Dan membangun manusia itu, seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Dan ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

Hancurkan tatanan keluarga.
Hancurkan pendidikan.
Hancurkan keteladanan dari para tokoh masyarakat dan rohaniawan.

Senin, 13 Juni 2016

Cinta itu the Power of Love


 “TUHAN & NABI CINTA”
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan
Muhammad Majdy Marjan
Tuhan & Nabi Cinta the Power of Love
Tahun 2006
Penyadur : Pujo Prayitno

KATA   -   PENGANTAR

Cinta adalah suatu hal yang produktif, sedangkan kebencian adalah suatu hal yang semu. Cinta adalah penerang, sedangkan kebencian adalah kegelapan. Cinta membangun kepribadian, sedangkan kebencian perusaknya. Cinta membuka semua pintu hati yang tertutup, sedangkan kebencian menutup pintu hati yang terbuka. Cinta mampu menggetarkan gunung dan bukit-bukit, sedangkan kebencian menghentikan semua langkah. Cinta mampu menghidupkan semua hati yang mati, sedangkan kebencian mematikan semua hati yang hidup.
Cinta memiliki energi dan kekuatan yang sangat besar dan mampu menumbuhkan banyak kecakapan. Ia mampu bersinar lebih terang dari sinar mentari, lebih benderang dari segala cahaya yang ada, lebih cepat merasuk ke dalam hati daripada kecepatan cahaya, dan lebih besar kekuatannya daripada atom.
Cinta, mampu menciptakan banyak keajaiban. Ia mampu mengubah pribadi setan menjadi pribadi malaikat, pribadi seorang kriminal menjadi pribadi seorang yang suci, pribadi yang buruk menjadi pribadi yang sangat teguh menjaga amanah, juga mengubah pribadi yang malas menjadi pribadi yang aktif dan energik.
Cinta adalah kasih sayang yang suci, perasaan yang mulia, emosional yang murni dan tujuan yang sangat agung.
Banyak kalngan salah kaprah dalam menggambarkan cinta. Mereka seolah tak acuh akan permasalahan cinta yang sesungguhnya. Mereka memosisikan cinta pada tempat yang sangat buruk dan melemparkan fitnah terburuk padanya serta memaparkan karakteristik yang hukan karakteristiknya. Tidak diragukan lagi bahwa banyak pihak yang mulai mengatasnamakan cinta dengan penampilannya yang palsu. Banyak pihak menganggap bahwa melampiaskan hawa nafsu adalah bagian dari cinta, dan betapa banyak para pendusta menganggap apa yang dilakukannya adalah cinta demi kepentingannya semata.
Di sisi lain, kita pun banyak melihat para penguasa mengenakan topeng cinta untuk mengekalkan kekuasannya,s erta banyak penghianat menampilkan cinta dengan maksud memunculkan keburukan dan tipu daya yang tertanam dalam dirinya. Sungguh! Betapa banyak pihak mengatasnamakan cinta dalam aktivitasnya, namun semua itu hanyalah kebohongan.
Cinta, masih lebih bersih kala dilekatkan pada label nafsu dan syahwat. Cinta, masih lebih suci saat dilekatkan pada kepeningan materi duniawi. Ia pun masih lebih mulia katika namanya dieksploitasi oleh para penghianat ataupun mereka yang memiliki hati yang jahat.
Cinta sejati, haruslah mendasari semua relasi dan hubungan di antara individu manusia. Harus mendasari hubungan antara kerabat dekat dan jauh, antara suami dan istri, antara teman dan sahabat, ibu dan putranya, ayah dan putrinya, antar sesama saudara, pimpinan dan karyawan, majikan dan buruh, pelajar dan bukunya, antara individu dan alat penunjang kerjanya, murid dan sekolahnya, dan antara penguasa dan kepemimpinannya. Dengan demikian, cinta haruslah mendasari semua relasi dan aktivitas.
Tanpa cinta, hubungan yang terbentukhanyalah hubungan yang dilakukan hanya untuk kepentingan sesatt, komunikasi yang ‘kering’ bagaikan aktivitas mesin. Tanpa cinta, maka susutlah semngat yang ada dan hubungan yang ada hanyalah suatu hubungan yang tiada bernilai dan kemunafikan murahan. Lebih dari itu, tanpa dilandasi cinta, maka kehidupan  yang dijalani bagaikan neraka yang tidak tertahankan bagi siapapun yang merasakannya. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa mungkin inilah sebab (walaupun bukan penyebab utama) mengapa di era modern ini, banyak individu yang tidak bisa menikmati indahnya kehidupan. Mereka seolah sudah terlalu terkontaminasi dengan berbagai dunia luar dan berbagai kepentingan, hingga mereka kuput untuk bisa  menikmati keceriaan dan kenikmatan yang ada pada kehidupan.
Cinta tidak dapat didapatkan hanya karena hubungan sedarah, kekerabatan, ikatan perkawinan, ataupun ikatan ipar. Namun ia didapatkan karena kedekatan hati dan eratnya komunikasi. Juga karena bersatunya emosi dan kedekatan diri dengan sesama. Betapa banyak kerabat yang terasa jauh di hati, namun betapa banyak pula orang asing (yang notabene bukan kerabat) terasa dekat di hati.
Betapa banyak saudara, kita dapatkan bukan karena hubungan sedarah. Betapa banyak idnividu di dunia ini bisa kita anggap saudara. Namun betapa banyak pula orang yang menghianati Anda, hidup dalam naungan Anda, dan orang yang mengenalnya sebagai anak Anda! Semua itu hanyalah karena cinta. Mahabenar Allah yang berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman,s esungguhnya di antara istri-istrimu dana anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Taghaabun (64) : 14).
Cinta adalah landasan dasar dari semua hubungan  di antara semua komponen dan alam semesta ini, termasuk hubungan antara manusia, segala yang berhubungan  dengannya dan bahkan benda mati. Bila anda mencintai pekerjaan Anda dan menjadikannya sebagai hobby, maka Anda akan melakukannya dengan senang hati dan penuh kebahagiaan. Anda akan mampu berkreasi dengannya dan menghasilkan produktivitas yang tinggi, yang berguna bagi diri Anda sendiri dan juga masyarakat. Bahkan lebih dari itu, Anda pun akan lebih mampu berinovasi dan berkreasi menciptakan satu hal yang baru, ciptaan yang bermanfaat bagi diri Anda, keluarga Anda, negeri Anda dan bahkan bagi seluruh umat manusia.
Lebih dari itu, hubungan antar negara pun hendaknya harus dipenuhi dengan rasa cinta. Tanpanya, hubungan yang tercipta hanyalah hubungan kebencian. Setiap negara akan selalu curiga dan terlalu waswas terhadap negara lain yang mendekatinya. Setiap negara, seolah menghindari negara lainnya, bahkan tetangganya sendiri, karena rasa takut. Semua itu terjadi karena ketiadaan cinta di antara mereka. Ketakutan tersebut, akhirnya menumbuhkan keegoisan, ketamakan, kehilangan kepercayaan diri dan keamanan serta persiapan yang berelebihan untuk berperang.

Cinta, adalah pangkal semua kebajikan dan pokok semua perbuatan baik.

Cinta, adalah memberikan dengan tulus dan tanpa henti. Ia adalah usaha untuk selalu memberikan kesempatan terbaik, memberikan segala hal tanpa pamrih.

Cinta, adalah memberi dan memberi. Memberi secara terus menerus dan tanpa henti. Memberi dengan penuhn ketulusan dan tanpa mengharapkan pamrih, dan memberi tanpa batasan.

Cinta, adalah memberi dengan penuhnkedermawanan yang berbuah kebahagiaan. Memberi tanpa menunggu balasan. Memberi soleh menerima. Memberikan segala sesuatu yang dimiliki tanpa takut akan jatuh miskin. Tanpa kekhawatiran atapun tanpa merasa bahwa apa yang dimilikinya akan habis.

Banyak orang yang berpendapat bahwa cinta dengan  konsepnya, memberi ahnyalah suatu kebodohan. Bagaimana seorang yang mencinta tidak mendapatkan apa pun dari yang diberikannya? Mengapa ia tidak memperoleh penghargaan dari apa yang dilakukannya? Mengapa ia bisa memberikan segala hal tanpa mengharapkan apapun? Namun kenyataannya, pecinta sejati selalu mendapatkan lebih dari apa yang diberikannya. Cinta dengan sendirinya akan memberikan balasan yang berlipat ganda. Pada saat bersamaan, cinta merupakan proses memberi dan menerima, baik itu diinginkan maupun tidak sama sekali. Cinta adalah proses memberi dan menerima dari dua dimensi yang berbeda. Bagaimana itu bisa terjadi?
Dimensi pertama yang dimaksudkan adalah Anda tidak akan bisa mendapatkan cinta bila Anda tidak memberikannya. Anda bisa dicintai oleh orang lain bila Anda mencintai mereka. Mustahil orang akan mencintai Anda padahal Anda sangat benci dan dengki kepada mereka. Walaupun Anda menutupi segala kebencian dengan segala tipu daya, kemunafikan dan kesombongan, Anda tidak akan bisa mendapatkan cinta dari orang lain, bila Anda tidak mencintai mereka. Apa yang ada dalam hati Anda seolah tereksprresikan melalui mimik wajah Anda, pandangan mata Anda, gerak tubuh, gerak tangan dan gerakan lainnya. Semua itu seolah menyampaikan suatu isyarat tertentu dan mengungkap hakikat yang tersembunyi, walaupuns ekuat tenaga Anda menutupinya.
Dimensi kedua adalah walaupun Anda mendapatkan cinta dari orang lain, bahkan dengan cara menipu orang lain dengan penampilan Anda, namun Anda tidak akan bisa merasakan indahnya cinta bila Anda tidak bisa mencintai mereka. Anda tidak akan pernah bisa mengecap indahnya cinta selama Anda tidak pernah mencintai. Mustahil Anda bisa merasakan indahnya cinta selama hati Anda tidak dipenuhi dengan cinta dan kemudian mentransfernya melalui gerak tubuh Anda. Cinta adalah satu-satunya hal yang mampu melampaui kenikmatan memberi dan menerima. Cinta adalah proses memberi dan menerima yang berliapt ganda, dan dilakukan pada satu waktu yang sama.
Cinta sejati hanyalah memberi dan memberi, dan hal tersebutlah yang kemudian menumbuhkan kebahagiaan dalam hati. Walau terkanddang cinta dibalas dengan suatu pengingkaran, namun sesungguhnya cinta tidak membutuhkan balasan. Cinta hanyalah selalu memberi. Seorang pecinta akan selalu rela berkorban demi cintanya di setiap waktu.
Bilan Anda mencintai seseorang atau seekor binatang, atau bila Anda tertarik dengan suatu tanaman ataupun sesuatu hal, maka sesungguhnya cinta Anda akan semakin bertambah di kala Anda melihatnya, mendengarkan suaranya, menyentuhnya, menciumnhya ataupun di kala Anda memikirkannya di saat ia sedang jauh.
Bahkan, seseorang pun bia mencintai suatu tempat atau suatu benda, atau bahkan bebatuan ataupun alat. Semua itu akan tampak pada ekspresi tubunya. Pada dasarnya, tubuh akan mengekspresikan kecintaan atau kebencian seseorang pada suatu hal. Bila dua orang melihat pada suatu benda yagn sama, atau pergi ke suatu tempat yagn sama, di mana satu darinya mencintai benda atau tempat tersebut dan satu lainnya membencinya, maka kita akan melihat orang yang mencintainya dengan ekspresi kegembiraan dan bahagia dengan hanya melihat benda ataupun mengunjungi tempat yagn dicintainya. Demikian pula, kita akan bisa melihat orang yang membencinya dengan ekspresi kesal dan keputusasaannya dengan hanya melihat benda ataupun mengunjungi tempat yang tidak disukainya.
Namun, di saat bersamaan, benda ataupun tempat tersebut tidak menampakkan daya emosional. Hanya manusialah yang memiliki daya emosional terhadap banyak hal dan kesemuanya itu terefleksikan dari dalam hatinya. Manusia akan mampu merasakan kebahagiaan atau kekecewaan terhadap sesuatu yang dicintai dan dibencinya, dan itulah keajaiban cinta.
Kebahagiaan dalam diri adalah nilai terbesar yang didapatkan seseorang di saat menemukan cintanya. Sungguh, ini merupakan nilai yang sangta tinggi. Tidak ada kebahagiaan lain yang bisa menggantikannya, walaupuns eluruh harta yagn ada di muka bumi ini diberikan. Kebahagiaan dan kegembiraan dalam diri adalah tujuan tertinggi dalam kehidupan tiap individu manusia. Ia tidak akan bisa menemukan kecuali dalam cinta dan dengan cinta.
Kerahkan cinta secara konsisten dan janganlah tunggu balasan darinya. Maka dengan pasti akan didapatkan balasan yang berlipat ganda. Ya, balasan yang lebih dalam diri, bahkan dalam hati, dan itu sungguh balasan yang sangat besar.  Mereka yagn dicintai kelak akan mencintai lebih banyak lagi.
Banyak dari kita belum siap mengorbankan apa yang dimiliki untuk mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Namun banyak dari kita yang mau membayar banyak demi suatu kebahagiaan yang semu dan menipu. Mereka tidak peduli dengan kebahagiaan hakiki yang timbul dari cinta sejati, cinta yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. “Demi diriku yang ada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya kalian tidak akan masuk ssurga hingga kalian beriman dan kalian tidak akan pernah beriman hingga kalian bisa saling mencintai.” (HR Ibnu Majah).
Sedang dalam hadits lainnya Rasulullah menekankan suatu keselarasan keimanan dan cinta.
Diriwayatkan, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Tidak akan beriman seorang pun dari kalian hinga ia bisa mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.Anas).
Melalui hadits di atas, tampak bagaimana Rasulullah menempatkan cinta pada posisi yang tinggi. Cinta yang tetap abadi baik di kala manusia itu hidup maupun sepeninggalnya. Dalam banyak hadits-nya, pun Rasulullah menegaskan urgensi cinta di dunia dan akhirat. Cinta kepada Rasulullah dianggap sebagai satu bukti keimanan dan menjadi prasyarat bagi siapapun yang ingin menggapai surga. Keimanan, tidak akan pernah sempurna tanpa adanya rasa cinta. Bahkan, tanpa cinta, suatu keimanan dalam hati tidak pernah terealisasi.
Seseorang, baru bisa dikatakan beriman bila ia telah mampu memberikan cinta. Sesungguhnya, cinta adalah benih dan pangkal keimanan.
Bila Anda mencintai, maka Anda akan terlepas dari semua materi dunia. Ruh Anda pun akan selalu bersama para malaikat. Bila Anda mampu mencintai, maka terlepaslah segala kebencian, ketamakan dan segala perbuatan buruk dari diri. Bila Anda mencintai, maka Anda akan selalu merasakan keimanan dan keamanan dalam diri. Anda  akan selalu menorehkan segala kebajikan dan kebaikan untuk sesama. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa cinta menjadi pangkal keimanan, dan iman adalah tiket untuk bisa mencapai Surga Firdaus.
Kesimpulannya, di saat seseorang tidak bisa masuk surga tanpa keimanan, maka bisa dikatakan bahwa seseorang tidak akan bisa masuk surga tanpa cinta, karena tidak adan keimanan tanpa cinta. Hingga akhirnya, surga tidak akan pernah tercapai tanpa cinta. Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang mencintai dan bukan bagi orang –orang yang saling membenci satu dengan lainnya.

Demikianlah posisi cinta. Rasulullah saw. telah mengangkat posisinya di dunia dan akhirat. Dalam buku ini pun kita akan banyak membahas dan memahami ajaran Rasulullah tentang cinta di seluruh sisi kehidupan.

DAFTAR    -    ISI 
KATA PENGANTAR
ALLAH DAN CINTA
Hubungan Allah dan Manusia
CINTA SESAMA MANUSIA
Cinta Pada Semua Orang, Bahkan Musuh Sekalipun
Cintanya Kepada Anak Kecil
Cinta Manusia Pada Sesamanya
Cinta Bukan Sekedar Ucapan
Perselisihan Para Pecinta
Masyarakat Penuh Cinta
CINTA DAN SEKSUALITAS
Ruh dan Jasad
Melakukan Zina Haram Hukumnya
Cinta Sebelum Hubungan Seksual
Istri Ideal
Lelaki Ideal
Pemenuhan Kebutuhan Seksual Yang Mutualis
MENCINTAI ‘SEPUPU’
Manusia dan Binatang Hubungan Yang Tidak Selaras
Kucing dan Anjing, Neraka dan Surga
Cinta Hingga ke Tumbuhan dan Benda Mati

ALLAH  DAN  CINTA

Di manakah sumber cinta? Siapakah yang menumbuhkan cinta? Siapakah pangkal cinta? Bahkan, apakah cinta itu sendiri?
Sumber, tempat tumbuh dan pangkal cinta adalah Allah Swt.
Sesungguhnya, Allah Swt. adalah Pencipta cinta, sekaligus yang menumbuhkannya dalam hati. Dialah yang mengalirkannya dalam setiap nadi manusia. Lebih dari itu, sesungguhnya Allah Swt. adalah cinta itu sendiri. Allah adalah Mahapencinta. Mencintai adalah salah satu sifat-Nya. Dari-Nya dan dari cinta-Nya-lah tumbuh segala kebajikan dan juga rahmat-Nya.
Allah Yang Mahaagung mencintai hamba-Nya dan memerintahkan kita untuk bisa saling mencintai satu dengan lainnya. Allah menempatkan cinta-Nya dengan selalu memberikan nikmat-Nya pada manusia, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Hal ini dipahami dari firman-Nya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran (3) :103).
Rasulullah mencintai Allah Swt. sumber cinta, yang mendatangkan cinta. Beliau mencintai pangkal cinta. Zat yang penuh dengan cinta. Kaarenanya, cintailah Allah. Sesungguhnya Rasulullah telah mencintai-Nya dengan cinta yang sangat besar. Cinta yang memenuhi segala relung hati.
Muhammad saw. mencintai Tuhannya, sumber cinta, rahmat dan kasih sayang. Maka cintailah Allah Swt. dan cintailah seluruh makhluk dan seluruh benda di muka bumi ini karena Allah dan dengan petunjuk Allah. Hal ini dipahami dari fimran-Nya : “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah (2) :165).
Hati Muhammad saw. selalu terkait eerat dengan Tuhannya. Beliau selalu merindukan untuk bisa selalu berkomunkasi dengan-Nya dan selalu berdekatan dengan-Nya, dan Allah pun meresponnya dengans elalu bersamanya. Cinta-Nya selalu ada dalam penglihatan dan dalam lubuk hati sanubarinya. Juga di sekelilingnya dan di segala penjuru. Cinta-Nya selalu ada dalam seluruh sel tubuhnya. Juga dalam hati nuraninya yang terdalam dan dalam setiap tetesan darahnya.
Muhammad saw. tidak eprnah bergerak ataupun diam, tersadar ataupun tertidur, lapar ataupun kenyang, berbicara ataupun membisu, berpikir ataupun merenung kecuali dengan diiringi cinta Tuhannya. Cinta Zat yang sealu disembahnya (Allah Pencipta semessata alam).
Muhammad saw. selalu menghabiskan seluruh waktunya, siang dan malamnya untuk selalu menyeru Tuhannya, selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Selalu bersyukur kepada-Nya dan menyucikan-Nya, selalu mengagungkan dan membesarkan-Nya, selalu meluapkan kerinduan kepada-Nya dan juga selalu bersama-Nya.
Beliau selalu berdiri bermunajat kepada-Nya di tengah malam dengan penuh kekhusyuan hingga kakinya yang lecet pun tidak beliau hiraukan. Yang terasa dalam hatinya hanyalah kegembiraan, kebahagiaan, dan kenikmatan sejati karena telah mampu mendekatkan diri dengan Zat yang sangat dirindukannya.
Muhammad saw. selalu menunggu datangnya waktu shalat dengan hati penuh rindu. Di kala telah datang waktunya, maka sesegera mungkin beliau berkata : “Berikan kegembiraan, wahai Bilal.”
Kegembiraan yang dimaksud adalah kumandang untuk bisa melaksanakan shalat. Melalui shalatlah beliau mampu selalu berkomunikasi dengan Kekasihnya yang Mahatinggi, merajuk dengan-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Itulah kegembiraan, kebahagiaan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi dan terbesar bagi Nabi Muhammad saw.
Itulah kebiasaan yang meuncul karena cinta dan yang selalu dinantikan oleh mereka yang merindukan dan mencinta. Seorang pecinta hanya akan bahagia dikala ia berdekatan dengan sosok yang dicnitainya. Seorang perindu hanya akan bahagia bila telah ebrsua dengan orang yang dirindukannya.
Dengan demikian, maka tak heran bila kemudian Nabi Muhammad saw. selalu berlama-lama dalam shalat dan sujudnya. Juga dalam doa dan istighfarnya, tahmid dan syukurnya, tasbih dan takbirnya. Karena, itulah ciri cinta dan kerinduan. Karena kedekatannya itulah, air mata bahagia selalu menetes dari matanya di kala ia melaksanakan shalat. Air mata yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan karena mampu menemui Zat yang dicintainya dan dekat dengan Tuhannya, Tuhan Semesta Alam. Muhammad saw. hidup hanya untuk-Nya dan selalu bersama-Nya dalam setiap kesempatan. Beliau selalu berpikir akan Tuhannya dan bekerja untuk menegakkan kalimat-Nya. Inis emua selaras dengan firman-Nya :
“Katakanlah, ‘sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’aam (6) : 161 – 163).
Demikianlah cinta Nabi Muhammad saw. kepada Tuhannya. Cinta yang sangat mendalam dalam menyucikan Tuhannya, Sang Pencipta alam. Cinta yang penuh dengan kerinduan untuk selalu berkomunikasi dengan-Nya. Cinta yang selalu menuntunnya untuk selalu mendapatkan kenikmatan hidup dengans elalu menggapai keridhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Cinta yang selalu memenuhi seluruh relung hatinya dan berdetak setiap denyut napasnya dan mengalir di setiap aliran darahnya.
Allah Swt. bagi Muhammad, bagaikan udara yang selalu dihirupnya, air  yang selalu diminumnya, makanan yang selalu dissuapnya, pakaian yang selalu dikenakannya, rumah yang menjadi tempat berlindungnya. Baginya, Allah Swt. adalah kebajikan dan Pemberi rezeki, tempat mengadu dan mendapatkan segala kenikmatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah-lah, yang memberikan kita semua nikmat di setiap saat. Allah seelalu hadir di setiap benda yang tersentuh, ataupun benda yang tampak oleh mata, suara yang terdengar oleh telinga, bebauan yang tercium oleh hidung ataupun gerak yang ditangkap oleh panca indera. Bahkan Allah Swt. adalah Zat yang selalu hadir di setiap hal yang mana indera tidak bisa menjangkaunya dan tidak bisa dipahami oleh pikiran.
Sesungguhnya Allah Swt. adalah cinta, kebaikan, kebahagiaan dan keindahan yang selalu menyertai eksistensi manusia. Cinta adalah luapan kasih sayang terindah dan emosi terbaik. Ia selalu mengarah kepada sumebr cinta dan kebaikan, sumber keutamaan dan nikmat serta inovator keindahan dan kebahagiaan. Sungguh, kesemuanya itu mengarah kepada Pencipta semesta ini, Allah Swt.
Cinta kepada Allah adalah cinta kebaikan dan nikmat-Nya, cinta kebahagiaan dan keindahan, dan cinta pada semua hal yang baik dis egala aspek.


Hubungan Allah dengan Manusia


Para penceramah dan ustadz banyak yang menggambarkan hubungan  Allah Swt. dengan manusia sebagi hubungan materi belaka. Hubungan yang berdasarkan materi dan balsan, pahala dan dosa, serta janji dan ancaman.
Tidak seperti para dai yang selalu menakut-nakuti manusia dengan ebrbagai jenis neraka dan azab. Bahkan, mereka mendramatisasinya dengan berbagai hukuman yang akan ditimpakan Allah dan mengobsesi mereka dengan pahala dan surga-Nya.
Menurut pendapat penulis, bila semua yang mengikatkan kita kepada Allah dan semua hubungan kita kepada Allah hanyalah bersifat pragmatis semata, atau karena takut pada dosa dan mengharapkan pahala semata, atau karena takut pada ancaman neraka dan terobsesi pada kenikmatan surga, maka hubungan yang dibina adalah hubungan yang rapuh, hubungan berdasarkan materi dan pahala semata. Bila kita benar-benar beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan beriman kepada hari akhir dengan selalu menyembah-Nya, melakukan segala perintah-Nya – baik itu shalat, pusa, menunaikan zakat, haji dan lainnya – serta meninggalkan semua larangannya hanya akarena rasa takut pada ancaman neraka dan obsesi kita pada surga, maka hubungan yang terbina adalah hubungan yang sangat rendah. Hubungan yang rapuh antara hamba dengan Tuhannya. Hubungan rendah yang menempatkan kita pada posisi yang hina dari semua makhluk-Nya.
Para dai yang masih melakukan metode sebagaimana di atas, sesungguhnya telah membodohi akal kita. Merak seolah menganggap kita hanyalah anak-anak kecil  yang masih menyusu dan bisa ditakut-takuti ataupun bisa dibujuk dengan boneka. Mereka tidak pernah peduli dengan pola pikir kita. Bisa jadi mereka menganggap kita sebagai pesakitan belaka, yang tidak memiliki jalan pikiran, hingga mereka bisa mengikat kita dengan tali  utunk kemudian diberikan berbagai gertakan ataupun diberikan obat tanpa kita harus memahami kegunaannya.
Kenyataannya, kita masih mampu menggunakan akal dan telah dewasa. Kemampuan otak kita masih bekerja dengan sangat baik. Dengan demikian, kita bisa memahami hakikat hubungan kita dengan Allah, Tuhan kita, dan membangun hubungan kita  dengan-Nya dengan fondasi yang sangat kuat  melebihi apa yang mereka bayangkan dan yang  pernah terbayangkan. Sesungguhnya para dai sebagaimana di atas telah menyesatkan kita dan melakukan kezaliman kepada Allah, namun mereka tidak menyadarinya.
Renungkanlah, hubungan antara ayah atau ibu dengan anak-anaknya. Walaupun hubungan tersebut adalah hubungan yang sangat kuat, namun tidak lebih kuat dari hubungan Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya. Namun demikian, di kala kita memaparkan hubungan ibu dengan anak-anaknya, ayah dengan anak-anaknya ataupun hubungan suami istri, banyak yang masih menggambarkannya sebagai hubungan kepentingan semata, tanpa didasari oleh cinta dan kasih sayang, tanpa keikutsertaa hati dan emosi.
Hubungan tersebut digambarkan seolah hanya sebatas hubungan kepentingan dan manfaat, disertai dengan berbagai data kualitatif. Seorang istri melayani suaminya hanya karena sang suami memberikannya nafkah dan kebalikannya, seorang suami menafkahi istrinya hanya karena sang istri melayaninya. Seorang anak hormat kepada ayahnya hanya karena sang ayah lebih besar dariapdanya. Seorang anak tinggal bersama ibunya hanya karena ia masih membutuhkannya, dan demikian seterusnya.
Lalu, bayangkan apa yang terjadi setelahnya, yakni di kala keadaan menjadi ebrbalik. Artinya, di kala sang suami telah beranjak tua dan renta, dan waktu mengantarkannya pada banyak permasalahan seperti mengalami penyakit dan jatuh miskin dan pada saat itulah posisi intri menjadi lebih kuat. Atau, di kala seorang anak sudah bisa memberikan nafkah untuk keluarganya, maka pada saat itulah ia akan kehilangan rasa hormat pada ayahnya. Pada saat itulah ia bisa belaku kasar, bahkan mengusir keluarganya dari rumah hanya karena mereka sudah tidak bisa produktif lagi.
Bayangkan bila hubungan yang terbina dalam keluarga hanya berdasarkan hubungan kepentingan belaka. Bayangkan di kala kepentingan yang dibutuhkan sudah tidak ada lagi. Ketika itu, hancurlah hubungan tersebut. Kehancuran tersebut bisa jadi lebih buruk dari kehilangan salah satu anggota keluarga atapun musibah lainnya.
Hubungan antar sesama manusia bisa dikatakan sebagai hubungan yang sangat rentan, yakni sekedar hubungan yang berlandaskan kepentingan. Hal ini bisa terlihat dari hubungan antara buruh dan majikannya, hubungan tuan tanah dan pekerjanya. Hubungan yang tercipta tidak melibatkan emosi dan perasaan dan tidak berlandaskan rasa kasih sayang. Karenanya, tidak mengherankan bila hubungan tersebut menjadi hubungan yang sangat rapuh, hubungan yang tidak bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi dan vitalitas yang meningkat.d an, hal ini sangat membahayakan kinerja dan hubungan masyarakat.
Apa bentuk kepedulian Anda terhadap hubungan antara orang tua dan anak-anaknya, antara istri dan suaminya? Akan lebih baik bila Anda peduli dengan hubungan yang lebih baik dan lebih suci, yakni peduli dengan hubungan Anda dengan Tuhan.
Bila hubungan individu dengan Tuhan tidak didasarkan dengan cinta, maka tidak akan pernah tercipta kebaikan di dalam hubungan tersebut dan juga tidak akan pernah tercipta kebaikan dari hubungan tersebut. Hasilnya, hubungan tersebut bukanlah hubungan yang efisien dalam kehidupan. Bila hubungan kita kepada Allah Swt. tidak dilandasi dengan rasa cinta, maka seluruh penciptaan dan kehidupan ini seolah menjadi sia-sia dan tidak berarti.
Mengapa kita harus mencintai Allah? Bagaimana kita bisa mencintai-Nya?
Apakah kita mencintai Allah supaya Dia mencintai kita? Ataukah, supaya ada cinta yang mutualis?
Di hadapan Allah, kita hanyalah makhluk yang emah, sedangkan Allah adalah pencipta kita. Dialah yang menghidupkan dan mematikan kita. Yang memberikan kesembuhan dan juga memberikan penyakit bagi tubuh kita. Allah yang memberikan kebahagiaan dan kesengsaraan dalam hidup kita. Yang memberikan kemuliaan dan kehinaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kita hanyalah makhluk yang kerdil dibandingkan diri-Nya. Kita tidak bisa menguasai diri kita sendiri, atauun memberikan manfaat atau bahaya kecuali dengan seizin-Nya. Semua ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah lagi.
Namun demikian, apakah kita yakin bahwa Allah merendahkan kita atau tidak memperdulikan keadaan kita, para hamba-Nya? Tidak diragukan lagi bahwa jawaban atas persoalan tersebut terkadang tidak selamanya objektif. Tidak bisa diragukan lagi bahwa mereka yang berkeyakinan bahwa Allah mengindahkannya dan merendahkannya adalah mereka yang menzalimi dirinya sendiri sekaligus melakukan kezaliman pada diri-Nya. Keyakinannya tersebut merupakan pengingkaran atas nikmat yang telah diterimanya.
Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dan mendudukan kita pada posisi tertinggi dari jajaran seluruh makhluk-Nya. Dia telah menundukkan sebagian makhluk-Nya untuk bisa melayani kehidupan kita di muka bumi ini. Dia telah menundukkan pegunungan dan perbukitan, hewan ternak, awan dan hujan, matahari dan bulan, kawanan burung dan ikan, langit dan bumi, perkebunan dan tumbuhan untuk kita. Air dan udara dan seluruh yang ada di muka bumi ini ditundukkan untuk bisa menjadi fasilitas dalam hidup. Dia memberikan berbagai nikmat bagi kita, baik itu nikmat sehat, nikmat mampu berusaha mencari rezeki-Nya dan nikmat keamanan, nikmat pasangan hidup, keturunan serta kesuksesan. Dia telah memberikan kita semua apa yang kita inginkan dan tidak pernah sedikit pun pelit. Hal ini selaras dengan firman-Nya.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim (14) : 34).
Pencipta tidak sana keadannya dengan seorang pemilik. Pencipta memiliki kekuasaan melebihi seorang pemilik sesuatu.
Bila Anda membeli sebuah papan, lukisan, jam atau pun karpet, maka Anda menjadi pemiliknya. Dengan demikian, maka Anda memiliki kewajiban untuk menjaga dan memperhatikannya.
Bila Anda membeli burung, kucing, bunga ataupun serangga kcil, maka Anda memiliki kewajiban merawatnya, memberikannya nutrisi dan air hingga peliharaan Anda bisa bertahan hidup. Menjaganya dari hawa dingin dan panas hingga peliharaan Anda bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Kebahagiaan Anda tampak hanya dengan melihatnya tumbuh berkembang dengan baik, dan semakin lama maka kebahagiaan Anda pun akan semakin bertambah karenanya. Semua itu terjadi hanya karena Anda adalah seorang pemilik. Lalu bagaimana bila Anda penciptanya?
Apa yang Anda lakukan bila Anda adalah pencipta burung dan serangga tersebut? Apa yang akan Anda lakukan bila Anda mampu mencipta makhluk besar serupa dengan manusia?
Sesuatu yang Anda ciptakan dengan tangan Anda sendiri dan diciptakan dengan melibatkan perasaan, walaupun itu hanyalah berupa lukisan, lirik lagu ataupun suatu benda tertentu yang tidak memiliki rasa, maka sesungguhnya ia akan menjadi bagian dari diri Anda. Anda akan melihat diri Anda dengan meliahtnya dan melihatnya sebagai bagian dari pola pikir dan kreativitas Anda. Tentunya Anda pun akan berusaha menjaganya dengan sekuat tenaga, selalu menyertainya dan merawatnya dengan baik. Anda akan mengorbankan diri Anda untuk bisa menyempurnakannya.
Kebahagiaan ciptaan merupakan bagian dari kebahagiaan penciptanya. Kesenangan ciptaan adalah harapan penciptanya dan kelapangan ciptaan adalah tujuan dari penciptanya. Demikian pula yang dirasakan Allah terhadap diri kita yang notabene adalah perasaan yang hendaknya dapat kita respons dengan baik. Perasaan cinta-Nya pada kita sangatlah besar. Walaupun kita mencintai-Nya, maka sesungguhnya kita hanya mampu mencinta-Nya dengan kualitas cinta yang sangat kecil, yang akan tertutupi oleh besarnya cinta-Nya pada kita.
Pada suatu waktu, Rasulullah duduk bersama para sahabatnya. Di kala mereka melihat seorang ibu memeluk anaknya di dadanya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, “Apakah menurut kalian ibu terseut akan tega menceburkan anaknya ke dalam kobaran api?”  Para sahabatnya lalu menjawab, “Tentu tidak akan pernah, wahai Raslullah.” Rasulullah lalu berkata, “Sesungguhnya Allah lebih saya kepada semua hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu itu kepada anaknya.”
Wahai para dai, janganlah kalian menakut-nakuti kami untuk bisa dekat dengan Sumber cinta dan kasih sayang. Jangan jadikan dasar hubungan kami dengan Tuhan kami adalah ketakutan dan obsesi, janji dan ancaman dan kepentingan materi semata. Bangunlah cinta kami kepada Tuhan kami dengan rasa cinta dan kasih sayang, rasa rindu dan keinginan untuk bisa berkomunikasi dengan-Nya, kerinduan mendalam dan keinginan unuk bisaselalu bersama-Nya.

Dengan cintalah kami bisa menemukan kegembiraan dan kebahagiaan, kenikmatan dan loyalitas.

Rasulullah pernah mengatakan kepada mereka yang gemar melakukan maksiat dan memiliki dosa yang berlimpah yang menzalimi dirinya sendiri,
“Jangan takuta! Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Atau dengan kata lain, jangan takut kepada Allah dan jangan berputus asa dalam menggapai rahmat-Nya.
Jangan pernah memutus harapan untuk bisa mendapatkan kasih sayang-Nya walaupun kesalahan yang kalian lakukan sudah sangat banyak, walaupun dosa kalian sudah sangat berlimpah, walaupun kemaksiatan yang kalian lakukan semakin lama semakin bertumpuk. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari kesalahan kalian. Cinta-Nya lebih kuat daripada dosa kalian. Kasih sayangnya lebih dalam daripada kemaksiatan kalian. Kasih-Nya mampu menghapus semua dosa dan mentransformasikannya menjadi kebaikan dan kemuliaan. Karenanya, jangan takut!
Kalimat tersebut disampaikan Rasulullah kepada mereka yang banyak melakukan maksiat. Jadi, jangan takut! Jangan tamak! Yakinlah akan cinta Allah dan balasan cinta-Nya dengan cinta.
Kenyatannya, para dai pada masa kini lebih suka mengatakan, “Takutlah..... ! Terobsesilah .....” Yang lebih tepat adalah yakinlah akan cinta Allah kepadamu dan kasih sayang-Nya untukmu.” Namun para dai lebih suka bermain dengan angka dan kepentingan semata hingga mereka merasa lebih takut kepada ancaman Allah dan lebih terobsesi kepada surga-Nya. Inilah yang diajakrkan bagaimana menjalin  hubungan kepada Allah. Ketakutan dan obsesi, angka dan ganjaran, kepentingan dan pragmatisme belaka.
Para dai yang keliru tersebut bukan hanya melecehkan pola pikir kita, bahkan mereka telah melecehkan Pencipta. Mereka menggambarkan soso-Nya sebagi sosok yang hanya mempedulikan materi. Sosok yang kaku dan garang seolah membawa pedang di salah satu tangannya dan membawa emas di tangannya yang lain. Dengan pedangnya seolah Tuhan menakut-nakuti dan dengan emasnya seolah Tuhan membujuk. Tuhan seolah disamakan dengan raja-raja di masa lalu yang menakut-nakuti dengan pedang dan membujuk dengan emas, dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan manusia sekitarnya kecuali dengan pedang dan emasnya.
Renungkanlah hubungan kita dengan Allah Swt. Yang Mahaagung, Yang Maha Mencintai dan Maha Mengasihi. Landasan Cinta-Nya bukanlah pedang ataupun emas, kesengsaraan ataupun kenikmatan, neraka ataupun surga. Sungguh! Allah Swt. bukanlah sosok Tuhan yang tanpa cinta, tanpa kasih sayang, tanpa perasaan. Cinta-Nya tidak akan begitu mempedulikan pahala dan hukuman, ganjaran yang kaku, angka yang tak bermakna ataupun kepentingan duniawi semata.
Betapapun banyak dosa yang ktia punya, bila kita menggambarkan sosok-Nya sebagai sosok yang menakutkan, tentunya hal tersebut akan membuat kita makin berputus asa mendapatkan rahmat-Nya. Namun sesungguhnya; apapun kesalahan yang telah kita lakukan, Dia tetap memberikan kasih sayang-Nya untuk kita. Keegoan apapun yan kita lakukan, cinta-Nya kepada kita akan tetap ada. Hal ini selaras dengan firman-Nya :
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamnya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-ya.” (Al-Maa’idah (5) : 54).
Kini, marilah kita melihat sosok pecinta sejati yang diutus kepada kita dengan ajaran yang penuh dengan kabar gembira dan peringatan. Beliau selalu menumbuhkan semangat pada diri kita untuks elalu tidak meninggalkan-Nya serta tidak mengingkari cinta-Nya. Bila hal itu tidak terlaksana, maka akan meudah bagi-Nya untuk menciptakan manusia lainnya. Manusia yang akan dicintai-Nya dan akan mencintai-Nya.
Renungkanlah, wahai manusia! Tujuan dari penciptaan dirimu adalah agar Tuhanmu bisa mencintaimu dan kamu pun bisa mencintai-Nya. Tujuan awal dari segala penciptaan-Nya adalah untuk menumbuhkan cinta. Visi penciptaan manusia adalah cinta yang mutual antara diri-Nya dan antara kita, selaku kahluk-Nya.
Allah memberikan peringatan-Nya dan peringatan tersebut pun adalah bukti kasih sayang-Nya. Artinya, bila kau tidak mencintai-Ku, dan tidak membalas cinta-Ku, maka Aku akan menciptakan manusia lainnya yang lebih mampu mencintai-Ku dan Aku pun bisa mencintai mereka. Sesungguhnya, Allah tak beda layaknya perindu yang sangat merindukan kekasihnya. Dan di kala Dia merasakan cintanyabertepuk sebelah tangan, maka Aku akan meninggalkanmu dan memberikan cinta-Ku pada orang lain.”
Kenyataannya, Dia tidak mencintai dan tidak akan pernah mencintai orang lain. Dia tidak mencintai dan tidak akan pernah mencintai orang lain selain kita, makhluk-Nya. Yang diinginkan-Nya hanyalah kita merespons cinta-Nya, kita bisa mencintai-Nya. Namun, bila kita membangun hubungan dengan Allah hanya berdasarkan ketakutan dan obsesi serta data kuantitatif dan kompensasi belaka, maka sesungguhnya kita telah menajdi orang-orang yang merugi.
Apabila kita bina cinta dengan-Nya melalui angka dan perhitungan serta pedang dan emas, maka sesungguhnya kita tidak berhak mendapatkan apa pun dari-Nya kecuali pedang. Kita tidak berhak mendapatkan apa pun dari-Nya kecuali dilemparkan ke dalam neraka-Nya dan azab-Nya. Semua itu dikarena kita semua adalah pendosa yang melakukan banyak kesalahan. Kita semua berhak mendapatkan hukuman dan tidak akan ada seorang pun dari kita akan selamat darinya.
Namun, kasih sayang Allah sangat luas. Hati-Nya penuh dengan cinta. Ampunan-Nya selalu tercurah. Kasih sayang-Nya berlimpah. Itu semua adalah benteng, dan itu semua adalah kenikmatan, tameng, naungan, perlindungan dan juga dasar dari hubungan kita kepada Allah. Bahkan, semua itu adalah pangkal kemajuan kita kepada-Nya. Kita harus bisa meyakini cinta-Nya dan kasih sayang-Nya pada kita. Dengan demikian, maka kita bisa bermanja dengan-Nya dan berlindung kepada-Nya.
Bila tidak demikian adanya, bila bukan karena cinta, maka tentunya kita termsuk golongan yang berhak dihancurkan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah saw. bersabda :
“Allah membagi kasih sayang-Nya dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian dalam genggaman-Nya dan menurunkan satu darinya ke muka bumi. Dengan hanya satu bagian itulah semua makhlu-Nya saling berkasih sayang di antaranya adalah bagaimana seekor binatang akan mengangkat cakarnya dan anaknya barena takut hal itu akan melukainya.” (Al-Hadist).
Renungkanlah perihal sumber cinta! Dasar dari semua rahmat dan kasih sayang. Sesungguhnya semua fenomena dan bentuk cinta yang selalu kita senandungkan di muka bumi ini; semua fenomena baik itu dalam gambaran makro maupun mikro; gambaran akan ibu yang memeluk anaknya; seorang ayah yang melindungi anak-anaknya; gambaran anak yang kuat melindungi yang lemah, dan orang kaya membantu yang miskin; merupakan satu bagian dari banyaknya kasih sayang yang dimiliki-Nya. Sedagkan kasih sayang-Nya yang lain, yang masih ada dalam gemnggaman-Nya, sangat berlimpah. Seluruhnya, kelak akan dicurahkan kembali untuk kita, untuk bisa menutupi semua kesalahan kita, menghapus semua dosa dan untuk mendekatkan kita kepada-Nya dan selalu ada di samping-Nya serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Muhammad saw. menyanggah pendapat para dai yang gemar menakut-nakuti manusia akan tuhannya dan menumbuhkan keputusasaan akan rahmat-Nya di dalam diri. Hal tersbut tampak dalam hadits Rasulullah, berikut ini :
“Dikisahkan ada dua orang bersaudara. Seorang dari mereka menyembah Allah dan seorang lainnya melakukan maksiat kepada-Nya. Pada suatu waktu, seorang saudara yang gemar beribah itu berkata kepada saudaranya yang gemar bermaksiat, ‘Apalagi yang bisa kau perjuangkan, Allah kelak akan memasukkanmu ke dalam neraka. Dia tidak akan memberikan ampunan-Nya kepadamu.’ Lalu ketika keduanya telah meninggal dunia, keduanya menghadap Allah. Allah lalu berkata kepada saudara yang gemar beribadah, ‘Siapa yang mengizinkanmu berlaku sewenang-wenang kepada-Ku. (yakni memberi pernyataan atas sesuatu yang bukan haknya). Pergilah engaku ke neraka.’ Lalu Dia berkata kepada orang yang banyak berbuat maksiat, ‘Masukilah surga dengan rahmat-Ku.”
Malang sekali hamba yang gemar beribahad tersebut. Ibadahnya seolah tidak membantunya hanya karena ia berlaku sewenang-wenang kepada Allah. Ia menggambarkan sosok Allah sebagi sosok yang kaku dan kasar serta tidak memiliki kasih sayang dan ampunan. Dengan persepsinya itu, ia menghalangi saudaranya untuk bisa mendapatkan kasih-sayang-Nya. Juga menghalanginya untuk medapatkan cinta-Nya. Ia telah menumbuhkan kepurusasaan dalam diri saudaranya dan itulah kesalahan terbesar yang telah dilakukannya.
Rasulullah ssaw. Bersabda :
“Sesungguhnya Allah mengulurkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat hamba-Nya yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Dia mengulurkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat hamba-Nya yang melakukan kesalahan di malam hari.”
Allah tidak jauh beda layaknya seorang ibu yang sangat kasih dan seorang ayah yang penuh sayang. Dia menanti tobat kita dan menantikan kita kembali ke pangkuan-Nya. Dia menanti kita di setiap aktu, baik malam maupun siang hari, di setiap jam, bahkans etiap menit. Tangan-Nya selalu terulur untuk kita. Hati-Nya yang besar selalu terbuka hingga tiada batasnya. Dada-Nya yang penuh kasih selalu penuh rindu, dans emua itu tidak lain supaya kita yang sering melakukan kesalahan, kembali kepada-Nya, berlindung dalam naungan-Nya dan menikmati kedekatan dengan-Nya. Dia akan sangat bahagia dengan kembalinya hamba-hamba-Nya menjadi orang yang taat dan penuh cinta.
Diriwayatkan dari Anas, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda :
“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, apapun yang kau panjatkan pada-Ku dan harapan dari-Ku, maka Aku akan mengampuninya untukmu, bagaimana pun keadaanmu dan Aku tidak akan peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu melampaui tingginya langit, lalu kau meminta ampunan-Ku, maka Aku akan mengampuninya untukmu. Wahai anak Adam, bila kau mendatangi-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, dan kau menemui-Ku tanpa sedikit pun menduakan-Ku dengan apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi.” (HR. Tirmidzi).
Sesungguhnya, sumber cinta dan kasih sayang, pangkal kebaikan dan pemberian akan mampu membalas satu kebaikan dengan kebaikan yang lebih banyak, sepuluh kali lipatnya atau bahkan lebih. Sedangkan keburukan yang diterimanya hanya akan dibalas dengan keburukan serupa, bila hal itu dilakukan dengan hati penuh kebencian dan kesengajaan. Sedangkan keburukan yang dilakukan oleh hati yang penuh cinta, maka kelak Allah akan memberikan amnesti-Nya dan pengampunan-Nya, walaupun dosa dan kesalahan yang ada sangat banyak dan semakin meningkat.
Kekasih kita selalu menanti kita untuk bisa mendekati-Nya walau hanya satu langkah hingga Dia bisa mendekati ktia dengan banyak langkah-Nya. Bila kita bergerak menuju arah-Nya walaupund engan gerak yang sangat lamban, maka Dia akan bergerak cepat menuju kita dengan penuh kerinduan bgaikan perindu yang menemui orang yang dirindukannya. Dia merindudkan kita layaknya rindu seorang pecinta pada orang yang dicintainya, dan merindukan kita sangat dalam. Dia pun mengasihi ktia sebagaimana kasih Pencipta pada ciptaannya, yang menganggap ciptaannya sebagai bagian dari dirinya.
Benar, sesungguhnya kita adalah bagian dari Yang Maha Kasih yang emnciptakan kita dan memberikan senthan inovasi pada bentuk kita. Ruh kita, di mana dengannya kita bisa hidup, adalah bagian dari Ruh-Nya yang Mahatinggi yang mampu menghidupkan semua hal yang mati.s esungguhnya kita adalah sebaik-baiknya ciptaan-Nya.
Seluruh kebaikan dunia dan seleuruh cinta makhluk di dunia ini tidak akan pernah sebanding sedikitpun dengan cinta Yang Mahatinggi, cinta yang dipersiapkan Allah bagi makhluk-nya yang paling mulia, yang telah menjadi bagian dari diri-Nya. Cinta-Nya selalu tercurah ke seluruh makhluk_nya dan tidak hanya diperuntukan untuk hamba-Nya yang taat dan gemar beribadah, namun juga pra hamba-Nya yang bermaksiat dan melakukan kesalahan.
Semua itu adalah ciptaan-Nya. Kita hanya diminta untuk mencintai-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya. Bila kita telah mampu melakukannya, maka kehidupan pun akan berjalan dengan sangat mudah. Walau pun kita memiliki banyak kesalahan dan dosa, Allah kelak akan menghapus-Nya yang meninctai-Nya dan menemui-Nya. Hal tersebut selaras dengan firman-Nya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya.” (an-Nisaa’ (4) : 48).
Tuhan kita yang penuh cinta selalu siap untuk memberikan ampunan-Nya untuk kita, walaupun dosa dan kesalahan yang kita lakukan sangatlah berlimpah. Syarat yang ditetapkannya hanyalah satu, yakni tidak menduakan cinta-Nya. Kita dipersilahkan untuk melakukan apapun selama tidak menghianati cinta-Nya. Kita pun diperbolehkan melakukan apa saja yang ingin kita lakukan kecuali satu hal, yakni menduakan-Nya. Dia telah menciptakan kita, memberikan rezeki-Nya dan menjaga kita. Kita hanya perlu membalas semua itu hanya dengan mencintai-Nya dengan tulus dan tidak menduakan-Nya. Setelahnya, maka apa pun kesalahan yang kita lakukan tidaklah dianggap karena sesungguhnya cinta mampu memaafkan segala hal.
Tuhan kita yang penuh cinta selalu siap untuk menemui kita di setiap saat, baik siang maupun malam. Bahkan Dia senantiasa merindukan kedekatan kita pada-Nya tanpa harus takut dihalangi oleh penjaga atau pun polisi. Tameng atau pun pagar. Hal ini dapat dipahami dari fiman-Nya :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon pada-Ku.” (Al-baqarah (2) : 186).
Renungkanlah perihal Tuhan pencipta alam semesta, yang mencipta langit dan bumi ini dan mempermudah setiap individu untuk bisa menemui dan mendekati-Nya, meluangkan waktu untuk bisa selalu di dekat-Nya. Bahkan, Dia menyeru manusia kepada-Nya kapanpun kita mau, tanpa dipungut biaya ataupun jasa. Juga tanpa kesulitan apapun, ataupun prosedur protokoler yang rumit. Yang penting adalah keinginan dari dalam diri kita sendiri. Hanya Allah Swt. yang selalu siap merespons segala permintaan kita. Bahkan, selalu hadir bersama kita senuai keinginan kita, tanpa perlu menunggu kehadiran kita menghadap-Nya. Semua itu dilakukan-Nya demi cinta-Nya kepada kita.
Dia tidak ingin ada kesulitan apap pun menghadang kita dalam menghadap-Nya dan selalu siap dalam merespons semua seruan kita, selalu siap untuk hadir bersama kita di tempat mana pun dan waktu kapan pun yang telah kita tetapkan. Kesemuanya itu hanya tergantung pada keinginan dari dalam hati kita. Kita hanya perlu meminta-Nya dan Dia akan meresponsnya dan merealisasikan apa yang kita pinta.
Pada masa kini, bila kita ingin menemui seorang pembesar ataupun penguasa, maka hal itu bisa terealisasi bila kita memiliki permasalahan penting yang berkaitan dengan kepentingan umum yang harus kita bicarakan, dan dalam hal ini tidak aemua dari kita mempunyai kepentingan tersebut. Walaupun akhirnya semua usaha telah kita kerahkan dan walaupun kita hanrus menyingsingkan terlebih dahulu harga dan akhirnya kita berhasil menemui pembesar ataupun penguasa yang kita maksud.
Namun umumnya hal tersebut baru bisa terealisasi setelah penantian yang sangat panjang, setelah kesabaran yang sangat melelahkan, setelah melewati puluhan pintu gerbang dan pasukan pengamanan,s etelah pemeriskaan total dan pertemuan itu pun umunya hanya berlangsung beberapa menit, sekedar menggambarkan permasalahan secara global tanpa harus menemukan solusi yang diinginkan.
Yang kita dapatkan umumnya hanyalah pertemuan belaka yang terkadang penuh dengan janji-janji palsu dan kata-kata yang tiada bermakna. Namun ternyata, itu semua tidak membuat kita kapok untuk bisa mengulang pertemuan yang sama dan sekedar menunjukkan kebanggan karena bisa menemui pembesar atau pengausa tersebut. Bangga karena sang pembesar ataupun penguasa mau menyempatkan diri bertemu dengan kita, duduk di sampijg kita, nama kita dipanggil olehnya, tertawa bersamanya. Seolah semua itu adalah hal yang sangat menakjubkan dan keberuntungan yang sangat mengagumkan. Dan, seolah menumbuhkan kebahagiaan tersendiri dan kerinduan untuk mengulang momen yang sama. Terkadang pertemuan tersebut menyedot banyak hal (baik itu waktu maupun harga diri), namun semuanya seolah tidak menjadi masalah. Padahal hasil dari pertemuan itu terkadang hanyalah membuagn waktu dan hanya menimbulkan harapan palsu.
Apakah seorang makhluk bisa mengharapkan sesuatu dari seorang makhluk yang sejajar dengannya?!  Apakah seorang hamba bisa memberikan sesuatu yang berharga pada hamba lainnya yang sejajar dengannya?!
Meskipun demikian kenyataannya, banyak dari kita  yang masih tidak  mau menemui Tuhannya dan lebih suka menemui ciptaan-NYA. Banyak dari kita meninggalkan pertemuan dengan Tuhan ayng lebih mudah dan gratis dan lebih memilih bertemu dengan ciptaan-Nya yang memiliki prosedur yang rumit dan sangat melelahkan. Banyak dari kita meninggalkan pertemuan dengan ayng Maha Pemberi Rezeki dan Mahakuasa atas segala sesuatu untuk kemudian lebih memilih bertemu dengan hamba yang lemah dan masih diberi rezeki oleh-Nya. Banyak dari kita melakukan kesalahan dengan melanggar hak Tuhan dan lebih mengedepankan untuk bsia memenuhi keinginan diri sendiri.
Para pembesar dan pengausa ayng demikian sulitnya ditemui itu tetaplah ciptaan-Nya. Mereka lebih lemah dari semut dan nyamuk. Mereka tidak bisa sepenuhnya menguasai diri mereka sendiri, lalu bagaimana mereka bisa menguasai orang lain?
Posisi mereka memang lebih tinggi dibandingkan manusia lainyya, namun tidak lebih tinggi dari Penciptanya. Tidak ada seorang pun aygn bisa mengungguli posisi Allah. Namun demikian, Allah Swt. selalu membuka jalan hingga kita dengan mudahnya bisa menemui-Nya. Pertemuan dengan-Nya selalu berbuah produktivitas akrena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dalam kekuasan-Nya semua terkendali, termasuk mengendalikan para pembesar dan penguasa.
Sesungguhnya Allah yang penuh cinta selalu merindukan bertemu dengan kekasaih-Nya, namun para pembesar dan penguasa seolah selalu memprovokasikan kebesaran dankemuliaannya.
Allah yang penuh cinta selalu memberi dengan penuh kedermawanan dan tidak pernah mengehntikan pemberian-Nya. Namun makhluk-Nya yang sombong enggan menemui-Nya, walau tetap mengharapkan pemberian-Nya. Inilah perbedaa antara ada dan tiadanya cinta.
Allah yang penuh cinta selalu rindu kepada kita walaupun kita terkadang masih suka bermaksiat kepada-Nya, sedangkan para pembesar yang notabene hanyalah makhluk-Nya, seolah selalu sibuk untuk bsia ditemui dan selalu mengharapkan kita selalu tunduk apdanya. Allah yang penuh cinta  selalu mengampuni dosa kita, menghapus kesalahn kita dan menggantikannya dengan kebaikan, sedangkan para pembesar yang notabene hanyalah makhluk-Nya, suka menghukum kita tanpa alasan sedikit pun, berbuat buruk kepada kita padahal kita tak melakukan kesalahan dan bahkan menghina kita. Meskipun demikian, masih banyak dari kita tetap pada kebodohannya. Kita tidak mengindahkan Alalh yang penuh cinta dan mengekor pada makhluk-Nya yang sombong dan angkuh.
Rasulullah saw. bersabda.
“Hamba yang beriman akan mendekati Tuhannya pada hari Kiamat kelak, hingga sedekat pundaknya dan akan dipaparkan dodsa-dosa yang telah dilakukannya. Tuhan mengatakan kepadanya, ‘Apakah kau tahu dosa ini? Apakah kau tahu dosa ini?’ Hamba berkata, Tuhanku lebih mengetahuinya.’ Lalu Allah mengatakan padanya, ‘Aku telah menutupinya untukmu ketika engkau di dunia dan Aku akan mengampuninya untukmu di hari ini.’ Setelah itu, dikaruniakan untuknya lembaran perbuatan baiknya,” (al-Hadits).

‘Betapa luas rahamat-Mu, wahai Tuhan Semesta Alam!
Betapa dalam cinta-Mu kepada hamba-hamba-Mu.
Walau mereka melakukan kesalahan.

Engkau menutupinya kala mereka masih di dunia dan
Menghapuskannya ketika mereka di akhirat.
Kami banyak melakukan kesalahan atas diri-Mu, menyalahi
Segala perintah-Mu, menjalankan larangan-larangan-Mu,
Melampaui batasan-Mu dan menodai kesucian-Mu, namun
Engkau tetap mencurahkan kasih-Mu pada kami dan tetap
Menyayangi kami. Kau tutup skandal kami dari
Pandangan keluarga kami dan para sahabat kami.
Kau hapuskan dosa kami dan menggantikannya menjadi suatu
Kebaikan untuk kemudian kau masukkan kami ke dalam
Kenikmatan yang Kau siapkan dalam naungan-Mu
Rasulullah, sosok Nabi penuh cinta bersabda :
“Demi jiwaku yang adal dalam kekuasaan-Nya, seandainya kaliant idak melakukan kesalahan, maka Allah akan membiarkan kalian dan mendatangkan kaum lainnya yang melakukan dosa untuk kemudian mereka memohon ampunan-Nya dan Allah mengampuni mereka.” (Al-Hadits).
Renungkanlah kadar rahmat Allah kepada kita, cinta-Nya kepada kita dan kemanjaan yang ditunjukkan-Nya kepada kita! Sungguh cinta Allah kepada kita sampai pada taraf  Dia memanjakan kita. Setiap dari kita adalah bagian dari Allah dan hal yang wajar bila Allah memanjakan bagian dari diri-Nya serta memberinya apa pun yang diinginkannya di dunia. Dunia seolah untuk kita, baik halal haramnya. Di kala kita melakukan dan menggantikan keburukan menjadi kebaikan. Kesemeuanya itu dilakukannya hanya untuk memanjakan kita hingga kita bisa mencintai-Nya dengan tulus.
Bukan hanya itu, bahkan Rasulullah saw. menggambarkan soso Allah Swt. sebagai sosok yang gemar mengampuni. Dia senang bisa mengampuni dosa hamba-Nya dan menghapuskan kesalahan hamba-Nya. Kesenangan-Nya tersebut menjadi satu kenikmatan tersendiri dan hal tersebut bukanlah hal yang aneh bagi Sumber Cinta.
Sebagian manusia yang memiliki kemurahan hati sangat senang untuk  bisa bertolenrasi dengans esamanya dan memaafkan kesalahan saudaranya. Dari sini bisa dipahami bahwa sifat memaafkan merupakan satu sifat yang sangat mulia. Kita sebagai manusia, walau memiliki hati yang bersih, hati yang sensitif dan perasaan cinta yang berlimpah untuk sesama, namun semua itu tidak sebanding dengan setitik cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Bagaimana bisa disamakan sedangkan Dia sangat suka mengampuni semua kesalahan hamba-hamba-Nya dan memberikan toleransi-Nya, meskipun mereka banyak melakukan kesalahan dan dosa?!
Cinta, kasih sayang dan pengampunan merupakan sifat terpenting Allah Swt. dan merupakan nama terbaik pada diri-Nya. Kebahagiian Allah terletak pada realisasi sifat dan nama-Nya, dan hal tersebut pun akhirnya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi hamba-hamba-Nya di kala mereka mengetahui cinta-Nya pada mereka dan kemurahan pengampunan-Nya pada mereka serta toleransi-Nya yang tinggi.
Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan dari Tuhannya mengungkapkan :
“Seorang hamba melakukan perbuatan dosa, kemudian ia beoda ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku melakukan perbuatan dosa dan ia mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang mampu mengampuni dosa.’ Lalu Dia mengampuninanya. Ternyata hamba itu kembali melakukan perbuatan dosa,d an ia kembali berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku melakukan perbbuatan dosa dan ia mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang mampu mengampuni dosa.’ Lalu Dia mengampuninya.dan, ternyata ia kembali melakukan perbuatan dosa, dan kembali berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosaku.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku melakukan perbuatan dosa dan ia amengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang mampu mengampuni dosa.’Lalu Dia mengampuninya dan menyatakan, ‘Aku telah mengampuninya maka lakukanlah apa yang kau inginkan!”. (HR Bukhari Muslim).
Pernahkah Anda merasakan cinta ayah Anda yang sangat ebsar kepada Anda? Namun kasih sayang Allah lebih besar dari itu. Dia mengampuni dan akan selalu mengampuni, walaupun kesalahan yang Anda lakukan selalu berulang; walaupun Anda tidak jera dan selalu melakukan kesalahan yang sama dan menumpuk dosa.
Di kala seseorang telah merasa bahwa ia melakukan kesalahan dan menyesal atasnya serta memiliki niat yang baik yang disertai cinta pada Tuhan dan keyakinan atas cinta Tuhan pada dirinya, maka Dia akan mengampuni kesalahannya walau sebanyak apapun dan semenumpuk apa pun. Dia akan menggantikansemua dosa itu menjadi satu kemuliaan.
Bila seorang dari kita adalah seorang yang dekat dengan penguasa, maka tidak heran bila ia akan selalu bersandar pada kekuasannya dan bertindak atas namanya. Ia akan melakukan apap pun yang bisa dilakukannya, walau pun hal tersebut melanggar adat-istiadat ataupun undang-undang yang berlaku. Ia tidak pernah takut akan timbul berbagai permasalahan ataupun hukuman.
Semuanya itu karena ia memegang jaminan nama penguasa yang menjadi orang terdekatnya atau bahkan saudaranya dengan silsilah yang sangat jauh. Namun, jabatan penguasa hanyalah jabatan sementara. Walaupun besar kekuasaan yang dipegangnya, semua itu kelak akan hilang.
Hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kekuasaan Yang Maha Penyayang. Bagaimana seandainya Tuhan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu adalah sosok yang sangat dekat dengan kita? Bagaimana bila Tuhan semesta alam ini mencintai kita dan megasihi kita? Dia selalu siap menjadi penopang kita, menjaga kita dari semua kemungkinan buruk, mengampuni semua dsoa kita, merespons segala permintaan kita dan memanjakan kita dengan menutupi semua aib kita? Bagaimana bila kita yakin akan cinta Allah pada diri kita, dan kita yakin bahwa Dia akan selalu menjaga kita?
Tentunya, dengan smua itu kita bisa bebas melakukan apa pun  yang kita inginkan! Kita tidak akan takut melakukan apa pun dan kepada siapa pun. Walau terkadang sebagian perbuatan kita sangatlah buuruk, sesungguhnya Allah akan memahami dan menoleransinya.
Setiap orang pastinya pernah melakukan kesalahan. Setiap dari kita tentunya pernah ebrdosa walau hanya dengan satu kalimat, satu pandangan ataupun satu pikiran, walaupun hal itu hanyalah dugaan semata. Namun kesemuanya itu akan diampuni bila kita meyakini Cinta-Nya.
Rasulullah saw. bersabda :
“Setiap orang penah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat atasnya.” (al-Hadits).
Melakukan kesalahan adalah satu ciri khas kita sebagai manusia, dan hal tersebut berkaitan dengan karakteristik kita yang lemah dan “instink primitif” kita.ktia tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari kesalahan kecuali dengan kasih sayang Tuhan yang memahami kondisi dan kelemahan kita. Rahmat-Nya yang luas, juga limpahan kasih sayang dan ampunan-Nya akan mampu menghapuskan semua kesalahan yang pernah kita lakukan.
Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau berkata kepada para sahabatnya :
“Sebelum kalian hidup, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 (sembilan puluh sembilan) orang, lalu ia berniat untuk bertobat, kemudian ia bertanya perihal orang yang bisa menunjukkan cara bertobat dan ia dianjurkan untuk menemui seorang pendeta. Ia lalu beranjak menemuinya dan bertanya padanya dengan mengatakan, ‘Aku telah membunuh 99 orang, apakah aku masih bisa bertobat?’ Pendeta tersebut mengatakan. ‘Tidak’. Lelaki itu lalu membunuh pendeta tersebut dan menyempurnakan korbannya menjad 100 orang.
Kemudian ia kembali bertanya kepada banyak orang akan seseorang yang lebih berpengalaman dan memiliki ilmu pengetahuan. Mereka menyuruhnya menemui  seorang ulama. Lalu ia bergegas menemuinya dan mengatakan padanya, ‘Aku telah membunuh 100 orang, apakah aku memiliki kesempatan untuk bertobat?’ Dijawab oleh ulama itu, ‘Tentu! Tidak ada yang bisa menghalangimu untuk bertobat! Pergilah ke suatu negeri.
Di sana kau bisa menemui orang-orang yang menyembah Allah dan sembahlah Allah bersama mereka. Jangan kembali ke negerimu karena negerimu sudah penuh dengan kebururkan.’ Lelaki tersebut lalu mengikuti saran yang diberikan. Ia pun beranjak menuju suatu negeri yang ditunjukkan agar ia bisa menyembah Allah bersama orang-orang yang saleh.
Namun di tengah perjalanan, datanglah malaikat maut dan mencabut nyawanya. Kemudian datanglah malaikat untuk menghitung segala amal perbuatannya dan mereka berbeda pendapat akan perihal dirinya. Malaikat Rahmat berpendapat bahwa lelaki tersebut sudah akan bertobat dan menemui Allah. Sedangkan Malaikat Azab berpendapat bahwa lelaki itu belum sempurna melakukan kebaikan yang ingin dicapainya. Lalu datanglah seorang malaikat dalam sosok manusia dan menjadi penengah antara keduanya dengan mengatakan, ‘Ukurlah jarak antara negeri yang ditinggalkan dan negeri yang ditujunya! Mana yang paling dekat, maka itulah bagiannya!’ Lalu Allah memerintahkan jalan kemaksiatan untuk menjauh dari jalan menuju tempat tobat semakin mendekat. Diukurlah jarak antara dia negeri dan didapati bahwa jarak menuju negeri untuk bertobat telah dekat sedikit dan akhirnya lelaki tersebut pun mendapat pengampunan-Nya.” (Al-Hadits).
Renungkanlah akan cinta Allah dan kasih sayang-Nya kepada anak manusia. Bahkan, kepada orang yang berbuat jahat dan banyak berbuat dosa, cinta-Nya tidak berubah. Padahal kejahatan yang dilakukan adalah kejahatan terbesar, yakni membunuh orang, dan korbannya bukan seorang, tapi seratus orang. Meskipun demikian, dengan bermodalkan niat untuk bisa bertobat, semua kejahatannya seolah tertutupi. Sekedar niat untuk bisa kembali ke pangkuan-Nya dan taat kepada-Nya mampu menghapus semua kejahatan yang telah dilakukannya dan menghapuskan semua noda hitam dari dalam dirinya untuk kemudidan menjadikannya putih bersih. Sesungguhnya, Allah telah mengampuni semua dosanya.
Kisah orang di atas mengingatkan kita akan pepatah yang mengatakan : “Kekasihmu akan sellau menghapuskan segala kesalahanmu dan musuhmu akan selalu mengharapkan kau berbuat salah!”
Kejahatan yang dilakukan lelaki di atas sebenarnya telah membuatnya berhak mendapatkan hukuman aygn sangat berat, yakni kekal dalam neraka dan azab-Nya. Namun cinta-Nya telah menghapuskan semua kejahatan laki-laki tersebut. Sesungguhnya Allah yang penuh cinta menghapuskan semua dosa, walaupun itu dosa terbesar dan mengampuni segala kemaksiatan yang kita lakukan.
Bukankah itu bukti bahwa Allah sangat memanjakan kita semua dan bukti bahwa Dia selalu siap untuk memahami semua kondisi kita kecuali penghianatan dalam cinta dan menduakan-Nya.
Dengan bermdoal niat, seorang lelaki terbebas dari segala kesalahannya dan kembali ke naungan Yang Maha Penyayang yang menhapus semua dosanya. Bahkan Dia pun menundukkan untuk hamba-Nya hukum alam, hukum geografi, geologi, matematika, statistik antara satu negeri dengan negeri lain dan ssatu benua dengan benua lain dan banyak lainnya. Semua itu ditundukkan untuk kepentingan hamba-Nya yang inginbertobat. Allah memerintahkan negeri di mana lelaki tersebut berbuat maksiat untuk menjauh dan negeri di mana lelaki itu akan bertobat untuk mendekat. Semua itu dilakukan agar lelaki tersebut kembali ke pangkuan-Nya dan memasukkannya ke dalam kenikmatan-Nya.
Diriwayatkan dari Rasulullah dalam hadits Qudsi bahwa Allah Swt. berkata :
“Serulah  hamba-Ku. Bila mereka bertobat, maka Aku akan menjadi kekasih mereka. Namun bila mereka belum bertobat, maka Aku akan menjadi dokter (penyembuh) mereka.” (Al-Hadits).
Sungguh, setiap orang pasti pernah dan akan melakukan kesalahan. Namun demikian, kita semua adalah ciptaan-Nya dan Allah-lah yang menciptakan kita. Dengan demikian, maka Dia bertanggung jawab atas diri kita, bertanggung jawab atas seluruh manusia, khususnya apda mereka yang banyak melakukan kesalahan, baik yang telah bertobat maupun yang masih melakukan kejahatan. Mereka yang bertobat akan menjadi kekasih-Nya dan mereka yang masih belum bertobat akan menjadi pasien-Nya.
Kekasih sejati akan selalu menyenangkan kekasihnya dan melimpahinya dengan berbagai kenikmatan. Dokter yang hebat adalah dokter yang mampu menjaga dan merawat pasiennya hingga pasiennya sembuh. Cinta apakah yang lebih hebat dari semua ini? Kasih sayang apa yang lebih luas dari semua ini? Kemurahan mana yang lebih melimpah dari semua ini?
Sesungguhnya, hanya Dia-lah yang mempu memberikan cinta-Nya tanpa batas, mencurahkan kerinduan-Nya dengan sesuatu yang tiada akan bisa dibayangkan dan memanjakan kekasih-Nya di luar imajinasi siapa pun.
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari, suatu kaum membawa seorang lelaki dalam keadaan mabuk. Ketika para sahabat melihat lelaki tersebut, mereka berkata, ‘Semoga Allah melaknatnya! Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemabuk!” Namun Rasulullah saw. melarang pada sahabat melaknatnya dengan mengucapkan :
“Janganlah kalian melaknatnya. Sesungguhnya lelaki itu sangat mencintai Allah dan Rasulnya.” (al-Hadits).
Bukankah Anda bsia memahami hadits di atas! Cinta mampu memaafkan segalanya. Cinta mampu mengamnesti segala kesalahan. Seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya menjadi tidak berhak lagi dilaknat, walau pun apda saat itu dalam kondisi lemah,d an walaupun pada saat itu ia bergelimang dalam dosa.
Memang, kesalahan yang dilakukannya (yakni menum khamar) bisa digolongkan sebagai kesalahan besar. Namun pada dasarnya, lelaki tersebut memiliki hati yang baik. Ia memenuhi hatinya dengan kemurahan hati. Karenanya yang dibutuhkannya adalah terapi dan bukan laknat. Walaupun lelaki tersebut manjdi tak berdaya di hadapan khamar, pada dasarnya ia banyak melakukan kebaikan, dan Muhammad saw. sebagai sosok Nabi penuh cinta tidak ingin kaumnya menutup mata akan hal itu. Lelaki tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan, kebaikan dan keburukan. Walaupun kesalahan dan kelemahannya lebih banyak, cinta mampu mengamnesti semua itu. Cinta sejati dari Yang Maha Pecinta akan menjadi jaminan akan amnesti tersebut.
Sungguh benar apa yang kau katakan dan lakukan, wahai Rasulullah! Tidaka da yang bisa membersihkan hati dan nurani dan memurnikan jiwa dan dada serta meningkatkan kualitas fisik kecuali cinta.
Tidak ada sesuatu pun yang mempu menghilangkan kedengkian dan dosa, menjauhkan keburukan dan kehinaan. Menahan segala kekerasan, menghilangkan kecemburuan serta menghapuskan kebencian kecuali cinta.
Sesungguhnya cinta mampu membersihkan dan menyucikan,e memuliakan dan mengangkat derajat serta meninggikan martabat. Cinta pun mampu mempertautkan jiwa kita dengan banyak hal dan membuat kita lebih dekat kepada malaikat dibanding dengan materi dunia, walaupun kita bergelimang keburukan dan kesalahan.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, datang seorang lelaki menemui Rasulullah saw. dalam keadaan gemetar dan ketakutan karena kesalahan yang telah dilakukannya. Ia berinisiatif untuk mengadukan dosanya kepada Rasulullah saw. dengan segala keputusasaan yang dimilikinya. Rasul mencoba menenangkan hati lelaki tersebut dengan mengatakan keapdanya, “”Apakah kau juga melakukan shalat sebagaimana kami?” lelaki tersebut lalu menjawab, “Tentu!”. Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Kalau begitu, jangan takut! Sesungguhnya kebaikan akan menghilangkan keburukan!” (al-Hadits).
Demikianlah Rasulullah menghilangkan ketakutan pada diri lelaki tersebut dan menghapuskan keputusasaannya hingga lelaki tersebut kembali percaya diri dan kembali ke pangkuan Tuhannya dengan  memohon ampunan dan bertobat keapda-Nya, dengan penuh cinta dan ketaatan.
Rasulullah saw. bersabda :
“Bertakwawalah keapda Allah di mana pun kau berada dan iringilah keburukan dengan kebaikan yang menghapusnya serta perlakukan sesama dengan sebaik-baiknya perlakuan.” (a;-Hadits).
Wahai orang yang beriman, jangan takut akan kesalahan yang telah kau lakukan! Jangan membesarkan dosamu! Jangan berputus asa atas emua dosa yang telah dilakukan. Sesungguhnya rahmat Allah bagi kita sangat berlimpah dan cinta-Nya sangatlah dalam. Pintu-Nya selalu terbuka setiap saat, baik malam maupun siang hari, untuk menemui kita. Telapak tangan-Nya selalu terbuka untuk memeluk kita tanpa peduli seberapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan, terlebih bila kita mampu menyertai kesalahan yang kita lakukan dengan kebaikan yang secara otomatis akan menghapus kesalahn itu sendiri. Bahkan lebih dari itu, atas rahmat-Nya-lah maka sebuah kebaikan akan mampu menghapuskan sepuluh keburukan, dan kejujuran akan mampu menghapuskan sepuluh kesalahan. Sesungguhnya kesalahan hanya akan dibalas dengan kadarnya serupa, sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.
Rasulullah saw. selalu menyeru kita untuk bertobat kepada Allah dan meminta ampun pada-Nya serta menjaga cinta dan kasih sayang-Nya. Sesungguhnya kita hanyalah makhluk-Nya yang lemah, yang rentan melakukan berbagai kesalahan dan dosa.
Rasulullah saw. bersabda :
“Wahai orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya! Sesungguhnya aku bertobat keapda-Nya seratus kali setiap harinya.” (al-Hadits).
Renungkanlah bagaimana seorang Rasul, seorang pemimpin yang telah diakui sebagai sosok yang suci, tidak bebas dari kesalahan. Rasulullah menyadari bahwa dirinya pun rentan terhadap kesalahan dan dosa, walau hanya sekedar ide ataupun pikiran. Namun demikian, beliau tetap bertobat kepada Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya amanusia biasa? Manusai Yang sangat lemah, yang selalu melakukan kesalahan dan dosa!
Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.s esungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar (39) : 53).
Mereka yang menanamkan ketakutan dan putus asa dalah hati manusia dan mereka yang mengarahkan manusia kepada kehancuran hanya karena setitik kesalahan yang pernah dilakukan, sesungguhnya mereka adalah pesakitan yang gemar menyiksa hati manusia. Mereka seolah ingin saudara mereka kekal dalam neraka.’
Sesungguhnya kesalahan dan dosa mereka lebih besar, karena sedikit besarnya dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang umumnya dilakukan karena lemahnya keinginan dan ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Jelas, dosa dan kesalahan mereka yang menanamkan ketakutan lebih besar lagi, karena mereka menidadakan cinta Allah dan kasih sayang-Nya dalam diri banyak orang. Mereka menanamkan kebencian dan kedengkian dalam diri yang justru mengarahkan orang untuk semakin berbuat jahat.
Pada dasarnya niat mereka baik. Mereka mencoba menghapuskan keburukan dalam diri manusia, namun jalan yang mereka tunjukkan salah, karena justru mengarahkan manusia kepada siksaan moral di dunia dan akhirat. Mereka menakuti banyak orang dengan kejamnya neraka, dengan azab yang tiada henti dan kesakitan yang tiada tara. Mereka yang menanamkan ketakutan inilah yang sebenarnya orang-orang yang berhati dingin dan merupakan seburuk-buruknya manusia. Merekalah yang lebih layak mendapatkan azab dan siksa-Nya.
Rasulullah saw. bersabda :
“bila kalian mendengarkan seseorang mengatakan, ‘Sungguh akan hancur manusia!” maka sesungguhnya dialah yang menghancurkannya.” (al-Hadits) Atau yang menambah kehancuran manusai.
Ya Tuhan kami, bersihkanlah hati kami dari kedengkian,
Dari segala bentuk syahwat dan hinaan, dari kelemahan diri
Yang menhancurkan dan dari kebencian.
Tanamkanlah dalam hati kami cinta dan kasih sayang!
Limpahkanlah hati kami dengan berbagai macam
Kebajikan dan tumbuhkanlah darinya kemurahan dan kelembutan

Ya Tuhan kami, wujudkanlah tujuan hidup kami!
Serulah kami menuju jalan-Mu dan jadikan kami selalu
Mengagungkan keagungan-Mu.
Rasulullah saw. selalu menyeru kepadaTuhannya dengan doa sebagai berikut :
“Ya Allah, limpahkanlah diriku dengan cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencitai-Mu dan cinta kepada perbuatan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” (al-Hadits).

CINTA SESAMA MANUSIA

Hubungan yang terjalin antara cinta Allah dan makhluk adalah hubungan yang terkait erat. Cinta yang sangat kuat dan tidak bisa dipisahkan. Salah satu bukti cinta kepada Allah adalah cinta kepada makhluk-Nya. Barangsiapa yang cinta kepada sesuatu bentuk ciptaan, maka hal tersebut menunjukkan kecintaan kepada penciptanya. Inilah yang diarahkan oleh Muhammad saw.  Bila kita mencintai Allah, maka sudah seyogyanya kita mencintai makhluk-Nya.
Makhluk dan ciptaan Allah yang paling mulia dan paling dicintai-Nya adalah manusia. Akrenanya, tak heran bila kemudian Muhammad saw. sangat mencintai sesamamnya. Perasaan cinta ini haruslha melibatkan emosi dan perasaan. Semua itu harus terintegrasi dengan baik, yakni cinta yang penuh kasih. Dengan demikian, maka cinta keapda sesama mengandung makna bergaul dengan sesama dan memperlakukan mereka dengan perasaan terbaik dan perilaku terpuji, baik melalui perkataan maupun perbuatan tanpa mengharapkan pamrih apa pun.
Sesama manusia dalam kosakata Nabi Muhammad saw. bukan berarti satu individu saja, namun juga mencakup ibunya, saudara perempuannya dan anaknya. Juga ayahnya, saudara lelakinya dan anak laki-lakinya.
Sesama manusia, berarti semua manusia di setiap masa dan teampt; dari berbagai jenis dan warna kulit; dari setiap agama dan aliran. Semua itu adalah kekasih Muhammad saw. tanpa dibatasi jenis dan segmentasi umurnya. Beliau bukan hanya mencintai seseorang, namun juga ayah ibunya, saudaranya dan juga anak-anaknya.
Muhammad saw. mencintai sesama dan hidup bersama mereka dalam suka dan duka. Beliau tinggal dengans esama dan mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mereka setiap waktu. Beliau berusaha memenuhi kebutuhan sesamanya, memecahkan permasalah mereka, mengorganisasi kehidupan mereka dan mepayani siapa pun yang membutuhkannya.
Rasulullah saw. bersabda
“Melakukan aktivitas bersama dengan seseorang karena suatu kebutuhan bersama lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku pada bulan ini,” (Al-Hadits).
Muhammad saw. menempatkan pelayanan keapda sesamanya dalam memenuhi kebutuhan mereka dalam tingaktan yang lebih tinggi. Muhammad saw. menajdikan hal tersebut sebagai satu fasilitator yang mendekatkannya kepada Allah dan sebagi satu aktivitas ibadah yang memiliki substansi yang sangat berlipat, melebihi i’tikaf di Masjid Nabawi.
Beberapa langkah yang diiringi cinta, beberapa tapak cinta yang ditempuh manusia untuk memenuhi kebutuhan sesamanya hanya amemerlukan waktu yang sekejap. Namun demikian, nilainya di mata Allah serupa dengan ibadah satu bulan penuh. Satu bulan di mana seseorang beri’tikaf seraya melakukan puasa dan shalat di dalam masjid di setiap waktu.
Beberapa tapak cinta untuk memenuhi kebutuhan sesama bagaikan ibadah kepad Allah selama satu bulan lamanya. Satu bulan penuh di saat seseorang dilarang untuk melakukan banyak hal. Satu bulan di mana seseorang mengurung diri demi beribadah keapda-Nya. Satu bulan di mana seseorang mengalokasikan semua waktunya untuk melakukan shalat dan puasa, berdoa dan bemunajat, bertahmid, bertasbih dan bertakbir di rumah Allah. Satu buan di mana seseorang jauh dari keluarganya, anaknya dan kerabatnya. Satu bulan penuh di mana seseorang berzuhud dan melajangkan dirinya.
Sungguh menakjubkan di mana satu bulan tersebut setara dengan beberapa detk seseorang memenuhi kebutuhan sesamanya. Sungguh tinggi posisi yang diberikan Muhammad saw. kepada mereka yang mencintai sesama dan melayaninya.
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki beriman menemui dan bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah?” Rasulullah lalu menjawabnya :
“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” (Al-hadidts).
Berdasarkan hadits di atas bisa dipahami mengapa Rasulullah dengan sekuat tenaganya tidak hanya mencintai seseorang, namun juga mencakup saudara, anak-anaknya dan kerabatnya. Dengan kata lain beliau mencintai semua manusia yang ada.
Beliau selalu mencoba memberikan berbagai pengobatan demi ketenangan sesamanya. Melakukan aktivitas seoptimal mungkin demi sesamanya. Bekerja demi membahagiaan mereka. Beliau pun menganjurkan sesamanya untuk bisa saling menolong agar kelak mendapatkan keridhaan dan cinta Allah, serta mendapatkan limpahan kasih sayang-Nya dan mereguk keberkahan dari-Nya.
Sungguh, cinta lebih utama daripada pelaksanaan ibadah, karena cinta adalah kewajiban yang paling murni dan ibadah yang paling baik. Bahkan, cinta merupakan suatu dasar dan substansi dari ibadah. Tanpa cinta, maka tidak akan ada kebajikan dalam setiap kewajiban ataupun ibadah. Tidak akan pernah ada manfaat yang tampak dari puasa ataupun shalat bila pada pelaksanannya tidak diiringi dengan cinta. Tidak akan pernah ada manfaatnya bila zakat ataupun haji jika dilakukan tanpa cinta.
Hati dan ruh selalu lebih dipriorotaskan. Setelahnya, barulah dipadukan dengan tubuh dan segala organnya. Semua ini dikarenakan hati dan ruh adalah penggerak tubuh.
Shalat adalah penghubung antara Tuhan dan makhluk-Nya. Shalat adalah satu bentuk doa dan munajat, dan satu fase di mana seorang hamba memfokuskan dirinya hanya kepada Tuhannya. Tanpa keikutsertaan hati dan ruh, tanpa keikutsertaan cinta yang ada pada keduanya, maka shalat hanya akan menjadi gerakan fisik belaka yang tidak mengandung makna.
Demikian halnya dengan puasa. Tanpa cinta, puasa hanya akan dianggap sebagai penyiksaan pada diri sendiri. Juga zakat yang apabila dilakukan tanpa cinta, ia laksana kemunafikan. Demikian juga dengan ibadah-ibadah lainnya.
Apa manfaat shalat dan puasa bila dilakukan dengan hati yang penuh dengan kebencian? Apa manfaat zakat dan haji bila dilaksanakan dengan hati yang penuh kedengkian? Tidak akan pernah ada manfaat semua kewajiban dan ibadah bila dilakukan dengan hati yang penuh kecemburuan dan keburukan.

Pada dasarnya, cinta itu sendiri merupakan ibadah. Cinta adalah kebajikan. Cinta adalah kejujuran dan cinta adalah kebahagiaan.

Cinta adalah Allah. Satu-satunya sesembahan, yang merupakan sumber segala kebajikan, kejujuran dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw. berkata kepada para sahabtnya.
“Di antara semua hamba Allah ada sekelompok orang yang bukan nabi ataupun kelompok orang yang mati syahid, namun mereka akan selalu berada dengan para nabi dan syuhada di hari Kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah Swt.”
Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepada kami, siapakah mereka sebenarnya?”
Rasulullah lalu berkata :  “Mereka adalah sekelompok kaum yang melakukan segala aktivitasnya dengan hati mereka demi mendapatkan keridhaan Allah, dab bukan karena kekerabatan ataupun harta. Demi Allah, bila didapati cahaya, maka mereka sesungguhnya berhak mendapatkan lebih daripadanya. Mereka tidak pernah takut di kala sesamanya takut akan sesuatu,d an tidak pernah merasa sedih di kala sesamanya merasa sedih akan sesuatu.” (al-Hadits).
Demikianlah orang yang penuh cinta mendapatkan posisinya yang sangat mulia. Mereka mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia serta kenikmatan di akhirat kelak. Mereka pun menjadi demikian dekatnya dengan Allah serupa dengan dekatnya posisi para nabi dan orang yang mati syahid di jalan-Nya, dan semua itu didapatkan karena mereka mencintai sesamanya dalam perspektif kemanusaiaan, tanpa memandang garis keturunan, kekerabatan maupun kepentingan tertentu. Mereka mencintai sesamanya danpa harus memandang ikatan tertentu, ataupun kepentingan tertentu. Mereka mencintai sesamanya karena Allah, dengan hati yang berintegrasi dengan Allah, tanpa suatu paksaan ataupun pragmatisme tertentu.
Mereka telah mencitai sesamanya, maka wajar bila kemudian Sang Pencipta mencintai mereka dan menghapuskan kegelapan dari penglihatan mereka,s erta menghapuskan segala ketakutan dan kesedihan dari jalan mereka. Dia pula yang menghiasai wajah mereka dengan cahaya, melimpahkan ketenangan dalam hati mereka dan mendatangkan kegembiraan dalam diri mereka.
Dia pun memberikan posisi terbaik bagi mereka di surga Firdaus-Nya. Satu tempat yang penuh kenikmatan yang diperuntukkan bagi para nabi dan mereka yang mati syahid di jalan-Nya. Kelak mereka akan mendapatkan keamanan yang abadi. Mereka mendapatkan kebahagiaan yang terus berkelanjutan di dunia dan di akhirat. Demikianlah cinta Muhammad, pemimpin para nabi dan mereka yang beriman.
Muhammad saw. mencintai semua orang, di segala penjuru negeri. Beliau mencintai siapa pun, baik yang hitam maupun yang putih kulitnya, kuning maupun merah kulitnya. Beliau mencintai semua segmentasi umur, baik yang muda maupun tua; dengan segala kondisinya, baik miskin maupun kaya; laki-laki maupun perempuan; anak kecil maupun lanjut usia. Muhammad saw. mencintai setiap orang di muka bumi ini dan beliau berikrar dalam dirinya untuk bsia selalu memberikan petunjuk dan kebahagiaan bagi sesamanya.
Hatinya yang penuh dengan cinta kepada setiap individu telah membuatnya terpilih  menjadi utusan Allah aygn mendapatkan amanah untuk bisa memberikan petunjuk kepada seluruh manusia. Hal ini dipahami dari universalitas ajarannya bagi semua manusia, dengan ssegala sukunya. Semua itu dikarenakan semua manusia tanpa terkecuali adalah kekasihnya. Hal ini dipahami dari firman-Nya sebagai berikut :
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta  alam.” (al-Ambiyaa (21) : 107).
Sedangkan ayat lain yang menegaskan bahwa Rasulullah di utus kepada seluruh umat manusia adalah firman-Nya sebagai berikut :
“Katakanlah, “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (al-A’raaf (7) : 158). Yakni sesungguhnya aku diutus kepada seluruh manusia.
Sesungguhnya Muhammad sae. Adalah nabi yang mewakili semua rasul yang pernah ada. Ajarannya universal dan tidak terbatas pada suatu kaum tertentu saja, atapun satu suku tertentu saja. Ajarannya berlaku bagi seluruh umat manusia di segala penjuru  negeri.
Allah Swt. memilihnya untuk bisa memberikan petunjuk bagi umat manusia karena hatinya yang penuh cinta dan kasih sayang bagi semua orang tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya. Juga karena perasaannya yang mendalam dan kepeduliannya terhadap sesama. Ia selalu sisap mengorbankan dirinya untuk bisa memberikan petunjuk terbaiknya dan juga memberikan kebahagiaan bagi sesama.
Setiap individu manusia adalah kekasih dan saudaranya, baik itu kaum mukminin maupun kaum musyrikin; baik yang lurus hatinya maupun yang gemar membangkang; yang sepakat maupun yang bertentangan dengannya; baik yang penuh cinta maupun penuh kebencian; baik kerabat maupun orang asing; juga sebagai tetangga maupun bukan tetangganya.
Dikisahkan bahwa pada suatu waktu, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Lalu tampaklah iringan manusia mengangkat sesosok jenazah seorang Yahudi. Rasulullah saw. lalu beranjak dari duduknya dan berdiri dengan penuh hormat tanpa teruap sepatah katapun darinya. Beliau berdiri hingga jenazah tersbut hilang dari pandangannya.
Para sahabat heran dengan apa yang dilakukan Rasulullah dan mereka pun berkata padanya, “Jenazah tersebut adalah jenazah seorang Yahudi wahai Rasulullah!”
Rasulullah menjawab keheranan mereka dengan ucapannya, “Apakah dia itu bukan manusia?” Rasulullah lalu melanjutkan perkataannya :
“Bila kamu meliaht iringan orang membawa jenazah, maka berdirilah!” (al-Hadits).
 Sungguh benar apa yang kau utarakan, wahai Nabi aygn penuh cinta! Seseorang adalah tetap manusia apa pun agamanya. Setiap makhluk yang mati memiliki kemuliaan atau kehinaan tersendiri walau pun makhluk tersebut hanyalah anjing. Namun demikian, mereka memiliki kesamaan, yakni sama-sama makhluk Allah.
Segala bentuk balasan hanyalah hak veto-Nya dan tiada seorang pun berhak mencampuri urusan-Nya.s esungguhnya cinta, rahmat dan ampunan-Nya lebih luas dan lebih mendalam dari apa yang bisa kita bayangkan.
Dikabarkan bahwa raja negeri Habasyah, kini Etiopia, meninggal dunia. Ia adalah seorang Nasrani yang kemudian memeluk Islam jauh sebelumMuhammad menyerunya untuk memeluk Islam. Ia tidak berani menampakkan keislamanyya karena takut akan reaksi kaumnya. Karena keislamannya tersebut, maka tak heran bila selalu berbuat baik kepada kaum muslimin dan memuliakan mereka. Tatkala dikabarkan bahwa ia telah meninggal, Rasulullah sangat berduk atasnya. Lalu beliau menyeru para sahabtnya dan kaum muslimin untuk melakukan shalat gaib. Rasulullah menshalatkan Raja Najasyi yang suka berlaku baik kepada kaum muslimin dan kaum muslimin mengikuti apa yang dilakukannya. Rasulullah bersama kaum muslimin pun mendoakannya agar selalu mendapatkan rahmat dan pengampunan-Nya. (al-Hadits).
Sungguh, setipa manusisa memiliki posisi aygn sama dalam pandangan Muhammad saw. Setipa manusia dicnintainya, baik ia seorang Yahudi, Muslim, Nasrani  maupun Budha; baik ia orang Ameraka. Bahkan orang  yang hanya memiliki keyakinan atau kepercayaan (bukan agama) dan orang kafir pun memiliki posisi dalam hatinya yang sangat luas. Mereka semua masuk dalam cakupan kepeduliannya dan pemikirannya untuk memberikan petunjuknya yang terbaik sehingga mereka semua bsia sampai pada jalan yang benar. Hal ini dipahami dari firman-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, sisapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudidan dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Maa’idah (5) : 69).
Seorang musyrik menjadi tetangga Muhammad saw. Ia tidak henti-hentinya menghina Rasulullah dengan melemparkan beragam sampah dan kotoran binatang di depan pintu rumah beliau saw. setiap pagi. Rasulullah hanya merespon perbuatan buruknya tersebut dengan penuh keramahan dan toleransi. Bahkan, beliau menyerunya kepada hidayah Allah.
Pada suatu saat, Rasulullah keluar dari rumahnya dan tidak seperti biasanya, ia tidak menemukan kotoran apa pun yang biasa beliau temui. Rasulullah lalu menanyakan kabar lelaki yang biasa melemparkan kotoran tersebut dan diketahui bahwa ia sedang sakit. Air muka Rasulullah berubah saat mendengar kabar tersebut dan dengan segera beliau meninggalkan segala aktivitasnya.
Beliau segera beranjak menuju rumah lelaki musyrik tersebut untuk menjenguknya. Tak lupa, beliau menanyakan keperluan yang dibutuhkannya dan mendoakn kesembuhannya. Di saat lelaki tersebut melihat Rasulullah berasda dalam rumahnya, ia begitu terkejut dan tersentak. Lalu ia berkata kepada Rasulullah, “Kejahatanku sangatlah banyak kepadamu dan engkau datang menjengukku, menanyakan kebutuhanku dan mendoakanku. Tidak diragukan lagi bahwa engkau bukanlah manusia biasa. Kini aku meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah.” Lelaki tersebut pun lalu mendekralasikan keimanannya kepada agama yang penuh cinta dan ketauhidan. (al-Hadits).
Renungkanlah, wahai hati yang penuh cinta! Rasulullah sama sekali tidak memiliki kedengkian pada siapa pun. Bahkan tidak mampu mendengki kepada siapa pun. Beliau tidak menyisakan sedikit pun ruang hatinya untuk bsia membenci orang, bahkan pada kaum musyrikin dan musuh-musuhnya. Beliau memberikan respons yang berbeda jauh dengan apa yang dilakukan para musuhnya kepadanya. Beliau membalas semua keburukan dengan kebaikan dan menggantikan semua kedengkian dengan limpahan kasih sayang serta kebencian dengan cinta.

Sungguh, cinta mampu menciptakan keajaiban.
Panah cinta mampu menghabisi semua virus kebencian dan racun kedengkian dalam dada.
Cinta akan mampu menghapus sisi buruk seseorang dan menghilangkan kedengkian dalam dadanya.
Dengan perlahan, cinta mampu mengubah perilaku buruk seseorang menjadi sosok yang tenang dan damai dengan kebaikannya.
Dan, mengubah sosk yang beringas menjadi sosok yang murah hati.

Anda tidak akan mampu melepaskan kebencian dalam diri keccuali dengan cinta. Anda punt idak akan bisa menghilangkan keburukan dengan hal lain kecuali dengan kebajikan.
Balaslah keburukan dengan kebaikan, kedengkian dengan kasih sayang, dan kebencian dengan cinta, maka Anda akan menemukan keajaiban!
Sosok orang pertama  yang berhak mendapatkan cinta dan kebajikan adalah orang tua dan kerabat. Akrenanya tak heran bila Rasulullah selalu memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan kerabat. Hal ini tampak dalam firman-Nya, “Dan beruat baiklah kepada ibu bapak.” (al-Baqarah (2) : 83).
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (a;-Israa (17) : 23).
“Dan rendahkanlah dirimu terhadp mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (al-Israa (17) : 24).
Rasulullah saw. bersabda.
“Surga di bawah telapak kaki ibu.” (al-Hadits)
Diriwayatkan bahwa suatu saat, seorang lelaki datang menemui Rasululah dan bertanya, “Siapakah orang yang lebih berhak mendapatkan perlakuakn yang baik dariku, wahai Rasulullah!” Rasulullah menjawab, “Ibumu...”
Lelaki itu kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Dijawab, “Ibumu....”
Ditanya kembali, “Lalu siapa lagi?” dijawab, “Ibumu....”
Lalu ditanya lagi, “Lalu siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Lalu ayahmu.” (al-Hadits).
Ibu mendapatkan priorotas utama dan hal tersebut ditegaskan oleh Rasulullah dalam jawabannya sebanyak tiga kali secara beuntun. Ibulah yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Setelahnya, barulah ayah mendapatkan priorotas kedua. Ayahlah yang bekerja keras membanting tulang menafkahi keluarga. Keduanya berjuang keras untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Keduanya mengorbankan waktunya, istirahatnya,d an hartanya demi kebahagiaan anaknya. Keduanya mengerahkan segala tenaga yang dimilikinya agar anaknya mendapatkan apapun yang diinginkannya. Semua paparan ini tidak bermaksud meminta kita untuk menggantikan apa yang telah mereka berikan! Namun lebih kepada memberikan cinta yang tulus kepada keduanya dengan sebaiknya.
Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Salma, ia berkata “Aku menemui Rasulullah saw. lalu kukatakan padanya, “Ya Rasulullah, aku ingin berjihad bersamamu. Aku mengharapkan keridhaan Allah dan mengharapkan hari akhir yang lebih baik.’ Lalu Rasulullah bertnaya padaku. “Apakah ibumu masih hidup?” Kukatakan ‘Masih!’ Beliau mengatakan keapdaku, “Pulanglah dan beruat baiklah kepadanya!’  Lalu aku menanyakan hal yang sama dengan kodnsi yang berbeda. Aku menghadapnya dan mengulang pertanyaan tersebut. Beliau hanya mengatakan padaku, ‘Sudahlah! Taati ibumu! Sesungguhnya surga di bawah telapak kaki ibu.” (al-Hadits).
Kau beanr wahai Rasulullah! Cinta orang tua, taat dan berbakti kepada keduanya adalah priorotas cinta dari semua cinta kepada makhluk dan merupakan kewajiban bagi setiap individu manusia. Bahkan, kewajiban berbakti kepada orang tua lebih utama dibandingkan berjihad di jalan-Nya. Sungguh, hal tersebut bukanlah hal yang aneh! Sesungguhnya, Allah memberikan toleransi bila kita belum mampu memberikan hak-Nya, namun Dia tidak memberikan toleransi bila kita tidak mampu memberikan hak kepada orang tua kita dengan baik.
Dalam Islam, pelaksanaan hak kepada sesama lebih diutamakan daripada pelaksanaan hak kepda Tuhan, apalagi pelaksanaan hak kepada orang tua! Keduanya merupakan manusia pertama yang mendapatkan priorotas utama yang berhak dicintai dan dilimpahi kasih sayang.
Diriwayatkan, bahwa pada suatu waktu seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw. Lelaki itu bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa hak orang tua atas anaknya?” Rasulullah menajwab, “Keduanya adalah (jalan menuju)  surga dan nerakamu.” (al-Hadits).
Kata yang diucapkan Rasulullah sangatlah ringkas, namun mencakup paparan dan uraian luas akan hak orang tua pada anaknya. Kata tersebut memiliki substansi yang sangat mendalam. Jawaban yang diberikan Rasulullah saw. tersebut mencakup segala permasalahan yang ingin disampaikan.
Cinta Anda kepada orang tua, dan cara Anda memperlakukan keduanya akan menentukan posisi Anda kelak, baik di surga maupun di neraka.
Sungguh ini merupakan keududukan yang sangat tinggi yang ditetapkan Rasulullah saw. akan kecintaan kepada orang tua dan kasih sayang pada keduanya. Tidak heran bila orang tua memiliki prioritas utama dari makhluk lainnya dalam cinta dan kasih sayang. Betapa banyak cinta yang telah mereka luapkan; betapa banya pemberian dan pengorbanan mereka; dan mereka telah banyak mencurahkan semua yang telah mereka miliki.
Sedangkan kita sebagai anak, hanyalah perlu merespon cinta mereka dengan cinta yang tulus, dan memperlakukan mereka dengan sebaiknya dengan harapan akan mendapatkan keridhaan dan kasih sayang Yang Maha Penyayang.
Setelah memberikan cinta kepada orang tua, orang lain yang berhak mendapatkan prioritas cinta adalah kerabat. Mereka berhak mendapatkan cinta dan perlakuan baik.
Rasulullah saw. bersabda
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturahmi.” (al-Hadits).
Menyambung tali silaturahmi dilakukan dengan selalu menyayangi mereka, memenuhi kebutuhan mereka dan selalu siap membantu mereka.
Cinta tidak hanya diperuntukkan untuk orang tua dan kerabat saja, namun juga dibreikan kepada semua anak manusia, bahkan mencakup semua makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini.

Cinta diperuntukkan untuk semua.
Cinta bisa diberikan untuk semua orang.
Cinta adalah proses memberi bagi semua, yakni yang dicintai dan mencintai serta yang rindu dan merindu

Cinta adalah memberi. Bila Anda mencintai, maka Anda akan mencurahkan semua yang Anda miliki. Bahkan, semua  yang mungkin Anda capai untuk menyenangkan hati orang yang Anda cintai. Karena Anda merasa bahwa diri Anda dan semua yang nda miliki adalah milik orang yang Anda cintai. Bila dirinya menginginkan harta, maka Anda akan memberikan semua harta yang Anda miliki. Bahkan, bila Anda tidak memilikinya, tentunya Anda akan menjual harga diri Anda walau dengan harga yang murah untuk menyenangkan hati orang yang Anda cintai.
Bila dia menginginkan pakaian, maka tanpa segan Anda akan melepaskan jaket dan rela bertelanjang dada agar dirinya bisa terhindar dari dingin dan panas yang berllebih. Bila dirinya menginginkan makanan, maka Anda rela mengeluarkannya dari “mulut Anda” untuk kemudian meletakkan di mulutnya hingga ia bisa kenyang, walau Anda akan kelaparan bila melakukannya. Bila dirinya membutuhkan darah, , tanpa ragu And akan memeras hati Anda walaupun Anda sampai jatuh pingsan hingga Anda bisa melihatnya bahagia.
Semua itu Anda lakukan dengan senang hati dan ketulusan seolah Andalah yang menerima, walau Anda tidak mendapatkan balasan apapun darinya. Anda seolah memberikan segalanya walau Anda tidak mendapatkan apapun. Anda akan makin bertambah senang  dan bahagia dengan cinta yang Anda miliki walaupun Anda berada dalam kondisi yang sangat sulit.

Memberi tidak selamanya berupa harta dan materi.
Pemberian yang bersifat maknawi adalah satu hal yang lebih baik dari semua pemberian materi.
Mengucapkan kalimat yang baik adalah satu pemberian penuh cinta.
Memberikan kata motivasi, ucapan terima kasih, penghargaan ataupun ungkapan kegembiraan mampu memberikan keajaiban dalam hati, dan memberikan pengaruh yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya.

Kata motivasi mampu membangkitkan semangat orang yang selalu gagal. Kata-kata baik mampu meluruskan penyimpangan perilaku yang dilakukan seseorang yang hilang kewarasannya, di mana tidak ada satu dokter pun akan mampu menanganinya secara medis. Kata-kata penghibur akan mampu mengobati luka hati seseorang yang patah hati. Ucapan terima kasih mampu memompa semangat dan meningkatkan produktivitas. Akta-kata maaf mampu meminimalsiasi permusuhan.
Tatapan penuh cinta pun merupakan suatu pemberian penuh makna. Demikian pula halnya dengan senyuman manis.
Tatapan penuh cinta atau senyuman manis hanya akan muncul dari diri yang penuh cinta dan keduanya mampu menumbuhkan banyak keajaiban. Tatapan penuh cinta atau senyuman manis, mampu mencairkan hati yang keras dan menghancurkan keegoisan, menumbuhkan kesenangan dan melahirkan kedamaian.

Cinta pada Semua Orang, Bahkan Musuh Sekalipun

Di kala seorang kafir mendengar berita tentang Muhammad, baha beliau menyeru kepada agama baru dan menolak penyembahan berhala, ia menajdi sangat marah. Ia alalu membawa pedangnya dan segera menemui Muhammad untuk membuat perhitungan dengannya. Lelaki tersebut menemui Rasulullah dengan tatapan mata yang nanar dan penuh kebengisan. Kebencian dan kedengkian memenuhi hati dan menghiasi dirinya. Ia pun berkeinginan untuk bisa membunuh Muhammad. Niat buruk itulah yang diinginkan lelaki penyembah berhala dan memacu nyalinya untuk menemui Muhammad.
Lelaki dengan kemarahannya tersebut berhasil menemui Muhammad dia ia pun siaga dengan segala kekerasannya. Namun, Muhammad dengan tenangnya menatap lelaki tersebut dengan mata penuh cinta dan senyuman manis. Lalu, beliau mengajak lelaki tersebut berdiskusi tentang keimanan. Diskusi ilmiah yang membuka pikiran dan hatinya. Diskusi yang penuh dengan cinta sejati dan paparan logis. Diskusi yang penuh dengan rasa saling menghormati dan saling menyayangi. Diskusi didasari kepedulian dan saling menjaga.
Tak lama berselang, hati laki-laki itu melunak. Kekerasan yang ada berubah menjadi kemurahan hati. Ia menggenggam tangan Muhammad dan kakinya. Lalu, ia memeluk Muhammad dan air mata mengalir dari kedua matanya mengisyaratkan penyesalan dan permohonan maafnya. Laki-laki itu berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah, tidak ada orang yang lebih aku benci di muka bumi ini selain engkau. Namun, kini aku ada di hadapanmu dan kini aku menjadi orang yang paling mencintaimu.” (al-Hadits).
Apa yang dilakukan Muhammad saw. atas lelaki tersebut? Apa yang dilakukannya pada hatinya? Apa yang diperbuatnya pada perasaannya? Bagaimana Muhammad saw. mampu mengubah lelaki yang penuh permusuhan itu menjadi lelaki yang murah hati? Bagaimana batu yang kokoh bisa menjadi demikian sensitif? Bagaimana Muhammad bisa mencairkan keegoisan di hati lelaki tersebut? Bagaimana beliau menghilangkan kedengkian dan kebencian dalam diri lelaki itu?
Sungguh, hal tersebut bukanlah hal aygn sulit! Itu semua karena cinta! Tidak lain, bahkan hanya karena cinta!
Muhammad saw. mencintai lelaki tersebut. Beliau mencintai sisi kemanusiaannya, walaupun lelaki tersebut berada dalam titik terlemahnya. Muhammad hanya memberikannya sentuhan cinta kepada hati lelaki tersebut hingga hatinya menjadi penuh cinta dan hilanglah kebencian dan keburukan yang ada di dalamnya. Dalam sekejap, lelaki tersebut pun menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Hatinya penuh cinta kasih.
Di kota Makkah, di kala Rasulullah sedang melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, Fadhalah bin Amir berniat membunuhnya. Saat posisi Fadhalah sangat dekat dengan Rasulullah, ia melihatnya tersenyum penuh cinta seraya berkata, “Bukankah kamu Fadhalaha  Ia hanya bisa menjawab, “Ya, saya Fadhalah, wahai Rasulullah!” Rasulullah lalu berkata padanya, “Apa yang terjadi pada dirimu!”  Fadhalah menjawab, “Tidak ada apa-apa! Aku hanya berdzikir mengingat Allah.” Rasulullah tertawa mendengar jawabannya. Dengan tawa yang tersipu-sipu. Fadhalah lalu berkata, “Aku memohon ampunan Allah”. Lalu Rasulullah meletakkan tangannya di dalam Fadhalah dan menenangkan hatinya. Fadhalah berkata, “Demi Allah, tangannya tidak terlepas dari dadaku hingga aku merasa bahwa tidak ada satu ciptaan Allah pun yang lebih aku cintai selain dirinya.”
Sedangkan dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ada seorang lelaki berusaha menyerang dan membunuh Rasulullah saat beliau sedang tidur. Saat ia hendak mengangkat pedangnya ke atas kepala Rasulullah, pedang tersebut jatuh dari tangannya dan pada saat itu para sahabat mengetahui niat busuknya. Mereka pun mengejarnya dan hendak membunuhnya. Namun Rasulullah melarang mereka dan memerintahkan mereka untuk memaafkan perbuatannya serta membebaskannya.
Demikianlah bagaimana Rasulullah memperlakukan para musuhnya. Beliau membalas kedengkian dengan kemurahan hati, tipu daya dengan pemaafan, dan keburukan dengan kebaikan.
Di kala Rasulullah berhasil kembali ke Makkah sebagai seorang pemenang dan menegaskan janji Allah akan kemenangan kaum mulsimin, maka sebenarnya beliau bisa saja menghukum siapa pun yang penah menyakitinya dahulu, mereka yang menghalangi dakwahnya dan menyiksa banyak pengikutnya. Mereka kini berada dalam kekuasaannya dan hidup mereka tergantung dari ucapan yang terlontar dari mulutnya. Namun, hati Muhammad yang penuh kasih tidak mampu menampakkan kebencian ataupun balas dendam. Beliau hanya berkata, “Pergilah! Kalian semua bebas!”  Rasulullah memaafkan mereka, bukan memberikan kebebasan bagi mereka.
Sesungguhnya, cinta adalah toleransi dan kemurahan hati.   Orang yang mencintai akan mampu bertenggang rasa dan memaafkan siapa pun yang menyakitinya. Rasulullah tidak mungkin melakukan hal lain selain bertenggang rasa dan memaafkan karena memang hatinya penuh dengan cinta kasih. Walaupun banyak kejadian yang menyakitkan dan keburukan yang mengiringi perjalanannya, namuns emua itu berhasil dilupakannya dan beliau berhasil memaafkan mereka yang melakukannya.
Orang awam umumnya ( di setiap kesempatannya) tidak akan sengaja melakukan kesalahan atau melakukan perbuatan yang berbahaya bagi sesamanya. Namun karena keadaan dan kondisi kesalahpahaman dan keterpaksaan, kurangnya informasi dan daya kritis, terkadang seseorang melakukan kesalahan. Karenanya, sudah menjadi kewajiban kita untuk bisa memaafkan mereka yang melakukan kesalahan dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.
Hendknya kita mampu berempati atas apa yang mereka rasakan dan berusaha memahami kondisi mereka sebelum akhirnya kita berprasangka buruk pada mereka atau menjadikan mereka tersangka. Hendaknya kita tidak dengan mudah menanamkan kebencian dalam diri atau bahkan bencana membalas dendam kepada mereka. Atau, menggunjing mereka karena kelakuan mereka yang buruk. Itulah indikator dari hati yang besar, hati yang penuh kasih, hati yang penuh cinta. Hati yang mempu memahami atau menoleransi dan memaafkan, serta hati yang selalu penuh dengan kasih sayang. Sungguh, semua itu hanya bisa dilakukan bila hati diliputi dengan cinta.
Allah berfirman, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat (41) :34).
Setelah kemenangan Rasulullah dan para sahabatnya atas kaum Yahudi, mereka melakukan perjanjian damai. Lalu datanglah Zainab binti Hrits menampakkan muka manis kepada Rasulullah saw. Zainab menghadiahkan kepadanya kambing guling yang telah dilumuri racun dengan harapan Rasulullah dan para sahabat merayakan kemenangannya dengan makan kambing guling tersebut. Zainab mengetahui bahwa Rasulullah sangat menyukai daging kambing, khususnya bagian paha yang telah dilumurinya denegan racun.
Rasulullah memakan bagian kambing tersebut dan mengunyahnya. Namun, belum sempat terteelan, daging tersebut termuntahkan dari mulutnya. Beliau lalu mengatakan kepada para sahabatnya, “Tulang pada daging yang aku gigit seolah memeberitahukanku bahwa ia telah dilumuri racun.”
Pada waktu bersamaan, seorang sahabat, yakni Basyar bin Barra memakan bagian yang sama dan racun pun menjalar dalam tubuhnya dan ia pun mati seketika. Rasulullah lalu memanggil Zainab dan menanyakan padanya akan kejahatan yang telah dilakukannya. Zainab mengakui perbuatannya dan berkata, “Kamu telah melakukan hal tersebut pada kaumku sebagaimana yang kami lakukan padamu. Aku mengatakan pada diriku, bila kau adalah raja, maka kami akan terbebas darimu, namun bila kau benar nabi, maka wahyu pasti akan memberitahukan apa yang kami lakukan.”
Di saat para sahabat berencana menghukumnya dengan memenggal kepalanya sebagai konsekuensi atas kejahatannya, Rasulullah melarang mereka dan memerintahkan mereka untuk melepaskan serta mengembalikannya kepada keluarganya. Semua itu dilakukannya sebagai bukti empati atas kekalahan kaumnya di tangan kaum muslimin.
Dalam peperangan yang sama, seorang wanita Yahudi menjadi tawanan kaum muslimin. Ia adalah Shafiyyah binti Hyay bin Akhtab, seorang putri pembesar Yahudi. Ia adalah wanita yang memiliki pendidikan dan garis keturunan yang mulia. Ia masih keturunan Nabi Harun, saudara Musa a.s.
Shafiyyah adalah wanita yang memiliki kewibawaan dan karismatik. Suaminya, Kinanah bin Rabi’, terbunuh dalam peperangan, dan pada saat pembagian tawanan, ia amenjadi bagian atau budak salah seorang prajurit kaumm muslimin. Namun Rasulullah memahami perasannya, Rasulullah memahami akan sungguh memalukan bila seorang putri pembesar menjadi budak seorang prajurit. Rasulullah lalu berusaha menjaga kedudukannya dan memutuskan untuk mebebaskan dan kemudian menikahinya. Secara otomatis, maka Shafiyyah mendapatkan kemuliaannya kembali dari sekedar menjadi budak untuk kemudian menjadi istri seorang pembesar kaum muslimin.
Sungguh menakjubkan bagaimana Rasulullah meringankan beban wanita tersebut, membuatnya senang dan bahkan memuliakannya. Lalu, bagaimana empatinya terhadap perasaan orang lain? Rasulullah tak segan untuk bisa berempati dengan apa yang dirasakan sesamanya dan beliau pun terus memotivasi dalam membantu mereka memecahkan permasalahan yang ada. Hal tersebut dilakukannya tanpa pandang bulu. Bukankah itu semua karena cinta?
Pada awalnya, pernikaha Rasulullah dengan putri pembesar kaum Yahudi menimbulkan keresahan dalam diri para sahabatnya. Mereka berpikir bagaimana Rasulullah bisa aman hidup bersama putri musuhnya? Bagaimana beliau bisa aman dari segala tipu daya yang mungkin disipakan oleh putri musuhnya tersebut, sebagai balas dendam atas kematian suami dan kerabatnya, dan sebagai pelampiasan atas sakit hatinya? Namun cinta Rasulullah saw. kepada putri pembesar Yahudi (yang resmi emnjadi istrinya tersebut) mampu memadamkan kebencian yang ada dalam dirinya.
Perlindungan yang Rasulullah berikan kepada istrinya menghilangkan segala kegundahan dalam hati sang istri. Bahkan sang istri pun berubah mencintainya dengan sepenuh hati. Ia merasakan kedamaian bersamanya.
Di kala Rasulullah menderita sakit, Rasulullah melihat sang istri merawatnya di pinggir tempat tidurnya. Kesedihan terpancar dari wajahnya. Air mata mengalir dari matanya dan kegundahan meliputi dirinya. Ia berkata, “Duhai Allah, aku ingin sekali bila aku bisa menggantikanmu!”
Setelah Rasulullah saw. wafat, Shafiyyah tetap komitmen mengingat suaminya dan menegakkan perjuangannya. Ia selalu siap dalam meneyebaarkan ajarannya dan bekorban untuknya. Ia adalah seorang pertama yang membantu Utsman bin Affan di kala terjadi kudeta atasnya. Ia mengirim makanan sendiri dari rumah untuk Utsman yang terkepung di kediamannya. Betapa besar bahaya yang ahrus dihadapinya demi Muhammad dan ajaran yang dibawanya! Ia banyak berkorban untuk Rasulullah, baik semasa hidupnya, bahkan setelah meninggalnya. Apa rahasia di balik semua perubahan yang sangat drastis tersebut?
Bagaimana seorang musuh yang mempunyai bebagai tipu daya untuk membunuh bisa berubah menjadi pecinta sejati? Bagaimana seorang yang berkepala batu menjadi seorang yang lemah lembut hatinya? Bagaimana shafiyyah bisa dengan mudah melupakan keyahudiannya? Bagaimana Shafiyyah dengan mudahnya melupakan ikatannya dengan ayahnya, keluarganya dan juga kaumnya? Bagaimana dengan mudahnya ia melupakan pemusuhan dan pembunuhan yang terjadi antara kaum muslimin dan kaun Yahudi? Bagaimana ia bisa melupakan itu semua? Lebih dari itu, bahkan dengan tulus dan ikhlasnya ia membantu kaum muslimin dengan segala harta dan tenaga yang dimilikinya, walaupun Rasulullah telah wafat?
Kita tidak bisa mendapatkan jawaban apa pun dari semua pertanyaan di atas kecuali satu jawaban sedehana, yakni karena Muhammad. Hati Muhammad, hati yang penuh dengan cinta dan mampu menghapuskans egala kedengkian. Hati yang mampu mengikis segala kebencian dan memberangus kekerasan. Hati yang menumbuhkan cinta dan kasih sayang, cinta yang penuh dengan kata maaf dan melahirkan kelemahlembutan. Cinta yang mampu menghadirkan kebaikan dan keinginan untuk terus memberi.
Jawabnya adalah “Muhammad” dan bukan apa pun kecuali Muhammad. Hatinya yang lembut, dadanya yang alapng, cintanya yang membara, itulah yang membuat semua perubahan tersebut.
Dalam Perang Uhud, kaum kafir melukai kepala Rasulullah saw. Darah mengucur dari kepalanya dan dengan sigap belia segera mencari pengobatan kepada para sahabatnya. Para sahabat lalu mengatakan padanya, “Seandainya engaku mendoakan (yang buruk) pada mereka, tentunya dengan mudah Allah akan menggetarkan dan menghancurkan mereka.”
Rasulullah yang penuh cinta hanya berkata, “Aku tidak diutus untuk mengutuk! Namun aku diutus untuk menyebarkan kasihs ayang.” Lalu beliau menengadahkan wajahnya ke alngit seraya berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, beikan petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka asalah orang-orang yang tidak mengerti.” (al-Hadits)
Bayangkanlah kondisi yang terjadi saat itu, di kala Muhammad saw. mengalami luka yang serius. Kepalanya terluka dan darah mengucur sangat deras darinya. Kaum kafir hampir saja merenggut nyawanya dan dengan mata kepalanya sendiri, beliau menyaksikan para sahabatnya berjatuhan di hadapannya, terbunuh dan terluka di tangan kaum kafir. Dalam kondisi yang sangat memilukan tersebut, di waktu yang sangat genting tersebut, Rasulullah tetap tida bia membenci musuhnya. Tidak terbersit setitik kedengkian pun dalam hatinya. Yang terjadi adalah sebaliknya, beliau tetap bermurah hati dan berdoa kepada Allah agar kelak mereka mendapatkan hidayah-Nya menuju jalan yang benar.
Di saat seseorang dalam keadaan marah, maka yang dilakukannya pada umumnya adalah mempertahankan diri. Pada saat itu, ia akan rentan melakukan perbuatan yang kelak akan disessalinya di kemudian hari. Terkadang, perkataannya pun menajdi tidak terkontrol dengan baik. Ia rentan melontarkan sumpah serapah ataupun mendoakan orang-orang yang membuatnya marah, walaupun itu adalah orang terdekatnya.
Tak jarang seorang ibu ataupun ayah mengutuk anaknya ataupun mendoakan buruk pada mereka di kala keduanya dalam keadaan marah. Namun, Nabi yang penuh cinta dan memiliki hati yang lembut menolak untuk mengutuk dan melaknat musuhnya yang ingin membunuh dan mengahlangi dakwahnya. Beliau menolaknya, walau pun kondisinya sangat terancam. Biarpun para musuhnya membunuh dan menyiksa kaumnya dan bahkan menyiksa dirinya sendiri, namun beliau tetap bertenggang rasa dan mendoakan mereka dengan kebaikan dan ampunan-Nya. Manusia model apakah dirinya? Hati seperti apakah yang tertanam padanya?”
Pembesar kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, yang selama hidupnya menampakkan keimanan dan kecintaan kepada Islam dan menyembunyikan dalam hatinya kekufuran dan tipu daya, melakukan kudeta atas kaum muslimin dan membantu musuh kaum muslimin secara diam-diam. Tak jarang, ia mengadu domba kaum muslimin satu dengan lainnya,antara kaum Muhajirin dan Anshar. Semuaa itu dilakukannya untuk menghalangi dakwah Islam dan menghancurkan kaum muslimin.
 Di kala bahaya yang ditimbulkan Ubay makin meluas dan menajd ancaman tersendiri bagi kaum muslimin, semua pihak yakin bahwa Rasulullah akan mengeluarkan putusan hukuman mati bagi penghianat tersebut, sebagai balasan atas fitnah dan tipu daya yang menggoncangkan kaum muslimin.
Ubay memiliki seorang anak yang saleh, anak yang tidak setuju dengan perbuatan ayahnya, namun tidak mengerti bagaimana harus berbuat dan bertindak. Keimanannya seolah tercabik antara kewajibannya sebagai muslim yang ahrus memberikan nasihat setipa melihat kemungkaran dan sebaga seorang anak yang harus patuh pada orang tuanya. Di saat anak mendengar isu yang menyebar akan eksekusi ayahnya, ia segera beranjak menemui Rasulullah saw. untuk mengatakan pendapatnya, “Ya Rasulullah, bila kau benar akan melakukan hal tersebut pada ayahku, maka biarkan aku yang melaksanakannya! Aku yang akan membawa kepalanya untukmu. Sungguh, dalam kaumku tidak ada orang yang lebih dikenal taat kepada orang tuanya melebihi aku. Aku takut bila kau memeritnahkan orang lain selain diriku untuk membunuh ayahku, maka tentunya aku tidak akan membiarkan sang pemenggal berjalan bebas di muka bumi ini. Aku akan membunuhnya untuk menuntut balas. Dengan demikian, maka akan membunuh seorang mukmin demi membela kepentingan seorang kafir, yakni ayahku, dan aku pun akhirnya berhak masuk neraka!”
Lihatlah! Bagaimana Rasulullah menjawab permintaan seorang anak yang kelak akan diminta untuk mengeksekusi ayahnya? Seorang anak yang saleh dan taat kepada agama dan juga ayahnya, yang memiliki hati yang terbagi antara kecintaaan kepada agamanya,d an juga kepada ayahnya! Rasulullah seolah merasakan apa yang ada dalam hati anak tersebut. Lalu beliau menjawab : “Tidak anakku! Kami tidak akan membunuhnya, namun kami akan memberikan amnesti untuknya! Kami akan memperlakukannya dengan baik dan sioptimal mungkin.” (al-Hadits).
Rasulullah tidak hanya sekedar bersikap toleran pada pembesar munafik yang telah menimbulkan banyak permasalahan, yang seluruh hidupnya penuh dengan keburukan dan tipu daya abgi kaum muslimin, namun beliau juga memberinya maaf dan tetap memperlakukannya dengan baik. Di kala Ubay meninggal, sang anak tersebut datang menemui Rasulullah saw. dan meminta pakaian beliau untuk dijadikan kafan jenazah sang ayah dengan harapan agar pakaian Rasulullah saw. terebut mampu membersihkan dosa yang ada pada sang ayah. Rasul melepaskan pakaiannya dengan penuh cinta dan memberikannya pada sang anak agar ia bisa mengkafani ayahnya.
Tidak hanya itu, Rasulullah pu  meninggalkan semua kesibukannya dan beranjak menuju kuburan pembesar munafik tersebut. Beliau ebrdiri di samping kuburnya hingga tiada orang lagi yang mengunjunginya. Setelahnya, Rasulullah pun melakukan shalat atasnya dan memohonkan ampunan untuknya. Namun, ketika beliau kembali bertemu dengan para sahabatnya, beliau sangat sedih dan ebrkata, “Demi Allah! Ternyata pakaianku tidak memberikan pengaruh apa pun untuknya! Demi Allah, seandainya aku mengetahui ini bahwa bila dengan menambah permohonan maaf untuknya lebih dari tujuh puluh kali akan membuat Allah memberikan ampunan untuknya, maka tentunya aku akan melakukannya!” (al-Hadits).
Bsiakah Anda melihat hatinya yangs angat pemurah? Apakah Anda pernah melihat hati yang penuh tengang rasa dan penuh kata maaf, bahkan kepada orang yang menyakitinya sekalipun?
Hatinya sangat besar dan luas bagi semua umat manusia, namun demikian, hatinya hanya bisa memuat cinta. Beliau tidak pernah bisa membenci atau merasakan apa pun selain cinta dan kasih sayang. Yang ada dalam hatinya hanyalah kebajikan dan keinginan untuk memberi untuk semua manusia. Baik itu kerabat maupun orang asing, kawan maupun lawan, yangs elalu mendkukung maupun yang menghalang dan lainnya.


Cintanya Kepada Anak Kecil
Dilaporkan kepada Rasulullah bahwa dalam suatu peperangan bebeapa anak kecil dari golongan kaum kafir menjadi korban. Sesaat setelah mendnegarnya, Rasulullah menjadi sangat sedih sekali. Hal itu mengandung keheranan bagi apra sahabatnya. Lalu di antara mereka mencoba bertanya, “Apa yang membuatmu sedih, wahai Raslullah? Mereka hanyalah naka-anak kecil dari golongan kaum kafir.”
Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah menjadi marah dan berkata, Mereka lebih baik dari kalian! Mereka masih berada dalam fitrahnya. Jangan kalian sekali-kali membunuh anak kecil! Jangan sampai sekalipun kalian membunuh anak kecil!” (al-Hadits).
Bayangkanlah apa yang terjadi apda diri anak-anak dari kaum kafir! Mereka dipaksa untuk bergabung dalam barisan tentara. Mereka diberi pedang dan tameng, panah dan busur serta berbagai jenis persenjataan lainnya. Mereka dipaksa untuk memerangi kaum mukmnin. Dipaksa membunuh, menyerang, melukai, dan menebas! Dipaksa ke luar ke medan perang dengan segala keluguan yang dimiliki.
Kaum kafir seolah tidak peduli apakah yang dihadapinya hanya anak kecil atau orang lemah: wanita atau orang yang tua renta. Mereka tidak peduli, siapa yang ikut dan tidak ikut berperang.
Menghadapi hal ini, apa yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin? Mereka hanya bisa mempertahankan agama, diri dan keluarga mereka yang lemah. Mereka pun menjadi demikian gigih berjuang di medan perang. Mereka terpaksa membunuh orang-orang yang menyerang mereka, termsuk di antaranya anak-anak kecil dari kaum kafir yang turut serta dalam peperangan. Namun, Rasulullah saw. melarang mereka membunuh anak-anak kecil, walaupun hal tersebut demi mempertahankan diri dan agama atapun untuk menghentikan permusuhan kaum kafir kepada kaum muslimin.
Tangan kaum kafir sudah berlumuran darah kaum muslimin. Namun demikian, Rasulullah dengan hatinya yang sangat pemurah meminta sahabatnya untuk tiak membunuh anak-anak kecil dari kaum kafir, walau mereka berniat membela diri ataupun membela agama.
Rasulullah saw. mencintai semua orang. Namun cintanya kepada anak-anak melebihi apa yang bisa dibayangkan. Wajahnya selalu penuh dengan kegembiraan di saat beliau melihat sosok anak-anak. Sduah menjadi tabiatnya untuk selalu memeluk anak-anak dan ebrcanda dengan mereka. Beliau selalu ikut serta dengan kegembiraan anak-anak.
Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa di tengah perjalanannya, Rasulullah melihat sebagian anak-anak sedang berlomba lari. Beliau menghentikan langkahnya untuk bisa berbincang dengan mereak dan ikut serta dalam permainan mereka. Beliau pun ikut ebrlari dan ebrlomba bersama mereka. Di lain waktu, di saat beliau sedang menaiki untanya dan melihat seorang anak berjalan kaki, beliau akan menghentikan untanya dan turun untuk menemui anak tersebut dan memeluknya dengan penuh kasih kemudian menegajaknya naik unta. Hal tersebut tentunya akan menyenangkan hati sang anak.
Lihatlah apa yang dilakukan Rasulullah! Beliau adalah manusia terbaik dan termulia. Namun demikian, beliau mampu menanggalkan semua atribut itu dan turun dari pelana untanya untuk membahagiakan anak kecil. Mereka yang memiliki hati yang bebas dan bersih, kekasih Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah tidak segan untuk ikut bermain bersama anak-anak atau mengajak mereka ikut serta menumpang di atas untanya. Beliau pun tidak segan untuk menanyakan kebutuhan mereka dan memenuhinya serta beranda ria bersama mereka.
Usamah bin Zaid mengungkapkan, “Di saat aku masih kecil, Rasulullah mengangkatku ke salah satu pahanya dan mendudukan Hasan di pahanya yang lain. Lalu beliau memeluk kami berdua seraya berkata :
“Ya Allah, sayangi keduanya! Sesungguhnya aku menyayangi keduanya!” (al-Hadits).
Begitu sangat senangnya Rasulullah kepada anak-anak. Beliau rela membiarkan cucunya menaiki pundaknya saat beliau sedang melakukan shalat – yakni, ketika beliau sedang dalam posisi ruku’ dan sujud. Beliau pun memperlama sujudnya saat sang cucu berada di pundaknya agar sang cucu tidak segera turun dan agar tidak merusak kebahagiaan dan kegembiraan sang cucu.
Aisyah ra. Mengungkapkan bahwa sebagian orang Arab sangat heran melihat Rasulullah memeluk dan menciumi anak-anak kecil. Mereka lalu mengatakan kepada Rasulullah, “Kami tidak eprnah menciumi anak-anak kami!”
Salah seorang dari mereka, yakni Aqra’ bin Habis mengungkapkan, “Aku memiliki sepuluh anak, namun aku tidak pernah menciumi satu pun dari mereka.”
Rasulullah merespons ucapannya dengan berkata, “Apakah Allah telah mengangkat kasih sayang dari hati kalian?” Rasulullah seolah mengkritisi kekerasan hati mereka dengan mengatakan, Kasih sayang tidak akan pernah terangkat kecuali dari orang-orang yang sesat.” (al-Hadits).
 Di kala putra seorang putrinya (yakni cucunya) meninggal dan Rasulullah mendapatkan kabar duka tersebut, dengan segera mungkin beliau beranjak menuju rumah putrinya untuk bisa melihat jenazah sang cucu untuk terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal sebelum akhirnya jenazah tersebut dikubur. Ketika Rasulullah menyaksikan jenazah sang cucu, bergetar dirinya dan deraslah air matanya.
Para sahabat heran melihat reaksinya dan seorang dari mereka yakni Sa’ad bin Ubadah, berkata kepadanya, “Ya Rasulullahapa yang engkau lakukan?”
Rasulullah menjawab :
“Inilah rahmat yang Allah tanamkan dalam hati para hamba-Nya. Sesungguhnya Allah mengasihi hamba-Nya yang penuh kasihs ayang.” (al-Hadits).
Tidak diragukan lagi bahwa rahmat dan kasih sayang adalah indikator dari adanya cinta. Bahkan, ia adalah indikator utama dari cinta itu sendiri. Hati yang penuh cinta akan selalu mudah mengasihi dan menyayangi, sedangkan hati yang penuh kebencian hanya akan memahami kekerasan. Hati Muhammad, Nabi yang penuh cinta, sangat jauh dari gambaran kekerasan. Yang terpancar darinya hanyalah kasih sayang dan kemurahan hati.
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah menjadi imam shalat di masjid. Beliau membacakan ayat Al-Qur’an yang cukup panjang. Ruhnya berhadapan langsung dengan Penciptanya dan kebahagiaan menghiasi dirinya karena ia sedang bercumbu dengan Kekasihnya. Tiba-tiba terdengarlah teriakan anak kecil menangis memanggil ibunya yang sedang shalat di belakangnya. Hatinya yang penuh kasih tidak bisa membiarkn tangis anak tersebut. Lalu, beliau mengorbankan kesenangannya bermunajat dengan Sang Maha Pemurah dengan meringkaskan shalatnya. dengan harapan, agar sang ibu bisa segera menemui anaknya dan sang anak kembali dapat merasakan kebahagiaan besama ibunya.
Rasulullah mengorbankan kegembiraan berkomunikasi dengan Kekasihnya agar seorang anak kecil dapat kembali ke pelukan ibunya yang disayanginya.
Sosok yang penuh cinta, Muhammad saw. merasakan gejolak orang0orang yang mencintai dan merasakan kegembiraan dengan kegembiraan mereka. Berdasarkan hal itulah, ia mengorbankan kesenangan pribadinya demi kebahagiaan pecnita lainnya. Semua itu karena kebahagiaannya tidak akan sempurna tanpa adanya kebahagiaan para pecinta.
Sesungguhnya, beliau mencintai para pecinta. Kebahagiaan orang yang dicintainya akan melengkapi kebahagiaan dirinya yang mencintai. Pengorbanan secara individual merupakan indikator dari adanya cinta. Bahkan, itu merupakan indikator utama akan keuatan cinta sejati.

Cinta Manusia Pada Sesamanya

Rasulullah mencintai semua manusia. Beliau menganjurkan manusia untuk bisa saling mencintai. Cinta adalah pangkal dari keimanan. Cinta mampu mendekatkan seseorang kepada Allah dan juga kepada rasul-Nya.
Rasulullah mengungkapkan kepad para sahabtnya :
“Orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya, suka berkomunikasi baik dengan sesama, dan saling menyayangi. Sedangkan orang yang paling aku benci di antara kalian adalah mereka yang suka mengunjing dan memisahkan orang-orang yang saling mencintai serta suka membuka aib orang lain.” (al-Hadits).
Lihatlah bagaimana kriteria orang yang paling dekat dengan Rasulullah dan yang  paling dicintainya, di antaranya adalah yang saling menyayangi dan saling mencintai. Sedangkan orang yang paling jauh dari hati Muhammad saw. adalah mereka yang suka menimbulkan permusuhan di antara manusia dan memisahkan orang-orang yang saling mecnintai.
Demikianlah Rasulullah membuat batasan antara dirinya dengan oran yang beriman, yakni dalam batasan cinta mereka dengans esama. Beliau menegaskan bahwa kunci untuk bisa dekat dengannya adalah dengan mendekatkan diri kepada sesamamnya. Kadar kedekatan dengan Rasulullah dilihat dari kedekatan seseorang dengan sesamanya.
Barangsiapa yang menginginkan cinta Rasulullah dan dekat dengannya, maka hendaknya ia mencintai dan menyeyangi sesamanya. Namun, barangsiapa yang menginginkan kebencian Rasulullah dan jauh darinya, hendaknya ia membuat permusuhan antar manusia dan memisahkan cinta sesamanya.
Bukan hanya itu, cinta sesama bukan hanya pangkal komunikasi antar sesama orang beriman dan Rasulullah, namun juga dasar komunikasi antara orang yang beriman dengan Penciptanya, Tuhan semesta alam. Dengan cinta dan sayang kepada sesama, membantu dan memenuhi kebutuhan mereka, menjenguk di kala mereka sakit, selalu beruat baik kepada mereka, ikut berpartisipasi dala suka dan duka mereka serta berbagi harapan adalah cara paling ampuh untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Juga merupakan jalan utama untuk mendapatkan cinta-Nya. Inilah yang disampaikan Rasulullah untuk kita.
Muhammad saw. mengungkapkan :
“Sesungguhnya pada hari Kiamat kelak, Allah akan berkata, ‘Wahai anak Adam, Aku sakit, lalu kenapa kau tidak emngunjungi-Ku. Lalu dijawab, ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa mengunjungi-Mu sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?’ Lalu dikatakan, ‘Bukankah kau mengetahui bahwa hamba-Ku sedang sakit, lalu mengapa kau tidak mengunjunginya? Apakah kau tidak mengetahui bahwa dengan mengunjunginya, maka kau akan menemukan-Ku.”
Lalu dikatakan, “Wahai anak Adam, Aku telah memberikanmu makan, namun mengapa kau tidak memberikan-Ku makan?’ Lalu diajwab. “Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu makan, sedangkan Kau adalah Tuhan semesata alam!’ Lalu dikatakan, ‘Bukankah kau mengetahui bahwa hamba-Ku meminta makan kepadamu, namun kau tidak memberinya makan. Apakah kau tidak mengetahui bahwa dengan memberikannya makan makan kau akan menemukan-Ku?’
Lalu dikatakan, ‘Wahai anak Adam, Aku telah memberikanmu minum, namun mengapa kau tidak memberikan-Ku minum?’ Lalu dijawab, “Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu minum, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam!’ ‘Lalu dikatakan, ‘Bukankah kau mengetahui bahwa hamba-Ku meminta minuman kepadamu, namun kau tidak memberinya minum. Apakah kau tidak mengetahui bahwa dengan memberinya minum maka kau akan menemukan-Ku?’ (al-Hadits).
Sungguh, cinta Anda kepada makhluk menunjukkan cinta Anda kepada Penciptanya. Kebajikan yang Anda berikan kepada makhluk adalah sama artinya dengan kebajikan yang Anda tampakkan pada Penciptanya. Makhluk adalah bagian dari Penciptanya, karena makhluk adalah ciptaan-Nya. Oleh sebab itulah, segala ahal yang membahagiakan makhluk akan mampu membahagiakan Penciptanya; dan semua yang menghinakan makhluk dianggap menghina Penciptanya.
 Barra’ bin Azib mengungkapkan, “Rasulullah memerintahkan tujuh hal kepada kami : menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah ke kuburnya, mendoakan orang yang bersin, memenuhi janji, menolong orang yang terzalimi, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.”
Semua hal yang diperintahkan Rasulullah sebagaimana di atas adalah indikasi adanya cinta. Menjenguk orang sakit adalah bukti adanya cinta. Orang yang menjenguk berarti menunjukkan empatinya dan hal tersebut menjadi terapi spiritual dan emosional bagi pasien. Ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri. Masih banyak saudara, kerabat dan teman di sekelilingnya yang peduli padanya dan memikirkannya, juga berempati padanya dan meringankan bebannya.
Mereka akan mencari jalan agar dirinya bisa cepat sembuh dan kembali beraktivitas bersama. Inilah yang dinamakan terapi cinta. Ia akan membantu pasien cepat sembuh, mampu melawan penyakit yang didertitanya serta bertahan hidup. Hidup yang penuh cinta dan kebahagiaan dengan orang-orang yang dikasihi.
Pasien yang kesepian, di mana tidak ada seorang pun bersamanya; tidak ada seorang pun yang mengunjunginya; tidak ada satu pun yang memenuhi kebutuhannya; tidak ada satu pun yang membutuhkannya ataupun menginginkannya; maka ia akan merasakan pahitnya kehidupan dan kejamnya orang kepadanya.
Ia rentan atas berbagai kehancuran dalam dirinya hingga virus pun dengan mudah menyerang semeua sistem tubuhnya. Ia akan merasa bahwa semua orang telah melupakannya. Semua orang seolah tak pernah dikenalnya kecuali musuhnya, musuh dalam kehidupan. Yaknim barisan penyakit yang tersenyum menyeringainya.
Kebencian pun tertanam dala dirinya dengan kuat dan hal tersebut menambah aktivitas kerja virus dalam tubuhnya. Semua menyerangnya dari segala arah dan ingin menghancurkannya. Lalu, bagaimana ia bisa menghadapi semua itu sendiri?
Walaupun ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan kondisi tubuh sebelah kanannya, semua virus seolah menyerangnya dari sebelah kiri, dari depan, dari belakang, dari atas kepala, dari bawah kaki hingga akhirnya ia menjadi dangat putus asa. Kesedihan pun menghaisi dirinya dan hilanglah harapan hidupnya. Tanpa disadarinya, ia membantu musuhnya menghancurkan dirinya. Harapan yang tersisa adalah ketenangan dalam kematian dan lari dari manusia yang telah melupakannya.
Bayangkanlah bila Anda mengunjungi dan menjenguk orang sakit dan Anda seolah mengunjungi Allah! Juga ketika Anda memberi makan oran kelaparan seolah Anda memberi makanan kepada Allah, serta ketika Anda memberi minum kepada orang yang kehausan seolah Anda memberi minuman kepada Allah!
Bayangkan, Anda hanyalah hamba yang hina dan Anda mampu dekat dengan Pencipta dengan cinta Anda yang sedemikian besar kepada ciptaan-Nya! Bayangkan Anda yang hanya seorang hamba yang lemah, mampu beruat baik kepada Pencipta hanya dengan beruat baik kepada ciptaan-Nya. Bayangkan dengan cinta dan kasih sayang Anda kepada sesama akan membuat Anda makin dekat dengan Allah yang merupakan sumber segala cinta dan kasih dayang!
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, datang seorang Arab menemui Rasulullah yang menanyakan kepadanya akan pebuatan baik yang kiranya bisa dilakukannya hingga ia bisa menggapai keridhaan Allah dan kenikmatan surga Firdaus-Nya. Rasulullah saw. menjawab, “Berkatalah dengan adil dan berikanlah dengan kedermawanan.”
Lelaki tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak bsia berkata adil setiap waktu dan aku tidak bisa memberi dengan kedermawanan.”
Rasulullah saw. berkata :  Berikanlah makanan dan sebarkan salam.”
Lalu lelaki itu berkata, “Itu juga susah!”
Rasulullah berkata, “Apakah kau punya unta?”
Lelaki itu berkata, “Punya!”
Rasulullah berkata, “Lihatlah muatan yang dibawanya dan tempat pengambilan air. Lalu carilah keluarga yang jarang mminum air dan berikanlah mereka minum. Namun jangan mengeksp;oitasi unta dan amta air melebihi kapasitas sehingga dengannya kau berhak mendapatkan surga.” (al-Hadits).
Berikanlah makan kepada sesama, maka Anda berhak mendapatkan nikmat-Nya. Berikanlah minum kepada sesama, maka Anda berhak mendapatkan kebaikan dari-Nya. Berbuat baiklah kepada sesama, maka kelak Allah akan melimpahi Anda dengan rezeki-Nya yang melimpah. Sesungguhnya Tuhan Anda adalah Tuhan semua manusia.
Diriwayatkan bahwa sebagian sahabt menemui Rasulullah dengan muka seolah mereka sedang bermasalah, walau pada kenyataanya pergaulan mereka dengan sesama sangat baik dan mereka selalu ingin beruat baik kepada sesama, namun kantong mereka kosong. Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagaimana kami bisa bersedekah?”
Rasulullah menennagkan kegundahan mereka dengan mengatakan “Sesungguhnya pintu kebaikan sangatlah beragam. Bisa dengan tasbih dan tahmid, takbir dan tahlil, menyeru kepada kebajikan, melarang perbuatan mungkar.” Beliau melanjutkan perkataannya, “Membuang hal yang membahayakan dari jalan, menjadi pendengar setia orang yang membutuhkan, memberi petunjuk orang yang sesat, memberikan solusi bagi mereka yang membutuhkan, dan berusaha seoptimal mungkin membantu yang lemah. Sesungguhnya semua ini adalah sedekah dari diri kalian sendiri.” (al-Hadits).
Kau benar, wahai Rasulullah! Berbuat baik tidak selamanya  hanya mengadalkan materi atau harta. Namun juga membutuhkan cinta di dalamnya. Bila cinta sudah ada, maka akan mudah melakukan segala sesuatunya. Selama Anda mencintai, maka Anda akan bisa mengoptimalkan segala sesuatu yang Anda miliki dan Anda tidak akan pernah merasa kekurangan.
Bila Anda memiliki harta yang bisa diberikan, maka Anda akan mudah memberikannya kepada orang yang membutuhkannya. Anda akan mengerahkan segala harta, tenaga, dan waktu demi orang yang Anda cinta dan Anda akan bahagia karenanya.
Allah akan selalu menerima apa yang Anda lakukan selama Anda melakukannya dengan cinta. Allah akan selalu lapang menerima segala kebaikan Anda selama semuanya itu berasal dari hatimu yang terdalam. Dia pun akan selalu terbuka menerima segela kebajikan dai Anda selama hal itu bersumber dari perasaan Anda.
Rasulullah saw. bersabda :
“Jangan sedikit pun kau menghina kebaikan; walau hal itu hanya sekedar mengosongkan embermu untuk kau tuangkan air ke tempat minum atau berkata dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (al-Hadits).
Renungkanlah di saat senyum Anda untuk saudara Anda adalah sedekah. Sekedar senyuman yang menghiasi wajah Anda di kala Anda menemui saudara Anda. Sekedar menemui saudara Anda bukan dengan wajah masam. Sekedar menemui saudara Anda dengan wajah ceria dan hanya itu tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun atau materi lainnya. Maka Allah menuliskannya sebagai kebajikan dan sedekah Anda yang membuat Anda berhak mendapatkan sebaik-baik ganjaran-Nya.
Namun demikian, senyum yang tulus hanya akan tercipta melalui hati yang penuh cinta. Hati yang penuh kebencian dan kedengkian tidak akan pernah membuat seseorang tersenyum, minimal senyum yang tulus. Walaupun diusahakan seoptimal mungkin, namun senyum yang tercipta hanyalah senyum buatan, bukan senyum yang tulus. Bila hatinya memaksanya untuk terenyum, maka yang tampak adalah senyuman palsu dan lambat laun akant erungkaplah maksud di balik senyum itu. Sedangkan senyum yang tulus akan mampu membuka hati yang kosong dan akan memberikan penyegaran baginya. Dengan cepat, ia akan mengetuk hati orang yang melihatnya dan masuk ke dalamnya hingga akhirnya ia akan membalas senyuman yang sama, lalu membalas kasih sayang dan cinta yang diberikan.
Rasulullah menunjukkan pada kita cara termudah dan gratis untuk bisa menunjukkan cinta kita kepada sesama. Beliau menunjukkan pada kita berbagai jalan agar kita bisa tetap saling menyayangi, agar kita selalu mencintai danmencintai.
Beliau menunjukkan jalan yang tidak membutuhkan uang, waktu ataupun tenaga, yakni dengan hanya tersenyum kepada saudara kita dan menemui mereka dengan wajah yang ceria. Sesungguhnya, senyum yang tulus akan terpanar dari hati kita yang paling dalam dan dengan segera akan mengetuk hati yang melihatnya. Juga agar bia membuka hati yang terkunci, hingga dengan demikian semua individu bisa saling mencintai karena Allah.
Bukan hanya itu, Rasulullah pun menunjukkan kepada kita akan ganjaran yang besar karenanya, serta balasan yang besar dan berlipat ganda atas senyuman yang hanya sekilas. Beliau memaparkan bahwa dengan senyuman yang murah meriah tersebut, yang mampu menyihir siapa pun yang melihatnya di mata Allah dianggap sebagai satu kebajikan dan sedekah. Senyum itu (walaupun tidak diutamakan secara lugas) serta dengan pemberian sebagaimana pemberian dengan harta dan materi duniawi.
Senyum itu dianggap sebagai sedekah yang menjadi investasi bagi kita dan menambah account kebajikan kita dan mengurangi account keburukan kita. Investasi yang akan membuah kashil yang terbaik dan hasil yang berlipat ganda, di antaranya asalah dengan melalui kebajikan, rezeki, kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan nikmat di dunia dan akhirat.
Senyum adalah sedekah secara simbolis, sedekah penuh makna. Sedengan dengan menggunakan hati dan merupakan kebajikan spiritual yang mampu menggembirakan diri. Ia adalah pemberian yang bisa dilakukan setiap individu manusia. Banyak orang mengira bahwa dengan menyedikitkan senyum akan menambah kekayaan. Namuns esungguhnya dengan memperbanyak senyum, maka kita telah memperkaya diri dengan cinta dan kasih sayang. Memperkaya diri dengan meningkatkan investasi  di amta Allah yang berupa keridhaan dan cnta-Nya. Dan kelak, kita berhak mendapatkan posisi yang mulia di dunia dan akhirat. Rasulullah selalu mensosialisasikan pentingnya senyum dengan mencari banyak jalan untuk menumbuhkan banyak cinta di hati sesama manusia dan mengekalkan hubungan yang ada di antara mereka.
Rasulullah saw. bersabda :
“Apakah kalian ingin kutunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan, kalian bsia saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian!” (al-Hadits).
Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya :
“Bila seseorang ingin menganggap orang lain adalah saudaranya, maka tanyakanlah namanya, nama ayahnya dan dari mana asalnya; sesungguhnya hal itu adalah cara paling efektif menumbuhkan kasih sayang.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. bersabda :
“Tiga hal yang akan membuatnmu akan mendapatkan cinta saudarmu : memberikannya salam di kala kau menemuinya, memberikannya tempat duduk kepadanya dalam satu pertemuan dan memanggilnya dengan nama yag disukainya. “ (al-Hadits).
Cara yang mudah dan arahan yang sederhana. Tidak ada kesulitan sedikit pun bagi siapa pun yang ingin menjalankannya. Cara yang tidak membutuhkan tenaga dan harta. Cara murah meriah dan gratis bisa dilakukan oleh setiap orang. Namun demikian, cara tersebut mampu membuka pintu cinta tanpa abatas dan membuat pelakunya bahagia untuk bisa memberikan cinta tanpa batas.
Anda hanya perlu menjumpai saudara Anda dengan wajah ceria dengan mengindahkan perasaan apa pun padanya, kemudian memberinya salam dan membuka percakapan setiap kali bertemu walau dari jarak yang jauh. Janganlah Anda pura-pura tidak melihat atau memalingkan wajah Anda ketika melihatnya. Anda hanya perlu menyambutnya denga  hangat dan menanyakan kabarnya. Kabar keluarganya dan kerabatnya dan mendengarkan apa yang ingin diucapkannya atau diceritakannya, bukan mendenguskan hidung akan kelebihan yang diapaprkannya.
Anda hanya perlu mendengarkan apa yang diucapkannya secara saksama. Anda hanya perlu menyisihkan tempat untuknya semampunya di suatu pertemuan yang Anda hadiri, dan menganggapnya sebagai tamu Anda hingga Anda bisa menghormatinya secara optimal. Anda hanya perlu memanggilnya dengan nama yang disukainya dan kesemuanya itu mampu membuka pintu cinta.
Pada masa kini, banyak orang terlalu sibuk dengan materi duniawi. Mereka pun akhirnya menjadi orang yang pragmatis dalam segala urusannya. Mereka berlomba mendapatkan takhta dan harta hingga mereka lupa akan cinta dan kasih sayang. Mereka lupa akan moral dan etika. Mereka pun akhirnya hanya akan menjadi orang yang bila bertemu saudaranya akan memalingkan wajahnya ke arah lain atau berpura-pura lupa untuk kemudian berlalu dengan cepat seolah tidak melihat kehadiran saudaranya.
Semua itu dilakukan di saat ia tidak memiliki kepentingan apa pun ata ssaudaranya. Namun, ketika ia membutuhkan sesuatu dari saudaranya, dengan antusias ia akan menghampirinya dan langsung berjabat tangan dengannya, dengan wajah yang dibuat-buat. Kata-kata manispun terlontar dari mulutnya, bukan dari hatinya. Jika kita menemui orang sejenis itu, umumnya kita tidak menyadarinya langsung. Setelahnya, perpisahan pun terjadi hingga beberapa tahun lamanya dan mungkin hingga akhir umur. Pertemuan selanjutnya pun bisa jadi hanya di akhirat, baik itu di surga ataupun neraka.
Kehidupan pun menjadi materialistis dan luput dari dimensi spiritualitas, bahkan kosong dari etika dan moral. Kita terlalu banyak disibukkan dengan materi hingga kita melupakan sisi spiritual kita dan menghindahkan kasih sayang yang ada dalam diri. Tidak diragukan lagi, itulah yang menjadid sebab akan banyaknya depresi dan stres yang menimpa banyak dari kita pada masa kini.
Semua itu karena kita tidak peduli lagi akan cinta. Kita tidak memberikan waktu yang cukup untuk bisa mencintai. Kita seolah telah menjadi dingin. Hati kita kering dan saraf kita menjadi tegang. Kita telah melarang diri untuk bisa mencintai. Hati kita menjadi kering untuk bisa menikmati kenikmatan Firdaus-Nya karena kesibukan dunia materialistis.
Kita pun akhirnya menjadi alat pengeruk materi yang tidak memiliki kasih sayang. Alat yang bisud an terus bergerak tanpa henti, dan berputar dengan cepat tanpa adanya kesadaran, perasaan ataupun emosi. Lambat laun, putaran itu akan semakin cepat dan aus. Kita pun akan semakin lupa dengan apa yang terjadi akan makna indah kehidupan yang sebenarnya.
Cinta adalah hal yang jenius dan bukan hal yang bodoh sebagaimana banyak dipersepsikan orang. Sesungguhnya yang bodoh adalah kebencian dan kedengkian karena akebencian dan kedengkianlah yang menjadi bencana bagi diri dan menghancurkan secara langsung.
Berinvestasi dengan cinta adalah sebaik-baiknya investasi. Hasil yang didapatkan adalah dunia dengans egala isinya. Kebahagiaan yang didapatkan karena cinta bernilai lebih dari apa pun yang bisa didapatkan dari materi duniawi.
Ribuan harta yang kita miliki, walau pun bisa dibelikan istana tauapu pesawat, pakain termahal ataupun makanan terlezat, dan perhiasan paling eksklusif, namun ia tetap tidak mampu membeli kebahagiaan. Betapa banyak para miliarder yang memiliki banyak harta, namun mereka sengsara karena mereka kehilangan cinta.
Penyebab utama hancurnya kehidupan sosial dan kesehatan; bahkan kehidupan ekonomi, politik dan berbagai sisi ekmanusiaan lainnya, adalah karena hilangnya cinta. Cinta yang sejati, bukan cinta palsu. Cinta yang bersummber dari hati, bukan sekedar ucapan belaka.
Cinta sejati tidak akan pernah salah. Ia akan mengirimkan busurnya pada pintu hati yang dicintai. Itulah yang terjadi pada diri setiap individu manusisa. Kita akan bisa membedakan antara cinta sejadi dan cinta palsu. Setiap diri kita memiliki insting tentang siapa yang kita cintai dan siapa yang kita benci, walau terkadang kita menutupi dengan ucapan-ucapan palsu.
Cinta sejati akan melahirkan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Cinta sejati adalah sebaik-baik pemberian yang dianugerahkan Allah yang Maha Penyayang kepada anak manusia.
Cinta sejati akan menghidupkan hati yang mati, dan mengaktifkan perasaan dan emosi serta menghangatkan diri. Dengan cinta sejati kita bisa menegcap indahnya kehidupan dan nikmatnya kebahagiaan. Dengan cinta sejatilah kita bisa menikmati indahnya Firdaus-Nya di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah saw. duduk bersama seorang sahabat. Lalu datanglah seorang lelaki. Sahabat tadi menunjuk ke lelaki tersebut seraya berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mencitani lelaki ini.” Rasulullah lalu bertanya padanya, “Apakah kau sudah memberi tahu perasaanmu kepadanya?” Sang sahabat lalu berkata, “Belum.” Rasulullah berkata kepadanya, “Beri tahukanlah kepadanya!” Sang sahabat mengejar lelaki tersebut hingga ia bisa menyusulnya, kemudian ia berkata keapdanya, “Aku mencintaimu karena Allah.” Lelaki itu menjawab, “Aku mencintaimu sebagaimana kamu emncintaiku karena-Nya.” (al-Hadits).
Lihatlah bagaimana cinta karena Allah tercipta!
Dalam hadits di atas tampak bagaimana Rasulullah memberikan arahannya dan hal tersebut pun tampak dari paparan berikut.
Rasulullah berkata kepada para sahabat,
“Jika seseorang dari kalian mencintai saudaranya, maka katakan kepadanya bahwa kau mencintainya.” (al-Hadits).
Kalimat cinta yang tulus mampu menciptakan keajaiban dalam hati. Salah satu substansi cinta adalah dengan mengungkapkannya. Seorang kekasih butuh keyakinan setiap waktu akan cinta kekasihnya dan mendapatkan ketenangan dari cintanya tersebut. Meyakinkan cinta bisa dilakukan dengan banyak hal, di antaranya adalah dengan ungkapan kata-kata yang indah, tulus dan berasal dari hati terdalam. Hal tersebut akan menambah kegembiraan para pecinta dan akan melanggengkan cinta yang ada serta mengukuhkan cinta itu sendiri.
Salah satu substasi cinta yang lain adalah menjaga persasaan kekasih dengan tidak menyakitinya dengan apa pun, walau hanya dengan ucapan, kedipan mata, gerakan, kecenderungan ataupun tatapn.
Rasulullah saw. bersabda.
Bila kalaian sedang bertiga, hendaknya dua di antara kalian tidak bercakap-cakap sendiri dengan membiarkan seorang lainnya, karena hal tersebut akan membuatnya sedih.” (al-Hadits).
Bila dua orang bercakap=cakap tentang suatu permasalahan dan membiarkan seorang lainnya tersisihkan, maka akan ada perasaan praduga tertentu dalam dirinya. Bahkan pada diri orang lain terhadpnya. Hal terebut akan memunculkan kecemburuan tersendiri bagi diri yang tersisihkan dan hal itu akan menumbuhkan ketidaktenanagan dalam hatinya. Ia akan merasa bahwa keduanya sedang melaksanakan rencana buruk padanya. Atas dasar inilah maka Rasulullah meralarang dua orang bercakap=cakap sendiri dengan membiarkan seorang lainnya merasa tersisih.
Bukan hanya itu, bahkan sekedar tatapan mata pun mampu menghangatkan cinta dan mengikis kebekuan dalam hati.
Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak dihalalkan bagi seorang yang beriman untuk melirik saudaranya dengan pandangan yang menyakitkan.” (al-Hadits).
Bahasa mata sangatlah ebragam. Bahasa mata kadang bisa disalahartikan. Pandangan mata bisa bermanfaat, namun tidak jarang sangat berbahaya. Ia bisa menyengsarakan dan bisa membahayakan. Pandangan mata pun bisa mengungkap sesuatu yang tertutup dan membuka skandal yang terbungkus rapi.
Mata bisa mencintai dan membenci, menampakkan kekaguman dan juga kehinaan. Menampakkan keinginan ataupun ketidak sukaan. Memiliki kecenderugan tertentu, memiliki keberanian dan ketakutan. Menampakkan kebahagiaan dan kedengkian. Memiliki harapan dan keputus asaan. Menunjukkan penghargaan ataupun merendahkan. Memperhatikan kegembiraan dan kesedihan. Menunjukkan ketenangan dan ketakutan dan banyak hal lainnya yang bisa diinterpretasikan dari pandangan mata.
Wajah merupakan cerminan diri dan mata  adalah cerminan hati. Bila hati penuh cinta, maka bahasa mata akan menampakkan bahasa cinta, kekaguman, kecenderungan, ketenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Bila hati penuh kebencian, maka bahasa mata hanya akan menampakkan kebencian, kedengkian, kehinaan, keraguan dan tipu daya, walau pun lidah maupun wajah selalu berusaha menutupinya.
Atas dasar inilah Rasulullah mengarahkan pandangan mata kita agar selalu menampakkan pandangan yang manis, penuh cinta dan penuh aksih sayang. Bukan pandangan yang kasar, penuh kebencian dan kejahatan.
Rasulullah selalu menganjurkan agar pandangan mata kita adalah pandangan mata yang penuh cinta agar tercipta cinta yang abadi.

Cinta  Bukan Sekedar  Ucapan

Semua yang telah dipaparkan di atas merupakan ungkapan yang gamblang dan jelas. Namun yang terpenting adalah cinta tidak hanya diungkapkan melalui ucapan belaka, atau pandangan dan senyuman. Cinta lebih dari semua itu. Selain butuh tindakan dan perbuatan, cinta adalah sebuah pemberian dan pengorbanan. Seorang pecinta akan sellau membantu mereka yang lemah, memberi pada orang yang membutuhkan, mengasihi anak yatim, mempermudah orang yang gkesulitan, memberi tanpa mengharap balasan, dan berlaku baik termasuk keapda dirinya sendiri. Setelah melakukan semuanya itu, ia akan merasakan kebahagiaan.
Rasuluuah saw. bersabda.
“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang baik kepada tetangganya.” (al-hadits).
Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya Allah memiliki ciptaan yang diciptakan untuk bisa memenuhi kebutuhan sesamanya. Manusia akan menghubunginya untuk bisa memenuhi kebutuhannya; dan merekalah orang-orang yang terbebas dari azab Allah.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. bersabda :
“Orang yang membantu para janda dan para fakir laksana orang yang berjihad di jalan Allah; laksana orang yang bangun malam untuk melaksanakan shalat dan laksana orang yang berpuasa di siang hari.” (al-Hadits).
Rasuluuuah saw. bersabda :
“Demi yang mengutus dengan kebenaran, pada hari Kiamat kelak, Allah tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, mengucapkan kata yang lembut padanya dan mengasihi keyatiman dankelemahannya.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang mempermudah sesuatu yang sulit di dunia maka kelak Allah akan mempermudah segala urusan baginya di dunia dan akhirat! Sesungguhnya Allah akan selalu membantu hambanya selama hamba itu selalu membantu sesamanya.” (al. Hadits).
Inilah cinta! Cinta bukan hanya ucapan, namun juga perbuatan, aplikasi,d an memberi. Selalu memberi tanpa ahenti.s esungguhnya cinta mendorong seseorang untuk selalu membantu saudaranya dan membantunya selalu berada di sampingnya di sat ia dibutuhkan. Dengan cinta, seseorang akan selalu berusaha mengulurkan tangannya untuk orang yang membutuhkan, orang yang terzalimi, membantu janda dan anak yatim, bersedekah kepada fakir miskin, mempermudah orang yang kesulitan, membantu memecahkan permasalahn sesamanya, mendistribusikan semua yang dimilikinya, baik berupa materi maupun imateriil, kepada setiap orang secara adil dan merata.;
Hati pecinta adalah hati yang besar. Hati yang penuh engan cinta kasih dan lembut. Hati yang berlimpah dengan kebajikan dan rahmat. Hati yang penuh dengan cinta kepada sesama. Atas dasar inilah, hati pecinta tidak akan pernah pelit untuk memberikan cintanya kepada siapa pun. Ia akan mencurhkan semua yang dimilikinya dan ia merasakan kegembiraan karenanya. Ia akan memberi segalanya seolah ia mengambil segalanya. Karena sesungguhnya, ia menjadi sesuatu yang sangat berharga, yakni kebahagiaan dari apa yang dilakukannya. Kebahagiaan dalam hatinya yang akan terpancar dari dalam dirinya dan tampak oleh banyak orang hingga mereka pun merasakan kebahagiaan yang sama. Kebahagiaan itulah yang menyatukan mereka semua. Inilah cinta para pecinta sejati. Kebahagiaan mereka tampak dari kebahagiaan kekasihnya.
Kebahagiaan bisa menyebar dengan cepat. Cinta mampu melahirkan kebahagiaan yang menyebar ke segala penjuru. Ia ditransfer dengan cepat ke dalam diri mereka yang dicinta hingga mereka pun mersakan kebahagiaan yang sama, yang mencinta dan dicinta dala balutan kebahgiaan yang sama.
Cinta sejati hanya akan lahri dari usaha dan pengorbanan. Sedangkan cinta pragmatis adalah cinta yang penuh keegoisan. Sifat keegoisan hanyalah bentuk dari suatu pengaruh,s edangkan cinta adalah mempengaruhi. Keegoisan adalah penajra manusia dalam dirinya, yang mampu menjerumuskan seseorang dalam kekelaman. Sedangkan cinta adalah energi, cahaya dan kunci kebebasan bagi banyak orang.
Fwalaupun keegoisan bisa terealisasi dan mendatangkan kepentingan yang diinginkan, namun hal tersebut hanya menumbuhkan kesendirian dan ketersisihan dari banyak orang di sekelilingnya. Seseorang yang egois lambat laun akan merasa terasing, baik di masyarakat maupun negeranya. Sedangkan dengan cinta, walaupun pelakunya banyak emncurahkan segala yang dimilikinya, segala sesuatu yang dilakukannya justru membuatnya dengan sekitarnya.
Seorang pecinta akan selalu merasa bahagia bergaul dengan siapa pun yang ada di sekitarnya. Setinggi apapun jabatan seseorang, ia akan tetap sendiri kecuali bila ia memiliki teman dan sahabat yang dikasihi.

Sesungguhnya, cinta sejati tidak hanya ‘saya’ dan ‘Anda’, karena sesungguhnya saya adalah Anda dan Anda adalah saya!
Cinta sejati bukan hanya ‘saya’ semata! Bahkan ia selalu ‘Anda’! karena ‘Anda’ pada dasarnya adalah ‘saya’

Cinta sejati mampu membuat seseorang lupa akan dirinya dan membuatnya sibuk dengan yang lainnya. Cinta sejati akan membuat Anda lupa siapa diri Anda dan membuat Anda lebih sibuk dengans sesama. Anda akan keluar dari penjara diri Anda dan membebaskan Anda dari belenggu diri. Anda akan membuka kehidupan dan kebahagiaan besama dengan yang lainnya.
Citna sejati akan membuat seseorang terfokus pada orang yang dicintainya dan membuat dirinya menjadi lebur dengannya. Cinta sejati adalah sebuah perasaan mendalam tentang semua individu manusia, sebuah pengorbanan, proses memberi ke semua pihak. Dari sini, maka terciptalah persatuan sesama manusia. Satu dengan lainnya terkait dengan cinta yang sama. Cinta mereka kepada alam pun mengikat satu dengan lainnya. Demikian pula cinta mereka yang besar kepada Pencipta mereka, yang gmerupakan sumber cinta, kebajikan dan anugerah.
Sesungguhnya, cinta sejati akan menghilangkan perbedaan yang ada di antara manusia. Perbedaan yang dibentuk oleh pribadi-pribadi yang lemah dan mereka yang memiliki kepentingan pribadi. Cinta sejati akan membuat budak laksana majikan dan majikan laksana budak. Cinta akan membuat pemimpin mengasihi si fakir dan si fakir taat pada pemimpin. Cinta sejati akan membuat yang besar menyayangi mereka yang kecil dan yang kecil menghormati yang besar.
Sebagai contoh, dalam ibadah hahji, kita akan melihat orang-orang saling mencintai satu dengan lainnya.s emuanya adalah hamba Allah dan semuanya sama di hadapan Allah. Mereka mengenakan pakaian yang sama dan duduk di lantai yang sama. Mereka menyembah Tuhan yang sama, memanjatkan doa yang sama, juga shalat yang sama. Tidak satu pun dari mereka mampu membedakan antara yang kaya dengan yang miskin; antara menteri dengan rakyat jelata; antara penjual dan pembeli, ataupun pemimpin dan yang dipimpin. Semuanya adalah hamba Yang Maha Penyayang. Semuanya adalah saudara yang saling mencintai satu dengan lainnya.
Mereka saling memanggil dengan panggilan cinta, saudaraku, saudariku, ayaku, ibuku,  putraku dan putriku. Semua laksana satu keluarga yang saling terikat dengan cinta dengan beragam warna dan tingkatan sosialnya,  dengan beragam segmentasi umurnya dan beragam benuanya. Semuanya dikumpulkan dengan penuh kasih sayang-Nya.

Perselisihan  Para Pencinta

Walaupun cinta telah hadir, namun hubungan antar sesama manusia terkadang tidak selalu berjalan mulus dan se arah. Awan hitam terkadang bergerak di langit cinta dan menghalangi awan putih. Terlebih di saat terdapat perbedaan pendapat di antara para pecinta, atapun perbedaan keinginan dan tiada satu pun yang ingin mengalah. Pada saat itulah tercipta perselisihan antar sesama manusia. Satu dengan lainnya menjadi salah paham dan hal tersebut mengakibatkan mereka saling memburukkan keadaan sesamanya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, baik dengan niat  yang baik maupun niat yang busuk.
Namun keberadaan cinta mampu memberikan ketenangan dan menjernihkan jiwa, serta membuka pintu hati. Dengan cinta, seseorang mampu kembali menyadari dan menyesali kesalahan yang telah dilakukannya. Ia akan mengutuk niat buruknya dan kembali keada biat baiknya. Setelahnya, ia akan menemui saudaranya, meminta maaf atas kesalahannya dan menyesali perbuatannya.
Karena cinta pulalah, kata maaf akan mudah disampaikan. Sesungguhnya, cinta telah memberikan pengaruhnya. Ia memiliki tolerasni yang tinggi dan pengampunan. Walaupun kesalahan yang dilakukan sangat besar, cinta yang ada mampu melebihinya. Hati yang besar akan selalu mampu menoleransi semua kesalahan yang tercipta, sebesar apa pun kesalahan itu. Bukan hanya menoleransi kesalahan, namun juga menghapuskannya hingga tiada yang tersisa kecuali cinta.
Kita semua dalah manusia yang rentan dengan berbagai kesalahan. Namun demikian, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mau bertobat. Rasulullah telah emngajarkan kita tentang substansi cinta. Seandainya tidak ada toleransi dalam cinta Yang Maha Agung, kalau lah bukan karena pengampunan-Nya atas semua dosa kita, tentunya kita telah binasa dengan banyaknya dosa yang telah kita lakukan dan tentunya tempat kembali kita pastilah kekal dalam neraka-Nya.
Berdasarkan hal itulah Rasulullah saw. mengarahkan kita pada cinta yang penuh tenggang rasa dan toleransi serta cinta yang suka memaafkan. Beliau menganjurkan kita untuk bisa memaafkan kesalahan orang hingga Allah berkenan mengampuni semua kesalahan kita dan mengahpuskan dosa kita kelak.
Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang membebaskan dirinya dari keesalahan dengan penyesalan, maka Allah akan membebaskan dirinya dari dosa apda hari Kiamat kelak.” (al-Hadits).
Karenanya, terimalah perminataan maaf, walaupun kesalahan yang dilakukannya sangat besar! Terimalah beragam alasan, walaupun itu sangat lemah! Terimalah kondisi yang terjadi, walaupun itu dibuat-buat. Semua itu untuk mengekalkan cinta, kesucian dan kedamaian antar sesama manusia.
Mengekalkan segala faktor kebencian hanya akan mengukuhkan perselisihan dalam hati dan akan mengoyak ketenangan dan kegembiraan yang ada di antara kita. Cukuplah yang bersalah dengan penyesalannya atau dengan tidak mengulanginya kembali.
Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya untuk menarik akta terakhirnya (mengakui kesalahannya), maka terimalah, terlepas dari apakah yang dikatakannya beanr ataupun salah. Bila tidak dilakukan, maka sesungguhnya ia tidak akan mereguk air telagaku.” (al0Hadits).
Kau benar, wahai Rasulullah! Barangsiapa yang tidak bisa memaafkan kesalahan saudaranya, maka Allah tidak akan mengampuni dosanya. Adakah di antara kita yang tidak memiliki dosa atau tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan, walau sekedar dengan ucapan ataupun pkiran; walau sekedar dengan praduga atau bahkan sekedar diam? Sesungguhnya, Yang Maha Agung mencintai hamba-Nya yang memiliki hati seputih kapas nan jernih. Mereka yang saling mencintai dan gemar memaafkan.
Allah akan mencintia mereka dan mengampuni semu kesalahan mereka. Menggantikan kesalahan yang mereka lakukan dengan kebaikan. Allha kelak akan memasukkan mereka dalam Firdaus-Nya dan rahmat-Nya yang melimpah. Sedangkan mereka yang memiliki hati yang kelam, yakni mereka yang suka membenci dan mendengki, maka yang tersisa dalam hati mereka hanyalah kekerasan dan keburukan. Mereka tidak bisa bersikap toleran ataupun memaafkan. Mereka adalah seburuk-buruknya hamba Allah dan seburuk-buruk ciptaan-Nya. Mereka jauh dari kasih sayang Allah dan juga jauh dari ampunan-Nya. Mereka tidak berhak mendapatkan cinta-Nya dan diasingkan dari surga dan kenikmatannya.
Seorang sahabat datang menemui Rasulullah saw. dan menanyakan kepadanya perihal seburuk-buruknya manusia, maka Rasulullah saw. menjawab :
“Mereka adalah yang tidak mudah bersikap tenggang rasa dan tidak menerima permintaan maaf serta tidak memaafkan kesalahan orang lain.” (al-Hadits).
Sedangkan sebaik-baik manusia (yaitu yang paling banyak memiliki kelebihan, yang paling dekat dengan Allah, paling berhak mendapatkan rahamt dan ampunan-Nya, mendapatkan prioritas utama cinta dan keridhaan-Nya) adalah sebagaimana dipaparkan dalam ayat Al-Qur’an berikut :
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran (3):234).
Sesungguhnya surga terendah telah dipersiapkan Allah untuk mereka yang mampu menahan amarahnya. Mereka adalah orang yang mampu menyembunyikan kemarahan mereka dan tidak membalas keburukan yang diterimanya.
Rasuluuah saw. bersabda :
“Seburuk-buruknya kalian adalah yang cepat amrah namun lamban redanya, dan sebai-baiknya kalian adalah yang lamban marah namun cepat redanya.” (al-Hadits).
Diriwaatkan bahwa pada suatu saat, seorang sahabt Rasulullah datang bertanya padanya perihal pekerjaan yang dapat membuatnya masuk ke dalam surga. Lalu Rasuluuuah saw. menjawab :
“Jangan marah dan kau akan mendapat surga.”(al-Hadits).
Dengan hanya menahan diri untuk tidak membalas keburuhakn; dengan hanya menahan diri kala marah dan mengendalikan permusuhan yang ada dalam diri, maka Anda sudah ebrhak mendapatkan surga dengan tingkatannya yang paling rendah. Sedangkan surga yang lebih tinggi lagi tingkatannya diperuntukkan untuk mereka yang suka besikap toleran; yang suka memaafkan setiap keburukan yang diterimanya; dan memaafkan orang yang melakukan keburukan tersebut.
Mereka tidak pernah membiarkan kebencian tumbuh dalam diri mereka kepada siapau pun. Bahkan, kepada mereka yang telah berbuat jahat dan buruk kepadanya. Merekalah orang-orang yang memiliki hati yang jernih dan sangat putih.
Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya.
“Apakah kau ingin kuberitahu tentang seseorang yang tidak layak masuk ke dalam neraka? Neraka diharamkan bagi siapa pun yang berhati lembut.” (al-Hadits).
Yang dimaksud dengan berhati lembut adalah yang suka bersikap toleran dan mempermudah segala persoalan yang ada. Merekalah yang memiliki hati yang jernih dan hati yang putih. Mereka suka memaafkan kesalahan orang dengan tulus.
Sedangkan surga tertinggi adalah surga Firdaisu. Di dalam surga tersebut, penghuninya akan mendapatkan cinta-Nya dan menikmati kedekatan dengan-Nya. Penghuninya akan mendapatkan posisi yang mulia di sisi-Nya dan mereguk semua kenikmatan dan keridhaan-Nya. Merea hanya akan mendapatkan kebajikan dan kesenangan.
Mereka yang layak menghuni surga ini bukan hanya yang mampu diam atau menyembunyikan amarah. Juga bukan hanya mampu bersikap toleran dan memaafkan, namun juga mampu membalas keburukan yang mereka termia dengan kebaikan; merespons segala kehatan dengan kebajikan, mengembalikan segala hinaan dengan pemberian, memfeedback kebencian dengan cinta. Merekalah yang berhak mendapatkan derajat tertinggi di surga-Nya dan kekal di dalamnya. Surga, tempat yang penghuninya sebagian besar para nabi dan mereka yang berjihad di jalan-Nya. Surga, tempat berkumpulnya semua malaikat yang suci dan surga tempat di mana para penghuninya akan terpuaskan dengan semua rahmat dan kasih sayang-Nya.
Dikisahkan bahwa suatu saat Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya, “Sebentar lagi akan datang keapda kalian seorang penghuni surga.” Lalu para sahabat mengalihkan padnangannya ke pintu masuk dan mereka menyaksikan seorang laki-laki dari kaum Anshar datang menuju tempat mereka.
Dari wajahnya nampak ketakwaan, kesederhanaan dan sikap toleransi yang tinggi. Meliahtnya, Abdullah bin Amru berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh rahasia lelaki tersebut, yang notabene dilegitimasikan sebagai penghuni surga oleh Rasulullah. Abdullah pun membuat rencana hingga ia bisa menginap di rumah lelaki tersebut selama tiga hari untuk bisa mengamatinya dari dekat. Hasil penelitiannya tidak menunjukkan sesuatu yang lebih baik dari ibadah sahabat lainnya,
Sebelum akhirnya Abdullah pamit pulang, dia memberitakan apa yang didengarnya dari Rasulullah kepada lelaki tersebut dan menanyakan padanya akan satu amal saleh yang mungkin disembunyikannya, yang membuatnya berhak mendapatkan tempat di surga. Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak punya amalan lain, selain apa yang telah kau lihat. Aku melaksanakan shalat sebagaimana orang melakukannya. Aku melakukan ketaatan sebagaimana orang melakukannya. Bedanya aku tidak pernah mendengki siapa pun atas kebaikan yang telah Allah Anugerahkan kepadanya dan setiap kali aku hendak menuju tempat tidurku, aku tidak pernah menyimpan kedengkian kepada siapa pun dalam hatiku.”
Di sinilah letak integrasi hati dan cinta sebelum melakukan kewajiban dan ibadah. Diiringi hati di awal pekerjaan dan tetap diirigni hingga akhirnya. Hati yang baik, suci dan bersih, hati yang tidak mengenal benci dan kedngkian, hati yang murah dan hanya menyimpan cinta, selalu cinta.
Dengan demikian, marilah kita mencintai sesama, bertenggang rasa dengans esama, memaafkan kesalahan sesama, membalas keburukan  dengan kebaikan dan tidak membiarkan kesalahan dari kebencian dalam diri menghancurkan cinta yang ada. Jangan biarkan sekeping kedengkian pun masuk dan menyusup di antara kita hingga mampu memperekeruh kejernihan hati kita dan mengotori kebahagiaan dalam diri kita.
Rasulullah saw. menganggap perselidihan dan pertentangan sebagi tindakan kriminalitas terbesar bahkan dosa terbesar. Hal ini dikarenakan keduanya sebagai bentuk gugatan atas cinta dan ancaman yang membahayakan bagi cinta. Oleh sebab itu, tak heran bila kemudian Rasulullah mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap hal tersebut dan menganjurkan kita untuk segera menghilangkan semua kedengkian dan kebencian bila hal tersebut telah terlanjur terjadi. Kita dianjuran sesegera mungkin merevisi kondisi hati dan kembali menumbuhkan cinta kepada mereka yang telah kita benci.

 Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya :
“Bersikaplah toleran maka hilanglah kebencian.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. pun memperingatkan mereka yang berselisih dengan ucapan :
“Cukuplah apa yang kaku lakukan menjadi dosa bagimu. Hentikanlah permusuhan yang kau lakukan!” (al-Hadits).
Sungguh, permusuhan adalah satu dosa besar; lebih besar dari semua dosa yang ada, walau dialtarbelakangi dengan berbagai sebab dan alasan. Bila seseorang bersikukuh untuk tetap bermusuhan dan memutuskan hubungan, maka selama hidupla ia dianggap bersikukuh untuk melakukan dosa dan sengaja melakukan kesalahan. Atas dasar inilah Rasulullah memberikan batasan maksimal seseorang bisa bermusuhan. Beliau membatasi permusuhan tidak lebih dari tiga hati, apa pun kondisi dan permaslahannya.
Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya.
“Tidak halal bagi siapa pun dari kalian untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya.” (al-Hadits).
Bila permusuhan masih tetap terjadi, pertentangan masih berlanjut, maka hal terseebut dianggap sebagai satu dosa besar dengan muatan dosa yang sangat tinggi; serta dianggap sebgai bentuk tindakan kriminal yang sangat buruk di hadapan Allah dan juga manusia.
Permusuhan dianggap lebih jahat dari kategori membunuh, karena permusuhan adalah membunuh jiwa antar sesama manusia. Perselisihan dan permusuhan Anda kepada saudara Anda, yang membuat Anda mengacuhkannya, maka secara tidak langsung Anda telah “membunuhnya”. Kriminalitas apa yang lebuh buruk dariapda pembunuhan? Dosa apa yang lebih besar melebihi pembunuhna?
Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya.
Barangsiapa yang mengacuhkan saudaranyanya selama satu tahun, maka sesungguhnya ia telah membunuhnya.” (al-Hadits).
Benar apa yang diungkapkan, Wahai Rasulullah! Mengacuhkan seseorang dalam waktu yang lama sama dengan membunuhnya. Membunuh kasih sayang yang terjalin antar sessama manusia. Membunuh hubungan manis yang ada antar sesama. Dengan demikian, dapat didpahami bahwa Muhammad saw. mengategorikan penghapusan cinta serupa dengan pembunuhan. Membunuh cinta sebanding dengan membunuh kehidupan. Semua itu didasari karena kehidupan tidak pernah akan ada tanpa adanya cinta.
Apa yang tersisa dari suatu kehidupan tanpa cinta? Apa yang tersisa dari kehidupan yang tanpa rasa; kehidupan yang tanpa kasih sayang?
Tidak tersisa apa pun kecuali kebekuan, kevakuman, dan kegelapan. Tidak tersisa apa pun kecuali keegoisan, kedngkian dan kebencian. Tidak tersisa apa pun kecuali permusuhan demi pragmatise dan mengejar kepentingan materi. Tidak tersisa apa pun kecuali kehancuran dan kematian.
Atas dasar paparan di atas, dapat dipahami mengapa Rasulullah membenci pertentangan sesama manusia. Rasulullah pun melarang manusia untuk saling mendengki, bermusuhan dans egala hal yang memperkeruh kejernihan cinta; atau mendinginkan hubungan kasih sayang antar sesama manusia. Rasulullah melarang permusuhan bagi orang yang beriman dan menganggap permusuhan sebagai satu dosa besar yang wajib diberi hukuman.
Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya.
“Jangan saling membenci, mendengki dan saling menggunjing; dan jadilah hamba Allah yang saling bersahabat satu dengan lainnya.” (al-Hadits).
Benar, kita semua adalah hamba Allah dan kita semua adalah hamba Yang Maha Penyayang. Dengan demikian, sduah selayaknya kita menjadi satu saudara dengans esama kita. Sesungguhnya, langit dan bumi sduah dipersiapkan untuk kita semua. Beragam kebaikan dan rezeki pun telah dianugerahkan untuk kita oleh-Nya. Lalu, mengapa kita masih saling membenci, mendengki dan saling menggunjing? Mengapa kebencian, kecemburuan dan kedengkian masih ada dalam hati kita>
Permusuhan dan kebencian adalah pengikis cinta dan kehidupan. Sesungguhnya cinta adalah dasar adanya kehidupan dan kehidupan menumbuhkan cinta. Cinta mengaktifkan kehidupan dan kehidupan adalah fasilitas adanya cinta. Cinta adalah jiwa dari kehidupan dan kehidupan adalah tubuh dari cinta. Lalu mengapa masih ebrsekutu dengans egala hal yang mengikis cinta dan kehidupan? Mengapa kita masih amrah kepada Rasulullah ya notabene adalah penyelamat kehdiupan dan cinta?
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertemu salah seorang sahabatnya. Beliau menyapanya dengan ucapan, “Wahai Abu Ayyub, apakah kau mau aku tunjukkan kepada suatu eprniagaan yang menguntungkan? Apakah kau mau aku tunjukkan suatu aktivitas yang kelak akan mendapatkan ridha Allah dan rasul-Nya?”
Abu Ayuub berkata, “Tentu saja wahai Rasulullah!”
Rasulullah lalu berkata :
“Sambunglah tali silaturahmi antar sesama manusia. Bila silaturahmi yang ada rusak, dekatkan hati antara mereka yang terpisah.” (al-Hadits).
Perniagaan yang menguntungkan, yang tidak akan pernah merugi adalah perniagaan cinta. Ia adalah perbuatan yang baik, aktivitas yang terpuji, yang tidak akan membuat seseorang bangkrut; namun justru membawa keuntungan yang tiada habisnya.
Itulah perniagaan cinta. Anda akan selalu mendapatkan laba yang berlipat atasnya, baik di mata Allah maupun dalam pandangan manusia.
Bayangkanlah kebahagiaan yang Anda rasakan di kala Anda mampu menghilangkan faktor yang menjadi pemisah antara teman Anda. Bayangkanlah kegembiraan Anda bila Anda mampu mengikis semua faktor permusuhan antar saudara Anda! Bayangkanlah kegembiraan Anda saat Anda mampu mempersatukan hati yang terpisah. Bayangkanlah pula leganya hati Anda bila Anda mampu menghilangkan semua kebencian yang ada dalam diri seseorang dan menggantikannya dengan cinta dan kasih sayang; menghapus semua permusuhan dan menggantikannya dengan keakraban.
Periagaan cinta adalah perniagaan yang harus diusahakan dan perniagaan yang memiliki prospek yang sangat cerah di mata Allah. Labanya sebanding laba yang ada dalam ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya. Semua itu karena perniagaan cinta yang adalah perniagaan yang paling suci dan memiliki tujuan yang mulia.
Perniagaan ini pun memiliki prospek yang baik di mata manusia. Dengan menjalankannya, maka Anda dapat menarik hati banyak orang. Selain itu, Anda pun akan mendapatkan banyak kebajikan dan keberkahan dari sesama. Cinta yang Anda tanamkan dalam hati sesama akan memberikan keuntungan yang sangat berlipat dan kebahagiaan yang tiada tara dalam diri. Kasih sayang yang Anda berikan kepada sesama akan menghangatkan tubuh Anda dan mendatangkan kegembiraan dan ketenangan bagi diri Anda. Kebahagiaan inilah yang akan senantiasa mengiringi langkah dan gerak Anda. Kebahagiaan itu akan bersemi dalam diri dan tampak secara nyata. Anda hanya perlu memberikan cinta kepada diri Anda, kekasih Anda, Saudara Anda dan setiap orang.
Itulah, cara kerja perniagaan cinta. Perniagaan yang menyenangkan di dunia dan akhirat. Perniagaan yang memiliki prospek cerah di amta Allah dan manusia.

Masyarakat  Penuh Cinta

Muhammad saw. sangat mencintai semua manusia. Beliau mengjarkan pada umat manusia bagaimana cara mencintai sesamanya dan mengukuhkan cinta antar sesama.
Rasulullah bersama para sahabat dan orang-orang beriman lainnya berhijrah dari masyarakat kafir Makkah menuju Madinah demi mempertahankan aqidah mereka. Di Madinah, mereka mendapatkan sambutan yang hangat. Rasulullah pun berinisiatif menghilangkan perasaan terasing dalam diri kaum Muhajirin, yakni mereka berhijrah meninggalkan sanak saudaranya. Beliau pun berniat menumbuhkan perasaan kebersamaan dalam diri kaum Anshar, yakni masyarakat Madinah yang membantu kaum Muslimin.
Rasulullah memberikan nilai lebih dari makna persaudaraan yang selama ini dipahami hanya saudara sedarah atau senasab. Rasulullah membuat model  persaudaraan seiman, seagama dan seakidah. Persaudaraan karena Allah, yang menciptakan semua makhluk. Rasulullah menjadikan setiap orang dari kaum Anshar menjadi saudara dari setiap individu dari kaum Muhajirin, dan menjadikan setiap orang dari kaum Muhajirin menjadi saudara dari tiap individu dari akum Anshar. Setiap orang dari mereka mendapatkan saudara baru untuk kemudian mendapatkan hak dan kewajiban layaknya saudara kandung.
Dengan kekuatan cinta yang ditanamkan oleh Rsulullah pada diri kaum muslimin, tiap individu dari kaum Muhajirin maupun Anshar berlomba untuk memberikan yang terbaik bagi saudaranya. Setiap emreka memberikan saudaranya apa yang mereka miliki. Setiap dari mereka siap berlomba demi saudara tercintanya. Setiap dari mereka siap mewujudkan impian saudaranya. Bahkan dari mereka saling berjanji, “Darahku adalah darahmu! Kehancuranku adalah kehancuranmu! Kelak kau mendapatkan warisanku dan aku pun mendapatkan warisanmu,”
Kaum Muhajirin hanya menginginkan tempat berteduh dan makanan secukupnya. Namun kaum Anshar meminta Rasulullah saw. untuk membagi rata harta yang mereka miliki untuk saudara mereka, kaum Muhajirin. Rasulullah menolak permintaan kaum Anshar, demikian pula kaum Muhajirin. Baik Rasulullah maupun kaum Muhajirin menolak untuk terus bergantung pada kaumm Anshar. Mereka sudah cukup merasa bahagia, kaum Anshar menerima mereka dengan baik.
Inilah yang dinamakan berlomba mengejar cinta. Berlomba dalam memberi. Berlomba untuk bisa mencurahkan semua yang dimiliki. Belomba untuk bisa saling berkorban.
Sa’ad bin Rabi’ adalah satalh satu orang terkaya di Madinah. Ia berusaha menyenangkan saudara barunya, Abdurrahman bin Auf dengan mengatakan kepadanya, “Aku telah membagi hartaku untukmu. Aku pun memiliki dua orang istri. Lihatlah mana yang lebih  kau sukai, hingga aku bisa menceraikannya dan menikahkannya denganmu!”
Namun Abdurrahman menolak kebaikan seudaranya dengan santun dengan ucapan, “Semoga Allah  memberikan keberkahan untukmu, keluargamu dan haramu!” Lalu dia bertanya. “Di mana letak pasar terdekat di sini?” Abdurrahman beranjak menuju pasar Madinah untuk bekerja dan akhirnya ia pun mendapatkan hasil.
Seiring berjalannya watu, Allah melimpahinya dengan banyak keuntungan. Abdurrahman menikah dan mampu memberikan mahar kepada istrinya berupa harta yang banyak tanpa bergantung kepada harta saudaranya dari kaum Anshar.
Inilah yang dinamakan masyarakat penuh cinta. Masyarakat di mana Muhammad menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan, cinta dan kejernihan hati antara pendatang dan penduduk setempat, antara kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka semua akhirnya menjadi saudara yang satu. Setiap dari mereka memberikan pelayanan terbaik bagi saudaranya. Setiap dari mereka memberikan pelayanan terbaik bagi saudaranya. Setiap dari mereka berusaha memberikan hal terbaik yang mereka miliki,d an mereka melakukannya dengan senang hati.
Setiap dari mereka rela berkorban, walau dengan nyawa, harta, waktu maupun tetesan darah demi saudaranya. Mereka pun akhirnya menjadi keluarga yang satu; satu dalam fisik dan hati yang dengannya mereka hidup bersama saudara dan para sahabatnya.
Muhammad telah merealisasikan satu bentuk cinta yang aplikatif dan membentuk persaudaraan di antara mereka secara rrealistis. Cinta yang ditumbuhkannya mampu membuahkan banyak kebajikan dan menghapuskan berbagai keburukan. Cinta tersebut mampu mengahncurkan bukti cadas dan membuka banyak pintu. Cinta itu mampu membangun peradaban, membersihakn hati, membangkitkan jiwa, memperkuat hubungan dan menciptakan banyak keajabiban.
Muhammad dmencintai setiap individu manusia hingga mereka pun mencintainya. Setiap individu yang mengenalnya mencintainya dengan tulus. Siapa pun yang pernah melihatnya pasti mencintainya. Siapapun yang penah mendengar namanya pasti mencintainya. Semua pihak mengakui cinta yang disebarkannya, bahkan pihak musuh pun mengakuinya.
Di kala Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi kembali dari tugasnya sebagai delegasi kaum Quraisy kepada kaum muslimin dalam negosiasi perjanjian Hudaibiyah, ia memaparkan pada kaumnya (yang pada saat itu masih tergolong musuh Rasulullah) akan cintanya yang mendalam kepada sesama.
Ia mengungkapkan kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy, aku telah mendatangi Kisra di kerajaannya, Kaisar di kerajaannya; Najasy di kerajaannya, namun Demi Allah, aku belum pernah menemui seorang raja pun dalam kaumnya layaknya Muhammad dengan para sahabatnya. Ketika ia hendak berwudhu, para sahabatnya dengan sigap berlomba memberikan air wudhu, dan tidak ada selembar rambut pun yang jatuh kecuali mereka ambil. Mereka tidak pernah sekali pun memberikan salam terlebih dahulu, karena Rasulullah selalu mendahului mereka dalam memberi salam.”
Inilah yang dinamakan cinta. Cinta untuk semua, antara ayah dan anak, antara sesama saudara, antara sesama sahabat, guru dan murid, pemimpin dan yang dipimpin, antara jendral dan prajurit, yang tuda dan yang muda, dan antara Nabi dengan para sahabatnya. Inilah cinta yang hendaknya dibangun antar sesama manusia antar sesama makhluk-Nya.
Cinta yang dibangun atas dasar saling memberikan ketenangan dan inisiatif, bukan atas dasar paksaan dan rasa takut. Juga bukan atas dasar hawa nafsu dan pragmatisme. Cinta yang dilandasi kejernihan hati nurani, bukan sekedar tutur kata lisan. Cinta yang mendatangkan kegembiraan dengan memberi dan memberi serta tidak pernah sekalipun meminta. Cinta yang membuat seseorang rela berkorban dan mengenyampingkan kepentingan pribadi.
Diriwayatkan bahwa kaum kafir menawan seorang dari kaum mukmin, yakni Zaid bin Datsnah. Mereka menyiksanya hingga Zaid menemui ajalnya. Di kala Zaid hampir menemui ajalnya, Abu Sufyan bertanya padanya, “Zaid, apakah kau ingin bila Muhammad sekarang menggantikan posisimu dan kau bisa kembali ke keluargamu?” Zaid menajwab, “Demi Allah, aku tidak akan rela bila Muhammad ada pada posisiku menghadapi rintangan yang berat, sedang aku ada bersama keluargaku, “Aku tidak pernah melihat soerang pun mencintai saduaranya, sebagaimana para sahabat Muhmmad mencintai Muhammad.” Kaum kafir lalu menambahkan siksaannya kepada Zaid hingga ia menemui ajalnya dengan penuh cinta dan keimanan.
Muhammad telah membuka pintu hatinya yang penuh cinta kepada para sahabatnya, serta mengalirkan darinya kasih sayang terdalam. Beliau mencintai sahabatnya dengan sepenuh hatinya dan mencurahkan segalanya untuk mereka. Beliau menjaga dan memberikan petunjukknya yang terbaik. Mereka tak heran bila para sahabat pun mencintai mereka dan beriman pada ajaran yang dibawanya. Mereka pun berlomba mencurahkan segala yang mereka miliki; jiwa, raga  dan harta demi menegakkan kebenran. Dan, mereka melakukannya dengan senang hati.
Mereka rela mendapatkan siksaan dan bahkan menghadang maut dengan gembira demi mendapatkan syahid di jalan-Nya dan kekekalan di surga-Nya bersama paara rasul-Nya di bawah asuhan Tuhannya yang penuh cinta; sumber kehidupan, cinta dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

CINTA   DAN SEKSUALITAS

Seksualitas adalah satu fitrah awal manusia dan merupakan kebutuhan biologis manusia. Seksualitas adalah program yang diformat  Pencipta bagi semua makhluk hidup untuk melestarikan jenis dan melanjutkan kehidupan. Dengannya, terciptalah masyarakat dan komunikasi, serta kasih sayang dan pembangunan.
Pemenuhan kebutuhan seksualitas bisa dilakukan dengan beragam bentuknya. Ia tervisualisasi dalam beberapa gambaran dan fenomena. Kebutuhan ini pun mengendalikan semua tingkah laku dan gerak-gerik kiga, baik disadari maupun tidak; baik disengaja maupun tidak; walaupun  terkadang kita mengingkari atau menyembunyikannya. Atas dasar inilah, maka pengharaman atas kebutuhan ini akan mendatangkan suatu hasil yang sangat membahayakan, bahkan menghancurkan di beragai kesempatan.
Karena itulah, cara terbaik untuk menginvestasikan energi seksual yang ada pada kita dalam fungsinya serta mendatangkan kebahagiaan tersendiri adalah dengan mengendalikan dan mengiringi keberadaannya. Dengan sentuhan kasih sayang dan daya spiritualitas, serta memenuhinya dalam batasan yang telah ditetapkan dalam hukum syariat.
Banyak agama selain Islam memandang kebutuhan seksualitas sebagai satu hal yang kotor. Tak heran bila kemudian mereka menyeru umat manusia untuk melajang, menjadi rahib dan menyendiri, baik di gurun maupun di gua, jauh dari lingkungan masyarakat. Mereka pun menyeru manusia untuk tinggal dalam vihara dan beteng-beteng atau tempat terpenccil lainnya di mana tidak ada komunikasi.
Salah seorang pendeta Nasrani mengungkapkan, “Akan lebih baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita karena aku menginginkan semua manusia seperti aku. Aku anjurkan kepada mereka yang masih melajang dan para duda bahwa lebih baik bagi mereka bila mereka bersikap seperti aku (yakni tidak menikah ataupun tidak menyentuh wanita).” (Lihat surat Paulus I kepada masyarakat Kornish, ash-Shahah ketujuh I, hal 7-8).
Itulah yang dianjurkan Paulus untuk seluruh umat manusia, baik lelaki maupun wanita. Dia menganjurkan mereka untuk melajang menjadi rahib serta tetap menyendiri. Dia menyeru mereka untuk tidak menikah, bermasyarakat ataupun berkomunikasi satu dengan lainnya dengan cara apapun. Seruan ini adalah seruan terburuk dan terbodoh yang pernah ada. Seruan tiada makna. Seruan penuh keegoisan dan penuh kezaliman, seruan yang menhantarkan manusia pada kehancuran.
Seandainya manusia memenuhi seruannya, tentunya bumi ini akan hancur dan runtuhlah sendi-sendi kehidupan di berbagai sisinya. Tidak akan pernah terlahir keturunan manusia di atas muka bumi ini dan tidak akan pernah ada peradaban dengan beragam ilmu pengetahuan, seni dan kreativitas yang dihasilkan manusia di berbagai msanya.
Aats dasar inilah Islam menolak seruan tersebut. Seruan yang tidak lain merupakan penyiksaan diri sendiri, pembunuhan karakter, pengekangan emosi, pemengalan kasih sayang, pemutusan silaturahmi dan penghancuran kehidupan sekaligus peradaban.
Allah berfirman : “Dan di antara tanda-tandan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Ruum (30) : 21).
Dari bukti eksistentsi Alalh, salah satu mukjizat yang diiptakan-Nya, dan salah satu nikmat yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan wanita bagiand ari laki-laki; dan laki-laki sebagai bagian dari wanita. Satu dengan lainnya saling melengkapi. Ketika mereka bertemu, kehidupan menjadi lengkap. Di saat mereka berintegrasi maka jelaslah eksistensi kedunaya dan stabillah kehidupan. Pada saat itulah keduanya mampu mewujudkan impian untuk bisa bekerja dan berusaha, berbuat lebih baik dan lebih inovatif demi kebaikan dan masyarakat yang lebih maju di mana mereka tinggal.
Walau demikian,s ebagian sahabt Rasuluuah beranggapan bahwa sebaik-baiknya ibadah kepada Allah dan tanda yang menunjukkan ketakwaan seseorang pada-Nya adalah konsistensinya dalam beragama dengan tidak mengindahkan pemenuhan hak diri sendiri, hak tubuh, hak pasangan dan hak kerabat.
Di antara mereka yang memiliki anggapan terebut adalah Utsman bin Mathgun yang melewati batasan dalam melaksnakan ibadah. Ia selalu melaksanakan shalat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang. Ia tidak memberikan istrinya nafkah batin. Bahkan, ia pun menyendiri dari masyarakatnya hingga ia telah membunuh kebutuhan dasarnya, yakni kebutuhan seksualnya.
Diriwayatkan bahwa apda suatu saat, Rasulullah saw. menemui istrinya, Aisyah. Pada saat itu, ia melihat seorang wanita sedang ebrsama Aisyah. Wajah wanit terebut nampak putus asa dan pakaiannya menunjang kondisinya tersebut. Rasulullah pun lalu menanyakan apa yang terjadi. Lalu dipaparkan bahwa wanita tersebut adalah istri Utsman bin Mathghun dan ia sedang mengadukan kesedihan dan sakit hatinya. Ia merasa tidak diindahkan suaminya yang selalu sibuk beribadah sepanjang siang dan malam hari.
Mendengar itu, Rasulullah memanggil Utsman bin Mathghun dan ketika Utsman berada di hadapannya, beliau berkata padanya  “Apakah kau berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam?” Utsman menjawab, “Itu yang aku lakukan.” Rasulullah lalu berkata  “Jangan lakukan! Sesungguhnya, tubuhmu memiliki hak atasmu! Keluargamu memiliki hak atasmu. Berikanlah haknya masing-masing.” (al-Hadits). 
Utsman mematuhi anjuran Rasulullah dan melaksanakan wasiatnya. Ia memberikan hak bagi dirinya dan hak istrinya. Kebahagiaan dan kegembiraan pun terpancar kembalid ari rumahnya. Keluarganya pun kembali memberikan konstribusi positif bagi masyarakat sekitarnya.

Ruh  dan Jasad

Struktur manusia dalam diri kita adalah ruh dan  jasad (tubuh). Keudanya berintegrasi dalam satu kesatuan yang kuat. Keduanya memiliki sisi yang sama, saling berkaitan dan saling melengkapi. Atas dasar inilah, maka tidak diperkenankan pemenuhan satu dari keduanya melampaui  pemenuhan yang lainnya. Tidak diperkenankan satu unsur tersebut terpenuhi dengan sangat baik, sedangkan unsur lainnya merasa kekuarangan, atau satu lainnya dalam kondisi normal dan lainnya menyimpang. Pemenuhan yang berbeda atas satu dengan lainnya akan menimbulkan ketidak seimbangan dalam diri dan hal tersebut, menimbulkan berbagai penyimpangan. Orang yang mengalaminya akan menajdi tidak normal hidupnya.
Ruh memiliki hak yang harus dipenuhi. Demikian pula dengan tubuh. Bila kebutuhan ruh adalah keimanan, cinta dan ibadah, maka kebutuhan tubuh adalah nutrisi, kebutuhan seksual dan istirahat. Manusia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan unsur-unsur yang ada padanya. Sudah menjadi kewajiban tiap individu manusia untuk menyeimbangkan pemenuhan tiap unsur yang ada dalam dirinya. Sudah menajdi kewajibannya untuk memenuhi hak setiap unsur yang ada did alam dirinya, dan tidak mengorbankan kebutuhan satu unsur demi unsur lainnya. Bila hal tersebut dilakukan, maka yang terjadi adalah goncangan dalam hidupnya dan runtuhlah kesehatannya. Bahkan, bisa berdampak pada kehilangan akal yang jernih dan kehilangan kehidupannya.
Dalam pemenuhan hak tubuh, maka ruh akan mendapatkan kebahagiaannya, dan dalam pemenuhan kebutuhan ruh, maka tubuh mampu berkembang dengan baik.pemenuhan satu unsur dengan lainnya saling melengakpi. Pemenuhan satu unsur dengan lainnya saling berakitan.
Bila seseorang telah memenuhi kebutuhan setiap unsur dalam dirinya, baik kebutuhan ruh mapun spiritualitas, dan kebutuhan tubuh maupun fisik, maka ia akan mampu menjadi individu yang baik, individu yang normal kehidupannya hingga mudah baginya mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Ia akan mampu melakukan pekerjaan dan aktivitas apa pun dengan baik hingga akhirnya ia mampu mencapai kesuksesan. Ia pun akan mampu mengambil banyak hal dalam hidup dan mendapatkan berbagai kebaikan, baik di dunia mapun akhirat.
Sedangkan mereka yang membenci kehidupan, yang lari dari tanggung jawab yang diembannya, yang menghadang pelaksanaan hukum Allah, yang melanggar semua hal yang telah diformat-Nya untuk kita, yang zalim kepada diri sendiri, maka sesungguhnya mereka telah melakukan kesalahan besar. Bahkan, mereka berada dalam kesessatan, walaupun terkadang mereka tidak menyadarinya. Mereka telah membahayakan diri mereka sendiri, keluarga mereka, masyarakat mereka, dan bangsa mereka pada suatu bahaya yang sangat besar.
Atas dasar itulah,Rasulullah memperingati manusia akan bahaya kesalahpahaman ataupun sikap fanatisme beragama, yang ujung-ujungnya nanti hanya menzalimi diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar. Rasulullah mensosialisasikan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah bagi manusia secara gamblang dan memperjlesanya dengan metode yang dilakukannya sebagai keteladanan bagi orang-orang yang beriman, yang mau berpikir logis dan mau menyeimbangkan kehidupannya dalam hidayah-Nya dengan mengikuti teladan rasul-Nya, yang notabene adalah kekasih Allah dan orang yang paling bertakwa di antara manusia.
Rasulullah saw. bersabda :
“Demi Allah, aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian dan orang yang paling takut kepada-Nya. Namun demikian, aku tetap berpuasa dan berbuka; tetap melakukan shalat dan juga tidur; tetap bekerja dan beristirahat; serta tetap menikah dengan wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka sesungguhnya ia tidak termasuk dalam golonganku.” (al-Hadits).
Itulah sunnah Rasulullah dan mekanisme kehidupannya, dan itulah hukum yang telah Allah tetapkan bagi manusia. Itulah pedoman bagi mereka yang beriman, pedoman yang sangat seimbang dalam kehidupan dan tidak berlebihan ataupun terlalu dibuat-buat. Pedoman yang tiada bandingnya. Ia memberikan hak kepada mereka yang layak mendapatkannya dan ia memenuhi kebutuhan dua unsur kebutuhan dalam diri – yakni spiritual dan fisik – dengan baik.
Rasulullah memaparkan sunnahnya dengan sangat gamblang dan barangsiapa yang tidak menyukainya, menetang atau menghalanginya, maka Rasulullah terbebas dari apa yang dilakukannya hingga kesalahan tersebut hanya terbebankan pada pelakunya semata.

Melakukan Zina Haram Hukumnya

Memenuhi kebutuhan fisik dengan memberinya asupan nutrisi tidak hanya bisa dilakukan dengan memberinya makanan atau minuman. Memberinya kebutuhan fisik dengan memberinya istirahat pun bukan bermakna membiarkan tubuh dalam kemalasan. Dengan demikian, maka pemenuhan kebutuhan seksual bukanlah hal yang bertentangan, namun juga tidak secara otomatis halal tanpa dibatasi aturan yang jelas.
Kebutuhan seksual hanya bisa dilakukan setelah melakukan prosedur yang ditetapkan batasannya oleh hukum syarita Allah. Prosedur ini akan menghalalkan pemenuhan kebutuhan seksual, yakni kebutuhan mendapatkan cinta dan terikat hanya melalui pernikahan. Sedangkan sekx bebas atau yang lebih dikenal dengan zina hukumnya adalah haram. Ia haram karena bertentangan dengan hukum Allah dan hukum masyarakat.
Al-Qur’an hanya menghalalkan semua yang baik bagi kaum muslimin dan membolehkan semua aktivitas  yang baik yang bisa berlaku di masyarakat. Al-Qur’an hanya mengharamkan dua hal, yakni syirik atau menduakan Alalh dan melakukan aktivitas yang membahayan sesama. Seks bebas atau zina dianggap membahayakan manusia dan Rasulullah memberikan paparan yang sangat gamblang akan hal ini.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki Arab menemui Rasulullah saw. Laki-laki ini sangat tinggi hasrat seksualitasnya. Ia meminta hal yang sangat kotor kepada Rasulullah, yakni meminta keringanan untuk bsia melakukan zina tanpa diberi perhitungan atau hukuman apa pun.
Ia sangat berhasrat kepada wanita. Setiap kali ia melihat wanita, ia selalu berkeinginan untuk bercinta dengannya tanpa aturan ataupun iikatan yang jelas. Pada saat itu, Rasulullah memegang lengan lelaki tersebut dengan lembut dan mendudukannya di sampingnya. Beliau pun lalu meletakkan tangannya di pundak laki-laki teresebut dan dengan tenangnya beliau ebrtanya, “Wahai saudaraku, apakah kamu suka bila seseorang berzina dengan ibumu?” Lelaki itu menjawab, “Tentu tidak.” Lalu ditanyakan kembali, “Apakah kamu suka bila ada seseorang berzina dengan istrimu?”  Lalu dijawab, “Tentu tidak.” Ditanya kembali, “Apakah kamu suka bila ada seseorang berzina dengan putrimu?” Lalu dijawab, “Tentu tidak.” Ditanyakan kembali, “Apakah kamu suka bila ada seseorang berzina dengan saudara perempuanmu?” Dijawab, “Tentu tidak.”
Lalu Rasulullah besabda, “Begitu pula dengan orang lain. Kebanyakan orang, wahai saudaraku, mereka tidak suka bila ada seseorang berzina dengan ibu mereka, istri mereka, putri mereka ataupun saudara perempuan mereka.” (al-Hadits).
 Renungkanlah kekuatan pola pikir yang logis dan kuat di atas. Bagaimana Rasulullah memberikan hujjah yang tepat ddan petunjuk yang mudah dipahami. Ajaran agama bukan sekedar perintah dan larangan yang sulit diaplikasikan. Halal dan haram bukanlah perkara yang kaku atau keputusan yang tida ada penjelaannya. Allh telah menghalalkan semua yang baik untuk kita dan mengharamkan semua yang buruk bagi kita. Semua itu demi kebaikan kita sendiri, makhl-Nya, dan demi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.
Laki-laki di atas pun dengan sangat mudah memahami penjelasan Rasulullah dan hujjahnya yang sangat jelas. Dengan penuh rasa malu, ia berkata kepada Rasulullah saw. “Bila dmeikian adanya, maka doakanlah aku agar mampu menjaga kesucianku dan tidak melakukan kefasikan.”
Rasulullah lalu meletakkan tangannya ke dada lelaki tersebut dengan penuh kelembutan seraya mendoakannya agar selalu istiqamah dan mampu menjaga kesuciannya.
Lelaki tersebut lalu berkata, “Demi Allh, setelah aku mendengarkan semua penjelsan Rasulullah dan aku pergi darinya, tidak ada hal yang lebih aku benci daripada seks bebas atau zina.
Tentu! Beikanlah kecintaan kepada saudara Anda sebagaimana Anda memberikannya pada diri sendiri, dan jangan arahan dirinya pada suatu hal sebagaimana Anda tidak mengarahkannya pada diri Anda sendiri. Jangan melakukan kefasikan kepada istri saudara Anda, putrinya, ibunya atau saudara perempuannya hingga dengan demikian maka tidak akan ada seorang pun yang melakukan kefasikan pada istri Anda, putri Anda, Ibu Anda dan juga saudara perempuan Anda.
Zina dan seks bebas diahramkan karena sangat membahayakan manusia dan menginjak-injak kehormatan manusia. Zina dan seks bebas hanya mendatangkan banyak permasalahan dan juga penyakit yang sangat memalukan.
Sedangkan memenuhi kebutuhan seksual sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan hukum syarita dengan kekasih hidup ataupun pasangan hidup akan menjaga kehormatan diri Anda, juga harta dan kesehatan Anda. Pemenuhan seksual tersebut pun sebanding dengan sedekah Anda kepada diri Anda dan pasangan Anda yang kelak membuat Anda layak mendapatkan sebaik-baiknya balasan dari-Nya.
Rasulullah saw. bersabda
“Sesungguhnya dalam hubungan seksual yang kalian lakukan ada balasannya.” Para sahabat lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah bila seorang dari kami menyalurkan hasrat seksualnya akan mendapatkan pahala?” Rasulullah berkata, “Apa pendapat kalian bila ia melakuknnya dalam batasan yang diharamkan, bukankah ia mendapatkan dosa? Demikian pula bila ia melakukannya dalam batasan yang dihalalkan, maka ia berhak mendapatkan pahala.” (al-Hadits). 
Renungkanlah bagaimana Rasulullah saw. menginginkan sahabtnya selalu dalam keadaan suci dan mampu menjaga kesuciannya! Beliau memalingkan mereka dari perbuatan buruk dan fasik. Beliau mengarahkan mereka pada kenikmatan yang dihalalkan dan menunjukkan kepada mereka kenikmatan yang disyariatkan, yang dengannya Allah akan memberikan balasan yakni kebajikan dan keberkahan-Nya.

Cinta Sebelum Hubungan Seksual

Cinta, haruslah mendasari adanya hubunga seksual, bahkan cinta merupakan prasyarat dari pembolehan dilakukannya pemenuhan hubungan seksual. Apa jadinya bila hubungan seksual tidak dilandasi dengan cinta dan kasih sayang? Kenikmatan apa yang didapatkan bila hubungan seksual hanya sekedar pemuasan syahwat, danpa diiringi dengan bersatunya dua hati?
Kawanan burung dan binatang pun memahami cinta dan bagaimana memilih. Juga memiliki keikhlasan dan amanah. Lalu, bagaimana dengan kita selaku manusia yang merupakan makhluk paling mulia, makhluk yang paling romantis dan memiliki daya rasa yang tinggi?
Hubungan yang terjalin seorang lelaki dan wanita hendaknya dilandasi dnegan cinta dan ketenangan hati, saling menyayangi dan mengasihi. Hubungan yang menimbulkan kenyamanan kedua belah pihak dan ketenangan dalam mengarungi kehidupan. Hubungan yang dilandasi dengan upaya untuk bisa saling memberikan cinta sejati dan berbagai kasih sayang. Hubungan yang dibumbui dengan kerinduan dan romantisme.
Setelahnya barulah timbul keinginan untuk bisa memenuhi kebutuhan seksual, di mana dua fisik menyatu dan dua diri melebur menjadi satu. Tanpa cinta sebagaimana di atas, maka tidak akan pernah ada hubungan seksual. Tidak ada penyatuan fisik ataupun jiwa.
Hubungan seksual yang dilakukan tanpa cinta laksana pemenuhan keinginan insting. Hal tersebut dianggap sebagai suatu pemerkosaan walaupun dilakukan antara suami istri. Hubungan seksual tanpa didasari cinta hanyalah suatu kepalsuan dan tipu daya, dan tidak beda seperti yang dilakukan binatang, baik dari satu pihak maupun dari keduanya.
Bila seorang wanita bersetubuh tanpa cinta, walau dengan suaminya, maka sesungguhnya ia adalah wanita yang menipu dirinya sendiri. Ia tak beda dengan budak hawa nafsu dan tak jauh beda dengan seorang budak ataupun pelacur yang memperjualkan tubuhnya, tanpa jiwa dan hatinya. Kegiatan bersetubuh itu seolah dilakukannya untuk dapat meenyambung hidup, untuk menutupi biaya hidup. Sedangkan lelaki yang bersetubuh tanpa cinta, walaupun dengan istrinya, maka ia tak beda dengan seorang penipu ataupun binatang buas yang tampak ingin menerkam mangsanya.
Mereka yang melakukan aktivitas seksual tanpa cinta ini sebenarnya sedang menipu diri mereka, bahkan menipu pasangan mereka. Atau bahkan, tidak jarang saling mengekploitasi, memperksoa ataupun memperbudak. Keduanya menanggung dosa dan kesalahan yang menyebabkan mereka layak mendapatkan hukuman, baik itu hukuman fisik maupun psikis. Juga hukuman Allah dan hukuman masyarakat.
Jalan untuk bisa menyatukan fisik, hendaknya dilalui setelah penyatuan psikis atau hati. Sebelum semua organ tubuh melebur dengan organ tubuh pasangan, maka setiap hati hendaknya telah menyatu. Karenanya, tidak dihalalkan tubuh bisa bersatu sebelum hati dipersatukan.
Bila Anda bisa mendapatkan hati pasangan dan mendapatkan cintanya, maka akan mudah bagi tubuh dan fisik Anda untuk menyatu dan melebur dengan fisik dan tubuhnya. Anda akan bisa mendapat semua itu, dengan kendali cinta, bukan dengan kendali harta, takhta, ataupun pragmatisme tertentu. Juga bukan kendali kekuasaan, kepeningan ataupun paksaan. Semua hanya atas dasar kendali cinta dan inilah yang lebih kuat dan lebih meresap dalam diri. Lebih kekal dan lebih mendalam. Lebih tinggi dan lebih indah.
Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang harus disertai dengan penyerahan jiwa dan raga secara tulus. Dalam ikatan inilah, cinta harus dikedepankan daripada kepentingan lain. Kasih sayang lebih dikedepankan daripada pragmatisme. Bila pernikaha dilakukan tanpa landasan cinta, maka ia akan menjadi ikatan yang sangat memberatkan, kepentingan murahan, peran yang sangat memeras tenaga dan penjara yang sangat memuakkan.
Lambat laun, ikatan tersebut seolah wajib dilepaskan hingga terbebas dari segala tipu daya dan ketidaknyamanan yang ada padanya, serta dari dosa dan kesalahan yang mengiringinya. Ikatan tersebut hanya menimbulkan kesemrawutan hidup dan hilangnya identitas diri. Juga penyimpangan diri dan tubuh. Bahkan, tak jarang ikatan tersebut hanya melahirkan penghianatan dan kriminalitas yang berat.
Hubungan seksual dalam ikatan pernikahan tanpa cinta hanya akan menjadi aktivitas yang pahit, beku dan vakum. Maka, tak heran bila kemudian Rasulullah menganjurkan cinta sebagai landasan dari suatu aktivitas hubungan seksual dan menjadi prasyarat atas pembolehannya. Tanpa cinta, maka tidak ada hubungan seksual, karena hal tersebut tidak akan memberikan kenikmatan, makna dan karenanya, ia tidak diperkenankan keberadaannya.
Rasulullah saw. bersabda
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kau  menyutubuhi istri-istri kalian layaknya binatang! Namun lakukanlah antara kalian dan istri kalian suatu pemanasan.” Lalu ditanyakan padanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pemanasan, wahai Rasulullah?” Lalu dijawab, “Yakni ciuman.” (al-Hadits).
Tentu, emlakukan aktivitas hubungan seksual tanpa disertai dengan pendahuluan atau pemanasan, tanpa adanya sentuhan awal, hanya akan menjadikan aktivitas yang dilakukan tak beda layaknya aktivitas binatang. Bila aktivitas hubungan seksual dilakukan tanpa diiringi dengan romantisme dan pendahuluan, maka umumnya tak beda layaknya pembedahan yang dilakukan secara paksa. Walaupun aktivitas tersebut dilakukan atas dasar keinginan dan tanpa ancaman, namun hal tersebut tak ubah layaknya pukulan dan hinaan belaka, paksaan dan kemarahan, serta siksaan.
Yang dimaksud dengan ciuman di sini bukan hanya ciuman, namun berarti lua yang substansinya adalah menampakkan cinta dan ekspresi atas perasaan terdalam. Ciuman di sini adalah salah satu dari teknik pendahuluan atau foreplay, dan merupakan satu cara dari berbagai banyak cara lainnya dalam menumbuhkan kasih sayang, membangkitkan gairah dan memperdalam perasaan serta menyalakan api cinta.
Cinta adalah suci dan bukan satu dosa. Ia bersih dan bukan kotoran. Ia merupakan sebaik-baik ikatan dan hubungan yang paling mulia yang mempertemukan dua insan manusia. Dengan cinta inilah, maka bisa dipenuhi kebutuhan seksual dalam diri manusai dan darinya pula didapatkan kenikmatan yang kekal.
Lebih dari itu, bahkan semua yang berhubungan dengan kekasih, baik dekat maupun jauh, adalah kenikmatan tersendiri. Memandangnya adalah kenikmatan. Mencium aroma tubuhnya adalah kenikmatan. Bersamanya adalah kenikmatan. Berbicara dengannya adalah kenikmatan. Mendengarkan suaranya, walau dari kejauhan, adalah kenikmatan. Melihat fotonya adalah kenikmatan. Bahkan, sekedar memandang, menyentuh atau mencium segala sesuatu yang berhubungan dengannya, baik itu pakaiannya, barang-brang pribadinya dan lainnya adalah suatu kenikmatan.
Lebih dari itu, menyebut namanya, memperbincangkannya ataupun mengisahkan tentangnya di saat ia sedang jauh pun merupakan suatu kenikmatan. Apalagi bila dapat bersatu dan berbaur dengan dirinya secara fisik setelah menyatunya hati, tentu it adalah kenikmatan tiada tara.

ISTRI  IDEAL

Cinta antara suami istri tidak akan kekal dan berkembang bila tidak disertai dengan pelaksanaan beberapa kaidah dan kewajiban sebagaimana yang Rasulullah saw. paparkan.
Rasulullah saw. bersabda :
“Sebaik-bainya harta simpanan yang dimiliki seorang lelaki adalah seorang istri yang salehah, yang bila dilihat menyenangkannya, bila diperintah menaati, dan bila sang suami pergi, ia menjaga dirinya dan hartanya.” (al-Hadits).
Agar suami dapat selalu mencintai istrinya, maka sang istri hendaknya menjadi istri yang beriman dan salehah, yang mampu bergaul dengan baik dan memiliki kelembutan hati. Juga mampu mengurus rumah tangga dan merawat anak-anaknya dengan baik. Serta memiliki penampilan yang menarik dan menyenangkan.
Yang dimaksud berpenampilan menarik di sini bukan berarti seorang istri harus memiliki kecantikan yang luar biasa karena pada dasarnya kecantikan adalah relatif dan kecantikan seseorang bisa dilihat dari banyak sisi yang berbeda. Maka, cukuplah yang dimaksud dengan berpenampilan menarik di sini adalah dengan selalu membersihakn tubuh dan mengenakan pakaian yang bersih. Dengan demikian maka sang suami bisa selalu meilhatnya dalam penampilan terbaiknya dan mampu mencium aroma tubuhnya yang wangi hingga ia bisa senang kepadanya dan menghilangkan segala kepenatan hidupnya.
Seorang istri pun hendaknya selalu taat kepada suaminya dengan tidak melanggar perintah dan anjuran yang selaras dengan hukum syariat dan penalaran logis. Sebisa mungkin seorang istri tidak menetang suami ataupun menyakitinya baik dengan perkataan maupun pandangan sinis, atau dengan melakukan perilaku yang tak terpuji apa pun penyebabnya.
Seorang istri pun hendaknya mampu menjaga kesucian dirinya dan ikhlas dalam segala kondisi. Seorang istri hendaknya mampu menjaga kesucian ikatan pernikahan, baik di saat sang suami berada di sampingnya maupun ketika sang suami jauh darinya. Atau di saat sang suami ada bersamanya atau saat sang suami sedang tugas di luar kota dalam waktu yang cukup lama.
Seorang istri hendaknya mampu mengatur keuangan dan hemat dalam memenuhi kebutuhannya. Hendaknya, ia mampu menjaga harta suami dengan tidak menghamburkannya demi berbagai urusan yang tidak penting.
Bila seorang sitri memenuhi persayaratan di atas, maka pada saat itu, ia bukan hanya menjadi seorang istri yang baik, namun juga menjadi kekasih. Kekasih bagi suaminya. Bukan hanya itu, bahkan sang istri pun menjadi harta karunnya. Harta karun bagi suaminya dan sebaik-baiknya harta yang dimilikinya di dunia dan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Bahkan, harta tertinggi yang dimilikinya di muka bumi ini. Sang istri akan menjadi harta karun yang sangat berharga.
Sebagaimana telah kita bahas, kecantikan adalha satu hal yang relatif. Cantik dalam pandangan manusia secara umum dan dalam pandangan wanita secara khusus sangat beragam dan bervariasi. Atas dasar inilah Rasulullah memerintahkan wanita untuk bisa memperhatikan dirinya, yakni dengan merawat tubuhnya dengan baik serta membersihkan tubuhnya dan pakaiannya secara rutin. Juga dianjurkan bagi wanita unutk membersihkan tangan dan kaki, memotong kuku dan bulu dengan tuuuan umum untuk bisa berpenampilan menarik dan feminis, baik dari lekuk dan gerakan tubuh, hingga sang suami makin sayang padanya.
Diriwayatkan bahwa Hindun bin Abu Sufyan menemui Rasulullah saw. dan berkata padanya, “Ya Rasulullahm baiatlah aku!” Rasulullah saw. berkata kepadanya dengan tegas, “Aku tidak akan membaiatmu hingga kau mengubah penampilan tanganmu! Keduanya bagaikan tangan binatang buas!” (al-Hadits).
Renungkanlah bagaimana Rasulullah sangat peduli dengan kebersihan wanita, baik itu kelembutan tangannya, rambutnya, lututnya, bahkan semua bagian tubuhnya. Beliau sangat peduli dengan gerak dan feminitas wanita. Juga pada pakaiannya, perhiasannya dan aroma tubuhnya. Pada semua hal yang berikatan dengan kefeminiman dan kecantikannya. Sejak kapan? Sejak zaman jahiliah, yakni 14 (empat belas) abad yang silam.
Pikirkanlah anjurannya yang sangat berharga! Beliau memperingati wanita pada banyak permasalahan mereka sendiri yang terkadang mereka abaikan. Anjuran yang (setelah ratusan tahun setelahnya) menginspirasi dibukanya banyak klinik kecantikan, rumah mode, salon, produksi minyak wangi dan produksi alat kecantikan di berbagai belahan dunia.
Rasulullah telah memulai semua itu sepuluh abad yang silam dan mengajarkannya kepada umatnya di kala umat lainnya tidak memahaminya. Bukan itu saja, bahkan Rasulullah sangat teliti dan telaten dalam permasalahn tersebut. Beliau memahami urgensitasnya, walau tak banyak manusia bisa memahaminya hingga saat ini.
Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi wanita pada zaman Nabi? Lalu, bagaimana beliau bisa demikian peduli pada permasalahan wanita?
Pada zaman Nabi, bila seseorang memberikan saran pada seorang wanita akan sesuatu hal yang berkaitan dengan dirinya, maka yang terjadi adalah mereka tersinggung ataupun malu. Masyarakat pada saat itu seolah tabu membicarakan tentang kecantikan wanita. Namun Rasulullah yang penuh cinta kasih, sangat peduli dengan permasalahan umatnya dan mmbongkar segala ketabuan. Beliau memberikan petunjuk terbaiknya agar manusia mampu menuju kehidupan yang bahagia.
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah bertemu dengan seorang wanita bernama Ummu Athiyah yang berprofesi mengkhitan anak perempuan di Madinah. Rasulullah berkata padanya.
“Wahai Ummu Athiyah, bersikap lembutlah dan jangan menyiksa, sesungguhnya hal tersebut akan lebih menyenangkan dan disukai para suami.” (al-Hadits).
Masyarakat, khususnya apda masa lalu, sangat terbiasa melakukan khitan bagi wanita. Bahkan, mereka melakukan hal yang terlampau keji, yakni mereka mencabut akar tepi kemaluan, klitoris dan akar lainnya yang sensitif bagi sistem reproduksi wanita secara keseluruhan dan hal tersebeut dilakukan karena pemahaman mereka yang keliru. Mereka menganggap bahwa cara tersebut bia menjaga kehormatan diri wanita dan mampu menjadikannya lebih terkendali. Juga sebagai cara untuk mencegah mereka melakukan penyimpangan seksual. Mereka lupa bahwa cara yang mereka lakukan adalah cara yang sangat keji. Karena cara tersebut menghabisi semua daerah sensitif wanita pada kemaluannya yang berakibat frigiditas dan bahkan ketakutan dalam dirinya.
Hal tersebut berdampak pada ketidaktertarikan mereka pada lelaki dan pergaulan. Mereka pun menjadi tidak menyukai aktivitas hubungan seksual dengan suami mereka dan hal tersebut menyebabkan keduanya, khususnya wanita, akan merasakan tekanan kejiwaan yang sangat tinggi ketika akhirnya aktivitas seksual dilakukan. Timbul perasaan rendah diri dan perasaan gagal pada kedua belah pihak dalam memberikan kesenangan dan kenikmatan pada pasangannya. Keduanya merasa bahwa segala energi yang mereka kerahkan untuk menyenangkan pasangannya hanyalah sia-sia, dan hal tersebut berimbas pada penyimpangan kesehatan dan tekanan kejiwaan yang memungkinkan mereka menutupi semua itu dengan berlindung di balik narkoba ataupun hal berbahaya lainnya.
Selain itu, dampak terburuk yang bisa terjadi adalah adanya perselingkuhan pada keduanya yang menghaancurkan ikatan keluarga yang telah dibina. Dampak buruk pun akan turut dirasakan oleh anak dan keluarga, serta mempengaruhi produktivitas kerja dan semua itu hanya disebabkan oleh adat (kebiasaan) yang dilakukan karena suatu kesalahpahaman.
Permasalahan di atas, apda awalnya tidak diketahui siapa pun, khususnya pada zaman yang terlalu dini. Namun secara perlahan, manusia mulai menyadari kesalahpahamannya, terlebih ketika Rasulullah memberikan peringatan tegas kepada Ummu Athiyah. Beliau telah memperingatkan Ummu Athiyah sepuluh bad silam. Setelahnya, ribuan penelitian diuji coba dan dilakukan oleh para ilmuwan besar, dokter, psikolog, ahli bedah, dan sosiolog selama ratusan tahun lamanya. Mereka pun akhirnya baru dapat membuktikan kebenaran ucapan Rasulullah saw. akan bahayanya mencabut habis daerah-daerah sensitif pada kemaluan wanita.
Bahaya tersebut, berimbas pada konisi fisik dan psikis, baik pria maupun wanita. Dampak negatifnya pun menjalar kepada buruknya hubungan seksual dan hubungan dalam berkeluarga, bahkan pada hubungan bermasyarakat pada umumnya. Inilah yang dipaparkan oleh Rasulullah saw. dan diingatkannya sejak empat belas abad yang lampau. Kesemuanya iu, dilakukan demi menjaga kebahagiaan hubungan suami istri dan juga kebahagiaan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

LELAKI  IDEAL

Sebagaimana halnya, Rasulullah memberikan arahan bagi wanita agar mereka bisa dicintai suaminya, Rasulullah pun memberikan arahan yang sama bagi kaum lelaki, yakni agar mereka mampu menggapai cinta istrinya.
Arahan pertama yang diberikannya dan bahkan merupakan kewajiban pertama yang harus dilakukan seorang suami adalah berterus terang dan bersikap terbuka. Hendaknya seorang lelaki tidak menipu wanita dengan kata-kata manis dan tidak membuainya dengan janji-janji palsu, seperti dengan membuainya dengan kondisi keuanggannya yang berlimpah, kondisi keududukannya di masyarakat yang sangat tinggi, kesehatannya yang prima dan jabatannya yang prestisius, yang kesemuanya itu hanyalah pemanis belaka.
Seorang lelaki pun hendaknya, tidak menipu wanita perihal kekayaannya, usianya, nasabnya atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan realitas kehidupannya. Hubungan yang terjadi antara lelaki dan wanita sejak awal, hendaknya berlandaskan kejujuran dan kejelasan. Dengan demikian, hubungan yang terjalin adalah hubungan yang kuat dan kokoh. Hubungan yang stabil dan permanen yang berlandaskan suatu landasan yang kokoh dan kuat. Landasan yang mampu menahan segala goncangan dan rintangan. Bukan hubungan yang lemah dan rentan akan berbagai terpaan, atau hubungan palsu yang dibangun di atas landasan pasir yang rentan hancur seiring dengan datangnya angin.
Rasulullah saw. memberikan nasihat kepada para sahabatnya :
“Bila seorang dari kalian datang meminang seorang wwanita dan dia mencat rambutnya dengan warna hitam, maka perlakukanlah wanita sebagaimana layaknya lelaki berambut hitam memperlakukannya.” (al-Hadits).
Tentunya, keterusterangan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.  Sesuatu hal yang apa adanya akan lebih baik dari sekedar mengada-ada. Kejujuran akan selalu lebih indah daripada kebohongan dan keterbukaan akan selalu bisa mendekatkan hati.
Sesungguhnya, garis lurus adalah adalah jalan terdekat dari dua titik yang berjauhan. Lalu, mengapa kita harus berputar-putar?
Aib yang Anda sembunikan, khususnya kepada pasangan Andan dan juga orang-orang terdekat Anda pun, suatu saat akan tampak dan menjadi masalah tersendiri. Namun dengan mengahadapinya sejak awal, dengan bantuan sahabat dan orang-orang terkasih, maka akan turut membantu meringankan dampaknya, bahkan bisa jadi akan hilang dengan sendirinya.
Tali kebohongan sangat pendek. Jalinan tipu daya sangatlah lemah dan minuman penuh tipuan sangatlah beracun. Seiring berjalannya waktu dan hari, semua kepalsuan akan terungkap dan skandal terkuak. Keraguan pun akan hilang dan muncullah kebenaran. Pada saat itulah cinta akan berubah menajdi kebencian. Kekaguman akan berubah menjadi kehinaan dan kasih sayang berubah menjadi kekerasan.
Semua yang melakukan kepalsuan hanya akan menjadi kerdil di mata pasangannya. Demikian pula dengan kemuliaannya, akan jatuh di mata pasangannya. Dampaknya, ia akan kehilangan kepercayaan diri, bahkan keberasaannya tidak dianggap di mata keluarga dan para sahabatnya. Semua pihak dekata ataupun jauh akan menghindarinya. Semua pihak yang baik ataupun buruk akan mengutuknya.
Kenyataannya, kejujuran adalah keniscayaan bagi semua; baik lelaki maupun wanita. Hubunga yang terjalin antara anak manusia bila dilandasi dengan keterusterangan bagaikan jalan yang jelas arahnya bagi siapa pun yang ingin menapakinya. Di jalan seperti itulah, siapapun yang melintasinya akan mengetahui kemana harus melangkahkan kakinya dan mampu menimbang rencana yang akan ditempuhnya secara matang. Dengan jalan inilah, maka akan lebih mampu dibangun di atasnya suatu hubungan yang kuat dan kokoh menahan terpaan angin, tidak usang dimakan zaman, dan akan terus kokoh hingga akhir usianya.
Kenyataanya, walaupun diraa sulit dan pahit pada beberapa kondisi, kejujuran adalah satu hal yang lebih baik. Bahkan, lebih penuh kasih dibanding memberikan suatu informasi yang menyesatkan dan penuh tipu daya, atau sekedar membuat orang dengan banyak khayalan dan harapan. Kejujuran lebih baik dari sekedar membangun istana dari pasir. Istana yang rapuh yang lambat laun akan runtuh dan hancur.
Atas dasar itulah, Rasulullah selalu emnetang kebohongan dan perbuatan riya. Beliau pun mengharamkan kepalsuan dan tipu daya. Rasulullah menyeru manusia untuk bisa beruat jujur dan berterus terang dengans sebaik mungkin.
Rasulullah saw. bersabda
“Allah tidak akan menerima suatu amalan yang di dalamnya terdapat sititik sifat riya.” (al-Hadits).
Namun demikian, bersikap baik atau kadang yang dikenal dengan beramah-tamah atau berbasa-basi, bukanlah suatu kebohongan. Kebersihan pun bukanlah suatu kepalsuandan menghias diri terbaik bukanlah sebagai suatu riya. Atas dasar inilah Rasulullah saw. menyeru kepada kaum lelaki untuk bisa berpenampilan baik dan bersolek.d engan demikian, mereka bisa menggapai cinta istrinya dan mendapatkan kekaguman darinya, penghargaan, penghormatan, amanah dan keikhlasannya.
Rasulullah saw. bersabda :
“Cuculah baju kalian, rapikan rambut kalian, bersiwak, bersolek dan bersihkanlah diri kalian.s esungguhnya, bani Israil tidak melakukan hal tersebut, hingga akhirnya istri mereka berselingkuh.” (al-Hadits).
Kebersihan sebagian dari iman. Kebersihan adalah dasar dari semua keindahan. Keindahan dan kecantikan adalah faktor yang mendatangkan cinta.
Para ilmuwan mengungkapkan apa artinya seseorang, baik lelaki atapun wanita, yang memiliki lekuk tubuh yang indah, wajah yang cantik dan tampan, tubuh yang ideal dan proporsional bila penampilannya tidak terawat, rambutnya acak-acakan, tubuhnya kotor, pakaiannya kotor dan baunya tidak enak. Tidak diragukan lagi, siapapun yang melihatnya akan menghindar darinya. Bahkan kerabatnya pun tidak mau berdekatan dengannya dan semua kekasihnya akan lari darinya.
Agama selain Islam tidak mempedulikan kebersihan individu, khususnya kebersihan tubuh, dengan dalih mereka lebih memprioritaskan kebersihan ruh  atau jiwa. Bahkan, di antara mereka ada yang menjadi sangat fanantik dengan mengungkapkan bahwa kebersihan tubuh dan menampilkan penampilan terbaik kepada sesama adalah satu hal yang sangat dibenci. Hal tersebut merupakan satu betuk bersolek yang terlalu berlebih dan merupakan satu penyimpangan agama.
Namun pemahaman yang keliru ini sangat rancu. Jiwa dan jasad adalah unsur yang berkaitan dalam diri manusia. Karenanya, tidak mungkin jiwa seseorang bisa bersih bila keadaan fisik atau ubuhnya dalam keadaan kotor. Bagaimana jiwa bisa menjadi fokus dalam penyucian bilakebersihan tubuh tidak dipedulikan?
Sesungguhnya jiwa mampu menenangkan raga, dan raga adalah satu cakupan dengan jiwa. Di kala jiwa mampu menggerakkan fungsi raga, maka raga adalah pelaksana gerak ruh. Keduanya saling berkaitan erat satu dengan lainnya dalam diri tiapindividu manusia. Dengan demikian, kesucian jiwa sangat berkaitan erat dengan kondisi raga atau tubuh, dan kebersihan tubuh akan mampu menenangkna jwia.
Atas dasar inilah maka kita harus memperhatikan kondisi jiwa dan raga secara bersamaan, dengan memperhatikan keindahan, kebersihan dan kesuciannya secara bersamaan dan adil, tanpa memprioritaskan satu unsur dengan mengindahkan unsur lainnya. Hal tersebut harus dilakukan demi menjaga keseimbangan dalam diri manusia.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah emcniptakan manusia dalam bentuk yang bsebaik-baiknya.” (at-Tiin (95) : 4).
Dmeikianlah Allah menciptakan manusia. Allha mendesainnya menjadi makhluk yang paling mulia dari semua makhluk-Nya di muka bumi dengan harapan agar manusia mampu menjadi makhluk yang paling sempurna dari semua makhluk-Nya. Maka tak heran bila kemudian Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjaga kebersihan tubuh dan semua anggotanya secara keseluruhan, baik kebersihan mulut, gigi, maupun pakaian, memiliki penampilan yang menarik serta mengeluarkan aroma tubuh yang menyenangkan.
Semua itu ditujukan agar setiap individu dari kita mampu tampil di hadapan pasangannya, anak-anaknya, kekasihnya, dan sahabatnya dengan penampilan yang baik. Penampilan yang menyenangkan siapa pun yang melihatnya. Penampilan yang menyenangkan jiwa dan menyenangkan hati. Penampilan yang menambah point plus pemakainya, baik bagi dirinya sendiri, orang sekitarnya maupun di hadapan Allah Swr. Sedangkan penampilan yang tak terurus dan penampilan yang kotor hanya akan merusak pandangan dan membuat hati menjadi tak menentu. Hal tersebut hanya akan menambah point minus, baik bagi dirinya maupun bagi sekitarnya.
Diriwayatkan dari Aisyah, istri Rasulullah saw. bahwa beberapa roang sahabat Rasulullah menunggunya di muka pintu. Pada saat itu, di rumah ada satu bejana air. Rasulullah mengambil air tersebut untuk mengusap  jangut dan rambutnya. Lalu kukatakan padanya, “Kau melakukan hal tersebut wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Tentu! Jika seseorang ingin menemui saudaranya, maka persiapkan diri dengan baik! Sesungguhnya Allah Maha Indah menyukai segala keindahan.” (al-Hadits).
Benar apa yang kau ungkapkan, wahai Rasulullah saw. sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai segala keindahan! Keindahan bisa terekspresikan melalui banyak hal dan di semua hal. Bila kita mampu menjaganya, bila kita mampu menghias dengannya dan bila kita menampakkannya, maka sesungguhnya kita telah menjaga keindahan itu sendiri. Keindahan diri kita, keindahan jiwa kita, keindahan raga kita, keindahan hati kita, dan keindahan tabiat kita. Sehingga Allah Yang Maha Indah akan mencintai kita, hingga makhluk-Nya pun mencintai kita, baik itu sahabat maupun kerabat, saudara maupun anak, keluarga maupun teman, dan semua yang kita kasihi.
Namun demikian, keindahan yang ditampilkan oleh seorang lelaki memiliki batasan dan hendaknya tidak terlalu berlebihan hingga menyerupai kecantikan wanita. Yang dimaksud dengan keindahan seorang lelaki adalah dengan memperlihatkan penampilan terbaiknya dalam kemaskulinannya, penampilan yang diimpi-impikan olehn kaum wanita.
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah saw. melihat seorang lelaki yang berbicara dengan cara yang terlalu feminim dan lelaki itu berjalan dengan sangat gemulainya dengan tangan dan kakinya yang penuh dengan hena (pacar kuku). Rasulullah terkejut melihat penampilannya dan mempertanyakan apa yang terjadi padanya. Lalu para sahabat mengatakan bahwa lelaki tersebut berkeliaran bebas di penjuru kota dengan penampilan seperti itu.
Para sahabat lalu berkata padanya, “Apakah kita perlu membunuhnya, wahai Rasulullah!” “Rasulullah mengungkapkan, “Sesungguhnya aku telah dilarang membunuh orang-orang yang mengerjakan shalat.” (al-Hadits).
Ada  pembatas yang jelas antara feminitas dan maskulinitas. Menyucikan dan membersihkan diri serta menampilkan diri dengan penampilan terbaik adalah hal yang harus dilakukan oleh laki-laki dan wanita. Namun demikian, berhias ala wanita tentunya sangat berbeda dengan dandanan kaum lelaki.
Kaum wanita diperbolehkan untuk menghias rambutnya dengan berbagai perhaisan dan pernak-perniknya. Juga diperbolehkan untuk menggoreskan kosmetik pada wajahnya, bibirnya, tubuhnya dan juga kulit kukunya. Kaum wanita pun diperbolehkan untuk menyemprotkan wewangian di tubuh dan pakaiannya serta menampilkan cara jalannya yang gemulai ataupu  emnunjukan cara bicaranya yang manja di hadapan suaminya. Hal tersebut dikarenakan memang itulah ciri feminitas seorang wanita pada umumnya. Namun bagi kaum lelaki, cukuplah baginya menjaga kesucian dan kebersihan driinya dengan merapikan rambut dan kukunya dan menampilkan sosok maskulinitas dirinya dengan menggunakan wewangian sewajarnya, tanpa terlalu berlebihan yang menyebabkan menjadi seperti wanita.
Sesungguhnya, kemuliaan yang diinginkan dari seorang lelaki dan dibanggakan oleh kaum wanita adalah kemaskulinan dari seorang suami, putra, saudara lelaki dan ayahnya. Kelebihan seorang wanita adalah penampilannya yang elok dan kelemah-lembutannya, sedangkan kelebihan seorang lelaki adalah keperkasaannya dan keteguhannya.
Bersih tubuh dan bagusnya penampilan yang diiringi dengan sikap kemaskulinan sejati adalah faktor yang menjadi kekaguman kaum wanita.s edangkan bersih tubuh, keelokan penampilan diiringi dengan sikap feminitas seorang wanita adalah hal yang sangat disukai oleh kaum lelaki.
Allah berfirman, “Katakanlah. ‘yang mengharamkan perhiasan dan Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (al-A’raaf (7) : 32)
Alalh telah menganugrahkan berbagai macam kebaikan bagi hamba-Nya dan menghalalkan bagi kita untuk menikmati berbagai kenikmatan hidup, yakni semua kenikmatan yang halal dan baik. Mencakup semua makanan, minuman, pakaian, interior, alat transportasi, pepohonan, lautan, burung-burung, benda antik, wewangian, bukit, pegunungan dan berbagai pemandangan lainnya serta segala sesuatu yang telah diciptakan dan ditundukkan-Nya bagi manusia, baik itu kaum lelaki maupun wanita. Keduanya memiliki hak yang sama dalam menikmatinya.

Pemenuhan  Kebutuhan Seksual Yang Mutualis

Baik lelaki maupun wanita, keduanya dalah kenikamtan bagi pasangannya masing-masing. Bahkan, bisa dikatakan bahwa keduanya adalha puncak kenikmatan duniawi (kenikmatan jiwa dan raga), satu dengan lainnya. Atas dasar inilah, keduanya memiliki hak yang sama untuk bisa saling menikmati, baik itu kenikmatan jiwa maupun kenikmatan raga dengan ukuran dan batasan yang sama; baik dalam memandang, berbicara, bercinta, kedekatan, sentuhan maupun dalam berbagai aktivitas seksual lainnya.
Pemenuhan kebutuhan seksual adalah kebutuhan lelaki dan wanita secara bersamaan. Atas dasar inilah, maka lelaki memiliki hak untuk bisa menikmati keupasan aktivitas seksual bersama istrinya. Demikian pula dengan wanita, ia memiliki hak untuk bisa menikmati kepuasan aktivitas seksualnya bersama suaminya. Tidak perlu malu dalam mengungkapkannya.
Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya :
“Bila seseorang dari kalian bersetubuh dengan pasangannya, maka ungkapkanlah kejujuran padanya. Bila ia telah mampu mencapai kepuasannya sebelum pasangannya mencapainya, maka hendaknya ia tidak terburu-buru menyudahinya,d an ia tetap menunggu, hingga pasangannya mencapai kepuasan yang sama.” (al-Hadits).
Permasalahan ini adalah permasalahan yang sangat penting dan umumnya tidak begitu diindahkan oleh banyak kaum lelaki. Banyak dari mereka, baik karena kebodohan, kelalaian maupun keegoisannya, hanya memuaskan hasrat sekusalnya tanpa mempedulikan dan mengindahkan kepuasan psangannya.
Keinginannya seolah hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan seksualnya saja tanpa memikirkan pemenuhan kebutuhan seksual pasangannya. Ia hanya menganggap wanita sebagai pemuas saja dan seolah tidak memiliki perasaan ataupun kebutuhan seksual yang harus dipenuhinya sebagaimana dirinya. Ia seranggapan seolah kepuasan hanyalah haknya, bukan hak pasangannya. Dengan demikian, ia seolah berpendapat bahwa apa yang diperbolehkan untuknya tidak layak didapatkan pasangannya dan apa yang dihalalkan untuknya adalah hal-halal untuk pasangannya.
Apakah seorang lelaki tidak mengetahui bahwa dengan melakukan kontak tubuh dengan pasangannya, berati ia telah membangkitkan perasaaan dan gairah seksual pada diri pasangannya? Lalu, mengapa ia terlalu terburu-buru menyudahi aktivitas seksualnya padahal pasangannya belum merasakan kepuasan seperti yang dirasakannya? Mengapa ia tidak mau menunggu? Mengapa ia tidak memadamkan api yang telah dinyalakan pada diri pasangannya? Mengapa ia tega meninggalkan pasangannya di tengah jalan dan langsung tidur tanpa mepedulikan perasaannya? Mengapa ia meninggalkannya dalam keadaan gelisah dan berputus asa karena belum terpuaskan kebutuhannya, dan hal tersebut terus menghantuinya hingga pagi bahkan hingga hari beikutnya?
Wanita dengans egala tabiatnya adalah sosok pemalu, dan karenanya, ia tidak akan mampu berterus terang akan apa yang dirasakannya kepada suaminya. Ia menyembunyikan semua deritanya dalam hatinya, ia menahannya seorang diri hingga semua itu mampu mengeerogoti kabahagiaannya dan mempengaruhi segala tabiat dan perilakunya terahdap suaminya, anak-anaknya dan semua yang berinteraksi dengannya, tanpa seorang pun bisa mengetahui penyebabnya secara pasti.
Lebih dari itu, bahkan karena ketidak puasannya tersebut wanita pun menjadi  rentan mengalamai frigiditas. Ia menjadi benci untuk bisa bersetubuh secara totalitas. Kontak tubuh yang dilakukannya adalah kontak tubuh yang tidak akan menghasilkan anak, ataupun gairah seksual. Kontak tubuh  yang memendam kegagalan dan keputus asaan. Ia pun menjadi sangat sulit untuk berinteraksi dengan kaum lelaki dan terkesan ia banyak menyulitkan siapa pun yang ingin dekat dengannya.
Ia menjadi  begitu merendahkan kamu lelaki dan di saat setan mampu menjerumuskannya. Tak jarang ia bisa menjadi penghianat cinta. Berselingkuh dengan lelaki lain selain suaminya yang akhirnya semuanya itu berujung pada kehancuran rumah tangga, bahkan masysarakatnya. Ia telah menodai agama dan etika moralnya.
Atas dasar itulah, Rasulullah mewajibkan setiap ellaki untuk bisa memuaskan pasangannya sebagaimana mereka mampu mendapatkan kepuasan dari pasangannya, untuk memenuhi segala gelora jiwa pasangannya sebagaimana mereka mampu mendapatkan kepuasan atas gelora jiwa dari pasangannya. Hendaknya setiap lelaki tidak emndahului kepuasannya dari kepuasan pasangannya. Hendaknya ia tidak menyodorkan potongan daging kepadanya bia ia memang tidak ebrniat memberinya. Jangan menawarkannya. Dan, jangan membuka nafsu makannya bila hanya akan membuatnya kelaparan.
Dengan semikian, bila seorang  lelaki telah mendapatkan kepuasan sekusalnya dan pasangannya belum mendapatkan kepuasan yang sama, maka hendaknya ia teap melanjutkan aktivitas seksualnya dan mengikuti aturan mainnya hingga pasangannya mampu mencapai kepuasan. Dengan demikian, maka satu sama lain sama-sama mampu memenuhi kebutuhan seksual yang sama dan bisa salign ebrbagi cinta dan kasih secara mutualis. Keduanya mampu memenuhi gairah seksual dan mencapai kepuasan secara bersama, yang akhirnya melaraskan langkah mereka sebagai suami istri yang saling berbagi kebahagiaan dalam hidup.
Walau dengan berbagai kesibukan dan tanggung jawab yang mendera, dan memiliki berbagai permasalahan umat yang harus dipecahkan, namun Rasulullah tetap menjadi sosok yang paling lemah lembut kepada istrinya. Beliau selalu menampakkan wajah yang ceria di ahdapan istri-istrinya. Beliu pun selalu konsisten mengunjungi semua istrinya di pagi dan sore hari,d an ebrusaha membantu memecahkan permasalahan hidup yang mereka miliki. Beliau selalu ikut serta bercanda rida dengan istrinya. Bahkan, tak segan membantu pekerjaan rumah.
Beliau ikut membersihkan rumah dan membantu istrinya, serta menyeru kepada para sahabat untuk meneladaninya dalam hal tersebut, yakni dalam membantu istri dan melayaninya dalam pelbagai permasalahannya.
Rasulullah saw. bersabda :
“Melayani istrimu adalah sedekah.” (al-Hadits).
Sungguh, pernikahan adalah ikatan integratif, jiwa dan raga, akal dan pikiran, amteri dan non materi. Pernikahan adalah ikatan untuk bisa saling menolong. Iakatan saling membantu dalam segala hal. Dengan demikian, sudah selayaknya setiap suami atau istri tidak ragu membantu apa yang bisa dilakukannya dan memberi apa yang dimilikinya, baik itu berupamharta maupun jasa; baik itu berupa bantuan, nasihat maupun sekedar semangat; lirikan, sentuhan mesra, padangan mengharagai atau senyuman manis. Setiap pihak hendaknya mampu memberikan yang terbaik, karena satu dengan lainnya saling melengkapi, baik itu melengkapi keluarga, masyarakat maupun kehidupan manusia secara global.
Keluarga adalah fondasi utama dari struktur masyarakat. Kebahagiaan masyarakat tergantung pada kebahagiaan dalam keluarga. Atas dasar itulah, Rasulullah memerintahkan tidap individu untuk bisa memecahkan segala permasalahan keluarga (baik itu yang tersurat maupun tersirat, yang umum maupun yang khusus, yang berhubungan dengan jiwa maupun raga; yang berhubungan dengan permasalahan agama maupun dunia) dan memperbaiki interaksi antar anggotanya.
Rasulullah memerintahkan setiap individu untuk bisa memperjelas semua hal yang samar dengan penuh keterbukaan, walau hal tersebut menyakitkan. Beliau pun menganjurkan untuk bisa memecahkan segala masalah yang muncul. Semua itu demi kebahagiaan setiap individu, baik lelaki maupun wanita, yang berujung pada kebahagiaan keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, maka setiap individu masyarakat akan mampu meningkatkan produktivitasnya untuk kemajuan bersama dan untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat hingga Allah meridhai semua aktivitas hamba-Nya dan memberikan hamba-Nya limpahan cinta dan kasih sayang-Nya; menggandakan kebajikan serta memasukkan hamba-Nya ke dalam rahmat dan ampunan-Nya.

MENCINTAI “SEPUPU”

Penulis memahami bahwa topik ini tentunya akan menjadi topik yang aneh bagi sebagian dari ktia yang tidak emmahami hakiakt hidup.s ebagian dari kita yang lupa akan asal-usul mereka. Lupa akan tempat kembali dan mengingkari bahwa secara umum binatang pun merupakan sama-sama makhluk-Nya dan sama-sama tumbuh dan berkembang seiring sejarah peradaban manusia.
Kenyataan yang tidak bisa dumungkiri dan tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa manusia dan biatang meliliki kesamaan fisik biologis serta bekerja sama dalam hidup dan kehidupan. Satu kedekatan yang realistis dan tidak bisa lagi diingkari keberadaannya.
Ilmu anatomi telah mengungkapkan adanya persamaan dan keselarasan antara manusia dan binatang di hampir seluruh organ fisiknya, baik organ fisik luar maupun dalam, seperti kepala, wajah, mata, hidung, telinga, mulut, gigi, tangan, kaki, hati dan jantung, lambung dan usus, kulit dan tulang serta seluruh organ fisik lainnya.
Lebih dari itu, bahkan ada beberapa kebutuhan dasar dan kebiasaan yang hampir sama membutuhkan makan – minum serta bernafas untuk hidup.  Manusia dan binatang sama-sama membutuhkan gerak, istirahat dan tidur. Manusia dan binatang pun sama-sama membutuhkan penyaluran hasrat seksual, hasrat menajdi ibu dan hasrat menjadi ayah yang terformat dalam diri keduanya.
Manusia dan binatang sama-sama bereproduksi mengandung keturunan untuk mengukuhkan eksistensi dan meletarikannya. Manusia dan binatang sama-sama sehat dan rentan terhadap berbagai penyakit. Cara yang digunakan manusia dan binatang dalam memberikan asupan dalam tubuh, mengeluarkan kotoran dari tubuh, memproses makanan dalam tubuh, melakukan aktivitas seksual, dan melahirkan bisa dikatakan serupa.
Sebagian kalangan menganggap bahwa manusia menjadi lebih unggul dariapada binatang karena akal dan kecerdasannya. Namun, ternyata terungkap bahwa binatang pun memiliki akal dan kecerdasan. Binatang mampu memikirkan dan memahami apa yang ada di sekitarnya serta mampu menghadapi semua permasalahan yang dimilikinya. Bahkan terungkap bahwa sebagian binatang seperti serigala, kera dan anjing peliharaan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan yang bahkan tidak dimiliki manusia.
Sebagian kalangan menganggap bahwa manusia lebih unggul daripada binatang karena kemampuannya berbicara, hingga diaktakan bahwa manusia adalah binatang yang  berbicara. Namun penelitian mengungkap bahwa binatang pun memiliki bahasanya yang khusus. Bahasa yang dipergunakannya untuk bisa berkomunikasi dengan komunitasnya. Bahasa yang tidak dipahami dan dimengerti oleh manusia.
Allah telah emnganugerahkan Nabi Sulaiman kemampuan untuk bisa memahami bahasa binatang, burung dan serangga hingga Nabi Sulaiman mampu berdialog dan berkomunikasi dengan baik, dengan binatang.
Sebagian kalangan pun menganggap bahwa manusia lebih unggul dari binatang karena manusia memiliki ruh dan jiwa. Namun kenyataannya, binatang pun memiliki jiwa, bahkan hati hingga dengannya binatang pun bisa merasakan cinta dan merasakan sedih. Binatang pun bisa merasakan kegembiraan ketika bertemu kekasihnya dan sedih bila harus berpisah dengannya. Binatang pun dapat memainkan musik dan meraskan berbagai emosi lainnya.
Di lain sisi, sebagian kalangan menganggap bahwa kemampuan untuk belajar adalah pembeda antara manusia dan binatang. Namun ternyata, penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan belajar pun dimiliki oleh binatang. Binatang atau hewan sirkus yang terlatih mampu melakukan berbagai atraksi yang diajarkan oleh pelatihnya. Anjing pelacak kepolisian mampu melakukan berbagai kegiatan kepolisian sebagaimana yang diajarkan padanya. Bahkan, ia pun mampu mengungkap berbagai kriminalitas yang tidak bisa dilakukan oleh manusia pada umumnya. Demikian pula dengan kuda pacuan, kera simpanse, burung boe dan binatang lainnya yang memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk belajar, yang terkadang kemampuan yang mereka milikia tidak dimiliki oleh manusia.
Demikianlah para ilmuwan mencoba membuat pembeda antara manusia dan binatang dalam ebrbagai sisinya. Sementara itu, penulis berpendapat, pembeda yang ada antara manusia dan binatang bukanlah perbedaan sebagaimana bila kita mencoba mengaanggap satu memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari yang lainnya. Manusia dan biantang sama-sama makhluk-Nya. Anusia dan binatang sama-sama berkolaborasi dalam ebrbagai sifat yang dimiliki, walaupun Allah telah berkehendak menjadikan manusia lebih unggul daripada binatang, namun hal tersebut tidak menutup kenyataan bahwa binatang merupakan “sepupu” kita, dan bahwa binatang pun memiliki jiwa, hati dan perasaan sebagaimana manusia. Binatang pun adalah teman, sahabat dan penolong kita dalam menjalani kehidupan ini.
Rasulullah telah memahami hakiakt di atas sejak dahulu. Beliau tidak  membatasi cintanya hanya untuk manusia. Beliau pun menyisihkan sebagian hatinya untk cintanya kepada makhluk yang lebih lemah dari manusia, yakni binatang. Cintanya memenuhi semua makhluk-Nya.
Setiap jiwa yang ada di muka bumi ini dan setiap detak yang bernapas dalam kehidupan ini, semua binatang, kawanan burung hingga serangga semuanya masuk dalam cakupan cinta Rasulullah saw. yang sangat luas dan penuh kasihs ayang.
Rasulullah saw. tak segan untuk memberikan makanan kepada binatang dengan tangannya sendiri, beliau tak segan meninggalkan tempat perkumpulannya dengan para sahabat untuk bisa menyiapkan bejana minuman untuk kucing yang kehausan. Beliau tetap mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang dan perasaans enang memberikan waktu kepada sang kucing untuk bisa melepaskan dahaganya dengan tenang.
Ketika tengah malam beliau mendengarkan kucing mengeong atau anjing menggonggong karena kedinginan atau kelaparan, Rasulullah tak segan untuk bangun dari tempat tidurnya dan membuka pintu rumahnya untuk “tamunya” (atau binatang yang membutuhkan pertolongannya) dan memenuhi kebutuhan mereka. Lalu, beliau dengan setianya akan menunggui sang tamu hingga sang tamu selesai mendapatkan kebutuhannya dengan baik, baik itu berupa tempat berlindung, makanan, minuman atau lain sebagainya.
Bila ada seekor binatang sakit, maka Rasulullah langsung turun tangan untuk bisa memberikan pengobatan. Beliau tak segan untuk tak tidur demi memberi binatang yang sakit obat  yang dibutuhkannya dan juga untuk merawatnya hingga binatang tersebut sembuh dan kembali normal seperti semula. Rasulullah pun kerap mengusap kudanya dengan pakaiannya dan pernah bersedih atas kematian burung yang kerap bermain dengan saudara budaknya.
Diriwayatkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah sedang berjalan dan belia meyaksikan seekor unta tampak sangat kelaparan. Unta tersebut terikat pada sebatang pohon. Rasulullah marah melihat keadaan tersebut dan memerintahkan para sahabatnya untuk melepaskan ikatan unta tersebut dan membebaskannya. Beliau pun mewasiatkn kepada orang-orang yang berada di tempat kejadian untuk takut kepada Allah atas apa yang dilakukannya kepada binatang yang lemah dengan selalu memberikannya istirahat, makan dan bersikap lemah lembut, baik ketika sang binatang sedang bekerja, berjalan maupun dalam rutinitas lainnya.
Rasulullah saw. bersabda :
“Bertakwalah kepada Allah atas binatang-binatang yang kalian pelihara. Bila kalian menunggangi binatang, maka berikanlah hak tempat tinggalnya dan janganlah menjadi setan untuknya, yakni suka menzaliminya.” (al-Hadits).
Sebagian kalangan beranggapan bahwa binatang tidak memiliki perasaan dan binatang tercipta dari besi dan dan seng. Binatang tidak memiliki daging dan darah layaknya manusia. Atas dasar itulah mereka tega mengeksploitasinya dan memberikannya beban pekerjaan yang sangat berat. Bahkan mereka pun tega menyiksanya dengan pukulan dan hinaan setiap harinya, baik akrena suatu sebab maupun tanpa sebab.
Mereka melakukannya seolah mendapatkan kesenangan darinya ataupun mampu menyalurkan hobby mereka atasnya. Binatang pun hanya bisa pasrah dan tidak bisa mengeluh ataupun mengadu atas perlakuan yang diterimanya. Ia tidak bisa membalas kerasnya suara majikannya yang zalim padanya. Yang lebih buruk, terkadang para majikan tidak mempedulikan kebutuhan binatang peliharaannya, baik itu makannya, minumnya, istirahatnya maupun kebutuhan lainnya. Maka tak heran bila binatang-binatang tersebut tak pernah merasakan manisnya cinta dan kasih sayang anak manusia.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. masuk ke sebuah kebun seorang sahabatnya dari kaum Anshar. Di dalamnya beliau melihat seekor unta. Di saat pandangan beliau tertuju kepada unta tersebut, beliau hanya bisa meneteskan air mata. Rasuullah mendekati sang unta dan mengusapnya. Beliau seolah mendengarkan pengaduannya dan sedang menenangkannya. Lalu Rasulullah berpaling kepada orang-orang yang ada di sekitarnya dan bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda dari kaum Anshar lalu berkata, “Aku wahai Rasulullah!”
  Rasulullahs aw. Berkata kepada pemuda yang berhati keras tersebut, “Apakah kau tidak pernah takut kepada Allah atas binatang peliharaan yang kau miliki ini? Binatang ini mengadu kepadaku bahwa kau menyiksanya.”
Bahkan Rasulullah pun menegur Aisyah selaku istrinya, putri dari sahabat tercintanya Abu Bakar, yang tidak memberikan perlakuan yang baik kepada binatang, yakni di saat Aisyah sedang menaiki kuda tunggangannya dan dia mencaci sang kuda. Teguran Rasulullah menaydarkannya akan kesalahan yang dibautnya dan membuatnya berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan serupa selamanya.
Diriwayatkan bahwa Aisyah sedang menaiki kudanya dalam suatu perjalanan, namun tampaknya jalan kudanya sangat lamban. Aisyah takut tertinggal rombongannya dan ia pun memukul kduanya agar sang kuda bisa berjalan lebihi cepat. Rasulullah marah melihat perbuatannya tersebut dan menegusnya dengan keras. Beliau mengatakan padanya dengan penuh nasihat :
“Wahai Aisyah, bersikap lemah-lembutlah! Sesungguhnya Allah memberikan kepada orang yang bersikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada orang yang kasar. Barangsiapa yang tidak ebrsikap lemah lembut, maka ditutuplah semua jalan kebaikan untuknya.”
Bayangkanlah, Rasulullah marah kepada istri tercintanya hanya karena kelakuannya kepada seekor binatang.

Manusia dan Binatang,
Hubungan yang tidak selaras

Manfaat binatang dalam kehidupan manusia sangat banyak dan tak terbilang, sedangkan sebaliknya, bahaya manusia dalam dunia binatang sangan banyak dan tak terbilang. Kita, sebagai manusisa, bisa menaiki binatang, memakan dagingnya, mengenakan kulitnya, senang dengan persahabatan yang ditawarkannya, bermain dengannya, menjadikannya sebagai satpam, dan menjadikannya sebagai bahan pengobatan. Juga bisa memburunya, menjadikannya perhiasan dan banyak lainnya.
Walau demikian banyaknya, kita tetap memperlakukan binatang dengan sangat kasar. Kita memukul binatang, mencambuknya serta mengeksploitasinya dengan banyak beban dan tugas. Padahal yang diharapkan binatang dari kita hanyalah perlakuan yang baik dan kelemahlembutan. Hanya sedikit kelemahlembutan, namun kita masih tetap kikir untuk bisa memberikannya.
Kita tetap memaksa binatang untuk bekerja seharian penuh, padahal ia telah kelelahan dan kelaparan. Bahkan banyak dari kita tutup mata ketika anak-anak kecil ataupun orang yang bodoh memukuli binatang dan menyakitinya dengan melempar batu, ranting, kerikil ataupun tongkat. Mereka melakukannya hanya demi kesenangan sesaat belaka. Bahkan, tak jarang binatang pun diikat demi untuk hal yang tiada jelas manfaatnya. Walau dengan berbagai siksaan yang diterimanya, binatang masih tetap mencintai manusia. Binatang masih tetap ikhlas bekerja demi manusia dan bahkan mengorbankan hidupnya demi kepentingan manusia. Sungguh, manusia telah melakukan kezaliman!
Di kala penulis masih kecil, ayah penulis memelihara anjing dan menempatkannya di taman. Ayah penulis berlaku lemah lembut kepada anjing tersebut dan memberikannya makan dengan tangannya sendiri. Sang anjing dengan penuh kerinduan selalu menunggu ayah pulang dari bekerjanya dan melompat dengan penuh kegembiraan ketika melihatnya datang. Anjing tersebut menggoyangkan ekornya tanda betapa senangnya dirinya.
Saat ayah penulis meninggal dunia, sang anjing merasa kehilangan. Seluruh anggota keluarga turut merasakan duka sang anjing dan tetap memberikan makan minumnya. Namun sang anjing menolak pemberian tersebut dan lebih memilih untuk menyendiri di pojok taman dengan tetesan air matanya karena kehilangan sahabat yang dicintainya. Sang anjing terus melakukan hal yang sama beberapa hari setelahnya dan tetap menolak semua anggota keluarga yang terus memberinya makan dan minum hingga sang anjing akhirnya menemui ajalnya dan menyusul sahabat yang dicintainya.
Apakah Anda pernah mendengar seorang anak manusia melakukan hal yang sama seperti halnya anjing tersebut, yang tetap mempertahankan loyalitasnya kepada orang yang dicintainya?
Manusia memiliki beragam kemauan dan kebutuhan, baik makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, harta, anak, penampilan fisik, perhiasan, kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, minuman, obat, maupun kebutuhan lainnya. Walau semua itu sudah dimilikinya, manusia tetap merasa belum puas untuk mendapatkan lebih. Manusia terus meminta dan meminta. Permintaannya itu akan terus ada hingga kematian menjemputnya.
Namun binatang yang lemah yang selalu ada di sekeliling manusia tidak pernah meminta apa pun kecuali kasih sayang dari manusia. Sesuatu yang hanya bersifat segelintir dari kebutuhan manusia, serpihan roti, seteguk air dan kasih sayang. Dengan itu, manusia akan mendapatkan pengorbanan dan loyalitas yang jarang didapati dari sesama manusia di masa kini. Inilah bukti cinta sejati yang dimiliki binatang, namun sangat langka dalam diri manusia.
Abdurrahman bin Abdullah berkata, “Di saat kami sedang bersama Rasulullah dalam suatu pernajalan, kami melihat anak-anak burung yang cantik dan kamu pun mengambilnya. Lalu datang sang induk burung, berputar di sarangnya mencari anak-anaknya. Ketika Rasulullah melihat kegelisahan sang induk burung yang kehilangan anaknya, beliau menoleh kepada kami dan menunjukkan kemarahannya seraya berkata, “Siapa yang tega melakukan ini pada sang induk? Kami pun melaporkan apa yang telah kami lakukan dan Rasulullah saw. pun berkata, “Kembalikan anak-anak burung terebut kepada induknya.” Beliau pun menyadarkan kami atas apa yang telah kami lakukan.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. memiliki hati yang sangat lembut dan bisa berempati dengan apa yang dirasakan oleh induk burung yang sangat lemah tersebut. Hatinya yang sangat dalam bagaikan radar dan bisa langsung medeteksi penderitaan siapa pun yang ada di sekitarnya. Hatinya tidak akan pernah tenang kecuali bila beliau mampu menghilangkan penderitaan tersebut. Hatinya seolah alat bertehnologi tinggi yang menggambarkan dan mencatat akan perasaan semua makhluk dan seolah mampu mendengarkan semua pengaduan.
Dengan itu semua, beliau akan menenangkan perasaan mereka dengan membasuh air mata yang keluar; dengan mengobati anggota tubuh yang terluka; denga memenuhi kebutuhan mereka dan meringankan penderitaan yang mereka rasakan karena kezaliman sebagian anak manusia.
Sorang kerabat penulis 9 dan ia adalah seorang wanita yang sangat berpendidikan) mengisahkan bahwa dia lupa untuk menutup pintu apartemennya. Ia sedang berada di suatu ruangan untuk menyelesaikan tugasnya dan ketika ia kembali ke ruang tamu, ia meliaht seekor anjing telah masuk ke dalam apartemennya. Pada saat itu, ia sangat ketakutan melihat seekor anjing telah masuk ke dalam apartemennya dan ketika ia melihat sekliling ruangan, ia tidak mendapati putri kesayangannya.
Wanita tersebut menjadi yakin bahwa anjing tersebut telah memakannya. Ia pun lalu berteriak minta tolong. Keluarga dan tetangganya berdatangan karena mendengarkan teriakan tersebut. Tak lama berselang, terbukti bahwa anjing yang lemah tersebut tidak melakukan kesalahan apa pun. Di saat wanita tersebut panik atas kedatangannya, sang anjing lasngsung kabur dan hadapannya. San anjing tidak perlu berlama-lama menanti apa yang akan terjadi setelahnya. Terbukti pula bahwa ternyata sang anjing adalah milik tetangganya yang sering mendapatkan perlakuan kasar karena sering masuk rumah tetangganya; dan putrinya yang selama ini dipikirnya hilang ternyata telah merusia tiga belas tahun. Usia yang sudah matang untuk seseorang. Usia di mana seseorang telah memiliki kecerdasan dan keberanian untuk tidak takut kepada singa, apalagi anjing.
Ranungkanlah, bagaimana sang anjing yang datang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Anjing yang penuh keluguan. Ia menerima kemarahan dan cacian, serta diusir dengan celaan. Di saat ia datang meminta persahabatan, namun yang diterimanya adalah kekasaran dan permusuhan. Bahkan, ia seolah harus siap menghadapi berbagai kemungkinan buruk, padahal sang anjing tidak melakukan kesalahan apa pun.
Dalil yang digunakan adalah bahwa keberasaannya di apartemen telah membuat penghuninya ketakutan, pdahal permusuhan yang tanpa sebab itulah yang membuat sang anjing justru sangat ketakutan. Sang anjing merasa kesepian dan terhina dengan persepsi manusia atasnya dan bisa dikatakan bahwa kerabat penulis adalah satu-satunya penyebab yang membuat sang anjing merasakan hal tersebut.
Yang dibutuhan sang  anjing adalah kasih sayang bukan kekerasan. Namun pola asuh yang salah yang diterimanya sejal kecil dan ketakutan yang dimunculkan sejak kecil membuat banyak orang memperlakukan anjing, selaku binatang jinak, salah kaprah.
Penulis sangat sedih ketika mendengar kisah di atas, atas permusuhan yang banyak ditampakkan oleh anak manusia kepada “sepupu”nya yakni sama-sama makhluk-Nya. Kesedihan penulis semakin bertambah di kala penulis melihat banyak kenyataan bahwa masih banyak orang yang memperlakukan saudaranya sendirinya dengan hati yang penuh permusuhan dan kekerasan tanpa diserta sebab apa pun. Satu perlakuan yang lebih buruk dari apa yang diterima binatang.
Harimau, serigala, singa ataupun binatang buas lainnya, umumnya tidak menyeraang manusia atau binatang lemah lainnya kecuali dalam dua kondisi. Yang pertama adalah ketika mereka merasa lapar hingga terpaksa mereka terpaksa memakan apa pun yang ada dihadapannya untuk mengganjal perutnya. Yang kedua adalah di saat merekan mempertahankan dirinya, yakni di saat mereka merasa dalam bahaya dan merasa diserang oleh manusia atau binatang lainnya.
Dalam kondisi lain di luar kondisi di atas, yakni di saat binatang buas merasa kenyang dan merasa  aman maka binatang buas tidak akan menyerang siapa pun; tidak akan menyakiti siapa pun. Inilah tabiat binatang buas. Namun lain dengan binatang jinak. Walau pun terkadang ia tidak mendapatkan makan, minum dan kebutuhan lainnya, ia tetap bersikap jinak; namun tampaknya manusia tetap saja memperlakukannya sangat kasar dan tidak memberinya kasih sayang sedikit pun.

Kucing dan Anjing, Neraka dan Surga

Rasulullah saw. bersabda
“Seorang wanita menyiksa seekor kucing. Ia mengurunya dalam kerangkeng hingga mati. Kucing tersebut tidak diberinya makan ataupun minum. Bahka ia tidak membiarkannya mencari makan sendiri dari serangga yang ada di muka bumi. Wanita tersebut akhirnya dimaksukkan neraka karenanya.” (al-Hadits).
Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya Allh memberikan pengampunan kepada seorang wanita pelacur. Wanita itu melihat seekor anjing berdiri di atas sumur seraya menjulurkan lidahnya dan hampir mati kehausan. Wanita tersebut melepaskan alas kakinya dan melemparkannya ke dalam sumur dengan bantuan kerudungnya. Lalu ia menarik air yang didapatkannya dan memberikan minum kepada sang anjing. Allah mengampuni semua kesalahannya dengan perbuatannya tersebut.”
Para sahabat pun lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah perlakuan baik kami kepada binatang mendatangkan pahala? Rasulullah lalu menjawab, “Pada setiap niat baik terdapat ganjarannya.” (al-Hadits).
Dua hadits di atas menggambarkan fenomena yang bertentangan, namun pada substansinya memiliki kesamaan kass dan hasil yang sama. Apakah itu dan bagaimana prosesnya.
Seorang wanita masuk neraka hanya karena seekor kucing; dan wanita lainnya masuk surga hanya karena seekor anjing.
Seekor kucing mampu memasukkan seseorang ke dalam neraka dan seekor anjing mampu memasukkan seseorang ke dalam surga!
Bahkan lebih dari itu, seekor kucing mampu memasukkan wanita yang bertkwa ke dalam neraka dan seekor anjing mampu memasukkan wanita pelacur ke dalam surga. Bukankah hal tersebut sangat aneh? Bukankah hal terebut mempu mengundang kekaguman tersendiri?
Kenyataannya, hal tersebut bukanlah hal yang aneh ataupun hal yang mampu mengundang kekaguman. Permasalahannya bukan pada kucing ataupun anjing. Namun, permasalahannya adalah pada cinta. Cinta yang menjadi titik dari keimanan dan dasar dari ketakwaan dan perbaikan diri. Cinta yang memberikan hal pada seseorang yang memilikinya untuk mampu menikmati semua kenikmatan yang telah Allah ciptakan.
Wanita pertama dalam hadits di atas yang telah mengurung kucingnya adalah wanita yang memahami ajaran agama dengan baik dan melaksanakan semua kewajiban agamanya, baik itu syahadat, shalat, puasa, zakat maupun haji dengan sebaik-baiknya. Ia adalah wanita yang mulia dan mampu menjaga harga dirinya dengan baik. Ia tidak pernah melakukan perbuatan kriminal ataupun terjerumus dalam perbuatan dosa besar. Ia selalu jujur dalam berbicara dan memperlakukan manusia dengan sangat baik. Ucapannya sangat terjaga dan akhlaknya sangat terpuji. Ia memiliki banyak sifat yang dikagumi banyak orang. Namun, semua itu tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah. Semua itu tidak ammpu membebaskannya dari api neraka.
Mengapa? Itu semua karena ia memiliki hati yang keras sekeras batu. Hati yang tidak mengenal kasih sayang. Hati yang kosong dari perasaan cinta, padahal cinta adalah dasar dari keimanan. Barangsiapa yang tidak mengenal cinta, maka sesungguhnya ia belum beriman.
Pada dasarnya, wanita tersebut belum dikatakan beriman secara totalitas. Bia memang ia telah beriman, tentu ahtinya akan penuh kasih sayang. Bila memang telah beriman, maka tentu hatinya akan trenyuh melihat makhluk yang lemah dan tidak akan menyiksa kucingnya hingga mati.
Wanita tersebut telah mencabut nyawa seekor kucing tanpa sebab hingga dengannya ia berhak mendapatkan siksa neraka. Tidak ada gunanya semua ibadah dan kewajiban yang telah dijalankannya bila semua itu tidak dilakukannya dengan sepenuh hatinya; tanpa cinta dan keimanan.
Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang penuh dengan cinta, bukan Tuhan yang butuh dengan pemenuhan segala kewajiban hamba-Nya. Allah adalah Tuhan jiwa dan raga, bukan Tuhan segala tugas dan harta. Sesungguhnya pemenuhan segala kewajiban dan ucapan, bukanlah tujuan secara substansial. Semua itu hanyalah proses dalam mencapai tujuan yang utama, yakni menyucikan jiwa dan membersihkan hati; mengisinya dengan cinta dan kasih sayang. Tidak ada nilainya sebuah hati yang tidak terisi cinta dan keimanan, walaupun pemiliknya selalu mengucapkan banyak kalimat bijak; dan walaupun pemiliknya selalu menunaikan semua kewajibannya dengan baik.
Allah berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (al-Hujaraat (4() :14).
Sedangkan tipe wanita kedua yang memberikan minuman bagi yang kehausan dan menyelamatkannya dari kehancuran adalah wanita yang memperjualkan diri. Kondisi finansialnya dan kebutuhannya yang besar mendesaknya untuk menjual tubuhnya kepada merek pecinta kenikmatan sesaat. Semua itu diilakukannya agar ia mampu menafkahi dirinya, anak-anaknya dan juga ibunya yang sakit. Perilakunya memang bertentangan dengan ajaran agama dan etika moral serta kemuliaan dirinya, namun pada dasarnya ia pun tidak bahagia ataupun rela menjalani profesinya.
Ia selalu berharap kelak suatu saat ia tidak melakukan perbuatannya yang menyimpang. Hatinya sangatlah lembut dan penuh cinta. Ia tidak rela melihat makhluk yang lemah kehausan dan kepanasan; makhluk yang hampir mati kehausan. Padahal makhluk itu hanyalah anjing, bukan manusia seperti dirinya. Namun ia beranggapan bahwa makhluk itu pun sama seperti dirinya, yakni makhluk ciptaan Allah, yang memiliki jiwa dan hak untuk menikmati hidup sebagaimana makhluk-Nya yang lain.
Saat itu, ia meliaht sang anjing tidak bisa menolong dirinya sendiri dari kebinasaannya dan ia beranggapan bahwa Allah telah menempatkannya di posisi yang mewajibkannya menolong anjing tersebut pada waktu yang tepat. Lalu, mengapa ia harus menunda pertolongannya?
Hatinya yang lembut sangat iba melihat makhluk yang kehausan tersebut. Jiwanya yang mulia pun bergerak menolongnya dan sesegera mungkin ia menolong dan menyelamatkannya. Ia melepaskan sepatunya dan mengulurkannya ke bawah sumur dengan bantuan kerudungnya. Setelah berhasil menyiduk  air, ia menariknya dan memberikan air yang ada padanya kepada anjing yang kehausan hingga sang anjing merasa puas dan hilang rasa dahaganya. Allha mengampuni semua dosa dan kesalahannya dengan peristiwa tersebut dan memasukkanya ke dalam surga-Nya.
Yang dilakukan wanita sebagaimana di atas bukanlah hal yang sangat mudah. Yang dilakukannya adalah bukti dari kejernihan hatinya (walau secara fisik banyak kalangan menganggapnya sebagai wanita yang hina) bukti atas kesucian jiwanya walaupun secara penampilannya ia sangat kotor. Sesungguhnya Allah melihat hati, bukan pada bentuk dan penampilan. Atas dasar inilah, maka tak heran bila wanita tersebut berhak mendapatkan kenikmatan dan surga-Nya.
Wanita pelacur tersebut mampu menyelamatkan seekor anjing dari keninasaan. Sedangkan pada kenyataannya, banyak orang-orang yang merasa dirinya mulia menolak untuk memberikan bantuan kepada saudaranya, sesama manusia. Mereka seolah menutup matanya dan seolah tidak mau tahu. Mereka menutup telinga dari jeritan saudaranya dan berjalan tanpa pernah peduli dengan keadaan sekitarnya. Bisa jadi mereka tampak bahagia padahal itu adalah sebab dari kesengsaraan mereka.
Di manakah orang yang bertakwa? Di manakah para pencuri?
Di manakah orang yang mulia? dan, di manakah mereka yang terkontaminasi?
Betapa banyak orang yang penampilannya buruk, namun hatinya sangat suci!
Betapa banyak pula orang yang penampilannya baik, namun hatinya sangat busuk!
Sayangnya, masyarakat lebih peduli pada penampilan, bukan pada apa yang ada di hati; namun Allah hanya memperhatikan apa yang ada di dalam hati.
Dua wanita dengan dua hati; hati yang keras dan hati yang penuh cinta, hati yang membeku dan hati yang lemah lembut; hati yang penuh kebencian dan hati yang penuh kasih sayang; hati yang jahat dan hati yang baik.
Barangsiapa yang memiliki hati penuh kebencian, maka nerakalah tempatnya; dan barangsiapa yang memiliki hati yang penuh cinta, maka surgalah tempatnya. Salam bagimu, wahai Muhammad yang mengajarkan cinta. Cinta bagi semua makhluk Allah. Cinta kepada semua yang berjiwa dan hidup di muka bumi ataupun melayang di udara. Cinta kepada semua binatang, burung serangga dan berbagai jenis binatang lainnya.
Muhammad-lah yang mengajarkan cinta kepada semua ciptaan-Nya yang lemah. Beliau mengajarkan kita untuk bersikap lemah lembut kepada mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah semata dan menambahkan investasaiamal baik kita di sisi-Nya, di dunia dan akhirat, hingga kita berhak mendapatkan semua kenikmatan dari-Nya.

Cinta Hingga ke Tumbuhan dan Benda Mati

Cinta Muhammad adalah cinta tak beratas dengan semua sifat, ukuran dan bentuk Perasaannya melangkah jauh ke semua penjuru dan ke semua hal yang ada di alam semesta ii. Beliau mencintai semua yang ada di alam ini, baik itu manusia, biantang, burung, tumbuhan maupun benda mati. Beliau mencintai segalanya! Semua yang ada di muka buni ini, tidak peduli besar dan kecilnya, ringan dan beratnya. Semua itu memiliki tempat tersendiri dalam hatinya.
Beliau tidak pernah sekalipun menebang pepohonan ataupun memetik bunga dengan sia-sia. Bahkan beliau menganjurkan kepada para sahabatnya untuk menanam pohon dan bunga serta merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang.
Melalui berbagai percobaan dan penelitian ilmiah dan setelah nasihatnya bergaung selama ratusan tahun lamanya, terungkap bahwa tumbuhan pun memiliki perasaan layaknya makhluk hidup lainnya. Tumbuhan bisa membenci dan mencintai, merasa sesak dan lapang merasa senang dan gelisah; merasa sedih dan gembira. Tumbuhan pun senang mendengarkan musik yang menyenangkan. Semua itu berpengaruh dalam tumbuh dan kembangnya, layaknya pengaruh asupan nutrisi yang diberikan apdanya.
Diamati bahwa tumbuhan berkembang dengan baik di suatu tempat yang terdengar suara musik dan lagu. Begitu pula dengan tumbuhan yang ditempatkan di suatu ruangan di mana di sana berkumpul keluarga dengan segala keriangan dan kebersamaannya. Namun sebaliknya, tumbuhan yang ditempatkan di suatu ruangan yang sepi dan kering tidak mampu berkembang dengan baik. Semua ini menunjukkan bahwa tumbuhan pun membutuhkan cinta dan kasih sayang.
Cinta Muhammad tidak hanya terbatas pada makhluk hidup, namun juga kepada benda mati. Beliau pun mencintai lautan, bebatuan, sungai dan pegunungan. Di saat beliau melewati pegunungan Uhud, beliau mengungkapkan : “Uhud sebuah gunugn! Ia mencintai ktia dan kita pun mencintainya.”
Renungkanlah, betapa lembut hatinya. Bahkan benda mati pun, termasuk pegunungan dan padang pasir, dicintainya. Muhammad bisa merasakan keberadaannya dan berempati dengan apa yang dirasakannya. Padang pasir pun bisa mencintai kita bila kita bisa mencintainya. Muhammad saw. mencintai bebatuan dan bebatuan pun mencintainya.
Demikian pula dengand ebu. Debu yang bersih dan suci. Debu yang bebas dari segala kotoran. Rasulullah terkadang membasuh wajahnya dan bertayamum dengan debu. Bahkan beliau mewasiatkan para sahabatnya dengan ucapan :
“Basuhlah dengan tanah (yakni debu), sesungguhnya ia asalah pembersih bagimu.”
Tanah adalah ibu kita sebagaimana banyak dikatakan orang. Debu adalah asal dan tempat kembali kita. Kita semua berasal dari debu dan kepadanya pula kita akan kembali. Maka, tak heran bila Muhammad yang penuh kasih dangat loyal kepada “Sang Ibu.” Yang merupakan asal dan tempat kembali.
Di masjid Rasulullah saw. di Madinah, sebelum beliau membangun mimbarnya, beliau selalu berkhotbah keapda mereka yang shalat – baik di hari Jum’at, hari Id maupun pada moment-moment khusus – dengan bersandar pada batang pohon kurma. Di saat mimbar telah dibenetuk dan untuk pertama kalinya Rasuluuah menggunakannya, beliau mengedarkan pandangannya ke batang pohon kurma tersebut, tempat biasanya beliau berkhotbah, seraya meneteskan air mata. Setelah beliau selesai menyelesaikan khotbahknya, beliau segera menghampiri batang kurma itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Beliau mewasiatkan para sahabatnya untuk meletakkan batang pohon tersebut di atas masjid dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Hati Muhammad memang penuh dengan kasih sayang dan cinta. Hatinya penuh dengan tenggang rasa dan maaf; dengan pengorbanan dan pertolongan; dengan keinginan untuk sellau memberi.
Cintanya seolah tervisualisasi dan tersebar di segala penjuru. Beliau mencintai Tuhannya dan semua makhluk-Nya; mencintai Allah dan semua ciptaan-Nya; emcnintai Yang Mengadakan dan yang ada.
Beliau menyeru kita kepada cinta, yang merupakan pangkal dari semua kebajikan. Cinta yang merupakan dasar dari semua hubungan indah, akar dari semua kesucian dan inti dari semua kegembiraan.
Beliau menyeru kita kepada cinta; yang merupakan obat bagi jiwa yang timpang; hati yang menyimpang. Cinta yang merupakan terapi atas ketegangan saraf dan yang mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan.
Beliau menyeru kita kepada cinta hingga jiwa kita bisa jernih dan suci; hingga hati kita bisa kembali bersih; hingga ktia bisa melampaui semua kebutuhan fisik dan materi; hingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan dan mendapatkan limpahan kasih sayang-Nya.
Beliau menyeru kita kepada cinta; yang dengannya kita mampu merespon kebutukan denegan kebajikan; membalas kejahatan dengan kebaikan dan menghadapi kebencian dengan cinta. Dengan cinta kisa bisa melawan kekerasan dengan kasih sayang hingga akhirnya kita mampu mendapatkan firdaus-Nya yang hilang. Kita mampu memadamkan keinginan untuk selalu memenuhi kebutuhan materi dan syahwat belaka hingga kita mampu kembali ke surga-Nya dan kekal dalam keridhaan-Nya.
Salam untukmu, wahai Muhammad. Nabi yang telah mengajarkan cinta kepada kita. Cinta yang merupakan dasar kehidupan dan pangkal keimanan serta asas kebajikan. Cinta yang merupakan penggerak dunia dan jalan mencapai kesuksesan di akhirat, kebahagiaan di dunia dan kenikmatan di mana pun.
Cinta! Tiada yang lain selain cinta. Cinta! Segala sesuatu selalu ada setelah cinta. Cinta! Tidak ada apa pun tanpa cinta. Sesungguhnya Allah yang penuh cinta menuntun kita kepada cinta; dan Allah yang penuh cinta selalu melimpahi kita dengan cinta-NYa


Sepanjang, 24 Juni 2016




1 komentar: