Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Senin, 18 Mei 2020

Pengantar ke Filsafat Illuminasi – Himat al-Isyraq - Suhrawardi


 Terjemahan “Pengantar ke Filsafat Illuminasi” Hikmat al-Isyraq

Suhrawardi

Judul : Suhrawardi– FILSAFAT ILLUMINASI (Pencerahan Ilmu Pengetahuan)
Oleh : Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles
Diterjemahkan dari @Hoosein Ziai, Knowledge and Illumination
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Penerjemah : Dr, Afif Muhammad dan Drs. Munir
Penerbit : Zaman Wacana Mulia
Jl. Pasirwangi 3 Pasirluyu Bandung 40254
Cetakan I : Januari 1998
Penyadur : Pujo Prayitno

1.
Dengan Nama Tuhan Yang Pengasih Penyayang. Wahai Tuhan! Mengingat nama-Mu adalah kemuliaan. Kekuasaan-Mu Agung, dan apa yang Engkau karuniakan adalah tinggi, dan kemuliaan-Mu melampaui segalanya! Shalawat dan hormat kepada mereka yang Engkau pilih dan para utusan-Mu, terutama kepada Muhammad “terpilih”, tuan umat manusia, saksi bagi semua di Hari Kiamat. salam juga kepada beliau dan mereka. Jadikanlah kami, dengan cahay-Mu, termasuk orang-orang yang menang, dan (masukanlah) kami ke dalam orang-orang yang mengingat-Mu, dan bersyukur atas karunia-Mu.

2.
Ketahuilah, saudara-saudaraku, bahwa permintaanmu yang terus menerus agar aku menulis fislafat illuminasi telah memperlemah ketetapan hatiku untuk bertahan, dan menghilangkan keinginan untuk tidak memenuhinya. Kalau bukan karena kewajiban,suatu pesan yang telah muncul, dan suatu perintah yang diberikan dari tempat ketidakpatuhan yang akan mengantarkan pada kesesatan dai jalan, aku tidak akan merasa berkewajiban melangkah dan mengungkap secara terbuka (filsafat illuminasi); karena kamu pasti mengetahui bagaimana sulitnya hal itu. Tetapi kamu, saudara-saudaraku – mudah-mudahan Tuhan menunjukkanmu kepada apa yang Ia cintai dan ridhai – terus memintaku agar aku menulis untukmu sebuah buku yang menyebutkan apa yang telah saya peroleh melalui intuisi (dzawq) selama saya berkhalwat dan saat-saat saya memperoleh ilham (munuzalat). Dalam atau tidak sempurna. Pengetahuan tidak terletak pada sekelompok orang tertentu, sehingga pintu Langit tertutup di belakang mereka, dan juga tidak pada dunia yang menolak kemungkinan memperoleh lebih jauh,sebaliknya pada dator scientiae (wahib al’ilm), yang tegak dengan “horison yang jelas” (Qur’an : LXXI/23) yang tidak pelit terhadap yang tak terlihat (al-Ghayb). Umur yang paling malang adalah ketika seseorang kehilangan usaha dalam dirinya, tempat gerakan pemikiran terganggu, pintu penyingkapan (mukasyafah) dikunci, dan jalan penyaksian (musyahadah) ditutup.

3.
 Saya telah menyusun untukmu, sebelum karya ini dan selama penyusunan (ketika beberapa halangan menggangguku), buku-buku yang sesuai dengan metode Paripatetik tempat saya telah meringkas teori-teori mereka. Di antara karya-karya ini adalah uraian pendek yang disebut al-Talwihat, yang memuat teori-teori yang diringkas dalam bentuk yang sangat ringkas. Buku berikutnya adalah al-Lamahat. Saya juga telah menyusun buku-buku lain, di antaranya yang saya tulis ketika masih muda. Namun, buku ini (Hikmat al-Irsyaq) menggunakan metode dan cara yang bereda dari cara lain (Paripatetik) menuju (pengetahuan), lebih rapih dan jelas, dan tidak susah untuk dipelajari. Saya tidak memperolehnya pertama-tama melalui pemikiran (bi al-fikr), sebaliknya melalui jalan lain. Akhirnya saya temukan bukti-bukti (hujjah) untuknya. Sehingga haruskah saya, misalnya, berhenti menyaksikan, yang tak seorang pun membuat saya ragu (kepastian yang telah saya peroleh).
;
4.
Dalam semua yang telah saya sebutkan berkaitan dengan “ilmu cahaya-cahaya” dan segala yang didasarkan padanya, saya telah dibantu oleh para musafir di jalan Tuhan. (Apa yang membimbingku) adalah intuisi pemimpin filsafat (Imam al-Hikmah) yang gurunya adalah Plato, “pemilik dukungan dan cahaya Tuhan” (shahib al-ayd wa al-nur). Begitu juga (“ilmu cahaya-cahaya” didasarkan pada intuisi para filosof) sebelum Plato, dari masa Hermes, “bapak para filosof” (walid al-hukama) sampai pada masa Plato, termasuk para filosof besar semisal Empedocles, Pythagoras, dan lain-lain. Bahasa para filosof terdahulu adalah metaforis dan simbolis, sehingga dikatakan bertentangan dengan mereka, meskipun bisa jadi bahasa tersebut diarahkan bertentangan dengan pernyataan-pernyataan mereka yang jelas, tidak diarahkan agar berlawanan dengan tujuan mereka, karena tak seorang pun dapat menolak metafora ataupun simbol. Ini juga menjadi teori Timur tentang cahaya dan gelap, yang merupakan metode para filosof Persia semisal Jamasf, Farshawahtar, Buzurjmihr, dan lain-lain yang mendahului mereka. Namun, teori ini bukanlah teori magus yang kafir, heterodoksi Mani, dan apa pun yang mengantarkan pada menserikatkan dewa-dewa lain dengan Tuhan yang suci dari segala bentuk antropomorfisme.

Jangan membayangkan bahwa filsafat ada hanya dalam waktu yang singkat. Dunia tidak pernah hampa dari filsafat, juga (tidak pernah hampa) dari orang-orang yang menguasai hikmah, memiliki dasar-dasar dan penjelasan-penjelasan. Orang semacam itu adalah khalifah Tuhan; dan itu akan tetap ada selama ada langit dan bumi. Perbedaan antara filosof terdahulu dan belakangan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa, di samping perbedaan kebiasaan dalam menyatakan ajaran mereka apakah secara eksplisit atau hanya secara siyarat saja. semua filosof sepakat adanya alam-alam (wujud), dan keesaan Tuhan; tidak terdapat perselisihan di antara mereka berkaitan dengan prinsip-prinsip masalah-masalah (filsafat). Meskipun demikian, Guru Pertama (Aristoteles) mempunyai kedudukan penting, peringkat tinggi, yang menyalurkan pandangan dan kemampuan-kemampuan spekulatif yang sempurna, tidak diizinkan seseorang membesar-besarkannya dengan cara apa pun untuk mengakhiri cercaan terhadap dua gurunya (Socrates dan Plato). Kelompok (filosof) termasuk “para utusan” (ahl al-sifaarah) dan “pemebri hukum” (syari’un), semisal Agathodaemon, Hermes, Asclepius, dan lain-lain.

5.
Ada beberapa perangkat (filosof), dan mereka masuk ke dalam kelas-kelas, sebagai berikut : filosof Ketuhanan (Hakim Ilahi) yang ahli dalam teosofi (ta’alluh), tetapi tidak memiliki filsafat diskursif (bahts); filosof diskursif yang tidak mempunyai teosofi; filosof Ketuhanan yang ahli dalam teosofi dan filsafat diskursif; filosof Ketuhanan yang ahli dalam teosofi, tetapi mempunyai kemampuan menengah atau lemah dalam filsafat diskursif; filosof yang ahli dalam filsafat diskursif, tetapi mempunyai kemampuan menengah atau lemah dalam teosofi; murid (secara literal pencari) teosofi dan filsafat diskursif; murid teosofi saja dan; murid filsafat diskursif saja. meskipun demikian,d alam beberapa periode, selalu terdapat seorang filosof yang ahli baik dalam teosofi maupun filsafat diskursif, yang mempunyai kepemimpinan (ri’asah) dan (filosof semacam itu) adalah khalifah Tuhan. Meskipun demikian ini bukan satu-satunya kasus, sehingga seorang filosof diskursif, (akan mempunyai kepemimpinan). Begitu juga, seorang filosof yang ahli dalam teosofi, tetapi tidak mempunyai filsafat diskursif, dapat menjadi khalifah Tuhan. Bumi tidak pernah hampa dari filosof ahli yang ahli dalam teosofi. Kepemimpinan tidak pernah diberikan kepada ahli dalam filsafat diskursif yang tidak ahli dalam teosofi. Karena itu, dunia tidak pernah hampa dari teosof ahli, yang lebih pantas ketimbang filosof diskursif semata; karena, tak terelakkan, kekhalifahan harus dipegang (oleh seseorang). Dengan kepemimpinan ini tidak saya maksudkan (hanya) kontrol sesaat. Sebaliknya, pemimpin teosof bisa jadi secara terbuka dalam komando; atau, ia yang bisa jadi dalam kegaiban – yang banyak disebut sebagai “kutub” (Quthb) – akan mempunyai kepemimpinan bahkan jika dalam persembunyian sepenuhnya sekalipun. Ketika penguasa bumi (al-siyasah) berada di tangan filosof semacam itu, masa akan menjadi bercahaya; tetapi jika masa tidak mempunyai manajemen Ilahi (tadbir Ilahi), gelap yang akan menang. Murid yang sangat baik adalah pencari teosofi dan filsafat diskursif; berikutnya (dalam peringkat) adalah murid teosofi; kemudian murid filsafat diskursif.

6.
Buku kita ini (ditukan) untuk murid teosofi dan filsafat diskursif. Tidak terdapat di dalamnya sesuatu bagi filosof diskursif yang tidak diberikan, dan tidak mencari teosofi. Kita hanya membahas buku ini, metafor-metafor dan simbol-simbolnya bagi orang yang telah melakukan usaha serius dalam teosofi, atau orang lain yang mencarinya. Pembaca buku harus sekurang-kurangnya orang yang telah mencapai tangga tempat Cahaya Tuhan (al-bariq al-illahi) telah muncul baginya, dan penampakannya telah menjadi keadaan yang kuat (dalam jiwanya). Orang lain tidak akan mengambil manfaat sama sekali dari buku ini. Karena itu, siapapun yang ingin mempelajari filsafat diskursif semata, hendaklah ia mengikuti metode Paripatetik, yang, karena fislafat diskursif sendiri, baik dan masuk akal. Kita tidak dapat menyebut orang semacam itu, juga tidak membahas abgi orang semacam itu “teori-teori illuminasi” (al-qawa’id al-isyraqiyyah).

Sungguh, urusan kaum illuminasi (al-isyraqiyyah) tetap tidak rapi tanpa (petunjuk) cahaya-cahaya apocalypstis (sawanih nurriyyah). Karena, beberapa teori (illuminasi) ini dasarkan pada cahaya-cahaya ini. Sehingga jika suatu keraguan harus menimpa kaum illuminasi berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut, mereka akan menyelesaikannya dengan membahas premis yang diakui, tak tertutup (al-sullam al-mukhalla’ah). Persis seperti kita menyelidiki data indrawi (mahsusah) dan pasti dalam hubungan dengan beberapa syarat mereka, dan berikutnya membentuk ilmu-ilmu yang benar (‘Ulum-shahihah) berdasarkan syarat-syarat tersebut – seperti astronomi dan sebagainya – begitu juga kita menyelidiki (secara literal melihat) hal-hal spiritual yang pasti, dan berikutnya membangun (filsafat illuminasi) berdasarkan mereka. Orang yang tidak mengikuti cara ini tidak akan menganggap hikmah semacam itu dan hanya menjadi suatu permainan di tangan orang-orang yang ragu.

Sepanjang, 17 Mei 2020


Sabtu, 16 Mei 2020

Filsafat Illuminasi - Surahwardi


 FILSAFAT  ILLUMINASI

(Pencerahan  Ilmu  Pengetahuan)

Judul : Suhrawardi– FILSAFAT ILLUMINASI (Pencerahan Ilmu Pengetahuan)
Oleh : Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles
Diterjemahkan dari @Hoosein Ziai, Knowledge and Illumination
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Penerjemah : Dr, Afif Muhammad dan Drs. Munir
Penerbit : Zaman Wacana Mulia
Jl. Pasirwangi 3 Pasirluyu Bandung 40254
Penyadur : Pujo Prayitno

DAFTAR   -   ISI

1. BAGAIMANA MENDEFINISIKAN FILSAFAT ILLUMINASI

2. KARYA-KARYA SUHRAWARDI TENTANG FILSAFAT ILLUMINASI
2.1. Empat Karya Penting
2.2. Posisi al-Lamahat dan Karya-karya lainnya
2.3. Sifat Keempat Karya Ini
2.4. Periode Penulisan Karya-karya Penting : Catatan tentang Kehidupan Surahwardi
2.5. Abu al-Barakat al-Baghdadi dan Filsafat Illuminasi

3. KARYA-KARYA PENTING YANG DIKAJI
3.1. Al-Talwihat
3.2. Al-Muqawamat
3.3. Al-Masyari’ wa al-Mutharahat
3.4. Hikmat al-Irsyaq
3.4.1. Alasan-alasan Surahwardi Menyusun Hikmat al-Isyraq
3.4.2. Metode Hikmat al-Irsyaq
3.4.3. Pandangan Surahwardi tentang Sejarah Filsafat

4.  K E S I M P U L A N


FILSAFAT  ILLUMINASI

1. BAGAIMANA MENDEFINISIKAN FILSAFAT ILLUMINASI


Semenjak masa-masa awal abad ini, para orientalis dan sejarawan filsafat mencatat bahwa Suhrawardi adalah tokoh penting dalam membangun pemikiran filsafat pasca Ibn Sina. Sarjana-sarjana terkenal, semisal Carra de Vaux dan Max Horten, telah menulis esensi-esensi pendek tentang Surahwardi. Di akhir tahun duapuluhan, Louis Massignon telah memberikan suatu klaisifikasi karya-karya Surahwari. Pada akhir tahun tiga puluhan, Otto Spies mengedit dan menerjemahkan sejumlah kiasan-kiasan fislafatnya; dan Helmut Ritter membahas aspek-aspek kehidupannya dan membedakannya dari tiga mistikus Muslim yang mempunyai nama yang sama. Memasuki pertengahan tahun empat puluhan, edisi teks Henry Corbin atas karya-karya filsafat Suhrawardi mengobarkan perhatian khusus dalam pemikiran seorang manusia yang secara tradisional dikenal dengan “Guru Filsafat Illuminasi” (Syaykh al-Isyraq). Dalam tahun-tahun terakhir ini, Seyyed Hossein Nasr telah mengerahkan sejumlah kajian terhadap dimensi spiritual dan keagamaan dalam ajaran-ajaran Surahwardi. Namun, belum ada suatu usaha serius untuk mengkaji dasar-dasar logika dan epistemologi filsafat Illuminasi dari sudut pandang filsafat, dan menyebutkannya dalam sejumlah halaman tesis doktoral Muhammad Iqbal, The Development of Metaphysies in Persia, tetap merupakan catatan umum terbaik atas pemikiran filsafat Surahwardi.
Sarjana-sarjana akhir-akhir ini, terutama Corbin dan Nasr, telah memberikan penekanan pada signifikasi Suhrawardisebagai seorang pembangkit pemikiran Irak kuno. Kedua penulis ini berulang-ulang menunjukkan apa yang mereka anggap sebagai kualitas mistis pemikiran Suhrawardi yang mendasar, namun tanpa upaya kajian sistimatis terhadapa karya-karya filsafat Illuminasi. Karakterisasi umum semacam itu, meskipun berguna, tidak memberikan kepada kita suatu pandangan komprehensif tentang filsafat Illuminasi.
Untuk menilai secara rinci peran Suhrawardi dalam perkembangan pemikiran filsafat Ibn-Sina, seseorang harus menggambarkan karakter pemikirannya. Peran Suhrawardi sebagai perintis “kebijaksanaan” (wisdom) Yunani dan Iran dengan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan keagaamaan dan mistis tidak dapat dibatasi, sebelum melihat penanganannya terhadap problem logika, fisika, matematika dan metafisika. Untuk mengatakan bahwa Suhrawardi adalah seorang mistikus metafisika. Untuk mengatakan bahwa  Suhrawardiseorang mistikus yang telah ditakdirkan untuk mengagunggkan dan menghidupkan filsafat dan kebijaksaan Iran Kuno, dan untuk menggambarkannya sebagai seorang wali “perenialis”, “bijak” dan “agung”, tidak harus membatasi hakikat pemikirannya yang sebenarnya – meskipun ia bukan seorang mistikus, teolog, filosof yang sistematis atau ideolog sejumlah bentuk nasionalisme Iran abad pertengahan.
Untuk mengatakan sesuatu yang penting tentang pemikiran Surahwardi, pertama-tama kita harus membatasi hakikat dasar logika dan epistemologi filsafat illuminasi yang jelas. Hanya dengan dasar analisis sistematis semacam itu kita dapat menunjukkan apakah Suhrawardi seorang mistikus atau filosof, atau apakah dan bagaimana dari, filsafat sistematisnya adalah pembelaan, penjelasan, atau sitematisasi atas pengalaman-pengalaman mistis sebagai sebuah metode untuk menyingkap realitas. Untuk melakukan suatu pendekatan sitematis semacam itu, kita harus membatasi terlebih dahulu karya-karya Suhrawardi yang membahas apa yang secara spesifik ia sebut filsafat Illuminasi (Hikmat al-Isyraq).

2. KARYA-KARYA SUHRAWARDI TENTANG FILSAFAT ILLUMINASI

2.1. Empat Karya Penting

Kita akan memulai dengan menyelidiki empat karya filsafat Suhrawardi  yang berbahasa Arab : al-Talwihat (Intimations), al-Muqawamat (Apposites), al-Masyari’ wa al-Mutharahat (Paths and Havens), dan Hikmat al-Isyraq, untuk menujukkan bahwa berdasarkan pernyataan eksplisit Suhrawardi sendiri, karya-karya ini merupakan karya yang utuh (integral) yang di dalamnya gambaran umum dan perkembangan  filsafat Illuminasi dikemukakan, dari permulaan analisis dan diskursifnya hingga tujuan yang dialami (Experential), yang digambarkan secara kiasan dan simbolik sebagai tujuan filsafat illuminasi. Untuk menjawab pertanyaan “Apakah filsafat illuminasi itu?” secara memuaskan kita tidak dapat membatasi diri dengan hanya mengkaji salah satu dari empat karya ini, sebaliknya, kita harus menyelidiki seluruhnya sebagai keseluruhan yang koheren. Hanya dengan kajian semacam itu, memungkinkan menggambarka suatu penilaian yang komprehensif tentang filsafat illuminasi itu.
Berikut ini adalah pernyataan Suhrawardi yang paling eksplisit tentang keterkaitan keempat karya tersebut : “Buku ini (al-Masyari’ wa al-Mutharahat) harus dibaca terlebih dahulu sebelum membaca Hikmat al-Isyraq dan setelah penyelidikan singkat yang disebut al-Talwihat”. Karena al-Mukawamat dinyatakan sebagai penjelasan bagi al-Talwihat, ia mengikuti bahwa rangkaian pembacaan dan pengajaran filsafat illuminasi yang dianjurkan, sebagai berikut : 1)al-Talwihat, 2) al-Muqawamat; 3) al-Masyari’ wa al-Mutharahat, dan 4) Himat al-Isyraq. Kenyataanya, karya-karya ini harus dibaca  bersama dan dalam urutan tertentu, dan hanya dengan begitu mereka membentuk filsafat illuminasi. Sekarang, dalam meninjau fakta-fakta tertentu yang akan kita selidiki segera, terbukti bahwa karya-karya penting ini ditulis, diajarkan, direvisi dalam rentang  waktu tidak lebih dari  sepuluh tahun. Ini menunjukkan bahwa gagasan filsafat Illuminasi, apakah secara persial atau seluruhnya, telah ada dalam pikiran Suhrawardi ketika menyusun masing-masing karya-karya ini. Sebenarnya saya ingin menunjukkan bahwa tujuan di balik penyusunan dari masing-masing dari karya-karya ini tidak lain kecuali mengetengahkan filsafat Illuminasi yang sistematis. Ini berarti ketika Suhrawardi menegaskan bahwa al-Talwihat (Intimations), misalnya, ditulis sesuai dengan “metode Paripatetik”, ia bukanlah karya yang berdiri sendiri yang ditulis semata-mata sebagai penerapan dalam filsafat Paripatetik, juga bukan menggambarkan suatu periode “Paripatetik” dalam kehidupan dan karya-karya Surahwardi. Sebaliknya, ia menunjuk pada kenyataan bahwa bagian-bagian atau dimensi-dimensi tertentu filsafat Illuminasi sesuai dengan ajaran-ajaran Paripatetik, terutama ajaran-ajaran Ibn Sina sebagaimana ditemukan dalam dua karyanya yang terkenal, al-Syifa’ dan dalam al-Isyarat wa al-Tanbihat. Untuk menyusun suatu filsafat dalam suatu karya yang menyingkap logia, fisika dan matematika (dan filsafat Illuminasi merupakan suatu sistem filsafat yang sempurna dalam pengertian ini) berarti bahwa, bahkan lebih jauh, Suhrawardi harus bekerja dalam kerangka kerja metodologis dan konspetual tradisi ilmiah dan filosofis yang telah mapan, yang dalam hal ini tradisi Paripatetik yang dinyatakan secara eksplisit, terutama adalah Ibn Sina (yang sering disebut Suhrawardidi sejumlah tempat dalam teks-teksnya) dan bukan Al-Farabi atau al-Kindi (bahkan tidak pernah disebut).
Filsafat Illuminasi menekankan unsur-unsur intuitif tertentu yang melampaui pemikiran diskursif, tetapi ia bukanlah suatu sistem yang sepenuhnya bertolak belakang, atau berbeda sepenuhnya, dengan filsafat Paripatetik. Sebenarnya, filsafat Paripatetik, sebaaimana dikaji dan dipahami Surahwardi, adalah titik tolak dan unsur yang tak terpisahkan dari metodologi illuminasi. Hanya dengan membandingkan dengan filsafat Paripatetik seseorang dapat menyadari bagaimana filsafat illuminasi bertujuan memperluas pandangan manusia terhadap sesuatu; kemudian, dalam istilah-istilah tersebut, keberhasilannya dalam mencapai tujuan itu dapat ditentukan.

2.2. Posisi al-Lamahat dan Karya-karya lainnya

Karena beberapa alasan, kita tidak memasukkan karya Suhrawardi al-Lamahat (Flashes of Light) dari kajian kita. Sejak awal, Suhrawardi hanya menyebut al-Lamahat sekalid alam empat karya yang telah disebutkan terdahulu, sedang di antara yang terakhir ini terdapat sejumlah penyebutan silang. Ia juga tidak pernah menyebut bahwa al-Lamahat sebagai bagian dari tulsian yang mesti dibaca oleh murid filsafat illuminasi. Satu-satunya tempat Suhrawardi menyebut al-Lamahat adalah dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, tempat ia menunjukkan bahwa di antara karya-karyanya, karya ini menempati suatu posisi “di bawah” al-Talwihat, yang termasuk ke dalam kelompok karya yang menghiasi filsafat Illuminasi. Dalam “Pendahuluan” al-Lamahat Suhrawardi menyebutnya sebagai suatu karya “yang sangat singkat, yang hanya mengandung unsur-unsur terpenting tiga ilmu (logika, fisika, dan metafisika).” “Unsur-unsur terpenting” hanya merupakan suatu garis besar atau silabus singkat topik-topik penting filsafat Paripatetik, seperti dikemukakan, misalnya, dalam karya penting filsafat Ibn Sina, al-Syifa’, Al-Lamahat adalah karya sederhana, yang mengetengahkan secara tidak argumentatif prinsip-prinsip dari kaidah-kaidah utama filsafat Paripatetik mengenai logika, fisika dan metafisika. Sebaliknya, dalam keempat karyanya yang penting, Suhrawardi membicarakan persoalan dalam berbagai-bagai tingkatannya secara hati-hati dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Paripatetik, apakah ditolak atau direvisi, ataukah akhirnya disusun kembali dalam suatu kerangka illuminasi baru, dan mengekspresikan penggunaan suatu bahasa teknis yang dimodifikasi sesuai dengan ketentuan filsafat illuminasi yang terkait.al-Lamahat tidak mengandung sifat-sifat semacam itu.
Di antara karya-karya lain Suhrawardi berikut ini, karena alasan-alasan yang akan disebutkan di bawah ini, merupakan karya-karya yang tidak menjadi bagian dari kajian kita terhadap filsafat illuminasi saat ini, tetapi akan diselidiki dalam buku ini tentang penggunaan kiasan dalam filsafat illuminasi.
1. Partawnamah (Sinar Matahari) karya berbahasa Persia,d an merupakan salah satu karya Suhrawardi yang berdiri sendiri. Karya ini dianggap sebagai simbol filsafat illuminasi yang berbahasa Persia. Sengaja tidak saya masukkan karya itu dalam kajian ini sekarang karena analisis terhadapnya mengharuskan suatu pemahaman tentang apa filsafat illuminasi itu, yang juga menjadi tujuan kita di sini. Harus disebutkan bahwa Suhrawardi membahas secara rinci kedudukan kesadaran diri fundamental subjek yang mengetahui dalam epistemologi. Konsepnya tentang “keakuan” (I-ness, mani) diperluas meliputi “kemauan” (thou-ness, tu’i) dan “kediaan” (shelhelit-ness, u i). Istilah-istilah yang digeneralisasikan ini menunjukkan kesadaran diri dalam subjek yang mengetahui dan nyata (zahir).
2. Hayakil al-Nur (Kuil Cahaya) baik yang versi Arab maupun Persia. Karya ini juga masuk dalam kategori simbol filsafat illuminasi. Dalam karya ini, Suhrawardi menggunakan penafsiran al-Qur’an (ta’wil) lebih banyak dibanding dalam karya-karya didaktik penting lainnya. Karena saya berencana menyelidiki persoalan penafsiran (ta’wil) dalam metodologi Surahwardi, dengan menggunakan Syarh Hayakil Al-Nur karya Jalal al-Din Al-Dawwani pada kesempatan terpisah, maka saya tidak menguraikannya dalam karya ini.
3. Cerita-cerita Kiasan Arab dan Persia. Sebelas cerita ini menggambarkan ekspresi “puitis” tentang hasil terakhir pengalaman illuminasi (isyraq). Karya-karya SuhrawardiKalimat al-Tashawwuf (Pepatah tentang Tasawuf) dan al-Alwah al-Imadi (Tabtet-tabtet Imadi), meskipun tidak bersifat kiasan dalam pengertiannya yang kaku, harus dimasukkan dalam kategori karya “puitis” dan kiasan, dan tidak termasuk di antara karya-karya sistematis “teoritis” tentang filsafat illuminasi.

2.3. Sifat Keempat Karya Ini

Pengelompokan kita di sini terhadap empat karya tersebut berbeda dengan skema Corbin tentang “grands strates dogmatiques”. Namun kita ingin melampaui apa yang telah ditegaskan Corbin, dan mengemukakan bahwa keemepat karya tersebut, ketika dipertimbangkan bersama, membentuk suatu unit utuh yang merupakan upaya yang dilakukan oleh Suhrawardi untuk mengemukakan formulasi baru filsafat secara sistematis. Formulasi baru ini menggunakan suatu bahasa teknis khas, mengaksentuasikan tindakan kreatif intuisi, dan berperan sebagai aksioma utama tempat pengetahuan jiwa tentang dirinya adalah dasar dan titik tolak pengetahuan. Tujuan Suhrawardi membangun suatu dasar intuisi bagi pembangunan kembali filsafat Paripatetik adalah tujuan masing-masing dari keempat karya yang disebutkan.
Keempat buku tersebut satu sama lain saling terkait dan membentuk suatu keseluruhan yang meliputi putaran titik tolak dengan filsafat diskursif (hikmah bahtsiyyah) dan berakhir pada filsafat intuitif (hikmah dzauwqiyyah). Pandangan dasar filsafat ini, sebagai upaya penyatuan filsafat diskursif dan intuitif, masing-masing terdapat dalam keempat karya itu dalam bentuk yang berbeda, yaitu setiap dari karya ini menyatukan prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, metode, dan istilah-istilah teknis filsafat diskursif dengan filsafat intuitif, tetapi karya pertama dalam lingkup ini, al-Talwihat menekankan filsafat diskursif, sementara karya terakhir dalam lingkup ini, Hikmat al-Isyraq, menekankan filsafat intuitif. Penyatuan semacam itu tidak ditemukan selain dalam empat karya Surahwardi, kecuali Partawnamah, al-Alwah al-‘Imadi, dan Hayakil al-Nur.

2.4. Periode Penulisan Karya-karya Penting : Catatan tentang Kehidupan Surahwardi

Sekarang mari kita selidiki fakta-fakta hsitoris yang relevan dalam kehidupan Surahwardi, bukan untuk memberikan biografi kepada pemabca, tetapi untuk menegaskan rentang waktu Suhrawardimenulis karya-karyanya yang penting dan di tempat-tempat ia terlibat dalam pengajaran filsafat illuminasi.
Kita hanya mengetahui beberapa tanggal dan peristiwa tertentu yang rinci dalam kehidupan Surahwardi. Kita tahu bahwa Suhrawardidilahirkan di Desa Suhrawardi di Iran Timur Laut pada 549/1155, dan dihukum gantung di Aleppo pada 587/1191. Ini berarti ia hidup dalam 38 tahun Qamariah dan 36 tahun Syamsiyah. Kita memperoleh informasi bahwa Suhrawardi datang ke Aleppo pada 179/1183. Suhrawardi sendiri menegaskan bahwa ia menyelssaikan Hikmat al-Isyraq pada 582/1186. Sedangkan Syams al-Din Muhammad Syahrazuri menyatakan bahwa Nuzhat al-Arwah-nya bahwa Suhrawardi kira-kira berusai 30 tahun pada saat menyelesaikan, atau mendekati penyelesaian, al-Masyari wa al-Mutharahat (yaitu, buku ini diselesaikan sekitar tahun 579/1183).
Kita dapat berasumsi bahwa Suhrawardi telah menyelesaikan semua studinya sebelum berangkat ke Aleppo dan mungkin sudah menyelesaikan semua tulisan-tulisannya sebelum masa itu. Kita mengenal nama-nama sejumlah gurunya, namun tidak mempunyai informasi yang pasti kapan, atau teks-teks apa atau bentuk-bentuk karya yang ia pelajari bersama mereka. Sejauh yang kita tahu, guru pertama Suhrawardi adalah Majd al-Din al-Jilli, yang mengajarinya filsafat dan teolog di Maragha. Guru Suhrawardi berikutnya adalah Fakhr al-Din al-Mardini (w.594/1198), yang mengajarinya filsafat Isfahan atau Mardin, dan mungkin ia adalah gurunya terpenting. Kita tahu bahwa Mardin berada di suatu tempat di Aleppo pada tahun Suhrawardi dieksekusi, tempat ia diperkirakan diriwayatkan, tetapi kita tidak tahu apakah ada hubungan antara guru dan muridnya itu di Syiria, juga kita tidak tahu apakah ia memainkan peran, positif atau negatif, dalam intrik yang mengantarkan Suhrawardi pada fitnah dan eksekusi. Penting dicatat bahwa al-Mardini hidup sezaman dengan seorang anti Aristotelian, Abu al-Barakat al-baghdadi (w.setelah 560/1164), dan murid orang yang bernama sama, al-Baghdadi,d an musuhnya di Baghdad;d an ini, mungkin menjelaskan alasan-alasan alin (yang akan kita rinci dalam abgian 2.5 bab ini), mungkin menjelaskan mengapa al-baghdadi adalah salah satu dari sejumlah filosof masa itu yang sering disebut-sebut namanya oleh Surahwardi. Al-Baghdadi, seperti juga Suhrawardi yang mengikutinmya, mengklaim bahwa karya utamanya, al-Mu’tabar telah disusun atas dasar “refleksi pribadi”. Kedua filosof itu mengakui bahwa kepastian-kepastian intuisi sama sahihnya dengan kepastian-kepastian akal dan persepsi indrawi, dan menegaskan bahwa hanya bentuk kepastian yang terakhirlah yang diterima filsafat Paripatetik. Akhirnya, kita mengetahui nama guru Suhrawardi yang lain, Zahir al-Farsi, yang kepadanya ia belajar al-Basha’ir karya seorang ahli logika terkenal ‘Umar ibn Sahlan al-Sawi (lebih kurang wafat 540/1145), yang dikalangan sejumlah kecil filosof namanya disebut Surahwardi, terutama yang berkaitan dengan prsoalan-persoalan logika. Suhrawardi adalah seorang filosof muda yang meninggalkan tanah airnya dan pergi ke Syiria pada masa kekacauan dan intrik politik, kemudian masuk ke Aleppo apda tahun 579/1183, tempat ia mengajar dan bersahabat dengan putra mahkota Malik Zahir Shah, putra Shalahuddin al-Ayyubi. Lebih jauh, kita tahu tanggal penyusunan dua dari karya-karyanya yang pernting. Berdasarkan informasi yang sangat sedikit ini kita berusaha memastikan kemungkinan rentang waktu penulisan karya-karya Suhrawardi yang penting.
Kita tidak tahu dengan pasti, kapan Suhrawardi menyelesaikan studi, atau kapan ia mulai mengajar dan menulis, namun asumsi-asumsi berikut beralasan untuk dilakukan. Suhrawardi mungkin menyelesaikan studinya dengan al-Jili pada permulaan umur duapuluhan, dan dengan al-Mardini pada pertengahan umur dua puluhan. Mari kita asumsikan bahwa, setelah menyelesaikan studinya, sebuah periode antara tiga sampai lima tahun lewat sebelum masa ketika sekelompok murid atau siswa, yang sering ia sebut sebagai “saudara” atau “sahabat”, mendekatkan diri kepadanya. Untuk merekalah, yang menuntutnya dengan keras, ia menulis kebanyakan karyanya. Ini juga berarti bahwa Suhrawardi telah menyampaikan ajaran-ajarannya pada saat ia mengajar  secara lisan sebelum diturunkan dalam bentuk tulisan. Tidak mungkin karya-karya Suhrawardi yang penting itu ditulis sebelum akhir umur dua puluhan. Suhrawardi paling banter mempunyai waktu sepuluh tahun untuk menyusun semua karya-karyanya yang penting dan, mungkin, kebanyakan karya-karya lainnya termsuk cerita-cerita alegoris. Sekarang, sepuluh tahun bukanlah waktu yang cukup panjang bagi seroang pemikir untuk mempunyai dua masa yang berlawanan dari pemikiran yang dikembangkan seluruhnya. Paripatetik dan Illuminasi, seperti ditunjukan oleh beberapa sarjana. Saya sulit mempercayai hipotesis ini, dan kenyataannya bahwa Suhrawardimenulis sejumlah sinopsis ajaran-ajaran Paripatetik (yang tanggal-tanggal penyuusunanya tidak pasti) kelihatannya tidak mendukung hipotesis itu.
Dalam beberapa hal, keempat karya penting Suhrawardi yang dikaji di sini saling merujuk satu sama lain, dan, penilaian dengan memeriksa luasnya rujukan silang, karya-karya itu disusun kira-kira pada waktu yang bersamaan, atau setidak-tidaknya masing-masing karya itu telah direvisi terus menerus, pada saat diajarkan, dengan memperhatikan pandangan yang lainnya. Barangkali tahun 582/1186, tahun penyelesaian Hikmat al-Isyraq dinyatakan, adalaht ahun ketika sebuah versi telah tersedia, tetapi ia secara meyakinkan direvisi pada akhir kehidupan Suhrawardi sebagaimana buku  tersebut diajarkan. Juga pada 579/1183, tahun ketika Suhrawarditelah memasuki Aleppo dan telah menyelesaikan al-Mashari wa al-Mutharahat, bisa jadi telah memiliki “draft” (atau versi) keempat karyanya yang penting, yang ia bahas selama pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Malik Zahir Shah.

2.5. Abu al-Barakat al-Baghdadi dan Filsafat Illuminasi

Abu al-Barakat al-baghdadi termasuk diantara sangat sedikit filosof yang namanya disebut Suhrawardi ketika membahas persoalan-persoalan filsafat tertentu, dan dalam beberapa tempat ia diidentifikasikan dalam manuskrip-manuskrip karya-karya Suhrawardi dalam catatan-catatan pinggir ketika merujuk subjek-subjek yang sedang dibahas dalam teks. Juga Suhrawardi secara jelas menempatkan posisi Platonis Baghdadi dalam beberapa kesempatan – posisi yang ia sendiri lebih menyukainya – dan dalam kaitannya dengan isu-isu kunci filsafat, metodologi al-Baghdadi bergaung dalam permusuhan kembali prinsip-prinsip filsafat Suhrawardi sendiri. Tentang persoalan terpenting mengenai dasar filsafat, baik Suhrawardi maupun Baghdadi sebelumnya, mengambil posisi intuisionis dengan memberikan kepada intuisi utama peran penting dalam bangunan filsafat. Struktur karya filsafat Baghdadi, al-Mu’tabar, juga terefleksi dalam karya-karya filsafat Surahwardi. Nampaknya, terbukti bagi saya bahwa Baghdadi harus dianggap sebagai seorang sumber langsung yang penting bagi sejumlah pendekatan non-Paripatetik Suhrawardi  terhadap persoalan-persoalan filsafat. Metodologi filsafat Ibn Sina, penggunaannya terhadap istilah teknis dan tujuan filsafatnya sebagai standar dalam memandang filsafat Arab dan Persia kemudian dikaji dan diuraikan lebih jauh. Baghdadi dan Suhrawardi melakukan upaya-upaya serius dalam merumuskan kembali beberapa prinsip filsafat Ibn Sina, sesuatu yang tidak dilakukan filosof itus endiri dalam bentuk yang sitematis semacam itu. Dalam bidang inilah bacaan Suhrawardi terhadap karya filsafat Baghdadi, al-Mu’tabar, akan diselidiki, karena ia akan membantu menjelaskan bangunan filsafat illuminasi.
Berikut ini, saya akan merujuk kepada al-Mu’tabar Baghdadi ketika menganalisis filsafat illuminasi Suhrawardi untuk menunjukkan kaitan antara kedua metodologi itu dan untuk mencatat tema-tema umum mereka yang anti Ibn Sina. Saya tidak ebrmaksud melakukan suatu perbandingan yang mendalam. Namun, filsafat illuminasi, pada akhirnya dibedakan dari karya filsafat baghdadi dalam penggunaannya kiasan “cahaya”, posisi ontologisnya, teori illuminasi tentang emanasi, teori epistemologis tentang pengetahuan dengan kehadiran dan dalam bentuknya yang didefinisikan sebagai filsafat sistematis non Paripatetik yang dirancang sebagai sistem illuminasi yang terpisah.

3. KARYA-KARYA PENTING YANG DIKAJI

3.1. Al-Talwihat

Dalam “Pendahuluan” bab “ilmu ketiga” (al-‘Ilm al-tsalits, yaitu metafisika) al-Talwihat, Suhrawardi menegaskan : (Dalam buku ini) saya tidak menaruh perhatian pada ajaran Paripatetik yang telah dikenal, sebaliknya saya akan meninjau dan mervisinya semampu saya dan hanya akan menyebutkan inti teori-teori (qawa ‘id) Guru Pertama.
Lebih jauh, dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, ia menegaskan bahwa al-Talwihat merupakan suatu karya yang disusun sesuai dengan “metode Paripatetik”, (‘ala thariq al-masysya’in) sedang di akhir al-Talwihat, ia menegaskan : Dalam buku ini saya telah memberikan apa yang memungkinkan seseorang membuang (metode-metode Paripatetik), dengan hal-hal yang menakjubkan dan unik. Ia dengan hati-hati telah menetapkan kaidah-kaidah ilmu. Di dalamnya tidak terdapat ketidaksesuaian, juga tidak terdapat pikiran yang terpencar-pencar. Saya nasehatkan agar Anda tidak megikutiku, juga mengikuti orang lain dengan membuta. Karena ukuran sesuatu adalah demonstrasi ..... Beralihlah ke “ilmu-ilmu yang dialami” agar Anda menjadi salah seorang filosof.
Kita dapat menyimpulkan dari pernyataan –pernyataan ini bahwa al-Talwihat adalah karya yang di dalamnya,d engan menggunakan “metode Paripatetik”, Suhrawardi menganalisis persoalan-persoalan penting filsafat diskursif dan mengmukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu, atau kebenaran-kebenaran suatu hakikat simbolik – wujud ini menurutnya, adalah “rahasia-rahasia”, dan mengetengahkan suatu pandangan filsafat yang menunjuk pada “pengetahuan yang dialami” sebagai jenis pengetahuan tertinggi yang  juga menjadi dasar bagi epistemologi. Pengetahuan yang dialami, sebagai intuisi ruang-waktu utama, perlu dijelaskan, atau didiskusikan – oleh karena itu bahts, atau filsafat diskursif adalah penting – dan metodologi Paripatetik harus digunakan dalam proses menjelaskan apa intuisi itu. Ini juga merupakan ciri penting pandangan Suhrawardi terhadap sejarah filsafat, khususnya sejarah filsafat dalam Islam. Pandangan ini, juga dibahas secara rinci dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat dan Hikmat al-Isyraq, dikemukakan dalam al-Talwihat melalui pengingatan kembali (recollection) Suhrawardi tentang sebuah visi mimpi dengan Aristoteles, yang memberitahukannya dalam mimpi bahwa di antara orang-orang “bijak” Islam (hukama), hanya mistikus seperti Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang telah mencapai penyatuan dengan Intelek Aktif; hanya mereka yang benar-benar orang bijak karena telah melampaui filsafat diskursif melalui pengalaman pribadinya. Dalam suatu bagian sebelumnya, Suhrawardi menginformasikan kepada kita bahwa bentuk-bentuk pengetahuan tertentu, bentuk-bentuk yang menempati peringkat yang sama dengan yang diperoleh melalui penyatuan dengan Intelek Aktif, telah diperoleh oleh filosof-filosof semisal Aristotelesd an Plato,d an filosof lain di kalangan kuno, juga para mjistikus dalam Islam, dan kebenaran-kebenaran “(haqa’iq) yang diperoleh semacam itu dikatakan sebagai hasil suatu pengetahuan intuitif, bentuk pengetahuan yang dialami. Berkaitan dengan prinsip-prinsip epistemologis yang penting ini, Suhrawardi menunjukkan kepada pembaca al-Masyari’ wa al-Mutharahat, tempat mana ia menjelaskan secara luas persoalan pengetahuan jiwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan diri atau persoalan-persoalan epistemologis terkait lainnya. Posisi Suhrawarditentang apakah fislafat itu, juga pandangan-pandangannya terhadap kepentingan epistemologis tentang tindakan-tindakan kreatif intuisi, persoalan pengalaman pribadi,d an “rahasia-rahasia” (rumuz), seperti dijelaskan dalam al-Talwihat, adalah catatan-catatan terbatas tentang filsafat illuminasinya. Di beberapa tempat dalam al-Talwihat, terutama dalam bab tentang visi-mimpi dengan Aristoteles, prinsip-prinsip illuminasi dibahas Suhrawardi dengan panjang lebar-panjang lebar, meskipun dengan menggunakan bahasa teknis nonilluminasi, dan ini adalah suatu indikasi yang jelas dari tujuannya dalam buku ini : untuk meletakkan dasar filsafat illuminasi dengan mengemukakan “inti” ajaran filsafat Aristoteles. Ini menunjukkan bahwa karya tersebut tidak dapat dianggap sebagai suatu karya Paripatetik yang terpisah dari, dan tidak berkaitan dengan, filsafat illuminasi.
Surahwardi, dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq,s ecara jelas menegaskan bahwa “filsafat diskursif” (hikmah bahtsy-yah) adalah unsur penting “filsafat intuitif” (hikmahdzawqiy-yah). Ia lebih jauh menegaskan bahwa hanya sebuah kombinasi yang sempurna yang sejati (hikmah) – tujuan fislafat illuminasi – dan jika di sini kita membuat identifikasi antara “fisafat diskursif” dan “inti” ajaran Aristoteles, kita menyadari mengapa al-Talwihat, sebagai karya filsafat, dianggap sebagai langkah awal dalam membangun kembali filsafat illuminasi. Al-Talwihat pada dasarnya adalah bagian “diskursif” dari metodologi filsafat illuminasi. Suhrawardi menguraikan bahwa bagian metodologi Paripatetik ia eprlukan untuk digunakan dalam karyanya ini. Namun, ini hanyalah salah satu unsur al-Talwihat yang paling jelas, dan unsur-unsur yang telah meng-antarkan sarjana-sarjana dan komentator-komentator berpikir bahwa karya ini adalah ringkasan “standar” ajaran Paripatetik. Unsur al-Talwihat yang kurang jelas – yang akan diselediki dengan hati-hati kemudian – dapat dibatasi dengan menyelidiki bahwa karya ini secara sederhana bukanlah suatu pembahasan (ekspose) “inti” ajaran Aristoteles. Namun lebih dari itu. Perhatikanlah bagian dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat berikut : Seseorang yang ingin menemukan apa yang penting ia ketahui sebelum (mempelajari) Hikmat al-Isyraq ada did alam buku al-Talwihat tempat saya menyatakan pendapat-pendapat yang membedakan saya dengan guru filsafat diskursif, Aristoteles.
Pembahasan Suhrawardi tentang “inti” ajaran Aristoteles adalah sesuai dengan apa yang telah ia rumuskan kembali, yaitu menjadi ajaran, dan bukan suatu ringkasan sederhana darinya. Tujuan utama al-Talwihat adalah untuk menerima suatu metodologi Paripatetik yang telah dirumuskan kembali sebagai unsur penting metode illuminasi, dan untuk mengajarkan hal itu kepada murid-murid filsafat illuminasi.

3.2. Al-Muqawamat

Apa yang telah jauhs aya katakan tentang al-Talwihat dalam beberapa hal juga berkaitan dengan al-Muqawamat, akrena secara sederhana karya ini oleh pengarangnya disebut sebagai penjelasan (addendum, syarh) bagi al-Talwihat dan sevara substansial tidak berbeda, tentu tidak dalam tujuan atau strukturnya. Namun, al-Muqawamat selangkah ke depan ke arah suatu penjelasan ajaran illuminasi yang lebih spesifik dan komprehensif,d an menggunakan istilah teknis yang lebih tidak standar dibanding dengan Al-Talwihat. Al-Talwihat sering disebut-sebut dalam al-Muqawamat, terutama yang menunjukkan subjek yang sama yang diuraikan dengan baik di situ. Pada satu kesempatan Suhrawardi menyatakan bahwa al-Muqawamat adalah sesuai dengan “metode al-Talwihat”, sehingga al-Muqawamat juga dianggap sebagai sebuah unsur “diskursif” lebih jauh metodologi illuminasi. Di akhir al-Muqawamat Suhrawardi menunjukkan kaitan karya ini dengan karya-karyanya yang lain ketika ia mengantisipasi Hikmat al-Isyraq, dengan menunjuk kepada al-Masyari” wa al-Mutharahat sebagai karya yang did alamnya rincian filsafat illuminasi dapat ditemukan, dan lebih jauh menginformasikan kepada pembaca bahwa al-Muqawamat adalah karya yang di dalamnya tingkat pokok persoalan dibahas lebih mendalam. Sungguh, dalam pandangan saya al-Muqawamat adalah karya yang lebih argumentatif dan lebih maju daripada al-Talwihat.

3.3. Al-Masyari’ wa al-Mutharahat

Al-Masyari’ wa al-Mutharahat adalah karya Suhrawardi yang sangat terkenal setelah Hikmat al-Isyraq. Jika kita pmenyandingkan gaya yang lebih bagus karya yang disebut terakhir, kita harus menjernihkannya bahwa al-Masyari’ wa al-Mutharahat adalah karya illuminasi terpenting, yang mengandung,s ebagaimana kita diberitahu oleh Suhrawardi sendiri, “analisis terperinci” ajarannya. Ia adalah karya yang secara disengaja disusun lebih panjang dariapda Hikmat al-Isyraq. Dalam karya ini Suhrawardi menyusun rincian prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan metodologi illuminasi yang hanya ia bahas secara ringkas dalam Hikmat al-Isyraq. Komentator Hikmat al-Isyraq lebih sering merujuk kepada al-Msyari’ wa al-Mutharahat daripada kepada karya-karya Suhrawardi lainnya. Jika Hikmat al-Isyraq dirancang sebagai suatu pernyataan ayng lebih puitis tentang kesatuan pengalaman illuminasi, al-Masyarai’ wa al-Mutharahat adalah suatu analisis filosofis terhadap pengalamana itu yang disusun dengan baik.
Pernyataan yang sangat eksplisit tentang al-Masyari’ wa al-Mutharahat diberikan sendiri oleh Suhrawardi dalam “Pendahuluan”-nya :
Buku ini terdiri dari tiga ilmu (Logika, fisika, metafisika). Saya telah menyusunnya atas dorongamu saudara-saudaraku. Di dalamnya saya menguraikan subjek-subjek dan teori-teori yang tidak ditemukan dalam karya-karya lain (tentang filsafat). (Teori-teori ini) benar-benar bermanfaat,d an telah diperoleh dan diperbaiki melalui pengalaman-pengalaman saya pribadi. Namun, saya tidak berangkat sama sekali dari jalan Paripatetik, meskipund alam karya ini saya telah emngutarakannya pendapat-pendapat yang mengisyaratkan prinsip-prinsip mulia (filsafat) di samping apa yang telah diuraikan oleh para filosof Paripatetik. Orang yang tak berprasangka yang dengan hati-hati telah mempelajari karya-karya Paripatetik akan menemukan bahwa karya ini sempurna sedangkan karya-karya lain cacat. Siapa saja yang belum memahami ilmu-ilmu diskursif tidak akan dapat memahami karya kami yang disebut Hikmat al-Irsyaq, al-Masyari’ wa al—Mutharahat harus dibaca sebelum menyelidiki Hikmat al-Isyraq dan sesudah menyelidiki karya ringkas yang disebut al-Talwihat. Di sini kita tidak menyempurnakan struktur (karya-karya Paripatetik tertentu). Juga tidak mendukung, dalam beberapa hal, subjek ilmu (yang sudah mapan), tetapi tujuan lebih jauh dalam karya ini adalah filsafat diskursif, meskipun yang demikian itu harus melibatkan (pembahasan) kaidah-kaidah berbagai-bagai ilmu lainnya. Karena itu, ketika murid filsafat diskursif mempelajari metode ini dengan baik, ia dapat memulainya dengan praktik-praktik asketik yang mencerahkan dengan perintah seorang yang ahli dalam illuminasi (al-Qayyim ‘ala al-isyraq, agar prinsip-prinsip dasar illuminasi memanisfestasikan diri kepadanya. Setelah (permulaan semacam itu) ia akan berasa dalam suatu posisi untuk memahami prinsip-prinsip sesuatu (al-asyya). Karena bagi ketiga bentuk (al-shuwar al-tsalats) yang disebutkan dalam Hikmat al-Isyraq, yaitu : (edisi Corbin menyebut tiga kode). Titik tolak filsafat adalah meninggalkan dunia, pertengahannya adalah (ditandai dengan) melihat Cahaya Tuhan (al-anwar al-ilahiyyah), dan akhirnya tanpa batas. Saya namakan buku ini al-Masyari’ wa al-Mutharahat.
Kita mencatat dari “Pendahuluan” ini bahwa al-Masyari’ wa al-Mutharahat bukanlah satu-satunya karya yang disusun sesuai dengan metodologi Paripatetik. Seperti Himat al-Isyraq, karya ini juga di dasarkan pada refleksi pribadi Suhrawardi. Ia bukan sekadar karya tempat mana kelemahan-kelemahan ajaran Paripatetik dikemukakan, tetapi juga sebuah karya yang mengantarkan para pembaca kepada suatu pembahasan yang mendalam tentang apa filsafat illuminasi itu. Seperti ditegaskan sendiri oleh Suhrawardi, dalam struktur karya tersebut juga berbeda dari karya-karya Paripatetik standar.
Al-Masyari’ wa al-Mutharahat membuat sejumlah rujukan terhadap Hikmat al-Isyraq dan terhadap sifat-sifat yang “menakjubkan”, “Simbolik”, metaforis dan illuminationis karya yang disebut terakhir ini. Dalam beberapa hal, dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat Suhrawardi menyebut Hikmat al-Irsyaq-nya sebagai karya tempat “kunci” bagi “rahasia-rahasia” ajarannya ditemukan. Juga terdapat beberapa indikasi bahwa ketika menyusun al-Masyari’ wa al-Mutharahat, Suhrawardi telah mendapatkan penekanan-penekanan tertentu atas dirinya. Semua ini dengan jelas menunjukkan bahwa suatu versi yang sempurna dari kedua karya ini telah ada secara bersamaan : Karena apa yang saya yakini tentang masalah ini, telah disebutkan dalam karya saya yang berjudul Hikmat al-Irsyaq. Saya tidak dapat menyebutnya secara eksplisit di sini (dalam al-Masyari’ wa al-Mutahrahat) karena tujuan saya dalam karya ini adalah (membahas) analisis diskursif dalam suatu cara yang tidak terlalu jauh tersesat dari pendekatan Paripatetik.”
Terdapat sejumlah sifat dalam al-Mayari’ wa al-Mutharahat yang menunjukkan pentingnya karya ini sebagai suatu karya yang tak terpisahkan dalam mempelajari filsafat illuminasi. Pertama, seperti tercatat,terdapat sejumlah rujukan dalam Hikmat al-Irsyaq. Kedua, karya penting ini mengandung kajian yang kaku dan terperinci sistem filsafat Suhrawardi sendiri yang tidak ditemukan, yang sama terperincinya, dalam Hikmat al-Irsyaq. Contoh untuk itu adalah ketika Suhrawardi membahas konsep bahasa dan susunan simbolik sekadar sebagai sarana menulis pengetahuan yang dialami, dan tempat membahas semantik “bahasa illuminasi” (lisan al-isyraq). Suhrawardi memberikan penekanan yang besar pada penggunaan utama bahasa dalam filsafat, tetapi ia tidak pernah menguraikan subjek “bahasa illuminasi” dalam Hikmat al-Irsyaq sebagaimana ia melakukannya dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Pembaca diharapkan telah mengetahui karya yang terakhir ini, karena perincian-perincian posisi bahasa dalam membangun kembali metafisika benar-benar diselidiki.
Filsafat illuminasi menggunakan suatu bahasa khas, seperangkat istilah teknis tertentu, dan menekankan penggunaan suatu bentuk simbolik ekspresi yang didasarkan pada lebih luas dan dalam prinsip, citra cahaya dan kegelapan. Simbolisme cahaya digunakan untuk wujud-wujud tertentu dan batasan-batasan wujud, bentuk dan materi, Tuhan, hal-hal yang dipikirkan baik primer maupun sekunder, intelek, jiwa, iseity individual dan tingkatan-tingkatan intensitas pengalaman mistis. Singkatnya, penggunaan simbol-simbol adalah sifat integral bangunan filsafat illuminasi, dan bentuk ekspresi simbolik ini juga menjadi sifat utama al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Dalam karya ini bentuk simbolik selalu diketengahkan dalam suatu kerangka filsafat Paripatetik dan terminologi teknisnya yang semacam itu, nampaknya, untuk menginstruksikan kepada pembaca tentang bahasa baru yang digunakan. Sekarang, jelaslah bahwa filsafat Paripatetik diskursif yang menggunakan sebuah bahasa yang telah digunakan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina dan kira-kira menjadi standar pada masa Suhrawardi. Tetapi, dalam memandang penggunaan “bahasa illuminasi” Suhrawardi itu, pertanyaan harus dikemukakan : Seberapa jauh sistem filsafat baru Suhrawardi itu, sebagai ekspresi simbolik dan sebagai sebuah penggunaan khusus bahasa? Pertanyaan semacam itu mengantarkan kita menyelidiki sistem illuminasi dalam kaitannya dengan Paripatetik untuk melihat bagaimana dua bentuk itu dikaitkan dan, terutama, untuk menunjukkan perbedaan esensial antara keduanya. Sekali kedua “bahasa” diidentifikasi, seperti pernah ditunjukan para komentator filsafat illuminasi telah bisa menyadair bahwa  : 1) ingga saat ini terdapat suatu hubungan antara dua sistem yang tak tercatat; 2) “Bahasa illuminasi” adalah sebuah mode yang penting untuk membangun dan mengekspresikan filsafat illuminasi;  dan 3) Beberapa pembahasan tentang konsep “illuminasi” itu sendiri, yang menegaskan pengalaman sebagai dasar epistemologi, menuntut suatu bahasanya sendiri untuk mengekspresikan “pengalaman” dalam suatu cara analisis yang tidak menghilangkan pengalaman tersebut.
Seperti yang akan kita lihat nanti, ini merupakan prinsip dasar, yaitu untuk mengetahui sesuatu adalah dengan memperoleh suatu “pengalaman” tentangnya, serupa dengan intuisi utama batasan-batasan wujud. Pengetahuan tentang sesuatu yang dialami dianalisa hanya berakibat kepada penangkapan intuitif yang menyeluruh dan langsung tentang apa ia sebenarnya. Apakah ada sesuatu, kita mungkin bertanya apda titik ini, dalam “pengalaman” suatu subjek, yang mengharuskan apa yang telah diperoleh oleh subjek itu melalui suatu bahasa simbolik yang disusun secara khusus? Jawaban atas pertanyaan ini akan diselidiki dari berbagai-bagai sudut pandang, tetapi tidak jelas, bahkan pada titik waktu pendahuluan ini, bahwa “bahasa illuminasi” Suhrawardi adalah upaya yang ia lakukan untuk menggunakan suatu bahasa khusus yang digunakan untuk menggambarkan “pengalaman” illuminasi. Sama jelasnya, bahwa penafsiran simbolisme illuminasi dan implikasi-implikasinya merupakan aspek-aspek utama kontroversi seperti apa filsafat illuminasi itu. Harus diingat bahwa simbolisme bangunan filsafat illuminasi dikembangkan secara rinci oleh Suhrawardi dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat, dan karena aitu karya ini tidak dapat dilepaskan dari upaya kita memahami filsafat illuminasi.
Ada suatu sisi “lisan” yang penting bagi ajran-ajaran Suhrawardi, suatu ajaran yang telah diuraikan secara lebih bebas, tanpa terbatas pada kata yang tertulis, dengan bahasa simbolik filsafat illuminasi. Ajaran-ajaran “lisan” tersebut harus dibatasi pada suatu lingkaran sahabat-sahabat dekat Suhrawardi. Kesimpulan kita ini dikuatkan oleh penamaan Suhrawardi sendiri kepada seseorang yang “ahli dalam illuminasi”, yang dapat disamakan dengan guru sufi, atau mursyid, berikut dengan sejumlah pernyataannya yang lebih kurang mengatakan bahwa filsafat illuminasi tidak dapat disesuaikan dengan semua orang, dan tentu saja tidak dengan mereka yang berada di luar peserta. Ajaran lisan filsafat illuminasi, ditujukan kepada sekelompok sahabat, sebagai sarana mengalirkan simbol, menyingkap maknanya yang diinginkan. Pembahasan tentang  pengalaman illuminasi itu sendiri, menurut Suhrawardi, tidakd apat dibatasi sepenuhnya pada bentuk ungkapan biasa dan analisis diskursif. Simbol-simbol (tanda-tanda dan rahasia-rahasia) harus digunakan. Simbol (termasuk metafor dan alegori) sendiri merupakan semacam sifat yang akan mendatangkan suatu jawaban dalam jiwa dan pikiran subjek, namun pengungkapan pengalaman akan tetap tinggal, personal dan hanya dapat dikomunikasikan sepenuhnya dalam lingkaran teman-teman dekat. Dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat kita menemukan suatu pernyataan eksplisit tentang ini : Misteri besar dan mulia yang disingkapkan ungkapan simbolik (dan metaforis) dari buku kami Hikamt al-Irsyaq, hanya dapat kita tujukan kepada sahabat-sahabat kita, para illuminasi (ashhabuna al-isyaqiyyun).
“Sahabat-sahabat illuminasionis”, yang juga disebut Suhrawardi sebagai “:saduara”, yang membentuk lingkaran “persaudaraan abstraksi” (ikhwan al-tajrid), yang telah mengakses sebuah tingkat pemahaman filsafat illuminasi tidak dikandung dalam buku-buku ini. Tingkat illuminasi semacam itu adalah tingkat tempat Suhrawardi telah menyalurkan wacana-wacana selama hidup, dan, mungkin, dilanjutkan oleh orang yang “ahli dalam illuminasi” setelah ia meninggal. Hanya pada titik ini kita menyadari bahwa karya-karya Suhrawardi semacam itu seperti al-Talwihat dan al-Muqawamat (yang sering disebut dalam al-Msyarai’ wa al-Mutharahat), disusun dengan “metode Paripatetik”, sekaligus untuk menunjukkan kelemahan metedo tersebut,s ebagaimana kita ketahui dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Pesan tersebut kemudian menjadi jelas : metode “Paripatetik” dan bahasa biasa gagal  menggambarkan esensi “pengalaman” yang menjadi dasar epistemologis illuminasi.

3.4. Hikmat al-Irsyaq

Karya Suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmat al-Irsyaq. Ini adalah karya terakhir dari empat karya yang diselidiki di sini, karya yang di dalamnya prinsip-prinsip filsafat illuminasi secara sistematis, meskipun singkat, diketengahkan dalam bentuk yang indah dan sempurna. Ia adalah karya yang disebut Suhrawardi memuat pengertian intuitifnya sendiri tentang dasar filsafat. Juga karya yang secara sistematis memformulasikan hasil-hasil yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman mistis Suhrawardi sendiri dan menggabungkannya dalam membangun kembali filsafat. Karya ini memuat formulasi terakhir sistem baru Suhrawardi dengan secara jelas dan dalam suatu bentuk simbolik, rincian-rincian yang telah dikemukakan dalam ketika karya yang telah disebutkan. Bahkan karya ini juga memuat metodologi, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip filsafat diskursif dan illuminasi. Pencampuran antara filsafat diskursif (al-Hikmah al-bahtsiyyah) dan filsafat intuitif (al-Hikmah al-dzawq) yang harmonis dan sempurna adalah tujuan dan tanda khas filsafat illuminasi.
Hanya al-Talwihat dan al-Lamahat yang dirujuk Suhrawardi dalam Hikmat al-Irsyaq. Quthb al-Din al-Syirazi, dalam Syarh Hikmat al-Isyraq, menegaskan bahwa ini menunjukkan Suhrawardi telah memulai menulis, meskipun belum sempurna, karya-karya yang lain sebelum menyusun Himat al-Isyraq. Seperti telah kita sebutkan di muka, Suhrawardi pasti telah menulis atau merevisi karya-karyanya yang penting bersamaan, Suhrawardi tidak menyebut al-Masyari’ wa al-Muthaharat dalam Hikmat al-Irsyaq secara khusus, tetapi signifikasi karya tersebut telah diketahui. Namun, Quthb al-Din yakin bahwa, pernyataan Suhrawardi, “Saya telah menyusun al-Talwihat dan berikutnya al-Lamahat, dan lain-lain yang mengikuti metode Paripatetik. Suhrawardi memaksudkan “lain-lain” adalah al-Masyari’ wa al-Mutharahat dan al-Muqawamat. Dengan melihat apa yang telah saya katakan di atas, saya tidak sependapat dengan pandangan ini. Dengan menyebut al-Talwihat, Suhrawardi, pada dasarnya, telah merujuk kepada al-Muqawamat, akrena kita tahu yang terakhir ini adalah penjelas bagi yang pertama. Juga, seperti telah kami tunjukkan, al-Masyari’ wa al-Mutharahat bukanlah karya yang disusun hanya menurut “metode Paripatetik”. Dengan meninjau pernyataan-pernyataan Suhrawardi yang diulang-ulang menggambarkan pentingnya al-Masyari’ wa al-Mutharahat bagi suatu pemahaman yang benar-tentang filsafat illuminasi, kita tidak dapat menempatkan karya tersebut dalam kategori yang sama dengan al-Lamahat, dan yang demikian itu tidak menguranginya sebagai tidak relevan untuk mempelajari filsafat illuminasi. Dengan tidak menyebut al-Masyari’ wa al-Mutharahat pada bagian “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi barangkali ingin menunjukkan apa yang telah jelas bagi sahabat-sahabatnya bahwa karya tersebut tidak harus dimasukkan ke dalam karya-karya yang disusun sebagai ringkasan didaktik filsafat illuminasi. Karya semisal Risalah fi I’tiqad al-Hukama (Ajaran para filosof) lebih tepat untuk pernyataan Suhrawardi “lain-lain” dalam bagian itu, karena dirancang secara lebih tepat sebagai ringkasan singkat ajaran Paripatetik,d an secara sangat jelas berada dalam bentuk ekspresi Paripatetik.
Seperti kita selidiki, Hikmat al-Isuraq sendiri merupakan puncak tujuan filsafat Suhrawardi : Suatu rekonstruksi filsafat yang sistematis. Ini telah dia awali dengan al-Talwihat, disempurnakan lebih jauh dalam al-Muqawamat dan dirumuskan sepenuhnya dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Hikmat al-Isyraq hanya dapat dipahami jika dianggap sebagai rentetan rekonstruksi filsafat yang secara hati-hati disusun Suhrawardi dalam keempat karyanya yang penting, meskipun ia sebagai karya terpenting dalam rentetan itu. Karya tersebut dianggap oleh Suhrawardi sendiri sebagai yang terbaik dalam “Pendahuluan”-nya yang sekarang akan kita selidiki.
“Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq menguraikan tiga subyek yang mendasari rekonstruksi fislafat illuminasi, ia juga mengemukakan tujuan-tujuan pengarangnya. Subjek pertama menguraikan alasan-alasan Suhrawardi menyusun karya-karya tersebut dan kelompok orang-orang yang menjadi tujuan buku ini. Kedua mengarahkan persoalan metodologi. Ketika menguraikan sejarah filsafat, begitu juga tempat filsafat illuminasi dan kedudukan apra filosof “yang bijak” dalam sejarah. Mari kita selidiki ketiga subjek yang dipersoalkan tersebut.

3.4.1. Alasan-alasan Surahwardi Menyusun Hikmat al-Isyraq

Seperti kebanyakan karya Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq sebenarnya ditulis sebagai hasil permintaan yang terus menerus dari sahabt-sahabat dan murid-muridnya. Seperti telah kita catat implikasi pernyataan semacam itu adalah pokok masalah karya-karya Suhrawardi kemungkinan telah diajarkan secara lisan kepada kelompok sahabatnya sebelum diturunkan dalam bentuk tulisan. Pada gilirannya mendorong, dalam konteks wacana lisan yang telah diberikan oleh Suhrawardi para murid mempunyai kesempatan ikut serta dalam pembahasan ajaran-ajaran utama filsafat illuminasi dan tujuan terdalam simbolisme yang digunakan dalam karya-karya tertulisnya. Penggambaran simbolik ajaran iiluminasi adalah suatu komponen integral moetode Suhrawardi, seperti ia tunjukan sendiri dalam berbagai-bagai kesempatan, yaitu dalam bagian keempat “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq. Kita juga masih ingat “kesulitan-kesulitan”, menurut Suhrawardi, dasar-dasar filsafat illuminasi yang menjadi perhatian untuk ditulis. ‘Kesulitan-kesulitan” semacam itu barangkali karena komplikasi-implikasi di dalamnya yang dimasukkan dalam tulisan perihal unsur kualitatif pengalaman tempat yang mode ungkapan lisan, “kehadiran” (Hudhur) guru yang telah mengalaminya sendiri, menyaksikan persaksian langsung. Namun, terdapat cukup indikasi dalam tulisan-tulisannya yang jika diselidiki dengan cermat, memungkinkan kita menembus makna simbol-simbol yang dimaksudkan. Yang demikian itu mengantarkan kita membangun pandangan tentang apa filsafat illuminasi Suhrawardi itu. Makna-makna bahasa metafor yang dimaksudkan, di sini dan di tempat lain, diselidiki Suhrawardi sendiri sebagai contoh, dan lebih jauh oleh para komentatornya.
Ada pernyataan yang tidak biasa dibuat oleh Suhrawardi di awal ‘Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq,d an pernyataan itu tidak pernha diulang Suhrawardi dalam karya-karya yang lain. Pernyataan tersebut dapat diterjemahkan dalam dua cara dengan implikasi yang berbeda. Pernyataan tersebut adalah :
Jika bukan karena keharusan memenuhi suatu kewajiban, suatu pesan yang telah muncul,d an suatu kewajiban yang telah diberikan dari suatu ketidaktaatan yang akan mengantarkan kepada jalan yang sesat, saya tidak pernah merasa wajib untuk melangkah lebih jauh dans ecara terbuka menyingkap filsafat illuminasi.
Penafisaran pertama atas pernyataan tersebut, yang salah satunya dikemukakan komentator Quthb al-Din al-Syirazi, bahwa “sumber” dari perintah yang diberikan itu adalah Tuhan. Cara kedua menafsirkan pernyataan tersebut adalah dengan menganggap sumber perintah yang diberikan itu sesuatu yang membumi, yang bisa jadi ditetapkan seorang pangeran atau raja. Kenyataan yang demikian itu tidak mustahil, suatu motif politis untuk menyusun suatu karya. Kita tahu bahwa pada 579/1183 Suhrawardi pergi ke Aleppo, tempat Hikmat al-Isyraq ditulis pada 582/1186, dan bahwa natara Malik Zhahir Syah al-Ayyubi dan Suhrawardi terdapat hubungan baik. Karenanya, adalah mungkin bahwa printah menulis Hikmat al-Irsyaq telah diberikan oleh Malik Zahir Syah kepada Suhrawardi, setelah mendengar ceramah Suhrawardi tentang filsafat Illuminasi. Kita tahu bahwa Suhrawardi dibunuh atas dorongan beberapa ulama yang ada di sekitar Malik muda, yang menghasud ayahnya, Sultan Saladin Agung bahwa Suhrawardi telah menyelwengkan syariat. Namun, ada alasan-alasan politis yang lebih khusus atas intrik tersebut. apakah mungkin ada suatu hubungan antara penulisan bebas dan penerbitan Hikmat al-Irsyaq yang, nampaknya, Suhrawardi dengan berat mengalah pada intrik politik yang mengantarkannya pada kematian? Jika memang demikian, lalu apa? Yang demikian bukanlah tidak mungkin, juga bukan tanpa presenden bahwa filosof mempunyai keinginan mempengaruhi seseorang penguasa yang telah mempunyai hubungan baik. Di atas semuanya itu, abad ke-11 dan ke-12 telah menyaksikan beberapa intrik politik para kaum esoteris dan mistikus dan lain-lain yang cenderung filosof dan termotivasi secara politis. Sepertinya Hikmat al-Irsyaq telah dipandang sebagai “konstitusi” bagi “masyarakat” baru yang dipimpin oleh Malik Zahir Syah yang secara filosofi terpelajar dengan bantuan filosof Suhrawardi, yang berperan sebagai kekuatan spiritual di belakang istana. Melalui raja telah mengakses “kebijaksanaan” terlarang yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan illuminasi filosof bijak di istananya. Rancangan semacam itu, seperti telah saya katakan, bukanlah tanpa presenden. Ini barangkali yang menjadi alasan kuat atas intrik istana yang sebenarnya menyebabkan eksekusi Suhrawardi. Alasan semacam itu akan melibatkan reaksi-reaksi atas rencana, yang dipelopori oleh Suhrawardi, pembentukan tatanan baru (setidak-tidaknya) di Aleppo,d an sangat terbuka dalam memandang kenyataan bahwa tak seorang pun sejarawan filsafat dapat mengakhiri alasan kuat atas kalimat kematian Suhrawardi, kecuali penjelasan yang ambigu bahwa para hakim Aleppo telah menganggap ajaran-ajaran Suhrawardi bid’ah.

3.4.2. Metode Hikmat al-Irsyaq

Pernyataan pendek dan tepat yang dibahas Suhrawardi dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Irsyaq adalah sebgai pendukung teori umum filsafat illuminasi, terutama posisi intuisi dan pengalaman sebagai dasar epistemologi. Di antara semua karya Suhrawardi, hanya “Pendahuluan” dua di antara mereka, al-Masyari wa al-Mutharahat dan Hikmat al-Irsyaq, yang memuat pernyataan khusus tentang metodologi filsafat illuminasi. Dalam “pendahuluan” al-Masyari’ wa al-Mutharahat Suhrawardi menyebut buku tersebut mengandung suatu eksposisi hasil-hasil pengalaman dan intuisinya sendiri, dan lebih jauh menegaskan pandangan tentang bagaimana pengetahuan diperoleh.
Prinsip-prinsip yang dibentuk ini sebagai hasil suatu proses yang terdiri dari tiga tangga. Tanga pertama ditandai dengan aktivitas sebagian filosof : ia harus “memisahkan dunia”. Tangga kedua ditandai dengan pengalaman-pengalaman tertentu : filosof mencapai pancaran-pancaran suatu “Cahaya Tuhan” (al Nur al-Illahi). Tangga ketiga ditandai dengan perolehan pengetahuan yang tak terbatas dan tak terikat, yaitu pengetahuan illuminasi (al-‘ilm al-isyraqi). Catatan Suhrawardi atas persoalan metodologi yang sama dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq lebih jelas dan rinci, tetapi secara esensial sama dengan catatan yang diberikan dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Filsafat illuminasi terdiri dari tiga tingkat yang berkaitan dengan persoalan pengetahuan – bagaimana mempersiapkan mengalaminya, menerimanya melalui illuminasi,d an menyusunnya dalam suatu pandangan yang sistematik tentangnya, seperti dalam karya sebelumnya – ditambah dengan suatu tingkat tambahan yang terdiri dari proses mengungkapkan hasil-hasil pengalaman illuminasi dan pencarian tentangnya, dalam bentuk tulisan. Karena kita menyelidiki tahap-tahap yang disebutkan  secara lebih rinci lebih jauh kita menyelidiki bahwa tangga pertama adalah aktivitas yang melaluinya filosof mempersiapkan dirinya sendiri bagi pengetahuan illuminasi, suatu jalan hidup tertentu yang harus ia ikuti untuk sampai pada keseiapan menerima “pengalaman”. Tahap kedua adalah tangga illuminasi. Tahap ketiga adalah tahap konstruktiif. Tahap terakhir ini menggambarkan secara simbolik setiap kali diperlukan,d alam bentuk tulisan, struktur yang telah dibangun selama tangga ketiga. Mari kita selidiki tahapan-tahapan tersebut.
Awal tahap pertama diawali dengan aktivitas-aktivitas seperti mengasingkan diri selama empat puluh hari, berhenti makan daging,d an mempersiapkan diri untuk menerima inspirasi dan ilham. Aktivitas-aktivitas semacam itu masuk dalam kategori praktik-praktik asketik dan mistik, meskipun tidak sama persis dengan pernyataan-pernyataan dan penghentian-penghentian jalan sufi yang diterapkan, atau tarekat sufi, sebagaimana dikenal dalam karya-karya mistis yang ditemua Surahwardi. Melalui aktivitas-aktivitas semacam itu, filosof dengan kekuatan intuisinya, dalam dirinya, seperti diceritakan Surahwadi kepada kita, terdapat suatu bagian “cahaya Tuhan” (al-bariq al-ilahi), dapat menerima realitas keberadaannya dan mengakui kebenaran intuisinya sendiri melalui “ilham” dan “penyingkapan diri” (musyahadah ma mukasyafah). Atas dasar itu, tahap pertama ini terdiri dari : 1) suatu aktivitas, 2) suatu kondisi (yang ditemui seseorang, karena kita tahu bahwa setiap orang mempunyai intuisi dan dalam diri setiap orang ada bagian tertentu cahaya Tuhan); dan 3) ilham pribadi.
Tahap pertama megnantarkan kepada tahap kedua, dan Cahaya Tuhan memasuki wujud manusia. Cahaya ini mengambil bentuk serangkaian “cahaya penyingkap” (al-anwar al-sanihah) dan melalui “cahaya-cahaya penyingkap” pengetahuan yang berperan sebagai pengetahuan yang sebenarnya (al-‘ulum al-haqiqiyyah) dapat diperoleh.
Tahap ketiga adalah tahap pembangunan suatu ilmu yang benar (al-‘ilm al-shahih). Selama tahap ini, filosof menggunakan analisis diskursif. Pengalaman ditempatkan pada pengujian, dan sistem pembuktian yang digunakan adalah pembuktian (burhan) Posterior Analyties Aristoteles. Kepastian yang sama yang diperoleh oleh gerakan dari data indrawi (observasi dan formasi konsep) ke pembuktian didasarkan pada akal, yang juga menjadid asar pengetahuan ilmiah diskursif, yang dikatakan dapat diperoleh jika data visoner yang mendasari filsafat illuminasi juga di-“buktikan”. Ini dilakukan lewat suatu analisis diskursif yang ditujukan untuk membuktikan pengalaman dan membangun suatu sistem tempat pengalaman itu sudah berakhir.
Tahap terakhir adalah menurunkan filsafat illuminasi dalam bentuk tulisan. Tahap ini,d an tahap ketiga yang telah disebutkan di muka, hanya merupakan unsur-unsur filsafat illuminasi yang harus ktia akses. Para praktisi, murid jalanilluminasi, harus berperantara kepada kedua tahap pertama melalui pengalaman. Para murid yang mengikuti sikap Surahwadi akan mengalami “kehadiran” pengalaman mereka sendiri, apakah secara individu atau sebagai bagian suatu kelompok. Surahwadi mungkin telah (kita mengasumsikan demikian berdasarkan pada indikasi-indikasi dalam teks), mendiskusikan visi-visinya dengan murid-muridnya; jalan personal “kehadiran”-nya, akan berperan sebagai saksi bagi visi-visi semacam itu, dan manifestasi fisik, fenomena yang diselidiki, diasosiasikan dengan pengalaman visioner, yang digambarkan dalam  Hikmat al-Isyraq, telah disaksikan oleh seorang yang hadir. Apa yang harus kita akses adalah teks-teks yang dikatakan sebagai penggambaran simbolik tentang fenomena pengalaman visioner, dan kita harus menentukan apa yang mereka simbolkan.

3.4.3. Pandangan Surahwardi tentang Sejarah Filsafat

Akhir-akhir ini telah banyak ditulis tentang pandangan Surahwadi terhadap filsafat,d an umumnya ditekankan pada perannya sebagai pembangkit bentuk tertentu “kebijaksanaan” Iran yang dirancang dengan simbol pahlevi, atau fahlavani dan kiyani. Salah satu aspek penting pandangannya terhadap filsafat adalah sikapnya terhadap Aristoteles dan filsafat diskursif. Dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, Surahwadi secara eksplisit menegaskan bahwa filosof yang sempurna adalah orang yang mengkombinasikan kemampuan intuitif dengan metodologi diskursif. Surahwadi sendiri meyakini bahwa filsafat illuminasinya adalah suatu kombinasi yang sempurna semisal itu.
Plato diakui sebagai guru filsafat intuitif, dan ia dikatakan sebagai bagian dari tradisi panjang yang menggabungkan cabang Yunani-Mesir dengan cabang Iran, yang keduanya bersumber dari Hermes, “bapak para filosof”. Sementara Aristoteles diakui sebagai bapak filsafat diskursif. Surahwadi, melalui filsafat illuminasinya, menganggap dirinya sebagai pemersatu yang sempurna atas kedua bentuk filsafat tersebut. dalam pandangannya, peran filosof dalam sejaraha dalah sebagai orang “bijak” yang mengkombinasikan pengetahuan intuitif dengan metodologi diskursif, yang ia sebut sebagai filosof Ilahiah (al-hakim al-muta ‘allih),d alam posisinya sebagai pemilik “kebijaksanaan”. Orang bijaksana ini harus dianggap sebagai pemimpin (imam) masyarakat, kepemimpinan dalam suatu dimensi aktual, temporal atau esoterik dan spiritual. Kebijaksaan, dalam pengertian ini, adalah aa yang membedakan pemerintah yang baik dari pemerintah yang zalim dan korup. Karena itu, ajaran Aristoteles,d an filsafat Paripatetik secara umum, harus tidak dianggap sebagai suatu sistem filsafat yang jelas-jelas terpisah dari filsafat illuminasi, juga harus tidak dianggap sebagai bentuk tertentu filsafat ayng diyakini Surahwadi pada masa muda, atau hanya dalam sejumlah karyanya saja. kombinasi filsafat diskursif (hikmah bahtsiyyah) dan filsafat intuitif (hikmah dzawqiyyah), kombinasi yang dikatakan sebagai filsafat Illahiah (hikmah muta’allihah), adalah apa yang membedakan filsafat illuminasi baik dari teosofi mistisme quasilosofis.

4.  K E S I M P U L A N

Surahwadi telah menulis empat karya filsafat yagn penting. Dalam masing-masing karya tersebut ia menguraikan persoalan filsafat dalam bentuk yang sempurna, bahkan masing-masing karya membimbing kepada karya yagn lain,d an terdpat pernyataan-pernyataan yang eksplisit yang diberikan Surahwadi sendiri bahwa keempat karya tersebut saling terkait dan harus dibaca dalam suatu kaidah yang khas. Masing-masing karya mempunyai penekanan yang khas pada istilah, dan bahkan terdpat indikasi-indikasi tertentu bahwa Surahwadi mempunyai suatu tinjauan terhadap keempat karya tersebut ketika ia menulis masing-masing karya itu, dan indikasi lain bahwa seperangkat istilah, yang melengkapi kerangka konseptual karya-karyanya, telah dikembangkan. Kita telah tunjukan, berdasarkan pernyataan-pernyataan Surahwadi sendiri yang eksplisit, keempat karya tersebut adalah berkaitan dan utuh.
Hakikat hubungan yang rumit di antara keempat karya tersebut memerlukan suatu analisis terhadap proses pemikiran yagn diawali dengan al-Talwihat dan berpuncak pada Hikmat al-Irsyaq. Sejauh ini kita telah menyelidiki hubungan antara keempat karya tersebut berdasarkan pernyataan-pernyataan Surahwadi sendiri. Tugas kita berikutnya adalah menyelidiki kandungan karya-karya tersebut. tugas ini tidaklah mudah. Kita berhadapan dengan prsoalan yang “proses”-nya tidak begitu mulus. Ini bukan suatu proses yang dapat dilihat untuk mengawali, dengan menjelaskan ajaran Aristoteles dalam al-Talwihat, diikuti dengan menekankan beberapa persoalan yang secara tepat diselesaikan Aristoteles atau diabaikannya, dan akhirnya berakhir dengan teori yang baru, berbeda, sempurna, dan saling berhubungan yang diketengahkan dalam Hikmat al-Irsyaq. Kenyataannya, proses tersebut penuh dengan hambatan, pada saat tertentu,d an sangat sering mengandaikan bahwa beberapa hasil penting yang diketengahkan dalam Hikmat al-Irsyaq adalah kesimpulan-kesimpulan dari seri karya “sebelumnya”, atau bahwa mereka hanya dapat dipahami dalam istilah-istilah perkembangan mode pemikiran dari al-Talwihat melalui al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Apa yang menimbulkan kesulitan tersebut adalah gaya dan terminologi Surahwadi, yang kadang-kadang dikhususkan dalam buku tertentu tapi pada saat yagn lain berlaku bagi keempat karya tersebut. perubahan nyata dalam gaya semacam itu karena merupakan bagian dari eksperimen Surahwadi dengan gaya dan analisis filsafat. Ia menyelidiki suatu idea dalam seri karya terdahulu di dalam suatu kerangka konseptual, metodologi dan metafisika Paripatetik yang telah mapan, dengan menggunakan seperangkat terminologi teknis “standar”, tetapi dengan beberapa perubahan penting, dan baru menyelidiki suatu idea, bahkan idea yang sama, di dalam sebuah cara illuminationis, dengan mencoba menangkap esensi pengalalaman, “keakuan” wujud manusia, dalam kata-kata dan simbol-simbol. Kasus semacam itu ada dalam al-Talwihat, yang diduga sebagai karya yang sepenuhnya Aristoteles. Karena dalam karya ini tidak terdapat metode yang jelas untuk mendekati persoalan-persoalan itu. Sering tanpa peringatan, sebuah idea baru dilempar dan diselidiki dari tempat yang menguntungkan ajaran illuminasi.
Semua ini berarti bahwa kita harus sering membaca kembali keempat karya tersebut untuk memahami kesatuan pemikiran yang mendasari karya-karya tersebut. kita harus mempunyai hasil akhir analisis Surahwadi seperti diketengahkan dalam Hakikat al-Isyraq yang ada di depan kita untuk memahami sepenuhnya karya sebelumnya, yagn dalam gilirannya harus diselidiki dengan cermat jika kita ingin membuat pengertian konstruksi terakhirnya. Ini menuntut kita menyelidiki karya-karya filsafat penting dari dua sudut pandang. Kita harus menyelidiki masing-masing karya secara terpisah untuk menentukan kesatuan pemikirannya dan cara yang di dalamnya persoalan-persoalan filsafat, dan akhirnya kita harus menyelidiki karya-karya tersebut secara keseluruhan, dengan menilai mereka sebagai kesatuan yang sebenarnya untuk menemukan kembali pemikiran Surahwadi yang utuh. Setelah penyelidikan ganda semacam itu, kita berada dalam posisi mengemukakan penilaian yang bertalian secara logis atas filsafat illuminasi.

Sepanjang, 16 Mei 2020.