Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Minggu, 22 Juni 2014

Ensiklopedia Sastra sumber Ilmu Jawa Ringkasan 12 Jilid Serat Centhini

RINGKASAN SELURUH ISI SASTRA JAWA SERAT CENTHINI 12 JILID
Gubahan : Ki Sumidi Adisasmita (Bahasa Jawa)
Alih Bahasa Oleh : Drs. Darusuprapta
Dosen Fak. Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajahmada
Penerbit : U.P. INDONESIA
Yogya * 1975
Penyadur: Pujo Prayitno

CENTHINI JILID I.
Sholawatan / Janengan Dukuh Kewangen, Desa Sidoharum Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.. Pada acara Peringatan Mawlid Nabi Tahun 2015.
1.
Kitab Centhini Jilid I berisi 87 pupuh, yalah pupuh 1 sampai dengan pupuh 87.
2.
Isi cerita : Syech Wali Lanang datang ke Pulau Jawa, menurunkan Kangjeng Sunan di Giri (Giri Gajah), Kangjeng Sunan di Giri II (Giri Pura), dan Kangjeng Sunan di Giri III (Giri Parapen). Kerajaan Giri ditundukkan oleh Kangjeng Sultan Agung Mataram ke. Ke tiga puteranya lolos mengembara. Yang tua laki-laki bernama Raden Jayengresmi, yang diiringkan oleh dua orang santri bernama Gathak dan Gathuk, berkelana sampai di Krang Kagengan daerah Banten. Yang ke dua juga laki-laki bernama Raden Jayengsari dan yang ke tiga perempuan bernama Ni Ken Rancangkapti, diiringkan oleh seorang santri bernama Buras, tiba di Sokayasa daerah Banyumas.
3.
Pupuh pertama Tembang Sinom, bait awal sebagai berikut :
Sri narpatya sudibya // talatahing Nuswa Jawi // Surakarta Adiningrat // Agnya ring kang wadu carik // Sutrasna kang kinanthi // mangun reh cariteng dangu // Sangyaning kawruh Jawa // Inginpun tinrap kakawin // mrih tan kemba karya dangan kang miyarsa.
Terjemahan :
Sang Putra mahkita Jawa // di Wilayah Pulau Jawa // Surakarta Adiningrat // memerintahkan kepada hambanya juru tulis  // Sutrasna yang dipercaya // menggubah cerita lama // semua ilmu jawa // dihimpun dalam tembang // supaya tidak membosankan tapi menggembirakan bagi yang mendengarnya.
Kutipan di atas diambil dari Centhini Surya Surarjan.

Menurut Centhini Purwadiningratan, baginilah bunyinya :
Sri narpatya sudibya // talatahing Nuswa Jawi // Surakarta Adiningrat // Agnya ring kang wadu carik // Sutrasna kang kinanthi // mangun reh cariteng dangu // Sangyaning kawruh Jawa // Tinengran Serta Centhini // kang minangka dadya lajering carita.
Terjemahan :
Sang Putra mahkita Jawa // di Wilayah Pulau Jawa // Surakarta Adiningrat // memerintahkan kepada hambanya juru tulis  // Sutrasna yang dipercaya // menggubah cerita lama // semua ilmu jawa //Dinamakan Kitab Centhni // yang menjadi isi pokok cerita.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya, sebagai berikut :
I. Pembukaan, kemudian menceritakan Babad Giri.
1.
Syech Wali Lanang datang dari Juldah tiba di Jawa, di ampel. Terus pergi ke Blambangan, diambil menatu oleh Raja Blambangan, namun dibenci, isterinya mengandung, ditinggalkan// Patih Samboja mendapat murka Raja Blambangan, pergi dari Blambangan, mengabdi ke Majapahit.
2.
Isteri Syech Wali Lanang melahirkan putra laki-laki // atas perintah Raja Blambangan bayi itu dihanyutkan di laut //  dipungut oleh Saudagar berlayar dari Bali // diserhakan kepada Nyai Randha Samboja di Giri // setelah berumur 12 tahun disuruh berguru kepada Sunan Ampel // yang kemudian terkenal dengan nama Santri Giri // dipersaudarakan dengan Santri Benang Putra Sunan Ampel // Setelah dewasa keduanya bermaksud pergi ke Makkah // di Malaka bertemu dengan Syech Wali Lanang yang kemudian dianjurkan agar kembali ke Pulau Jawa // Santri Giri diberinama Prabu Satmaka // Santri Benang diberinama Prabu Nyakrakusuma.
3.
Santri Giri pulang kembali ke Giri // bergelar Satmaka di Giri // Nyai Randha Samboja meninggal // Diangkat menjadi Susuhunan di Giri // bergelar Prabu Satmaka di Giri Gajah // diambil menantu oleh Sunan Ampel.
4.
Prabu Brawijaya mengutus Patih Gajahmada menundukkan Giri // Sunan Giri sedang menulis Kitab Qur’an dengan Qalam // Qalam dipuja menjadi keris // lalu mengamuk // Tentara Majapahit mundur // kalam datang kembali bermandikan darah // diberi nama Kalamunyneng // Sunan Giri Wafat // Digantikan oleh Puteranya bernama Sunan  Dalem // bergelar Sunan Giri II atau Sunan Giri Kadhaton // tidak lama lalu waat // digantikan oleh putranya bernama Sunan Parapen // bergelar Sunan Giri Parapen.
5.
Prabu Brawijaya mengirimkan utusan menundukkan Giri // Tentara Giri kalah // Sunan Parapen lolos // Tentara Majapahit menyerang makam // keluar kumbang menyengat tentara yang menyerang // pasukan Majapahit mundur // Sunan Giri berkuasa kembali.

6.
Kerajaan Majapahit telah ditundukkan oleh Raden Patah seorang putra Raja Majapahit sendiri // Raja Majapahit melarikan diri // Sunan Parapen datang ke Demak untuk merundingkan pergantian pemerintahan // Sebagai sarat Sunan Parapen dinobatkan menjadi Raja Majapahit selama 40 hari // lalu diserhkan kepada Raden Patah // Raden Patah dinobatkan menjadai Raja di Demak.
7.
Setelah Demak rusak // Sunan Giri bersepakat dengan para Bupati Wilayah Jawa bagian Timur menobatkan Sultan Pajang // Tatkala itu Sunan Giri meramalkan bahwa Kyai Ageng Mataram kelak menurunkan Raja Besar di Jawa // Bahkan Giri pun dikuasainya // Kyai Ageng Mataram memberikan persembahan keris selengkapnya dan setelah diterima kemudian dikambalikan lagi // Para Bupati diperintahkan membuatkan telaga pemandian // Setelah jadi diberi nama Telaga Patut.
8.
Setelah Sultan Pajang mangkat // Panembahan Senopati di Mataram mengirimkan utusan ke Giri // menanyakan tentang ramalan Sunan Giri dahulu // Panembahan Senopati menyerang Jawa bagian Timur // Barisan Jawa Timur dibawah pimpinan // Pangeran Surabaya // Tiba-tiba datang utusan dari Giri melerai // mereka berdua dipersilahkan memilih wadah atau isi // Pangeran Surabay memilih isi // // Panembahan Senopati mendapatkan wadah.
9.
Lebih kurang tiga tahun kemudian Panembahan Senopati wafat // digantikan oleh puteranya bergelar Ingkang Sinuhun Prabu Anyakrawati // Tidak lama kemudian wafat // digantikan oleh putranya bergelar Sultan Agung Anyakrakusuma.
10.
Pangeran Surabaya dan para Bupati di Jawa Timur datang menghadap ke Giri mohon ijin untuk menyerang Mataram. Sunan Giri tidak menyetujuinya // tapi mereka berkeras hati menyerang Mataram. Kemudian ternyata serangannya tidak berhasil.
11.
Sultan Agung Mataram memerintahkan untuk memanggil Pangeran Pekik Surabaya agar datang menghadap ke Mataram. Kedatangan Pangeran Pekik di Mataram sangat menggembirakan Sultan Agung // diberinya tempat tinggal yang kemudian terkenal dengan nama Surabayan. Pangeran Pekik dikawinkan dengan Kangjeng Ratu Pandhansari, adik Sultan Agung. Kemudian diperintahkan menundukkan Giri.
12.
Pangeran Pekik berdua dengan Kangjeng Ratu Pandhansari beserta para punggawa mempersiapkan pasukan. Pada waktu malam hari Pangeran Pekik pergi menyamar memasuki Giri, bertemu dengan Sunan Giri dan putra angkatnya yang bernama Endrasena, seorang pedagang Cina yang telah memeluk Agama Islam. Sunan Giri tetap tidak mau tunduk kepada Mataram. Kemudian pasukan Pangeran Pekik menyerang Giri.
13.
Sunan Giri dan Endrasena mengerahkan pasukannya. Serangan pasukan Surabaya dapat dilawannya.
14.
Kangjeng Ratu Pandhansari menghimpun kembali pasukan Surabaya yang cerai berai. Setelah kesatuan dan keeraniannya pulih kembali lalu disusunlah siasat perangnya.
15.
Pertempuran tentara Giri dengan Surabaya berkobar lagi. Endrasena gugur di medan perang, tentara Giri bubar berlarian.
16.
Ke tiga orang putra Giri lolos, Raden Jayengresmi diiringkan oleh dua orang abdi bernama Gathak dan Gathuk // Raden Jayengsari dan Niken Rancangkapti diiringkan oleh seorang abdi bernama Buras.
17.
Pangeran Pekik dan Kangjeng Ratu Pandhansari datang masuk di Kedaton Giri. Sunan Giri dengan segenap keluarganya diboyong ke Mataram. Semua harta bendanya dibawa serta.
18.
Berita tentang tunduknya Giri dilaporkan kepada Kangjeng Sultan Agung di Mataram. Sunan Giri sekeluarga diberi tempat tinggal di Mataram.

II. Perjalanan Raden Jayengresmi yang kemudian bernama Syekh Amongraga.
1.
Raden Jayengresmi tiba di Surabaa, meneruskan perjalanan melihat-lihat bekas kerajaan Majapahit, Candri Brawu, Candi Bajangratu, bertemu dengan penjaganya bernama Ki Purwa.
2.
Di Blitar melihat-lihat candi Panataran. Masih termasuk juga daerah Blitar, di Desa Gaprang melihat arca bernama Ki Gaprang, di hutan Lodhaya melihat gong bernama Ki Pradhah, di Desa Pakel bertemu dengan Ki Carita yang menceritakan tentang pakaian Kangjeng Ratu Kidul yang tersimpan di tengah-tengah hutan Lodhaya.
3.
Di Tuban melihat pohon randu alas yang sangat besar, sumur batu, dan mata air bernama Sumberbekti.
4.
Di Bojonegoro, di hutan Bago melihat-lihat sendhang bernama Sugihwaras. Kemudian bertemu dengan makhluk halus bernama Ratu Mas Tranggana Wulan seorang Putri Majapahit yang bertapa kemudian menjadi makhluk halus merajai hutan Bago, yang memberikan keterangan tentang burung dhandhang, burung prenjak, Sato Kukang (sejenis kera) dan burung pelatuk.
5.
Di Desa Kedhaton di gunung Pandhan menyaksikan tulang besar-besar banyak. Di Gunung Gendrasari dan arca bernama Drepa. Di Desa Padhangan bertemu dengan Kepala Desa bernama Ki Padhang yang menceritakan tentang terjadinya arca Drepa tersebut : Konon dahulu kala ada seorang laki-laki bertapa, jatuh cinta kepada Dewi Gendrasari yang bertapa di puncak Gunung Gambirlaya, cintanya ditolak, kemaluannya dipotong mati, berubah rupa menjadi arca tersebut.
6.
Di Desa Dhandher, melihat-lihat tempat pemujaan api, bertemu dengan Kepala Desanya yang memberikan uraian tentang pengetahuan mengenai ukuran landaian serta tombak. Tiba di Dhandhangngilo, menyaksikan sumber minyak tanah.
7.
Di Kasangan bertemu Ki Jatipitutur yang menceritakan tentang cerita Prabu Jaka (Prabu Ajisaka) raja Purwacarita ketika mengembara membunuh ular, menimbulkan gara-gara. Setelah gara-gara berakhir Prabu Jaka datang  di rumah seorang janda bernama Kasihan di dukuh Sakeh, jatuh cinta terhadap anak perempuannya bernama Ni Rarasati. Lahirlah seekor naga dinamakan Nginglung kemudian dipasaklah mulutnya. Suara tangisnya menggegerkan desa Kasanga. Tiba di Kasanga Jayengresmi menyaksikan bekas pertapaan Naga Nginglung. Terus ke arah Barat melihat bekas Keraton mendhangkamulan, lewat sendang Crewek sumber air asin, tiba di kuwu melihat latusan lumpur garam, kemudian berpisahan dengan Ki Jatipitutur.
8.
Perjalanan terus ke Barat sampai di desa Sesela, bertemu dengan Kyai Pariwara yang bercerita tetang :
a). Pemali Kyai Ageng Sela;
b). Dongeng ketika Kyai agung Sela menangkap halilintar lalu dipersembahkan ke Demak, kemudian jadilah wasiat naluri api halilintar, dan pusaka alat bercocok tanam di Keraton Mataram.
c). Cerita sebidang sawah tanah Kyai Ageng Sela.
9.
Sampai di Gubug, melihat merapi, bertemu dengan Datuk Bahni yang memberikan uraian tentang :
a). Perhitungan hari untuk memasang tarup;
b). Pilihan hari untuk peresmian pengantin;
c). Larangan hari untuk bersetubuh;
d). Pengetahuan tentang senggama;
e). Perhitungan tentang hari naas para Nabi.
10.
Dari Merapi ke Utara sampai di Prawata, bertemu Kepala Desanya bernama Ki Darmajati, istrinya bernama Nyai Darmawati mempunyai anak perempuan cantik bernama Rara Surendra. Kemudian melihat-lihat bekas kerajaan Prawata.
11.
Lalu tiba di Demak, menyaksikan Masjid buatan para Wali, di bawah tepat Khutbah tumbuh gelagah wangi. Perjalanan diteruskan ke daerah Jepara.
12.
Tiba di Gunung Murya, berziarah ke Makam Sunan Muryapada, bertemu Buyut Sidasedya, memberikan uraian tentang :
a). Perhitungan saat orang bepergian menurut tanggal;
b). Perhitungan saat para Nabi menurut hari;
c). Saat keberangkatan orang bepergian menurut tapak langkah kaki;
d). Saat Nabi;
e). Saat perbintangan;
f). Saat kelahiran bayi dan kelepasan nyawa.
g). Ukura pakarangan menurut depa dan tapak kaki;
h). Ukuran rumah, tiang, usuk.
i). Ukuran pagar;
j). Jarak pendhapa dan rumah belakang;
k). Pembikinan kandang tempat memelihara hewan;
l). Penjinakan binatang.
13.
Sampai di Pekalongan, datang di Panegaran, berguru kepada Wasi Kawiswara, diajar tentang Kitab Nitisruti serta tingkahlaku yang tergolong nista madya dan Utama.
14.
Tiba di Gunung Slmaet, bertemu Syekh Syekh Sekardelima, yang menguraikan tentang.
a). Suluk Wali sembilan.
b). Cerita beringin sungsang, asal mula kehidupan, dan hidup, jalan dan tujuan serta tempat kematian.
c). Suluk tapa lima macam :
1). Tapa bumista
2). Tapa anarima
3). Tapa geniyara
4). Tapa banyuara
5). Tapa ngluwat
d). Suluk langit tujuh :
1). Langit jasmani
2). Langit Nabati
3). Roh nabsani
4). Roh Ruhani
5). Roh nurani
6). Roh rababdi
7). Roh kapi.
e). Anugerah, kepribadian manusia, nafsu empat macam.
15.
Di gunung Sawal, ketemu Wasi Narawita, lalu berdebat.
16.
Di Gunung Carema, bertemu Resi Singgunkara, yang menguraikan tentang :
a). Wariga gemet, perhitungan buruk baiknya hari menurut perhitungan Wuku tiga puluh.
b). Perhitungan naga Jatingarang untuk keperluan orang berpindah tempat tinggal.
17.
Di Gunung Tampomas, bertemu Syekh Trenggana, isterinya bernama Sitaresmi, anaknya perempuan bernama Ni Ruhkanti. Raden Jayengresmi diajar ilmu kasidan dengan jalinan Wangsalan, Tidak berapa lama kemudian Syekh Trenggana moksa. Ni Rukhkanti diajar oleh Raden Jayengresmi tentang martabat tujuh tingkat. Ni Rukhkanti bersama ibunya diboyong ke Cirebon.
18.
Di Gunung Mandhdalawangi, ketemu Ajar Suganda, yang menguraikan tentang :
a). Perhitungan iladuni, buruk baiknya hari
b). Pranatamangsa, hari-hari yang baik untuk memasang atap rumah.
c). Candrasengkala, petunjuk perhitungan sengkalan, keterangan mengenai kata-kata yang berwatak 1 sampai denagn10.
d). Pengetahuan tentang watak tanggal yang buruk ata pun baik, dari tanggal 1 sampai dengan 30.
19.
Di Bogor bertemu Ki Wargagati Kepala Desa Bogor, yang menguraikan tentang :
a). Ajaran laku puasa pujian hari.
b). Tanda-tanda jaman hru-hara, kiyamat Kubra.
Kemudian Raden Jayengresmi melihat-lihat bekas Kerajaan Pajajaran.
20.
Di Gunung Salak, Raden Jayngresmi dibantu oleh Ki Wiragati mendirikan pertapaan.
21.
Syekh Ibtahim bergelar Kyai Ageng Karang, bersedih hati karena kehilangan anak laki-laki. Mendapat alamat memperoleh ganti bilamana dengan memboyong pertapa di Gunung Salak. Syekh Ibrahim segera bertemu dengan Raden jayengresmi, lalu beserta kedua abdinya Gathak dan Gathuk diboyongnya. Setelah tiba di Karang selalu diajar mengenai samudra rahmat.
III. Perjalanan Raden Jayengsari dan Niken Rancangkapti diiringkan oleh abdinya bernama Buras.
1.
Perjalanan sampai di Sidacerna, Pendok PesantrenKi Amat Sungep. Pada waktu malam hari lolos menuju ke arah Timur, karena khawatir kalau ketahuan pasukan Surabaya.
2.
Beristirahat di pinggir sendang Pasuruan, lalu terus ke telaga Gati.
3.
Kemudian ke Timur ke Banyubiru.
4.
Lalu masuk hutan di kaki Tengger, nelihat-lihar air terjun baung.
5.
Menyaksikan candi Singasari di Singasari.
6.
Di Sisir melihat sumber Sanggariti.
7.
Di Desa Tumpang menyaksikan candi Tumpang.
8.
Di Desa Kidal melihat-lihat candi Kidal.
9.
Tiba di Gunung Tengger, singgah di Desa Tosari, bertemu Buyut Sudarga. Raden Jayengssari diantarkan ke lautan pasir.
10.
Di Desa Ngadisari, di Tengger bertemu Resi Satmaka Pemuka Agama Budha, menceritakan tentang :
a). Cara mengobati penyakit dan orang melahirkan anak.
b). Macam-macam Agama Budha “Makakuhan” dan “Padewan” enam macam.
c). Peraturan Agama Sambo, Brama, Indra, Wisnu, Bayu dan Kala.
Raden Jayengsari ganti menceritakan tentang :
Syariat para Nabi yang menyiarkan Agama “ 1. Adam 2. Sis, 3. Nuh, 4. Ibrahim, 5. Daud, 6. Musa, dan 7. Isa, serta 8. Syariat Nabi Penutup Muhammad Rasulullah.
Ki Buyut menceritakan kisah Sri Sedana, ketika Dewi Sri menjadi ular sawah menjaga Ken Raketan anak Kyai Wrigu di Gilingwesi, pemali bayi anak Kyai Wrigu, hingga Dewi Sri dan Dewi Tisnawati pulih kembali seperti kadaan semula. Setelah Dewi Sri bercerita kepada Ki Wrigu, para bidadari lalu moksa. Dewi Sri dan Tisnawati membagikan Rizki.
11.
Tiba di Desa Klakah, bermalam di rumah Umbul Sadyana. Pada waktu malam heri pergi ke telaga Dago menyaksikan nyala api gunung Lamongan.
12.
Di Desa Kandhangan daerah Lumajang ketemu Syekh Amongbudi, memberikan uraian tentang wudlu dan Shalat.
13.
Di Argapura ketemu Syekh Wahdat, menguraikan tentang :
a). Dzat Sifat Asma Af’al Tuhan.
b). Perincian sifat 20, yaitu : 1. Nafsiyah = 1; Salbiyah = 5; Manganiyah = 7; Maknawiyah = 7 jumlah keseluruhannya = 20.
14.
Di Gunung Rawun, ketemu Retna Tan Timbangsih, menguraikan tentang :
a). Khadis Markum.
b). Lembang empat macam nafsu yang dilukiskan berupa empat buah negara yang saling bermusuhan. Akhirnya Nafsu Mutmainah menang dapat memperoleh puteri tiga orang.
15.
Di Banyuwangi singgah bermalam di Dukuh Nglicin, melihat candi Selacendhani, bertemu denegan juru kunci bernama Menakluhung, memberitahukan bahwa candi Selacendhani itu pada masa yang lalu adalah tempat bertapa Raja Menakjingga atau Urubisama. Dahulukala tempat itu bernama Candi Macanputih.
16.
Ki Hartati dan Raden Jayengsari, Niken Rancangkapti serta Santri Buras berlayar meninggalkan pelabuhan Ragajampi menuju ke Pekalongan. Ki Hartati menyerahkan ke dua orang anak angkat itu kepada istrinya, dan sangat disayanginya.
Ki hartati mengajarkan tujuh macam cita-cita serta hatungan menyeribu hari. Nyi Hartati mengajarkan Ken Rancangkapti tentang arti jari lima. Beberapa lamanya kemudian Nyi Hratati meninggal dunia dan dimakamkan di Sragi. Ki Hartati mengajarkan perhitungan selamatan orang meninggal dunia. Sedekah selamatan menyeribu hari meninggalnya Nyi Hartati. Selesai berkenduri Ki Hartati masuk ke ruang dalam ia ternyata meninggal dunia dengan memancarkan cahaya. Jenazahnya dimakamkan berjajar dengan istrinya.
17.
Raden Jayengsari dengan adiknya serta abdinya meninggalkan Sragi, berjalan ke arah Tenggara, mendaki gunung Prau turun, tiba di Dukuh ketemu Lurah Ki Gunawan, diminta singgah di Gunung Diyeng. Menyaksikan sendang Sumur Jalatundha, Kawah Candradimuka, dan candi-candi, serta keindahan alam Diyeng.
Ki Gunawan menerangkan hal ikhwal yang berkaitan dengan candi-candi :
a). Watak tiga tokoh Kurawa, yaitu  : Sri Duryudana, Patih Suman dan Resi Durna.
b). Watak Pandhawa lima dan Sri Bathra Kresna,
c). Watak lima orang Istri Sang Arjuna, yaitu : 1. Wara Sumbadra, 2. Wara ulupi, 3. Wara Manuhara, 4, Wara Gandawati, 5. Wara Srikandhi.
18.
Pagiharinya berangkat ke Sokayasa. Di suatu ladang bertemu Bayn Ragatruna, terus dibawa menghadap kepada Syekh Akadiyat di Sokayasa. Istri Syekh Akadiyat bernama Siti Wuryan mempunyai anak laki-laki bernama Mas Cebolang. Mas Cebolang pergi meninggalkan Sokayasa. Kedua orang tuanya bersedih. Kedatangan Raden Jayengsari dan Niken Rancangkapti diterima dengan senang hati. Kehadiran mereka sebagai ganti atas kepergian anaknya. Raden Jayengsari. Niken Rancangkapti dan santri Buras terus menetap di Sokayasadi kaki Gunung Bisma Wilayah Banyumas.
IV. Centhini Jilid I, Babad Giri Tamat.
Diakhiri dengan bait penutup sebagai berikut :
KINANTHI :
Tan ra wuse yen kawuwus // Kang sih sinisihan lan siwi // sigeg gantya kang winarna // sareng ing lampahireki // Carita kinarya gantya // Megatruh ingkang winarni.
Terjemahannya :
Tidak akan ada akhirnya jika diceritakan // merka yang sedang saling berkasih dengan anaknya // Terputus dan berganti yang diceritakan // tentang yang sedang melakukan perjalanan // digubah dalam Lagu Megatruh.
CENTHINI JILID II.

1.
Kitab Centhini Jilid II berisi 87 pupuh, yaitu pupuh 88 sampai dengan pupuh 174.
2.
Isi Cerita : Mas Cebolang putra Ki Akadiyat di Sokayasa yang diikuti oleh empat orang santri berkelana di daerah Banyumas, Cilacap, Sumbing, Mergawati, Rawa Pening, Gunung Tidar, Barabudur, Mendut, tiba di Mataram pada Jaman Sultan Agung.
3.
Permulaan pupuh 88, tembang megatruh, bait pertam berbunyi seperti berikut :
MEGATRUH
Putranipun Seh Akadiyat kang nglangut // Mas Cebolang wastaneki // satuhu lamun binagus // lir lanyapan munggeng kelir // amung pasemone wadon.
Artinya :
Putra Syekh Akhadiyat yang sedang berkelana // Yang bernama Mas Cebolang // Sungguh bagus rupanya // bagaikan wayang lanyapan kelir // hanya roman mukanya seperti wanita.
4.
Adapun urutan ringkasan ceritanya, sebagai berikut :
4,1,
Mas Cebolang beserta empat orang Santri yang bernama Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwitri, pergi meninggalkan Sokayasa. Singgah berziarah di makam lawat datang langsung ke rumah Demang Srana. Ziarah di makam Syekh Jambukarang. Banyak serangga binatang melata yang mengerikan.
4.2.
Perjalanannnya tibad id daerah Purbalingga, melihat air mancur Surawana, mata air muncar. Bermalam di Desa Temon, bertemu dengan Kepala Desa ki Dati. Menyaksikan Tebat Pancasari.
4.3.
Tiba di Banyumas langsung melihat batu Lumpang lalu naik rakit ke hilir Sungai Serayu.
4.4
Berhenti di Cilacap, naik ke Depok Arjabinangun, bertemu Ki Ajar Naradi, dijamu kemudian diajak pergi menjelajah tanah ujung dan gua Limusbuntu. Melihat Gua Selapethak, berbentuk rumah dan pendapa, bekas keraton Raksasa. Terus ke Segara anakan, naik perahu ke Karangbolong, lalu ke ujung alang, Gunung Ciwiring, menyaksikan Pulau Bandung tempat tumbuhnya Kembang Wijayakusuma yang dijaga burung bayan, tampak indah dari jauh. Cerita Sri Kresna melabuh kembang Wijayakusuma beserta wadahnya menjadi Pulau Bandung.
4.5
Meneruskan perjalanan sampai di Jumprit, melihat mata air kali Praga di gunung Sundara. Bertemu dengan Ki Gupita, bercerita tentang Ki Jumprit, asal mula kera keramat peliharaan Ki Jumprit, turun temurun menjadi pendaran.
4.6
Tiba di Mergawati Kedu bertemu lurah Ki Lebdaswaninda, di situ singgah lama, diajari tentang ciri-ciri kuda, dalam hal : warna bulu kuda, nama dan wataknya, cara memilih dan tanda-tanda kuda betina, cara merawat ciri-ciri buruk, perhitungan waktu membeli kuda, perhitungan hari kelahiran kuda, rajah lidah kuda, perhitungan waktu memindahkan kuda.
4.7.
Tiba di Gunung Sumbing, bertemu Dhanyang Candhikyuda dan Rantansari, mandi di sendang bedhaya, melihat mata air pikatan.
4.8.
Pergi ke Ambarawa, sampai di gunung Jambu, Telaga Pening, Ziarah ke makam Prabu Brawijaya. Terkena bencana terliput pedut.
4.9
Berbalik kembali ke selatan, tiba di Gunung Tidar, padepokan Syekh Wakidiyat dengan empat orang Endang, Mas Cebolang tertarik akan keemepat orang endang itu, dikawinnya semua. Mas Cebolang diajar oleh Syekh Wakidiyat mengeni : Perilaku asmara enam macam, peraturan tentang nikah, cerai, talak, rujuk, rukun, khuluk dan maskawin. Keterangan tentang delapanbelas macam wanita yang tidak boleh diperistri, uraian tentang muhrim wali dan cerai tanpa talak, rapak, syarat nikah, doa nikah dan tata-tertib nikah.
Mas Cebolang akan melanjutkan perjalanan, mencerikan empat orang istrinya, menyerahkan kembali kepada Syekh Wahidiyat, mohon diri berangkat pergi menuju ke arah selatan.
4.10
Tiba di Barabudur, terus ke Mendut, bermalam semalam.
4.11.
Terus pergi ke Mataram, meunpang rumah modin bernama Ki Amat Tengara, jejaka anak janda miskin di Kauman. Mas Cebolang memberikan buah tangan hasil dari Mangunah.
4.12..
Ziarah ke makam Panembahan Senopati di belakang masjid Besar.
4.13.
Dari masjid besar diminta singgah di rumah Ki Amongtrustha. Waktu malam hari mendengarkan gamelan, dilayani oleh para teledek. Diajari tentang ulah asmara, pembuka pembangkit rasa maupun penahan rasa.
4.14.
Siang hari melihat gajah dan harimau kepunyaan raja, lalu pergi ke pasar membeli keris, singgah ke tempat pandai besi untuk meminta keterangan tentang keris. Empu Ki Anom mengajarkan hak ikhwal keris : Tentang bentuk keris lurus dan keris berluk, cerita para raja yang memberikan tambahan macam ragam bentuk keris, tentang keris berluk : 3 – 5 – 7  - 9 – 11 – 13 – 15 – 16 – 17 – 19 – 21- 23 -25 – 27 – 29, diteruskan dengan uraian tentang bentuk mata tombak baik yang lurus maupun yang berluk.
4.15.
Pada waktu malam hari bertamu ke rumah Ki Bawaraga, Lurah penabuh gamelan, berdiskusi masalah gendhing dan gamelan (alat musik jawa). Setelah lepas tengah malam kembali pulang.
4.16.
Mas Cebolang diajak bertamu ke tumah Ki Madiaswa lurah panegar, hamba raja pengasuh kuda, memperbincangkan tentang masalah kuda. Diajari tentang : aswatali rajanari, cara mengendarai kuda, cara mengajar kuda, cara menjinakan kuda binal, keterangan tentang bentuk tubuh kuda, dan warna kulitnya bertalian dengan wataknya.
4.17.
Hari lain Mas Cebolang diajak oleh Amat Tengara menghadap Kyai Juru Pujangkara. Memperoleh ajaran tentang perhitungan hari untuk memperbaiki rumah, mendirikan rumah, perhitungan hari dan pasaran kelahiran bayi, perhitungan tabir gempa bumi.
4.18.
Lewat tengah malam mereka berdua minta diri, tapi esok harinya mereka berdua diminta kembali lagi. Kyai Juru Pujangkara sedang menerima kedatangan Nyai Cundhamundhing, seorang jagal penjual daging. Memperbincangkan tentang nama warna dan macam-macam baigna daging kerebau.
4.19.
Tiba-tiba datang Nyai Padmacitra, juru sungging, menuturkan macam-macam kain lukis. Lukisan kain yang menjadi pantangan, dan pantangan-pantangan membikin kain berlukis.
4.20.
Kemudian datang Nyai Sriyatna, menguraikan tentang macam-macam syarat sajian orang punya hajat pengantin : Pendheman (yang dipendam), guwakan (yang dibuang), sajian tarup, sajian dandang pawon (tempat mengukus nasi di dapur), sajian majang patanen (hiasan di ruang tengah), sajian adus (sajian di tempat mandi), sajian paes ( sajian di tempat merias pengantin), sajian cukur penganti  laki-laki, sajian nikah, sajian penghulu, penebusa kembar mayang majemukan, (Selamatan bersama), memule (memuliakan dan berkirim doa kepada nenek moyang), syarat pengantin boyong, sepasaran (Selamatan selepas lima hari).
4.21.
Tiba-tiba Nyai Lurah dari dalam Keraton datang, mengajarkan tentang lamaran, peningset (pengikat pertunangan), bubak kawah (menikahkan anak sulung, pertama kali menyelenggarakan pernikahan), tumplak punjen (menikahkan anak bungsu, menikahkan anak yang tarakhir), dan upacara mempertemukan Penegantin.
4.22.
Mereka bercakap-cakap sampai larut malam baru beristirahat. Pagi harinya, Kyai Juru Pujangkara duduk di pendopo di hadapan Modin Pak Giniyah. Mereka membicarakan cara menerangkan tujuan selamatan memuliakan arwah nenek moyang, penerimaan sumbangan, penerimaan lamaran, kedatangan calon pengantin pria menghambakan diri kepada orang tua calon pengantin wanita, midadareni (Perjamuan malam hari menjelang peresmian perkawinan). Menyelenggarakan tahlilaln, kelengkapan pakaian orang yang berhajat menikahkan anak, prosesi pernikahan pada pagi hari, upacara mempertemukan pengantin pada malam hari.  Para tamu duduk berkelompok. Kyai Pengulu Amat Kategan menguraikan tentang turunnya lailatul Qadar, hal mukjizat, keramat, mangunah dan istijrat, tanda-tanda wali dan derajatnya, serta Ajaran Nabi khidir kepada Nabi Musa.
4.23.
 Katib Imam menceritakan cerita Siti Maryam permaisuri Raja Baghdad dan tingkahlaku Perdana Menteri Baghdad.
4.24.

Ki Rasika juru kunci di Glagaharum menceritakan makam Prabu Ngamarta di Demak, bersamaan waktu dengan pendirian pusat kerajaan di Glagahwangi (Demak). Cerita ketika Sunan Kalijaga bertemu dengan Prabu Ngamarta, lalu menguraikan makna Surat Kalimasada. Prabu Ngamarta menyerahkan Keropak bergambar Wayang dan Kitab Bratayudha serta silsilah para Pandhawa. Kemudian Prabu Ngamarta mangkat, dimakamkan di Demak. Gambar dan Kitab keropak diserahkan kepada Sunan Giri, lalu dijadikan pola oleh para Wali di dalam membuat Wayang Kulit. Kemudian diuraikan tentang asal-usul delapan orang wali.
4.25.
Ki Harjana, santri di Jatisari, ahli perhitungan, menguraikan tentang perhitungan menirahkan orang sakit.
4.26.
Ki Amat sotama memberitahukan pahala bagi orang yang hafal Kitab Al-Qur’an, apalagi mengerti murad maksudnya. Dilanjutkan dengan cerita raja Stambul yang hafal Kitab Qur’an dan mendapat cobaan Tuhan karena tidak percaya akan kekuasaan Allah, serta cerita raja Stambul yang hafal Kitab Al-Qur’an dengan Putri Raja Negsyam.
4.27.
Ki Wirangsuwignya, lurah juru tari, membentangkan tentang ragam tari wireng, dan asal mula tari bedhaya Serimpi.
4.28.
Ki Demang Basman menceritakan tentang cara mencari hari baik untuk mendirikan rumah menurut para petani.
4.29.
Kyai Sumbaga, lurah juru sungging, memberikan uraian mengenai asal mula adanya wayang purwa, wayang kidang kencana, dimulai oleh Sri Jabaya di Mamenang, dilukiskan di daun Tal. Di Keraton Demak digubah wayang kidang kencana. Para Wali menggubah wayang gedhog, wayang klitik, wayang golek, wayang topeng. Di Kraton Mataram Ingkang Sinuhun Prabu Anyakrawati menggubah wayang kulit dengan memisah-misahkan tangannya, bersamaan waktu itu diciptakanlah wayang kulit Arjuna Wanda (Ekspresi) Jimat. Ingkang Sinuhun Prabu Anyakrakusuma menciptakan wayang kulit Arjuna Wanda (Ekspresi Mangu).
4.30.
Ki Marbot Kita memberikan keterangan hal mandi pada hari Rebo-Wekasan (Hari Rabu terakhir dalam Bulan Sapar), dan hal berpuasa Sunnat, berpusa di luar Bulan Ramadhan.
4.31.
Ki Sopana, abdi dalem jajar carik, memberikan keterangan mengenai huruf yang paling tua, yalah huruf Ibrani ciptaan bangsa Israil, mirip huruf Hindu, Cara membaca dari kiri ke kanan, dipakai pada jaman Nabi Ibrahim dn Raja Namrud. Di tambah cerita tatkala Raja Namrud terbang ke angkasa mendengar peringatan Tuhan. Kemudian diceritakan berkembangnya bahasa dan huruf tatkala membangun menara di babil menjadi 73 macam.
4.32.
Pada waktu malam hari Pengantin dipersilahkan tidur, di luar tirai dijaga oleh wanita-wanita.
1). Nyai Atikah, seorang Ulama wanita, menceritakan cerita seorang wanita bernama Ni Kasanah yang berbakti dan setia kepada suaminya.
2). Cerita ketika Dara Murtasiyah akan dikawinkan dengan Sayid Ngarip, dinilai cinta kasihnya oleh Nabi Sulaiman.
3). Cerita ketika Siti Aklimah kedatangan Dewi Patimah, putera Rasul. Setelah kembali suaminya tiba, Siti Aklimah didakwa berbuat serong disakiti setengahmati, tetapi tetap setia dan selalu berbakti kepada suaminya. Kemudian Siti Aklimah dipanggil menghadap Tuhan naik ke Surga. Suaminya bingung mencari, hingga mati dan masuk ke neraka. Akhirnya karena pertolongan Siti Aklimah mereka berdua naik ke Surga.
4.33.
Pagi harinya Kyai Pujastuti menugaskan juru masak untuk mempersiapkan saji-sajian serta syarat-syaratnya mengadakan ruwatan Murwakala, dengan mengambil cerita lakon Partadewa. Saat larut malam terdapat adegan pendeta raksasa di pertapaan Ringinsapta bernama Resi Kresnakesawa dengan adiknya perempuan bernama Endang Mardadari. Sang Parta ada di Tinjomaya bergelar Prabu Kalithi. Akhirnya Resi Kresnakesawa berganti rupa kembali menjadi sri Kresna, sedangkan Endang Mardadari kembali menjadi Sumbadra.
4.34.
Uraian mengenai pemboyongan pengantin, keterangan tentang kelengkapan perkawinanya, kain lemes, dan barang bawaan yang bermacam-macam. Kyai Pujangkara memberi Pelajaran kepada anak perempuannya tentang kewajiban seorang istri kepada suaminya, cara memelihara rumah tangga, dan tata susila. Pengantin diboyong mempelai wanita naik joli, mempelai pria naik kuda.
4.35.
Setelah perhelatan di rumah Kyai Pujangkara selesai, Mas Cebolang dan keempat orang santrinya serta Ki mat Tengara diperbolehkan pulang. Singgah melihat meriam milik raja. Penjaganya bernama Ki Narataka, pamannya Modin Ki Amat Tengara. Ki Nataka menerangkan nama dan asalnya 20 pucuk meriam milik raja, menceritakan cerita Patih Satama dan Nyai Satami, ketika diperintahkan mencari senjata meriam oleh Arya Bengah raja di Galuh, akhirnya Kyai Patih beserta istrinya berganti ujud menjadi dua pucuk meriam, dipersembahkan kepada Raja di Galuh.
4.36.
Di tengah perjalanan pulang ke kauman, mereka berpapasan dengan Ki Cendhanilarsa, abdi dalemn metengan (hamba raja tuna netra), juru cerita dan juru tembang kesayangan raja.
4.37.
Centhini Jilis II Tamat : Berisi cerita perjalanan Mas Cebolang, mulai dari Sukayasa sampai datang di Mataram, diakhiri dengan bait penutup berbunyi, sebagai berikut :
MASKUMAMBANG :
Ki Tengara tanya bapak saking pundi // iyah dek Ki Amat // gumubryug lan tikyasneki // wasi koncung sasarengan.
Artinya :
Ki Tengara bertanya bapak dari mana // ya hai Ki Amat // Gemuruh beserta dengan ...... ?(tikyasneki) // ayo bernyanyi bersama tembang Pucung.
 CENTHINI JILID III.
1.
Kitab Centhini jilid III berisi 82 pupuh, yaitu pupuh ke 175 sampai dengan pupuh 256.
2.
Isi Cerita : Mas Cebolang berseerta pengirimnya di Mataram, lalu pindah ke Kepuran,  Prmbanan, Kajoran, Tembaat, Wanakerta, Pajang dan Lawean.
3.
Permulaan puluh 175, tembang Pucung, bait pertama berbunyi, sebagai berikut :
PUCUNG :
Pan apanggih si anak kalihan Tamu // Ki Mas Cebolang // lan rencang sakawan santri // ah wangune boya lidok pethek ingwang.
Artinya :
Telah bertemu si anak dengan tamu // Ki Mas Cebolang // dan kawannya empat orang santri // kiranya tidak kelirulah dugaanku.
4.
Adapun uraian ringkasan isi ceritanya, sebagai berikut :
Mas Cebolang beserta pengiringnya empat orang santri masih ada di Mataram :
4.1.
Masih meneruskan pembicaraan dengan Ki Cendhanilaras, menceritakan tatkala Ki Harda mencari syarat agar menjadi kaya ke hutan Roban, hingga terkabul.
4.2.
Mas Cebolang diminta datang ke rumah Tumenggung Sujanapuran, tempat abdi Sujanapura, ialah Pujangga di Kraton Mataram, di rumah di gedung “Dhimpil” (rumah samping), diminta membaca buku Lokapala kawi, lalu membahas : “Sastra Jendara”, “Sastra Cetha”, serta permusyawaratan para Dewa :
a). Hyang Basuki menguraikan ajaran “Paksi Rumawati”.
b). Hyang Panyarikan (Sriyana) menguraikan ajaran “Praman”, macam ragam aksara “Denta Wyanjana”, macam-macam pasangan aksara, dan tanda-tanda kelengkapan huruf.
c). Hyang Indra membentangkan ringkasan “Heneng Hening”.
c). Hyang Wisnu menguraikan tentang kedudukan huruf Ngezam, pandangan uraian lapal, Allah Muhammad.
d). Menjadikan huru-hara. Uraiannya segera dicabt, tenang kembali, para Dewa kembali duduk lagi.
e). Puncak iktikad pada akhirnya permusyawaratan yaitu bahwa Bangsa Hejan itu adalah pemja api.
f). Kemudian uraian tentang penyusunan “Sastra Jendra Hayuningrat”.
g). Uraian mengenai perwatakan : 1. Surya. 2. Bumi, 3. Maruta (angin), 4. Jaladri (air/laut), 5. Langit.
h). Tingkatan yang disebut “Panca Dumadya”, perkembangan menjadi lima macam, yaitu : 1. Panca Purwanda, 2. Panca Pramana, 3. Panca Dumadya, 4. Panca Driya, 5. Panca Prabawa.
i). Permusyawaratan berakhir, para Dewa Moksa.
4.3.
Sang Kawindra Pujangga raja, memberikan petunjuk mengenai perhitungan “Naptu” cara mencari tanggal bulan yang akan datang, serta hari dan perkanannya.
a). Uraian tentang : “Kurup”, pasaran, tahun, windu, naptu Huruf Jawa, untuk memperhitungkan nama diri, nama suami istri dan nasib peruntungannya dalam perkawinan.
b). Mas Cebolang diperingatkan agar tidak terlalu lama menetap di Mataram, karena banyak godaannya.
c). Lalu ia mohon diri untuk melanjutkan perjalanan.
4.4.
Kyai Ajar Sutikna di Kepurun, sahabat Ingkang Sinuhun dipanggil raja menghadap ke kraton, kembalinya singgah di rumah Ki Amat Tengara, ketemu Mas Cebolang, memberitahukan tentang :
a). Baik buruknya hari untuk perkawinan dan bepergian, perhitungan “Rakam” dan “Bincil”.
b). Riwayat hidupnya ketika muda hingga bertempat tinggal di Kepuran serta diambil sahabat karib oleh Kangjeng Sinuhun.
c). Peratuan bermain kartu.
4.5.
Cerita perjalanan Mas Cebolang ke Kepurun, di kaki gunung Merapi, kyai Sutikna itu hidup membujang, tidak beristri, pada waktu masa muda hidup berpetualang. Ia paham ciri-ciri wanita dan tahu betul akan seluk beluk bersuami-istri.
a). Uraian tentang pemilihan wanita yang baik dijadikan istri ada 7 macam.
b). Uraian tentang 21 macam firasat wanita.
c). Uraian mengenai tanda-tandan wanita, pemilihan istri, pemeliharaan istri, dan pemahaman asmaragama.
d). Uraian mengenai pencegahan persetubuhan.
e). Uraian menggenai persetubuhan yang baik, cara memperhatikan terlepasnya benih hingga berhasil pembuahan, terjadinya pembuahan.
f). Keterangan tentang keadaan benih ketika di dalam kandungan, dipakai sebagai lambang ilmu karena gaibnya.
g). Petunjuk mengenai penjagaan benih sampai dengan saat kelahiran bayi yang sempurna tiada tercela.
h). Patrap tata-cara persetubuhan yang memuaskan hati wanita.
i). Ki Amat tengara dipersilahkan pulang dulu ke Mataram, diberitahukan bahwa dirinya akan diwisuda menjadi Khatib.
j). Mas Cebolang masih tinggal di Kepurun, membahas masalah wanita yang mencari daya upaya sarana agar dicintai pria.
k). Uraian tentang 8 macam kewajiban pendeta serta pembagian kepangkatannya masing-masing.
l). Uraian tentang asal mulanya 8 orang wali membagi-bagi ajaran-ajarannya, mulai jaman Demak akhir sampai dengan jaman Pajang, dilanjutkan ajaran para guru jaman Mataram.
4.6.
Tiba di Prambanan ketemu Lurah Harsana penjaga candi, melihat-lihat candi Sewu dan Candi Jongrangan. Lurah Hasanah menceritakan riwayatnya candi ketika jaman Pengging mulai cerita Prabu Dewanataraja di Pengging, dan cerita Prabu Dipanata di Salembi beserta putra-putranya, berperang dengan Prabu Karungkala raja prambanan. Karungkala mati terbunuh oleh Gitrasena anak Didpanata. Adik Karungkala yang bernama Rara Jongrang minta bantuan raksasa Darmamaha, setelah dinobatkan bergelar Prabu Baka. Citrasena dan Darmamaya tidak dapat mengalahkan Baka. Raden Badung anak Citrasena menyusul ke medan perang. Bandung dapat mengalahkan Baka. Bandung tertarik kepada Rara Jongrang. Rara Jongrang bersedia apabila Bandung dapat membikinkan seribu candi semalam jadi. Pagi harinya kurang satu. Rara Jongrang disabdakan Bandung menjadi arca batu.
4.7.
Pgi hari Mas Cebolang minta diri kepada Lurah harsana, melanjutkan perjalanan ke arah timur laut, tiba di Kajoran. Menjelang gmeghrib datang ke masjid, bertemu dengan Khatib Kyai Ngabdulmartaka. Sehabis Isa membaca dan membahas kitab Suluk Hartati.
a). Uraian tentang : “Bngas”, hari hidup hari sedang hari mati, “Sangkan paran”, ilmu kesunyataan.
b). Duduk menghadap Panembahan Kajoran di langgar, mendapatkan keterangan tentang : terjadinya benih, berdirinya Aku, keadaan Dzat, sifat 20, dinding Jalal, tabir Dzat, makna Kitab Bayan Alip. Wejangan : Tahta mahligai di Betal Makmur, tahta mahligai di betal mukaram, tahta mahligai di betal mukadas, serta beberan rahsa sebagai pembuka 6 macam asmara; Wejangan : Peneguh Iman, dan Syahadat Jati. Uraian tentang : Suahid, mayat dan atmanya; Ketetapan 4 macam shalat, kapir serta Islam; Ajaran : Asal-usul tubuh, tuntunan budi, pembahasan Pancaindra, pandangan Mata Hati, hening Heneng Huning, dan Pancamaya.
c). Keterangan tentang : 3 macam bagian hati; yaitu : Karmendriya, Antarendriya, Mayendriya, ke tiganya terrmasuk dalam Pancamaya, yaitu : Lima macam gerak hati.
4.8.
Mas Cebolang diiringkan oleh keempat orang santri meneruskan perjalanan. Tiba di hutan mencari tempat singgah karena akemalaman. Bertemu Ki Wreksdikara Lurah Kalang di Kemplong, diajak singgah ke tempat tinggalnya.
a). Uraian tentang asal mula orang Jawa dmembangun rumah berbahankan kayu, sejak sang Adipati Santan, Ponggawa negara jaman Prabu Jayabaya di Mamenang.
b). Macam ragam rumah berkerangka kayu.
c). Cara memlih kayu, nama dan daya gaib kayu jati serta  ketepatan penggunaannya, 11 macam.
d). Jenis-jenis kayu jati yang dihindari pemakaiannya, 16 macam.
e). Cara menebang kayu jati serta pengerjaanya hingga menjadi ramuan kerangka rumah.
f). Cara dan macam ragamnya membikin sirap.
g). Macam ragam sambungan kayu.
h). Nama-nama jenis sambungan kayu serta penguncinya.
i). 4 golongan bentuk atap rumah, yaitu :  Joglo, Limasan, Kampung, Masjid.
j). Perbedaan bentuk atap joglo, 7 macam; Limasan, 10 macam; kampug, 9 macam; masjid, 3 macam.
k). Perhitungan ukuran rumah dengan “Pancasuda”, alat ukur yang dipakai telapak kaki, yang diukur panjang “Blandar”, dan “Pengeret”, dengan hitungan : Sri-kitri-gana-liyu-pokah.
l). Pembicaan mengenai macam-macam “Gendhing terbang”.
4.9
Mas Cebolang melanjutkan perjalanan, tiba di Tembayat bertemu dengan Modin Ki Sahabodin, berjiarah ke makam Ki Ageng Pandhanarang atau Pangeran Tembayat, dan ke makam Syekh Domba.
a). Pembicaraan mengenai : Makna mengucapkan salam, kedudukan Hari Raya, dan Halal bil halal.
b). Riwayat ki Gedhe Pandhanarang ketika dicoba oleh Sunan Kalijaga, mencangkul tanah mendapatkan bongkaham emas. Ki Gedhe mohon berguru, diminta menyusul ke Bukit Jabalkat di Tembayat. Ki Gedhe dengan istrinya berangkat menyamar sebagai fakir. Nyai Gedhe membawa tongkat buluh berisi permata dan keratan emas. Ketika tiba di Salatiga disamun. Nyai Gedhe mengejar Ki Gedhe, baru terkejar ketika tiba di Bayalali. Penyamun Ki Sambangdalan mengejarnya, merebut tongkat Ki Gedhe, disabdakan berubah rupa menjadi domba, bertobat dan mohon ampun, lalu diminta mengikuti perjalanan.
c). Tiba di Tembayat mereka bertiga menerap, domba bertugas mengisi air Sembahyang. Dengan disaksikan oleh Sunan Lepen, Ki Gedhe Pandhananrang bernama Pangeran Tembayat, dan domba diruwat, kembali seperti sedia kala, bernama Syekh Domba.
d). Perbincangan tentang pemuliaan mayat.
e). Pembicaraan Pengeran Tembayat dengan Ki Anom dari Mataram. Pangeran Tembayat pada waktu itu yalah putra Ki Gedhe Pandhananrang Adipati Semarang. Sedangkan empu ki Anom itu yalah kemenakan Sunan Kali. Kangjeng Pangeran bertanya kepada Ki Anom mengenai makna kelengkapan keris, yang jumbuh (Sesuaim sepadan) dengan ilmu.
f). Ki Anom menguraikan kesepadanan keris dengan ilmu sesuai dengan ajaran Sunan Kalijaga, dalam hal bentuknya, rangkanya, nama bagian-bagiannya serta hulu kersinya hingga selesai dengan telitinya.
g). Pangeran Tembayat menguraikan : Ilmu Pesangatan, ketepatan saat Nabi, buruk baiknya hari, ihtisar perhitungan saat dan tatal.
h). Mas Cebolang dan pengikutnya memperlihatkan kemahirannya bermain sihir, mengadakan pertunjukan membuat orang banyak terheran-heran. Pada waktu itu bertepatan dengan hari kelahiran Kangjeng Pangeran.
h). Sola jawab tentang : Fasik, munafik, kenduri, malam hari rya Idhul Fitri, puasa Bulan Besar dan Qurban Kekah.
4.10.
Perjalanan Mas Cebolang sampai di Wanakerta, ketemu orang tua bernama Ki Wanakarta, ia murid Ki Pujangkara dai Mataram.
a). Pembicaraan tentang watak wanita ditilik dari hari kelahirannya dan wirasat watak wanita.
b). Perhitungan hari yang baik untuk membikin sumur.
c). Uraian tentang janggka perpindahan kraton dari Mataram ke Kartasura.
d). Padan kata bagian-bagian badan, dan padan kata isi perut manusia.
e). Bab sebutan isi istana, mulai dari raja sampai dengan hamba sahaya.
f). Padan kata nama-nama binatang.
g). Bab obt-obatan, obt khusus bagi pria dan khasiat “Anggi”.
h). Bab lambang-lambang watak buruk.
4.11.
Mas Cebolang meneruskan perjalanan ke Pajang, bertemu orang tua bernama Ki Mastuti, mutihan di Pajang. Ki Mastuti membentangkan silsilah Kangjeng Sultan Pajang serta urutan dari Sultan Bintara.
a). Cerita tatkala Sang Prabu Brawijaya menderita sakit kelamin, sembuh setelah bersetubuh dengan wanita Wandhan. Wanita itu hamil, melahirkan anak laki-laki diberi nama Bodnhan Kejawan, kemudian sampai menurunkan Kangjeng Sultan Agung. Mas Cebolang akan berjiarah ke makam Ki Ageng Enis di lawean diantarkan oleh Ki Mastuti.
4.12.
Tiba di Masjid Lawean pada waktu dhuhur,Bertemu dengan Ki Jimat Ngabdul Ngatyanta yang sedang menerima kedatangan adiknya bernama Ki Sali dan Sala. Pembicaraan mengenai jangka Pulau Jawa.
a.) Ki Sali membentangkan Jangka Pulau Jawa menurut keterangan Prabu Jayabaya yang berdasarkan Kitab Musasar, ajaran Maulana Syekh Ngali Samsuzen. Dalam jangka itu terbagi menjadi tiga jaman menurut tahun surya, masing-masing tujuhratus tahun, lalu dibagi lagi tujuh-tujuh, jadi masing-masing berusia seratus tahun. Kemudian dibagi lagi tiga-tiga, berumur 33,33 tahun dan 34 tahun, sampai pada jaman kiamat. Adapun perlambang negara sampai akhir jaman, dimulai jalan Negara Pajaran, kemudian yang terakhir Raja yang ke tujuh, Wallahu a’lam.
5.
Centhini Jilid III Tamat : Berisi cerita perjalanan Mas Cebolang dari Mataram sampai Lawean. Diakhiri dengan bait-bait penutup berbunyi demikian :
GAMBUH :
Lah Jebeng uwu putus // wedharing kang jangka jaman wau // karsaning Hyang Sri jayabaya Kadhiri // tinambahan ing pangawruh // mawujud dadi pasemon.

Roncene tan sun wuwus // ing pasemon amung dunungipun // ana jaman tataning karaton Jawi // pitung rambahan pinocung // dhewe-dhewe kang lelakon.
ARTINYA :
Wahai anakku sudah selesailah // uraian jangka jaman itu // atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa // oleh Sri Jabaya raja Kediri // ditambah dengan pemberitahuan // berwujud menjadi perlambang.

Perinciannya tidak kuuraikan // dalam perlambang, hanya letaknya // pada jaman tata pemerintahan Keraton Jawa // tujuh kali (kemudian berganti) tembang Pucung // perjalanan hidup masing-masing.

CENTHINI JILID IV.
1.
Kitab Centhini Jilid IV berisi 65 pupuh, mulai pupuh 257 sampai dengan pupuh 321. Pada bagian belakang disisipkan 1 pupuh Sarkara 17 bait dan 1 pupuh Sinom 1 bait.
2.
Isi cerita : Mas Cebolang melanjutkan perjalanan, sampai di Majasta, Banyubiru, Wanagiri, Pacitan, Slaung, Gunung Wilis, Wirasaba (Majakerta).
3.
Pupuh 257 bertembang Pucung, bait permulaan berbunyi, sebagai berikut :
PUCUNG :
Pitung kraton Pajajaran awitipun // prapteng akhir jaman // nanging kang nenem nagari // lawan ingkang jumeneng Sri Nareswara.
ARTINYA :
Tujuh kerajaan, Pejajaran yang permulaan // sampai akhir jaman // tapi keenam negara (yang lain) // serta dengan raja yang memerintah.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya, demikian :
4.1.
Masih melanjutkan cerita Mas Cebolang ketika ada di Lawean :
a).
 Ki Sali, seorang gberasa dari dusun Sala meneruskan uraiannya tentang perlambang Jayabaya. Perlambang jaman tujuh kerajaan sampai dengna musnahnya alam kehidupan Pulau Jawa, mulai dari Kerajaan Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura dan Surakarta, terus sampai pada kerajaan yang gaib, jaman kacau balau. Menceritakan sejak Pulau Jawa mengalami jaman sejahtera sampai dengan jaman kiamat kubra.
b).
Kyai Jimat menreangkan hadis sabda Nabi tentang tanda-tanda hari Kiamat sampai 56 macam. Merajalelanya durhaka dan maksiat, serta kacau-balaunya jaman pengrusakan Islam maupun keimanan manusia.
c).
Kemudian menceritakan : Suri tauladan kesetiaan seperti halnya Syaid Markabah. Ia seorang yang penuh berbakti kepada Tuhan dan kepada rajanya di Negara Mesir. Ia dicoba oleh raja, penghidupannya diganggu, namun ia tetap setia kepada raja dan tetap percaya akan kemurahan Tuhan Yang Maha Pengasih. Akhir cerita Sayid Markabah dijadikan Perdana Menteri oleh sang RajaNgabdurakhman raja di Negara Mesir.
4.2.
Waktu pagi hari sesudah subuh setelah makan pagi Mas Cebolang berangkat menuju ke arah Timur, tiba di Gunung Kendheng Kidul, lalu meneruskan ke Majasta. Ki Jayawilasa, kepala tanah perdikan Majasta telah mengetahui akan kedatangan tamu, memerintahkan untuk bersiap-siap, ia menjemput di pinggir kali.
a).
Ki Jayawilasa menceritakan asal mulanya batang pohon asam di pinggir kali itu mengecil di tengah : Ki Kebokenanga Pengging mati dibunuh Sunan Kudus, sanak keluarga di Pengging hendak melawan tapi mundur semua karena terkena daya perbawa wali, Jenazah Ki Kebokenanga dimakamkan di sebelah Timur Laut rumah, tujuh hari kemuadian istri Ki Kebokenanga meninggal dunia, anaknya bernama Mas Karebet sangat merasa, setelah dewasa ia menjadi pimpinan pasukan Tamtama di Demak, membunuh Dhandhangawuk diusir, bertemu Ki Ageng Butuh Ngerang di bukit Kendheng, disuruh berguru kepasa Ki Ageng Banyubiru, dipersaudarakan dengan Mas Manca, tiga bulan kemudian disuruh pergi ke Demak dengan singgah di Mejasta, rakitnya ditambatkan pada batang pohon asam itu. Mas Karebet atau Jaka Tingkir terus pergi ke Demak.
b).
Dieruskan dengan silsilah juru kunci Banyubiru. Mas Cabolang terus ke Banyubiru dan Taruwangsa.
4.3
Tiba di Taruwangsa bertemu dengan Ki Sahid, berjiarah ke makam Ki Ageng Banjaransari :
a). Datang di Sendang Watukapa mencelupkan keris.
b). Datang di Telaga Purusa bertemu dengan Ki Suhud, terus ke masjid untuk shlat “Ashar, kemudian dilanjutkan berjiarah ke makam, bertahlil. Mas Cebolang merasa ingin bertemu dengan Syekh Arcaranu yang sudah berbadan sukma, terdengar suara akan dipenuhi kelak bilamana sudah kawin. Gempa bumi sesaat, setelah reda mereka meninggalkan makam.
c). Ki Suhud mengantarkan Mas Cebolang sampai di Teleng, Sendhangsanga, kemudian minta diri kembali.
4.4.
Mas Cebolang dengan pengiringnya terus ke Timur, tiba di Sendang Girimarta, bertemu dengan seorang laki-laki muda anak Ketib Winong di Mataram bernama Indrasmara. Orang itu menerangkan bahwa dulu ia akan belajar mengaji ke Panaraga, tapi ketika tiba di Wanagiri tertambat hatinya oleh seorang gadis. Mas Cebolang dipersilahkan singgah di rumahnya.
a). Pembicaraan mengenai keyakinan manusia, baik mana Tasawuf ataukah Fikih. Indrasmara mengakui lebih menyukai fikih, karena dengan terus ia dapat mendamaikan madu, istrinya sebanyak empat orang.
b). Indrasmara menerangkan tentang ilmu Asmaragama, perihal wirasat wanita, dan tatalaksana asmara.
c). Uraian cara mengetahui bagian-bagian tubuh yang peka terkena sentuhan pembangkit asmara berdasarkan warna kulit masing-masing.
d). Haji Nurgiri, mertua Indrasmara membentangkan tentang daya perbawa asma Tuhan 99 macam, bersumber dari Malikulkhusna, serta kegunaan asma-ulkhusna 99 macam sampai tamat.
4.5
Mas Cebolang tiba di Paricara, Wilayah Wanagiri. Di tempat itu ada seorang janda muda yang cantik, ialah yang menjadi Demang di Paricara. Mas Cebolang menyamar sebagi seorang wanita bernama Ken Suwadi. Mereka berdua dapat berkasih-kasihan dengan sepuas hati. Bilamana siang hari Mas Cebolang menjadi wanita cantik, tapi apabila malam tiba ia menjadi pria tampan, mereka berdua saling menumpahkan kasih mesranya selama tiga hari tiga malam.
4.6.
Mas Cebolang melanjutkan perjalanan sampai di Pringkuku, terus ke selatan bertemu dengan seorang laki-laki bernama Ki Dermayu, juru kunci penjaga tumbal (Penangkal) Pulau Jawa berupa tempayan di puncak gunung karang.
a). Pemberitahuan bahwa esok harinya akan datang seorang Brahmana Hindu akan memasang kelambu diteruskan dengan keterangan asal mulanya pemasangan tumbal di Pulau Jawa.
b). Melihat-lihat tempayan tumbal berisi semacam tulang tulang, tapi berlainan atas penglihatan ke lima orang itu.
c). Sang Brahmana Siddi datang diiringkan oleh para sahabatnya mengganti kelambu selubung berupa kain kesting putih.
d). Riwayat hidup Mas Cebolang, baik yang sudah lewat atau pun yang masih akan datang ditebak oleh Sang Brahmna.
e). Sang Brahmana mengajarkan tentang aturan dan tingkat-tingkatan para siswa menurut ajaran budha Gaotama, yaitu :
1. Upasaka, siswa yang melakukan Pancasila.
2. Sangha, Siswa piluhan yang melaksanakan Asthasila.
3.Samana atau Biksu, yang melaksanakan Dasasila.
f). Uraian Ajaran Agama Budha, hidup berulang kali, karena pekerti cipta hidup yang bernama “Tanha” serta daya kekuatan yang menunjangnya disebut ‘Karma” mengakibatkan terjadiknya “Cakra Manggilingan” (Perputaran Roda Hidup).
g). Kemudian uraian ajaran Agama Budha tingkat ke empat yang disebut “Patobat pambirating Panandhang” (Bertobat untuk membebaskan penderitaan), agar hidup sempurna bebas lepas dari perputaran roda hidup.
h). Uraian menggenai tujuan dan cita-cita yang diidam-idamkan dalam kesempurnaan Budha, serta petunjuk tentang watak-watak manusia yagn sesat, yang harus disingkiri ada dua macam yalah “Tanha” dan ‘Karma”.
i). Pembicaraan mengenai perbedaan “Karma” dan “Lokil makfu;”, serta yang disebut baik dan buruk.
j). Persoalan berat mana “Ilmu” dengan “Laku”
k). Mas Cebolang membicarakan Serat  Rama, membahas keutamaan watak Wibisana dan Kumbakarna.
l). Sang Brahmana menceritakan cerita Sultan Abdulkarim Kubra, diambil dari Kitab Tajusalatin. Sultan menyiksa pengemis, kemudian Sultan dimusnahkan beserta hamba sahayanya, para penasehatnya menangis sedih, dipersalahkan akrena tidak meninggalkan saja raja yang durhaka, sebagaimana halnya Eibisana yang meninggalkan kakaknya Raja Durhaka.
m). Ajaran Rama setelah tiba kembali di Ayudya, pembicaraan tentang tepatnya kelepasan kematian.
n). Sang Brahmana menjamu makan minum secara di kapal, kemudian kembali naik ke kapal membongkar jangkar melanjutkan pelayarannya.
4.7
Mas Cebolang meneruskan perjalanan ke timur, tiba di Dusun Silaung, bertemu petinggi desa bernama Nursubadya :
a). Menceritakan banyak orang di Silaung yang mengembara menjadi “Warok” dan “Gemblakan”.
b). Menyaksikan bagaimana sesungguhnya warok itu, barisan warok, dan perkelahian warok di pasar Pucang.
c). Melihart warok berkelahi berebut “Jatilan” di Pasar Mayang.
d). Menyaksikan adat kebiasaan warok-warok di Panaraga.
e). Mas Cebolang belajar “Gemblakan”, dengan para jathil, ia “Digemblak” oleh Warok-warok, ditukar dengan istri-istri para warok.
f). Mas Cebolang membaca kitab Ma’nawi pegon, bagian yang menceritakan ketika Nabi Isya menemukan Kepala Raja Ngesam.
g). Cerita Raja Ngesam, raja durhaka, setelah mati hidup lagi, bertobat, bertapa selama 800 tahun, mati, naik ke Surga.
4.8.
Perjalanan Mas Cebolang sampai di asrama Majenang di Gunung Wilis, bertemu dengan Euekh Madyasta.
a). Mas Cebolang diminta melagukan “Syahadat kurais” dengan gaya mataram, ditiru oleh para santri di asrama Majenang.
b). Syekh Madyasta bercerita : seseorang bertapa empat tahun lamanya, mendapatkan lailatulkadri berupa tiga buah batu, istrinya diberitahu, mereka berebutan dalam memintanya, hingga keliru ucapannya, berulang-ulang tiga buah batu itu dilontarkan ke atas teteap berupa batu belaka.
c). Cerita tentang  keadilan dan kemurahan hati, di seluruh dunia ini hanya dibagi dua. Prabu Nusirwan di Madayin memiliki watak adil separuh bagian dari keadilan di seluruh dunia, sedang yang separuh bagian lagi dimiliki oleh orang-orang lain di seluruh muka bumi ini. Dalam hal watak bermurah hati, separuh bagian dari keseluruhan di dunia ini ada pada diri Katimtayi, kemurahan hatinya melebihi raja-raja, ia merelakan harta bendanya dan bahkan umurnya.
d). Syekh Madyasta mengajarkan ilmu kana sahabt kepada Mas Cebolang serta santrinya, setelah tengah malam hari mereka berkenduri.
e). Pada pagi harinya Panggawe diminta melagukan suluk Janturan Raja Ngamarta berserta pada Pandhawa sekeluarga, dengan membeberkan arti  nama mereka masing-masing dan watak maupun kepribadian mereka. Lalu ucapan janturan Raja Mandura, dan kemudian Raja Ngastina, berikutnya janturan adegan Hyang Girinata, semuanya runtut tiada celanya..
f). Ganti Nurwitri diminta mengucapkan janturan wayang gedhog, berurut-urutan seterusnya. Kemudian menyebutkan gelar-gelar raja beserta dengan nama-nama perdana meneterinya.
g). Syekh Madyasta menerangkan Kitab Wadu Haji atau Raja Kapa-Kapa, mengenai bermacam-macam ponggawa dan tentara, sebutan-sebutannya maupun kewjiban-kewajibannya.
4.9.
Selesai uraian Kitab Wadu Haji, Mas Cebolang mohon diri, akan meneruskan perjalanan ke Wirasaba (Majakerta). Disetujui diminta datang langsung ke rumah Ki Pangulu Jamali. Setibanya di rumah Ki Pangulu dijamu minum dan makan bersama di pendopo. Nyai Pengaulu rajin melayani. Mas Cebolang disediakan rumah pondokan di dekat pintu gerbang. Ia memberikan buah tangan lima keranjang penuh berisi garam, terasi dan lauk-pauk dari hasil mangunahnya. Sehabis Sembahyang ia menghadap Ki Adipati, mengadakan pemicaraan sebentar, kemudian diperbolehkan beristirahat.

Pekerjaan Mas Cebolang di Wirasaba bermain terbang rebana dan bermain sulap, termasyhur, tapi mahal ongkosnya, maka jarang orang mengundang.

Pada waktu iru istri Ki Adipati akan melahirkan setelah genap bulannya tida pula lahir-lahir. Ki Adipati berndzar, bilamana segera lahir dan selamat semua akan mengundang Mas Cebolang bermain terbang rebana dan bermain sulap. Jadilah bayi lahir dengan selamat semua, maka lekas-lekaslah mempersiaplan tempat untuk menyelenggarakan permainan.
5.
Centhini Jilid IV Tamat  : Memuat kisah perjalanan Mas Cebolang mulai dari Majasta sampai datang di Wirasaba. Diakhiri dengan bait penutup, berbunyi sebagai berikut :
SINOM :
Dipati mangayubagya // Jabangbayi nulya lahir // raharja sadayanira // marma puputan nimbali // Ki Cabolang Nurwitri // lawan santrinya sadarum // siyang ing kabupatyan // gelakan anambut kardi // mangke ratri wedhare amangun suka.
Artinya :
Ki Adipati menyetujui // bayi segera lahir // semua selamat // maka setelah kering tali pusarnya, mengundang // Ki Cebolang (dan) Nurwitri // dengan segenap santri pengiringnya // siang hari di Kabuaten // sibuk bekerja bersiap-siap // nanti malam diselenggarakan permainan yang menyenangkan.
CENTHINI JILID V.
1.
Kitab Centhini Jilid V berisi 36 pupuh, mulai pupuh 321 sampai dengan pupuh 356.
2.
Isi cerita : Di Wirasaba Mas Cebolang beruat rusuh, ketika akan ditangkap dapat meloloskan diri, mengembara di gunugn Semeru, pulang kembali ke Sokayasa, dikawinkan dengan Niken Rancangkapti. Ayahandanya waat, lalu pindah membuka desa di Wanataka.

Raden jayengresmi ada di Karang berganti nama Syekh Amongraga, Gthak – Gathuk berganti nama Jamal – Jamil. Pindah dari Karang ke Wanamarta, di situ dijadikan guru Ki Bayi Panurta serta ke dua orang anaknya.
3.
Pupuh 321, berteebang Sinom, bait permulaan berbunyi demikian :
SINOM :
Anuju wulan purnama // lir raina padhang neki // badhene wetan pandhapa // anggene ananggap singir // pepak sajen mawarni // sekar konyoh lawan kutug // sekul tumpeng megana // warni pasar anepeki // salawate neng sajeng salawe reyal.
Artinya :
Bertepatan dengan bulan perunama // terang benderang bagaikan siang ghari // akan terletak di sebelah timur pendapa // tempatnya bermain singir // lengkap saji-sajiannya bermacam-macam // buratsari dan dupa setanggi // nasi tumpeng “megana” // “”Jajan Pasar” penuh // Uang Shalawat duapuluh lima real di dalam tuak.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya sebagai berikut :
4.1.
Kelanjutan cerita Mas Cebolang beserta keempat orang santri pengiringnya di Kabupaten Wirasaba. Sang Bupati bernadzar mengundang Mas Cabolang untuk mempertunjukan kemahirannya. Saji-sajian penuh lengkap.
Mas Cebolang  memang tampan dan berwajah bagus rupawan, lagi pandai-pandai memilih pakaian sepantasnya. Ia diiringkan oleh para santrinya, mendendangkan syair dalam alunan suara yang merdu merayu, menggema mengguncangkan hati wanita yang mendengarkan. Banyak orang terpesona menyaksikan. Salah seorang selir Ki Adipati bernama Jae Manis jatuh cinta kepada Mas Cebolang, mereka berdua senantiasa saling bertukar pandang. Jae Manis duduk bersama para penabuh gamelan.

Permainan sulap Mas Cebolang bermacam-macam, banyak orang menyaksikan terheran-heran, dan banyak wanita bergaya agar menarik perhatian Mas Cebolang.
a). Mas Cebolang mulai bermain sulap : Biji semangka ditanam, seketika tumbuh subur, berbunga, berbuah sebesar periuk. Para selir diminta memungutnya, Sang Bupati gembira amenyaksikan.
b). Janur kuning disulap menjadi ular naga.
c). Daun benda menjadi kura-kura.
d). Bulu burung ddimasukkkan ke dalam kurungan, didendangkan lagu pantun, seketika itu bulu berubah menjadi burung hidup bermacam-macam beterbangan.
e). Jentera disulap menjadi harimau, orang-orang yang menonton berlarian, wanita-wanita takut terbirit-birit. Mas Cebolang berseru bahwa harimau itu tidak berbahaya. Kemudian harimau disulap kembali menjadi jentera.
f). Santri [engiringnya diikat, dikurungi, namun setelah dibuka sudah terlepas ikatannya.
g). Ki Adipati melepas nadarnya menaburkan uang dana 15 anggris kepada para penonton. Mas Cebolang diminta menaburkan di tengah-tengah lingkaran penonton, orang-orang saling berebutan dangan ramainya. Mas Cebolang jatuh terlentang dikangkangi orang banyak.
h). Setelah pertunjukan selesai Mas Cebolang dengan segenap santri pengiringnya dihadiahi pakaian semua.
i). Sang Adipati tertarik akan Nurwitri. Pada suatu hari Mas Cebolang diminta datang dengan berpakaian seperti wanita. Mas Cebolang dan Nurwitri disuruh berdendang berganti-gantian. Ki Adipati semakin bersuka ria, sampai-sampai memperlakuakn Mas Cebolang sebagaimana wanita, begitu mereka bergantian. Dalam pada itu Mas Cebolang mencari kesempatan bermain asmara dengan Jae Manis. Perbuatannya ketahuan Ki Adipati, Ki Adipati sangat marah, memerintahkan untuk menangkap Mas Cebolang dan membunuhnya. Mas Cebolang mendengar berita itu, segera meloloskan diri bersama dengan santri pengiringnya masuk ke hutan. Ia bermaksud untuk pulang dan akan bertobat kepada ayahandanya.
4.2.
Peringatan santri Saloka : Mas Cebolang diajak mendaki gunung Semeru, tempat Buyut Danadarna yang telah berbadan sukma. Mereka lima orang segera berangkat dengan berpuasa “pati geni” selama tujuh hari. Tiba di puncak gunung Semeru kosong, tidak bertemu sesuatu pun, maksudnya tidak mendapatkan restu. Lalu beralih pergi ke gua Sigala, perjalanannya dipercepat, dan dijadikan taruhan, jika tidak menjumpai sesuatu pun lebih baik menemui ajalnya. Ke empat santri pengiringnya disuruh pulang kembali namun tidak ada yang mau dan mereka tetap akan mengikuti perjalanan Mas Cebolang ke mana pun jua. Sehari-hari perjalanannya sangat sulit. Menjelang senja mereka Shalat Hajat di tepi jurang. Begitu mereka tujuh malam berkhalwat di dalam gua yang sunyi senyap. Pada waktu yang demikian itu Mas Cebolang mendpat rakhmat dapat melihat sang pertapa, sedang keempat santri pengiringnya tak mengetahui apa pun. Mas Cebolang bersujud di kaki Sang Pertapa, berserah diri dan bertobat dengan penuh kesungguhan. Ia dijamu makanan yang amat lezat cita rasanya, hanya diperkenankan bermalam di situ selama semalam, pagi harinya diharuskan pulang kembali ke Sokayasa. Mas Cebolang diberi tahu bahwa ayahandanya mengangkat dua orang anak sebagai putranya, seorang pria dan seorang wanita, ke duanya putra Giri, bernama Jayengsari dan Rancangapti. Mas Cebolang lalu masuk ke dalam gua, diberi wejangan tentang :
a). Kesejatian “Wahyu Jatmika” lambang-lambang pada bayangan cermin rias, sebagai lambang “jisim” dan “hidup” lambang nyawa makhluk.
b). Arah dan sikap shalat, caranya menghadap Tuhan.
4.3.
Mas Cebolang mohon restu, pagi-pagi hari segera mohon diri pulang kembali ke Sokayasa, ingin melihat tamu di rumahnya.
Di Sokayasa Kyai Akadiyat telah selesai mengajarkan ilmunya yang gaib-gaib kepada Dyan Jayengssri, ditumpahkan kasih sayangnya sepenuhnya, hingga ia lupa akan anaknya sendiri. Kyai Akadiyat pun mengetahui bahwa tiada lama lagi Mas Cebolang akan datang kembali dengan mendapatkan anugerah Tuhan.
Waktu sore hari sehabis “Ashar, Kyai Akadiyat duduk di langgar, mengajarkan ilmu kelepasan kematian kepada Jayengsari.
Tiba-tiba Mas Cebolang datang menjatuhkan diri bersujud di kaku ayahandanya, ia menangis tersedu-sedu serta menyatakan rasa sesalnya. Setelah reda disuruh ayahandanya untuk bersujud di hadapan Dyan jayengsari sebagai saudara tuanya.
Beberapa waktu kemudian Mas Cebolang dikawinkan dengan Ken Rancangkapti. Mereka berdua hidup rukun, saling barkasih sayang, diberinya rumah sendiri.
Taida lama antaranya Kyai Akadiyat suami istri meninggal dunia. Sebulan kemudian di Sokayasa kedatangan dua orang santri dari Surabaya, diduga utusan Pangeran Pekok yang ditugaskan mencari putra-putri Giri.
Pada suatu hari, Raden Jayengsari, Mas Cebolang dan Ken Rancangkapti, diiringkan oleh santri Buras, meninggalkan Sokayasa, berjalan di sepanjang hutan Gunung Kidul menuju ke arah barat.
4.4.
Setelah beralan tiga malam tiba di Gunung Lima, bertemu dengan seorang pertapa bernama Syekh Hercaranu, yaitu keturunan Ki Ageng Banyubiru. Pertapa itu berpesan jangan sampai beranimelawan kepada yang sedang mendapatkan “Nuriingrat” yaitu Sinuhun Sultan Agung. Janganlah meniru sikap ayahandanya yaitu Jeng Sunan Giri. Mereka yang dipesan mengikrarkan rasa tunduknya sama sekali tidak akan berani mengadakan perlawanan seperti yang sudah lalu.
Syekh Hercaranu memberikan petunjuk agar supaya selamat, mereka diminta berganti nama. Jayengsari supaya bernama Syekh Mangunarsa, Mas Cebolang bernama Syekh Anggungrimang, Buras berganti nama Monthel, sedangkan ken Rancangkapti tetap tidak usah bernama lain.
Mereka disuruh bertapa di dalam hutan yang terletak di antara bukit dan dikitari jurang, yaitu di Wanataka.
Mereka kemudian disuruh memegang kain dan memejamkan matanya. Sebetar kemudian mereka telah tiba di Wanataka. Tampak indah asramanya, masjidnya dilingkungi pohon kelapa, seperti desa lama bermacam-macam tanamannya. Desa itu hasil pujaan sang pertapa. Kemudian para sanak keluarga di Sokayasa menyusul ke Wanataka.
4.5.
Ganti menceritakan kisah perjalanan Raden jayengresmi, tiba di Karangkagengan wilayah Banten, beralih nama Syekh Amongraga. Gathak dan gathuk berganti nama Jamal dan jamil. Ki Ageng Karangkagengan memberi petunjuk kepada Syekh Amongraga agar pergi ke Wanamarta dai Daerah Bang Wetan, ke tempat kediaman Ki Bayi Panurta yang mempunyai seorang anak gadis bernama Ni Ken Tambangraras. Syekh Amongraga supaya kawin dengan Ken Tambangraras.
4.6.
Syekh Amongraga singgah di dukuh Maledari, bertemu dengan Ki Buyut Wasi Bagena. Ki Buyut mempunyai dua orang anak bernama Ni Ken Pangliring dan Ni Rarar Sumekar.
a). Bertukar pikiran dalam berbagai hal : Ilmu Ketuhann, petunjuk Gedung Adiluhung, yang disebut Rata Kemala Kusuma Dunia, Tunggal Kesejatian Sukma, Alif yang masuk raga, Ilmu sejati kesejatian rasa, kesejatian Sastra, kesejatian sunnat, kesejatian fardhu, kesejatian Shalat, dan kesejatian Ruh.
b). Kemudian pembicaraan mengenai ana yang disebut anugerah apa yang dimaksudkan > Di dalam Pria terdapat wanita, dan di dalam wanita terdapat pria, serta uraian tentang kesejatian Pria dan kesejatian wanita.
4.7.
Syekh Amongraga tiba di dukuh Ngandong Tinunu, bertemu dengan Syekh Sukmasidik, mempunyai anak perempuan bernama Rara Megatsih. Syekh Amongraga diterima dan dijamu baik-baik.
a). Membicarakan menegani : Ruh, kesejatian hidup, kesejtian Dzatullah, empat macam nafsu : Amarah. Luamah, Sufiah dan Mutmainah.
4.8.
Perjalanan Syekh Amongraga di sepanjang Gunung Kendheng, sampai di daerah Majalengka datang di Dukuh Wanamarta, bertemu dengan Ki Bayi Panurta, istrinya bernama Ni Malarsih, mempunyai tiga orang anak. Yang sulung perempuan bernama Ni Ken Tambangraras, belum mau kawin karena belum ada yang berkenan di hati, meski telah banyak santri-santri erkenal melamar, semua ditolaknya. Tambangraras ini kelak kawin dengan Syekh Amongraga. Anak yang ke dua laki-laki bernama Jayengwesthi, kelak disebut juga Jayengasmara atau Jayengresmi. Ia sudah beristri bernama Turida dan sudah berumah tangga sendiri. Anak yang ke tiga laki-laki bernama Jayengraga, ia pun sudah beristri bernama Rarasati. Ni Ken Tambangraras mempunyai seorang pelayan wanita yang masih muda belia bernama Centhini, kelak Centhini ini menjadi istri santri Monthel nama lain Santri Buras.
Orang-orang di Wanamarta lainnya yang disebut-sebut yaitu : Nuripin, santri pengiring Syekh Amongraga, santri pesuruh bernama Luci, dan santri Jalauddin. Lalu adik-adik Ki Bayi Panurta yaitu : Ki Suwarja, Ki Waradhustha, Ki Kulawirya, dan Panukma, Panamr,s erta dalang-dalang di Wanamarta : Cermasana, Widigun, Widileksana, Tunjungkara dan Gandasana. Kemudian penghulu Basaruddin semula bernama Santri Bawuk.
Di tempat kediaman Jeyengraga membicarakan tentang :
a). Keutamaan ilmu bilamana dapat selaras dengan tanggapan kalbu.
b). Soal jawab mengenai keadaan Tuhan sebelum bumi dan langit ada, ketika alam semesta masih kosong.
c). Yang ada Cuma “La Takyun Kun” sebelumnya “Nukat Gaib”, “Wilayat” “Gaibul Ghuyub”, “Gaib-uuwiyah”, keadanya tidak tampak.
d). Dalil-dalil Qur’an.
e). Benih-benih kesempurnaan, puncak-puncak keilmuan.
Ki Bayi Panurta sedang duduk di masjid kecil, mengajar para cucu dan anak-anak kemenakannya. Santri-santri yang sudah besar mengadakan sarasehan. Ken Tambangraras pun turut mengajar. Tibaa-tiba datang Syekh Amongraga diantarkan oleh Jayengwesthi dan Jayengraga.
a). Renungan tentang makna : “Curiga manjing warangka, warangka manjing curiga” --- “Sukma manjing badan, badan maning sukma” – dan tentang : Cahaya malaikat, Nabi serta Wali semua.
b). “Jirim kang wujud jirim jriyah kawijah” --- keadaan segala-galanya – “panasnya kang jirim, anseistidilal”, -- yaitu kelemahan makhluk yang tidak memiliki kekuasaan, bagaikan sampah disamudra. Tuhan tidak bertempat, tapi tempat yang tidak bertempat, tidak dapat diperkirakan. Demikianlah yang betul-betul mukmin, berhak menolak atau pun memilih, ketika belum terbuka hatinya oleh kekuasaan Tuhan.
c). Perlambang sukma merasuk tubuh, tubuh merasuk sukma, yang menjadi bentengnya hati sanubari, dibuka oleh “Ikhram”, yang salah tangkap ilmu akan “roh ilapi”, dibuka dengan “Shalat” maka jadilah “Sukma”.
d). Uraian bab cahaya malaikat yang lewat hati.
e). Syekh Amongraga bershalat satu raka’at, memberi salam, lalu bertafakur mengheningkan cipta dalam kegaiban Tuhan, meningkat dalam Thariqat, dan Mikrad, melepaskan pandangan, sesaat terpusat, menarik tujuh macam jaman : 1. Alam Kamil, 2, Alam Misal, 3. Alam Ajsam, 4. Alam Arwah, lengkapnya tujuh dengan tiga macam kegaiban : 1. Wakiddiyat, 2. Wahdat, 3. Akaddiyat, semua gaib, suhul, hening, tak tercampur baur, kepastian takdir tak terselip, tahu akan pembagian “Asya-a”.
f). Mengajarkan tiga macam kelepasan padangan yang utama.
1. Lapas pandangan akan sifat.
2. lepas pandangan akan Af’al.
3. Lepas pandangan akan Dzat.
g). Segenap makhluk hidup itu tak lain adalah ujud Tuhan. Ki Bayipanurta menyarahkan anaknya Ken Tambangraras kepada Syekh Amongraga. Bersedia menerima asalkan selalu saling menurut. Syekh Amongraga disediakan pondokan di rumah Jayengwesthi. Ki Bayi memberi pelajaran kepada putrinya mengenai “ Enam macam tingkah laku perkawinan, serta suri tauladan kuna tentang wanita yang bakti kepada suaminya, yaitu Murtasiyah istri Syekh Ngarip dan Johar Mani. Tingkah laku perkawinan yang harus diperhatikan, yaitu : “Ajrih” (Tunduk), “Asih” (Kasih), Sumerep ing karsa (maklum akan hasrat), “Ngimanaken” (Mengimankan), “mbangung turut” (patuh), “Labuh ing laki” (menjalankan perintah suami).
Pembicaraan Ki Bayi dengan istrinya tentang rencana perkawinan putrinya dengan sederhana. Jayengwesthi yang bertindak selaku besan. Sekat-sekat dinding rumahnya dibuka, dihias dengan “tuwuhan”. Kemudian ternyata bahwa perhelatannya diselenggarakan dengan besar-besaran, atas kehendak keras Ni Malarsih untuk merayakan perkawinan putrinya yang hanya satu itu.
DAKON


Pada waktu malam “Midaddareni” (Malam menjelang saat pernikahan), rumha Ki Bayipanurta penuh sesask oleh sanak keluarganya. Orang-orang tua membicarakan perhitungan “bincilan”, ramalan “panagan” dan macam-macam perhitungan perkawinan yang lain. Tamu-tamu tidak tidur semalam suntuk sambil bermain catur, setelah malam bermain rebana. Tiap-tiap sela untuk istirahat menikmati hidangan minum dam makan. Sebagian ada yang bermain “macanan, “wong-wongan” dan “dham-dhaman”. Tengah malam mengadakan kenduri bertempat di Pendapa dan di Masjid. Ki bayi merokok “kalukuk benggala”, Ki Widiguna minum madat, banyak ceritanya yang lucu-lucu. Di dalam rumah wanita mengelilingi Ni Malarsih, ada yang bermain “Cuki” dan “dhakon” Setelah makan diteruskan berjaga-jaga semalam penuh diselingi dengan perbincangan yang memberahikan sehingga menyebabkan para muda terangsang.
Di rumah Jayengwesthi, temepat pondokan calon pria, ramai riuh rendah, orang-orang bersyair, sedang Syekh Amongraga minta diri menyepi menyendiri di malam yang sunyi. Jayeng raga yang membikin ramai pendapa. Cermasana yang membanyol, diselingi dengan permainan rebana. Banyak orang dari lain desa datang. Jayengraga membaca rawi. Cermasana dan Widiguna bercerita lucu, sebagian ada yang bermain “emprak”. Waktu beristirahat diberi penyegar “Rujak Kopyor”. Senu dan Surat diberi pakaian wayang, menari “gambyong”. Jamal dan Jamil bermain “emprak”, seperti orang berenang di air, memperlihatkan kekuatannya ilmu karang.
Di rumah Jayengraga sendiri dipukul gamelan, dimeriahkan oleh Kulawirya. Maka, setelah lewat larut malam, Jayengraga mengajak berpindah ke rumahnya. Senu dan surat turut, demikian halnya para dalang : Cermasana, Widiguna, Widileksana, Tunjungkara, dan Gandasana, serta Nuripin, Imanarsa dan Gus Dawut.
Pagi hari bubar, sesudah subuh Ki Bayi diiringkan oleh para ssantri duduk di Pendapa, meminta adiknya Panukmapanamar dan anaknya Jayengraga agaar berhias untuk menyaksikan pernikahan pengantin.
5.
Kitab Centhini V Tamat : Memuat isi cerita Mas Cebolang di Wirasaba, meloloskan diri mengembara di gunung Semeru, pulang kembali ke Sokayasa sampai dengan kisah perjalanan Syekh Amongraga diiringkan oleh Jamal dan Jamil ke Wanamarta. Diakhiri dengan bait penutup berbunyi, sebagai berikut :
SARKARA- DHANDHANGGULA :
Dene sira kulup Jayengragi // ingkang kidul masa bodho sira // rampunge barang rakite // lan wong magersarimu // prayoganen ingkang angiring // amrang ing kakangira // ing paningkahipun // kang putra matur sandika // ngling mring garwa marenea sun tuturi // mijila ing Pendhapa.
Artinya :
Sedangkan anakku Jayengraga // terserah kepadamu mereka yang ada di rumah selatan // sampai selesai beres segala-galanya // sedag orang “magersarimu” // pilihlah sepantasnya siapa-siapa yang mengiringkan kakakmu // waktu upacara pernikahan // anaknya menyatakan kesanggupannya // berkata kepada istrinya : ke marilah kuberitahukan // keluarlah ke Pendhapa.
CENTHINI JILID VI.
1.
Kitab Centhini Jilid VI berisi 15 pupuh, mulai pupuh panjang, dari pupuh 357 sampai dengan 372.
2.
Isi cerita : Syekh Amongraga diambil menantu oleh Ki Bayipanurta, dikawinkan dengan Putri sulungnya yang bernama Ni Ken Tambangraras. Penganti  diarayakan oleh segenap para sanak keluarga berganti-ganti, tiap malam mendendangkan “Singiran” (Kidung puji-pujian mirip dzikir), bekenduri, tiap siang duduk-duduk mengadakan sarasehan tentang berbagai macam ilmu.
3.
Pupuh 357 tembang Mijil, baik permulaan berbunyi, sebagai berikut :
MIJIL :
Sigra kang garwa Ni Ken Malarsih // lampahiro alon // prapteng ngarsa amipit silane // jatmikane semune awingit // tingkah ngati-ati // ketange yen luput.
Artinya :
Ni Ken Malarsih istrinya segera // berjalan pelahan-lahan // tiba di hadapannya duduk bersila rapi // tenang nampak berwibawa // sikapnya berhati-hti // jangan sampai keliru.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya, sebagai berikut :
4.1
Lanjutan menceritakan perkawinan Syekh Amongraga dengan Ni Ken Tambangraras di Wanamarta.
a). Upacara ijab nikah dan bertemunya pengantin. Sebelum ijab nikah pengantin wanita dipingit selama tiga hari. Saji-sajian lengkap semua. Segenap tenaga yang membantu diberi pakaian baru. Orang-orang di Wanamarta semua memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal berpakaian mereka saling berlebih-lebihan. Orang-orang muda berpakaian sebagus-bagusnya. Sumbangan uang berlimpah-limpah. Setengah orang menyumbang kerbau,  lembu, angsa, itik dan ayam.
b), Pakaian dan perhiasan pengantin wanita : Ni Ken Tambangraras dilulut, diberi berpakaian dan perhiasan serba bersahaja, namun tetap cantik menarik, berikal rambut cukupan, pengikatnya berhiaskan kembang argulo. Ni Centhini dirias menjadi “patah” (pendamping pengantin).
c). Pakaian dan perhiasan Ki Bayipanurta : Berkain “Keling” bertabur, bersabuk “sindur”, berikat pinggang “Cathok”, memakai golok suasa, bertasbih merjan, berbaju jubah kain merah, berbaju dalam kain kiper putih, berkancing baju merah, bertutup kepala “kuluk bathokan”, beledu hitam, berpasang condhong. “Kanigara” berenda “balenggen”, beralas kaki kulit unta berwarna merah.
d). Pakaian dan perhiasan Ni Malarsih : Berkain sembagi hijau, bersabuk “sindur”, beraju “gelar konur” putih, bercincin “tajug” putih.
e). Pakaian dan perhiasan para tamu berwarna warni, tak ada seorang pun berpakaian kumal. Kyai Demang Purwasani dari Pegarwaja murid Ki Bayipanurta datang berkendaraan kuda, berpakaian keprajuritan. Kyai Wanahita, seorang tua dari dusun Pucangan, yang dihormati dan dimuliakan oleh segenap orang Wanamarta datang juga akan menyaksikan pengantin. Ia berkain “Limar” biru, beraju “kemanyon” bertutup kepala “kuluk kropak” lama, berikat kepala sekali belit, bertasbih “genitri” bersabuk “tali datu”.
f). Pakaian dan perhiasa pengantin pria : Syekh Amongraga berpakaian serba putih, berkain “ bretis” bersabuk mori, berbaju “caweni gelar konus”, bertutup kepala “kuluk” putih, bersurban putih, berimong “sebe” putih bertasbih manik air, berasal kaki sengkelat putih, tidak memakai golok ataupun keris.
g). Ijab nikah : Penghulu Basarudin maju menikahkan, saksi-saksi berdoa, taklik, setelah selesai lalu bersalaman dengan Ki Bayipanurta. Syekh Amongraga bersujud di pangkuan Kyai Wanahita, kemudian bersalaman dengan Penghulu. Saji-sajian diusung dibagi-bagi, Penghulu mendapatkan separoh. Kemudian 25 “ambengan” diusung ke luar dibagi-bagikan merata.
h). Pakaian dan perhiasan pengantin bertemu : Ni Ken Tambangraras berkain halus “genes” putih, berlukis “semen parang tritis”, bersabuk singset, dibagian muka disimpul menganjur, ber “udhet” putih berperada indah, bercincin zamrut mirah merah, bersubang berpermata “intan bumi”, bertusuk rambut “herthathit” bergemerlapan, berbedak mengawan menipis.
i). Ni Cnethini diberi berpakaian dan berhias seperti pengantin, tampak tambah cantik rupawan.
j). Upacara bertemunya pengantin : Pengantin pria diarak serta diiringi tabuh-tabuhan bergemuruh, disebut “salawatan singir”, suaranya melengking-lengking. Jamal dan jamil di muka. Jayengraha menggaya di muka, makin tampak tampan. Pengantin pria, Syekh Amongraga berjalan penuh perbawa, wajahnya bercahaya berseri-seri, sambil berdzikir. Tiba di Pendopo berhenti, sejenak menanti persiapan di dalam rumah. Ni Centhini dibimbingdi sebelah kiri, selalu berdekatan dengan Ni Ken Tambangraras, di sebelah kanan ibunya, di sebelah belakang Ni Turida dan Ni Rarasati.
k). Syekh Amongraga diapit oleh Ki Bayipanurta di sebelah kiri, dan Jayeng Westhi serta Jayengraga di sebelah kanan. Suaranya bergemuruh riuh rendah.
l). Bertemunya pengantin di tengah-tengah pintu, saling melontarkan sekapur sirih, telur di rendam di dalam air kembang setaman dipecah, airnya disiramkan, diusapkan setitik air di ubun-ubunnya tiga kali. Ni Ken Tambangraras lalu berjongkok menyembah. Kemudian keduanya dibimbing ke pelaminan. Ki Buyut menungguinya. Selesai upacara bertemunya pengantin mereka bubar, tiba saatnya waktu maghrib.
m). Pada waktu malam hari mempelai berdua masuk ke dalam peraduan. Syekh Amongraga selalu memberikan pelajaran kepada istrinya. Ni Centhini duduk menghadap di dekatnya, maka semua pelajaran yang diberikan ia pun turut mendengarkan. Pelajaran mengenai : Kesejatian syahadat, letak Rukun Shalat, letak rasa sejati, kesejatian pria maupun wanita, penyerahan diri terhadap suami.
n). Keesokan harinya datang tujuh orang tamu berkendaraan kuda, mereka adalah orang-orang dari Gresik. Sedayu, Tuban dan Rembang untuk memberikan sumbangan sebesar duapuluh real. Setelah para tamu kembali, Syekh Amongraga diminta oleh Ki Bayipanurta untuk menerangkan Kitab Ibnu Kajaru : Selamat dan bahayanya hidup, keajaiban Tuhan, Shalat Sunnat hidup, wajib dan kifayah, dua macam fardlu, Islam dengan menjalani Fardlu.
o). Ki Bayipanurta memikirkan calon rumah tempat tinggal pengantin, mencari mana-mana yang layak. Pembicaraan tentang bentuk-bentuk rumah, para adik Ki Bayipanurta dan putra-putranya masing-masing memberikan saran.
p). Para adik Ki Bayipanurta minta diperkenankan memboyong pengantin masing-masing semalam, Ki Bayipanurta setuju. Mula-mula pengantin diboyong ke rumah anak sulung, selama sehari semalam. Lalu ke rumah anak ke dua juga selama sehari semalam. Keesokan harinya ganti diboyong ke rumah adik-adik Ki Bayi, demi keinginan mereka memberikan penghormatan kepada pengantin. Setelah sepekan kemudian kembali ke rumah Ki bayi. Penghulu Basarudin juga minta diperbolehkan memboyong pengantin sesudah sepekan, selama semalam saja. Ki Bayi pun memperkenankan.
r). Syekh Amongraga memberikan pelajaran kepada Ni Ken Tambangraras mengenai : perlunya “laku bagi Ilmu”, pembagian-pembagian Shalat, penyebar luasan kasih sayang Tuhan kepada segenap para mukmin maupun segenap makhluk, letak sifat 20, wirid makrifat, ajaran sifatullah, dan Dzatullah, hingga fajar menyingsing. Ni Ken Tambangraras mendapatkan kemurahan Tuhan, sinar wajahnya bertambah bercahaya dari sebab mendapatkan ilham Tuhan.
s). Pembicaraan mengenai pengetahuan: Tembang Macapat dan obat-obatan.
5.
Kitab Centhini Jilid VI Tamat : Berisi cerita perkawinan Syekh Amongraga dengan Ni Ken Tambangraras puteri Ki Bayipanurt di Wanamarta. Bait terakhir berbunyi, sebagai berikut :
PUCUNG :
Ingkang wuku sinta mulya besaripun // dinten sareng tanggal // Kamis Wage wukuneki // Tolu Tamat ing sataunipun Lonthang.
Artinya :
Wuku Sinta lalu Besar // bulannya bertepatan hari // Kamis Wage, wuku // Tolu. Tamat selama setahun (Berikutnya Tembang Lonthang).

CENTHINI JILID VII
1.
Kitab Centhini Jilid VII berisi 31 pupuh, mulai pupuh panjang, dari pupuh 373 sampai dengan pupuh 403..
2.
Isi cerita : Syekh Amongraga dibuatkan rumah, setelah jadi lalu ditempati, upacara boyongan menempati rumah baru.. Banyak pelajaran Syekh Amongraga ditumpahkan kepada Ni Ken Tambangraras istrinya, mereka berdua memadu kasih selama 40 hari 40 malam, sangat menggembirakan hati para orang tua.
3.
Pupuh 373 berbentuk tembang Lonthang, bait permulaan berbunyi, sebagai berikut :
LONTHANG :
Nulya kang gumanti ing Taun Jimawal // tanggalipun sasi Sura dinten Tumpak // Wage wuku Julungwangi // nulya wulan.
Artinya :
Kemudian berganti tahun Jimawal // bulan Sura, hari Tumpak // Wage wuku Julungwangi // kemudian bulan.
4.
Adapun urutan ringakasan isi ceritanya, sebagai berikut :
4.1.
1. Masih melanjutkan cerita di Wanamarta :
a). Pada waktu pagi hari Ki Bayipanurta suami istri duduk di hadap oleh Syekh Amongraga berdua. Ki Kulawirya juga berdua dan Penghulu Ki Basarudin. Mereka memperbincangkan ,engenai : Pengetahuan obat-obatan, bab “kurup kamsiyah” cara menghitung tanggal permulaan tahun, “kurup penanggalan”, perhitungan naas, “panagan” serta “parijalan”.
b). Pada jam 10.00 Ki Bayipanurta mengajak bubar, para kerabat masing-masing pulang. Mempelai berdua pergi ke langgar hanya diikuti oleh Ni Centhini. Syekh Amongraga memberi pelajaran kepada istrinya dan para iparnya mengenai : Ksejatian penglihatan, kesejatian pengucapan, kesejatian pengetahuan, dan tentang “wahyu Jatmika” rasa hening, kesempurnaan ke-Esaan.
c). Setelah larut malam di peraduan Syekh Amongraga, memberi pelajaran kepada istrinya tentang kesejatian puji, setelah fajar menyingsing pergi ke masjid menjadi imam dalam sembahyang Sybuh.
d). Pada waktu makan pagi, bertempat di Pendapa mereka membicarakan persoalan riba, dan masalah tiga macam : 1. Badan, 2. Mulut, 3. Hati.
e). Pada waktu malam hari Syekh Amongraga mengajari istrinya tentang empat macam amal saleh dalam kehidupan :
1. Sarengat, Iman demi kebaktian kepada Tuhan.
2. Tarekat, Iman demi pemuliaan kepada Tuhan.
3. Hakekat, Iman demi pemusatan kepada Tuhan.
4. Makrifat, Iman demi “Peng-ujlatan” kepada Tuhan.
f). Pada waktu pagi hari Ki Bayipanurta suami istri sekerabat berkunjung ke tempat Ki Penghulu, makan pagi bersama, sambil membicarakan tentang sahnya berpuasa di Bulan Ramadhan, tiga macam tingkatan yang disebut : Mukmin Ngam, Khas, dan Kawa’i; keterangan tentang : Batal dan makruh.
g). Pada waktu malam hari Syekh Amongraga mengajari istrinya tentang sebelas macam “Daim” (kelestarian – Kekekalan) dalam keutamaan Islam, yaitu : 1. Fardlu daim, 2. Niat daim, 3. Syahadat daim, 4. Ilmu daim, 5. Shalat daim, 6. Makrifat daim, 7. Tauhid Daim, 8. Iman daim, 9. Junun daim, 10. Sakarat daim, 11. Mati daim. Setelah pagi hari mereka berdua bersama bersembahyang Subuh.
h). Pada waktu pagi hari Ki Bayipanurta sekerabat duduk bersama membicarakan tentang keutamaan lima macam Rukun Islam serta kekuatan masing-masing, yaitu : 1. Syahadat, 2. Shalat, 3. Zakat, 4. Siam, 5. Haji.
i). Pada waktu malam hari mempelai berdua di temepat peraduan, mengajarkan : Kesempurnaan Sembah Sujud dan puji-puji, “Heneng” dan “ Hening”, Ni Centhini mendengarkan di luar.
k). Pada waktu pagi hari mereka duduk di Pendapa, memperbincangkan bab dalil Qur’an “Kulu Syai’in Wadahu”. Syekh Amongraga memberikan penjelasan hal : tak menyebabkan mati maupun hidup, tak memberikan anugerah maupun siksaan, tak mengubah bagian tiap-tiap makhluk.
l). Ketika mempelai berdua diboyong ke temepat Ki Kulawirya, pada malam harinya Syekh Amongraga memberi pelajaran kepada istrinya mengenai : Tiga macam ketepatan kekaburan wirid, yakni : Kekaburan Dzat, Sifat, af’al; pembahasan Asma Wajibul Wujud, tahu akan kesejatian Esa, tahu akan kesejatian hampa; dua macam jaman kekaburan, yakni : Jaman lumrah dan ajaman ajaib; dua macam jenis kekaburan, yaitu : Kekaburan tidur dan kekaburan pandangan.
m). Pada waktu pagi hari Ki Bayipanurta suami istri datang, bersoal jawab tentang enam macam sunnat af’al, yaitu : Sunnat Shalat, sunnat Minal sitri, Raka’atal witri, sunnat Tahajud, Sunnat dhuha, berjama’ah.
n). Pada waktu malam hari Syekh Amongraga mengajari istrinya bab : kesejatian sifat Tuhan yang sempurna, bab : Lafal La ilahaillallah; Bab : rangkaian sifat 20 perincian Shalat Subuh, dhuhur, Asyar, maghrib, Isya.
o). Pada waktu pagi hari memperbincangkan hal ikhwal dunia dan akhirat : Lim macam hal dunia, yaitu : 1. Berbuat baik kepada sesama, 2. Menyempurnakan mayat, 3. Mengawinkan anak perempuan, 4. Menghukum kesalahan, 5. Mengembalikan hutang.
Lima macam hal akhirat, yaitu : mempelajari ilmu; syari’at, thiroqat, hakikat, ma’rifat, 2. Beribadat shalat lima waktu, 3. Memandikan dan menyalatkan mayat, 4. Sabar, tawakal, tak mudah goyah pendirian; 5. Berperikemanusiaan, tanpa pamrih diri.
p). Berikutnya uraian mengenai syarat-syarat agar orang mendapatkan keturunan, usaha-usaha untuk memperkuat dakar dan memuaskan sanggama ke dua belah pihak.
2. Mendirikan rumah untuk tempat tinggal Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangraras.
a). Ki Bayipanurta mengundang adik-adiknya dan anak-anaknya serta dengan bantuan orang banyak mendirikan rumah, dan masjid dengan kolam beralirkan air jernih, taman dan kebun penuh tumbuh-tumbuhan, serta kandang burung dara maupun kandang kuda. Semeua selesai selama empat hari. Karena dikerjakan dengan penuh kerukunan dan penuh semangat. Letak rumah baru ini di kampung Pananggungan, di sebelah timur rumah Ki bayipanurta. Setelah rumah Syekh Amongraga selesai dikerjakan lalu diperiksa dan diteliti oleh Ki Bayipanurta, tak ada celanya. Lalu mereka duduk bersama di pendapa makan pagi.
Pembicaraan tentang :
1. Kesenangan memelihar burung dara, dan obat-obatan bagi burung dara.
2. Keseimbangan kehendak dalam meneguk ilmu.
3. Rusaknya kematian.
4. “Ugeran” kehidupan.
5. Rusaknya tapa, dan tentang sarat-sarat boyongan.
b). Pada waktu malam hari Syekh Amongraga mengajarkan bab : 1. Anugerah kematian, 2. Pengetahuan tentang diri pribadi, 3. Terjadinya benih manusia di dalam rahim, 4. Perincian tentang jazad; 5. Kenikmatan manusia.

3. Upacara boyongan ke rumah baru di sebelah timur.
a). Pindah dari rumah sebelah barat ke rumah sebelah Timur, diarak bagaikan pengantin, berpakaian serba indah, waktu sesudah sembahyang Jum’at, setelah kenduri “Apem” di pendapa. Arak-arakan boyongan sebagai berikut :  Di muka kembar mayang diiringkan terbang rebana, di belakangnya penganti berdua bepayung kebesaran, diikuti oelh para sanak keluarga. Setelah tiba di rumah, baru mereka duduk di lantai, wanita-wanita duduk berjajar, para snatri duduk di halaman, kenduri disajikan diiringi doa hajat pemuliaan.
Syekh Amongraga mengajarkan kesempurnaan ilmudengan membentangkan isi kitab ; Tambiyulapilin, Sitin, dan Samarkandi, serta 12 kitab lagi. :
b). Waktu malam hari mengjar istrinya bab :
1. Kesejatian Iman dan Tauhid,
2. Hakekat makna ilmu Ma’rifat.
3. Ilmu yang bermuara pada samudra hati.
4. Kesejatian Allah.
5. Puncak Ilmu
6. Kesejatian pria dan kesejatian wanita, yaitu “Rasul Rasa, yang mulia, ke duanya Esa juga.
c). Tambangraras telah mencakup ilmu yang ditumpahkan suaminya Syekh Amongraga dengan sempurna. Sehabis sembahyang Subuh mereka berdua masuk ke dalam peraduan memadu kasih sepuas hati. Ni Centhini tiada ayal lagi akan hal ikhwal pengantin berdua, segera memberitahukan kepada Nyai Malarsih.
d). Pagi harinya Nyai Malarsih datang dengan membawa jamu-jamu, mempersiapkan kenduri 12 “Ambengan” menyiarkan keparipurnaan pengantin kepada segenap sanak keluarga.
e). Syekh Amongraga mohon kepada ayah mertuanya untuk mengganti nama Jayengwesthi dengan Jayengresmi, mewarisi namanya sendiri, dsietujui, lalu disirakan di seluruh desa.
f). Malamhari Syekh Amongraga mebgajari istrinya, bab :
1. Keseejatian kerja yang utama.
2. Kesejatian hidup dan kesejatian mati.
3. Pemusatan sembah dan puji.
4. Kepercayaan akan dalil.
5. Pemusatan ilmu rasa jati.
6. Pemusatan senggama, pengalapan rasa, dan pertemuan “Rahsa”.
4. Selama 40 hari pengantin senantiasa diliputi kasih mesra. Lepas Sembahyang Isya, Syekh Amongraga berbicara dengannistrinya minta diri akan berkelana. Banayak pesan atau pun petunjuk diberikan untuk menghiburnya. Bahkan sepeninggalnya pun diperbolehkan kawin lagi. Tamabangraras segera hancur luluh hatinya seperti lolos persendiannya, mohon diperkenankan mengikuti pengembaraan suaminya ke mana juapun, hingga ajal menjelang. Syekh Amongraga tidak goyah pendiriannya, tetap teguh kehendaknya untuk mencari kedua adiknya. Jayengsari dan Rancangkapti. Tambangraras disambut tangannya dibimbing ke peraduan, dicumbu rayu dengan merdu. Tambangraras tak kuasa menolak, memadu kasih sepuas hati. Setelah keduanya bersuci diri, segera tidur bersama-sama. Tambangraras tertidur dengan lenanya. Menjelang fajar menyingsing Syekh Amongraga lolos meninggalkan Wanamarta, hanya dengan diiringi oleh santri Jamal dan Jamil, dengan meninggalkan tiga pucuk surat, sepucuk surat untuk istrinya, sepucuk lagi kepada ayah mertuanya, dan yang sepucuk lagi kepada ke dua iparnya. Pagi hari ketika Ni Ken Tambangraras bangun, terkejut bukan kepalang melihat suaminya tidak ada lagi, ia jatuh tidak sadarkan diri. Ni Centhini bingung, segera berlari memberitahukan ke barat. Ki Bayipanurta berdua dengan istrinya serta anak-anaknya lekas-lekas datang ke rumah timur. Tiga pucuk surat dari Syekh Amongraga dibacanya, mereka semua kemudian mengerti bahwa Syekh Amongraga pergi melanjutkan pengembaraannya, mereka semua bersedih hati.
5. Perjalanan Syekh Amongraga berserta pengiringnya tiba di gua Sirupan, dekat dusun Cadhuk, termasuk wilayah Prabalingga, ketemu juru kunci gua bernama Ki Nitipala, ia menceritakan bahayanya gua, hingga pernah ada seseorang yang meninggal dunia, di sekitar daerah itu banyak pertapaan di hutan yang gawat.
a). Kemudian mendaki gunung Gendhing, bersamadi selama 40 hari.
b). Turun dari puncak gunung, melewati telaga mata air sungai Gandhu, kali bengawan di daerah Besuki, berpuasa selama 7 hari.
c).  Menyusur kaki gunugn Semeru, tiba di gunung Songsong, tepi jurang, rongga batu luas memuat 1.000 orang.
d). Berputar menjelajah wilayah Semeru selama sebulan lebih tiga hari, tiba di bukit Binangin, bukit Renteng, bukit Selamanik dan telaga Muncar.
e). Terus ke Panarukan memasuki hutan mendaki gunung Putri, jurangnya sulit dilalui berbatu putih runcing, tiba di gua Kawidadaren, sangat gawat, puncaknya berlubang terang, di dalam gua terdapat danau, Syekh Amongraga menyepi di situ 10 hari lamanya.
f). Berjalan lurus ke arah timur, tiba di pantai muara sungai, terus mendaki gunung Sedana, menanjak di puncak, tinggal selama 7 hari.
g). Lalu turun menuju ke gunung Janriliriduk, singgah tiga hari, terus ke gunung Wotrayung, singgah selama 7 hari.
h). Menuju ke arah barat, tiba di mata airnya di hutan Sandi, singgah di situ semalam.
i). Terus berjalan ke arah selatan menyeberang sungai Blambangan, menjorok masuk ke darah Jember.
j). Tiba di pantai, naik rakit ke pulau Nusabarong, kosong tak seorang pun terdapat, bermacam-macam tanam-tanaman tumbuh, terdapat candi batu besar berpahat, di situ bertafakur, bersamadi.
6. a). Di Wanamarta Kyai Bayipanurta mengadakan kenduri dikepung oleh segenap warga desa. Lima bulan telah berlalu belum juga mendapatkan berita kepergian Syekh Amongraga, seseorang santri yang mengaji di Wanamarta menceritakan pernah bertemu Syekh Amongraga di Panarukan, ia berjalan ke arah timur. Ki Bayipanurta terheran-heran.
b). Ni Ken Tambangraras tidak mau berganti pakaian, hingga pakaiannya lusuh kumal, tak berpisah dengan rukuknya, setiap hari Jum;at dan Anggara Kasih selalu mengadakan sedekah, memuliakan “Semara Bumi” Pulau Jawa.
7. a_.Syekh Amongraga di Pulau Nusabarong selama 7 Jum’at 42 hari, tidak mencari rahmat lahiriah, melainkan mencari kemungkinan keadaan di kemudian hari, berakhirnya kekuasaan raja-raja di Mataram. Lepasa Fajar sidik lalu menyiapkan rakit, dihnyutkan alun ke arah utara, mendarat di Daerah jember.
b). Perjalanan langsung memintas gunung, memasuki gua-gua, emnuruni lurah dan jurang menyusup hutan sampai di daerah Lumajang. Memasuki gua Dalem, gawat dan gelap pekat, banyak pepohonan tumbuh, bermacam-macam suara hantu bergemuruh. Syekh Amongraga segera beristighfar, suara-suara sekejap lenyap. Tiba di gunung Gilang, banyak orang bersunyi-sunyi. Syekh Amongraga terus mendaki ke atas, banyak terdapat tulang dan tengkorak. Tiba-tiba timbul  “gara-gara” angin ribut dan gempa bumi, suara bergemuruh dan tanah bergoyang, tapi Syekh Amongraga tiada goyah hatinya, akhirnya godaan lenyap.
c). Syekh Amongraga sampai di gunung Cawang di lerengnya menjadi tempat peristirahatan orang-orang yang menyepi.
d). Berjalan ke barat menyusup hutan, tiba di gunung Cempaka wilayah Lamongan, berjajar dengan gunung Arjuna. Mendaki naik ke puncak, banyak terdapat buah-buahan, dan airnya jernih. Melihat wanita cantik datang bergantian, sesungguhnya makhluk halus. Syekh Amongraga tiada tergoda, maka hanya menampakkan diri sebentar lalu musnah. Di tempat itu tinggal selama setengah bulan.
e). Lalu turun ke barat laut, menuju ke gunung Lawang, terus ke Selakeping, menuju ke gunung Mayadarawati, tapal batas Lumajang dengan Ngantang. Tiba di gunung Drekila, telaga retna, gunung Sampora, bukit Andong, bukit Perunggu, bukit Pegat, terus ke arah barat daya sampai di daerah rawa-rawa, menyusup hutan belukar tiba di gunung Kelut daerah Kediri.
f). Syekh Amongraga mendaki gunung Kelut, sangat gawat, tiada antara lama terdengar suara menggelegar, seketika jatuh debu hujan abu. Kemudian ia berdoa, hujan abu berhenti.
8. a). Di Wanamarta Ki Bayipanurta mengakan kenduri “Majemukan”, selamatan bersama orang banyak, dikepung goleh para sanak keluarga, para putra dan para orang tua-tua. Mereka saling bertanya-tanya kabar beritanya Syekh Amongraga, tidak terdapat kepastian. Mereka semua bersedih hati, berdoa bersama-sama, berkenduri lalu bubaran.
b). Di dalam rumah Ki Bayipanurta suami istri selalu bersedih hati menyaksikan anaknya Ni Ken Tambangraras, senantiasa menghibur tak henti-hentinya, mereka berdua menunggui di “Gandhok” belakang.
9. a). Syekh Amongraga menyepi di puncak bukit Kelut, di barat daya gunung Mendhong, selama 50 hari.
Meneruskan perjalanan ke  Lodhaya, siang malam terdengar banyak harimau mengaum. Lalu datang di gunung Sakethi. Sejak dari Lumajang sampai di daerah Imagiri tidak menjumpai tanah yang datar rata, semuanya berbukit-bukit berderet berhubung-hubungan. Banyak gua kecil-kecil di sepanjang pantai selatan yang disinggahi.
b). Perjalanannya terus tiba di Wajak Watu-urip, gunung Gethak, gunung Selandhaka, gunung Wajak, sendhang Wajak, guan Menak, gunung Buthak, gua kumitir, di dalam gua itu luas berliku-liku.
c). Terus ke barat tiba di gunung Wilis daerah Panaraga. Turun ke arah barat laut ke telaga Ngebel, beristirahat sebentar di Ngebel Balebatur, lalu naik ke gunung Gebyog Bale Latu, terus mendaki bukit Calam, sebagai pintu gerbang bukit Telaga Ngebel, tiba di puncaknya tampak seperti lautan bersih tak bersampah. Berkeliling mengitari tepi telaga, pemandangannya indah menyenangkan hati. Di sebelah selatan tampak air mengalir ke desa, mengairi persawahan. Bertemu dengan seorang pertapa, bernama Angganala berasal dari dusun Saba. Ia bersedih hati karena sawahnya tak menjadi. Diberinya perunjuk syarat penolak hama, yaitu : ekor “Walangkapa” (sejenis tupai), diberi berangkai ranting bambu hitam dibawa berjalan di pematang mengitari sawah.
d). Ki Annganala mengantarkan berjalan mengelilingi gunung mengitari telaga mulai dari arah selatan = gunung Karang. Selakawak, Selapangel, Selatambak, Tunggangan, Watukodhok, Manuhara, Balelatu, Calamagung, Sampelwatan, gunung Patukkan, Bathokan, Kendheng, Pragak, Kumambang, Medacin, Bunglegi, 17 puncak bukit itu menelilingi telaga, jalannya hanya sebuah.
e). Terus berjalan menyaksikan sendang bermacam-macam. Mencoba mengukur kedalaman air telaga, mempersiapkan rakit dengan batang bambu dan alat penduga dari akar pepohonan disambung-sambung serta diberi berbandul batu. Ternyata tempat yang paling dalam berukuran 253 depa, dan yang paling dangkal berukuran 102 depa. Satu setengah bulan lamanya Syekh Amongraga tidak turun dari rakit, terus menerus di tengah-tengah telaga. Jamal dan Jamil yang naik ke daratan mencari buah-buahan untuk dimakan.
f). Syekh Amongraga serta santri Jamal Jamil minta diri kepada Ki Angganala untuk melanjutkan perjalanan berjalan menuju ke arah selatan, bila malam hari bermalam di hutan, jarang sekali menjumpai orang, tiap menjumpai puncak bukit atau pun gua disinggahi, sampai di pantai laut selatan, tiba di gunung Puser, Topeng, Munjit, Gowang, Wungu, Cula, Pangon Brok, Telu, Dhanyang, Marabangun, Sitirebah, Banakaki, Pura, Pregut dan Gunung Sakethi. Hampir tiap gua pada gunung-gunung itu disinggahi, misalnya : Bekel, Pacal, Rngu, jangleng, Remit, Sedheng, Cumbu, Kreteng, Gupit, Leter, Cerong, Sangsang, Karag, Tarup, So, Sempati, Bureng, Racun, Tuwak, Lapis, Bentur, Brondong, Sejana, Kemukus.
Perjalanannya terus tiba di daerah Pacitan, melalui banyak gunung dan gua.
10. a). Syekh Amongraga berjalan di sepanjang pantai daerah Kaberahan, tiba di sagara anakan, tepi pantainya melengkung menjorok ke arah utara seperti periuk, diapit bukit, tiba di wukir lima, terletak di sebelah timur segara anakan, singgah di gua Selagenthong 3 hari.Tersus singgah di Watu Kembul, Luweng Sirah Blereng, Luweng Upas, Pringgading, Sumber Puser, Kareman Jatiwulung, Sidalaya, Kemaya di puncak Wukir Lima, Tempat “Kabuyutan” dan “kayangan” yang gawat.
b). Kemudian mendaki bukit-bukit, memasuki gua-gua di lereng-lerangnya, seperti : gunung Lanang, Suralaya, Samapura, Gembel, Kukusan, Bathok, Manik, tiba di gunung Karanggajah di tepi laut. Jumlah gunung yang mengelilingi segara anakan ada 99 buah.
c). Syekh Amongraga memasuki gua Sraboja, gua yang tampak menganga pada bagian bawah kaki gunung di sebelah barat daya, jalan yang menuju ke gua sangat berbahaya. Kelihatan banyak terdapat peninggalan-peninggalan kuna, diatur tersendiri tak ada yang menyamainya. Ada pintu gerbangnya rangkap tiga, di sisi kiri-kanan terdapat seperti “tuwuhn” : pisang tundhun, tebu. “Cengkir (kelapa muda) makin masuk ke dalam makin gelap, dilanda burung lawet berbondong-bondong. Di situ menyepi 10 hari.
d). Ke luar dari gua Sraboja bertemu seroang laki-laki bernama Arisbaya, bertempat tinggal di Wukir Lima. Ia menerangkan bahwa gua Sraboja itu sangat gawat dan berahaya. Ki Arisbaya bercerita : Dahulu kala ada raja dari seberang lautan datang ke Pulau Jawa bernama raja Sasrabaja, berkendaraan gajah, istri-istrinya dinaikan pelana, Langsung datang ke Gunung Kidul, bercengkerama di situ, tempat itu disebut Jaticancangan terletak di atas gunung Cenggung. Kemudian ke arah timur ke Kelayar, berhenti di tepi laut di atas batu karang besar menyabung ayam, tempat itu kemudian disebut Karangdlem dan karang Pangabensawung. Kemudian para punggawanya bertempat tinggal menetap di skelilingnya, disebut negara Kabarahan. Setelah musnah tinggal bekas-bekasnya, kraton Prabu Sasraboja menjadi gua Sraboja.
5.
Kitab Centhini Jilid VII tamat : Isi cerita Syekh Amongraga boyongan ke rumah baru kemudian lolos berkelana mengembara. Bait terakhir berbunyi, sebagai berikut :
JURUDEMUNG :
Sangkep kaprabon narendra // sauparaning ratu // wong kang wus sinung pandulu // katingal sawentehira // barang sakeh kang kadulu // sira Ki Syekh Amongraga // amirangrong dennya ndulu.
Artinya :
Serba lengkap istana raja // dengan segala upacara kerajaan // orang yang sudah dikaruniai penglihatan batin // dapat melihat sewajarnya // segala sesuatu yang dilihatnya // ia Ki Syekh Amongraga // melihat dengan terharu.


CENTHINI JILID VIII
1.
Kitab Centhini Jilid VIII berisi 103 pupuh, , dari pupuh 404 sampai dengan pupuh 506..
2.
Isi cerita : Syekh Amongraga lolos ke arah tenggara sampai di gunung Semeru, Banyuwangi, pulau Nusabarong, ke barat sepanjang gunung Sekethi, masuk ke ga Sraboja, gua Kalak, telaga Madirda, Dalepih, gunung Lawu, gunung Adeg.
Jamal Jamil mulai menggiarkan ilmu karang. Perjalanan di lanjutkan ke arah Baratdaya sampai di gunung Sapikul, bedhoyo, Semanu Gua Langse, Songpati, tiba Kanigara.
Mereka yang ditinggalkan di Wanamarta bersedih hati.. Jayengresmi (Jayengwesthi/ Jayengasmara), Jayengraga, Kulawirya, serta Nuripin pergi mencarinya ke arah tenggara, menginap di dusun Kepleng, ke Kedungbayangan, Gunung Selamangleng, ketemu Syekh Ragayuni, tiba di pulung bertemu janda Widada (Sembada).
3.
Pupuh 404 bertembang Wirangrong, baik permulaan berbunyi, sebagai berikut :
WIRANGRONG :
Seh Mongraga ngandika ris // marang Ki Arisbaya lon // yen mangkono pamanira yun // pan arsa udani // telenging Kabarehan // Payo Paman Arisbaya.
Artinya :
Syekh Amongraga berkata lembut // kepada Ki Arusbaya, pelan-pelan : //
Jika demikian kehendak Paman // memang ingin melihat // Ayoh paman Arisbaya.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya, demikian :
4.1.
a). Meneruskan cerita di istana Kabarehan. Syekh Amongraga di iringkan oleh Ki Arisbaya masuk ke dalam Istana. Banyak terdapat bermacam-macam makhluk halus memperdengarkan suara, bergemuruh dahsyat melengking-lengking menakutkan, seperti suara orang berbondong-bondong mengungsi. Selama empat malam bersamadi di tempat itu.
b). Syekh Amongraga menalnjutkan perjalanan, terus menyusur gunung Sakethi (gunung Sewu), gunung bungkak, Keren, Cawik. Dandang Prumpung dan lain-lainnya. Tiba di gua Kalak bertemu dengan Ki Lokasraya. Di Gua Kalak Syekh Amongraga singgah 21 hari, mandi di tempat mata air, menuruni lantai masuk ke Song Putri. Jalannya sempit, pintu gua bagaikan jari-jari karang memancar. Di Dalam song Putri melihat semacam alat kelengkapan tempat tidur berbau harum mewangi, lengkap dengan kasur, bantal dan gulingnya, wadah rias, tempat seperti peti, tempat air dan tempat nasi. Ki Lokasraya menerangkan betapa sulitnya jalan masuk ke Song Putri itu, hanya orang yang beruntunglah yang dapat masuk ke situ.
4.2.
Perjalanan diteruskan ke arah timur laut sepanjang gunung Sakethi melewati perbukitan seperti bukit Salumba, Curak, Purak, Belah menyeberangi Kali Bandha, mendaki gunung Senggama, melihat telaga Madirda, tempat minum kuda sembrani, lalu naik ke pertapaan Andongbang di bukit Retawu, bersemadi selama empat malam.
4.3.
Kemudian ke gunung Delapih, bertemu dengan seseorang yang sedang mencangkul memberi peringatan agar berhati-hati. Tiba di dusun Wiratha wilayah Wanagiri, melanjutkan perjalanan ke arah tenggara, tiba di Delapih, jalannya sulit, melihat hutan Terahan pintu gerbang Delapih, menyusur tepi kali bengawan sampai di Delapih, dikelilingi bukit kecil, terdapat banyak binatang buas. Syekh Amongraga bersamadi, segenap godaan lenyap. Terdengar suara makhluk halus, seperti pemimpinnya.
Selesai bersamadi terdengar lambang kembang mekar tampak, bertawakuf berserah diri. Di depannya kelihatan gunung Delapih penuh lebat berhiaskan bunga-bungaan berwarna-warni, menambah keindahan alam pegunungan, menggembirakan hati siapa pun yang memandangnya. Lalu melihat gua atau raksasa. Di dalamnya terdapat seperti tempat tidur batu hitam berkilat berkilauan, di selanya mengalir air jernih. Tampak gua Jatharatu Kenyapuri.
4.4.
a). Meneruskan perjalanan ke Timur laut, sampai di gunung Lawu, lewat jembatan batu Sela-andha, tiba di Pangaribaya, mendaki ke Marcukundha, Watu Cakra Srengenge, singgah di Pakelengan, lalu timbul perbawa gara-gara menakutkan, gunung Lawu beruara menggelebar, gelap pekat meliputi di sana-sini. Terdengar seperti suara orang berteriak-teriak di tengah medan pertempuran.
b). Naik memanjat ke Argadalem, melewati Prepat Kepanasana. Argadiyeng, tiga malam bersamadi di Argadalem. Terus menuju ke Argadumilah, tiba di Pakayangan, puncak Selabinatur, meletakkan “Sanggar” pada pohon “Tajug”. Melihat Burung Jalak gading sepasang meniup rendah berebut-rebutan bagaikan menunjukkan jalan, burung itu diikuti serasa tahu arah yang ditujunya. Ternyata tiba di kawah Candradimuka, duduk di Sela Mandragini, jaman dahulu adalah tempat penyiksaan.
c). Melanjutkan perjalan dengan selalu mengikuti arah terbangnya burung jalak gading. Tiba di Karang Kawidadaren, terus ke Sanggar-Agung dan gunung Pethapralaya, lalu ke arah tenggara datang di Tenjamaya, terus ke Cemara-Sewu, turun tiba di Telagapasir, kemudian ke Telaga-Sandi, jalak gading tetap senantiasa menunjukkan jalan.
d). Kembali memanjat lagi dari dukuh Gandasuli lalu ke Selabantheng, Cemara Lawang, Gua Segala-gala, menyaksikan harimau mengunyah-ngunyah padas di Selapasah. Terus ke Argadalem, Argatiling, Arga Pasar, Sela Canggah, Selalumur, Selageseng. Burung jalak tadi masih selalu menunjukkan jalan.
e). Tiba di Jatijempina di Puncak Arga Tiling. Sangat gawat berbahaya, di situ adalah kahyangan Giri Nata. Jarangsekali orang yang kuasa menjangkau tempat itu, selain orang yang punya kelebihan, dan yang tidak gentar hatinya. Di Tempat itu Syekh Amongraga bersamadi.
4.5.
a). Kemudian melewati gunugn-gunung seperti : Pawenang Bayu, Sadewa, Candhirengga, Rimbi, Kalithi, Aji, Bintulu, Sukuh dan Tambak. Di situ terdapat banyak arca-arca berhala, bangunannya tersusun sepertu pura, ada yang mirip tembok benteng kraton. Menurut cerita konon kraton Brajamusthi demikian pula adiknya yang bernama Prabakiswa dan Arimbi.
4.6.
a). Duduk beristirahat pada batu Brajamusthi di tengah tebat, batu itu besar sekali menjorok ke jurang. Ketemu penjaga gunung Lawu bernama Wasi Wregasana. Ia memberitahu jumlah puncak Gunung Lawu itu ada 15 banyaknya. De sebelah selatan ada 7, di Utara 8, Yang di sebelah Selatan adalah : 1. Arga Dalem, 2. Arga Dumilah, 3. Arga Pethapralaya, 4. Arga Mayang, 5. Arga Cakrakembang, 6. Arga Tenjomaya, 7. Arga Mayang.
Di Sebelah Utara.
a. Arga Tiling, 2. Arga Pekareman, 3. Arga Sadewa, 4. Arga Pamenang, 5. Arga Cendhirengga, 6. Arga Bayu, 7. Arga Rimbi,8. Arga Kalithi.
Ke 15 Puncak itu sangat gawat berbahaya.
b). . Perbincangan tentang :
1. Perilaku ke Budha-an, tidak makan daging danbuah jerami.
2. “Pawukon” dengan segala macam kelengkapan.
3. “Mangsa”, “Padewan”, “Pandangon”, “Pancasuda”, “Sengkan Turunan”, “Tali wangke” “Sampar wangke” dan “Paringkelan”.
4. “Budi” rahasia Buda.
5. “Pakem” ugeran bagi Maharesi.
6. Anugerah kehidupan.
7. Pemusatan tapa bagi Mahaaresi.
c). Syekh Amongraga menebak perilaku “panitisan” Ajar Wregasana diberi penerangan dan uraian hingga hatinya meraa puas, minta berguru kepada Syekh Amongraga, masuk Agama Islam, berganti nama Wregajati.
4.7.
a). Melanjutkan perjalanan menyeberang kali Sara ke barat datang di gunung Adeg, lalu bertirakat di puncak gunung Bangunselama kira-kira setengah bulan.
b). Jamal-Jamil mencari upaya mendirikan perguruan “Ojrat”, (Permainan terbang rebana dengan cerita siksaan dan pahala di alam akhirat), banyak memberikan “mangunahnya” (keistimewaan atau kelebihan dari karena imannya), orang-orang desa di sekitarnya terpikat berbondong-bondong berguru kepadanya, Jamal-Jamil dimuliakan orang banyak.
c). Syekh Amongraga ditemui oleh Kepala Desa Lemahbang, bawahan Pangeran Jayaraga, bernama Sutagati.
d). Jamal-Jamil menjemput Syekh Amongraga, diiringkan oleh santri-santri murid-muridnya. Diperintahkan membikin masjid, setelah jadi terus dipakai. Jamal- Jamil setiap malam membikin tontonan yang aneh-aneh. Membalik penglihatan orang-orang, mereka berkerumun berdesak-desakan menyaksikan keanehan tersebut.
e). Syekh Amongraga senantiasa duduk di pengimaman. Jamal  Jamil membagi santri-santrinya dalam sembilan bagian, msin- masing dikepalai seseorang, setia hari mengajarkan ilmu karang.
4.8.
Syekh Amongraga bersepakat akan melanjutkan perjalanan ke Mataram. Jalannya melewati Jatisaba, suatu hutan tepian yang sempit, gunung Sarembat, Kabaseng, menyeberang kali Oya, ke selatan tiba di hutan Jaketra, datang di gunung Jimbaran, singgah di gunung Sambiradin. Perjalanan Syekh Amongraga dan Jamal – Jamil itu diikuti oleh 700 orang santri.
4.9..
a). Tiba di Pegunungan Sakethi (Gunung Tumpeng Sewu), terus sampai di gunung Gora, daerah Ciring, bagian selatan pinggir lautan, Dusun Kanigara banyak terdapat tempat-tempat yang gawat, tiga buah guanya menyeramkan, yaitu : Gua Manganti, Guna Celor, gua Songpati, pintu masuk ke tiga buah gua itu semuanya ddigenangi gulungan ombak laut Kidul.
b). Di Hutan Giring banyak terdapat bekas pertapaan. Syekh Amongraga memilih dusun Kanigara menjadi tempat persinggahannya. Memerintahkan membikin masjid, sehari semalam jadi. Lalu membagi-bagi daerah kelurahan, menetapkan nama masing-masing lurah dengan kata “Jati”. Seorang pengiring bernama Jiwayuda diganti bernama Ki Gorajati, ia ditugaskan menjadi imam masjid di Magora. Ki Gorajati itu tahu benar keadaan medan daerah itu.
c). Sehabis sembahyang Jum’at Syekh Amongraga singgah di gunung Jakatuwa, diikuti 1800 orang santrinya. Berduyun-duyun memenuhi tempat.
d). Berangkat menuju ke arah barat daya, tiba di hutan Jati Giring. Syekh Amongraga bertirakat di gua Celor. Lalu ke Gua Manganti di tepi Kali Oya, masuk ke dalam gua, di lantainya banyak terdapat kulit pinang layu, sisa sadak, dan potongan sirih. Gorajati berbisik, memberitahu bahwa gua itu adalah tempat Sinuhun Sultan Agung Berkhalwat. Agaknya belum selang lama beliau meninggalkan, terbukti baunya yang harum semerbak mewangi. Syekh Amongraga lalu bersamadi memohon restunya, diikuti oleh Ki Wregajati dan Gorajati.
e). Sampai di Meladan menyaksikan dua buah batu hitam bulat sebesar periuk dinamakan batu Sangsang, ditemui juru kunci bernama Ki Batulata. Barangsiapa kuat mengangkat “Sela Cantheng”, batu itu serta membawa berputar mengitari tiga kali, maka yang dicita-citakan terkabul.
f). Perjalanan diteruskan ke Drekaki, diiringi oleh Ki Batulata, melihat kedung airnya dan banyak ikannnya, kedung larangan milik Sinuhun Sultan Agung.
4.10.
Tiba di pesisir kidul berhenti di gunung Bungas, pantai tempat berhantamnya gelombang  ombak lautan bernama Gunung Putri. Lalu masuk ke gua Songpati, jalnnya harus memperhatikan pasang surunya ombak mengalun, sangat gawat berbahaya dan sulit, di bawahnya terhampar samudra luas menggelora, di atasnya deras mengalir air terjun dari gunung Bungas. Konon hanya Ki Bangkung yakni Sinuhun Sultan Agung sendirilah yang telah dapat memasukinya. Syekh Amongraga serta ke tiga orang santri pengiringnya mencoba masuk ke dalam gua itu.
4.11.
Dari gua Songpati terus ke Kanigara. Jamal-Jamil membuat “Tarub” (tempat berteduh) yang lebar bagi para santri pengiringnya “Bekel” (Kepala Desa) di Kanigara bernama Ki Wanamenggala. Syekh Amongraga memerintahkan membikin masjid, tujuh hari selesai. Santrinya berjumlah 3.000 orang . dengan”Lurah” (Kepalanya) 12 orang. Tiap-tiap hari mengadakan keramian. Bersuka ria, menyelenggarakan pertunuukan “Emprak”, “Ojrat”, dan “Tetegar ing tawang” (berkalana di angkasa), sering juga “layar neng laut” (berlayar di laut), tak berbeda rasanya berkelana did angkasa maupun berlayar di laut. Tiap malam hari bermain rebana dan berdzikir. Jama;-Jamil menumpahkan segenap kemahirannya mempertunjukan permainan yang elok dan aneh, menyebabkan para santri tercengang terheran-heran.
4.12.
a). Keadaan di Wanamarta.
b). Ki Bayipanurta  beserta segenap sanak keluarganya laki-laki dan perempuan duduk berkumpul di serambi, memperbincangkan kabar beritanya Syekh Amongraga bermacam-ragam yang mereka ketahui. Ki Sembagi memberitahukan perhitungan yang hasilnya buruk. Ki Bayi memberitahukan impiannya, tiga buah giginya tanggal, setelah dihitung menjadi enam. Ki Sembagi menghitung-hitung keburukan akibatnya. Ni Ken Tambangraras mempersiapkan kenduri, malam hari mereka mengaji hingga khatam, lalu berkenduri.
4.13.
Malam hari berikutnya Jayengresmi (jayengwesthi), Jayengraga dan Kulawirya bersepakat akan mencari Syekh Amongraga yang telah pergi selama 14 bulan lalu. Menjelang dinihari mereka bertiga berangkat diiringkan oleh Nuripin.
4.14.
a). Mereka berempat pergi ke arah Selatan, waktu matahari terbenam singgah di dusun Kepleng, bertemu petinggi bernama Suradigdaya, dipersilahkan singgah, dijamu. Suradigdaya mempunyai anak gadis remaja bernama Matiyah, panggilannya Endhuk, dan kemenakan perempuan seorang janda muda.
b). Para santri di dusun Kepleng gemar bermain tabuh-tabuhan. Kulawirya mengajak bermain, jadilah tayuban dengan penari wanita bernama Gendra. Jayengresmi menyingkir ke “Tajug” (langgar”. Jayngraga mendekati Matiyah pelan-pelan, tidak berhasil, tapi memperoleh si jandan muda. Kulawirya mendapatkan Gendra.
4.15.
a). Meneruskan perjalanan ke hutan Selambur, melewati hutan Bagendul, beristirahat di bawah pohon Kesambi, Jayengresmi membentangkan bab “Kiparat” dan “Nikmat”.
4.16.
a). Melanjutkan perjalanan datang di Dusun Palemahan, terus ke Dusun Mamenang, lalu ke kedung Bayangan, beristirahat di tepi kedung, bersoal jwab tentang “Tekad tirakat” dan “ilmu wahyu jatmika”. Kemudian meneruskan perjalanan ke gunung Klotok, datang di dusun Pakuncen, bertemu dengan Keua Desa bernama Ki Wanatawa, minta diantarkan naik ke puncak bukit.
b). Jayengresmi bertanya kepada Ki Wanatawa, kalau-kalau melihat tiga orang bertirakat di situ. Dijawab tidak ada. Mereka berempat pada waktu malam harinya menyepi di gua Selamangleng di Gunung Klotok itu.
4.17.
a). Datang di pakareman, bertemu pertapa bernama Syekh Ragaynu, tampak duduk tanpa tikar diapit kitab berjilid-jilid. Di Gunung Kalenglengan ia seorang diri, mereka tamu-tamunya dijamu makanan. Syekh Ragayuni memberi perlambang tempat tinggalnya Syekh Amongraga, berupa seperti ayam betina kian mencari tempat bertelur. Kini letaknya di arah barat daya, tiak usah disusul, tidak urung kelak akhirnya akan bertemu jua.
b). Pembicaraan mengenai : ilmu perlambang perpaduan mahluk dan khalik, perlambang kehidupan orang bagaikan orang bepergian yang singkat sejenak di tengah perjalanan, penyatuan raa sejati, pemusatan semebahyang, pandangana terhadap Tuhan. Sikap hidup masing-masing keyakinan, tauhid kesejatian yang sempurna.
c). Akhirnya Syekh Ragayuni mau berterus terang menunjukkan tempat tinggal Syekh Amongraga yang pasti, yaitu di Wanataka, di tempat itulah kelak mereka bertemu.
d). Pada waktu pagi hari mereka mohon diri, bersalam-salaman, pada saat itu juga Syekh Ragaynu musnah tak berbekas, tangan mereka masih tetap mengacung, mereka sangat heran, lalu mereka membaca istighfar.
4.18.
a). Perjalanan dilanjutkan tiba di dusun Pulung, bermalam di rumah Penghulu Jabaludin. Terdengar suara gamelan dipukul. Dberitahu bahwa itu bunyi gamelan di rumah janda Sembada. Seorang janda kaya raya, tidak mempunyai anak, banyak memberikan dana, bels kasih kepada sesama orang yang menderita.
b). Jayengresmi bertukar pendapat dengan Penghulu Jabaludin bab sahnya zakat dan fitrah.
c). Anak gadis penghulu Jabaludin bernama Sangidah tertarik hatinya kepada tamu-tamu itu, tapi tidak ditanggapinya.
d). Kulawirya, Jayengraga diiringkan oleh Nuripin lolos pergi ke tempat janda Sembada, dengan dalih mencari tempat bermalam, diterima di “bale” watangan”. Nyi Sembada sudah agak lanjut usianya, tapi masih gemar merias diri, ia tertarik dengan tamunya. Dipanggillah kesayangannya seorang janda muda bernama Biyang Kacer, ia sering disuruh merangsang nafsu birahi lelaki yang diinginkannya. Jadilah Kulawirya seketiduran dengan Semebada, dan Jayengraga dengan Kacer.
e). Seorang kaum bernama Duljaya sangat dungu, kemaluannya istimewa, ia selalu ditugaskan melayani Nyi Sembada.
f). Seorang ronggeng bernama Madu datang dengan kelengkapan gamelan ditanggap di rumah janda Nyi Sembada.
g). Selama Kulawirya dan Jeyangraga menetap di rumah janda Nyi Sembada mereka berbuat tidak senonoh. Sedang Jayengresmi selalu mengajari Penghulu Jabaludin tentang : Laba riba dan rejeki haram. Laba riba adalah keuntungan yang tidak halal, sedang rejeki haram sudah disebutkan di dalam sarak. Lagi diajari mengenai tiga macam kewaspadaan, yaitu tahu akan “Wajib Rasul”.
- Sidik : Benar dalam ucapannya.
- Amanat : Penuh keyakinan bisa dipercaya.
- Tablegh : Pecaya kekepada sesama.
Kemudian tiga macam “Mokal rasul”
a) Gidib : Mengingkari syari’at.
b). Kiyanat : Berkhianat.
c). Kitman : Bersembunyi.
Ditambahlagi pelajaran tentang perlunya wudu dan sembahyang, uraian mengenai tiap-tiap rukun, batal dan haramnya makanan, langkah bertobat laku maksiat.
5.
Kitab Centhini Jilid VIII Tamat : berisi cerita lolosnya Syekh Amongraga mulai dari Wanamarta ke arah tenggara sampai datang di pulau Nusabarong, ke barat tiba di pegunungan Sakethi daerah Mataram, Kulawirya, Jayengresmi, Jayengraga, Nurupin mencarinya, datang di Pulung bertemu janda Nyi Sembada (Widada). Bait terakhir berbunyi sebagai berikut :
PUCUNG :
Mung sireku bae lawan niyagamu // kene wong wus ana // gamelan gedhe abecik // sakarepmu tutug anjurudemunga.
Artinya :
Hanya engkau saja beserta dengan penabuhmu // karena di sini sduah ada // gamelan besar lengkap lagi bagus // sekehendakmu dan sepuas hatimu (berganti tembang juru demung).
CENTHINI JILID IX
1.
Kitab Centhini Jilid IX berisi 76 pupuh, , dari pupuh 507 sampai dengan pupuh 582
2.
..Isi cerita : Di Pulung Jayengresmi dengan pengiringnya bernadar bermain “Tayuba”. Beralih ke gua Padhali, melihat pohon beringin berbuah nangka. Datang di Padangeyan ketemu Syekh Sidalaku. Melihat-lihat gua Sentor, lalu datang di Paranten, bertemu Dhatuk Danumaya, terus mendaki gunung Bayangkaki. Pergi ke Tegoran ke rumah penjahat, ditangkap. Pergi ke Dukuh Longsor, bermalam di rumah Modin Nur Bayin, bertemu dengan Ranamenggala, diminta menunjukan jalan.
3.
Pupuh 507 bertembang Jurudemung, bait permulaan berbunyi, demikian :
JURUDEMUNG :
Wis Madu melbuweng wisma // dandana kang sarwa luhung // ayun-ayunan warnamu // sesenengira busana // pilihana ingkang mungguh // rongggeng mbok Madu turira // inggih anulya umasuk.
Artinya :
Sudahlah Madu masuklah ke dalam rumah // berpakaianlah yang serba indah // berhiaslah secantik-cantinya // berpakaianlah sessuka hatimu // pilihlah yang serasi // ronggeng mbok Madu menyahut // baiklah lalu ia masuk.
4.
Adapun urutan ringkasan isi ceritanya, seperti berikut :
4.1.
a). Permainan “Tayuban” di rumah janda Sembada di Pulung. Yang bermaksud mengadakan “Tayuban” itu adalah janda Semebada, dengan mengundang tamu banyak, memenuhi di sepanjang tepi pendapa. Kulawirya, Jayengraga menjadi tamu. Nuripin menjadi sinoman, melayani tamu-tamu. Penghulu Jabaludin datang berdua dengan istrinya. Jayengresmi tidak turut hadir dalam keramian itu. Ni Sangidah juga tidak turut hadir, tetap tinggal di rumah, ia jatuh cinta kepada Jayengresmi, tapi tidak dilayani. Ia lalu menyusul melihat “tayuban” disetai hambanya bernama Biyah, duduk dekat janda muda bernama Tarijah yang mempunyai kekasih bernama Janawang. Kaum Duljaya membantu penyelenggaraan “tayuban”. Janda muda Kacer diberi berpakaian ronggeng mendampingi ronggeng bernama Madu, namanya diganti Gendam.
b). Tamu bernama Wiradikewuh menari diiringi gending “Onang-onang”, lalu Surawijaya menari dengan gendidng “Lunggadhung”. Kulawirya menari berulang kali. Jayengraga mendapat giliran menari panji, lalu menyelinap untuk tidur bersama dengan jadna muda Tarijah di rumahnya. Belum lagi puas tiba-tiba Janawang datang, langsung menarik keras-keras Jayengraga ke luar rumah.
c). Janda Sembada berulangkali turut menari dan minum arak hingga mabuk. Penghulu Jabaludin dipaksa minum arak, lalu menari dilayani oleh Madu, tombok membayar uang berkali-kali hingga habis uangnya. Pada malam itu juga janda Nyi Sembada terlaksana dapat melampiaskan nafsu sahwatnya dengan Kulawirya dan orang laki-laki lainnya yang datang di temepatnya.
4.2.
a). Pagi hari saat matahari terbit, Kulawirya, Jayengraga, Jayengresmi, diiringkan oleh Nuripin berangkat dari Palung melanjutkan perjalanan ke gua Padhali, bertemu dengan orang setengah umur bernama Ki Sinduraga, yang rumahnya di dusun Tajug, dipersilahkan duduk teratur berkumpul di “Balai watangan”, dijamu, dilayani oleh anak perempuannya jadna muda bernama Wasita dan anak gadisnsya bernama Warsiki.
b). Ki Sinduraga menerangkan bahwa di dalam gua Padhali itu terdapat gua Triamalawang, yang ke arah selatan menuju ke gua Bayangkaki, yang ke arah timur menuju ke Padhangeyan, yang ke arah barat menuju ke gunung Wijil wilayah Pedan. Gua Padhali itu sangat luas, dapat memuat orang banyak sekali.
c). Ada ke anehan : Pohon beringin kembar, Kelor, sawo, semboja berbuah nangka, pertanda bahwa permohonannya terkabul. Cita-citanya terlaksana.
d). Jayengraga menanyakan dusun Wengker. Mendapat jawaban bahwa itu adaah Kraton lama, terkenal disebut Katongan, tempat makam Batahara Katong. Pada jaman adipati Panji Putra Pranaraga, disebut Pure Wengker.
e). Ki Sinduraga bercerita bahwa ketika masih jejaka, mempunyai sahabt karin sembilan orang, yaitu :
1. Cariksutra; 2. Carikmudha; 3. Kidang Wiracapa, pelindung ketentraman di Lembuasta, daerah Kalangbret; 4. Wargasastra, kemudian terkenal dengan nama Ki Syekh Sidalaku di gunung Padhangeyan.; 5. Harsengbudi; 6. Sinduraga; 7. Malarcipta, mempunyai santri bernama Bawuk; 8. Arundaya, kemudian bernama Bayipanurta di Wanamarta; 9. Danumaya, kemudian bernama Ki Dhatuk.
Santri Bawuk setelah menjadi penghulu bernama Basarudin. Ki Sidnuraga menceritakan juga pengalamannya ketika masih menjadi santri.
f). Pembicaraan tentang : Sembilan Tingkat Delajat Islam (Martabat dalam Agama Islam) :
1. Mukmin Ngam, mendapat aral sebangsa riya.
2. Mukmin Ngabid, menyucikan yang dimakan.
3. Mukmin Saleh, berusaha berbudi pekerti baik.
4. Mukmin jahadah, ahli tapa.
5. Mukmin salik, berjalan di jalan Tuhan.
6. Mukmin supi, orang yang bening hatinya.
7. Mukmin ngarip, orang yang hanya memandang Tuhan.
8. Mukmin ngasik, orang yang rindu kepdaTuhan.
9. Mukmin mukip, orang yang hanya berbakti kepada Tuhan belaka, naiknya menjadi Auliya Allah.
4.3.
a). Pada waktu malam hari bermain terbang rebanaber si’ir, pagiharinya berangkat ke gunung Padhangeyan, disertai juru penunjuk jalan bernama Ki Wanalela melewati Seladhakon, dusun Pakuncen, tanah makam leluhur Pranaraga, penghulunya bernama Amat Diman, tiba di Watutowok, beka “towok) (sejenis tombak) milik Panji dulu tatkala berburu di hutan perburuan, mereka singgah di Jenangan.
b). Seteelah matahari condong ke barat mereka amendaki bukit menghadap Ki Syekh Sidalaku, semula bernama Ki Wargasastra, kawan seperguruan Ki Bayipanurta. Syekh Sidalaku mempunyai dua orang murid bernama Pakuraga dan Pakujiwa. Mereka yang datang menghadap memberitahukan tujuannya mencari saudara yang pergi berkelana.
c). Pada waku larut malam, Ki Syekh Sidalaku beserta mereka bertiga ke luar menikmati keindahan purnama terang bulan. Di bukit Padhangeyan banyak terdapat bekas peninggalan para pertapa dari jaman kuna. Mereka berjalan ka arah utara, sampai di gua Sentor, di dalamnya terdapat banyak keanehan. Misalnya tempat tidur batu berwarna-warni, ada yang hitam, berbunga, kemreh-merahan. Mereka di dalam gua selama sepuluh hari. Gua Sentor itu adalah temepat bersamadhi Nyai Ageng Jenangan yaitu Sang Raja Pendeta Rara Kilisuci saudara perempuan raja di Kediri. Sedang tempat untuk mengambil anginterletak di puncak bukit.
d). Kemudian memberikan ajaran menganai : Bertemunya ilmu sarak dengan Agama Budha, yakni harus taukhid akan hadits para Ambiya munajat terhadap Hyang Agung, menghadap dekat di hadapan Hyang Widdhi. Lalu ketepatan uraian kitab Panitisastra : bab keutamaan tingkah-laku manusia, bab hilangnya bsia ular maupun buasnya harimau oleh japamantra, gajah tunduk karena angkus, raja marah reda karena kata-kata penggawa. Kemudian bab kesusastraan : membicarakan mengenai sandi dan penyusunan kata-kata hingga menjadi gubahan tembang.
4.4.
a). Perjalanan mereka lanjutkan ke gunung Bayangkaki, diantarkan oelh Ki Pakujiwa. Waktu hendak mencapai ke puncak gunung pancabaya timbul, sesaat awan gelap meliput, hujan lebat jatuh, padahal wktu itu musim kemarau. Mereka semua tergelincir jatuh ke bawah, sampai di dusun Paranten. Jayengresmi dan Jayengraga berdoa, kemudian pancabaya berangsur lenyap.
b). Seorang laki-laki lanjut usianya datang ia berselimut kain usang, berikat kepala “mogan” kumal, bertongkat kayu berhiaskan cincin selaka. Ia itu lah Ki Danumaya, yang juga bernma Ki Dhatuk, saudara seperguruan Ki Arundaya yang kemudian bernama Ki Bayipanurta di Wanamarta. Lalu mereka diantarkan naik mendaki gunung Bayangkaki, memanjat menanjak, tiba di Seladheku, pintu gerbang Bayangkaki, melewati gua-gua gelap dan dalam.
c). Ki Dhatuk mengajarkan hal ihwal keduniawian dan keakhiratan : Jangan terpukau oleh duniawi, akibatnya menjadikan budi rendah dan hina. Lalu menerangkan cacat-cela watak tabiat manusia. Kemudian Ki Dhatuk menyuruh mereka supaya ke Ngawi, Kalangbret, Trneggalek, Lembuasta, tempat kidang Wiracapa, barangkali dapat memperoleh berita saudara mereka yang mereka cari. Kulawirya minta pertolongan Ki Dhtuk memberikan penunjuk jalan. Ki Dhatuk menolak, hal itu tidak baik, karena akan mengurangi kesulitan yang harus ditempuh, mengurangi manfaat tirakat, sedangkan sebaiknya harus dicapai dengan susah payah agar bermanfaat tirakatnya.
4.5.
a). Perjalanan mereka sampai di dusu Tagaron, bertemu denga benggolnya penjahat ulung, ia menjadi petinggi, bernama Candrageni. Mereka diterima di rumahnya, bermalam di situ. Setelah matahari terbenam Candrageni memerintahkan pesuruhnya untuk mengundang tetangga-tetangganya, semuanya penjahat. Mereka datang dengan membawa “Bedudan” (tabung menghisap mdat), serta berpakaian yang  tdiak teratur. Seorang demi seorang mereka berdatangan hingga rumah itu penuh sesak, sampai-sampai ada yang tidak mendapatkan tempat duduk. Penjahat-penjahat itu di antaranya beranama : Brajalamatan, Gemblangcerang, Gagaksetra, Brajalintang, Cabeguna, Berangkecer, Sandhangrowa, Jarangan, Pretiyuyu, Merakjamprong.
b). Selama mereka duduk berkumpul itu yang mereka perbincangkan adalah : Berlomba berlebih-lebihan memperlihatkan ilmunya mengenai saat “ Raja muka”, “bincilan”, “Kalamudheng”, “panagan”, “nujum jaya”, perhitungan hari dan pasaran demi berhasilnya kejahatan, membeberkan japa mantra dan jaya-jaya, “aji lembu sakilan”, “Aji setan waringut”, “Aji semar kuning”, memamerkan perbawa kesaktian dan kekebalan mereka. Cara mereka berbicara menggunakan kata-kata sandi, kata-kata kiasan.
Misalnya Candrageni bertanya kepada temannya : “Sapa kang oleh paran, aramban janur janganan”, “Siapa  pun yang memdapat arah tujuan, akan memerik janur dan sayuran”.
Brajalamatan menyahut : “Janganan kang celak-celak maksih sami pundhes, wikan tebih tineba, mring tanah ngrika kathah ron lembayung”, (Sayur yang dekat-dekat masih pendek pucuknya, entahlah did teempat yang jauh, di daerah sana niscaya banyak daun lembayung”.
c). Jamuan yang disajikan semua masih baru saja matang dimasak, di hidangkan di hadapan mereka : Jadah, jenang, pisang bertandan-tandan, tebu berbatang-batang, mereka semua ramai menawarkan. Mereka yag menghisap madat sambil sibuk membicarakan sebaik-baiknya tingkah laku penjahat yang harus ditempuh, diselingi dengan bunyi alat penghisap madat yang berselat selit. Bermacam ragam tingkah laku para penjahat menyombongkan diri menunjukkan kelebihan masing-masing, memang mereka ibarat penjelmaan syaithan. Banyak juga percakapan mereka tentang tawarnya mantra, dan saling membuka rahasia menentertawakan tidakan mereka melakukan kejahatan.
d). Candrageni berkali-kali mempersilahkan tamunya tidur, tapi mereka menjawab toh tiada lama lagi fajar sudah akan menyingsing. Maka para penjahat itu lalu memberikan isyarat saling mengejapkan mata, sejenak mereka ketiduran memejamkan mata sambil menghisap madat. Di luar terdengar bunyi burung hantu bertalu-talu bersahut-sahutan. Mereka yang singgah bermalam sudah merasa bahwa akan disergap. Jayengresmi lalu memusatkan pikiran, bersamadi, memohon kekuatan semoga diselamatkan dari segala mara bahaya. Kulawirya pun sudah bersiaga bersiap-siap.
e). Candrageni memberikan isyarat bahwa gerakannya dimulai. Brajalintang memahami isyarat itu, demikian halusnya Brajalamatan dan Gemblangserang mereka mengajak segera bertindak, para penjahat itu segera menyerang menerjang bersama. Jayengresmi Jayengraga dan Kulawirya sudah siap sebelumnya, maka mereka tak gentar menghadapinya. Banyak penjahat yang luka maupun tewas, bahkan takut lalu lari berhamburan.
f). Pada waktu itu fajar telah menyingsing. Jayengresmi jayengraga Kulawirya dan Nuripin segera meninggalkan rumah itu. Berangkat dari Tagaron menuju ke dusun Longsor. Petingginya bernama Ranamenggala. Modinnya bernama Nurbayin. Nurbayin mempunyai tiga orang anak gadis, telah kelewat dewasa belum juga bersuami, karena buruk rupanya. Masing-masing bernama Banem, banikem, baniyah. Mereka yang datang singgah bermalam di rumah modin Nurbayin, bukan di rumah Petinggi Ranamenggala. Jamuan dikirim dari rumah Petinggi, disajikan oleh ke tiga orang gadis anak Modin Nurbayin.
g). Mereka menceritakan peristiwa yang abru saja dialami di Dusun Tagaron, bahwa semalam disergap penjahat. Ki Petinggi Rranamenggala memanggil tiga orang Tagaron yang kelihatan ada di longsor, mereka itu adalah : jarangan, Pratiyuyu, dan Merakjamprong. Mereka datang berselimut kain dengan sangat takutnya. Berkata bahwa perbuatannya itu hanya mengikuti jejak Brajalamatan. Ke tiga orang penjahat itu diperingatkan, mereka tunduk, dan berganti nama sebagaimana biasanya nama kebanayakn petani.
h). Diterangkan bahwa dusun Longsor itu seluas sembilan jung, di antaranya termasuk wilayah Pranaraga, jurang dan bukitnya termasuk daerah Trenggalek Wulan, dengan dua orang Demang, Demang Kidang Wiracapa di Trenggalek Lembuasta dan Demang Wiracana di Trenggalek Wulan. Kulawirya ingin sekali bertemu dengan Demang Kidang Wiracapa di Lembuasta.
i). Pembicaraan mengenai pertanian usaha-usaha agar segala macam yang ditanam dapat hidup subur, hal-hal yang harus disingkiri dalam mengerjakan pertanian, dan syarat-syarat penyelenggaraan pertanian yang baik.
j). Waktu larut malam bubar, Jayengraga memperoleh tempat tersendiri di dalam rumah. Nurbayin dengan istrinya masuk ke dalam ruang dalam. Ke tiga orang anak gadisnya bangkit nafsu birahinya, sering menyaksikan tingkah laku orang tuanya bilamana mengadakan hubungan asmara, ibunya menumpang di atas, dikira demikianlah halnya kebiasaan yang berlaku, pada hal sesungguhny disebabkan karena ayahnya sudah tua. Banem dan Banikem mendapatkan kepuasan melampiaskan nafsu birahinya denegan Jayengraga, sedang Baniyah berkeluh kesakitan karena menghadapi dzakar yang senantiasa kaku melempang.
k). Pada waktu pagi hari lepas subuh jayengresmi, Jayeng raga, Kulawirya, diiringkan Nuripin, disertai Ki Petinggi Ranamenggala meninggalkan rumah Modin Nurbayin meneruskan perjalanan.
5.
Kitab Centhini Jilid IX Tamat : Berisi cerita perjalanan Jayengresmi beserta dengan pengiringnya mulai dari dusun Pulung bermain “Tayuban” sampai ke dukuh Longsor. Bait terakhir berbunyi demikian :
SARKARA :
JAYENGRESMI Ki Kulawiryeki // sawusira samya sesalaman // adan umangkat lampahe // Ranamenggala gupuh // amencalang aneng ing ngarsi // kang tinilar sungkawa // cuwa manahipun // ya ta kang samya lumampah // turut dhadhah wau ta Ki Jayengragi // neng sendhang maskumambang.
ARTINYA :
Jayengresmi (dan) Kulawirya // setelah ebrsalam-salaman // lalu berangkat pergi // Ranamenggala segera // memelopori berjalan di depan // mereka yang ditinggalkan bersedih // Kecewa hatinya // mereka yang pergi berjalan // di sepanjang padang, sedangkan Ki Jayengraga di sendang bagaikan mas terapung (Berganti pupuh Maskumambang).
CENTHINI JILID X
1.
Kitab Centhini Jilid X berisi 57 pupuh, , dari pupuh 583 sampai dengan pupuh 639
2.
Isi cerita : jayengresmi dengan pengiringnya singgah di kedung bagong, lalu ke Lembuasta. Jayngraga kawin dengan Rara Widuri. Pulang singgah ke gunung Rajegwesi, terus ke gunung Wajakwatu-urip, tiba di Wanamarta.
Syekh Amongraga dilabuh di Tanjungbang, jamal-Jamil memberitahukan ke Wanamarta, menjadikan sedih. Sunan Giri wafat di Mataram.
3.
Pupuh 583 berbentuk tembang Maskumambang, bait permulaan berbunyi sebagai berikut :
MASKUMAMBANG :
Methuk marga wus tundhuk lampahira ris // nut ing pagalengan // asri kang peksi munyanjing // de cucingguling branjangan.
ARTINYA :
Menjemput id jallan, sudah bertemu, jalannya perlahan-lahan // mengikuti sepanjang pematang // Indah, burung-burung berkicau pagi hari // Cucingguling (dan) branjangan.
4.
Adapun urutan rngkasan isi ceritanya, demikian :
4.1.
a). Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya dan pengiring Nuripin melanjutkan perjalanan ke desa Lembuasta, singgah di kedung Bagong, sangat gawat, banyak ikan besar kecil menampakkan diri, tapi tak ada orang berani mengambilnya, pasti celaka, begitulah adat yang telah berlaku.
b). Tiba-tiba datang Ki Jakerti dari Trenggalek Wulan, bercerita : Dulu kedung Bagong itu bernama telaga Sasi, suatu taman yang sangat indah, tempat bercengkerama putera raja Singasari bernama Arya Banyakwulan sampai kepada Arya Menak Sopal. Mereka sangat kasih sayang kepada ikan air tawar piaraan. Konon Menak Sopal musnah tiada bekasnya di telaga itu. Sudah sejak dulu kala sampai sekarang tiada ubahnya selalu terdengar bunyi gamelan bertalu-talu dan suara dalang mempergelarkan wayang. Begitu selamanya, maka telaga itu lalu terkenal disebut dengan nama Kedung Bagong.
4.2
a). Semalam mereka bertirakat di kedung Bagong. Pagi harinya mereka berpisah dengan Ki Jiwakerti dan Ki Ranamenggala. Tiba di Lembuasta bertemu penghulu Astradenta, diantar menemui Kyai Demang Kidang Wiracapa, diterima dengan senang hati. Istrinya bernama Ken Widaryati diminta menyajikan jamuan. Mereka hanya memiliki seorang anak perempuan, mempunyai kegemaran menjelajahi hutan dan gunung, bernama Retna Ginubah. Dari sebab kegembiraannya, pada malam hari menyelenggarakan pemetasan topeng. Persiapannya dimulai sejak “Wisan Gawe” (Waktu selesai bekerja di ssawah pagi hari + jam 11.00), seolah-olah seperti orang akan emngadakan perhelatan. Pelasanaannya dibantu oleh Wirakara, Wirabraja, dan Nayakenthi. Pendapa rumahnya diberi teratag daun kelapa, pada lantai pinggirnya dibentangkan tiakr berlajuran. Setelah persiapan selesai mereka lalu menabuh gamelan, para tamu mereka pun turut menabuh, teledek berdendang merdu.
b). Lepas isa pertunjukan sudah siap dimulai. Tiga Saudara Ki Demang Kidang Wiracapa, yaitu : Wiracana, Wirakara, dan yang bungsu Wirabraja telah siap di pendapa. Datang tamu Mas Demang Prawiracana dari Trenggalek Wulan Suami istri dengan anak gadisnya bernama Ken Widuri serta  para adiknya yaitu : Mancanapura, Singabancana, Wirajana dan mangunjana, Kulawirya dan Jayengraga diminta turut menari, disediakan pakaian indah dan tampan.
Mendadak datang Retna Ginubah berkendaraan kuda terus langsung masuk ke pendapa, memberitahu bahwa telah berpapasan dengan Syekh Amongraga serta dua orang santri pengiringnya Jamal-Jamil. Meminta agar Ken Widuri membedaki Jayengraga dan ronggengnya membedaki Kulawirya. Karena mereka akan turun menari. Retna Ginubah minta diri pergi lagi. Dicegah tiada juga mau.
Tari Topeng

c). Gamelan mulai bertalu, berjejal-jejal wanita melihat. Pertunjukan topeng dimuali. Kulawwirya menjadi raja di Jenggala. Jayengraga menjadi Panji Kasatrian. Berganti pertunjukannya “Kiprah Gandrung” mempesona hati, gerak langkahnya gagah hebat, memukau mereka semua yang menyaksikan. Rara Widuri jatuh cinta kepada jayngraga, tiba-tiba maju ke tengah pentas merebahkan diri dalam pelukan Jayengraga. Semua mereka yang menonton gempar, hiruk pikut terjadilah kegegeran. Bunyi gamelan berhenti, sanak keluarga Ngabei Prawiracana hendak bertindak demi harga diri mereka. Sedangkan Kulawirya bersiap membela Jayengraga. Tiba-tiba datang Retna Ginubah, menyarankan agar Rara Widuri dikawinkan saja dengan Jayengraga. Mereka setuju, pernikahan dilakukan mendadak, dengan persiapan asal jadi. Jayengraga dan Rara Widuri dirias, lalu upacara ijab nikah, terus dipertemukan dengan “Pondhongan”, upacara pengantin pria mendukung pengantin wanita. Setelah upacara perkawinan selesai Retna Ginubah segera minta diri pergi lagi. Pengantin berdua dipersilahkan masuk ke dalam tempat peraduan. Pertunukan topeng dilanjutkan lagi di pendapa. Rara Widuri benar-benar mengalami malam pertama yang mengesankan, karena mahirnya jayengraga berulah asmara di malam pengantin. Mereka berdua sepuas hati menumpahkan hasratnya bermain asmara.
4.3.
a). Hari berikutnya Ngabei Prawiracana akan mengadakan upacara “mengundhuh” pengantin di Trenggalek Wulan pada saat genap lima hari perkawinan. Jayengresmi tidak berkeberatan. Sedang Kyai Kidang Wiracapa menyerahkan tempatnya untuk penyelenggaraannya. Ngabei Prawiracana bersepakat dengan istrinya menunjuk saudara-saudaranya mempersiapkan penyelenggaraan pesta perkawinan tersebut.
b). Kyai Kidang Wiracapa memerintahkan menanggap wayang klitik sambil duduk bertukar pikiran, membahas skeseusaian lambang wayang dengan lambang ilmu, sebagai lambang hakikat yang sejati. Kemudian mereka membahas makna rasa topeng silih bergantinya kedok bagaikan dzat saling merasuk ke dalam berbagai raga, dan makna rasa yang dijalin di dalam kecabulan, tiada tergoda memandang kemaluan.
Tiba-tiba datang perlengkapan tempat tidur pengantin dan binatang-binatang sembelihan, serta gamelan lengkap dengan penabuhnya. Diputuskan malam hari itu mengadakan “Selawatan”, bermain terbang rerbana dan bersingir. Kebetulan waktu itu di tempat Penghulu kedatangan santri 50 orang. Setelah lepas Isya, banyak santri berdatangan. Lalu mereka mulai berdzikir singir di tajug. Jayengresmi dan jayengraga turut merawai. Setelah tengah malam Jayengraga dipersilahkan mengaso dengan Widuri, mereka berdua bermain asmara sepuas hati. Ni Widuri selalu minta bersyahwat. Jayengraga mengeluh kewalahan. Tak kuasa mengimbangi. Larut malam mereka yang bersingir bubar, para santri pulang membawa “berkat”. Malam hari itu Kulawirya mebyuruh memanggil penabuh “gender” bernama Ni Asemsore ke pendoponya. Ia disuruh memijit-mijit, diteruskan dengan bermain asmara. Karena kenikmatan yang berkelebihan, Kulawirya lupa daratan, akhirnya terkena serangan Rajasinga, menegrang kesakitan kemaluannya bengkak.
4.4.
a). Kidang Wiracapa duduk berkumpul di Pendapa dengan para tamu beserta sanak keluarganya. Para penyumbang berdatangan lewat pintu muka dan pintu belakang. Kulawirya merasa sakait, tidak dapat turut duduk berkumpuldi pendapa. Tamu-tamu dari Prnaraga berdatangan, mereka itu di antaranya adalah : Raden Ngabei Wijakangka. Ngabei Wirapati, Demang Malangdewa. Setiap tamu datang di isyarati dengan bunyi tembakan di luar dan “glebet Jethotan”. Ada yang datang berdua dengan istrinya berkendaraan kuda. Jumlah tamu lebih dari dua puluh orang. Malam harinya dipergelarkan pertunjukan wayang purwa dengan dalang Ki Gunawangsa.
b). Ki Kulawirya bermimpi bertemu dengan Jamal Jamnil, ia diberi petunuk obat penyakitnya. Dakarnya supaya dikenakan kepada kuda betina, dilendiri dengan daun Wora-waribang dan daun Sundalmalam, dipipis – diperas – disaring lalu dioleskan pada dzakar sebelumnya. Petunjuk dalam impian itu dilaksanakan dengan dibantu oleh nuripin dan dirangsang oleh ronggeng bernama Grepet. Ternyata penyekitnya dapat sembuh.
c). Setelah lepas subuh wayang “tancep Kayon” (Wayang gunungan ditancapkan ditengah-tengah panggung kelir pertanda  pertunjukan sudah selesai). Matahari terbit, fajar menyingsing, mereka bersama-sama makan pagi, jamuan makan dan minum penuh sesak, gamelan ditabuh berbunyi merdu mendayu-dayu. Kidang Wiracapa membicarakan akan menyelenggarakan “tayuban” pada malam harinya, dengan mengundang ronggeng bernama Gendra dari Kalangbret, dan Madu dari Pulunglumba, serta Teki dari Daleman yang dibawa serta bertemu oleh Puspagati.
d). Pagi hari itu mereka bermain mengadu ayam jago di halaman pekarangan, sedang di pendapa diadakan permainan mengadu puyuh. Waktu tengah hari mereka berhenti bermain, makan siang bersama. Setelah waktu dhuhur mereka beristirahat, para santri sembahyang Dhuhur di masjid. Jayengraga diminta datang ke rumah dalam, Ni Widuri telah lama menanti, maka segera bermain asmara sepuas hati.
e). Malam hari sehabis Isya mereka semua berpakaian indah-indah. Pengantin Jayengraga setelah selesai berpakaian segera berpamitan kepada istrinya akan ke luar, tapi istrinya menggandeng mengajak seketiduran lagi.
Tari Gambyong
Di luar penonton penuh sesak, mereka kagum akan bagusnya pengantin Jayengraga. Tiga orang ronggeng : Gendra, Madu, Teki, telah sia sedia di depan. Mereka bertiga diminta menari “gambyong” berganti-ganti, sebelumnya mereka “Matek aji pangirupaning sih” (melafalkan mantra penghirup kasih) lebih dulu. Para tamu yang menari segera diatur. Mas Demang Prawiracana mendapat kehormatan giliran pertama dengan gendhing “Lung Gadhung”. Bergilir berganti-ganti sampai kepada Kulawirya memasuki kalangan menari. Sorak sorai riuh rendah ke tiga orang ronggeng  berdiri semua. Madu, Teki, Gendra bersama-sama menari “Gambyong”, diiringi denegan gamelan “Pelog”, “Pathet barang”, gending “ Gunungsari”. Kemudian ganti Jayengraga dipersilahkan menari, gendhing “Genjong Guling”
, dilanjutkan “Ginonjing”. Jayengraga minta sampur, sikap, solah dan tingkahnya hebat menarik hati, ke tiga orang ronggeng bergulat dekat mengitari, semua kasmsaran kepada Jayengraga. Para penonton ramai berdesak-desakan berbuat tidak senonoh. Ketika bunyi gong terakhir mendengung, ketiga ronggeng itu menjatuhkan diri ke muka bertiraikan sampur bagaikan sekat penutup berkasih mesra. Tersebutlah Ni Widuri tiada tahan mencegah gejolak hati, mengira suaminya bermain asmara dengan ketiga ronggeng. Maka segera ia ke pendapa, sambil meraih senapanuntuk kemudian dipukullkan kepada ke tiga orang ronggeng. Sanggul mereka bertiga pun ditarik-tariknya hinga terlepas. Maka di pendapa menjadi geger. Ni Widuri dibawa mundur ke rumah belakang sambil meronta-ronta. Ke tiga orang ronggeng bubar ke luar, dipegang oleh Kulawirya dan Jayengraga, di bawa ke rumah pondokkannya. Jayengraga takut, tidak masuk ke dalam rumah, di pondokan berkasih-kasihan dengan dua orang pemuda tampan, bernama Laba dan Wukir. Kulawirya melayani ke tiga orang ronggeng berganti-ganti. Mereka yang bermain berseenang-senang di pendapa besar bubaran. Ni Widuri selalu menangis, ibu dan neneknya memperingatkan dan menasehati.
4.5.
Pagi hari para tamu sudah berkumpul di pendapa, mereka meminta diri akan kembali ke Pranaraga. Hari itu bertepatan dengan genap sepekan pengantin, diadakan kenduri selamatan, Mas Demang Prawiracana menyerahkan semua sumbangan dan pemberian kepada Jayengraga. Tapi Jayengraga menolak, lalu diserahkan kepada Ni Widuri. Jayengraga belum juga mau masuk ke dalam rumah, masih tetap bertempat tinggal di pondokan Kulawirya dan Santri Nuripin, dilayani oleh Laba dan Wukir. Sedang Jayeng Resmi senantiasa bertempat di langgar. Ni Widuri berhati-hati menanti kedatangan Jayengraga suaminya, menanggung rindu tak tertahankan.
4.6.
Pagi hari yang ke tujuh, Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya minta diri kepada Kyai Kidang Wiracapa akan kembali pulang ke Wanamarta. Kepergiannya disetujui, dipersilahkan makan pagi terlebih dahulu. Sesudah sembahyang Subuh mereka berangkat.
4.7.
Ni Widuri yang ditinggalkan pergi suaminya menjadi linglung, selalu mengigau seperti kemasukan makhluk halus. Ayah bundanya sangat sedih, bangkit marahnya kepada menantunya. Maka lalu memerintahkan kepada sanak-keluarganya untuk menyusulnya. Apabila tiada juga mau kembali supaya dibinasakan saja. Tiba-tiba datang Retna Ginubah mengendari kuda dengan diiringkan anjingnya. Di muka pendapa ia turun, terus masuk dan menyarankan agar kepergian utusan itu diurungkan.
Retna Ginubah sanggup mengobati Ni Widuri. Ia segera mengambil ramuan obat-obatan dari sanggulnya berupa bunga gambir putih. Kepalanya didongakkan dan ramburnya dipilin keras lalu ujungnya dicambukkan. Widuri menjerit menangis keras, terus disiram air satu jum mukanya hingga terengah-engah, mengaduh memilukan, akhirnya berangsur sembuh seketika. Orang-orang menjadi gembira hatinya, lalu mereka kembali ke Trenggalek Wulan.
4.8
Perjalanan Jayengresmi dengan pengiringnya sampai di gunung Rajegwesi, mereka bertirakat sebagai pengasah budi. Kemudian terus pergi ke Kalangbret, singgah di dukuh Gubug, lalu datang ke gunung Purwa, bertemu Pendeta bernama Ki Ekawardi, ia dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi. Istri dan cucunya perempuan bernama  Rara Muryati dipanggilnya menghadap. Syekh Ekawardi mengaku kawan seperguruan Ki Bayipanurta. Ia mengajarkan tentang : Laku langkah orang mengbadi, sikap rendah diri, tata sastra dan tata kata. Kemudian dilanjutkan dengan bertukar pikiran mengenai : Hakekat makna segala ilmu “Kajatmikan” (Ketenangan hati) :
1. “Kajatmikaning Silakrama “ (Ketenangan hati dalam kesusilaan).
2. “Kajatmikaning Sabdakrama” (Ketenangan hati dalam bertutur kata).
3. “Kajatmikaning Surengkarya” (Ketenangan hati dalam melaksanakan tugas).
4. “Kajatmikaning Karyabukti” (Ketenangan hati dalam mendapatkan makanan).
5. “Kajatmikaning Pasuwitan” (Ketenangan hati dalam Pengabdian).
4.9.
Pagi hari lepas sembahyang Subuh, Jayengresmi dengan pengiringnya mohon diri melanjutkan perjalanan, menuju ke arah selatan, lalu ke timur, tiba di gunung Wajak, gunung Budhel dan gunung Tengeng, dusun Wajakwatu-urip, terus menyeberang bengawan Rawa, ke timur, ke selatan, tiba di dusun Rawa, welihat sendang Wajakpatimbulan, kemudian naik mendaki gunung Pakareman. Singgah semalam, pagi hari turun ke gunung Tengeng, terus masuk ke Gua Menak, bertirakat semalam.
4.10.
a). Berganti menceritakan keadaan di Wanamarta.
b).Pada hari Jum;at, leps sembahyang Jum’at, Ki Bayipaburta dengan istrinya mengunjungi rumah Ni Ken Tambangraras. Tambangraras masih selalu bersedih hati, sejak ditinggalkan suaminya tidak mau berganti pakaian, sedang rukuknya yang semula berwarna putih bersih hingga menjadi kotor kelabu penuh debu. Ia senantiasa dihibur oleh ayah budanya agar tersapu kesedihannya, namun ia tetap diam tak mengucapkan sepatah kata jua. Ayah bundanya kembali pulang.
c. Waktu ‘Asyar, Jayengresmi beserta pengiringnya telah datang kembali ke Wanamarta, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
d). Sehabis sembahyang Isya, Ki Bayipanurta dan Ni Malarsih serta Ni Daya berkunjunglagi ke rumah Ni  Ken Tambangraras. Pada waktu itu Tambangraras tengah bersiap-siap mengatur “ambengan” kenduri untuk memuliakan Kangjeng Nabi, mohon berkah restu bagi mereka yang sedang berkelana mengembara.
e). Tiba-tiba datang pra sanak saudaranya, penghulu Basarudin, Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya dan Nuripin. Mereka yang baru datang di sambut dengan gembira.
f). Sesudah berkenduri, Jayengresmi menceritakan kisah perjalanannya berkelana mencari Syekh Amongraga, selama satu bulan tidak berhasil, hingga kembali ke Wanamarta. Mereka yang mendengarkan cerita itu sangat beriba hati. Apalagi Tambangraras sangat berputus asa, tak tau apa yang harus dilakukan. Ia dihibur dan dinasehati banyak-banyak oleh Ayahandanya. Setelah malam hari mereka bubar.
4.11.
a). Perjalanan Syekh Amongraga di Gunung Kidul daerah Mataram.
b). Di Gunungkidul wilayah Mataram, Syekh Amongraga membuat ketakjuban orang banyak, Jamal-Jamil sepuas-puasnya membeberkan ilmu karang, banyak orang tertarik mengakibatkan rusaknya Syari’at, tata hidup manusia seperti binatang, tanpa menjalankan Sembahyang dan tanpa melakukan pernikahan.
c). Syekh Amongraga menjelajahi tempat-tempat Sinuhun Sultan Agung berkhalwat menyepi : Ke Gua Langse, Manganti, Songpati, Marapi, tapi selalu telah didahului oleh Sinuhun Sultan Agung. Maka Syekh Amongraga erasa malu, bersunyi-sunyi di dalam “tajug” (Sanggar pamujan). Pada saat itu sampailah masa-masa yang harus dilalui berakhir.
d). Berita perbuatan Jamal – Jamil di Kanigara, Gunung Kidul, menggemparkan masrakat. Hingga Ki Penghulu dan para ulama melaporkan kepada Sinuhun Sultan Agung, bahwa di Gunung Kidul ada orang membuka “Kijab” (Tabir rahasia wajah Tuhan), mempertunjukan shihir, menyebakan bingung linglungnya orang gbanyak.
e). Sinuhun Sultan Agung lalu menugaskan Ki Tumenggung Wiraguna dan Ngabei Wirajamba ke Gunugn Kidul untuk mengusut dan menghukum Syekh Amongraga.
f). Wiraguna berangkat dengan “Panekar Mantri” 40 orang, dan ulama 10 orang. Tiba di dusun Kanigara ketika matahari terbenam. Di Masjid menyaksikan perbuatan Jamal-Jamil yang menggemparkan. Setelah selesai sembahyang Isya menemui Syekh Amongraga, menyampaikan perintah Sinuhun Sultan Agung. Syekh Amongraga berserah diri kepada kehendak Sultan. Ia lalu disuruh masuk ke dalam keranjang panjang diusung ke laut, tiba di pantai disahut alun ditelan gelombang ke tengah samudra. Wiraguna di dalam hati menduga dirinya berhdapan dengan Auliya seperti Pangeran Panggung di Demak jaman dahulu. Tiada lama kemudian terdengar suara memberi salam. Wiraguna menjawab dengan gagap. Syekh Amongraga menyampaikan ucapan terima kasihnya. Para utusan semua kembali, sedang keranjang panjang tadi tiba-tiba terhempas ombak ke pantai dengan kosong.
g). Jamal – Jamil selalu mengikuti tindakan utusan Sinuhun Sultan Agung memberi hukuman Syekh Amongraga dengan bersembunyi-sembunyi. Setelah mereka berdua menyaksikan keranjang panjang yang berisi Syekh Amongraga ditelan gelombang, lalu dihempaskan kembali ke pantai dengan kosong, dan kemudian utusan Sultan Agung kembali ke Mataram, Jamal – Jamil bermaksud segera kembali ke Wanamarta untuk memberitahukan kepada Ki Bayipanurta.
h). Setelah tiba di Wanamarta bertemu dengan Ki Bayipanurta serta para sanak keluarga. Jamal – Jamil memberitahukan peristiwa yang dialami Syekh Amongraga di pantai Samudra Kidul.
Tambangraras mendengar berita itu seketika jatuh pingsan tiada sadarkan diri. Sesudah beberapa waktu lamanya Jamal – Jamil mohon diri hendak pulang ke Karang. Mereka yang ditinggalkan senantiasa diliputi kabut kesedihan.
i). Utusan Sinuhun Sultan Agung tiba di Mataram pada waktu matahari terbenam, mereka terus pulang ke rumah masing-masing. Pagi hari menghadap Sultan di balai penghadapan melaporkan pelaksanaan tugasnya, sangat mengherankan mereka yang mendengar. Sinuhun Sultan Agung lalu bersabda, bahwa sesungguhnya Syekh Amongraga memang dengan sengaja minta jazadnya disempurnakan oleh wibawa kekuasan raja. Jadi peristiwa itu bukanlah suatu hukuman, melainkan suatu cara yang mengantarkan jalannya kembali ke alam kesempurnaan. Para utusan lalu diperkenankan mundur, sedang Sultan segera kembali masuk ke dalam istana.
4.12.
Sunan Giri Parapen wafat di Mataram.
4.13.
Sunan Giri Parapen sekeluarga telah cukup lama ada di Mataram, disediakan tempat tinggal berdekatan dengan Kangjeng Pangeran Pekik. Ketika mendengar berita Kangjeng Sultan Agung mengirimkan utusan untuk menghukum santri berasal dari tanah Timur yang membeberkan ilmu Sihir, Kangjeng Sunan Giri terketuk hatinya, merasa tentu putranya yang sulung yang lolos mengembara. Maka betapa sedih rasa hatinya tak dapat dilukiskan, akhirnya ia wafat, dimakamkan di lingkungan Makam Kasenapaten. Putra-Putri yang ditinggalkan dan turut bertempat tinggal di Mataram banyak yang mengabdi kepada Kangjeng Sultan Agung, menjadi ulama dan menjadi juru. Hanya seorang yang ditunjuk pulang kembali ke Giri untuk menjaga leluhur mereka.
4.14.
Di Wanamarta tiap-tiap hari Ni Ken Tambangraras masih selalu tiada sadarkan diri. Para sanak keluarganya siang malam berjaga-jaga terus menerus seraya menghiburnya. Ni Ken Tambangraras selalu tidur menelungkup dengan memeluk gulingngya, tidak bergerak dan tidak bersuara, air matanya senantiasa meleleh tiada putus. Ki Bayipanurta pun selalu diliputi kesedihan.
5.
Centhini jilid X Tamat : Berisi cerita kisah perjalanan Jayengresmi mencari Syekh Amongraga tidak ketemu. Syekh Amongraga di labuh di Laut Kidul. Sunan Giri Wafat di Mataram di rundung kesedihan. Di akhiri dengan bait penutup berbunyi, sebagai berikut :
SINOM :
Obah wau para kadang // mingset denira alinggih // angurmati ingkang prapta // Ki Bayi lasan kang swami // kendel denira nangis // samya angulapi eluh // Ki Bayi lawan garwa // sigra mring tilam umanjing // samya mire pra ari putra sadaya.
Artinya :
Bergeraklah para kerabat // duduk mereka beringsut // menghormat yang baru datang // Ki Bayi suami istri // mereka berhenti menangis // dan menghapus air matanya // Ki Bayi suami istri // segera masuk ke dalam ruang tidur // para adik dan putranya semua menyibak.
CENTHINI JILID XI
Tayub

1.
Kitab Centhini Jilid XI berisi 50 pupuh, , dari pupuh 639 sampai dengan pupuh 688. Pada bagian permulaan terselip satu pupuh berisi 5 bait.
2.
Isi cerita : Kesedihan di Wanamarta Ni Ken Tambangraras dipinang dari Panataran, lalu lolos pergi ke Wanataka, bertemu Syekh Mangunarsa, dan Anggungrimang, kemuddian bertemu Syekh Amongraga, seterusnya menyepi di Pulau Palanggatan, di tengah-tengah juranggjangkung.
3.
Pupuh 639 bertembang Kinanthi, bait permulaan berbunyi, sebagai berikut :
KINANTHI :
Warnanen kang andon nglangut // ing siyang dalu lumaris // anerajang jurang-jurang // sengkan pereng-pereng rumpil // datan kawarna laminya // andungkap sampun sawarsi.
Artinya :
Diceritakan mereka yang berkelana // siang malam berjalan // menerjang jurang-jurang // tebing tinggi, terjal dan lereng dalam curam // tak terlukiskan lamanya // hampir menjelang satu tahun.
4.
Adapun urutan ringkas isi ceritanya, sebagai berikut :
4.1.
Menceritakan kesedihan hati Ni Ken Tambangraras dan Ki Bayipanurta serta sanak keluarganya. Tiba-tiba Jamal – Jamil datang memberitahukan musnahnya Syekh Amongraga dilabuh di Tunjungbang, di laut kidul. Makin memuncak kesedihan meliputi Wanamarta. Para orang-orang tua menghibu Ni Ken Tambangraras, mereka antarakan ke rumahnya. Jatuh rebah tertelungkup di atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Ki Bayi dan istrinya menyusul ke rumah Tambangraras (Pupuh sisipan).
4.2.
Ni Ken Tambangraras telah mendapatkan kekuatan kembali menjadi janda muda yang tengah mekar, banyak orang datang meminang, tapi senantiasa ditolak. Terasa suaminya masih hidup.
43.
a). Di Panataran Menak Pasagi meninggalkan dua orang anak, yang tua bernama Bayi Kudasrenggara, yang muda bernama Ki Sawojajar. Ki Sawojajar masih muda, bewajah bagus lagi berilmu tinggi serta masih jejaka berlum beristri. Ki  Kuda srenggara mengutus Ki Budiman dan Ki Sembagi pergi melamar ke Wanamarta dengan membawa bermacam-macam barang pemberian. Pinangannya di tolak, karena Tambangraras belum ingin berumah tangga, masih mengharapkan timbulnya Syekh Amongraga kembali. Ki Kudasrenggara marah, bermaksud merusak Wanamarta, memanggil Ranggajanur dari Wanagiri dan Gagakrimang menyuruh membunuh Ki Bayipanurta dan melarikan Ni Ken Tambangraras. Nyi Puspita, istri Ki Kudasrenggara pergi minta tolong kepada juru sungging Ki Dewangga untuk membikinkan gambar Ki Sawojajar. Setelah jadi sama seperti yang digambar, dibawa oleh Ki Ranggajanur dan Gagakrimang berangkat ke Wanamrta. Mereka berdua singgah dulu di pertapaan Gunung Wilis, bertemu dengan pertapa, mendapat pesan agar berhati-hati terhadap cobaan wanita. Tiba di Wanamarta telah lepas senja. Mereka melepaskan “Aji Sirep” mantera menidurkan orang. Penjaga-penjaga menjadi mengantuk tertidur dengan lelapnya, senjata mereka dikumpulkan. Laju masuk ke dalam halaman pekarangan, pintu rumahnya dikunci, tapi setelah ditiup dapat terbuka.
b).Kemudian mereka sampai di tempat Tambangraras, ia sedang menghibur hati membaca kitab Suluk. Ranggajanur menyaksikan Tambangraras seketika terkena panah asmara, ia jatuh cinta. Tatkala ia memaksa hendak menjamah Tambangraras, ia jatuh terbanting berkaparan di tanah, mengeluh memanggil-manggil Gagakrimang adiknya. Gagakrimang terkejut mendengar suara itu, lalu masuk ke dalam ruang dalam. Tambangraras membuka tirai penutup, penjahat minta ampun dijawab : Jadilah seperti katamu sendiri. Seketika sembuh sebagai semula, berterus terang akan tujuannya seraya menyerahkan gambar lukisan Ki Sawojajar. Ketika gambar dibuka musnahlah sunggingannya hingga terhapus. Ranggajanur terkejut menyaksikan dan terheran-heran.
Tambangraras kemudian memberi ganti pakaian kepada kedua orang utusan itu. Setelah diterima ke duanya mohon diri, mundur ke luar dengan sangat takutnya.
4.4.
Tambangraras masuk ke dalam ruang tidur dengan menanggung rasa sangat sedih. Ketika tertidur bermimpi merasa seperti tidur berdampingan dengan suaminya. Tatkala terbangun sangat kecewanya, menangis sedih, hendak bunuh diri, tetapi selalu dicegah dan diingatkan oleh Ni Centhini. Keputusannya : Ke duanya bersiap-siap akan pergi meloloskan diri pada waktu malam hari. Setelah malam tiba, mereka lolos berjalan dengan susah payah, membawa bekal “Maskul” dan sisir, berpakaian bertambal-tambal. Tambangraras berganti nama Ni Selabrangti. Perjalanan kedua orang wanita itu terlunta-lunta, bilamana berhenti beristirahat mereka selalu berdzikir.
4.5.
a). Di dukuh Wanataka, Syekh Mangunarsa dan Ki Santri Monthel sangat memusatkan tapa dan Shalatnya. Mereka senantiasa membicarakan masalah Rukun Shalat.
b). Perjalanan Ni Selabrangti dan Centhini sampai di Wanataka, hendak bertemu dengan Syekh Mangunarsa. Setelah bertemu dipersilahkan duduk, dan santri Monthel diutus memberitahu kepada Syekh Syekh Anggungrimang dan Ni Rancangkapti untuk mempersiapkan jamuan. Syekh Mangunarsa sendiri masih hidup membujang.
4.6.
a). Bertukar pikiran mengenai perincian Iman dan Islam, serta ketepatan Syhadat.
b). Membicarakan tentang : Lima macam mandi yang perlu dilakukan oleh wanita, yaitu : 1. Mandi Kel (Mandi Haid yang pertama kali); 2. Mandi Jinabat (Setelah senggama); 3. Mandi Wiladah (Setelah melahirkan anak); 4. Mandi nifas (waktu selepas 40 hari setelah melahirkan anak); 5. Mandi mayit (waktu meninggal dunia).
Dua macam mandi yang perlu dilakukan oleh Pria, yaitu :
1. Mandi Jinabat (Waktu setelah senggama); 2. Mandi mayit (waktu meninggal dunia).
c). Yang disebut : “Perlu”, “Sunnat”, “Wudlu”, “Hakekat”, “Makrifat”, “Lintang Windu Manila”, dan “Tauhid”.
4.7.
a). Ketika bertukar pikiran bab Tauhid, Syekh Mangunarsa merasakan terdapatnya persamaan ajaran dengan Ni Selabrangti. Maka lalu bertanya siapakah yang mengajarinya, Ni Selabrangti menerangkan : Bahwa yang mengajari dulu adalah suaminya bernama Syekh Amongraga, ia semula bernama Jayengresmi, lalu pergi mencari saudara perempuannya bernama Ni Rancangkapti dan saudara laki-lakinya Ki Jayengsari. Perjalanannya sampai di Mataram, didakwa merusak sarak, dihukum dilabuh di Laut Kidul hingga meninggal dunia. Itulah sebabnya Ni Selabrangti lolos dari Wanamarta, bermaksud untuk bela pati.
b). Selesai menerangkan Ni Ken Tambangraras menangis, Syekh Mangunarsa tergetar juga hatinya ikut menangis, Ni Rancangkapti pun menjerit menangis, merebahkan diri pingsan terus meninggal. Anggungrimang menangisi istrinya, Mangunarsa terdiam diri, tidak bisa berkata apa-apa, menyaksikan kematian adiknya.
4.8.
Waktu fajar menyingsing pada pagi harinya Syekh Amongraga datang. Mayat Rancangkapti belum dimandikan, segera dibangunkan, lalu bangkit sebagai orang baru saja bangun tidur. Mangunarsa dan Rancangkapti tercengang memandang Syekh Amongraga. Ni Selabrangti segera bersujud di kaki Syekh Amongraga, lalu menerangkan kepada Manguanrsa dan Rancangkapti bahwa yang baru saja datang itu adalah Syekh Amongraga, semula bernama Jayengresmi. Mereka segera tunduk bersujud keharuan.
4.9.
Syekh Amongraga yang telah berbadan sukma berkata lembut memberikan wejangan mengenai kelainan alam. Syekh Amongraga mengawinkan Ni Centhini dengan Ki Monthel, semula bernama santri Buras.
4.10.
Kemudian Syekh Amongraga membikin “Asrama tanpa wisma” di jurang Jangkung, di tengah Pulau Palanggatan, tiga hari selesai. Syekh Amongraga suami istri lalu bertapa bersamadi di situ. Tiada lama mereka berdua menjadi sempurna berbadan sukma, menginjak di alam gaib, menciptakan pura dihias indah di alam “Walikan”. Sedangkan bila bertemu dengan para adik-adiknya bertempat di Sendang Klampeyan.
4.11.
Di Wanamarta sepeninggal Ni Ken Tambangraras diliputi kabut kesedihan. Ni Ken Tambangraras meninggalkan surat bahwa kepergiannya mencari suaminya. Nyi Malarsih sangat bersedih hati, bermimpi bertemu anaknya berduaan, makin rindulah kepada mereka berdua. Ki Bayipanurta bingung hatinya, lalu memanggil ke dua orang anaknya, memberitahukan impian ibunya. Ia menduga bahwa mereka berdua masih hidup. Maka Jayengresmi dan jayengraga disuruh mencarinya. Turida istri Jayengresmi dan Rasajati istri Jayengraga, keduanya sangat sedih akan ditinggalkan suami mereka. Setelah dihibur ke duanya agak berkurang sedihnya, meski hanya pada lahirnya.
4.12.
a). Perjalanan Jayengresmi dan Jayengraga sampai di Ardipala, inging bertemu dengan Syekh Malangkarsa, singgah di dukuh di rumah janda Tilarsa. Janda baru, masih muda lagi kayaraya. Mempunyai anak gaid dua orang cantik-cantik, bernama Ni Sumarsa dan Ni Warsiki. KE dua orang anak gadis itu jatuh cinta kepada ke dua orang tamunya. Malam hari bermalam di situ, hampir saja terjadi permainan asmara.
b). Pagi hari minta diri akan melanjutkan perjalanan ke Ardipala, singgah di dukuh gunung Sidapaksa, tiba di warung tempat perhentian para pedagang masuk ke rumah bertemu seorang gkakek-kakek, mengajarkan ilmu kepujanggan dari Empu Yogiswara.
c). Pagi hari minta diri, diantarkan ke Ardipala. Sahabat Syekh Malangkarsa bertempat di empat arah : Syekh Pariminta di arah utara, Syekh Modang di arah Selatan, Syekh Amongsari di arah Timur, Syekh Tresnaraga di arah barat. Jayengresmi dan Jayengraga diterima dengan senang hati oleh Syekh Malangkarsa jamuan disiapkan oleh Ni Ulangan.
d). Jayengresmi memberitahukan tujuan kedatangannya, mencari saudara perempuan yang pergi mencari suaminya. Dahulu sudah dicari-cari tidak juga ketemu. Syekh Malangkarsa memberitahukan kabar hal-ikhwal Syekh Amongraga yang dikenai hukuman di Tunjungbang.
e). Mendadak datang Syekh Modang, memberitahukan bahwa santrinya melihat dua orang perempuan berjalan, bernama Selabrangti dan Centhini, keduanya datang dari Wanamarta menuju ke Wanataka. Jayengresmi mengira bahwa itu Tambangraras, yang berganti nama Selabrangti.
f). Tiba-tiba datang Santri Monthel memberi salam, memberitahukan akan pergi ke Wanamarta membawa surat dari Syekh Amongraga, ia disuruh singgah ke Ardipala terlebih dahulu. Surat itu dikirimkan ke Wanamarta kepada ayahanda serta kepada Jayengresmi dan Jayengraga.
g). Jayengresmi dan Jayengraga bingung, kemudian bermaksud hendak bertapa ke Ardisalah, berganti nama Amongresmi dan Amongkarsa. Ki Monthel lalu minta diri meneruskan perjalanan, dan mendapat pesan berita untuk disampaikan kepada ayah-bundanya, bahwa Jayengresmi dan Jayengraga ada di Ardipala.
h). Pagi harinya Jayengresmi dan Jayengraga minta diri kepada Syekh Malangkarsa untuk pergi bertapa, kepergiannya disetujui, diantarkan oleh Syekh Modang dan Tresnaraga. Setelah tiba di Ardisalah lalu menyepi, sedang yang mengantarkan segera kembali.
4.13.
a). Di Wanamarta Ni Turida istri Jayengresmi dan Ni Rarasati istri Jayengraga melupakan makan dan tidur, bertekad keras untuk menyusul suaminya. Pada waktu malam hari lolos dan Wanamarta, pergi berdua tanpa pengiring, masuk ke hutan Durgama yang amat berbahaya. Banyak tampak makhluk-makhluk halus penjaga hutan menggoda, tapi ke dua wanita itu tiada goyah tekadnya. Mereka berdua lebih senang lekas mati. Tiba-tiba Bathara Kala datang menemui, menunjukkan tempat tinggal suaminya di Ardisalah.
b). Pagi hari mereka berdua berangkat pelan-pelan, meninggalkan hutan Drubiksa, datang di padang Pengembalaan yang luas. Banyak orang berpapasan tertarik hatinya menyaksikan. Seorang santri tertambat hatinya menggoda, diajak bersoal jawab apabila dapat menjawab ke duanya tak keberatan diperistri. Soalnya demikian : Sebelum bumi dan langit ada, jika mati, di mana tempatnya? Ternyata soal itu tidak terjawab.
c). Perjalanan mereka berdua sampai di hutan bergunung. Di situ bertemu dengan pertapa yang sudah tujuh tahun tinggal di dalam gua. Pertapa memberi petunjuk kepada dua orang wanita itu tempat tinggal suami mereka. Ke duanya diminta untuk berhati-hati, karena masih akan ada satu kali lagi godaan yang harus dijumpainya, dan diberi tahu bahwa kedatangan mereka akan ditolak oleh para suami mereka, maka harus tabah serta berhati-hati.
d). Setelah mohon diri mereka berdua melanjutkan perjalanan mendaki gunung, berjalan tersesast, merangkak-rangkak sangat susahnya. Tiba-tiba menyaksikan pedukuhan kecil tampak indah. Mereka berdua singgah untuk menanyakan letak Ardisalah itu.
e). Syekh Laras dan Syekh Resmi sudah tahu bahwa istri mereka datang menyusul, Setelah ketemu kedua istri itu memeluk kaki mereka serta menangis keras-keras. Mereka berpura-pura mati, maka makin menjadi-jadi tangis mereka, kedua orang suami itu dipeluk erat-erat. Tapi itu dimaksudkan untuk mencoba betapa besar cinta mereka terhadapnya. Kemudian setelah sadar kembali, ke dua orang istri masing-masing dipeluknya hangat-hangat.
4.14.
Di Wanamarta, Ki Bayipanurta dan Nyi Malarsih bersedih hati, karena ditinggalkan oleh ketiga orang anaknya dan seorang anak menantunya. Tiba-tiba datang santri Monthel membawa surat Syekh Amongraga dari Wanataka dan surat Jayengresmi – Jayengraga dari Ardipala. Ki Bayi suami istri kegirangan, santri Monthel diberi hadiah pakaian, kemudian mohon diri kembali ke Wanataka.
4.15.
Hari lain Ki Bayipanurta dan Nyi Malarsih berpakaian seperti orang sudra papa berjalan mengembara dari Wanamarta. Nyi Malarsih berjalan di muka, ki Bayipanurta di belakang. Mereka berdua berganti nama, Ki Bayi bernama Arundaya, Nyi Malarsih bernama Malarresmi.
Perjalanan Ki Arundaya dan Nyi Malarresmi menuju ke Ardibustam, melewati Ardimuncar tempat sahabatnya bernama Syekh Ardimuncar dan Arundarsa. Tiba di Ardimuncar bertemu Syekh Ardimuncar dan Arundarsa. Istri Syekh Ardimuncar bernama Purnaningsih. Pada waktu malam hari bertukar pikiran tentang ilmu : Masalah takdir dan tauhid, dalil dan hidayat.
4.16.
Terus melanjutkan perjalanan sampai di Ardibustam, bertemu teman lamanya bernama Ki Harsengbudi dengan istri Niken Wiyadi. Waktu malam hari membicarakan ilmu : Bab Tauhid dan Iman.
4.17.
Pagi hari berangkat dari Ardibustam diantarkan oleh empat orang santri, berjalan ke arah selatan, memasuki hutan Jembulan yang sangat gawat, dilarang orang menyebutkan barang sesutu yang dijumpai. Ketika datang di dekat Jembul, banyak godaan timbul bermunculan. Setelah melewati pusat hutan Jembul, empat orang santri telah menunjukan arah jalan yang ke Gunungsari, ke rumah Carik Sutra. Kemudian para santri minta diri kembali.
4.18
Riba di Gunungsari bertemu Carik Sutra, ia adalah saudara seperguruan Ki Bayipanurta. Carik sutra sedang duduk bersama dengan empat orang istrinya yang cantik-cantik. Istri ertama sudah ditalak, tinggal tiga orang istrinya yang kemudian senantiasa mengikuti, masing-masing bernama Sumardi, Wilapa, Suresmi. Arundaya memuji-muji Ki Carik Sutra yang pesolek serta memiliki banyak istri cantik-cantik lagi muda-muda.Arundaya juga mengingatkan kembali keberanian serta keperwiraan carik Sutra ketika masih muda, meski bentuk tubuhnya akecil bagaikan Gandhik” (Batu Giling). Sehabis makan mereka bermain tembang rebana, bersingir, para istri “Andulengi” (melagukan).
Waktu fajar menyingsing Ki Arundaya, Ni Malarresmi Ki Carik Sutra, Ki Carik Mudha, keluar dari pedessaan, dua santri petunjuk jalan berjalan di muka, seorang lagi membawakan bekal perjalanan berjalan di belakang. Di sepanjang jalan mereka senantiasa memperbincangkan ilmu, membicarakan anugerah Tuhan.
Waktu Asyar mereka beristirahat di sendang Balara. Sesudah Asyar mendaki bukit ke Ardipala. Mereka diantarkan oelh Ki Basariman, bertemu dengan Syekh Malangkarsa serta istrinya Ni Malangresmi. Ke empat orang tamu itu bermalam di rumahnya. Bermacam-macam jamuan diberikan oleh Syekh Malangkarsa, sambil membicarakan : Empat macam ugeran ilmu, yaitu : Saei’at, Tariqat, Hakikat, makrifat. Adapun ugeran Syari’at adalah : Kasdu takrul yakin, yakat : ‘Niat angyekteni anekani”. Ugeran Tarikat yaitu : Suci badan lisan ati”. Ugeran Hakikat yaitu : Iman, Tauhid, Makrifat”. Ugeran Ma’rifat yaitu : “Sukur, suka, rila”.
4.19.
Syekh Medang dan Tresnaraga di utus ke Ardisalah memanggil Jayengresmi dan Jayengraga yang telah berganti nama Syekh Raras dan Syekh Resmi. Keduanya berjalan cepat-cepat mendaki gunung memasuki hutan yang penuh dengan berbagai bahaya. Kemudian didapatkannya Syekh Raras dab Syekh Resmi beserta istri masing-masing. Keduanya dijamu berbagai makanan berasal dari “Mangunah” (Kelebihan karena Iman), mereka yang sedang bertapa. Utusan memberi tahu bahwa ayah budan mereka mencari mereka di Ardipala. Mereka jawab bahwa kelak akan bertemu dan berkumpul di Jurangjangkung di Wanataka. Utusan lalu minta diri, beberapa langkah berjalan tiba-tiba mereka berdua menjadi bingung, tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh. Mendadak angin angin puting beliung meniup keras, keduanya terangkat terbang ke langit bagaikan layang-layang, jatuh di Ardipala, segera memberitahukan perjalannya dari awal sampai akhir. Mereka yang mendengar merasa berlega hati.
4.20.
Pagi hari Ki Arundaya beserta Nyi Malarresmi istrinya akan melanjutkan perjalanan ke Wanantaka. Syekh Malangkarsa sanggup mengantarkan dengan diiringkan oleh Pariminta dan Amongsari, tidak ketinggalan Syekh Modang dan Tresnaraga. Syekh malangkarsa minta diri kepada istrinya. Sehabis subuh mereka makan pagi dan setelah persiapan bekal mereka siap semua mereka lalu berangkat. Ki Carik Sutra dan Carik Mudha juga turut berangkat bersama, di tengah perjalanan mereka menyimpang pulang ke Gunungsari.
Waktu marahari condong ke barat pada saat anak-anak menggembalakan ternaknya mereka tiba di daerah “Patugaran” (Tanah tegalan), tiada lama berselang dukuh Wanataka dan Wanasari telah kelihatan, tampak terdapat tujuh gerombol kecil-kecil. Di Suatu “Plegungan”, tempat berangi-angin di bawah naungan pohon rimbun, mereka beristirahat di dekat sendang Kalampeyan. Yaitu tempat menyepi Syekh Mangunarsa dan Syekh Anggungrimang.
4.21.
Pada waktu itu Syekh Mangunarsa sedang bertafakur di tempat penyepian, didatangi oleh Syekh Amongraga bersama Ni Ken Tambangraras istrinya memberitahukan kedatangan ayahanda Ki Bayipanurta dan Ibunda Nyi Malarsih serta Syekh Malangkarsa dengan sahabatnya dua orang. Ia berpesan bilaman Ki Bayipanurta ingin bertemu dipersilahkan menyepi di Pulau Palanggatan kelak akan bertemu juga dengan ke dua orang anaknya di Ardisalah. Syekh Amongraga beserta istri lalu minta diri pergi. Syekh Mangunarsa kemudian pulang memerintahkan Ni Centhini dan santri Monthel mempersiapkan jamuan.
4.22.
Ki Bayipanurta beserta segenap pengiringnya memasuki dukuh Wanataaka, bertemu santri Monthel dan Ni Centhini, ke duanya turut mengiringkan menemui Syekh Mangunarsa, Ken Rancangkapti dipanggil datang.
Ki Bayipanurta beserta istri dipersilahkan menyepi di Pulau Palanggatan. Lepas waktu Isya mereka berangkat bertirakat ke pulau Palanggatan. Mereka suami istri lama bertafakur di jurang jangkung, senantiasa mengharap kedatangan anak-anaknya. Menjelang tiga malam mereka berdua bersunyi-sunyi, anak-anaknya belum juga muncul. Mereka dikirim makanan tapi ditolak di kembalikannya.
Syekh Amongraga menyaksikan ayah ibu mertuanya bersunyi-sunyi dengan sedih hati di Jurangjangkung. Ia lalu menghirup para adiknya yang bertempat di Ardisalah. Tiga pasang suami istri itu kemudian tampak berkumpul di alam “Ngalimut” (Gaib), lalu bersimpuh bersujud di hadapan ayah ibu mereka. Ki Bayipanurta sangat kagum dan terharu menyaksikan kegaiban dan keajaiban Syekh Amongraga. Setelah beberapa waktu kemudian mereka minta diri ke alam gaib, berjanji kelak akan bertemu lagi di dukuh Wanataka. Karena Syeh Mangunarsa ingin sekali bertemu dengan Jayengresmi dan Jayengraga, demikian halnya Syekh Malangkarsa, maka kemudian mereka akan berkumpul di pedukuhan, lalu minta diri kembali ke alam gaib.
Ki Bayipanurta suami istri pulang dari Jurangjangkung kembali ke Wanataka, memberi tahu kepada Syekh Mangunarsa bahwa telah bertemu dengan Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangrras, Jayengresmi dan Ni Turida, Jayengraga dan Ni Rarasati.
Syekh Malangkarsa minta kepada Syekh Mangunarsa untuk bertemu dengan Syekh Amongraga, dijanjikan kelak pada hari Kamis malam Jum’at, mereka akan menyepi di sendang Kalampeyan. Setelah mereka semua bersamadi, Syekh Amongraga suami istri serta para adik-adiknya Jayengresmi dan Jayengraga masing-masing juga dengan sitrinya, datang bersujud menyatakan kebaiktian mereka di hadapan ayah bunda mereka, dan bersalam-salaman dengan yang lain. Mereka membahas bermacam-macam Ilmu.
Syekh Amongraga memerintahkan kepada Ni Ken Rancangkapti adinya untuk menghiadangkan jamuan panganan. Jayengresmi dan Jayengraga berserta istrinya masingmasing diminta turut makan, agar tidak kembali ke alam gaib. Setelah selesai Syekh Amongraga dengan istri minta diri kembali ke alam halus.
Pada waktu itu dukuh Wanataka menjadi ramai, karena banyak tamu datang, yaitu : Kibayipanurta, Nyi Malarsih, Syekh Malangkarsa, Jayengresmi, Ni Turida, Jayengraga, Ni Rarasati, Ki Pariminta, Ki Amongsari. Mereka menerima kedatangan tamu-tamu itu, adalah : Syekh Mangunarsa, Syekh Anggungrimang, Ni Ken Rancangkapti, serta pembantu santri Monthel dan Ni Centhini.
Setelah beberapa hari kemudian, Syekh Malangkarsas, Pariminta dan Amongsari beserta para santri pengiringnya minta diri kembali ke Ardipala. Mereka berangkat dari dukuh Wanataka pada waktu sehabis subuh, setelah mereka bersama-sama makan pagi.
Ki Bayipanurta beserta Istrinya tinggal di Wanataka selama sepuluh hari. Siang maupun malam selalu dapat bertemu dengan Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangraras. Waktu fajar menyingsing, sesudah makan pagi Ki Bayipanurta berdua berangkat dari Wanataka kembali ke Wanamarta. Ia minta diri kepada Syekh Mangunarsa sekerabat. Para anak Ki Bayipanurta belum dapat ikut pulang mereka bersujud menyatakan bakti mereka di hadapaan ayah budannya. Afapun yang mengantarkan adalah ? Santri Monthel, Ni Centhini, Ki Saloka, Ki Saloda, Prakosa, Darmadana dan Darmaduta.
4.23.
Perjalanan Ki Bayipanurta suami istri ke Wanamrta berhenti di dukuh Paguran, di rumah santri Nuripin. Mereka orang-orang di desa Paguran bersedih hati. Ki Bayipanurta meneruskan perjalanannya, waktu matahari terbenam tiba di Wanamarta. Nuripin berjalan di muka, sampai di regol bertemu dengan Ki Kulawirya, Ki Bayipanurta berserta istri masuk ke rumah. Tiba-tiba datang tiga orang istri Kulawirya, dan para sanak keluarga semeua. Mereka berkumpul duduk berkeliling di pendapa berkenduri dengan pemberian doa oleh Penghulu Basarudin. Mereka duduk-duduk hingga tengan malam.
Pagi harinya dilanjutkan lagi bertempat di Pendapa. Banyak sanak keluarga datang mengucapkan selamat. Ki Bayipanurta lalu memberitahukan kisah perjalannnya berkelana dengan istrinya mengembara selama dua bulan tujuh hari.
Setelah beberapa hari kemudian, para santri dari Wanataka, Ki Monthel dan Ni Centhini mohon diri akan kembali. Keberangkatan mereka diuluskan, mereka diberi bekal banyak oleh Ki Bayipanurta dan para kerabat. Perjalanan mereka sampai di Pagutan. Nuripin dan Jayayuda beserta dua kebekelan bawahannya mengantarkan sampai di Wanataka. Setelah beberapa hari mereka lalu kembali ke Wanamarta.
4.24.
Lepas waktu Asyar Syekh Manguanrsa duduk berunding dengan para adiknya, memutuskan agar Jayengresmi dan Jayengraga membuka pedukuhan baru di sebelah selatan Jurangjangkung. Tiba-tiba datang Syekh Amongraga dengan istri untuk minta diri akan berkelana mengembara di hutan Tawangsunya. Mereka berdua suami istri lalu lenyap, menjelajah seluruh Pulau Jawa.
Kemudian dengan kekuatan daya ciptanya ia membikin “Kutha Waja” (Kota Baja), terletak di sebelah selatan Pulau Keapa, lengkap dengan istana yang indah dan berkeramat,penuh dengan buah-buahan yang lezat lebat. Syekh Amongraga bertempat tinggal di kota baja di tengah-tengah lautan, banyak pedagang berlayar singgah di situ.
4.25.
Ada pendeta dari Bangkahulu bernama Datuk Ragarunting beserta 80 rang sahabat pengiringnya. Ki Datuk sangat termasyhur kelebihannya, ia bemasud hendak berdebat ilmu degan Syekh Amongraga. Ketika Ki Datuk datang di “Kutha Waja”, di pulau besi, Ki Datuk menyaksikan berbagai macam kegaiban dari kekeramatan Syekh Amongraga. Misalnya : Tata tertib istana seperti keadaan di sorga, dan terdapat suara yang tiada berupa. Ketika berdebat dalam hal ilmu timbul perselisihan. Para pengiring ki Datuk diperintahkan menangkap Syekh Amongraga, tapi mereka semua jatuh dengan sendirinya.
Akhirnya Ki Datuk mencoba rasa ikhlas Syekh Amongraga. Dimintanya istrinya, ternyata diberikan juga. Ia minta diri kembali ke Bangkahulu, bahkan dipersilahkan membawa harta benda sebanyak-banyaknya. Di pantai sudah tidak ada lagi perahu sebuah pun. Lalu minta perahu kepada Syekh Amongraga. Seketika itu juga tersedia perahu banyak sekali.
Ketia berlayar Ki Datuk dengan para pengiringnya yang membawa Ni Ken Tambangraras itu sampai di tengah-tengah samudra, Syekh Amongraga yang ditinggalkan itu memusatkan ciptanya untuk menghancurkan kota baja di pulau besi itu kembali menjadi lautan seperti semula. Ia lalu menolong istrinya di bawa ke asrama yang gaib. Datuk Ragarunting sangat terkejut meneyaksikan Ni Ken Tambangraras musnah tiada berbekas. Para santri bingung, diperintahkan mencarinya. Pada saat itu juga air laut bergelora dan bersuara gemuruh, perahunya terlontar sampai di tempat asalnya, mereka berjatuhan di tanah dalam keadaan telanjang bulat. Ragarunting menghibur para santri sahabatnya agar dengan hati tetap mengikuti ajaran Syari’at.
4.26.
Syekh Amongraga bersama dengan Ni Ken Tambangraras istrinya berkelana di angkasa di atas awan. Tambangraras makin besar rasa baktinya terhadap suaminya, karena semula mengira sudah tidak akan dapat bertemu lagi. Mereka berdua mengembara di sepanjang pegunungan di pesisit kidul. Singgah di gua Langse selama 20 hari, kedatangan Ki Darmengbudi, seorang tua berumur 60 tahun. Fua Langse tempatnya seperti istana. Ki Darmengbudi dijamu berbagai jamuan berasal dari “Mangunah”nya, ia ingin berguru, dicoba dengan disuruh terjun ke dalam laut, dilaksanakan, lalu ia melihat “Jagad walikan” ( Dunia terbalik / dunia gaib), seperti duduk menghadap Syekh Amongraga. Ki Darmeng budi kemudian diwejang tentang segala rupa ilmu kesejatian, lalu terlontar terbang ke angkasa sampai di Palembang jatuh di masjid. Seketika wabah penyakit di situ lenyap, sehingga menyebabkan kehidupannya menjadi sejahtera.
4.27.
Ada seorang bernama Ki Ragaresmi, ia seorang pengembara ahli tapa, banyak “mangunah”nya, yang telah diperbuatnya. Waktu matahari terbenam berpapasan dengan Syekh Amongraga yang tampak bercahaya menyala. Dikiranya bukan manusia. Ki Ragaresmi lalu berguru kepada Syekh Amongraga, dicoba disuruh terjun ke dalam api ciptaan dan dilaksanakannya, hanyut dalam siksaan sejati. Ia menetap bertempat di “Jagad Walikan” menghadap Syekh Amongraga lalu diwejang ilmu kesejatian.
Kemudian Syekh Amongraga menciptakan tempat yang indah serta menjamu tamunya itu dengan makanan yang berasal dari “mangunah”nya. Oleh Ni Ken Tambangraras diwejang pula tentang penyatuan Tuhan. “Pandakening marang Ing sun”. Setelah pemberian wejangan selesai, Syekh Amongraga, Ni Ken Tambangraras (Selabrangti) dan Ki Ragaresmi (Raga asmara) bermaksud meninjau ke Wanataka, perjalanannya menuju ke arah timur laut.
4.28.
Jayengresmi dan Jayengraga telah lima tahun membuka tanah di Wanataka. Mereka berdua membentuk dua buah pedukuhan kembar, sebuah di sebelah utara dan satu lagi di sebelah selatan. Para sanak saudara dari Wanamarta sudah banyak yang datang meninjau seperti : Kulawirya, Wiradhustha, Panuksma, Panamar, Luwaran, Malangbong, Senu, Surat.
Jayengresmi dan jayengraga merasa sudah rindu kepada ayah-bundanya. Dari sebeb rasa rindunya yang sangta, hingga mereka jatuh sakit. Mereka berdua akan pulang kembali ke Wanamarta dengan masih menantikan bisikan yang membukakan pintu hati mereka. Mereka berdua lalu pergi ke tempat Syekh Mangunarsa.
Syekh Mangunarsa sedang duduk bersama dengan Anggungrimang menjelang sembahyang berjamaah di Masjid. Tiba-tiba datang Syekh Amongraga, Ni Ken Tambangraas dan Ki Ranggaresmi langsung datang di sebelah Utara mimbar, tak ada seorang pun mengetahuinya. Sehabis sembahyang selesai barulah tampak kelihatan. Mereka segera bersujud. Ki Ranggaresmi dikenalkan kepada para sanak keluarganya selaku seorang “Nujebba”.
Syekh Amongraga memberi tahu kepada Jayengresmi dan Jayengraga bahwa telah lima tahun mereka membuka tanah, pohon-pohon kelapa yang ditanamnya telah berbunga. Sudah tiba waktunya menjenguk ayah – Ibu ke Wanamarta. Lalu minta kepada Syekh Amongraga dan Anggungrimang untuk mengantarkan. Rancangkapti ingin juga ikut. Syekh Amongraga tidak berkeberatan. Lepas waktu Asyar Syekh Amongraga minta diri, sampai di luar rumah musnah tak keliahatan.
Syekh Anggungrimang mendesak kepada Syekh Mangunarsa sehabis Isya ingin bertemu dengan Syekh Amongraga di Jurangjangkung. Jadilah mereka berangkat bertuntunan. Waktu Maghrib sampai Isya mereka ada di Jurangjangkung. Selesai melakukan ibadah lalu bertafakur, kemudian bertemu dengan Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangraras di Selasumayana (Batu terbentang). Di situ mereka bersoal jawab tentang “Tekad” sampai larut malam, kemudian mereka disuruh kembali.
4.29.
Perjalanan dari Wanataka ke Wanamarta. Lepas waktu Subuh mereka berkumpul makan pagi bersama, lalu mengatur persiapan perjalanan, dengan lima orang santri pengiring pembawa bekal perjalanan. Syekh Mangunarsa menyerahkan Wanataka kepada para santri, Jayengresmi menyerahkan dukuhnya kepada santri Monthel, Jayengraga kepada Ki Paturun dan Martaduta. Setelah siap semua mereka segera berangkat, yakni : Syekh mangunarsa, Anggungrimang dan Ni Rancangkapti, Jayengresmi dan Ni Turida, Jayengraga dan Ni Rarasati, mereka berjalan beriring-iringan.
Perjalanan mereka tiba di Sendang Balara, di situ berhenti, bertemu dengan Penghulu Basariman, lalu diantarkan ke rumah Syekh Malangkarsa di Ardipala.
5.
Centhini jilid XI Tamat : Isi cerita : Kesedihan di Wanamarta, Ni Ken Tambangraras dilamar dari Panataran, hingga sampai para kerabat dari Wanataka berangkat ke Wanamarta. Bait terakhir berbunyi, demikian :
JURUDEMUNG :
Sira den rumat ing wisma // gegelara klasa alas // myang jrambah lampitiun // ingkang liningan sandika // gya lumampah maring pintu // kalangkung dennya kasmaran // Malangkarsa meing tatamu.
Artinya :
Kau rawatlah rumah // bentangkanlah tiar halus // dan lampir di lantai rumah / ia yang disuruh siap melaksanakan // segera berjalan ke pintu // sangat tertariklah // Malangkarsa kepada para tamunya.
CENTHINI JILID XII
1.
Kitab Centhini Jilid XII berisi 33 pupuh, , dari pupuh 689 sampai dengan pupuh 722. Di antaranya yang baku sampai dengan pupuh 708.
2.
Isi cerita : Jayengresmi dan Jayengraga pulang dari Wanataka ke Wanamarta. Ki Bayipanurta wafat digantikan oleh Puteranya. Syekh Amongraga bertemu Sinuhun Sultan Agung di Gunung Telamaya.
3
Pupuh 689 bertembang Asmarandhana, bait permulaan berbunyi sebagai berikut :
ASMARANDHANA :
Kae Seh Malangkarseki // mjil paregolanira // pangguh lan para tamune // gupuh dennya uluk salam// pan samya sinauran // ngalaikum assalammu // laju ngacaran kewala.
Artinya :
Irulah Syekh Malangkarsa // keluar dari pintu gerbang // bertemu dengan para tamu // segera menyampaikan salam // semua dijawabnya // alaikum assalammu // terus dipersilahkan masuk saja.
4.
Adapun urutan ringkas isi ceritanya demikian :
4.1.
Pertemuan di rumah Syekh Malangkarsa di Wukirpala.
Syekh Malangkarsa menerima rombongan tamu yang berjalan dari Wanataka ke Wanamarta. Saling menanyakan keselamatan mereka, kemudian para tamu dijamu minuman, sirih, dan makan. Syekh Malangkarsa akan turut serta mengantarkan ke Wanamarta. Waktu malam hari bermain terbang rebana, bersingiran, bermain emprak. Nyi Pelangi, istri Syekh Modang jatuh cinta kepada Jayengraga, diketahui oleh Ni Turida dan Rarasati.
Syekh Amongraga dengan istri hadir, beserta muridnya bernama Syekh Ragaresmi, mereka ingin turut serta bermain terbang rebana. Ni Peangi diminta “Andulengi” (melagukan), syairnya masalah delapan macam mas kawin, kewajiban istri berguru kepada suami utama. Mereka berganti-ganti bermain emprak dan berlagu “Singir”.
Sehabis Subuh Syekh Amongraga minta diri ke alam gaib. Mereka yang lain melanjutkan perjalanan ke Wanamarta. Syekh Malangkarsa turut mengiringkan dengan dua orang sahabatnya Syekh Amongsari dan Syekh Modang yang disertai Ni Pelangi istrinya. Penghulu Basariman selaku penunjuk jalan, Ki Pariminta dan Tresnaraga menunggu rumah, Ki Palakarti, Darmadana, Prakosa, dan Martaduta disuruh kembali ke Wanataka untuk menjaga pedukuhan.
4.2.
Perjalanan mereka amsuk dan keluar hutan, jika kemalaman pun bermalam juga di dalam hutan. Mereka sampai di Gunungsari, di rumah Ki Carik Sutra. Kedatangan mereka disambut baik-baik, dijamu, dan ditanyai tujuan mereka pergi ke Wanamarta. Carik Sutra ingin turut sera juga dengan diikuti istrinya yang tua bernama Ni Wilapa. Carik Mudha pun tertrik pula pergi ke Wanamarta untuk bertemu dengan Ki Bayipanurta.
Waktu malam hari mereka membahas berbagai ilmu : Kewaspadaan kesempurnaan, hdiup menemukan mati, mati menemukan hidup. Uraian tentang “Babad” dan “Candrasangkala” (perhitungan waktu menurut tahun bulan), bagi gunung-gunung di Pulau Jawa. Membicarakan : “Kerata basa”, dan watak huruf pada tiap nama orang. Lalu mereka bermain terbang-rebana dengan gending “Sekar-Gadhung” Ni Wilapa “andulengi” (melagukan” singir suluk “Rara Mbathik” Ni Pelangi ganti “Andulengi) (melagukan) singir suluk “Tatanen”.
4.3.
Pagi hari setelah makan pagi mereka berangkat lagi. Selaku penunjuk jalan yaitu : Ki Setraderma, Ki Monthel, dan Jatingarang. Tiba di perbatasan hutan Jembul, mereka beristirahat, bersembhayang Dhuhur. Setraderma amenceritakan betapa gawat hutan Jembul itu dan mengingatkan jangan sampai ada di antara mereka yang berbuat jahat, membicarakan segala sesuatu yag terdengar maupun yang terlihat. Di Hutan Jembul itu banyak makhluk halus yang nakal menjengkelkan, gemar mengganggu orang lewat. Bermacam-macam godaan mereka alami di hutan Jembul itu, yaitu :
a). Berpapasan dengan orang banyak berjalan beriring-iriganl
b). Terdengar seperti suara dalang mempertunjukan wayang, dengan suara gendang yang dipukul terus menerus;
c). Melihat orang banyak berjalan salin berbicara, serta mengejek mereka yang berpapasan.
d). Terlihat ada ronggeng diiringkan gamelan, diikuti oleh “Thuyul” (Pesinden yang baru belajar), mendendangkan lagu.
Mereka dapat terhidnar dari segala macam godaan makhluk halus tersebut.
Nyi Pelangi istri Ki Modang masih berusaha mencari daya upaya mendekati Jayengraga. Waktu itu mendengar suara banteng merenggut rumput, ia terkejut menubruk Jayengraga, memeluk lambung dan memegang erat-erat dzakar jayengraga yang menegang sebesar leher kucing muntah. Nyi Pelangi lalu jatuh seperti kerasukan, mulutnya berkomat-kamit, dan kemaluannya mengeluarkan darah seperti haid. Ia segera ditolong oleh Syekh Mangunarsa. Setelah sadar kembali ia menceritakan bahwa dirinya seperti diperkosa oleh orang yang tinggi besar perawakannya. Ia disirihnya agar bertaubat, jangan sampai mempunyai angan-angan yang tidak baik.
4.4.
Perjalanan mereka singgah di dukuh Bustam, tempat Ki Harsengbudi, di antarkan oleh santri Putih dan santri Belang, Ki Harseng hudi meminta Nyi Wiyadi istrinya untuk meniapkan jamuan. Ki Carik Sutra memberitahukan tentang tujuan perjalanan mereka.
Mereka duduk bersama sambil menikmati jamuan makan panganan seraya mengadakan pembahasan bab “Sifat” serta “Isbat”.
Pagi hari Syekh Mangunarsa beserta segenap pengiringnya minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Ki Harsengbudi berhasrat keras untuk ikut mengiringkan ke Wanamrta, ingin bertemu dengan Ki Arundaya. Santri Putih disuruh mengiringkannya, sedang istrinya diminta tinggal. Istrinya setuju, kemudian setelah semuanya siap mereka berangkat.
4.5.
Singgah di Ardimuncar, tempat pertapaan Syekh Ardimuncar dengan istrinya Purnaningsih.
Waktu matahari telah condong ke barat, rombongan mereka berhenti singgah di tepi mata air. Mereka beristirahat sambil membuka bekal makan panaganan bersama. Lalu meneruskan perjalanan sampai di kaki Ardimuncar, terus diantarkan oleh santri Ki Samurca dan Ki Murca, diterima oleh Syekh Ardimuncar beserta istNyi Purnaningsih. Ki Arundarsa adik Syekh Ardimuncar diminta datang.
Sesudah Isya mereka duduk bersama di ruang pendapa. Jamuan telah diatur, mereka makan bersama dengan lahapnya sepuas hati. Setelah selesai diundurkan, diganti dengan panganan makanan kecil, sambil membicarakan masalah : “Kodrat” dan “Wiradat”. Kemudian bermain terbang rebana, bersingir, dinyanyikan berganti-gantian. Nyi Wilapa “Andulangi” (Melagukan), suluk “Bethak rara suci pralambanging ngelmi”. Nyi Pelangi ‘Andelungi” (melagukan) “Ojrat” ( cerita siksa dan anugerah di jaman akhirat). Pembahasan lambang ilmu Islam empat perkara : Syai’at, Tariqat, Haqiqat, Ma’rifat; kesejatian langit dan bumi, sorga dan neraka, serta contoh buah jerami.
4.6.
Datang di tengah hutan Kakas.
Waktu fajar menyingsing rombongan berangkat dari Ardimuncar. Ki Ardimuncar dan Ki Arundarsa turut serta, sehingga jumlah menjadi 25 orang. Waktu matahari terbenam tiba di tengah hutan Kakas, rombongan beristirahat di suatu taman yanag sangat indah. Lalu ada orang datang turut duduk bersama. Orang-orang itu memberikan berbagai buah-buahan dan ubi-ubian. Mereka kemudian membikin perapian dan membenamkan ubi-ubian ke dalamnya.
Waktu malam hari mereka meratib bersama bertafakur dan berdzikir hingga khusyuk. Ketika Ki Monthel sadar kembali ia menangis terperanjat melihat harimau banyak turut serta tidur bersama. Ternyata orang-orang yang baru berdatangan itu adalah harimau gadungan.
4.7.
Pagi hari melanjutkan perjalanan, rombongan meninggalkan hutan Kakas menuju ke dusun Kepleng, terus memasuki hutan Taruman, tiada jauh dari bukit Manik yang terkenal dengan hutannya Jenggalamanik. Nyi Turida dan Nyi Rarasati teringat bahwa dulu kala pernah datang di bukit Manik bukit yang gawat, berbahaya lagi menakutkan.
Waktu tengah hari tiba di tengah-tenegah hutan Saba. Mereka beristirahat di situ. Lepas sembahyang mereka duduk bersama bertukar pikiran berbagai ilmu.
4.8.
Menjelang fajar menyingsing mereka bersembhayang Subuh, setelah mempersiapkan segala perlengkapan kemudian berangkat lagi, tiba di rumah Nuripin, ia lalu memukul kenthongan mengumpulkan rakyatnya. Setelah rakyat datang diberitahu akan kedatangan tamu tersebut. Mereka lalu menyiapkan jamuan.
Sehabis Isya para tamu duduk bersama di pendapa, dijamu jamuan sekedarnya.
Pagi hari setelah subuh nuripin bersama Ki Monthel memberitahu kepada Ki Bayipanurta akan kedatangan para putranya beserta para tamunya.
4.9.
Tiba di Desa Krajan Wanamarta.
Ki Bayipanurta baru saja sembuh dari sakitnya selama empat setengah bulan. Ia dihadap oleh para adiknya ; Ki Suwarja, Wiradustha, Panukma, Panamar, Kulawirya,Jumena, Jempina, Sembagi, Lawatan, Malangbong, Lipura, dan Penghulu Basarudin, serta istri Ni Ken Malarsih. Nyi Sumbali, dan Nyi Andaya. Mendadak datang Nuripin dan ki Monthel memberitahukan akan kedatangan para putra beserta dengan para Ulama.
Ki Bayipanurta senang sekali mendengar berita itu, seketika sembuh sama seklai dari sakitnya, terus mengatur persiapan penerimaan tamu. Ki Wuragil dan Kulawirya dengan bawahannya ditugaskan menjemput tamu ke Pagutan. Para kerabat yang lain menjemput di pasar. Ki Bayipanurta serta para orang tua-tua menyongsong di pintu gerbang. Jamuan pun diperintahkan untuk dipersiapkan.
Para tamu datang berbondong-bondong memasuki desa “Krajan” Wanamarta. Ketika tiba di pintu gerbang dipersilahkan laju menuju ke Pendapa. Mereka mengucapkan salam dan terus saling bersalam-salaman. Para putra suami istri bersujud menyatakan kebaktiannya di hadapan ayah bunda mereka. Mereka saling bertangis-tangisan. Kemudian jamuan dihidangkan hingga penuh sesak , dinikmati dengan lahapnya bersama-sama.
4.10.
Hari pertama di Wanamarta.
Waktu Dhuhur para tamu pria bersembahyang bersama di Masjid. Para tamu putri masuk ke dalam rumah belakang. Ki Bayipanurta membagi-bagi tempat pemondokan para tamu masing-masing. Semuanya serba mendapatkan perhatian dan terpelihara baik-baik.
Sehabis Isya duduk bersama di pendapa membaca Qur’an sampai khatam, lalu makan panaganan, terus meratib dan bermain terbang rebana, kemudian membahas masalah : Kelengkapan Islam, Rukun Islam, letak keyakinan hidup-matinya manusia; dan kesutapaan dengan mengungkapkan Serat Wiwaha, dibahas perseuaiannya dengan sorga.
4.11.
Hari yang ke dua di Wanamarta.
Pagi hari para tamu berkumpul di pendapa, banyak pemberian berdatangan. Kemudain mereka berkenduri dengan doa Penghulu Basarudin.
Sore hari mereka berkumpul lagi di pendapa. Ki Bayipanurta meminta kepada Syekh Mangunarsa agr dapat ebrtemu dengan Syekh Amongraga. Dijanjikan kelak, hari kamis malam Jum’at, waktu bertirakat di tempat yang sunyi. Keinginan Ki Bayipanurta dapat terlaksana.
4.12.
Hari yang ke tiga di Wanamarta.
Banyak para tamu pria maupun wanita ingin turut bertirakat, agar dapat bertemu dengan Syekh Amongraga. Mereka minta ijin kepada Syekh Mangunarsa, disetujui. Sehabis Isya mereka sejumlah 16 orang pergi ke tempat menyepi. Mereka smua meratib dan berdzikir bersama-sama.
Kemudian Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangraras serta Syekh Ranggaresmi datang, duduk di tempat duduk indah yang telah disediakan. Tambangraras bersujud menyatakan kebaktiannya di hadapan Ayah Budanya. Syekh Amongraga menguraikan : Ilmu kesempurnaan pemujaan, kesejatian hidup, keadaan Tuhan, kejelasan “Kawula Gusti”, hakekat “Sembah” dan “Suksma”, jalan dan tempat kematian.
Menjelang fajar menyingsing mereka bersembahyang Subuh. Syekh Amongraga minta diri kembali ke alam gaib, sekejap mereka bertiga lenyap dari penglihatan.
4.13.
Hari yang gkeempat di Wanamarta.
Pagi hari para tamu duduk bersama di Pendapa, makan pagi dan makan panaganan. Lalu mereka semua mohon diri akan kembali ke tempat masing-masing. Mereka berkemas-kemas. Ki Bayipanurta memberi mereka bekal perjalanan dan banyak pemberian. Di antara para tamu itu adalah : Syekh Mangunkarsa, Syekh Anggungrimang, Nyi Rancangkapti, Syekh Ardimuncar, Ki Harsengbudi, Ki Arundarsa, ki Carik Sutra, Ki Carik Mudha, Syekh Malangkarsa, Syekh Modang, Ki Pariminta. Setelah mereka saling bersalam-salaman lalu berangkat, diiringkan oleh 30 orang santri.
Perjalanan mereka di jalan, tidak diceritakan, mereka semua telah tiba di tempat mereka masing-masing dengan selamat.
5.
Kitab Centhini Jilid XII tamat, Jilid yang penghabisan, diakhiri dengan bait penutup yang berbunyi sebagai berikut :
SARKARA :
Ngecer laku ingkang wus aprapti // dhepokira nenggih sowang-sowang // susuguh marang tamune // tan inang lan ing dangu // enjangira laju lumaris // ingkang anglantur lampah // marang dunungipun // mangulon tujuning sedya // saya suda lampahe kang arsa mulih // pamungkas Wanataka.
Artinya :
Mengurangi jumlah yang berjalan, mereka yang sudah datang // di tempat mereka masing-masing // mereka menjamu kepada para tamu // tak berbeda dengan yang sudah-sudah // pagi hari berjalan laju // mereka yang melanjutkan perjalanan // ke tempat tinggal mereka // ke Barat tujuan mereka // makin berkurang jumlah mereka yang berjalan pulang // terakhir ke Wanataka.
TAMBAHAN
1.
Berikutnya terdapat tambahan : Dua buah bait penutup yang mengandung peringatan, berbunyi sebagai berikut :
671. SARKARA :
671.
SARKARA :
Pan pinungut wedharing palupi // punang Serat Centhini karannya // wewejangan pamungkase // memardi maring kawruh // ing kajaten jatining urip // wikane reh kaanan // ananing Maha Gung // Sajati-jatining janma // wus jinajah jejering janma majaji // kang jinurung ing seja.

Maka diputuskanlah uraian pelajaran // yang bernama Serat Centhini ini // penutup wejangan // usaha mencapai ilmu // kesejatian hidup // pengetahuan akan hal ikhwal // keadaan Yang Maha Agung // kesejatian manusia // telah dijelajahi hakikat manusia yang bernailai // yang direstui maksudnya.

672.
Kadarpaning panggalih sang aji // kang jinumput wijanganing kata // tinaliti saturute // tetelane tinutur // titi tatas tataning gati // sakwehning kang kinata // wus samya ingimpun // ala-ayuning pakaryan // kawruh miwah ngelmuning kang lair-batin // windhar mring pra mudha.

Keinginan hati raja // yang dipungut (itu hendaknya) makna kata // diteliti berturut-turut // keterangan diingat-ingat // jelas tandas teratur akan maksudnya // semua yang diceritakan // sudah dihimpun // buruk baiknya perbuatan // pengetahuan dan ilmu lahir batin // diuraikan kepada para muda.
2
Lalu ditambah lagi dengan nukilan dari kitab Centhini Jalalen. Pupuh 709 bertembang sinom 18 bait, pertama berbunyi, sebagai berikut :
SINOM :
Wonten sujana taruna // mider-mider anderpati // nungsa jawa prenahira // sing tanah wus denideri // Balambangan Patani // ing Cempa Palembangipun // Surapringga Tandhesan // ing Tuban miwah Kedhiri // ing Koripan ing Giri myang Lembuasta.
Artinya :
Ada seorang pemuda // berkelana dengan penuh keberanian // di Pulau Jawa // tempat-tempat yang sudah didatangi // Blambangan, Patani // Cempa, Palembang // Surapringga, Tandhes // Tuban dan Kediri // Kahurian, Giri dan Lembuasta.
2.1
Ada seorang muda ahli tapa dari Cempa bernama Ki Jatiswara. Ia mengembara menjelajahi Pulau Jawa mencari adiknya bernama Ki Sajati. Ia mendapat “wangsit” (Ilham) agar bertemu dengan Syekh Amongraga. Pertemuan dilakukan di Balaicipta (Tempat ciptaan) yang dikitari dengan pertamanan indah. Mereka duduk di Yasakembang (bangunan terapung).
Jatiswara membuat soal : Bab Hakekat Asma. Ken Selabrangtilah yang diminta menjelaskan. Lalu bertanya lagi : Tentang Islam dan Kafir, nafi dan isbat. Semua terjawab sesuai dengan pendapat Jatiswara.
Jatiswara ditanyai siapakah orang tuanya. Ia mengaku anak anjing. Syekh Amongraga tertawa menambah : Anjing merah belang.
Jatiswara mengajak bersembunyi berkejar-kejaran, ia segera lenyap, lalu dicari, ketemu di balik awan putih. Lenyap lagi, ketemu di dalam gua. Jatiswara menjadi lautan, Syekh Amongraga, Tambangraras, Ragaresmi. Kemudian mencipta ikan api di dalam lautan, air laut panas mendidih.
Jatiswara merasa kalah, segera lenyap pergi ke dukuh Wanacandra, untuk bertemu dengan Syekh Ragamana, yang termasyhur memiliki banyak santri. Jatiswara dan Syekh Ragamana membicarakan masalah syari’at yang diisbatkan dengan orang yang menggarap sawah.
Syekh Ragamana mempunyai seorang anak gadis cantik telah dewasa tapi belum kawin bernama Ni Ken Sakati. Ia jatuh cinta kepada Jatiswara. Waktu larut malam mendatangi tempat Jatiswara tidur untuk mendambakan kasihnya. Ia dihibur dan dirayu di tempat tidur hingga tertidur lelap. Setelah subuh ditinggalkan.
Kemudian Jatiswara bertemu dengan Syekh Baka, pertapa di tepi Samudra. Ia dissuruh mengambil permata yang terdapat di dalam gua. Jatiswara segera memasuki gua, setelah lewat sembilan pintu gua, barulah ia menemukan permata yang dicarinya. Kemudian ia pulang kembali ke Cempa akan menjadi raja. Di perjalanan bertemu adiknya Ki Sajati, yang juga bernama Ragaasmara atau Ragaresmi murid Ni Selabrangti. Adiknya diajak merebut kembali negaranya yang ddiduduki Raja Pratokal. Jadilah Pratokal kalah perangnya, dan menyerahkan putrinya. Akhirnya Jatiswara menjadi raja, sedang Ki Sajati menjadi patihnya.
Sampai sekianlah tambahan yang dinukilkan dari kitab Centhini Jalalen. Akhirnya disambung lagi dengan cerita di Wanamarta.
2.2.
Ki Bayipanurta dan Nyi Malarsih wafat.
Tiada antara lama dengan pulang kembalinya Jayengresmi dan Jayengraga, ke dua orang putranya yang telah dapat mencapai kasunyatan tiada berbeda dengan Syekh Amongraga. Ki Bayipanurta jatuh sakitlagi. Syekh Amongraga dan Tambangraras sudah mengetahui bahwa sat wafat ayah bundyanya telah menjelang tiba tiada lama lagi. Maka mereka berdua datang segera mendekati ayahandanya, membisiki telinga kirinya, lalu batuk, Ki bayipanurta ttelah membeberkan layar kematian. Saat itu juga Nyi Malarsih menyaksikan tanda-tandan kelepasan kematian suaminya. Ia turut serta berbela mati, seketika jatuh terlentang diterima di pangkuan Tamabangraras. Setelah jelas bahwa Nyi Malarsih juga wafat, lalu dijajarkan dengan Ki bayipanurta.
Syekh Amongraga menghibur para sanak keluarga, mereka diminta menyiapkan perlengkapan untuk menyucikan jenazah. Setelah perlengkapan siap, dua jenazah itu disucikan degan didsaksikan oleh Syekh Amongraga berdua dengan Tambangraras. Selesai dimandikan terus dibungkus dengan kain kafan putih, diletakkan berjajar, para kerabat lalu menshalatkan. Jenazah lalu dimakamnkan. Sesudah pemakaman selesai, mereka mengiringkan jenazah kembali ke pendapa berkenduri. Siangnya mereka berjamaah di masjid, setelah selesai mereka diminta mengadakan shalat jenazah, kemudian mereka bubar.
2.3.
 Sepeninggal Kyai Bayipanurta dan Nyai Malarsih, kedudukannya digantikan oleh ke dua orang putranya : Jayengresmi dan jayengraga. Selamatan memuliakan sampai menyeribui hari, para santri di Wanamarta mengaji bersama-sama, banyak sedekah disajikan. Jayengresmi pindah menempati rumah besar.
Ketenteraman Wanamarta di bawah pemerintahan jayengresmi dan Kayengraga. Jayengresmi menjadi guru para santri pria maupun wanita, mengajarkan hukum syarak, jayengraga yang mengatur tatatertib keadaan desa.
2.4.
Syekh Amongraga beserta istri Ni Ken Tambangraras berkeinginan sekali menurunkan raja. Mereka bertemu Kangjeng Sultan Agung yang menyamar sebagai pertapa di bukit Telamaya. Setelah mereka berdebat demi hasratnya untuk bersatu menjelma menjadi keturunan raja, Syekh Amongraga dan Ni Ken Tambangraras diminta menjadi “Gendhon” (lundi, berenga) dua ekor. Sesudah jadi, lalu dibawa sultan pulang kembali ke Keraton Mataram.
Setibanya di istana Mataram, kangjeng Sultan Agung bersembahyang Subuh, dilanjutkan berdzikir dan meratib. Ketika fajar menyingsing lalu memanggil Permaisuri, Kangjeng Ratu Pandhansari beserta suaminya Pangeran Pekik, dan minta bumbung tabung bambu, bumbu, serta anglo pemanggang berbara api.
Setelah mereka bertiga yang dipanggil menghadap, mereka diberi penjelasan mengenai kehendak Sultan, semua sangat bergembira. Ketika Sultan memungut bumbung berisi lundhi (berenga) kemudian menuangkan ke dalam wadah bumbu. Permaisuri dan Ratu Pandhan lari kejijikan.
Sultan lalu memanggang lundi (berenga) jantan, banyak keluh kesahnya terdengar, minta dipindhkan ke dalam kembang Wijayamulya. Setelah masak kemudian mereka makan bersama. Tak antara lama kemudian mereka yang menghadap diperbolehkan mundur.
2.5.
Diceritakan kemudian bahwa Kangjeng Sultan Agung di Mataram dengan Permaisuri berputra pria, sedangkan Kangjeng Ratu Pandhansari dengan Pangeran Pekik berputra wanita. Setelah kedua orang putra itu dewasa dikawinkan. Sesudah Sinuhun Sultan Agung wafat, putra pria tadi menggantikan ayahandanya menjadi raja bergelar Sinuhun Amangkurat I. Lama naik tahta berputra Pangeran Adipati Anom. Pemerintahan Sinuhun Amangkurat I Kurang bijaksana, sering menghukum para punggawa negara baik tingkat tinggi atau pun tingkat rendah, tanpa diteliti kesalahannya terlebih dahulu. Pangeran Adipati Anom membela rakyat, membikin gerakan perlawanan Trunajaya, menghancurkan Mataram, tiba di Daerah Banyumas menderita sakit parah hingga wafat, jenazah dimakamkan di Tegalarum, kemudian terkenal dengan nama Sinuhun Sumare Tegalarum (Raja yang dikebumikan di tegalarum), terpisah jauh dari makam para leluhurnya di Mataram. Akhirnya Pangeran Adipati Anom itu dinobatkan menjadi raja di Kartasura bergelar Sinuhun Amangkurat II.
3.
Tamatlah kitab Centhini Jilid XII dengan tambahan-tambahan seperti tersebut di atas.
Isi cerita : jayengresmi dan Jayengraga kembali pulang ke Wanamarta, sampai kepada pertemuan Syekh Amongraga dengan Sinuhun Sultan Agung di bukit Telamaya.
Diakhiri dengan bait penutup, bait yang ke 55 dari pupuh 722 bertembang Asmarandhana, demikian :
ASMARANDHANA :
Titi tamat ingkang tulis // telas ingkang cinarita // Seh Mongraga lalakone // kongsi umadeg narendra // kendhang tekeng pralaya // karan Sunan Tegalarum // kapisah sumarenira.
ARTINYA :
Selesai tamatlah gubahan // yang telah menceritakan // perjalanan hidup Seh (A)mongraga // hingga menjadi raja // terusir sampai wafat // terkenal dengan nama Sunan Tegalarum // Terpisah makamnya.
T A M A T
Selesai diringkas pada hari Rabu Kliwon, tanggal 24 Sapar Ehe 1892 atau 17 Agustus 1960, di Yogyakarta, oleh Ki Sumidi Adisasmita.
ooOOoo
Selesai diterjemahkan pada hari Kamis Legi, tanggal 8 Sawal, Jimakir 1906 atau 24 Oktober 1971 Jam. 07.00 di Semarang. Oleh : Drs. Darusuprapta.
ooOOoo
Nahhhhh... Pujo Prayitno...Tinggal menyadur saja, selesai pada Hari Sabtu, tanggal 28 Juni 2014. Bertapan 1 Ramadhan 1435 H.
Di Kota Sepanjang Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur – Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar