Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Google+ Followers

Sabtu, 04 Oktober 2014

Serat Wedaran Wirid jilid I Filsafat Islam dari Jawa dalam Bahasa Indonesia


 “WEDARAN WIRID JILID I DALAM BAHASA INDONESIA”
Diterjemahkan dari : SERAT WEDARAN WIRID JILID I
Penerbit : Jajasan ‘Djojobojo” Surabaya, Cetakan ke II
Tahun : 1962.
Penerjemah : Pujo Prayitno

BAB. I
DZAT ALLAH YANG WAJIB ADANYA
Barang siapa yang mendapat petujunjuk, maka sesungguhnya itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat sesungguhnya juga untuk dirinya sendiri. Dan tidakklah memikul beban seseorang atas beban orang lain, dan Kami (Allah) tidak akan mengazab sebelum Kami (Allah) mengutus seorang Rasul. (Qs. Al Isra’ : 15)
Perintah di atas adalah merupakan petunjuk bagi tiap diri manusia, bahwa manusia itu harus mengetaui Tugas dan Kewajibannya tentang hidupnya masing-masing. Artinya : Hidup kita ini sudah berada di jalan yang benar atau kah belum?
Keterangan : Segala petunjuk dari orang lain bagi tiap-tiap diri manusia belum tentu benar, karena tiap manusia itu berhak MENOLAK dan MENCELA, dan kealahan tindakan manusia yang seperti itu, walau pun kelihatannya orang tersebut banyak ilmunya, Di dalam surat Al-Isra’ Ayat 15 telah memberikan peringatan kepada manusia yang mauksudndya : ILMU YANG KITA YAKINI DAN KITA JALANKAN TENTANG BENAR DAN SALAHNYA YANG BISA MENGERTI ADALAH DIRINYA SENDIRI.
Dalam tindakannya sehari-hari, bagi tiap manusia adalah bebas memlih antara yang BENAR dan yang SALAH. Sehingga jika mau menggunakan kebebasan memilih tersebut tentu akan merasa tenang. Dan jika ada salahnya itu bisa disebabkan karena kurang bisa mempertimbangkannya, sebagai contohnya, seumpama seseorang sudah mengarah kepada yang BENAR, namun ketika sampai tujuuan justru SALAH yang didapat, hal itu jika kita mau merobahnya pasti akan kembali kepada yang BENAR. Namun, menurut Ilmu yang sebenarnya, penerapannya tidaklah demikian. SALAH DI DUNIA tentu akan SALAH HINGGA DI AKHIRATNYA. Sehinga sesuai perintah yang terdapat di dalam Surat Al-Isra’ Ayat 15, tersebut di atas, Walau pun Tuhan sudah memberi jalan  melalui Kitab-Nya yang disampaikan oleh Para Rasul yang berupa AGAMA, namun kita masih harus TELITI dan WASPADA, oleh karena Kitab-Kitab Suci adalah memberikan Petunjuk-petunjuk tentang jalan Kebenaran, sehingga kita harus mempunyai pikiran yang BENAR. Sehingga jika ada yang MEMBANTAH atau pun MENCELA tentang kebenarannya, yang membantah dan yang mencela justru orang yang tidak benar atau orang yang SALAH.
Menurut pendapat umum, seseorang yang sama sekali tidak memeluk salah satu Agama,  biasanya mempunyai keyakinan : MAKAN AKU CARI SENDIRI, orang lain tau apa ........Asal aku tidak mengganggu orang lain, yah sudahlah....!”
Menurut ukuran dunia, keyakinan yang demikian itu ada benarnya, namun jika dihayati dengan perasaan batin, tentunya akan menimbulkan pertanyaan “  Apakah Tanggaung jawab hidupnya di dunia? Nantinya setelah meninggal dunia, apakah bisa sempurna? Apakah percaya kepada Tuhan dan kepada yang Gaib? Apakah hanya mengakui, bahwa hidupnya lahir ke dunia ini hanya sebatas dilahirkan oleh manusia saja?
Bila mengakui bahwa terlahir dari kandungan seorang Ibu, tentunya akan bisa menelusuri lebih jauh lagi, bahwa seorang Ibu pun dahulunya juga ada yang melahirkannya, demikian seterusnya. Oleh karena hanya mengakui dan mempercayai bahwa hanya terlahir dari orang saja, sehingga ada yang meyakini (Keyakinan) yang mengatakan  bahwa : “Manusia itu ada sendiri (Jumeneng Pribadi) sebelum adanya Allah, Malaikat dan sebagainya .......” yang selanjutnya ada yang meyakini dengan mengatakan : “Bahwa manusia itu berasal dari ADAM (Kosong)” (1)
Walau pun orangbiasa, jika mau berpikir yang dalam,  tentunya di dalam batinnya akan timbul pertanyaan : “Dan yang membuat manusia itu siapa, sehingga bisa melahirkan manusia? Pertanyaan yagn demikian itu “Kaku” dan jika plesetkan bisa dijawab asal-asalan, padahal sampai sekarang ini belum ada berita yang menyatakan bahwa ada orang yang bisa menciptakan lalat atau Jangkrik. Meskipun demikian mengenai masalah ini tetap masih ada pendapat-pendapat antara yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan.
Oleh karena masih ada pendapat yang berlawanan itu tadi, sehingga orang itu mudah mudah sekali terpengaruh “Keyakinan yang tidak ada dasarnya” (Gugon Tuhon)” yang sulit untuk dinyatakan, karena sejak jaman dahulu, kita bisa menyebutkan bahwa Tuhan itu ada, karena berasal dari cerita para sesepuh orang- tua-tua saja........
Perkembangan pikiran manusia itu semakin lama semakin berkembang, hal itu bisa terlihat dari dengan adanya pendapat yang meyakini bahwa Allah itu, MENYATUNYA DARI SEMUA YANG TERGELAR, SEHINGGA pendapat yang demikian bisa meyakini tentang adanya : Atom,Bintang, Udara, daya panas, hawa, bumi, air dan sebagainya  Sedangkan yang menjadikan persoalan adalah : Karena hidup kita ini berada di alam yang moderen (Jaman atom), serta kenyataannya sampai dengan sekarang ini belum ada manusia yang sudah bisa mengetahui Wujud dari ALLAH, sehingga kesimpulannya : Bahwa menyatunya Zat-zat tersebut  (Atom, air dan sebagainya) yang dianggap sebagai ALLAH. Namun pendapat yang demikian itu hanya menjadi keyakinan beberapa orang saja, tidak semuanya. Sedangkan dalam dalam meyakini hl tersebut barangkali disebabkan karena terlalu cerdasnya dan akalnya yang berkembang, namun sampai sat ini para Sarjana yang mempunyai pendapat yang demikian, tetap belum bisa mengetahui RAHASIA HIDUP, artinya : Belum bisa memberikan jawaban yang tepat dari pertanyaan : DARIMANAKAH ASAL HIDUP ITU?
Oleh karena tidak mendapatkan jawaban sehingga buntulah pikirannya, kemudian tumbuhlah pemikiran yang lainnya, bahwa yagn disebut Allah itu adalah hanya : KEBUNTUAN PIKIRAN (bingung, tidak bsia dipikirkan), bukan dikarenakan  oleh ke“Bodoh” annya, namun dikarenakan oleh TIDAK BISA  menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan bukti menurut Ilmu Alam, bahwa semua benda  adalah terbentuk dari bersatunya “Atom” minus dan “Atom” Plus. Sedangkan berasal dari mana “Atom” tersebut dan siapakah yang menciptakannya, hal itu tidak bsia diketahui sehingga pikirannya menjadi “BUNTU” TERDIAM sehingga menjadi “TERHERAN_HERAN”. Sehingga akhirnya disingkat saja bahwa “TUHAN ITU SAMA DENGAN MENYATUNYA DAYA”.
Pendapat yang demikian itu barangkali timbul karena adanya keyakinan dalam memahami bahwa adanya daya yang seling pengaruh-mempengaruhi, tarik menarik, atau tolak menolak, yang menimbulkan terbentuknya alam yang tergelar ini, sehingga bisa bergerak, berputar, panas, berotasi dengan sendirinya dan sebagainya. Sebenarnya, hal yang demikian itu sudah ada sebelum berkembangnya Agama dan tetap adanya. Sedangkan manusia itu, ketika terlahir ke dunia hanya tinggal mengetahui saja, hal yang demikian itu.
Sarjana dari Yunani yaitu Heraclitus dan Thales yang hidup kira-kira 2.500 tahun yang lalu, bertanya kepada dirinya sendiri, sebagai berikut : “BERASAL DARIMANAKAH BENDA 9MATERI) INI?
Untuk mendasari uraian tentang Dzat Tuhan Yang Wajib Adanya, pertenyaan tersebut di atas perlu dijawab  terlebih dahulu adalah menggunakan dasar hukum dasar Atom stelsel  (Tata Atom) atau Ilmu Alam (Physica moderen) dengan harapan agar tidak menimbulkan kefanatikan dan yang sebenarnya justru akan semakin meyakinkan  tentang Dzat TUHAN YANG WAJIB ADANYA, karena semua uraian yang dilandasi dengan Ilmu Pengetahuan itu mudah diterima oleh akal pikiran.
Contoh yang mudah  sehingga ada uraian yang menyampaikan bahwa : MANUSIA ITU BERASAL DARI ADAM YAITU KOSONG YANG MENGADA DENGAN SENDIRINYA SEBELUM TUHAN DAN MALAIKAT ITU ADA.
Uraian yang demikian itu, jika di sampaikan kepada orang desa yang kurang wawasannya akan diterima dengan kepuasan hati, dan sudah dianggap ilmu tinggi. Sehingga jika ada yang bertanya tentang asal mulanya, mengapa hanya dari “KOSONG bisa menjadikan adanya manusia, pastilah tidak akan bisa menjawabnya, artinya uraian yang bisa serta menjelaskan dengan jalas tentang hal itu tidak akan ada. Akan tetapi uraian seperti tersebut di atas yang hingga sekarang masih tetap membingungkan  itu, akan diuraikan sebagaimana berikut :
Heraclitus dan Thales, dalam berusaha untuk membuktikan adanya TUHAN, God, Thao, dengan cara mencari asal-usul benda hingga menghabiskan pikirannya, tetap tidak bisa menemukan jawabnya. Sehingga kemudian akhirnya berpendapat bahwa , asal mula segala benda  adalah dari AIR. Pada abad 19 pendapat yang demikian kemudian diadakan penyelidikan  oleh para Sarjana-sarjana Charles Darwin, Raerbach dan Karl Marx, agar menjadi lebih menguatkannya.
Menurut Ilmu Alam atau Ilmu Kimia, AIR itu terbentuk dari dari dua zat, yaitu bahwa air itu mengandung zat air (Hydrogenium = water stof) dan Zat pembakar (Oxygenium = barndstof) dengan perbandingan 1 Hydrogenium (H) bercampur dengan 2 Oxygenium (O) yang bentuknya adalah berupa Atom-atom. Sehingga 1 atom H dan 2 atom O, atau disingkat menjadi H2O, bentuk nyatanya adalah berupa AIR.
Sarjana Democritus yang hidup sekitar 460 tahun sebelum Nabi Isa, juga mempunyai pendapat, bahwa semua zat yang cir, gas, padar dan sebagainya, menjadi ada adalah berasal dari bercampurnya benda-benda yang sangat kecil, yang sudah tidak bisa  diurai lagi. Penpadat yang demikian itu kemudian di betulkan oleh sarjana Aristoteles, dan kemudian Sarjana Dalton menambahi, bahwa benda itu berasal  bagian-bagian yang sangat kecil seklai yang tidak bisa dilihat  dan tidak bisa dipecah-pecah, namun bisa terperinci sendiri-sendiri (2) Oleh karena bisa terperinci sendiri-sendiri, sehingga bisa membentuk sesuatu yagn bernama MOLEKUL, contohnya “Alkohol”, adalah terbentuk dari  bercampurnya  1 atom zat bakar, 2 atom zat Arang (koolzuur) dan 6 atom zat air, dan sebagainya.
Kemudian para sarjana tersebut berusaha untuk bisa mengetahui apakah  atom itu yang sebenarnya, dan apakah benar bahwa atom itu sudah tidak bisa terbagi lagi? Pencarian yang demikian kemudian bisa didtemukan oleh Sarjana  Thomson pada tahun 1895, dengan dipraktekkan menggunakan Sinar yang disebut sinar “X), dan di dunia kedokteran disebut dengan sinar “Ronsgen”. Caranya adalah dengan cara Sinar “X” disinarkan kepada atom, yang menyebabkan atom tersebut kemudian pecah menjadi sesuatu yang sangat kecil sekali, yang berasal dari pecahan-pecahan yang terjadi dengan sendirinya, yang disebut “ Oer-atom” (Asal mula atom), yang setelah diteliti ternyata mempunyai daya listrik yang bersifat Negatif, yang kemudian diberi nama ELEKTRON. Sedangkan Oer Atom tersebut, sampai saat ini  masih belum bisa diketahui tentang besar kecilnya, walau pun menggunakan mikroskop, yang bisa membesarkan beribu kali lipat. Sampai sekarang, elektron itu belum bisa diketahui, apakah daya yang berada di dalamnya apakah merupakan daya alam, atau kah daya mekanis, walau pun diuji dengan mempergunakan alat yang bagaimana pun bentuk alatnya.
Menurut penyelidikan para sarjana tersebut, dari pecahnya zat-zat tersebut menimbulkan daya Radio Aktif yang tidak bisa dihalang-halangi dengan menggunakan alat apa pun, dan daya Radio aktif tersebut masih  memiliki daya yang lain lagi, tiga macam, yaitu :
1. Daya Penetrasi (Suatu daya yang bisa masuk kepada apa pun).
2. Daya Elektro-magnit, dan
3. Yang lebih berat dari Elektron, yang mengandung Daya.
Sedangkan terjadi proses dari zat-zat yang bisa melepaskan elektron itu tadi, sudah ditetapkan berjalan dengan sendirinya sesuai sifatnya, padahal semua yang tergelar di dunia ini gerak atau proses berjalannya tentulah karena ada SEBAB, seperti halnya Matahari, Bumi, buln dan sebagainya, yang seling tarik menarik atau tolak menolak. Hasil penelitian Sarjana luar negeri sudah membuktikan bahwa segala sesuatu yang bisa terlihat mata semuanya mempunyai daya MAGNIT (Listrik), yang pengaruhnya akan menimbulkan gerak yang tetap yang berasal dari daya proses kelistrikan antara Negatif dan Positif. Hanya saja, atom beserta intinya dalam prosesnya tidak saling berbenturan, oleh karena itu, sehingga membuat heran para sarjana.
Pada tahun 1932, sarjana Rutherford dan Chalwich kedunya menemukan zat yang bernama NEUTRON, yaitu Zat yang tidak mengandung daya listrik. Sedangkan Rutherford menemukan zat yang disebut PROTON, yang masanya (Orang Jawa menyebutnya Yoni) 1836 kali lipat dibanding dengan masa dari Elektron. Penjelasan mengenai Atom disingkat hinga sampai di sini saja. Sedangkan yang Pokok yang perlu dipahami bahwa zat-zat tersebut mempunyai MASSA (Yoni) yang tetap, namun dari itu semua ada yang mempunyai TENAGA (Energie) yang berbeda dengang zat-zatnya.
Pada tahun 1931, sarjana Pauli dan Fermi bisa menemukan daya Neutrino dan penemuannya itu disemmpurnakan lagi pada tahun 1955. Oleh karena dya Neutrino itu bukan Zat, sehingga sampai sekarang belum bisa dibutikan ujudnya, namun tentang dayanya sudah sudah diketahui, yang berdasarkan keterangan sarjana Prof. Dr. Camov, sangat besar sekali. Dikatakan bahwa Neutrino itu, yang bisa menembus semua yang ada di alam ini dan baru bisa berhenti ketika daya tembusnya terhalang oleh Timah yang ketebalannya 30 juta kilometer. Penjelasan yang demikian itu mengandung makna, bahwa kekuatan Neutrino itu memang tidak ada yang bisa menandinginya.
Jika diukur menggunakan keliling bumi yang hanya 40.000 kilometer itu baru sebanding, karena Neution itu baru bertemu dengan ANTI NEUTRINO yang ditemukan di Bumi seketika akan HANCUR, menimbulkan daya yang ajaib itu daya penerik semua makhluk yang ada, sehingga tidak bisa terpental (Terlontar) walau pun bumi ini berbentuk bulan dan selalu berputar ini. Walau pun seperti itu, daya tersebut bisa bisa digambarkan seperti ELIM, yang melekatkan semua makhluk di permukaan bumi. Sedagnkan daya yang ditimbulkan oleh reaksi Neutrino dan sejenisnya disebut DAYA PELONTAR MADYA yang tetap selamanya. TETAP ADANYA. Dan jika daya tersebut berhenti, pastilah akan menimbulkan kejadian yang sangat mengerikan, Air samudra akan menyembur, dan semua yang ada di permukaan bumi akan terlontar tidak karuan arahnya, karena disebabkan oleh daya Lontar dari berputarnya dunia ini. Hal yang demikian itu jika diddhayati akan bisa mempertebal keyakinan bahwa TUHAN ITU ADA, yang MAHA MENGETAHUI, karena, baru meneliti, menelusuri adanya Neutrino saja, sudah buntu pikirannya. Apalagi jika ingin mengetahui UJUD TUHAN!!!!.
Apa yang telah disampaikan di atas, itu baru yang bisa diketahui saja, balum lagi yang masih rahasia, karena Rahasia Misteri Dunia itu jumlahnya tidak terhitung. Sedangkan pendapat yang demikian, jika TUHAN ITU ADALAH DAYA TERSEBUT, hal itu jika di kejar lagi dengan menggunakan dasar pikiran yang bening, dengan pertanyaan : SIAPAKAH SEBENARNYA YANG MEMBUAT ATOM_ATOM ITU? Dan SIAPAKAH YANG MENYEBABKAN DAYA_DAYANYA?
Dengan menggunakan ilmu yang dinamakan SSPECTRAAL ANALYSE (Ilmu untuk menelusuri daya kekuatan bebatuan yang ada di bumi dan di luar bumi), sehingga para sarja mempunyai keyakinan , bahwa semua BENDA, itu terbentuk dari PERCAMPURAN ATOM atau Zat-zat itu tadi, dan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah berasal dari BINTANG-BINTANG atau planet-planet. Sebagai contoh saja, BESI, bahan pembentuknya berasal dari MATAHARI, karena Matahari mengandung Zat Helium (Zat Besi). MANGAAN atau CALCIUM, berasal dari Bintag SERIUS. Untuk bisa mengetahui hal yang demikian karena menggunakan alat (4) Yang dipergunakan untuk meneliti keadaan CAHAYA-CAHAYA, yang berasal dari bintang-bintang tersebut. Dengan menggunakan keahlian yang demikian itu, semestinya harus mengagungkan ASMA TUHAN, dan tidak terus diam dan hanya mengatakan bahwa ALLAH itu adalah seluruh sumber daya dari daya yang sudah tersebut itu.
Dan jika dihayati lebih dalam lagi, seluruh manusia itu bisanya “MENGAKU” saja,  karena begitu terlahir ke alam dunia itu, semuanya telah tersedia. Seumpama ada seseorang yang bertanya kepada Bayi yang baru lahir sekitar 3 jam “MENGAPA KAMU MENANGIS TERUS, SIAPAKAH YANG TELAH MENINGGALKANMU? Bayi tersebut tentunya tidak akan bisa menjawabnya, dan lebih mudahnya lagi, seumpama bertanya kepada anak yang baru berumur 1 tahun : “SIAPAKAH YANG MELAHIRKAN KAMU? Jika tidak akan bisa menjawabnya dengan tepat.
Sedangkan yang senang dan bisa menjawabnya adalah orang “JAWA” yaitu orang yang sudah memahami tentang keadaan. Yang melahirkan adalah “Ibunya” dan ketika terlahir hanyalah sendirian saja” Dan jika hal ini dibalik, “UNTUK BISA MENGETAHUI BAHWA YANG MELAHIRKAN ITU ADALAH IBUNYA, itu dikarenakan diberi cerita oleh YANG MELAHIRKAN, sehingga untuk bisa mengerti itu SETELAH BISA BERBICARA DAN SUDAH “JAWA” (bisa memahami)”. Dan sesungguhnya “BAHWA MANUSIA TERLAHIR KE DUNIA INI itu TIDAK MENGETAHUI APA-APA. Singga sesungguhnya, manusia itu sama sekali tidak mempunyai HAK untuk mengatakan bahwa TUHAN ITU TIDAK ADA (6) Jika dihayati lebih dalam lagi bahwa sebenarnya manusia  itu semula TIDAK MENGERTI APA-APA, setelah tua renta itu pun akan kembali TIDAK MENGERTI APA-APA, dan ketika sampai ajalnya pun TIDAK  MENGERTI APA-APA lagi (7) karena sebenarnya yang disebut MENGERTI itu adanya adalah di antara LAHIR dan MATI.
Ketika manusia lahir ke dunia ini itu,  semua keadaan sudah tergelar, semua sudah ada, makanan pun tinggal mencari saja, tidak usah bersusah payah menciptakan makanan terlebih dahulu. Kemudian SIAPAKAH yang sudah menyiapkannya, atas semuanya itu ? Untuk menjawab pertanyaan “SIAPAKAH” itulah yang menyebabkan adanya sebutan tentang TUHAN atau ALLAH, yang maksudnya adalah Yang Disembah, yang tidak terlihat (7) Namun kenyataannya “ADA”. Sedangkan para sarjana itu, tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan “DARI MANAKAH ASALNYA” semua yang tergelar di alam dunia ini, walau pun dalam kenyataanya sudah bisa menemukan Atom dan sebagainya, akan tetapi tetap masih tergagap-gagap “SIAPAKAH YANG MEMBUATNYA”?
Dalam hal para sarjana bisa menemukan semua yang teramat halus yang sudah dijelaskan sebelumnya karena hanya MELEWATI saja, namun sebenarnya di dalam hatinya masih “KEBINGUNGAN” sehingga menyerah kepada SIAPAKAH SEBENARNYA YANG MENCIPTAKAN SEMUA ITU.
Keyakinan yang jujur dan tumbuh di dalam hati dari orang-orang pintar dan orang yang mengerti, mengatakan bahwa manusia itu sebenarnya hanya tinggal “MENEMUKAN” saja. Oleh karena manusia itu mempunyai dasar lebih sempurna dibanding mahluk lainnya, sehingga manusia memiliki pengertian sehingga bisa berfikir, bisa berusaha, sehingga menumbuh pertentangan memperebutkan “BENAR”. Segolongan manusia menyebutkan bahwa yang bernama TUHAN itu adalah DAYA seperti yang sudah disebutkan di atas, sedangkan golongan yang lainnya mempunyai keyakinan  bahwa yang menciptakan DAYA itulah yang disebut TUHAN, namun DZAT atau pun rupa-Nya TIDAK KELIHATAN. Persilangan pendapat yang demikian itu memang sudah ada sejak jaman dahulu kala, menjadi rame, sama-sama mengukuhi keyakinannya masing-masing. Untuk menanggulangi hal yang demikian, sehingga Tuhan kemudian mengutus Hamba-Nya.... yang diberi tugas untuk memberikan PENERANG kepada yang saling berselisih itu. Untuk menunjukkan mana yang BENAR dan mana yang SALAH. Sedangkan Hamba-Nya yang di utus itu disebut dengan julukan NABI, artinya BERDERAJAT RASUL, yang masing-masing adalah SAMA keyakinannya, yaitu sama-sama MENGAKUI dan MENGAJARKAN kepada siapa saja yang intinya BAHWA ALLAH ITU ADA (ANA).
Oleh karena di jaman itu, pikiran manusia itu belum berkembang dan belum berpikiran maju seperti sekarang ini, sehingga smua ajaran para NABI tersebut juga hanya diterima apa adanya, dan sedemikian itu berlangsung hingga turun ke anak cucunya meyakini atau menyebut bahwa Adanya Tuhan itu berdasar dari “KATANYA” ayah dan ibunya, tanpa dimaknai bahwa siapakah yang disebut ALLAH itu, apakah DZAT apakah SIFAT atau kah DAYA. Oleh karena tetap masih ada yang kebingungan, sehingga memunculkan keyakinan, bahwa ALLAH itu hanya kumpulan dari BUMI, MATAHARI, HAWA dan AIR (4 anasir pokok), namun juga ada yang menyebut bahwa 4 anasir itu hanya SIFAT-Nya saja (8). Demikian seterusnya hingga sampai penelaran sekaran ini, adanya hanya menerima pendapat yang “SEPERTI ITU’ saja.
Oleh karena itu, sehingga sangat cocok dengan Firman ALLAH seperti yang tersebut di dalam AL-Quran Surat Al-Isra’ ayat 15 seperti yang sudah disebut kan sebelumnya, Semua keyakinan itu BENAR dan SALAHNYA hanya berada di diri manusia masing-masing, orang lain TIDAK BISA IKUT-IKUT.
BAB. II
SIFAT DUA PULUH
Oleh karena manusia itu dicipta dengan derajat luhur dan memiliki kelengkapan hidup yang lengkap, baik yang Halus maupun yang kasar, dan juga kelengkapan indranya dan sabagianya, shingga para Ulama Besar pada jalan dahulu berpendapat bahwa Asma ALLAH itu sebenarnya hanya SEBUTAN (menyebutkan adanya Dzat yang bisa menciptakan), yang sebagaian besar dalam penyebutannya dihubungkan dengan Sifat—sifat yang ada dalam diri manusia itu sendiri (“) yang berbeda dengan meahluk yang lainnya, seperti belatung, cacing, hewan melata, walau pun gajah sekalipun kelengkapannya tidak lengkap seperti yang ada pada manusia. Akan tetapi kehidupan mahluk-mahluk selain manusia itu hanya sesuai dengan Kodratnya masing-masing, maksudnya, bisa berjalan, bisa merasakan sakit, bisa melihat, namun tidak bisa mempergunakan AKAL dan PIKIRANNYA yang artinya bahwa, HIDUPNYA KURANG SEMPURNA.
Mendasari hal yang demikian, sehingga manusia yang ahli mempunyai pendapat bahw Tuhan itu mempunyai sifat yang sempurna serta tidak bisa berubah-ubah, yang artinya BAHWA TUHAN ITU TIDAK KEKURANGAN SIFAT-SIFAT SEPERTI YANG TERGELAR, ini, karena semua yang ada  baik yang halus maupun yang kasar itu semua adalah TUHAN-lah yang menciptakan (“) Walau pun para Ulama sudah sedemikian pendapatnya, namun tetap TIDAK BISA BERTEMU dengan ALLAH (“) Sihingga dalam bahasa WIRID Tuhan itu disebut dengan sebutan  LAYU KAYAFU yang YANG TIDAK TERBAYANGKAN, dikarenakan bahwa para Ulama juga sama-sama Kebingungan, yang pada akhirnya bisa menyebut dengan sebutan TUHAN YANG MAHA AGUNG yang bisa menciptakan SEMUA YANG TERGELAR.
Turunnya Kitab-Kitab Sucii yang dibawa oleh para Nabi  menyebutkan Asma Tuhan, serta para Nabi itu tujuannya hanya satu yaitu : “MENG-ESAKAN TUHAN, yang pengertiaannya : MENGUASAI SEMUA YANG TERGELAR”.
Sekarang menguraikan tentang SIFAT DUA PULUH, sebabai berikut :
Bismillahirrahmaanirrahiimi. (Atas ASMA ALLAH) (Sebagai dasar pokok untuk segala hal itu diawali dengan NAMA TUHAN. Bukan dengan yang lainnya,  Penerjemah). Terlebih dahulu dinukil dari serat WIRID HIDAYAT JATI, sebuah Serat peninggalan R. Ng. Ranggawarsita  (Seorang Pujangga Tanah Jawa. Pen).
Sebelum adanya segalal sesuatu, yang pertama ada adalah ALLAH, yang berada di dalam NUKAT GAIB, yang bergelar KUN, yaitu DZAT yang sebenarnya. Nukat itu artinya BIJI. Gaib itu artinya Rahasia, sehingga NUKAT GAIB adalah BIJI yang RAHASIA, yang disebut NUR MUHAMMAD, yaitu CAHAYA yang sangat BERCAHAYA tanpa ada bayangan, yang disebut juga SEIFAT SEJATI, ----- KUN kemudian FAYAKUN.
KUN artinya Perkataan ALLAH, sekali berkata untuk selama-lamanya, yaitu Asma sejati yang sebenarnya. FAYAKUN arti JADI, tergelar selamanya, yaitu AF”AL yang sejati, yang sebenarnya. (Nama sebagai dasar, Kun sebagai dasar, kunci dasar pembuka rahasia bagi yang mempercayainya, itu berlaku kekal selamanya. Pen).
Semua itu BIJI, dari asal mula dari segala yang ada yang disebut ANASIR SEJATI. Sehingga ALLAH itu MENGUSASAI atau memiliki (“) yaitu menjadi empat ANASIR, yaitu DZAT, SIFAT, ASMA, dan AF”AL.
Jika salah dalam memahaminya, maka penjelasan di atas yang mengatakan “berada di Nukat Gaib” tentu akan menimbulkan pengertian bahwa Allah itu bertempat pada TEMPAT. Siapapun juga pasti akan membayang-bayangkan, bahwa Allah itu ada Rupa-Nya. Hal seperti itu sangatlah SALAH, karena dasar dari “LAYU KAYAFU (Yang tidak terbayangkan) (6) itu (“) : bermakna : Tidak bakalan ada yang bisa menyamai-Nya. Penjelasannya : Semua yang tergelar ini adalah CIPTAANNYA, yang “baru dan terlihat” itulah yang bisa di temukan.
Almarhum Kyai Agus Salim, pernah mengatakan bahwa dasar dari Agama Islam itu terlebih dahulu harus PAHAM kepada ASMA ALLAH (Sebagi pijakan untuk mendalami yang selanjutnya. Pen). Yang selanjutnya bahwa : Segala yang tergelar ini MOKAL jika tidak ada yang MEMBUATNYA, karena sang PEMBUAT itu WAJIB ada-Nya, yang di dalam dalil disebut : MOKAL dan WAJIB. Oleh karena itu sesungguhnya manusia hanya tinggal MENEMUKAN dan keadaanya adalah TETAP (tidak berubah).
Kata MILIK atau JADI (“) itu dalam bahasa WIRID, tidak terpisah, maksudnya : SAMA, karena bersumber dari TUHAN. Wirid Hidayata Jati yang tersebut di atas, yang akan dijelaskan hanya 4 Anasir saja, karena bab yang lainnya akan ditemukan di bacaan belakang-belakang. Penjelasan tentang 4 anasir itu menurut yang dikatakan dalam ajaran Agama, sebagaimana berikut :
1). DZAT adalah Dzat Tuhan yang tidak terlihat (9), namun menguasai semua yang tergelar dan yang MEMBUAT segala yang bisa ditemukan oleh mahluk. Sedangkan sebagai bukti dari kata-kata Tidak bisa terbayangkan, penjelasannya akan bisa ditemukan di belakang (I) (a). Bila ada sebuah keyakinan yang menceritakan bahwa ada orang yang bisa bertemu berhadap-hadapan dengan ALLAH itu karena lupa kepada pedoman LAYU KAYAFU.
2). SIFAT, itu maksudnya dalah sebutan setelah adanya DZAT, artinya : Dari kekuasaan Dzat Tuhan, yaitu Dzat yang bisa Mencipta apa saja. Yang kemudian mempunyai SIFAT, atau Sifat itu adalah semua yang tergelar ini.
Jika penjelasannya didbalik, maka DZAT yang menciptakan segala yang tergelar, itu mempunyai SIFAT. Contoh : Bulat itu, buka ditujukan kepada bendanya, namun kepada BENTUKNYA, sehingga barang dan bentuk itulah yang disebut SIFAT, artinya, kasar, halus, terlihat mata atau gaib sekali pun jika masih bisa dibayangkan tentu mempunyai sifat. Untuk lebih mudahnya : Sifat itu aalah keadaan yang bisa dirasakan dengan cara dilihat atau disentuh, contohnya : Empuk, keras dan sebagainya. Semua itu sebagai dasar untuk dijadikan pedoman.
Sedangkan Sifat Tuhan itu, berjuta-juta jenisnya seperti yang termuat di dalam Kitab Al-Qur’an yang menyebutkan Ke-Mahakuasaan-Nya (Perbuatan-Nya, Keagungan-Nya, Kekuasaan-Nya dan sebagainya). Sekedar contoh saja : Bisa menidurkan, bisa membangunkan, bisa menumbuhkan biji dan sebagainya.
Oleh karena sifat-sifat yang demikian itu juga terdapat pada manusia, sehingga para Ulama jaman dahulu sepakat bahwa Sifat Dzat yang Wajib adanya itu juga berada (menguasai) manusia yang jumlahnya 20 dan 20 + 1 = 41. Untuk lebih jelasnya : Tuhan itu mempunyai sifat Wajib 20 (yang tidak bisa berubah), dan 20 lagi yang Mokal dan ditambah 1, yaitu sifat WENANG.
Jika dipikir dengan jernih, sifat 20 itu juga berada pada manusia, sehingga disebut sempurna, karena hanya manusia yang bisa menyebutkan bahwa Tuhan mempunyai sifat 20. Hal itu dikarenakan bahwa manusia itu terpengaruh oleh sifat 20 itu, contohnya : melihat, mendengar, hidup (“) dan sebagainya. Seperti yang terdapat di dalam Sifat Tuhan itu sendiri, seperti yang tersebut di bawah ini :

Sifat Wajib
Tulisan Arab
Maksud
Sifat
Wujud - 1
ﻭﺟﻮﺩ
Ada
Nafsiah
Qidam -2
ﻗﺪﻡ
Terdahulu
Salbiah
Baqa -3
ﺑﻘﺎﺀ
Kekal
Salbiah
Mukhalafatuhu lilhawadis -4
ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Berbeda dengan makhluk-Nya
Salbiah
Qiyamuhu binafsih – 5
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Berdiri sendiri
Salbiah
Wahdaniyat – 6
ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Esa (satu)
Salbiah
Qudrat – 7
ﻗﺪﺭﺓ
Kuasa
Ma'ani
Iradat – 8
ﺇﺭﺍﺩﺓ
Berkehendak (berkemauan)
Ma'ani
Ilmu – 9
ﻋﻠﻢ
Mengetahui
Ma'ani
Hayat – 10
ﺣﻴﺎﺓ
Hidup
Ma'ani
Sam'un – 11
ﺳﻤﻊ
Mendengar
Ma'ani
Basar – 12
ﺑﺼﺮ
Melihat
Ma'ani
Kalam – 13
ﻛﻼ
Berbicara
Ma'ani
Kaunuhu qaadiran – 14
ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Keadaan-Nya yang berkuasa
Ma'nawiyah
Kaunuhu muriidan - 15
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan
Ma'nawiyah
Kaunuhu 'aliman – 16
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Keadaan-Nya yang mengetahui
Ma'nawiyah
Kaunuhu hayyan – 17
ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Keadaan-Nya yang hidup
Ma'nawiyah
Kaunuhu sami'an – 18
ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Keadaan-Nya yang mendengar
Ma'nawiyah
Kaunuhu bashiiran – 19
ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Keadaan-Nya yang melihat
Ma'nawiyah
Kaunuhu mutakalliman – 20
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Keadaan-Nya yang berbicara
Ma'nawiyah

Sedangkan sifat-sifat yang lainnya untuk Memuji Tuhan adalah sangat banyak ragamnya, tergantung dari bahasanya masing-masing. Bagi orang Jawa, sifat memuji di antaranya : Gusti Ingakang Maha Wicaksana (Tuhan Yang Maha Bijaksana), Ingakang Maha Agung (Yang Maha Agung), Ingkang Maha Asil (Yang Maha Adil) dan sebagainya.
Menurut yang diuraikan di dalam Usulluddin, 20 sifat itu diringkas lagi menjadi 4 (lihatlah sifat angak 1 hingga 20 di atas), yaitu :
1.         Sifat angka 1 disebut NAFSIYAH, yang yang digunakan sebagai BADAN.
2.         Sifat angka 1 hingga 6, disebut SALBIYAH, yaitu yang YANG MENIADAKAN (adalah berlawanan dengan sifat pada angka 1 hingga 20), sehingga tidak menumbuhkan sifat MOKAL, sehingga Kekal penggunaanya.
3.         Sifat angka 7 hingga 13 disebut MA”ANI, artinya yang MENEMPATI, sifat Nafsisyah  yang sudah disebut di depan karena terpengaruh oleh sifat-sifat angka 7 hingga 13. Jika disamakan dengan perbuatan badan manusia itu bisa betepuk tangan, karena dalam kenyataanya bisa berbicara, mendengar, berpikir dan sebagainya.
4.         Sifat angka 14 hingga 20, disebut MAKNAWIYAH, yaitu yang ketempatan sifat MA’ANI, Keterangan : Sifat-sifat yang bisa melakukan (Kuasa, Memiliki, Berkehendak, Memiliki Ilmu dan sebagainya), itu terdapat pada sifat nomor 7 hingga 13, itulah yang berada juga, di badan manusia sehingga sehingga bisa bergerak dan berfikir dan sebagainya. Sedangkan yang pada sifat nomor 14 hingga 20, Untuk lebih jelasnya : Dzat Tuhan bisa menciptakan SEKEHENDAKNYA yang ada pada ADANYA (Ujud) manusia dan sebagainya, yaitu yang disebut NAFSIYAH. Sedangkan perbuatan manusia itu disebabkan karena ketempatan sifat-sifat dua puluh. Sehingga gerak dari sifat MA”ANI itu, bagi manusia dikarenakan mengisi sifat-sifat nomor 14 hingga 20. Tanda buktinya : Sifat Kuasa (Qudrat)adalah bersifat tetap, yaitu tetap berkuasa.
Bagi manusia, bisa kuasa itu hanya  karena AKIBAT dari pengaaruh kekuasaan Yang Maha Kuasa (ALLAH). Contohnya : Salah satu sifat dari Dzat, umpamanya nomor 18 (Sami’an = mendengar) itu ada di Telinga. Sehingga ketika Telinga bisa mendengar karena mengandung sifat SAMA”. Sedangkan untuk menjadi sifat MAKNAWIYAH karena ketempatan sifat MA”ANI. Untuk jelasnya : Berfungsinya sifat mendengar itu kemudian digunakan untuk mendengarkan  itu setetelah bersifat Ujud (Ada dan terlihat), yaitu yang berbentuk Telinga yang diiliki oleh manusia.
Qur’an di dalam keseluruhannya tidak menerangkan yang demikian, yang diterangkan hanya Sifatnya saja. Sedangkan di dalam Serat Primbon Wirid Hidayat Jati, disebutkan demikian “Jangan menjadikan ragu di dalam pikiran, Allah itu ketika mendengar “Mempergunakan”  telinga manusia>”
Hal itu, jika sampai salah dalam memahaminya, bisa mengakibatkan lupa dan sembarangan, dikira bahwa Allah berada di dalam manusia. Yang sebenarnya, bahwa manusisa itu hanya menggunakan Hakikat dari sifat-sifat Allah. Walai pun tidak bertempat di Telinga Tuhan itu TETAP bisa MENDENGAR, karena hanay DIA yang MEMILIKI semua sifat tersebut. Sehingga MEMBACA HIDAYAT JATI, itu haru menggunakapan PENALARAN , karena Buku itu merupakan Induk yang harus di jabarkan maknanya. Hidayat itu tidak salah, hanya yang membacanya lah yang harus menelaahnya. Jika membaca sifat-sifat seperti di atas, dengan berulang-ulang, akan bisa mendapatkan rasa tenteram dan terang, karena pengaruhnya bisa merasa terbuka mata hatinya, seperti perintah Tuhan di dalam Qur’an XIII (Al-Ra’du) ayat 28, sebagai  berikut : Orang-orang yang beriman itu senang hatinya karena selalu ingat kepada Tuhan. Ketahuilah, bahwa oleh karena selalu ingat kepada Tuhan itu, manusia akan mendapatkan senang di hatinya.” (2a) Penjelasan bisa ditemukan di bab Adanya Jim dan Syaithan.
Di dalam semua Wirid-wirid, sifat 20 itu kemudian diulas lagi, dengan uraian-uraian, sebagai berikut :
A.        Sifat nomor 1 disebut sifat Jalal, artinya Maha Agung. Sedangkan yang Agung itu adalah Dzat-Nya yang mengusai (3a) segala yang ada.
B.        Sifat Nomor 2,3,4,5, : Disebut sifat Jamal, artinya Maha Indah, yang Indah itu adalah Sifat-Nya, karena tida ada sesuatu pun yang menyamainya, bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan banci, tidak beranak, tidak berayah atau Lamyulad wa lam yalid (Tidak bisa terbayangkan, Tidak Terlihat).
C.       Sifat nomor 11.12.13, dan sifat dan nomor 18,19, disebut SIFAT KAMAL, artinya : MAHA SEMPURNA. Yang Maha Sempurna itu Af’al-nya (Perbuatannya, yaitu menggelar segala keadaan tanpa ada cacatnya, karena tidak ada ciptaan yang tidak mengherankan).
D.       Sifat nomor 6,7,8,9,10, dan nomor 14,15,16,17, disebut sifat KAHAR, artinya : MAHA KUASa. Yang Maha kuasa itu Asma-Nya, karena menguasai segala keadaan tanpa pilih kasih. Apappun itu,  pasti ,patuh kepada keadaan sebutannya dengan Pengertiannya, walau pun itu Jim dan lain-lainnya. Oleh karena maka ALLAH itu disebut SUCI, Hidup. Benar dan sebagainya. Sehingga, siapa saja yang masih Hidup tentu akan bisa menyebut ASMA TUHAN dengan caranya masing-masing.
3). ASMA, itu adalah sebutan yang berasal dari manusia. Artinya : Manusia dalam menyebut kepada Dzat Yang Wajib adanya, karena manusia itu mempunyai wewenang Menolak/Memilih tentang Benar dan Salah, maksudnya : Menyebut Tuhan itu karena terbawa dalam menyebutan badannya sendiri, karena badannya lah yang kadang-kadang menyebutkan yang seperti itu, dan juga bahwa manusia itu mempunyai pilihan : Penguasa yang tertinggi itulah yang bernama ALLAH. Manusia dalam menafsirinya : Penguasa/Yang disembah yang tidak TERLIHAT. Oleh karena pada hakikatnya memneri pengaruh kepada manusia, maka sebutan-Nya juga bermacam-macam, sesudai dengan pemahamannya masing-masing.
Penjelasannya : Sebutan bagi tiap diri manusia menyebutkan bahwa ALLAH itu ada. Hidayat Jati menerangkan, bawa Asma itu adalah Sebutan, menyebutkan PRIBADINYA. Sedangkan yang disebut PRIBADI adalah ujud manusia yang sempurna serta TERPENGARUH oleh DZAT Tuhan itu.
Untuk lebih mudahnya : Ada kata-kata Allah-ku, Allah-mu, Allah-nya dan sebagainya, itu sebenarnya hanya MENGAKU (mengkaui bahwa ada Dzat), saja, sehingga terserah diri masing-masing dalam menyebutkannya.
Tuhan itu, menguasai seluruh yang tergelar atau semua Sifat, dalam Dalil diterangkan :
Qur’an XXV ayat 54 (As-Syura) :
“Ketahuilah, jika meraka ragu-ragu untuk mengetahui Ingsun, dan ketahuilah, bahwa Allah itu mempengaruhi segalanya (Apa saja).”
Oleh karena Dzat-nya mempengaruhi semua yang tergelar ini, sehingga menimbulkan pengaruh pula kepada manusia sehingga manusia mengakui bahwa DIA itu menguasai, artinya : Tidak di luar tidak di dalam, contohnya Daun Sirih : Mulai dari akar hingga batang, semua daunnya dan bunganya, rasa dan baunya sama. Yang demikian itu, Sebagai gambaran bila Dzat Tuhan itu, bisa disebut RASA dari SIRIH. Yang terpengeruh itu (Sirih) tentunya akan kesulitan untuk menyentuh atau menunjuk, sehinga dkatakan dengan sebutan “Tidak di luar tidak di dalam).
4). AF”AL : Artinya : Perbuatan, yaitu Perbuatan ALLAH (Lihat nomor 3 di dalam kurung). Anasir yang nomor 4, perbuatannya memang demikian.
Oleh karena berbuat, sehingga semua ciptaan yang berupa apa pun (Atom, zat-zat, Gaib-gaib, syetan, Malaikat dan juga manusia pun), semuanya terpengaruh oleh Dzat-Nya. Sehingga seluruh yang tergelar ini tidak akan mengalami berubahan dan akan tetap selamanya atas sifat (sekali lagi sifat. Pen). Perbuatannya. Namun perbuatan Dzat yang Wajib adanya itu, bersifat TERTIB, TERATUR, dan TENTERAM, ADIL< SUCI< Tidak pilih kasih. Artinya “ BENAR, tidak bisa berubah dari Maha Kuasanya.
Jika ingin membuktikan sesuai ukuran tiap harinya, contohnya : Ada seseorang yang membuat mainan dari logam, diberi pir, alat pemutar, minyak bahan bakar dan Coda. Dalam memainkannya dengan cara diputar, kemudian bisa berjalan,  Bergerak dan berjalannya itulah sesungguhnya gerak perbuatan dari yang membuatnya, karena untuk bisa membuat agar bisa berjalan “Barang-barang” tersebut memang sudah dirancang atau memang pintar. Kepandaian yang di ujudkan itu tadi,Hakikatnya adalah sama dengan zat nya. Oleh karena Tuhan Itu Maha CERDAS, dan sebagainya yang sangat banyaknya, sehingga apa pun yang dikehendaki-Nya pasti terwujud, sehingga tentunya juga pasti berbuat.
Contoh yang lagi atas tanda saksi Perbuatan DZAT Yang Wajib Adanya, adalah : Sejak jaman dahulu hingga sekarang ini, yang lama waktunya ber-milyard tahun. Bumi, Matahari, Rembulan, Bintang, Hawa, Air, Panas dan sebagainya, itu semua tetap sama perbuatannya dan tanpa mengalami perubahan, karena semuanya terpengaruh  Daya tolak-menolak, tarik menarik, memberi dan menerima, dan tetap berputar hingga menimbulkan adanya Hukum-hukum alam yang tertib, seperti : Siang, malam, pagi sore, jam, waktu, panas dan dingin dan lain sebagainya. Manusia tidak bakalan bisa mengukur seberasa besar Kekuasaan DZAT itu.
Oleh karena sangat Tertib dan teraturnya itu tadi, kemudian tumbuh arah kepada SATU, tidak ada perselisihan; untuk manusia dalam tiap harinya bagaikan telah saling bahu-membahau, bantu membantu bertukar kebutuhan. Contohnya, sebagai berikut :
a.         Di sebuah hutan ada rumah lebah madu. Madu itu adalah kesukaan dari kupu-kupu dan lebah.
b.         Oleh karena madu itu bisa digunakan untuk obat, sehingga manusia juga membutuhkannya. Oleh karena membutuhkannya sehingga mencarinya di hutan.
c.         Hutan yang banyak tumbuh bunganya itu, menjadi sumber perebutan oleh manusia, dan juga oleh kupu-kupu dan lebah yang menghisap madu.
d.         Atas keadilan DZAT, yang Wajin adanya (ALLAH), agar kupu-kupu itu tetap lestari dari ulah manusia dan lebah, bulunya diciptakan sejenis (sesuai) dengan rupa bunga. Sehingga lebah dan manusia tidak bisa membedakan mana kupu mana bunga, karena warna sayap kupu sesuai dengan warna bunga.
Lama-lama. Manusia mengumpulkan rumah lebah, dengan cara dibuatkan Glodog nama dari rumah lebah buatan manusia yang terbuat dari kayu. Sedangkan dalam mencari kayu untuk dibuat glodog tentu menggunakan alat kampak yang terbuat dari besi. Sedangkan besi itu diambil dari pabrik besi yang kadang dari luar negeri. Sebelum sampai ke Tanah Jawa naik kapal terlebih dahulu yang dibuat oleh banyak orang.
Ketika proses pembuatan kapak itu, ada juga yang sakit, yang kemudian pergi ke dokter. Dokter itu berasal dari Sekolah terlebih dahulu.
Sekolah itu yang membuat adalah Pemerintah, begitulah seterusnya, bahwa kebutuhan hidup itu tidak meleset dari KEBUTUHAN dari orang sesuai kebutuhannya masing-masing. Sehingga sebagai manusia hidup itu pasti karena SEBAB yang SATU, yaitu HAKIKAT dati DZAT, yang Maha Menguasai. Jika dihayati dengan sungguh-sungguh, Tata ketenteraman perbuatan DZAT Tuhan itu, tertata dan tertuju kepada yang SATU, yang bisa sebagai sumber kehidupan yang BENAR dan SELMAT.
Sekarang, apakah buktinya bahwa manusia itu “ketempatan” oleh DZAT-nya? Kata ketempatan itu, jika kurang memahaminya, kadang-kala bisa menimbulkan salah dalam memahaminya, dikiranya bahwa manusia itu SAMA dengan ALLAH. Di depan telah dijelskan, bahwa ALLAH adalah mempunyai sifat WAJIB 20. Sifat Mokal 20 dan sifat Wenang 1, Sehingga manusia tidak ketempatan sifat Wenang, karena sifat wenang itu  sebenarnya : Yang berisat Wenang itu adalah yang berwenang untuk menciptakan apa saja dan tidak menciptakan apa saja.
Sedangkan sifat 20 itu, bagi manusia, perinciannya adalah sebagai berikut :
1. Wujud : (ADA), maksudnya adalah : Hakikat dari DZAT Yang Tidak Terbayangkan itu, setelah menciptakan tanda bukti, yang berupa yang tergelar ini (Bintang, Bumi, Matahari, Rembulan dan juga seluruh mahluk lainnya), yang sebagai tanda saksi bagi manusia yang dicipta paling sempurna, agar tidak ada keraguan lagi dalam menyebtunya, bahwa DZAT yang tidak terlihat itu Wajib Adanya.
Penjelasannya, sebagai berikut : Orang bisa mengatakan ADA (Wujud) itu karena DICIPTAKAN, yaitu yang berupa badan kasar, yang hanya tinggal Memakai saja. Sehingga Kitab Usuluddin menyebutkan bahwa Nomor 1 itu tadi, adalah untuk badan (Boddy-nya). Oleh karena ada Badan itulah, sehingga manusia bisa bergerak dan berpikir dan sebagainya. Dan sebaliknya : “Tidak ada” yaitu “Mati”, itu adalah sudah tidak bisa menyebutkan apa-apa lagi.
2. Qidam (Pertama dan tidak ada yang mendahului-Nya), maksudnya adalah : Bahwa Sifat-sifat Tuhan, tidak bisa terkalahkan dan tidak ada yang mendahului ada-Nya. Artinya : Jika ada sifat yang “mendahului” itu sudah jelas bukan Tuhan. Karena jika Tuhan itu ada yang mendahului , keberasaanya sama saja dengan : Alaah itu ada lebih dari satu, Akibatnya : Allah Nomor 1, Allah Nomor 2, tentu akan terjadi perebutan Penguasa yaitu saling berebut posisi dalam kewenangannya (Saling bersaing- berebut keunggulan), yang akibatnya maka Dunia ini akan saling berbenturan atau manusia akan membantah akan adanya Tuhan.
Sifat “Qadim” itu menjadi Penguat Keyakinan, bahwa Allah itu hanya SATU, tidak lebih.
3. Baqa, (Kekal), artinya, tidak akan pernah berubah. Tergelarnya alam dunia yang berasal dari kehendaknya itu, tetap berujud yang disebut Langgeng. Sedangkan bila hilang atau tidak ada, itu bisa saja bahwa manusianya-lah yang tidak menemukannya, Ada nama pasti ada barangnya. Kecuali Asma Allah yang tidak bisa dan tidak boleh di samakan. Artinya : Sifat Kekal itu untuk bisa disebutkan, karena menusia itu ketempatan hidup yang bisa bergerak-gerak. Sedangkan kata yang kadang digunakan “Tidak Kekal” umpamanya, itu yang mengatakan hanyalah manusia yang masih hidup.
Ukuran Tuhan yang bisa dirasakan, Kekal itu adalah sifat Allah sendiri, yang nomor 1 hingga nomor 20 tidak akan berubah. Disebut nama dari sifat “PENGUAT”.
Bukti untuk ukuran manusia itu adalah : Lidah itu tiak akan bisa merasakan sepet atau manis yang ada di buah Sawo, jika tidak memakannya untuk merasakannya. Sehingga rasa manis/sepet itu untuk bisa diketahui karena dirasakan, namun karena rasa manis/sepet yang ada di dalam busah sawo itu bersifat langgeng, walau pun tidak dimakan juga “Tetap” adanya. Sehingga inti-inti dari langeng kekal itu berada pada manusia hidup  yang bergerak-gerak itu. Kekal bagi buah sawo karena TETAP ketempatan Manis dan seet. Penjelasannya : Batas Kekal itu ada i “HIDUP” yang berada pada sebelum “MATI”. Sehinga adanya manis, sakit, senang, dingin, nikmat, sedih, dan sebagainya, itu yang mendapati adalah “MANUSIA HIDUP”. Jika demikian, berkali-kali yang ketempatan Kekal bagi ukuran dunia itu adalah manusia hidup. Walau pun manusianya sudah mati “Sifat langgeng” itu tetap akan disebut oleh para tetangganya yang belum meninggal dunia.
4. Muhalafah liil Khawaditsi : Berbeda dengan makhluk, artinya : Sifat-sifat Tuhan itu tidak bisa ditandingi oleh apa pun juga, karena kenyataannya semua yang ada adalah Ciptaan-Nya. Ukuran bagi manusia kata “Berbeda dengan makhluk” itu sebenarnya : Tiap masing-masing makhluk sudah “Menggunakan” ujudnya. Contohnya : manusia yang terlahir menjadi hal yang baru yang bisa terkena perubahan (2a) naun karena bernama manusia di dunia manapun keadaanya tetap sama, mempunyai kaki, mata, telinga dan sebagainya.
Sedang kata “berbeda dengan makhluk yang baru itu : Bahwa manusia itu pasti berbeda dengan yang bernama SAPI, walau pun sama-sama hidup.
Sapi itu, di manapun juga sama ujudnya :
a. 10 ribu manusia, sifatnya sama.
b. 10 ribu manusia sifatnya sama
Allah itu, ketika menciptakan makhluk antara satu dengan lainnya pasti beda. Sehingga kata “BEDA” ada pada “Kehendak Tuhan”. Atau Sifat dari Allah itu sendiri! Segala jenis makhluk yang jumlahnya berjuta-juta dari  golongan manusia, hewan melata, hewan terbang, tumbuhan dan sebagainya. MAHA Pintar-Nya TUHAN, terbukti ketika bisa menciptakan masing-masing jenis makhluk pasti beda dengan yang baru dilahirkan. Itu dikarena ketika bisa membedakan itu. Sehingga Maha Tahunya Tuhan itu menurut KEHENDAKNYA, disebut  “Berbeda dengan yang baru”, maksudnya “ Menciptakan sapi, sudah selesai, kemudian ada lagi yang keluar (tercipta) berupa bunga, kayu, batu, lalat, katak dan sebagainya.
Sehingga di dunia penuh dengan makhuk yang mengherankan, karena antara satu dengan yang lainnya semuanya berbeda. Maksudnya : Lalat, Lebah, bunga, pepohonan, manusia dan sebagainya itu, semuanya adalah sesuatu yang baru yang “beda” dengan makhluk yang datang kemudian, yang menyusulnya. Semua itu menjadi SAKSI bahwa TUHAN itu ketika menciptakan makhluk menurut sekehendaknya.
5. Qiyamu bi nafsihi : (Berdiri sendiri – Bangun dengan Kehendaknya Sendiri). Kta-kata itu, dlam setiap harinya bisa dilihat buktinya. Contohnya : Terlelap tidur, bangun sendiri, hal ini bisa terjadi pada setiap makhluk. Untuk ukuran yang bisa dijadikan bukti lagi yaitu bab BIJI, yang bisa tumbuh sendiri tidak dengan jalan ditarik sedikit demi sedikit.
Sehigga bergeraknya semua yang bsia bergerak adalah karena ketempatan sifat Qiyamu bi nafsihi itu tadi. Contoh lainnya : Atom, Neutron, Positron, elektron dan sebagainya, semuanya itu bisa bergerak (3) tidak karena sebab apa-apa, kanya akerana “Ketempatan” sifat “Bangun dengan sendiri”. Artinya : bergeraknya denganc ara otomatis.
Di dalam ilmu kehehatan dan ilmu tumbuhan dijelaskan, bahwa Plasma Darah adalah selalu tetap berjalan dengan sendirinya, karena mendapatkan daya dari adanya panas? Namun bila plasma-plasma itu masih bisa terbagi-bagi lagi hingga menjadi bagian yang kecil-kecil, walau pun tidak terkena panas atau menempel di bandan, tetap masih bisa bergerak sendiri. Hal ini sudah diakui  oleh para Sarjana dan menyebutnya dengan sebutan bahwa Plasma itu Hidup.
Contoh lagi yang jarang diketahui, yaitu “Air Mani” jika dilihat menggunakan Mikroskop super, maka akan bisa dilihat bahwa bisa bergerak maju dalam tiap jamnyasejauh 6 mm. Sehingga pokok penjelasan : Sifat Qiyamu bi nafsihi adalah salah satu sifat Allah yang menguasai seluruh makhluknya yang bergerak.
6. Wahdaniyat : (Esa, Hanya Satu) kata hanya satu itu mudah diterima, karena semua yang hanya satu bukan dua atau tiga atau lebih. Dalam hal pemahaman, hanya satu itu untuk meyakinkan keyakinan kepada adanya Tuhan.
Menurut ukuran bagi manusia yang hanya satu itu Pokok akhir dari Dzat, dikarenakan oleh sebab bahwa hidup itu berasal dari Dzat yang hanya satu, sehingga segala tujuan menjadi benar, artinya : Mematuhi perintah Tuhan itu sebenarnya adalah menuju kepada yang hanya satu. Intinya : Hanya satu (Satu) menunjukan kepada dzat manusia sempurna, yang berasal dari Dzat yang hanya satu, sehingga bukan berasal dari dzat yang lain-lainnya kecuali hanya berasal dari Dzat yang mempunyaim sifat 20 iut tadi. Keterangannya : Sifat-sifat yang menjadi milik manusia itu : Hanya satu. Atau kata Hanya satu itu sebagai penguat bagi adanya sifat yang lainnya. Karena sifat 20 itu sebenarnya terikat menjadi satu namun gerkanya saja yang sendiri-sendiri. Sehingga sifat Nomor 2 hingga nomor 6 di atas, disebut “SIFAT YANG TIDAK ADA MOKALNYA” (perlawanannya = Salbiyah.
7. Qudrat (Kuasa). Keterangannya : Kodrat atau kuasa itu, contoh sebagai berikut : Orang yang duduk di bangku tiba-tiba berkeinginan untuk bangkit, seketika langsung berdiri,. Dalam melakukan tindakan langsung berdiri itu, karena manusia mempunyai sifat kuasa memerintah dirinya sendir. Kuasa untuk ukuran yang lain, umpamanya : AIR kuasanya mengalir ke bawah dan bisa rata (sama rata). Kekuasaan manusia itu bisa memerintah, menolak, memilih dan sebagainya. Sehingga kuasa (kodrat) itu, bsia terlihat pada yang terjadi di alam yang tergelar (Matahari panas, angin dingin dan sejuk, batu keras, atoon plus/minus bisa menjadi listrik dan sebagainya) Dari sifat Kuasa itulah yang bisa memunculkan hukum-hukum alam yang teratur, tidak bisa berlawanan dan berbenturan.
Kodrat itu sudah diberikan kepada manusia, sehingga tinggal mempergunakan saja (Manusia diberi kekuasan bisa). Oleh karena pengaruh  kodrat itu sangat luasnya, sehingga bagi kelengkapan-kelengkapan di dalam diri manusia itu bisa disebut “Kinodrat” sudah dikodratkan demikian. Seumpamanya mata, kodratnya terbuka, mulut kodratnya berbicara, telinga kodratnya mendengarkan dan sebagainya. Oleh karena manusia itu sudah ketempatan Kuasa (kodrat) yang bermacam-macam yang mempunyai tugas sendiri-sendiri, sehingga jika tidak bisa mempergunakan kodrat itu tadi, maka disebut tidak sempurna.
Sedangkan kodrat (kausa) bagi Tuhan : Yang diciptakan semuanya, terbukti semuanya mengherankan. Tertata serta mempunyai perbuatan sendiri-sendiri.
8. Iradat (Berkehendak). Segala tindakan manusia hidup pasti didahului dengan kehendak (Keinignan). Sehingga kehendak itu yang menguasai segala tindakan. Sedangkan sifat Iradat bagi manusia hidup yang mokal itu : DIAM (tidak bertindak apa-apa).
Bagi Tuhan, Iradat (Kuasa)-nya tidak bisa kita ukur. Contohnya : Ada makhluk aneh (menyimpang dari yang umum) itu karena sudah di kehendak-Nya (Iradatnya Tuhan) ada manusia yang berkepala dua, karena sduah dikehendaki-Nya, dan sebagainya.
9. Ilmu  (Pengetahuan). Manusia itu bias memiliki pengertian karena ada Sifat Allah yang Nomor 9 di atas. Manusia bisa membaca, karena amengerti dan terbuka pikirannya, yang pada mulanya telah berusaha agar bisa menulis dan membaca. Yang akhirnya bisa mempunyai pengertian pada pengetahuan dan ilmu.
Untuk mendapatkan ilmu baru bsia terlaksana jika sudah terbuka penghalangnya yang bernama Hijab.
Inti uraian : Manusia itu seenarnya sudah diberi sangu ilmu oleh Tuhan, yaitu sifat nomor 9 di atas. Yang menyebabkan Bodoh itu karena belum terbuka atau masih tertutup oleh Khijab, sehingga benarlah petunjuk Tuhan di dalam Al-Qur’an Surat4 ayat 126 (An-Nisa’) “Semua yang ada di langit dan di bumiitu milik Tuhan, sedangkan ilmu menguasai satu demi satu).
Walau pun demikian, manusia yang tidak tau apa-apa bukan dikarenakan bodoh, namun hanya karena belum terbuka   hijab penghalangnya. Terbukanya hati bagi manusia di jaman dahulu menjadikan derajat Wali, Sarjana, Pujangga, yang terbukanya hati menuju kepada Ilmu Tuhan yang sebenarnya. Sedangkan pengetahuan yang lainnya hanya sebagai syarat hidup di kalangan masyarkat. Sebenarnya, tiap manusia bisa berusaha agar bisa mencapainya.
10. Hayat (Hidup). Yang didsebut hidup itu adalah semua makhluk yang bisa bergerak-gerak, karena ketempatan sifat Nomor 10, yang tersebut di depan. Sedangkan sifat mokal dari Hidup adalah : Mati.
Sifat hidup bagi manusia adalah lebih sempurna dibanding makhluk yang lainnya. Tontoh yang berhubungan dengan hidup itu tidak sulit, asal memahami : Apa saya yang mengandung ssifat nomor 10 itu, walau pun sifat gaib, nyata, kasar atau pun halus, pasti hidup, walau pun geraknya pelan atau tidak terlihat. Umpamanya : Baksil itu, jika dilihat dengan mata biasa, tidak akan bisa terlihat dan bergerak-gerak, namun jika menggunakan mikroskop maka akan terlihat jelas dan bergerak-gerak. Itu sebagai bukti dari Dzat yang Wajib Adanya. Karena sifat hidup itu ternyata menguasai seluruh alam raya ini, di mana pun berasa Dzat yang hidup itu tetap bergerak. Intinya “Hidup” itu bukan Tuhan, namun hanya salah satu sifatnya saja, dan pengaruhnya  sebenarnya menguasai semua yang bisa terlihat dan juga yang gaib. Tentang hal ini ada sebuah contoh, yaitu yang berada di dalam tanah seperti halnya Gundik indukan rayap.
Gundik yang tugasnya hanya bertelur saja, itu bertempat dan terbungkus tanah dengan rapat, tidak mendapatkan hawa. Namun begitu tetap bisa hidup itu bukti nyata, bahwa Dzat Tuhan yang mempunyai sifat 20 itu menguasai seluruh tempat dan keadaan.
Sehingga sifat Hidup itu sebenarnya aktipiteit (Daya gerak) yang dimiliki oleh semua makhluk. Sedangkan Hidup yang sempurna itu berada pada manusia, sehingga manusia itulah yang bersifat paling sempurna, sehingga bisa meneliti sifat Tuhan.
a. Pepohonan itu juga Hidup namun tidak ketempatan sifat yang lengkap sejumlah 20.
b. Semua hewan dan yang lainnya juga Hidup, namun hanya mempunyai sebagian  dari sifat Tuhn yang berjumlah 20, itu.
11. Sama’ (Mendengar) : Mendengar atau mendengarkan itu dilakukan dengan menggunakan Telinga. Sifat Mokalnya itu adalah Tuli. Di dalam Wirid Hidayat Jati dijelaskan sebagai berikut (Dalam buku aslinya halaman 12 baris ke dua dari atas) .... Dzat Tuhan Maha Suci itu dalam melihat menggunakan mata kita, dalam mendengar menggunakan telinga kita (telinga) ................
Sifat nomor 11 itu, salah satu Sisat Allah, karena walau pun manusia mempunyai telingan yang besar jika teraliri Sifat  Nomor 11, sama saja hanya sebuah telinga mainan.
Singkatnya : Sifat Sama itu tadi, walau pun tidak menggunakan telinga. Geraknya TETAP MENDENGAR, karena yang memiliki hanya Tuhan itu sendiri, manusia itu hanya sebatas mempergunakan saja.
Dan untuk selanjutnya, Hidayat jati menerangkan demikian : Sehingga diibartkan lebih TUA Dat manusia dibanding Sifat Tuhan ($) maknanya adalah : Sebelum ada Dzat, sifat tidak akan diketahui atau tidak ada. Oleh akrena Dzat Tuhan itu berada pada manusia dan manusia itu dicipta Luhur, sehingga hanya manusia sendiri yang yang ketempatan sifat 20 secra lengkap.
Sehingga keterangan yang termuat di dalam Hidayat Jati seperti yang tersebut itu, Benar, karena Sifat ALLAH yang berada di selain manusia sama dengan Muda, karena tidak lengkap. Sifat yang berada di dalam diri manusia itu bersifat TUA, karena lengkap 20.
12. Bashar – Maha Mengetahui.
Mengetahui, bagi manusia hidup dan juga bagi hewan-hewan sekali pun, kerjanya melebih mata, namun itu bukan berarti , bahwa ALLAH itu untuk bisa melihat menggunakan mata manusia atau hewan.
Jika Allah melihat menggunakan mata kita, kenapa diri ini tidak mengetahui sesuatu yang belum terjadi? Karena Tuhan itu mengetahui sesuatu yang belum terjadi dan sebagainya, Sehingga walau pun pertanyaan tersebut salah dalam memahaminya namun benar. Karena bagi pemahaman umum, kata mengetahui itu, tentulah mata yang melakukannya. Oleh karen yang melakukan pekerjaan kadang melihat itulah, sehingga disebut sifat Bashar. Walau pun mata yang lebar sekali pun jika tidak teraliri sifat dari Allah yang bernama Bashar itu, tentulah tidak bisa digunakan untuk melihat. (Buta). Sehingga Buta itu sifat mokal dari mengetahui.
Bagaimanakah ukuran bagi Allah tentang sifat BASHAR itu?  Keterangannya : Cara melihat bagi Tuhan itu tidak perlu menggunakan  penglihatan, karena Sifat Melihat memang sudah mempunyai gerak yang demikian. Contoh : Manusia yang tidur itu matanya tidak bisa melihat apa-apa. Akan tetapi mengapa bisa mengetahui keadaan-keadaan yang kadang belum pernah diketahuinya, yaitu ketika bermmimpi. Sehingga Dzat yang mempunyai sifat melihat (Bashar) itu sebenarnya bergerak sendiri.
Dzat yang bisa mengetahui itu, juga ada pada setiap manusia, namun aktif dan tidaknya tergantung dari yang menggunakannya dan geraknya tidak membutuhkan tuntunan atau pun belajar, karena banyak orang atau anak-anak sekalipun bisa mengetahui apa-apa, yang dirinya belum pernah mengetahuinya. Hal itu bisa terjadi bagi manusia yang derajat sempurna, sedangkan manusia biasa bisanya hanya dengan cara tiak sengaja, yaitu bergerak menurut  kehendak Yang Maha Kuasa di dalam Dzat Bashar itu, dikarenakan juga Dzat Bashar itu salah satu bagian dari Sifat-sjfat Allah, sehingga kemudian disebut Yang Maha Mengetahui.
13. Qalam = Berkata
Sabda Allah itu memang sesuai SIFATNYA, sifat manusia itu bisa berbicara, sifat burung bisa berkicau, dan sebagainya, dan sifat-sifat yang tergelar ini adalah sifat baru dari Kehendak Tuhan. Atau Sifat dari Allah itu sendiri! Contohnya : Perkataan atau Sabda Allah itu pada jalan dahulu yang menyamapaikannya adalah Para Nabi, Wali dan juga Rasul-Rasul Allah, yang isinya pasti menuju kepada kebenaran, seperti isi dari Al-Qur’an itu. YANG BERSABDA ITU ALLAH, YANG DIGUNAKAN BERBICARA ITU NABI MUHAMMAD saw.
Untuk ukuran manusia, sifat moklanya adalah BISU, Sabda Tuhan itu menuju kepada kebenaran, contohnya : Dalam pergaulan manusia itu kadang terjadi perselisihan, itu disebabkan apa? Kemudian ada manusia yang bisa memberikan ajaran agar menjadi lurus.
Manusia yagn seperti itulah yang bisa meluruskan perselisihan dalam pergaulan, atau juga, manusia yang seperti itu yag ketempatan hakikat dari Perkataan Allah, yang intinya memberi kebenaran, cocok dengan :
a. Nomor 2, tentang sifat Qidam (Awal tidak ada yang mengawali).
B, Nomor 4, tentang sifat Muhalafah Lil Khawaditsi (Berbeda dengan yang baru).
Perkataan yang benar itu tidak ada yang mendahui, artinya : tidak “saling mempengaruhi” atau tidak ada lawan katanya, Contoh : Al-Quran itu seluruh isinya tidak ada yang berlawanan. Tentang perintah yang berada pada sifat manusisa, Wali dn Mukmin yang sudah sempurna, yang disapaikan hanya perintah Allah, perkataan yang pasti benarnya dan juga bagi masing-masing manusia itu tidak sama. Hal yang demikian itu, bisa di teliti ketika sedang menerima WAHYU.
Sedangkan sifat sabda  Tuhan yang berbeda dengan yang baru itu terdapat apda manusia itu sendiri, artinya  Perkataan manusia itu berbeda dengan perkataan makhluk selain manusia.
Makhluk-makhluk yang ketempatan sifat Berbicara itu, bukan hanya yang berbicara itu saja, namun semua ciptaan yang bisa bersuara, karena sebenarnya teraliri oleh sifat Qalam itu tadi.
14. Qadiran = Yang Kuasa
Kata kuasa itu, bagi ukuran manusia, apabila sudah ketempatan sifat Qudrat (Kuasa). Oleh karena ketempatan sifat itu tadi, mannusai akan bisa mempergunakan kuasanya. Contoh : Kodrat mata itu jika tidur akan terpejam, jika bangun maka terbuka. Namun karena manusia ketempatan kuasa memerintah mata malupun terjaga, matanya itu bisa dipejamkan. Hal itu adalah karena kekuasaan manusia.
Kekuasan manusia kepada segala kelengkapan badannya itu sebenarnya tidak tetap (Tidak konstan) akan tetapi berubah-ubah, karena manusia itu sebenarnya tidak bisa memaksa kodrat mata. Walau pun bisa membuka mata ketika tidak sedang mengantuk, sebenarnya tidak kuat terus-teerusan, rasanya pedas. Sebaliknhya, terus-terusan terpejam ketika tidak mengantuk, juga tidak kuat. Sudah teramat jelas, bahwa oleh karena sifat Tuhan yang bernama Qadiran itu, maka manusia bisa memaksa gerak kelengkapan dirinya, asal tidak berlawanan dengan Kekuasaannya (Kodratnya).
Penjelasan : Sifat Qadiran itu adalah gerak yang menyebabkan manusai bisa bisa memaksa  kelengkapan-kelapan dirinya, namun kelengkapan yang ada pada dirinya yang sudah tercetak (tetap, sesuai dan konstan) itu tidak akan bisa. Sehingga yang bisa dipaksa itu adalah kelengkapan-kelengkapan yang  berfungsi oleh kodratnya. Sedangkan ketika manusia bisa memaksa itu, karena ketempelan sifat Qadiran. Sedangkan yang lebih tinggi derajatnya yaitu sifat Qudrat, karena sifat qudrat  itu adalah yang menempati, sedangkan sifat Qadiran itu yang ketempatan.
15. Muridan, Yang Berkehendak).
Sifat ini juga berada pada manusia, artinya, setelah manusia ketempatan sifat Iradat, manusia kemudian disebut mempunyai gerak sifat Iradat itu tadi.
Oleh karena ketempatan sifat itu, kemudian disebut Yang mempunyai. Artinya setelah ketempatan sifat Iradat yang kerjanya (Activitetnya) Kehendak, kemudian manusia berpangkat Yang mempunyai kehendak.
Contoh : Yang bisa menulis karena ketempata bisa menulis. Sehingga kata Menulis itu sifat dari Yang mempunyai sedangkan kata Tulisan adalah perbuatan dari Sifat.
Bagi ukuran manusia, sifat Muridan itu terbukti dalam Rasa, kehendak atau cetusan hati, Karena dari cetusan-cetusan itu tadi, sebenarnya manusia itu ketempatan sifat Iradat Kehendak. Sehingga manusia bisa berkata-kata karena ketempatan sifat Kehendak (Iradat). Sifat Iradat itu kedudukannya menjadi perbuatan dari Sifat, sebgai penyebutannya  dari Yang Ketempatan (Manusia).
Keterangan di atas, sepertinya sudah membuka uraian sifat selanjutnya, yaitu sifat nomor 16,17,18,19 dan 20.
Penjelasan terakhir :
Sifat-sifat nomor 1 hingga 20 itu semua, sebenarnya hanya salah satu sifat dari Allah sendiri, dan manusia harus berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan karena tercipta mempunyai sifat-sifat Tuhan yang lengkap. Sedangkan sifat dari Allah sendiri, yaitu sifat 20 dan 1 Wenang atau Tuhan itu yang mempunyai sifat wajib 20, sifat mokal 20 sifat Wenang 1.
Menurut para ahli, sifat yang berada pada manusia itu disebut INGSUN (Bahasa Sanskerta = PURUSHA, bahas Belanda IK-HEID, bahasa Arab = Rabbi, bahasa Jawa Pangeranku bahasa indonesia = Tuhanku, Bahasa Ingris My God).
BAB. III
BERMACAM-MACAM PEDOMAN TENTANG ADANYA ALLAH
Allah dimana pun saja tidak terpisah dengan dirimu, dan mengetahui semua perbuatanmu.
Dan Allah mengetahui keadaan isi hatimu
(Qs. XXVII, ayat 4 dan 6 / Al Hadid).
A. Sarjana di masa lalu Anaxagoras, dari Clazomene (Ynanui) seorang ahli Ilmu Pasti, diaktan kafir karena tidak mempercayai dengan adanya Dewa-Dwa. Ilmunya disebut  :Atomistik. Sarjana inilah yang menjelaskan bahwa : ROH itu tidak ada batasnya, dan merupakan Kebulatan perbuatan dan Ketertibannya (tata).
Selanjutnya berusaha agar ROH-roh itu menyatu dengan Hakikat Ketuhanan (Ke-Allah-an). Keyakinanya : ROH itu yang MAHA KUASA, MAHA MENGETAHUI dan lain sebagainya.
B. Sarjana lainnya yang semasa dengan Anaxagoras yaitu ANAXIMANDER dari Milete, seorang Filsuf di IONIA, pemikirannya hanya tertuju keapda hakekat alam raya (benda).
Keyakinannya : Asalmula benda-benda itu dari DZAT tanpa awal dan akhir, serta tidak bisa dipikirkan. DZAT itu oleh Sarjana tersebut disebut APEIRON. Artinya Kekal.
Menurut keyakinannya, semua benda itu akan kembali kepada Apeiron. Tentang Jiwa (rOH) diyakininya bahwa Roh-roh itu bagaikan Hawa atau Angin.
C. Sarjana Ibnu Arabi, Al-Hallaj dan Syeckh Siti Jenar, sama-sama meyakini, bahwa manusia itu bersasal dari Hakekat Cahaya Tuhan Yang Maha Agung. Artinya : Pemelihara Dzat. Sedangkan paham ini dalam Bahasa Arab disebut “Wahdatul Wujud, yang berkeyakinan bahwa Allah dan Ciptaan itu adalah satu, bahasa  Wirid yang sudah umum dikatakan Chaliq dan Makhluq itu menyatu. Sedangkan makna  kiasnya adalah :
Dzat Tuhan itu menguasai segala yang ujud, tidak di luar tidak di dalam, tidak bertempat tidak pada jaman, bukan laki-laki bukan perempuan, tidak beranak, tidak berayah, namun menguasai (Lihatlah yang termuat di dalam Al Qur’an XVII. 4, 6).
Makna yang terkadung di dalam Ayat tersebut : Kepada siapa saja yang ada di dunia tidak pilih kasih (barang baru yang terlihat) semuanya pasti mendapatkan kelimpahannya. Hal itu sebagai penguat pendapat kepada paham  yang mengatakan bahwa Allah itu pilih kasih dan ada makhluknya yang lebih diperhatikan.
Oleh karena banyaknya pendapat-pendapat yang bermacam-macam, sehingga ada golongan yang meyakini bahwa untuk bisa bertemunya antara Allah dengan manusia itu, dengan jalan perjuangan dengan laku yang bermacam-macam. Sebelum adanya Aturan Agama ada aturan yang menetapkan bisa bertemu dengan Allah dengan cara menyembah kepada sesuatu barang sebagai sarana. Paham itu dinamakan Animisme (Dari bahasa latin Anima (roh, nyawa) yang mengira dengan meyakini, bahwa manusia itu mempunyai roh yang akan hidup terus setelah kematiannya. Oleh karena hidup itu hakikat dari Dzat Tuhan, serta hakikat Dzat llah itu, menguasai sehingga cara pertemuannya dengan cara menyembah kepada Kayu atau benda yang dibentuk untuk sarana membayangkan (Arca). Paham tersebut bisa juga berasal dari percaya kepada adanya Dzat yang Wajib Adanya, namun tanpa keterangan. Sehingga dalam bertindak yang demikian itu hanya karena yakin dan Cinta.
Sedangkan paham yang tidak terang namun di dalam batin bisa membayang-bayangkan bahwa Tuhan itu ada  serta berujud, yaitu Antropomorphisme. Berujud di sini bermakna gambaran-gambaran yang berasal dari angan-angan, sehinga kemudian ada golongan yang meyakini bahwa Allah itu bisa menjelma kepada manusia, dan manusia itu diangka sebagai Allah.
Kitab Suci Injil, Taurat pada awal kejadian L :27 kl. Menyebutkan :
1. Allah kemudian menciptkan manusia sesuai citranya dalam menciptakan yang dicontoh  citranya Allah, yang diciptakan menjadi laki-laki dan perempuan.
2. Tidak ada orang yang menghadap kepada Snag Rama, jika tidak keluar dari Aku, jika kaliam mengerti tentang Aku  pasti juga akan mengerti kepada Rama-ku.
Orang yang sudah melihat Aku, sudah melihat Sang Rama, apakah kamu tidak percaya bahwa Aku ada di Sang Rama, dan Sang Rama ada di Aku? . Ini tercantum di Surat Id 14,19,10.
Kata Citra yang tersebut di dalam ayat tersebut di atas maksudnya adalah sinar  rupa bayangan, itu bermakna kata rupa yang dibayangkan yang di dalam bahasa Wiri disebut Hakikat. Sudah semestinya, bahwa Manusia itu berasal dari Hakikat Tuhan.
Menurut Trilogie Kristen, Tuhan itu bersifat sang Rama, Sang Putra, dan Ruhul Kudus (Roh suci), Sebutan RAMA kurang lebih bermakna Dzat yang wajib adanya (Allah) atau yang disembah yang paling tinggi. Sedangkan Sang Putra, hakikatnya Cahaya Tuhan (1) atau yagn disebut Citra, yaitu yang bersifat sebagai makhluk dan yang ketempatan sifat 20 itu. Roh Kudus itu roh suci yang menempati sifat manusia.
Oleh karena manusia itu bersifat lebih, sehingga semua manusia itu Mempunyai Ruhul Kudus. Ruhul Kudus itu bisa disebut Ingsun atau Aku, tergantung kecerdasan Rasio akal dan pikirannya manusia itu sendiri.
Dilama dalam Surat Id : 14,9, 10 ($) tersebut di depan, disebutkan : Orang yang sudah melihat Aku, sudah melihat Sang Rama! Jika Aku diganti dengan Ingsun, sama dengan Hakikat (Citra) yang ketempatan SIFAT Tuhan yang berjumlah 20 itu.
Keterangan : Manusia yang sudah mengerti dan paham itu  MENGETAHUI AKU-nya, sama dengan Mengetahui TUHAN. Sehigga bahsa kiasnya, kata mengetahui itu bukan mengathui menggunakan penglihatan, namun mengetahui dengan pemahaman (Yakin) kepada dirinya sendiri (AKU), karena Aku itu mengndung Hakikat Allah.
($) Di sini akan dipertegas bahwa AKU itu berada di Sang RAMA, karena sang Rama berada di dalam AKU, di putar balik pun sama saja. Namun jika dipikir, sangat jelas bahwa Aku (Citra hakikatullah) itu dari Tuhan juga berada (Menguasai) di dalam AKU. Jika dibalik : Tuhan berada di dalam Aku, Aku berada di dalam Tuhan. Kata berada di sini bermakna menguasai, tidak bisa dipisah, sehingga pada intinya : SATU (ESA) dalam bahasa Wirid disebut : Lamayalid wa lam Yulad,
Wahdatulwujud : itu berasal dari Bahasa Arab, jika dirinci menjadi :
a. Wahda berasal dari kata Wahdat, artinya SATU atau Tunggal.
b. Wujud artinya : Ada.
Sehingga Wahdatulwujud itu bermakna KEADAAN SATU (3a) yaitu : Yang menciptakan dan yang diciptakan atau dalam bahasa Wirid Khaliq dan makhluk. Intinya kurang lebih sumpama Khaliq tidak ada, Makhluk pun tidak akan ada. Dan sebaliknya jika Makhluk tidak ada, Khaliq pun tidak ada yang menyebutkannya. Namun sebutan oleh makhluk-makhluk juga sesuai dengan jaman dan tempatnya. Artinya : walau pun tidak ada manusia sperti sekarang ini, yang akan menyebutnya juga makhluknya yang selain manusia.
Di dalam penjabatan faham Wahdatulwujud, sebenarnya banyak para Ulama yang kurang cocok terhadap pendapat yang demikian, bisa juga membantahnya atas paham tersebut, dikiranya Keadaan menyatu itu berarti bagiannya.
Para ahli tapa, sufi, filsuf, perguruna-perguruan ilmu batin banyak yang pendapatnya bertentangan, yang satu meyakini bahwa Makhluk dan yang menciptakan  (Khaliq dan makhluk) itu adalah dua. Artinya : Allah dianggap bertempat sendiri (berteempat pada suatu tempat) dan makhluk-makhluk juga ada di tempatnya. Sendiri. Didalam ilmu Jawa, menurut Serat-serat Wirid dan babad-babad, ada seorang Wali yang juga mempunyai paham wahdatulwujud yang bernama Syekh Sitijenar (Syekh Lemahbang).
Di tanah jawa pada jaman dahulu ada 9 Wali yang hidup pada Jaman Kerajaan Demak. Para Wali tersebut menurut Serat Bababd sangat membenci Syekh Sitijenar. Karena tidak setuju kepada pahamnya. Sehingga Syekh Sitijenar dibunuh yang selanjutnya paham ajarannnya yang asli hingga sekarang tidak diketahui.
Pada tahun 858 M. Di Tanah Persia aa seorang Pujangga yang bernama Al-Hallaj, yang sudah terkenal di dunia Barat dan Timur, sesuai dengan karangan-karangannya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa yagn bermacam-macam. Pahamnya meyakini kepada paham Wahdatulwujud (Tuhan Esa) dan dia pun juga dihukum mati oleh Pemerintah pada jamannya. Karena kuatir jika paham tersebut akan bisa membahayakan dalam pergaulan umum. Sehingga bernasib sama dengan Syekh Sitijenar di Tanah Jawa.
Paham Eahdatul Wujud, juga dinamakan Keadaan Tunggal itu (jangan sampai terbalik – satu keadaan)menurut paham dari Filsuf Plato, Aristoteles, Al Hallaj, Sitijenar dan juga di dalam uraian di buku ini, mengandung pengertian bahwa manusia itu sebenarnya Yang memuat Dzat Tuhan.
Keterangannya : Seandainya manusia dan makhluk lainnya diibaratkan jambangan yang beibu-ribu yang penuh dengan air yang jernih, dan Allah sebagai Matahari yang hanya satu, yang bertempat di Langit. Semua jambangan tersebut akan menjai bayangan dari matahari itu. Jika diteliti di dalam jambangan tersebut memang terlihat bayangannya seperti yagn ada di langit, padahal sesungguhnya bahwa Matahati di langit itu hanya satu.
Seandainya matahri itu sebagai kias dari Sang Rama, bagi Agama Kristen serta Sang Putra itu sebagai cahaya Matahari, kias bagi Roh Kudus berada di dlam jambanganyang berjajar ujud (Ada) dn sudah pada tingkatan sempurna atau lengkap, maka akan memuat hakikat Dzat yang tidak terlihat, namun mempunyai sifat yang bsia Mengausai..
Menguasai berarti ujud yang bisa bergerak, kasar dan halus, yang ketempatan oleh Dzat Tuhan. Oleh karena Dzat itu lengkap sehingga Maha Kuasanya juga esuai dengan yang ketempatan (Keadaannya masing-masing).
Ada juga paham yang meyakini bahwa Khaliq dan makhluk itu ada dua.
Penjelasannya adalah sebagai berikut : Jika Makhluk itu dilihat dari Al-Chaliq hakikat penglihatans ama dengan keadaa tunggal itu tadi. Jika berpangkal dari makhluk : Hakikatnya akan menjadi dua, yaitu : 1. Makhluk 2. Tuhan.
Salah dan benarnya paham yang demikian akan diurai dalam uraian selanjutnya (6a). Di bawah, ada Nyanyian Jawa dinukil dari “Suluk Sujinah” sebagai perbandingan untuk uraian selanjutnya :
Pucung : (1) Ingkang Iku // Yayi ing pitutur ingsun // Suksma ingkang nyata // Iya sariranta pasti //  raga sukma darat aranira.
Artinya : Olah karena itu (dengarkanlah) // Adikku atas nasihatku // tentang Suksma yang sebenarnya // Itulah dirimu, percayalah /// Raga dan sukma darat itulah sebutannya.
(2) Duh ri ningsung // Panggalih yen wus katemu // Ilang kalekira // Makhluk sirna adadi // Ingaranan yayi sira Bathara.
Artinya : Wahai adindaku // Jika pemahaman sudah ditemukan // Hilanglah hakikat dirimu // hilanglah makhluk dan berubah // dengan disebut sebagai Dewa.
(3) Wenang liru // Diri marang Maha Luhur // Punika sampurna // Ingaran manungsa jati // Sang Retna yu asanget panuwunira.
Artinya : Berhak berganti // Diri menjadi Yang Maha Luhur // Itulah yang disebut sempurna // Disebut sebagai manusia sejati // Sang Dewi yang antik sangat berterima kasih.
Gambuh : (4) Layuitu bindabun // Ing tegese datan ana iku // Papadane dosane kang wruh ing yekti // Tegese ing dosa agung // lamun samar sakehing enggon.
Artinya : Layuitu bindadbun /// yang artinya tidak ada // ukuran besarnya dosa bagi yang sudah paham yang sebenarnya // artinya makna dari dosa besar // jika masih belum memahami segala tempat.
(5) Yayi sira den wruh // tegese paesan wahyeku // lan paesan jatmika tegese yayi // jasat paesan wahyeku // Paesan jatmika eroh.
Artinya : Wahai adidnaku kau harus mengetahui // maksud dari hiasan wajah // dan hiasan jiwa beserta maknanya // Jasad itu itulah hiasan wajah // hiasan  jiwa itulah ruh.
(6) Jika marengi kadulu // iya akadyo sapocapanipun // Kaca loro siji kang aningali // Anggane bareng kadulu // Nugraha ingkang angilo.
Artinya : Jika didperkenankan bisa melihatnya // bagaikan dalam satu kata // dua cermin satu yang melihat // Jika bisa melihat raga dengan cara seperti itu // itu anugerah besar bagi yang bercermin.
(7) Pan anane Hyang Agung // Nyata anane Rasulolahu / Rasulolah ayatane sira punika / Pan Allah kalawan Rasul // Tan pisah tunggal saenggon.
Artinya : Sedangkan adanya Tuhan Yang Maha Agung // dan Adanya Rasulullah // Rasulullah itu ujud dirimu // Dan Allah beserta Rasaul-Nya // tidak terpisah namun menyatu dalam tempat.
Dandanggula : (8) Waspadakna anane Yang Widdhi // panunggale rasa-rasanira // saobah saosiske // eneng lan eningipun // yen wus eneng ananing yekti // yektine datan liya // mungguhing Hyang Agung // Pamore ing karsanira // ambawani solah tingkahira iki .. kalimpud limpuding tyas.
Artinya : Perhatikanlah tentang Tuhan // sesungguh bukan yang lain // Tentang Tuhan Yang Maha Agung // Keberadaannya ada di rasa dirimu // yang menguasai segala tingkah laku mu // Tertutup oleh kekotoran hati.
(9) Dununge ana kang  nganani // tangi turu lungguh lumampah // iku ta nugraha lire // sorotnya pada murub // urube pada madangi // kang padang iku nyata // anglimputi sajroning rupa kang awas // iyeku mangka ibarat kang yekti // isbate aneng sira.
Artinya : Adanya ada yang mengadakan // Terjaga tidur duduk dan berjalan // itulah ujud dari anugerah-Nya // sinar nya bercahaya // cahayanya menerangi // yang terang itu lah yang nyata // di dalam keseluruhan rupa bagi yang mau memperhatikan // Itulah ibarat yang sebenarnya // Adanya ada pada dirimu.
(10) Ingkang Eyang angandika aris // ingsun tuduh ing patakyanira // Pangeran iku nyatane wus ana ing sireku  // aja mamang deya angencebi // nanging samono uga // nganggo kudu-kudu // nasabi tamengsubira // pan kawula kudu angilingi // papaning sesimpenan.
Artinya : Sang Kakek tenang berkata // Aku memberi petunjuk kepada mu // Tuhan itu sebenarnya sudah ada di dirimu // Jangan ragu dalam meyakininya // namun walau pun demikian // pakailah akal pikiran dan perenungan // pahami hinga paham yang sebenarnya // dan hamba haruslah ingat // tempat yang rahasia.
(11) Ingkang wayah alon turireki // kadospundi sabdaning Jeng Eyang // teka amindo ing gawe //  ngengkoki nyatanipun // palajenge mboten ngakeni // dene mawi warana // kang Eyang nabda rum // wus mangkono patrapira // kudu nganggo empan papan // angarani ghaib bangsa punika.
Artinya : Sang cucu pelan berkata // Apakah maksud dari penjelasan Kakek // mengapa dua kali kerja // Mengkaui kenyataannya // yang akhirnya dibantah sendiri // dan mengapa menggunakan ibarat // Sang Kakek pelan berkata // Harus demikian cara penyampaiannya // Harus melihat tepat dan keadaan // Untuk menjelaskan tentang Yang Gaib itu.
ooOOoo
Qur’an XXVII ayat 43, 44 (Surat An-Najm) :
“Sesungguhnya hanya Dia yang menyebabkan tertawa dan menangiskan, serta Dia yang mematikan dan yang menghidupkan”.
Jika yang menyebabkan tertawa dan menangis itu Allah, itu maksudnya oleh karena manusia telah ketempatan kodrat / iradat  dan juga sifat 20 itu, tentulah yang menempati itu yang kadang mengajak menangis dan tertawa.
Sehingga pendapat yang sesuai dengan Ayat Suci serta petikan Nyanyian di atas, sebenarnya Tuhan atau Dzat dari Tuhan itu menguasai diri ini (Wahdadtulwujud).
Sehingga disebut menyatu, karena :
1. Dzat yang tidak ada, tidak kelihatan Layukayafu nukad gaib, samar-samar atau tidak ada manusia yang bsia melihatnya, bisa berkuasa dan menguasai. Bisa membuat menangis, menidurkan, mematikan, membangunkan dan sebagainya.
2. Keterangan nomor 1 tersebut, tidak akan membingungkan lagi karena  dari Hakikatnya dzat yagn 20 itu. Namun umat manusia tidak mempunyai hak untuk menyebut sama dengan Tuhan, karena walau pun ketempatan Dzat-Nya, yang sebenarnya bahwa manusia itu tidak ketempatan Hak.
Dan dikarenakan oleh hal tersebut di atas, kemudian ada pendapat bahwa Allah dan Makhluk itu dua, atau ada pendapat yang lain lagi yaitu bahwa Allah dan Makhluk itu adalah menyatu (Esa).
Yang meyakini menyatu (Wahdatulwujud) itu muncul karena keyakinan kepada adanya Hakikat yang bekuasa seperti manusia namun hanya menurut saja.
Dzat-Nya sama, perbuatannya sama, hakikatnya sama, oleh karena semuanya sama itu, sehingga yang berkuasa dengan yang dikuasai kemudian dianggap satu atau menyatu dalam satu Dzat, contohnya sebagai berikut :
Tanah itu bisa berubah jenis menjadi apa saja, Dzat dari tanah  tersebut juga sama perbuatannyadengan tanahnya, namun tanah itu kesulitan ketika akan menyebutkan dirinya sendiri, bagaikan pertanyaan yang menanyakan “Berasal dari Apa asal-usulku?
Seperti itulah penjabaran paham Wahdatulwujud, asal dari Dzat dan satu Dzat itu yang merubah bentuk menjadi apa saja (8).
ooOOoo
Uraian Wirid tentang Sifat 20 itu, memang sangat sulit, karena yang dijabarkan itu tentang ALLAH (Ketuhanan), sehingga sudah semestinya bahwa para Leluhur di jaman dahulu menganggap sangat amat berbahaya karena menyadari bila sampai salah dalam pemahamannya akan bisa membahayakan bagi hidupnya sendiri dan kehidupan masyarakat umum.
Almarhum Mahatma Ghandi (dari India) sangat memuji kepada pribadi Nabi Muhammad saw. Hal demikian bisa karena sama keyakinannya yaitu bertuhan kepada Allah Yang Satu. Padalah jika dilihat dari Keyakinan Mahatma Gandhi itu adalah seorang Pujangga Buddha, sedangkan Nabi Muhammad saw. itu adalah Penyebar Agama Islam. Hal itu jika dipikir bisa juga Pemahaman Ghandi kepada Tuhan yang Satu, namun beda nama sedangkan keyakinannya sama.
Pujangga Islam yang bernama  Syekh M. Abduh, pernah berdialog dengan Pujangga Kristen yang bernama Graaf Leo Tolstoy. Dialog tersebut tidak berbeda dengan penilaian Mahatma Ghandi kepada Nabi Muhammad saw. serta menurut buku-buku karya Moch. Abduh dan Tolstoy itu sama-sama menggunakan dasar Agamanya masing-masing. Dengan adanya dialog tersebut  karena kesamaan keyakinan dan pedoman yaitu keyakinan kepada yang bernama  Monotheisme, artinya meyakini bahwa Tuhan itu Hanya Satu, Utuh, Yang satu, wahdatulwujud, Esa.
Atas dasar contoh-contoh tersebut, sehingga semakin jelaslah bahwa Kitab-Kitab Tuhan itu walau pun berbeda-beda namanya namun inti ajarannya sama, yaitu : Menjelaskan bahwa “Allah” itu Satu (Monotheisme).
Perbedaan penjelasan yang bsia ditemukan di dalam Kitab-kitab tersebut :
a. Agama Islam : Tuhan yang bersifat 20.
b. Agama Kristen : Tuhan itu Trimurti.
c. Agama Buddha : Tuhan itu Trimurti.
Semua itu hanya sebagai pedoman, artinya untuk menjelasakan sebagai jalan  untuk memberikan pemahaman.
Sedangkan menjadi pendapat yang berbeda-beda itu, bisa karena dari para penganut-penganutnya yang sudah berutun temurun. Tuhan mengutus para Nabi-nabi itu, walaupun meyakini bahwa Allah itu Satu dan Esa, namun sampai sekarang masih ada perbedaan pendapat  tentang pendapat-pendapat tentang Allah. Terjadi demikian karena :
I. Ajaran Nabi Musa sebagai contohnya : Jumlah ajarannya semua ada 10 bagian, dan pada jaman itu masyarakat itu belum seperti sekarang ini dalam kemajuan berfikirnya. Hingga diturunkan kepada keturunannya tetap meyakini kepada ajaran Nabi Musa yang sedemikiian itu, dan hingga sekarang “Menolak” kepada paham yang lainnya karena dalam batinnya sangat meyakini bahwa : Ajaran Nabi Musa itu adalah yang paling benar.
II. Ajaran Nabi Isa as. Itu juga menjadi ukuran kemajuan cara berfikir masyarakat pada jaman itu, sampai kepada anak keturunannya hingga sekarang, masih tetap diyakini.
III. Ajaran Nabi Muhammad saw. itu pun demikian juga, dan justru membenarkan atas ajaran-ajran para Nabi yang lebih awal, walau pun berbeda-beda tempat an kemajuan berpikirnya, ajaran-ajaran tersebut tetap mengajarkan bahwa Allah itu SATU dan Esa.
Mengingat penjelasan yang 3 tersebut di atas, bisa di analisa bahwa dalam menurukan Kitab-Kitab yang melalui para Nabi itu, Tuhan mengukur keadaan masyarakat pada jaman masing-masing.
Sedangkan Al-Qur’an itu, adalah Kitab Allah yang paling terakhir, sehingga isinya sangat lengkap, tentang Politik, Ekonomi, pergaulan, pernikahan, hukum perang dan sebagainya. Sedangkan yang erpenting “Qur’an” itu MELENGKAPI sifat ALLAH.
Sekarang ada pertanyaan demikian : Jika memang benar bahwa semua Agama itu atas kehendak Allah, mengapa hingga sekarang tidak ada penyatuan Agama? Jawaban atas pertanyaan tersebut, Benar atai Tidaknya tercantum di dalam Al-Qur’an XVII : 67 surat Al-Haji, yang maknanya sebagai berikut :
“Bagi tiap bangsa aku membuat Agama-nya. Mereka saling mengamalkan perintah Agamanya. Jangan kalian bertengkar atas egala urusan, dan pujilah Tuhan-mu. Sesungguhnya kamu akan bertempat di jalan yang lurus (benar).
 Penjelasan Ayat tersebut, sebagai berikut : Agama aatau Aturan yang dikehendaki oleh Tuhan itu, apda intinya adalah benar. Artinya, Agam itu hanya memerintahkan untuk diikuti. Walau pun lebih tua atau lebih tebal Kitab-nya semua isi perintah-perintah tersebut yang penganutnya manausia pada jaman 10.000 tahun yang lalu dan ternyata TATAP kebenarnnya. Sedangkan yang membenarkan adalah manusia yang sudah memiliki cara berpikir maju. Di dalam hatinya pasti mengatakan : BENAR, terhasap keyakinan manusia di masa lalu. Oleh karena hal itu BENAR, walau pun di teliti di jaaman sekarng sekali pun, masih Teteap kebenarannya, dan yang membenarkan itu adalah manusia di jaman sekarang ini. Sehingga Tuhan memberikan petunjuk dengan menegaskan : Semua urusan Agama itu jangan dibuat sebagai Perselisihan yang besar, sebab yang terpenting bahwa Agama-agama iut (Agama apa pun juga) Perintahnya hanya satu yaitu : SEMBAHLAH TUHANMU WAHAI MANUSIA .......................... ALLAH ITU ADA. Jika diteliti, bahwa Agama Buddha, Kristen, Islam, Mazusie, Shinta, Hindu, Tao, dan lain sebagainya, itu sama bagaikan sungai , ada yang alirannya besar, deras dan keras, ada yang panjang dan berliku dan mengalir dengan pelan; dan kesemeuanya itu menuju yang satu yaitu : SAMUDRA. Kemudian ada pertanyaan : Apakah agama-agama tersebut tidak bisa BERSATU, dalam satu tata caranya (8a)?
Yang mempunyai inisiatif untuk menyatukan Agama-Agama itu adalah seorang Sarjana Sufi dari Persia yang sangat terkenal yaitu Al-Hallaj (Lihat Bab II.c). Sebelum Sarjana tersebut meninggal dunia, beliau mempunyai satu Cita-Cita, yaitu : “Aturan Allah, dengan Allah” Jikacita-cita ini terlaksana, tentunya akan membuat Rukun berbagai bangsa.
ooOOoo
Bab II.a itu adalah pendapat dari seorang sarjana Anaxagoras tentang hakikat Roh. Hal itu jika ditelaah dalah menyimpang dengan cita-cita sarjana itu, karena disebut Roh dalah Hakekat  dari Allah sendiri, artinya : Baik yang berujud benda atau hawa, atau ujud yang lainnya, sampai dengan sekarang belum ada seorang pun yang bisa menyatakannya. Sedangkan jika ada orang yang bercerita bisa melihat Roh, sebenarnya hanya akan menyesatkan saja, karena Allah memerintahkan sebagai berikut (Qs. XV 84 Surat Isra’) : Katakanlah, Roh itu urusan Tuhan, yang kamu ketahui hanyalah sedikit.”
Kata sedikit  itu bukan bermkna “ujudnya” namun hanya sedikit mengerti. Buktinya : Manusia bisa mengertu bahwa Hidup itu berasal dari Hidup, itulah yang bisa hidup itu?
Walau pun di jaman ini, pikiran manusia sudah maju, namun mengenai ha; “Yang satu” ini, belum ada Nabi Wali, Mukmin, Sarjana, Profesor, Dokter dan lain sebagainya, yagn sudah berhasil bisa ‘Memegang Roh”, walau pun hanya roh dari semut. Itulah yang disebut Kegaiban Allah.
Di dunia moderen ini, oleh karena kebingungan tentang Allah (5) *6) (7), kemudian ada paham Atheisme, maksudnya adalah Membantah adanya Tuhan.
Menurut paham tersebut, Allah itu tidak ada, keyakinan tentang Allah itu hanya ciptaan manusisa : Anggapannya : Tentang ke-Tuhanan itu tidak bisa digunakan sebagai dasar untuk mencari hukum sebab akibat. Francis Bacon, menjelaskan bahwa pada jaman Puncak Ilmu, jaman ketenteraman dan jaman kemakmuran, semakin banyak orang yang tidak percaya kepada Allah. Akan tetapi mengapa, ketika melarat, tersia-siakan, kelaparan, hingga banyak yang kena penyakit kelaparan ................... kemudian manusia berusaha mencari pegangan, percaya kepada Allah?
Baco Van Feruame, mengatakan demikian : Sebenarnya, orang-orang atheis itu adalah orang-orang yang berhati palsu, tidak jujur (9.a).”
Sebagai penutup uraian tentang keyakinan yang bermacam-macam tentang Ketuhanan ini, di sini perlu ditambahkan uraoan-uraian tentang keyakinan dan ajaran dari Sang Sidharta, yaitu Sri Bhuddha Gautama, sebagai berikut : Menurut kisah babad,  Ke-Bhuddha-an itu bukan Agama, namun sebuah pendapat yang dikeluarkan yang kemudian disebut Agama. Namun yang sebenarnya Ka-Bhuddha-an itu adalah AGAMA dari Tuhan, kaerna yang menyebarkan seorang ahli tapa, dan perintah-perintah dari Tuhan digelar melebihi sang Tapa Sri Bhuddha Gautama tersebut. Di manakah perbedaannya dengan : Nabi Muhammad saw. menyepi di Gua Hira di tanah Arab. Sang Sidharta Gautama menyepi di bawah Pohon Bodhi dan kedua-duanya sama-sama mendapatkan Kitab.
Inti Ajaran Bhuddha yang pokok adalah : MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN SAMSARA, DENGAN menggunakan kekuatan badannya sendiri (1b), dan bila Maha Bhuddha yang kadang memberi hidayah taufik atau berkah yang maksudnya juga “Pusat Azas Abadi”  atau Pusat dari segala yang ada (Tergelar).
Ajaran tersebut ternyata menjadi KEBUTUHAN bagi manusia, karena mengakui bahwa SAMSARA itu adalah Pusat Nafsu (3b).
Nafsu itu harus disingkirkan, dengan jalan harus menjalankan konsentrasi, Meditasi, yang disebut DHIYANA atau SAMADHI (4b), karena menurut keyakinannya : Menuju kepada Budi dan Keyakinan hidup itu, harus bersamaan dengan melalui Tata Tertib KESUSILAAN. Setelah bisa mengekang hawa nafsu, baru bisa menerima Ajaran, jika Budi (kesadaran diri) pribadi itu : Tidak ada.
Sehingga hidupnya bejalan sendiri, sendirian (individualiteit) itu SALAH, yang sebenarnya adalah Merasa HIDUP menyatu, Berdiri tidak sendi-sendiri (Universalisme) (Bandingkan dengan AF”AL dari Dzat Tuhan).
Selanjutnya, bila sudah bisa menyatu dengan Dzat dari ASA ABADI, sudah tidak terikat dengan KARMA (akibat dari kelakuan-kelakuan yang tidak berubah; karena dari perbuatannya sendiri (5b), yang menyebabkan adanya Samsara (penderitaan). Sedangkan tujuan yang sebenarnya adalah menuju ke NIRWANA (Kahayangan, keadaan yang tidak terbayangkan).
Bhuddhisme (Ajaran Buddha) itu tidak mengakui adanya suksma atau Roh (Jiwa) Pribadi, manusi itu hanya merupakan perkumpulan dari Anasir-anasir, yang selalu bergerak, berubah-ubah, tidak kekal, karena dari Karmanya sendiri, serta dari Karma orang lain.
Susunan kalimatnya, kurang lebih sebagai berikut :
1. Aku merasuk keapda ajaran Bhuddha.
2. Saya menjalankan Dharma.
3. Aku menjalankan Sangha.
Artinya :
a. Darma itu Undang-Undang Tarekat di dalam Ajaran Bhuddha.
b. Jalan untuk menempuh pembebasan dengan cara Samadhi, dengan bekal : Bicara benar, Cita-cita yang lurus, Tindakan lurus, Hidup sederhana dan lurus dan sebagainya, Intinya BERKELAKUAN BAIK, benar dan Suci.
ooOOoo
Keyakinan Hindu (Hinduisme) yang disebut TRIMURTI atau ujud seutuhnya dari Sifat Allah itu, jika demikian : 1. BRAHMA : Sebuah daya (Sifat) yang bisa membuat  yang tergelar di sebut MAKHLUK (Wewenag), 2. WHISNU : Sifat Tuhan sifat Penggerak (Qyamu binafsihi), segala yang gtergelar. 3. SHYIWA : Sifat yang bsia memusnahkan, menghilangkan merusak semua yang tergelar. Itu jika dihayati dengan sifat Tuhan yaitu IRADAT dan KODRAT, sudah ada pada diri manusia,  bisa ditemukan dalam keadaan  1. LAHIR HIDUP. 2. HIDUP BERMASYARAKAT, 3. KEMATIANNYA, sehingga TRIMURTI, tersebut di atas, adalah sebagai tanda bukti, bahwa kekuasaan Dzat yang Wajib Adanya itu diterapkan pada ukuran Manusia, hewan, tumbuhan, baksil, jim dan sebaginya, itu tidak kekal dan selalu mengalami perubahan. Akan tetapi Dzat yang menguasainya adalah tetap KEKAL (Agar lebih jelas lihatlah sifat Nomor 3, Baqa).
Ajaran Bhuddha, tentang “Menyatu” kepada asas Abadi (Allah) itu, jika dococokkan dengan Ajarana Agama Islam sangat sesuai tidak bertolak belakang dan tidak kurang. Yang demikian : Dalam Bahasa Arab ada kata-kata TAUKHID (Ketuhanan, Theologi), yang artinya : Ilmu Ketuhanan, Ke-Allah-an, penjabarannya, sebagai berikut :
Kata Taukhid itu kata Kerja, yang berasal dari kata bilangan “Wahid” (Satu), kemudian menjadi At-Taukhid, maksudnya : Ilmu tentang Tauhid. Yang maksudnya menyatukan, menyatu, menjadi satu.
Akan tetapi menurut tata bahasa bisa bermakna dua, yang sama benarnya :
a. Menurut Ilmu Syari’at, kata menyatukan (menyatu) maknanya : Meyakini bukan dua, hanya satu. Sedangkan At-Taukhid : Ilmu yang meyakini dan juga ajaran tentang Ketuhanan, Ilmu tentang menafsiri Sifat-sifat Allah yang menyatu dan lengkap.
b. Menurut Bahasa Wirid, kata Menyatu itu, Menyatu pada yang Satu (Universalisme, Bhuddha), menghilangkan rasa aku mengaku lebih dari satu (merasa sendirian itu harus hilang). Sehingga At-Takhid artinya menjadi : Ilmu untuk menyatu, Menyatu kepada Dzat yang Wajib Adanya (Allah), Atau sebuah Ilmu yang menerangkan tentang CARA-CARA untuk Menyatu, yaitu tata cara menghilangkan rasa Aku SENDIRI (Individualisme) agar menjadi Rasa AKU MENYATU (Universal Bhuddha).
Sedangkan yang terpenting itu, ilmu yang menguraikan “Cara dan saran-saran” mensuikan Dzat Yang Maha Agung, dengan jalan bukti nyata (Menjalanakan, melakukan) Yang untuk membuktikannya adalah RASA “Menyatu” atau menjadi satu antara Hamba dan Tuhan (Khaliq dan Makhluq). Yang bukan hanya dalam pengertian saja (Olah Pikir), namun haru membuktikan dengan perjuangan, umpamanya sebagai berikut : Saya benar-benar yakin tentang TUHAN, yang tidak pernah terpisah dengan manusia” Harus dibuktikan dengan cara BERJUANG atau Menjalankan Ilmu-Nya. Di Dunia Jawa dan Hindu perjuangan seperti adalah hal lumrah dan hal biasa. Dengan cara ; Berguru dan sebagainya, yang intinya mejalankan langkah Yogha. Dhyana, Samadhi, Tafakkur Meditasi, dan juga konsentrasi (6b). Pedomannya dalah menuju kepada Tuhan, karena Tuhan itu yang disebut YANG TIDAK TERBAYANGKAN, sehingga untuk membuktikannya adalah denggan menggunakan CARA,  atau di akal, seperti apakah Bukti nyatanya dari Dzat Yang tidak Terbayangkan itu tadi. Hal yang demikian disebut ilmu pemahaman (THARIKAT), itu pun masih harus :
$ Berguru terlebih dahulu, diwejang (Bhaiat), membaca buku-buku tentang Ilmu Hakikat dan sebagainya, dengan maksud pemahaman yang masih menggunakan Pikiran dan Akal, yang pengaruhnya disebut sebagai Ahli Kitab, Sehingga hali Kitab itu juga disebut Tarikat, walau pun pandai yang bagaimana pun masih termasuk golongan “BISA BICARA SAJA’ atau hanya tebal ilmunya, karena jika disuruh membuktikan maka tidak akan bisa. Namun Tarekat itu haru dijalani sendiri sebelum sampai kepaa Ma;rifat. Karena tingkatan Tarekat itu salah satu cara untuk mempunyai banyak Ilmu, mencari ketajaman akal/pikir serta batin, gunanya adalah ketika sudah sampai ke tingkat Ma’rifat, maka tidak bisa TERTIPU.
Hidup yang selalu bergerak ini sebenarnya masih dikuasi oleh gerak pikiran, pendengaran, penciuman, masih dikendalikan oleh kekuatan RAGA, Sedangkan dalam bahasa WIRID, rasa menyatu, menjadi satu itu tidak akan mempergunakan alat/kelengkapan-kelengkapan Raga yang ada ini, namun harus bisa menghilangkan atau tidak mempergunakan alat raga tersebut, dari gerak dan pengarhnya. Karena untuk bisa mengetahui yang Tidak Bisa Terbayangkan sebenarnya TIDAK mempergunakan alat.
Jika nantinya sudahn bisa mengendalikan atau menghilangkan RASA AKU SENDIRI-SENDIRI sehingga menjadi AKU DALAM PENYATUAN (menyatu) sebenarnya baru masuk pada PINTU awalnya saja, yang harus dilalui itu masih sangat teramat sangat jauhnya, karena masih mempergunakan rasa SENDIRI atau RASA AKU DALAM PENYATUAN itu tadi, dan masih biasa TERASA (merasa). Puncak dari yang bisa diusahakan itu harus meleweti dan melebihi TINGKATAN MA”RIFAT.
BAB. IV
DALIL, KHAIDTS, IJMAK, KIYAS
Pada umumnya di setiap desa, kota dan negara, pencari ilmu, walau pun berbeda Agamanya, yang dituju pertama kali adalah tentang MATI YANG SEMPURNA. Maksudnya, barangkali sangat menghendaki untuk bisa merasakan mati, merakan bagaimanakah rasanya mati itu. Di dalam bahasa Wirid, hidup yang bsia menyebutkan “ HIDUP HANYA SEKALI” itu sebenarnya “Bekalnya hanyalah Ilmu” dan ilmu tentang Allah itu disebut ILMU YANG NYATA (nyata, tidak menipu, bisa dibuktikan).
Sedangkan di dalam Bahsa Arab disebut Ilmu Haq, yang artinya Ilmu Yang Nyata, menjadi kata yang biasa dikatakan sebagai “YANG NYATA” (Kasunyatan). Di Pedesaan masing-masing sisiwa di dalam perguruan disebut demikian, terikat dengan janji (sumpah kepada guru). Bisa juga sumpah itu sama dengan Untuk menakuti, contohnya : Jika kamu langgar, maka perutmu akan meledak.
Hal itu bagi orang-orang yang sama sekali belum sampai ke tingkat Tariqat, baik buruknya terdapat dalam tindakannya. Walau pun pintar atau bodoh, namun karena sedang sebagai murid jika dalam menjalankannya terdorong rasa takut, maka masyarakat menjadi tenteram. Murid yang berasal dari perguruan dengan murid yang berasal dari sekolah biasanya tidak ada saling kecocokan, dan sering berselisih tentang keyakinan (ilmu yang diyakini), yang menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan berebut kebenaran tentang masalah ilmu yang belum tentu kebenarannya.
Uraian di atas itu untuk membentengi, jangan sampai permasalahn tentang BATIN di desa menjadi “berlarut-larut”, padahal sebagian besar karena tertutup oleh FANATIK, artinya : Hanya meyakini dan sangat percaya dan patuh kepada gurunya, yang sebenarnya bisa menjadi melenceng dari tujuan semeula, yaitu menuhankan selain Tuhan yang sebenarnya! Sehingga sebaiknya harus hanya patuh kepada Tuhan serta bermohon agar mendapat anugerah untuk bisa memahami Al-Qur’an (memahami perintah Tuhan), sesuai yang tercantum di dalam QS. XV;72 :
“Waman kanafihadzihi a’ma fahuwa fi’l akhirati a’ma wa adlallu sabilan.” (Siapa saja yang buta di dunia ini, di akherat juga akan buta tdiak mengetahui jalan).
Tentang petunjuk tersebut kemudian muncul pertanyaan sebagai berikut : APAKAH sudah benar ajaran dari guru tersebut? (lihatlah ayat Isra’ 15 di depan), Dan siapakah yang bertanggung jawab di dunia dan di akhirat jika ilmunya itu salah?
Untuk bisa terbukanya ahati itu juga dengan jalan bermsayarakat, bertanya-tanya , namun sebenarnya yang terpenting yaitu akal/pikiran harus digunakan. Sija sering digunakan, nantinya uraian di buku ini dan seterusnya, akan bisa menjadi tertular salah satu dari Sifat Allah sendiri. Bekalnya adalah menjalankan dengan hati yang suci yang juga akan dijelaskan dengan penuh keterbukaan.
Sekarang mengenai tentang berguru ilmu. Yang penting itu memang soal siapa yang akan dijadikan GURU itu haru teliti dalam memilihnya, karena banyak orang yang mengaku-aku, seperti yang diingatlan dalam Serat Wulangreh, sebagai berikut Nyanyain Jawa Dhandhanggula : Lamun sira amaguru ngelimi (1) Amiliha sujanma kang nyata (2) Ingkang becik martabate (3) sarta kang wruh ing hukum (4) Kang ngibadah lan kang wirangi (5) sukur oleh wong tapa (6) ingkang wus amungkul (7) Tan melik  pawehing liyan (8) Iku pantes sira guranana kaki (9) Saratane kawruhana.
Artinya : Jika engkau berguru wahai anakku (1) Pilihlah manusia yang Nyata (2) yang baik derajatnya (3) serta yang paham hukum (4) Yang beribadah dan War’i (sudah meninggalkan urusan keduniawian) (5) sangat beruntuk jika menemukan pertapa (6) yang sudah terpisah dengan urusan dunia (7) Tidak menginginkan pemberian orang lain (8) Itu pantas kau jadikan guru wahai anakku (9) Syarat-syaratnya harus kau ketahui.
Nasihat yang termuat di dalam Serat Wulangreh tersebut, maksudnya, sebagai berikut :
1. SUJANMA KANG NYATA : Itu artinya : Manusia yang nyata itu bukan golongan orang yang kurang sospan, tidak punya papan tempat tinggal, suka memamerkan ilmu, suka bohong, pada intinya yang pantas dijadikan guru itu yang bisa dipegang kata-katanya.
2. INGKANAG BECIK MARTABATE : Artinya : Yang baik derajatnya, yaitu yang baik budi pekertinya.
3. KANG WRUH ING HUKUM : Aartinya yangmengetahui Hukum itu, manusia yang benar-benar paham tentang hukum Agama serta hukum-hukum yang lainnya, yaitu manusia yang ahli dalam aturan bermasyarakat dan bernegara.
4. KANG NGIBADAH LAN KANG QIRANGI : Artinya : yaitu manusia yang benar-benar menjalankan aturan Agamanya, baik Islam, Kristen, Hindu, Bhuddha, dan sebagainya, Sedangkn Wirangi maknanya suci sudah meninggalkan urusan dunia dan suka berprihatin.
5. WONG TAPA : Aartinya : manusia yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya.
6. KANG WUS AMUNGKUL : Artinya : Yang benar-benar sudah terlepas dari urusan dunia.
7. TAN MELIK PAWEHING LIYAN : Artinya : Orang yang sudah tidak mengharapkan pemberian orang lain, baik harta benda atau pun pujian, sanjungan dan penghormatan.
8. PANTAS GURONONO KAKI : Artinya : Itu yang pantas dijadikan guru.
9. SARTANE KAWRUHANA : Artinya : Itu sebuah pesan bagi murid, harus tebal bekalnya. Walau pun tidak pandai, namun mengerti Olah rasa, karena sebagai murid itu harus merasa malu jika tidak memberi. Sekedar conotoh : Oleh karena Guru tidak pernah meminta, maka berdiam diri. Itu salah, jika manusia yang bisa menempatkan rasa, pasti malu jika tidak memberi sekedarnya kepada guru. Atau yang lain itu syarat sebagai murid harus dipahami terlebih dahulu.
Manusia itu sering salah dalam menilai rupa. Ketika menilai Guru yang masih muda dan dari keturunan orang biasa. Manusia yang sudah dibuka mata hatinya itu tidak perduli muda atau tua. Banyak juga manusia yang sudah tua namun hampa, maksudnya  : “Kosong”. Namun di naman sekarang banyak kalangan muda yang mendirikan Perguruan. Penjelasannya : Tuhan ketika membuka mata hati manusia itu menurut yang dikehendaki-Nya, seperti yang termuat di dalam Al-Qur’an : XII. 22 Surat Yusuf : “Setelah Yusuf dewasa (30 tahun), Mendapat anugerah Hikmat dan Ilmu, seperti itu balasan-Ku kepada manusia yang patuh.”
Kata dewasa (Akhir Baligh), menurut aturan-aturan, adalah bagi siapa saja yang sudah dewasa. Hatinya pun juga dewasa. Buktinya, sebagai berikut : Sang Sidharta, adalah seorang Pangeran, kaya dan pandai, Putra Raja di kaki Gunung Himalaya (Kapilavastu). Raja Shudadhana. Ketika lahirnya ditinggal oleh Ibunya. Ketika mencaai usia 29 tahun kemudian bertapa brata memohon kepada Yang Maha Benar. Setelah hatinya terbuka, kemudian menjadi Buddha, serta ajarannya hingga sekarang masih sangat tinggi dan BENAR.
Dan juga, tentang Kenabian Yesus, putra Maryam, siapa pun akan heran, ada bayi yang berumur 3 hari sudah bisa berbicara, dan sebagai Nabi Utusan Tuhan. Ingat!!! Baru berumur tiga hari, belum 30 tahun, sehingga masih dibawah umur yang masih muda.
Yang terakahir Nabi Muhammad saw. Beliau adalah seorang anak penggembala kambing, yang ikut kepada Pamannya, Ketina Nabi berumur 30 tahun, karena terdorong oleh keinginannya sendiri kemudian menyepi bertapa di Gua Hira, mengendelakikan segala keinginannya ...... mencari Dzat yang sebenarnya (Allah), kemudian menjadi Nabi, hingga menjadi panutan bagi penganut Agama Islam. Nyataah, bahwa Tuhan ketika membuka hati para ahli olah Rasa dan Jiwa ketika masih berumur Muda.
Setelah bisa memilah-milah “yang baik dan yang buruk” terhadap seorang Guru, juga harus diteliti lagi, Ilmunya, menggunakan dasar dalil atau tidak. Maksud dari Dalil adalah : Pedoman, jika tanpa dalil kadang mengajarkan Klenik, ilmu yang di akal agar menjadi cocok (otak-atik gathuk), itu yang harus dihindari.
Sedangkan syarat menjadi Guru Ilmu Hakikat, itu selain yang tersebut di atas, juga harus berlandaskan pedoman 4 hal, yaitu :
1. Dalil dari Kitab Suci Tuhan yang bernama Al-Qur’anul Karim. Yang hingga sekarang adalah Kitab yang terjaga kebenarannya dan hanya Kitab Qur’an yang tidak mengalami perubahan. Maksudnya sebagai berikut : Qur’an itu menggunakan Bahasa Arab, ada 6666 ayat, dan sduah dierjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Siapa saja yang ingin mengubah isinya, pasti akan ketahuan, karena yang asli yang berbahasa Arab itu masih utuh dan terjaga.
2. Hadits, itulah adalah Ucapan perintah dan tindakan Nabi Muhammad yang benar dan suci. Yang berisi ajaran yang bermacam-macam, sebagai pembuka segala ilmu yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Haits yang suci ini, oleh penganut Agama Islam disebut Hadits Syahih Buchori atau Muslim. Sehingga hadits yang selian itu kurang kekuatannya. Semikian juga Al-Wur’an, juga harus di nalar terlebih dahulu Jus dan Ayatnya.
3. Ijmak itu adalah kesepakatan para Ulama Besar, yang hidup di jaman Nabi atau pendapat para Sahabat yang empat yang dynamis, karena belum terpengaruh Mahzab (pendapat-pendapat seseorang yang bisa berubah).
Sehingga Ijmak itu, adalah pendapat yang ketika itu sudah disepakati oleh para Ulama(lebih dari 4 atau lima).
4. Qiyas, itu adalah pendapat yang berdasarkan akal dan pikiran, artinya suatu ajaran yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadits, namun hanya menurut pemahaman Akal dan pikiran saja. Adanya uraian-uraian yang terdapat di dalam ilmu tersebut harus di-kiyas menggunakan akal. Apakah akal bisa menerima atau tidak. Jika bisa, maka akan mempertbal Iman, jika tidak, berarti masih ragu-ragu, dan semua yang masih ragu-ragu itu tidak mengenakkan hati (kharam, dosa, atau bathil).
Siapa saja boleh saja mencari Ilmu Hakikat, dan dalam pencarian tersebut sebenarnya tidak sulit, asal didlandasi tekad yang kuat. Jika tekad dan keyakinannya kurang besar, maka niat di dalam hati yang menginginkan Ilmu Ketuhanan tentu tidak akan bisa terlaksana.
Mendirikan perguruan Ilmu Hakikat itu bagi orang tua atau muda sebenarnya bukan pekerjaan yang sembarangan, karena para calon murid di jaman sekarang ini pikirannya sudah maju, dan akalnya sudah berkembang dan tidak akan menerima hanya mendengarkan saja. Apa pun yang sekiranya kurang jelas dan sulit diterima akal pasti akan ditanyakan. Sebagai contoh, sebagaimana ajaran di bawah ini :
Sebenarnya tidak ada apa-apa, yang awal itu ADAM (1), Adam itu bermakna kosong, dan manusia itu berasal dari Adam itu tadi. Sehingga manusia itu kemudian Ada dengan pribadi sebelum adanya Allah, Malaekat dan sebagainya. Mengapa seperti itu, karena adanya Allah itu karena adanya manusia, dan manusia yang mebuat sebutan. Itulah yang wajib disimpan sekuatnya bagaikan menyimpan nyawanya sendiri, karena sesungguhnya Hamba dan Tuhan itu, lebih dahulu hamba.... Hamba dan Tuhan itu, sebenarnya adalah Menyatu, artinya : Tidak ada Tuhan jika tidak ada hamba terlebih dahulu. Artinya SATU, tidak terpisah, sehingga dimana pun juga Tuhan itu ada di dirimu, jika tidak ada dirimu tentu tidak ada Tuhan.............
Ajaran yang dicontohkan di atas sebenrnya masih kurang jelas bagi Sang Murid. Sehingga sering menumbuhkan pertanyaan yang kadang justru menimbulkan kemrahan-kemrahn para Guru, karena para Guru sendiri pun juga tidak menjangkau menggelar ajaran yang di dapat dan diterima “Apa adanya” saja. Sedangkan kemrahan-kemarahan pra Guru itu menandakan bahwa kurang pemahamannya (tidak pintar, belum menguasai terhadap ilmunya), juga memperlihatkan kefanatikannya. Jika ada perguruan Ilmu Hakikat yang demikian itu, sesungguhnya sama saja memperbesar asal-mula kesesatan didalam kehidupan masyarakat umum.
Uraian ajaran seperti yang tersebut di atas yang bisa diterima oleh akal dan pikiran itu adalah sebagai berikut :
Termuat di dalam Al-Qur’an, Adam itu aalah seorang Nabi, manusia yang sudah dikehendaki oleh Tuhan, mempunyai sifat-sifat 4 macam, yaitu :
1. Sidiq, artinya : Jujur, sifat mokalnya adalah : Kidzib artinya menipu.
2. Amanah, artinya : Bisa di percaya,  sifat mokalnya adalah : Khiayant artinya : mengingkari.
3. Tabligh, artinya : menyampaikan perintah Tuhan, sifat mokalnya adalah : Kitam, artinya mengurangi atau merobah.
4. Fathanah, artinya : Pintar Bijaksana, sifat mokalnya adalah : Bodoh.
Sedang sifat Wenangnya itu satu, yaitu yang disebut “Ara; Bashari, artinya : Halngan yang tidak membuat cacat dari status Rasulnya.
Seperti itulah sifat-sofat seorang Nabi  yang dikehendaki oleh Allah. Perbedaanya dengan orang baisa, bahwa manusia biasa itu kebanyakan hanya mempergunakan sifat-sifat mokalnya saja.
Oleh karena ADAM itu seorang Nabi, yaitu sebagai manusia yang berderajat sempurna, yang sudah ketempatan sifat 4 macam tersebut di atas, makna “KOSONG” itu adalah makna dari kata ‘Adam” Jika menggunakan kata yang lain bisa dijelaskan, sebagai berikut : “Adam itu manusia yang namanya bermakna “Kosong”. (Makna dari namanya).
Di dalam Kitab Qur’an VII 98, Surat Al-n”aam disebutkan sebagai berikut : “Dia yang menciptakan dirimu sendiri-sendiri (yaitu adan dan segolongannya), kemudian dirimu berada di dalam Rahim untuk sementara waktu dan disimpan di dalam Tulang Sulbi ayahmu”. Sebenarnya ayat ini kami terangkan kepada orang-orang yang mau memahami.”
Kata sendiri-sendiri di atas, mengandung maksud  Raga-raga ini, ujud raga manusia. Sehingga Adam di sini mempunyai arti : Ujud manusia yang semula berasal dari Gua Garba. Hanya saja di dalam Al-Qur’an disebut Nabi yang pertama sendiri, Makhuk yang mulia yang ada di Surga.
Jika dikembalikan kepada ajaran Guru yang disampaikan di depan, Adam yang dikiaskan Kosong dan menjadi asal-usul manusia itu tidak salah jika dikupas dengan makna MANUSIA, karena manusia Sindirian seperti jika msih bernama manusia sejak awalnya itu adalah berasal dari manusia, sehingga jika ada makan kias bahwa manusia itu berasal dari Kosong itu sama saja tidak masuk akal, karena semua manusia adalah : pasti berasal dari seorang Ibu, yang dikandungnya dalam kandungannya. Barangkali saja Adam itu juga berasal adari manusia.
Sedangkan makna kias atas kata Kosong itu, menurut uraian dalam bahasa Wirid, sebagai berikut :
Semua yang tergelar ini, adalah berasal dari Hakikat Dzat Yang Wajib Adanya, serta DIA yang membuatnya, yang disebut : Allah, Tuhan, God atau Thao dan sebagainya, yang artinya : Yang Wajib disembah yang tidak terlihat.
Makna kata tidak terlihat itu bukan berarti “TIDAK DA”, Namun pasti ada-Nya, hanya saja tidak terlihat. Oleh karena tidak terlihat itu, sehingga kemudian dikiaskan : “KOSONG”, yang selanjutnya digunakan untuk mengkiaskan kata : “ADAM”. Walau pun Kosong dan hampa, namun kenyataan-Nya bisa membuat apa saja, bisa menciptakan semua yang tergelar ini. Sehingga yang berasal dari Dzat yang dikiaskan “Kosong” itu, bukan hanya untuk manusia saja, namun untuk semua yang tergelar ini, justru juga Malaikat-malaikat, syaitan-syaitan, bumi, langit dan sebagainya, semua berasal dari Hakikat Hampa itu tadi. Sedangkan bagi manusia, bukti bahwa dari kosong : “Ketika terlahir itu, tidak mengerti apa-apa.”
Kata lahir dan tidak mengerti apa-apa itu, adalah alam BAYI ketika keluar dari kandungan, dalam keadaan “Entah”, apakah laki-laki  apakah perempuan, apakah banci, apakah di Rumah Sakit, atau kah di hutan ...... tidak tau (*). Di situlah keadaan terkuasai oleh rasa “Tidak mengerti apa-apa” sama dengan keadaan “HAMPA”. Namun mengapa, oleh karena hampa itu tadi, manusia ada dengan sendirinya? Apakah tidak mau mengakui bahwa sudah pernah mengalami HAMPA itu, hanya menurut saja terhadap aturan Kodrat/iradat? Apakah tidak mau mengakui bahwa “HAMPA” itu hanya karena kurangnya keterangan atau memang karena BODOH?
Kata ADAM itu tadi, sekarang ada keyakinan 2 macam :
1. Meyakini : Bahwa ADAM itu adalah Nama NABI (Rasulullah) serta menurut Agama Islam tersebut di dalam Al-Qur’an, Adam itu Nabi yang diusir dari Surga, bersama dengan istrinya HAWA. Kata Adam itu asli berasal dari Bahasa Ibrani, yang bermakna “Manusia Laki-laki”. Di dalam Qur’an tidak dijelaskan bahwa Hawa itu berasal dari Iga milik Adam. Pendapat demikian, Seutuhnya meyakini bahwa “Adam itu adalah manusia yang bergerak-gerak lahir” seperti manusia pada umumnya.
2. Meyakini : Bahwa Adam adalah HAMPA, artinya manusia ada dengan sendirinya sebeluma danya Allah, malaikat dan sebagainya ... itu “TIDAK BENAR”.
Yang benar : Hampa itu sebenarnya adalah keadaan Dzat Yang Wajib Adanya, tidak kelihatan namun ADA. Artinya “ada”, tidak bisa dibayangkan, karena Dia itu Layukhayafu, sama dengan “Kosong”, serta bisa mencipta segala yang tergelar ini, kerana wewenangnya menciptakan. Kata KOSONG itu adalah bagi manusia itu sendiri ketika diutus hidup di dunia.
Sebenarnya memberi pahamanan tentang uraian ini menjadi mudah jika sudah mempunyai pegangan, artinya, mengerti sedikit-sedikit. Dan ketika menerima ajaran dan uraian-uraian ini di dalam batinnya harus mencocok-cocokkan dengan yang sudah pernah didengarnya atau yang sudah menjadi keyakinannya. Dan semakin jelas jika kemudian dibanding-bandingkan dengan keyakinan-keyakina yang lain.
Oleh karena Ilmu (keyakinan) ini tidak berdiri sendiri, namun berasal dari luar, sehingga bagi perguruan Ilmu Hakikat, lebih baik jika bila para muridnya didbei kelonggaran melanjutkan pertanyaan-pertanyaan dan jangan diikat keras-keras oleh aturan yang akan mencegah para murid untuk membandingkan ilmu yang didapat dengan ilmu milik orang lain. Mengapa demikian, karena Ilmu Ketuhanan itu, untuk bisa dipahami juga harus lantaran manusia dan af’al-nya menuju kepada yang satu, yaitu BENAR.
Di dunia “JAWA” ada kata-kata ‘Kawruh” (Ilmu umum) dan “NGELIMU” (Ilmu hakikat), yang sepertinya hampir sama. Kata “Ilmu” dalam Bahasa Arab, dalam bahasa Indonesianya adalah “Ilmu” dalam bahasa Jawanya adalah “Kawruh”, yang dalam kesehariannya berubah menjadi “Ngelmu” dalam bahasa Jawa dosok menjadi : Angele yen durung ketemu (Sulit jika belum ditemukan), “Cengel-cengel yen wus ketemu” justru “Setengah mati sulitnya ketika sudah ditemukan”.
Menurut Prof. Mr. Dr. Hazairin :  Kawruh (ilmu) itu tingkatannya hanya sekedar weruh (melihat), Si A, weruh (melihat) computer, artinya si A, walau pun orang di pojok gunung, oleh akrena pernah melihat Computer ketika dahulu pergi ke kota, kemudian bercerita kepada temannya. Walau pun melihat, si A tetap tidak mengerti kegunaan atau guna dari Computer itu tadi, karena belum pernah mempelajarinya. Sehingga hanya sebatas penglihatan mata, namun masih “BUTA” dalam pengertiannya.
Sekarang seumpama si A yang melihat Computer, bisa menggunakannya, menservisnya, dan bisa membuatnya (Walau pun hanya menggunakan dan merangkai programnya saja) karena sebelumnya memang si A pernah kuliah di Jurusan tehnik dan informatika Computer, sehingga si A memang benar-benar paham rahasia Computer. Oleh karena si A memang benar-benar mengerti sehingga bukan menipu, dan bisa membuktikan kepadnaiannya. Ilmu si A tersebut bukan hanya sekedar mengetahui saja, namun diamalkan dengan membuktikannya, dan mempraktekannya dan sebagainya, yang artinya mempunyai ilmunya. Itulah perbedaan Kawruh (melihat) dengan Ilmu.
Didalam uraian Wirid ada kata-kata : Barang siapa mengerti yang dimaksud dari Sastrajendra Hayuningrat, jika raksasa maka ketika matinya akan berkumpul dengan manusia utama, jika manusia akan berkumpul dengan Dewa, Dan benar-benra paham kepada terangnya Yang Nyata adanya (Ilmu Ketuhanan).
BAB. V
TINGKATAN ILMU
Kata Tingkatan itu artinya Tangga. Sedangkan Menyembah yang sebenarnya atau menyembah dengan jalan 4 tingkatan, itu adalah suatu bab yang beda keadaan tingkatannya, yaitu :
1. Syari’at, 2. Thariqat, 3. Hakekat, 4. Ma’rifat
Keterangannya, sebagai berikut :
1. Syari’at :
.Artinya aturan yang sudah ditetukan, artinya : keadaan yang harus diikuti.
Sehingga ahli syari’at itu adalah patuh kepada yang disampaikan, itu merupakan keyakinan Gugon Tuhon (kepatuhan tanpa nalar), mengamalkannya mengikuti hukum-hukum tentang Halal dan Haram, yang di yakininya dengan sangat kuatnya, karena hanya hukum itu itulah yang membedakan antara Halal dan Haram. Dalam aturan tata kelahiran contohnya : Shalat, Zakat,  fitrah, pusa, dan Naik Haji jika mampu, yang kesemuanya itu dijalankan karena hanya ikut-ikutan saja terbawa oleh yang dilakukan orang banyak. Pengaruhnya menjadi ikut menjalankannya, ikut-ikutan menyembah kepada Allah menurut aturan tata cara  Agama-nya masing-masing. Walau pun demikian, yang seperti itu adan disebut Wajibulyaqin. Sebagai gambaran, di bawah ini :
Bung Karno itu orang yang berasal dari Gebang (Blitar) sekarang menjadi Prsiden Republik Indonesia (Ketika buku ini dibuat, saat itu Bung Karno adalah Presidennya), Untuk bisa mengetahui hal itu, karena dari berita (perkataan)  orang banyak. Sehingga jika kabar itu salah, Kepercayaanya juga akan ikut salah. Sehingga, cara yang demikian, banyak mendekati kepada sesat. (Dari 73 barisan hanya 1 yang benar, tambahan penerjemah).
Jika diteliti dengan dengan pendapat yang jernih, Tingkatan Syari’at seperti itu, dalam keadaan setiap harinya, merupakan salah satu tingkatan untuk menanamkan Rasa DISIPLIN, bertindak dengan apa adanya, patuh pada hukum yang ada. Namun tentang hal itu, Prof. Dr. Oesman Dekan di Markas Besar Angkatn Darat, mengatakan sebagai berikut : “Menjalankan Rukun Islam itu, yang pertama : Menanam rasa disiplin di dalam Jiwa dan Raga, melatih kesucian Raga agar memiliki tekad baja, penuh rasa belas kasih kepada sesamanya, rela dan ikhlas, memberi dan berdana dan sebagainya. Sedangkan yang ke dua : Mempertebal keluhuran Budi pekerti, karena yagn di alami dan diketahui bahwa aku bangun pagi-pagi sekali, namun tidak menjalankan shalat, dalam perasaannya merasa malu jika sampai ada yang menyebutnya bukan orang Muslim....... dan sebagainya.
2. Thariqat :
Itu adalah tingkatan yang sudah menginjak kepada wilayah batin, untu menjangkaunya harus dengan cara melakukan Pengekangan kehendak diri (Tapabrata), membangkitkan budi (mesu budi). Sehingga Thariqat itu adalah tingkatan perbuatan yang berdasarkan pemahaman (mengolah hati).
Sehingga para ahli Thariqat itu adalah manusia yang menggunakan akal pikirannya, dalam pemahamannya menggunakan Buku, Wirid-wiri, berguru, bertanya, sarasehan, yang tentunya akan membuat semakin pahamdibanding dengan sebelumnya. Pada dasarnya Thariqat itu menggunakan akal pikiran dan pemahaman hati untuk membuka tanda saksi atas Tuhan sendiri, seumpamanya : Paham bahwa bakteri itu hidup, dikarenakan ketempatan “apa”. Hal itu semakin meningkatkan ketebalan keyakinanny.
Pada jaman dahulu ketika para Ahli Kitab masih termasuk golongan Thariqat, artinya paham benar-benar paham.
Paham bahwa Bung Karno itu menjadi Preiden karena sudah pernah lewat di depan Istana Merdeka serta pernah mendengar Pidatonya. Sehingga arah dari Rumah Istana Bung Karno sudah paham, hanya saja belum pernah bertemu langsung dengan Bung Karno (Catatan : Buku ini dibuat di kala Bung Karno masih menjabata Presiden RI).
Tingkatan Thariqat ini , walau sudah mengerti, namun sebenarnya tidak meninggalkan Syari’at dari Agamanya, karena Thariqat itu hanya satu tingkat diatasnya saja. Pada tingkatan ini para pengikut, menjalankan ajaran Guru, seperti contohnya : Melakukan pengekangan diri bertapa, dengan tujuan hanya untuk meniru dari Sifat Tuhan saja, yaitu kesuciannya, keadilannya dan sebagainya. Dengan jalan itulah sebagai saran untuk bisa terbukanya ilmu di dalam dirinya sendiri “Hampir mendekati untuk diterima” karena semua itu tergantung dari tindakan (praktek).
Ahli Thariqat itu memilah-milah dan memilih-milih, mana yang disebut “Benar/Salah” yang disebabkan oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri , sehingga tumbuhlah (tertuar sifat ) penuh cinta, kasih, mudah iba kepada sesama ciptaan, yang besar sekali pengaruhnya itu aalah “Paham” atas segala perbuatannya sendiri, tidak sampai harus di tuntuk-tunjukan.
Yang demikian akan tembus untuk bisa terbuka pintu hatinya, apakah sebabnya “Hamba” harus mencintai sesama ciptaan dan mencintaiTuhan, yang kemudian itu sebagai awal untuk menghilangkan hawa nafsu.
Menurut uraian Wirid di dalam Thariqat adalah PERJALANAN HATI, oleh karena hati ketempatan kehendak yang kecepatan bergantinya bagaikan kilat, sehingga Thariqat itu, selain memerangi Keterikatan yang berupa harapan dan keinginan, juga memerangi dorongan dari dalam batin.
3. Hakekat.
Termuat di dlam Wirid Hidayat Jati, Hakekat itu Menjalankan Ibadah Yang Sebenarnya dengan cara tidak merasa. Perbuatan dari “AKU SENDIRI” sudah dilepaskan dan berganti  menjadi perbuatan “AKU SEUTUHNYA” (Universal), disebut juga “Tidak merasa adanya Aku”.
Hakekat yang demikian adalah merupakan Iman dari para Mukmin Khos, para ahli ilmu tingkat tinggi dan disebut dengan nama Iman Haqqul Yaqien, artinya “NYATA” Sebagai gamabarannya, adalah sebagai berikut :
Percaya bahwa Bung Karno menjadi Presiden itu, karena sudah pernah masuk ke dalama Rumah Istananya, namun belum bertemu dengan dirinya secara berhadapan langsung.
Pada intinya, Hakekat itu adalah Ibadah yang sudah diterima, karena yang sangat dicintai ternyata sudah pernah bertemu (Bung Karno) walau pun belum pernah berjabat tangan. Di Tingkatan ini maka akan terbukalah Hijab penghalang antara sang Hamba dengan Tuhan-nya. Sangat cocok dengan sebuah Hadits “Sesiapa yang benar-benar mengenal diri pribadinya, benar-benar mengenal Tuhan-nya.”
Oleh akrena Hakekat itu adalah Ibadah Jiwa (Roh), serta keadaan diri sudah tertutup oleh rasa TIDAK MERASA, sehingga para ahli SULUQ, Ahli SUFI, ahli TAPA, mempunyai pedoman sebagai berikut : “AKU INI TIDAK ADA, YANG ADA ITU YANG MENGADAKAN>”
Keyakinan atau pedoman yang demikian itu, membuktikan bahwa sudah berhasil menemukan (menyatakan) kesempurnaan Hakekat serta sudah berhasil Mengekang JASMANI dengan ROHANINYA sendiri, kata lainnya : Sifat dan Hakekat Dzat sudah menyatu. Pada Tingkatan ini, sebutan sakit, panas, dingin, pusing, mules, MATI dan sebagainya, itu tidak ada. Hal yang demikianlah, yang barangkali yang disebut : “MENYATU (WAHDATUL WUJUD).
Di dalam Serat Suluk disebutkan, sebagai berikut : “........ Yang disebut Iman, yang mengausai diri, HAKEKATNYA yaitu SEJATINYA KARSA”. Di dalam tingkatan ini sebenarnya adalah Tingkatan Jiwa yang pasrah, berserah diri atas KEHENDAK TUHAN, karena sudah bisa menguasai rasa “TIDAK IKUT MEMILIKI”. Keyakinan yang demikian sama dengan : YANG MENYEBUT DAN YANG DISEBUT ITU SATU, seperti : Tembikar menyebut dirinya tanah, dan tanah menyebut dirinya Tembikar!” Yang dijalankan setiap harinya, bagi orang yang sudah di tingkat yang demikian, segala gerak dirinya dan segala kehendaknya selaras dengan kehendak DZAT.!!!!!
Jangan sampai salah paham, hal itu bukan menyerah begitu saja kepada TAKDIR. Yang dimaksud selaras dengan kehendak DZAT itu, adalah : GERAK DARI SIFAT DZAT”!!!!!.
4. Ma’rifat.
Di Tingkatan ini adalah Iman bagi para Arifin yang disebut Isbatul Yaqin, artinya  sudah “Menetap” sudah sempurna, sebagai gambarannya, adalah sebagai berikut : Jika sudah pernah menghadap kepada Bung Karno, serta pernah bersalaman dan juga duduk bersama dan saling bertutur kata.
Penjelasannya : Bahwa bila siudah Ma’rifat : (c). Semua Ilmu, Pengetahuan, rasa, amal, Ibadat, Filsfat, mantik, keindahan dsan sebagainya, sudah menyatu menjadi satu, sudah bisa menyebutkan sebab dan musababnya. Termuat di dalam Wirid Hidayat Jati, sebagai berikut : “Dzikir Dzatullah” artinya : Dzikir dari Rahsa, di dalam alam Lahut (Alam cahaya, Pen), disebut sebagai Dzikir Ma’rifat, sempurnanya itu sudah ada rasa apa pun juga (5) (“) (4b), (6b).
Tataran tingkatan yang ditata seperti di atas, sebenarnya adalah yang disebut “Tataran atau Tingkata Islam (c), Sedangkan kata ISLAM itu seharusnya bukan nama dari sebuah Agama, hal itu karena salah kaprah, salah yang sudah menjadi kebenaran umum. Karena nama dari Agama-agama itu banyak yang mengambil dari nama yang menyebarkannya, contohnya : Agama Bhuddha, oleh karena yang menyiarkan adalah Sang Bhuddha, sehingga Agamanya disebut Agama Bhuddha. Agama Kristen juga mengambil dari Namanya dari yang menyiarkannya. Sehingga seandainya Agama Islam itu disebut dengan Agama Muhammad, tentunya bukan menjadi masalah, karena yang menyiarkan adalah yang mempunyai nama MUHAMMAD. ISLAM itu kata Sebutan, tidak ada bedanya dengan kata sebutan Utara, Selatan, luhur dan sebagainya. Barang atau bentuknya tetap tidak bisa dibayangkan, namun bisa di rasakan. Sehingga ISLAM itu “TANDA-TANDA” kepada IKTIKAD (keyakinan) yang Luhur yang artinya adalah SUCI @.
Kata suci itu tanda bagi yang lahir dan yang batin, yang kasar dan halus, yang tidak bisa berubah. Kata Suci (ISLAM) itu “tidak ada apa-apa” : @ entah kotor terkena tinta atau bersih bagai kertas, entah gelap seperti malam, ataukan terang seperti siang ....... Tetap TIDAK BISA DIBAYANGKAN @Itulah ebabnya sehingga kata ISLAM di maknai kiyas “SUCI”, sedangkan yang sebenarnya “BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH”. Kata Berserah diri itu bukan kata sembarang kata, karena yang bisa menggunakan adalah derajat Nabi, Wali, Auwliya, Pandita, Guru Sempurna. Sebagai buktinya di dalam kehiduan sehari-hari walau hanya sebutan saja, seperti di dalam wirid di atas yaitu : “TDIAK ADA APA_APA”. Jika ditelusuri, kata “Tidak ada apa-apa” itu, yaitu dihari pertama dilahirkan ke dunia. Yaitu lahir kedunia dengan keadaan ENTAH tidak mengerti apa-apa.
Sehingga dalam bahasa sehari-hari yang kita gunakan dari kata Islam itu, berasal dari Bahasa Arab, yang artinya “Berserah diri Suci (Sepi, hampa, tidak ada apa-apa), sehingga sudah terpisah dengan rasa memiliki dan harapan keinginan. Dalil Tuhan di dalam Al-Qur’an : Al-Baqarah ayat 131, sebagai berikut :
Idz Qalalahu Rabbuhu aslim qala aslamtu lirabbil alamien .................!!! Maksudnya sebagai berikut : “Ketika Tuhan memerintahkan : “Kalian Islam @ (Berserah diri) @ Kepada Tuhan, jawabnya : Hamaba beserah diri @ kepada Tuhan Seluruh Alam.”
Sehingga yang disebut ISLAM itu adalah, jika sudah menjalankan 4 tingkatan itu tadi, mulai dari Tingkat Syari;at, hinggu lulus di Tingkatan MA”RI. FAT. Lebih tepatnya yang disebut Islam Suci kepada Dzat Yang Wajib, itu dengan menggunakan dasar pedoman LAYUKHAYAFU (Yang tidak terbayangkan), artinya bila kita akan berserah diri ke Pangkuan Tuhan, bekalnya adalah pakaian yang bernama “YANG TIDAK TERBAYANGKAN” @ atau diri ini mesuk ke dalam @LAYUKHAYAFU. Penjelasannya, sebagai berikut :
Menghadap kepada Presidenitu jika Tentara haru menggunakan pakaian lengkap kedinaasan, Unifor, tanda-tanda pangkat, seigap tegap dan sebagainya, baru bisa di terima. Menyembah Allah itu pun bukan saja “Menggunakan Agama” saja, namun harus disempurnakan dengan MENYATU, Berserah diri, Islam, tidak merasa apa-apa, itulah yang disebut TINGKATAN MA”RIFAT.
Sehingga disebut ISLAM itu, jika sudah bisa membuang rasa “AKU tunggal” yaitu yang berarti sudah diterima “AT-Tauchid”nya. Oleh karena manusia biasa itu “membutuhkan makan” sehingga di dalam berlajar Ma’rifat harus ketika masih hidup dalam kehidupan ini!!!!!!. Sedangka jika tidak bisa lulus, itu soal lain.
Rahasianya adalah sebagai berikut : Siapa pun yang ketika hidup di dunia belum bisa ISLAM “Berserah diri” Memutus ikatan pengaruh dunia, At-Taukhid (menyatu), itu ketika matinya di saata sakaratil maut akan mengalamami kejaidian-kejadian yang menakutkan, akan mengalamani “Apa-apa_ di dalam kubur. Namun sebaliknya, apabila bisa mmenyatu ISLAM, suci, berserah diri, hal itu jika akan meninggal dunia  (Sakaratil maut) Insya Allah akan bisa terus ke hadapan Allah, kembali pulang kepada asalnya @ yang disebut INNA LILLAHI WA INNA ILLAIHI RAJI”UN @. Dalam cara Agama Buddha, disebut memasuki alam NIRWANA @ (1b, 3b, 4b),/ (2c).
Manusia yang sudah berasa di Tingkat Ma’rifat, disebut ARIFIN, artinya : Muslim. Barang siapa yang mempunyai keinginan bisa di tingkat Ma’rifat, sebagai contohnya, seperti dalam dalil berikut ini :
Pesan Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub kepada anak cucunya : “Ya Banyiyy inna Allaha ashtafa addina fala tamutunna illa wa antum muslimuna”. Artinya : Wahai anak keturunanku, Allah sudah memilihkan Agama bagi kalian semua, maka dari itu kamu jangan  “MATI” sebelum menjadi Muslim (Islam). @ (Al. Baqarah Ayat 132 (3c).
Sudah sangat jelas bahwa yang paling ditakuti itu, adalah ketika memasuki alam Kematian, yang penjelasannnya seperti tersebut di atas : “Siapa yang ketika hidupnya sudah Islam, sama saja sudah menghadap di hadapan  Tuhan>’”. (Lihat pada penjelasan pengalaman Mati).
Oleh karena kata Islam itu , pakaian dari Ma’rifat, itu diceritakan walau pun bahwa pengalaman MELEWATI jalan yang tidak bisa terbayangkan itu hanya sekali, itu sama saja sudah Islam. Ada yang sudah terbaisa, ada yang satu bulan sekali, ada yang bisa setahun sekali, ada yang sekali seumur dalam seumur hidupnya, tergantung dari yang menjalankannya.
Menurut dalil di atas, para Leluhur sudah mempunyai kata Islam dan Agamanya adalah Agama petunjuknya adalah Suci. Sehingga tujuan Islam (Suci) itu sebenarnya sudah di cari oleh manusia-manusia sebelum Nabi Muhammad, sehingga Nabi Ya’kub, Ibrahim, Musa, Isa as. Nabi Muhammad, itu satu keyakinan.
Almarhum Kyai Agus Salim, dalam memaknai Islam itu, sebagai berikut :
“Islam itu Bahasa Arab, berasal dari kata Salima yang bermakna Keadaan Selamat dan Stausa, tidak cacat, tidak kekurangan dan tidak kerusakan. Kata itu kemudian menjadi kata dasar Aslama yang maksudnya merawat dengan Selamat dan Sentausa dan mengandung makna MENSUCIKAN dari segala cela, kekurangan. Yang pertama terhadap diri pribadi, yang kedua kepada sesama manusia, dan selanjutanya kepada seluruh alam beserta semua makhluk yang ada di dalamnya.
Selain itu, kata Islam juga bermakna : Berserah diri, yaitu memasrahkan diri kepada Tuhan seutuhnya @. Sehingga kata Islam aslama itu adalah sumber dari kata Islam. Kata Islam itu sebenarnya sudah mengandung Seluruh makna yang tersimpan di dalam kata dasarnya.
Dari penjelasan di atas itu tadi, sehingga Islam itu bukan  sebuah nama sebutan-sebutan seperti halnya Hindu, Buddha, Kristen, Yahudi dan sebagainya, namun sebuah kata yang makananya Tegas, dan agar dipahami sesuai dengan maknanya.
Agama Islam itu Tuntunan perintah dan petunjuk untuk menyelamatkan diri sendiri, Manusia, Dunia dari adanya cela dan kekurangan, serta berserah diri kepada Allah swt.
Maka seharunya adalah menyelaraskan perbuatan, bicara, tingkah laku, perkataan dan sebagainya, untuk menjaga keselamatan yang tersebut itu tadi.
Yang dismpaikan oleh Kyai Agus Salim seperti yang tersebut di atas, jika diteliti dengan serius, akan bisa ditemukan perbedaan antara keyakinan atas masing-masing Agama, yang secara ringkasnya : Semua Agama yang ada jika dibanding dengan Agama Islam itu tidak satu Tekad. Itu semakin jelas di dalam keyakinan, bahwa Buddha, Kristen, dans ebagainya adalah hanya sebuah sebutan saja, yaitu nama sebuah Agama.
Padahal yang sebenarnya berdasar Surat Isra’ ayat 15 tersebut di atas, semua itu hanya satu sebutan (Sebutan-sebutan saja) Sebutan, nama tida ada bedanya dengan sebutan yang bermacam-macam kepada Tuhan (Ada yang menyebutnya God, Thao, Gusti, Allah dan sebagainya). Singkatnya kata-kata sebutan itu yang membuat atau memberi nama adalah manusia itu sendiri.
Menurut Bahasa Wirid, kata Islam adalah sebutan dari sebuah keyakinan, bukan kata sebutan pada umumnya, akan tetapi merupakan Ibarat yang mengandung makna : Semua orang, tidak memandang apa pun Agamanya asal saja bisa menyatu dengan Dzat Yang Maha Agung, tentulah bernama Islam (Ma’rifat) @ (Hati-hatilah memahami ini, jangan dianggap mudah. Pen). Sedangkan ada kata-kata : Buddha, Kristen, Islam, Islam ejati dan sebagainya, hal itu sebenarnya hanya untuk tanda saja, yang digunakan oleh manusia yang memeluknya, namun tekad keyakinan tujuannya yang sama, yaitu mencari BENAR dan MENCARI ALLAH.
Kata Ma’rifat itu berasal dari Bahasa Arab : Arafa, artinya : Melihat, namun bukan penglihatahn mata dan pikiran (pengertian). Kata melihat seperti itu, arahnya bisa kepada Ilmu. Sedangkan Ma’rifat itu adalah di bidang MEMAHAMI, bagi Wirid adalah MEMAHAMI TUHAN yagn tidak menggunakan Mata dan Pikiran.
Memahami Tuhan itu, menurut Wirid intinya adalah : Siapa saja bisa berada di tingkat Ma’rifat, namun apa yang akan dima’rifati, jika tinga mengerti tentang Ke-Allah-an? Karena Ma’rifat itu bukan yang diyakini “SUDAH PINTAR BERSAMADI (Yogha) saja, namun juga harus diserta THAAT (Mematuhi Perintah dengan YAQIN), kepada Agamanya. Seumpama ketaatan para ahli Syari’at itu hanya terbawa karena takut kepada larangan Agama-nya, jika sudah Shalat, Puasa, Zakat Fitrah, Syahadat dan Pergi Haji, itu sudah cukup, dan sudah merasa sebagai ORANG ISLAM. Namun bagi Ma’rifat, selain mematuhi aturan Agama, juga disertai pengekangan untuk bisa mencapai Cita-cita bahwa benar-benar akan Menyatakan Allah.
Manusia yang melakukan oleh batin, jika dinaikan menjadi Ma’rifat itu, tanda-tandannya tidak mudah diketahui, karena manusia-manusia seperti itu di dalam batinnya sudah ketempatan salah satu sifat Allah, umpamanya adalah sifat Asihnya yang pada umumnya akan berwatak penuh Cinta dan  sayang kepada sesama.
Kata Cinta itu adalah Cinta sesuai dengan Sifat Tuhan, sehingga merupakan Cinta yang menyeluruh, tidak pilih-pilih. Buktinya adalah : Para Nabi, Wali, Mukmin, itu semua penuh rasa Cinta, tidak ditujukan kepada AKU SATU (yaitu : Aku Universal). Namun, walau pun demikian, mereka itu masih semangat berperang jika memang harus perang, dan membunuh musuh jika harus membunuhnya. Seperti itulah KEUNIKAN bagi manusia yang sudah mengerti.
Perang atau membunuh musuh itu semestinya berlawanan dengan pemahaman masyarakat, Akan tetapi bagi para yang sudah Paham terhadap rahasia Hidup dan rahasia dunia, hal seperti itu tidak mengherankan, Justru bahkan menjadi KEWAJIBAN. Mengapa demikian, karena dalam menjalankan perang dan membunuh itu hanya terdorong oleh rasa CINTA dan rasa SUCI. Daripada keterusan menjadi Pengrusak dunia, maka lebih baik dimusnahkan. Sehingga bagi para yang sudah mengerti, kemudian bertindak yang demikian itu karena menjaga terhadap cita-cita MENJAGA KETENTERAMAN DUNIA, artinya : Menyelamatkan Dunia beserta seluruh isinya dari segala perusak yang bertindak sesat. Seperti itu lah KEUNIKAN MA”RIFAT.

BAB. VI
RAHASIA KALIMAT SYAHADAT DAN HA-NA-CA-RA-KA
Rahasia Ma’rifat itu terdapat pada kalimat : “Kehendaknya, adalah kehendak Allah, Tindakannya adalah tindakan Allah, Sabdanya adalah Sabda Allah. Di dalam kenyataan, maksudnya adalah sebagai berikut : Apa pun yang dikehendaki, sebelum terucap, pasti kesampaian, Contohnya sebagai berikut :
Seseorang yang akan pergi ke Yogyakarta, di dalam hatinya membatin, E.... Seandainya ada kendaraan!” Kemudian ada sepeda motor yagn tersesast, minta pertolongan untuk untuk mengantarnyakannya sampai ke Yogyakarta, akhirnya orang tersebut bisa pergi naik motor hingga sampai ke Yogyakarta dengan gratis.
Kejadian yang seperti itu, jika dikira (dibahasakan), karena atas Pertolongan Tuhan, agak sedikit ada kemiripannya, karena hidup orang tersebut sudah Menyatu, artinya sudah menjadi satu dan dalam penyatuannya sudah tidak merasa, sehingga hanya sesuai dengan Kehendak Dzat saja. Ringkasnya : Dzat itu tidak menginginkan kesulitan.
Di depan sudah dijelaskan, bahwa Hakikat Dzat itu, adalah SIFAT, AF”AL serta NAMANYA. Artinya : Ya SIFAT ya INGSUN, Menyatu, Shingga tidak mengherankan jika ada kejadian seperti pada contoh di atas, dalam segala gerak dan cetusan hatinya sudah berada pada KEKUASAAN DZAT, yaitu WENANG, wenang mempercepat dan menyesatkan Motor dan sebagainya. Karena sebenarnya manusia itu adalah UTUSAN DZAT, SIFATnya DZAT.
Oleh karena sebagai Utusan, sehingga bisa ketempatan Sifat KUASA-Nya, berupa : Wajib Menyembah dan menghormati Dzat yagn bisa bertindaka apa saja, dengan Sifat WENANGNYA. Itulah bukti bahwa makhluk itu UTUSAN DZAT yang Wajib Ada-Nya.
Di bawah ini sekedar Wirid tentang makna Kalimah Syahadat yang sudah cocok dengan Kebudayaan Jawa, akan diurakan sebagai pijakan.
Sabda Rasulullah kepada sahabat Muadz : Ma min  ahadin yashaduan la Illaha Ilallahu wa anna Muhammaddan Sarulullahi sidqan min qalbihi illa ahramahu allahu alla annari!” (maksudnya kurang lebih sebagai berikut : “Seseoarng yang menucapkan kalimah Syahadah hingga terus ke dalam hatinya maka oleh Tuhan akan dihindarkan dari siksa neraka!”
aa. Rahasia Wirid dari Syahadat, sebagai berikut :
Asyhadu Alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah (Saya bersaksi, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi, sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah.
bb. Rahasia Wirid dari HA NA CA RA KA, sebagai berikut :
“Hana caraka; Data sawala; Padha jayanya; Maga bathanga: (Ada utusan, dua jenis; berebut dan bertanding; sama-sama kuatnya; keduanya mati bersama, sama-sama menjadi mayat).
Yang akan diuraikan terlebih dahulu adalah Kalimat Syahadat seperti di atas (aa), kemudian akan diteruskan menjelaskan bab HANACARAKA (bb).
aa. KALIMAT SYAHADAT
Di dunia masyarakat Jawa, jika ada acara Sunatan, pernikahan dan sebagainya, pada umumnya membaca Kalimat Syahadat, karena walau pun bukan Bahasa Jawa, namun sudah merasuk menjadi budaya Jawa sejak jaman para Wali di jaman dahulu. Sedangkan Kalimat Syahadat itu, yang menggunakan adalah para pemeluk Agama Islam sebelum memahami dan mengerti  atas semua Rukun dan Ajaran Agama Islam. Sehingga Cara beribadah kepada Allah itu, dengan syarat harus benar-benar mengerti dan memahami makna dari Kalimat Syahadat itu tadi. Sehingga pada jaman Wali, Kalimat Syahadat itu digunakan untuk mengawali dan membuka ajaran kepada siapa saja tanpa pilih kasih.
Walau pun berbahasa Arab, Kalimat Syahadat atau kesaksian Dzat Yang Maha Segalanya dan Muhammad itu utusan-Nya, yang intinya sudah menguasai dunia yang tergelar ini. Bagi orang Jawa, bahasa Arab itu hanya meminjam, yang di bisa di bahasakan ke dalam Bahasa Jawa yang mengandung maksud dyang sama. Karena hal itu bahwa kata-kata tersebut merupakan tanda.
Di dalam kalimat tersebut ada kata Muhammad, yang mempunyai makna tersendiri. Muhammda di dalam kalimat tersebutmerupakan sebuah kata sebutan, berasal dari bagian. Sebenarnya, Nabi Muhammad mempunyai empak pokok nama, juga sama jenisnya, berasal dari kata HAMDUN (Pujian atau sanjungan), atau kata Hamda (Memuji). Selengkapnya, asma-asma itu seperti di bawah ini :
1.         Hamid = artinya yang di puji.
2.         Mahmud = artinya yang mendapatkan pujian.
3.         Ahmad = artinya Yang lebih terpuji.
4.         Muhammad = artinya yang mendapatkan Pujian.
Di dalam Kaliamt Syahadat, kata Muhammad tidak bisa diganti menggunakan kata lainnya, walau pun ada. Namun makna yang terkandung itu ada dua, yaitu : MAKNA tersirat dan MAKNA tersurat, Di dalam ajaran Wirid kata itu disebut NUR MUHAMMAD ( Cahaya Yang Terpuji).
Kata MUHAMMAD itu, maksudnya adalah : Sifat yang mengandung PUJIAN. Sekarang perlu di uraikan SIAPA dan APA yang memiliki pujian itu. Keterangannya, sebagai berikut :
Di dalam kalimat disebutkan : Muhammad Rasulullah (Muhammad Utusan Allah). Siapakah yang menjadi Utusan Allah, Apakah Muhammad Putra Sayidina Abdullah di Makkah (Arab), Ataukah Muhammad (Nur Muhammad) yang bermakna Cahaya yang terpuji?. Penjelasannya, lihatlah pada uraian tentang Citra (Hakekatullah), dan perincian Manusia Hidup.
oYang sebenarnya, yang disebut yang terpuji (ketempatan Pujian) itu adalah sifat dari Manusia Hidup, karena keluhuran dan serba sempurna yaitu mempunyai sifat 20. Sehingga dengan demikian, para Nabi, Wali. ‘Ulama dan manusia sekarang ini, sama-sama mempunya sifat Muhammad.
Sedangkan penjelasan tentang kata UTUSAN (Rasul), sebagai  berikut :
Setelah manusia hidup ini bersifat Muhammad, kemudian menjadi utusan, yaitu Utusan Allah. Sedangkan Allah itu, bisa menjadi Allah-ku; Allah-mu; Allah Kita dan Allah dari seluruh yang tergelar ini. Sehingga yang disebut Utusan itu, yaitu utusan dari Allah-nya diri masing-masing. Yang akhirnya kemudian menuju kepada pengakuan mempunyai Allah (Aku mengakui mempunyai Allah).
Yang bernama utusan itu bersifat HIDUP, jika sudah meninggal dunia tidak bisa menjadi Utusan lagi, karena manusia mati itu sudah tidak mempunyai Allah (yang bersifat Allah-ku), karena sifat-sifat Dzat yang terkadung di dirinya sudah hilang musnah (Lihat penjelasan tentang sifat 20). Di dalam Kitan Injil Mutheus 22 (31.32.33) disebutkan, sebagai berikut :
“apa belum pernah membaca perintah Allah kepadamu : Ingsun (Allah) ini, Allah-nya Abraham, Iskak dan Yakub. Allah itu bukan Allah-nya orang mati, akan tetapi Allah-nya manusia hidup”.
Yang menjai pemikiran sekarang, walau pun itu berifat Muhamad dan juga bersifat Rasulullah, mengapa ada yang menjadi utusan nafsu? Utusan Syetan, perewangan, demit, dan utusan yang murka? Itu bisa terjadi pada manusia yang belum paham yang sebenarnya, atau hanya sekedar mengerti saja, sehingga hanya sampai  pada tingkatan Tarekat. Sedangkan jika benar-benar ingin mengamalkan serta membuktikan dalam menjadi UTUSAN DZAT, itu harus sampai pada tingkat Ma’rifat (Islam). Yaitu manusia yang sudah benar-benar ber Taukhid, menjadi satu, selaras dengan kehendak DZAT. Sehingga juga disebut Berbadan Bathara, artinya sudah menjadi AVATARA (Utusan), pada jaman dahulu disebut NABI, Wali. Di jaman sekarang cukup disebut MA’RIFAT.
Dalam pemahaman yang salah, oleh sebagian yang berpedoman Wirid atau ajaran, Muhammad itu dikiaskan, sebagai berikut : “Sesungguhnya Muhammad itu sifat diriku, Rasul iru Rasa diriku!”. Kata Rasul itu bermakna utusan, berasal dari Bahasa Arab, sedangkan kata Rasa (Rahsa) itu berasal dari Bahasa Sanskrit, sehingga tidak selaras. Walau pun Muhammad itu, benar sifat diri, namun penambahan  “Rasul itu rasa diri” itu justru menjadi keliru.
Oleh karena sudah yakin bahwa Muhammad itu Sifat Hidup yang lengkap dan juga sebagai Utusan, mengapa bagian-bagian dari sifat itu di ubah-ubah? Sifat Muhammad itu sudah lengkap, ada sifat dua puluhnya, ada rasajatinya, ada rasanya, dan budi dayanya, ada akal/pikir dan sebagainya, tiba-tibah di ubah ke tampat lain? Jika saja i dalam batin, Rasa yaitu rasa diri, itu diibaratkan sebagai Allah itu hanya mempunyai nama saja, dan mempersamakan dengan segala rupa di kanan kirinya, itu adalah keyakinan yang harus dihindari.!!!
Uraian tersebut juga termuat  di dalam  Wridi Hidayat Jati, sehingga pengarang Hidayat Jati itu juga memetik dari ajaran Sasahidan para Wali, sedangkan yang menjadi patokan bagi orang di jaman sekarang itu ssalah? Tidak!!!! Namun kesemuanya itu harus berdasar kepada Hukum Qiyas (Analisa), penjelasannya sebagai berikut :
Muhammad                   = Rasul
Rasul                              = Sifat Muhammad
Sifat Muhammad           = Sifat dari Dzat        
Sifatnya Dzat                = Merata kepada sifat seluruh yang tergelar dan yang hidup (Kayu, batu, manusia dan sebagainya).
Sifat dari Dzat               = Hakekatnya Dzat.
Hakekat dari Dzat         = Ujud yang sempurna.
Wujud sempurna           = Manusia hidup.
Manusia hidup               = Mempunyai sifat Dzat 20, dan sebagainya.
Manusia itu jika dicubit akan merasa sakit. Sehingga yang bisa merasa itu adalah manusia hidup yang juga sebagai utusan.
Sehingga... bukan salah satu sifat  itu ................ yang disebut : UTUSAN, RASA DIRI, SIFAT DIRI dan sebagainya .......!!! Namun itu semua Milik dari Dzat Wajibulyakin (ALLAH).
Sehingga jika ditelusuri .... di otak atik di atas sama dengan kiyas dari Asa Wahdatulwujud. Artinya L Khaliq dan makhluq itu “SATU” (Lihat dan pahami uraian tentang Dzat, Sifat, Asma dan Af’al di depan).
ooOOOoo
Sekarang berganti membicarakan tentang CARAKAN (Huruf JAWA) yang hingga sekarang masih menjai perdebatan para ahli sejarah dan belum ada yang mempunyai pendapat yang bisa dijadidkan patokan. Contohnya, tentang Ajisaka itu aalah siapa dan apa?
Apakah makna “CARAKAN” ) huruf Jawa ) itu? Walau pun jumlah hurufnya hanya 20, namun kenyataannya bisa menguasai seluruh ukuran dari kata-kata bahasa Jawa dan kata-kata bahasa asing.
Oleh karena uraian ini berhubungan dengan Kalimat Syahadat, sehingga jumlah 20 itu bisa diselaraskan dengan jumlah SIFAT 20. Sedangkan makna kalimat Carakan itu, seperti berikut ini :
I.         Aa. Wirid mengajarkan : Saya bersaksi, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu Utusan Allah”
II.      Bb. Carakan, berbunyi : Ada utusan berjumlah dua ........ dan selanjutnya. Lihat uraian di depan.
Uraian saya tentang adanya dua utusan (II. Bb), itu sebenarnya : Adalah ujud manusia hidup yang berujud laki-laki dan wanita yang sama-sama menjadi Utusan dari Dzat-nya diri sendiri, agar hidup berkeluarga. Laki-laki dan perempuan itu bukan hanya berujud manusia saja, namun juga semua makhluk ini ada Pria dan wanitanya, semua saling berpasangan dan sama-sama menjadi  sifat  yang menjadi saksi dari Dzat.
Oleh karena itu, sehingga tidak ada barang yang TIDAK ADA, artinya, keberadaan Dzat itu kekal adanya (4 c).
Makna tersiratnya, sebagai berikut : Utusan yang jumlahnya dua itu, sama-sama Jaya-nya, artinya menguasai semua makhluk lainnya. Siapa saja  yang menguasai semua makhluk, sehingga kalah keadaannya (hakekatnya)?? Tidak lain adalah manusia hidup yang di beri keluhuran sempurna dari sifat-sifat kekurangan, lengkap dari seluruh sifat 20), yang saling mempengaruhi. Disebut juga sama-sama kuatnya (Padhajayanya), artinya, wlau pun laki-laki/wanita, yang keduanya adalah sama-sama makhluk yang luhur dan lengkap.
CARAKAN itu juga menjelaskan : Campyuh (Mati bersama) sehingga menjadi bangkai (Bathang). Kata Bathang (bangkai) itu, menurut tata lahir sama dengan Jasad bangkai yang berbau bacin. Apakah sebabnya sehingga menjadi bangkai?? Baru saja berkelahi, saling tertusuk sehingga mati tanpa bisa dipisahkan. Namun kata Bathang (bangkai) itu sebenarnya mengandung makna ibarat yang rahasia. Lebih jelasnya : Seketika mati bersama-sama seolah menjadi bangkai, artinya  tersungkur bagaikan bangkai, atau sesuatu yang mati, dalam keadaan lupa. Hal ini jika di buka menurut Rahasia Sasahidan, menjadi demikian :
Laki-laki/perempuan itu sama-sama menjadi Sumber dari kelangsungan berkembangnya kelangsungan hidup keturunannya. Berkembangnya itu tidak ada putus-putusnya (selamanya). Untuk kelangsungan berkembangnya itu  harus oleh kedua-duanya (Pria wanita), menyatu menjadi satu sesuai iradat/kodratnya (bersenggama), sehingga mengakibatkan rasa kenikmatan (Rasa Mulia), mengakibatkan rasa badan menjadi lemas dan menjadi hilang ingatan (lupa sejenak). Dalam keadaan yang demikian itu  yang kemudian dikatan atau disamakan bagaikan bangkai, yang mati bersama-sama.
Keadaan yang demikian itu tidak lama, hanya sekejap saja, sehingga sebenarnya : Kata mati bersama-sama bagaikan mayat itu tidak terus-terusan, karena jika kata mati itu tadi  dikiaskan mati yang sebenarnya, akibatnya sama dengan bukan menjadi utusan.
Oleh karena bertugas sebagai Utusan yang harus tetap adanya, sehingga kata mati itu  tidak terdapat pada kaliamt CARAKAN. Karena  jika mati itu adalah keadaan yang sebenarnya, tentulah tidak akan ada MAKHLUK.
 Orang Jawa itu dalam setiap harinya mengucapkan kalimat-kalimat yang terdapat di dalam CARAKAN (sebagai buktinya, seandainya mengatakan : Kowe  harep hana apa (Kamu akan ada apa) itu pasti ada salah satu atau lebih dari CARAKAN itu. Keterangannya : ada huruf HA NA KA PA RA WA-nya), itu juga berarti bahwa orang Jawa dalam tiap harinya selalu ingat  kepada pedoman rahasia HA NA CA RA KA, itu terjadi bersamaan ketika sedang berfikir, atau sedang bertengkar, atau pun yang lain-lainnya lagi, tetap terbawa jumlah CARAKAN 20 itu.
Di dalam Bahasa Arab, kalimat itu mengandung “KEUTUHAN” utusan menjadi sifat Muhammad, Carakan itu merupakan ujud dari Utusan yang bersifat Muhammad!! Jika sifat Muhammad itu kelengkapan alat yang mengandung hakekat sifat 20). CARAKAN (Huruf Jawa) yang menguraikan adanya Utusan-utusan itu tadi, mengandung sifat 20), yaitu jumlah huruf semuanya.
Sekarang timbul pertanyaan : Lebih dahulu mana “ADANYA UTUSAN dan SEBAGAI UTUSAN”  atau kata ibarat lainnya “Lebih dahulu mana antara Telur dan Ayam?” Jawabannya : “Entahlah, tidak tau”, karena sudah ada di sini dan hidup bersama dengan makhluk-makhluk yang lainnya (5). Ringkasnya : Siapa saja yang bernama makhluk, tidak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Perlambang yang rahasia yang terdapat di dalam Carakan (huruf Jawa) itu tidak akan hilang, namun tetap laki-laki /wanita selali menyebut adanya jumlah 20, yaitu jumlah Sifat dari ALLAH sendiri.
Adanya sebutan Muhammad itu hakekat dari Dzat, yang mencarinya adalah manusia yang sudah memiliki ilmu atau manusia yang mengerti atas rahasianya. Maksudya adalah apa pun saja yang bisa dipikirkan dan disebut yang kasar dan yang halus dan sebagainya, dan juga apa saja yang diuraikan di dalam Kitab-Kitab Suci, itu MASIH BISA DICARI, BISA DIRASAKAN, DIPELAJARI, DI PERINCI, DIMAKNAI, karena semua Kitab Suci itu adalah untuk manusia hidup. Maknanya; Ibaratnya, Rahasianya, Sasahidan, Rahasia isi Kitab-Kitab Suci untuk bisa memahaminya itu jika berilmu, sudah menguasai ilmunya.
Kembali kepada tentang Kalimat dan Carakan. Semua itu, jika bukan manusia yang banyak ilmunya tidak akan bisa memaknainya.
Kalimat Syahat itu merupakan Rukun Agama Islam itu sebenarnya adalah kalimat yang tidak kekal, oleh karena kebiasaan manusia bahwa ketika menyebut Kalimat Syahadat itu, ketika ada keperluan bagi dirinya sendiri, seperti halnya ketika Sunat, pernikahan dan sebagainya. Intinya : Jarang yang diucapkan bersamaan dengan Carakan yang diucapkan tiap menit, tiap detik, selalu terbawa selama hidupnya, sehingga ketika menjadi UTUSAN alias sedang sebagai Sifat Muhammad, atau sedang sebagai Penanam, penangkar, yang bertugas untuk mengadakan, yang bertugas mewujudkan ADANYA utusan-utusan, itu adalah kekal, serta yang terpenting adalah harus di sadari.
1.        Kalimat Syhadat dalam Rukun Islam itu, kesaksian adanya Dzat. Walau pun tidak dipanggil, diucapkan, dibicarakan, dirasakan dan sebagainya. Dzat tetap adanya, tidak berubah dan berganti. Itulah kejelasannya. Serta, sifat-sifat Muhammad itu : Tetap ADANYA dan pasti berujud, namun bila masih hidup dan bergerak-gerak ini. Sehingga yang mengucapkan dan yang menyaksikan itu adalah MANUSIA HIDUP.
2.        CARAKAN (huruf Jawa) itu adalah lambang rahasia, artinya : Yang melambangkan “Yang selalu menyebutkan” Adanya Muhammad, Adanya Wujud, adanya sifat 20, keberadaan dari kekekalan Dzat (selalu berkembang biak). Serta setiap harinya, selalu kita alami, kita terapkan, dan selalu dikerjakan.
Yang dimaksud dari : Tidak ada kematian (Karena ..... masih bisa menyebutnya) dan berkembang biak. Keduanya yang disebutkan di atas itu saling pengaruh mempengaruhi, menyatu dalam keterpisahan, penyatuan, Wahdatul Wujud, ESA, yang maksudnya adalah BUKAN DUA, namun penyatuan.
Rahasia-rahasia yang terdapat di dalam CARAKAN itu, di dalam sebuah buku karangan seeorang Pujangga di Mangkunegaran, dijelaskan sebagai berikut :
Hananira sejatine wahananing Hyang (Adanya dirimu sebenarnya tanda adanya Dzat).
Nadyan ora kasat mata pasti ana (Walau tak terlihat mata pasti ada-Nya).
Careming Hyang yekti tan ceta winaca (Keberadaan Dzat tentu tidak jelas terbaca).
Rasakena rakete lan angganira (Rasakan kedekatannya dengan dirimu).
Kawruhana jwa kongsi kurang weweka (Pahamilah jangan sampai kurang akal).
Dadi sasar yen sira  nora waspada (Menjadi tersesat jika kamu tidak waspada).
Tamatna prabaning Hyang sung sasmita (Perhatikan Pengaruh Kekuasaan Tuhan memberi Tanda).
Sasmitane kang kongsi bisa kerasa (Tanda adanya hingga benar-benar bisa terasa).
Waspadakna wewadi kang sira gawa (Perhatikanlah rahasia yang kamu bawa => yaitu Sifat Rasul + Muhammad).
Lalekna yen sira tumekeng lalis (5) (Lupakanlah jika kamu sampai ajalmu).
Pati sasar tan wun manggya papa (Salah dalam kematian pada akhirnya menemukan kesengssaraan).
Dasar beda lan kang wus lalis ing goda (Sangat jauh berbeda bagi yang sudah tidak bisa tergoda).
Jangkane mung jenak jenjeming Jiwarja ( Tercapainya hanya pada ketenangan Jiwa).
Jitnana liyep luyuting pralaya (Menjadi ahlilah dalam menghadapi kematian )
Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan (Yang sebenarnya sepi hampa dari pengaruh dunia)
Madyeng ngalam parantunan (Hinga sampai alam penantian)
Gayuhane danaliyan mung sarwa arga (Yang di harapkan tidak adal lain serba longgar).
Bali murba Misesa ing Njaba Njero (Kembali pengaruh mempengaruhi luar dalamnya).=> Wahdatul Wujud, Esa, Sawiji).
Tukulane widardya tebah nista (Tumbuh kembali dalam keselamatan jauh dari nista).
Ngarah-ngarah ing reh mardi-Mardiningrat (Berusaha mengarah kepada keselamatan .. dalam kebahagiaan Tuhan).

BAB. VII
NUR  MUHAMMAD
Ada sebuah keyakinan yang meng-Kias kan Nur Muhammad, kurang lebihnya sebagai berikut : “Muhammad iku Cahyaningsun, Aku Adam, Aku Muhammad, Aku Allah.” (Muhammad itu Cahaya diriku, Aku Adam, Aku Muhammad, Aku Allah), kemudian dimaknai sebagai berikut :
Cahyaningsun manggen ing mripat (Cahaya diriku bertempat di mata).
Aku Adam, maksudnya adalah : Asal manusia itu dari kosong.
Aku Muhammad, maksudnya adalah : Asal dari seluruh yang ada itu dari Nur Muhammad.
Akhirnya “Aku Allah”.
Yang kemudian, pedoman tersebut meyakini : Ananingsun punika ananing ambegan, dan sebagainya (Aanya diriku itu adanya nafas, dan sebagainya).
Pedoman dan keyakinan tersebut di atas itu, jika di telusuri dengan tenang akan ditemukan kurangnya kebenarannya, sebab jika Nur Muhammad diyakini bertempat di mata, itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Oleh akrena bahwa mata itu tidak akan bisa mengetahui jika tidak mengandung Sifat Tuhan. : Bashar (Maha melihat). Sedangkan sifat Bashar itu , hanya salah satu sifat dari Tuhan, sedang menurut uraian di atas, sifat Muhammad itu mengandung sifat-sifat lengkap 20, sehingga mokal dan tidak mungkin  jika sifat yang lengkap itu berkumpul dan bertempat hanya di mata.
Menurut Hidayat Jati Ranggawarsita, Nur Muhammad itu makna sesungguhnya sebagai berikut : Nukad Gaib, itu terperinci dua bagian :
1.  Nukad artinya Biji (Biji segala ciptaan).
2.  Gaib artinya Rahasia (Tidak bisa diangankan, tidak bisa terbayangkan, TIDAK TERLIHAT. Nukat Gaib (Biji Rahasia) yang disebut NUR MUHAMMAD.
Jika dihayati, penjelasan selanjutnya di dalan Hidayat Jati, bahwa NUR MUHAMMAD itu adalah CAHAYA TERANG TANPA BAYANGAN. Kata terang itu bermakna Menerangi. Siapa dan apa pun juga yang terkena cahaya terangnya tanpa membeda-bedakannya pasti terkena cahayanya. Jelaslah jika demikian maka Nur Muhammad itu Terang atau cahaya terang yang ada menyeluruh : pada Segala wujud yang tergelar ini.  Oleh karena tanpa menimbulkan bayangan, sehingga tentunya bukan terang yang seperti  terangnya cahaya lampu, dan tentunya di unia ini tidak ada. Ada yang mengatakan dengan sebutan “Terang tanpa menimbulkan bayangan”. Siapa dan apa pun saja yang menghalanginya, tentu akan tertembus, sehingga sinarnya tidak akan pernah terputus yang disebabkan oleh penghalang yang berupabarang atau makhluk, penjelasan maksudnya adalah : Tanpa batas (menguasai).
Makna yang demikian bisa di dihubungkan dengan makna sifat dari Dzat Yang Wajib yang merata terhadap seluruh yang tergelar ini. Ringkasnya, Tentang Nur Muhammad (Cahaya Terpuji) itu adalah sama dengan Hakikat-Nya Dzat Yang Maha Kuasa, sama dengan AKU TIDAK TAU : Namun saling mempengaruhi (5a).
Kata Nur Muhammad itu, menurut ajaran Agama yang bisa menemukan adalah Seorang Pujangga yang bernama Al-Hallaj. Dia meyakini bahwa adanya seluruh yang tergelar ini berasal dari HAKEKAT MUHAMMAD, dalam bahasa Wirid sama dengan NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji). Beliau juga mengulas Asma dari Nabi Muhammad saw. dengan 2 uraian, sebagai berikut :
1. Muhammad berkedudukan sebagai Sifat juga sebagai Nabi Muhammad sendiri.
2. Muhammad sebagai seluruh Ilmu Agama, Falsafah dan sebagainya.
Artinya : Pusat seluruh Ilmu. Sehingga sifat Muhammad itu sama dengan kedudukan Rasul Utusan dari Dzat yang menggelarkan Ilmu  yang murni, uci (tidak terampur apa pun).
Pemaknaan Nomor 1, sama dengan Muhammad yang bersifat Manusia Hidup. Yang Nomor 2, adalah Muhammad berkedudukan sebagai Sifat JIWA MANUSIA, yang berkedudukan sebagai Penuntun Agung (Nabi, Wali, Ma’rifat dan sebagainya), yang sudah terlepas dari pengaruh godaan nafsu, rasa memiliki, pamrih dan sebagainya (Hijab, penghalang). Pada intinya : Berujud manusia atau sifat wujud itu bisa mati, sakit, hilang, rusak dan sebagainya, yaitu sifat-sifat yang menjadi MOKAL (karena bisa rusak).
Sedangkan Sifat Qadimd ari Muhammad itu (Cahaya Terpuji) tetap menguasai seluruh alam yang tergelar ini, yang sama dengan TERANG TANPA BAYANGAN.
Di dalam Al-Qur’an XX, 52 Surat Al-Qasas menyebutkan “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur;an itu.” Yang di dalam Tasir Machmud Yunus menjelaskan : “Sebagian orang-orang yang telah kami beri Kitab sebelum Nabi Muhammad lahir (yaitu Yahudi dan Nasrani )  ada yang beriman kepada Nabi Muhammad.
Menurut Pujangga Al Hallaj, Nur Muhammad itu sumber dari segala yang ada di alam ini beserta seluruh isinya, sehingga seluruh makhluk ini hanya bagiannya saja, oleh karena hanya merupakan bagiannya saja dari Nur Muhammad, sehinga Dzat, Sifat, Asma, dan Af’al itu disebut KEADAAN TUNGGAL, atau dalam Bahasa Arab disebut : Wahdatulwujud.
Keyakinan Al-Hallaj itu, kemudian dilanjutkan oleh Pujangga yang hidup sesudahnya yaitu Ibnu “Araby (1102 M) di tanah Andalusia yang keyakinannya sama. Menerangkan bahwa Nabi Adam, para Nabi-nabi utusan Tuhan, seluruh makhluk dan sebagainya, yang ada ini semuanya berasal dari bagian Nur Muhammad (Hakekatul Muhammad). Oleh karena Nur Muhammad itu  sama dengan Hakekat Allah, sehingga atas keyakinan yang tersebut di ata itu disebut “Keadaan Tungga” (Menyatu – satu kesatuan). Bisa juga bahwa keyakinan tersebut  yang tersebar di Tanah Jawa pada abad 15 dan 16.
Akibat dari salah dalam memahaminya, atas orang yang kurang mendapatkan pengajaran, sehingga berani merubah keyakianan tersebut, hanya berhenti pada sebatas pemahaman diri sendiri saja dan kadang juga digunakan dalam sarasehan ketika ada perkumpulan. Penjelasannya : Pemahamannya hanya berhenti pada kata-kata saja!!! Rasa menyatu itu, jika tidak dengan jalan dilakukan dan dirasakan sendiri tidak akan bisa membuktikannya, karena hal itu sama saja dengan membuktikan sendiri jalan kepada Yang Tidak Terbayangkan (5). Sedangkan meraksan hal itu,bisa terlaksana harus menggunakan cara, dalam Bahasa Arabnya disebut : Tauwhid. Akibat dari bergesarnya penjelasan itu, yang kemudian mengakibatkan tumbuhnya golongan yang menuduh bahwa Faham Wahdatulwujud itu Kufur, Kafir, menyekutukan Tuhan. Sehingga bagi yang meyakini  bahwa Khaliq dan Makhluk itu adalah dua, di dalam batinnya menentang kepada paham Wahdatulwujud tersebut, karena makhluk itu sesuatu yang terlihat nyata, akan tetapi Khaliq  itu adalah Dzat yang tak bisa terbayangkan, makudnya adalah hakekat dari Dzat  yang tergelar  ini atau makhluk itu, tidak sama dengan Allah!!!. Sedangkan yang bisa dilakukan manusia itu adalah, hanya sebatas berhubungan.
Akan tetapi bagi yang memiliki keyakinan seperti yang diyakini oleh Al-Hallaj, Ibnu “Araby dan Siti Jenar atau Paham Wahdatulwujud, di dalam hatinya serta dalam amalnya (tindakannya) sudah bisa membuktikan dan menyatakan sendiri tentang Dzat, Sifat, Asma dan Af’al itu adalah SATU. Hal itu bukan hanya sebatas mengerti saja.
ooOOoo
Uraian tentang empat Anasir yang sudah diuraikan  sebelumnya itu, maksudnya adalah sebagai berikut : Bagi para pemeluk Agama Kristen menyebutkan bahwa Allah itu berputra, Sang Putra tersebut sama dengan Citra, bayangan dari Dzat (yang diibaratkan sebagai Matahari yang cahayanya mempengaruhi Jamban). Jika hal itu yang diyakini, maka sama dengan Nur Muhammad, tidak ada bedanya. Penjelasannya sebagai berikut :
Allah sama dengan Sang Rama (Sanskrit : Iswara).
Hakekatullah sama dengan Nur Muhammad.
Nur Muhammad sama dengan Citra (Bayangan).
Citra atau Hakekatullah sama dengan Sang Putra.
Sang Putra sama dengan Ingsun (Diri) (Sanskrit => Purusa).
Jika di uraikan, Nur Muhammad itu, pusat sumber segala yang ada yaitu yang berujud Sifat Hidup diri kita ini, keyakinan tersebut sama dengan yang disebut dengan AKU () Putra Allah. Makna Putra itu bukan ANAK pada umumnya, namun terjadi karena Bayangan yang diterima  yang berasal dari Hakekatullah. Sehingga ujud manusia itu sama dengan DRAGER, yang memuat yang dimuat oleh Putra (Citra, Bayangan Nur Muhammad).
Oleh karena Sang Rama atau Allah itu Tidak bisa Terbayangkan, sehingga bayangannya pun juga tidak bisa terbayangkan. Sehingga disebut Ingsun (diri), Nur Muhammad, Hakekatullah, Citra Sang Putra dan sebagainya. Hal itu juga tidak bisa terbayangkan itu berada di diri manusia yang bersifat lengkap (Muhammad), dengan jalan menggunakan alat yang menempel di dalam badannya, bisa membuktikan yang tidakbisa terbayangkan tersebut di atas. Di dalam keyakinan Agama Buddha disebut Nirwana alam yang kekal.
Oleh karena kesemuanya itu hanya sebatas tanda atau sebutan saja, sehingga bagi salah dalam memahaminya kemudian akan terbawa kepada perasaan merasa berkuasa menyebut, hingga bergeser kepada perasaan memiliki sifat kuasa. Hal itu adalah salah, karena makna yang sebenarnya adalah sebagai berikut :  : Walau pun kita sebagai yang memuat, maksudnya adalah hanya terpengaruh atau dipengaruhi oleh Hakekat-Nya.
Hakekat yang sebenarnya adalah tidak bisa berbuat apa-apa, jika hanya terpengaruh oleh sifat kekuarangannya. Namun, bagi manusia, ternyata segala perbuatannya sama dengan Yang memiliki Hakekat.
Oleh karena Sang Pemilik Hakekat itu hanya satu saja, seperti yang digambarkan sebagai Matahari di langit bagi jamban yang terisi air, sehingga sang Hakekat tetap tidak bisa terpengaruh kewenangannya! Karena yang Yang Maha Wenang Hanya SATU.
Hal ini mudah untuk dipahami, yaitu : Seandainya Hakekatullah (Muhammad) Citra Sang Putra, itu berkemampuan mempunyai Kekuasan seperti  Yang Maha Wenang, tentulah akan ada makhluk yang akan bisa menciptakan makhluk. Sehingga, Dzat Yang Tidak terbayangkan itu Maha Wenang, artinya Wenang menguasai segalanya, Apakah mengurangi atau pun melengkapi, atau juga menggerakkan dan sebagainya, semuanya itu hanya sebatas kewenangannya, walau pun hidup atau pun mati pun demikian.
Untuk penjelasan selanjutnya, sebagai berikut : Jika berdasar bahwa Nur Muhammad itu ternyata Hakekat dari Dzat, serta Dzat itu lengkap  dan tidak terkena perubahan, atau Wajib Adanya, jika demikian suatu keyakinan yang meyakini bahwa Muhammad itu adalah Cahaya diri yang bertempat di mata, tidak bisa diterima kebenarannya.
Sebagai penutup uraian tentang Nur Muhammad ini,  perlu untuk sebagai pengingat, Oleh karena Sifat Muhammad dan Sifat Rasul serta mempunyai kewenangan menyebut Rasul, tentang hal ini sebaiknya dijalankan ( diamalkan dan dipraktekkan). Karena sifat Rasul itu adalah Hakekatullah yang tanpa sarana (perbuatan dari sifat Tuhan yang berjumlah 20 tanpa penghalang).
Ibaratnya adalah : Manusia dan apapun kehendaknya; kehendak Allah; dan apapun perkataannya adalah Ucapan Allah, segala tindakannya adalah tindakan Allah dan sebagainya, itu sudah berderajat Nabi, Wali, Mukmin Khas (Ma’rifat), yang telah dibuka oleh Allah, tindakannya tidak diakuinya, artinya : Teramat tinggi sikap pasrahnya sehingga tidak MERASA apa-apa.
Meskipun demikian, sebagai tandanya, siapapun saja yang berani mengaku bisa, pinter, kaya ilmu, perkasa, merasa sebagai kekasih Allah dan sebagainya, yang sangat mengagumkan; hal itu bukan nama sebagai Utusan Tuhan, namun sebagai Utusan nafsu dan Syaitan, seperti termuat di dalam Al-Qur’an XXX 29, surat Alinfathar : (Tafsir Qur’an) : Janganlah kamu memiliki keinginan (harapan) selain Allah,  karena Allah juga memiliki keinginan (pengharapan) juga.
Makna singkatnya : Sudah sangat jelas, seandainya sudah bisa menyatu (larut) dengan Dzat bernama Suci,  kaarena kesucianya lah yang kita lakukan, seperti yang terkandung pada Ayat di atas; Apa pun kehendakmu adalah kehendak Allah, artinya .. ALLAH dan aku diri itu satu, baik kehendaknya, juga perkataannya. Sehingga di dalam Hidayat Jati menjelaskan, bahwa perkataan Allah itu melalui mulut, mendengar mempergunakan pendengaran dan sebagainya, dan yang berwenang  sebagai jalan sarananya atau yang menjadi perantara dari Tuhan, yaitu yang sudah mencapai derajat Ma’rifat.

BAB. VIII
JALAN  MENCARI YANG NYATA ADANYA
Keterangan tentang Tata cara (melakukan, mengamaalkan) tentang Ilmu Ketuhanan itu tidak panjang dan tidak rumit, karena Ilmu Ketuhanan (Yang Nyata Adanya) itu harus diolah di dalam batin. Tidak harus bisa meneliti perbuatan, maksdunya, tindakan yang keluar dari batin itu apakah sudah sesuai dengan Tata kelahiran ataukah belum.
Seseorang itu tidak harus secara terus menerus melakukan olah batin, yang akibatnya akan mengabaikan perbuatan dan kebutuhan raganya. Hal itu justru berakibat melemahkan raga, dan jika raga menjadi lemah, maka jiwanya juga akan menjadi lemah.
Melakukan tindakan mencari Yang Nyata adanya itu banyak ragamnya, dan caranya pun berbeda-beda. Sehingga para pencarilah yang harus menelaah sendiri. Laku tindakan yang mana yang sesuai dengan dirinya dan baik.
Dalam dunia Islam (yang juga sudah ada di dunia Jawa) ada kata : Zakat, yang bermakna memberikan dana. Tindakan demikian itu sebenarnya melatih kepada rasa ikhlas, dan dengan jalan demikian saja seseorang masih belum bisa disebut Alim. Melatih agar memiliki watak Ikhlas yang pada akhirnya : Tidak merasa ikut memiliki dan tidak ikut membuatnya.
Walau pun berderma itu suatu tindakan yang utama, meski demikian tindak seperti itu bukan karena keterpaksaan, atau dengan mengandung pengharapan agar di belakang harinya bisa mendapatkan balasan dari orang lain (menerima zakat), serta juga tidak harus dengan pamer agar terlihat dalam membela ke Islaman-nya. Lebih tepatnya tindakannya itu harus disesuaikan dengan keadaan dirinya sendiri. Artinya, jika kebutuhan dirinya sendiri belum tercukupi, melakukan derma itu pada akhirnya tidak bisa terlaksana dengan keikhlasan hati, karena walau pun sedikit, bisa dikatakan terpaksa, atau hanya terdorong ingin mendapatkan sanjungan, sedangkan keadaan yang sebenarnya, masih belum terpenuhi seluruhnya. Jika ddirenungkan dengan tenang, tindakan yang demikian itu  bisa disamakan dengan bunuh diri.
Sedangkan cara berderma yang benar itu adalah dengan cara meneliti keadaan diri pribadi terlebih dahulu, apakah kebutuhan hidupnya sudah cukup ataukah belum. Sedangkan jika sudah dirasa cukup (dan jika justru sudah lebih) barulah tindakan berderma itu dilaksanakan dengan keikhlasan hati yang sebenarnya. Menurut keyakinan Agama, hasilnya disebut Halal. Sedangkan ujud dari yang bisa didermakan itu tidak hanya harta saja, sedangkan tenaga, pikiran dan lainnya juga bisa dipergunakan untuk menjalankan derma, namun juga harus memperhitungkan kepada siapa dan juga tempatnya.
Untuk tindakan di dalam batin, menjalankan pencarian kepada Yang Nyata Aadanya itu, harus dilakukan dengan kejururan, bisa bisa dengan jalan menipu dirinya sendiri. Contohnya sebagai berikut : Ketika baru datang dan masih kepanasan, tiba-tiba ditanayi, apakah sudah makan ataukah belum (yang kenyataannya memang belum makan). Jika di dalam batinnya jujur, jawabannya juga harus  dengan jawaban “belum:” Namun biasanya seseorang itu mempunyai watak malu-malu, sehingga ketika ditawari makan, walau pun perut lapar, jawabannya tetap menjawab “Sudah”. Tindakan yang demikian itu  yang bernama di dalam lahir dan batinnya tidak sesuai, sudah menipu dirinya sendiri, yang akibatnya adalah menyiksa raga.
Akan tetapi, dalam keadaan lapar yang bagaimana pun, dan demi mengikuti kejujuran batin, walau pun demikian juga tidak boleh di sembarang tempat mengucapkan meminta makan, karena tindakan yang demikian itu sebagai tanda bukti bahwa keyakinan kepada raganya sendiri sudah berkurang, kata kasarnya bisa disamakan dengan pengemis. Sehingga walau pun demikian, ketika  dalam keadaan merasakan lapar yang teramat sangat, sebisanya harus berusaha sendiri, bagaimana caranya agar bisa tercukupi kebutuhannya itu.
Sedangkan tindakan “meminta-minta” itu, bagi diri pribadi bisa dikatakan sebagai tindakan yang nista, dan bagi yang dimintai itu bisa dikataan telah meremehkan, karena pastilah berkeyakinan bahwa seseorang yang dimintai itu pasti akan memberinya. Selain meremehkan, tindakan meminta itu sama saja telah memerintah dan memaksa kepada orang lain, yang akhirnya bisa mengakibatkan merugikan. Seumpama meminta hanya sebatas meminta rokok, walau pun hanya sebatang, namun walau pun terlaksana itu akdang kala membuat tidak enaknya hati bagi yang dimintai, karena bagi yang memiliki rokok , sebenarnya masih membutuhkan untuk dirinya sendiri.
Maka dari itu, tindakan batin yang utama adalah “Luar dalam”, namun demikian harud didasari dengan membiasakan mengekang hawa nafsu, dan juga dengan menggunakan rasa Cinta dan menyamakan rasa dengan rasa diri (tepa salira) kepada sesama makhluk yang berujud apa saja, Artinya Cinta tanpa menyiksa (meremehkan, memaksa, merugikan dan sebagainya), artinya menyamakan rasa dengan rasa diri, jika dirinya sendiri di cubit merasa sakit, maka janganlah mencubit orang lain. Laku dan tindakan yang demikian itu, menurut Ajaran Agama disebut menjalankan Mujahadah dan Riyadlah, sedangkan bagi ahli Syariat, bermakna bertindak berdasar Hukum Agama yang diyakininya dengan tidak mengharapkan apa-apa.
ooOOoo
Yang membuat rusaknya hidup itu, terbagi dua bagian, yang sebagian adalah yang membuat rusaknya Batin,  dan sebagian lainnya adalah yang membuat rusaknya Raga (lahir). Yang membuat rusaknya batin itu, ada 5 yaitu :
1.         Mengumbar Hawa Nafsu.
2.         Menuruti kehendak diri.
3.         Menyebarkan angkara murka.
4.         Menggunakan watak pembohong dan mengingkari janji.
5.         Menuruti tindakan fitnah dan suka menyiksa.
Sedangkan yang membuat rusaknya raga itu juga berjumlah 5, yaitu :
1.         Melakukan kecerobohan. (Carobo)
2.         Melakuan tindakan Nista.(lampah nista)
3.         Bertingkah sewenang-wenang.(Degsura)
4.         Malas, malu. (kesed, sungkanan)
5.         Malas menderita dan melakukan ibadah. (Lumuh nestapa puja brata)


Oeh karena kesemuanya itu merupakan penghalang dalam setiap waktu, bagi para  pecari harus mencari cara, bagaimana agar bisa terhindar dari penghalang-penghalang tersebut. Maka baru bsia berhasil lulus dan selamat dalam hidupnya. Apalagi bila ditambah dengan tapa dalam hidup beserta zakatnya sekalian.
Enurut Serat Hidayat Jati, petunjuknya adalah sebagai berikut :
1.                   BADAN RAGA : Dengan cara bertapa mengekang Raga Zakat-nya rutin menjalankan kebajikan. Maksud mengekang raga : Dalam kehiidupan bermasyarakat selalu menjalan kebaikan, sopan dan mengikutin  aturan. Dalam setiap tingkah laku harus selalu diselaraskan dengan waktu dan tempatnya. Ringkasnya adalah bisa menyenangkan sesamanya.
2.                   HATI/BUDI : Ujud tapanya adalah Ikhlas menerima dan bentuik zakatnya adalah hampa dari pikiran buruk, tidak berfikir yang bertujuan pada tindakan tidak baik. Sedangkan yang perbuatan  hati atau Budi itu bermakna : Yang menjadi sumber dari segala tindakan, karena segala yang dikerjakan manusia itu, walau pun hanya seucap kata, pastilah bersumber dari hati terlebih dahulu. Sehingga tepat dengan sebutan bahwa Hati itu adalah Guru dari Sikap lahiriah.
Sedangkan bisa diamati, atas baik dan buruknya bisa dilihat dari sikap, tingkah-laku, dan ucapannya. Bagi para pencari kebenaran, yang disebut Budi yang baik itu, adalah budi yang mengajak pada segala tindakan yang tertuju pada kebaikan, juga selalu berusaha menambah pengetahuan dan sebagainya, umpamanya mengingat-ingat dan menghayati sifat 20, hasilnya, batin akan mendapat pengaruh  dari sifat 20 tersebut, dan lain sebagainya, dengan harapan semakin lama akan menjadi kebiasaan, terbiasa mencari kebaikan.
Ujud bertapanya adalah : Menerima, ini bukan berarti menerima apa adanya, namun yang terpenting itu tidak kecewa terhadap sesuatu yang sudah terlanjur. Tujuan menerima seperti itu bermakna tidak memaksakan segala sesuatu, tidak akan bertindak sekiranya badan dan pikiran tidak sanggup menjalankannya. Umpamanya saja adalah sebagai berikut : Berusaha mencari penghasilan akan tetapi mendapatkan hanay sedikit saja, hal demikian tidak berarti menyerah begitu saja, harus berusaha lebih giat lagi agar mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi, namun dengan syarat ingat kepada kekuatan badan  dan pikirannya, tidak memaksakan dir dan tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil yang berlebih dari yang seharusnya, namun dengan sarana pengurbanan keadaan raga dan jiwanya. Bagi para olah batin bisa dimaknai , berserah mengalah kepada godaan pikiran, itu juga disebut bisa melawan tuntutan dari pikiran. Untuk bsia melakukan itu, adalah dengan jalan berlatih sedikit demi sedikit, lama-kelamaan akan menjadi terbiasa dan menjadi kebiasaan.
3.                   NAPSU (Nafsu) : Beratapanya adalah Ikhlas, Zakatnya adalah sabar ketika mendapat cobaan dan pemaaf terhadap kesalahan..
Berjiwa ikhlas itu adalah salah satu jalan untuk melawan nafsu yang sangat banyak jenisnya. Ikhlas memberikan yang dicintai itu membuang sifat kikir.
Sabar ketika mendapat coba : Cobaan dan celaka itu tidak diketahui kapan datangnya, umpamnya : terluka oleh benda tajam, hal itu bagaimana bisa sabar sedangkan kecelakaan-nya sudah terjadi? Ukuran sabar atas coba dan derita itu tidak bisa ditemukan, asalkan saja berhati-hati dalam melakukan segala hal. Hal itu sebagai pedoman atas segala hal.  Oleh karena coba dan celaka itu tidak bisa diketahui asalnya, maka sifat sabarnya itu haru selalu dijalankan untuk menghindari coba dan celaka. Artinya tidak akan melakukan pembalasan, tidak menjadi gampang menyerah, tidak takut gara-gara coba dan celaka.
Manusia yang lemah jiwanya, biasanya, apa saja yang akan dilakukan yang dipikir terlebih dahulu adalah celakanya atau ruginya terlebih dahulu, yang akhirnya justru tidak mau melakukannya. Yang dimaksud sabar itu, bukan takut terhadap masalah, tidak ragu-ragu terhadap malapetaka, tidak mundur karena cobaan, akan tetapi selalu berhati-hati. Dan orang yang percaya kepada kekeuatan sendiri itu biasanya yang lebih sering berhasil dari apa yang dicita-citakannya.
Oleh karena segala tindakan itu didorong oleh anfsu, (Nafsu ingin mendapatkan pujian dari orang lain, nasfu ingin mendapatkan yang terbanayk, nafsu ingin yang paling unggul dsb), maka bertapanya adalah :Ikhals, jika belum bisa mendapatkan apa yang dihasratkannya, dalam melakukan tindakan tersebut/ Karena, seandainya tidak Ikhlas (terus membebani pikirannya) biasanya menumbuhkan rasa murka, dan rasa tidak pernah puas. Untuk cara menghilangkannya dengan cara seperti yang sudah diurakan tersebut di atas. Dalam hatinya harus mempunyai tekad “Ikhlas” walau pun belum bisa seketika. Pada intinya : Ikhlas memotong berkembangnya nafsu dan keinginan diri, pamrih pujian dsb. Langkah-langkah yang demikian itu akan menumbuhkan kesantausaan Budi. Artinya tidak mudah terpengaruh. Krena sudah bisa memikirkan baik buruknya. Dan kesentausaannya itu tidak gampang terseret oleh hasrat yang berasal dari luar dan dari dalam diri.
Pada akhirnya, kata MEMAAFKAN ATAS SEGALA KESALAHAN, lebih jealsnya dalah tindakan dari luar diri, yang berakibat pada diri sendiri. Contoh : Sepeda Anda dipinjam tetangga yang akhirnya tetangga itu mengalami kecelakaan di jalan hingga sepeda Anda menjadi rusak. Ruksanya sepeda itu  dikarenakan kecelakaan yang tidak disangka-sangka itu, masih bisa di servis. Akan tetapi, siapakah sebenarnya yang salah? Dan siapakah yang harus memberi maaf? Menurul penalaran, yang salah adalah tentangga yang menaiki sepeda itu. Namun.. menurut hukum batin, seumpama sepeda itu tidak dipinjam, tentu tidak akan mendapat kecelakaan. Sehingga, yang kurang “Waspada” adalah keduanya. Sehingga, maafkanlah atas kesalahan orang lain yang mengenai diri sendiri, karena belum tentu tentangga itu, benar-benar salah. Dan hasil dari memafkan kesalahan orang lain itu, maka diri ini akan disebut sebagai manusia berbudi luhur.
Seumpama ada anak yang memukul anak itu bagaimana? Apakah harus di balas dengan pukulan juga? Olehkarena hal ini berhubungan dengan “membangkitkan nafsu” sehingga sikap memafkan adalah yang utama, kemudian urusan itu serahkan kepada yang berwajib, karena ada pengadilan yang berhak mengurusinya. Sedangkan jika dibalas dengan pukulan, itu maka kedua-duanya sama-sama bersalah. Karena tidak menempati watak berbudi luhur.
4 . NYAWA, Bentuk tapanya : Jujur Yang Sebenarnya (temen) Zakatnya adalah : Tidak usil dan tidak senang menyiksa. Bagi manusia pencari Yang Nyata Adanya, Nyawa itu adalah kata yang sulit untuk dipahami, karenya Nyawa itu dalah tanda hidup. Semu mahluk Tuhan itu, yang bersifat hidup, pasti mendapat pengaruh dari Nyawa.
Kata “Jujur yang sebenarnya” (Temen) di sini, adalah yang berhubungan dengan kejiwaan (tentang Sukma), artinya akan bisa terlepas dari rasa senang dan menyenangkan jika gerak batin  JUJUR yang sebenarnya jujur dan tidak menipu kepada diri sendiri. Contohnya : Dalam hatinya ingin melihat pertunjukan wayang, namun tiba-tiba ada tamu datang. Pada umunya kemudian akan menyambut tamu tersebut , akan tetapi bagi pencari Jujur yang sebenarnya (Temen) dan tidak menipu dirinya sendiri, akan memaksa diri untuk berangkat walau pun tidak seketika itu juga. Penempatan rasa nya akan menemui tamu terlebih dahhulu, setelah cukup kemudian tetap berangkat untuk melihat pertunjukan wayang. Mengapa demikian? Karena jika berangkat menonton pertunjukan wayang, yang pertama itu bernama tidak menipu diri, kedua hati menjadi tenang karena terpenuhi keinginannya/ Berlatih tentang Jujur yang sebenarnya (temen) itu adalah perbuatan yang sangat berat. Karena cetusan hati itu tiap detik berubah, yang pada akhirnya kebanyak bertentangan dengan cetusan hati sebelumnya. Dan cara jujur kepada diri sendiri itu jika dilihat dari hal batin, hanya dengan cara bertindak yang sesuai dengan keinginan hatinya sendiri. Contohnya : Ketika pada suatu waktu seseorang sedang berhadapan dengan temannya, suara hatinya berkata : “Orang ini pasti akan minta uang!”  tidak slah, bahwa temannya itu benar-benar meminta uang.
Kejadian seperti itu, yang dijadikan patokan oleh para ahli Hakekat, maka Hakekat itu adalah termasuk sikap “Bertapa bagi Nyawa”. Artinya, merasa tidak ikut memiliki (Hidupnya berasal dari Yang Satu). Jika mengolah cetusan hati yang seperti itu terus dilatih hingga menjadi kebiasaan, maka lama kelamaan akan bisa mendapat anugerah bisa mengerti sesuatu yang belum terjadi. Hasrat dan cetusan hatinya pasti tepat, karena “RAGA” dan “JIWA” sudah bergerak satu tujuan. Yang akhirnya, jiwa akan bisa mengendalikan basan kasar raga ini.
Contoh yang lainnya lagi, sebagai berikut : Waktu sore hari ketika waktunya untuk bersantai sambil minum kopi, akan tetapi gula dan bubuk kopinya habis, dan kebetulan pada saat itu sedang tidak memiliki uang. Kemudian berkata : “Ah... Yang mempunyai keinginan kan lidah dan perut, jika memang bisa saya suruh, tentunya akan bisa datang dengan sendirinya.” Tiba-tiba, tidak begitu lama ada tamu yang datang, sambil membawa buah tangan gula dan bubuk kopi, yang menyebabkan terpenuhinya keinginan untuk minum kopi. Tindakan yang didlakukan berdasarkan “Jujur yang sebenarnya” (Temen), jujur di luar, jujur di dalam, hasilnya dalah : Raga dan Jiwa, sama-sama terpenuhi kebutuhannya. Biasanya Ketika kebutuhan muncul, yang dibutuhkan itu “ADA”. Hal demikian disebakan oleh apa? Tidk lain adalah hasrat cetusan hati itu muncul disebabkan dari Suci bersih (Jujur pada awalnya, benar-benar terjadi). Hal itu sebenarnya adalah atas ijin dan kehendak Tuhan yang terkadung di dalam Ayat QS.XXX.29. A-Infithar, yang tafsirnya sebagai berikut : Susungguhnya apa yang kamu hasratkan, itu menjadi Kehendak Tuhan Seluruh Alam ini).

Sekarang memaknai Zakatnya Nyawa (Amal, tindakan, dan perbuatan), yaitu Tidak usil dan tidak berbuat yang menyiksa. Hal itu bagi yang salah dalam memahaminya kemudian mengira-ngira dengan perbuatan, kejam, membunuh, memukul dan sebagainya.
Karena pemahaman umum itu bahwa barangsiapa yang bertindak kejam pasti jelek (akan dihukum). Bagi Hukum dunia batin, seharusnya harus ditelaah terlebih dahulu, Apakah sebabnya, sehingga melakukan tindakan memukul, itusekedar contohnya. Gerak hati yang diumbar itu pasti mempengaruhi hingga mengenai tindakan lahir atas dari yang dihassratkannya itu, dan jika hasrat hatinya buruk, maka tindakannya pun buruk. Dan sebagainya.
Kalimat jangan usil dan suka menyiksa itu, maksudnya adalah JANGAN MENYIA-NYIAKAN HATIMU SENDIRI. Mengulangi contoh di atas. Yang menyebabkan hingga berbuat memukul itu, karena karena disalahkan oleh orang lain karena bertindak salah. Sedangkan yang menyebabkan bertindak salah itu disebabkan Hatinya yang buruk.
Pada umunya, sebelum melakukan apa saja itu, tentunya hasrat hati sudah mengajaknya terlebih dahulu. Bagi pencari Yang Nyata Adanya, bahwa yang mengajak dari dalam itulah yang dihilangkannya. Cara melakukannya dinamakan Zakat (mengamalkan ilmunya) yang intinya : Tidak menyiksa hatinya sendiri, tidak mengusili hatinya sendiri, Usil urusan hati itu adalah TIDAK BOLEH BErPIKIr BURUK.
Oleh karena hal itu adalah cara bertapa bagi para Ahli Hakekat, maka disebut “Belajar Sunyi” tidak ada apa-apa, yang artinya adalah Ikhlas. Insya Allah akan mendapatkan sebuah daya kekuatan (energie) yang belum pernah diketahuinya.
5. RAHSA :Nama tapanya adalah bertindak yang Utama (UTAMA) Zakatnya adalah Diam dan bersedih hati. Itu sebenarnya adalah cara bertapa bagi para AHLI Ma’rifat, sedangkan cara menjalankannya itu jika sudah mempraktekkan yang Nomor 1 hingga Nomor 4 di atas. Hal itu hanya sebatas yang bisa diuraikan oleh kalimat yang sebenarnya yang bisa memahami adalah yang sudah berada di tingkat Ma’rifat.
Uraiannya : Penuh keutaman itu adalah selalu dalam kebenaran, bisa dipercaya dan bisa menjadi contoh atas apa yang dikatakannya, karena senang memberi nasihat dan penerang bagi masyarakat. Sehingga, penuh keutamaan yang sebenarnya itu adalah DIRI , karena sudah berada di tingkat Ma’rifat, dan apa pun yang dikatakannya adalah selaras dengan perintah Allah, dan aka pun yang menjadi kehendaknya adalah selaras dengan Kehendak Allah, karena sifat Yang Paling Utama adalah Sifat milik Allah dan tidak memilih-milih tempat. Siapa yang isa mendapatkan  Yang sangat Luhur  dan sangat Utama itu asalkan bersedia melaksanakan Aturan  Zakat dan Tapa seperti yagn sudah dijelaskan pada Nomor 1 hingga Nomor 4 di atas. Apakah yang menyebabkan sehingga ketempatan  sifat Keluhuran, keagungan, menjadi panutan, sifat kasihnya dan sebagainya, dari Sifat Tuhan? Karena sudah terlepas dari hijab, penutup, penghalang, yang ditemukan pada angka 1 hingga 4 di atas, sehingga apa pun yang diminta pasti terjadi, dan yang dikehendakinya pasti ada. Mengapa demikian, karena Ki Rangaawarsita itu sudah ketempatan sifat seperti yang terkadung di dalam Al Qur’an surat Al-Infithar 29 tersebut di atas.
Bisa mengetahui yang belum terjadi, kekayaan, kesaktian dan sebagainya, itu semua sumbernya adalah hanya dengan Bertapa. Artinya bertapa untuk itu (Mengurangi, menghilangkan) yang dijelaskan di nomor 1 hingga 4 di atas.
Karena Maha Kuasanya DZAT, itu bukan hanya yang berada di dalam diri saja, sehingga sebagai sarana berlatih harus bisa mengalahkan serta bisa memerintah indra yang ada di luar, yaitu :
1.  MATA, bentuk tapanya adalah mengurangi tidur, zakatnya adalah menghindari melihat sesuatu yang bisa menumbuhkan rasa ingin memiliki dan yang bisa membangkitkan nafsu. Disebut dengan Tapa membutakan mata.
2. TELINGA : bentuk tapanya adalah mengendalikan nafsu amarah, zakatnya adalah mencegah untuk mendengar suara yang buruk, pertengkaran, canda yang tidak ada gunanya dan sebagainya, disebut Tapa menulikan telinga.
3. HIDUNG, bentuk tapanya Mnecegah ingin tahu, jakatnya tidak mau mencari-cari kekuarangan orang lain. Kata ingin tahu itu sama dengan mencari-cari. Yang kadang mengakibatkan dibenci oleh teman-temannya. Hidung adalah alat untuk memilih, walau pun mata tidak melihat barangnya, jika hidung bsia menciumnya, kadang-kadang akan bisa tahu tentang brangnya.
Hidung juga bisa menjadi jalan menuju celaka. Artinya, jika kurang berhati-hati, bisa menumbuhkan kemarahan,karena godaan dari hidung, umpamanya, ketika mencium bau bangkaidan sebagainya. Hal itu bila tidak bisa mengendalikan, maka mulut akan berkata, maka dari itu, dimana-mana tempat sebaiknya menjauhi bau dari sesuatu yang berbau tidak baik.
Seseorang yang suka sembarangan, pada umumnya, ketika makan apapun, ketika mengambil apapun, maka akan di cium, namun ketika yang dicium itu RACUN, mencium yang demikian itu akan bisa menyebabkan kematiannya.
Akantetapi, bagi sang pencari, itu tidak suka ikut-ikut menjadi urusan orang lain yang bukan urusannya. Dan jika dimintai pendapat, maka  akan memberi saran dengan cara tidak menambahi banyak bicara. Apalagi menambahi kejelekan orang lain, hasilnya adlah usil, dan di dalam hatinya ingin yang paling unggul an sebagainya. Karena di dalam hatinya merasa bahwa semua kata-katanya pasti dipercaya. Bagi pencari kebenaran, menuduh orang lain itu adalah larangan besar, yang bisa mengakibatkan kesombongan dan belum tentu kebenarannya.
4 MULUT, bentuk tapanya adalah mengurangi makan, zakatnya tidak suka membicarakan kejelekan orang lain. Penjabarannya : Yang lebih jelas dan nyata lihatlah tentang bab puasa. Tentang membicarakan keburukan orang lain sepertinya sudah diuraikan pada bab di atas.
 5 . KEMALUAN, bentuk tapanya alah mencegah syahwat, zakatnya adalah tidak berlaku zina, selingkuh, menyeleweng. Hal itu memang sangat berbahaya, karena selain bisa menyebabkan rusaknya raga, adan sebab yang lainnya lagi, yang akan diuraikan pada bab Puasa, Samadi, Yoga dan sebagainya. Itulah sebagai jalan untuk membuat penghalang (Antara Hamba dan Tuhannya).
Tindakan yang salah namun menjadi kebiasaan, kemudian diarahkan hanya tindakan batin saja, itu bisanaya akan tidak memiliki ilmu dan pengetahuan tentang keadaan di kanan kirinya. Sedangkan yang harus dijalankan adalah sekedarny, berpakaian, makan, berjalan seperti sebelum menjalankan Bertapa brata. Uraian tersebut semuanya titik pangkalnya ada di penjelasan nomor 1 hingga nomor 4 di depan, karena walau pun di luar sudah bisa menjelaskannya akan tetapi bila di dalam hati belum sesuai, sama saja dengan tidak ada gunanya. Karena Batin itu adalah Guru lahir.

IX. SEMBAHYANG DAN SAMADHI


Qur’an, VII, 29 – Al-A’araf, yang kandungan tafsirnya sebagai berikut :
(1). Sembahlah Dia, dengan cara mengikhlaskan Agama kepada Dia (Allah), seperti ketika Tuhan menciptakan dirimu, demikian juga  ketika kamu menghadapnya (Kembali ke asalmulanya kepada DIA).
Qur’an, VII, 143, Al-A’raf (Permohonan Nabi Musa as.), yang kandungan tafsirnya sebagai berikut :
(2) Wahai Engkau, tunjukanlah Dzat  Paduka kepada hamba, ijinkanlah hamba melihat Engkau. Tuhan berkata : “tidak akan kaut dirimu melihat Ingsun (Allah ..... akantetapi lihatlah gunung ini, bila dia tetap berada di tempatnya, barulah kamu bisa melihat Ingsun”.

Sebelum Ayat di atas diuraikan, terlebih dahulu menjelaskan tentang Tingkatan Syari’at, dan Tariqat, dan itulah yang penting sebagai bekal bersamadhi (Menjlankan Tapa)  Uraiannya akan dimuai dari ilmu lahir, yaitu yang penting bagi keselamatan.
Puasa : Di jaman dulu, pusa itu pada umumnya hanya mengikuti “pendapat umum” hanya ikut-ikutan saja. Sehingga disebut dengan sebutan : Puasa Syari’at, dikarenakan hanya ikut-ikutan saja, sehingga masih banyak yang tidak memahami kegunaannya.
Dijelaskan di dalam Hadits Buchari, yang kira-kira maknanya sebagai berikut : Orang-orang yang menjalan puasa itu (Perutnya lapar) bersih pikirannya (Budinya) serta suci hatinya. Sedangkan Tuhan bersabda, yang penafsirannya sebagai berikut : Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah, seperti yang sudah dijalankan oleh orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi takut ) Makna sebenrnya di QS. Al Baqarah 183..
Mengapa orang yang menjalankan pusa itu kadang-kadang terasa malas, lemas dan mudah mengantuk?
Mengapa, Perintah di dalam Al- Qur’an, tentang puasa justru ditujukan hanya kepada orang yang beriman?
Dan apakah sebabnya puasa itu, sudah sejak jaman dahulu bisa menyebabkan kesucian?
Sebenarnya puasa itu sudah ada sejak jaman dahulu kala sebelum Nabi Isa lahir untuk menyebarkan Agama, Dan di dalam Kitan Injil dan Kitab-Kitab yang lainnya menerangkan tentang Puasa.
Setelah akal (4) dan jaman semakin maju, para ahli kemudian mengadakan penyelidikan tentang apakah sebabnya Tuhan memerintahkan kepada ummat manusia untuk berpuasa, karena tidak mungkin jika hal itu tidak ada guna dan manfaatnya.
Menurut Ilmu Kesehatan ( Buku dari Prof. Dr. A.Ramali) penjelasannya sebagai berikut : Hewan-hewan dan mahluk yang hidupnya mengunyah makanan, terlebih lagi manusia yang makan dengan cara dikunyah di mulut, kemudian di telan dan masuk ke dalam perut sehingga kenyang.
Sari-sari makanan tersebut menjadi kebutuhan pokok manusia, seperti Zat-zat lemak, hidrat  arang, air, garam, putih telur dan sebagainya, serta berbagai macam vitamin yang terkadung di dalam daging, sayur-sayuran, biji-bijan  dan buah-buahan dan sebagainya. Semua makanan yang belum busuk itu bermanfaat, sedangkan yang sudah busuk, maka vitaminnya sudah hilang.
Selama dikunyah, makanan tersebut bercampur dengan air liur yang keluar dari tiga saluran di dalam mulut dan dari saluran “kelenjar air liur” yang menyebabkan makanan-makanan tersebut menjadi halus, hingga sifat zatnya ada yang berubah menjadi zat gula atau sakar atau Maltose.
Makanan tersebut kemudian ditelan dan masuk ke dalam lambung. Kemudian makanan tersebut bercampur dengan kelenjar-kelenjar kecil yang beribu-ribu banyaknya.  Lambung itu bisa mengeluarkan kelenjar untuk menghancurkan makanan tersebut. Sedangkan yang berasal dari zat-zat telur dan yang sudah berubah sifatnya itu sangat mudah dihancurkan oleh kelenjar lambung. Dan zat telur yang sudah berubah sifat disebut pepton.
Makanan yang sudah menjadi sangat halus kemudian masuk ke dalam usu halus. Di pintu usus tersebut ada 2 saluran, 1. Saluran empedu dan 2. Saluran pankreas (kelenjar ludah perut yang berasal dari di antara ginjal. Keduanya bersama-sama mengaliri usus. Empedu itu berasal dari bagian hati yang berguna untuk menghancurkan zat-zat lemak yang juga dibantu oleh pankreas hingga menjadi sangat lembut. Pankreas melanjutkan melebur zat-zat telur hingga berubah sifatnya yang disebut jamud amino.
Zat hidrat arang dan lemak yang dihancurkan oleh Pankreas sehingga menjadi sari-sari yang mudah diserap oleh usus halus. Setelah makanan tersebut sudah berubah menjadi sari-sari kemudian ada yang bekerja untuk merubahnya menjadai bahan darah (Darah dan daging).
Lapisan usus halus menyerap sari-sari makanan yang sudah bereaksi dengan cairan limpa (getah being), sehingga semua zat sakar terhisap semuanya masuk ke dalam pipa-pipa darah yang kemudian berjalan mengikuti aliran darah di bawah ke hati kemudian menyebar ke seluruh badan. Dan yang tertinggal di dalam usus adalah air dan sisa-sisa getah beniing (lenidr) sisa-sisa dari zat penghancur.
Otak juga membutuhkan darah untuk membasahinya, yang mengalir dari urat-urat dan otot-otot yang sangat banyak di tulang tengkorak. Sedangkan selama perut dan pembuluh-pembuluh memproses makanan, maka otak akan kekurangan darah untuk membasahinya, sehingga membuat lambat jika digunakan untuk berpikir.
Dikarenakan oleh hal tersebut, para sesepuh di jaman dahulu mengatakan “Jika perut kenyang, pikiran semakin cepat”. Oleh karena ketika menjalankan Puasa itu, pada waktu siang hari, dan pikiran itu banyak bekerja di waktu siang hari, maka uraian dia atas itu, telah membuktikan atas dasar penelitian para ahli/.
Keterangannya, sebagai berikut : Walau pun tidak sedang menjalankan puasa,hanya kerana lapar, maka perut pun beristirahat. Olehkarena perut beristirahat maka tidak begitu banyak membutuhkan darah melebihi ukuran yang seharusnya. Darah yang tidak dibutuhkan itu, kemudian mengalir menuju kepala, untuk membasahi otak. Perbuatan membasahi otak itu berlangsung tiap hari, sehingga otak selalu dalam keadaan basah. Singga untuk berfikir itu menjadi ringan dan mudah. Sehinnga tidak mudah lupa terhadap sesuatu, yang harus diingat-ingatnya, sehingga dikatakan otaknya “SEHAT”.

Menjalan tapa itulah yang dilakukan oleh para Pencari di tingkartakan Thariqat (menjalankannya atas perintah Guru Thariqat). Yang kebanyakan dengan cara mengurani makan, seperti Tapa Mutih (Hanya makan nasi putih tanpa lauk), Ngrowot (Tidak makan nasi hanya makan buah dan sayur), Tindakan yang emikian itu, jika menurut Ilmu kesehatan disebut sudah mengurungai kebutuhan badan, karena sari-sari makanan yang dibutuhkannya terbengkelai dan tidak terurus.
Sedangkan tujuan dari tindakan mengurangi tersebut, tidak menghindari jenis sesuatu makanan, hanya mengurangi skikapnya saja, seperti yang sudah dijelaskan bahwa “Makanlah jika memeang sudah terasa lapar” Mengurangi makan itu, di jalan sekarang sama dengan tidak makan sembarangan, karena sesuatu yang sembarangan dengan cara apa saja dimakannya, itu akan menumbuhkan watak tidak bisa menerima apa adanya.
Maksudnya adalah, sebagai berikut : Oleh karena badan itu adalah gedung Folder penympan Ilmu dan bisa untuk menyimpan Ilmu mengetahui sebelum terjadi, pandai, menjadi orang suci, Wali, dan sebagainya, syaratnya adalah jika Raga dan pikirannya sehat. Jika badan tidak sehat, maka akan menjadi sakit, sehingga tidak bisa menjadi pintar, dan justru akan menjadi tempat kesusahan. Hal itu sebaiknya.
1,  Jangan serakah dalam hal makan.
2, Nakan dan minum sekedarnya, tidak usah mengurangi jenis dari makanan.
3, Bekerja sewajarnya, tidak mengurangi apa yang seharusnya, dan batinnya selalu bekerja memikirkan hal-hal yang suci meniru kesucian Yang Maha Suci.
4, Menjalankan perintah Agama menurut keyakinannya masing-masing, tidak perlu menghindarinya, karena hal itu akan bertentangan dengan Perintah Tuhan, yang biasa dibahasan dengan kata Dosa, dan yang terkanl adalah disebut Kafir, kofar dan kufur.
Uraian di atas itu bisa ditemukan di dalam Agama Hindu, Buddha, dan di dalam Agama Buddha dibagi atas :
1, Hinayana : Yaitu jalan pencarian yang dekat dan cepat jalnnya, dengan cara mengekang diri, tidak umum dalam melakukan mengurangi makanan, “Brata yoga” tidak menikah, bertapa dengan cara dikubur, menyepi dan sebagainya, yang tujuan akhirnya adalah untuk mencari jalan ke Nirwana. Jalan yang ditempuh untuk menuju Tuhan dengan cara pemaksaan terhadap diri.
2, Mahayana : Yaitu jalan pencarian dengan cara sewajarnya, panjang dan tidak terlalu banyak larangan, dalam menempuhnya adalah menjalankan Dharma hidupnya sendiri yang harus dilakukan setiap hari dan dijalankan dengan penuh ketenangan dan kesabaran tanpa tergesa-gesa, yang maksudnya adalah : Wamalu pun yang ahrus ditempuhnya itu sangat jauh, diusahakan dalam perjalanannya jangan sampai merasa terbebani, sehingga dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan diri. Sebutan Mahayana dan Hinayana itu adalah nama Madzab pedoman dalam pencarian sesuai dengan perintah guru masng-masing.

Yang dimaksud Samadhi adalah sama dengan penjelasan-penjelasan bertapa dan puasa,l Oleh karena uraian dalam Wirid di sini dengan bertujuan untuk dijalankan selama hidupnya, sehingga penjelasan-penjelasan di sini disesuaikan dengan perkembangan AKAL/PIKIRAN (Berdasarkan Qiyas).
Samadhi, sebenarnya adalah cara beribahada batin yang sering dilakukan oleh ahli Ma’rifat untuk “At tauchid” (Tingkatan penyatuan).
Samadhi yang kadang-kadang dilakukan oleh sebagai orang Jawa, itu ada yang meniru cara yang ada di kisah wayang purwa. Meniru cara-cara di dunia wayang, seperi samadhi yang dilakukan oleh para Baghawan, Pandhita, dan juga oleh para satria, seperti yang dilakukan oleh : Cipta Henign. Parasara dan sebagainya, yang caranya dengan :MENUTUP BABAHAN HAWA SANGA” (menutup lobang sembilan).
Dan semua kisah di dalam wayang dianggapnya sudah benar, tidak di nalar bahwa wayang itu hanya memberi petunjuk cara beribadah batin ibadah yang sebenar-benarnya ibadah.. Seseorng yang baru mengenal  hingga masih sangat menyenangi dan baru mengenal Ilmu batin, maka semuanya diterima apa adanya saja.
Menutup lobang sembilan (2 mata, 2 telinga, 2 hidung, mulut, kemaluan dan dzubur), itu yang sebenarnya adalah bukan menutup, namun yang sebenarnya adalah mengendalikan gerak fungsinya. Dan sesuai Ajaran Agama Islam, cara yang demikian itu sangat membahayakan bagi kesehatan. Karena cara yang demikian itu , sebenarnya adalah melanggar larang Tuhan dan dilakukan dengan memaksa Kodrat/Iradat yang berasal dari Dzat. Walau pun tidak berakibat apa-apa bagi yang melakukan menutup lobang sembilan itu, tapi cara yang demikian sebaiknya dihindari. Karena jika cara itu tidak dirubah, maka akan bisa mengurangi kekuatan kodrat dirinya sendiri, dan bisa menjadikan lemahnya jiwa dan sebagainya. Dan yang sangat berbahaya sekali adalah : Rusaknya fungsi dari Pancaindra.
Cara yang demikian itu sudah meresap sejak jaman dahulu hingga sekarang. Dan resiko yang bisa terjadi bagi Guru ilmu batin dan para muridnya, menurut penelitian Ilmu Jiwa kebanyak akan terserang penyakit NEUROTIS, sakit urat syaraf, yang dalam kebiasaan sehari-harinya, orang tersebut ketika berbicara adalah asal bicara, sering memamerkan kesaktiannya, sombong, mengaku banyak ilmu, tidak mempan senjata, bercerita yang tidak masuk akal, dan senang menghina keyakinan orang lain dan sebagainya, dan kadang bisa memiliki pikiran yang mudah sekali bingung. Jika mengahdapi masalah, maka akan mengumbar nafsunya yang dikiranya itu adalah berasal dari Wahyu.
Untuk menghilangkan penyakit yang demikian itu mudah, apalagi bagi seorang pencari Yang Nyata Adanya, yaitu dengan cara :
1, Ketika sedang memikirkan yang berat-berat, kemudian kepalanya terasa pusing itu harus berhenti dan harus bisa membagi waktu, jangan hanya menuruti hasrat hati saja.
2, Seinrg-seringlah bangun pagi, kemudain jalan-jalan pagi, karena hal itu akan menyegarkan badan dan menghilangkan rasa tidak enak badan.

Sedangkan contoh-contoh yang bertentangan dengan kodrat  yaitu : Hidung untuk mencium, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap makanan, pernapasan untuk bernapas, akan tetapi di suruh berhenti dengan cara dipaksa, walau pun hanya kadang-kasang saja. Yang selanjutnya melakukan sikap melipat tangan badan tegak, melipat tangan dengan kaki satu, meniru cara-cara yang dilakukan oleh Bagawan-begawan di dalam kisah wayang, dan ada juga yang melakukannya dengan cara bertapa, merendam diri bertapa di aliran sungai, tidak melakukan senggama dan sebagainya. Cara-cara yang demikian itu sama saja dengan melanggar kodrat/iradat ketentuan Tuhan.
Oleh karena cara-cara itu juga dipergunakan sebagai jalan mencari dan menyatu dengan Dzat Yang tidak bisa terbayangkan, maka sebaiknya di telaah dan dinalar deengan dasar nyaman dan mengenakan bagi jiwa dan raga dengan harapan agar dipilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Kata Samadhi, itu berasala dari Bahasa Sansekerta, yang maknanya adalah Sahalat Ma’rifat, yang di dalam bahasa arab dikatan “Khusuk” . Kata Yoga itu juga bersal dari Bahasa Sansekerta, maknanya adalah Shalat Ma;rifat, dan yang menjalankannya disebut Yogi.
Yoga itu terbagi menjadi dua bagian ( itu jika menurut uraian di bab VIII, pada bagian Hinayana dan Mahayana) yang pada intinya sesuai dengan uraian berikut ini .
1.1.1, Hatta Yoga : Adalah cara beryoga yang dijalankan oleh manusisa baisa, bisa juga disebut sebagai tingkat Syariat jika di Agama Islam.
Penjelasannnya : Anggota badan luar dan dalam, itu semuanya aharus selaras. Agar supaya bisa menjaga diri atas pengaruh daya-daya dari luar (Alam nyata) yang selalu bergerak tidak karuan ini. Sehingga dalam melakukan Olah Raga-nya (Hatta Yoga) dengan cara melatih agar otot-otot hingga sampai urat=urata syaraf yang halus-halus sekalipun harus selaras, sehat, berfungsi normal. Demikian dalam mengolah pernapasannya, dilakukan dengan cara cara semerinya saja dan tidak boleh dipaksa-paksa. Demikian dalam sikap mengheningkan cipta (Berlatih membiasakan rasa ketenangan), syarat utamanaya adalah harus dengan cara telaten tekun, rutin agar tingkatan-tingkatan proses berjalan sesuai kemampuan masing-masing pribadi.  Tentu saja ada sikap dan cara-cara sebagai pedoman yang pada intinya adalah untuk melatih disiplin, dan menghialngkan rasa malas-malasan. Soal makanan, usahakan yang sederhana, dengan diusahakan yang mengandung gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan badan.
1.2,1, Raja Yoga : Cara beribadah batin yang dilakukan oleh para Luhur, para yang sudah bisa mengerti sesuatu yang belum terjadi, Pandita, Resi dan sebagainya. Bisa juga jika di dalam Agama Islam sama dengan Shalat Ma’rifat, artinya : Yaitu Shalat yang tidak sama dengan aturan dalam tingkat Syariat. Dijalankan di Langgar atau masjdi, bagi tingkatan Ma’rifat itu sama saja.
Uraian : Ma’rifap atau atau cara-cara Raja  Yoga, adalah yang betujuan hanya kepada YANG SATU. Sehingga sama dengan ilmu Menyatu dengan Tuhan atau Taukhid, penyatuan). Maksudnya adalah, hanya bertujuan bahwa hidupnya hingga akhirnya, untuk bisa kembali menyatu dengan ASAL-USULNYA, atau dalam bahasa Wirid disebut kembali ke alam Kekekalan, yaitu “Alam yang tidak bisa terbayangkan” . Sehingga yang dicarai dalam hidupnya adalah kesempurnaan dalam hidup di dunia dan akhirat dan juga menuju Nirwana. Sempurnanya cita-cita tersebut bahwa agar hidup di dunia ini agar selalu berada di lingkungan Surga, selagi masih hidup bersama raga.  TUJUAN Raja Yoga : Ingin membuktikan alam yang akan dijalaninya (6). Raja Yoga itulah, adalah ibadah yang tatacaranya sama dengan Shalat Ma’rifat yang dijalankan oleh Ummat Muhammad saw. sekarang ini (yang dalam bahasa Arab disebut : Khusuk), yang di kala Jaman Nabi adalah yang dilakukan oleh Empat sahabatnya.
Hasil apakah yang di dapat dalam melakukan Raja Yoga itu? Di depan tentang fungsi perut dan otak sudah dijelaskan. Demikian juga tentang tapa dan zakat untuk mata, hidung, mulut dan farji. Sebelum menguraikan tentang manfaat dari samadhi, ada baiknya tentang mengendalikan farji, diuraikan terlebih dahulu, yang intinya untuk menjawab ats pertanyaan “Apakah sebabnya sehingga harus mengendalikan syahwat?”
Bagi manusia Farji adalah sebuah anggota badan yang berguna untuk menebar biji, sehingga manusia bisa berkembang biak di dunia. Akan tetapi bila dorongan nafsu sahwat diumbar, maka akhirnya itu tidak baik bagi kesehatan, di antaranya :
2.2.1, Jika menuruti ddorongan syahwat, ketika melakukan olah asmara, tentu akan kehilangan daya kekuatan (dalam bahasa kesehatan dikatakan banyak kehilangan calory), yaitu zat-zat yang dibutuhkan badan. Walau pun hilangnya itu tidak sia-sia dan hanay satu minggu sekali, akan tetapi badan tetap menjadi lemas, apalagi jika dilakukan setiap hari. Bahanya adalah walau sedikit demi sedikit, maka kekuatan badan akan menurun, bisa-bisa menjado jompo, rudak dan di penglihatan bisa menjadi buram.
2.2.2, Bahaya yang lainnya, bisa menembus susasana hati, itu bisa terlihat dari rasa mudah takut, tidak mempunyai kepercayaan dirinya senddiri, mudah malu dan sebagainya.
Akan tetapi jika dilakukan kadang-kadang saja dengan menyadari niat yang sebenarnya dari melakukan senggama (menurunkan biji), maka menurut ilmu kesehatan, adalah : Air  mani yang tidak keluar itu akan naikKe tulang punggung kemudian naik ke tengkuk kemudian naik ke otak yang akhirnya akan membantu gerak darah dalam bertugas membasahi saraf-saraf di dalam otak. Oleh karena terbantu yang demikian maka kerja otak akan semakin lancar hingga menjadi bertambah cerdas. Sedangkan peglihatan mata yang menjadi kabur itu dikarenakan terlalu banyak mengeluarkan air mani tersebut.
A, SAMADI MENUTUP LOBANG SEMBILAN
Sebelum menguraikan tentang samadhi menutup lobang sembilan, ada baiknya bila Sholat untuk menyembah Tuhan diuraikan terlebih dahulu. Shalat (Dalam Wirid dikatakan sebagai jalan menyembah Tuhan Yang Sebenarnya) itu ada empat tingkatan, yaitu :
2.3.1, Shalat Syari’at : Yaitu ibadah raga, bersucinya menggunakan sarana air, (Wudlu, mandi). Jika berhasil akan mencapai Ma;rifat Syari;at, yaitu mengetahui Pancaindra yang lima macam, yaitu gerak pancaindra untuk melihat tergelarnya alam dunia ini. Di situlah maka Panca indra sebagai sarana  untuk sebagai saksi tentang adanya Tuhan.
2.3.2, Shalar Tariqat : Yaitu ibadah hati, cara bersucinya dalah denegan mengendalikan hawa nafsu. Keberhasilannya disebut dengan Ma;rifat Tariqat, yaitu pemahaman dari astra jendra yang 3 macam, atau pemahaman tentang Tuhan. Hasil selanjutnya adalah percaya dengan sebenarnya yang bukan hanya meniru-niru saja.
2.3.3, Shalat Hakekat : Yaitu ibdah Roh (Suksma), bersucinya adalah selalu sadar dan selalu waspada, tenang dan hening. Keberhasilannya adalah akan mencapai Tingkat Ma’rifat Hakekat, yaitu penglihatan rasa jati. Tingkatan inilah yang sangat berbahaya, karena di tingkatan ini akan menghasilkan terbukanya Hijab (penutup), sebagai penghantar untuk bisa melepas sukma dari raga.
2.3.4, Shalat Ma’rifat : Ibadah Sukma, bersucinya dengan cara penghilangkan hasrat-hasrat, jika berhasil akan mencapai Ma’rifat yang sebenarnya atau MA”RIFATULLAH, penglihatannya sudah tidak menggunakan alat, sudah bisa menyatu, bisa masuk ke dalam alam Yang Tidak Bisa Dibayangkan. Itulah perincian ibadah yang sebenarya dengan tingkatan-tingkatannya, sehingga bukan hanya Syariat saja, akan tetapi harus sampai dinyatakan sendiri.

Manusia itu mempunyai perlengkapan anggota kasar dan halus, dan yang halus hingga sangat halus, tidak terlihat mata, dan selalu melekat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, yaitu anggota peraltan yang menyebabkan Pancaindra (Astendriya) bisa BERBUAT yang disebut rasa (tali rasa) . Untuk bisa agar tali rasa itu bergerak “MENGAIRI” astendriya karena dikuasai oleh RASA YANG SEBENARNYA, bahasa yang umum desebut “RASA SADAR/INGAT” (Yang selalu sadar dan selalu ingat), adalah sebuat alat yang tidak bisa DITIPU (7c). Perbuatannya selan SELALU INGAT juga MENYIMPAN berbagai kejadian-kejadian yang tumbuh dari gerak hati atau raga.
 Kadang juga dibahasakan bahwa ujud manusia itu dikarenakan mendapat pengaruh dari Rasa Jati seperti tersebut di atas, yang geraknya adah bergerak dengan SENDIRI karena tidak teraliri oleh rasa atau darah. Kata Sendiri itu menurut Rasa yang sejati itu TANPA ADA BATAS, tanpa penghalang-penghalang, tanpa ada yang bisa menutupnya, bisa mengetahui segala sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata.
Sikap bersamadhi dengan cara memaksa itu berakibat memutus Talirasa dari astrendiya bukan dengan cara sedikit-demi sedikit atau terputus karena memang disengaja. Oleh karena disengaja tersebut, maka rasajati (Rasa ingat) yang ada di dalam astendriya itu daya kerjanya seperti disengaja agar berhenti (berhenti mendadak) keluar dari tempatnya.
Oleh karena rasajati adala untuk menyimpan dan untuk memahami semua yang ada di luar dan di dalam, maka apabila terlepas dari talirasa maka akan bisa bergerak apabila dipaksa. Pengaruhnya itu bagaikan menghayal atau bermimpi. Oleh karena informasi yang didapat karena paksaaan, maka mimpinya pun juga paksaan.
 Samadhi yang dengan cara dipaksa seperti penjelasan di atas, akan menyebabkan berkurangnya ketepatan (sering meleset) dalam mengiaskan keadaan-keadaan pada saat mengetahui atau melihata apa-apa yang terlihat ketika Samadhi, dan bisa diamati bahwa Gambaran-gambaran (alam yang terlihat sesuatu, bagai alam mimpi ketika baru saja tertidur), dikiranya bisikan dari Allah, atau dari alam gaib seperti ketika menayuh sebuah keris. Padahal sebenarnya, kesemuanyan yang terliaht itu adalah penglihatan rasa jati terhadap bekas-bekas dari geraka Indra dan Astrendiya ketika masih di alam sadar (Ingat).Karena bekas dari angan-angan, Pikiran, hasrat, keinginan dan sebagainya. Itu semua bertempat di rasa jati. Hal itu bisa diibaratkan sebagai “Film foto” yang masih berada di dalam Camera. Jika camera itu dibuka, pastilah di dalam klise ada bekas gambar yang berasal dari luar.
Oleh karena diperoleh dengan cara dipaksa, maka kesemuanya itu membawa pengaruh yang tidak begitu berguna, seperti contoh di bawah ini :
3.1.1 : Suku saluku (kaki lurus), kaki kiri ditumpangkan di kaki kanan  kemudian menata keluar masuknya pernapasan yang kadang disertai dengan melantunkan dzikir. Oleh karena itu masih menggunakan cara memaksa sikap raga, sehingga rasa badan menjadi tidak nyaman. Kaki yang saling tumpang tindih itu, jika berlangsung lama akan kesemutan. Dan dikiranya bahwa dengan adanya rasa kesemutan itu, merasa jika usahanya telah berhasil.
Padahal sesungguhnya itu diakarenakan peredaran darah yang seharusnsya mengaliri seluruh kaki terhalang. Namun di dalam perasaannya dikiranya telah mendapatkan siraman air yang menyejukan, yang kadang juga justru tidak bisa merasakan apa-apa. Kemudian, pikiran terbawa oleh rasa yang ada di kaki tersebut, sehingga pikiran memikir-mikir tentang akan adanya akibat-akibat selanjutnya. Kemudian di dalam hatinya menghubung-hubungkan dengan cerita-cerita tentang pengalaman samadhi yang bersumber hanya dari katanya saja.
3.1.2  Mengatur keluar masuknya pernapasan : Kata mengatur itu bermakna mengolah atau memerintah. Artinya, batin masih menata dan memaksa kepada pernapasannya sendiri. Oleh karena batin masih dipergunakan mengatur tersebut, itu bukan yang disebut bersamadhi, namun disebut oleh pernapasan.
3.1.3  Dzikir (Merenung) : Sekarang sudah jelas, bahwa pikiran yang seharusnya tenang, justru di perintah untuk bekerja untuk memikirkan sesuatu, artinya berpikir (membatin) dan selalu diperintah agar pikiiran tetap bekerja serta selalu  memerintahkan bibir untuk menggetarkan ucapan wirid.
Sikap yang sudah diuraikan di atas, sama saja dengan membunuh fungsi dari Astendriya (delapan Indra -  5 indra lahir dan 3 indra batin), serta mengekang Tali Rasa. Menurut Ajaran Agama Islam, cara atau sikap demikian adah sebuah perbuatan yang harus dihindari, artinya yang harus dijauhi karena BERBAHAYA.
B, Samadhi Yang Berbahaya
Tujuan dari Samadhi (Yoga – Shalat Khusuk) itu untuk melihat Ghaibnya Dunia, dengan menggunakan peralatan diri sendiri (Kodrat/Iradatnya). Oleh karena Samadhi itu ada sikap dan caranya, sehingga ketika menjalankannya pasti harus melewti pengalaman-pengalaman yang belum pernah ddiketahuinya. Sebagin pedomannya, apabila masih mengetahui yang di dunia ini ada, itu masih bukan yang disebut Ghaib, akan tetapi hanya merupakan bekas PENGlihatan raSA jATI. Saja. Akan tetapi, jika mengetahui atau melihat apa pun saja yang di dunia ini tidak ada, itu lah baru bisa dikatakan telah melihat Ghaib. Akan tetapi Tujuan dari melakukan Samadhi itu, hanya untuk menenangkan daya-daya dari Astendriya.
Jika Astendriya telah tenang, maka yang bergerak akan digantikan oleh RASAJATI, atau rasa ingat. Di tingkatan ini lah yang disebut BERTINDAK menegakkan ROH (Jiwa) yang masih hidup menggunakan RASAJATI-nya sendiri. Sebenarnya, ketika amelakukan Samadhi itu mempunyai tujuan. Maka dari itu, sikap dan caranya jangan sampai terganggu oleh perasaan tidak nyaman, seperti yang dilakukan dengan cara paksaan seperti uraian di depan. Yang benar dan tepat, itu harus bisa mengendalikan dan saling mendukungantara Niat tujuan dan Cara melakukannya, cara menjalankannya harus dengan rasa bebas, Miring, bersedakep, menjelujurkan kaki, duduk bagaikan sikap wayang . dan sikap yang lain-lainnya, itu boleh-boleh saja, yang dibutuhkan itu hanya agar menjadi kebiasaan, artinya merdeka bebas dalam melaksanaannya sehingga sangat terbiasa dan menjadi ahli dalam sikap itu.  Oleh karena sudah sangat terbiasa, maka akan menjadi mudah dan semakinn luas kekuatan manfaatnya.
Yang terpenting itu adalah dengan kekuatan tekad menenangkan gerak astendriya. Jika dalam melakukan Samadhi itu tanpa niat (tekad) maka sama saja dengan BERANGKAT TIDUR. Walau pun tidur itu sendiri adalah berhentinya gerak Astendriya, akan tetapi hal itu adalah salah satu kerja yang berjalan dengan sendirinya. Dilakukan karena disebabkan mengantuk, lelah dan sebagainya. Sehingga tidur itu adalah kodrat.
Sedangkan Samadhi adalah tindakan yang dilakukan saat sadar yaitu menenangkan Astendriya dari getaran hasratnya dan itu bukan tindakan yang mudah dan sulitnya teramat nyata, karena bersamadhi itu akan MENEMPATKAN ROH DENGAN MENGGUNAKAN RASA JATI. Jika dalam kisah Wayang bagikan sikap Kresna Gugah, karena Kresna Gugah itu adalah menghidupkan Roh  dengan menggunakan sarana Rasa Jati. Untuk bersamadhi, berpusa itu sangat besar sekali gunanya.
Sedangkan pernapasan itu tergantung dari kebiasaan saja. Dengan cara dikendalikan, dan bisa dengan cara tertata dengan sendirinya dan itu lebih baik, karena batin tidak ikut-ikut mengaturnya. Sedangkan pernapasan itu sudah Kinodrat.

Samadhi atau Yoga itu hanya dilakukan oleh para ahli Ma’rifat (Arifin). Sedangkan semua ajaran-ajaran samadhi itu hanya menerangkan tentang tata caranya saja. Uraian selanjutnya, hanya memberikan uraian tentang cara yang baik serta tidak menggunakan cara paksaan.
Shalat Ma’rifat (Samadhi) bagi para ahli itu ada dua macamnya, yaitu : 1. Menenangkan cipta; 2. Mengosongkan Cipta.
1). Menenangkan cipta : Itu adalah pijakan untuk berlajar bersamadhi, belajar memusatkan cipta. Tindakan yang emikian itu sangat sulit, karena dilakukan dengan cara tidak mengingat-ingat apa saja tentang Keadaan di luar dan di dalam batin. Cara yang biasa digunakan yaitu dengan memandang satu titik, itu hanya sebaga jalan untuk masuk kepada Lupa terhadap segala sesuatu.
2). Mengosongkan Cipta, ini semakin lebih suslit, karena cara ini adalah dengan cara menghilangkan semua pengalaman-pengalaman Indra, yang sering membuat bayangan-bayangan suatu keadaan, serta ketika melakukan itu sering-kali muncul berseliweran bekas dari pikiran dan pemahaman, karena itu adalah merupakan pakain batin bagi manusia hidup, karena hidup itu adalah terbungkus oleh rasa dan perasaan. Semua keinginan diri, hasrat, perkataan dan sebagainya sedikit – demi sedikit harus dihilangkan, bisa dengan cara membaca dzikir, tentang Tuhan. Oleh karena Tuhan itu Tidak bisa dibayangkan, sehingga ketika melakukan dzikir  juga harus bisa TIDAK KELIHATAN apa-apa. Terlepas dari segala sikap dan menyelaraskan dengan “KEADAAN DZAT” “LAYUCHAYAFU”.
Sedangkan cara selanjutnya tentang Dzikir itu, umpamanya sebagai berikut : Dzikir itu dengan menggunakan sarana mengucapkan lafal yang bermacam-macam sesuai keyakinannya masing-masing. Sedangkan inti dari Dzikir itu adalah NAFI dan ISBAT, yaitu mengucapkan : La ilaha ilallah dengan benar-benar memhamai maksudnya. La ilaha = Tidak ada Tuhan atau menghapus ada-Nya, itulah Nafi-nya, Illa Allah itu Menetapkan tentang Tuhan, bahwan Tuhan itu hanyalah ALLAH saja, artinya menetapkan tentang ada-Nya, itulah Isbat. Lama dan tidaknya dzikir itu tergantung dari yang menjalankannya, dan juga menggunakan hitungan atau pun tidak, itu semuanya adalh baik.
Setelah mengucapkan lafal tersebut dengan diulang-ulang, yang kemudian diteruskan mengucapkan lafal : illallah – illallah. Untuk selanjutnya hanya mengucapkan musbitnya saja, artinya hanya mengucapkan hanya Yang ditetapkannya saja yaitu : menyebut Allahu – Allahu, kemudian menyebut singkatnya saja : Hu – hu  hu – hu sekelammpuannya hingga lelah, dan akan berhenti jika ketiduran. Dengan cara yang demikian, maka akan bisa mendapatkan yang di cita-citakannya.
Cara mengamalkannya, tidak usah terburu-buru, karena seseorang yang terburu-buru itu kadang-kadang justru mudah bosan, karena tergesa-gesa ingin segera mengetahui. Untuk bsia berhasil atas ajran-ajaran tersebut, tergantung yang menjalankannya dan tergantung kekuatan jiwa/raga, seperti tersebut di atas, apakah hingga berbulan-bulan, apakah tahunan apakah puluhan tahun. Sehingga, dalam menjalakan samadhi itu harus dengan menjalankan dharma aturan tentang tatacara samadhi, tekun dan ikhlas.
Ketika akan melakukan dzikir, harus dengan tekad tunggal, yaitu menyatakan isi dari ajaran Tauchid (berbadan tunggal). Maksudnya darii Dzikir adalah memang mengingat-ingat tentahng lafal, akan tetapi ingatannya itu hanya sebagai pijakan untuk menghilangkan cetusan-cetusan hati dan munculnya ingatan-ingatan.
Oleh karena tujuan dari At Tauhid itu hanya ingat dan mengingat yang satu saja yaitu hanya ingat Dzat atau bertujuan membuka tabir Gaib-nya Tuhan, maka yang paling baik dalam berdzikir itu, yaitu bisa menyebutkan Asma (nama) Tuhan yang mudah-mudah saja, dan nama yang mana yang paling dipahami meskipun tidak menggunakan bahasa Arab. Sebutan di atas itu hanya sekedar contoh saja.
Sehingga ketika itu dalam hatinya hanya berniat untuk menyatukan tujuan hanya tertuju kepada Dzat Tuhan. Yang intinya mengosongkan gambar-gambar dan rasa yang beraneka rupa, yang sudah tertanam di dalam perasaan diri sebelumnya.
Ada juga kumpulan dan ilmu batin yang menggunakan sikap dalam berdzikir dengan mengucapkan kata-kata Hurip – hurup (Hidup itu nyala), dan sebagainya, hal itu jika dihayati memang benar begitu dan mudah diucapkan. Sedangkan asal kata hurip hurup itu karena ada ucapan yang mengatakan “Asal mula alam itu dari kosong, kehampaan, yang ada hanyalah Hidup, yang kekuasaannya meleputi seluruhnya.” Sehingga ucaan itu diambil dari kata Urip (Hidup), dalam pengucapannya dengan mengatur pernapasan  Hu (masuk) rip (keleuar). Jika diteliti dengan sebenarnya atas dua kata tersebut bila mengambil dasar Isbat, sama dengan isbat di dalam Bahasa Arab (wirid) . Di dalam ucapan Bahasa Arab, kata isbatnya adalah “Hu Allah” sedang yang diucapkan hanya Hu. Sedangkan di dalam bahasa Jawa itu juga Meng-Isbat-kan adanya hidup berkuasa itu. Kemudian digabung dengan kata HU dan URIP. Kesemuanya itu tidak menajdi masalah, dan merdeka saja. Yang terpenting adalah bertujuan MENYATU dengan Dzatu Allah.
Sedangkan seseorang yang bernat beribadah menyembah Tuhanitu, Ketika bangun, ketika tidur, ketika duduk dan dalam keadaan apa pun juga harus tetap Ingat. Seperti yang dijelasskan dalam tembang Macapat di bawah ini :
Sinom : Ing dalu kalawan siyang // ngrasaa jisimireki // angrasa kalawan sukma // den enget sak jroning ati // ajwa lali Hyang widddhi // ing siyang kalawan dalu // aja nyipta piyambak // dingin mangke tan pribadi // donya ngakir pasti klawan Hyang Suksma.”
ARTINYA : Di siang dan malam hari // rasakan di dalam ragamu // merasa dengan Tuhan // Selalu ingat di dalam hati // jangan sampai lupa Tuhan // di siang dan malam hari // Jangan menyipta pikiran sendiri // sejak dahulu hingga tak ada diri ini // ketika di dunia dan akhirat selalu Bersama Tuhan.
Bagian Pertama TAMAT.
Sepanjang, 30 Maret 2015.. Dilanjutkan di bagian ke II dalam Blog.

2 komentar:

  1. halhal sprt ini penting u kita semua kalau kita mau berfikir.....!

    BalasHapus
  2. kalau bahasa Indonesia sedikit paham karena aku punya bukunya

    BalasHapus