pasukan mereka selanjutnya dan meminta persetujuan Genghis Khan. Sang Jendral besar, Subedei, bermta tajam dan penilaiannya cukup akurat. Dia sudah melihat jauh ke masa depan Imperium Mongol.
Jawaban Genghis Khan adalah L “Majulah ke Rusia!”
Pada musim semi 1221, Jebe menuju ke Irak. Di daerah Ardabil di Irak, seorang pria bernama Ai Baba mengumpulkan pasukan, kemudian menyerang dan merebut Hamadan, kota yang sebelumnya telah menyerah kepada bangsa Mongol, dan membunuh tiga Shahma di sana. Ai Baba juga memenjarakan Aladduala di sebuah kastil kecil di Girit. Jebe mengepung Hamadan lagi, menyerang, dan berhasil merebut kembali kota tersebut. Kepala pemberontakan, Ai Baba, mencoba menyerah,n tetapi Jebe tidak menerima permintaannya dan memerintahkan agar Ai Baba serta beberapa ratus pengikutnya dipenggal. Beikutnya, Jebe maju ke Ardabil. Di sana telah pecah pemberontakan, dan dia pun membinasakan serta membasmi seluruh penduduk. Jabatan Gubernur Aladduala dikembalikan, dan supermasi bangsa Mongol dipulihkan.
Jebe dan Subedei menuju ke utara dari kawasan barat daya Laut Kaspia. Mereka menyeberangi perbatasan utara Khwarazm, menapak masuk ke Shirvan. Pasukan Mongol merebut Maragha dan Nakchivan, membanti warga yang melawan. Saat pasukan Mongol mengepung Tabriz, kota penting Shirvan, Ozbeg, sang atabeg atau penguasa Shivran, angkat tangan untuk menyerah. Dia mengirimkan tuzghu, simbol penguasa Shirvan, sejumlah bedsar emas dan harta berharga, sepuluh utusannya, serta dua puluh wanita cantik.
Saat menghadapi utusan mereka, Jebe menghunus pedang sabitnya dan memenggal kepala mereka, yang langsung jatuh ke tanah. Karena mereka tidak dapat dipercaya sepenuhnya; ini menjadi contoh dan peringatan. Permintaan menyerah Ozbeg diterima, dan Tabriz selamat, Ozbeg menjadi raja terakhir kaum Turki Saljuk.
Pasukan Mongol maju ke arran (Sekarang armenia). Dari sana, terbentanglah dunia kristen. Bangsa Mongol merebut Bailaqan, Ibu Kota Arran, dan menempatkan tiga shahma di sana, supayaorang-orang tahu bahwa wilayah itu kini milik Mongol. Pasukan Mongol terus maju, menapak masuk ke Georgia, satu lagi kerajaan Kristen, yang terletak di sebelah selatan Pegunungan Kaukasus. Pada masa itu, Georgia tengah berada di puncak kekuasaan dan kekayaannya, serta para kesatrianya dikenal tak terkalahkan. Para kesatria mengenakan tunik dan tudung protektif dari logam dan terlebih lagi, mereka memakai baju zirah logam. Begitu mreka mengenakan baju zirah dan helm, serta menutu pelindung muka yang menutupi mata mereka, tiak ada anak panah yang dapat melukai mereka. Mereka dipersenjatai tombak panjang berat, pedang, dan kapak perang besar.
Raja Georgia, Girogi IV Lasha, menghadapi pasukan Mongol dengan kavaleti berbaju zirahnya yang tak terkalahkan. Para kesatria, berjumlah 10.000 orang, dalam balutan baju zirah dan helm pelindung mereka, dengan bangga menerjang pasukan Mongol. Kuda mereka bahkan mengenakan pelindung berat. Di belakang mereka, sekitar 20.000 prajurit infantri mengikuti layaknya bayangan mereka. Mereka berhadapan di padang Tiflis.
Setelah secara seksama mengevaluasi kekuatan musuh serta situasi, Subedei berdiskusi dengan Jebe.
“Menurutku kita harus memisahkan paskukan kesatria dan prajurit Infantri lebih dulu.”
Jebe sepakat. Selama satu saat yang singkat, mereka menyusun siasat pertempuran. Pertempuran pun dimulai. Komandan pasukan Georgia, Giorgi IV, mengira bahwa pasukan Mongol, yang senjata utamanya adalah busur dan anak panah, tak akan mungkin sanggup mengalahkan kavaleri kesatrianya yang dilindungi baju zirah logam tahan panah. Setelah sang Komanan memerintahkan mereka maju, kavaleri kesatria melesat ke arah pasukan Mongol bagaikan batu besar yang menggelinding. Subedei yang berntidak sebagai komandan baris depan, serta merta memerintahkan prajuritnya agar mundur. Selama beberapa waktu, kavaleri kesatria mengejar pasukan Mongol. Akan tetapi, kuda mereka tidak bisa menyusul karena kuda-kuda tersebut mengenakan pakaian pelindung yang sangat berat dan mengangkut prajurit berbaju zirah. Begitu kavaleri kesatria melewati satu titik tertentu, mereka tiba-tiba diserang oleh pasukan tak dikenal dari samping. Mereka ini adalah kavaleri Mongol pimpinan Jebe. Pada saat bersamaan, Subedei dan pasukannya berputar serta mulai melakukan serangan balik. Pertarungan tersebut berlangsung ketat. Pendekar kavaleri berbaju zirah berat tidak bisa bergerak secepat prajurit Mongol, yang mengenakan baju zirah sangat ringan dari kulit. Para prajurit Mongol menggunakan tombak berkait atau laso untuk menjungkalkan para kesatria Georgia dan begitu mereka jatuh ke tanah mereka tidak mungkin bisa naik lagi ke kuda mereka. Para prajurit kavaleri pimpinan Jebe membinasakan 20.000 prajurit infantri yang mengikuti kavaleri kestria. Setelah menumbangkan ke 20.000 prajurit tersbut, pasukan Subedei kembali dan lagi-lagi bergabung dengan pasukan Jebe untuk membereskan para kesatria satu persatu. Mereka melepas helm para kesatria dan menghantam kepala atau wajah mereka denegan kapak tempur atau gada. Sepuluh ribu kesatria Georgia yang tak terkalahkan dan dua puluh ribu prajurit infantri dibantai seluruhnya. Dengan demikian, Kerajaan Georgia pun jatuh ke tangan Mongol.
Jebe dan Subedei menyeberngi Pegunungan Kaukasus lewat gerbang Dorbent, Kini, mereka berada di eropa. Mata Jebe dan Subedei menjadi saksi atas citra indah stepa Kpchak yang luas. Saat itu, Februari 1222 dan padang masih diselimuti salju. Gemuruh tapak kaki kuda mereka di dataran luas menyebar di salju, yang menyerap bunyi tersebut. Langit Biru laut, daratan dengan cakrawala di keempat arahnya; tidak ada yang berbeda dengan kampung halaman mereka di Dataran mongol.
Kini, sudah empat tahun sejak mereka amengawali misi dan ekspedisi mereka. Daya hidup mereka yang kuat, budaya tradisional mereka yag menitahkan bhawa tempat mana pun dapat menjadi rumah mereka begitu mereka mendirikan yurt, serta filosofi mereka bahwa mereka ingin mati di medan tempur, semuanya berkontribusi dalam kekebalan mental mereka yang kuat guna menagkal stres karena mars yang panjang. Yang terpenting adalah filosofi tradisional berumur ribuan tahun yang terukir di tulang mereka, bahwa seorang laki-laki lahir dalam yurt, tapi harus mati di medan tempur. Inilah latar belakang mental mereka sebagai pendekat, dan panduan yang mengarahkan pergerakan serta aksi mereka. Sahabt dan rekan terbaik mereka, kuda Mongol, yang meiliki ketangguhan, ketegaran, dan daya hidup sama kuatnya seperti pemiliknya, menyusuri medan tempur bersama mereka dan menapaki jarak yang teramat jauh. Kuda Mongol yang tidak membutuhkan pakan khusus, tidak seperti kdua jenis lain, bisa memakan salju dan es serta mempunyai insting untuk mencari makanan sendiri.
Pasukan ekspedisi Jebe dan Subedei berjumpa pasukan koalisi empat suku berbeda yang menyatakan bahwa mereka memiliki negeri stepa Rusia. Mereka adalah kaum Alan, Lezghian, Sirkasia, dan Turki Kipchak. Mereka berdiri berhadapan dengan bangsa Mongol bersaa 50.000 serdadu mereka. Mereka membentuk persemakmuran, tetapi kerja sama di antara mereka tidaklah terlalu mulus. Subedei memutuskan untuk menggunakan taktik tipu daya. Kaum Alan, Lezghian, dan Sirkasia adalah penduduk asli daerah tiu, berbeda engan kaum Turki. Kampung halaman mereka asli adalah di Asia Tengah dan leluhur merekalah yang tleh bermigrasi ke area ini. Bangsa Mongol dan Kaum turki Kipchak bahkan berpenampilan mirip. Perang psikologis telah dimulai dan dibentuklah unit pasifikasi. Taktik tersebut berhasil. Mereka kehilangan motivasi untuk bertarung sebab kaun Turki Kipchak juga orang asing bagi ketiga suu lainnya.
Bangsa Mongol menghancurkan orang-orang Alan, Lezghian dan Sirkasia, satu demi satu, dan terakhir mereka membinasakan kaum turki Kipchak, yang merupakan suku terkuat dan tidak lagi bekerja sama dengan ketiga suku lainnya.
Jebe dan Subedei tiba di Pantai Laut Hitam. Mereka berderap di sepanjang garis pantai, sambil memandang Laut Hitam biru tua, dan sampai di area utara . Semenanjung Krimea. Pasukan Ekspedisi Mongol tinggal di sana selama beberapa waktu.
