Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Google+ Followers

Senin, 28 Desember 2015

Al-Hallaj Ana al-Haqq dalam Kitab Thawasin

“Jadi Hakikat tetap hakikat dan
Segala yang diciptakan tetaplah makhluk;
Oh! Tinggalkan dan lampaui segala kemakhlukan tersebut
Agar engkau menjadi Hakikat itu sendiri.”
(Thasin : 3 : 8).
“Yang Benar tetap Yang Benar, Pencipta sebagai Khaliq, dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap selalu demikian
(Al-Hallaj, Kebun Ma’rifat : 16)
 ANA al-HAQQ
(Akulah Kebenaran)
Menyingkap Teosofi al-Hallaj
Oleh Gilani Kamran
Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya – Tahun 2001
Penyadur : Pujo Prayitno


SEKAPUR SIRIH
Dr. Mulyadhi Kartanegara

Al-Hallaj (w. 922 M.), dieksekusi (hukuman mati) telah kita maklumi bersama. Tetapi apa yang terjadi di balik peristiwa tragis itu tidak semua orang tahu. Oleh karena itu dalam sekapur sirih ini, saya ingin mencoba mengungkapkannya terutama dilihat dari sudut teologis dan politik.
Proses pengadilan Al-Hallaj berjalan cukup lama, dimulai pada tahun 2992 H./904 M. Dimana untuk pertama kali al-Hallaj mendapat tuduhan atas pandangan-pandangannya dan berakhir dengan hukuman matinya di tiang gantungan pada tahun 309 H./922 M. Jadi proses pengadilan al-Hallaj berlangsung kurang lebih 18 tahun. Tuduhan terhadap pandangan al-Hallaj dimulai pada tahun 904 M. Segera setelah ia kembali dari pemukiman dua tahunnya di Makkah. Adalah Qadhi Maliki, Abu Umar bin Yusuf di Baghdad yang menanyakan perihal Al-Hallaj kepada Ibnu Dawud, putra pendiri Madzab Zhahiri. Atas pertanyaan tersebut, Ibnu Dawud mengeluarkan fatwa berkenaan dengan pandangan Al-Hallaj, bahwa bisa terjadi hubungan cinta antara, manusia dengan Tuhan, yang mengatakan bahwa “Kalau yang Allah sampaikan kepada Rasul-Nya itu benar, maka apa yang Al-Hallaj katakan adalah salah.” Ibnu Dawud sangat keras dalam pernyataannya dan menyatakan halal untuk menghukum mati Al-Hallaj.
Qadhi Baghdad Abu Umar bin Yusuf ini tidak cepat-cepat memutuskan hukuman buat Al-Hallaj, tetapi berkonsultasi terlebih dahulu dengan fiqih Syafi’iyyah, Ibnu Suraij, yang tidak seperti Zhahiri, dimana ia memungkinkan penafsiran non literal terhadap al-Qur’an. Ibnu Suraij mengatakan : “Ia adalah seorang yang keadaan spiritualnya tersembunyi bagiku. Karena itu, aku tidak akan segera mengatakan apa-apa tentangnya.” Sikap Ibnu Suraij ini ternyata sangat berarti dalam menentukan pandangan hukuman tentang tasawuf, karena dengan pernyataan Ibnu Suraij ini kasus Al-Hallaj untuk sementara waktu ditangguhkan sampai beberapa tahun. Sampai sejauh ini ternyata tuduhan tersebut adalah berkenaan dengan pandangan Al-Hallaj, bahwa antara manusia dengan Tuhan bisa terjalin hubungan cinta, yang bagi penuduhnya itu berarti penyamaan Tuhan dengan manusia. Namun yang terjadi sejauh ini belum bisa kita sebut sebagai pengadilan yang sesungguhnya.
Pengadilan pertama yagn sesungguhnya terjadi tujuh tahun kemudian, ketika empat murid Al-Hallaj di tangkap di Baghdad dengan tuduhan mengikuti seseorang yang mengkalim Ketuhanan (Rububiyyah). Sementara Al-Hallaj melakukan persembunyian di Ahwaz dengan teman-temannya; di sini ia ditemukan oleh agen Pos Kekhalifahan pada tahun 301 H/913 M. Kali ini Al-Hallaj dituduh oleh Gubernur Rasibi telah mengaku Tuhan dan menyiarkan ajaran inkarnasi (al-hulul). Gubernur Wasitf, Hamid menginterogasi Al-Hallaj (mungkin di Wasith atau Ahwaj) dan menyimpulkan bahwa ia mengklaim sebagai “al-Mahdi”  yang memainkan peran al-Masih. Akhirnya Al-Hallaj di serej diseret ke Baghdad dengan diikat pada seekor unta. Selanjutnya Al-Hallaj dipenjara, dan tetap di sana sampai pengadilan terakhirnya yang dimulai tujuh tahun kemudian.
Pada tahun-tahun berikutnya Al-Hallaj tetap dipenjara, sebagian besar di istana. Kadang-kadang ia mengenakan belenggu yang berat tetapi kdang-kadang hidup dengan nyaman.
Tuduhan lain yang bersifat Teologis adalah bahwa Al-Hallaj telah mengklaim ketuhanan di dasarkan pada kepercayaan bahwa ia telah memiliki “karamah” yang bisa memberikan kehidupan dan kematian. Pada saat itu Al-Hallaj aktif menulis beberapa tulisan yang kemudian dihimpun menjadi Thawasin, dan juga semacam tafsir al-Qur’an yang ia tunjukkan kepada Ibnu Mujahid, ketua himpunan para Qari’. Dari karya tafsir ini Ibnu Mujahid menemukan ungkapan-ungkapan yang mencurigakan yang menyebut misalnya, “Tuhan-tahun” (Alihah) dan “Penguasa-penguasa” (Arhab). Ali bin Isa yang diserahi buku tafsir tersebut oleh Ibnu Mujahid merasa terkejut dengan isi kitab tersebut dan memerintahkan supaya buku-buku Al-Hallaj disita. Beberapa muridnya juga di tahan, dan tulisan-tulisan yang lainnya ditemukan, aiantaranya adalah Sirr al-Ilah (Rahasia Tuhan), yang menurut Ibnu Dhiya’ memuat lebih banyak pelecehan Agama, korporealisme dan bid’ah daripada yang dapat diuraikan lidah orang-orang beriman. Barangkali Al-Hallaj dituduh karena “teori persaksian” yang mengatakan bahwa “manusia tuhan” (divinized human) adalah saksi ketuhanan yang bersifat materi, yang berbicara dengan suara Tuhan.
Sementara para investigator (penyelidik) berusaha untuk menemukan beberapa bukti dalam paper-paper Al-Hallaj yang akan membenarkan hukuman mati. Sahabat Al-Hallaj yang sama-sama sufi, Ibnu ‘Atha’ menyulut orang-orang awam untuk turun ke jalan-jalan sambil berdo’a menghujat para penganiaya Al-Hallaj. Meski demikian, Sang Wazir Hamid berhasil meminta Ibnu “Atha’ sebagai saksi terhadap pengadilan Al-Hallaj untuk memberi komentar terhadap dua bukti yang ditemukan. Salah satunya adalah sebuah surat yang ditulis oleh Al-Hallaj yang dimulai dengan kalimat. “Dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada si Fulan dan fulan ......” Ketika ditanya, Al-Hallaj mengakui bahwa surat tersebut adalah suratnya. Dan atas dasar ini penanya mengatakan, “Dahulu engkau mengklaim menjadi seorang Nabi, tetapi kini engkau mengklaim sebagai Tuhan.” Namun Al-Hallaj menjawab, “Aku tidak mengklaim Ketuhanan, tetapi dalam istilah kami ini adalah persatun esensiasl.” “Dapatkah,” Al-Hallaj bertanya, “si Penulis menjadi selain daripada Allah, sedangkan aku dan tanganku tidak lain hanyalah alat dalam hal ini?” Yang terakhir dari pernyataan teologis (atau barangkali lebih tepat religius legal) yang membawa Al-Hallaj ke tiang salib adalah berkaitan dengan soal penggantian ibadah haji. Hamid yang selama ini yang mencoba memberi bukti : satu cuplikan ditemukan dimana Al-Hallaj mendukung mereka yang tidak mempu melaksanakan ibadah haji untuk membangun sebuah ka’bah tiruan di sebuah ruangan yang khusus, bertawaf pada hari-hari yang tepat serta mengakhirinya dengan memberi makan dan pakaian kepada anak-anak yatim. Dan ini akan merupakan pengganti dari ibadah haji. Akibat pernyataan ini Abu Hamid kemudian meminta dengan sangat sebuah putusan (verdict) tertulis, sehingga ia menulis bahwa darah Al-Hallaj halal menurut hukum, dan setelah itu menuliskan siapa-siapa yang hadir pada saat itu.
Hamis sang Wazir mengirim fatwa tertulis tersebut kepada Khalifah, seraya meminta dengan sangat konfirmasinya secara langsung sehingga hukuman mati bisa segera dilakukan. Meski pun demikian, pelaksanaan hukuman ditangguhkan Sang Khalifah untuk menghalangi pelaksanaan hukuman mati, tetapi sang khalifah akhirnya mengabulkan permintaan Sang Wazir Hamid, yang berkata kepada Khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, jika tidak dihukum mati, ia akan mengubah hukum agama, dans etiap orang akan murtad karenanya. Dan ini akan berarti kehancuran bagi negara. Izinkan aku untuk membunuhnya, dan jika ada akibat jelek apa pun menimpamu, bunuhlah aku.” Hasilnya telah sama-sama kita ketahui. Hukuman mati dilaksanakan dua hari kemudian, ketika mereka mendera Al-Hallaj dengan seribu cambukan, memotong kedua tangan dan kakinya serta menggantungnya, membakar tubuhnya dan melemparkan debunya ke Sungai Tigris. Ini terjadi pada tahun 922.
Itulah beberapa tuduhan yang bersifat teologis ( dan legal) yang telah membawa Al-Hallaj pada kematiannya yang tragis. Kini kita beralih pada faktor kedua yang telah menymbang pada pembunuhan Al-Hallaj. Politik di latar belakang pembunuhan ini terlihat di bawah bayang-bayang kepentingan pertentangan politik, terutama antara pendukung Syi’ah dan Sunni. Situasi politik pada saat itu adalah bahwa yang berada di puncak kekuasaan adalah Sang Khalifah yang Sunni, sedangkan banyak para pembesar negara menganut paham Syi’ah, yang pada saat itu sedang naik daun. Gerakan-gerakan politico religius juga sedang gencar-gencarnya dilancarkan, seperti Isma’iliyah dan Qarmathiyah di Iraq dan Bahrain.
Yang menjadi Khalifah pada saat itu adalah al-Muqtadir, sedangkan bendaharawan Ahwaz dan Wazir adalah Syi’ah Ibnu al-Furat, sementara sekretaris terkemuka di Baghdad juga seorang penganut Syi’ah. Keluarga-keluarga Syi’ah seperti Bani Naubakht dan Bani Furat telah masuk secara politik ke dalam pemerintahan, yang keabsahannya mereka tolak secara rahasia. Jadi pada dasarnya mereka juga tengah berusaha memperlemah keududukan kekhalifahan.
Tidak heran kalau kasus Al-Hallaj penuh dengan nuansa politik dan teologis, karena Al-Hallaj sendiri dipandang berbahaya oleh para pembesar Syi’ah, disebabkan dalam beberapa hal ia sangat bertentangan dengan kepentingan gerakan bahwah tanah Syi’ah. Tetapi untuk menimbulkan antipati masyarakat, maka Al-Hallaj justru dituduh sebagai agen Qarmathiyah, yang ajaran-ajarananya sangat bertentangan dengan ortodoksi mayoritas Sunni. Itulah sebabnya ketika pada tahun 913 H. Al-Hallaj diseret ke Baghdad dengan unta, sang penyeret berteriak “Lihatlah sang utusan Qarmathiyah!”.
Tentu saja ungkapan di atas bukan tanpa alasan, karena dalam tulisan-tulisannya yang ditemukan, Al-Hallaj memang kadang menggunakan istilah-istilah yang sering dipakai oleh kaum Qarmathiyah. Misalnya, ia menggunakan istilah Nur Sya’sya’ani (cahaya yang cemerlang), yagn merupakan istilah khusus dalam kamus gnostik Qarmathiyah, dan ia perkenalkan dalam bentuknya yang sudah dimodifikasi ke dalam tasawuf. Tetapi tentu saja ini tidak cukup untuk menuduhnya sebagai agen Qarmathiyah. Ia menggunakan istilah ini dalam tulisan-tulisannya semata-mata sebagai sarana komunikasi, mengingat kebanyakan pekerja pertanian di sekitar Baghdad dan kepada siapa ia sering menyampaikan ajaran-ajarannya adalah kaum Qarmathiyah.
Al-Hallaj jelas bukan Syi’ah, karena Al-Hallaj dan para pengikutnya terkenal dengan pengabdiannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, r.a. yagn oleh kaum Syi’ah ekstrim dikutuk telah merampas ekkhalifahan dari Ali, r.a. Dan yang lebih penting lagi, ajran-ajran Al-Hallaj tentang kontak pribadinya secara langsung dengan Tuhan, betul-betul bertentangan dengan struktur kewenangan hirarkis kelompok-kelompok Syi’ah ekstrim. Tetapi mengapa tuduhan agen Qarmathiyah diberikan kepadanya? Di sinilah unsur politik mucnul dengan cukup jelas. Dukungan Al-Hallaj terhadap Bani Abbasiyah dan klaim kontak personalnya dengan Tuhan dipandang oleh para penguasa Syi’ah yang sedang mencari peluang untuk merebut kekusaan dari tangan Khalifah – yang telah mengalami kemunduran  - tidak menguntungkan, bahkan bisa menjadi rintangan yang cukup penting, dan oleh karena itu perlu segera disingkirkan. Bagi Bani Naubakht dan Bani al-Furat, Al-Hallaj dianggap menjijikan baik sebagai seorang perampas politik maupun berbagai pesaign spiritual yang menurut mereka merupakan hak khusus bagi para wali turunan Ali.
As-Suli mengatakan bahwa sementara Bendaharawan negara, Nashr, mencoba menyelamatkan Al-Hallaj, para sekretaris Syi’ah (Rafidhah) ingin membunuhnya. Karena itu dapat kita mengerti sekrang bahwa tuduhan Al-Hallaj sebagai agen Qarmathiyah dirancang untuk menimbulkan prasangka yang merugikan Al-Hallaj dan memudahkan jalan bagi hukuman matinya. Di samping itu juga ada sebuah faksi kuat yang secara diam-diam memobilisir dirinya melawan Al-Hallaj sebagai bagian dari perjuangan kekuasaan istana.

DAFTAR   -   ISI

SEKAPUR SIRIH (Dr. Mulyadhi Kartanegara)
Pengantar (Louis Massignon)
I Biografi Al-Hallaj
II Karya-karya Utama (Yang Telah Diterbitkan).
III Tuduhan-tuduhan Utama
IV Signifikansi Pengalaman Mistik dan Musyahadah
V Kosa kata dan Istilah Teknis
VI Madzab Sekte-sekte Hallajiyyah
VII Penilaian-Penilaian tentang Sikap Al-Hallaj
PRAKATA
Meninjau kembali Ana Al-Haqq
KITAB THAWASIN
THASIN I : KITAB TENTANG BENTUK CAHAYA
THASIN II : KITAB TENTANG PEMAHAMAN
THASIN III : KITAB TENTANG INFORMASI
THASIN IV : KITAB TENTANG LINGKARAN
THASIN V : KITAB TENTANG TITIK
THASIN VI : KITAB TENTANG ADAM A.S.
THASIN VII : KITAB TENTANG KEHENDAK TUHAN
THASIN VIII : KITAB TENTANG TAUHID
THASIN IX : KITAB TENTANG MISTERI
THASIN X : KITAB TENTANG TRANSENDENSI
THASIN XI : KITAB TENTANG KEBUN MA’RIFAT

P E N G A N T A R
Louis Massignon

Al-Hllaj (Pemintal Benang), Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur bin Muhammad al-Baidhawi (244 -309 H/857 -922 M.), adalah seorang teolog sufi yang berbaha Arab. Kehidupan, ajaran dan kematiannya memberi pencerahan dalam periode penting sejarah kebudayaan Islam, dan pengalaman batiniah yang ia gambarkan dapat dianggap sebagai saat yang menentukan dalam sejarah tasawuf.

I.
BIOGRAFI AL-HALLAJ

Asal-usul. Al-Hallaj dilahirkan di sekitar tahun 244 H./857-8 M. Di Thur, sebelah Timur Laut  Baidha di Persia. Di Thur, dialek Persi yang digunakan; Baidha’ adalah kota Arab di mana Sibawaih dilahirkan. Hal ini perlu dikatakan karena al-Hallaj adalah cucu seorang  gabr dan keturunan dari Abu Ayub, sahabat Nabi saw. Ayahnya, yang mungkin seorang pemintal benang, meninggalkan Thur menuju wilayah tekstil yang terbantang dari Tustar sampai Wasith ( di atas Sungai Trigis), suatu kota yang didirikan oleh orang-orang Arab, dengan dominasi Kaum Sunni-Hanbali (dengan wilayah pinggir yang dihuni minoritas ekstrimis Syi’ah) dan merupakan pusat madrasah terkenal di kalangan Qura’ (pembaca al-Qur’an). Di Wasith, al-Hallaj kehilangan kemampuan berbicaranya dalam bahasa Persi. Sebelum berusia 12 tahun, ia belajar menghafalkan al-Qur’an dan menjadi seorang Hafiz. Ia mula-mula berusaha mencari makna batiniah dari ajaran-ajaran surat al-Qur’an dan menerjunkan diri ke dalam Tasawuf di madrasah Sahl at-Tustari.
Di Basrah. Ketika berusia dua puluh tahun, al-Hallaj meninggalkan Sahl at-Tustar menuju Basrah. Di sini ia memperoleh tradisi para Sufi dari Amr al-Makki dan menikahi Ummu al-Husain, putri Abu Ya’qub al-Aqtha’. Sepanjang hidupnya, al-Hallaj hanya mempunyai seorang istri serta dianugerahi tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Perkawinannya menimbulkan kecemburuan dan perlawanan dari ‘Amr al-Makki. Ketika ia tidak ada di rumah, al-Hallaj menitipkan keluarganya kepada saudara iparnya, seorang Karnaba’i. Melalui saudara iparnya ini, al-Hallaj bisa berhubungan dengan klan yang mendukung para pemberontak Zaidi dari Zanj, yang telah dicemarkan oleh kalangan ekstrimis Syi’ah, dalam beberapa tingkatan, mungkin inilah asal mula dari kegigihannya, tetapi reputasinya tetap dikenal bahwa ia bukanlah seorang dai atau “mubaligh Syi’ah”. Dari periode ini, ia memelihara beberapa keingintahuhannya dan memperlihatkan ekspresi Syi’ah, tetapi tetap melanjutkan ke Basrah untuk membina kehidupan zuhud dengans sangat kuat dan tetap meyakini  secara mendalam ajaran Sunni. Al-Hallaj kemudian pergi ke Baghdad untuk berdiskusi dengan seorang sufi terkenal, al-Junaid, namun atas saran al-Junaid dan kelelahan akibat konflik yang terus ebrlangsung antara mertuanya, al-Aqtha’ dengan Amr al-Makki, ia pergi ke Makkah segera setelah pemberontakan Zanj meletus.
Ibadah Haji Pertama. Di Makkah al-Hallaj menjalankan hajinya yang pertama, dan berjanji menyelesaikan umrahnya selama satu tahun di dalam halaman Masjidil Haram dengan berpuasa dan berdzikir. Dalam suasana seperti ini al-Hallaj berusaha menurut caranya sendiri menyatu dengan Allah swt., dan, berlawanan dengan disiplin sirr (kerahasiaan), mulai menyerukan penyatuannya tersebut. ‘Amr al-Makki kemudian memutuskan hubungan dengannya, meski al-Hallaj mulai menarik pengikut-pengkutnya.
Khuzistan, Khurasan dan Keberangkatan dari Tustar. Setelah kembali ke Khuzistan, al-Hallaj mulai menanggalkan baju gamis panjang kesufiannya dan kemudian memakai “jubah” (mungkin qaba, yakni baju besar yang baisa dipakai kalangan prajurit) agar berbicara dan berdakwah secara lebih leluasa. Inilah permulaan perwaliannya  dimana tujuan utamanya adalah utuk membuat setiap orang dapat menemukan Allah swt. di dalam jiwanya sendiri, karenanya al-Hallaj diberi julukan al-Hallaj al-Asrar (“pemintal hati nurani”) yang membuatnya dicurigai dan dibenci serta dijadikan polemik di antara para Sufi. Beberapa kaum Sunni dan sebagian orang Kristen awal yang menjadi pejabat negara di Baghdad, mulai menjadi pengikutnya. Tetapi kalangan Mu’tazilah dan Syi’ah yang menjadi petugas negara, menuduhnya sebagai penipu dan menentangnya. Al-Hallaj pergi ke Khurasan untuk melanjutkan dakwahnya di antara koloni-koloni Arab di sebelah Timur Iran dan menetap di sana selama lima tahun, berdakwah di kota-kota dan tinggal beberapa lama di perbatasan bentang-benteng pertahanan yang menjadi markas para pejuang sukarela saat pecah “Perang Suci”. Al- Hallaj kembali ke daerah Tustar, dan melalui bantuan Sekretaris negara, Hamid Kunna’i, ia berhasil membawa keluarganya menetap di Baghdad.
Ibadah Haji Keuda, Perjalanan Jauh, Ibadah Haji ke Tiga. Bersama empat ratus pengikutnya, al-Hallaj kemudian menjalankan ibadah haji keduanya ke Makkah, di mana beberapa kawan lamanya dari kalngan sufi menuduhnya menggunakan magic dan ilmu sihir serta membuat perjanjian dengan para jin. Setelah haji keduanya inilah ia melakukan perjalanan panjang ke India (Hinduisme) dan Turkistan (Manicheisme dan Buddhisme) di bawah kekuasaan dar al-Islam. “Au de la de la Communaute musulmane,c’est a toute I’humanite qu’il pense pour lui communicuer cecurieux fesir de Dieu, patient at pudique, qui de lors le caracterise ...” (L-Massignon). Sekitar 290 H,/902 M. al-Hallaj kembali ke Makkah untuk menjalankan ibadah hajinya yang ketiga sekaligus terakhir. Ia kembali ke sana dengan mengenakan muraqqa’ah (sehelai kain tambalan yang menutupi bahunya), dan futha (sejenis kain celana India) yang melingkar di pinggangnya. Doanya ketika wuquf di Arafah adalah semoga Allah swt. menguranginya agar menjadi tiada, menjadikan dirinya direndahkan dan di tolak, sehingga hanya Allah-lah Yang berada di dalam jiwa dan bibir hamba-Nya.
Seruan terakhir di Baghdad. Setelah kembali kepada keluarganya di baghdad, al-Hallaj membangun sebuah model Ka’bah di dalam rumahnya, dan berdoa di tengah malam di samping makam, dan apda siang hari ia amengumandangkan jalan atau mabuk cintanya keapda Allah dan keinginannya “untuk meninggal secara terhina demi kaumnya”. “Wahai kaum Muslimin, selamatkan aku dari Allah!” ..... “Allah telah membuat darahku menajdi halal untuk engkau, maka bunuhlah aku..... !” Seruan ini memunculkan banyak emosi dan memicu kecemasan  di kalangan terdidik. Seorang Zhahiri, Muhammad bin Dawud marah ketika al-Hallaj mengumumkan penyatuan mistiknya dengan Allah: ia meminta agar al-Hallaj diseret ke pengadilan, dengan melakukan provokasi agar al-Hallaj dihukum mati. Tetapi fuqaha Syafi’i, Ibnu Suraij menyatakan, bahwa inspirasi mistik itu di luar ketentuan fiqih. Pada periode inilah, menurut pakar nahfu (gramatika) di Bashrah, ketika di dalam masjid al-Manshur, al-Hallaj menjawab asy-Syibli, dengan ungkapan Syath (“frase teofanik’)-nya yang terkanal “ “Ana al Haqq (‘Akulah Kebenran”), yang mengumumkan bahwa ia tidak mempunyai “Aku” lain selain Allah swt.
Penahanan. Suatu gerakan massa untuk reformasi moral dan politik bergolak di Baghdad, setelah memperoleh inspirasi dari dakwah al-Hallaj dan dari mereka yang jujur yang telah melihat apdanya “Quthb” (Orang yang paling dekat dengan Allah), tersembunyi di dalam diri al-Hallaj. Ia menyerahkan beberapa buku penting menggenai tugas-tugas kementerian keapda Ibnu Hamdan dan Ibnu Isa. Tahun 296 H./908 M., beberapa kativis reformasi Sunni ( di bawah pengaruh seorang Hanbali, Barbahari) telah melakukan usaha yang tak berhasil dalam merebut kekuasaan dan mengangkat Ibnu al-Mu’taz menjadi khalifah. Mereka ternyata gagal, dan Khalifah muda  al-Muqtadir, memulihkan kembali pejabat finansialnya yagn Syi’ah, Ibnu Furat. Akibatnya, al-Hallaj menerima perlakuan represif dari orang-orang yang bersikap anti Hanbali, tetapi ia berhasil menyelamatkan diri menuju Sus di Ahwaz, kota dengan mayoritas pengikut dari kaum Hanbali, walau pun empat orang pengikutnya di tahan. Tiga tahun kemudian, al-Hallaj sendiri ditahan dan di bawa kembali ke Baghdad sebagai korban kebencian Hamid seorang pengikut Sunni. Al-Hallaj dimasukkan penjara selama sembilan tahun.
Pemenjaraan. Tahun 301 H./913 M. Menteri Ibnu Isa, saudara sepupu dari salah seorang pengikut al-Hallaj, akhirnya menyudahi pengadilan terhadap al-Hallaj dan pengikut-pengikutnya yang turut meringkuk dalam penjara dilepaskan. Sayangnya, karena provokasi rrepresif dari musuh-musuh al-Hallaj dengan dukungan dari kepala Polisi yang juga menjadi lawan Menteri Ibnu Isa, maka al-Hallaj dihukum selama tiga hari dengan dipasang plakat bertuliskan “agen Qarmathiyah” di atas kepalanya. Al-Hallaj kemudian dibawa ke suatu tempat dimana ia sempat memberi ceramah kepada kalangan narapidana lainnya. Tahun 303 H./915 M. Al-Hallaj merawat khalifah yang sakit demam, dan 305 H.  Ia “menghidupkan kembali pangeran putra mahkota. Kaum Mu’tazilah lantas mengumumkan “ajaran perdukunan”-nya. Menteri Ibnu Isa yang mengagumi al-Hallaj, pada tahun 304 – 6 H. Digantikan oleh Ibnu Furat yang anti Al-Hallaj. Namun pengaruhd ari ibu ratu mencegah menteri baru ini membuka kembali pengadilan terhadap Al-Hallaj. Tampaknya, bahwa dua karya utama Al-Hallaj berasal dari periode ini : Thasin al-Azal, sebuah perenungan tentang iblis, “sang monoteis yang tidak patuh”, dan karya pendeknya yang ebrjudul “Mi’raj Nabi Muhammad saw., yang berhenti di sidratul muntaha, sejauh dua busur panah dari Esensi Tuhan.
Perenungan tersebut mengutuk penolakan iblis dan menyatakan bahwa di bawah pengalaman Muhammad, maka akan diperoleh suatu kesatuan cinta antara manusia dan Allah swt. Tampaknya hal ini menjawab ekstrimis Syi’ah, asy-Syalmaghani yang menganggap bahwa kepercayaan dan ketidakpatuhan, kebaikan dan kejahatan, pemilihan dan pengutukan, semuanya itu adalah muqabal (“pertentangan terkait”) sesuai dengan Kehendal Allah. Asy-Syalghani mempunyai pengaruh kuat dipengadilan Baghdad dan bahkan ketika masa pengadilan terhadap Al-Hallaj.
Penjatuhan Hukuman. Pengadilan terhadap Al-Hallaj dan kasusnya dibuka kembali 308-9H./921-2 M. Latar belakang pengadilan ini adalah adanya spekulasi keungan Hamid yang ditentang oleh Ibnu Isa. Untuk menghancurkan pengaruh Ibnu Isa, Hamid membuka kembali pengadilan terhadap Al-Hallaj. Kali ini ia dibantu oleh Ibnu Mujahid, pemimpin terkemuka dari kumpulan qura’ sekaligus sahabat dari Sufi Ibnu Salim dan asy-Syibli, tetapi ia bersikap menentang Al-Hallaj. Kaum Hanbali, berkat dorongan dari seorang Hanbali sendiri sekaligus pakar tasawuf Ibnu ‘Atha’, melakukan demontrasi dan doa bersama menentang Hamid, baik protes menentang kebijakan keuangannya mau pun untuk tujuan menyelamatkan Al-Hallaj. Mereka bahka melakukan demonstrasi menentang ath-Thabari yang mengutuk pemberontakan. Kekacauan ini membuat menteri Hamid berpeluang mengajukan Ibnu ‘Atha’ di depan pengadilan. Tetapi Ibnu ‘Atha’ menolak untuk memberikan kesaksian menentang Al-Hallaj dan bersikukuh bahwa pejabat negara tidak berhak untuk menghakimi perilaku “orang-orang suci (para wali)”. Ia diperlakukan secara kasar oleh seorang aparat selama masa pemeriksaan dan wafat akibat pukulan-pukulan yang ia terima.
Hamid dan seorang Hakim (Qadhi) Maliki, Abu Umar bin Yusuf, yang selalu mendukung mereka yang sedang berkuasa pada masa itu, merekayasa proses pengadilan untuk menghukum Al-Hallaj. Al-Hallaj telah ebrkata, “Hal yang penting adalah melakukan tujuh kali putaran mengitari Ka’bah dalam kalbu seorang hamba.” Oleh akrena itu, mereka menuduh Al-Hallaj sebagai Qarmathiyah yang ingin menghancurkan Ka’bah di Makkah. Tidak ada seorang pengikut Syafi’i pun yang hadir di pengadilan itu. Seorang Qadhi Hanafi menolak untuk memberikan keputusan, tetapiasistennya menyetujui untuk mendukung Abu Umar, dan sejumlah saksi bayaran berhasil dalam mengumpulkan delapan puluh empat tanda tangan. Duduk dalam persidangan Abu Umar, dengan didorong oleh hamid, menetapkan keputusan : “Hukum mengharuskan untuk membunuhmu.”
Pelaksanaan Hukuman. Selama dua hari bendahara utama Nashr dan ibu ratu memohonkan ampunan kepada Khalifah, yagn pada saat itu terserang demam, agar membatalkan eksekusi. Tetapi intrik-intrik dari kalangan pejabat negara mengalahkan kebimbangan al-Muqtadir yang apda saat itu meninggalkan sebuah pesta makan, menandatangani surat perintah untuk mengeksekusi Al-Hallaj. Pada 23 Dzulqa’idah, bunyi terompet-terompet mengumumkan akan dilaksanakannya eksekusi tersebut, Al-Hallaj diserahkan kepada kepala polisi, dan pada sore hari dalam penjara ia meminta disiksa sampai mati dan meramalkan kebangkitan serta kejayaannya di kemudian ahri. Mereka yang mendoakan Al-Hallaj, yang mengutuk peristiwa tersebut dan menurunkannya, mengelompok dalam Akhbar al-Hallaj.
Pada 24 Dzulqa’idah, di pintu Khurasan “di hadapan ribuan massa”, Al-Hallaj --- dengan sebuah mahkota di kepalanya – dipukuli, sekarat, dan dipertontonkan, masih hidup, di tiang salib, sementara itu para perusuh membakar toko-toko, musuh-musuh dan teman-teman menanyainya saat digantung di tiang salib, dan keyakinan-keyakinannya (tradisi0tradisinya) menjelaskan bahwa beberapa jawaban yang diberikannya. Surat perintah khalifah untuk pemenggalan ini belum sampai hingga matahari terbenam, dan pada kenyataannya eksekusi akhirnya ditunda sampai hari berikutnya. Selama malam hari tersebar laporan-laporan mengenai keajaiban-keajaiban dan peristiwa-peristiwa supranatural. Di pagi hari, menurut at-Tustari, mereka yang telah menandatangani penghukumannya, yang berkerumun di sekitar Ibnu Mukram, berteriak, “Demi Islam, biarkan darahnya mengalir di kepala kami!” Kepala Al-Hallaj lepas, tubuhnya disiram minyak dan di bakar; dan debu-debunya dibuang ke Sunga Tigris dari atas sebuah menara (27 Maret 922 M.).
Para saksi melaporkan bahwa kata-kata terakhir yang terlontar dari Al-Hallaj selagi disiksa adalah, “Cukuplah bagi pecinta (Sang Kasyf), membuat Yang Satu itu Satu, keberadaannya harus disingkirkan dalam cinta (Kesatuan),” yang merangkum tauhid sejati, yang dititahkan Tuhan dalam hati kekasih-Nya; dan kemudian ia mengutip ayat al-Qur’an, Q.s. XLII : 18.

II.
KARYA-KARYA UTAMA
(YANG TELAH DITERBITKAN)

(1) Dua puluh tujuh riwayat, yang dikumpulkan oleh murid-muridndya pada sekitar tahun 290 H./902 M., dalam bentuk Hadits Qudsi, (2) Kitab ath-Thawasin, sebuah seri dari sebelas karya pendek al-Hallaj (termasuk Thasin al-Azal); (3) Beberapa puisi yang dikumpulkan dalam Diwan d’al-Hallaj; (4) Beberapa logia dan terutama novissima verba tentang mi’raj, yang dikumpulkan dalam Akhbar al-Hallaj.
(Untuk tulisan-tulisan al-Hallaj lain dan pembahasan mengenai keasliannya, lihat L. Massignon, Kitab ath.Thawasin, pendahuluan i-iv, Passion d’al-Hallaj, hlm, 804-22, Diwan d’al-Hallaj, edisi 1931, hlm. 1-9; dan Opera Minora, Beirut 1963, ii, hlm. 40-5 dan 191).

III.
TUDUHAN-TUDUHAN UTAMA

Pengadilan terhadap al-Hallaj terjadi dengan latar belakang intrik-intrik keagamaan dan politik, dan berkaitan dengan kebijakan finansial yang mengganggu kekuasaan Baghdad selama masa pendek (pemerintahan) al-Muqtadir. Ini menggambarkan posisi dinasti Abbasiyah apda awal abad ke-4/10 dan peran yang dimainkan di dalamnya oleh para pejabat tinggi negara yang dipersatukan oleh kepentingan-kepentingan bersama. Dua lawan utama al-Hallaj adalah pejabat Syi’ah, Ibnu al-Furat dan pejabat Sunni, Hamid. Semua nasihatnya dalam keadaan mabuk cinta di Baghdad ini menekankan penerapan secara dratis nilai-nilai keyakinan pada kehidupan jiwa dan pernyataan kesatuan dalam cinta antara jiwa dan tuhan : semua ini dalam kerangka sebuah ddogma yang menekankan secara ketat ketaatanSunninya. Sayang, nasihat-nasihatnya itu sampai pada telinga-telinga tuli, tidak hanya di antara rantai-rantai politik pengadilan, tetapi juga dalam dunia fuqaha (ahli hukum), yang sebagian besar dari mereka adalah kalangan Maliki dan Hanafi. Cukup mengherankan bahwa pendukung-pendukung terkuat al-Hallaj direkrut di antara kaum Hanbali, yang kesalahannya pada saat itu memiliki pengaruh yang besar di kalangan masyarakat umum. Tuntutan-tuntutan al-Hallaj akan reformasi formal, dan pengaruhnya apada rakyat mengganggu banyak kalangan penguasa. Mereka mendasarkan tuduhan mereka pada dua dalih, yakni keagamaan dan politik sebagai berikut :
(a). Dalih Keagamaan : Ucapan-ucapan al-Hallaj mempertanyakan kebijaksanaan esoteris dan disiplin sirr yang telah menjadi peraturan dalam jaringan-jaringan Sufi sejak masa ketika an-Nuri dan para pengikutnya dipanggil untuk memberikan sebuah penjelasan di hadapan pengadilan mengenai pengajaran mereka tentang cinta Tuhan. Salah satu akibatnya adalah bahwa para Sufi seperti ‘Amr al-Makki dan al-Junaid yang merupakan teman-teman al-Hallaj menyalahkan al-Hallaj karena telah berbicara di depan umum mengenai pengalaman pribadinya dan mengekspresikannya dalam “pernyataan-pernyataan teopatis” (syahadat)’ selain itu, beberapa akecenderungan Sufi yang agak membingungkan, kecenderungan-kecenderungan mengenai “Cinta Udhari”, merasa bahwa meraka harus mengutuk pencarian Yang Esa melalui cinta ikhlas dan jalan penderitaan. Ini mungkin satu-satunya penyebab mengapa seorang Zhahiri, Ibnu Dawud menajdi musuh al-Hallaj, yang bertekad menghancurkannya. Kemudian al-Hallaj juga ditutuh melakukan fitnah dan membuat pernyataan-pernyataan pada hulul (kesatuan substansial dengan Tuhan); dan keinginannya untuk memberikan makna batin terhadap ibadah-ibadah ritual (“berjalan tujuh kali mengitari Ka’bah dalam hatimu”) dinyatakan sebagai kehendaknya untuk menghapus ibadah-ibadah tersebut.
(b) Dalih Politik : Ini mungkin yang paling jelas dan menentukan. Perkawinan al-Hallaj telah menghubungkannya dengan Zaidi Zenj; perjalanan perjalanan jauhnya membuatnya nampak seperti seorang dai atau mubaligh Qarmathiyah; serta bahasa yang ia gunakan, dan bahkan tema-tema meditasinya memang meminjam sejumlah elemen Syi’ah, meskipun jawaban-jawabannya pada kerumitan mengenai persoalan ini tetap dipengaruhi oleh inspirasi Sunni yang mendalam. Para penuduhnya, yang takut atas pengaruh al-Hallaj terhadap rakyat dan para anggota keluarga istana, kemudian meutuskan untuk mengajukannya sebagai seorang penghasut dan pemberontak yang mengancam tatanan masyarakat. Sebuah penjelasan literal yang keliru tentang beberapa perkataannya (lihat di atas) menuduhnya berkeinginan, seperti kalangan Qarmathiyah, untuk menghacurkan Ka’bah di Makkah. Oleh karena itu, darahnya sudah dihalalkan “untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.”

Pada kenyataannya, selama masa-masa terakhir kehidupannya, al-Hallaj tampaknya telah membawa dirinya ke dalam penyiksaan dan pengutukan – tetapi dengan alasan-alasan yang sangat berbeda; mengetahui bahwa cara penyatuan dengan Tuhan melalui cinta dan penderitaan yang harus ia ikuti adalah sesuatu yang melampaui kerangka yuridis masyarakat, dan menawarkan dirinya sendiri sebagai korban untuk masyarakat ini dengan cara menyerahkan diri secara sukarela pada hukum-hukum nya.

IV.
SIGNIFIKASI PENGALAMAN MISTIK DAN MUSYAHADAH

Dalam sejarah tasawuf, al-Hallaj mempertahankan sebuah posisi penting dalam aliran yang dikenal sebagai Wahdat asy-Shuhud. Terkadang dinyatakan bahwa frase ini harus diterjemahkan sebagai “kesatuan visi” atau “kesatuan pandangan” (dengan mengacu pada arti bentuk ketiga dari akar syahadah); atau lebih tepatnya, “kesatuan wujud”. Tetapi Syuhud beranr-benar berarti aksi berada pada, menjadi saksi terhadap, dan kita menganggapnya cukup tepat untuk mempertahankan arti “kesatuan kesaksian” (atau “monisme testimonial!”). Wahdat asy-Shuhud bukan hanya “penglihatan” atau “pandangan”, tetapi sebuah keberadaan aktual yang merupakan kesaksian total; penyaksian Tuhan pada Diri-Nya Sendiri dalam hati pecinta-Nya (abid). Penyatuan dengan Tuhan ini (jam’) mengarah pada penyatuan (ittihad) yang bukan merupakan sebuah penyatuan substansi, tetapi (penyatuan yang ) beroperasi melalui aksi keyakinan dan cinta (‘Isyq, mahabbah), yang hadir dalam Kedirian Sang Tamu (Tuhan) Pengasih, “Intisari yang Esensi (-Tuhan) adalah Cinta,” sebagaimana diungkapkan oleh al-Hallaj.
Kemudian pengalaman mistik ini dipahami dengan kritikan tajam oleh aliran Sufi lain, yaitu Wahdat al-Wujud (‘Kesatuan Wujud” atau “Monisme Eksistensial”) yang dominan dari abad 6-7/12-3. Sebuah penolakan ganda dibuat :
(1) Sebuah penolakan pada ide hulul, penyerapan substansi, “Inkarnasi”, ---- ini merupakan bagian dari salah satu tuduhan di pengadilan. Al-Hallaj sebenarnya telah menulis : “Jiwa-Mu telah menyatu dengan jiwaku seperti campuran-campuran bercahaya dengan bahan wewangi yang harum,” dan yang terutama, “kita adalah dua ruh yang menyatu (halalna) dalam satu tubuh.” Tetapi seluruh konteks dari puisi dan tulisannya memperjelas bahwa hulul di sini tidak harus diartikan dalam makna, yang kemudian menjadi “inkarnasi” atau kesatuan substansi. Dalam pengertian yagn paling jelas hulul dari konsepsi al-Hallaj harus dipahami sebagai sebuah penaytuan penuh yang dikehendaki (dalam cinta), dimana kecerdasan dan kehendak subyek – yang semuanya pada hakikatnya memungkinkannya untuk berkata, “Aku” – dijalankan menurut Kasih Tuhan. Jadi “Kita adalah dua ruh yang menyatu dalam satu tubuh,” harus diperbandingkan dengan perkataan mistik Kristen Yohanes mengenai salib : “Dua alam (Tuhan dan Manusia) dalam satu jiwa dan Cinta Tuhan.”
(2) Dari sini muncul penolakan kedua yang paling kuat yang ditujukan kepada al-Hallaj oleh Wahdat al-Wujud, yang menyatakan seperti yang diekspresikan oleh Ibnu “arabi, bahwa ia mempertahankan dalam jam’ dan ittihad sebuah “dualisme”. Monisme “kesatuan wujud” pada kenyataannya bermaksud bahwa ittihad harus beroperasi tidak melalui hulul, tetapi melalui sebuah penggantian total “Aku” empiris oleh “Aku” Tuhan. Untuk menjadi “satu” (ahad) dengan Tuhan berarti menghidupkan keilahian dimana ruh manusisa terpancar dari Tuhan. Tuduhan “dualisme” yang ditujukan pada “kesatuan saksi: ini mengungkapkan perbedaan dalam orientasi di antara dua cara : Penyatuan dalam dan melalui amalan-amalan batin serta cinta (kesaksian tertinggi), menurut Wahdat asy-Syuhud; dan penyerapan kembali aksi-aksi keberadaan yang diciptakan dalam aksi keberadaan pertamanya (di sini dilihat muncul dari keberadaan Tuhan) menurut Wahdat al-Wujud.

V.
KOSA KATA DAN “ISTILAH TEKNIS”

Tulsian-tulsian penting al-Hallaj adalah meditasi-meditasi tentang tema-tema yang menyimbolkan kemajuan seorang Sufi dalam usahanya mencari Tuhan dan ekspresi langsung (puitis)-nya menganai kemajuan aktual ini. Ia terus menerus membuat kosa katanya lebih tepat; pengetahuannya yang mendalam tentang ksoa kata teknis dalam fiqih, ilmu kalam dan filsafat secara bersama-sama menghasilkan sebuah perlengkapan semantik yang sangat sesuai dengan analisa “keadaan-keadaan spiritual” 9ahwal). Al-Hallaj adalah seorang dialektisian dan ekstatis yang berusaha mengajukan dogma sesuai dengan filsafat Yunani yang berdasarkan pada pengalaman mistik; dalam hal ini ia adalah perintis aliran al-Ghazali.
Dalam bagiant erakhir dari Kitab at-Ta’rrruf, al-Kalabadzi menggunakan beberapa bab untuk membahas ishthilahat (“istilah-istilah teknis”) Sufisme. Definisi-definisi dari istilah-istilah ini secara jelas didasarkan kepada al-Hallaj : yaitu Wujd (“kegembiraan”), Sukr (“mabuk cinta”), jam’ (“penyatuan”) dan lain-lain, dan terutama muqabal (“kebalikan-kebalikan yang berhubungan”) yang merupakan tajrid (“kesendirian tertutup”) dan tafrid (“kesendirian terbuka”). Tajalla (“penerangan”) dan istitar (“aksi penutupan, membuat rahasisa”), fana’ (“peniadaan”) dan baqa’ (“keberadaan yang terus menerus”) dan lain-lain. Istilah-istilah ini semestinya memiliki arti yagn sangat tepat dalam aliran pikiran al-Hallaj, yaitu Wahdat asy-Syuhud; istilah-istilah itu semestinya menerima arti lain dalam Wahdat al-Wujud masa mendatang; dan dalam setiap kasus ini harus dipahami dengan mengacu secara langsung pada pengalaman yang sedang digambarkan dan pada konsep tentang dunia yang mendasasri rumusan istilah-istilah tersebut. Namun demikian, definisi pertama atas istilah-istilah tersebut oleh al-Hallaj sangatlah penting dalam perkembangan pengetahuan tasawuf. Definisi pertama ini sering memunculkan ketidaksepakatan-ketidak sepakatan, bahkan di antara para pengikut al-Hallaj sendiri : seperti dengan penggunaan ‘isyq, kebersamaan dengan, dan sering lebih disukai daripada, mahabbah, untuk cinta Tuhan dan manusia. ‘Isyq adalah bagian dari kosa kata Sufisme paling awal; tetapi pengertian “kehendak”, yang merupakan salah satu konotasi umumnya, harus ditolak, karena kekhawatiran mengaitkan kepasifan atau muyability (kemampuan untuk berubah) dengan Tuhan. Louis Massignon sendiri telah menunjukkan bahwa para editor teks-teks al-Hallaj, di antara mereka adalah seorang Syi’ah, al-Baqli, tidak memiliki keraguan untuk mengganti ‘isyq dengan mahabbah dalam teks-teks tersebut, sehingga menimbulkan atau menurunkan tesis al-Hallaj bahwa ‘isyq adalah sifat Esensi Tuhan.

VI.
MADZAB DAN SEKTE-SEKTE HALLAJIYYAH

Tampaknya pada tahun 309 H./922 M. Murid-murid al-Hallaj telah membentuk sebuah thariqat (tarekat, kelompok persaudaraan keagamaan). Setelah eksekusi terhadap al-Hallaj dijatuhkan, para pengikutnya bersembunyi dan berpencar, dan bahkan menjadi terpecah-pecah. Pada kenyataannya penyiksaan secara legal terus ebrlangsung, pada tahun 311 – 2 H./ 924 – 5 M. Beberapa apengikut al-Hallaj dipenggal kepalanya di Baghdad,
Sejumlah murid al-Hallaj lari keri ke Khurasan, di mana beberapa orang di antara mereka ikut berperan dalam gerakan reformasi Hanafi-Maturidi. Ibnu Bisyr dan terutama Fasir bin Isa (pendiri Hallajiyyah Hululillah) mendukung dan menyebarkan ajaran al-Hallaj dalam tarekat-tarekat Sufi Khurasan. Kitab a-Ta’arruf milik al-Kalabadzi berasal dari tradisi ini. Pada abad ke-5H./11 M. Menurut as-Sulami dan al-Khathib, masih ada beberapa “ekstrimis” Hallaj di Nisyapur. Di antara mereka mungkin termasuk Ibnu Abi al-Khair (persoalan yang dikaji Nicholson) dan Farmadzi, adalah Guru dari al-Ghazali --- oleh karena itu al-Ghazali memiliki penilaian positif terhadap al-Hallaj.
Murid-murid al-Hallaj yang lain, seperti Ibnu Khafif (yang lebih merupakan teman al-Hallaj di akhir hidupnya daripada sebagai muridnya), memperkenalkan beberapa elemen Salimiyyah ke dalam gerakan reformasi al-Asy’ari.
Di Ahwaz dan Bashrah, sebuah sekte Hallajiyyah yang berumur pendek (tetapi diketahui hanya melalui serangan dari para musuhnya; terutama at-Tanukhi) dikatakan telah mengambil sikap-sikap ekstrim. Wakil utamanya, al-Hasyimi, dikatakan telah menyatakan dirinya sebagai seorang nabi setelah memperoleh ilham dari Ruh yang, setelah “tergabung” ke dalam diri al-Hallaj, tinggal dalam diri salah seorang putranya, tersembunyi dari semua (pengaruh Isma’iliyyah).
Di baghdad, Hallajiyyah lain yang disebutkan oleh “Aththar, menampilkan diri mereka sendiri sebagai kaum Sunni (pengikut Sunni), tetapi dalam pengertian bebas, dan melihat sebuah hubungan antara Ana al-Haqq dari al-Hallaj dengan firman Allah swt. yang ditujukan kepada Musa a.s. dari Semak Api Terbakar (Qs.20:14). Seorang Hanbali penting, Ibnu ‘Aqil (yang dikaji oleh George Makdisi), setelah pertama-tama membela al-Hallaj, dipaksa menarik diri.
Dalam karyanya, al-Farq, al-Baghdadi menyebtkan Hallajiyyah di antara sekte-sekte yang harus diperlakukan secara hukum sebagai pelanggar agama. Selama abad ke 5 H./11 M., ada argumen polemik yang menghangat. Beberapa inti persoalan tampak sebagai berikut :
(a) Dalam bidang Fiqih : Lima “kewajiban personal!” (fara’id) dapat digantikan, bahkan haji (=isqath al-wasa’ith).
(b) Dalam bidang kalam : Transendensi Tuhan (tanzih) di luar dimensi-dimensi makhluk (thul, ‘ardh); keberadaan ruh Allah yang tidak tercipta (ruh natiqah) dapat menyatu dengan ruh seorang zahid yang diciptakan (hululul-lahut fin-nasut); wali menjadi hidup dan mempunyai penyaksian pribadi akan Allah (huwa huwa), dari mana muncul ekspresi teopatis Ana al-Haqq.
(c) Dalam bidang tasawuf : Penyatuan pnuh dengan Kehendak Tuhan (“Ain al-Jam’) melalui penderitaan yang didterima dan dikehendaki. Dzikr yang dinisbatkan oleh Syekh as-Sanusi kepada Hallajiyyah adalah bersifat modern.
Dalam tarekat-tarekat Syi’ah Imamiyyah, reaksi pertama adalah mengutuk dan mengucilkan Hallajiyyah sebagai ghulat, yakni para ekstrimis murtad. Kemudian pengikut Ibnu Sina, Nashiruddin ath-Thusi (abad ke 7 H./13 M.) dan Shadruddin asy-Syirazi (abad ke-11 H./17 M.) menyatakan al-Hallaj sebagai seorang wali, meskipun penegasan mereka memang benar tetapi merekan menginterpretasikan jalan yang ditempuh al-Hallaj ke penyatuan (dengan Tuhan) menurut prinsip-prinsip filosofis mereka sendiri. Dalam hal ini pemujaan kepada al-Hallaj terus berlangsung dalam tarekat-tarekat tertentu di Iran, tetapi diserang keras oleh pergerakan-pergerakan lain. Dalam Islam Sunni istilah Hallajiyyah tidak saja aberarti sebuah kelompok persaudaraan keagamaan, melainkan sebutan bagi kalangan fuqaha, mutakallim (teolog) atau Sufi apa pun yang berdasarkan keyakinan pribadi, mempercayai kewalian al-Hallaj. Inilah yang dikutuk oleh Ibnu Taimiyah. Para pengikut Hallajiyyah terakhir harus bergabung ke dalam tarekat Qadiriyyah. Sekarang ini tidak ada lagi pengikut Sunni yang secara terbuka mengakui sebagai pengikut al-Hallaj menurut rumusan fiqih Syafi’i; tetapi mereka tidak melangkah lebih jauh. Bagaimana pun, al-Hallaj tetap disegani, dan makamnya dikunjungi oleh para peziarah dari kota-kota jauh.

VII.
PENILAIAN-PENILAIAN TENTANG SIKAP AL-HALLAJ

Sedikit sekali Muslim yang telah begitu banyak di bahas seperti al-Hallaj. Meskipun ada ima dari para hakim yang menghukumnya, al-Hallaj memiliki pengagum-pengagum berat di antara para ulama dan kebanyakan ummat Islam. Kami di sini memberi sebuah catatan mengenai pendapat-pendapat mereka, sebuah daftar para ulama yang ikut andil dalam pembahasan berharga ini. Berbagai pendapat dapat dibagi menjadi tiga kelompok : (a) Taraddud (mengutuk), yang terbagi lagi menjadi radd (menolak biasa) dan tafkir (mengafirkan) : dituntukkan dengan tanda rdd; (b) tarahum (“menyucikan”) atau wilayah (menegaskan kewalian), yagn dibagi lagi menajdi i’tidzar (membenarkan dengan alasan) dan qabul (menerima secara penuh) : ditandai w; (c) tawaquf (menghentikan pertimbangan, menahan diri untuk tidak menentukan sikap atau memberikan pendapat (bersikap abstention) : ditandai t.
(A) Para ahli hukum (fuwaha) : dari kalangan Zhahiri : Ibnu Dawud dan Ibnu Hazm (rdd); kalangan Immamiyyah : Ibnu Babuya, Abu Ja’far Thusi dan Hilli (rdd), Syustari, ‘Amili (w); dari kalangan Maliki : Turtusyi, ‘Iyadh, Ibnu Khaldun (rdd), “Abdari, Dulunjawi (w); dari kalangan Hanbali : Ibnu Taimiyah (rdd), Ibnu “Aqil (yang menarik diri), Thaufi (w); dari kalangan Hanafi : Ibnu Buhlul (t), Nabulusi (w); dari kalangan Syafi’i : Ibnu Suraij, Ibnu Hajar, Suyuthi, ‘Udhi (t), Juwaini, Dzahabi (rdd), Makdisi, Yafi’i, Sya’rawi, Haitsami, Ibnu “Aqilah, Sayyid Murtadha (w).
(B) Para mutakallim : dari kalangan Mu’tazilah : Jubba’i, Qazwini (rdd); dari kalangan Imamiyyah : Mufid (rdd), Nashiruddin ath-Thusi, Maibudzi, Amir Damad (w); Salmiyyah (w) dalam tanda petik; dari kalangan al-Asy’ariyyah : Baqillani (rdd), Ibnu Khafif, al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi (w); dari kalangan Maturudiyyah : Ibnu Kamal Pasya (rdd), Qari (w).
(C) “Para Filosof” (falasifah dan hukama’) : Ibnu Thufail, Surahwardi (Syekh al-Isyraq), Shadruddin asy-Syiraz (w).
(D) Para Sufi (Sufiyyah) : “Amr  al-Makki dan sebagian besar guru awal (rdd), dengan pengecualian Ibnu “Atha’, asy-Syibli, al-Faris, al-Kalabazi, an-Nashr-abadzi, as-Sulami (w) dan Husri, ad-Daqqaq, al-Qusyairi (t). Kemudian : Dhaidalani, al-Hujwiri, Ibnu Abi al-Khair, Anshari, al-Farmadzi, ‘Abdul Qadir al-Jilani, al-Baqli, ‘Aththar, Ibnu “Arabi, Jalauddin Rumi, dan sebagian besar Sufi-Sufi modern (w). Juga perlu diperhatikan abstention (t) dari Ahmad Rifa’i dan ‘Abdul Karim al-Jilli. Dapat dikatakan bahwa, meski pun al-Hallaj menolak esoterisme mereka, para Sufi secara keseluruhan telah menobatkan al-Hallaj sebaga “syuhada” yang sangat terhormat (per exellence).
“Kelangsungan hidup al-Hallaj setelah kematiannya” berkembang menjadi sebuah “legenda”, terkadang bersifat ilmiah (dalam bahasa Arab, Persia, Turki, Hindustan, Melayu dan Jawa) dan terkadang bersifat populer.
Di Barat, ada berbagai pendapat berbeda mengenai al-Hallaj. Pendapat-pendapat dari para penulis awal cukup dangkal. August Muller dan d’Herbelot meyakini bahwa dia diam-diam adalah seorang Kristiani; Reiske menuduhnya melakukan fitnah. Tholuck menganggapnya mengungkap sebuah pemikiran yang paradoks; Kremer menganggapnya seorang monist, Kazanski menganggapnya seorang berpenyakit syaraf, dan Borwne menganggapnya “seorang penggugah yang piawai dan berbahaya,” dan sebagainya. Tetapi penelitian-penelitian penting Louis Massignon menempatkannya sebagai tokoh yang tak ada bandingannya *the incomparable figure) ini apda kedudukannya secara benar dalam lingkungannya dan dalam perkembangan pemikiran Muslim. Lagi pula, hampir tidak ada karya yang membahas budaya negara-negara Islam tanpa menyebut al-Hallaj; walau pun terus menerus dan penegasan mengenali nilai dan keotentikan dari pendekatan mistiknya, dan dari kesaksian akan kehidupan dan kematiannya. Selain karya-karya kalangan ahli, dapat dikatakan bahwa kemasyhuran al-Hallaj telah menjadi bagian dari budaya secara universal.

P R A K A T A

Ana al-Haqq sekali lagi telah menjadi sebuah jeritan dalam belantara. Karena cakrawala yang telah berubah, maka dunia al-Hallaj digantikan oleh ketegangan-ketegangan di masa modern. Dalam lingkungan yang berubah, ummat Muslim dihadapkan pada sebuah fenomena aneh; aneh dalam pengertian bahwa fenomena ini tidak memiliki muatan yang serupa dalam sejarah pemikiran kreatif Islam. Karena itu, menurut saya, kondisi-kondisi di masa kita sekarang ini memberikan justifikasi (pembenaran) yang cukup untuk mempertimbangkan kembali apa yang harus dikatakan al-Hallaj dalam situasi-situasi serupa.
Sebuah pengamatan umum menunjukkan bahwa dunia Islam pada saat sekarang masih menapaki Era Keyakinan; kepekaannya tidak terputus, dan respon-respon manusiawinya masih perka terhadap rasa-rasa fisik dan metafisik. Tetapi hubungannya dengan semangat pengetahuan modern telah banyak emngubah anangan intelektual dunia Islam. Masalah-masalah dalam pengetahuan modern telah merembesi Era Keyakinan dengan akibat bahwa pemikiran Islam telah menghadapi sebuah tantangan dan krisis. Keterasingan (alienation) manusia dan kondisi fundamentalnya telah tampak di dunia Islam sebagai sebuah masalah pokok, dan sebenarnya banyak bergantung pada bagaimana masalah ini kita jawab di amsa mendatang. Dari segi intelektual, dunia Islam tampaknya ditempatkan dalam sebuah situasi yang tak terselesaikan dan persoalan-persoalannya terlihat secara perlahan-lahan beralih dari Era Keyakinan pada kondisi alienasi. Pemikiran kreatif telah menemukan sumber-sumbernya pada wilayah yang teralienasi, dan apa yang terukir oleh sejarah dengan cepat menjadi bagian dari legenda. Hal ini tampaknya merupakan krisis di dunia Islam pada masa sekarang. Kendati demikian, tidaklah masuk akal untuk menggambarkan semua ini sebagai sebuah gerakan menuju modernisme, karena apa yang sedang terjadi jarang bersifat horisontal. Apa yang sebenarnya sedang terjadi adalah transformasi dalam pengertian alienasi. Puisi kontemporer yagn ditulis di dunia Islam akan memberikan bukti mengenai apa yang saya katakan ini.
Hal paling menyakitkan dalam situasi krisis ini adalah hubungan metafisik yang membantuk landasan dan Era Keyakinan. Karena itu ketakutan akan ketidaktahuan terhadap Tuhan telah mencul melampaui batas-batas dari dunia fisik, dan dalam ketiadaan akan sebuah hubungan metafisik yang kuat ini. Wahyu dan Kebenarannya tampaknya tidak memiliki pertahanan.
Berdasarkan latar belakang inilah saya berusaha mendekati al-Hallaj dan pemikiran mistiknya, karena saya rasa bahwa dunia Islam modern sama-sama mengalami situasi seperti yagn dialami al-Hallaj. Saya berusaha menempatkan al-Hallaj sesuai dengan zamannya dan memberikan kontekstual dari naskah Thawasin mengenai Ana al-Haqq untuk menemukan dasar umum antara dunia masa lalu dan sekarang. Al-Haqq (Kebenaran), meskipun memiliki anjuran-anjuran tradisionalnya, juga telah memperoleh dimensi-dimensi yang sedikit berubah dalam interprestasi saya. Tetapi sejauh mengarungi ke dalam dunia al-Hallaj, saya telah menyadari bahwa “al-Hallaj” masihlah hidup dan relevan dengan fenomena sejarah, di mana kita selaku ummat Muslim, sekarang terlibat. Saya pikir al-Hallaj dapat menjawab seara memuaskan beberapa pertanyaan fundamental yang mengganggu kita belakangan ini.
Al-Hallaj tidak pernah kita lupakan. Ia telah memasuki imajinasi dan hidup selama berabad-abad dalam ingatan individual mau pun kolektif kita. Meski demikian, untuk kajian-kajian terhadap al-Hallaj di amsa modern patut kita berikan penghargaan kepada kalangan sarjana Barat yang telah memperkenalkannya pada pola pemikiran kreatif kita sekarang. Kecintaan mereka terhadap hal yang terbaik dalam pengalaman manusia-lah, melalui al-Hallaj dan perhatian mereka pada mistisme Islam, memungkinkan Kembangkitan Kembali (Renaissance) Islam untuk memasuki fase kreatifnya dalam dunia modern. Dengan pemikiran-pemikiran demikian saya telah bertukar pendapat dengan mereka di berbagai kesempatan untk karya saya ini. Saya berharap bahwa dalam kondisi pemikiran kreatif kita sekarang, al-Hallaj dan pengalamannya akan membantu kita dalam menyelesaikan ketegangan-ketegangan yang tentu saja, muncul akibat dari kemajuan sejarah bangsa.
Khirnya, dalam kesempatan ini izinkanlah saya untuk berterima kasih kepada Maulana Atiqur Rahman dari Perguruan Tinggi Pemerintah, Rawalpindi, yang menerjemahkan Kitab ath-Thawasin ke dalam bahasa Urdu untuk saya, dan membantu saya di berbagai hal penting dalam penafsiran tekstual. Saya juga berterima kasih kepada Prof. Munawar Ashraf dari M.A.O College yang telah membantu memberikan pemahaman mengenai naskah tersebut.

Gilani Kamran


MENINJAU KEMBALI ANA AL-HAQQ

“Yang Benar tetap Yang Benar, Pencipta sebagai Khaliq, dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap selalu demikian
(Al-Hallaj, Kebun Ma’rifat : 16)


Frase mistik Ana al-Haqq mempunyai sejarah panjang, baik sebagai pernyataan mau pun pengalaman. Sebagai pernyataan, ana al-Haqq telah dibahas dari berbagai segi, dan  nuansa panteistiknya telah disankgal atau pun dibenarkanmenurut perubahan sudut pandang. Sebagai pengalaman, kebenaran ana al-Haqq sering ditentang dan paling keras disangsikan secara serius. Dalam kerangka yang diberikan oleh pemikiran spekulatif Islam (pengetahuan Kalam), ungkapan ana al-Haqq telah menduduki tempat penting dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. Namun justru akrena alasan ini frase tersebut telah menimbulkan kesulitan pada sikap teologi Islam, karena ia menunjukkan saling tumpang-tindih dari sifat Ilahi dan insani dalam diri manusia. Oleh sebab itu, al-Hallaj telah ditempatkan di sepanjang kesadaran Muslim dan, mungkin karena ini, ia telah ebrpengaruh sangat kuat pada dorongan-dorongan kreatif dalam dunia Islam.
Kasyf al-Mahjub (karya Hujwiri) merupakan salah satu karya paling awal yagn telah menerima dan mengakomodasi al-Hallaj dalam tradisi pemikiran kreatif Islam. Kasyf al-Mahjub telah menilai al-Hallaj dari sudut latar belakang spiritualnya dan mengarah pada penilikan watak pengalamannya yang membentuk landassan frase mistik ana al-Haqq. Namun Kasyf al-Mahjub membatasi secara jelas wilayah tanggung jawab antara pengalaman dan ekspresinya. Pengalaman ini pada tingkatnya yang tidak baku terlihat sangat dapat diterima dan asli, tetapi lingkungan batiniahnya disepelekan sebagai sesuatu yagn tidak dapat diandalkan. Apa pun sifat pengalaman itu, kandungan ekspresinya dianggap sebagai diskripsi yang tidak dikehendaki atas keadaan kasyaf (ecstatic state). “Pribadi yang dipenuhi luapan kegembiraan yang melimpah tidak (akan) mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dirinya secara benar.” Demikian Kasyf al-Mahjub. Bagaimana pun, saat membahas sifat ekspresi dari ana al-Haqq, pendapat mengenai al-Hallaj lambat laun menjadi simpati dan, tuduhan terhadap kandungan panteistik dalam ekspresi al-Hallaj dikesampingkan. “Beberapa teolog Muslim (Mutakallimun) menolaknya (al-Hallaj),” demikian tegas Kasyf al-Mahjub. “Atas dasar bahwa kata-katanya (al-Hallaj) bersifat panteistik, tetapi kesalahannya hanya terletak pada ungkapannya, bukan pada makna (yang terkandung).” Dengan Kasyf al-Mahjub berubah penekanan dari pengalaman yang mendasari pada kualitas ekspresinya, dan ana-al-Haqq dikeluarkan dari lingkungan kasyaf dan menempatkannya dalam struktur bahasa.
Dalam kerangka  nilai pada zamannya, ungkapan verbal dari keadaan kasyaf yang dialami al-Hallaj dalam totalitasnya, dan makna dari ungkapan tersebut diletakkan pada kenyataan biografis dan pada dimensi-dimensi yang terdapat dalam keadaan kasyaf. Mungkin karena alasan ini, bahwa frase  ana al-Haqq tidak memperoleh makna lain apa pun, kecuali arti yang telah ditetapkan oleh pengetahuan akademi Tauhid (Divine Unity). Akhirnya al-Haqq semakna dengan Tuhan, dan frase ana al-Haqq dipahami membawa sugesti ke arah penyatuan (Unification) Tuhan dan manusia. Dengan demikian, “Akulah Kebenaran.” Berubah emnajdi ungkapan mengejutkan, “Akulah tuhan”. Kendati demikian, Kasyf al-Mahjub telah ebrusaha mencari keseimbangan dan menunjukkan, bahwa ungkapan itu dapat dijadikan masalah pembahasan sastra.
Frase ana al-Haqq mengajukan hubunga langsung Subyek – Obyek yang terdapat di dalam dimensi penglihatan-batin (Audio visual), dimana hubungan ini meluruh secara sempurna dalam hilangnya identitas di pihak Subyek manusia secara total. Maka Obyek menjadi Subyek, dan kata-kata yang diucapkan (ana al-haqq) dianggap bersasal dari Subyek (Lain) tersebut, meskipun kata-kata itu disampaikan melalui perantara identitas Subyek manusiawi yang mewujud dalam waktu tertentu. Dalam keadaan limpahan kasyaf ini, hubungan Subyek Obyek biasa muncul sebagai katagori pengetahuan yang terpokok, dan tiba-tiba hubungan tersebut berbalik. Hanya suara, “Aku adalah Kebenaran” sajalah yang terdengar. Husain bin Manshur (al-Hallaj) berhenti mewujud!.
Ibnu ‘Arabi membahas masalah hubungan ini dalam konteks keadaan kasyaf dan menekankan pemikiran sentral dari “Aku” personal dalam susunan frase tersebut. Maka, Ana --- “Aku” menjadi lokus pengalaman kasyaf )Estatic experience) dan al-haqq sebagai Obyek memasuki ranah pemikiran imajinernya. Hal ini menandaskan bahwa Tuhan menyatakan diri-Nya melalui lima taraf : (1) taraf esensi; (2) taraf Sifat; (3) Bidang Tindakan; (4) taraf Perumpamaan, dan (5) taraf Penglihatan-Batin yang terasakan. Masing-masing taraf tersebut dianggap sebagai turunan dari satu taraf did atasnya, sehingga apa saja yang tampak dalam Dunia Inderawi merupakan simbol dari hakikat yang gaib. Dalam perspektif ini, kebenaran (the truth) yang terefleksi dalam frase mistik hanya dapat, dengan tahap-tahap seara berjenjang, merepresentasikan Esensi Tuhan, dan bahkan dalam hubungan Subyek-Obyek yang paling intim keadaan penyatuan ini secara formal dapat mewujud dalam sebuah kondisi representasional yang murni. Kandungan “Aku” personal dianggap mempunyai dimensi tambahan dari pemikiran imajiner saat dalam keadaan kasyaf. Daya kasyaf ini dapat menjadi kreatif dan penuh makna ketika pemikiran imajiner dihidupkan oleh keadaan kasyaf. “Aku” personal dapat menerima kebenaran dalam bentuk representasionalnya hanya ketika semua kemampuan Subyek tersebut berkoordinasi dalam satu tindakan tunggal dari kehendak. Sifat panteistik dalam frase mistik al-Hallaj, dengan demikian, tindakan meyakinakn berdasarkan dalam skema pengetahuan ini.
Bagaimana pun, hal ini mengarahkan pada aspek lain dari hubungan Subyek-Obyek dimana Obyek disamakan dengan Tuhan. Tanpa aspek ini, al-haqq tidak akan menghasilkan makna teomorfisnya. Medium Kilauan Cahaya di Tursina dimasukan sebagai argumentasi untuk menerangkan makna teomorfis tersebut. Kilauan Cahay benar-benar tampak sebagai jawaban atas usaha Musa a.s. untuk mencari apai di hutan belantara. Maka penarian api oleh Musa menjadi hubungan yang mendasari antara dirinya dan obyek yang memesonakannya. Pada sisi zhahirinya, hal ini merupakan pencarian api dalam pengertian fisik, namun secara batiniah pencarian ini juga mengandung dimensi spiritualnya yang lebih dalam. Karena itu, Kilauan Cahaya di Tursina menjadi medium bagi penglihatan-batin teofanik (theophanic vision) ketika didmensi fisik dan spiritual berkoordinasi untuk membentuk hubungan yang intim antara Tuhan dan Musa. Dan hasil dari hubungan ini, Suara Tuhan didengar oleh Musa.Aspek hubungan ini melahirkan pertanyaan penting : Apa sifat yang sebenarnya dari Kilauan Cahaya, dan apa identitasnya berkenaan dengan suara Tuhan? Kilauan Cahaya dimenegerti sebagai medium dan suara Tuhan dipahami telah didengar oleh Musa dari langit. Namun, sudut pandangan kalangan Zhahiriyyah (literalists) tidak membedakan antara medium dan suara tersebut, dan dengan demikian keduanya dimasukkan dalam pemikiran spekulatif sebagai suatu tindakan penyatuan (unitive act); medium memberi bentuk bagi suara yang didengarkan Musa a.s. Dalam perjalanan waktu hal ini mengarahkan pada \asumsi, bahwa suara Tuhan benar-benar telah berbicara kepada Musa melalui Kilauan Cahaya. Obyek dalam dimensi spiritualnya telah menerima bentuk fisik untuk memasuki dialog dengan Subyek dari hubungannya yang intim. Pemikiran sepanjang garis-garis ini biasanya mengarah pada doktrin tentang Logos, dan sebagai akibatnya frase mistik ana al-haqq menjadu suatu pernyataan yang menyimpang (bid’ah) bagi ummat Islam.
Namun, dengan asumsi ini, firman Tuhan telah muncul dalam kerangka hubungan Subyek-Obyek, ana al-haqq (“Akulah Kebenran”) ditafsirkan demikian agar sesuai dengan tradisi pemikiran kalam.
Syekh Ahmad Sirhindi (1563 – 1624) membahas ana al-Haqq dalam norma tradisi teolog dan menegaskan bahwa ana al-haqq merupakan pernyataan situasional dan ungkapan ini mempresentasikan kualitas pengalaman yang otentik. Syekh Ahmad Sirhindi menyatakan bahwa an --- “Aku” personal, dan al-haqq sebagai Kebenaran tidaklah mengacu pada kondisi penyatuan, tetapi pada dasarnya al-haqq sepenuhnya menyelimuti kesadaran jiwa yang menyesali diri (contemplative ego). Penempatan dalam keadaan ini, ana hanya mengetahui al-haqq yang menyelimutinya --- dan secara bersamaan kehilangan identitasnya. Hilangnya identitas personal inilah yang membuat pernyataan al-Hallaj menjadi penting. Syekh Ahmad Sirhindi menegaskan bahwa ana al-haqq tidak mengacu apa pun pada penyatuan dengan Esensi Tuhan atau Sifat-Nya. Dengan demikian, ana al-haqq, sebagai “Akulah Kebenaran”, secara kategoris dikesampingkan oleh Syekh Ahmad yang menafsirkan frase tersebut sebatas penegasan melalui sangkalan. Menurutnya, ana al-haqq tidak hendak mengabsahkan makna “Akulah Kebenaran”, tetapi hanyalah alih-alih pernyataan bahwa, “Aku tiada, hanya Dia-lah Yang ada satu-satu-Nya”. Tanpa penyangkalan diri, maka pengukuhann akan Kebenaran Tuhan masih belum terselesaikan. Al-Hallaj sebenarnya menandaskan keyakinannya melalui penyangkalan diri dalam ego kontemplatifnya.
Berdasarkan perspektif yagn diajukan oleh ajaran Syekh Ahmad Sirhindi, betapa pun ego kontemplatif inilah yang membentuk subyek aktif pada hubungan ana al=haqq yang tidak mengalami transformasi, sebagaimana yang sering disebut oleh kosa kata teknis dengan peleburan (dissolution), atau penggabungan (merger) kepada Yang lain. “Yang Lain” sebagai konsep ontologis tidaklah memungkinkan berasimilasi dengan ego kontemplatif di dalam ketunggalannya. Obyek tetaplah Obyek, sementara Subyek dalam perenungannya diharuskan memperhatikan kehadirannya. Ego kontemplatif hanya dapat berperan dalam pengetahuan tentang kehadiran itu. Hubungan Subyek-Obyek dalam perluasan horisontal dan vertikalnya ditambah dengan kerangka nilai dimana ego kontemplatif ditempatkan, berkenaan dengan pengetahuan mengenai Kehadiran Tuhan. Hubungan dimensional ini terbelah sesuai kondisi-kondisi spekulatif yang berubah. Hubungan ego dan Kehadiran Tuhan menjadi hubungan konsentris antara lingkaran dan titik yang berada di poros. Thasin ad-Da’irah dan Thasin an-Nuqtah gubahan al-Hallaj mendukung pandangan yang ditegaskan oleh Syekh Ahmad Sirhindi.

Tampaknya cukup tepat, dalam hal ini, untuk mendudukkan frase ana al-haqq dalam setting intelektual pada msanya guna menentukan kesesuaian dengan lingkungan aslinya. Seperti semua ekspresi kreatif lainnya, ana al-haqq tetap mempertahankan akar-akarnya dalam sejarah intelektual dan muncul sebagai citraan (image) dari dorongan kreativitas kolektif dalam lingkungannya di masa itu. Bagaimana pun tidaklah berguna untuk menempatkan frase dalam satu atau lain tradisi pemikiran, jika ditinjau kembali dari pemikiran yang telah berkembang di Baghdad pada periode itu. Pada dasarnya situasi dunia intelektual dari pemikiran secara keseluruhan itulah yang telah memberinya orientasi dalam pernyataan mistik Hallajiyyah, ana al-haqq.
Kehidupan intelektual dunia Islam antara Hasan al Bashri (w.728) dan Manshur al-Hallaj (w.922), meski pun kaya dan terus berlanjut, banyak dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan teologis dan filosofis. Kepekaan religius yang menggumpal dan tidak dapat dipilih dalam masa-masa awal di Basrah telah menjadi semakin cair, dan secara bertahap pendekatan terhadap iman dan kebenarannya, cenderung mengarah pada perdebatan. Munculnya Mu’tazilah, penelitian-penelitian filosofis oleh al-Kindi (w.873) dan al-Farabi (w.950), perdebatan dan perselisihan teologis, serta petanyaan mengejutkan manusia mengenai Khaliqnya, membuat kebenaran menajdi relatif dan memperlemah kehandalan instrumen pengetahuan yang ada. Jadilah nalar sebagai instrumen yang efektif dari pikiran manusia, kehilangan banyak nilai ketika ia mencapai kesimpulan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui. Mu’tazilah menemukan identitas Tuhan melalui penjelasan abstrak mereka yagn tajam. Tetapi, antara kaun Mu’tazilah dan al-Asy’ari (873 – 941), iman dan kebenarannya bergerak dari satu bentuk penegasan ke bentuk penegasan lainnya, yaitu dari konstruksi logis ke positivisme teologis. Tetapi peralihan ini tidak menjamin elemen personalnya. Kehidupan intelektual semakin lebih kaya dengan tambahan dimensi-dimensi pemikiran, tetapi kepribadian individu di bawah pengaruh yang kuat di atas terpecah menjadi nalar, wahyu dan Iman> Koordinasi antara nalar dan iman untuk memahami wahyu tetap tak terpecahkan. Dan rangkaian panjang berbagai pertanyaan yagn menyelimuti pemikiran intelktual berlangsung selama kurun waktu dua ratus tahun.
Dalam lingkungan ide-ide inilah argumen Aristotelian dimodifikasi untuk memenuhi ketentuan-ketentuan doktrin Mitsaq dari al-Junaid (w.909) : doktrin ini didasarkan pada perjanjian ruh manusia pada saat sebelum ia dilahirkan. Serangkaian sebab yang berurutan, yang membentuk struktur argumen Aristotelian, hanya bekerja dalam dunia inderawi, dan tentu saja, mengarah pada Penyebab Pertama (the First Couse), tetapi argumen ini jangkauan terjauhnya melompat dari dunia inderawi ke dunia yang tak terdefinisikan. Argumen ini bergerak keluar dari dunia inderawi ke wilayah lain yang terbebas dari geometri keberadaan. Wilayah lain inilah yang muncul dalam doktrin Mitsaq al-Juniad. Jadi, kombinasi di antara dunia inderawi dan wilayah yang tak terdefinisikan mempersiapkan kepribadian seseorang untuk memahami Khaliqnya. Nalar ditinggalkan untuk lebih mengutamakan pengalaman (dalam hubungan dengan Tuhan).
Walau pund demikian, merupakan penyederhanaan yang berlebihan untuk mengatakan bahwa nalar ditinggalkan sebagai sebuah instrumen (perangkat) pengetahuan dan bahwa pengalaman dianggap sebagai sebuah pedoman yang eksklusif, bahkan untuk wilayah-wilayah dunia inderawi. Sebenarnya yang terjadi adalah bahwa Nalar dan Pengalaman terintegrasi untuk menjadi sebuah instrumen pengetahuan yang lebih baik dan efektif guna mencakup tingkatan-tingkatan penting dari hakikat secara keseluruhan. Instrumen baru pengetahuan ini menjadi pengalaman kreatif dari Sufisme.
Pengalaman kreatif tersebut kemudian memasuki perspektif intelektual apda masa itu untuk menggantikan nalar dalam hubungannya dengan iman dan wahyu.Dengan perubahan kualitatif ini “kehendak” dari kepribadian individu diubah menajdi tahapan-tahapan yang saling terkait dari keadaan kasyaf untuk memuat pandangan yang ada pada berbagai tingkatan atau tahapan dari hakikat secara kesluruhan. Tetapi jika ditinjau kembali, pengalaman kreatif inilah yang meletakkan dasar puisi mistik dalam dunia Islam dan dikenal sebagai prinsip dasar dari ma’rifat (gnosis). Rasa yang hidup menjadi area dari penegasan penting bagi iman dan kerangka konstuksi logis yang ada dan positivisme teologis didperluas untuk memberi justifikasi terhadap iman dari segi data-data yagn disediakan oleh pengalaman kreatif. Dalam penerapannya pada perilaku praktis, rasa yang hidup tersebut menembus masuk ke dalam bahasa cinta dan, dengan cara ini, dapat membimbing jiwa manusia yang mengalami fragmentasi kepada obyek yang mempesonakan.
Ana al-haqq dari al-Hallaj termasuk dalam perspektif yang telah dijelaskan secara singkat di atas. Tuntutan historis dari aliran-aliran pemikiran pada masa inilah memang yang mendorong al-Hallaj untuk membentuk sebuah hubungan langsung antara iman dan wahyu.

Ana al-haqq, bagaimana pun, telah memunculkan beberapa pertanyaan susastra dan, dalam tradisi puisi mistik, sikap yang bertahan dalam ungkapan al-Hallaj telah memunculkan berbagai reaksi keras mengenai kandungannya, ana al-haqq dianggap terlalu melebih-lebihkan pengalaman subyektif, dan ana --- “aku_ personal, menunjukkan kecenderungan-kecenderungan ke arah megalomania dan egotisme. “Aku” personal inilah yang menutupi (memuramkan) al-Haqq dan mengundang perhatian penuh pada dirinya sendiri. Sebenarnya “Aku” personal menyerap al-Haqq, dan mencapai pemujaan yang romantis kepada keagungan egoistis. Dalam konteks ini, kebenaran cenderung menjadi subyek dan, karena itu, relatif, serta dalam implikasi sosialnya kondisi ini menunjukkan kemungkinan terjadinya berbagai pengalihan. Individualisme ekstrim – bertentangan dengan institusionalisme ekstrim – Juga berpegang pada hubungan dengan ana al-haqq, A.J. Arberry telah meringkaskan pemikiran ini dengan menyatakan bahwa al-Hallaj berani mendeklerasikan bahwa kesadaran langsungnya tentang Tuhan, baginya, merupakan sebuah bukti yang lebih jelasdaripada wahyu maupun nalar.
“Aku” personal dalam syair-syair al-Hallaj tidak memiliki identitas tersendiri; ia berada dalam kondisi perubahan yang terus menerus; inilah gerakan antara kondisi-kondisi pengalaman yang berubah cepat. Identitasnya dibentuk hanya dalam kaitannya dengan kata ganti orang ketiga; dia, dan bentuk obyektifnya : nya. Sebenarnya kata ganti ini (dia)nya) menghidupkan “Aku” personal dan menjadi nasibnya sendiri dalam spektrum pengalaman. Ana berhenti mewujud dengan sendirinya, dan “kehendak” dari kata ganti lain akan beroperasi pada ana ini sebagai kehendak yang sangat kuat. Dalam proses inilah “Aku” personal menyerahkan dirinya sendiri pada daya tarik pengalaman yang menyerap semuanya, dan hubungan Aku-Engkau tampaknya menggantikan hubungan jauh antara “Dia” (orang ketiga) dan “Aku” (orang pertama). Pada seluruh tahapan gerakan batin dalam syair puisi al-Hallaj, “Aku” personal tetap tanpa identitas dan apa pun yang tampaknya dimiliki diberikan kepadanya oleh hubungan yang muncul. “Dia” dan “Engkau” menentukan “Aku” personal dan identitasnya bergantung pada penentuan itu. Berdasarkan kajian tekstual terhadap syair-syair al-Hallaj, (anggapan adanya) pemujaan kepada kemuliaan egoistis sulit diterima.
Pengalaman intim yang terkadnugn dalam syair-syair puisi al-Hallaj merupakan sebuah bukti penting untk menunjukkan bahwa “Aku” personal tidaklah cenderung ke arah penyatuan hubungan Aku-Engkau atau Dia-Aku, pada saat ketiga entitas ini (Aku, Engkau, Dia) bergerak pada area-area kenyataan yang berbeda. Karena adanya ana tanpa identitas, maka individualisasinya ditopang sepanjang hubungan ini. Dan antara al-haqq dan ana hanyalah sebuah tujuan dan entitas yang secara emosional (dapat) berubah – direpresentasikan oleh “Dia” dan “Engkau” yang terungkap pada seluruh lanskap puitis. Hal ini memformulasikan sebuah keseimbangan baru antara ana, entitas Dia-Engkau dan al-haqq. Jadi ana al-haqq sebagai sebuah pernyataan tentang pengalaman mempertahankan Dia-Engkau sebagai titik acuan dalam dirinya sendiri. Sejarah puisi mistik telah sepenuhnya mendukung titik acuan ini dan pengalihan arti dalam puisi mistik telah dicapai hanya melalui acuan ini.

Ana al-haqq selama ini telah diperlakukan jauh dari konteks tradisi Sufistik. Ana al-haqq telah mempertahankan sebuah pemikiran teoritis yang secara simultan didukung oleh biografi al-Hallaj.
Tetapi bagaimana pun frase (Ana al-haqq) ini tidak dapat menggambarkan penilaian obyektifnya dari latar belakang tekstualnya yang tetap bertahan dalam karya terkenal al-Hallaj : Thawasin. Ana al-haqq telah mengakarkan dirinya begitu dalam di lingkungan tanpa waktu karena keberadaannya dalam waktu tertntu, sebagai karya nyata al-Hallaj, hampir dihapuskan oleh kalangan ahli mistisisme Islam. Karena itu, tampaknya layak untuk menempatkan Ana al-haqq dalam pola pemikiran Thawasin, dan untuk menentukan signifikansinya dengan mengacu pada teks Thawasin.
Thawasin merupakan sebuah kumpulan dari sepuluh buku yang membahas pertanyaan-pertanyaan yagn diajukan oleh Ilmu Tauhid. “Buku Kesebelas, Kebun Ma’rifat” (The Garden of Gnosis), yang merupakan buku terakhir dalam Kitab ath-Thawasin, editor Louis Massignon, merupakan sebuah kritik atas pemikiran filosofis dalam (pengetahuan) Tauhid. Sikap yang tersebar dalam Thawasin secara intelektual bersifat obyektif dan dengan pendekatan sangat analitis terhadap segenap pertanyaan. Juga terdapat tenegara-tenegara pelatihan yang bernada logis. Bahasa yang digunakan mencerminkan pikiran yang terdidik dalam metodologi yang sesuai dengan Ilmu Tauhid. Karena itu, bahasanya relatif menarik, meskipun pada tingkat-tingkat argumen tertentu cenderung berkias (bersifat figuratif). Tetapi bagaimana pun, dua bidang yang berbeda terlihat jelas dalam bahasa ketika penalaran yang dipakai diambil dari nash al-Qur’an secara tidak kentara. Karena itu bahasa yang digunakan secara berulang-ulang diperkuat dan diinterpretasikan oleh nash al-Qur’an. Dalam hal ini, proses berpikir dikembangkan dan dimatangkan oleh referensi sakral (al-Qur’an). Secara keseluruhan, bahasa Thawasin terwujud sebagai hubungan obyektif dari jenis pengalaman yang memberi informasi dan membentuk biografi penulisnya. Thawasin adalah kisah kehidupan spiritual al-Hallaj. Dengan demikian, Thawasin dapat banyak membantu membentuk konteks tekstual dan makna dari Ana al-haqq.
Karena al-haqq sejak dulu telah ditafsirkan secara teosofis sama dengan Tuhan, maka akan tepat bagi kita untuk melakukan sebuah pendekatan pada al-haqq berdasar buku terakhirnya dalam Thawasin, berjudul “Kebun Ma’rifat” yang membahas doktrin tentang ketauhidan.
“Tak dapat diketahui Esensi Tuhan,” kata al-Hallaj, “merupakan prinsip dasar dari seluruh aktivitas manusia, karena Esensi Tuhan berada di luar kategori-kategori pengetahuan intelektual.” Dunia fana, data inderawi yang terbatas, konstruksi logis atau pun model relasional dari analogi sulit digunakan untuk memahami Tuhan yang berada di luar semua pemahaman. Pada kenyataannya, pikiran yang dikembangkan dan dilatih dalam dimensi-dimensi ruang dan waktu tidak lah dapat keluar dari dunia kemakhlukan dan mencapai Esensi Tuhan yang tak dapat diketahui. Melalui kehadiran atau peniadaan diri, atau melalui situasi-situasi ketidakberdayaan manusia, atau dengan mengacu pada ide kehidupan dan kematian manusia, pemahaman manusia tidak dapat mendekati Esensi Tuhan. Pada kenyataannya, manifestasi Tuhan dalam fenomena-fenomena konstruksi logis untuk membuktikan-Nya, ide ketidak-terbatasan, atau sekedar kekhilafan murni adalah tirai yang menutupi Rahasisa Tuhan yang abadi dalam Ke-Esaan-Nya. Tidaklah mungkin menamai-Nya, karena untuk menamai dan dinamai bertentangan dengan Keesaan yang esensisal dari Wujud Tuhan. Apa yang setidaknya dapat diketahi oleh pikiran manusia melalui aktivitasnnya yang terbatas, tindakan kognitif atau data-data pengalaman adalah keadaan alienasi antara makhluk dan Khaliqnya. Jurang pemisah terus ada antara yang tak terbatas dan yang terbatas. Pada bagian akhir dari Kitab (‘Kebun Ma’rifat”) al-Hallaj menyatakan :
“Yang Benar tetap Yang Benar, Pencipta sebagai Khaliq, dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap selalu demikian.....” (Kebun Ma’rifat : 26).
Tetapi, ana sebagai perluasan dari kondisi manusia, dan sebagai sebuah bagian yang tak terpisahkan dari kemakhlukan mengemban peran mengukuhkan dalam artian sadar serta melakukan aliensi-diri, dan juga menyadari bahwa kondisinya diselimuti oleh Kehadiran Tuhan Yang Abadi. Ana terus menerus hidup dalam lingkungan al-Haqq. Ini juga terlihat jelas bahwa ana dan al-haqq tidak dapat menyatu; keduanya senantiasa terpisah dan jurang pemisah i antara ana dan al-haqq tetap tak terjembatani. Frase mistik ini terbelah memnjadi komponen-komponennya dan ana ditempatkan dalam setting teosofis dimana alhaqq tidaklah dapat diketahui dan tak dapat dibuktikan. Thasin 10 memperkuat argumen yang sama dengan cara mengamati bahwa usaha untuk membuktikan Wujud Tuhan mengubah Tuhan menjadi tuhan yang diciptakan (Thasin 10:11 dan 13).

;Karenanya, dengan melihat ana al-haqq secara terpisah, hal yang tampak mungkin bahwa dalam konteks biografinya, ekspresi ini memiliki relevansi pengucapan, bukan penulisan. Suara itu beroperasi pada komponen pertama (ana) dan menghidupkannya dan, kemudian dengan amsa jeda tertentu, beroperasi pada komponen lain (al-haqq). “Aku” personal menyerukan Kebenaran, Yang Esa; dalam Keesaan-Nya, Tuhan – seolah-olah dalam belantara ketidaktahuan. Jadi, aktivitas pengujaran menjadi sebuah peringatan, sebuah pengingat – dan hampir menjadi jeritan jiwa manusia yang teralienasi dari Sang Khaliq yang tak dapat diketahui. Aktivitas pengujaran ini telah berhasil menunjang doktrin Penyatuan-Kembali pada puisi misitik Islam.

Pengalaman tentang tak dapat-diketahuinya Tuhan tidaklah muncul sebagai sebuah pengalaman negatif. Sebenarnya pengalaman ini mengukuhkan pemikiran teologis mengenai Tuhan Yang Gaib dan mempertegas kebenaran keyakinan ini. Tetapi, tak dapat diketahuinya Wujud Tuhan mengubah alam semesta Yang diciptakan dan skala waktunya menjadi sebuah keberadaan abadi. Hal ini pada gilirannya mengungkapkan keajaiban sarwa makhluk dan alam semesta yang tidak berada dalam ukuran skala waktu manusia, serta menawarkan sebuah kerangka psiko-teologis untuk membuat gerakan apa pun memungkinkan berhubungan langsung dengan Wujud Tertinggi (Thasin 5:13-5). Jadi, gerakan dari satu bentuk keagungan ke bentuk keagungan lain meniadakan kondisi manusisa sampai pada tingkat di mana Yang Maha Tinggi tampak Nyata dan Benar dengan sendirinya (Thasin 2:3-4; 10:23). Dalam konteks ini “Aku” personal, ana, memisahkan diri untuk menegaskan Wujud Tuhan Yang Mahatinggi.
“Aku” personal yang ditempatkan dalam kehadiran Tuhan, pada dasarnya dikelilingi beberapa lingkaran dari sifat-sifat Tuhan. Melalui bekerjanya Kehendak Tuhan inilah “Aku” personal sadar akan Wujud Tuhan. Kehendak ini membuat Tuhan terasa kehadiran-Nya (Thasin 7 : 1 dan 5). Tuhan mengarah pada Kebijaksanaan, Kekuasaan dan Pengetahuan Tuhan, dan kemudian pada Keabadian dan Keterjagaan-Nya. Enam sifat (Tuhan) ini memungkinkan “Aku” personal menyadari akan Kehadiran Tuhan. Karena itu kesadaran yang dimiliki oleh ana bersifat atribut. Dengan cara ini Kehadiran Tuhan menajdi sebuah kehadiran yang terasa dan hidup. “Aku” personal dapat mendekati Tuhan hanya melalui dan dengan bantuan gagasan tentang Kehadiran Tuhan, yang pada akhirnya menjadi nyata melalui penyifatan. Ini hanyalah cara pengetahuan manusia dan hanya melalui demikianlah manusia dapat menerima Tuhan, dan kehidupan perasaannya sendiri diperkaya oleh Kehadiran Tuhan. Tetapi sifat-sifat dasar itu merupakan realisasi dari persepsi teosofis, dan Kehadiran Tuhan masih tetap sebuah pengalaman yang tak terperikan. Al-Hallaj menekankan Kasih Tuhan sebagai sifat lain yang memungkinkan “Aku” personal, ana untuk memasuki sebuah dialog bisu dan kontemplatif dengan Tuhan (Thasin 10 : 24). Tak dapat diketahuinya Tuhan dipahami oleh manusia sebagai Kasih Tuhan. Jeritan manusia dalam kesendirian dijawab oleh kasih. Tetapi jalan menuju Kasih Tuhan dimulai dari ketundukan tanpa syarat dari manusia pada Kehendak Tuhan.

Secara keseluruhan, Kasih Tuhan telah memasuki sejarah manusia sebagai Wahyu dan Nur Muhammad (saw) Cahaya menyembul dari Nur Muhammad adalah wahyu yang mengukuhkan Kasih Tuhan, dan melalui inilah muncul seluruh Sifat dan Kehadiran Tuhan. Secara teosofi, sebuah hubungan baru terbentuk antara Wahyu, Nur Nabi Suci dan Kehadiran Tuhan (Thasin 1 : 1 – 16). Wahyu tidak hanya mengabsahkan Kehadiran Tuhan, tetapi juga telah mempertegas eksistensi Tuhan melalui tekstur bahasa Al-Qur’an. Dalam Thasin 6, al-Hallaj berkata :
 “Dan tak seorang pun yang mengatakan;
Dia-lah Tuhan Yang Esa,
Kecuali Ahmad, dan
Semoga terlimpahkan rahmat
Atasnya, dan hanya padanya Dia
Tampak dalam Penglihatan-batin
Saat Mi’raj.”
Dalam kerangka teosofi Hallajian pengukuhan atas eksistensi Tuhan secara langsung berhubungan dengan Nur Muhammad. Hanya dalam kondisi kenabiannya, Wujud Tuhan telah memasuki area perenungan dan eksistensi-Nya yang dikabarkan telah menjadi pengalaman terasakan saat Mi’raj Nabi Suci (Muhammad s.a.w). Fakta yang terpancar disahkan oleh pengalaman yang terasakan. Dalam konteks ini Wahyu dan Mi’raj membuktikan Wujud Tuhan dalam segi pengalaman yang terasakan (Thasin 2 : 3-4).
Saat menjabarkan keadaan kenabian dalam kerangka teosofi, al-Hallaj lebih lanjut berkata (Thasin 1 : 11) :
”Kebenaran besama dengannya : apa yang terbatas
Dan yang tak terbatas juga bersamanya.
Dalam kejadian dialah yang pertama dan dialah
Yang terakhir dalam rangkaian kerasulan
Dia-lah makna tersembunyi dari Penciptaan,
Dan makna yang terwujud dari pengetahuan
Tentang Esensin .....”
Jadi kebenaran terletak dan, dengan demikian, mengada dalam wujud “Nur” Nabi Muhammad saw. Kebenaran tidak dapat dipisahkan dari ke-“nur”-an misi kenabian. Al-Hallaj sepenuhnya meyakini pemikiran teosofi ini, yang kian lebih jelas dalam pernyataan berikut ini (Thasin 1 : 16) :
”Jika engkau meninggalkan dan pergi ke daerah-daerah yang jauh darinya,
 engkau tidak akan menemukan jalan, dan tak seorang pun akan mendekatimu.
Wahai Jiwa yang sakit!
Engkau tak akan menemukan seorang pun
Yang menyelematkanmu.
Kata Bijak dari Yang Paling Bijak
Di dunia ini laksana pasir di hadapan dia.”
Dalam Thasin 1 : 13. Al-Hallaj lebih lanjut menegaskan :
” Dan kebenaran tidak membuatnya
Untuk menciptakan sesuatu tentang siapa Dia,
Siapa Dia : dan di mana Dia, dan di mana
Siapa dan apa Dia --- Dia,
Dia, Dia ....”
Kerangka teosofi ini diorientasikan kepada Nur Nabi Muhammad saw. dan kebenaran secara implisit dinyatakan sebagai hubungan antara Wahyu dan Tuhan yang termanifestasikan dalam Wahyu; bentuk Nur tegak sebagai pengukuhan dan transmisi dari Kebenaran. Nur Muhammad, pada dasarnya, mencakup seluruh latar teosofi dan Thawasin dan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan Ilmu Tauhid dijawab dengan meurujuk kepada Nur ini. Kebenaran terbukti melalui Nabi Suci. Menjelaskan hal ini sebagai kebenaran mutlak, al-Hallaj menyatakan (Thasin 1 : 14) :
”Dan tak seorang pun yang mengetahui atau
Yang tahu apa yang dia ketahui
Tidak pernah di luar Mim Muhammad
Tidak ada jalan bagi dia
Demikian juga siapa yang bergerak di dalam
Tidak pernah di luar ha’ Muhammad
Ha’ mengarah pada mim kedua dan
Huruf terakhir dal membawa kembali
Pada mim yang pertama.
Dengan bermaksud menjelaskan arti dari huruf-huruf di atas, al-Hallaj berkata bahwa huruf terakhir, dal () dari nama Muhammad menunjukkan pada arti esensi abadi Wahyu Rasul, mim () menunjukkan pada posisi rerlasional dalam kebenaran, kha’ () menunjukkan pada kondisi batin, yang memiliki kelanjutan dengan mim () kedua dari nama Muhammad saw. Dalam konteks kebenaran ini, Wahyu dan Nur Muhammad tampak sebagai tindakan integratif Tuhan  yang tidak terlihat.
Al-Hallaj telah memberikan tekanan khusus pada makna epistemologis dari sifat-sifat (Tuhan) di atas. Sifat-sifat tersebut hanyalah jangkauan yang dapat dicapai pengetahuan manusia. Dalam Thasin 10 : 18, al-Hallaj telah mengamati bahwa pengetahuan mengenai Wujud Tuhan tiaklah mungkin dicapai tanpa pengetahuan mengenai sifat-sifat Tuhan. Hanya sifat-sifat itu saja yang dapat dipahami oleh manusia. Jadi, tiga dimensi yang terpisah diajukan untuk memahami Tuhan, katakanlah (1) tak dapat diketahuinya Tuhan dan nalar manusia, (2) pengetahuan tentang sifat-sifat (Tuhan) dalam totalitasnya serta doktrin mengenai Kehadiran Tuhan, dan (3) Wahyu dan Ide tentang Bentuk Nur. Dalam Thawasin, (1) dibuat untuk menegaskan (2) dan dengan demikian pemikiran ini diterima untuk penegasan dari (3). Kecuali itu (3) tidak ada cara lain untuk mengetahui Tuhan atau mempunyai gagasan apa pun mengenai eksistensi-Nya. Wahyu mengabsahkan eksistensi Tuhan, dan cahaya dalam bentuk Nur Muhammad merupakan sarana yang cukup dan paling dapat diandalkan untuk menemukan kebenaran. Pengetahuan mengenai eksistensi Tuhan, dan hanya inilah, satu-satunya Kebenaran puncak al-haqq yang diungkapkan al-Hallaj menunjuk pada Kebenaran tersebut.
Dalam kajian-kajian mengenai al-Hallaj, banyak perhatian diberikan pada “Aku” personal dan ana dalam frase mistik an al-haqq yang diinterpretasikan secara beragam. Tetapi “Aku” personal mungkin telah dipelajari berdasarkan latar belakang Sufi yang kabur, yang telah memunculkan berbagai perasaan dalam tradisi mistisme Islam. Sebenarnya “Aku” personal, ana, berada dalam perspektif yang telah dijelaskan di atas. Dari segi tekstual ana juga tidak memiliki acuan aapa pun tanpa dimensi-dimensi dan perspektif-perspektif yang termuat dalam Thawasin. Dalam Thasin 2, ketika mengamati hubungan antara fakta yang diterima dan pengalman yang terasakan (Thasin 2 : 2-4), al-Hallaj berkata :
 “Tetapi dia yang diberi naluri-naluri
Dan kehendak-kehendak, dan yang
Lemah dalam berpikir dan yang dipenuhi dosa
Untuk mengejar kehidupan fana, tidak akan
Mendapatkan keberhasilan, seperti aku.”

“Oh, jika engkau pikir akulah
Orang yang telah mencapai keadaan itu atau
Yang akan mencapai keadaan itu,
Atau telah emncapai kondisi itu di waktu-waktu
Lampau, Oh! Tidak, tidak, tidak pernah!
Aku sedang berada di jalanku untuk menemui-Nya,
Dengan caraku yang menuntuk kepada Dia; Oh!!
Aku milik-Nya,
Dan Dia belum memiliki aku.” (Thasin 2 : 5-6).
Dlam Thasin 6 : 25, jenis perasaan yang sama lebih jelas diucpakan ketika al-Hallaj berkata :
”Jika aku harus dibunuh atau disalib di tiang gantungan,
Atau tangan dan kakiku harus di potong,
Walau bagaimana pun,
Aku tidak akan pernah
Menarik kembali kata-kataku.”
Dalam kutipan-kutipan di atas, “Aku” personal memiliki relevansinya dari segi hubungan Dia-Engkau yagn telah di bahas. Perasaan komitmen dalam jiwalah yang penuh makna dari segi hubungan tersebut. Tetapi, dalam perspektif yang telah diajukan, hubungan Dia-Engkau menjadi bermakna hanya ketika hubungan ini diletakkan dalam kerangka Wahyu dan kebenarannya. Komitmen al-Hallaj tertuju hanya pada kebenaran yang terwujud dalam Wahyu dan dapat dicapai melalui doktrin Nur Muhammad saw. “Aku” personal seperti yang terlihat dalam Thawasin, muncul untuk membenarkan nilai-nilai keyakinan dalam belantara tak-dapat-diketahuinya Tuhan.
Haqq (Kebenaran) dan Haqiqah 9Hakikat)  muncul sebagai konsep yang berbeda dan saling terpisah dalam Thawasin. Kedua konsep ini memiliki konotasi-konotasi yang berbeda, dan dalam Thawasin kedua istilah ini tidak dapat saling dipertukarkan. Kebenaran berada di luar Hakikat, meskipun dalam hubungan timbal-balik di antara keduanya. Hakikat berada pada tingkat kognisi yang lebih rendah daripada kebenaran. Dalam Thasin 2, al-Hallaj berkata :
”Kebenaran berada di luar hakikat ---- sebagai suatu
Yang tak teridentifikasikan dan
Hakikat terpisah dari
Kebenaran ......”
Penggambaran pemikiran ini melalui kata-kata figurratif (berkias), al-Hallaj menyatakan (Thasin 2 : 3) :
”Cahaya yang ditebarkan oleh Api adalah
Pengetahuan mengenai Hakikat dan
Kilaunya menjelaskan Sang Nyata Yang
Berada dalam pengetahuan itu;
Tetapi untuk memasuki Kilaunya dan
Untuk mengetahui cahayanya adalah dengan
Kebenaran.”
Dalam Thasin 3 : 8, Hakikat lebih jauh dijelaskan oleh al-Hallaj dalam hubungannya dengan obyek-obyek yang diciptakan :
“Jadi Hakikat tetap hakikat dan
Segala yang diciptakan tetaplah makhluk;
Oh! Tinggalkan dan lampaui segala kemakhlukan tersebut
Agar engkau menjadi Hakikat itu sendiri.”
Hakikat juga merupakan titik kognisi dimana segala sesuatu menjadi entitas-entitas obyektif. Ini dijelaskan dalam Thasin 5 : 30 :
“Maka, apakah itu Hakikat? Sebuah titik
Dimana ikatan-ikatan dengan Dunia fana
Tidak lagi ada, penderitaan-penderitaan dan
Rasa sakitnya kini juga tidak datang kembali.”
Jadi, Hakikat adalah sebuah dimensi dari dunia yang fana dan terbatas. Hakikat adalah kumpulan data-data inderawi. Tetapi terlepas dari asal-usulnya, Hakikat ini mewujud sebagai sebuah abtraksi dari batas-batas luar dunia yang fana dan terbatas. Dalam pengertian ini Hakikat adalah sebuah kosntruksi yagn didedukasi dari data-data inderawi dunia fana. Hakikat merupakan jangkauan nalar, dan denegan demikian hakiakt memungkinkan untuk menandai semua horisontal manusisa *Thasin : 3 : 1). Hakikat hanya memberi pengukuran-pengukuran pada wujud, Dalam konteks inilah Hakikat muncul di berbagai kesempatan dalam buku Thawasin.

Nicholson dalam terjemahannya mengenai Sahl at-Tustari pada kitab Kasyf al-Mahjub, mengartikan hakiqah sebagai Kebenaran, tetapi ia juga menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris istilah al-haqq-nya la-Hallaj sebagai Kebenaran. Jadi, Kebenaran dalam pengartian Nicholson memiliki kerancuan, karena kata ini saling didpertukarkan penggunaannya baik untuk mengartikan istilah Haqq dan haqiqah. Sebenarnya terdapat perbedaan tajam di antara kedua istilah tersebut, dan teks Thawasin mendukung sudut pandang ini. Tetapi, jika berdasar pemikiran Sufistik at-Tustari dalam konsep kebenaran terkandung dimensi haqiqah, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan mendasar dalam pendekatan konseptual at-Tustari dan al-Hallaj mengenai Kebenaran. Mengomentari apa yang dimaksud dengan Kebenaran (haqiqah), al-Hujwiri menjelaskan bahwa Kebenaran sebagai haqiqah berhubungan secara erat dengan Hukum (Syari’ah) : Hukum adalah Kebenaran dan Kebenaran adalah Hukum. Penolakan terhadap kebenaran, menurutnya, merupakan kemungkaran dan kesyirikan. Pernyataan terakhir ini memberi suatu definisi negatif terhadap Kebenaran. Tetapi, bagaimanapun, dalam pengartian positif, Kebenaran didefinisikan sebagai keyakinan Iman Islam; bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yakni Kebenaran itu. Kebenaran pada dasarnya adalah pengetahuan mengenai Allah swt.
Jadi, haqiqah sebagai Kebenaran adalah sebuah konsep eksoteris dalam masa khidupan al_hallaj, meskipun selanjutnya haqiqah diasumsikan dengan makna batiniah dan lebih luas pada saat penulisan Kasyf al-Mahjub. Pada masa-masa perkembangannya, karir alHallaj sebagai seorang pemikir teosofi, bahwa pengaruh Sahl at-Tustari, guru al-Hallaj di tustar tidaklah dapat diabaikan. At-Tustari tidak menyatakan bahwa Hukum dan Kebenaran sebagai entitas yang terpisah, dan menegaskan bahwa Hukum sendiri tidak dapat mengintegrasikan kepribadian manusia. Karena itu, mengkombinasikan Hukum dengan haqiqah (Kebenaran) adalah tuntutan penting dari pemikir Islam. Penekanan at-Tustari untuk mengintegrasikan keduanya, pada kenyataannya telah memberi tekanan pada haqiqah dalam skala nilai-nilai keagamaan. Hal ini membuat Kebenaran, setidak-tidaknya dalam aspek eksoteriknya, emnjadi persoalan utama di masa itu.
Kebenaran juga menjadi obyek pencarian bagi kalangan Sufi dalam lingkungan intelektual masa al-Hallaj. Abu Utsman al-Hiri telah mengamati bahwa pada masa kecilnya ia terus menerus mencari kebenaran, dan kalangan madzab fiqih Zhahiriyyah (Eksternalis) menatapnya dengan perasaan kebencian. Ia melihat bahwa Hukum suci menyembunyikan suatu rahasia di balik bentuk-bentuk luaran (superfisial) yang umumnya diikuti oleh mayoritas kaum Mukmin. Tetapi pada tahun-tahun berikutnya, ahl-Hiri bertemu dengan Yahya bin Mu’adz dan menemukan rahasia yang dikatakannya sebagai obyek pencariannya. Rahasia yang ditemukan al-Hiri kala bergabung dengan Yahya bin Mu’adz itu adalah gagasan tentang ketaatan kepada Allah swt. yang didasarkan pada emosi-emosi rasa takut dan harapan; ketaatan kepada Allah merupakan penyerapan total dalam perenungan mengenai Tuhan. Rahasia ini memungkinkan manusia untuk memiliki pengetahuan yang langsung dan tanpa perantara tentang Tuhan. Hal inilah yang memungkinkan manusia  -- saat mencari Kebenaran --- untuk bergerak dari atas ke maknanya, dan dari makna ke informasi sejati tentang-Nya melalui penglihatan batin seperti yagn diajarkan oleh al-Junaid kepada kelompoknya. Kebenaran berupa transformasi dari berita yang dikabarkan dan tersebar menjadi pengalaman yang terasakan.
Cinta dan ekstase (luapan kegembiraan) memasuki garis-garis Kebenaran bersama al-Khawwas dan Utsman al-Makki, dan perenungan tentang Tuhan dari segi ketaatan menjadi sebuah keadaan mental yang tak terungkap oleh segala penjelasan. Titik kesadaran ini memang merupakan obyek pencarian mistik terhadap Kebenaran. Dengan perkembangan dalam pemikiran kreatif Muslim ini Hakikat sebagai haqiqah menjadikan Kebenaran sebagai al-Haqq. Haqiqah sebagai kenyataan eksoteris formal menembus ke kedalaman struktur psikis dan muncul kembali sebagai al-haqq.

Tetapi secara kiasan dapat dikatakan bahwa Kebenaran (al-haqq) adalah pemekaran dari Hakikat (haqiqah) yang dikembangkan oleh pemikiran kreatif Muslim selama periode yang sezaman dengan al-Hallaj. Tetapi seperti semua pemekaran, pemekaran ini manis dan mengasyikkan meskipun di luar acuan konkret. Kebenaran memiliki konsep filosofis tentang Tuhan sebagai subyek pengetahuannya dan semua usaha ke arah ini menghasilkan kesadaran psiko-teologis yang disertai dengan perasaan-perasaan kagum kepada Sang Khaliq Penyebab Pertama (First Cause) atau Wujud Kosmik. Pluralitas menjadi Kesatuan, dan an-Nuri mengatakan bahwa Kesatuan dengan Tuhan adalah pemisahan dari segala yang lainnya, dan pemisahan dari segala yang lainnya adalah Penyatuan dengan-Nya. Pengalaman dikumpulkan dan diinterpretasikan untuk mengabsahkan pemikiran teologisnya, dengan kata lain, data-data tersebut diambil dari pencarian Kebenaran yang digunakan untuk memperkaya isi Hukum suci dan ummat.
Pernyataan al-Junaid bahwa informasi sejati berasal dari penglihatan (batin), tetapi apa yang memebentuk prinsip sentral dari pemikiran al-Hallaj dalam Thawasin tidak sependapat dengan definisi subyektif tentang Kebenaran tersebut. Tuhan tidak dapat dimuati dalam definisi-definisi subyektif dan Dia juga tidak dapat didekati instrumen-instrumen pikiran logis. Hal ini memang sebuah krisis yang akut dalam kehidupan pemikiran masa itu dan banyak bergantung pada bagaimana krisis harus dipecahkan oleh para pemikir pada masa itu. Tidak dapat diketahuinya Tuhan melalui istilah-istilah logis yang tersedia membuat Tuhan tidak dapat diraih, dan akibat wajarnya bahwa dunia dan fenomena menjadi mekanistik, dan situasi manusia menjadi berada di bawah penentuan takdir yagn tak acuh dan tak berperasaan. Sejarah temporal masa itu adalah perluasan dari perkembangan pemikiran sederhana. Di sisi lain, pendekatan subyektif kepada Tuhan menciptakan sebuah bangunan yang menyerap diri atau pengandalan sederhana pada psikologi mimpi. Kendati demikian, pendekatan subyektif memiliki kelebihan penting karena mengisyaratkan pencarian dasar akan Tuhan dan mengharuskan resolusi terhadap krisis dalam kaitannya dengan identitas Kebenaran.

Kebenaran dalam Thawasin memperoleh isinya dari fenomena historis wahyu. Dalam Thasin 1, Kebenaran tampak dalam pandangan ini; kutipan yang diberikan di bawah ini terdapat dalam paragraf pembuka dari Thawasin :
Ia (al-Hallaj) (rahimahullah) berkata :
“Thasin ......
Kebenaran adalah bentuk cahaya yang memancar dari
Yang Gaib, dan ia terlihat dan memancar
Dan kembali kepada Yang Gaib, dan kebenaran itu
Melampaui segala cahaya, dan menjadi
Cahaya di atas cahaya, dan benderangnya memancar
Ke seluruh bulan. Titiknya yang paling terang menjulang
Angkasa yang diselimuti oleh rahasia.”
Teosoffi cahaya ini, yang kemudian diikuti oleh rujukan pada Kebenaran, pada dasarnya berssandar pada penegasan al-Qur’an bahwa Allah swt. adalah Cahaya di langit dan di bumi. Tetapi, cahaya ini diarahkan kepada Yang Gaib Yang tak-dapat diketahui oleh nalar manusia. Cahaya ini memnacar dalam masa tertentu; ia terlihat; memnacar dan kembali kepada Yang Gaib, tetapi dalam masa ketika cahaya itu dengan segera memasuki kenyataan fenomenal, cahaya ini menyergap dimensi-dimens vertikal dari pengetahuan. Jadi di mana? Mengapa? Dan bagaimana? Terdiam di hadapan rahasianya. Yang Gaib dan manifestasinya dalam cahaya tetaplah menjadi sebuah rahasia; Thawasin menyibak maknanya menurut latar belakang dan dalam prspektif ini. Kebenaran dikondisikan dalam perspektif yang disediakan oleh Yang Gaib dan teosofi cahayanya. Kutipan yang diberikan did atas dapat dibaca dari kelanjutannya berikut ini :
“Kebenaran (Haqq) menyebut dia Ummi
Untuk menjaminnya, menyebut dia seorang
Dari Rumah Suci untuk melihatnya
Dalam keagungannya; dan menyebutnya
Makki karena sikapnya yang tetap dan tiak berubah dan
Karena kedekatannya itu
Ia bersama dengan
Kebenaran (Haqq) itu sendiri.”
Kalimat-kalimat ini menunjukkan bahwa Kebenaran sebagai sebuah konsep berhubungan dengan Yang Gaib hanya melalui medium cahaya; bukan melalui Yang Gaib atau Yang tak dapat diketahui. Kebenaran adalah manifestasi cahaya yang diterima oleh Obyek Konfiguratif (diwakili oleh nama-nama (surat al-Qur’an) Thaha, Yasin dan an-Nur) yang tidaklain adalah Muhammad, Rasul Allah. Karena itu, Kebenaran adalah cahaya yang terungkap, fenomena wahyu yagn unik; dan sebenarnya al-Qur’an adalah misterinya Wahyu.
Ketika Kebenaran (Haqq) ditempatkan dalam hubungannya dengan kemakhlukan, bagaimanapun maknanya dapat dirunut dari perintah Tuhan dan keberadaan makhluk. Jadi, Kebenaran mengacu pada dorongan kreatif transedental; dan bahkan, dakam konteks ini (Kebenaran) tetap merupakan manifestasi dan penafsir cahaya. Dalam pengertian ini sarwa makhluk menjadi tanda-tanda dari cahaya yang terungkap dan Kebenaran menafsirkan tanda-tanda itu dalam bahasa cahaya. Al-Hallaj menganggap Kebenaran itu sebagai wahyu (Thasin 3 :10) dan wahyu sebagai Cahaya (Thasin 5 : 20), dan sepenuhnya membuktikan bahwa Kebenaran bersama Rasul Allah (Thasin 1 : 11). Dalam Thasin 1 : 5 Kebenaran (Haqq) juga digambarkan sebagai prinsip penemuan kembali terhadap nilai keyakinan. Kebenaran, dalam kerangka ini mengungkapkan suatu taraf pengetahuan yang berada di luar jangkauan penalran intelektual (Thasin 1 : 4). Kebenaran adalah tunggal, unik, tak terbagi dan tidak pernah berubah. (Thasin 8:1,10:6). Kebenarn, tegas al-Hallaj, mejadi kata berdasarkan suara Nabi Muhammad saw. (Thasin 1 : 9).
Jadi, Kebenaran dalam metafisika Hallajian terlihat menyimpang dari arti konvensional dan kesetaraan sinonimnya dengan Tuhan. Cahaya dari Yang Gaib yang memasuki realitas itulah yang merupakan Kebenaran, dan menemukan ekspresinya dalam Wujud Kenabian, Nur Muhammad merupakan Wujud Kenabian yang disinari oleh Kebenaran dan cahayanya. Mi’raj Nabi saw. menegaskan keberadaan Tuhan dan totalitasnya tampak sebagai Wahyu dan menjadi kebenaran ketika hal yang sama diterima oleh Nabi (Muhammad saw.). Wahyu mempertegas keyakinan terhadap Yang Gaib
Dalam Thawasin, al-Hallaj membuat perbedaan yang jelas antara makna Haqq dan al-haqq, dan dengan demikian menjadi jelas bahwa kedua konsep ini tidak dapat dipertukarkan. “Kebenaran” (Haqq) sebagai konsep umum dan teosofi menjelaskan wahyu dari segi Iman, dan dengan demikian konsep ini berada di luar dimensi-dimensi fenomenal. Tetapi al-haqq secara bersamaan ada pada waktu tertentu dalam sejarah. Dalam perspektif ini, Haqq (Kebenaran Wahyu) menghubungkan peristiwa kesejahteraan dengan keabadian, dan keberadaannya sebagai Firman Tuhan merupakan bukti nyata tentang kehadiran-Nya. Al-Hallaj menggunakan al-Haqq dalam pengertian yang khusus dan jelas dalam Thasin 9 : 6 sebagai berikut :
“Al-haqq adalah tempt kembali
Bagi Haqq, dan tidak yang lain
Haqq
Itu sendiri
Pembedaan di antara Haqq dan al-haqq menjelaskan sebuah trasaksi abadi, sebuah gerakan di antara keduanya. Al-haqq adalah titik dalam ruang dan waktu pada mana Haqq dengan caranya sendiri dan mengikuti rutenya sendiri akan kembali. Al-haqq menjadi Kebenaran hanya ketika ia dikunjungi oleh Haqq. Dan dalam ketiadaaan Haqq, al-haqq kehilangan identitasnya; al-haqq berhenti mewujud. Eksistensi al-haqq bergantung pada kontaknya dengan Kebenarn. Lingkungan apa pun yang tidak dikunjungi oleh Haqq adalah lingkungan yang mungkar dan fana dimana ego manusia dihancurkan oleh keberingasan naluriah (Instinctive anarchy).
Dalam tradisi Sufisme, konesp al-haqq telah digunakan untuk merepresentasikan aspek-aspek atributif dari Tuhan, dan secara populer dipahami untuk mengerti Tuhan. Tetapi, pembakuan atributif ini tampaknya berkembang setelah masa al-Hallaj, sebagai standarisasi kosa kata Sufi yagn secara keseluruhan belum dicapai pada masa al-Hallaj. Lagipula terlepas dari kedudukan sifat Tuhan, al-haqq memiliki cabang-cabang filosofis dan semantiknya sendiri. Al-haqq memiliki tempat tertentu dalam perkembangan pemikiran, dan juga memiliki pengaruh eksklusif sebagai putusan akhir dalam situasi-situasi intelektual atau moral yang kaau. Pembedaan al-Hallaj antara Haqq dan al-haqq akan kehilangan keseriusannya jika kedua kata itu memiliki satu arti dan konsep yang sama, atau jika al-haqq diberi status Yang Gaib (Tuhan) atau pun Yang tak dapat diketahui. Bahkan, al-haqq tidak dapat menjadi Tuhan Yang Esa, dan akibatnya tetap tidak dapat dimasuki oleh pengetahuan. Betapa pun jika al-haqq diberi nilai Yang tak dapat diketahui, maka pengetahuan tentagn Kebenaran (al-haqq) selamanya tetap merupakan sebuah buku tertutup bagi ummat manusia. Hal ini tentu saja berlawanan dengan semangat penarian yang telah menguat pada masa al-Hallaj.
Tetapi, al-haqq memperoleh maknanya dari relativitas kebenaran-kebenaran yang merupakan hasil dari perseteruan teologis dan filosofis. Kebenaran (al-haqq) dapat munul hanya dalam suatu lingkungan (di mana) kebenaran-kebenaran yang salaing bertentangan. Secara sendirian, atau berlawanan dengan suatu skema keabadian, al-haqq tidak dapat memiliki korelasi (pertalian) obyektif karena dalam perspektif ini, al-haqq cenderung tertuju kepada Tuhan. Paling banter al-haqq ada hanya sebagai sebuah abstraksi dan ini juga terjadi dalam sekeliling manusia; al-haqq merupakan sebuah abstraksi yang dipersonifikasikan. Haqq, seperti yang telah didefinisikan sebelumnya, memperluas prsonifikasi alegoris kepada al-haqq.

Pandangan yang diebrika di atas menunjukkan penjungkirbalikan perspektif dimana al-haqq yang secara tradisional ditempatkan sebagi konsep dan obyek. Jadi, melalui al-Hallaj, sebuah dimensi pemikiran yang berbeda telah muncul dimana “Aku” personal telah memperoleh posisi senyral, dan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan (pengetahuan) Tauhid harus diperlakukan berdasarkan data-data yag tersedia pada posisi sentral tersebut. Ini merupakan sebuah fenomena aneh, hal ini memberikan suatu kerangka manusiawi pada konsep doktrin dan teologi. Karena itu, dalam konteks inilah Haqq dilihat sebagai manifestasi Cahaya dalam Wahyu dan gagasan Nur Muhammad, serta al-haqq menjadi personifikasi alegoris  (kiasan ) dari Haqq itu sendiri. Perspektif ini membentuk sebuah hubungan baru yang fundamental antara al-haqq, Nur Muhammad dan Haqq sebagai manifestasi dari Cahaya dari Yang Gaib. Dalam sejarah mistik Islam hubungan ini menjadi kandungan yang hakiki dari hubungan Dia-Kau.
Al-haqq sebagai sebuah tahapan awal dalam perspektif ini, mewujud sebagia sebuah abstraksi yang memiliki lokasi konkret dalam waktu dan raung hanya melalui meida “Aku” personal (ana) untuk menjadi abstraksi yang didpersonifikasikan guna memikat perasaan-perasaan primer manusia menuju Nur Muhammad, dan untuk mengamati cahaya yang termanifestasikan dalam Wahyu yang selamanya menegaskan totalitas dan kasih Tuhan Yang Gaib. Penyerapan al-haqq dalams truktur psikologis “Aku” personal, ana, mempertahankan kebenaran obyektif dari kerasulan dan manifestasi ontologi dari Yang Gaib dalam Wahyu. Jadi manusia secara keseluruhan, dan bukannya suatu kemampuan eksklusif tertentu, menjadi saksi universal terhadap misteri Tuhan. Al-haqq memperlihatkan Yang Gaib hanya melalui utusan peraturan Nur (Muhammad saw.) dan tanpa perantaraan ini al-haqq, sebagai personifikasi maupun abstraksi, tidak dapat mengklaim apa pun atas eksistensinya. Al-haqq mewujud melalui Muhammad dan hanya dalam Muhammad. Dalam metafisika Halajian, ana, “Aku” personal tetap selamanya mencari al-haqq untuk mengetahui Rasul Allah dan melalui matanya yang bening menembus misteri yang dibuat secara eksplisit oleh Wahyu.

Ana al-haqq sebegai ekspresi tertentu terdapat dalam Thasin 6 : 23 dimana masalah kebingungan mengenai Skema-abadi mengenai Eksistensi dibahas dalam penyajian dramaturgis. Thasin 6 itu sendiri diletakkan hampir di tengah Thawasin, dan dengan demikian ia didukung oleh pola-pola pemikiran dari buku-buku yang mendahului dan sesudahnya. Karena itu, visi intelektual yang muncul dalam Thawasin memberikan sebuah konteks yang lebih kaya pada Thasin 6, yang melanjutkan proses pemikiran dan pada saat yang sama mempertegas isinya. Penyajian dramaturgis menempatkan iblis, peri dan setan dalam setting tanpa waktu, dan Fir’aun – Dewa Matahari Lembah Nil pada masa kuno, dalam latar belakang urutan waktu, serta memberikan sebuah penjelasan mengenai Kehendak tuhan dalam kerangka yang ditentukan secara jelas berikut ini. Iblis dan Fir’aun menginterpretasikan dan mendefinisikan posisinya masing-masing pertama dari segi tindakan yang telah ditentukan sebelumnya, dan kedua dari golongan kehendak yang telah ditentukan sebelumnya. Iblis dan Fir’aun membenarkan keadaan mereka, dan dalam pembenaran inilah mereka menemukan prinsip ketundukan menurut diri mereka sendiri, meskipun dalam hal ini sikap-sikap yang dipertahnkan oleh iblis dan Fir’aun sangat berbeda satu sama lain. Akhirnya mereka berdua menyebabkan penjungkir-balikan nilai ketundukan, dan menghasilkan akrekter-karakter khas yang memperkenalkan kebingungan terhadap skema-abadi Eksistensi.
Dalam Thasin 6, iblis sejak awal ditampilkan sebagai figur yang terbatas dalam wujudnya sendiri. Konsep tentang wujud tampak sebagai nafsu menggebu dalam pola berpikir iblis. Ia hanya memperhatikan Keesaan Tuhan, dan gagal menunjukkan kesadaran mengenai sifat-sifat lain Tuhan. Pendekatan iblis hampir bersifat matematis, dan penalarannya mengenai Keesaan Tuhan tidak menunjukkan tanda-tanda kepercayaan apa pun pada manifestasi Kehendak Tuhan dalam fenomena dan khususnya dalam penciptaan manusisa. Bagi Iblis, penciptaan berhenti menjadi bukti dari sifat-sifat Tuhan. Akibatnya, proses berpikir iblis berjalan dari abstraksi ke abstraksi tanpa acuan pada pengamatan atau data-data iderawi yang berasal dari penglihatan. Sikapnya ini memungkinkan iblis untuk hanya menyembah Sang Khaliq sebagai Abstraksi Murni. Tetapi, di luar kondisi abstraksi murni iblis hanya dapat mendekati kondisi pemisahan dirinya, dan ketika sampai di sana iblis hanya dapat muncul sebagai makhluk “yang tidak dapat diandalkan”. Dalam Thasin 6 pada tahap inilah iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam a.s., dan dengan cara ini mempertegas kepatuhan kepada Kehendak Tuhan. Iblis menolak menjalankan perintah ini dan mengajukan pembenaran secara persuasif atas tindakannya. Iblis berkata :
“Penolakanku adalah demi Kebesaran-Mu,
Demi Kesucian-mu; dan
Alasanku adalah kegilaanku pada-Mu.
Aku tidak mengenal yang lain selain Engkau, dan Adam
Adalah lain dari Engkau. Di antara Engkau dan aku, tidak ada yang lain; jika harus ada; maka yang lain itu adalah aku.”
(Thasin 6 : 10).
Perhatian iblis kepada Wujud tuhan berubah menjadi perhatian terhadap diri sendiri. Karena penyimpangan yang dilakukan iblis, Wujud Tuhan tergantikan dengan wujudnya sendiri. Meneruskan pembenarannya, iblis lebih lanjut berkata :
“Bagiku tidak ada jalan kepada yang lain
Dari Dikau; dan aku memiliki alasan
Untuk ini ..... sejak dulu telah ditentukan sebelumnya
Tidak ada yang lain, kecuali aku yang mengetahui Engkau,
Dari waktu ke waktu
Aku datang sebelum yang lainnya karena aku tinggal abadi
Dalam ketaatan sebelum ciptaan-Mu yang lain mengenal ketaatan.
Dengan demikian pengetahuan-Mu
Adalah pengetahuanku, engkau bersandar
Kepadaku dan aku bersandar kepada-Mu
Dan kebersamaan
Di antara kita ini jauh lebih tua
Daripada masa kehidupan ini sendiri.
Jadi mengapa aku harus sujud di hadapan
Yang bukan Engkau
Tetapi yang lain dari Engkau. Dan aku menolak;
Tidak ada pilihan, tidak ada jalan, tidak ada
Tindakan lain kecuali apa yang telah aku lakukan,
Api yang memberikan aku
Bentuk menarik daku kembali ke api.
Dan api menurunkan api. Kehendak ini
Adalah milik-Mu; dan apa pun yang kini Engkau
Tentukan adalah milik-Mu
Dalam pemisahan diri dari Engaku tidak ada
Kejauhan lain
Yang tertinggal untukku; dan Aku menyadari bahwa jauh
Dan dekat adalah kata-kata bersahaja
Tanpa isi; karena aku telah menjalaninya selama ini
Dan jauh dari Engkau. Dan Aku telah membuat
Pemisahan dari Engkau
Teman-temanku ... sahabat dalam kesedihanku.
Dan siapa yang dapat menyebut seperti ini,
Meskipun dengan cinta, dan akan berakhir
Dengan perpisahan dari-Mu.”
(Thasin 6 : 11 – 2).
Dalam konteks di atas tampak jelas bahwa iblis mewakili suatu kondisi pikir yang didera oleh nafsu yagn didasarkan pada akal (intellect/al-‘aql). Gagasan iblis tentang kepatuhan juga ditentukan oleh kondisi pikir seperti itu. Tampaknya tidak ada dimensi lain yang terdapat dalam struktur pemikirannya. Ia memberi kehormatan pada dirinya sendiri selaku kahluk pertama di antara makhluk (lain) yang telah memiliki keberhasilan paling awal yang mengenal Sang Khaliq dan juga dalam mengindentifikasikan pengetahuan tentang Kebenaran-Nya. Pengetahuan ini, karenanya menengarai isyarat-isyarat kecerdasan tinggi dan mengembangkan suatu kepercayaan terhadap keesaan Wujud Tuhan. Kecenderungan bersama antara Sang Khaliq dengan (figur) protagonis (iblis) menggarisbawahi penegasan-penegasan al-Kindi (w.783) dan definisinya mengenail Akal Perantara (‘aql fa’al) yang “berasal dari Tuhan dan, meskipun bekerja pada kemampuan-kemampuan tubuh, tidak bergantung pada tubuh, karena pengetahuannya tidak didasarkan pada persepsi-persepsi yang dicapai melalui panca indera.” Melalui mediasi Akal Perantara (Agent Intellect) ala al-Kindi inilah “kecenderungan bersama” seperti yagn ditekankan oleh iblis menjadi mungkin terjadi antara Tuhan dan makhuk-Nya yang tak patuh, iblis.
Dalam penyajian dramaturgis ini, iblis merupakan sebuah abstraksi yang dipersonifikasikan dan dengan demikian ia berada di laur tradisi dunia peri dalam perbagai bentuknya. Pelukisan karakter setan dalam karya Inggris kuno, Fall of yhe Angels yang hampir sejaman dengan masa al-Hallaj memiliki sifat kemanusiaan yang hampir tidak terdapat dalam iblis menurut metafisika Hallajian. Iblis tidak memiliki sifat kemanusiaan di dalam dirinya, karena ia adalh sebuah abstraksi murni, dan dengan demikian pola pikir yang direpresentasikannya cenderung menjadi sebuah struktur pemikiran abstrak. Kondisi strukturalnya memisahkannya dari skema abadi eksistensi dan bertanggung jawab atas pemisahan diri yang dilakukannya dengan Tuhan. Dalam penyajian dramaturgi ini iblis bukanlah setan dalam pengertian tradisional seperti diyakini khalayak umum; iblis adalah karakter khas dimana Pikiran telah menrik diri dari data-data yang disediakan oleh panca indera. Kondisi batiniah ini membuatnya sama sekali tidak dapat memahami Adam yang mewakili seluruh kepribadian manusia, dan juga mendorongnya untuk mempertahankan keunggulan akalnya secara berkelebihan dengan merendahkan kemampuan-kemampuan jiwa manusia. Karena itu, kesombongan iblis adalah akibat dari dorongan-dorongan tersembunyi dalams truktur pemikirannya.
Berdasarkana sal-usul yang dari api, iblis mengungkapkan dan menyamakan aspek penting dari akrakter khasnya. Api tidaklah mengungkapkan kehadiran cahaya dan bahkan menjadi tak senonoh akibat kelalaiannya. Metafisika Hallajian pada dasarnya adalah sebuah teosofi tentang cahaya; dalam bentuk api, panas yang dipancarkan hanyalah kenyataan yang mengelilinginya dan bukan kebenaran nur dirinya. Karena itu, berdasarkan asalnya, iblis mendekati kenyataan yang menyelimutinya dan model pengetahuannya – dengan ketiadaan cahaya --- menjadi kebutaan total yang secara serampangan dimotivasi oleh gelora nafsu berdasarkan nalarnya. Penekanan al-Hallaj pada penglihatan dan pengamatan menegaskan ketidaksempurnaan pengetahuan iblis mengenai Keesaan Tuhan. Kebutaan yang dialami iblis menyebabkan kebingungan dalam skema abadi eksistensi.
Penegasan iblis pada “kecenderungan bersama” antara dirinya dan Tuhan, yang juga menegaskan emanasi Akal Pertama, memunculkan suatu pernyataan metafisika. Bagaimana jika iblis gagal untuk benar-benar mengenal Kehendak Tuhan yang mendasari perintah Tuhan dalam situasi-situasi tertentu? Apakah Akal Perantara itu murni sebagai suatu kemampuan mengenal dan bukannya kemampuan yang (dapat) mebeda-bedakan? Dan karena Iblis tidak memiliki kemampuan untuk membeda-bedakan itu – berdasarkan asal-usulnya, dan karenanya, gagal untuk bertindak menurut ahaya Kebijaksanaan Tuhan. Pada kenyataannya, “akal” yang diperlihatkan oleh iblis tidak memiliki kemampuan potensial apa pun yang berhubungan dalam dirinya, dan oleh akrena itu Akal Perantara tidak memunculkan kemampuan potensial apa pun pada iblis, dan menurut al-Farabi (w.950) timbulnya kemampuan potensial untuk bertindak memang hanya pada manusisa. Secara teknis, tidak adanya respon terhadap perintah Tuhan dalam diri iblis kecuali pada penekanan kesadaran akan Keesaan Tuhan. Dalam diri iblis, akal terisolasi untuk memeriksa dan menguji reaksi-reaksinya pada Kehendak Tuhan. Thasin 7 memberikan pandangan lebih utuh mengenai keadaan pikiran iblis dan menjelaskan pemisahan diri secara total yagn dilakukan iblis dari sifat-sifat utama Tuhan : Kehendak, Kebijaksanaan, Kekuasaan, Pengetahuan dan Keabadian. Dalam skema abadi eksistensi ini iblis muncul pada tingkat kemungkinan yang jauh lebih rendah dari manusia (Adam, a.s.).
Penyajian dramaturgis akhirnya menjelaskan bahwa manusisa lebih unggul dari iblis dari segi kemungkinan-kemungkinan dalam bingkai sifat-sifat utama Tuhan. Tetapi manusia (Adam) dalam setting keabadian muncul hanya sebagai kemungkinan murni. Tetapi, ketika ia muncul dalam waktu historis, kemungkinan ini digoda oleh karakter khas lain, yakni Fir’aun, Dewa Matahari di Lembah Nil masa kuno. Dalam Thasin 6 : 22, Fir’aun ditampilkan untuk menggambarkan situasinya sebagai berikut :
“Dan Fir’aun berkata, ‘Aku tidak mengetahui bahwa
Engkau mempunyai tuhan selain aku’;
Dan dia belum mengenal seorang pun
Di antara kaumnya yang dapat membeda-bedakan
Untuk memilih antara kebenaran
Dan ketidak-benaran, antara yang hak
Dan yang sesat.”
Fir’aun jauh lebih tunduk dibanding iblis terhadap dorongan-dorongan kondisi manusiawinya. Tetapi, situasinya adalah hasil dari keterasingan (alienasi) pengetahuannya mengenai Tuhan. Struktur intelektual yang seperti diinformasikan iblis tidak beroperasi pada karakter Dewa Matahari tersbut. Fir’aun juga tidak memiliki kontak apa pun dengan kecerdasan yang dapat membedak-bedakan. Alasan inilah yang membuat Fir’aun gagal memiliki --- secara eksternal – Akal perantara maupun – secara internal – kecerdasan potensial. Karena itu, pengetahuan Fir;aun memiliki keterbatasan, dan ia membatasi dirinya sebagai Pencipta. Dalam metafisika Hallajian, kondisi manusia, yang begitu buruk, sangat membutykan Nabi karena hanya melalui perantara Nabi, manusia dapat membentuk kembali hubungannya dengan Cahaya yang terwujud. Tetapi, dalam Thasin 6 : 24, karakter khas manusisa yang diwakili Fir’aunini memunculkan kembali kemungkinan tersembunyi (laten)nya ketika ia berhadapan dengan situasi-batas.
Dua karakter khas tersebut menyajikan keadaan eliensi dalam skema abadi eksistensi; iblis mewakili akal yang teraliensi; sementara Fir’aun mewakili keadaan teraliensi dalam kondisi manusia. Pada dasarnya, keadaan aliensi ini telah menemukan ekspresi-ekspresinya dalam karakter-kareakter yagn diambil dari sumber-sumber keagamaan. Tetapi satu hal yang perlu disebutkan bahwa karakter iblis pada hakikatnya adalah sebuah representasi sekular. Iblis tampaknya tidak meiliki kesamaan apa pun dengan setan dalam Kitab Kejadian (Book of Genesis); ia juga secara dangkal disamakan dengan Malaikat yang Terjerumus (Fallen Angel) dalam tradisi keagamaan kaum Muslim. Pendekatan terbaik memahami iblis dalam Thawasin dapat ditemukan dala karya Milton, Paradise Lost. Cara berpikir tak masuk akal tentang iblis dalam Thawasin sama dengan cara berpikir tidak nalar tentang setan dalam karya Milton, Paradise Lost. Hal yang sama juga terjadi dalam karateristik Fir’aun, ketika mewakili kondisi manusia yang teralienasi, bermakna situasi-batas dari penderitanaan panjang menghadapi kematian. Melalui situasi-batas ini, Fir’aun menyelamatkan dirinya dari pandangan dangkalnya atas penuhanan diri. Di balik karakter-karakter khas ini, terlihat lebih mudah untuk merasakan suasana dari iklim gagasan pada masa al-Hallaj; akal yang teraliensi dan kondisi manusia yang teraliensi sama-sama mewakili lingkungan intelektual dan sosial dari dunia yang dihadapi oleh al-Hallaj.

Sikap pemikiran Hallajian dengan mengacu pada kareakter-karakter khas (iblis dan Fir’aun) tersebut memerlukan klarifikasi (penjernih) karena beberapa pakar mengenai al-Hallaj melihat (secara keliru) bahwa al-Hallaj cenderung bersimpati kepada iblis dan Fir’aun, dan al-Hallaj menganggap mereka sebagai penasihatnya dan sangat berlawanan dengan pendapat kegamaan kaum Muslim. Sebagian besar pakar mengenai al-Hallaj menganggap iblis dan Fir’aun sebagai karakter-karakter kosmik dan historis, serta menempatkan keduanya pada perspektif negatif dalam penilaian keagamaan secara umum. Al-Hallaj memang menganggap kater-karakter tersebut sebagai kekuatan-kekuatan negatif, tetapi dalam Thawasin tidak ada indikasi bahwa al-Hallaj menyetujui karakter-karakter itu dengan memberi status yang istimewa. Dalam Thasin 6 : 18-9, pandangan-pandangan al-Hallaj mengenaim “malaikat yang terjerumus” (iblis) perlu diperhatikan. Al-Hallaj megnungkapkan demikian.
“Banyak pandangan-pandangan mengenai Azazil;
Dialah yang memperingatkan di surga dan di bumi,
Di langit ia meminta para malaikat melihat segala sesuatu
Yang baik, dan di bumi ia meminta
Manusisa melihat kejahatan,
Dan kebaikan dikenal melalui kejahatan dan
Kejahatan dikenal melalui apa yang
Bertentangan dengannya.
Pakaian sutera halus terbuat dari benang kasar
Yang diambil dari pakaian yagn kasar dan kotor,
Dengan cara yang sama, Raja menampakkan segala sesuatu
Yang baik dan segala sesuatu yang buruk,
Dan mengajukan pilihan..
Dan mereka yang mengikuti kebaikan menjadi baik,
Dan yang menolak untuk mengetahui kejahatan
Tidak akan pernah mengetahui apa yang baik.”
Dalam Thasin 6 : 30, Azazil didefinisikan sebagai berikut :
“Dia disebut Azazil karena ia
Memilih menatik diri dan
Disingkirkan dari posisinya yang telah ia pegang
Di surga, Penarikan dirinya
Bertentangan dengan jati diri aslinya. Dan
Ini dibuat terang dan menyala karena
Ketegasannya untuk menrik diri.”
Dalam Thasin 6 :34, al-Hallaj lebih lanjut berkata :
“Orang bijak di sutu Kabilah menjadi
Bodoh dan bisu mengenai dia; dan
Mereka yang mengenal dan hendak berkata-kata
Menjadi tidak dapat berbicara
Tentangnya (Azazil) ...”
Dalam rujukan-rujukan mengenai Azazil (iblis) ini, al-Hallaj lebih tegas mengenai karakter khas ini, dan hanya secara tidak langsung menempatkan Fir’aun dalam batas penilaian. Azazil memberikan suatu bentuk negatif dari perilaku, dan dengan demikian membentuk sebuah contoh penarikan diri. Al-Hallaj tidak cenderung bersimpati kepada iblis dan tidak meiliki simpati apa pun atas penarikan diri yang dialkukan iblis ke dalam fungsinya sebagai Azazil. Tetapi, apa yang menarik dari Azazil ini adalah identifikasinya yang pantang mundur dengan struktur pemikiran yang tidak mengalami penyerapan secara totalitas. Dalam hal ini Nalar menjadi pengrusak-diri yang memang merupakan arti etimologis dari kata : Syaitan (setan).Sebagian besar pakar mengenai al-Hallaj telah mengabaikan watak alegoris dari akrakter-karakter tersebut, dan karenanya telah mencapuradukan iblis ala al-Hallaj dengan iblis dalam tradisi umum.

Dalam penyajian dramaturgis dimana iblis memegang posisi sentral ini, sebenarnya Adam-lah yang menentukan iblis dalam versi Hallajian. Keunggulan Adam, yang tersirat dalam perintah Tuhan, mengungkapkan kelemahan muatan pemikiran yang diekspresikan iblis. Iblis, sebagai karakter khas, mewakili akal, dan dalam hubungannya dengan Adam menyajikan penyerapan ke dalam matriks perasaan-perasaan manusiawi. Akal itu harus tumbuh dalam kedalaman perasaan-perasaan batiniah manusia guna mengenal Tuhan dalam totalitas-Nya. Jadi, Adam menjadi instrumen utama dari Pengetahuan tuhan, dan penarikan diri yang dilakukan iblis tetap bersifat sepihak dan meghancurkan diri sendiri. Dalam penyajian dramaturgis ini Adam-lah yang memungkinkan untuk memenuhi Kehendak Tuhan. Posisi sentral  yang dulu diduduki oleh iblis sekarang diisi oleh Adam. Thasin 6 sebenarnya adalah “Kitab tentang Adam.” (Book of Adam). Metafisika Hallajian memilih Adam menjadi saksi hidup terhadap Pengetahuan Tuhan. Dengan perspektif ini, pandangan dunia al-Hallaj muncul dalam sejarah Islam, dan meninggalkan gambaran dunia yang dilukiskan dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh oleh pemikiran Mu’tazilah.
Hal penting lain yang perlu diperhatikan bahwa argumentasi utama Thasin 6, yang dalam hal Pengetahuan Tuhan ditunjukkan kepada Nabi Muhammad saw. yang kehadirnnya merahmati ketidakberdayaan dari situasi historico-kosmis yang terbatas ( 6 :1-4), melengkapi kandungan konsep Hallajian mengenai Kebenaran. Dan Adam, saat memegang posisi sentral dalam situasi tersebut, muncul dari kondisi kosmiknya, dan memasuki sejarah manusia tepat pada titik dimana al-Haqq diwujudkan dalam wahyu Nabi Muhammad saw. Dalam kerangka pikir yang lebih luas, karakter khas yang digambarkan secara negatif oleh Fir’aun, dan menemukan kembali dirinya dala “Aku” personal ( 6 : 23), pada umumnya dianggap berasal dari al-Hallaj sendiri. Sebenarnya “Aku” personal dalam Thasin 6 : 23 adalah letak yang dipotong oleh Adam, dan al-Hallaj historis dalam kehadiran al-haqq yang merupakan Kebenaran Wahyu yang mewujud dalam diri Muhammad. Jadi, Adam selaku ummat manusia, menggantikan ego Hallajian seperti yang terdapat dalam biografi, dan menjadi Ego Universal untuk menemukan al-Haqq melalui perantara Nabi Muhammad saw. Jika tidak demikian, pola dalam Thasin 6 akan kehilangan dasar argumentasinya.

Penempatan latar belakang yang ditekankan di atas, ekspresi Hallajian : ana al-haqq terdapat dalam Thasin 6 : 23, dengan konteks berikut ini (6 : 21 – 3) :
“Dan al-Hallaj berkata, “Aku memasuki perselisihan
Dengan iblis dan Fir’aun
Tentang ketaatan; dengan keteguhan yang pasti;
Dan iblis berkata
Bahwa sujud di hadapan Adam adalah
Meruntuhkan ketaatannya, dan ini akan membuat
Dia terasing dari dirinya sendiri. Dan Fir’aun
Berkata bahwa mengimani Rasul-Nya
Cukup menjadtuhkan namamnya
Di hdapan kaumnya. Dan kepada mereka
Aku menjawab bahwa jika aku juga kembali
Pada keyakinanku sendiri
Aku kehilangan keberadaanku,
Sikapku.’
Dan kemudian iblis berkata, ‘.... Aku lebih baik
Dari dia (Adam); dan dia tidak mengenal yang lain
Kecuali dirinya sendiri; dan Fir’aun berkata :
“Aku tidak mengetahui --- kalau engkau
Memiliki tuhan selain aku’;
Dan dia tidak tahu seorang pun
Di antara kaumnya yang dapat membeda-bedakan;
Untuk memilih antara kebenaran dan
Ketidakbenaran; antara yang hak
Dan yang salah
Dan Aku berkata, ‘Jika engkau tidak mengenal Dia,
Maka lihat dan kenali
Tanda abadi-Nya, tanda yang kekal;
Dan Tanda itu adalah Aku, dan
Akulah Kebenaran (ana al-Haqq) itu dan dalam
Hakikat aku selamanya
Bersama dengan Kebenaran itu’.’
Penyajian dramaturgis dengan karakter-karakter khas ini bergabung menjadi puisi yang mempesona dalam situasi dan pengalaman yang diberikan di atas. Karakter-karakter khas tersebut memperoleh makna intrinsiknya dari “Aku” personal yang dalam luapan kegembiraan puitis memasuki hubungan yang serius dan tinggi dengan Kebenaran. Tetapi dalam konteks ini, “Aku” personal adalah simbolisasi dari “tanda abadi” dan, oleh karenanya, “Aku” personal menentukan dirinya sendiri sebagai Kebenaran. Khusus mengacu pada iblis dan Fir’aun, Tanda abadi itu adalah Adam secara historis pada persitiwa tertentu yang diwakili oleh wujud berpengalaman dan secara eksternal dapat dipahami sebagai a;-Hallaj. Ini adalah kondisi vertikal dimana “Aku” personal menerima pengalaman menjadi “Aku” Universal, dan kata-kata yang diberikan kepada Adam membawa Kehendak Tuhan dalam sejarah manusia.
Keindahan dalam alur puitis yang amat tinggi, yang membentuk komponen dasar kepekaan Sufistik, dalam hal ini, merupakan ekspresi struktur pemikiran yang mewarni buku-buku lebih awal dalam Thawasin. Pemikiran al-Hallaj di sepanjang buku-buku tersebut secara aktif melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk mendapatkan perlakuan khusus. Dan dalam lingkungan yang sedang berkembang ini, luapan kegembiraan itu laksana sebuah percikan, muncul dari lapisan kesadaran pikir yang terdalam dan mentransformasikan “Aku” personal serta masuk ke dalam sebuha hubungan baru dengan konsep (al-haqq) yang menjelaskan fenomena Wahyu. Luapan kegembiraan ini mempertegas temuan yang dicapai oleh struktur  pemikiran dalam Thawasin. Tetapi meskipun dalam keadaan kegembiraan ini “Aku” personal menunjukkan sebuah gerakan batiniah yang mungkin tertutupi oleh eksprei Hallajian dalam pengalaman  tersebut terpusat pada masalah Pengetahuan Tuhan : Ma’rifatullah (Gnosis of God), dan ini bergerak dari acuan tersebut pada gagasan tentang Tanda abadi yang dibuat khusus dalam “Aku” personal. Dan “Aku” personal diidentifikasikan dengan Kebenaran. Tetapi, identifikasi ini terbagi sebuah dimensi yang berhubungan secara eksternal dan obyektif dari kebenaran.
Pengalaman kasyaf ini, yang membentuk klimaks struktur pemikiran Thawasin, menawarkan beberapa pengalaman penting. Karena iblis dan Fir’aun, dalam kondisi kosmik dan historis mereka, gagal mengenal Tuhan berdasarkan Wahyu-Nya, penekanan dan acuan al-Hallaj terhadap “tanda abadi” tidak menyamakan “tanda” tersebut dengan Konsep Tuhan. Maka pada tahap awal penekanan ala al-Hallaj ini perlu juga ditanyakan apa sifat yang pasti dari “tanda abadi” yang mampu mengesahkan Konsep Tuhan itu. Dalam kerangka Thasin 6, Adam-lah yang merupakan “tanda abadi”, karena ia saling menghubungkan skema-abadi eksistensi dengan kondisi manusia historis. Dan dengan demikian Kehendak Tuhan melalui Adam, mengesahkan Konsep Tuhan. Pada saat ini masuknya “Aku” personal dalam keadaan kasyaf, memberikan sebuah lokasi konkret pada “tanda abadi” yang tetap tersembunyi dalam kondisi manusia. Sebagai sebuah argumentasi jawaban yang diberikan oleh pengalaman kasyaf ala al-Hallaj dalam hal “tanda abadi” haruslah berhenti pada poin ini. Tanda tersebut telah mengesahkan Konsep Tuhan. Tetapi yang terjadi tidaklah sesuai dengan perkiraan ini. Sebaliknya “Aku” personal telah muncul pertama-tama untuk menghidupkan Tanda tersebut dan kemudian mengarahkan proses penegsahan itu kepada Kebenaran “Aku” personal saling menghubungkan Tanda dengan Kebenaran; “Aku” personal memperluas dirinya melampaui seluruh fenomena ciptaan (Manusisa) dan Wahyu. Secara tekstual, “Aku” personal muncul pertama kali sebagai Tanda dan kebudian sebagai Kebenaran, dan kemudian lenyap ke dalam Hakikat untuk muncul kembali sebagai sebuah kondisi obyektif dalam mengesahkan Kebenaran. Jadi, Kebenaran-lah yang pada dasarnya mengesahkan Konsep Tuhan.
Identifikasi “Aku” personal dalam pengalaman puitis yang serius selalu menajdi masalah penting dalam pemikiran sastra. Emosi pribadi – melalui pengalaman puitis – kehilangan acuan personalnya dan ditransformasikan ke dalam emosi puitis yang kehilangan identitasnya dari segi biografis. Demikian juga, “Aku” personal berhenti untuk mempertahankan personal dan memiliki karakter impersonal ketika melewati pengalaman puitis. Bahkan pada tingkat ekspresi puitis tertinggi, “Aku” personal digantikan oleh “Aku: impersonal, yang akhirnya menggemakan totalitas media kreatif dan lingkungannya. “Aku” impersonal, pada tingkat memberikan ekspresi pada lingkungan yang diaktifkan atau dihidupkan kembali. Mungkin yang demikian ini adalah fenomena yang mendorong pemikiran tradisional klasik untuk mempertanyakan siapa Pembicara di balik “Aku” personal dalam pengalaman kasyaf yagn dialami al-Hallaj. Dalam puisi “Aku” personal sering berubah menjadi “Aku” impersonal yang, ketika bereaksi terhadap konsepsi-konsepsi yang beragam, memberikan ekspresi pada konsepsi-konsepsi tersebut melalui dirinya sendiri. Konsepsi-konsepsi tersebut berbicara melalui “Aku” impersonal. Tetapi, fenomena ini tidak terjadi dengan sendirinya, dan ekspresi yang terungkap otomatis saja menjadi tulisan.
Karena itu, dalam konteks tekstual, “Aku” impersonal adalah poin di mana Tanda dan Kebenaran bertemu serta memberikan kepadanya Kekuatan keyakinan yang dialami kembali. Sebenarnya Tanda itu sendiri melebur ke dalam Kebenaran, dan “Aku” impersonal juga menunjukkan tahapan-tahapan tekstualnya; Tanda dan Kebenaran direpresentasikannya, dan melalui perantara Tanda dan Kebenaran tersebut “Aku” impersonal --- di saat bergerak antara Penciptaan dan Wahyu. – memberi tekanan tambahan pada al-haqq. Dan, ketika melakukan kepekaan kreatif di sepanjang konsepsi-konsepsi ini “Aku” impersonal mempertegas keashihannya dalam lingkungan langsungnya yang dapat diantisipasi. Pengalaman kasyaf al-Hallaj dan “Aku” impersonal menegaskan Kebenaran dalam kerangka Islam. Dan Kebenaran, sebagaimana Wahyu, mengabsahkan Konsep Tuhan.

Dalam panorama dunia ala al-Hallaj, jeritan ana al-haqq muncul dalam sebuah lingkungan yang dibayangi oleh alienasi pikiran (Akal/iblis) dan kondisi manusia (Fir’aun). Jalan menuju Tuhan terhalang oleh ketidaktahuan mengenai Tuhan; dan Kebenaran disamakan dengan konstruksi logis. Dalam lingkungan ini al-Hallaj mampu menundukkan “Aku” personalnya, dan memperluas kesadaran untuk memunculkan “Aku” impersonal. Jadi, ia berhasil dalam mengarahkan keberadaan psiko-fisiknya menuju Kebenaran yang ditandaskan dalam Islam. Penemuan “Aku” impersonal oleh al-Hallaj pada kenyataannya merupakan misteri yagn tidak dapat dijelaskan dalam iklim intelektual masa itu. Al-Hallaj menambahkan sebuah dimensi baru pada gagasan tentang keberadaan manusia, dan dengan dimensi ini sejarah Islam memasuki sebuah area peradaban yang lebih berkembang dan maju. Al-Hallaj menyelamatkan dunia Islam dari kejatuhan di bawah ancaman kosmologi yang hidup untuk segera menerima Wahyu dan mengenal Tuhan melalui perantara Kebenaran. Selama berabad-abad, al-Hallaj dibicarakan di kalangan ummat Islam dalam idiom cinta, dan ana al-haqq tetap emnjadi suara yang menghibur banyak generasi kala dirundung derita kesepian spiritual. Para nenek dalam cerita-erita rakyat masih membicarakan Manshur (al-Hallaj) di tempat-tempat yang jauh dari dunia Islam. Orang-orang tua, ketika memandang ke langit biru, mendengarkan misteri ana al-haqq dan menghela nafasnya dari tekanan jiwa. Dan dalam keheningan malam-malam tropis suara para penyanyi Qawwali (Musik keagamaan di Pakistan), terus mengalun tanpa batas waktu. Ana al-haqq; ana al-haqq; ana al-haqq.......!!

KITAB  -  THAWASIN

Thawasin adalah kisah kehidupan spiritual al-Hallaj.
Karenanya, dapat banyak membantu membentuk konteks tekstual dan
Makna dari Ana al-Haqq (itu sendiri)

THASIN I
KITAB TENTANG BENTUK CAHAYA


Husain bin Manshur al-Hallaj --- rahimahullah – berkata
(1)
Thasin ....;
Inilah bentuk cahaya yang bersinar
Dari Yang Tak Terlihat,
Ia tampak dan terpancar,
Serta kembali kepada Yang Tak Terlihat
Dan kebenaran itu melampaui segala cahaya,
Menjadi cahaya di atas cahaya,
Dan benderangnya memnacar ke seluruh bulan.
Titiknya yang paling terang menjulang angkasa
Diselimuti oleh misteri.
Kebenaran (Haqq) menyebut dia Ummi
Dikarenakan aspirasinya yang mulia,
Menyebut dia seseorang dari Rumah Suci
Dikarenakan karunianya yang sangat melimpah;
Dan menyebutnya Makki karena dia
Tabah dalam kedekatan dengan-Nya,
Dan karena kedekatannya itu ia bersama
Dengan kebenaran (Haqq) itu sendiri.”
(2)
Dadanya dilapangkan dan kedudukannya
Ditinggikan di atas,
Kehendaknya diwujudkan.
Ia kemudian dilapangkan, dilapangkan dari beban
Yang memberatkan
Dan pada semuanya ditampakkan bulannya;
Dan bulan itu, bulannya muncul dari awan-awan
Daratan Yamamah
Dan menjadi matahari pagi di Tihamah,
Dan lampunya memberi cahaya,
Dari Hikmah Sang Mahabesar.
(3)
Apa pun yagn ia katakan dalam hikmahnya,
Dalam cahayanya,
Dan tentang enam hal yang ia katakan,
Ia katakan dalam kebenaran jiwanya.
Ia pertama-tama membuat dirinya ada,
Serta memiliki pandangan dan kemudian
Dirinya sendiri menjadi mata yang melihat,
Dan kemudian ia memperingatkan;
Pertama-tama ia menunjukkan jalan,
Lantas memberi batas pada jalan itu.
(4)
Pada hakikatnya tidak seorang pun telah melihat dia,
Telah menyelamatkan temannya, Siddiq Kebenaran,
Yang mengenal dia seperti dia mengenal
Kebenaran itu;
Ia berada di samping Kebenaran itu,
Mengikuti jejak-jejak kebenaran itu,
Dan tan seorang pun berada di sana
Untuk memisahkan mereka.
(5)
Dan tak seorang pengembara-spiritual pun
Yang mencari telah melihat dia, atau mengenalnya;
Dan tak seorang pun telah mengetahui dia;
Dan kebajikannya tetap tidak diketahui
Seolah tidak ada seorang pun untuk
Menciptakan kebajikannya.
Jadi, kebenaran berkehendak
Untuk menyingkap kebenaran,
Dan mereka yang meninggal memiliki Kitab ini
Dan mereka mengenal dia
Seperti mereka mengenal anak-anak mereka;
Dan salams eorang di antara mereka
Mengakui kebenaran itu.
(6)
Dari cahayanya tampak cahaya semua kenabian,
Dan dari pancaran cahayanya,
Pancaran-pancaran cahaya baru muncul.
Tidak ada cahaya-cahaya lain yang lebih cemerlang,
Dan lebih cerah dan mendahului
Pra-eksistensi daripada cahayanya.
(7)
Perenungannya melampaui semua renungan
Dan keberadaannya melewati ketiadaan,
Dan namanya mengungguli Pena,
Karena ia mendahului semua orang,
Dan dunia ini atau dunia lain atau di dunia
Di sebrang dunia ini
Tidak ada seorang pun yang begitu
Penuh dengan daya pikat, baik dan bijak,
Dan dalam pikirannya seperti dia;
Ia adalah pemimpin dari semua makhluk;
Dia adalah Ahmad, dan segenap puji tertuju padanya,
Tak tertandingi kemuliannya,
Perkataannya tak lekang karena ia
Bermurah hati dalam keberadaannya,
Dan tinggi dalam kebajikan dan keunikannya,
Dalam pikirannya ketika sedang berpikir mendalam.
(8)
Ia membuat ia tertinggi, di atas segala yang ada
Dan mengangkat posisinya;
Dan menyatakan dia agung dan dikenal di
Daratan dan lautan;
Dan membuat ia berseri-seri, penuh cahaya,
Dan berkuasa serta dapat melihat dan memahami;
Sebelum suatu ciptaan diketahui ia telah diketahui;
Dan dari yang pertama sampai
Yang terakhir namanya
Tetap tertulis di sepanjang masa.
Hatinya menyucikan;
Perkataannya memperingatkan,
Dan pengetahuannya meninggikan;
Percakapannya adalah percakapan berbahasa Arab,
Tetapi suku bangsanya bukan di timur juga bukan di barat;
Rasnya dan apa yang menggantikannya
Menyatakan penghargaan;
Dan dia memiliki seorang teman
Di rumah suci.
(9)
Ia membuat sebuah pertanda dan mata-mata
Yang memiliki pandangan,
Segala sesuatu yang tidak diketahui,
Yang tersembunyi dan segala misteri menjadi diketahui,
Segala sesuatu dikenal.
Kebenaran membuat ia berbicara,
Akal membuktikan dia benar,
Dan kemudian membuat dia bebas.
Ia adalah kebenaran yang dimanifestasikan,
Dan kebenaran merupakan
Perwujudan kebenarannya.
Dadanya dibersihkan dari kotoran hitam.
Ia datang, tidak dengan perkataan
Yang ditemukan atau diperintahkan,
Atau seseorang yang kehilangan bentuk atau akal
Atau merupakan hasil kerja
Dari seseorang di sini atau di sana;
Ia datang dengan perkataan yang tidak berubah,
Juga tidak emngikuti perubahan;
Ia ada bersama-sama dalam kebenaran
Dan mengada melampaui semua pola pikiran;
Ia telah menegaskan Penyebab dari segenap sebab
Dan Pengakhir dari yang akhir.
(10)
Dan di atas dia menyalah awan,
Awan yang menyala; dan di bawah kakinya
Kilat menyala dan kegelapan sirna;
Dan awan itu menurunkan titik-titik airnya sebagai hujan;
Dan membuat bumi menumbuhkan buah.
Semua pengetahuan adalah setetes
Dari samudera pengetahuannya;
Dan seluruh hikmah adalah sebuah muara
Dan aliran sungainya yagn sangat dalam;
Dan seluruh waktu adalah sejam dari masanya,
Dan keberadaannya di luar masa,
Dari masa yang tertulis dalam kehidupannya.
(11)
“Kebenaran bersama dengannya; apa yang terbatas
Dan yang tak terbatas juga bersamanya.
Dalam kejadian dialah yang pertama
Dan dialah yang terakhir dalam
Rangkaian kerasulan;
Dia-lah makna tersembunyi dari Penciptaan,
Dan makna yang terwujud dari pengetahuan
Tentang Esensi ....”
(12)
Tetapi tidak seorang pun mencari pengetahuan
Yang telah mencapai dia,
Dan tidak seorang pun pemberi keadilan
Telah mencapai hikmahnya.
(13)
Kebenaran tidak pernah membawa
Dia ke segala sesuatu
Yang telah diciptakan karena dia adalah dia,
Tetapi di mana dia? Jadi siapa pun dia, tetaplah dia.
(14)
“Dan tak seorang pun yang mengetahui atau yang tahu
Apa yagn dia ketahui tidak pernah di luar
Mim Muhammad; tidak ada jalan keluar demi dia;
Demikian juga siapa yang bergerak di dalam
Tidak pernah di luar ha’ Muhammad;
Ha’ mengarah pada mim kedua
Dan huruf terakhir da’ membawa kembali
Pada mim yang pertama.”
(15)
Perkataannya menyingkapkan;
Peringatannya merupakan kabar ke semuanya
Dan semuanya menjadi dungu
Sebelum mendengar perkataannya.
Dan al-Qur’an muncul dalam Wahyu,
Dan berbicara dalam percakapannya dalam
Kefasihan yang tak tertandingi;
Menerangi hatinya dan memperkuat fondasinya.
Dan mereka yang berdiri di samping
Mendapatkan mahabah;
Dan menunjukkan perkataannya
Sebagai suatu yang benar
Dan menyatakan keagungannya sebagai keagungan.
(16)
“Jika engkau meninggalkan dan pergi
Ke daerah-daerah yang jauh darinya,
Engkau tidak tidak akan menemukan jalan,
Dan tak seorang pun akan mendekatimu.
Wahai, Jiwa yang sakit!
Engkau tak akan menemukan seorang pun
Yang menyelamatkanmu.
Kata Bijak dari Yang Paling Bijak
Di dunia ini laksana pasir di hadapan dia.”

THASIN II
KITAB TENTANG PEMAHAMAN


(1)
Manusia hampir tidak dapat
Mengetahui Hakikat;
Dan Hakikat tidak berhubungan dengan pemikiran,
Dan pikiran mengenai segala
Sesuatu yang diciptakan.
Apa yang terlintas dalam hati adalah
Gelombang pemikiran
Yang berlalu cepat, tentang ini dan itu,
Dan begitu banyak gelombang pemikiran
Tidak pernah dapat mencapai Hakikat.
Sejauh ini memang demikian,
Sepanjang pengetahuan,
Jadi bagaimana mengetahui Hakikat?
Kebenaran berada di luar Hakikat,
Sebagai sesuatu yang teridentifikasikan,
Dan Hakikat terpisah dari Kebenaran....”
(2)
Laron terbang mengitari cahaya Lilin,
Sepanjang malam,
Dan dalam bentuk-bentuk yang berbeda
Kembali dengan matahari pagi, di pagi hari;
Dan kemudian menceritakan apa yang terjadi,
Bagaimana ini terjadi;
Dan dalam apa yang terjadi terdapat keriangan,
Satu-ssatunya kebahagiaannya;
Karena dadanya berisi harapan untuk menemui kesempurnaan.
(3)
“Cahaya yang ditebarkan oleh Api
Adalah Pengetahuan
Mengenai Hakikat dan Kilaunya
Menjelaskan Hakikat yang berada
Dalam pengetahuan itu;
Tetapi untuk memasuki Kilaunya
Dan untuk mengetahui cahayanya
Adalah dengan “Kebenaran.”
(4)
Laron tidak senang dengan cahaya lilin,
Dengan kehangatan lilin,
Maka ia menjatuhkan dirinya sendiri
Ke dalam api lilin; dan bentuk-bentuk yang berbeda
Menunggu kembalinya laron itu,
Jadi, ia memberi kabar-kabar, informasi-informasi
Mengenai apa yang ia lihat atau bagaimana ia hidup
Melalui api itu. Laron itu hanya lebih suka
Apa yagn dilihatnya daripada apa yang didengar;
Dan oleh karenanya menjadi tiada,
Sesuatu yang tidak berguna, terpecah
Kemudian, dalam bentuknya yang sekarang ia hidup,
Tanpa nama, tanpa bentuk atau tubuh,
Tnpa tanda atau simbol
Anda menanyai aku mengapa?
Untuk apa ia memiliki bentuk-bentuk yang berbeda itu?
Dan bagaimana ia mencapai kondisi itu?
Laron tidak senang dengan cahaya lilin,
Dengan kehangatan lilin,
Maka ia menjatuhkan dirinya sendiri
Ke dalam api lilin; dan bentuk-bentuk yang berbeda
Menunggu kembalinya laron itu,
Jadi, ia memberi kabar-kabar, informasi-informasi
Mengenai apa yang ia lihat atau bagaimana ia hidup
Melalui api itu. Laron itu hanya lebih suka
Apa yagn dilihatnya daripada apa yang didengar;
Dan oleh karenanya menjadi tiada,
Sesuatu yang tidak berguna, terpecah
Kemudian, dalam bentuknya yang sekarang ia hidup,
Tanpa nama, tanpa bentuk atau tubuh,
Tnpa tanda atau simbol
Anda menanyai aku mengapa?
Untuk apa ia memiliki bentuk-bentuk yang berbeda itu?
Dan bagaimana ia mencapai kondisi itu?
Untuk apa? Untuk apa?
Siapa yang mencapai kondisi melihat,
Menjadi tidak peduli pada kondisi mendengar,
Tentang kabar-kabar, tentang cinta yang disebarkan,
Yang menemukan jalan kepada dia,
Yang sedang diamati melangkah jauh melewati
Kondisi melihat, kondisi mengamati.
(5)
“Tetapi dia yang diberi naluri-naluri
Dan kehendak-kehendaknya,
Dan yang lemah dalam berpikir
Dan yang dipenuhi dosa untuk mengejar
Kehidupan fana,
Tidak akan mendapatkan keberhasilan, seperti aku.”
(6)
“O, jika kau pikir akulah orang yang telah mencapai
Keadaan itu atau yang akan mencapai keadaan itu,
Atau telah mencapai kondisi itu
Di waktu-waktu lampau,
O! Tidak, tidak, tidak pernah!
Aku sedang berada di jalanku untuk menemui-Nya,
Dengan caraku yang menuntun kepada Dia :
O! Aku milik-Nya,
Dan Dia belum memiliki aku.”
(7)
O! Jika Anda ingin mengetahui
Maka ketahuilah bahwa apa Yang Nyata
Tidak diketahui
Oleh seorang pun kecuali Ahmad;
Dan Muhammad bukanlah bapak dari kerabatmu
Melainkan Nabi Allah dan Yang Terakhir dari
Nabi-nabi Allah.
Dan ketika ia pergi keluar dari duni ini dan
Bahwa dunia di luar dan melewati keluar dari tempat Manusia
Dan jin, dan tidak ddiketahui oleh Manusia dan jin,
Di sana tidak tersembunyi lagi,
Segala tanda atai bercak kesalahan;
Dan kemudian dia mendekati dan menjadi lebih dekat,
Dan hanya berjarak dua jengkal atau lebih dekat
Dan ketika ia mencapai yang Nyata pengetahuannya,
Kondisi pengetahuan dimana
Apa yang Nyata diketahui
Dibuat sendiri mendengrkan kabar-kabarnya,
Dan membuat berpengharapan tinggi
Ketika mencapai kebenaran, jauh dari yang nyata,
Dan menempatkan dirinya di hadapan-Nya
Yag Pengasih
Dan ketika Kebenaran dibuatnya sendiri
Ia kembali dan berkata :
Pikiranku tidak memiliki satu pin kecuali engkau,
Sujud kepada-Mu; hatiku milikmu
Dan pada saat ia mencapai Akhir dari
Yang akhir ia berkata :
Tidak ada kata-kata untuk membatasi,
Tidak ada bahasa untuk mendefinisikan engkau;
Dan ketika ia mencapai Yang Nyata dari yang nyata,
Ia berkata :
Engkau sungguh seperti yang engkau katakan;
Ia melepaskan semua yang hidup di dunia fana, dan mencapai kejayaan,
Dan hatinya tidak akan menipu apa yang ia lihat;
Dan di sidratul muntaha yang menandai batas-batas pengetahuan,
Tak seorang pun mampu melewatinya
Pandangannya tidak pernah membelok dan juga tidak menipu.

THASIN III
KITAB TENTANG INFORMASI

(1)
Hakikat adalah tajam dan bertepi;
Jalan menuju kepadanya adalah sempit
Dengan semburan-semburan api yang menyala,
Tinggi dan rendah, tak terbayangkan;
Dan jauh di luar sana terdapat sebuah tanah belantara,
Gelap, dan sepi;
Seorang asing itu melewatinya dan menyelami
Segugus empat puluh tingkatan (maqamat)
Dan menceritakan apa yang terjadi di sana.
(2)
Di setiap tingkatan terdapat mode-mode pemikiran,
Dan ilmu pengetahuannya masing-masing,
Sebagian di antaranya mudah untuk dipelajari,
Bahkan jauh lebih mudah untuk dipahami;
Dan sebagiannya di luar dan jauh di luar pemahaman.
(3)
Dan, kemudian, dia --- orang asing itu
Memasuki rumah belantara dan tinggal di sana,
Lalu pergi keluar; dia tidak memiliki seorang pun
Dan tidak mencintai seorang pun;
Jalan tertutup dalam masa tertentu;
Bukit-bukit, batu-batu,
Puncak-puncak bukit yang berbahaya,
Juga daratan, betatapun kasar, betapapun halusnya,
Tidak dapat membuat dia tetap di jalannya.
(4)
Dan ketika Musa telah memenuhi ketentuan
Ia meninggalkan keluarganya dan Hakikat
Adalah keluarganya; ia puas dengan
Apa yang ia ketahui, yang telah dengar;
Lebih suka penyebaran daripada yang diamati;
Karena ini membuatnya dan orang-orang yang
Terbaik menjadi dua manusia berbeda;
Dan membedakan tinggi dan rendah.
Ia kemudian menjawab;
“Mungkin aku mendatangimu dengan
Berita-berita dari sana.”
(5)
Dan ketika orang yang memimpin setuju untuk menerima laporan
Mendengarkan, menyebarkan berita-berita,
Maka mereka yang mengikuti langkah-langkah
Pergi sendiri untuk mencari pembebasan
Dalam tanda dan simbol.
(6)
Di Gunung Sinai, di Pohon itu !
Dan apa yang didengar dari sana;
Atau seseorang lain, ditunjukkan di sana.
(7)
Dan oleh karena itu aku berdiri seperti Pohon;
Dan apa yang aku katakan bukanlah perkataanku,
Tetapi perkataannya.
(8)
Maka, apa yang Nyata adalah nyata
Dan apa yang termasuk segala
Sesuatu yang menciptakan
Adalah sesuatu yang diciptakan
Maka lepaskan segala sesuatu yang diciptakan
Untuk menjadi sebagai dia dan engkau Sebagai dia,
Dan inilah Hakikat.
(9)
Dan aku melihat tanda,
Tanda itu sendiri menjelaskan tanda;
Dan, oleh karenanya, berisi Hakikat
Dalam dirinya sendiri, jadi siapa dia?
(10)
Dan kebenaran menjawab;
Maka ketika kau mengubah pikiran
Dan membuktikan;
Sesuatu yagn telah terbukti
Tidak pernah dibuktikan.
Karena Aku berdiri terbuka untuk bukti.
(11)
Kebenaran membuat Aku melihat Hakikat
Melalui penegasan, melalui perjanjian,
Melalui perkataan lisan;
Dan apa yang aku ketahui berbicara
Meskipun apa pun yang aku miliki dalam hatiku
Rahasia yang aku miliki melampaui Realitas.
(12)
Kebenaran memberitahu aku mengenai hatiku,
Dan memberiku pengetahuan dalam lidahku sendiri,
Dan membuatku dekat;
Urusan-urusanku yang lain berhenti,
Dan Aku menjadi kebenaran itu sendiri.

THASIN IV
KITAB TENTANG LINGKARAN

(1)
Lingkaran pertama di dunia penampakan
Adalah dunia yang menuju ke arah dia,
Lingkaran kedua adalah yang mencapai dia
Dan terputus; dan lingkaran ketiga adalah
Yang memasuki Realitas dan
Kehilangan arah dalam hutan belantara.
Dan melalui lingkaran pertama ada
Kemungkinan untuk mencapai dia;
Tetapi melalui lingkaran kedua semua
Kehilangan arah; dan dalam lingkaran
Ketiga hanya terdapat pepohonan,
Padang-padang pasir dan hutan belantara yang luas.
(2)
Aduh! Bagi dia yang memasuki
Lingkaran pertama dan menemui jalan buntu,
Dan diminta untuk melacak lagi jejak-jejaknya.
Dalam kondisi ini ada esensi
Seseorang yang berdampingan,
Pikiran dan kebenaran.
(3)
Tidak ada jalan terbuka dalam lingkaran pertama;
Tetapi lihat titik dalam hati lingkaran itu ----;
Hakikat adalah titik dari lingkaran itu.
(4)
Dan apa itu Hakikat? Hakikat tidak menghapus
Segala sesuatu, baik yang jelas maupun yang abstrak;
Apakah terlihat oleh mata atau diketahui oleh jiwa;
Dan kemudian, ini tidak pernah berubah;
Dan memiliki bentuk-bentuk baru.
(5)
Jika engkau ingin mengetahui dan memahami
Apa yang telah aku katakan, maka ambil
Empat ekor burung, dan jinakkan mereka
Untuk kembali padamu;
Karena kebenaran tidak pernah terbang.
(6)
Urusan lain-lain dia membuat dia ada
Dalam ketidakberadaannya, tetapi kekuatan
Dia menghalangi dan keheranan dia hilang.
(7)
Ini adalah arti-arti dari Hakikat;
Tetapi arti-arti yagn lebih halus dan tajam
Didapat ketika engkau menghentikan penilaianmu
Dan sangat merindukan arti itu.
(8)
Ia melihat semua sisi dari lingkaran itu
Tetapi tidak pernah melihat di luarnya.
(9)
Dan pengetahuan mengenai Hakikat juga murni
Dan sangat suci dan lingkaran itu adalah
Lingkaran kesucian
(10)
Untuk itu, ia disebut murni dan suci,
Dan ia tidak pernah keluar dari lingkaran kesucian
(11)
Dan Dia tetap berada di luar, melewati apa saja;
Jadi, dia menghela nafas karena tidak dapat mesuk

THASIN V
KITAB TENTANG TITIK

(1)
Dan yagn jauh lebih berbahaya dan mendalam
Adalah pembicaraan tentang titik;
Ini adalah esensi yagn tidak tumbuh atau pudar,
Juga tidak berhenti untuk mengada.
(2)
Siapa yang tidak percaya, berkata tidak,
Mengingkari Titik itu,
Termasuk dalam lingkaran pertama,
Lingkaran penampakan fisik,
Jadi --- ketika ia tidak melihatku,
Ia tidak mempercayai kondisiku
Dan mengatakan aku adalah
Salah satu yang menyembah Api,
Dan memiliki keyakinan dalam dualitas,
Oleh karena itu, membuat aku sangat benci.
(3)
Tetapi --- yang berada dalam lingkaran kedua
Melihatku dalam kondisi dimana
Pendukung itu mendukung
(4)
Dan yang mencapai lingkaran ketiga berkata :
Aku dalam genggaman aspirasi-aspirasi.
(5)
Dan dia, yang mencapai lingkaran Hakikat,
Yang tidak mengetahui apa-apa tentang aku,
Dan menghilang di hadapanku, dalam kegaiban.
(6)
Tidak ada tempat untuk bersembunyi; tidak ada!
Tidak ada tempat untuk keselamatan;
Di hadapan Tuhanmu dimana hari akan menjadi
Tempat istirahat : hari itu manusia akan
Diberitahu apa yang ia lakukan di masa depan,
Dan semua yang ia lakukan di masa lalu.
(7)
Dan ia mendapatkan laporan yang dikirimkan,
Dan berita-berita yang didengar,
Segala sesuatu yagn didengar, disampaikan
Dari satu ke lainnya,
Dan mencari tempat perlindungan serta takut
Akan percikan api ....., diperdayakan,
Telah terjerumus ke dalam api, dalam bahaya besar.
(8)
Dan aku adalah salah satu dari dua burung yang
Dipelihara oleh para Sufi;
Burung itu memiliki dua sayap;
Dan ketika burung itu tidak dapat lagi terbang,
Burung itu mengingkari kondisiku.
(9)
Dan kemudian ia menanyaiku :
Apa itu Kesucian?
Dan aku jawab : Potong sayapmu dengan
Pisau tajam ketiadaan;
Tanpa melakukan ini engkau
Tidak dapat mengikutiku,
Tidak dapat mengetahuiku.
(10)
Dan ia berkata : aku terbang dengan sayap-sayapku,
Dan aku jawab : Aduh, Aduh!
Betapa malangnya engkau!
Karena tak satu pun yang menyamai Dia,
Di sana tidak ada kesamaan, dengan dia,
Dan dia tetap mendengar dan melihat.
Pada hari itu ia jatuh ke dalam samudera makna,
Ke dalam laut pemahaman dan tenggelam.
(11)
Dan apa bentuk makna yang jelas;
Bentuk pemahaman yang jelas; yaitu lingkaran
Aku melihat Tuhanku dengan mata, mata hatiku,
Dan bertanya : Siapa Engkau? Dan ia bertanya :
Engkau! Jadi, tidak untuk di mana?
Dan di mana tidak memiliki kebenaran
Tanpa engkau dan juga tidak ada di mana;
Engkau adalah Engkau sebagaimana adanya!
Dan tidak ada penilaian pasti di dunia
Mengenai Engkau :
Di mana engkau berada?
Dan engkau telah meluaskan diri-Mu, di mana saja,
Dan di mana telah kehilangan keberadaannya.
Jadi, di mana Engkau?
Engkau? Di mana engkau berada?
(12)
Titik pertama berada dalam lingkaran pertama
Yang digambarkan oleh kekuatan penilaian;
Salah seorang di antara mereka benar,
Dan yang lainnya salah.
(13)
Dan ia melewati malam yang membentang
Di sepanjang hatinya;
Dan ia menjadi semakin dekat dengan Tuhannya;
Kemudian menghilang.
Dan ketika ia melihat aku, ia tidak menghilang;
Dan bagaimana ia muncul? Ia tidak muncul;
Dan bagaimana bisa terlihat? Tidak pernah terlihat!
(14)
Ia memasuki area yang penuh takjub;
Dan merenung, dan pada saat ia merenung,
Keheranannya bertambah;
Dan ia sendiri diamati;
Dan setelah itu ia berhak mendapat dirinya sendiri;
Ia, pertama-tama, memiliki penyatuan kembali
Tetapi pemisahan terjadi sesaat kemudian;
Keinginannya jatuh dalam lubang yang dalam,
Tetapi dipisahkan dari hatinya sendiri.
Dan apa pun yang ia lihat,
Hatinya tidak mengingkarinya.
(15)
Pertama-tama ia bersembunyi dan
Kemudian membawa dia lebih dekat;
Kepuasan pertama-tama dan kemudian disucikan;
Menyembunyikan dia pertama-tama dan
Kemudian mengangkat
Dan dengan perhatian, dan menyucikan dia;
Dan memberi dia perasaan menang.
Kemudian membuat dia
Menderita dan menyembuhkan dia,
Dan lantas menjadi pelindungnya dan menjaga dia,
Dan membuat dia mengendali segenap ruang
Sebagai pengendali yang hebat.
(16)
Dan ia yang pertama menjadi yagn terdekat,
Lebih dekat daripada dua jengkal,
Dan ia kemudian mengamati,
Dan seuai dengan aksi dan bentuknya.
Dan ketika ia dipanggil ia menjawab;
Dan ketika ia bersemedi, menghilang.
Dia meminum airnya, dan puas.
Dan, lebih dekat ia membawa dirinya.
Terkagum ia jadinya,
Dan ia meninggalkan tempat tinggalnya,
Teman-temannya, kawan-kawan,
Para pembantunya --- semuanya;
Dan melampaui semua rahasia,
Semua misteri dan semua simbol.
(17)
Temanmu tidak tersesat, juga tidak salah jalan.
Tidak jatuh sakit atau kehilangan harapan;
Matanya tidak memiliki godaan untuk
Tertuju ke mana?
Dan ketahanannya, sementara berjarak dua jengkal,
Tidak mengenal duka cita.
(18)
Temanmu tidak tersesat, juga tidak salah jalan;
Dan tidak pernah tersesat dalam kebun ingatan,
Dikala mengamati kita;
Dan tidak pernah kehilangan
Jalannya dalam kecepatan
Semedi secara mendalam.
(19)
Memiliki setiap waktu dalam Kebenaran
Dan untuk kebenaran;
Dalam ingatan, dan senang terhadap penderitaan-penderitaan dan berkah berkah
(20)
Hanya inspirasi yang diberikan pada dia;
Dan inspirasi ini adalah cahaya,
Serangkaian cahaya dari ujung ke ujung.
(21)
Memberikan makna pada kata, di luar penilaian,
Dan menghilang; dan memisahkan
Dirinya sendiri dari apa pun yang diciptakan,
Dari segala sesuatu dan orang-orang;
Menjadi cinta dari cinta dan berkata :
Engkau menjadi Burung dari
Gunung-gunung tertinggi
Dan dari gua-gua terdalam
Di gunung-gunung tertinggi;
Dan gunung-gunung tertinggi
Adalah puncak-puncak makna;
Dan gua-gua terdalam adalah halaman kedamaian
Dan pelipur, sehingga engkau dapat melihat apa
Yang engkau ditakdirkan untuk melihat,
Dan kemudian menjadi pedang penegasan
Paling tajam yang ditarik dari rumah suci.
(22)
Dan kemudian ia datang lebih dekat ke esensi,
Ka Arti; dan kemudian ia berada pada jarak yang
Terbatas; dan kemudian melalui kondisi-kondisi dan
Tahap-tahap ia bergerak dan mendekati dalam
Pencarian yang gigih;
Datang turun dengan cepat,
Dan mendatngi lebih dekat sebagai seseorang yang dipanggil;
Dan turun, dan mendatangi lebih dekat
Sebagai seseorang yang menjawab;
Dan turun sebagai seseorang yang melihat
Dan sebagai seseorang
Yang menyaksikan;
Ia datang kembali pada semuanya.
(23)
Jadi, ia menjadi ide jarak hanya dua jengkal;
Dengan cara demikian pertanyaan di mana?
Dihancurkan oleh panah pemisahan;
Dan jarak kejauhan dipecahkan selamanya.
Semua ini untuk membenahi Pertanyaan di mana?
Dan menunjukkan larutnya Hakikat dalam
Esensi Yang Mahakuasa.
(24)
Dan ini aku pahami. Hanya dia yang akan
Memahami ini, dan semua ini,
Yang telah menarik Busur kedua;
Dia akan hanya memahami.
Dan busur Kedua ini adalah selain Tablet.
(25)
Dan Busur kedua ini memiliki kata-kata lain,
Disamping lidah Arab.
(26)
Tetapi ada satu huruf, yang umum untuk semuanya;
Huruf itu adalah “mim”.
(27)
Dan “mim” adalah nama Terakhir dari semuanya.
(28)
Dan dia adalah tali dari Busur Pertama.
(29)
Dan dia berkata (semoga Allah memberkatinya) :
Keindahan dunia terletak dalam kedekatannya,
Dalam kedekatan dengan maknanya :
Jadi, makna adalah cara lebih baik bagi Hakikat
Untuk mendekati Kebenaran;
Tetapi kedekatan ini tidak aman untuk semuanya;
Kedekatan memunculkan lingkungan batasan.
(30)
“Maka, apakah itu Hakikat? Sebuah titik
Dimana ikatan-ikatan dengan Dunia fana
Tidak lagi ada, penderitaan-penderitaan
Dan rasa sakitnya
Kini juga tidak datang kembali.”
Hakikat membimbing dan menjelaskan;
Adalah sebuah kata untuk keselamatan;
Hakikat mengarah ke sebuah jalan tertentu,
Dan dapat disetujui bagi semuanya;
Dan kedekatan terus membuka makna diketahui
Hanya pada dia yang mengetahui;
Dan dia adalah seseorang yang setia
Dan mencoba bermusafir pada jalan ke Nabi;
Kepada rasulnya.
(31)
Penguasa kota Yatsrib telah mengatakan
Mengenai dia, yagn selamat dalam
Kitab Yang-terpelihara;
Dan hal yang sama diaktakan dalam Kitab-buku
Yang tertulis, dan dalam Kitab-buku yang terlihat,
Dan dalam Kitab-buku yang
Mengartikan pembicaraan
Burung-burung;
Dan kami telah mendapatkan dia di sana
Pada jarak dua jengkal atau lebih dekat,
Sehingga ia membuat esensi menjadi
Obyek penglihatannya.
(32)
O Pencari! Jika engkau ingin mengetahui,
Maka ketahuilah secara penuh
Bahwa tidak ada Tuhan yang berkenan
Berbocara padanya
Yang tidak berhak memperoleh pembicaraannya;
Semua dialog adalah antara yang berhak dan yang
Memberi hak atau dengan dia yang berbicara dan
Bercakap tentang mereka.
(33)
Dia tidak memilikis eorang guru;
Ia juga tidak memiliki seorang murid atau pengikut,
Ia juga tidak memiliki wewenang atau
Melakukan diskriminasi.
Dia tidak mengkhianati seorang pun,
Juga tidak memperingatkan seorang pun;
Dia tidak ditemani, oleh sesuatu atau seseorang;
Dan sesuatu atau seseorang tidak menemaninya.
Dan benar bahwa apa yang ia miliki
Hanyalah miliknya;
Ia mungkin memilikinya,
Atau ia mungkin tidak memilikinya;
Yang dimiliki selalu ada di sana.
Ia adalah belantara dalam belantara;
Ia adalah sebuah Tanda dalam Tanda.
(34)
Dia hanya dapat menyatakan makna,
Karena makna memperoleh harapan hanya dari dia.
Tetapi harapan adalah jauh dan sangat jauh;
Dan jalan menuju ke sini adalah terjal
Dan penuh bahaya;
Nama dia tertulis dalam keagungan,
Kesan dia unik dalam semua hal,
Dan pengakuan dia adalah dalam
Pengakuan umum dia,
Dan keumuman dia adalah Hakikat,
Dengan mana ia diakui; nilai dia, kekuatan dia,
Janji dia, perjanjian kami; nama dia, jalan dia tanda dia,
Api dia dan kehendak akan dia,
Adalah satu-satunya kebaikan,
Satu-satunya tanda untuk mengetahui dia,
Untuk mengenal dia.
(35)
Nama dia adalah nama semua pujian,
Dan semua matahari di alam semesta
Adalah cahaya semestanya, areanya;
Dan semua manusia dan semua kota kecil
Dan kota besar, tempat-tempat di mana orang
Laki-laki dan wanita tinggal
Adalah laksana satu tumah, satu keluarga,
Kehidupan dan keberadaan dia tidak tak diketahui,
Kondisinya terpencar; dan ketika ia menampakkan
Diri ia menjadi tidak ada.
Oh, kesenangan adalah kebun bunga-kebun
Bunga mawar, kebun dia;
Dan jalan-jalan yang dibuat untuk tempat berjalan,
Adalah fondasi-fondasinya.
(36)
Mereka yang membantu dia, dan pergi
Dengan dia termasuk dalam suku bangsa cinta
Dan dikenal melalui tanda cint;
Tindakannya adalah kebaikan.
Semua kehendaknya dikenal;
Mereka yang mengikuti dia menemui arah.
Tetapi, penderitaan dia besar;
Segala sesuatu tentang dia berjalan dengan lambat,
Diam dan sakit yang tenang, tidak henti-henti.
(37)
Apa pun yang ia katakan dikatakan
Selamanya; ini selalu demikian, selalu ada di sana.
Dan inilah keagungan, --- inilah yang pasti;
Semua lainnya menjadi tersesat
Ke dalam ketidakpedulian,
Ke dalam belantara,
Tanpa jalan, tanpa tujuan, dan tanpa arah.

THASIN VI
KITAB TENTANG ADAM A.S.

Kemudian Syekh dan guru Spiritual terbesar al-Hallaj --- rahimahullah --- berkata :
(1)
“Dan tak seroang pun yang mengatakan,
“Dia-lah Yang Esa”
Kecuali Ahmad,s emoga terlimpahkan rahmat
Allah atasnya,
Dan hanya padanya Dia tampak
Dalam Penglihatan-batin saat Mi’raj.”
(2)
Iblis diperintahkan untuk bersujud;
Dan Ahmad (saw.) diperintahkan untuk mengalihkan
Pandangannya; ke kanan ataupun ke kiri;
Penglihatannya tidak pernah berpaling
Dan tidak pula melampauinya.
(3)
Iblis menyeru tetapi tidak dapat
Membebaskan diri
Dari apa yang dia perbuat
Dan dari dirinya sendiri
(4)
Dan Ahmad (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya) menyatakan,
Dan melangkah di luar bidang yang terbatas
Dan melampaui dirinya sendiri, tiada tara.
(5)
Dengan cara demikian ia menujukkan,
Dan mempertahankan perkataan;
Aku bergerak melalui engkau,
Dan melalui engkau apa pun tercakup.
Maka, O penggerak semua hati!
Siapa yang dapat menceritakan keagungan-Mu
Dan memuji-Mu?
(6)
Dan tidak ada satu pun penghuni langit,
Yang mengesakan Tuhan seperti iblis.
(7)
Dan iblis mengelak dalam keberadaan,
Ia melepaskan pandangan dan pengamatannya,
Dan meninggalkan perjalanan
Di sepanjang keberadaan,
Meninggalkan untuk mengamati,
Ia menyembah Tuhan sebagai Tuhan Abstrak,
Sebagai Abstraksi.
(8)
Dan ketika ia mencapai tahap penyendirian,
Ia berdiri tersalahkan;
Dan ketika ia melewati keluar dan tahap ini dan
Memohonnya, dia dibawa menuju ke Keberadaan.
(9)
Dia diperintahkan untuk bersujud;
Lantas ia menjawab, “Tiada kepada yang lain dari Engkau.”
Dikatakan kepadanya, “Engkau diperintahkan!”
Dia menjawab, “Tidak kepada yang
Laind dari Engkau.”
(10)
“Penolakanku adalah demi Kebesaran-Mu,
Demi Kesucian-Mu:
Alasan penolakanku adalah kegilaanku kepada-Mu.
Aku tidak menegnal siapa pun selain Engkau,
Dan Adam adalah lain dari Engkau.
Di antara Engkau dan Aku, tidak ada yang lain;
Jika harus ada, maka yang lain itu adalah Aku.”
(11)
“Bagiku tidak ada jalan kepada yang lain dari Dikau;
Dan aku memiliki alasan untuk ini.
Sejak dulu telah ditentukan sebelumnya
Tidak ada yang lain kecuali Aku yang
Mengetahui Engkau, dari waktu ke waktu.
Aku datang sebelum yang lain
Karena Aku tinggal abadi dalam ketaatan
Sebelum ciptaan-Mu yang lain mana pun
Mengenal ketaatan.
Dengan demikian, pengetahuan-Mu
Adalah pengetahuanku,
Engkau bersandar kepadaku dan aku
Bersandar kepada-Mu.
Dan kebersamaan di antara kita ini jauh lebih tua
Daripada masa kehidupan ini sendiri.
Jadi mengapa Aku herus bersujud di hadapan yang
Bukan Engkau,
Tetapi yang lain dari Engkau.
Jelas aku menolak,
Tidak ada pilihan,
Tidak ada jalan,
Tidak ada tindakan lain kecuali
Apa yang telah Aku lakukan.
Api yang memberikan aku bentuk
Menrik aku kembali ke api.
Dan api menurunkan api.
Kehendak ini adalah milik-Mu;
Dan apa pun yang kini Engkau tentukan adalah
Milik Engkau.
(12)
Dalam perpisahan diri dari Engkau
Tidak ada kejauhan
Yang tertinggal padaku; dan Aku menyadari bahwa
Jauh dan dekat adalah kata-kata saja,
Tanpa isi; karena aku telah menjalaninya selama ini
Dan jauh dari Engkau.
Aku telah membuat pemisahan dari Engkau,
Kekasihku,
Sahabat dalam kesedihanku.
Dan siapa yang dapat menyebut seperti demikian,
Meskipun dengan cinta,
Dan akan berakhir dengan perpisahan dari-Mu.”
(13)
Dan Musa (Ibnu Imran) bertemu dengan iblis
Di lereng Gunung Tursina.
Musa bertanya, “Apa yang menghalangimu
Untuk bersujud?”
Iblis menjawab, “Yang menghalangiku adalah
Kesaksianku bahwa
Dia-lah Yang Esa dan hanya Dia;
Jika Aku bersujud kepada Adam
Aku akan berubah sepertimu;
Engkau sekali diseru untuk melihat Gunung,
Kau pun melihatnya.
Sedang Aku diseru seribu kali pun
Untuk bersujud kepada Adam,
Tetap aku tak mau, demi kesaksianku.”
(14)
Musa bertanya kepada iblis,
‘Berarti Kau meninggalkan perintah”.
Iblis menjawab, “Ini adalah suatu ujian,
Bukan perintah.”
Musa berkata, “Inilah yang mengubah bentukmu.”
Dijawab, “Hai Musa! Ini semua dimaksudkan
Untuk menyembunyikan,
Untuk menutupi dan terus menutupi
Sesuatu yang patut untuk ditutupi;
Dan sekarang apa gunanya?
Untuk yang “Sekarang tetap ada” dan yang berubah.
Dan yang tidak berubah adalah pengetahuan sejati;
Pengetahuan tetap pada masa itu,
Dan sama pada masa kini.
Keberadaan nyata tidak mengalami perubahan.”
(15)
Dan Musa bertanya, “Kau masih ingat Dia?”
Dijawab, “Mengapa? Semua ingatan
Dan perenungan adalah satu dan sama.
Aku masih sama dengan yang sedang diingat,
Dan bahkan Dia sedang diingat.
Jadi mengingat Dia adalah mengingatku
Dan mengingatku adalah mengingat Dia;
Dan apakah keduanya menjadi satu?
Dipersatukan dalam masa?
Aku sekarang bersih dalam hari-hari
Pengabdianku,
Dan hari-hariku adalah hari-hariku sendiri,
Dan Pikiran Dia dalam pikiranku
Lebih cerah daripada sebelumnya.
Dulu aku mengabdi apda Dia untuk kesenanganku
Dan sekarang aku mengabdi pada
Dia dengan Keridhaan Dia.”
(16)
“Dan tidak ada lagi pemikiran tentang balas jasa;
Tentang kerugian atau keuntungan;
Telah membuatku tak tergantikan,
Dan dalam kondisi aku tinggal selamanya;
Dan membuat aku melihat dan takjub;
Dan kemudian, menolak bahwa aku mungkin tidak
Ditemukan oleh mereka yang bebas,
Dilepaskan dan tanpa Ikatan.
Dan karena pelanggaranku
Membuatku terhalang dari lain-lainnya,
Dan memberiku bentuk berbeda.
Untuk membingungkan
Aku dalam Kebingunganku.
Dia mempertahankan aku
Sebagai milik-Nya sndiri,
Dan untuk pujian yang aku miliki,
Dia membiarkan aku jatuh.
Dia telah membuatku jauh dari Diri-Nya,
Karena tindakanku,
Dan mencabut dariku kekuatan melihat,
Kekuatan mengamati.
Pada saat aku lebih dekat ke Dia,
Dia memberiku kebebasan;
Dan pada saat aku menjauh;
Dia mempertahankan aku dalam pandangan-Nya,
Dan mengambil kembali harapan,
Dan karenanya membuat aku terabaikan;
Jauh dan sangat jauh dari semuanya.
(17)
“Dan aku tidak melakukan kesalahan
Dalam tindakan-tindakan yang ditentukan,
Atau dalam tindakan-tindakan yang
Tidak ditentukan; atau bertentangan
Dengan kehendak; aku juga tidak merasa bangga
Dalam perubahan Bentukku.
Jika Dia membuatku terbakar, dari ujung ke ujung,
Aku tidak akan tunduk; tidak akan pernah,
Tidak pernah merendahkan diri di hadapan manusia,
Karena aku hanya tuntuk pada Dia;
Tidak pada seorang pun, untuk segala
Bentuk atau wujud, atau manusia;
Aku hanya mengenal Dia
Aku berdiri dengan kebenaran, dan dengan cintaku,
Aku adalah salah satu dari mereka.”
Maka Husain bin Manshur al-Hallaj ---- rahimahullah  -- Guru Terbesar sepanjang zaman ini berkata :
(18)
“Banyak pandangan-pandangan mengenai Azazil;
Dialah yang memperingatkan di surga dan di bumi,
Di langit ia meminta para malaikat melihat
Segala yang baik,
Dan di bumi ia meminta manusia melihat kejahatan;
Kebaikan dikenal melalui kejahatan
Dan kejahatan dikenal melalui
Apa yang bertentangan dengannya.
(19)
Pakaian sutera halus terbuat dari benang kasar
Yagn diambil dari pakaian yang kotor dan rusuh.
Denegan cara yang sama, Raja menampakkan segala
Sesuatu yang baik dan segala sesuatu yang buruk,
Serta mengajukan pilihan.
Mereka yang mengikuti kebaikan menjadi baik,
Dan yang menolak untuk mengetahui kejahatan
Tidak akan pernah mengetahui apa yang baik.”
(20)
Dan al-Hallaj berkata,  “Aku telah berdebat,
Dengan Iblis dan Fir’aun tentang ketaatan;
Tentang keteguhan;
Iblis berkata bahwa bersujud di hadapan
Adam berarti meruntuhkan ketaatannya,
Dan ini akan membuat dia terasing
Dari dirinya sendiri.
Dan Fir’aun berkata bahwa beriman kepada Rasul-Nya
Cukup menjatuhkan namanya.
Dan kepada mereka Aku menjawab.”
(21)
Jika Aku menarik kembali keyakinanku sendiri,
Aku kehilangan keberadaanku,
Kehilangan maqam-ku.”
(22)
Kemudian iblis kerbakata ...,
“Aku lebih baik dari Adam;
Dan Dia tidak mengenal yang lain kecuali
Dirinya sendiri”;
Dan Fir’aun berkata, “Aku tidak mengetahui kalau
Kau memiliki tuhan selain Aku”;
Dan dia tidak tahu seorang pun di antara kaumnya
Yang dapat membeda-bedakan;
Untuk memilih antara
Kebenaran dan ketidakbenaran;
Antara yang hak dan yang salah.”
(23)
Dan Aku berkata, “Jika engkau tidak mengenal Dia,
Maka lihat dan kenali tanda abadi-Nya, tanda yang
Kekal; dan Tanda itu adalah Aku,
Dan Aku-lah Kebenaran itu (ana al-Haqq)
Dan pada Hakikatnya Aku selamanya bersama
Dengan Kebenaran itu,”
(24)
Maka, Iblis dan Fir’aun adalah sahabat dan guruku,
Dan dengan mereka aku temukan jalanku;
Api bertemu iblis, tetapi ia tidak
Pernah menyimpang dari apa yang ia anut,
Dan Fir’aun masuk ke bawah air, dan tenggelam,
Tetapi pikirannya tidak pernah luntur.
Tetapi Fir’aun berkata, “Aku percaya tidak ada Tuhan.”
Kecuali Tuhan yang dipercaya bani Israil;
Aku adalah satu dari mereka yang berserah.”
Dan apakah kau belum melihat tanda Tuhan,
Ketika Jibril membuat Fir’aun menyentuh pasir di
Kedalama air?
(25)
“Jika aku harus dibunuh atau di salib
Di tiang gantungan,
Atau tangan dan kakiku  harus dipotong,
Walau bagaimanapun,
Aku tidak akan pernah menarik
Kembali kata-kataku.”
(26)
Iblis adalah nama kondisinya;
Namanya berubah menjadi Azazil.
(27)
Dan dikatakan kepadanya :
“O, yang telah jatuh. Apakah kau
Tidak akan merendah?”
Iblis menjawab, “Aku adalah salah satu dari mereka yang mencintai,
Dan mereka yang mencintai dikutuk.
Dan engkau berkata aku telah terperosok;
Telah jatuh;
Oh, aku yang telah memperoleh pengetahuan dari buku cahaya,
Duhai Yang Mahaperkasa!
Bagaimana ini terjadi? Mengapa ini terjati?
O, bagaimana menghadapi
Apa yang harus aku hadapi?
Engkau membuat aku dari api,
Dan dia dari tanah liat;
Dan kami berdua berlawanan;
Apakah yang berlawanan dapat dipersatukan?
Dalam kepatuhan dan pengabdian kepada-Mu,
Akulah yang paling tua, dalam bagian dari cintamu,
Aku adalah yang paling berpengalaman;
Dalam ma’rifat aku yang paling bijak;
Dan dalam masa, aku yang paling abadi.”
(28)
Dan kepadanaya Yang Mahatinggi menjawab :
“Semua kebebasan adalah Milikku,
Bukan milikmu.”
Ia menjawab,
Dan hal yang sama adalah posisiku;
Segala sesuatuku adalah Milikmu;
Kebebasan, keleluasan, ----- semuanya.
O Pentiptaku!
Jadi inikah yang ditakdirkan untukku?
Engkau membuatku tidak untuk
Lemah oleh kehendak-Mu,
Dan engkau adalah Yang Mahakuasa, Mahatinggi,
(29)
Jika aku telah berbuat salah dalam kata-kataku,
 Maka jangan tinggalkan aku;
Karena engkau Maha Mengetahui;
Maha Mendengar.
Dan tidak seorang pun lainnya
Di antara para pengembara
Dan jalan kebenaran yang lebih mengetahui
Daripada aku;
Aku mengetahui dan memahami.
Dan, janga tolak aku,
Karena penolakan bukanlah balas jasa yang tepat.
O Tuhan, Tuhanku!
Beri imbalan padaku
Karena aku tak tergantikan dalam keyakinanku.
Dalam semua janji, perkataanmu
Adalah yang paling benar;
Dan tindakanku adalah yang paling menyedihkan,
Tetapi yang ingin mengenal dapat mengetahui
Bahwa akulah saksi yang terbaik.
(30)
O saudaraku!
Jadi inilah alasannya bagaimana ia memiliki
Nama Azazil;
Ia melepaskan dirinya sendiri;
Dan kehilangan tempatnya;
Dan belum mencapai akhir karena tidak ada awal;
Pada kenyataannya, tanpa awal ia tetap
Berada di akhir.
(31)
Kemunculan dia adalah sebuah pembalikan;
Pembalikan dari esensinya,
Yang terbakar oleh api dan gelora semangatnya;
Dan dicerahkan oleh cahaya pelepasannya.
(32)
Oh saudaraku!
Melalui pemahaman inilah engkau
Dapat menyelamatkan
Dirimu sendiri,
Atau engkau telah menemui pelepasan, pemisahan, penderitaan;
Dan kepahitan,
Dan kematian dalam penyesalan-penyesalan yang mendalam.
(33)
“Orang bijak di suatu Kabilah
Menjadi bodoh dan bisu mengenai dia;
Dan mereka yang mengenal dan hendak berkata-kata
Menjadi tidak dapat berbicara
Tentangnya (Azazil)......”
Dia adalah yang paling setia dalam keyakinan,
Di hadapan Pencipta-nya.
(34)
Dan mereka melemahkan dirinya di hadapan Adam;
Mereka patuh.
Iblis menolak, karena ia
Dibutakan oleh pengamatannya.
(35)
Dan, pada akhirnya, ketika ia telah menjadi kosong ;
Harapan=harapannya berakhir;
Dia berkata, “Aku lebih baik daripadanya.”
Dan selamanya tetap dalam kondisi pelepasan,
Tidak bersatu; tersesat dalam debu,
Dan menghadapi penderitaan
Dari waktu ke waktu.

THASIN VII
KITAB TENTANG KEHENDAK TUHAN

(1)
Lingkaran pertama adalah lingkaran Kehendak-Nya;
Lingkaran kedua adalah lingkaran Hikmah-Nya;
Lingkaran ketiga adalah lingkaran Kekuasaan-Nya;
Lingkaran keempat adalah lingkaran
Pengetahuan-Nya
Yang abadi.
(2)
Iblis berkata, “Jika aku sanggup memasuki
Lingkaran pertama,
Aku akan diuji dalan lingkaran kedua;
Dan jika aku berhasil dalam lingkaran kedua,
Aku akan dicobai dalam lingkaran ketiga;
Jika aku berhenti dalam lingkaran ketiga, tetap ada
Kebinasaan, jadi .........”
(3)
“Tidak, tidak, tidak, tidak ....
Aku berhenti pada lingkaran pertama,
Dan dikutuk dari lingkaran kedua,
Aku dilemparkan ke lingkaran ketiga;
Dan kehilangan lingkaran keempat.
Di manakah lingkaran keempat?
Lingkaran keempat!”
(4)
“Jika kau tahu bahwa bersujud
Akan menyelamatkau,
Akan membebaskanku,
Maka kau akan bersujud di hadapan Adam.
Tetapi aku tahu ada lingkaran-lingkaran lain
Dalam lingkaran-lingkaran itu ...... tiada akhir.
Jadi, aku berkata dalam hatiku, kepada diriku sendiri!
Maafkan aku!  Maafkan aku!
Jika saja aku dapat keluar dari sini,
Dari lingkaran pertama ini.
Tetapi, walaupun demikian, bagaimana aku dapat
Keluar dari dengan lingkaran-lingkaran selanjutnya,
Dari lingkaran-lingkaran lainnya?”
(5)
“Ah! Yang Maha esa, satu-satunya Yang Esa,
Yang selamanya demikian
Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?”

THASIN VIII
KITAB TENTANG TAUHID

(1)
Kebenaran (al-Haqq) adalah satu, unik, tunggal;
Kebenaran adalah Esa yagn tidak dapat dibago-bagi.
(2)
Keesaan-Nya, dan pengetahuan tentang keesaan itu,
Adalah milik-Nya, berada dalam diri-Nya.
(3)
Tidak mungkin, tidak mungkin;
Keesaan ini adalah jauh, asing, terpisah,
Dia dikenal hanya melaluinya.
(4)
Pengetahuan mengenai Yang Esa adalah abstraksi;
Tunggal, tak terbagi.
(5)
Mengatakan Dia itu Esa, dan Dia Tunggal
Adalah untuk menyifatkan;
Tetapi dia, Yang esa, adalah di luar penyifatan.
(6)
Jika kau berkata, :Aku” ia mengirim balik “Aku,”
Dalam menjawab “Aku”-ku.
Jadi, “dia” ditujukan untuk Engkau
Dan tidak untukku
(7)
Dan jika aku berkata Kesatuan adalah Keesaan
Bagi kesendirian-Nya,
Untuk keberadannya yang sendiri,
Berarti aku menempatkan dia dalam ciptaan;
Di antara sarwa makhluk
(8)
Dan jika aku berkata Yang Satu itu tunggal
Sebagai jumlah satu; bagaimana ia dapat
Muncul dalam jumlah?
(9)
Dan jika aku berkata, Dia adalah Satu
Akibat dari keberadaan yang dianggap satu,
Yang memang terbukti satu, ----- berarti aku memberi
Batasan pada dia; membatasi-Nya

THASIN IX
KITAB TENTANG MISTERI

(1)
Segala misteri menghasilkan ketakjuban;
Misteri mengarah kepada Dia,
Karena Dia telah membuatnya bergerak,
Tahap demi tahap, dan fase demi fase.
(2)
Rahasia keesaan-Nya terletak dalam acuan-acuan
Berdasar beberapa kata ganti;
Dia tertutup sepenuhnya, tersembunyi;
Bahkan tersembunyi dalam ketersembunyian.
Dia adalah aku yang mempribadi;
Dia juga adalah dia yang tidak menyata;
Kata ganti dari ketidakhadiran.
(3)
Jika engkau berkata : Ha, semua orang berkata ah! Ah! Ah!
(4)
Seberapa banyak cara, seberapa banyak bentuk, dan
Seberapa banyak petunjuk yang menunjukkan Dia;
Dia tetap tidak diketahui sepenuhnya.
(5)
Laksana sebuah batu cadas yang kokoh
Dan ini adalah batasan, dan tetap batasan,
Batasan itu tidak membuat Dia satu,
Sebagaimana apa yang dibatasi selalu terbatas;
Dan berbagai penyifatan mengarah kepada batasan;
Sedangkan Yang Esa selalu di luar batasan.
(6)
“Al-Haqq adalah tempat kembali bagi Haqq,
Dan tidak kepada yang lain
Selain Haqq itu sendiri.”
(7)
Dan ia telah berkata : Aku-lah Yang Esa;
Dan bukan apa yang dikatakan,
Dan apa yang menjadi sebuah fenomena,
Sebuah persoalan ciptaan?
Jadi, bagaimana ini semua menentukan Kebenaran?
(8)
Dan, jika ini dikatakan bahwa dia
Sendiri yang berkata Dia adalah satu,
Maka keberadaan bergantung pada tindakan;
Dan apa yang diciptakan adalah keberadaan,
Tetapi keberadaan bukanlah keberadaan.
Meskipun, memiliki keberadaan;
Tetap saja keberadaan ini bukanlah keberadaan.
(9)
Dan menyembunyikan dirinya sendiri ketika
Terlihat paling jelas.
Tetapi di mana?
Dan di mana tempat dia, tidak pernah ada di mana.
(10)
Apa? Inilah. Tidak pernah dapat melihat Dia.
(11)
Seperti ini dan dimana? Adalah ciptaan-ciptaannya.
(12)
Apa yang merupakan kesatuan menghendaki esensi;
Dan apa yang bukan tanpa bentuk
Atau tubuh berbentuk atau berjasad;
Dan apa yang bukan nirjiwa
Tidak pernah tanpa jiwa.
(13)
Kami kembali pada yang mengumpulkan semuanya,
Segala sesuatu yang ditambahkan, dijumlahkan;
Segala sesuatu diketahui dan dikenal
Segala sesuatu dihancurkan
Dipatahkan, digoncangkan,
Dan dipecahkan; ------ semua!!!!
(14)
Segala sesuatu yagn pertama adalah
Segala sesuatu dari tindakan;
Lain-lainnya ada sebagai titik-titik pada
Lingkaran-lingkaran
Yang menandai dunia dan semestanya.
(15)
Ketika kita berbicara mengenai Keesaan Allah
Berarti kita berbicara mengenai jalan menuju-Nya;
Mengenai arah-arah ke Dia, dimensi-dimensi-Nya;
Dan ini berbeda, mandiri,
Dan merupakan sebuah lingkaran itu sendiri.

THASIN X
KITAB TENTANG TRANSENDENSI

(1)
Dan inilah lingkaran;
Yaitu bentuk, bentuk lingkaran.
(2)
Dan ini adalah hal tentang jumlah-jumlah;
Di semua negeri; yang diikuti oleh orang-orang yang
Memiliki jalan-jalan berbeda,
Pola-pola pikiran yang berbeda,
Dan hati yang berbeda.
(3)
Lingkaran pertama memberikan
Segala yang berhubungan dengan fisik;
Lingkarang kedua memberikan segala yang
Menyentuh sesuatu yang tidak tampak,
Jiwa dan hati nurani.
(4)
Dan ini semua adalah ciptaan-ciptaan :
Yang bergerak, berputar,menarik dan menawan,
Saling berhubungan, dibalikkan, dikacaukan,
Dipatahkan dan dipecah.
(5)
Dan bergerak dalam orbit,
Dalam cahaya remang suara hati manusia;
Dengan kegelisahan, kekaguman,
Didera oleh keheranan, dan terus berubah.

THASIN XI
KITAB KEBUN MA’RIFAT

Akhirnya Husain bin Manshur al-Hallaj ----- rahimahullah ---- berkata :
(1)
Yang Tak Diketahui merupakan penyifatan,
Sifat dari pencari, dan apa yang tidak diketahui adalah
Bentuk keadaan dari pencari,
Jadi, pengetahuan Dia membentang
Melewati batas-batas akal,
Melampaui batas-batas dari rentang logika;
Oleh karena itu, tidak diketahui dan tidak dipahami.
Bagaimana? Tidak pernah membantu, dengan berada
Di lembah-lembah Hakikat
Di mana? Tidak bertempat.
Untuk memahami yang tak terbatas
Bukanlah bentangan,
Atau sifat dari sesuatu yang terbatas.
(2)
Yang Tak Diketahui tak terjangkau pikiran,
Di luar perenungan, di luar dunia indera,
Di luar akal dan argumen-argumennya.
(3)
Yang Tak Diketahui di luar peniadaan,
Penidadaan diri.
(4)
Yang Tak Diketahui di luar keberadaan yang terbatas,
Di luar diri yang terkandung dalam keberadaan.
(5)
Dan dia yang berkata telah mengetahui Dia dengan
Cara tidak mengetahui Dia adalah tidak mengetahui,
Dan tidak mengetahui adalah kerudung dari tidak kepengetahuan.
(6)
Jika orang mengatakan telah mengetahui-Nya
Melalui Nama-Nya, sebenarnya dia tidak
Mengetahui-Nya, karena, bagaiamana engkau
Dapat membedakan antara Nama dan Yang Dinamai?
(7)
Dan orang mengatakan telah mengetahui-nya
Menurut Dia, sebenarnya dia belum
Mengetahui-Nya, karena bagaimana yang diketahui
Dapat menjadi yang tidak diketahui?
Dan dapatkah keduanya mengada bersama?
(8)
Jika dia mengatakan telah mengetahui-Nya melalui
Karya-karya-Nya,
Sebenarnya dia belum mengetahui-Nya,
Karena dia telah menempatkan karya-karya-Nya
Sebagai pengganti Dia.
(9)
Kemudian, jika dia mengatakan telah
Mengetahui-Nya melalui ketidakberdayaan
Manusiawinya, sebenarnya dia tidak berdaya dalam
Dirinya sendiri, dan tidak pernah dapat menyatakan
Memiliki jalan masuk.
(10)
Menurut kesadaran dan dengan pengetahuan,
Engkau tidak mencapai ke mana-mana;
Apa pun yang engkau peoleh hanyalah hasil dari
Pikiranmu.
(11)
Menurut sifat-sifat? Tidak, tidak pernah,
Karena sifat-sifat hanyalah tanda-tanda;
Hanya simbol-simbol;
Sifat-sifat itu hanya memberi kesan.
(12)
Melalui kehidupan dan kematian, ------
Keduanya hanyalah menjelaskan
Gambaran kehidupan;
Jadi bagaimana dapat Dia lantas tampak
Dalam gambaran kehidupan,
Tidakkah, ini dua hal bertentangan?
(13)
Yang jarang mengetahui mengapa dan bagaimana
Tentang segala sesuatu;
Dan yang tidak pernah mengetahui mengapa
Kerangka besar
Ada dalam masa muda dan kemudian
Dalam masa tua; rambut hitam pada masa muda
Segera digantikan oleh rambut putih;
Bagaimana ia dapat mengetahui Pencipta,
Pencipta segala sesuatu, setiap sesuatu?
Dari ini ke itu, bagaimana mungkin?
(14)
Hati manusia adalah sepotong daging;
Hati ini berdenyut dalam rongga dada manusia,
Sebuah titik dalam ruang.
Bagaimana Dia dapat muncul dalam rongga dada?
(15)
Untuk kuda yagn sedang berlari cepat,
Yang  disebut Akal,
Ada panjang dan keluasan;
Dan untuk skema kehidupan,
Batas-batas hukum yang suci;
Dan seluruh ciptaan, di langit dan di bumi,
Adalah dalam kondisi perlingkupan Dia.
(16)
Panjang dan keluasan tidak pernah dapat mencapai Dia;
Dan Pengenalan tentang Dia hampir tidak dapat
Tinggal dalam lingkup bumi dan langit;
Dan segala sesuatu dari kehidupan luar
Dari dalam kehdiupan dalam,
Dan Hukum suci hampir tidak dapat
Mengetahui Dia.
(17)
Jika engkau menyatakan telah mengetahui Dia
Melalui belajar melalui hukum-hukum
Dan tanda-tanda, berarti engkau mengangkat
Dirimu jauh lebih tinggi;
Jauh lebih tinggi daripada sesuatu yagn ditemukan.
(18)
Hati-hati, hati-hati!
O, manusia yang sedang mencari kebenaran!
Kondisimu menentukan keadaanmu;
Pengetahuanmu adalah sejumput pengetahuan;
Pemahamanmu tidak berhak mendapat pujian;
Jadi, pencari yang sejati adalah dia yang melihat,
Dan pengetahuan yang sejati adaalah pengetahuan yang tetap.
(19)
Pengetahuan didasarkan pada batasan-batasan,
Pada keberadaan-keberadaan yang terbatas
Dan dibatasi tetapi menyembunyikan
Dirinya sendiri dalam keadaan dimana
Yang Mahakuasa muncul dalam huruf mim;
Dan Dia tetap bersembunyi,
Jelas tersembunyi, dan terus tersembunyi;
Datang mendekat, dan kembali ke belakang.
Tetapi dia, yang bergerak ke dalam dan ketakutan-ketakutan,
Dan hidup dalam kegairahan yang besar,
Dalam cinta akan Dia,
Dalam kondisi perpisahan, tetap di hadapan Dia.
(20)
Orang yang berpengatahuan sejati,
Orang yang berpengetahuan sejati adalah sendirian,
Dan dia yang mencintai Dia,
Hidup dalam penderitaan;
Dan dia yang hidup untuk Dia,
Kehilangan segalanya;
Dan dia yang menutup matanya melihat
Dia dalam matanya;
Tangan-tangan Dia memberikan dia
Dukungan dan tenaga.
(21)
Maka, apa itu pengetahuan sejati?
Pengetahuan sejati adalah seperti adanya.
Dan apa Dia? Dia adalah Dia seperti adanya;
Jadi, pengetahuan sejati adalah Dia adanya;
Dan Dia itulah pengetahuan sejati. Dia adalah Dia;
Dan Dia, selamanya, adalah Dia.
(22)
Apa pun, selain ini, adalah karya
Orang-orang bodoh;
Cerita-cerita yang disampaikan oleh orang-orang
Yang terdorong untuk memberikan cerita-cerita.
Pengetahuan sejati adalah pencarian oleh sedikit
Orang; semua orang lain menjalani
Kehidupan yang susah.
Mereka mengikuti pandangan-pandangan dan
Memasuki kebingungan; mereka hidup dalam
Penyerapan diri dan melepaskan harapan.
Tindakan-tindakan mereka menjadi biasa saja,
Dan mereka melewati hari-hari mereka dalam’keadaan tanpa tujuan,
Dalam dunia kebingungan yang gelap.
(23)
Yang Benar tetaplah Yang Benar, Pencipta sebagai Khaliq,
Dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk.
Ini akan tetap selalu demikian
oooooOOOOOOOooooooooo


Sepanjang, 14 Januari 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar