Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Google+ Followers

Minggu, 11 Maret 2018

Filsafat Al-Kindi


  “PARA FILOSOF MUSLIM”

“Al-KINDI”
Diterjemahkan dari Buku Tiga, Bagian Tiga
“The Philosopers”, dari buku History of Muslim Philosophy,
Suntingan M.M. Syarif M.A.
Otto Horrassowitz, Welsbaden. 1963
Penyunting : Ilyas Hasan
Penerbit : Mizan
Tahun : Cetakan ke VII 1994
Penyadur : Pujo Prayitno

DATRA ISI
A. MASA HIDUPNYA
B. KARYA KARYANYA
C. FILSAFATNYA
D. KESELARASAN FILSAFAT DAN AGAMA
E. TUHAN
F. KETERHITUNGAN
G. RUH DAN AKAL

A. MASA HIDUPNYA

Al-Kindi (185 H/801M – 260 H/873 M) adalah filosof Muslim pertama. Pengetahuan filsafat pada abad ke-2 H/ke-8 M berada di tangan orang-orang Kristen Syria, yang terutama para dokter. Mereka mulai menerjemahkan karya-karya berbahasa Yunani ke dalam Baha Arab atas dorongan Khalifah. Sebagai Muslim Arab pertama yang mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, al-Kindi patut disebut “Ahli Filsafat Arab.”
Nama lengkap al-Kindi adalah  : Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats bin Qais al-Kindi. Kindah adalah salah satu suku Arab besar pra Islam. Kakeknya, al-Ash’ats ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salahs eorang sahabat Nabi saw. Al-Ash’ats bersama beberapa perintis Muslim pergi ke Kufah, Ishhaq al-Sabbahm menjadi Gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Rasyid. Kemungkinan besar al-Kindi lahir pada tahun 185 H/801 M, sekitar saru dasa warsa sebelum Khalifah al-Rasyid meninggal.
Kufah dan Basrah, apda abad ke 2 H/ ke-8 M dan ke-3 H/ke-9 merupakan dua pusat kebudayaan Islam yang bersaingan. Kufah lebih cenderung kepada studi-studi aqliah; dan dalam lingkungan intelektual al-Kindi melewatkan masa kanak-kanaknya. Dia menghapal Al-Quran. Mempelajari tata bahasa Arab, kesustraan dan ilmu hitung, yang kesemuanya itu merupakan kurikulum bagi semua anak Muslim. Ia kemudian mempelajari fiqh dan disiplin baru yang disebut Kalam. Tetapi tampaknyan ia  lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kepada keduanya ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya, terutama setelah ia pindah ke Baghdad. Pengetahuan lengkap tentqang ilmu dan filsafat Yunani bisa diperoleh dengan menguasai dua bahasa Yunani dan Syria, yang ke dalam bahasa Syria-lah telah banyak karya Yunani diterjemahkan. Al-Kindi mempelajari bahasa Yunani, tetapi ia menguasai bahasa Syria, yang dengannya ia menerjemahkan beberapa karya. Ia juga memperbaiki beberapa terjemahan bahasa Arab, seperti terjemahan Enneads-nya Plotinus oleh al-Himsi, yang sampai kepada orang-orang Arab sebagai salah satu karya Aristoteles. Al-Qifti, sang penulis biografi, mengatakan bahwa “al-Kindi menerjemahkan banyak buku filsafat, menjelaskan hal-hal yang pelik, dan menyaripatikan teori-teori canggih filsafat.
Di Baghdad ia berkenalan dengan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan putra al Mu’tasin, yang kepadanya ia mempersembahkan karya-karya pentingnya. Ibn Nabatah berkata : “Al-Kindi dan karyakaryanya telah menghiasi kerajaan  al-Mu;tasim.” Ia juga jaya di masa pemerintahan al-Mutawakkil (232 – 247 H/847 -861M). Sebuah ] kisah oleh Ibn Abu Usaibi’ah menceritakan kemsyhuran perpustakaan pribadinya. Kisah itu sepenuhnya demikian : “Muhammad dan Ahmad, dua putra Musa ibn Syir, yang bersekongkol untuk memusuhi orang yang maju dalam ilmu pengetahuan, mengutus Sanad ibn Ali ke Baghdad untuk memisahkan al-Kindi dari al-Mutawakkil. Persekongkolan mereka berhasil, sehingga al-Mutawakkil memerintahkan agar al-Kindi dirangket. Perpustakaannya disita, dipencilkan,d an disegel dengan nama “Perpustakaan al-Kindi.”
Kemasyhuran al-Kindi akan kekikirannya sama dengan kemasyhurannya akan pengtehauannya. Keburukan al-Kindi ini digambarkan dalam karikatur al-Jahiz dalam bukunya Kitab al-Bukhala. Betapapun, al-Kindi hidup mewah di sebuah rumah, yang di dalam kebun rumahnya, ia banyak memelihara banyak binatang langka. Ia hidup menjauh dari masyarakat, bahkan dari tetangga-tetangganya. Sebuah kisah menarik oleh al-Qifti memaparkan bahwa al-Kindi bertetaangga dengan seorang saudagar kaya, yang tak pernah tahu bahwa al-Kindi adalah seorang tabbn ahli. Ketika anak sang saudagar tiba-tiba lumpuh, dan tak seorang pun tabib di Baghdad mampu menyembuhkannya, seseorang memberi tahu sang saudagar bahwa ia bertetangga dengan filosof tercemerlang, yang amatpandai mengobati penyakit seperti itu. Al-Kindi mengobati anak yang sakit lumpuh itu dengan musik.

B. KARYA-KARYANYA

Sebagian besar karya al-Kindi (berjumlah sekitar 270 buah) hilang. Ibn al-Nadim dan yang mengikutinya, al-Qifti, mengelompokkan tulisan-tulisan al-Kindi, yang kebanyakan berupa risalah-risalah pendek, menjadi tujubelas kelompok : (1) filsafat (2) logika, (3) ilmu hitung, (4) globular, (5) musik, (6) astronomi, (7) geometri, (8) sperikal, (9) medis, (10) astrologi, (11) dialektika, (12) psikologi, (13) politik, (14) meteorologi, (15) dimensi, (16) benda-benda pertama, (17) spesies tertentu logam dan kimia, dan lain-lain.
Gambaran ini menunjukkan betapa luas pengetahuan al-Kindi. Beberapa karya ilmiahnya telah diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan karya-karya itu sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan. Cardona menganggap al-Kindi sebagai salah satu dari dua belas pemikir terbesar.
Sarjana-sarjana yang mempelajari al-Kindi, sampai risalah-risalah al-Kindi yang berbahasa Arab ditemukan dan disunting, semata berdasarkan terjemahan bahasa Latin. De Medicinarum Compositarum Gradibus-nya telah diterbitkan pada tahun 938 H/1531 M. Pada tahun 1315 H/1897 M Albino Nagy menyunting terjemahan-terjemahan abad pertengahan karya-karya L De Intellectu; De Sommo et visione, De quinque esentilis; Liber intro ductorius in artem Logicae demontractionis.
Semenjak ditemukannya beberapa naskah berbahasa Arab-nya, cakrawala baru filsafat al-Kindi tersibak. Sebua ikhtisar yang berisikan 25 risalah, ditemukan di Istanbul oleh Ritter. Kini risalah-risalah itu telah disunting oleh beberapa sarjana, Walzer, Rosenthal, Abu Ridah, dan Ahmad Fuad El-Ehwany. Beberapa risalah pendeknya yang lain nditemukan di Aleppo, meski hingga kini belum disunting. Dengan demikian, hingga batas tertentu, memungkinkan analisa terhadap filsafat al-Kindi, dengan berpijak pada landasan-landansan yang lebih kurang kukuh.

C. FILSAFATNYA

Menurut al-Kindi, fislafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Berdasarkan ini, para sejarawan Arab awal menyebutnya “Filosof Arab”. Memang, gagasannya itu berasal dari Aristotelianisme Neo-Platonis, namun juga benar bahwa ia meletakkan gagasan-gagasan itu dalam kondteks baru. Dengan mendamaikan warisan-warisan Hellenistis dengan Islam, ia meletakkan asas-asas sebuah filsfat baru. Sungguh, pandangan ini, untuk jangka lama, menjadi ciri utama filsfaat ini. Kemudian, al-Kindi, yang mengkhususkan diri dalam semua ilmu pengetahuan yang dikenal pada masanya – tentangnya, tulisan-tulisannya memberikan cukup bukti – menjadikan filsafat sebagai suatu studi menyeluruh yang mencakup seluruh ilmu. Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd mulanya ilmuwan, kemudian menjadi filosof. Karena itu, al-Nadim menempatkan al-Kindi dalam kelompok Filosof Alami. Berikut ini, gambaran penuhnya tentng al-Kindi : “Al-Kindi adalah manusia terbaik pada masanya, unik pengetahuannya tentang seluruh ilmu pengetahuan kuno. Ia disebut filosof Arab. Buku-bukunya mengandung aneka ilmu pengetahuan, seperti logika, filsafat, geometri, ilmu hitung, astronomi dan sebagainya. Kami menyebutnya filosof alam, karena ia menonjol dalam ilmu pengetahuan.”
Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran. Filosof Muslim, sebagaimana filosof Yunani, percaya bahwa kebenaran jauh berada di atas pengalaman; bahwa kebenaran itu abadi di alam adialami. Batasan fislafat, dalam risalah al-Kindi tentang Filasafat Awal, berbunyi demikian : “Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori adalah mencapai kebenaran, dan dalam berpraktek, ialah menyesuaikan dengan kebenaran.” Pada akhir risalahnya, ia menyifati Allah dengan istilah “Kebenara”, yang merupakan tujuan filsafat. “Maka Satu Yang Benar (al-Wahid al-Haqq) adalah Yang pertama, Sang Pencipta, Sang Pemberi Rizki semua ciptaan-Nya ........” Pandangan ini berasal dari filsafat Aritoteles, tetapi “Penggerak Tak Tergerakkan’ (Unmovable Mover)-nya Aristoteles diganti dengan sang “Penciptqa”. Perbedaan ini menjadi inti sistem filsafat al-Kindi. Filsfat dibagi menjadi dua bagian utama : studi-studi teoritis, yakni fisika, matematika, dan metafisika; dan studi-studi praktis, yaitu etika, ekonomi dan politik. Seorang penulis terkemuan, sembari mengutip al-Kondi, mengklasifikasikannya sebagai berikut : “Teori dan praktek merupakan awal kebajikan. Masing-masing dibagi menjadi fisika, matematika, dan teologi. Praktek-praktek dibagi menjadi bimbingan diri, keluarga dan masyarakat.” Ibn Nabatah, yang juga mengutip al-Kindi, hanya menyebutkan bagian-bagian teoritisnya/ “Ilmu-ilmu filsafat terdiri atas tiga hal, pertama, pengajaran (‘ta;lim), yaitu matematika, yang bersifat mengantar; kedua, ilmu alam, yang bersifat terakhir, dan ketiga, ilmu agama yang bersifat paling tinggi.” Pengutamaan matematikan berasal dari Aristoteles, tetapi urutan terakhir dari tiga ilmu pengetahuan, yang dimulai dengan fisika, datang dari penganut filsfat Aristoteles terkemudian. Kemungkinan besar al-Kindi mengikuti ptolomeus, yang membagi ilmu pengetahuan di awal Almagest. Sejak masa itu, matematika dikenal oleh orang-orang Arab sebagai “kajian pertama”.
Batasan filsafat dan pebagiannya, dalam filsafat Muslim, sebagaimana disebutkan di atas, masih bersifat tradisional. Sebagaimana dikatakan oleh Musthafa Abd al-Raziq : “Sikap memahami makna filsafat dan pembagiannya, berdasarkan materi pokok ini, memajukan filsafat Muslim.”
Filsafat pertama atau fisika merupakan pengetahuan tentang Sebab Pertama, karena seluruh filsafat lainnya tercakup dalam pengetahuan ini. Metode yang dianut dalam mengkaji fisika awal ialah penggunaan logika. Sejak kini logika menjadi alat para filosof dalam upaya mencari kebenaran. Nilai al-Kindi sebagai filosof, dalam masa-masa dahulu, diperdebatkan, karena kurangnya teori logika dalam sistemnya. Said al-Andalusi berkata “Al-Kindi meulis banyak buku tentang logika, yang tidak pernah menjadi populer, tak pernah dibaca atau digunakan orang dalam ilmu pengetahuan, karena buku-buku ini hampa, seni analisis yang merupakan satu-satunya cara untuk membedakan antara yang benar dan yang salah dalam setiap pengkajian. Menurut Ya’kub, dalam tulisan-tulisannya,seni sintensis tak dapat memberikan manfaat, selama tak mempunyai premis-premis yang pasti, yang dari premis-premis itu, dapat dibuat sintesis.” Sukar bagi kita memberikan pendapat yang pasti tentang  penilaian ini, sebelum risalah-risalahnya tentang logika ditemukan. Tetapi kenyataan bahwa al-Farabi disebut sebagai “Bapak Kedua”, lantaran upayanya memperkenalkan logika sebagai metode berpikir dalam fislafat Muslim, tampak memperkuat penilaian Said di atas.

D. KESELARAN FISAFAT DAN AGAMA

Al-Kindi, mengarahkan filsafat Muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedang agama berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan iman, yang merupakan kepercayaan kepada hakikat-hakikat yang disebutkan dalam Al-Quran sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, merupakan jalan agama. Sejak awal sekali, orang-orang agama tak mempercayai filsafat dan filosof. Para filosof diserang sebagai pembuat bid’ah. Al-Kindi mesti membela diri dari tuduhan orang-orang agama bahwa “mengetahui hakikat segala sesuatu adalah kufur.” Sebaliknya al-Kindi menuduh orang-orang agama sebagai tak agamis dan menjual agama. “Mereka berselisih dengan orang-orang baik-baik dalam membela kedudukan yang tidak benar, yang telah mereka peroleh tanpa memberikan manfaat dan hanya untuk memperoleh kekuasaan dan menjual agama.”
Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan : (1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian, (3) Menuntut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyyah), ilmu Tauhid, etika, dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat,
Apalagi, para Nabi telah memerintahkan untuk mencari kebenaran dan berbuat kebajikan. “Keseluruhan ilmu yang bermanfaat  dan jalan untuk memperolehnya, penghindaran dari segala yang mudharat dan mencegahnya – pencapaian semua ini, merupakan yang dinyatakan, atas nama Allah oleh nabi-nabi. Para nabi-nabi telah menyatakan Kemahaesaan Allah, kebajikan yang diridhai-Nya, dan penolakan kekejian yang bertentangan dengan kebajikan diri.”
Demikian pula, pencarian filsafat adalah perlu, karena hal itu “perlu atau tidak perlu. Bila para teolog (yang menentang pencarian filsafat) mengatakan bahwa hal itu perlu, maka mereka harus mempelajarinya; bila mereka mengatakan bahwa hal itu tak perlu, maka mereka harus memberikan alasan untuk ini, dan memaparkannya. Pemberian alasan dan pemaparannya merupakan bagian dari pencarian pengetahuan tentang hakikat. Maka dari itu, mereka perlu memiliki pengetahuan ini dan menyadari bahwa mereka harus memperolehnya.”
Dalam risalah, “Jumlah karya Aristoteles”, al-Kindi membedakan secara tajam antara agama dan filsafat. Pembicaraannya tentang masalah ini, membuktikan bahwa ia membandingkan agama Islam dengan filsafat Aristoteles. Ilmu Ilahiyah, yang dibedakannya dari filsafat, ialah islam, sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah dan termaktub dalam Al-Quran . bertentangan dengan pendapat umumnya bahwa ilmu agama (teologika) adalah bagian dari filsafat, di sini kita dapati : (1) bahwa kedudukan teologi lebih tinggi dari filsafat, (2) bahwa agama merupakan ilmu ilahiah, sedangkan filsafat merupakan ilmu insani, (3) bahwa jalur agama adalah keimanan, sedang jalur filsafat adalah akal, (4) bahwa pengetahuan nabi diperoleh langsung melalui wahyu, sedangkan pengetahuan filosof diperoleh melalui logika dan pemaparan. Kita tetap sepenuhnya kalimat yang menarik dan amat penting ini.
“Bila seseorang tak memperoleh pengetahuan yang bermutu dan banyak, maka ia tak memiliki pengetahuan yang hakiki dan tak hakiki. Dengan demikian, orang tak dapat mengharapkannya memiliki sesuatu pengetahuan tentang ilmu insani yang diperoleh orang melalui riset, upaya, ketekunan dan waktu. Ilmu-ilmu ini sedikit berada di bawah kedudukan ilmu ilahiah (al-‘ilm al-ilahi), yang diperoleh tanpa melalui riset, upaya, ketekunan dan waktu. Pengetahuan ini adalah pengetahuan para nabi, suatu pengetahuan yang dianugerahkan Allah; tak seperti matematika dan logika, ia diperoleh tanpa melalui riset, upaya, studi, ketekunan, dan tak membutuhkan waktu. Ia diperoleh melalui kehendak-Nya, penyucian dan pencerahan jiwa, sehingga mereka berpaling kepada kebenaran, lewat pertolongan, ilham, dan wahyu-wahyu-Nya. Pengetahuan ini bukanlah hak istimewa semua manusia, tetapi hak para nabi. Inilah salah satu mukjizat mereka, tanda yang membedakan para nabi dari manusia lainnya. Manusia yang bukan nabi takkan memperoleh pengetahuan tentang hakikat dan yang bukan hakikat, yang tanpa melalui riset, ketekunan, matematika, logika, dan proses waktu.
Karena itu, para pemikir menyimpulkan bahwa lantaran ini (pengetahuan) ada, maka ia datang dari-Nya; sedang orang awam secara fitri tak mampu mencapai pengetahuan serupa, karena hal itu berada di atas dan di luar sifat dan upaya mereka. Karenanya, mereka berpasrah diri, patuh, dan mempercayai sepeuhnya kebenaran sabda para nabi.
Kaum Muslim mengikuti  firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran, dan teryakinkan oleh hujja-hujjah meyakinkannya. Para filosof bersandar kepada pemaparan logika, yaitu dalih-dalih mereka. Dalih-dalih filosofis bertumpa pada asas-asas awal pemaparan bukti diri. Menurut al-Kindi, hujjah-hujjah Al-Quran Suci lebih pasti dan meyakinkan daripada dalih-dalih filosofis manusia.al-Quran memberikan pemecahan-pemecahan atas msalah-masalah yang sangat hakiki, misal penciptaan dunia dari ketakadaan dan kebangkitannya kembali. Al-Kindi berpendirian bahwa hujjah-hujjah Al-Quran “sangat meyakinkan, jelas, dan menyeluruh.” Sehingga hal itu menimbulkan kepastian dan keyakinan. Karena itu, Al-Quran jauh mengungguli dalih-dalih para filosof. Sebuah contoh tentang hujjah-hujjah kuat semacam itu terdapat dalam jawaban terhadap pertanyaan kaum kafir, “Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-tulang yang sudah menjadi debu?” Jawabannya : “Dialah yang mula membuat mereka, yang akan menghidupkan mereka.”
Dengan demikian, al-Kindi telah membuka pintu bagi penafsiran filosofis terhadap Al-Quran, sehingga menciptakan persesuaian antara agama dan fislafat. Dalam karangannya The Worship (sujud) of the Primum Mobile, ayat : “Bintang-bintang dan tetumbuhan bersujud” ditafsirkan dengan berpijak pada aneka makna kata sajdah; yang berarti : (1) sujud dalam shalat; (2) kepatuhan; (3) perubahan dari ketidaksempurnaan menjadi kesempurnaan; (4) mengikuti aturan secara ikhlas. Arti terakhir inilah yang dipergunakan untuk arti sujudnya bintang-gemintang. Suasana langit dihidupkan, dan menyebabkan pertumbuhan dan keruntuhan kehidupan di dunia. Gerak primum mobile disebut “bersujud”, dalam artian mematuhi Allah.
Kesimpulannya, al-Kindi adalah filosof pertama dalam Islam, yang menyelaraskan antara  agama dan filsafat. Ia melicinkan jalan bagi al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Ia memberikan dua pandangan berbeda. Yang pertama, mengikuti jalur ahli logika, dan memfilsafatkan agama, yang gkedua, memandang agama sebagai sebuah ilmu ilahiah, dan menemnpatkannya di atas filsafat. Ilmu Ilahiah ini diketahui lewat jalur para nabi. Tetapi melalui penafsiran filosofis, agama menjadi selaras dengan filsafat.

E.  TUHAN

Suatu pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir fislafat. Fislafat, sebagaimana namanya, merupakan suatu kajian Yunani. Karena itu, al-Kindi berupaya keras menyodorkan filsafat Yunani kepada orang-orang Arab. Tepat sebagaimana kata Rosenthal : “Al-Kindi sendiri menyatakan bahwa ia menganggapnya sebagai tuganya untuk bertindak sebagai pegnalih sekaligus penafsir Arab akan peninggalan-peninggalan kuno.” Dalam tafsiran Theon tentang Almagest-nya Ptolomeus, Tuhan digambar sebagai bersifat tetap, tunggal, gaib, dan penyebab sejati gerak. Dalam al-Sina’at al-‘uzma, al-Kindi memaparkan sendiri gagasan serupa. Ia berkata : “Karena Allah, Mahaterpuji Dia, adalah penyebab gerak ini, yang abadi (qadim), maka Ia tak dapat dilihat dan tak bergerak, penyebab gerak tanpa menggerakkan Diri-Nya. Inilah gambaran-Nya bagi yang memahami-Nya lewat kata-kata sederhana : “Ia Tunggal’ dan Ia tak terlihat, karena Ia tak tersusun, dan tak ada susunan bagi-Nya, tetapi sesungguhnya Ia terpisah dari segala yang dapat dilihat, karena Ia ........ adalah penyebab gerak segala yang dapat dilihat.”
Ketunggalan, ketakterlihatan, ketakterbagian, dan kepenyebaban gerak merupakan sifat-sifat-Nya, yang dinyatakan oleh Theon. Ketika al-Kindi menyebutkan semua itu, ia tak lebih dari pengalih konsepsi Hellenistis tentang Tuhan. Keaslian al-Kindi terletak pada upayanya mendamaikan konsep Islam tentang Tuhan dengan gagasan-gagasan filosofis Neo-Platonis terkemudian.
Gagasan dasar Islam tentang Tuhan adalah Keesaan-Nya, penciptaan oleh-Nya dari ketakadaan, dan ketergantungan semua ciptaan kepada-Nya. Sifat-sifat ini, dalam Al-Quran, dinyatakan secara tak filosofis atau dialektis. Al-Kindi menyhifati Tuhan dengan istilah-istilah baru. Tuhan adalah Yang Benar. Ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatis. “Ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumnlah, tak berkualitas, tak berhubunganl; juga Ia tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada (al-ma’qulat). Ia tak berjenis, tak terbagi dan tak berkejadian. Ia abadi ......... Oleh karena itu, Ia Mahaesa (wahdah). Selain-Nya berlipat.”
Untuk memahami posisi al-Kindi, kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis dan Mu’tazilah. Kaum Tradisionalis – ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya – menafsirkan sifat-sifat Allah dengan “nama-nama Allah”. Misal, ketika ibn-Hanbal ditanya apakah Al-Qurqan, yang merupakan firman Allah, abadi )qadim) atau diciptakan (makhluq). Ia tak menjawab. Ia hanya menjawab bahwa Al-Quran adalah firman (kalam) Allah. Kaum Tradisionalis menerima makna harfiah Al-Quran, tanpa memberikan penafsiran lebih jauh.
Kaum Mu’tazilah, yang semasa dengan al-Kindi, secara akal, menafsirkan sifat-sifata Allah demi memantapkan kemahabesaran-Nya. Mereka memecahkan masalah ini berdasarkan hubungan antara zat Allah dan sifat-sifat-Nya. Menurut mereka, sifat-sifat utama Allah ada tiga : tahu, kuasa, dan berkehendak. Sifat-sifat ini mereka tolak, karena bila mereka menerima hal ini sebagai sifat-sifat Tuhan, berarti zat-Nya banyak. Kaum Mu’tazilah dan para filosof sama-sama menolak sifat-sifat Tuhan seperti itu. Al-Ghazali dengan tepat berkata dalam kitabnya Thahafut al-Falasifah, bahwa “para filosof seia sekata dengan kaum Mu’tazilah bahwa tak mungkin menganggap bahwa ‘tahu, kuasa, berkehendak’ berasal dari Prinsip Pertama.”
Al-Kindi, filosof Muslim pertama, mengikuti kaun Mu’tazilah dalam menolak sifat-sifat tersebut. Tetapi pendekatannya dalam memecahkan masalah tersebut berbeda sekali. Pertama : yang menjadi perhatiannya bukan zat Allah dan sifat-sifat-Nya; tetapi hal dapat disifatinya zat Allah. Kedua, segala sesuatu dapat didefinisikan, karena itu mereka dapat diketahui dengan menentukan jenis-jenis mereka, kecuali Allah yang tak berjenis. Dengan kata lain dalam pencariannya, al-Kindi mengikuti jalur “ahli logika.”
Dalih-dalih al-Kindi tentang kemaujudan Allah bertumpu pada keyakinan akan hubungan sebab akibat. Segala yang maujud pasti mempunyai sebab yang memaujudkannya. Rangkaian sebab itu terbatas, akibatnya ada sebab pertama, atau sebab sejati, yaitu Allah. Sebab-sebab yang disebutkan oleh Aristoteles, adalah bendawi, formal, efisien dan final. Dalam filsfat al-Kindi, sebagaimana diulang dalam tulisan-tulisannya, Tuhan adalah sebeb efisien.
Ada dua macam sebab efisien; pertama, sebab efisien sejati dan aksinya adalah ciptaan dan ketiadaan (ibda’). Kedua, semua sebab efisien yang lain adalah lanjutan, yaitu sebab-sebab tersebut ada lantaran sebab-sebab lain, dan sebab-sebab itu sendiri adalah sebab-sebab dari efek-efek lain. Secara kias, sebab-sebab itu sama sekali bukanlah sebab-sebab sejati. Ia berkehendak dan tak pernah bergantung kepada sesuatu pun.
Dunia mulanya tak maujud, karena itu ia mesti butuh satu pencipta, yakni Allah. Segala ciptaan tak abadi; Hanya Allah Sendirilah yang abadi. Hal ini menjelaskan segala hal yang berproses. Begitu pula dunia secara keseluruhan, benda-benda angkasa,d an unsur-unsur semesta, seperti genus dan species, tak abadi, karena mereka terbatas dan tercipta. Segala yang terbatas ruang dan waktu, tak abadi. Gagasan tentang ketakterhingaaan mempunyai kedudukan penting dalam filsafat al-Kindi, dan kelak akan dibahas secara terinci.
Bukti lain kemaujudan Allah, berupam keteraturan alam semesta ini. Keteraturan dunia, hirarkhis bagian-bagiannya, interaksi mereka, kesempurnaan paling tinggi segala kemaujudan, kesemuanya ini membuktikan bahwa satu Kemaujudan Sempurna mengatur segala sesuatu dengan kebijakan sempurna.
Segala kemaujudan senantiasa membutuhkan Allah. Hal ini karena Allah, Sang Pencipta yang nabadi, adalah penunjang semua ciptaan-Nya, sehingga apabila sesuatu tak mendapatkan karunia-Nya, maka ia pun pupus.

F. KETAKTERHITUNGAN

Alam, dalam sistem Aristoteles, terbatas oleh ruang, teapi tak terbatas oleh waktu, karena gerak alam seabadi Penggerak Tak Tergerakkan (Unmovable Mover). Keabadian alam, dalam pemikiran Islam, ditolak, karena Islam berpendirian bahwa alam diciptakan. Filosof-filosof Muslim, dalam menghadapi masalah ini, mencoba mencari pemecahan yang sesuai dengan agama. Ibn Sina dan Ibn Rusyd dituduh sebagai ateis, karena mereka sependapat dengan Aristoteles; mereka berpendapat bahwa alam ini kekal. Dan, masalah ini senantiasa menjadi salah satu masalah penting dalam filsafat Islam, dan al-Ghazali menyebutkannya di bagian awal dari duapuluh sanggahannya terhadap para filosof dalam Thahafut al-Falasifah.
Al-Kindi berbeda dengan para filosof besar penggantinya, menyatakan alam ini tak kekal. Mengenai hal ini, ia memberikan pemecahan yang radikal, dengan membahas gagasan tentang keterhinggan secara matematik.
Benda-benda fisik terdiri atas materi dan bentuk, dan bergerak di dalam ruang dan waktu. Jadi, materi, bentuk, ruang dan waktu merupakan unsur dari setiap fisik, (Res autem quae sunt ini omnibus substantitis sunt quinque, quarum una est hyle at secunds est forma, et tertia est locus, et quarta una est motus, et quinta est tempus). Wujud yang begitu erat dengan fisik, waktu dan ruang, adalah terbatas, karena mereka takkan ada, kecuali dalam keterbatasan.
Waktu bukanlah gerak; melainkan bilangan pengukur gerak (Tempus ergo est numerus numerans motum), karena waktu tak lain adalah yang dahulu dan yang kemudian. Bilangan ada dua macam : tersendiri  dan  berkesinambungan. Waktu bukanlah bilangan tersendiri, tetapi berkesinambungan. Karena itu, waktu dapat ditentukan, yang berproses dari dulu hingga kelak. Dengan kat alain, waktu merupakan jumlah yang dahulu dan yang  berikut. Waktu adalah berkesinambungan.
Waktu adalah bagian dari pengetahuan tentang kuantitas. Ruang, gerak dan waktu adalah kuantitas. Pengetahuan tentang ketiganya ini, dan juga dua yang lainnya, adalah penting guna mengetahui kualitas. Sebagaimana disebutkan di atas, orang yang tak mengetahui kuantitas dan nkualitas, dak mengetahui yang pertama dan yang kedua. Kualitas adalah kapasitas untuk menjadi sama dan tak sama; sedangkan kuantitas adalah kapasitas untuk menjadi sejajar dan tak sejajar. Karena itu, tiga gagasan tentang kesejajaran, kelebih besaran dan kelebihkecilan, menjadi asas dalam memaparkan konsepsi tentang keterbatasan dan ketakterbatasa.
Dalil-dalil yang menetang ketakterbatasan diulang dalam sejumlah tulisan al-Kindi. Kami kutipkan dari tulisannya. “Perihal Keterbatasan Wujud Dunia,” empat teori yang membuktikan keterbatasa;
(1) Dua besaran yang sma disebut sama, bila yang satu tak lebih daripada yang lain.
(2) Bila satu besaran ditambahkan pada salah satu dari dua besaran yang sama tersebut, maka keduanya akan menjadi tak sama.
(3) Dua besaran yang sama tak bisa menjadi tak terbatas, bila yang satu lebih kecil daripada yang lain, karena yang lebih kecil mengukur yang lebih besar atau sebagian darinya.
(4) Jumlah dua besaran yang sama, karena masing-masing terbatas, adalah terbatas.
Dengan ketentuan ini, maka setiap benda yang terdiri atas materi dan bentuk, yang terbatas ruang, dan bergerak di dalam waktu, adalah terbatas, meski benda tersebut adalah wujud dunia. Dan, karena terbatas, maka tak kekal, hanya Allah-lah yang kekal.

G.  RUH  DAN  AKAL

Al-Kindi terkacaukan oleh ajaran Plato, Aristoteles, dan Plotinus tentang ruh; keterkacauan itu terutama dikarenakan ia merevisi bagian-bagian yang diterjemahkan dari Enneads-nya Plotinus, sebuah buku, yang secara salah, dianggap sebagai karya Aristoteles. Dia meminjam  ajaran Plotinus tentang ruh, dan mengikuti pola Aristoteles  dalam berteori tentang akal. Dalam sebuah risalah pendek “Tentang Ruh”, sebagaimana dikatakannya, ia meringkaskan padnangan-pandangan “Aristoteles, Plato dan filosof-filosof lainnya,” Sebenarnya, gagasan yang dipaparkan itu dipinjam dari Enneads.
Ruh adalah suatu wujud sederhana, dan zatnya terpancar dari Sang Pencipta, persis sebagaimana sinar terpancar dari matahari. Ruh bersifat spiritual, ketuhanan, terpisah dan berbeda dari tubuh. Bila dipisahkan dari tubuh, maka ruh memeproleh pengetahuan tentang segala yang ada di dunia, dan melihat hal yang adialami. Setelah terpisah dari tubuh, ia menuju ke alam akal, kembali ke nur Sang Pencipta, dan bertemu dengan-Nya.
Ruh tak penah tidur, hanya saja ketika tubuh tertidur, ia tak menggunakan idnra-indranya. Dan bila disucikan, ruh dapat melihat mimpi-mimpi luar biasa dalam tidur dan dapat berbicara dengan ruh-ruh lain yang telah terpisah dari tubuh-tubuh mereka. Gagasan serupa terpaparkan dalam tulisan al-Kindi “Perihal Tidur dan Mimpi”, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Tidur ialah emnghentikan penggunaan inderawi. Bila ruh berhenti menggunakan inderawi, dan hanya menggunakan nalar, maka ia bermimpi.
Tiga bagian ruh adalah nalar, keberangan dan hasrat, orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jasmani, dan  berupaya mencapai hakikat segala seuatu, adalah orang yang baik dan sangat sesuai dengan Sang Pencipta.
Risalah lain tentang akal memainkan peranan penting dalam fislafat jaman pertengahan baik di Barat maupun di Timur dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul De Intellectu. Maksud risalah ini ialah memperjelas aneka makna akal dan menunjukkan cara memperoleh pengetahuan.
Aristoteles, dalam De Animo-nya, membedakanmenjadi dua macam, yaitu akal mungkin dan akal agen. Akal mungkin menerima pikiran, sedangkan akal agen menghasilkan obyek-obyek pemikiran. Akal agen ini dilukiskan oleh Aristotees sebagai tersendiri, tak bercampur, selalu aktual, kekal dan takkan rusak.
Alexander dari Aprhrodisias, dalam De Intellectu, menyatakan bahwa ada tiga macam akal : akal materi; akal terbiasa dan akal agen. Dengan demikian, ia menambahkan satu akal baru yaitu intellectus habitus atau adeptus. Akal materi adalah daya murni dan dapat rusak. Ia adalah daya manusia untuk menerima bentuk-bentuk. Sedang akal terbiasa adalah akal yang memperoleh dan memiliki pengetahuan, yaitu akal yang telah berlaku dari daya menjadi aktual. Membuat daya menjadi aktual, memerlukan agen, inilah akal ketiga, yaitu juga disebut intelligencia agens, dan beberapa penafsir menafsirkannya sebagai “intelegensia ketuhanan,” yang mengalir ke dalam ruh kita.
Namun menurut al-Kindiu, bukan tiga macam akal, tetapi empat. Ia membagi akal terbiasa menjadi dua; akal yang memiliki pengetahuan tanpa memprektekkannya, dan akal yang mempraktekkan pengetahuan. Yang pertama, seperti penmulis yang telah belajar menulis, dan karenanya ia memiliki seni menulis ini; sedang yang kedua, seperti orang yang mempraktekkan seni menulis itu.
Kita kutip alinea pembukaan dari karyanya :
1. Pertama, akal yang selalu bertindak.
2. Kedua, akal yang secara potensial berada di dalam ruh.
3. Ketiga, akal yang telah berubah, di dalam ruh, dari daya menjadi aktual.
4. Keempat, akal yang kita sebut akal yang kedua.
Yang dimaksudkannya dengan akal ‘kedua’ yaitu tingkat ke dua aktualitas, sebagaimana dipaparkan di atas dalam membedakan antara yang Cuma memiliki pengetahuan dan yang mempraktekkannya.
Satu teori lengkap tentang pengetahuan dijelaskan dalam karya lainnya. Ada dua macam bentuk; bendawi dan non bendawi. Bentuk pertama yakni bersifat inderawi, karena hal-hal yang tereasa tercipta dari materi dan bentuk. Ketika ruh memperoleh bentuk materi, maka ia menjadi satu, yaitu bentuk materi itu. Demikian pukla, bila ruh memperoleh bentuk-bentuk rasional yang non bendawi, mereka menyatu dengan ruh. Dengan begini, ruh benar-benar menjadi rasional. Sebelum itu, ruh adalah rasional dalam bentuk daya. Yang kita sebut akal, tak lain adalah genus-genus dan spesies.
Jalannya akal ini diterangkan kembali oleh al-Kindi dalam risalhnya “Filsafat Awal”. Ia berkata : “Bila genus-genus dan spesies menyatu dengan ruh, maka mereka menjadi terakali. Ruh benar-benar menjadi rasional setelah menyatu dengan spesies. Sebelum menyatu, ruh berdaya rasional. Maka, segala suatu yang maujud dalam bentukd aya tak dapat menjadi aktual, kecuali bila dibuat oleh sesuatu dari daya menjadi aktual. Genus-genus dan spesies itulah yang menjadikan ruh, yang berupa daya rasional, menjadi benar-benar aktual, maksud saya, yang menyatu dengannya.
Al-Kindi tiba-tiba beralih dari pembahasan epistemologis di atas ke pemahaman analogi tentang kesatuan semesta dan asal-muasalnya. Yang bersifat alam semesta adalah akal, bila bersatu dengan ruh. Maka timbullah pertanyaan, apakah akal itu satu atau banyak. Dalam satu hal ia satu, dan dalam hal lain ia banyak. Berikut ini uraian lengkapnya : “Dan, sebagaimana jumlah unsur alam semesta itu banyak, sebagaimana dipaparkan di atas, sedang ketunggalan yakni keseluruhan itu. Tetapi ketunggalan sejati (wahdah) bukanlah ketunggalan akal.\mengikuti ajaran Plotinus, al-Kindi terus menuju ke meta fisikal dari Yang Satu. Sebagaimana disebut di atas, ia mengacaukan metafisika Aristoteles tentang Kemaujudan dengan metafisika Plotinus. Karena ini, ia tak mampu mengupayakan suatu sistem terpadunya. Inilah yang mampu dilakukan oleh al-Farabi sang Bapak Kedua.
*****************************


Tidak ada komentar:

Posting Komentar