Suatu hari, Subedei kedatangan tamu yang adaah orang Venesia. Si orang Venesia digiring ke dalam tenda tamu dan dijamu dengan teh, Subedei menanyakan tujuan kunjungannya. Pada masa itu, orang-orang Veensia tengah berkonflik dengan orang-orang  Genoa demi memperebutkan supremasi dagang. Sang tamu menjelaskan situasi tesebut dan meminta Subedei menyerang Kota Sudak di tepi selatan Semenanjung Krimea, yang diduduki oleh orang-orang Genoa.
Subedei mengamati baik-baik dan mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Jika kukabulkan permintaanmu, apa yang bisa kau lakukan untukku?”
Si orang Venesia membungkuk dalam, dua kali dan menjawab, “Akan kulakukan apapun yang Anda minta, jika kau sanggup melakukannya.”
Subedei membuka mulut pelan-pelan, lagi-lagi sesudah memperhatikan pria itu baik-baik, “Aku butuh peta seluruh Eropa yang akurat dan terperinci. Aku juga membutuhkan infomasi tentag semua raja dan keturunan mereka, serta besar pasukan mereka. Apa menurutmu kau bisa membawakan itu untukku?”
Si orang Venesia lagi-lagi membungkuk dan menjawab, “Pekerjaan itu tak akan mudah. Namun, pekerjaan itu juga tidak mustahil karena aorang-orang seperti kami, pedagang bepergian ke mana-mana sepanjang waktu. Jika Anda bisa memberiku waktu tiga bulan, akan kubawakan jawaban untuk Anda.”
Dibautlah kesepakatan antara Subedei dan si orang Venesia. Tiga bulan kemudian, si orang Venesia membawakan informasi tersebut, dan bahkan lebih daripada yang diminta Subedei. Dia bukan sja membawakan peta Eropa paling mendetail, apda masa itu, melainkan juga semua informasi mengenai raja setiap negara, kerabat mereka, keturunan mereka, jumlah prajurit saat ini dan jumlah maksimum prajurit yang mungkinpada masa mendatang, dan bahkan kepribadian serta kegemaran mereka. Subedei puas. Terbentuklah jaringan mata-mata jangka panjang yang baru dipimpin oleh si orang Venesia. Sebagaimana yang dijanjikan, Subedei menyerang dan menghancurkan Kota Sudak, memperoleh banyak sekali pampasan peang.
Pada masa itu Rusia terbagi menjadi delapan wilayah administratif. Setiap wilayah administratif dipimpin oleh bangsawan agungnya sendiri, dan wilayah-wilayah adinistratif tersebut,yaitu Kiev, Chenigov, Galich, Smolensk, Rostov, Suzdal, Norvogorod, dan Vladimir.
Kabar bahwa bangsa Mongol telah menginjakkan kaki ke Teritori Rusia dan menghancurkan pasukan koalisi di daerah itu, termasuk kaum Turki Kipchak, disampaikan kepada Mstislav, bangsawan agung Galich, Istrinya adalah putri salah satu kepala suku turki Kipchak. Bangsawan Agung ke delapan wilayah itu berkumpul dan mengadakan pertemuan. Mereka sepakat menggunakan pasukan mereka guna menghuum penginvasi tangguh ini.
“Ereka bukan sembarang penginvasi! Mereka berusaha menaklukkan kita, seluruh Rusia! Kita bisa mengetahui hal itu dari apa yang telah mereka perbuat sejauh ini. Jika kita gagal menghancurkan mereka sekarang juga, kita akan dikuasai oleh mereka.”
Mata Mstislav jeli dan penilaiannya tepat. Bersama-sama, mereka membuat pasukan koalisi beranggotakan 80.000 orang. Mereka berderap ke selatan, menyusuri tepian sungai Dnieper, dengan 80.000 serdadu mereka dan menemui para serdadu Mongol, yang jumlahnya telah berkurang menjadi 25.000, di tepi sugnai Kalka, sebuah astuari di sebelah utara Laut Hitam. Mereka berdiri berhadapan di padang raya Kipchak.
Pada saat ini, sebagian bangsawan agung, dipicu semangatnya oleh jumlah mereka yang superior, melesat ke pihak Mongol. Baris depan Mongol berbalik dan mulai melarikan diri. Pasukan pengejar Rusia tidak bisa menyusull mereka dan mulai kelelahan. Pada saat itu, dari kedua sisi bukit yang tengah mreka lintasi, bola-bola api melejit ke langit dan asap tebal menyelubungi area itu bagaikan cadar. Baris depan Mongol yang melarikan diri pun menghilang ke dalam asap ini. Pada saat bersamaan, hujan anak panah menimpa para serdadu Rusia yang mengejar. Pasukan Rusia yang kocar kacir berusaha berbalik dan mundur, tapi mereka malah semakin berantakan, bertabrakan dengan rekan-rekan mereka sendiri yang tengah maju, Kekacauan selama beberapa menit ini sudah cukup bagi unit pemanah Mongol. Pasukan Rusia dibinasakan dalam waktu satu hari saja. Padang Kipchak dipenuhi mayat prajurit Rusi dan yang selamat sangatlah sedikit. Sat itu, tanggal 31 Mei 1223. Belakangan, tiga bangsawan agung Rusia yang tertangkap dimasukkan ke karung kulit dan mati kehabisan napas. Itulah akhir perlawanan kaum aristokrat Rusia.
Jebe dan Subedei pun berangkat untuk pulang. Mereka menyeberangi Sungai Don dan Sungai Volga. Setelah menyeberangi Sungai Volga, mereka bertemu bangsa Bulgar. Sesudah kalah dalam ertempuran, bangsa Bulgar menyerah kepada bangsa Mongol. Pasukan Mongol menghadapi kaum Turki Qangli lagi setelah menyeberangi Pegunungan Ural. Mreka dengan mudah dihancurkan. Setelah itu, tidak ada siapa-siapa lagi di depan mereka. Akhirnya, mereka bergabung dengan pasukan utama Genghis Khan di dekat danau Balkhash, mempergunakan mars sejauh hampir 13.000 kilometer, yang telah memakan waktu lebih dari tiga tahun. Ini adalah mars kavaleri yang menempuh jarak terjauh, tidak pernah tertandingi pada masa-masa sebelumnya mau pun setelahnya.
45. PERTEMUAN DENGAN CHANG CHUNG
Tao adalah pencipta segalanya di alam semesta ini. Tao menciptakan matahari, bulan, bintang, bumi dan semua makhluk hidup – binatang, tumbuh-tumbuhan, dan bahkan manusia. Tao bukan saja pencipta benda-benda yang tampak, melainkan juga yang tidak tampak, seperti roh dan jiwa. Orang-orang membicarakan kehebatan Tuhan, tetapi segelintir saja lah yang mengakui kehebatan Tao. Sebagian orang mengira Tao sama dengan Tuhan, tapi itu tidak benar. Tao tidaklah seperti Tuhan yang orang-orang kira, yaitu Tuhan yang seperti manusia, bisa berpikir, bicara, mendengarkan, marah, dan bahagia. Kita kemudian tiba pada satu pertanyaan terakhir : “Apakah Tao itu?”
Chang Chun sedang memberikan kuliah di depan sekitar tiga ratus orang. Saat itu musim panas 1222, di kamp perang utama Genghis Khan di sisi Pegunungan Hindu Kush. Puluhan ribu kemah tersebar dari sisi gunung hingga ke dataran luas di bawah, sedangkan markas besar panglima tertinggi ada di bagian paling utara, Dalam sebuah tenda besar, dengan kapasistas tiga ratus hingga empat ratus orang, berkumpul semua tokoh penting Imperium Mongol, termasuk Genghis Khan sendiri, putra-putranya, para panglima, dan pejabat tinggi.
Kuliah berlanjut :
“Apakah tao itu? Tao adalah semacam energi yang sangat sulit dijabarkan. Energi ini tidak terbatas karena memang tak terbatas. Ia bebas dari waktu ke waktu dan tak bertepi. Semua yang ada di alam semesta semata-mata merupakan manifestasi yang berbeda dari energi ini. Energi ini mengubah manifestasi, atau wujudnya, dari waktu ke waktu. Ketika kita menyulutkan api ke kayu bakar, kayu tersebut menjadi arang setelah emngubah diri menjadi lidah api, asap, dan panas. Artinya, wujud dan kandungan asli kayu bakar itu telah lenyap. Akan tetapi lewat mata seseorang yang memahami Tao, tiada yang berubah. Yang terjadi adalah perubahan sederhana energi asli dalam kayu menjadi wujud yang berbeda. Energi tidak pernah punah atau lenyap. Kita namai energi tersebut Tao, sebab ia senantiasa bergerak. Energi ini berakumulasi di satu tempat, menciptakan amsssa yang apdat, dan al hasil terlihat seolah-olah tidak bergerak sama sekali, tapi itu tidak benar. Energi itu terus menerus bergerak. Satu-satunya perbedaan adalah kecepatan gerak dalam tiap-tiap wujud atau manifestasi. Semua fenomena dan wujud dalam kehidupan ini, pemikiran kita, emosi kita, perasaan bahagia, marah, cinta, serta benci merupakan aliran, atau pergerakkan, energi ini. Makna asli tao dalam bahasa Cina adalah cara bergerak.”
Dua penerjemah berbeda menerjemahkan kuliah Chang Chun ke dalam bahasa Mongolia dan Persia, sedangkan Yelu Chutze, di kursi depan, emncatatnya dalam tulisan :
Chang Chun melanjutkan :
“Sejak saya masuk biara ketika usia saya empat belas, saya telah mempelajari dan meneliti pergerakan energi ini selama enam puluh tahun. Pergerakan energi sangatlah rumit serta tak dapat diprediksi. Sulit menemukan pola slinya. Saya hanya bisa memahaminya secuil kecil. Pergerakan energi bukan saja terjadi di dalam satu entitas tunggal, melainkan juga di antara benda-benda lain, misalnya antara manusia dan bumi, manusia dan matahari, atau bahkan antara bintang dan bintang. Nah, seseorang tentu akan menanyai saya, “Apa manfaatnya jika kami mengenal hal yang disebut Tao ini? Wajar dia bertanya. Jika kita tidak mendapat manfaat meskipun sudah mempelajari aturan pelik pergerakan energi tersebut, yang sayaa kerjakan tidak ada artinya. Namun, dengan gamblang saya utarakan d sini, di hadapan Anda, bahwa orang yang menemukan keseluruhan struktur mengenai aturan pergerakan energi adalah orang yang telah menemukan kebenaran tentang alam semesta. Jika dia menggunakan sedikit saja dari kebenaran itu untuk dirinya sendiri, hasilnya pastilah luar biasa. Sama seperti tukang perahu yang mengetahui arah angin; jika dia memanfaatkannya, dia bisa sampai ke tujuannya dengan lebih aman dan lebih mudah. Jika tidak, dia akan menderita dan akhirnya perahunya mungkin saja malah karam.
ooOOoo
Chang Chun telah meninggalkan biara di kota asalnya Shantung, dua tahun sebelumnya, bersama empat belas muridnya, sesudah menerima undangan sopan Genghis Khan. Sebenarnya, dia menerima undangan itu pada musim semi 1219, tiga tahun lebih sebelum dia tiba. Suatu hari, dua pria datang menemuinya di biara di Shantung. Salah seoran dari mereka adalah dokter Cina Genghis Khan, Liu Wen, dan yang satu lagi adalah darughachi Cina Utara, Chinagi Liu Wen datang sebagai utusan Genghis Khan dan membawa surat undangan. Dia mengenakan papan segiempat keemasan seukuran telapak tangan orang dewasa yang dikalungkan ke tali kulit di lehernya. Ada ukiran kepala harimau pada bagian atas papan itu dan, tepat di bawahnya, terdapatlah pesan yang diukir : “”Pemegang Papan Harimau Ini telah diberi privilese dan segala kebebasan, sma seperti jika aku ada di sana.” Itu adalah bukti bahwa dia merupakan utusan Genghis Khan. Chang-Chun menunda keberangkatannya selma setahun, tetapi akhirnya, dia meninggalkan biara dengan empat belas pengikutnya. Dia menyeberangi Gurun Gobi setelah mampir di Zhongdu, kemudian pergi ke Samarqand lewat Dataran Mongolia dan Kerajaan Uighur. Dari sana, dia pergi ke Hindu Kush, tempat Genghis Khan memosisikan kamp perang utamanya. Dia telah berkelana sejauh 7.200 kilometer selama dua tahun lebih. Dalam perjalanan tersebut, salah satu pengikutnya meninggal karena penyakit endemik, dan seorang lagi menyerah.
Genghis Khan girang bukan kepalang ketika dia betatap muka dengan tamu yang sudah mengembara jauh sekali, selama berbulan-bulan.
“Kuberikan apresisai sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya atas ketulusan dan keteguhan Anda karena sudah datang jauh-jauh, menghabiskan waktu dua tahun lebih untuk berkelana! Aku juga sangat gembira karena Anda berkenan menerima undanganku, sebab Anda tidak pernah menerima undangan semacam itu dari kaum monarki atau pun penguasa lain.”
Untuk membalas ucapan selamat datang Genghis Khan, Chang-Chun membungkuk dalam.
“Saya hanyalah orang tua yang bersembunyi di pegunungan. Saya amat terhormat jarena ternyata nama saya dikenal dan bahkan diundang oleh penguasa hebat.”
Seperti inilah mereka memulai dialog mereka.
Genghis Khan menanyai Chingan bagaimana cara orang-orang lain memanggil Chang-Chun.
“Sebagian memangginya “masster”. Yang lain semata memanggilnya “Guru” atau “Shin-Shien”, artinya dia yang tercerahkan.”
Genghis Khan memanggilnya Shin-Shien, atau dia yang suci. Genghis Khan mengantarkan pria itu ke tendanya dan menawarinya teh. Genghis Khan menanyainya, sambil menyunggingkan senyum di wajah, “Kudengar banyak orang mengatakan bahwa Shin-Shien telah menemukan rahasia kesehatan dan umur panjang. Benarkah itu?”
Mendengar pertanyaan ini, Chang-Chun menjawab, setelah lagi-lagi membungkuk dalam, “Saya tahu saya telah dilebih-lebihkan dan disanjung oleh banyak orang. Saya semata-mata memiiki sedikit pengetahuan yang dapat membantu melestarikan kehidupan. Hanya itu.”
Genghis Khan mengeluarkan tawa terkekeh nyaring dan berkata, “Shin-Shien, aku suka jawaban Anda. Jika Anda mengatakan bahwa Anda telah menemukan rahasianya, aku mungkin akan kecewa.”
Seorang pejabat yang telah  bertatap muka dengan Chang-Chun di Zhongdu menggambarkannya seperti ini : “Dilihat sekilas, kuakui dia bukan pria biasa. Tak seperti pria lain yang berusia tujuh puluh empat tahun, posturnya saat berdiri dan duduk seperti prajurit muda. Tubuhnya terlihat sekuat pohon dan gerakannya seperti angin ribut. Tak seorang pun akan percaya bahwa dia adalah pria berusia tujuh puluh empat tahun. Ketika aku berbicara dengannya, kusadari bahwa dia adalah pria yang memiliki pengetahuan luas dalam segala macam bidang. Aku merasa seolah dia sudah pernah berkunjung ke seberang awan keramat, yang tak pernah didatangi seorang pun sebelumnya, dan menyaksikan kegelapan asal primitif pada zaman dahulu kala. Aku jelas bisa memahami apa sebabnya sang penakluk agung mengundangnya. Sang Penakluk Agung membutuhkan seorang filsuf hebat.”
Chang-Chun memberikan total empat kuliah. Selagi dia sedang bersama Genghis Khan, dia berkesempatan bicara kepada sang penguasa Mongol secara pribadi.
Kuliah Chang-Chun berlanjut :
“Saya katakan, bahwa semua emosi manusia sekalipun, termasuk rasa senang, sedih, takut dan marah, adalah pergerakan Tao. Berdasarkan telaah saya, semua hewan juga memiliki emosi. Satu-satunya perbedaan adalah emosi mereka tidak berkembang secara terperinci. Pohon tidak mempunyai emosi. Banyak pohon hidup hingga ratusan atau ribuan tahun. Namun, hewan mustahil hidup selama itu. Pohon tidak membiarkan Tao keluar dari tubuh mereka lewat emosi.”
Dia melanjutkan.
“Setiap makhluk hidup memiliki dua insting dasar : Insting untuk melestarikan diri sendiri dan spesiesnya. Semua ini semata-mata karena sifat energi Tao. Energi Tao cenderung berkumpul dan berakumulasi. Semua hal di alam semesta ini diciptakan karena sifat energi Tao tersebut. Dengan kata lain, begitu energi Tao terkumpul dan membentuk sebuah entitas, kumpulan energi tersebut cendrung menetap di sana.
“Suatu kali, saya melakukan pengamatan secara saksama terhadap pohon murbei. Pohon-pohon yang ada di halaman belakang saya berjenis pendek. Suatu hari, saya perhatikan bahwa kambing saya memakan daun tumbuhan ini. Bisakah anda bayangkan apa yang terjadi pada tahun berikutnya? Pohon murbei tersebut meulai tumbuh lebih tinggi. Akhirnya, beberapa tahun kemudian, pohon murbei tersbut menjadi sedemikian tinggi sehingga kambing tidak bisa mencaai daunnya. Akan tetapi, pohon murbei  berjenis sama, di lokasi yang berbeda, tanpa kambing, tetap tak berubah. Seperti yang saya katakan, energi Tao cenderung menetap dalam entitas yang sama yang diciptakannya. Kekuatan Tao membuat entitas itu tumbuh.”
Suatu kali, Chang-Chung mengatakan ini : “Sewaktu saya meneliti pergerakan energi Tao, supaya mudah saya mengarang nama untuk arah pergerakan. Ketika energi bergerak dari dalam sesuatu ke arah luar, ia disebut yang. Jika energi bergerak ke arah dalam, ia disebut Yin. Walau begitu, energi yang dan energi yin biar bagaimanapun sama saja. Semata-mata bergerak ke arah yang berlainan. Jadi, “yang” bisa berubah menjad “yin” dalam sekejap mata atau bsia tetap tak berubah selama beberapa waktu. Semua hal di dalam semesta merupakan produk kerja sama kedua energi ini. Jenisnya tak terbatas. Sebagian produk dengan cepat lenyap, sedangkan sebagian yang lain tetap tak berubah hingga selama-lamanya. Sebagian dapat dilihat mata manusia dan sebagian yang lain tidak bisa. Sebagian sangat ringan dibandingkan dengan sebagian lainnya yang sangat berat. Produk yang berat mengumpul bersama, akhirnya menghasilkan masssa yang besar. Matahari, bulan,bintang, dan buimi ini, semua dibuat dengan cara seperti itu.”
Dia melanjutkan.
“Tanah dan air adalah perwujudan Tao yin. Di sisi lain, cahaya dan panas adalah perwujudan Tao yang. Kombinasi dua energi tersebut menciptakan kehidupan di bumi ini. Begitu kehidupan dilahirkan, ia bisa berubah menjadi beragam bentuk, sebab Tao bersifat tak terbatas. Penciptaan kehidupan baru dan perubahan menjadi aneka jenis terjadi sepanjang waktu, tak terusik.”
Dia mengatakan ini juga :
“Saya sampaikan sebelumnya kepada Anda bahwa bahkan emosi manusia dan hewan adalah hasil pergerakan energi. Emosi berupa rasa marah, benci, takut, cemburu, dan gembira menjadikan energi keluar dari tubuh kita. Di sisi lain, harapan, cita-cita yang bagus, cinta, hasrat, dan rasa syukur akan membuat energi masuk ke tubuh kita. Kondisi terbaik bagi makhluk hidup dicapai ketika energi yang dan yin seimbang. Umpamakan saja begini : Jika kita memercikan air ke api yang membakar kayu, api akan menjadi lemah. Jika kita terus memercikan air, api menjadi kian lemah dan kian lemah dan akhirnya mati. Penyebabnya karena energi “Yang” dalam api bergerak ke arah “Yin”, yatu air. Satu perempuan cukup untuk satu laki-laki. Rasio ini adaah yang terbaik dri sudut pandang keseimbangan “Yang” dan “Yin”. Jika Anda memiliki lebih dari satu istri, itu sama saja seperti membuat energi “Yang” dan “Yin” berat sebelah. Alhasil, Anda tidak bisa membuat diri Anda berada dalam kondisi terbaik.”
Setelah kata-kata ini diucapkan pecahlah kasa-kusuk di antara hadirin. Banyak di antara mereka yang memiliki lima sampai enam istri dan enam puluh hingga tiga ratus gundik.
Chang-Chun menekankan pentingnya rasa hormat terhadap kehidupan, sikap yang wajar tak berlebih-lebihan, dan pengendalian diri. Chang-Chun secara pribadi menyarankan kepada Genghis Khan agar dia sebaiknya mengurangi jumah eksedisi berburu, sebaiknya tidur tanpa perempuan paling tidak sebulan seklai tiap tahun, dan sebaiknya menghindari foya-foya. Setelah itu, Genghis Khan mengadakan banyak pertemuan pribadi dengan Chang-Chun, dan membicarakan banyak topik serta berbagai pendapat.
Sesudah beberapa bulan, Chang-Chun mengucap selamat tinggal kepada Genghis Khan. Pada hari keberangkatannya, Genghis Khan dan banyak orang lain pergi beberapa mil untuk mengantar kepergian Chang-Chun. Sebagai imbalan aats kunjungannya, Genghis Khan menganugerahkan privilese berupa pembebasan pajak untuk murid Chang Chun yang banyak di Cina. Bahkan setelah Chang-Chun pergi, Genghis Khan acap kali mengirimkan utusan untuk memastikan bahwa perjalanan pulangnya baik-baik saja. Genghis Khan tidak pernah lupa menyampaikan perasaan hatinya yang hangat terhadap pria itu.
Bapak yang  suci, bagaimana perjalanan Anda musim semi dan musim panas kemarin? Aku tahu perjalanan tersebut tidaklah mudah. Apakah semua kebutuhan dan transportasi Anda terpenuhi tanpa banyak maslaah? Apakah para pejabat di setiap area menyediakan akomodasi memadai bagi Anda? Aku senantiasa berterima kasih kepada Anda. Tolong, jangan lupakan aku. Chang-Chun tiba kembali di biaranya di Shantung pada musim semi 1224.
46. HUKUMAN UNTUK KERAJAAN SHISHA
Genghis Khan tinggal di wilayah Khwarazm selama beberapa waktu untuk mengukuhkan penaklukkannya. Banjir darah paling tragis dalam ekspedisi di Khwarazm terjadi di kota Herat, yang terletak kira-kira 400 kilometer di sebelah selatan Merv. Pada satu saat, mereka telah menyerah, tetapi kemudian mereka mendadak memberontak. Genghis Khan pun mengirim Alchidai. Alchidai, setelah mengambil alih kota itu kembali, membantai warga pemberontak sampai habis. Sepnajng kejadian mematikan ini, yang berlangsung  sekitar seminggu, dua juta orang meninggal. Setelah itu, orang-orang di wilayah Khwarazm sepenuhnya kehilangan semangat untuk melawan.
Peristiwa ini terjadi sekitar tiga bulan sebelum Genghis Khan bertemmu Chang-Chun. Setelah mengantar kepergian Chang-Chun, Genghis Khan mulai menelaah rute pulang ke kampung halamannya. Rute pertama yang mungkin ditempuh adalah lewat India dan teritori Tangut. Naun rute ini tidak dianggap sebagai pilihan terbaik karena jalannya kasar, banyak area berhutan, dan airnya kotor. Sesudah mempertimbangkan opininya, Genghis Khan memilih rute yang sama seperti yang ditempuhnya saat datang.
Pada musim gugur 1222, Genghis Khan menyeberangi Sungai Amu. Dia tinggal di pinggiran Samarqand hingga musim semi tahun berikutnya. Selama periode ini, dia menghabiskan waktu dengan berburu, dan kedua putranya, Chagatai dan Ogodei pergi ke tempat jauh bernama Qara Kol, yang berarti danau hitam, untuk berburu angsa. Tempat itu memiliki banyak danaud an rawa luas tak bertepi. Setiap pekan, mereka mengirimi Genghis Khan hwan tangkapan mereka, diangkut oleh lima puluh unta samapi kapasitas maksimal.
Pada musim semi 1223, diadakan khuriati berskala besar di Fenaker, kota di tepi Sungai Syr. Pada sidang ini, Genghis Khan menunjuk Yalavachi sebagai wali raja di wilayah Khwarazm yang baru saja ditaklukkan. Untuk darugachi kota yang paling penting. Samarqand, dia menunjuk Yelu Ahai. Yelu Ahai Chutze mengatur sistem administrasi terperincinya.
Kira-kira pada saat inilah, konsep “ulus” Genghis Khan lahir. Ulus adalah sistem peemrintahan negeri-negeri taklukan dan keseluruhan Imperium Mongol. Tanah dibagi-bagi dan setiap putra Genghis Khan memperoleh satu bagian. Kelmudain apra putra Genghis Khan dan keturunan mereka akan memerintah tanah pemberian tersebut. Berdasarkan konsep ini, Laut Aral dan tanah di sebelah utara Laut Kaspia, di sebelah timur Sungai Irgiz, dan sebelah barat Sungai Volga, termasuk padang raya  Kipchak, diserahkan kepada Juchi dan keturunannya. Asia tengah dan wilayah Kara Khitai diberikan kepada Chagatai dan keturunannya. Wilayah di sebelah timurnya, yaitu area Sungai Irtish, Pegunungan Altai dan tanah di sekitar Danau Baikal diberikan kepada Ogodei,s edangkan jantung Dataran Mongolia diserahkan kepada Tolui.
Pada musim semi 1223, Genghis Khan menuju ke Dataran Mongolia. Karavan yang membawa pampasan perang membentuk barisan dari satu cakrawala ke cakrawala lainnya, sedangkn barisan budak tak ada habis-habisnya. Pada tahun 1224, pasukan Jebe dan Subedei bergabung dengan pasukan utama Genghis Khan sesudah mereka merampungkan penaklukkan area teramat besar, termasuk Rusia. Mereka membawa seribu kuda kelabu Rusia dan juga seribu budak Rusia. Laki-lakid an perempuan, yang bermata biru serta berambut pirang. Yang paling utama, hal paling berharga yang mereka bawa adalah banyak informasi mengenai Eropa. Berdasarkan laporan Subedei diperkirakan bahwa penaklukkan seluruh Eropa akan memakan waktu delapan belas tahun.
Juchi tidak kembali ke Dataran Mongolia. Dia menuju ke apdang raya Kipchak bersama ordu-nya. Dia bosan dan muak akibat ketidakharmonisan dengan adik-adiknya. Diaa benar-benar menyukai padang raya Kipchak. Genghis Khan berusaha memanggilnya pulang berkali-kali, tetapi dia tidak meresponnya. Pikiran Genghis Khan campur aduk, dipenuhi beraneka ragam perasaan.
Pada musim gugur di tahun yang sama, Genghis Khan mendengar kabar meninggalnya Mukali. Sebagai wali raja Cina utara. Mukali melanjutkan perang dengan Chin, merebut banyak kota dan kawasan lainnya. Namun, Chin merebut kembali sebagian area tersebut sesudah Mukali meninggal. Genghis Khan menunjuk Jafar, sang saudagar Muslim, sebagai darugachi Cina Utara.
Pada tahun 1225, Genghis Khan tiba kembali di dataran Mongolia. Sudah tepat enam tahun sejak dia pergi. Dia tinggal di Hutan Hitam, di tepi Sungai tula. Kini, dari Zhingdu hingga Sungai Volga, tak seorang pun bisa lolos dari rasa ngeri saat mendengar namanya. Genghis Khan memperkenankan kuda-kuda dan para prajuritnya beristirahat selama setahun.
Pada musim gugur 1226, Genghis Khan berangat untuk menghukum orang-orang Tangut dari Kerajaan Shisha. Sebenarnya, aksi ini tidak semata-mata karena di dasari keinginan untuk menghukum mereka karena sudah melanggar kesepakatan terkait dukungan militer. Selagi Genghis Khan sedang menaklukkan Khwarazm, kum Tangut telah meningkatkan kekuatan militer mereka secara dramatis. Sejak raja mereka yang terdahulu, Li Angan, meninggal, dan putranya, Li Tsun Hsiang naik Tahta, dia membaktikan seluruh kemampuannya untuk membangun kekuatan militer mereka. Dia bukan hanya memperkuat pasukannya, dari yang asalnya berkekuatan 15.000 menjadi setengah juta orang, tapi juga membuat pakta pertahanan bersama dengan Chin.
Prestasi belumlah gilang gemilang jika belum paripurna.
Inilah yang acap kali diucapkan Genghis Khan kepada putra-putranya.
Sebelum memlui perang baru, Genghis Khan memanggil putranya Juchi, yang tinggal di Kpchak. Akan tetapi, lagi-lagi Juchi tidak meresponnya. Dia selalu punya dalih, terutama karena sakit. Genghis Khan kembali mengeluarkan panggilan, tetapi Juchi tetap tidak menanggapi. Genghis Khan punya alasan bagus sehingga memanggilnya. Ada rumor yang ebredar bahwa Juchi tengah berencana memerdekakan diri dari ayahnya dan membuat kebijakan terpisah. Itulah yang paling dikhawatirkan Genghis Khan yaitu perpecahan Imperium.
Suatu hari, Genghis Khan jumpa seorang pengembara pria dari suku Mangkud yang telah melintasi aordu Juchi. Genghis Khan menanyainya tentang kondisi penyakit Juchi, dan pria itu pun menjawab, “Saya tidak tahu soal penyakitnya, tapi saya lihat dia pergi berburu.”
Genghis Khan murka. Jika Juchi bisa pergi berburu, dia pasti sama sekali tidak sakit. Genghis Khan punya firasat bahwa putranya Juchi tengah mengelabuinya.
“Dia menjadi penghianat, membangkang perintah ayahnya sendiri! Akan kuenyahkan dia setelah kaum Tangut, tanpa melihat wajahnya.”
Genghis Khan menunggangi kudanya lagi. Seratus lima puluh ribu serdadu dimobiisasi untuk perang melawan kaum Tangut ini. Putra ketiganya, Ogodei dan putra keempatnya, Tolui, ikut serta dengannya. Sedangkan Tolun Cherbi menjadi kepala staf. Genghis Khan menempuh rute yang berbeda dengan jalur yang digunakan tujuh belas tahun yanglalu. Dia merasa tidak nyaman. Dalam perang ini, istri keduanya, Yesui mendapinginya. Mata Genghis Khan menangkap bentangan luas Gurun Gobi. Lautan pasir, tanah campuran lumpur dan pasir yang terbentang tak ada habis-habisnya, beserta semak dan perdu kering laksana janggut lelaki tua yang menghasilkan bayangan sinar bulan di malam hari... Itulah Gurun Gobi. Sudah berapa kali dia menyeberangi rute ini?
Ketika dia tiba di tengah-tengah gurun, sekelompok besar kuda liar yang bergerak ke sana kemari, menghasilkan kepulan sap di cakrawala jauh di sana, tampak dalam pandangan Genghis Khan memutuskan untuk berkemah di sana semalam. Lokasi tersebut dekat dengan sebuah oase. Genghis Khan pun pergi berburu bersama segelintir anak buah dekatnya saja. Kelompok kuda liar bergerak ke sana ke mari, emngubah arah mereka sepanjang waktu, layaknya kawanan lebah atau serombongan ikan. Genghis Khan mendekati mereka hanya dengan laso di tangan. Dia berkuda dengan kecepatan penuh untuk menyusul hewan-hewan liar yang tengah bergerak itu. Kuda faforitnya, yang bernama  Josotu Boro, adalah kawan yang gesit. Kawanan kuda liar tersebut berderap di gurun, mengibarkan surai mereka dan menghasilkan bunyi menggemuruh dengan tapak kaki mereka. Pada saat simpul lasonya hendak menjerat leher salah satu binatang, terjadilah sesuatu yang tak terduga-duga. Kawanan kuda liar itu tiba-tiba mengubah arah mereka. Ratusan kuda liar melesat ke arah Genghis Khan. Kudanya, Josoru Boro, kaget karena serbuan hewan-hewan liar tersebut. Sambil meringkik, Josoru Boro tiba-tiba saja mendompak. Genghis khan jatuh dari kudanya. Kawanan kuda liar tersebut, setelah menginjak-injak tubuhnya, lenyap ke cakrawala yang jauh laksana pasang surut.
Genghis khan mengerang semalaman karena demam tinggi. Tubuhnya bengkak serta memar, dan ototnya sangat panas.
Dia tenga berjalan ke ujung dunia. Bumi diselubungi kabut dan langit biru gelap misterius menyentuh kaki langit jauh di sana. Genghis khan yang telah berubah menjadi bocah umur sembilan tahun, temujin sedang berjalan di bumi yang diselubungi kabit tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Dari cakrawala jauh di sana, dua obyek mungil tengah menghampirinya, dan mereka menjadi kian besar dan kian besar setiap menitnya. Akhirnya, ketika mereka sudah dekat, mereka menunjukkan sosok jelas mereka. Mereka adalah Yesugei dan Ouluun, ayah dan ibu Genghis khan. Selama sesaat, mereka memperhatikan Temujin dengan penuh rasa khawatir dan kemudian menghilang ke cakrawala tanpa mengatakan apa-apa. Temujin berusaha mengikuti mereka, tapi tidak bisa. Kakinya terlalu berat.
“Bagaimana perasaanmu, Suamiku?” Yesui, yang begadang semalaman di samping ranjang Genghis khan, bertanya kepadanya sambil melemparkan ekspresi khawatir ketika Genghis khan membuka mata. Genghis khan menoleh ke sana ke mari. Dia berada di kamp perang di tengah-tengah gurun. Dia berusaha bergerak, tapi sekujur tubuhnya ditusuk-tusuk rasa nyeri tak terkira, seolah-olah dia telah dicambuki.
Tolun Cherbi mengutarakan opininya dalam rapat darurat beserta seluruh panglima, termasuk Ogodei dan Tolui.
“Kondisi Khan tidak terlalu prima. Kita sebaiknya mundur dan kembali lagi nanti, ketika beliau sudah baikan.”
Tidak ada yang tak sepakat dengan opininya. Mereka pun memberithukannya bahwa mereka setuju.
Genghis khan berkata dengan suara pelan, “Beri mereka kesempatan untuk menyerah.”
Atas perintah Genghis khan, sekelompok utusan pun dikirim. Namun, utusan yang kembali beberapa hari kemudian membawa surat balasan dari panglima tertinggi Kerajaan Shisha, Weiming Linggong.
“Kamp perang kami yang tak bertepi meliputi negeri ini, dalam jumlah besar. Harta berharga melimpah ruah, yang dapat dijadikan dana perang kami, Bertumpuk-tumpuk dalam gudang. Ambillah jika kalian bisa.”
Saat mendapatkan surat balasan ini, Genghis khan jadi berang. Sudah jelas bahwa Weiming Linggong mengandalkan setengah juta prajuritnya.
“Bisa-bisanya dia omong besar seperti itu? Aku pasti akan memusnahkan mereka dari bumi ini! Langit biru kekal akan menyaksikan ini!”
Genghis khan pun mengeluarkan perintah agar mereka maju terus. Pasukan Mongol meerebut kota-kota penting di Kerajaan Shisha, satu demi satu, termsuk Kanchou dan Suchou. Pada Bulan Desember di tahun yang sama, pasukan Mongol mengepung Lingchou, yang berjarak 29 kilometer dari ibu kota mereka. Chunghing dan dianggap sebagai titik pertahanan strategis yang penting. Weiming Linggong, panglima tertinggi tentara Shisha, keluar untuk menyelamatkan Lingchou beserta 300.000 serdadunya. Genghis khan memerintahkan pasukannya mundur ke sungai Kuning yang membeku. Sebagian prajurit dari pasukan utama Shisha mulai mengejar pasukan Mongol. Namun, ketika pasukan Shisha  sampai di tengah-tengah Sungai Kuning yang lebar, Genghis khan serta merta amengeluarkan perintah serangan balasan. Pecahlah pertempuran sengit di atas sungai beku yang dilapisi es tebal.
Yang terjadi selanjutnya amatlah menakjubkan. Kuda Kavaleri Shisha mulai tergelincir dan jatuh di es. Kuda-kuda Shisha, yagn bertapal kuda logam, tidak bsia menyeimbangkan diri dengan baik di atas es. Di sisi lain, kuda-kuda Mongol tidak bertapal.  Kuda-kuda Shisha pun jatuh di es, beserta penunggang gmereka. Dimulailah pembantaian besar-besaran di Sungai Kuning yang membeku. Sementara sisa-sisa pasukan Shisha di tepi sungai menonton sambil tercengang, unit terpisah tentara Mongol datang untuk menyerang mereka dari samping. Para tentara Shisha pun dihabisi. Mereka kehilangan pasukan utama mereka dalam pertempuran ini dan sejumlah besar anak panah menewaskan komandan mereka. Weiming Linggong, menjadikannya terlihat seperti landak. Sebagian orang yang selamat kabur ke kota Chungching. Pasukan Mongol merebut Lingchou, lalu mengepung Ibu kota Chunghing.
Selagi Genghis khan tengah menempatkan diri di dekat Kota Chungling, seorang kurur kilat tiba dari abrat sambil membawa kabar tentang meninggalnya Juchi. Juchi ternyata tidak pura-pura sakit. Memang benar bahwa dia berencana pergi berburu beberapa hari sebelum dia meninggal, tetapi begitu dia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, Juchi pun membatalkan rencana dan pulang, menyerahkan misi berburu kepada  panglima-panglima lain. Dia meninggal beberapa hari kemudian. Usianya empat puluh satu tahun. Genghis khan dilanda akesedihan hebat. Dia menyalahkan diri habis-habisan karena sudah salah paham terhadap Juchi dan memperlakukan putranya itu secara tidak adil, meskipun hanya selama waktu yang singkat. Dia memerintahkan agar si pengembara Mangkud dicari dan dipenggal karena sudah memberinya informasi yang keliru. Akan tetapi, pria itu tidak dapat ditemukan di mana pun. Selama tiga hari, Genghis khan berdiam diri di tenda perangnya. Dia tidak mau menunjukkan sosok sedihnya kepada para prajurit. Saat itu, tanggal 12 Februari 1227.
Genghis khan membagi pasukannya menajdi tiga regu, menggunakan satu regu untuk mengepung Chunghing, dan menyapu besih seluruh negeri dengan dua regu sisanya. Hampir seluruh penduduk dibantai, kecuali segelintir orang yang telah kabur ke dalam hutan di pegunungan dan gua.
Chunghing adalah benteng yang tak tertembus, berdasar pengalaman mereke sebelumnya, mereka pun memasang dan membangun banyak sistem baru di kota merek untuk menghadang invasi. Mengetahui bahwa seluruh negeri telah porak poranda, kecuali kota Chunghing, Raja Shisha, Li Tsun Hsiang, mencoba menyerah. Dia keluar untuk menemui Genghis khan bersama beberapa pejabat senior, meninggalkan putranya, Li Hsien, di kota. Sang raja amembawa serta patung Buddha emas, sembilan perangkat upacara dari emas dan perak yang dipergunakan untuk ritual  mengenang leluhur, sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan, sembilan unta putih, sembilan kuda terbaik yagn sudah dikebiri, dan banyak harta berharga lainnya. Ditatanya semua aitu di hadapan tenda Genghis khan dan dinantikannya jawaban sang khan sambil berlutut.
Walau begitu, tenda perang Genghis khan tidak kunjung terbuka, Genghis khan memberi perintah kepada Tolun Cherbi, yang memasuki tendanya untuk melaporkan hal ini.
“Mereka sudah menyerah sebelumnya. Menyerah dua kali tidak diperkenankan! Singkirkan dia!”
Berdasarkan perintah itu. Tolun Cherbi menghunus pedang sabit tepat di tempat dan memenggal kepada Raja Shisha.
47. PERMINTAAN TERAKHIR LELAKI BESI
Li Hsien, putra Raja Shisha yang telah dipenggal, Li Tsun Hsiang, terus melawan karena penyerahan diri mereka tidak diterima. Genghis khan tidak melonggarkan kepungan. Saat itu awal musim panas, dan hawa menjadi kian panas. Genghis khan menyadari bahwa penyakitnya semakin parah. Tim medisnya, yang terdiri dari dokter Persia, Uighur dan Cina, mencoba banyak cara untuk memulihkan kesehatannya, tapi mereka tidak berhasil. Dia pun memindahkan markas besarnya ke tengah gunung tinggi untuk menghindari hawa panas. Area itu bernama Lungton dan kelak disebut Ping Liang.
Genghis khan melihat Juchi dalam mimpinya. Dia kelihaan sangat damai. Di antara putra-putranya, dengan Juchi-lah Genghis khan menghabiskan waktu paling banyak di medan tempur. Genghis khan teramat menyayanginya. Juchi tidak mengucapkan apa-apa. Tanpa mengubah raut wajahnya yang damai, dia lambat laun menghilang ke dalam selubung misteri berkabut. Genghis khan tersentak bangun dari tidurnya. Saat itu tengah malam. Di bawah terpaan seinar lampu Baghdad yang eremang-remang, dia dapat melihat sosok Yesui merawatnya semalaman. Genghis khan menegakkan tubuh bagian atasnsya. Sekujur tubuhnya bersimbah keringat. Dia amenyadari bahwa ajal sudah dekat.
Katanya kepada Yesui, “Yesui, panggil Ogodei dan Tolui secepatnya!”
Kurir kilat Genghis khan pergi untuk mendatangi perkemahan perang Ogodei dan Tolui. Sudah hampir siang ketika kedua putra Genghis khan tiba di kampnya. Putra keduanya, Chagatai, tidak turut serta dalam perang ini. Saat Ogodei dan Tolui melangkah masuk ke tenda ayah mereka, mereka mendapatinya tengah menggigil di depan api kecil pada tungku. Punggungnya dibungkus banyak selimut wol.
Genghis khan mengingatkan kedua putranya akan cerita yang sering dia kisahkan kepada mereka, misalnya pelajaran tentang lima anak panah dan ular berkepala dua. Dia mebicarakan hubunga kakak beradik yang rukun di antara putra-putranya dan jika mereka tidak bisa mencapai kata sepakat, Ogodei-lah yang harus membuat keputusan akhir. Dia juga menegaskan pembagian negeri taklukkan untuk putra-putranya. Terkait ulus Juchi, yagn sudah meninggal, dia membaginya menjadi dua; satu bagian untuk putra sulung Juchi, Orda, yang meliputi pesisir timur laut Laut Aral hingga ke sungai Sari Su, sedangkan sebagian lainnya untuk putra kedua Juchi. Btu, yang meliputi pesisir utara Laut Kaspia hingga ke Sungai Volga dan Sungai Irgiz. Cina utara diberikn kepada Ogodei. Sejak saat itu, ordu Orda disebut “Ordu Putih” sedangkan ordu Batu disebut “Ordu emas.”
Genghis khan juga menyuruh mreeka merahasiakan kematiannya hingga Chunghing jatuh dan Kerajaan Shisha telah ditaklukkan sepenuhnya.
Malam itu, Genghis khan meninggal dunia, disaksikan oleh kedua putranya, istri keduanya Yesui, semua anggota keluarga kerajaan yang ikut serta dalam perang ini, dan rekannya BogorChu, Borte, istri pertamanya, tidak bisa mendapinginya di ranjang kematiannya, sebab saat itu Borte tengah berada di Dataran Mongolia. Genghis khan meninggal di medan tempur, sesuai dengan keinginan terakhir pria Mongol dan tradisi orang-orang Mongol.
Sebelum saat terakhirnya, Genghis khan berkata : “Hidup terlalu singkat untuk memenuhi cita-cita seorang pria. Hanya satu hal yang kupikirkan selama ini, kejayaan bagi orang-orang Mongol. Taklukkanlah seluruh dunia! Bangunlah Imperium yang dapat berdiri hingga seribu tahun tanpa peperangan!”.
Saat itu tanggal 18 agustus 1227, dan Genghis khan berusia enampuluh tahun.
ooOOoo
Setelah membuka gerbang utama Chunghing, para prajurit Mongol mengetahui wafatnya Genghis khan. Para prajurit Mongol membunuh semua makhluk hidup di kota itu. Pertempuran terakhir Genghis khan diwarnai banjir darah. Seluruh penduduk Shisha, yang iperkirakan berjumlah sekitar tujuh juta jiwa, dibantai. Alhasil, negara yang memiliki sejarah panjang dua ratus tahun, dengan sepuluh raja pada setiap generasi, lenyap selamanya dari muka bumi.
Ogodei serta merta memnaggil orang-orang Khitan, Uighur, dan Persia yang pakar dalam pemakaman untuk mengawetkan jazad ayahnya. Pada masa itu, orang-orang Khitan-lah yang memiliki keahlian membalsem paling hebat. Karena cuaca sedemikian panas, pengawetan jenazah amatlah mendesak. Ogodei juga memerintahkan agar peti mati emas dan kereta emas, menempuh perjalanan panjang kembali ke negeri asalnya. Semua orang yang menyertai jenazah dalam perjalanan diam saja. Semua orang glaki-laki dan perempuan segala usia, yang mereka temui sepanjang prosesi pemakaman, dibunuh untuk menjaga rahasia wafatnya Genghis khan dan lokasi penguburannya. Ketika kereta yang mengangkut jenazah Genghis khan tiba di dekat Gunung Muna, area yang kelak disebut Ordos – roda kereta terjebak di lumpur dan tidak mau bergerak. Orang-orang Mongol pun memanggil cenayang dan menyuruhnya mencari tahu apakah hambatan ini ada hubungannya dengan amanat tertentu dari si mati.
Lama sang cenayang berdoa, Akhirnya dia amembuka mulut.
“Arwah Genghis khan ingin didkebumikan di sini.”
Namun, bagi keturunan Genghis khan dan orang-orang Mongol lainnya, penting kiranya untuk mengebumikan jasadnya di Dataran Mongolia.
Semua anggota keluarga kerajaan, dari segala usia, berkumpul dan mulai berdoa, Arwah Khan Agung yang mengitari langit di negeri Mongol! Tolong lindungilah keturunanmu dan seluruh bangsa Mongol.”
Setelah lama menguap doa, kereta mulai bergerak lagi. Ogodei mempertimbangkan hal ini. Maka, dikuburkannyalah pakaian dalam, sepatu bot, dan karpet dari tenda Genghis khan di sana. Kelak, keturunan Genghis khan membangun delapan Chomchog di kawasan itu. Chomchog adalah yurt putih yang dirancang khusus dan dipergunakan sebagai tepat pemujaan. Setelah itu, area itu disebut Ordos, yang artinya banyak Chomchog.
Jenazah Genghis khan tiba di Dataran Mongolia. Begitu sampai di sana, jenazahnya disemayamkan dalam chomchog sementara selama tiga bulan. Tujuannya untuk memberi kesempatan bagi semua anggota keluarga kerajaan, raja negeri taklukan, kaum monarki, dan pimpinan bangsa-bangsa untuk berkunjung dan menyampaikan penghormatan terakhir.
Sesudah itu, jenazahnya didbawa ke Gunung Burkan, yang merupakan tempat suci bagi orang-orang Mongol dan tempat bermain Temujin saat kanak-kanak. Untuk menjaga kerahasiaan lokasi penguburan, hanya sedikit orang yang diperkenankan hadir, dan demua tokoh keagamaan yang mendoakan arwahnya dipilih dari mereka yang buta. Selian itu, seribu pekerja kasar yang dibawa untuk membangun makam dibunuh seusai penguburan. Lama sekali lokasi penguburan dan daerah sekitarnya dilarang dimasuki.
Makam Genghis khan, dibangun sesuai dengan tradisi Mongol di tanah datar tanpa nisan, tanpa gundukan tanah. Dan tanpa bangunan makam, tidak menyisakan jejak berkat tumbuhnya rumput dan pohon baru, hingga akhirnya ditelan oleh stepa agung.
CATATAN  AKHIR
Menurut legenda, Ogodei yang menjadi ka-Khan dua tahun kemudian, mempersembahan sesaji bagi ayahnya berupa empat puluh perawan dan empat puluh kuda untuk kehidupannya di akhirat. Empat puluh perawan paling jelita, dipilih dari anak-anak perempuan kaum aristokrat negeri taklukan, dan empat puluh kuda terbaik dipilih untuk dikuburkan beserta Genghis khan. Kelak, orang-orang Mongol menamai tujuh gunung lain di area berlainan ‘unung Burkan” untuk memperkuat kerahasiaan makamnya.
ADENDUM
SEJARAH SINGKAT BANGSA MONGOL PASCA GENGHIS KHAN
Setelah Genghis khan meninggal, Tolu dipercaya menjabat posisi wali raja selama kira-kira dua tahun. Pada musim semi 1229, diadaan khuriltai berskala besar-besaran di tepi Sungai Kerulen. Pada Khuriltai ini, bangsa Mongol memilih Ogodei sebagai ka-Khan, manunaikan kehendak almarhum Genghis khan. Ogodei, yang dimahkotai pada tanggal 15 September 1229, memperkuat sistem administratif imperium bersama Yelu Chutze dan pada tahun 1235 membangun Ibu Kota di Kara Koram.
Ogodei, yang berusia empat puluh tahun ketika dia menjadi ka-Khan baru Imperium Mongol, berangkat untuk menaklukkan seluruh dunia, untuk menghormati keinginan almarhum ayahnya, Genghis khan. Pada tahun 1230, dia menyerahkan 30.000 serdadu kepada Chormaqan untuk menaklukkan kembali sebagian Persia dan area di sebelah barat laut Kapsia, yang tengah dilanda anarki, sekaligus juga mengenyahkan Jalaluddin, yang memeberontak di area Shivran untuk mewujudkan cita-citanya bangkit kembali. Chormaqan melaju ke kota Tabriz di Shirvan secepat kilat, menghancurkan kelompok pemberontak di sana dan mengejar Jalauddin yang kabur. Jalauddin keluyuran dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pelariannya, dan akhirnya ditangkap kesatria Kurdi serta dipenggal. Kepalanya dihaturkan kepada Chormaqan. Chormaqan yinggal di paang raya Mugan dan memberlakukan hukum militer di sana selama sepuluh tahun.
Balju yang merupakan penerus Chormaqan, menghancurkan pasukan Turki Saljuk yang dipimpin Kai Khosrau dan menaklukkan area tersebut, sehingga menghubungkan wilayah Mongol dengan Laut Mediterania.
Pada musim gugur 1231, Ogodei menyerahkan 6.000 prajurti kavaleri kepada Saletai untuk menaklukkan Korea. Saletai setelah menyeberangi Sungai Yalu, mengabil alih Kaesung, Ibu Kota Korea, dalam waktu beberapa bulan. Korea memindahkan Ibu Kotanya ke Pulau Kang Wha dan terus smelawan dengan sengit selama beberapa waktu, tapi akhirnya menyerah.
Ogodei Khan, bersama Subedei, memobilisasi pasukannya dan meluncurkan serangn dari belakang terhadap kaifeng, Ibu Kota Chin, dengan persetujuan tersirat serta sedikit bantuan dari Sung Selatan. Mereka mengambil alih kota tersebut pada Mei 1233, sehingga amengakhiri riwayat Kekaisaran Chin. Ogodei, sebagai penghargaan atas kerja sama Sung, menyerahkan sebagian tanah di Provinsi Honan. Namun, karena Sung yang tidak puas mulai menyerang Kaifeng, Ogodei menyatakan perang melawan mereka pada khuriltai di tahun 1233. Dengan dmeikian, Imperium Mongol pun memulai perang melawan Kekaisaran Sung yang berlangsung selama 45 tahun. Ogodei maju ke Sung bersama tiga pasukannya dan akhirnya sampai di Sungai Yang Tze.
Pada tahun 1237, Ogodei mengutus pasukan ekspedisi untuk menaklukan seluruh Eropa. Batu, putra kedua Juchi, menjadi panglima tertinggi yang mengepalai 150.000 serdadu. Kira-kira sepuluh keturunan langsung Genghis Khan bergabung dengannya, termasuk saudara-saudara Batu, Berke dan Syahban; putra Ogodei, Guyuk dan Qadaan; putra Tolui; Mongke; dan putra serta cucu laki-laki Chagatai; Bidar dan Buri. Walau demikian pemimpin sesungguhnya adalah Subedei, yang kini berusia enam puluhan dan merupakan Jendral palig berpengalaman di Eropa.
Pada musim semi 1237, pasukan Mongol menghancurkan pasukan Turki Cuman, yang menguasai daerah di stepa Kpchak. Ini adalah pukulan pertama mereka. Kepala pasukan Cuman, Batcham, dibelah dua oleh pedang sabit Mongke. Kutan, kepala kaum Cuman, kabur ke Honggaria bersama 40.000 anak buahnya yang selamat.
Pada Desember 1237, pasukan Mongol menyeberangi Sungai Volga yang membeku. Mereka mengepung benteng di Raizan, salah satu dari delapan wilayah administratif Rusia, merebutnya dan membantai seluruh penduduk, termasuk pangeran serta keluarganya. Mereka merebut kedelapan wilayah administratif satu demi satu dan pada bulan Februari tahun berikutnya, Kota Moskwa, yang hanyalah sebuah kota kecil pada saat itu, jatuh ke tangan bangsa Mongol. Pada bulan Maret 1238, di Sita, pasukan Mongol mengalahkan pasukan Yuri II, Bangsawan Agung dari Suzdal, terkuat di antara kedelapan wilayah administratif. Yuri II ditahan, kemudian dipenggal.
Pada awal tahun 1240, pasukan Mongol merebut Kota Chernigov, lalu Kiev juga, yang pada dasarnya adalah Ibu Kota Rusia. Dengan demikian, bangsa Mongol pun merampungkan penaklukkan Rusia.
“Batu”, tidak akur dengan putra Ogodei, Guyuk, dan cucu Chagatai, Buri. Mereka membangkang perintah Batu. Batu melaporkan ini kepada Ogodei, dan sang khan pun memanggil keduanya, sesua dengan ketentuan Yassa Genghis Khan, Yassa Genghis Khan jelas-jelas menyatakan bahwa begitu pasukan ekspedisi telah lepas dari kendali khan, semua orang harus memathui perintah komandan tanpa terkecuali. Iilah awal ketidak-harmonisan antara Batu dan Guyuk.
Meskipun kecurigaan karena sah atau tidaknya status Juchi membuatnya tak terpilih sebagai ka-Khan, putra keduanya, Batu, akhirnya menjadi pria terkuat di Imperium Ulus-nya, Ordu emas, adalah yang terbesar di antara yang lain dan Batu-lah yang paling berpengaruh serta memberikan dampak yang dahsyat terhadap sejarah dunia.
Pada bulan Januari 1241, pasukan ekspedisi Batu maju ke Polandia dan Hongaria. Dia meninggalkan sekitar 30.000 serdadu di Rusia untuk menangani tetek bengek pasca penaklukan. Batu memberikan 20.000 serdadu kepada Baidar dan Qaidu untuk menaklukan Polandia. Untuk menyerang Hongaria, dibaginya pasukan utama menjadi tiga akelompok. Ketiga kelompok tersebut dikomandani oleh Batu sendiri. Subedei, dan Shayban, lantas menyeberangi Pegunungan Karpathia.
Kavaleri Baidar dan Qaidu maju ke Polandia dan pertama-tama merebut Lublin, lalu menyeberangi Sungai Vistula yang membeku. Sesudah mengambil alih Sandomierz, mereka mendekati Krakow, Ibu Kota Polandia . Duke Boleslaw dari Polandia sduah mebangun baris pertahanan, tetapi dia kalah dalam pertempuran menentukan di Chmiernik. Krakow pun jatuh dan dibakar. Pasukan Mongol maju ke Silesia. Di apdang raya Wahlstatt di daerah Liegnitz, mereka berhadapan dengan 30.000 prajurit Teuton, yatu pasukan koalisi seluruh eropa, termasuk Polandia, jerman, dan Prancis, yang dipimpin oleh Duke Henry dari Polandia. Pasukan Koalisi mengalami kekalahan telak dan Duke Henry kehilangan kepalanya. Para prajurit Mongol memotong telinga dan mayat kestria Teuton yang bertebaran di padang memeasukkannya ke sembilan kantong kulit besar, dan mengirimnya akepada Batu sebagai bukti kemenangan, saat itu, tanggal 9 April 1241.
Pada masa itu, pasukan terkuat di Eropa ada di Hongaria. Orang-orang Hongaria dan orang-orang Mongol memiliki nenek moyang yang sama, yaitu kaum Hun. Attila adalah leluhur mereka. Namun, waktu telah mengubah segalanya. Kedua kelompok telah berasimilasi dengan suku-suku tetangga sehingga pada saat itu mereka telah menjadi kaum yang berbeda.
Bela IV, Raja Hongaria, menyatakan diri sebagai pelindung eropa. Karena pengungsi membanjiri wilayahnya, dia memperkuat sistem pertahanan dan menyiagakan pasukannya. Nasib seluruh Eropa ada di tangannya. Pertama-tama, dia menempatkan baris pertahanan di Pegunungan Karpathia, tetapi ini dengan mudah dipatahkan oleh pasukan Mongol. Pasukan Mongol maju ke Pest, Ibu Kota Hongaria. Akhirnya, kedua pasukan bentrok di jembatan batu di Sungai Sajo, yang mengalir antara Kota Buda dan Pest.
Pada masa itu, prajurit Hongariamilik Bela berjumlah 100.000orang, sedangkan pasukan Mongol Batu beranggotakan 40.000 orang. Bela mengira pasukan mongol tak akan mungkin bisa menyeberangi jembatan, yang begitu sempit sehingga hanya empat atau tiga prajurit kavaleri yang dapat melewatinya berdampingan. Namun, pasukan Mongol sanggup menyeberangi jembatan ini di bawah perlindungan dari tembakan ketepel, meriam, dan granat yang teramat efektif, hasil pengembangan para teknisi Cina dan Persia. Pasukan Mongol mendesak para prajurit Hongaria dan pada saat bersamaan, 30.000 serdadu Mongol pimpinan Subedei menyeberangi sungai dari selatan dengan jembatan sementara buatan mereka sendiri serta meluncurkan serangan dari samping. Pasukan Mongol mengepung pasukan Hongaria sama seperti pemburu Mongol mengepung mangsanya. Orang-orang Hongaria yang menelan kekalahan telak pun runtuh. Kaum Mongol memenggal 60.000 orang Hongaria. Saat itu tanggal 11 April 1241, dan pasukan pertahanan terakhir Eropa telah diluluh-lantakkan. Prajurit Mongol mengejar Bela IV ke Kroasia dan Dalmatia, tetapi dia kabur ke salah satu pulau kecil di Laut Adriatik.
Batu tinggal di Pest beberapa lama untuk mengistirahatkan para prajurit dan kudanya. Lalu menyeberangi Sungai Danube yang membeku pada tanggal 25 Desember 1241. Dia merebut kota Grand dan Juga Neustradt, di pinggiran Wina. Kini, mereka berada di Austria. Tidak ada pasukan lain yang dapat menghentikan mereka di Eropa. Walau demikian, pada awal tahun 1242, Batu dan Subedei menerima kurir kilat dari Kara Koram di dataran Mongolia, yang telah berkdua sejauh 9.600 kilometer, Ogodei telah meninggal pada tanggal 11 Desember 1241.
Batu memindahkan pasukannya kembali ke Sarai, dekat pesisir utara Laut Kaspia, sesuai dengan aturan Yassa Genghis Khan bahwa semua pangeran harus menghadiri khuriltai dan menggunakan pengaruhnya dalam pemilihan khan berikutnya.
Setelah Ogoedi meninggal, jandanya, Torogene, menjadi wali raja selama empat tahun. Dia berusaha dengan segala cara supaya putranya, Guyuk, menjadi khan berikutnya, dan dia berhasil. Lawan terbesar Guyuk dalam pemilihan ka-khan adalah Batu.
Pada musim semi 1246, diselenggarakan-lah khirltai beskala besar-besaran di tepi Danau Koko, dekat hulu Sungai Orkhon. Semua pangeran lain, kaum monarki regional, dan raja dari kerajaan bawahan menghadiri pertemuan ini, tapi Batu tidak. Guyuk menjadi ka-Khan lewat rapat ini.
Guyuk, sang ka-khan yang baru terpilih, pertama-tama menyingkirkan Ochigin Noyan, adik laki-laki Genghis Khan Temuge, yang kesetiaannya tidak dapat dipercaya. Lalu, dia pun berderap untuk menyerang Batu, musuh politiknya. Walau begitu, rencana rahasia Guyuk ketahuan oleh Sorghaqtani, janda Tolui. Sorghaqtani serta-merta mengutus kurir rahasia kepada Batu untuk memberitahukannya agar bersiap-seiap. Namun, Guyuk meninggal mendadak dalam perjalanan, hanya dua tahun setelah dia menjadi ka-khan.
Seteah Guyuk meninggal, jandanya, Oghul Qoimish menjadi wali raja sekitar tiga tahun. Selama tepat sembilan tahun sesudah wafatnya Ogodei Khan, Imperium Mongol mengalami stagnasi, sampai muncul khan baru, Mongke, putra sulung Tolui.
Mongke, yang menjadi ka-khan di tahun 1251 pada usia empat puluh satu, adalah pria energik, berakal sehat, dan adil yang kembali memberlakukan Yassa genghis Khan. Karena dia adalah kesatria luar biasa dan negarawan andal, dia di dukung oleh Batu pada pemilihan. Setelah Batu meninggal, Mongke mengambil alih Ordu emas yang berkecenderungan kuat memerdekakan diri, tanpa kesulitan. Dia kembali menggalakkan misi penaklukan dunia pada Khuriltai yang diselenggarakan di hulu Sungai Onon pada tahun 1253. Dia menyerahkan 100.000 prajurit kavaleri kepada adiknya. Hulagu, untuk menaklukkan Baghdad, Mesopotamia, dan Suriah. Dia sendiri berangkat untuk menaklukkan Sung Selatan bersama adiknya yang lain. Kubila, Separuh bagian utara dataran Cina telah ditaklukkan oleh banyak kaum yang berbeda-beda, tetapi separuh bagian selatan tidak pernah jatuh. Mongke membagi pasukan ekspedisinya amenjadi tiga regu. Dia memimpin regu pertama dan menyerang Hochow setelah merebut wilayah Sensi dan Sichuan. Regu kedua pimpinan Kubilai mengepung Kota Wuchow lewat Hopei. Rianqatai, putra Subedei dan komandan regu ketiga, menaklukkan Tibet dan maju ke Annam, merebut Kota Hanoi sehingga memaksa raja mereka, Tran Taitong menyerah. Dia terus melaju ke Sung Selatan, melewati dataran Tongking, dan meluncurkan serangan ke Changsha di Provinsi Hunan, sesudah merebut Kweiling di Provinsi Kwangsi.
Diserang dari utara, barat, dan selatan, Sung Selatan tinggal selangkah lagi dari kejatuhan, tapi wafatnya Mongke secara mendadak mengakhiri semua pertempuran di garis depan selama sementara. Mongke meninggal karena penyakit disentri endemik. Saat itu, tanggal 11 Agustus 1259.
ooOOoo
Sementara itu, Hulagu yang telah maju ke area Persia, merebut benteng Almur, markas kaum Hassassin, yang tidak pernah jatuh sebelumnya. Sesudah itu, dia meluncurkan serangan ke Bahgdad, yang jatuh ke tangan bangsa Mongol setelah pembunuhan besar-besaran. Saat itu, tahun 1258. Dengan demikian, Hulagu mengakhiri lima ratus tahun masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dan menjadi Raja Persia pada tahun 1263, mendirikan Dinasti II Khan baru.
Kubilai, sudah mengalahkan saudara lelaki sekaligus rival politiknya Arig Boke, menjadi ka-Khan pada tahun 1260 dan melanjutkan kebijakan ekspansi Dinasti Yuan, menguasai seluruh teritori Cina. Kelak, dia dikenal sebagai ka-khan seluruh imperium Mongol. Dia bertakhta selama  tiga puluh empat tahun, dan periode itu adalah masa terkuat dan paling sejahtera bagi Imperium Mongol. Belakangan, dia meluncuran serangan ke Jepang dan Jawa untuk membuka rute perdagangan lewat laut, tetapi tidak berhasil.
Dengan demikian, keturunan Genghis Khan membangun Imperium terbesar dalam sejarah umat manusia dan memerintah rakyat taklukan di seluruh belahan dunia, menguak dinasti baru dan era baru. Sebagian contoh dari masa kekuasaan mreka yang panjang adalah sebagai berikut :
Rusia, kira-kira 270 tahun.
Cina, kira-kira 160 tahun (Seluruh Cina, sekitar 90 tahun).
Persia, sekitar 120 tahun (termasuk area Baghdad, sekitar 80 tahun).
India, kira-kira 300 tahun ( Babur, pendiri Kesultanan Moghul di India, adlah keturunan jauh Chagatai. Dia adalah penakluk terakhir yang melestarikan nama dan warisan bangsa Mongol. Moghul adalah pelafalan Persia untuk kata “Mongol”

TENTANG  PENULIS
. Setelah delapan tahun melakukan penelitian intensif hingga menempuh perjalanan menyusuri Mongolia, Rusia, China, dan negara-negara di dekatnya, Sam Djang menuliskan sebuah Novel epik berkudul “Genghis Khan : The World Canquerror”. Penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap sejumlah orang di berbagai negara, ratusan artikel, dan puluhan buku yang terbilang langka di perpustakaan Mongolia dan sekitarnya. Sam Djang sendiri mengakui bahwa buku ini ditulis dalam format Novel Sejarah, dan 90% isinya berdasarkan kisah nyata. Dia juga meyakini bahwa buku ini mengungkap banyak fakta yang gagal diketahui para sejarawan akibat kurang nya wawasan mereka atas latar belakang kebudayaan, sosial, politik, sejarah, dan geografis bangsa Mongol pada era Genghis Khan.


Kota “Sepanjang” Kabupaten Jawa timur – Indonesai // 17 Agustus 2014
HUT – RI ke 69 – Tahun 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar