Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Kamis, 17 Januari 2013

KISAH AL-HALLAJ











1.

Edit : Pujo Prayitno
KISAH AL-HALLAJ
Saduran : Fariduddin Al-Attar
Warisan Para Awliya
Penerbit : PUSTAKA - Bandung - 1994


Pengembaraan Al Hallaj.


Husain al-Manshur, yang dijuluki al Hallaj (pemangkas bulu domba), mula-mula pergi ke Tustar, dan mengabdi kepada Sahl bin Abdullah selama dua tahun. Setelah itu ia pindah ke Baghdad. Ia memulai pengembaraannya ketika ia berusia delapan belas tahun.
Setelah itu ia pergi ke Bashrah dan mengikuti “Amr bin “Utsman selama delapan belas bulan. Ya’qub bin Aqtha menikahkan putrinya kepada Hallaj, dan setelah pernikahan itulah “Amr bin ‘Utsman tidak senang kepadanya. Maka Hallaj meninggalkan kota Bashrah dan pergi ke Baghdad mengunjungi Junaid. Junaid menyuruh Hallaj berdiam diri dan menyendiri. Setelah beberapa lama menjadi murid Junaid ia pergi ke Hijaz. Dia tinggal di Kota Mekkah selama setahun, kemudian kembali ke Baghdad. Bersama sekelompuk sufi, ia mendengarkan ceramah-ceramah Junaid dan mengajukan  beberapa pertanyaan yang tidak dijawab oleh Junaid.
“Akan tetapi tiba saatnya kelak, engkau akan membasahi sepotong kayu dengan darahmu”, kata Junaid kepada Hallaj.
“Sewaktu akau membasahi sepotong kayu itu engkau akan mengenakan pakaian golongan formalis”, balas Hallaj.
Kata-kata mereka terbukti kebenarannya. Sewaktu para cerdik pandai yang terkemuka mengambil kesepakatan bahwa Al HAllaj harus dihukum, Junaid sedang mengenakan jubah sufi dank karena itu ia tidak mau memberi tanda tangannya. Khalifah menyatakan bahwa mereka perlu mendapatkan tanda tangan Junaid. Maka pergilah Junaid untuk mengenakan sorban dan jubah kaum ilmuwan. Kemudian ia kembali ke madrasah dan menandatangani surat keputusan itu. Junaid menuliskan :
“Kami memutuskan sesuai dengan hal-hal yang terlihat. Mengenai kebenaran yang terbenam di dalam kalbu, hanya Allah yang Maha Tahu”.
Ketika Junaid tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan, Hallaj menjadi jengkel dan pergi menuju Tustar tanpa pamit. Di sini ia tinggal selama setahun dan mendapatkan sambutan luas. Karena Hallaj kurang acuh terhadap doktrin yang populer pada masa itu, para theology sangat benci kepadanya. Sementara ‘Amr bin ‘Utsman menyurati orang-orang Khuziatan dan memburuk-burukan nama Hallaj. Tetapi Hallaj sendiri sebenarnya sudah bosan di tempat itu. Pakaian sufi dilepaskannya dan ia mencebur ke dalam pergaulan orang-orang yang mementingkan duniawi. Tetapi pergaulan ini tidak mempengaruhi dirinya. Lima tahun kemudian ia menghilang. Sebagian waktunya dilewatinya di Khurasan dan Transoxiana, dan sebagian lagi di Sistan.
 Kemudian Hallaj kembali ke Ahwaz, khotbah-khotbahnya disambut baik oleh kalangan atas maupun rakyat banyak. Di dalam khotbah-khotbahnya itu ia mengajarkan rahasia-rahasia manusia, sehingga ia dijuluki sebagai Hallaj yang mengetahui rahasia-rahasia. Setelah itu ia mengenakan jubah guru sufi yang lusuh dan pergi ke Tanah Suci bersama-sama dengan orang-orang yang berpakaian seperti dia. Ketika ia sampai ke Kota Mekkah, Ya’qub an-Nahrajuri menuduhnya sebagai tukang sihir. Oleh karena itu Hallaj kembali ke Bashrah dan setelah itu ke Ahwaz.
“Kini telah tiba saatnya aku harus pergi ke negeri-negeri yang penduduknya ber-Tuhan banyak untuk menyeru mereka ke jalan Allah”, kata Hallaj.
Maka berangkatlah ia ke India, Transoxiana dan Cina untuk menyeru mereka ke jalan Allah dan memberikan pelajaran-pelajaran kepada mereka. Setelah ia meninggalkan negeri-negeri tersebut banyaklah oarng-orang dari sana yang berkirim surat kepadanya. Orang-orang India menyebut Hallaj sebagai Abul Mughits, orang-orang Cina menyebutnya Abul Mu’in, dan orang-orang Khurasan menyebutnya Abul Muhr, orang-orang Fars menyebutnya Abu ‘Abdullah, dan orang-orang Khuzistan menyebutnya Hallaj yang Mengetahui Rahasia-rahasia. Di kota Baghdad ia dijuluki sebagai Mustaslim dan di kota Bashrah sebagai Mukhabar.


2.
Semangat Hallaj


Setelah itu banyak cerita-cerita orang mengenai Hallaj. Maka berangkatlah ia ke Mekkah dan menetap ia di sana selama dua tahun. Ketika kembali, Hallaj telah mengalami banyak perubahan dan menyerukan kebenaran dengan kata-kata yang membingungkan siapapun jua. Orang-orang mengatakan bahwa Hallaj pernah diusir dari lebih lima puluh kota.
Mengenai diri Hallaj, orang-orang terpecah dua, orang-orang yang menentang dan mendukung Hallaj sama banyaknya. Dan mereka telah menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Hallaj. Tetapi lidah fitnah menyerangnya dan ucapannya-ucapannya disampaikan orang kepada Khalifah. Akhirnya semua pihak sependapat bahwa Hallaj harus dihukum mati karena menyatakan Akulah Yang Haq (Ana al Haq – termuat dalam Kitab Tawasin – karangan Al Hallaj. Sebagai pembanding Muhammad Iqbal sufi muda yang pernah menjadi Perdana Menteri India dan juga pernah sebagai saksi perjanjian Renfil antara Indonesia dan India, menyatakan : Ana Ahmad bila Mim – saya Ahmad tanpa Mim – Ahad - Allah, karena tidak ada fitnah, maka tidak ada masalah. Pen.)
“Katakan, hanya Dia-lah yang Haq”, mereka berseru kepada Hallaj.
“Ya, Dia-lah Segalanya”, jawab Hallaj. “Kalian mengatakan bahwa Dia telah hilang. Sebaliknya, Husain-lah yang telah hilang. Samudera tidak akan hilang atau menysut airnya”.
“Kata-kata yang diucapkan Hallaj ini mengandung makna-makna esoteric”, kata mereka kepada Junaid.
“Bunuhlah Hallaj”, jawab Junaid, “Pada zaman ini kita tidak memerlukan makna-makna esoteric”.
Kemudian kelompok theology yang menentang Hallaj menyampaikan ucap-ucapannya yang diputarbalikan kepada Mu’tashim. Mereka berhasil membuat wazir ‘Ali bin Isa menentang Hallaj. Khalifah memberikan perintah agar Hallaj dijebloskan ke dalam penjara. Setahun lamanya Hallaj mendekam di dalam penjara, tetapi orang tetap mengunjungi dan meminta nasihat sehubungan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Kemudian dikeluarkanlah larangan untuk mengunjungi Hallaj di dalam penjara. Selama lima bulan tidak ada yang datang kepadanya  kecuali Ibnu Atha dan Ibnu Khafif, masing-masing sekali. Pada suatu kali Ibnu Atha’ menyurati Hallaj:
“Guru, mohonkanlah ampunan karena kata-kata yang telah engkau ucapkan, sehingga engkau dapat dibebaskan”.
“Katakanlah kepada Ibnu Atha’, jwab Hallaj, “siapakah yang menyuruhku untuk minta maaf”.
Mendengar jawaban ini, Ibnu Atha’ tidak dapat menahan tangisannya. Kemudian ia berkata :
“Dibanding dengan Hallaj kita lebih hina daripada debu”.
Orang-orang mengatakan, bahwa pada malam pertama Hallaj dipenjarakan, para penjaga mendatangi kamar tahanannya, tetapi mereka tidak menemukan dirinya. Seluruh penjara mereka geledah, namun sia-sia saja. Pada malam ke dua, betatapun mereka mencari, mereka tidak menemukan Halaj dan kamar tahanannya. Pada malam ke tiga barulah mereka dapat menemukan Hallaj di dalam kamarnya.
Para penjaga bertanya kepada Hallaj.
“Di manakah engkau pada malam pertama, dan dimanakah engkau beserta kamar tahananmu pada malam yang ke dua? Tetapi kini engkau dan kamar tahananmu telah ada pula di sini, mengapakah bisa demikian?”
Pada malam pertama”. Kata Hallaj, “Aku pergi ke Hadirat Allah, oleh karena itu aku tidak ada di tempat ini. Pada malam kedua Allah berada di tempat ini oleh karena itu aku dan kamr tahananku ini mejadi sirna. Pada malam yang ketiga aku disuruh kembali ke tempat ini agar hokum-Nya dapat dilaksanakan. Kini laksanakanlah kewajiban kalian”.
Ketika Hallaj dijebloskan ke dalam penjara, ada tigaratus orang yang dikurung di tempat itu. Malam itu Hallaj berkata kepada mereka :
“Maukah kalian jika aku membebaskan kalian ?”
“Mengapa engkau tidak membebaskan dirimu sendiri?”, jawab mereka.
“Aku adalah tawanan Allah. Aku adalah penjaga pintu keselamatan”, jawab Hallaj. “Jika ku kehendaki, dengan sebuah gerak isyarat saja semua belenggu yang mengikat kalian dapat kuputuskan.
Kemudian Hallaj membuat gerakan dengan jarinya dan putuslah semua belenggu mereka. Tawanan-tawanan itu bertanya pula,
“Kemanakah kami harus pergi, pintu-pintu penjara masih terkunci”.
Kembali Hallaj membuat sebuah gerakan dan seketika itu juga terlihatlah sebuah celah di tembok penjara.
“Sekarang pergilah kalian”, seru Hallaj.
“Apakah sengkau tidak turut beserta kami?”, mereka bertanya.
“Tidak”, jawab Hallaj. “Aku mempunyai sebuah rahasia dengan Dia, yang tidak dapat disampaikan kecuali di atas tiang gantungan”.
Esok harinya para penjaga bertanya kepada Hallaj.
“Kemanakah semua tahanan di sini?”
“Aku telah membebaskan mereka”, jawab Hallaj.
“Engkau sendiri, mengapa tidak meninggalkan tempat ini?”. Tanya mereka.
“Dengan berbuat demikian, Allah akan mencela diriku. Oleh karena itu aku tidak melarikan diri”.
Kejadian ini disampaikan kepada Khalifah. Khalifah berseru,
“Pasti akan timbul kerusuhan. Bunuhlah Hallaj atau pukulilah dia dengan kayu sehingga ia menarik ucap-ucapannya kembali”.
Tiga ratus kali Hallaj dipukuli dengan kayu. Setiap kali tubuhnya dipukul terdengar sebuah suara lantang yang berseru :
“Janganlah takut wahai putera Manshur”.
Kemudian ia digiring ke panggung penghukuman. Dengan menyeret tigabelas rantai yang membelenggu dirinya, Hallaj berjalan dengan mengacung-acungkan ke dua tangannya.
“Mengapa engkau melangkah sedemikian angkuhnya?, mereka bertanya.
“Karena aku sedang menuju ke tempat penjagalan”, jawabnya.
Ketika mereka sampai ke panggung penghukuman di Bab at Taq, Hallaj mencium panggung itu sebelum naik ke atasnya.
“Bagaimanakah perasanmu pada saat ini?, mereka menggoda Hallaj.
“Kenaikan bagi manusia-manusia sejati adalah di puncak tiang gantungan”, jawa Hallaj.
Ketika itu Hallaj mengenakan sebuah celana dan sebuah mantel. Ia menghadap ke arah kota Mekkah, mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah.
“Yang diketahui-nya tidak diketahui oleh siapapun juga”, Halaj berkata dan naik ke atas.
Sekelompok murid-muridnya bertanya : “Apakah yang dapat engkau katakana mengenai kami murid-muridmu ini dan orang-orang yang mengutukmu dan hendak merajammu itu?”
“Mereka akan memperoleh dua buah ganjaran tetapi kalian hanya sebuah”, jawab Hallaj. “Kalian hanya berpihak kepadaku, tetapi mereka terdorong oleh Iman yang teguh kepada Allah Yang Esa untuk mempertahankan kewibawaan hukum-Nya”.
Syibli dating dan berdiri di depan Hallaj.
“Bukankah Kami telah melarang engkau ………………….? “Kemudian ia bertanya ke Al Hallaj “Apakah Sufisme itu ?.
“Bagian yang terendah dari sufisme adalah hal yang dapat kau saksikan ini”, jawab Hallaj.
“Dan bagian yang lebih tinggi?, Tanya Syibli.
“Bagian itu takkan terjangkau olehmu”, jawab Hallaj.
Kemudian semua penonton mulai melempari Hallaj dengan batu. Agar sesuai dengan perbuatan orang ramai, Syibli melontarkan sekepal tanah dan Hallaj mengeluh.
“Engkau tidak mengeluh ketika tubuhmu dilempari batu”, orang-orang bertanya kepadanya. “Tetapi mengeluh karena Sekepal tanah?”
“Karena orang-orang yang merajamku dengan batu tidak menyadari perbuatan mereka. Mereka dapat dimaafkan. Tetapi tanah yang dilemparkan ke tubuhku itu sungguh menyakitkan karena ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukan hal itu”.
Kemudian kedua tangan Hallaj dipotong tetapi ia tertawa.
“Mengapa engkau tertawa?”, orang-orang bertanya kepadanya.
“Memotong tangan seseorang yang terbelenggu adalah gampang”, jawab Hallaj. “Seorang manusia sejati adalah seorang yang memotong tangan yang memindahkan mahkota aspirasi dari atas tahta”.
Kemudian kedua kakinya dipotong. Al Hallaj tersenyum.
“Dengan kedua kaki ini aku berjalan di atas bumi”, ia berkata. “Aku masih mempunyai dua buah kaki yang lain, dua buah kaki yang pada saat ini sedang berjalan menuju surga. Jika kalian sanggup, putuskanlah kedua kakiku itu!”.
Kemudian kedua tangannya yang bunting itu diusapkannya ke mukanya, sehingga muka dan lengannya basah oleh darah.
“Mengapa engkau berbuat demikian?” orang-orang bertanya. Hallaj dmenjawab :
Telah banyak darahku yang tertumpah. Aku menyadari tentulah wajahku telah berubah pucat dan kalian akan menyangka bahwa kepucatan itu karena aku takut. Maka kusapukan darah ke wajahku agar tampak segar di mata kalian. Pupur para pahlawan adaalah darah mereka sendiri”.
“Tetapi mengapakah engkau membasahai lenganmu dengan darah pula?”
“Aku bersuci”.
“Bersuci untuk sholat apa?”
“Jika seseorang hendak sholat sunnat dua ropka’at karena cinta kepada Allah”, jawab Hallaj. “Bersucinya tidak cukup sempurna jika tidak menggunakan darah”.
Kemudian kedua biji matanya dicungkil. Orang ramai gempar. Sebagian menangis dan sebagiannya lagi terus melemparinya dengan batu. Ketika lidahnya hendak dipotong, barulah Hallaj bermohon :
“Bersabarlah sebentar, berilah aku kesempatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata”. Kemudian dengan wajah menengadah ke atas. Hallaj berseru : “Ya Allah, janganlah engkau usir mereka (di akhirat nanti) karena meraka telah menganiaya aku demi engkau juga, dan janganlah Engkau cegah mereka untuk menikmati kebahagian ini. Segala Puji bagi Allah, karena mereka telah memotong kedua kakiku yang sedang berjalan di atas jalan-Mu. Dan apabila mereka memenggal kepalaku, berarti mereka telah mengangkatkan kepalaku ke atas tiang gantungan untuk merenungi keagungan-Mu”.
Kemudian telinga dan hidungnya dipotong. Pada saat itu muncullah seorang wanita tua yang sedang membawa kendi. Melihat keadaan Hallaj itu, si wanita berseru :
“Mampuslah dia. Apakah hak si pencuci bulu domba ini untuk berbicara mengenai Allah ?”
Kata-kata terakhir yang diucapkan Hallaj adalah :
“Cinta kepada yang Maha Esa adalah melebur ke dalam Yang Esa”. (Manunggaling Kawula Gusti. Pen.)
Kemudian disenandungkannya ayat berikut :
“ Orang-orang yang tidak mempercayai-Nya ingin segera mendapatkan-Nya, tetapi orang yang mempercayai-Nya takut kepada-Nya sedang mereka mengetahui kebenaran-Nya”.
Itulah ucapan yang terakhir. Kemudian mereka memotong lidahnya. Ketika tiba saatnya Sholat, barulah mereka memenggal kepadala Al Hallaj. Ketika dipenggal itu Hallaj masih tampak tersenyum. Sesaat kemudian ia pun mati.
Orang ramai menjadi gempar. Hallaj telah membawa bola takdir ke padang kepasrahan. Dan dari setiap anggota tubuhnya terdengar kata-kata : “Akulah yang Haq”.
Keesokan harinya mereka berkata :
“Fitnah itu akan menjadi lebih besar daripada ketika ia masih hidup”. Maka mayat al Hallaj dibakarlah oleh mereka. Dari abu pembakaran mayatnya, terdengar seruan : “Akulah yang Haq”. Bahkan ketika bagian-bagian tubuhnya dipotong, setiap tetets darahnya membentuk perkataan Allah. Mereka menjadi bingung dan membuang abu itu ke sungai Tigris. Ketika abu-abunya mengambang di permukaan air, dari abu-abu itu terdengar ucapan : “Akulah yang Haq”.
Ketika ia masih hidup, Hallaj pernah berkata :
“Apabila mereka membuang abu pembakaran mayatku ke sunga Tigris, kota Baghdad akan terancam air bah. Taruhlah jubahku di tepi sungai agar Baghdad tidak binasa”.
Seorang hamba, setelah menyaksikan betapa air sungai mulai menggelora, segera mengambil jubah tuannya dan menaruh jubah itu di pinggir sunga Tigris. Air sungai mereda kembali dan abu-abu itu tidak bersuara lagi. Kemudian orang-orang mengumpulkan abu-abu nya dan menguburkannya.


Dalam akhir Buku Ana al Haqq, Al Hallaj telah menulis : “Yang benar tetap Yang benar; Pencipta sebagai Khaliq; dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap selalu demikian …….” (Al-Hallaj, Kebun Ma’rifat : 16).
Dari sikap hidup Al Hallaj tersebut di atas, para pengagum dan penentangnya sama banyak. Ada juga yang abstain. Daftar para pengagumnya yang termuat di dalam Buku Ana al-Haqq terbitan Risalah Gusti Tahun 2001, sebagai berikut :


a.
Para ahli hukum (Fuqaha) yaitu :
Syustari; ‘Amilli; ‘Abdari; Dulunjawi; Thaufil; Nabulusi; ‘Aqilah; Sayyid Murtadha; Ibnu ‘aqil.

b.
Para Mutakallim :
Nashiruddin ath-Thusi; Maibudzi; Amir Damad;Ibnu Khafif; al-Ghazali; Fakhruddin ar-Razi; Qori.

c.
Para Filosof :
Ibnu Thufail; Suhrawardi maktul; Shadruddin asy-Syirazi.

d.
Para Sufi :
Ibnu ‘Atha; asy Syibli; al Faris; al Kalabadzi; an Nashrabadzi; as Sulami;Shaidalani; al Hujwiri; Ibnu Abi al Khair; Anshari; al Farmidzi; ‘Abdul Qadir al Jilani; al Baqli; Aththar; Ibnu ‘Arabi; Jalaluddin Rumi; dan sebagian besar sufi-sufi modern.




BAB. IV
JALAN  MISTIS DALAM MANUNGGALING KAWULA GUSTI FERSI FILOSOF MUSLIM


Ini merupakan cuplikan dari Buku Para Filosof Muslim terbitan Mizan, Tahun 1994. Sedangkan yang kami sadur adalah pendapat dari Khwajah Nasir al-Din Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan, seorang sarjana yang mahir, ahli matematika, astronomi dan politisi Syi’ah pada masa penyerangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu dan dia merupakan teman dan sebagai penasihat terpercaya Hulagu setelah ditaklukannya Bagdad pada tahun 657 H/1258 M. Lahir di Tus pada tahun 597 H/1201 M, sehingga lebih dikenal dengan nama Tusi (Nasir Al-Din Tusi). Dia seorang filosof bukan seorang sufi. Tulisan ini bersumber dari tulisan Bakhtiar Husain Siddiq, M.A.,LL.B. Dosen di Bidang Filsafat, Government College, Lahore (Pakistan), yang diterjemahkan oleh Rahmani Astuti. Dia berpendapat bahwa tahapan-tahapan yang dilakukan oleh para sufi untuk menuju Tuhan, sebagai berikut :

1.
Tahap pertama, yaitu tahap persiapan untuk perjalanan mistis (Suluk), yang mensyaratkan keyakinan kepada Tuhan (Iman), senantiasa dalam keyakinan itu (Tsabat), keteguhan kemauan (Niyyat), kejujuran (Shidq), perenungan akan Tuhan (Anabat), dan ketulusan hati (Khulush).
2.
Tahap kedua terdiri atas penolakan terhadap hubungan-hubungan duniawi yang menghalang-halangi jalan mistis itu. Ada enam pokok penting dalam tahap ini, yaitu menyelasi dosa (Taubat), menghindar dari kehendak (Zuhd), tidak bernafsu terhadap harta (Faqr), keras terhadap hasrat tak rasional (Riyadhat), menghitung-hitung kebaikan dan kejahatan (Muharabat), keselarasan antara tindakan dan niat (Muraqabat), dan kesalehan (Taqwa).
3.
Tahap ketiga perjalanan mistis ini ditandai dengan penyendirian (Khalwat bahasa jawanya tapa), perenungan (Tafakur), ketakutan dan kesedihan (Khauf dan Huzn), ketabahan (Shabar) dan bersyukur kepada Tuhan (Syukr).
4.
Tahap keempat mencakup pengalaman sang pejalan (Salik) sebelum dia mencapai tujuannya, yaitu bakti kepada Tuhan ((Iradat), ke-amat-inginan untuk berbakti (Syauq), pengetahuan akan Tuhan (Ma’rifat), keimanan yang tak tergoyahkan kepada Tuhan (Yakin) dan ketenangan jiwa (Sukun).
5.
Tahap kelima terdiri atas kepasrah-dirian kepada Tuhan (Tawakkal), kepatuhan (Ridha), ketundukan kepada kehendak Tuhan (Taslim), yakin akan ke-Esaan Tuhan (Tauhid), upaya untuk bermanunggal dengan Tuhan (Wahdat), dan peleburan diri ke dalam Tuhan (Ittihad).
6.
Pada tahap keenam, proses peleburan diri ke dalam Tuhan mencapai puncak dan sang pejalan (Salik) akhirnya hanyut (Fana) dalam ke-Esaan Tuhan, (yang oleh Sufi jawa disebut manunggaling kawula Gusti. Pen.).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar